cover
Contact Name
Dita Arccinirmala
Contact Email
dorotea.arccinirmala@kalbe.co.id
Phone
+6281905203065
Journal Mail Official
CDK@kalbe.co.id
Editorial Address
Redaksi CDK Gedung Kalbe, gedung 2 lantai 2 Jl. Letjen Suprapto Kav. 4. Cempaka Putih - Jakarta 10510
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Cermin Dunia Kedokteran
Published by PT. Kalbe Farma Tbk.
ISSN : 0125913X     EISSN : 25032720     DOI : 10.55175
Core Subject : Health,
Cermin Dunia Kedokteran (CDK) is a Medical Journal published since 1974 and affiliated with PT Kalbe Farma Tbk. CDK is intended to help accommodate scientific publications and help increase and disseminate knowledge related to the development of medical science, pharmacy, and public health. CDK covers the disciplines of medicine, pharmacy, and health with several types of articles, namely: 1. Research 2. Literature review 3. Case report 4. Evidence-based case report (EBCR), systematic review 5. Other scientific articles Based on the SK Kemendikbudristek Nomor 152/E/KPT/2023, CDK has obtained Rank 4 (SINTA 4) for Scientific Journals.
Articles 1,276 Documents
ASI Eksklusif: Nutrisi Ideal untuk Bayi 0-6 Bulan Felicia Anita Wijaya
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46 No 4 (2019): Dermatologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i4.485

Abstract

Air susu ibu (ASI) eksklusif adalah ASI yang diberikan kepada bayi sejak dilahirkan selama enam bulan, tanpa menambahkan dan/atau mengganti dengan makanan atau minuman lain (kecuali obat, vitamin, dan mineral). Manfaat pemberian ASI pada bayi yaitu nutrisi ideal, kaya akan antibodi untuk meningkatkan daya tahan tubuh, membantu ikatan batin ibu dengan bayi, meningkatkan kecerdasan anak, berat badan bayi ideal, dan dapat mencegah sudden infant death syndrome (SIDS). Menyusui diperkirakan juga dapat menurunkan risiko diabetes, obesitas, dan kanker tertentu. Exclusive breastfeeding is breast milk given to babies from birth until age of six months, without adding and/or replacing with other foods or drinks (except drugs, vitamins, and minerals). The benefits of breastfeeding for infants are to provide ideal nutrition, to increase endurance, to help mother and babybonding, to increase children’s intelligence, to achieve ideal baby weight, and can prevent sudden infant death syndrome (SIDS). Breastfeeding can supposedly also reduce the risk of diabetes, obesity, and certain cancers.
Kualitas Kehidupan Seksual Perempuan pascaHisterektomi Vaginal dan Kolpora untuk Perbaikan Prolaps Organ Panggul Nuring Pangastuti
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46 No 4 (2019): Dermatologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i4.486

Abstract

Prolaps organ panggul yaitu keadaan turunnya organ panggul melalui vagina, merupakan salah satu disfungsi dasar panggul yang dapat berakibat nyeri senggama atau disfungsi seksual. Prosedur kolporafi anterior dan posterior dapat menurunkan gejala disfungsi seksual yang berhubungan dengan prolaps, serta memperbaiki kepuasan seksual, demikian pula prosedur pembedahan histerektomi vaginal. Dispareunia dapat terjadi pasca-perbaikan dinding posterior vagina. Pelvic organ prolapse is when pelvic organs descend through the vagina, and can result in dyspareunia or sexual dysfunction. Anterior and posterior colporrhaphy and vaginal hysterectomy are the procedures to correct the condition. Dyspareunia can occur after repair of the posterior wall of the vagina.
Modalitas Pencitraan Terbaik untuk Kolik Renal Christa Levina Daniswara
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46 No 4 (2019): Dermatologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i4.487

Abstract

Kolik renal umum dijumpai di Unit Gawat Darurat (UGD). Diagnosis klinis memerlukan konfirmasi modalitas pencitraan. Computed tomography (CT-scan) dianggap sebagai modalitas terbaik karena dapat mendeteksi batu ginjal dengan akurasi sangat baik. Namun, ultrasonografi (USG) harus dianggap sebagai teknik pencitraan utama karena cukup akurat mendiagnosis batu saluran kemih dengan biaya relatif tidak mahal dan bebas radiasi. Modalitas pencitraan lain seperti foto polos, intravenous pyelography (IVP), dan magnetic resonance imaging (MRI) juga dapat menjadi pilihan. Renal colic is a common condition in Emergency Unit (ER). Imaging modalities helps to confirm the diagnosis and decide the therapy. CT scan is considered as the best modality because of its accuracy. However, ultrasound must be considered as the primary imaging technique because of its accuracy, relatively inexpensive, and radiation-free. Other imaging modalities such as plain radiographs, intravenous pyelography (IVP), and magnetic resonance imaging (MRI) can also be alternatives with their own advantages and disadvantages
Pemasangan Logo IDI Mahesa Paranadipa M
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46 No 4 (2019): Dermatologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i4.488

Abstract

Dengan legalitas sebagai dokter yang telah resmi menjadi anggota IDI (Ikatan Dokter Indonesia), tentunya banyak dokter merasa bangga dapat menggunakan atau mencantumkan logo IDI di papan praktik atau di kendaraan.
Karakteristik Pasien Stroke Usia Muda di RSUD Kota Surakarta Daniel Mahendrakrisna; Drestha Pratita Windriya; Aria Chandra GTS
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46 No 3 (2019): Nutrisi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i3.490

Abstract

Latar belakang. Kejadian stroke pada usia muda kurang dari 5% dari seluruh kejadian stroke. Beberapa penelitian melaporkan peningkatan angka kejadian stroke pada usia kurang dari 45 tahun. Penelitian ini untuk mengetahui angka kejadian dan karakteristik pasien stroke usia muda di RSUD Kota Surakarta. Metode. Penelitian deskriptif observatif pada populasi semua penderita stroke usia muda (18-45 tahun) di RSUD Kota Surakarta dari bulan Januari 2017 hingga Juni 2018. Data diambil dari rekam medis berupa usia, jenis kelamin, jenis stroke, hasil CT scan, serta faktor risiko. Hasil. Dari 420 pasien stroke pada rentang waktu Januari 2017-Juni 2018, didapatkan 28 penderita stroke usia muda, rerata usia 39,6 tahun dengan rentang usia 29 sampai 45 tahun, dengan 53,6% laki-laki, 78,6% menderita stroke non-hemoragik, dan 39,3% menderita kelemahan sisi kanan. Didapatkan riwayat hipertensi sebanyak 85,7%, diabetes melitus 14,3%, hiperkolesterolemia 17,9%, hiperurisemia 21,4%, gagal jantung 7,1%, epilepsi 7,1%, dan riwayat stroke 3,6%. Tidak ada yang mempunyai riwayat penyakit jantung koroner dan aritmia jantung. simpulan. Stroke usia muda jarang terjadi, dan sebagian besar merupakan stroke non-hemoragik. Hipertensi dan dislipidemia merupakan faktor risiko utama stroke di usia muda. Introduction. Stroke in young adults is less than 5% of all incidence of stroke; but it is increasing among less than 45 years old. The purpose of this study was to determine the incidence and characteristics of young stroke patients in RSUD Kota Surakarta. Method. A descriptive analytic study on all stroke patients aged between 18-45 years in RSUD Kota Surakarta during January 2017 to June 2018. Data was collected from medical record consist of age, gender, type of stroke, CT scan data, and risk factors. result. From 420 stroke patients in the period of January 2017-June 2018, there were 28 young stroke patients in the range of 29 to 45 years old, the average was 39.6 years old; 53.6% were male and 78.6% suffered a non-hemorrhagic stroke, 39.3% had right hemiparesis. Hypertension was found in 85.7%, diabetes mellitus in 14.3%, dyslipidemia in 17.9%, high uric acid in 21.4%, heart failure in 7.1%, epilepsy in 7.1%, and previous stroke history in 3.6% patients. No patients has a history of coronary heart disease and cardiac arrhythmias. conclusion.The young adults stroke incidence is low. Ischemic stroke is the most common type. Hypertension and dyslipidemia are the most common found stroke risk factors
Hipertensi Esensial: Diagnosis dan Tatalaksana Terbaru pada Dewasa Steven Johanes Adrian; Tommy
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46 No 3 (2019): Nutrisi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i3.491

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu penyebab terbesar morbiditas penyakit di dunia; penderita hipertensi diperkirakan akan mencapai 1,5 miliar pada tahun 2025 dan kematian dapat mencapai 9,4 juta individu. Hipertensi didefinisikan sebagai kondisi tekanan darah sistolik ≥ 130 mmHg atau diastolik ≥ 80 mmHg; 80 – 95% kasus hipertensi esensial. Dua faktor utama berkaitan dengan kasus hipertensi esensial adalah faktor genetik dan lingkungan. Tatalaksana kombinasi nonfarmakologis dan farmakologis dengan mempertimbangkan berbagai aspek, seperti stadium hipertensi, saat mulai pengobatan, jenis obat, target tekanan darah, komorbiditas, kontrol berkala, dan kriteria rujukan. Hypertension causes a considerable morbidity in the world. There will be 1.5 billion hypertensive patients with mortality up to 9.4 million in 2025. Hypertension is defined as systolic blood pressure ≥130 mmHg or diastolic blood pressure ≥ 80 mmHg. Approximately 80-95% cases are essential hypertension. The most important factors associated with essential hypertension are genetic and environmental factors. The recommended treatment consists of pharmacological and non-pharmacological methods, considering the stage of hypertension, initiation, class of drugs, blood pressure target, comorbidities, follow-up, and referral criteria.
Peranan Mikronutrien terhadap Perkembangan Otak Gursal Rai Gandra Siregar; Johannes Harlan Saing; Yazid Dimyati; Cynthea Prima Destariani
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46 No 3 (2019): Nutrisi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i3.492

Abstract

Perkembangan otak dimulai saat konsepsi sampai masa dewasa muda. Nutrisi berperan penting dalam perkembangan saraf, mulai dari neurulasi sampai mielinasi. Penelitian telah menunjukkan hubungan antara kadar mikronutrien dan perkembangan otak, baik bersifat sementara maupun permanen dan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Brain development begins from the conception through young adult period. Nutrition played a main role in the brain development from neurulation until myelination process. Studies showed the relationship between micronutrient status and the brain development both temporary and permanent and both short and long term.
Profile of Pediatric Nephrotic Syndrome in Wahidin Sudirohusodo Hospital, Makassar, Indonesia Husein Albar; Fadel Bilondatu
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46 No 3 (2019): Nutrisi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i3.494

Abstract

Introduction: Nephrotic syndrome is a common and important pediatric chronic renal disease, characterized by massive proteinuria, hypoalbuminemia, edema, and hypercholesterolemia. This study was to assess the profile of pediatric nephrotic syndrome at Wahidin Sudirohusodo Hospital Makassar over a 7-year period. Methods: A retrospective study on hospitalized nephrotic syndrome patients at pediatric nephrology ward in Wahidin Sudirohusodo Hospital Makassar from January 2011 to December 2017. Demographic, clinical, and laboratory data were extract from medical records. results: Total 142 children with nephrotic syndrome who fulfilled the inclusion criteria were analyze. Age at onset ranged from 1.4 to 17.5 years (mean 8.5 years), the majority (66.2%) was 5 year-old and above, predominantly boy (66.2%) with a boy to girl ratio of 1,95:1 and well-nourished (56.3%). Upper respiratory infections were observed in 36.6% cases. The predominant clinical signs and symptoms were edema (100%), hypertension (26.8%). Patients with relapse were 56.3%, and the mortality was 2.12%. The prevalent laboratory findings were microscopic hematuria (50.7%), massive proteinuria (100%), hypoalbuminemia (100%), hypercholesterolemia (100%), and elevated serum creatinine (9.9%). conclusion: The profile of pediatric nephrotic syndrome at Wahidin Sudirohusodo Hospital Makassar was similar to typical children nephrotic syndrome and did not significantly differ from other studies. Introduksi: Sindrom nefrotik adalah penyakit kronis anak yang sering dan penting di seluruh dunia, ditandai oleh proteinuria masif, hipoalbuminemia, edema, dan hiperkolesterolemia. Studi ini untuk menentukan profil sindrom nefrotik anak di rumah sakit Wahidin Sudirohusodo Makassar selama 7 tahun. Metode: Penelitian retrospektif pada pasien sindrom nefrotik di bangsal nefrologi anak rumah sakit Wahidin Sudirohusodo Makassar dari bulan Januari 2011 sampai dengan Desember 2017. Data diambil dari rekam medik terdiri dari data demografi dan temuan klinis dan laboratorium. Hasil: Total 142 pasien sindrom nefrotik anak yang memenuhi kriteira inklusi dianalisis. Umur pasien saat onset mulai dari 1,4 sampai dengan 17,5 tahun dengan rerata umur 8,5 tahun. Kebanyakan berumur 5 tahun atau lebih (66.2%) didominasi pasien laki-laki (66,2%) dengan rasio jenis kelamin 1,95:1. Status gizi baik (56,3%). Infeksi saluran napas atas ditemukan pada 36,6% kasus. Gejala dan tanda klinis utama adalah edema (100%), hipertensi (26,8%), relaps pada 56,3% kasus, dan 2,12% pasien meninggal. Temuan laboratorium utama adalah hematuria mikroskopik (50,7%), proteinuria masif (100%), hipoalbuminemia (100%), hiperkolesterolemia (100%), dan peningkatan kreatinin serum (9,9%). simpulan: Profil sindrom nefrotik anak di rumah sakit Wahidin Sudirohusodo Makassar pada umumnya serupa dan tidak berbeda bermakna dari penelitian lain
Diagnosis dan Tatalaksana Intususepsi Alfonsus Mario Eri Surya Djaya
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46 No 3 (2019): Nutrisi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i3.495

Abstract

Intususepsi adalah keadaan inversi segmen usus ke segmen usus lainnya. Intususepsi dapat terjadi pada segala usia, terutama pada anakanak. Penyebab intususepsi pada anak mayoritas idiopatik. Sedangkan intususepsi pada orang dewasa mayoritas bersifat sekunder, disebabkan penyakit lain seperti polip, neoplasma, striktur, atau divertikulum. Diagnosis berdasarkan pemeriksaan klinis dan penunjang radiologis. Terapi selain operasi, bisa menggunakan enema. Intussusception is characterized by the inversion of an intestinal segment into another segment. Intussusception is found mostly in children. The etiology in children is mostly idiopathic. In adult, intussusception is usually secondary to other disease like polyp, neoplasm, stricture, or diverticulum. Diagnosis is clinical and radiological. Treatment is with enema, or surgical.
Sindrom Rubela Kongenital Ruby Kurniawan
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46 No 3 (2019): Nutrisi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i3.496

Abstract

Sindrom rubela kongenital (SRK) adalah kondisi bayi baru lahir dengan berbagai defek akibat infeksi virus rubela selama awal kehamilan. Gejala klasik SRK antara lain tuli, katarak, dan penyakit jantung bawaan. Diagnosis ditegakkan saat baru lahir, melalui anamnesis, pemeriksaan fisik awal mata dan pendengaran, serta pemeriksaan antibodi terhadap rubela pada bayi asimptomatik. Tatalaksana bersifat suportif dan perawatan multidispilin jangka panjang. Pencegahan dilakukan dengan vaksinasi ibu sebelum kehamilan. Congenital rubella syndrome (CRS) is the condition of a newborn with various defects caused by rubella virus during early pregnancy. The classic symptoms of CRS are deafness, cataracts, and congenital heart disease. Diagnosis is made at birth through history, physical examination of the eyes and hearing, and examination of rubella antibodies in asymptomatic infants. Treatment is supportive and long-term multidiscipline management. Prevention can be done by vaccination to mothers before pregnancy

Page 44 of 128 | Total Record : 1276


Filter by Year

2018 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 52 No 12 (2025): Kedokteran Umum Vol 52 No 11 (2025): Penyakit Dalam Vol 52 No 10 (2025): Kedokteran Umum Vol 52 No 9 (2025): Pediatri Vol 52 No 8 (2025): Penyakit Dalam Vol 52 No 7 (2025): Kedokteran Umum Vol 52 No 6 (2025): Kesehatan Jiwa Vol 52 No 5 (2025): Kardiologi Vol 52 No 4 (2025): Kedokteran Umum Vol 52 No 3 (2025): Oftalmologi dan Dermatologi Vol 52 No 2 (2025): Pediatri Vol 52 No 1 (2025): Obstetri & Ginekologi Vol 51 No 12 (2024): Kedokteran Umum Vol 51 No 11 (2024): Kedokteran Umum Vol 51 No 10 (2024): Infeksi Vol 51 No 9 (2024): Kedokteran Umum Vol 51 No 8 (2024): Penyakit Dalam Vol 51 No 7 (2024): Kedokteran Umum Vol 51 No 6 (2024): Cardiology Vol 51 No 5 (2024): Kedokteran Umum Vol 51 No 4 (2024): Oftalmologi Vol 51 No 3 (2024): Neurologi Vol 51 No 2 (2024): Dermatologi Vol 51 No 1 (2024): Kedokteran Umum Vol 50 No 12 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 11 (2023): Pediatri Vol 50 No 10 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 9 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 8 (2023): Dermatiologi Vol 50 No 7 (2023): Kardiovaskular Vol 50 No 6 (2023): Edisi CME Vol 50 No 5 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 4 (2023): Anak Vol 50 No 3 (2023): Kardiologi Vol 50 No 2 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 1 (2023): Oftalmologi Vol 49 No 12 (2022): Dermatologi Vol 49 No 11 (2022): Neurologi Vol 49 No 10 (2022): Oftalmologi Vol 49 No 9 (2022): Neurologi Vol 49 No 8 (2022): Dermatologi Vol 49 No 7 (2022): Nutrisi - Vitamin D Vol 49 No 6 (2022): Nutrisi Vol 49 No 5 (2022): Neuro-Kardiovaskular Vol 49 No 4 (2022): Penyakit Dalam Vol 49 No 3 (2022): Neurologi Vol 49 No 2 (2022): Infeksi Vol 49 No 1 (2022): Bedah Vol 48 No 11 (2021): Penyakit Dalam - COVID-19 Vol 48 No 1 (2021): Infeksi COVID-19 Vol 48 No 10 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 4 Vol 48 No 8 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 3 Vol 48 No 5 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 2 Vol 48 No 2 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 1 Vol 48 No 12 (2021): Penyakit Dalam Vol 48 No 9 (2021): Neurologi Vol 48 No 7 (2021): Infeksi Vol 48 No 6 (2021): Kardiologi Vol 48 No 4 (2021): Dermatologi Vol 48 No 3 (2021): Obstetri - Ginekologi Vol 47 No 10 (2020): Dermatologi Vol 47 No 9 (2020): Infeksi Vol 47 No 8 (2020): Oftalmologi Vol 47 No 7 (2020): Neurologi Vol 47 No 6 (2020): Kardiologi & Pediatri Vol 47 No 5 (2020): Bedah Vol 47 No 4 (2020): Interna Vol 47 No 3 (2020): Dermatologi Vol 47 No 2 (2020): Infeksi Vol 47 No 1 (2020): Bedah Vol 46 No 7 (2019): Continuing Medical Education - 2 Vol 46 No 12 (2019): Kardiovakular Vol 46 No 11 (2019): Pediatri Vol 46 No 10 (2019): Farmakologi - Continuing Professional Development Vol 46 No 9 (2019): Neurologi Vol 46 No 8 (2019): Pediatri Vol 46 No 6 (2019): Endokrinologi Vol 46 No 5 (2019): Pediatri Vol 46 No 4 (2019): Dermatologi Vol 46 No 3 (2019): Nutrisi Vol 46 No 2 (2019): Interna Vol 46 No 1 (2019): Obstetri-Ginekologi Vol 45 No 12 (2018): Interna Vol 45 No 11 (2018): Neurologi Vol 45 No 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45 No 9 (2018): Infeksi Vol 45 No 8 (2018): Dermatologi Vol 45 No 7 (2018): Onkologi Vol 45 No 6 (2018): Interna Vol 45 No 5 (2018): Nutrisi Vol 45 No 4 (2018): Neurologi Vol 45 No 3 (2018): Muskuloskeletal Vol 45 No 2 (2018): Urologi Vol 45 No 1 (2018): Dermatologi More Issue