cover
Contact Name
Meilinah Hidayat
Contact Email
jmh@med.maranatha.edu
Phone
+6222-2012186
Journal Mail Official
jmh@med.maranatha.edu
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Journal of Medicine and Health
ISSN : -     EISSN : 24425257     DOI : 10.28932/jmh
Core Subject : Health,
Journal of Medicine and Health (JMH) focuses on contributing towards science and research development that can be accessed by researchers and academic practitioners. Journal of Medicine and Health (JMH) is an open access journal, published biannually on every February and August. JMH receives original research articles, case report, and review articles related to biomedical sciences, clinical medicine, public health sciences, nutritional sciences, and medical herbs sciences. Articles should be written in good English or Indonesian language. All articles will be processed through peer review process.
Articles 238 Documents
Anti Aging Benefits of Microgreen Shiela Stefani; Diyah E Andayani
Journal of Medicine and Health Vol 4 No 2 (2022)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v4i2.3887

Abstract

Penuaan adalah proses hilangnya fungsi jaringan dan organ yang terjadi secara progresif, salah satunya akibat akumulasi stres oksidatif. Terapi antioksidan dapat membantu dalam mengatasi stres oksidatif dan mencegah terjadinya penuaan dini. Microgreens mengandung vitamin dan fitokimia yang bekerja sebagai antioksidan dan anti-inflamasi. Tujuan penulisan telaah pustaka ini adalah untuk mengidentifikasi kandungan nutrisi di dalam microgreens dan efeknya terhadap penuaan. Metode penelitian ini adalah tinjauan pustaka dari semua literatur mengenai manfaat anti penuaan dari microgreens yang dipublikasi dalam 10 tahun terakhir hingga tahun 2021. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa vitamin dan fitokimia yang terdapat dalam microgreens lebih tinggi dibandingkan tanaman maturnya. Microgreens mengandung vitamin A, C, dan E serta polifenol yang memiliki efek antioksidan dan anti-inflamasi. Hal ini mungkin memberikan keuntungan untuk memperlambat penuaan. Kesimpulan dari penulisan telaah pustaka ini adalah kandungan vitamin dan fitokimia dalam microgreens mungkin berperan dalam menghambat proses penuaan, namun pengetahuan mengenai manfaat anti penuaan dari microgreens masih sangat terbatas. Diperlukan penelitian mengenai pengaruh kandungan vitamin, mineral, dan fitokimia pada berbagai microgreens terhadap kesehatan dan sebagai anti penuaan, terutama secara in vivo.
Vitiligo: Update of Pathogenesis and Treatment Erico L Yonathan
Journal of Medicine and Health Vol 5 No 1 (2023)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v5i1.3954

Abstract

Vitiligo merupakan kelainan pigmentasi kronis dengan prevalensi sekitar 1% populasi dunia. Vitiligo ditandai dengan lesi makula depigmentasi, tidak berskuama, berwarna putih seperti kapur, dan biasanya asimtomatik. Hipotesis terjadinya vitiligo pertama kali dilaporkan sekitar tahun 1950 berupa hipotesis genetik. Artikel ini bertujuan membahas mengenai patogenesis, diagnosis dan tatalaksana vitiligo terbaru. Artikel reviu ini ditulis berdasarkan sumber pustaka berupa buku teks kedokteran dan jurnal-jurnal yang dipublikasikan dalam 10 tahun terakhir. Penelitian terbaru mengenai patogenesis vitiligo banyak diteliti, di antaranya adalah genetik, stres oksidatif, proses autoimun, gangguan adhesi melanosit, neurohumoral, autositotoksisitas, defisiensi vitamin D, hiperhomosisteinemia, dan teori konvergensi. Diagnosis vitiligo ditegakkan berdasarkan pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang sesuai indikasi. Terapi vitiligo konvensional meliputi terapi farmakologi, fototerapi, dan pembedahan. Terapi vitiligo konvensional tidak berfokus pada patogenesis terjadinya vitiligo. Simpulan, Terapi vitiligo terbaru memiliki tiga prinsip, yaitu mengurangi stres pada melanosit, mengatur autoimunitas, dan stimulasi regenerasi melanosit sedang dilakukan. Terapi vitiligo terbaru diharapkan dapat meningkatkan efektivitas terapi. Penelitian efektifitas terapi terbaru pada vitiligo perlu dilakukan lebih lanjut.
The Correlation of Milk Consumption and Acne Vulgaris Harisma Harisma; Bambang Wirjatmadi; Stefania W Setyaningtyas
Journal of Medicine and Health Vol 4 No 2 (2022)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v4i2.4025

Abstract

Akne vulgaris merupakan penyakit kulit jangka panjang akibat adanya penyumbatan folikel rambut oleh sel-sel kulit mati dan minyak pada kulit. Lebih dari 85% remaja di dunia mengalami akne vulgaris. Beberapa studi menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara akne vulgaris dan faktor asupan nutrisi, salah satunya susu sapi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara kebiasaan konsumsi susu, tipe lemak susu dengan kejadian akne vulgaris. Metode penelitian menggunakan literature review dengan sumber data berasal dari 23 penelitian primer yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Variabel yang digunakan yaitu akne vulgaris, kebiasaan konsumsi susu, frekuensi konsumsi susu, dan tipe susu. Pada umumnya, pada keseluruhan artikel menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dari kebiasaan konsumsi susu dengan kejadian akne vulgaris. Secara umum, kebiasaan frekuensi susu ≥3 kali/minggu dapat meningkatkan faktor resiko atau tingkat keparahan akne vulgaris, begitu juga dengan susu rendah lemak atau susu skim. Simpulan, kebiasaan konsumsi susu memengaruhi kejadian akne vulgaris, frekuensi konsumsi susu juga merupakan faktor risiko yang dapat mempengaruhi akne vulgaris, namun perlu dilakukan lebih lanjut karena penelitian mengenai hubungan dari frekuensi konsumsi susu dilakukan pada berbagai negara yang berbeda-beda dengan kebiasaan konsumsi masyarakat yang juga berbeda. Kebiasaan konsumsi susu skim dan susu rendah lemak juga diketahui mempengaruhi kejadian akne vulgaris.
An Overview of Patients of Appendicitis and Surgical Site Infection Postappendectomy at Bethesda Hospital Yogyakarta Period 2019-2020 Manda R Happyanto; Oeij A Adhika; Dono Pranoto
Journal of Medicine and Health Vol 4 No 2 (2022)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v4i2.4140

Abstract

Apendisitis adalah peradangan pada usus buntu dan merupakan kasus yang paling sering dijumpai oleh dokter bedah. Apendektomi merupakan penatalaksanaan apendisitis dan dibedakan menjadi apendektomi terbuka dan apendektomi laparoskopik. Infeksi luka operasi merupakan salah satu komplikasi pascaapendektomi. Penelitian ini bertujuan mempelajari gambaran pasien apendisitis dan infeksi luka operasi pascaapendektomi yang dirawat di Rumah Sakit Bethesda Kota Yogyakarta periode 2019–2020 berdasarkan usia, jenis kelamin, jenis apendisitis, keluhan utama, temperatur, leukosit, antibiotika preoperatif, jenis apendektomi, durasi operasi, dan infeksi luka operasi. Disain penelitian observasional deskriptif menggunakan data retrospektif dari rekam medis pasien apendisitis yang dirawat dengan metode whole sampling. Distribusi tertinggi adalah kelompok dewasa muda usia (17–30 tahun) sebesar 43,58%. Pasien apendisitis lebih banyak laki-laki (58,46%) dan jenis apendisitis simpleks (39,48%). Keluhan utama nyeri perut kanan bawah dijumpai pada seluruh pasien (100%). Distribusi tertinggi temperatur adalah ≤38ºC (94,36%) dan jumlah leukosit adalah ≤16.000/mm3 (67,18%). Antibiotika preoperatif diberikan kepada 89,74% pasien. Jenis apendektomi yang tersering dilakukan adalah apendektomi terbuka (60,51%), durasi operasi tersering adalah 60–90 menit (57,95%). Kejadian infeksi luka operasi dijumpai pada 4 orang (2,05%). Sebagai kesimpulan, hasil studi ini sesuai teori yang sudah dicantumkan pada latar belakang.
Karakteristik Klinis dan Tatalaksana Pasien Glaukoma Sudut Terbuka Primer di Pusat Mata Nasional, Rumah Sakit Mata Cicendo, Bandung, Indonesia Azmi I Salsabila; Andika P Gandasubrata; Maula Rifada
Journal of Medicine and Health Vol 5 No 1 (2023)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v5i1.4265

Abstract

Glaucoma is the largest cause of permanent blindness globally. Primary open-angle glaucoma (POAG) is one of chronic glaucoma and is asymptomatic in the early stage. This study was performed to identify the clinical characteristics and management of POAG patients at the Cicendo Eye Hospital, Bandung, Indonesia. This retrospective, descriptive study was conducted on medical records of POAG patients in Cicendo Eye Hospital in January-December 2020 using whole sampling method. Sociodemographic, clinical characteristics, and management data were collected. From 147 subjects obtained, the largest age group of POAG patients was 60-69 years old (30.6%), with most of the patients being male (68.0%). Most of the patients experienced blindness (37.6%) and had cup-to-disc ratio (CDR) 0.9-1.0 (36.8%). The mean of pre-treatment IOP was 29.1±13.1 mmHg, and the mean of post-treatment was 19.3±7.7 mmHg. The mean of anti-glaucoma medication in the first and the last control were 1.93±0.59 and 1.48±0.70, respectively. The most common treatments were medication only (69.8%), with combined surgery as the most performed surgery. In conclusion, most POAG patients were 60 years old or older and male, with most eyes being blind. The POAG treatments were mostly anti-glaucoma medication only to lower IOP as the goals of the treatment.
THE INHIBITION EFFECT OF MORINGA (Moringa oleifera L.) LEAVES AND RED GINGER RHIZOME (Zingiber officinale Rosc.) PT. "P" ETHANOL EXTRACT ON ENHANCEMENT SERUM CREATININE LEVELS OF MALE WISTAR RATS DYSLIPIDEMIA MODEL Juliana Wijaya; Penny S Martioso; Sugiarto Puradisastra
Journal of Medicine and Health Vol 5 No 1 (2023)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v5i1.4528

Abstract

Elevation of serum creatinine levels is a biomarker of decreased kidney function. Dyslipidemia can decrease kidney function. Long-term consuming statins can increase creatinine levels. Moringa leaves (Moringa oleifera L.) and red ginger rhizomes (Zingiber officinale Rosc.) have antioxidant effects. Aim of study is to determine the inhibitory effect on increasing serum creatinine levels of concoction Moringa Leaves and Red Ginger Rhizome ethanol extract (CML-RGRE). True laboratory experimental study with completely randomized design was conducted on 30 male Wistar rat dyslipidemia models, induced by high-fat feeding (HFF)-Propylthiouracil (PTU) 0.01% for 21 days. Subjects were divided into six groups (n=5), Group I, II, III were treated CML-RGRE 135, 202.5, 270 mg/kg BW, IV dyslipidemia control, V Rosuvastatin 1.8 mg/kg BW, and VI fenofibrate 5.4 mg/kg BW, all still given HFF-PTU for 21 days. Serum creatinine levels (mg/dL) were measured 3 times, after acclimatization, created dyslipidemia models, and treatment using spectrophotometer, colorimetric kinetic methods. Data were analysed with paired t-test, ANOVA test, and Fischer's LSD, α = 0.05. All doses of CML-RGRE have effectively inhibited the increase serum creatinine levels (p < 0.01). Conclusion, Moringa Leaves and Red Ginger Rhizome ethanol extract effectively inhibited the increased serum creatinine levels of animal dyslipidemia models.
AN OVERVIEW OF HIV POSITIVE PATIENTS IN MIMIKA REGENCY PAPUA ON 2019 Faot, Rosa YA; Ivone, July; Kwee, Limdawati
Journal of Medicine and Health Vol 6 No 1 (2024)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v6i1.4604

Abstract

Human Immunodeficiency Virus (HIV) is an infection that attacks and damages our body's immune system, resulting in immune deficiency. According to UNAIDS report, in 2018 approximately around 640,000 people in Indonesia live with HIV, of whom there were 46,000 people newly infected by HIV and 38,000 died because of AIDS. This research aims to determine the characteristic of HIV patient in Mimika, Papua in 2019 according to age, sex, marital status, pregnancy status, education, occupation, risk category, visitation status, spouse's HIV status, mode of transmission, and comorbid. This is a descriptive observational and retrospective studies using medical records of HIV patient with whole sampling method. The result showed that the prevalence of HIV patient was 345 cases with 337 among them fulfilled the criteria. As conclusion, highest incidence acquired at age 25-49 (69.7%), the most sex was women (50.4%), most marital status was married (57%), most pregnancy status was not pregnant (84.7%), latest education was senior high school (45.7%) most occupation was private employee (24.9%) the most risky group was high risk couple (65%), most visit status was unaccompanied (98.8%), most spouse's HIV status was unknown (91.4%), most mode of transmission was sexually (97.3%), and the most patient's comorbid was none (26.1%).
SYSTEMATIC REVIEW: PEMODIFIKASI GENETIK β-THALASSEMIA Syafira, Mutia; Sribudiani, Yunia; Maskoen, Ani M
Journal of Medicine and Health Vol 6 No 1 (2024)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v6i1.4788

Abstract

Thalassemia merupakan penyakit herediter yang diturunkan secara autosomal resesif. Thalassemia dibedakan berdasarkan variasi mutasi pada gen globin yaitu gen α-globin (HBA) pada α-Thalassemia dan β-globin (HBB) pada β-Thalassemia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi pemodifikasi genetik pada penderita β-Thalassemia. Data sistimatika review dengan pengumpulan jurnal terkait pada cangkupan kata kunci yang dikomplikasikan prinsip PRISMA. Beberapa hasil studi melaporkan polimorfisme dan atau mutasi pada gen KLF1, BCL11A dan region intergenik HBS1L-MYB sebagai pemodifikasi genetik pada β-Thalassemia, didapatkan sembilan jurnal yang masuk ke dalam kriteria inklusi. Berdasarkan hasil review yang dapat ditelaah bahwa pemodifikasi genetik pada kasus β-Thalassemia diketahui adanya mutasi atau polimorfisme pada gen-gen berikut KLF1, BCL11A, dan HBS1L-MYB cenderung meningkatkan produksi HbF dengan mengatur ekspresi γ-globin dan memperbaiki gejala klinis pasien β-Thalassemia. Simpulan dari kasus tersebut menjadikan peluang di kemudian hari untuk perawatan pasien yang dipersonalisasi disesuaikan dengan fenotipe yang meringankan gejala penderita β-Thalassemia.
Pengaruh Penambahan Nanopartikel Seng Oksida (ZnO) terhadap Kekuatan Mekanik Semen Kedokteran Gigi: Telaah Sistematis Ardelina C Hartanto; Evi UM Situmorang; Mora Octavia
Journal of Medicine and Health Vol 5 No 2 (2023)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v5i2.4896

Abstract

Semen gigi digunakan sebagai bahan pengisi, lapisan pelindung rongga, bahan luting untuk mahkota, jembatan, inlay dan peralatan ortodontik. Semen gigi memiliki kekuatan mekanik yang rendah sehingga memerlukan bahan tambahan untuk meningkatkan kekuatan mekaniknya, seperti dengan menambahkan nanopartikel Seng oksida (ZnO). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penambahan massa nanopartikel ZnO terhadap kekuatan tekan dan kekerasan semen kedokteran gigi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian menggunakan telaah sistematis dengan memasukkan kata kunci pada database Google Scholar, Pubmed, ProQuest dan Science Direct dengan rentang waktu 2012-2022. Telaah sistematis ini dibuat berdasarkan guideline PRISMA-P dan dievaluasi dengan kriteria JBI Critical Appraisal tools.  Kriteria inklusi pada review ini adalah seluruh studi eksperimental yang sesuai dengan topik penelitian. Hasil pencarian berdasarkan kata kunci didapatkan 3.972 jurnal. Setelah dilakukan inklusi dan eksklusi didapatkan lima jurnal yang relevan untuk studi ini. Dari lima jurnal tersebut didapatkan bahwa kekuatan tekan dan kekerasan semen gigi terus meningkat seiring penambahan massa nanopartikel ZnO. Hal ini disebabkan karena partikel berukuran nano dapat mengisi ruang kosong antar partikel semen yang berukuran besar saat berikatan, juga meningkatkan ikatan interlock menjadi lebih kuat dan lebih homogen. Dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh penambahan massa nanopartikel ZnO terhadap kekerasan dan kekuatan tekan semen kedokteran gigi.
Successful Treatment of Relapse Cutaneous Tuberculosis on Pregnant Woman with Ethambutol Allergic Jahja T Widjaja; Dian Puspitasari; Evelyn Nathania
Journal of Medicine and Health Vol 5 No 2 (2023)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v5i2.4985

Abstract

Tuberculosis infection among pregnant women often reveals unspecific clinical manifestations, and cutaneous tuberculosis is a rare form of extrapulmonary tuberculosis. The aim of this case report is to manage well Extra-Pulmonary tuberculosis manifestation, especially in pregnant women. A Pregnant woman with a gestational age of 6-7 weeks complained of red spots on cheeks. One year ago, the patient suffered cutaneous tuberculosis and was only treated with Rifampicin, Isoniazid, and Levofloxacin; pyrazinamide and ethambutol were not given due to a strong suspicion of allergy. Physical examination revealed plaque with scales, and PCR examination revealed Mycobacterium tuberculosis. She suffered relapse of cutaneous tuberculosis and was given rifampicin, isoniazid, and pyrazinamide. After 2 weeks the skin lesion improved significantly, and ethambutol was added to the regimen. The patient suffered from drug eruption, ethambutol was discontinued, and the skin lesion disappeared after four months of treatment. The regiment was continued for one year; showed better condition and delivered a healthy baby boy. Cutaneous tuberculosis is a rare form of extrapulmonary tuberculosis (1-1.5%) and is hard to diagnose and treat, especially in pregnant women. Allergic to one of its drugs can increase its risk of being resistant and increase its mortality and morbidity. As conclusion, prompt treatment is needed for tuberculosis patients, especially pregnant women. Early detection and examinations are required to diagnose it properly.