cover
Contact Name
Vincentius Widya Iswara
Contact Email
vincentius@ukwms.ac.id
Phone
+6231 5678478
Journal Mail Official
nangkris@ukwms.ac.id
Editorial Address
Jl. Dinoyo 42-44 Surabaya - 60265
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Komunikatif : Jurnal Ilmiah Komunikasi
ISSN : 23016558     EISSN : 25976699     DOI : https://doi.org/10.33508/jk
Komunikatif is issued by Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya since 2012. Komunikatif is a peer-reviewed journal. Komunikatif publishes an article from selected topics in communication studies; those are media studies, public relations, and human communication. Articles issued by Komunikatif are conceptual articles and research articles. Komunikatif aims at publishing research and scientific thinking regarding the development of communication studies and contemporary social phenomena. Komunikatif also wishes to become an eligible reference for students and/or academia, especially in the communication field. Komunikatif is issued twice a year (July and December). Komunikatif clarifies ethical behavior for all parties involved, including authors, editor-in-chief, Editorial Board, reviewers, and publisher. Komunikatif provides free access for the online version to support knowledge exchange globally.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 3 No. 1 (2014)" : 5 Documents clear
Anomali dan teori hirarki pengaruh terhadap isi media Nanang Krisdinanto
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 3 No. 1 (2014)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v3i1.1243

Abstract

Teori hirarki pengaruh terhadap isi media dikenalkan oleh Pamela J. Shoemaker dan Stephen D. Reese, yang menjelaskan pengaruh internal dan eksternal media terhadap isi pemberitaan.2 Keduanya membagi pengaruh tersebut ke dalam lima level, yaitu pengaruh individu pekerja media (individual level), rutinitas media (media routines level), organisasi media (organizational level), luar media (extramedia level), dan ideologi (ideology level). Teori ini menjadi penting dalam studi media karena isi media diasumsikan memiliki implikasi penting dalam perubahan sosial. Teori ini juga menarik karena menawarkan perspektif alternatif dalam memahami isi media, yang sebelumnya lebih sering dilihat sebagai sesuatu yang netral dalam melaporkan realitas, atau setidaknya dianggap menyajikan representasi yang fair tentang realitas (tanpa distorsi atau setidaknya dengan distorsi minimal). Dalam perspektif ini, media diasumsikan pasif, sekadar medium (media as channels), yang hanya menyampaikan realitas apa adanya, bertumpu pada konsep-konsep positivistik seperti objektivitas, dan tidak membawa dampak pada perubahan sosial. Sebaliknya, Shoemaker dan Reece berangkat dari asumsi media berperan aktif membentuk realitas, media as participants, bahwa media tidak netral bahkan bisa memanipulasi realitas melalui penekanan atau penghilangan elemen-elemen tertentu dari realitas, dan memosisikan media massa sebagai agen perubahan sosial. Dengan asumsi ini, Shoemaker-Reece membawa teorinya sebagai alternatif atau bahkan kritik terhadap teori-teori media (jurnalistik) mainstream yang cenderung posivistik. Mengikuti kerangka berpikir Thomas Kuhn, teori ini bisa disebut sebagai jawaban atas terjadinya ”anomali” ketika teori (jurnalistik, komunikasi massa) lama yang positivistik tidak mampu lagi menjelaskan gejala/fenomena.
Cultural Studies : Perlintasan Paradigmatik Dalam Ilmu Sosial Pujo Sakti Nur Cahyo
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 3 No. 1 (2014)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v3i1.1244

Abstract

Pada tahun 1964 di Universitas Birmingham, Inggris, dibentuk sebuah lembaga pusat pengkajian budaya kontemporer yang diberi nama CCCS, Centre for Contemporary Cultural Studies. Lembaga yang diprakarsai oleh Richard Hoggart, E.P. Thompson, dan Raymond Williams tersebut bertujuan untuk mengkaji isu-isu kultural yang menjadi perhatian pada saat itu, seperti budaya kelas pekerja dan hal-hal yang berkaitan dengan praktek serta ideologi kapitalis. Pada perkembangannya, CCCS berhasil melahirkan karya-karya analisis kultural yang tidak hanya berfokus pada isu-isu kelas pekerja dan kapitalisme saja, namun juga mengenai praktek budaya massa, subkultur, feminisme, queer, dan media. Dibangun dalam konstruksi keilmuan yang transdisipliner, karya-karya analisis tersebut cenderung memiliki kesamaan dalam memandang dan menganalisis budaya, namun berbeda dari paradigma-paradigma kajian sosial yang sudah ada sebelumnya, walaupun tidak berarti menolak ataupun meninggalkannya. Kecenderungan paradigma ini kemudian dikenal sebagai Mahzab Birmingham, yang juga merupakan basis paradigma Cultural Studies. Selama lebih dari 50 tahun, Cuttural Studies telah menjadi sebuah lintasan paradigma dalam ilmu sosial.
Bertarung Makna Ala Media ( Analisis Framing Pemberitaan Konflik Pasca Pemilihan Umum Kepala Daerah Kabupaten Sumba Barat Daya Dalam Surat Kabar Harian Pos Kupang Dan Harian Pagi Timor Express) Merlina Maria Barbara Apul
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 3 No. 1 (2014)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v3i1.1245

Abstract

Penelitian ini mengungkap bagaimana dua surat kabar lokal di Nusa Tenggara Timur (NTT) yakni SKH Pos Kupang dan Harian Pagi Timor Express (Timex) membingkai konflik pasca pilkada di Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD). Peneliti menggunakan metode analisis framing model Entman untuk melihat pembingkaian yang dilakukan dua media lokal ini dalam memberitakan konflik pilkada Kabupaten SBD. Hal ini berkaitan dengan bagaimana SKH Pos Kupang dan Timex menyeleksi isu, dan melakukan penonjolan aspek tertentu dari isu, yang terkait dengan konflik tersebut. Dengan analisis framing model Entman, peneliti menemukan dua frame besar yang mewakili SKH Pos Kupang dan Timex ketika membingkai peristiwa. Dua frame ini sejatinya memperlihatkan bagaimana peristiwa yang sama dilihat secara berbeda oleh dua media. SKH Pos Kupang yang cenderung melihat konflik sebagai bentuk dari kesengajaan KPU SBD sebagai lembaga resmi penyelenggara pemilu. Hal ini ditunjukkan dengan menonjolkan fakta penggelembungan suara. Sebaliknya Timex, membingkai konflik yang merupakan bentuk dari ketidakberdayaan KPU SBD sebagai penyelenggara pemilu. Ini ditunjukkan Timex dengan menonjolkan kelalaian KPU SBD yang hanya menempatkan dirinya sebagai ”tukang rekapitulasi”. Dua frame ini ditonjolkan SKH Pos Kupang dan Timex dengan menggunakan perangkat penalaran tertentu guna memperkuat basis pembenaran masing-masing.
Kesetaraan Gender Dalam Penyelesaian Konflik Korban Lumpur Lapindo Sidoarjo Fitria Widiyani Roosinda
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 3 No. 1 (2014)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v3i1.1246

Abstract

Terdapat kesenjangan antara kebijakan Pemerintah berupa Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2007 dan sikap warga korban Lumpur Lapindo Sidoarjo. Hal ini disebabkan adanya ketidak sepahaman antara maksud dan tujuan yang terkandung dalam Perpres nomor 14 tahun 2007 dan kemauan warga korban Lumpur lapindo Sidoarjo. Perbedaan pandangan tersebut semakin menajam dengan berbuntut adanya aksi-aksi blokade yang dilakukan oleh warga, baik warga yang berasal dari wilayah peta terdampak maupun warga yang diluar petab terdampak, dijalan raya Sidoarjo Malang hingga aksi unjuk rasa yang masih saja terjadi hingga kini. Terakhir sebagian warga korban lumpur melakukan aksi unjuk rasa besar didepan istana negara pada bulan Maret 2009. Ketidak konsistenan pihak Lapindo menjadi pemicu aksi-aksi yang bermunculan menolak perpres 14 tahun 2007 maupun menuntut hak-hak warga maupun janji janji pemerintah pusat maupun daerah. Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) sebagai penjelmaan Perpres 14/ 2007 tidak bisa berbuat banyak. BPLS bertanggungjawab untuk mempersempit kesenjangan kebijakan pemerintah dengan kemauan warga. Namun pada kenyataannya, badan yang dibentuk tersebut tidak mampu meredam konflik yang terus saja terjadi antara warga dengan pemerintah. Untuk itu dibutuhkan sebuah wadah komunikasi yang efektif. Apakah Sosialisasi telah dilakukan secara terus menerus dan bagaimana pola komunikasinya. Warga membutuhkan tindakan konkrit dari pihak-pihak yang terkait dengan masalah lumpur sidoarjo ini. Warga menilai pemerintah dan juga pihak Lapindo hanya memberikan janji-janji penyelesaian saja. Sampai saat ini warga masih diliputi kecemasan mengenai kondisi lingkungan dimana mereka tinggal, sebab bisa jadi sewaktu-waktu lumpur akan menggenangi wilayah mereka. Kesetaraan gender yang menonjol dalam proses penyelesaian konflik lumpur lapindo sidoarjo ini lebih menekankan bagaimana sebenarnya peran wanita didalamnya. Apa saja yang mereka tempuh guna mendapatkan hak-haknya sebagai bagian dari peristiwa tersebut. Bagaimana mereka saling menguatkan diri untuk keberlangsungan hidup keluarganya. Peran yang tidak bisa dikatakan kecil meski mereka ada dibalik layar dalam proses penyelesaian konflik tersebut. Riset ini lebih menekankan bagaimana sosialisasi dijalankan, apakah kendala komunikasinya dan bagaimana jalan keluarnya.serta apa yang diharapkan oleh warga dari adanya Perpres tersebut bagi kelangsungan hidup mereka selanjutnya.
Cultivation Analysis Pengaruh Terpaan Program Sinetron TBNH Dan Sikap Ibu-Ibu Di Jawa Timur Mengenai Keluarga Bahagia ( Uji Statistik Deskriptif Konsep Mainstraiming Dan Resonance Dengan Metode Survei Terhadap Ibu-Ibu Di Jawa Timur Penonton Sinetron TBNH) Yuli Nugraheni; Finsensius Yuli Purnama
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 3 No. 1 (2014)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v3i1.1247

Abstract

Menurut Geroge Gerbner (dalam Griffin, 2003: 380 – 389), televisi memiliki pengaruh yang besar pada pembentukan persepsi penonton atas realitas, inilah konsep utama cultivation theory (teori kultivasi). Teori ini diperkenalkan pada tahun 1970an untuk menjelaskan hubungan antara terpaan program televisi dan persepsi publik terhadap lingkungan sekitarnya (West dan Turner, 2010: 87 – 89). Penelitian ini menguji dua cara kultivasi yang disebut oleh Gerbner, yakni proses mainstraiming dan resonance yang terjadi pada para ibu-ibu Jawa Timur yang merupakan penonton sinetron TNBH. Dengan menggunakan metode survey, hasil olah data atas responden di Kabupaten Gresik, Sidoardjo, Magetan, Madiun, dan Kota Surabaya menunjukkan bahwa hasil uji konsep mainstraiming tidak sepenuhnya berlaku. Data menunjukkan bahwa responden yang memiliki tingkat terpaan rendah dan termasuk dalam kategori penonton ringan juga memiliki sikap yang positif atas persetujuan mengenai penggambaran sinetron TBNH mengenai keluarga bahagia. Sebaliknya, terpaan tinggi memiliki kecenderungan persetujuan rendah yaitu sebesar 44%. Hal ini bertetangan dengan konsep mainstraiming yang menyatakan bahwa semakin tinggi terpaan media maka semakin tinggi pula persetujuan audiens atas isi media dan menunjukkan sikap yang semakin positif. Konsep kedua yang diuji dalam penelitian, konsep resonace menunjukkan data yang mendukung konsep tersebut. Data menunjukkan bahwa semakin tinggi kesesuaian antara pengalaman responden dengan isi tanyangan media, maka semakin tinggi pula persetujuan responden bahwa realitas sosial itu sama dengan realitas yang ditampilkan oleh media. Dalam penelitian ini, responden mengalami proses kultivasi melalui proses resonance dengan data yang menunjukkan bahwa semakin tinggi persamaan antara pengalaman responden dengan penggambaran keluarga bahagia dalam sinteron TBNH maka semakin tinggi pula persetujuan responden atas isi dari penggambaran keluarga bahagia dalam sinetron TBNH.

Page 1 of 1 | Total Record : 5