cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Sains dan Seni ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 139 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 2 (2018)" : 139 Documents clear
Placemaking dalam Perancangan Rumah Susun Sewa Kurnia Manis Rumaningsih; Sri Nastiti Nugrahani Ekasiwi
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.182 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.33313

Abstract

Rumah menjadi kebutuhan dasar seluruh manusia untuk membina keluarga dalam rangka menjaga kelangsungan hidup. Kebutuhan perumahan di Indonesia terus meningkat setiap tahun. Tidak sedikit masyarakat Indonesia yang belum memiliki tempat tinggal akibat dari kurang tersedianya pasokan rumah. Dari permasalahan tersebut, muncul sebuah fenomena sosial yang disebut Backlog. Backlog merupakan sebuah kondisi yang terjadi ketika jumlah rumah tidak dapat mencukupi kebutuhan rumah per kepala keluarga. Backlog di perkotaan salah satunya dipengaruhi oleh laju urbanisme yang tidak dapat dikendalikan secara penuh. Akibatnya, masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang melakukan kegiatan urbanisasi sulit mendapatkan tempat berhuni di lahan perkotaan. Atas permasalahan ini, diperlukan sebuah solusi hunian yang dapat memecahkan permasalahan tersebut. Hunian sewa hadir sebagai salah satu solusi untuk mengurangi dampak negatif yang tumbuh di masyarakat akibat kurangnya kemampuan masyarakat secara ekonomi. Hunian sewa dianggap sesuai untuk menyelesaikan masalah ini karena sistem dalam penyewaan hunian dapat disesuaikan dengan kemampuan masyarakat. Permasalahan lain yang dijumpai adalah kurangnya lahan perumahan di tanah kota. Oleh karena itu untuk memecahkan dua permasalahan ini, usulan yang diberikan adalah menciptakan hunian susun sewa. Dengan menggunakan metode Architecture Programming oleh Donna P. Duerk, tahapan pada perancangan ini adalah melalui pengumpulan fakta, mencari permasalahan, penentuan tujuan, penentuan syarat yang diperlukan dalam perancangan, serta menciptakan konsep. Pendekatan perilaku dipilih karena perancangan menitikberatkan pada pola perilaku yang terjadi pada Masyarakat Berpenghasilan Rendah. Desain merupakan hunian yang mampu memberikan aksesibilitas yang mudah cepat. Selain itu, untuk menunjang terciptanya kehidupan sosial yang harmonis, desain menyediakan ruang-ruang yang dapat diakses oleh pengguna bangunan sebagai sarana bertemu, berkumpul dan bersosialisasi serta lokasi-lokasi yang mampu memberikan sarana rekreatif.­
Kompleks Pengembangan Garam Terpadu Surabaya Irfan Falih Mahdi; Bambang Soemardiono
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5414.268 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.33360

Abstract

Surabaya merupakan salah satu kota terbesar di Indonesia yang berada di daerah pesisir. Sehingga Surabaya berpotensi untuk menjadi daerah penghasil garam yang besar. Namun berbanding terbalik dengan kondisi Indonesia dan khusunya Surabaya sekarang yang sedang mangalami krisis garam. Arsitektur bioklimatik mengajarkan kita akan pentingnya merespon iklim agar arsitektur yang kita rancang dapat sesuai dengan kebutuhan. Diperlukannya metode yang menerapkan prinsip-prinsip arsitektur bioklimatik yaitu dapat memanfaatkan potensi-potensi sekitar site dengan memperhatikan konfigurasi bentuk massa bangunan dan perencanaan tapak, orientasi bangunan, ruang transisional, desain pada dinding, hubungan terhadap lansekap. Program pada rancangan ini memliki program utama yakni Industri, Hunian, serta Edukasi. Seluruh program tersebut akan disatukan dan memiliki integrasi satu sama lain. Program-program tersebut di rancang untuk dapat menjawab permasalahan yang sedang terjadi dan diharapkan kepedulian dan partisipatif dari berbagai pihak dapat menjaga eksistensi garam di Surabaya.
Perancangan Rest Area di Kawasan Jalan Tol Trans Sumatera Ruas Pekanbaru-Dumai dengan Penerapan Vernakular Kontemporer Destia Raudha Fatma; Bambang Soemardiono
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (737.334 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.33484

Abstract

Mobilitas merupakan pergerakan manusia dari satu tempat ke tempat lainnya. Dalam melakukan pergerakan ini diperlukannya sebuah fasilitas berupa jalan untuk membantu pergerakan ini sendiri. Dan dari jalan antar daerah ini sendiri pemerintah juga memberikan fasilitas berupa rest area sebagai tempat transisi atau tempat singgah secara temporer. Oleh karena itu diperlukannya suatu identitas pada rest area ini sendiri agar memunculkan identitas yang dapat memberikan kekhasan dan membantu pengunjungnya untuk mengidentifikasi daerah tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan menerapkan vernakular kontemporer pada perancangan untuk memunculkan identitas dari daerah tersebut tanpa harus membuat rancangan itu terlihat sangat tradisional. Untuk mencapai tujuan ini hal yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan reinterpretasi tradisi dari daerah sekitar dan menerapkan ke dalam rancangan.
Penerapan Healing Architecture dengan Konsep Slow Living dalam Perancangan Ruang Publik Pereda Stres Adinda Aprilia Kirana Ruspandi; Angger Sukma Mahendra
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2354.881 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.33492

Abstract

Fast Paced Life atau biasa disebut dengan hidup-serba-cepat adalah gaya hidup dengan aktivitas padat dan terus menerus. Fast Paced Life dapat mendorong stimulasi berlebih dan overscheduling, yang menjadi stres kronis yang menyebabkan emosi dan kebiasaan yang tidak stabil. Usulan objek disain adalah ruang publik yang dapat meredakan stress masyarakat Serpong akibat fast paced life. Peranan bangunan ruang publik adalah membantu penyembuhan dari sisi psikologis atau pengobatan non medis yang menggunakan pendekatan prinsip-prinsip desain yang diterapkan pada objek. Fungsi bangunan sebagai ruang publik pereda stres akibat fast paced life maka diterapkan pendekatan healing architecture dan slow living pada obyek desain. Healing architecture merupakan sebuah pendekatan dimana tujuan utama dari penggunaanya adalah untuk membantu menyembuhkan pengguna dengan konsep pembentukkan lingkungan perawatan yang memadukan aspek fisik serta psikologis pasien di dalamnya yang bertujuan untuk mempercepat proses penyembuhan. Sedangkan slow living merupakan sebuah gaya hidup yang dengan tempo lambat dan lebih mengutamakan kualitas waktu. Gaya hidup tersebut bertolak belakang dengan gaya hidup fast paced life. Obyek desain menggunakan pola lingkaran sebagai acuan dalam proses mendesain. Sebuah eksperimen menunjukkan bahwa curve atau melengkung dapat memperlambat tempo kecepatan manusia saat berjalan. Oleh karena itu lingkaran dipilih menjadi pola acuan saat mendesain karena semua sisi lingkaran merupakan curve atau melengkung. Obyek desain akan menggabungkan karakteristik mall (community mall) dan ruang publik. Community mall terdiri dari beberapa massa bangunan yang dihubungkan dengan jalan setapak. Karakteristik ini lah yang akan diterapkan pada obyek desain.
Coworking Space dengan Konsep Pencahayaan yang Dinamis Fatimah Az-Zahro; Asri Dinapradipta
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.34332

Abstract

Cahaya merupakan elemen arsitektur yang sangat penting. Karena dengan cahaya, persepsi dan definisi akan suatu ruangan dapat terbentuk. Terdapat dua jenis cahaya berdasarkan sumbernya, yakni cahaya alami dan cahaya buatan. Pada beberapa dekade silam, cahaya alami atau daylight menjadi suatu komponen penting dalam perancangan arsitektur. Namun dengan penemuan pencahayaan buatan, penggunaan daylight semakin ditinggalkan dan bahkan cenderung dihindari karena sulit dikendalikan. Sedangkan di sisi lain, manusia adalah organisme yang kodratnya berada di ruang luar. Sehingga dengan merasakan nuansa ruang luarlah manusia merasa seimbang secara psikologi dan secara biologi.Membahas lebih jauh mengenai ‘daylight dan arsitektur’, banyak penelitian telah dilakukan mengenai pengaruh daylight terhadap pengguna bangunan. Secara keseluruhan, peneliti setuju bahwa daylight dapat meringankan stres, menjaga fokus dan konsentrasi, memperbaiki suasana hati serta produktivitas dalam beraktivitas. Variabilitas dan kontras yang dimiliki daylight bukan hanya mutlak merupakan suatu permasalahan. Kedinamisan dari kontras antara cahaya matahari dan bayangan tersebut dapat memberi arousal atau pembangkit kepada manusia. Menurut teori psikologi lingkungan, dengan adanya arousal dari lingkungannya, produktivitas manusia menjadi meningkat.Oleh karena itu, bagaimana arsitektur menghadapi dinamisasi pada daylight dan membuatnya menjadi stimulus untuk meningkatkan suasana hati serta produktivitas, namun tetap nyaman serta memenuhi kebutuhan dan harapan pengguna bangunan. Selain itu, karena daylight dapat memberi sense akan waktu pada arsitektur, maka bagaimana kelak tiap saat atmosfer ruangan yang tercipta dapat merubah persepsi penggunanya bahwa ada banyak hal yang menarik dan berbeda di setiap harinya meskipun dengan rutinitas dan tempat yang sama.Metode yang digunakan adalah metode yang berkebalikan urutan tahapannya dengan metode penelitian Kynthia Chamilothori, Jan Wienold, dan Marilyne Andersen (2016) dalam menganalisa perancangan daylight pada suatu bangunan yang sudah ada.
Pembagian Area di Kampung Asuh sebagai Penerapan Pendekatan Arsitektur Perilaku Fabella Andinia Setiawan; Sri Nastiti Nugrahani Ekasiwi
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.33550

Abstract

Didalam merancang terdapat berbagai cara untuk melakukan pendekatan terhadap objek rancang, salah satunya adalah dengan penerapan pendekatan arsitektural pada pembagian zoning ruang dan tatanan massa pada objek rancang itu sendiri. Seperti halnya pada Kampung Asuh, yang menerapkan Pendekatan Arsitektur Perilaku dalam pembagian zoning dan area berdasarkan perilaku dari penggunanya. Kampung Asuh itu sendiri merupakan objek arstektural yang memberikan sarana perlindungan dan pembinaan untuk anak terlantar. Dimana terdapat beberapa permasalahan pada anak terlantar di Indonesia, salah satunya adalah pandangan terhadap anak terlantar yang melekat erat dengan perilaku menyimpang. Untuk mewujudkan hal tersebut, adanya perpaduan dari Pendekatan Healing Environment dirasa perlu untuk memberikan kesan alam yang dapat memberikan kenyamanan pada anak terlantar sehingga memudahkan dalam proses penyembuhan psikologis anak, dan kemudian dapat merubah perilaku anak terlantar menjadi lebih baik.
Pendekatan Regionalisme dalam Redesain Museum Majapahit Riza Aisyah Sukarno; Rullan Nirwansjah
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.167 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.33576

Abstract

Pada perancangan museum yang moderen namun memiliki aspek kedaerahan, pendekatan yang paling tepat untuk digunakan adalah pendekatan regionalisme. Menurut William Curtis, Regionalisme diharapkan dapat menghasilkan bangunan yang bersifat abadi, melebur atau menyatu antara yang lama dan yang baru, antara regional dan universal. Pendekatan Regionalisme dalam redesain Museum Majapahit di Trowulan dilakukan dengan metode transformasi melalui strategi peminjaman (borrowing). Lokasi museum ini berada di Jawa, sehingga rumah adat Jawa yaitu joglo dipilih untuk ditransformasikan untuk diterapkan pada penataan massa dan zoning museum. Sementara itu, transformasi pada Candi Bajang Ratu diterapkan pada perancangan bentuk dari Museum ini untuk mempertahankan ciri khas dari Kerajaan Majapahit.
Disprogramming Wisata Akuarium Biota Laut dan Pusat Rehabilitasi Trauma Anak untuk Mengubah Persepsi Buruk Masyarakat Wiwit Maryadi; Wawan Ardiyan Suryawan
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.517 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.33671

Abstract

Kekerasan pada anak yang sedang marak terjadi di Indonesia dapat menyebabkan trauma berat dan berkepanjangan yang mempengaruhi tumbuh kembang anak. Sehingga anak-anak tersebut membutuhkan perlindungan dari orang-orang di sekitar mereka. Namun, kurangnya pengetahuan masyarakat tentang trauma menimbulkan stigma dan persepsi yang buruk terhadap anak-anak yang menderita trauma. Persepsi yang buruk tentang trauma ini, harus diubah demi meningkatkan kepedulian masyarakat dan membantu dalam pemulihan bagi anak-anak yang mengalami trauma. Pendekatan dengan ilmu psikologi yaitu teori empati diterapkan pada perancangan objek untuk menyelesaikan permasalahan persepsi buruk masyarakat terhadap penderita trauma. Dengan menerapkan teori disprogramming yang dikemukakan oleh Bernard Tschumi sebagai metode, objek merupakan penggabungan dari pusat rehabilitasi trauma anak dengan wisata akuarium biota laut. Tujuan dari penggabungan ini adalah untuk menghubungkan masyarakat dengan penderita trauma sehingga terjadi hubungan dimana masyarakat dapat berekreasi sambil mengembangkan empati mereka terhadap anak-anak penderita trauma, dan anak-anak penderita trauma memiliki area terapi untuk pemulihan trauma mereka.
Penerapan Pendekatan Rancang Active Design pada Perancangan Hunian Vertikal M. Sakti Akbari; Asri Dinapradipta
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.773 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.33674

Abstract

Pada era modern, gaya hidup masyarakat mengalami perubahan secara signifikan. Perubahan tersebut tentu saja memberi dampak kepada aspek lain dalam kehidupan. Masyarakat di era modern sudah terbiasa dengan kehidupan serba instan dalam kegiatan sehari-harinya. Salah satu aspek yang terkena dampak perubahan gaya hidup serba instan itu adalah aspek kesehatan. Fenomena kesehatan yang muncul dari gaya hidup tersebut adalah insufficient daily physical activity atau kurangnya jumlah aktivitas fisk harian pada masyarakat. Dilain sisi, arsitektur merupakan salah satu unsur pembentuk gaya hidup manusia tersebut. Arsitektur yang secara ilmu perilaku menjadi behaviour setting atau tempat terjadinya pola keseharian pada kehidupan manusia tentu saja memiliki peran yang besar dalam membentuk gaya hidup manusia tersebut. Dari fakta tersebut, tentu saja obyek arsitektur dapat menjadi pendorong untuk menyelesaikan fenomena perilaku tersebut. Konteks yang diambil dalam perancangan ini adalah perancangan hunian vertikal yang dapat mendorong penggunanya untuk melakukan aktivitas fisik sehari-hari. Obyek dirancang dengan pendekatan active design dan arsitektur perilaku. Penerapan pendekatan tersebut pada bangunan didukung oleh metode behaviour setting untuk mencapai tujuan dari kriteria rancang. Dari perancangan hunian vertikal ini, diharapkan obyek rancangan mampu mendorong penghuninya untuk melakukan aktivitas fisik lebih pada huniannya, yang menjadi salah satu obyek arsitektur tempat mayoritas kegiatannya berlangsung. Hal itu diharapkan mampu mengubah perilaku penghuni dan menyelesaikan permasalahan isu yang diangkat.
Redesain Rumah Potong Hewan: Persepsi pada Batas Ruang Faliq Urfansyah; Angger Sukma Mahendra
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (766.173 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.33736

Abstract

Penggunaan pendekatan persepsi pada batas ruang RPH merupakan konsep yang digunakan untuk memisahkan antara dua jenis ruang di dalam bangunan utama RPH. Dengan menggunakan pendekatan ini maka optimasi lahan bisa dilakukan dengan penggabungan bangunan utama dari kedua RPH sehingga dapat meminimalkan kebutuhan lahan untuk bangunan utama. Pemisah antara kedua ruang yang dibuat oleh batas menjadi kunci utama dalam desain yang memungkinkan konsep lain dapat diterapkan menjadi sebuah desain dalam kompleks RPH. Dalam penerapannya, batas yang memisahkan kedua ruang ini menghadapi permasalahan berupa aturan yang sudah ditetapkan dalam persyaratan rumah potong hewan ruminansia dan unit penanganan daging (meat cutting plant), dari Peraturan Menteri Pertanian Nomor : 13/PERMENTAN/OT.140/1/2010 yang mensyaratkan terpisahnya secara fisik RPH babi dari lokasi kompleks RPH hewan lain atau dibatasi dengan pagar tembok dengan tinggi minimal 3 (tiga) meter untuk mencegah lalu lintas orang, alat dan produk antar rumah potong. Berdasarkan peraturan ini maka dibutuhkan desain batas yang dapat memisahkan kedua ruang dalam satu bangunan utama dengan pertimbangan aturan tersebut. Cara yang digunakan untuk membuat desain batas seperti yang diharapkan adalah dengan membuat batas yang berwujud fisik sebagai pemisah, namun dengan kedua ruang yang dibatasi ini tidak dipersepsikan sebagai dua bagian bangunan yang berbeda dalam satu bangunan tersebut. Metode yang digunakan dalam redesain RPH ini adalah revealing architectural design oleh Philip D. Plowright yang berdasar pada pendekatan ilmu arsitektur ataupun diluar itu dengan kerangka berpikir yang jelas. Jenis kerangka berpikir yang diaplikasikan pada redesain RPH adalah concept-based framework yang menggunakan ide utama sebagai pusat dari semua konsep yang dibuat pada desain. Dengan pendekatan persepsi batas sebagai kunci konsep, maka ide utama dan konsep lain dapat diaplikasikan dalam desain. Konsep-konsep ini terdiri dari tiga konsep utama, yaitu penambahan fasilitas, perubahan tata letak, dan aplikasi dari batas dengan persepsi yang dibuatnya.

Page 11 of 14 | Total Record : 139