cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik ITS merupakan publikasi ilmiah berkala yang diperuntukkan bagi mahasiswa ITS yang hendak mempublikasikan hasil Tugas Akhir-nya dalam bentuk studi literatur, penelitian, dan pengembangan teknologi. Jurnal ini pertama kali terbit pada September 2012, dimana setiap tahunnya diterbitkan 1 buah volume yang mengandung tiga buah issue.
Arjuna Subject : -
Articles 3,978 Documents
Studi Numerik Karakteristik Aliran Tiga Dimensi Pada Body Pesawat Tanpa Awak Jenis Cessna 182 Menggunakan Airfoil August 160 dan Penambahan Trapezoidal Winglet Variasi h/S = 0,15; 0,20; 0,25 dengan Cant Angle 90˚ Syifa' Zain Salsabila; Wawan Aries Widodo
Jurnal Teknik ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v9i2.55639

Abstract

Kinerja pesawat sangat dipengaruhi oleh bentuk geometri dari pesawat tersebut dan juga penambahan geometri lain pada salah satu bagiannya. Winglet merupakan salah satu komponen yang ditambahkan pada pesawat yang berfungsi untuk mengurangi timbulnya wingtip vortex. Pada penelitian ini diharapkan bisa meningkatkan  performa aerodinamika dari pesawat jika dibandingkan dengan pesawat tanpa penambahan trapezoidal winglet yang dipasang pada sayap pesawat yang memiliki jenis airfoil August 160. Peningkatan performa yang diharapkan yaitu berupa peningkatan nilai koefisien lift, penurunan nilai koefisien drag yang nantinya akan meningkatkan lift-to-drag ratio dari pesawat tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan simulasi numerik tiga dimensi dengan menggunakan perangkat lunak CFD Ansys Fluent 18.1.  Geometri model pesawat pada simulasi ini memiliki spesifikasi yang diidentifikasi yaitu panjang root chord dan tip chord = 189 mm; 136 mm, panjang span = 518 mm, aspecr ratio (AR) = 2,8, variasi h/S = 0,15; 0,20; 0,25, cant angle () = 90˚, dan angle of attack (α) = 0˚. Aliran fluida berupa freestream dengan kecepatan v = 12 m/s dalam kondisi steady dengan Re = 1,54 × 105. Turbulence model pada simulasi ini menggunakan pemodelan k-ω Shear Stress Transport dengan kriteria konvergensi sebesar 10-5. Pada penelitian ini didapatkan hasil bahwa dengan penambahan trapezoidal winglet dapat meningkatan koefisien lift (CL). Dan juga meningkatkan nilai koefisien drag (CD) penambahan trapezoidal winglet. Sehingga dengan peningkatan nilai koefisien lift dan koefisien drag maka menyebabkan nilai lift-to-drag ratio (CL/CD) juga mengalami penurunan. Selain itu fenomena tip vortex pada pesawat dengan penambahan trapezoidal winglet juga mengalami penurunan konsentrasi jika dibandingkan dengan pesawat tanpa penambahan trapezoidal winglet.
Feasibility Study of Municipal Solid Waste Management System (MSW-MS) in Sidoarjo District Matheus Bimo Aryo Prakoso; I Ketut Gunarta
Jurnal Teknik ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v9i2.55496

Abstract

Sidoarjo MSW-MS currently facing a problem to fulfill their needs of Municipal Solid Waste (MSW) processing, as the data shown by Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) of Sidoarjo district stated that their service cover only 48% of Sidoarjo total area with the amount of potentially unmanaged MSW per day reach about 83% of it or equal to 1032 ton of MSW per day. In regards to this condition, there is a need to determine a new integrated approach of MSW-MS so that MSW in Sidoarjo district can be more properly managed to reduce its potential implied expense, gain potential benefits from it, and prevent potential negative impacts from improperly managed MSW. In this research, the implementation of proposed integrated MSW-MS will be carried out by a private business entity in collaboration with DLHK of Sidoarjo district in a Public Private Partnership (PPP) scheme represented in form of Business Plan Scenario (BPS). This research focused on determining the best BPS to be implemented in Sidoarjo district which targeted to optimize implied benefits from Sidoarjo District regional government perspective as its priority but still considering BPS feasibility to be implemented by related private business. This process is done by making a financial model according to the proposed BPS that are complemented with linear regression-based for its waste generation input variable and Benefit-Cost Analysis (BCA). Feasibility for each BPS implementation for private business entity perspective determined according to its financial valuation parameters value and Benefit Cost Ratio (BCR) for DLHK of Sidoarjo district perspective. Furthermore, an adjustment of several private business parameters is made according to sensitivity and incremental analysis approach to ensure the feasibility of its implementation in terms of private business entity perspective.
Penentuan Skema Kerjasama Pemerintah - Badan Usaha Terbaik Pada Infrastruktur Konservasi Energi (Studi Kasus: Revitalisasi PJU Di Kabupaten Sidoarjo) Nabilah Arifah Syarafina; I Ketut Gunarta
Jurnal Teknik ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v9i2.56076

Abstract

Pemerintah Kabupaten Sidoarjo khususnya Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) tengah mengalami permasalahan mengenai tingginya biaya listrik yang dibebankan untuk Penerangan Jalan Umum (PJU). Tagihan biaya listrik mengambil bagian lebih dari 60% dari total anggaran yang tersedia untuk pengelolaan PJU. Biaya tagihan listrik yang semakin tinggi membuat DLHK Kabupaten Sidoarjo berfokus melakukan revitalisasi PJU dari konvensional menuju modern dengan mempertimbangkan dua alternatif pilihan, yaitu penggantian seluruh lampu halogen menjadi LED atau beralih ke smart system PJU dengan menerapkan lampu LED diseluruh titik yang dapat dikontrol pencahayaannya dari jarak jauh dengan skema smart lighting. Revitalisasi PJU ini merupakan salah satu bentuk penyediaan infrastruktur dibidang konservasi energi. Seperti halnya pembangunan, revitalisasi PJU memakan anggaran yang cukup besar sehingga Kerja Sama Antara Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) menjadi salah satu opsi pembiayaan revitalisasi PJU. Skema KPBU yang dapat diterapkan pada infrastruktur konservasi energi adalah skema Energy Savings Performance Contract (ESPC) dan skema Availability Payment (AP). Dalam menentapkan skema yang sesuai, dilakukan penilaian proyek dengan menggunakan parameter penilaian keuangan yang meliputi Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Payback Period (PP) sebagai dasar penilaian bagi badan usaha, dan parameter penilaian Benefit Cost Ratio (BCR) sebagai dasar penilaian bagi pemrintah DLHK Sidoarjo. Hasilnya skema ESPC dan AP dianggap layak dari perspektif pemerintah DLHK Sidoarjo dengan menghasilkan nilai BCR masig-masih 1,3166 dan 1,6019. Pemilihan skema yang paling tepat dilakukan dengan menggunakan analisis sensitivitas untuk menemukan kondisi standar dan kondisi dengan mempertimbangkan margin 2% bagi badan usaha sesuai ketentuan UU No. 2 Tahun 2017 yang memastikan proyek KPBU layak dari penilaian keuangan dan penilaian BCR. Dari kedua kondisi tersebut, skema ESPC menghasilkan nilai BCR yang lebih tinggi dibandingkan dengan skema AP sehingga skema ESPC paling tepat untuk diimplementasikan pada proyek revitalisasi PJU.
Simulasi CFD Fluida Udara pada Reefer Container Yard yang Menggunakan Sistem Solar Panel Roof Ericson Posmanov Martua Silalahi; Sutopo Purwono Fitri; Achmad Baidowi
Jurnal Teknik ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v9i2.56491

Abstract

Perdagangan peti kemas yang meningkat setiap tahunnya membuat pelabuhan harus meningkatkan fasilitas bongkar muat mereka. Adanya isu mengenai greenport yang mengharuskan penghematan energi serta pengurangan produksi CO2 juga mempengaruhi perkembangan pelabuhan. Oleh karena itu, selain menambah alat bongkar muat, pelabuhan juga mulai mengelektrifikasi hampir seluruh alat bongkar muat yang dimiliki. Akibatnya konsumsi listrik akan semakin meningkat. Konsumsi listrik paling besar pada pelabuhan ada pada lahan penumpukan reefer container. Untuk menangurangi penggunaan energi listrik tersebut, maka diaplikasikan solar panel roof menjadi alat untuk memanfaatkan matahari sebagai sumber alternatif energi listrik. Selain sebagai alat alternatif penghasil energi listrik, dengan adanya atap yang dipasangkan pada lahan penumpukan reefer container membuat panas pada dinding kontainer menjadi berkurang sehingga harapannya konsumsi listrik pada lahan penumpukan reefer container juga dapat berkurang. Pada studi ini disimulasikan penggunaan solar panel roof pada reefer container yard dengan bantuan aplikasi CFD untuk melihat persebaran panas pada fluida udara yang ada disekitar kontainer sebelum dan sesudah diaplikasikan. Selain itu pada studi ini juga dilihat penghematan yang terjadi setelah mengaplikasikan solar panel roof. Pada analisa transient thermal, udara sekitar kontainer berpendingin yang menggunakan atap dan tidak memiliki selisih rata-rata sebesar 21ºC. Pada analisa fluid flow, udara sekitar kontainer berpendingin yang menggunakan atap dan tidak memiliki selisih sebesar 26,482ºC. Pada simulasi tanpa atap, temperatur udara sekitar kontainer berpendinginnya adalah 57,532ºC pada analisa transient thermal dan 59,872ºC pada analisa fluid flow. Pada simulasi dengan atap, temperatur udara sekitar kontainer berpendinginnya adalah 31,808˚C pada analisa transient thermal dan 33,39ºC pada analisa fluid flow. Penghematan konsumsi energi yang didapat ketika mengaplikasikan solar panel roof pada container yard adalah sebesar 36,57% pada tier 4, 31,08% pada tier 3, 31,04% pada tier 2, dan 31,72% pada tier 1.
Studi Eksperimen dan Numerik Karakteristik Aliran Dua Dimensi pada Thick Plate–Rounded Leading Edge (r/t = 0.2) dengan Pengaruh Reynolds Number (Ret = 6.76×104 dan Ret = 10.15×104) dan Panjang Aksial (c/t = 6.5 dan c/t = 10) Ahmad Ali Wafa; Herman Sasongko
Jurnal Teknik ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v9i2.56983

Abstract

Perkembangan teknologi membuat Engineer di dunia berusaha menciptakan kendaraan dengan performa yang optimal. Hal tersebut salah satunya dapat dicapai dengan penggunaan desain bodi aerodinamis sebagai upaya mereduksi gaya drag pada kendaraan. Salah satu metode untuk mereduksi drag adalah dengan memundurkan titik separasinya dengan cara mempercepat transisi boundary layer dari laminar ke turbulen. salah satu metode untuk mempercepat transisi baoundasy layer adalah dengan menggunakan separation bubble. Separation Bubble terbentuk sebagai hasil dari aliran yang terseparasi kemudian attach. beberapa faktor yang mempengaruhi separation bubble adalah bilangan Renolds, bentuk leading edge dan kesempatan aliran untuk kembali attach berupa bidang tumpu aliran. penelitian ini meneliti korelasi antara ketiga faktor dengan karakteristik separation bubble yang terbentuk serta hubungannya dengan penundaan separasi massif di daerah downstream. penelitian ini dilakukan dengan bnda uji plat datar dengan bentuk leading edge semi¬-rounded (r/t=02) dengan variasi panjang aksial benda (c/t = 6,5 dan 10) serta bilangan Reynolds (Ret = 6,76 x 104 dan 10,15 x 104). hasil dari penelitian ini adalah dengan Bilangan Reynolds yang lebih besar dan bidang tumpu aliran yang lebih panjang mampu membuat aliran mengalami reattachment lebih awal dan dimensi separation bubble yang lebih kecil. hal ini membuat aliran yang melewati benda mengalami transisi boundary layer lebih awal sehingga momentum aliran semakin bertambah untuk melawan adverse pressure di daerah downstream.
Pengaruh Variasi Setting Temperatur Menggunakan Sistem Kontrol pada Zona Oksidasi Parsial Terhadap Kandungan Tar, Ash, dan Carbon Reaction Rate Erio Daniel Damanik; Bambang Sudarmanta
Jurnal Teknik ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v9i2.57854

Abstract

Indonesia termasuk kedalam salah satu negara yang memiliki jumlah penduduk yang tinggi dan kemungkinan akan terus meningkat. Peningkatan jumlah penduduk ini juga disertai dengan konsumsi energi yang tiap tahun akan terus meningkat. Perkembangan teknologi memungkinkan untuk mengolah limbah kelapa sawit sebagai sumber energi terbarukan. Limbah kelapa sawit dapat digunakan sebagai sumber biomassa sebagai penghasil energi. Gasifikasi adalah salah satu proses yang digunakan dalam proses mengkonversi limbah kelapa sawit menjadi energi. Gasifier downdraft yang dilengkapi dengan sistem pengendali suhu bertujuan untuk menjaga agar proses gasifikasi dapat berlangsung lebih lama dan lebih bersifat kontinyu. Suhu adalah salah satu parameter penting selama berlangsungnya proses gasifikasi karena jumlah dan komposisi dari gas serta kandungan ash dan tar yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh suhu. Oleh karena itu settingan suhu yang diberikan dengan tambahan pengendali suhu sangat penting untuk melihat pengaruh reaksi yang terjadi, performa gasifikasi, serta kandungan dari hasil proses gasifikasi. Variasi settingan suhu yang dilakukan dengan mengatur pada suhu berapa penelitian akan dilakukan kemudian sistem pengendali suhu akan dipasang pada reaktor. Variasi settingan yang dilakukan pada temperatur 600ºC, 700ºC, 800ºC, 900ºC, dan 1000ºC. Eksperimen ini dilakukan dengan penambahan tiga tingkat masukan udara ke zona pirolisis, oksidasi, dan reduksi disertai dengan penambahan sistem kontrol yang berfungsi untuk mengatur agar temperatur pada tiap-tiap zona yang ada dapat dikendalikan sesuai dengan kondisi yang diharapkan. Biomassa yang digunakan pada penelitian kali ini adalah pelepah kelapa sawit yang dibentuk menjadi pelet. kandungan tar tertinggi pada set point 600ºC sebesar 259.59 Nm3 dan kandungan tar terendah pada set point 1000ºC sebesar 60.95 Nm3. Nilai karbon pelet yang dikonversikan ke dalam syngas terendah pada set point 600ºC sebesar 59.66% dan nilai karbon pelet yang dikonversikan ke dalam syngas tertinggi pada set point 1000ºC sebesar 76.89%. Nilai massa abu tertinggi pada set point 600ºC sebesar 145.03 gr dan nilai massa abu terendah pada set point 1000ºC sebesar 71.39gr.
Analisis Eksergi dan Optimisasi Termoekonomi pada Sistem Refrigerasi di Data Center Menggunakan Metode Algoritma Genetika Maharani Sarah Holle; Roekmono Roekmono
Jurnal Teknik ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v9i2.58538

Abstract

Refrigerasi adalah sistem termodinamika yang melibatkan transfer energi berupa sejumlah panas yang diserap sistem dan dilepas oleh sistem ke lingkungan. Proses perpindahan panas merupakan sumber utama terjadinya ireversibilitas pada siklus tersebut yang berdampak pada penurunan kinerja sistem. Oleh karena itu, pada penelitian ini dilakukan analisis dan optimisasi terhadap sistem refrigerasi dari aspek energi dan ekonomi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa temperatur kondensor dan evaporator sangat mempengaruhi performansi sistem. Kenaikan temperatur kondensor menyebabkan meningkatnya perbedaan temperatur dengan lingkungan sehingga COP, efisiensi eksergi dan total cost rate menurun. Sedangkan, kenaikan temperatur evaporator naik mengakibatkan penurunan rasio tekanan kompresor pada sistem sehingga COP dan efisiensi eksergi terus mengalami peningkatan sedangkan total cost rate mengalami penurunan. Proses optimisasi multiobjektif dengan metode algortima genetika digunakan untuk menentukan parameter operasi paling optimum dari aspek energi dan ekonomi pada sistem refrigerasi. Berdasarkan optimisasi ini didapatkan parameter operasi optimum berada pada temperatur kerja kondensor 53,65ºC dan temperatur evaporator -3,92ºC dengan hasil nilai efisiensi eksergi yaitu 69,1% dan total cost rate senilai 108.832 USD/year.
Arahan Peningkatan Daya Tarik Pariwisata di Kawasan Pecinan Kota Lama Kembang Jepun Surabaya Muhammad Luthfi Amrullah; Arwi Yudhi Koswara
Jurnal Teknik ITS Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v9i1.51198

Abstract

Bagian Kota Surabaya ini masih dipertahankan dari sisi bangunan yang harus dilestarikan telah disusun peraturannya yaitu Peraturan Daerah Kota Surabaya No. 5 Tahun 2005 tentang Pelestarian Bangunan dan atau Lingkungan Cagar Budaya. Menurut Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK) UP Tanjung Perak Surabaya 2011-2031, kawasan Kembang Jepun diarahkan sebagai wilayah perencanaan bangunan cagar budaya Pecinan golongan C, dilaksanakan sesuai ketentuan Perda No. 5 tahun 2005 Bab IV Pasal 16 melalui Revitalisasi atau Adaptasi, dengan pengembangan zona wisata kuliner dan wisata sejarah, budaya, dan arsitektural. Berdasarkan peraturan yang sudah berlaku dan ditetapkan masih belum terlaksana sepenuhnya. Fungsi kawasan cagar budaya yang ditetapkan dikawasan pecinan Kota Surabaya masih butuh penambahan atau revitalisasi dari segi infarstruktur maupun bangunan tua yang merupakan aset Kota Surabaya. Perlu arahan untuk meningkatkan nilai kawasan tersebut karena adanya potensi pariwisata yang masih belum dimanfaatkan sepenuhnya.dari kondisi diatas diperlukan arahan untuk meningkatkan daya tarik pariwisata kawasan tersebut. Untuk mendapatkan arahan tersebut diperlukan tahapan sebagai berikut (1) Mengidentifikasi karakteristik Kawasan Pecinan berdasarkan potensi kawasan tersebut menggunakan analisis deskriptif. (2) Menentukan Faktor peningkat daya tarik pariwisata ke Kawasan Pecinan menggunakan metode analisis delphi. (3)merumuskan Arahan peningkatan daya tarik pariwisata kawasan pecinan kembang jepun Kota Surabaya menggunakan analisis deskriptif. Penelitian ini menghasilkan dari penelitian ini adalah arahan pada setiap faktornya, seperti revitalisasi bangunan heritage, pelestarian budaya khas kawasan pecinan yang bisa dilaksanakan melalui acara tahunan, dan kebetuhan akan kelembagaan yang mengelola kawasan pecinan secara terpadu.
Identifikasi Pola Spasial Kriminalitas Kota Berdasarkan Faktor Ekologi Kriminal di Kabupaten Sidoarjo Ramadhany Ashari; Cahyono Susetyo
Jurnal Teknik ITS Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v9i1.51200

Abstract

Permasalah Kota-kota Indonesia yang berujung pada menurunnya kualitas lingkungan perkotaan. Permasalahan lingkungan, sosial, kependudukan, infrastruktur, lapangan kerja, dan lain sebagainya merupakan isu perkotaan yang seringkali bermunculan di ruang publik, baik dalam bentuk media ataupun diseminasi public. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui Pola Spasial Kriminal Pencurian Berdasarkan Faktor Ekologi Kriminal di Kabupaten Sidoarjo sebagai perspektif teoritis kecenderungan lingkungan pembentuk tindak criminal. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka perlu dicapai sasaran dalam penelitian ini berupa; Menganalisis faktor-faktor ekologi kriminal yang menentukan tingkat kriminalitas di Kabupaten Sidoarjo;Mengidentifikasi pola spasial kriminal pencurian di Kabupaten Sidoarjo; Mengidentifikasi korelasi antara pola spasial kriminal pencurian dengan faktor-faktor ekologi kriminal. Penelitian ini menggunakan teknik analisis dot density dan analisis korelasi. Dimana kedua analisis tersebut digunakan untuk mengetahui persebaran lokasi kriminalitas kota serta mengetahui besaran pengaruh kriminalitas suatu wilayah. Dari analisis yang telah dilakukan, didapatkan hasil akhir bahwa faktor-faktor yang berpengaruh dalam kriminalitas di Kabupaten Sidoarjo diantaranya adalah padatnya penduduk, permukiman, pengangguran, kawasan komersil. Berdasarkan hasil penelitian tipe Difusi Penampungan (Relocation diffusion), yang merupakan proses yang sama dengan persebaran keruangan dimana informasi atau material yang didifusikan meninggalkan daerah yang lama dan berpindah atau ditampung di daerah yang baru dan Faktor-faktor ekologi kriminal yang berkorelasi kuat sebagai faktor pembentuk kriminal pencurian di Kabupaten Sidoarjo adalah luas permukiman dan luas kawasan komersil Sedangkan populasi, kepadatan dan kemiskinan penduduk berkorelasi rendah sampai sedang.
Pola Perubahan Penggunaan Lahan di Desa Tradisional Penglipuran Bali Berdasarkan Kondisi Faktual dan Persepsi Ruang Ketiga Kadek Sinta Ariesta; Putu Gde Ariastita
Jurnal Teknik ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v9i2.52918

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan pola perubahan penggunaan lahan di Desa Penglipuran berdasarkan kondisi faktual dan persepsi ruang ketiga (masyarakat). Tujuan tersebut dilakukan melalui tiga tahap. Pertama, eksplorasi perubahan penggunaan lahan secara faktual yang dilakukan dengan analisis deskriptif. Kedua, ekplorasi perubahan penggunaan lahan berdasarkan persepsi ruang ketiga yang dilakukan melalui content analysis (CA). Ketiga, rumusan pola perubahan penggunaan lahan berdasarkan kondisi faktual dan ruang ketiga yang dilakukan dengan analisis kuadran. Adapun hasil dari peneltian ini adalah tiga pola perubahan penggunaan lahan di Desa Penglipuran. Kuadran I, zona yang tidak mengalami perubahan baik secara faktual dan persepsi ruang ketiga (Pura Penataran, hutan bambu, karang memadu). Kuadran II, zona yang mengalami perubahan secara faktual namun secara persepsi dikehendaki (warung kopi, guest house, parkiran). Kuadran III, zona yang mengalami perubahan secara faktual dan secara persepsi tidak dikehendaki (Catus Patha dan permukiman).