cover
Contact Name
Meilinah Hidayat
Contact Email
jmh@med.maranatha.edu
Phone
+6222-2012186
Journal Mail Official
jmh@med.maranatha.edu
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Journal of Medicine and Health
ISSN : -     EISSN : 24425257     DOI : 10.28932/jmh
Core Subject : Health,
Journal of Medicine and Health (JMH) focuses on contributing towards science and research development that can be accessed by researchers and academic practitioners. Journal of Medicine and Health (JMH) is an open access journal, published biannually on every February and August. JMH receives original research articles, case report, and review articles related to biomedical sciences, clinical medicine, public health sciences, nutritional sciences, and medical herbs sciences. Articles should be written in good English or Indonesian language. All articles will be processed through peer review process.
Articles 238 Documents
Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Responden Mengenai ASI Eksklusif di Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung Franky S Supriady; Diana K Jasaputra; Stella T Hasianna; July Ivone
Journal of Medicine and Health Vol 3 No 2 (2021)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v3i2.3223

Abstract

Pemberian ASI dapat menurunkan risiko diare, infeksi saluran napas, mencegah munculnya alergi pada bayi, serta menurunkan risiko kanker payudara dan penyakit metabolik pada ibu. Beberapa hal dapat menyebabkan seorang ibu tidak memberikan ASI kepada bayinya. Pengetahuan yang dimiliki oleh seorang ibu akan sangat berpengaruh pada sikap dan perilakunya, dalam hal ini pemberian ASI Eksklusif oleh ibu kepada bayinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuan, sikap, dan perilaku responden terhadap pemberian ASI Eksklusif di Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner untuk mengetahui pengetahuan, sikap, dan perilaku mengenai ASI Eksklusif. Responden yang menjawab kuesioner tersebut adalah responden di Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung dengan kriteria inklusi responden yang mengisi kuisioner dengan lengkap. Penelitian ini dilaksanakan antara bulan Januari hingga Desember 2020 sejak persiapan hingga penyusunan hasil penelitian. Simpulan penelitian ini adalah pengetahuan responden mengenai ASI Eksklusif sudah cukup baik, namun belum semua / belum 100% responden yang memahami dan memiliki sikap serta memiliki perilaku memberikan ASI Eksklusif pada bayinya.Kata kunci: ASI Eksklusif, pengetahuan, sikap, perilaku
The Correlation Between Body Mass Index with Dental Caries in Children: a Literature Review Dian Lesmana; Linda S Sembiring
Journal of Medicine and Health Vol 4 No 1 (2022)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v4i1.3231

Abstract

Nutrisi, yang terdiri dari karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral dan air, merupakan komponen makanan yang membantu menyehatkan tubuh. Nutrisi berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan tubuh, khususnya gigi. Pertumbuhan dan perkembangan gigi yang terganggu dapat menjadi faktor etiologi hipoplasia enamel. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan karies gigi anak. Metode penelitian berupa tinjauan pustaka yaitu mencari jurnal ilmiah sesuai dengan topik melalui mesin pencarian di PubMed dengan kata kunci: hipoplasia enamel, indeks massa tubuh, karies, nutrisi, dengan rentang waktu literatur dari tahun 2007-2020 dalam Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris. Hasil pencarian literatur diperoleh 126 artikel, kemudian dipilih sehingga diperoleh 6 artikel yang sesuai. IMT tinggi menunjukkan hubungan positif terhadap karies akibat peningkatan asupan lemak dan energi yang tinggi, dan kurangnya aktivitas fisik. Prevalensi karies meningkat sejalan dengan peningkatan konsumsi makanan manis akibat perubahan gaya hidup dan kesejahteraan individu. Pada IMT rendah, memiliki persentase karies gigi yang tinggi dikarenakan karies menimbulkan nyeri dan menyebabkan fungsi pengunyahan terganggu sehingga terjadi penurunan frekuensi makan dan asupan gizi. Simpulan penelitian ini, IMT tinggi maupun rendah dapat berpengaruh pada angka kejadian karies anak yang disebabkan oleh faktor ekonomi, perubahan pola makan, dan rendahnya aktivitas tubuh. Kata kunci: hipoplasia enamel, indeks massa tubuh, karies, nutrisi
Case Report - Cogan Syndrome Atypical in Dr.Hasan Sadikin Hospital Prayudo M Putra; Sally Mahdiani; Lina Lasminingrum
Journal of Medicine and Health Vol 4 No 2 (2022)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v4i2.3255

Abstract

Sindroma Cogan merupakan suatu kelainan autoimun langka dengan sekitar 250 kasus di seluruh dunia yang mengenai dewasa muda Ras Kaukasia pada dekade ke tiga kehidupan.  Kelainan tersebut ditandai dengan gangguan audio-vestibular dan peradangan pada mata. Artikel ini merupakan case report dan di dalam artikel ini dilaporkan satu kasus Sindroma Cogan yang ditemukan di Poliklinik THT.KL. RS Dr. Hasan Sadikin Bandung. Tujuan case report ini adalah untuk menjadi laporan kasus dan pengetahuan karena kasus Sindroma Cogan sangat jarang ditemukan. Kasus: Seorang wanita berusia 59 tahun dengan kelainan autoimun, keratitis interstitial pada mata dan penurunan pendengaran pada kedua telinga, tanpa gangguan vestibuler. Pemeriksaan audiogram menunjukkan gangguan dengar tipe sensorineural derajat ringan pada kedua telinga. Pasien didiagnosis dengan Sindroma Cogan tipikal. Tata laksana pasien Sindroma Cogan tipikal berupa pemberian metilprednisolon 48 mg per hari dengan penurunan dosis bertahap dan prednison tetes mata memberikan respons baik. Kesimpulan case report ini adalah Sindroma Cogan merupakan kasus yang jarang ditemukan dan biasanya berhubungan dengan gangguan audiovestibuler dan inflamasi pada mata. Pengobatan Sindroma Cogan dengan kortikosteroid dosis tinggi memberikan respons yang baik.
Efficacy of Shallot (Allium cepa L. Var. aggregatum) and Garlic (Allium sativum) as Herbal Anthelmintic against Ascaris suum Rona Dibfiora; Evi U M Situmorang; Rita D Firmansyah
Journal of Medicine and Health Vol 3 No 1 (2021)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v3i1.3267

Abstract

Askariasis disebabkan oleh cacing Ascaris lumbricoides (pada manusia) atau Ascarissuum (pada babi). Indonesia merupakan negara dengan angka kecacingan yang tinggi karenakemiskinan, sanitasi lingkungan yang buruk, dan sulitnya akses air bersih. Pengobatan untukmengurangi angka askariasis, dapat dilakukan dengan menggunakan bahan alamiah, sepertibawang merah (Allium cepa L. Var. aggregatum) dan bawang putih (Allium sativum). Tujuanpenelitian ini mengetahui efektivitas ekstrak Allium cepa dan ekstrak Allium sativum terhadapefek letal A. suum dan mendapatkan perbandingan keduanya. Metode penelitian eksperimental,setiap konsentrasi bahan uji diujikan pada 5 ekor cacing dewasa dengan pengulangan sebanyaktiga kali. Teknik remaserasi digunakan untuk membuat kedua ekstrak, dan konsentrasi yangdigunakan pada kedua ekstrak adalah 6%, 9%, 12%, yang diamati selama 24 jam. Dengan uji nonparametrik Kruskall-Wallis, pada ekstrak A. cepa L. Var. aggregatum didapatkan nilai p=0,000(p<0,05), dan ekstrak A. sativum dengan nilai p=0,003 (p<0,05), sehingga kedua ekstrakdisimpulkan memiliki efek letal yang signifikan. Uji Post Hoc LSD dilakukan untukmembandingkan efek letal pada kedua ekstrak, dengan p<0,05 didapatkan hasil ekstrak A. cepaL. var. aggregatum lebih efektif dibandingkan A. sativum (Tabel 4&5). Simpulan penelitian ini,ekstrak Allium cepa L. Var. aggregatum lebih efektif dibandingkan ekstrak Allium sativumsebagai antelmintik cacing A. suum. Kata kunci: Allium cepa L. Var. aggregatum; Allium sativum; Antelmintik; Ascaris suum;Bawang Merah
Angiofibroma Ekstranasofaring dari Hipofaring: Laporan Kasus yang Langka Ratna Windyaningrum; Agung D Permana; Ongka M Saifuddin
Journal of Medicine and Health Vol 4 No 1 (2022)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v4i1.3326

Abstract

Angiofibroma is a histologically benign mesenchymal tumor though it is a potentially locally destructive fibrovascular tumor. Angiofibroma located in the head and neck comprises nasopharyngeal and extra-nasopharyngeal angiofibroma. The extra-nasopharyngeal angiofibroma itself is extremely rare. There was only two hypopharynx angiofibroma case in the recent literature. The aim of this report is to find out recurrence rate after mass extirpation surgery approach transcervical in this patient. A case of extra-nasopharyngeal angiofibroma from hypopharynx that arising from the left posterior pharyngeal wall was described in this report. A 32 years old man was admitted with 8 years history of lump located around the mouth and left side of the throat. There were no other significant complaints other than the lump itself. Histopathologic microscopic examination showed an angiofibroma. Angiofibroma is a benign and slow-growing mass. The conclusion is management of this case is the same as angiofibroma in general, by surgery approach. The mass was successfully removed surgically and thus far no recurrence or post-surgical complications were found one year after excision. Keywords: angiofibroma, extra-nasopharyngeal, hypopharynx, pharyngeal mass
The Characteristics of Patients with Presbycusis in Bandung in 2019 Manuel M Ario; Ratna Anggraeni; Nur A Aroeman
Journal of Medicine and Health Vol 4 No 1 (2022)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v4i1.3328

Abstract

Presbikusis didefinisikan sebagai penurunan pendengaran yang berhubungan dengan proses penuaan. Audiogram menunjukkan gambaran penurunan pendengaran sensorineural kedua sisi telinga terutama pada nada tinggi. Kesulitan mendengar merupakan disabilitas kedua terbanyak yang dialami oleh lansia Indonesia dengan sekitar 30-35% populasi berusia 65-75 tahun mengalami presbikusis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien dengan presbikusis di Kota Bandung. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain potong lintang yang dilakukan pada bulan Maret sampai Mei 2019 di Balai Perlindungan Sosial Provinsi Jawa Barat, Panti Jompo Dorkas, dan Panti Jompo Alamanda. Kriteria inklusi penelitian ini adalah seluruh penghuni dengan keluhan gangguan pendengaran dan kriteria eksklusi berupa penderita tuli kongenital. Hasil data penelitian berjumlah 135 orang dengan 87 perempuan (64,44%) dan 48 laki-laki (35,56%). Ditemukan presbikusis paling banyak pada perempuan (71,59%), berusia ≥65 tahun (57,95%) dengan gangguan sensorineural dan campuran (65,19%) derajat sedang (32,95%). Sebagian besar pasien mengeluhkan tinitus (68,18%). Simpulan penelitian ini adalah presbikusis lebih banyak ditemukan pada perempuan berusia ≥65 tahun dengan keluhan tinnitus dan gangguan dengar derajat sedang. Komorbiditas yang paling banyak ditemukan adalah hipertensi. Pada individu dengan faktor risiko, presbikusis dapat ditemukan lebih awal.Kata kunci: gangguan pendengaran; sensorineural; lansia; presbikusis
Incidence of Cleft Lip with or without Cleft Palate at Yayasan Pembina Penderita Celah Bibir dan Langit-Langit (YPPCBL) in 2016-2019 Resqiyah N I Fitrie; Marlianti Hidayat; Lia Dahliana
Journal of Medicine and Health Vol 4 No 1 (2022)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v4i1.3396

Abstract

Celah bibir dengan atau tanpa celah langit-langit merupakan kondisi cacat lahir ketika bibir dengan atau disertai dengan mulut bayi tidak terbentuk secara sempurna pada masa kehamilan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka kejadian penderita celah bibir dengan atau tanpa celah langit-langit yang datang ke Yayasan Pembina Penderita Celah Bibir dan Langit-Langit (YPPCBL) Bandung, Jawa Barat tahun 2016-2019 berdasarkan jenis kelamin, usia saat datang ke yayasan, tipe celah, dan daerah asal pasien. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif. Data dikumpulkan berdasarkan rekam medis pasien pada periode 2016-2019 kemudian dianalisis menggunakan Microsoft Excel 2013 dan SPSS versi 25. Didapatkan 933 data yang masuk ke dalam kriteria inklusi. Jumlah pasien paling banyak terjadi pada tahun 2018 sebanyak 283 orang, penderita paling banyak ditemukan dengan jenis kelamin laki-laki (58,1%), tipe celah paling banyak adalah celah bibir dan langit-langit unilateral komplit kiri (18,4%), penderita mayoritas berasal dari usia 0-1 tahun (53,2%), mayoritas penderita berasal dari Jawa Barat (92,5%). Simpulan, angka kejadian penderita celah bibir dengan atau tanpa celah langit-langit tahun 2016-2019 cenderung fluktuatif dengan jenis kelamin laki-laki paling banyak. Mayoritas penderita datang dengan standar usia paling baik untuk dilakukan penanganan celah, berasal dari Jawa Barat dengan tipe celah bibir dan langit-langit unilateral komplit kiri. Kata kunci: celah bibir; celah langit-langit; celah bibir dan langit-langit; angka kejadian
Correlation between Family Support with Sexual Behavior and Antiretroviral Adherence on HIV/AIDS Patients in “A” Community Bandung Siska Febriyanti; July Ivone; Limdawati Kwee
Journal of Medicine and Health Vol 5 No 1 (2023)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v5i1.3398

Abstract

Family support is the attitude, action, and acceptance of the family towards its members. One of the functions of the family is to support the health care of other family members. HIV (Human Immunodeficiency Virus) is a retrovirus that attacks the immune system of CD4+ cells, and if not treated immediately, the patient will fall into an AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) condition. HIV/AIDS patients need support from both social and family. The incidence of HIV/AIDS in West Java during 2019 was ranked third in Indonesia, which was 6,066 patients. The aim of this study was to determine the relationship between family support with patient’s sexual behavior and adherence to taking antiretroviral drugs. The research method used is an analytical method with a cross-sectional design. The sample of this study was HIV patients who are members of Community "A" Bandung, with a total of 51 respondents. Statistical analysis showed that there was a correlation between family support and sexual behavior of HIV/AIDS patients (p=0.013), however, there was no correlation between family support and antiretroviral adherence (p= 0.12). In conclusion, family support is related to sexual behavior, but not related to adherence to taking antiretrovirals in HIV/AIDS patients.
Neutrophil-to-Lymphocyte Ratio Changes in Rheumatoid Arthritis Patients with Oral Focus Infection Treatment Zahra N Anwar; Laili Aznur; Andri R Rahmadi
Journal of Medicine and Health Vol 4 No 1 (2022)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v4i1.3402

Abstract

Rheumatoid Arthritis (RA) merupakan penyakit autoimun kronis yang menyebabkan terjadinya peradangan pada sendi. Penyakit RA diketahui memiliki asosiasi dengan infeksi rongga mulut. Pemberian tata laksana pada rongga mulut terbukti menurunkan aktivitas penyakit RA. Neutrophil-to-Lymphocyte Ratio (NLR) merupakan salah satu parameter yang dapat digunakan untuk mengetahui aktivitas inflamasi pada pasien RA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan NLR pasien RA setelah pemberian tata laksana fokus infeksi oral. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif dan analitik-komparatif. Data sekunder diperoleh dari rekam medis pasien RA yang telah diberikan tata laksana fokus infeksi oral di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin, Bandung pada periode Januari hingga Desember 2019. Pengolahan data dilakukan dengan Wilcoxon signed-rank test. Data terdiri atas 17 subjek yang berasal dari 3 kategori fokus infeksi. Sebanyak 5 subjek mengalami infeksi apikal kronis, 2 subjek mengalami infeksi marginal kronis, dan 10 subjek mengalami infeksi apikal-marginal kronis. Hasil menunjukkan terdapat penurunan median NLR tanpa perubahan bermakna setelah pemberian tata laksana fokus infeksi oral. Simpulan, tidak terdapat perubahan NLR yang bermakna pada pasien RA yang diberikan tata laksana fokus infeksi oral.Kata kunci: neutrophil-to-lymphocyte ratio; rheumatoid arthritis; fokus infeksi oral
Studi Viabilitas pada Pasien yang Tidak Dapat Menghentikan Nitrat Long-acting Erwin A Soeriadi; Badai B Tiksnadi; Junan Imaniar; Hendra Budiawan; A Hussein S Kartamihardja
Journal of Medicine and Health Vol 3 No 2 (2021)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v3i2.3438

Abstract

The information of myocardial viability status is important to decide the management of CAD. Myocardial viability study (VS) with short-acting nitrate (SAN)-added is recommended to perform inpatient with CAD before revascularization therapy. This study aims to determine whether there are differences in the perfusion results of myocardial viability studies with Long-acting nitrate (LAN) and those with added SAN. Three patients with CAD were referred to our department for myocardial VS to determine the treatment choice. Long-acting nitrate (LAN) was consumed regularly every day and not allowed to be stopped due to the symptomatic chest pain. Patients underwent two myocardial perfusion VS, the first study with continuing the daily routine LAN only and the second one with SAN-added to the daily routine LAN. VS was analyzed qualitatively. The result of this study, no significant perfusion difference between LAN treatment only and SAN-added studies, it is possible the LAN regular dose alone is sufficient to create a vasodilating effect on the arteries without the need for addition of SAN. Conclusion, patients who take LAN routinely, VS might be performed without the need to take additional vasodilator prior to radiopharmaceutical injection.Keywords: coronary artery disease; myocardial perfusion imaging; revascularization therapy; viability study