cover
Contact Name
Vivi Pusvitasary
Contact Email
vivi.pusvitasary@budiluhur.ac.id
Phone
+6221-5853753
Journal Mail Official
journal_sgs@budiluhur.ac.id
Editorial Address
Jl. Ciledug Raya, RT.10/RW.2, Petukangan Utara, Kec. Pesanggrahan, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12260.
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Budi Luhur Journal of Strategic and Global Studies
ISSN : 29876958     EISSN : -     DOI : -
Budi Luhur Journal of Strategic & Global Studies, published by International Relations Study Program, Faculty of Social Science and Global Studies, Universitas Budi Luhur. Strategic Global Studies publish twice a year (June and December). In each edition, it received article that will be reviewed by internal and external editors. Afterwards, article reviewed by at least two reviewers, who had related expertise. Article will be reviewed with double-blind peer review. Budi Luhur Journal of Strategic & Global Studies explores critical and constructive inquiries with emphasis on international studies, that include: International Politics, International Economy, Security, Diplomacy, Conflict, Humanitarian, Transnationalism, Development, Peace and War, Globalization, Foreign Policy, and any related issues.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 3 No. 2 (2025): July" : 6 Documents clear
DYNAMICS OF COPYRIGHT PROTECTION IN THE ERA OF GLOBALIZATION: A COMPARATIVE STUDY OF INTERNATIONAL LAW Dinda Prama Suari; Prastyanti, Rina Arum Prastyanti
Budi Luhur Journal of Strategic & Global Studies Vol. 3 No. 2 (2025): July
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36080/jsgs.v3i2.52

Abstract

Abstract: In this era of globalization and advances in digital technology, the copyright protection system faces increasingly complex challenges. This research is a normative law study with a comparative approach to legal systems in developed and developing countries, as well as the role of global institutions in shaping international norms. The study examines key legal instruments such as the Bern Convention, TRIPS Agreement, and WIPO Copyright Treaty (WCT), and evaluates their implementation in various countries. The results show that developing countries like Indonesia still face obstacles in the implementation of copyright protection, ranging from weak digital law enforcement to low public awareness. The study emphasizes the need for inclusive global governance so that the copyright protection system can be fairly adapted to domestic conditions.   Abstrak: Dalam era globalisasi dan kemajuan teknologi digital ini, sistem perlindungan hak cipta menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Penelitian ini adalah studi hukum normatif dengan pendekatan komparatif terhadap sistem hukum di negara maju dan berkembang, serta peran lembaga global dalam membentuk norma internasional. Studi ini meneliti instrumen hukum utama seperti Konvensi Bern, Perjanjian TRIPS, dan Perjanjian Hak Cipta WIPO (WCT), serta mengevaluasi penerapannya di berbagai negara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa negara-negara berkembang seperti Indonesia masih menghadapi hambatan dalam pelaksanaan perlindungan hak cipta, mulai dari penegakan hukum digital yang lemah hingga rendahnya kesadaran publik. Studi ini menekankan perlunya tata kelola global yang inklusif agar sistem perlindungan hak cipta dapat disesuaikan secara adil dengan kondisi domestik.
BETWEEN POWER AND COOPERATION: A REALISM-LIBERALISM STUDY OF INDONESIA'S BRICS MEMBERSHIP IN A MULTIPOLAR WORLD Laras, Firman Prima
Budi Luhur Journal of Strategic & Global Studies Vol. 3 No. 2 (2025): July
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36080/jsgs.v3i2.55

Abstract

  Abstract: This study analyzes the dynamics of discourse, motivations, and Indonesia's decision to join BRICS, using the lenses of realism and liberalism in international relations.The realist perspective views Indonesia’s move as an effort to strengthen its bargaining position amid great power rivalries, diversify export markets, and secure strategic resources, as reflected in the dominance of non-oil and gas exports to China and India based on BPS 2023 data. The liberal perspective emphasizes the opportunities to expand multilateral cooperation, promote South-South solidarity, and access development financing through the New Development Bank. This research employs a qualitative document-based method, triangulating trade data, official government statements, media reports, and international relations literature (Kaufman, 2022; Stuenkel, 2020; Kauppi & Viotti, 2020; Nau, 2019). The findings indicate that Indonesia integrates both realist and liberal approaches in considering its BRICS membership: realist power calculations are manifested through strategic partner diversification, while liberal aspirations are reflected in the commitment to strengthening Global South cooperation. Indonesia’s decision to join BRICS reflects a cautious strategic approach, weighing economic-political benefits while upholding the "free and active" foreign policy principle. This study underscores the importance of balancing national interests and multilateral commitments in shaping Indonesia’s foreign policy in a multipolar era.   Abstrak: Studi ini menganalisis dinamika wacana, motivasi, dan keputusan Indonesia untuk bergabung dengan BRICS., menggunakan lensa teori realisme dan liberalisme dalam hubungan internasional. Perspektif realisme memandang langkah Indonesia sebagai upaya memperkuat posisi tawar di tengah rivalitas kekuatan besar, mendiversifikasi pasar ekspor, dan mengamankan sumber daya strategis, tercermin dari dominasi ekspor nonmigas ke Tiongkok dan India berdasarkan data BPS 2023. Perspektif liberalisme menyoroti peluang memperluas kerjasama multilateral, solidaritas Selatan-Selatan, dan akses terhadap pembiayaan pembangunan melalui New Development Bank. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis dokumen dengan analisis triangulasi terhadap data perdagangan, pernyataan resmi pemerintah, laporan media, dan literatur teori hubungan internasional (Kaufman 2022; Stuenkel 2020; Kauppi and Viotti 2020; Nau 2019). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indonesia memadukan pendekatan realis dan liberal dalam mempertimbangkan keanggotaan BRICS: kalkulasi kekuatan realistis diwujudkan melalui diversifikasi mitra strategis, sementara aspirasi liberal tercermin dalam komitmen memperkuat kerjasama global Selatan. Keputusan Indonesia untuk bergabung dengan BRICS mencerminkan kehati-hatian strategis dalam menimbang manfaat ekonomi-politik, sekaligus menjaga prinsip kebijakan luar negeri “bebas aktif”. Temuan studi ini menekankan pentingnya keseimbangan antara kepentingan nasional dan komitmen multilateral dalam merumuskan kebijakan luar negeri Indonesia di era multipolar.
IMPLICATIONS OF THREATS IN THE NORTH NATUNA SEA FOLLOWING THE JOINT STATEMENT BETWEEN THE REPUBLIC OF INDONESIA AND THE PEOPLE'S REPUBLIC OF CHINA Sudiro, Pratondo Ario Seno
Budi Luhur Journal of Strategic & Global Studies Vol. 3 No. 2 (2025): July
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36080/jsgs.v3i2.56

Abstract

Abstract: North Natuna Sea is part of South China Sea which is included in the territory of the Republic of Indonesia. The highlight of the region is People Republic of China’s claim known as Nine Dash Line and also The U-shaped Line. Based on their claim, Chinese government sent the China Coast Guard Patrol Vessel to patrol along The Nine Dash Line. Consequently, the patrol vessel one appeared inside the Exclusive Economic Zone of Indonesia in North Natuna Sea. The latest development is the signing of the Joint Statement between both countries at 9th November, 2024 include joint development in areas of overlapping claims, which triggered pros and cons reactions among the experts. Based on those, this literature research aims to analyze implication to the threat in North Natuna Sea post the signing of Joint Statement. This research results is statement that Joint Statement between both countries can defuse the threat in North Natuna Sea, so that it should be followed by the other countries in South China Sea area.   Abstrak: Laut Natuna Utara merupakan bagian dari wilayah Laut China Selatan yang termasuk ke dalam wilayah kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesua. Hal yang menonjol dari wilayah ini adalah adanya klaim Republik Rakyat China (RRC) yang dikenal dengan Nine Dash Line dan juga The U-shaped Line. Berdasarkan klaimnya, pemerintah RRC mengirimkan Kapal Patroli China Coast Guard untuk berpatroli di sepanjang Nine Dash Line yang mengakibatkan kehadiran mereka dalam wilayah ZEE NKRI di Laut Natuna Utara. Perkembangan terkini adalah ditandatanganinya Joint Statement antara kedua negara pada 9 November 2024 termasuk ‘joint development in areas of overlapping claims’ yang telah memicu reaksi pro dan kontra di kalangan para ahli. Berdasarkan hal itu, studi literatur ini bertujuan menganalisis implikasi terhadap ancaman di Laut Natuna Utara pasca-Joint Statement. Hasil penelitian ini adalah statement bahwa Joint Statement antara kedua negara dapat meredakan ancaman di Laut Natuna Utara, yang seharusnya diikuti oleh negara-negara di kawasan Laut China Selatan lainnya.  
FROM KITCHEN TO DIPLOMACY: KOREAN CUISINE AS SOFT POWER Rose, Gadis Hilmi Nabiilah; Rahmatulummah, Alia; Mardanita, Siti
Budi Luhur Journal of Strategic & Global Studies Vol. 3 No. 2 (2025): July
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36080/jsgs.v3i2.58

Abstract

Abstract: The rise of digital technology has reshaped the global communication landscape, shifting public diplomacy from traditional physical spaces to more interactive virtual platforms. Within this context, gastrodiplomacy—the use of food as a medium for cultural exchange has become a strategic tool for nation branding and soft power. South Korea  stands out as a success case, integrating its culinary traditions with the Korean Wave (Hallyu) to promote national identity and foster positive international perceptions. Through digital platforms like YouTube, Instagram, and Netflix, various Korean cuisines is not only introduced to global audiences but also emotionally engages, particularly in countries like Indonesia. Despite its growing relevance, the specific role of Korean gastrodiplomacy in shaping cultural identity in Indonesia remains underexplored. This study addresses that gap by examining how South Korea leverages culinary diplomacy within digital ecosystems to construct a favorable cultural image. The research employs a qualitative approach, analyzing digital content, media campaigns, and audience reception in Indonesia to understand the dynamics between food, culture, and perception. Findings suggest that the synergy between Korean cuisine and digital media creates dynamic cross-cultural spaces where emotional connections are built through shared experiences. Food, in this context not just as a consumable item but as a narrative tool that conveys values, traditions, and identity. Consequently, Korean gastrodiplomacy emerges as a powerful instrument of soft power, enhancing South Korea’s cultural presence and influence in Indonesia. This study concludes that culinary diplomacy, when effectively mediated through digital platforms, plays a significant role in contemporary cultural diplomacy. Abstrak: Kemajuan teknologi digital telah membentuk ulang lanskap komunikasi global, menggeser diplomasi publik dari ruang fisik tradisional ke platform virtual yang lebih interaktif. Dalam konteks ini, gastrodiplomasi—penggunaan makanan sebagai media pertukaran budaya—telah menjadi alat strategis untuk membangun citra bangsa dan kekuatan lunak (soft power). Korea Selatan menonjol sebagai contoh keberhasilan, dengan mengintegrasikan tradisi kulinernya ke dalam Gelombang Korea (Hallyu) guna mempromosikan identitas nasional dan membentuk persepsi internasional yang positif. Melalui platform digital seperti YouTube, Instagram, dan Netflix, berbagai jenis kuliner Korea tidak hanya diperkenalkan kepada audiens global, tetapi juga membangun keterikatan emosional, terutama di negara-negara seperti Indonesia. Meskipun semakin relevan, peran spesifik gastrodiplomasi Korea dalam membentuk identitas budaya di Indonesia masih belum banyak diteliti. Studi ini berupaya mengisi kekosongan tersebut dengan meneliti bagaimana Korea Selatan memanfaatkan diplomasi kuliner dalam ekosistem digital untuk membangun citra budaya yang menguntungkan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan menganalisis konten digital, kampanye media, dan respons audiens di Indonesia guna memahami dinamika antara makanan, budaya, dan persepsi. Temuan menunjukkan bahwa sinergi antara kuliner Korea dan media digital menciptakan ruang lintas budaya yang dinamis, di mana keterikatan emosional terbentuk melalui pengalaman bersama. Dalam konteks ini, makanan tidak hanya menjadi barang konsumsi, tetapi juga alat naratif yang menyampaikan nilai, tradisi, dan identitas. Dengan demikian, gastrodiplomasi Korea muncul sebagai instrumen soft power yang kuat, yang memperkuat kehadiran dan pengaruh budaya Korea Selatan di Indonesia. Studi ini menyimpulkan bahwa diplomasi kuliner, ketika dimediasi secara efektif melalui platform digital, memainkan peran penting dalam diplomasi budaya kontemporer.
ENERGY DIPLOMACY AND GLOBAL COLLABORATION: INDODEPP'S ROLE IN FACILITATING INDONESIA'S ENERGY TRANSITION Hastuti, Ika Sri; Windary, Shylvia; Mukti , Muhammad Fahmi
Budi Luhur Journal of Strategic & Global Studies Vol. 3 No. 2 (2025): July
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36080/jsgs.v3i2.59

Abstract

Abstract: In Indonesia's energy diplomacy and sustainable development policy, energy transition is a strategic issue. The goal of the Indonesia-Denmark Energy Cooperation Program (INDODEPP) is to promote clean energy transition in Indonesia. In the context of bilateral cooperation in the field of renewable energy, this study will explain the implementation and barriers to implementation. The research method used is descriptive analysis using secondary data from official government documents, cooperation reports, news, and scientific literature related to INDODEPP. Data analysis techniques used include data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results show that the program has achieved many good things, such as the creation of the Energy Transition Roadmap and technical assistance in the renewable energy sector. However, there are several things that hinder the implementation of INDODEPP, such as the incompatibility of national and local policies, limited institutional and technical capacity at the local level, and problems in coordination between stakeholders. As a result, the Indonesia-Denmark Energy Cooperation Program (INDODEPP) is a strategic effort to support the transformation of the national energy sector towards a cleaner, more sustainable and efficient energy system. The ability of the parties to overcome structural and institutional barriers is an important factor in this program. Therefore, in order for this cooperation to make a real contribution to realizing the energy transition in Indonesia, cross-sector policy harmonization and technical capacity building at the regional level are needed.   Abstrak: Dalam diplomasi energi dan kebijakan pembangunan berkelanjutan Indonesia, transisi energi adalah isu strategis. Tujuan dari Indonesia – Denmark Energy Cooperation Program (INDODEPP) adalah untuk mempromosikan transisi energi bersih di Indonesia. Dalam konteks kerja sama bilateral di bidang energi terbarukan, studi ini akan menjelaskan pelaksanaan dan hambatan dalam pelaksanaannya. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif menggunakan data sekunder dari dokumen resmi pemerintah, laporan kerjasama, berita, dan literatur ilmiah terkait INDODEPP. Teknik analisis data yang digunakan meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasilnya menunjukkan bahwa program ini telah mencapai banyak hal baik, seperti pembuatan Energy Transition Roadmap dan bantuan teknis di sektor energi terbarukan. Namun, ada beberapa hal yang menghambat pelaksanaan INDODEPP, seperti ketidakcocokan antara kebijakan nasional dan lokal, kapasitas kelembagaan dan teknis yang terbatas di tingkat lokal, serta masalah dalam koordinasi antara pemangku kepentingan. Oleh sebab itu, Indonesia-Denmark Energy Cooperation (INDODEPP) adalah upaya strategis untuk mendukung transformasi sektor energi nasional menuju sistem energi yang lebih bersih, berkelanjutan, dan efisien. Kemampuan para pihak untuk mengatasi hambatan struktural dan kelembagaan adalah faktor penting dalam program ini. Oleh karena itu, agar kerja sama ini dapat memberikan kontribusi nyata dalam mewujudkan transisi energi di Indonesia, diperlukan harmonisasi kebijakan lintas sektor dan pembangunan kapasitas teknis di tingkat regional.
STRATEGIC EDUCATION POLICY AND DIGITAL LEADERSHIP IN CONFLICT ZONES: A MULTIREGIONAL SYNTHESIS Khizer Hayat
Budi Luhur Journal of Strategic & Global Studies Vol. 3 No. 2 (2025): July
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36080/jsgs.v3i2.60

Abstract

Abstract: Over 222 million crisis-affected students worldwide face educational disruption due to armed conflict, displacement, and infrastructure collapse. This study finds determinants of strategic education policy and digital leadership that might guarantee educational continuity during displacement and conflict. The study uses qualitative and desk-based research methodology and four theoretical views to frame the analysis: Human Security Theory, Strategic Educational Leadership, Digital Equity in Crisis between 2018 and 2025, and the Capability Approach. The systematic literature review strategy was applied, as thematic coding was used to select 72 peer-reviewed and institutional sources among some 300 documents reviewed based on a relevant keyword search and relevance criteria. Based on those articles, institutional reports, and corroborating media documents published between 2018 and 2025, the paper provides a synthesis of international experience on the responses of education systems to disruption, political violence, infrastructure breakdown, and digital inequity. Inclusive, trauma-informed models of policy and interventions that a diverse set of blended learning approaches can address can be conceptualized using case examples in Jordan, Colombia, Bangladesh, Gaza, and Ukraine. The findings highlight the limitations of digital tools in fragile contexts marked by connectivity challenges, content bias, and surveillance gaps. The paper argues that emergency education is more of a strategic and moral duty than a noble cause that occurs to fill a service gap based on human rights and development concerns. This study recommends adaptive learning, moral technology use[1], psychological support, and interpersonal education to deal with a crisis. It focuses on conversations about value-based leadership in transforming emergencies into opportunities and developing context- and resilience-centered educational institutions.   Abstrak: Lebih dari 222 juta siswa yang terkena dampak krisis di seluruh dunia menghadapi gangguan pendidikan akibat konflik bersenjata, pengungsian, dan runtuhnya infrastruktur. Studi ini menemukan faktor-faktor penentu kebijakan pendidikan strategis dan kepemimpinan digital yang dapat menjamin kelangsungan pendidikan selama pengungsian dan konflik. Studi ini menggunakan metodologi penelitian kualitatif dan studi literatur serta empat pandangan teoretis untuk membingkai analisis: Teori Keamanan Manusia, Kepemimpinan Pendidikan Strategis, Kesetaraan Digital dalam Krisis antara tahun 2018 dan 2025, dan Pendekatan Kemampuan. Strategi tinjauan literatur sistematis diterapkan, dengan menggunakan pengkodean tematik untuk memilih 72 sumber tinjauan sejawat dan sumber institusional di antara sekitar 300 dokumen yang ditinjau berdasarkan pencarian kata kunci yang relevan dan kriteria relevansi. Berdasarkan artikel-artikel tersebut, laporan-laporan lembaga, dan dokumen media yang menguatkan yang diterbitkan antara tahun 2018 dan 2025, makalah ini memberikan sintesis pengalaman internasional tentang respons sistem pendidikan terhadap gangguan, kekerasan politik, kerusakan infrastruktur, dan ketidaksetaraan digital. Model kebijakan dan intervensi yang inklusif dan berbasis trauma yang dapat diatasi dengan beragam pendekatan pembelajaran campuran dapat dikonseptualisasikan dengan menggunakan contoh kasus di Yordania, Kolombia, Bangladesh, Gaza, dan Ukraina. Temuan ini menyoroti keterbatasan alat digital dalam konteks yang rapuh yang ditandai dengan tantangan konektivitas, bias konten, dan kesenjangan pengawasan. Makalah ini berargumen bahwa pendidikan darurat lebih merupakan. Temuan ini menyoroti keterbatasan alat digital dalam konteks yang rapuh yang ditandai dengan tantangan konektivitas, bias konten, dan kesenjangan pengawasan. Makalah ini berargumen bahwa pendidikan darurat lebih merupakan tugas strategis dan moral daripada tujuan mulia yang terjadi untuk mengisi kesenjangan layanan berdasarkan hak asasi manusia dan masalah pembangunan. Studi ini merekomendasikan pembelajaran adaptif, penggunaan teknologi moral, dukungan psikologis, dan pendidikan interpersonal untuk menghadapi krisis. Studi ini berfokus pada diskusi tentang kepemimpinan berbasis nilai dalam mengubah keadaan darurat menjadi peluang dan mengembangkan lembaga pendidikan yang berpusat pada konteks dan ketahanan.

Page 1 of 1 | Total Record : 6