cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Sains dan Seni ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 30 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 2 (2021)" : 30 Documents clear
Rancangan Gereja Setelah Pandemi COVID-19 dengan Pendekatan Regionalisme dan Sakralisme Hana Ardina Putri Pakiding; Johanes Krisdianto
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v10i2.69702

Abstract

Pandemi COVID-19 telah membawa banyak perubahan terhadap berbagai kegiatan masyarakat. Ruang publik termasuk mendapat dampak terbesar dari kondisi ini, tidak terkecuali tempat ibadah. Gereja sebagai salah satu tempat ibadah, tidak bisa melaksanakan aktivitasnya seperti semula, meskipun sudah diberlakukannya new normal. Selain itu, jenis gereja yang dipilih memiliki karakteristik Jawa Timur yakni Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW). GKJW tidak hanya memiliki karakter Jawa, namun lebih dari itu, GKJW memiliki banyak kegiatan jemaat sebagai perwujudan imannya. Namun, pandemi membuat GKJW tidak bisa melaksanakan aktivitasnya seperti semula. Berdasarkan kondisi tersebut, diperlukan suatu respon arsitektural yang dapat mewadahi aktivitas gereja dalam berbagai kondisi, khususnya dalam hal ini adalah kondisi pandemi. Perancangan ini menggunakan pendekatan regionalisme dan sakralisme untuk membantu mengidentifikasi dan menentukan elemen-elemen perancangan. Metode yang digunakan adalah pengambilan esensi penting dari kedua kondisi yakni gereja dan pandemi yang kemudian saling dipadukan untuk mencapai satu kesatuan desain yang baru.
Arsitektur dan Sampah: Tempat Pengolahan Sampah Khusus Sampah Plastik Berbasis Wisata Edukasi Akhmad Raihan Fadhila; Wawan Ardiyan Suryawan
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v10i2.69942

Abstract

Permasalahan Sampah sudah sering sekali terdengar dikalangan masyarakat Jakarta. Tak bisa dipungkiri lagi bahwa Jakarta merupakan salah satu provinsi yang menjadi penyumbang sampah terutama sampah plastik terbanyak di Negara Indonesia. Menurut Badan Pusat Statistik, Jakarta memegang rekor peringkat kedua provinsi terbanyak produksi sampahnya setelah kota Surabaya. Apabila sampah ini dibiarkan saja untuk menumpuk maka dapat berdampak ke segala aspek mulai dari kebersihan lingkungan hingga ke bencana alam. Salah satu cara yang pemerintah lakukan adalah dengan memindahkan tumpukan-tumpukan sampah dari daerah DKI Jakarta ke daerah luar yakni di Tempat Pemrosesan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang. Namun ternyata karena hanya mengandalkan satu tempat saja diperkirakan bahwa dalam 2 tahun lagi bantar gebang akan mengalami overload sampah dan tidak bisa menampung sampah lagi. Sehingga pemerintah gencar-gencar membuat alternatif TPA. Daerah yang dipilih sebagai lokasi objek rancang adalah Jakarta Timur dikarenakan jakarta timur merupakan kota di DKI Jakarta yang paling banyak memproduksi sampah. dalam pembuatan tempat pengolahan sampah di daerah Perkotaan dikaenakan masih adanya paradigma buruk masyarakat terhadap sampah dan tempat pembuangannya pastinya ada beberapa aspek lain yang harus dipikirkan seperti bagaimana cara beradaptasi terhadap keadaan DKI Jakarta terutama Jakarta Timur yang berbentuk perkotaan. lalu juga memikirkan aspek lingkungan agar dampak yang diberikan tidak lagi menjadi sesuatu yang negatif. Dengan Pendekatan Arsitektur Berkelanjutan dan metode Green Architecture diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan sampah dan juga tidak memberikan dampah negatif terhadap sekitar lahan.
Konsep Play Experience untuk Perancangan Hunian Vertikal Ramah Anak Anggita Arief Febriandia; Arina Hayati
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v10i2.70020

Abstract

Rumah susun sewa (rusunawa) merupakan salah satu solusi permasalahan padatnya pemukiman penduduk serta akses kebutuhan hunian yang terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Namun, pada kenyataannya, bangunan rusunawa masih kerap memunculkan dampak negatif, baik yang berkaitan dengan kualitas fisik hunian serta interaksi sosial di dalamnya. Salah satu kelompok penghuni yang seringkali dilupakan adalah anak-anak. Usia anak adalah usia di mana seseorang sedang dalam tahap mempelajari serta menemukan hal-hal baru, sekaligus merupakan masa paling sensitif dan penting yang mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya mental dan fisik anak di lingkungannya. Anak-anak membutuhkan ruang yang dapat mewadahi segala aktivitas mereka sesuai dengan kebutuhan dan perilaku alami mereka. Sementara itu, sebagian besar rusunawa masih dirancang untuk kebutuhan penghuni dewasa dan kurang memberikan berbagai fasilitas yang aman dan nyaman untuk anak-anak dan remaja. Untuk mendukung konsep understanding children dalam desain sebuah rumah susun, maka digunakan pendekatan fenomenologi dalam lingkup children experience, khususnya dalam konteks anak-anak dari keluarga low-income. Solusi dihadirkan melalui elemen arsitektur dan penataan massa bangunan yang menghasilkan koridor jalan dengan banyak ruang-ruang kejutan. Pada lantai 2 dan 3, ruang bersama dihadirkan melalui shared spaces yang dibagi menjadi 3 jenis ruang dengan karakter yang berbeda untuk anak-anak, remaja, dan juga dewasa.
Arsitektur Inklusif Sebagai Pendekatan pada Perancangan Pusat Pelatihan dan Pengembangan Keterampilan Tuna Daksa Aulia Syadza Salsabila; Fardilla Rizqiyah
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v10i2.70164

Abstract

Minimnya perhatian kepada kelompok difabel tuna daksa adalah hal paling umum yang dapat ditemui di masyarakat. Salah satu bentuk minim perhatian tersebut adalah dari banyaknya fasilitas umum yang ada tampak tidak ramah bagi kelompok tuna daksa. Sulitnya akses dan minimnya ruang gerak cenderung membatasi kesempatan mereka untuk berpartisipasi karena faktor ketidaknyamanan. Ada banyak fasilitas yang tersedia dalam lingkungan masyarakat umum, salah satu diantaranya adalah pelatihan pengembangan keterampilan. Di Kota Madiun, partisipasi dari kelompok tuna daksa dapat dikatakan kurang karena faktor hambatan arsitektural yang telah disebutkan sebelumnya adalah hal yang paling terlihat. Melalui pendekatan arsitektur inklusif, perancangan pusat pelatihan dan pengembangan keterampilan tuna daksa di Kota Madiun ini akan menghadirkan sebuah kebebasan akses untuk kelompok tuna daksa, sehingga harapannya mereka dapat mengeksplor sebanyak mungkin baik dalam konteks lingkungan ataupun kemampuan yang mereka miliki.
Konsep Walls’ Music : Perancangan Balai Pertunjukan dengan Pendekatan Desain Sensorik Ariefina Marta Rahmavani; Arina Hayati
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v10i2.70185

Abstract

Penyandang disabilitas memiliki kesempatan yang sama dalam berbagai kegiatan termasuk dalam bidang kesenian dan kebudayaan, salah satunya konser musik. Namun, fasilitas konser musik masih sedikit yang mengakomodasi penampil dan penonton penyandang disabilitas untuk dapat menikmati kegiatan secara optimal dan mandiri. Disamping itu, musik memiliki pesan dan cita rasa untuk disampaikan pada penikmatnya, maka sudah sepatutnya hal ini dapat disampaikan dengan berbagai cara komunikasi yang dapat dimengeri berbagai kalangan. Lewat konser musik, pesan tersebut bisa dikomunikasikan tidak hanya dengan media audio, namun juga dengan media visual dan aural. Beriringan dengan hal tersebut, arsitektur juga memiliki kemampuan untuk menjadi media komunikasi untuk menyampaikan makna lebih dari apa yang ditampilkan, terutama dapat dipahami dan dialami melalui pengalaman sensorik. Pendekatan desain sensorik diterapkan untuk memberikan pengalaman eksplorasi ruang yang lebih lengkap dan setara bagi pengunjung disabilitas dan pengunjung pada umumnya. Optimalisasi objek rancang terhadap desain sensorik berfokus pada unsur-unsur dari DeafSpace. Konsep Walls’ Music ditentukan sebagai konsep besar dan diaplikasian pada desain formal arsitektur dan teknis pada objek rancang. Metode musical analogies diterapkan untuk mentranslasi kriteria rancang menjadi bentuk dan konfigurasi. Hasil rancangan berupa susunan massa yang masif dan dinamis sesuai dengan analogi dari musik. Juga, interior auditorium yang memaksimalkan sensorik visual, seperti intervensi pada material dinding yang dapat menerima proyeksi cahaya, dan aural, seperti nuansa kosong dengan memperbanyak void di ruangan.
Memori dan Ruang Publik pada Pusat Perbelanjaan Mal Bale Kota Fitri Amalia; Bambang Soemardiono
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v10i2.70468

Abstract

Mal Bale Kota, sebuah pusat perbelanjaan di Kota Tangerang, Banten, yang menawarkan berbagai kebutuhan gaya hidup, memiliki situasi yang cukup memprihatinkan. Kendati terletak di pusat Kota Tangerang yang ramai, suasana Mal Bale Kota justru sepi. Tidak banyak pengunjung yang berlalu-lalang dan banyak retail yang gulung tikar. Perancangan ini bertujuan untuk melakukan redesain terhadap Mal Bale Kota, melalui pendekatan kontekstual, dengan mempertimbangkan dan menganalisis aspek-aspek keadaan, sosial serta budaya, dan kebutuhan dari situasi eksisting Mal Bale Kota. Hasil objek rancangan merupakan redesain Mal Bale Kota dengan menggunakan konsep pusat perbelanjaann pada masa awal pusat perbelanjaan itu didefinisikan, yaitu sebuah area pergerakan linier pada suatu area pusat bisnis kota, yang lebih diorientasikan bagi pejalan kaki, dengan konsep berupa jalur pejalan kaki dengan kombinasi plaza dan ruang-ruang interaksional. Selain itu, objek rancangan juga menegaskan nilai memorable pada Mal Bale Kota.
Social Sustainability sebagai Pendekatan Rancangan Kontekstual Ruang Publik di Pamekasan Aini Halimia; Nur Endah Nuffida
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v10i2.71213

Abstract

Ruang publik sebagai salah satu elemen kota memiliki peranan penting terhadap kualitas sosial dan lingkungan sebuah kota. Pada jurnal ini, kajian berfokus pada permasalahan ruang publik di Pamekasan. Konteks tempat kajian tersebut sebagai batasan sehingga permasalahan menjadi lebih spesifik. Penemuan permasalahan didasarkan pada opini masyarakat secara langsung melalui metode kuesioner. Kemudian, hasil kuesioner dievaluasi berdasarkan teori place-making. Dari evaluasi tersebut, dapat di identifikasi permasalahan rancangan ruang publik di Pamekasan berkaitan dengan image dan uses & Activities. Pemilihan tapak yang memiliki bangunan eksisting dan memiliki cerita serta memori bagi masyarakat menjadi salah satu cara untuk menghasilkan ruang yang aktif dan berkelanjutan. Sedangkan program rancangan berupa community hub sebagai respon terhadap aktivitas serta kebutuhan masyarakat di ruang publik. Program bertujuan untuk menghasilkan ruang yang dapat meningkatkan ekonomi kota serta mengaktifkan aktivitas fisik bagi kesehatan masyarakat. Untuk merespon konteks dan permasalahan, maka pendekatan yang digunakan adalah social sustainability. Pendekatan tersebut memperhatikan aspek-aspek kebutuhan masyarakat, pola aktivitas dan perilaku, serta hubungan antara manusia dan lingkungannya. Melalui pendekatan tersebut rancangan memiliki fokusan terhadap eksplorasi aktivitas, preferensi, serta pola hubungan manusi dengan tapak. Sehingga dengan aspek-aspek tersebut diharapkan dapat menghasilkan ruang yang berkelanjutan.
Aplikasi Metoda Arsitektur Inklusif pada Ruang Ekspresi Seni bagi Penyandang Disabilitas Anggi Tri Gusti Chandra; Andy Mappa Jaya
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v10i2.74554

Abstract

Arsitektur merupakan satu hal yang muncul dari sebuah kebutuhan manusia, namun faktanya masih banyak fasilitas yang belum terpenuhi khususnya bagi penyandang disabilitas. Dalam kehidupan bermasyarakat, penyandang disabilitas kerap dianggap berbeda dan tidak sederajat dengan non-disabilitas karena keterbatasannya. Sehingga sangat sulit untuk mendapatkan apresiasi atas apa yang mereka lakukan tanpa didasari rasa iba. Oleh karena itu, seni diangkat sebagai media bagi penyandang disabilitas untuk mengekspresikan diri dan emosinya melalui cara yang berbeda-beda sesuai dengan jenis disabilitasnya. Ada tiga aktivitas penting dalam implementasinya, yaitu ekspresi, interaksi dan apresiasi. Arsitektur inklusif hadir sebagai metoda dalam melihat suatu ruang sebagai sistem yang dirancang dan disesuaikan dengan kebutuhan khusus penyandang disabilitas tanpa harus memisahkannya dengan non-disabilitas. Tujuannya adalah untuk menyatukan penyandang disabilitas dengan non-disabilitas kedalam satu ruang dimana mereka saling berinteraksi satu sama lain. Rancangan menggunakan konsep Kacamata yang artinya bertukar perspektif. Dengan dibantu oleh prinsip-prinsip Universal Design, konsep diwujudkan dalam bentuk pengalaman yang berkaitan dengan indera manusia. Rancangan ini adalah wujud sebuah inklusi untuk memfasilitasi penyandang disabilitas dalam mengekspresikan dirinya hingga pada akhirnya dapat diapresiasi oleh non-disabilitas.
Penerapan Material Bambu pada Rancangan Wisata Perumahan Permatecture Wila Prakasita Scotiswara Supomo; I Gusti Ngurah Antaryama
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v10i2.77291

Abstract

Pengadaan material bangunan berdampak negatif terhadap lingkungan yang sebagian besar disebabkan oleh eksploitasi sumber daya alam dan penggunaan energi dalam kegiatan pembangunan. Pada rancangan wisata perumahan permatecture, pendekatan permatecture dihadirkan dengan melihat arsitektur sebagai sebuah siklus alam, siklus hidrologi, agar tidak menjadi kontras dan memberikan masalah baru pada keseimbangan alam sehingga menciptakan sistem tanpa sampah. Objek rancang berada di Desa Gandri, Ngawi dimana terjadi krisis air tanah. Untuk memperbaiki kondisi tersebut, pemilihan, pemanfaatan, daur hidup material bangunan, hingga desain bangunan menjadi hal yang sangat penting. Dilakukan pengumpulan data melalui literatur dan survei, yang kemudian dilakukan analisis dan sintesis terhadap data tersebut sehingga dapat memunculkan ide desain. Pada lahan perumahan permatecture, bambu merupakan material yang banyak tumbuh sehingga material ini digunakan sebagai bahan bangunan utama. Bambu apus digunakan untuk kolom yang membutuhkan kuat lentur (melengkung), bambu petung untuk kolom tegak, dan bambu ori untuk ornamen seperti fasad, pintu, dinding, dan lainnya. Bambu mudah rusak sehingga perlu untuk mengganti bahan setiap 8 tahun. Untuk memenuhi kebutuhan pengadaan bahan substitusi, tanaman bambu juga akan ditanam di lahan tersebut. Bahan bangunan bambu menjadi lebih berkelanjutan untuk kedepannya.
Seeing the Unseeable: Kamuflase Ruang Terbuka Publik pada Pemakaman Vertikal Bawah Tanah Nashrisaf Muhammad Resal; Bambang Soemardiono
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v10i2.79364

Abstract

Urbanisasi penduduk menuju perkotaan menyebabkan kepadatan penduduk terus meningkat. Kontribusi positif ruang terbuka hijau (RTH) publik menjadi komponen terpenting penentu kualitas hidup warga kota, kian sulit ditemui di kota – kota besar Indonesia. Kenaikan angka penduduk di kota juga diiringi dengan meningkatnya angka kematian sehingga diperlukan perencanaan penyediaan RTH publik, terutama penyediaan area pemakaman. Akan tetapi sistem pemakaman konvensional yang masih diterapkan di Indonesia mengokupansi banyak lahan dan menyebabkan pemakaman gagal dalam memproduksi fungsi sekundernya pemakaman berupa ruang sosial untuk rekreasi, refleksi, dan pertemuan budaya disamping fungsi utamanya berupa penyediaan tempat persemayaman jenazah. Hal ini diperburuk dengan peningkatan angka kematian akibat pandemi Covid-19 di Indonesia meningkat tajam mencapai 30.770 jiwa per tanggal 3 Februari 2021 (PPBK DPR RI, 2021). Selain itu, prosesi pemakaman saat ini juga terhambat dengan diterapkannya protokol kesehatan dimana pihak keluarga dan kerabat dilarang untuk menghadiri prosesi pemakaman korban. Padahal WHO merekomendasikan ruang terbuka sebagai tempat aktivitas utama masyarakat demi menghindari penularan virus. Lalu apa yang arsitektur mampu tawarkan? Gagasan arsitektural futuristik konstruktif pemberi nilai tambah terkait pemakaman dan RTH publik menjadi solusi.

Page 3 of 3 | Total Record : 30