cover
Contact Name
Meilinah Hidayat
Contact Email
jmh@med.maranatha.edu
Phone
+6222-2012186
Journal Mail Official
jmh@med.maranatha.edu
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Journal of Medicine and Health
ISSN : -     EISSN : 24425257     DOI : 10.28932/jmh
Core Subject : Health,
Journal of Medicine and Health (JMH) focuses on contributing towards science and research development that can be accessed by researchers and academic practitioners. Journal of Medicine and Health (JMH) is an open access journal, published biannually on every February and August. JMH receives original research articles, case report, and review articles related to biomedical sciences, clinical medicine, public health sciences, nutritional sciences, and medical herbs sciences. Articles should be written in good English or Indonesian language. All articles will be processed through peer review process.
Articles 238 Documents
Efek Andrographolide Oral Terhadap Biomarker Jantung pada Tikus yang Diinduksi Doxorubicin Silmi Hanifah; Wawaimuli Arozal; Vetnizah Juniantito
Journal of Medicine and Health Vol 5 No 2 (2023)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v5i2.5026

Abstract

Doxorubicin remains the most prescribed anticancer agent despite its unintended side effects on non-target organs. A limiting-dose strategy is used to lower incidence of cardiotoxicity. Andrographolide has therapeutic effects including antioxidant and anti-inflammatory. This study aimed to assess cardioprotective effects of andrographolide oral on lactate dehydrogenase (LDH), creatine kinase-myocardial band (CK-MB), and relative cardiac weight in doxorubicin-induced rats. Sixteen male rats Sprague Dawley randomized into four groups: receives saline i.p and vehicle orally (Normal), doxorubicin 16 mg/kgBW i.p and vehicle orally (Dox), doxorubicin 16 mg/kgBW i.p+andrographolide 30 mg/kgBW orally (Dox+And30), doxorubicin 16 mg/kgBW i.p+andrographolide 60 mg/kgBW orally (Dox+And60). Blood was collected via cardiac puncture and cardiac organs were weighed after four-weeks administration. Total LDH and CK-MB measured spectrophotometrically. LDH and CK-MB levels significantly elevated, and signs of acute toxicity in Dox group compared with Normal group. Co-treatment with andrographolide at 30 mg/kgBW and 60 mg/kgBW reduced signs of toxicity and significantly attenuated LDH and CK-MB levels compared with Dox group (P<0.05 and P<0.01). However, body weight and relative cardiac weight were not significantly different in all groups after co-treatment with andrographolide. In conclusion, andrographolide lowered LDH and CK-MB levels, therefore has a protective potency in alleviating toxic effects of doxorubicin.
Uji Validitas Eosinopenia Pada Pasien Sepsis Berdasarkan Kriteria Konsensus Sepsis-3 Adrian Suhendra; Ida Parwati; Adhi K Sugianli
Journal of Medicine and Health Vol 5 No 1 (2023)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v5i1.5351

Abstract

Sepsis remains a major global healthcare problem, indicate as most frequently cause of morbidity and mortality worldwide. The last consensus of sepsis in 2016 defined sepsis as life threatening organ dysfunction caused by a dysregulated host response to infection. Dysfunction of organs can be represented by Sequential [Sepsis-Related] Organ Failure Assessment (SOFA) score. Score2 points or more consequent to the infection. Nowadays, there is ideal biomarkers of sepsis such as procalcitonin (PCT). However, the use of that markers in developing countries are hardly accessible. Eosinopenia is an prepossess biomarker because eosinophil count is always measured in daily practice and considered as a forgotten marker. The study purpose is to determine the validity of absolute eosinopenia in bacterial sepsis patients. This study is a descriptive observational study, collecting 118 patient’s medical record data from the past, diagnosed as sepsis using consensus criteria of Sepsis-3 between January 1st 2018–December 31st 2019. Eosinopenia validity test in sepsis patients showed 92.7% specificity and 71.4% sensitivity. This study also showed significant differences of absolute eosinophil count between positive sepsis patients and negative group with p value <0.001. Eosinopenia had high specificity so it could be used as a marker of diagnostic in septic patients.
Hubungan Tingkat Pengetahuan Terhadap Perilaku Swamedikasi Common Cold pada Mahasiswa (Studi Kasus: Mahasiswa Farmasi Universitas Tanjungpura) Yuswar, Muhammad A; Musyafak, Syifa N
Journal of Medicine and Health Vol 6 No 1 (2024)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v6i1.5628

Abstract

Swamedikasi yakni upaya mandiri seseorang dalam mengobati dirinya sendiri, khususnya dari penyakit ringan seperti common cold. Kurangnya pengetahuan mengenai informasi obat dapat menyebabkan swamedikasi yang tidak tepat dan berdampak negatif pada kesehatan individu. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi korelasi pengetahuan dan perilaku swamedikasi common cold pada mahasiswa Farmasi angkatan 2021 di Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura, dilakukan penelitian menggunakan metode cross sectional dan total sampling dengan jumlah sampel sebanyak 105 orang. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji Spearman rank pada SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa instrumen kuesioner valid dan reliabel, serta terdapat hubungan positif antara tingkat pengetahuan dengan perilaku swamedikasi common cold dengan koefisien korelasi sebesar 0,556. Disimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat pengetahuan, maka perilaku swamedikasi common cold akan semakin baik.
Hubungan antara Durasi Penggunaan Gawai Selama Masa Pandemi COVID-19 dengan Computer Vision Syndrome pada Mahasiswa FK Unika Atma Jaya Jakarta Julia R Tanjung; Cornelia T Tantra; Nelson Sudiyono
Journal of Medicine and Health Vol 5 No 1 (2023)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v5i1.5688

Abstract

Pandemi COVID-19 berimbas pada peningkatan durasi penggunaan gawai untuk kegiatan pendidikan daring yang berdampak buruk bagi kesehatan mata, salah satunya, Computer Vision Syndrome (CVS). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan durasi penggunaan gawai dengan CVS pada mahasiswa kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya. Metode penelitian potong lintang dengan 98 responden (76 perempuan, 22 laki-laki) berusia 17-21 tahun, menggunakan Modified computer vision syndrome questionnaire dan aplikasi pengukur durasi penggunaan gawai. Rerata durasi penggunaan gawai adalah 610 menit per hari. Sebanyak 70% responden menggunakan gawai dengan rerata durasi >8,9 jam per hari. Prevalensi CVS ditemukan sebesar 47,9%, dimana 25,5% responden mengalami CVS derajat ringan dan 22,4% responden mengalami CVS derajat sedang hingga berat. Analisis Bivariat dengan uji Chi-square memperlihatkan hubungan yang bermakna antara durasi penggunaan gawai dengan derajat keparahan CVS (p<0,05). Simpulan penelitian ini, terdapat hubungan antara durasi penggunaan gawai dengan derajat keparahan Computer Vision Syndrome pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Unika Atma Jaya Jakarta selama masa pandemi Covid-19.
Uji Diagnostik Virus Hepatitis B dan CRISPR-Cas Sebagai Alternatif: Sebuah Tinjauan Pustaka Christian, Jeanne E; Yuliawuri, Hartiyowidi; Gunawan, Natalia; Charlotte, Yolanda
Journal of Medicine and Health Vol 6 No 1 (2024)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v6i1.5959

Abstract

Infeksi virus hepatitis B (VHB) kronis ditandai dengan keberadaan covalently closed circular DNA (cccDNA) VHB. Metode diagnostik VHB umumnya berbasis molekuler dan serologi, tetapi metode ini memiliki kekurangan terutama di dalam mendeteksi jumlah cccDNA VHB yang rendah, mendeteksi VHB di awal tahapan infeksi, dan membedakan cccDNA dari relaxed circular DNA (rcDNA). Artikel ini bertujuan untuk membandingkan sistem diagnostik konvensional (molekular dan serologi) dengan sistem diagnostik berbasis CRISPR-Cas yang dapat menjadi alternatif uji diagnostik VHB. Metode penelitian menggunakan studi literatur mengenai diagnostik VHB secara konvensional dan metode CRISPR-Cas untuk VHB yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Prinsip metode CRISPR dalam sistem penyuntingan genom melibatkan CRISPR-associated nuclease (Cas) dalam memodifikasi nukleotida asing yang bekerja dalam tiga tahapan yaitu adaptasi, ekspresi, dan intervensi. Beberapa penelitian penggunaan CRISPR-Cas dalam diagnostik VHB menunjukkan bahwa CRISPR-Cas dapat mendeteksi cccDNA VHB dengan sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi. Simpulan adalah metode CRISPR-Cas dapat dikembangkan sebagai alternatif uji diagnostik infeksi VHB.
Correlation between SREBP-1c and Prominent Nucleoli Hepatocytes of Type 2 Diabetic Rat Model Induced by Dietylnitrosamine Wahyuni L Atmadja; Erna Kristiani; Stella Marleen; Veli Sungono; Young Larasati; Kevin Feraldy
Journal of Medicine and Health Vol 5 No 2 (2023)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v5i2.6076

Abstract

Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) demonstrates relative risk of cirrhosis towards livercancer. Although the relationship between of type 2 diabetic and cirrhotic toward HCC has beensuggested, the association between SREBP-1c and the number of prominent nucleoli hepatocyteshas not clearly explored. This study aims to prove the correlation between those variables byusing male Wistar rat model given fat diet continued with administration of Streptozotocininjections twice in low dosage and an injection of dietylnitrosamine once a week for 10 weeks. Atweek 16, they were sacrificed, the fresh liver tissue was processed for examining the expressionof SREBP-1c, while the fixative paraffin block was sliced and stained with Hematoxylin Eosin tocount the number of prominent nucleoli hepatocytes. The western blotting result demonstratedincreasing level of SREBP-1c in diabetic rat significantly. The liver sections showed nodulesconsisting of pleomorphic cells, inflammatory cells, and prominent nucleoli hepatocytes. Thecorrelation between level of SREBP-1c and total number of prominent nucleoli hepatocytes wasmeasured with non-parametric correlation method statistically. It demonstrated coefficientr=0,435 with p value=0,037. It is concluded that increasing number of prominent nucleolushepatocytes related to enhancing level of SREBP-1c in the process of T2DM towardsHepatocellular Carcinoma.
Kontribusi Kepatuhan Konsumsi Obat Antihipertensi dan Terkendalinya Tekanan Darah Pasien Hipertensi di Puskesmas Cisauk, Kabupaten Tangerang, Banten Shirley I Moningkey; Iegreat Aprilyanri; I Gusti AN Hirania; Lidia Arita; Wahyuni L Atmodjo
Journal of Medicine and Health Vol 5 No 1 (2023)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v5i1.6097

Abstract

Hipertensi merupakan masalah kesehatan dengan tingkat prevalensi tertinggi di dunia. WHO mencatat bahwa terdapat 1 dalam 5 orang dengan hipertensi yang terkontrol disebabkan kepatuhan penderita hipertensi dalam mengonsumsi obat yang masih kurang. Walaupun beberapa penelitian melaporkan mengenai pengaruh kepatuhan mengonsumsi obat antihipertensi dengan terkendalinya tekanan darah tinggi, namun masih terdapat perbedaan pada kebermaknaan pada hasil penelitiannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan kontribusi kepatuhan konsumsi obat antihipertensi dengan terkendalinya tekanan darah pada penderita hipertensi. Penelitian ini menggunakan metode studi potong lintang terhadap 78 penderita tekanan darah tinggi di Puskesmas Cisauk yang memenuhi kriteria penelitian. Data kepatuhan meminum obat antihipertensi diamati dengan kuesioner Morrisky Medication Adherence Scale 8 (MMAS-8). Hasil penelitian menunjukkan 47 (60,3%) subyek hipertensi tidak patuh terhadap pengobatan hipertensi, sedangkan 56 (71,8%) subyek memiliki tekanan darah yang tidak terkendali yaitu >140/90. Hubungan antara kedua variabel pada penderita hipertensi di Puskesmas Cisauk yang dianalisa dengan metode chi-square menunjukkan kebermaknaan dengan p<0,0001 dan OR=5,35. Penelitian ini menyimpulkan apabila pasien tidak patuh minum obat antihipertensi maka kemungkinan akan mengalami hipertensi 5,35 kali lebih besar.
Perbandingan Kemampuan Klasifikasi Citra X-ray Paru-paru menggunakan Transfer Learning ResNet-50 dan VGG-16 Tasya Berliani; Enggalwiguno Rahardja; Lina Septiana
Journal of Medicine and Health Vol 5 No 2 (2023)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v5i2.6116

Abstract

Di masa pandemi Covid-19, foto rontgen menjadi umum digunakan untuk memeriksa pasien diduga Covid-19. Pada citra x-ray paru-paru yang terkena Covid-19 ditemukan adanya bercak putih atau flek. Namun, paru-paru yang memiliki flek ini tidak selalu disebabkan oleh Covid-19. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengklasifikasikan beberapa jenis penyakit paru-paru dari citra x-ray, yaitu paru-paru dengan Covid-19, paru-paru dengan pneumonia, dan paru-paru yang memiliki flek dibandingkan dengan yang normal. Proses klasifikasi data pada penelitian ini dilakukan dengan membandingkan dua model yaitu CNN VGG-16 dan ResNet-50 dengan model yang telah dilatih sebelumnya. Metrik evaluasi yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari akurasi, presisi, sensitivitas, spesifisitas, skor F1, dan kecepatan waktu inferensi. Hasil menunjukkan bahwa VGG-16 lebih unggul dari ResNet-50 dalam hal kecepatan inferensi namun tidak dalam hal metrik evaluasi lainnya. Perubahan parameter juga menunjukkan hasil yang berbeda, epoch 200 adalah nilai optimal. Untuk mendapatkan hasil yang optimal diperlukan finetuning dengan menyesuaikan kondisi data yang digunakan. Sebagai simpulan, VGG-16 memiliki kemampuan klasifikasi yang lebih baik dibandingkan ResNet-50, namun perlu terus dikembangkan dengan memperbanyak data klinis yang aktual.
Soy Protein Diet Improves Nutritional Status of Offspring with Intrauterine Growth Restriction: A Scoping Review Rimonta F Gunanegara; Rafhani Rosyidah; Agung Dewanto; Sunarti Sunarti
Journal of Medicine and Health Vol 5 No 2 (2023)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v5i2.6175

Abstract

The intake of a low-protein diet during pregnancy can lead to alteration of fetal programming with long-term postnatal consequences exposing offspring with malnutrition to metabolic syndrome in adulthood. Accordingly, a more affordable alternative source of protein, such as soy, is used to improve nutrition. The objective of this study was to examine the advantages and disadvantages of soy as an alternative protein source to improve offspring nutrition with Intrauterine Growth Restriction (IUGR). The method used was a scoping review, and the design was selected to provide coverage on a certain topic with the concepts from available literature. Systematic searches were performed in six databases: PubMed, EBSCO, ScienceDirect, SCOPUS, Sage Journals, and Cochrane Library. Data collection included reports published from January 2013 to January 2023. Nine articles meeting the inclusion criteria were obtained and analyzed for review. Protein from a plant source is considered a good alternative in restoring nutrition to malnourished offspring in early life. Furthermore, the dietary deficiency of soy can be corrected with close monitoring. As a conclusion, the quality of life of offspring with IUGR is improved through a well-planned supplementation.
Waktu Pajanan Layar dan Keterlambatan Perkembangan pada Anak Balita di Tanjung Duren – Jakarta Barat Fina Azlina; Lily M Surjadi
Journal of Medicine and Health Vol 5 No 2 (2023)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v5i2.6360

Abstract

Waktu pajanan layar adalah waktu yang dihabiskan secara pasif menatap hiburan ataupun permainan berbasis layar (TV, komputer, perangkat seluler). Kondisi ini banyak terjadi terutama pada masa pandemi Covid-19. Semakin tinggi waktu pajanan layar maka kemungkinan akan meningkatkan pula dampak negatif pada perkembangan anak yang akan memengaruhi kualitas sumber daya manusia dikemudian hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan waktu pajanan layar dengan keterlambatan perkembangan pada anak balita yang melibatkan 138 balita pada bulan Agustus sampai dengan November 2022. Penelitian ini didesain sebagai penelitian cross sectional dan dilakukan di Posyandu yang terdapat di wilayah Puskesmas Tanjung Duren Utara, Jakarta Barat, dengan menggunakan kuesioner waktu pajanan layar dan Kuesioner Pra skrining Perkembangan (KPSP) untuk menilai perkembangan balita. Data menunjukkan bahwa sebanyak 74 subjek (53,6%) memiliki waktu pajanan layar lebih dari 1 jam per hari (dikategorikan sebagai waktu pajanan layar tinggi) dan sisanya tergolong waktu pajanan layar rendah. Dari nilai KPSP yang diperoleh, 10 subjek (7,2%) diduga mengalami keterlambatan perkembangan, dan uji statistik menggunakan uji Mann-Whitney menunjukkan nilai p 0,000. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara lamanya waktu pajanan layar dengan kemungkinan keterlambatan perkembangan pada anak balita.