cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik ITS merupakan publikasi ilmiah berkala yang diperuntukkan bagi mahasiswa ITS yang hendak mempublikasikan hasil Tugas Akhir-nya dalam bentuk studi literatur, penelitian, dan pengembangan teknologi. Jurnal ini pertama kali terbit pada September 2012, dimana setiap tahunnya diterbitkan 1 buah volume yang mengandung tiga buah issue.
Arjuna Subject : -
Articles 132 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 2 (2018)" : 132 Documents clear
Modifikasi Perencanaan Jembatan Sipait Pekalongan dengan Menggunakan Sistem Jembatan Busur Rangka Baja Daryl Julian Muhammad Akbar; Endah Wahyuni
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4640.523 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v7i2.32360

Abstract

Jembatan Sipait terletak pada Ruas Jalan Pekalongan - Pemalang (KM.Pekalongan 10+300). Jembatan Sipait merupakan jembatan beton pratekan yang terbagi menjadi 3 bentang dengan panjang bentang masing - masing 25,6 meter, 40,8 meter, dan 25,6 meter. Struktur atas Jembatan Sipait ditopang oleh 2 abutment pada bagian tepi sungai dan 2 pilar pada bagian badan sungai. Dalam perencanaan ini, Jembatan Sipait dimodifikasi menjadi jembatan busur rangka baja dengan tipe Through Arch untuk menghilangkan 2 pilar yang ada pada badan sungai. Jembatan didesain dengan bentang 92 m, tinggi busur 18 m, tinggi tampang 3,5 m, dan lebar 9,5 m. Perhitungan yang dilakukan dalam perencanaan menggunakan peraturan SNI 1725:2016, SNI 2833:2016, SNI 2847:2013, RSNI T-03-2005, RSNI T-12-2004 dan peraturan lain yang berkaitan dengan perencanaan jembatan baja. Program bantu yang digunakan adalah SAP2000 untuk analisa struktur dan AutoCAD untuk gambar perencanaan. Dari hasil perhitungan didapatkan tebal pelat lantai 20 cm, dimensi profil ikatan angin terbesar CHS 219,1x6,8, dimensi profil rangka utama terbesar Box 400x400x25, dimensi kolom dan balok portal akhir Box 500x500x25, diameter kabel penggantung 60mm, perletakan tipe POT bearing. Pondasi berupa tiang pancang sebanyak 30 buah sedalam 28 meter pada tiap abutment.
Strategi Revitalisasi Kawasan Banten Lama Aluh Shiba Hizmiakanza; Dian Rahmawati
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v7i2.33833

Abstract

Provinsi Banten memiliki Kawasan Strategis berupa Kawasan Banten Lama yang merupakan bagian dari Urban Heritage dimana kawasan tersebut mempunyai nilai sejarah yang sangat tinggi. Fenomena mengenai Kawasan Banten Lama saat ini mengalami penurunan dalam segi kualitas fisik dan fungsi kawasan. Turunnya vitalitas Kawasan Banten Lama menjadi salah satu ancaman dari kelestarian cagar budaya pada Provinsi Banten. Guna mempertahankan kawasan tersebut, upaya dari pemerintah adalah mengusung program revitalisasi pada Kawasan Banten Lama namun sampai saat ini belum terealisasikan. Maka dari itu, upaya dari penelitian ini adalah merumuskan strategi revitalisasi pada Kawasan Banten Lama. Penentuan faktor – faktor penyebab turunnya vitalitas kawasan dianalisa memakai metode Root-Cause Analysis dengan tools diagram sebab-akibat. Sedangkan, perumusan strategi revitalisasi dianalisa memakai metode SWOT Analysis dengan tools IFAS EFAS, Diagram Cartesius dan Matriks SWOT. Hasil dari Root-Cause Analysis berupa faktor – faktor yang ada memiliki keterkaitan satu sama dengan yang lain, hal ini terlihat dari faktor ekonomi, faktor fisik, serta faktor kebudayaan mempunyai akar permasalahan dari faktor sosial masyarakat dan faktor institusional. Sedangkan, hasil dari Analisis SWOT berupa Kawasan Banten Lama terletak pada kuadran IV dimana kondisi tersebut menggambarkan Kawasan Banten Lama tidak menguntungkan dengan di dominasi pada kelemahan dan ancaman. Strategi pertahanan merupakan kriteria yang paling cocok dalam strategi revitalisasi Kawasan Banten Lama 
Studi Perbandingan Kekuatan Lentur Balok Prategang di Daerah Risiko Gempa Berdasarkan SNI 03-2847-2002, SNI 2847:2013, dan ACI 318M-14 pada Struktur Apartemen Enviro Bekasi Hemas Mutia Anggraini; Tavio Tavio; I Gusti Putu Raka
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.109 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v7i2.34421

Abstract

Suatu teknologi konstruksi dengan mengkombinasi antara beton mutu tinggi dengan baja mutu tinggi dengan cara menarik baja dan menahannya pada beton, sehingga membuat beton dalam keadaan tertekan yang disebut dengan beton prategang. Keuntungan beton prategang dibandingkan beton bertulang yaitu penggunaan dimensi penampang struktur prategang akan lebih kecil atau langsing, sebab seluruh luas penampang dipergunakan secara efektif. Dikarenakan kebutuhan akan ruang yang luas pada gedung Apartemen Enviro dimana digunakan sebagai ruang pertemuan maupun pesta maka pada lantai 12a dibangun multifunction hall. Atas dasar kebutuhan ruangan yang luas tanpa kolom sehingga membutuhkan balok yang panjang maka elemen struktur beton bertulang diganti menggunakan beton prategang. Selain balok prategang juga meninjau sistem rangka momen dan lokasi gedung Apartemen Enviro. Berdasarkan identifikasi tanah dari hasil uji Standart Penetration Test (SPT) dan Peta Hazard 2017, diketahui bahwa Kota Bekasi merupakan wilayah dengan jenis tanah sedang yaitu KDS D, maka struktur bangunan direncanakan dengan metode Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK). Sedangkan untuk desain struktur mengacu pada SNI 2847:2013. Dalam studi ini penulis juga membandingkan penggunaan tiga jenis peraturan yaitu SNI 2847-2002, SNI 2847:2013 dan ACI 318M-14 yang akan digunakan untuk merencanakan gedung Apartemen Enviro pada balok prategang dengan tinjauan kekuatan lentur. Studi ini dilakukan untuk mendapatkan perturan mana yang paling efisien dan memenuhi segala persyaratan keamanan, sehingga nantinya perencanaan dapat dilaksanakan dengan tepat.
Perbandingan Perencanaan Pondasi Tiang Pancang Menggunakan Metode Konvensional dan Metode P-Z Curve pada Modifikasi Gedung Apartemen Puncak MERR Surabaya Riky Dwi Prasetyo; Indrasurya Budisatria Mochtar; Yudhi Lastiasih
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (659.915 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v7i2.34318

Abstract

Surabaya merupakan kota dengan pertumbuhan ekonomi besar yang selalu di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional. Banyak penduduk dari luar Surabaya datang ke kota ini sebagai pendatang tiap tahunnya untuk melaksanakan kegiatan ekonomi. Keterbatasan lahan yang ada menuntut perlunya pembangunan bangunan vertikal untuk tempat tinggal, salah satunya adalah Apartemen Puncak MERR yang memiliki kedalaman tanah keras yang cukup dalam sehingga biaya yang harus dikeluarkan untuk pondasi dalam cukup besar. Pada pembangunan gedung dengan pondasi dalam, semakin dalam pondasi maka semakin mahal biaya sehingga tidak ekonomis. Pada metode perencanaan konvensional, perletakan untuk kolom struktur atas terhadap pondasi dianggap jepit dan tidak ada penurunan (settlement) pada tanah. Pada tanah lempung yang bersifat compressible, pengaruh beban akan menyebabkan terjadinya penurunan tanah sehingga muncul konsep perhitungan tiang pancang yang memperhatikan penurunan tanah dan menganggap perletakan struktur atas berupa perletakan pegas dengan metode P-Z curve. Dengan memperhatikan adanya penurunan tanah akan menyebabkan kedalaman tiang pancang berkurang. Metode perencanaan yang digunakan yaitu konvensional (perletakan jepit) dan P-Z curve (perletakan pegas/ spring). Variasi daya dukung yang digunakan pada perencanaan ini yaitu SF = 3 untuk metode konvensional dan Qizin = 0,3 Qult, Qizin = 0,5 Qult, Qizin = 0,7 Qult, dan Qizin = 0,9 Qult pada metode P-Z curve. Perencanaan pondasi tiang pancang pancang menggunakan spun pile diameter 60 cm. Kedalaman tanah daya dukung yaitu 21 meter untuk pondasi end bearing dan 16 meter untuk pondasi friction. Hasil dari Tugas Akhir ini adalah mendapatkan variasi alternatif hasil analisis metode perencanaan pondasi dalam dengan metode konvensional dan metode P-Z curve. Dari hasil perhitungan didapat jumlah kebutuhan tiang pancang pada metode P-Z curve lebih sedikit dibandingkan dengan metode konvensional. Untuk menghemat biaya pembangunan gedung modifikasi Apartemen Puncak MERR maka digunakan pondasi tiang pancang dengan metode P-Z curve tumpuan end bearing dengan Qizin = 0,9 Qult.
Desain Modifikasi Struktur Gedung Twin Tower Universitas Negeri Sunan Ampel Surabaya dengan Menggunakan Sistem Ganda dan Balok Pratekan pada Lantai Atap Wisnu Priambodo; Endah Wahyuni; Bambang Piscesa
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.786 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v7i2.35215

Abstract

Gedung Twin Tower Universitas negeri sunan ampel Surabaya merupakan gedung yang difungsikan sebagai rektorat yang memiliki 9 lantai ditambah lantai atap. Struktur gedung Twin Tower merupakan struktur beton bertulang biasa. Pada lantai 9 merupakan ruang serba guna sehingga tidak ada kolom ditengah ruangan. Dan pada lantai atap terdapat balok bentang panjang yang memiliki dimensi 60 x 120 cm. Penggunaan balok bentang panjang dengan beton bertulang biasa akan menghasilkan dimensi yang besar dan juga tulangan yang banyak. Selain itu, dalam penerapannya beton bertulang biasa dinilai kurang efektif baik dalam segi bahan maupun materialnya, sebagai langkah efektif maka dilakukan perubahan struktur pada lantai atap menggunakan sistem beton pratekan. Dalam perencanaannya, struktur Gedung Twin Tower UINSA Surabaya ini menggunakan Sistem Ganda. Sistem Ganda (dual system) adalah salah satu sistem struktur yang beban gravitasinya dipikul sepenuhnya oleh rangka utama, sedangkan beban lateralnya dipikul bersama oleh rangka utama dan dinding struktur. Rangka utama dan dinding struktur didesain sebagai Struktur Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) dan Dinding Struktur Beton Khusus (DSBK) Berdasarkan hasil analisa didapatkan dimensi balok pratekan 50 x 75 cm dengan bentang 15 m dan tebal shearwall 350 mm. Dari perhitungan di dapatkan Shearwall menahan beban gaya gempa arah x 73% dan arah y 70%, sedangkan rangka pemikul momen menahan beban gempa arah x 27% dan arah y 30%. Kemudian di dapat gaya pratekan awal sebesar 1300 KN dengan jumlah tendon 1 dan berisi 12 strand. Selanjutnya di dapat kehilangan pratekan sebesar 23,4% serta prestressing partial ratio (PPR) 24,46 %.
Modifikasi Perencanaan Apartemen Puncak CBD Wiyung dengan Menggunakan Sistem Ganda dan Balok Pratekan pada Lantai Atap Nadia Jasmine Setianty Simanjuntak; Endah Wahyuni; Data Iranata
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.072 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v7i2.35329

Abstract

Abstrak – Gedung Apartemen Puncak CBD merupakan hunian vertikal yang terdiri dari 37 lantai untuk unit kamar yang terletak di daerah Wiyung, Surabaya Barat. Apartemen ini dibangun dengan struktur beton bertulang biasa pada keseluruhan lantai dan dilakukan modifikasi pada lantai atap. Modifikasi ini bertujuan untuk mengubah lantai paling atas gedung menjadi suatu ruang serbaguna. Ruang serbaguna didesain memiliki panjang 30 meter dan lebar 13,65 meter dimana kolom-kolom interior ruangan akan dihilangkan dan digantikan fungsinya oleh balok pratekan agar luas ruangan menjadi optimal. Metode beton pratekan yang digunakan dalam modifikasi ini adalah metode post tension (pasca tarik) yang cocok diterapkan pada konstruksi gedung. Perencanaan gedung ini juga menggunakan Sistem Ganda karena apartemen terletak di Kategori Desain Seismik D. Dari hasil Analisa yang telah dilakukan didapatkan kesimpulan bahwa syarat Sistem Ganda terpenuhi, dimana rangka utama gedung mampu menahan beban lateral X dan Y sebesar 29,63% dan 27,39%. Gaya pratekan yang dikenakan pada balok pada saat jacking sebesar 1840 kN dengan kehilangan gaya sebesar 19,06%.
Desain Modifikasi Gedung Fave Hotel Cilacap Menggunakan Metode Flat SLab Dody Burhanuddin; Endah Wahyuni; Djoko Irawan
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.707 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v7i2.35455

Abstract

Gedung Fave Hotel Cilacap adalah gedung  hotel dengan 6 lantai yang dibangun di daerah Cilacap yang merupakan kategori risiko gempa tinggi. Modifikasi yang dilakukan diantaranya dengan menambah jumlah lantai menjadi 10 lantai dan menggunakan sistem flat slab dan shearwall sebagai perkuatan dalam menerima beban gempa pada wilayah gempa tinggi. Gedung akan dimodelkan 3 dimensi dengan dibebani beban gravitasi dan gempa. Gedung harus memenuhi persyaratan base shear dan harus memenuhi persyaratan drift untuk memenuhi aspek keamanan gedung. Dalam modifikasi ini, secara keseluruhan direncanakan dengan Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) dengan dinding geser beton bertulang khusus karena dalam perencanaannya bangunan ini terletak pada zona gempa tinggi sehingga beban lateral akan dipikul oleh dinding struktur sebesar 75% dari beban lateral keseseluruhan struktur bangunan. Hasil dari perancangan didapatkan tebal pelat 240 mm , tebal drop panel 160 mm dengan lebar 300 cm baik kea rah sumbu x maupun kea rah sumbu y, dan dengan penggunaan kolom dengan dimensi 700 mm x 700 mm. Dinding geser dirancang dengan ketebalan 400 mm dengan menggunakan komponen batas.
Desain Modifikasi Struktur Gedung Asrama Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Sumatera Barat Menggunakan Srpmk Dan Balok Prategang Pada Lantai Atap Muhammad Satrya Ageta; Endah Wahyuni; Bambang Piscesa
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (770.144 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v7i2.35996

Abstract

Kompleks Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) berlokasi di Kota Padang. Kebutuhan akan ruang dan kurangnya lahan pada komplek LPMP merupakan tantangan yang harus diatasi dalam pembangunan. Bangunan bertingkat banyak adalah salah satu solusi pembangunan terhadap kurangnya lahan dan ruang. Perencanaan gedung asrama LPMP setinggi 10 lantai (± 40 m) dirancang menggunakan beton bertulang pada keseluruhan lantai, serta menggunakan beton prategang pada balok lantai atap. Lantai atap tersebut akan didesain sebagai ruang ballroom tanpa ada struktur kolom ditengah ruangan. Sehingga, ruang ballroom menjadi lebih nyaman dan luas dibandingkan jika menggunakan balok nonprategang yang dapat menghasilkan dimensi lebih besar. Pada era modern ini beton prategang merupakan salah satu teknologi struktur yang dikembangkan dan sering digunakan untuk pembangunan gedung bertingkat yang memiliki balok dengan bentang yang cukup panjang tanpa ada kolom ditengah bentang. Balok beton prategang pada gedung bertingkat memiliki kendala dari sifat beton prategang yang getas. Oleh karena itu, diperlukan perencanaan khusus dalam desain balok beton prategang agar dapat bersifat daktail yang cukup untuk menahan beban gempa yaitu berupa metode pelaksanaan pekerjaan balok beton prategang dengan metode penarikan posttension dan cast in situ, sehingga hubungan balok prategang dan kolom monolit. Struktur gedung LPMP menggunakan Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK). Dimana sistem ini dirancang untuk daerah rawan gempa sesuai peraturan SNI 1726:2012, untuk pembebanan sesuai peraturan SNI 2847:2013, dan analisa struktur menggunakan program bantu SAP2000.
Perencanaan Modifikasi Jembatan Kali Legi Menggunakan Busur Baja dengan Lantai Kendaraan Di Tengah (A Half Through Arch) Emilia Nur Apriani Sutisna; Endah Wahyuni
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v7i2.35682

Abstract

Jembatan Kali Legi yang berada di Kabupaten Blitar Jawa Timur merupakan akses utama transportasi menuju ke Malang, atau sebaliknya. Perencanaan awal jembatan ini merupakan jembatan dengan kontruksi gelagar beton prategang, dengan panjang total jembatan 325 meter. Dalam penulisan ini akan direncanaan Jembatan Kali Legi Blitar menggunakan sistem busur baja dengan lantai kendraan di tengah (A Half Through Arch Bridge) 2 bentang 100  meter, dan 125 meter jembatan pratekan dengan 4 pilar. Pada perencanaannya, di dapatkan tebal pelat lantai Kendaraan 20 cm. Profil gelagar memanjang yang digunakan yaitu WF 450 x 200 x 9 x 14 serta profil gelagar melintang WF 900 x 300 x 18 x 34. Selanjutnya tahap perhitungan struktur utama dan sekunder dilakukan dengan menghitung beban-beban yang bekerja sehingga didapatkan profil box untuk rangka utama jembatan busur. Setelah dilakukan perhitungan dan kontrol jembatan busur, direncanakan dimensi dari bangunan bawah jembatan (pilar). Digunakan pilar dengan 1 kolom pier serta kebutuhan tiang pancang 36 buah dengan panjang 20 meter . Hasil perhitungan dituangkan dalam gambar teknik standar.
Perbandingan Biaya Material Dengan Memodifikasi Struktur Bangunan Menggunakan Beton Ringan Pada Proyek Gedung Asrama Berlantai 5 LPMP Sumatera Barat Kharista Hadya Nata Putra; Tri Joko Wahyu Adi
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (52.765 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v7i2.36178

Abstract

Material inovatif adalah material material konstruksi yang dapat dijadikan pilihan atau pertimbangan lain dalam penggunaanya pada konstruksi dan telah memenuhi fungsi dari penggunaanya pada konstruksi. Dampak dari penggunaan material-material yang inovatif adalah metode pelaksanaan lebih mudah, beban yang diterima struktur dari material bangunan juga lebih ringan, waktu pelaksanaan dan beberapa kelebihan lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan biaya material pada modifikasi struktur bangunan yang menggunakan material yang inovatif yang ringan yaitu pelat lantai pracetak ringan dan bata ringan dengan struktur eksisting bangunan yang menggunakan pelat lantai beton biasa dan bata merah. Dengan modifikasi struktur diharapkan dimensi struktur akan berubah jika menggunakan material yang inovatif dan membandingkan perubahannya terhadap biaya material terpasang. Ada 3 skenario perbandingan  yang dilakukan pada penelitian ini, skenario pertama adalah struktur eksisting  yaitu struktur yang  pelat lantai dan dindingnya sama dengan bangunan aslinya yaitu pelat lantai konvensional dan dinding bata merah, skenario kedua adalah struktur modifikasi 1 yaitu struktur bangunan dengan penggantian pelat lantai konvensional dengan pelat lantai pracetak ringan dari beton aerasi dan dinding tetap menggunakan bata merah, dan scenario  ketiga adalah struktur modifikasi 2 yaitu struktur bangunan dengan penggantian pelat lantai konvensional dengan pelat lantai pracetak ringan dari beton aerasi dan dinding bata merah dengan dinding bata ringan dari beton aerasi. Pada penelitian ini, proyek yang digunakan sebagai studi kasus adalah proyek Gedung Asrama Berlantai 5 LPMP Sumatera Barat. Lokasi proyek berada di kawasan kampus Universitas Negeri Padang, kota Padang. Dari hasil analisa yang telah dilakukan penurunan biaya antara struktur eksisting dengan struktur modifikasi 1, adalah sebesar 12.70 % yaitu Rp 925,923,369.61  dan penurunan biaya antara struktur eksisting dengan struktur modifikasi 2 adalah sebesar 18.36 % yaitu Rp 1,338,149,665.30. Alternatif penggunaan pelat lantai pracetak ringan dan bata ringan sangat mempengaruhi struktur terutama pada beban yang diterima struktur yang secara langsung mempengaruhi volume sebuah struktur dan dapat direkomendasikan saat perencanaan sebuah gedung.

Page 10 of 14 | Total Record : 132