cover
Contact Name
Lalu Ibrohim Burhan
Contact Email
ejournaldinamika@gmail.com
Phone
+6287783233577
Journal Mail Official
ejournaldinamika@gmail.com
Editorial Address
kp Bahagia desa Lendang Nangka kec Masbagik kab Lombok Timur Nusa Tenggara Barat 83661
Location
Kab. lombok timur,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Dinamika
ISSN : -     EISSN : 31091040     DOI : https://doi.org/10.63982/8gr89j07
DINAMIKA: Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan adalah jurnal ilmiah yang menerbitkan artikel hasil penelitian, tinjauan pustaka, studi kasus, dan pengembangan teknologi dalam bidang teknik sipil dan teknik lingkungan. Jurnal ini bertujuan menjadi wadah akademik yang mendorong kolaborasi multidisiplin, inovasi berkelanjutan, serta penerapan ilmu rekayasa untuk mendukung pembangunan yang tangguh dan ramah lingkungan.
Articles 20 Documents
ANALISA PENGARUH PENAMBAHAN SERAT BAJA TERHADAP SIFAT MEKANIK BETON NORMAL Yuniarsa Amelia
DINAMIKA: Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan Vol. 2 No. 1 (2026): Ketahanan Infrastruktur terhadap Perubahan Iklim dan Bencana Alam
Publisher : PT LIB Research Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63982/dinamika.x37h4465

Abstract

Concrete is the most widely used construction material due to its high compressive strength, but its weaknesses lie in its low tensile strength and brittle nature. One effort that can be done to improve the mechanical properties of concrete, especially tensile strength, is by adding steel fiber to the concrete mixture. This study aims to analyze the effect of variations in steel fiber addition on the mechanical properties of normal concrete, so that it is expected to produce concrete with better structural performance and resistance to cracking. This study aims to analyze the effect of varying steel fiber addition on the mechanical properties of normal concrete, specifically on the compressive and splitting tensile strength of concrete. The variations in steel fiber content used in this study were 0%, 0.7%, and 1% of the concrete volume. Testing was conducted on cylindrical specimens with a diameter of 15 cm and a height of 30 cm after curing for 14 days. The results of the study indicate that the addition of steel fibers has an effect on improving the mechanical properties of normal concrete. The slump value decreases with increasing steel fiber content, which indicates a decrease in the workability of the concrete mixture. Optimum compressive strength is obtained at the addition of 0.7% steel fiber, while optimum splitting tensile strength is achieved at the addition of 1% steel fiber. Overall, the use of steel fibers in concrete mixtures can increase crack resistance and improve the mechanical behavior of concrete, so it can be used as an alternative additive to improve the structural performance of normal concrete.
Pengaruh Penambahan Abu Serabut Kelapa Sebagai Substitusi Sebagian Semen Terhadap Kuat Tekan Beton pentarina Sukran
DINAMIKA: Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan Vol. 2 No. 1 (2026): Ketahanan Infrastruktur terhadap Perubahan Iklim dan Bencana Alam
Publisher : PT LIB Research Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63982/dinamika.6mvpep41

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan abu serabut kelapa sebagai substitusi sebagian semen terhadap kuat tekan beton. Abu serabut kelapa merupakan limbah pertanian yang mengandung senyawa pozzolan seperti silika (SiO₂) dan alumina (Al₂O₃) yang dapat memperkuat hasil hidrasi semen. Penelitian dilakukan secara eksperimental di laboratorium dengan variasi abu serabut kelapa sebesar 0%, 1,5%, 2,5%, 3,5%, dan 4,5% dari berat semen. Benda uji berbentuk silinder berukuran 15 cm × 30 cm dengan mutu beton rencana f’c = 25 MPa. Hasil pengujian menunjukkan bahwa seluruh variasi penambahan abu serabut kelapa menghasilkan kuat tekan lebih tinggi dibandingkan beton normal, dengan nilai tertinggi pada kadar 4,5% sebesar 32,77 MPa. Berdasarkan SNI 2847:2019, nilai tersebut memenuhi standar kuat tekan minimum beton struktural, sehingga abu serabut kelapa dapat digunakan sebagai bahan pengganti sebagian semen dalam pembuatan beton    
ANALISIS PENGARUH KECEPATAN KENDARAAN BERAT TERHADAP DERAJAT KEJENUHAN PADA SEGMEN TANJAKAN SIMPANG EMPAT TAK BERSINYAL PAOK MOTONG sahrudin sahrudin
DINAMIKA: Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan Vol. 2 No. 1 (2026): Ketahanan Infrastruktur terhadap Perubahan Iklim dan Bencana Alam
Publisher : PT LIB Research Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63982/dinamika.g0ntf138

Abstract

  This study examines the impact of heavy vehicle speed on traffics aturation levels and level of service at the uphill segment of theu nsignalized four-leg intersection in Paok Motong. Regressiona nalysis reveals a coefficient of determination (R²) of 0.6597,i ndicating that 65.97% of the variation in saturation level is explainedby heavy vehicle speed, while the remaining 34.03% is influenced byr oad geometry, vehicle type, environmental conditions, and othere xternal factors. The saturation degree (DS) of 1.12 places the segmenti n Level of Service F, characterized by forced flow, low speeds, andt raffic volumes exceeding road capacity. During normal hours, thea verage speed of heavy vehicles is 38.90 km/h, whereas during peakh ours it drops to 25.22 km/h. This speed reduction contributes toi ncreased traffic volume and density, leading to higher saturation,congestion, delays, and elevated accident risk. These findings highlight the need for targeted capacity evaluation and traffic management strategies on uphill road segments frequently used by heavy vehicles.
Evaluasi Kinerja Seismik Struktur Gedung Rumah Sakit Ibu dan Anak Permata Hati Mataram Menggunakan Metode Pushover dan Respon Spektrum Berdasarkan ATC-40 IMAYATUL RA; Lalu Ibrohim Burhan; Ikroman Alhamzani
DINAMIKA: Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan Vol. 2 No. 1 (2026): Ketahanan Infrastruktur terhadap Perubahan Iklim dan Bencana Alam
Publisher : PT LIB Research Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63982/dinamika.cjemwt28

Abstract

Indonesia memiliki potensi gempa bumi yang tinggi karena berada di dekat pertemuan tiga lempeng tektonik aktif. Pulau Lombok adalah salah satu tempat dengan tingkat kerawanan yang tinggi. Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Permata Hati Mataram adalah fasilitas kesehatan penting disana. Dengan kondisi ini, diperlukan evaluasi kinerja seismik untuk mengevaluasi kemampuan struktur dalam menahan beban gempa. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kinerja seismik struktur bangunan pengembangan RSIA Permata Hati Mataram dengan menggunakan dua pendekatan analisis, yaitu metode respon spektrum (analisis dinamik linier) dan metode pushover (analisis statik nonlinier), yang berpedoman pada ATC-40. Pemodelan struktur dilakukan dengan bantuan perangkat lunak SAP2000, dengan fokus pada analisis parameter gaya geser dasar (base shear), simpangan (displacement), serta pola distribusi sendi plastis. Hasil analisis metode respon spektrum menunjukkan perilaku elastis dengan simpangan maksimum sebesar 41,05 mm pada arah X dan 75,45 mm pada arah Y, serta tingkat kinerja Immediate Occupancy (IO). Sementara itu, metode pushover menunjukkan perilaku nonlinier dengan simpangan maksimum 90,50 mm pada arah X dan 103 mm pada arah Y, serta tingkat kinerja antara IO hingga Damage Control (DC). Berdasarkan hasil tersebut, struktur RSIA Permata Hati Mataram dinyatakan aman terhadap beban gempa sesuai kriteria ATC-40.  
Kerangka Rapid Visual Screening Berbasis Indeks Risiko untuk Penilaian Sistematis Kerentanan Seismik Bangunan Publik Lalu Ibrohim Burhan
DINAMIKA: Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan Vol. 2 No. 1 (2026): Ketahanan Infrastruktur terhadap Perubahan Iklim dan Bencana Alam
Publisher : PT LIB Research Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63982/dinamika.07p52q89

Abstract

Bangunan publik merupakan elemen infrastruktur vital yang berperan penting dalam keberlangsungan layanan esensial saat dan setelah bencana gempa bumi, khususnya di wilayah berkembang dengan tingkat seismisitas tinggi. Namun demikian, banyak bangunan publik belum dievaluasi secara sistematis menggunakan pendekatan kuantitatif berbasis indeks risiko, sehingga prioritisasi mitigasi dan penguatan struktur sering kali tidak berbasis bukti yang terukur. Kesenjangan ini menunjukkan perlunya kerangka penilaian kerentanan seismik yang efisien, konsisten, dan aplikatif pada skala bangunan individual. Penelitian ini bertujuan menilai tingkat kerentanan seismik bangunan publik terhadap bencana gempa bumi secara kuantitatif. Penelitian ini dilakukan pada sejumlah bangunan publik di wilayah rawan gempa menggunakan data primer hasil survei lapangan. Pendekatan Rapid Visual Screening (RVS) diterapkan untuk mengumpulkan parameter struktural utama, yang selanjutnya diintegrasikan dengan metode risk index scoring untuk menghitung indeks kerentanan seismik. Analisis kuantitatif dilakukan terhadap klasifikasi risiko, perbandingan parameter struktural, serta uji konsistensi dan sensitivitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 68% bangunan publik berada pada kategori risiko sedang hingga tinggi, dengan skor kerentanan rata-rata sebesar 0,74, dan bangunan berusia lebih dari 30 tahun memiliki tingkat risiko yang secara signifikan lebih tinggi. Temuan ini menegaskan bahwa integrasi RVS dan indeks risiko mampu menyediakan penilaian kerentanan yang stabil dan terukur. Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan kontribusi metodologis dan empiris terhadap pengembangan penilaian risiko seismik serta mendukung pengambilan keputusan berbasis risiko dalam upaya peningkatan ketahanan infrastruktur publik Abstract Public buildings constitute critical infrastructure that ensures the continuity of essential services during and after earthquake events, particularly in developing regions characterized by high seismicity. Nevertheless, many public buildings have not been systematically evaluated using quantitative risk-based approaches, resulting in mitigation and retrofit decisions that are often insufficiently evidence-based. This gap highlights the need for an efficient, consistent, and building-level seismic vulnerability assessment framework. This study aims to quantitatively assess the seismic vulnerability of public buildings exposed to earthquake hazards. The research was conducted on a set of public buildings located in a seismically active area using primary data collected through field surveys. Rapid Visual Screening (RVS) was applied to document key structural parameters, which were subsequently integrated with a standardized risk index scoring approach to compute seismic vulnerability indices. Quantitative analyses were performed to classify risk levels, compare structural parameters, and evaluate consistency and sensitivity of the assessment results. The findings indicate that 68% of the assessed public buildings fall within moderate-to-high seismic risk categories, with an average vulnerability score of 0.74, while buildings older than 30 years exhibit substantially higher risk levels. These results demonstrate that the integrated RVS–risk index approach provides a stable and measurable representation of seismic vulnerability. Overall, this study contributes methodologically and empirically to seismic risk assessment practices and supports risk-informed decision-making for enhancing the resilience of public building infrastructure.
Pengembangan Climate-Integrated Road Vulnerability Index untuk Menilai Dampak Hujan Ekstrem terhadap Infrastruktur Jalan LALU MARZUANDI; Lalu Ibrohim Burhan
DINAMIKA: Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan Vol. 2 No. 2 (2026): Desain, Teknologi, dan Inovasi Infrastruktur Tangguh Bencana
Publisher : PT LIB Research Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63982/dinamika.3yqf6h89

Abstract

Perubahan iklim global telah meningkatkan intensitas hujan ekstrem yang secara signifikan memengaruhi kinerja dan ketahanan infrastruktur jalan, namun pendekatan penilaian kerusakan yang ada masih didominasi oleh analisis kondisi eksisting tanpa integrasi variabel iklim secara komprehensif. Kesenjangan ini membatasi kemampuan prediksi kerentanan jalan dalam menghadapi tekanan hidrometeorologis yang semakin kompleks. Penelitian ini bertujuan mengembangkan indeks risiko kerentanan infrastruktur jalan berbasis iklim yang mengintegrasikan variabel iklim ekstrem dan karakteristik struktural jalan. Penelitian dilakukan pada beberapa segmen jalan dengan panjang 500–1000 m menggunakan data curah hujan, kondisi drainase, material perkerasan, dan volume lalu lintas, serta data kerusakan jalan yang diukur melalui IRI. Analisis dilakukan menggunakan regresi linier, Analytical Hierarchy Process (AHP), dan pemodelan indeks risiko berbasis normalisasi. Hasil menunjukkan bahwa curah hujan ekstrem (>100 mm/hari) meningkatkan kerusakan jalan hingga 48% dengan koefisien regresi signifikan (β = 0,48; p < 0,01), serta 62% segmen jalan berada dalam kategori risiko tinggi. Temuan ini menegaskan dominasi faktor iklim dalam menentukan kerentanan jalan dan menunjukkan bahwa indeks yang dikembangkan mampu mengklasifikasikan risiko secara akurat. Secara keseluruhan, penelitian ini berkontribusi pada penguatan Infrastructure Resilience & Climate Risk Theory serta menyediakan alat analitis berbasis data untuk mendukung pengambilan keputusan dalam manajemen infrastruktur jalan yang berkelanjutan. Abstract Global climate change has intensified extreme rainfall events, significantly affecting the performance and resilience of road infrastructure; however, existing assessment approaches remain largely condition-based and fail to integrate climate variables fully. This gap limits the predictive capacity of vulnerability assessments under increasing hydrometeorological stress. This study aimed to develop a climate-integrated road vulnerability risk index that incorporates extreme climate variables and structural characteristics of road infrastructure. The study was conducted across multiple road segments (500–1000 m) using datasets on rainfall intensity, drainage conditions, pavement materials, traffic volume, and road damage, measured using the International Roughness Index (IRI). Data were analyzed using linear regression, Analytical Hierarchy Process (AHP), and normalized risk index modeling. The results showed that extreme rainfall (>100 mm/day) increased road deterioration by 48% (β = 0.48; p < 0.01), with 62% of road segments classified as high risk. These findings indicate the dominant role of climate factors in determining road vulnerability and demonstrate that the proposed index effectively classifies risk levels. Overall, this study advances Infrastructure Resilience & Climate Risk Theory and provides a data-driven analytical tool to support decision-making in sustainable road infrastructure management.
Pemetaan Risiko Longsor Berbasis Skenario Iklim melalui Integrasi GIS–AHP dan Pemodelan Stabilitas Lereng Hidayatul Amri; Lalu Ibrohim Burhan
DINAMIKA: Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan Vol. 2 No. 2 (2026): Desain, Teknologi, dan Inovasi Infrastruktur Tangguh Bencana
Publisher : PT LIB Research Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63982/dinamika.zdv4tj56

Abstract

Perubahan iklim global yang ditandai oleh peningkatan intensitas dan variabilitas curah hujan telah meningkatkan frekuensi serta keparahan longsor, sehingga menimbulkan tantangan signifikan dalam analisis stabilitas lereng pada bidang teknik sipil. Meskipun berbagai pendekatan geoteknik dan pemetaan berbasis GIS telah digunakan, model yang ada umumnya belum mengintegrasikan skenario iklim masa depan secara sistematis, sehingga ketidakpastian hidrologi jangka panjang belum terakomodasi secara memadai. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun peta risiko longsor berbasis perubahan iklim melalui pendekatan kuantitatif terintegrasi. Penelitian dilakukan pada wilayah lereng perbukitan dengan data topografi, geoteknik, curah hujan, dan penggunaan lahan yang dianalisis menggunakan integrasi GIS, Analytical Hierarchy Process (AHP), serta analisis stabilitas lereng berbasis limit equilibrium. Data yang digunakan meliputi parameter tanah hasil uji laboratorium dan data spasial multi-layer yang diproses melalui teknik Multi-Criteria Evaluation. Hasil menunjukkan bahwa peningkatan curah hujan sebesar 20% menurunkan nilai Factor of Safety rata-rata hingga 34,9%, sementara sekitar 41% wilayah terklasifikasi dalam zona risiko tinggi. Selain itu, sekitar 70% kejadian longsor teridentifikasi pada lereng dengan kemiringan lebih dari 30°, menunjukkan dominasi faktor geometri lereng dalam ketidakstabilan. Temuan ini menegaskan bahwa perubahan iklim secara signifikan memengaruhi stabilitas lereng dan distribusi risiko longsor. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam pengembangan model GIS-based climate slope risk mapping yang mengintegrasikan teori stabilitas lereng dan adaptasi perubahan iklim, serta menawarkan implikasi praktis untuk perencanaan tata ruang dan mitigasi risiko berbasis data dalam rekayasa teknik sipil. Abstract Global climate change, characterized by increasing intensity and variability of rainfall, has significantly amplified the frequency and severity of landslides, posing critical challenges for slope stability analysis in civil engineering. Although geotechnical methods and GIS-based mapping approaches have been widely applied, existing models generally lack systematic integration of future climate scenarios, leaving long-term hydrological uncertainty insufficiently addressed. This study aims to develop a climate-based landslide risk map using an integrated quantitative approach. The research was conducted in a hilly slope region using topographic, geotechnical, rainfall, and land-use data, analyzed through the integration of GIS, Analytical Hierarchy Process (AHP), and limit equilibrium-based slope stability analysis. The dataset included laboratory-tested soil parameters and multi-layer spatial data processed using Multi-Criteria Evaluation techniques. The results showed that a 20% increase in rainfall reduced the average Factor of Safety by up to 34.9%, while approximately 41% of the study area was classified as high-risk zones. Furthermore, about 70% of landslide occurrences were associated with slopes exceeding 30°, indicating the dominant role of slope geometry in instability. These findings demonstrate that climate change significantly alters slope stability and the spatial distribution of landslide risk. This study contributes to the advancement of a GIS-based climate slope risk mapping framework integrating slope stability theory and climate adaptation, and provides practical implications for spatial planning and risk mitigation strategies in civil engineering.
Pengembangan Model Drainase Adaptif Iklim untuk Analisis Risiko Kegagalan Sistem Drainase Perkotaan akibat Variabilitas Curah Hujan Berbasis SWMM Ikroman Alhamzani; Lalu Ibrohim Burhan
DINAMIKA: Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan Vol. 2 No. 2 (2026): Desain, Teknologi, dan Inovasi Infrastruktur Tangguh Bencana
Publisher : PT LIB Research Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63982/dinamika.b1dnwf48

Abstract

Perubahan iklim telah meningkatkan intensitas dan variabilitas curah hujan yang berdampak langsung terhadap kinerja sistem drainase perkotaan, sementara sebagian besar desain drainase masih berbasis asumsi hidrologi stasioner yang tidak lagi representatif. Kesenjangan ini menyebabkan keterbatasan dalam memahami hubungan kuantitatif antara peningkatan limpasan, kapasitas sistem, dan risiko banjir. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko kegagalan sistem drainase perkotaan akibat variabilitas iklim menggunakan pendekatan pemodelan hidrologi kuantitatif. Penelitian dilakukan pada sistem drainase perkotaan dengan lima subcatchment menggunakan data curah hujan historis dan skenario iklim, parameter tata guna lahan, serta karakteristik jaringan drainase. Analisis dilakukan menggunakan Storm Water Management Model (SWMM) yang dikalibrasi dengan data lapangan dan diuji sensitivitasnya terhadap perubahan parameter utama. Hasil menunjukkan bahwa debit limpasan meningkat sebesar 52%, dengan 38% segmen saluran mengalami kegagalan kapasitas dan luas genangan meningkat hingga 58%. Distribusi risiko banjir bergeser signifikan ke kategori tinggi dengan peningkatan hampir dua kali lipat. Temuan ini menegaskan bahwa sistem drainase eksisting tidak adaptif terhadap variabilitas iklim dan memerlukan pendekatan desain berbasis risiko. Secara ilmiah, penelitian ini memperkuat integrasi teori hidrologi perkotaan dan analisis risiko, serta secara praktis memberikan dasar untuk pengembangan sistem drainase adaptif yang lebih resilien terhadap perubahan iklim. Abstract Climate change has intensified rainfall variability and extremes, directly affecting the performance of urban drainage systems, while most existing designs still rely on stationary hydrological assumptions that are no longer representative. This gap limits the quantitative understanding of the interaction between runoff increase, system capacity, and flood risk. This study aimed to analyze the risk of urban drainage system failure due to climate variability using a quantitative hydrological modeling approach. The study was conducted on an urban drainage system consisting of five subcatchments, utilizing historical rainfall data, climate scenarios, land-use parameters, and drainage network characteristics. The analysis was performed using the Storm Water Management Model (SWMM), calibrated with field observations and tested through sensitivity analysis. The results showed that peak runoff increased by 52%, with 38% of drainage segments experiencing capacity failure and inundation area expanding by 58%. Flood risk distribution shifted significantly toward higher-risk categories, nearly doubling in extent. These findings indicate that existing drainage systems are not adaptive to climate variability and require a transition toward risk-based design approaches. The study contributes theoretically by strengthening the integration of urban hydrology and flood risk frameworks, and practically by providing a basis for developing climate-adaptive and resilient urban drainage systems.
Pengembangan Model Probabilistik Multi-Bencana untuk Mengatasi Keterbatasan Pendekatan Single-Hazard dalam Penilaian Risiko Jembatan Lalu Ibrohim Burhan
DINAMIKA: Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan Vol. 2 No. 2 (2026): Desain, Teknologi, dan Inovasi Infrastruktur Tangguh Bencana
Publisher : PT LIB Research Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63982/dinamika.w9678854

Abstract

Infrastruktur jembatan menghadapi eksposur yang semakin kompleks terhadap kombinasi bencana hidraulik, seismik, dan beban ekstrem, sementara sebagian besar kajian masih mengadopsi pendekatan single-hazard yang berpotensi meremehkan risiko aktual. Kesenjangan ini menjadi krusial khususnya di wilayah berkembang yang memiliki karakteristik multi-bencana namun keterbatasan model evaluasi berbasis probabilistik yang terintegrasi. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model probabilistik untuk menilai kerentanan jembatan terhadap kombinasi multi-bencana secara komprehensif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif berbasis Monte Carlo Simulation (10.000 iterasi) dan Reliability Analysis pada sampel jembatan representatif dengan variasi tipe struktur, kondisi fondasi, dan eksposur hazard, menggunakan data hidrologi, seismik, dan beban lalu lintas yang dimodelkan dalam distribusi probabilistik. Hasil menunjukkan bahwa probabilitas kegagalan meningkat dari rata-rata 0,21 menjadi 0,46 pada kondisi multi-hazard, dengan penurunan indeks keandalan dari 2,1 menjadi 1,3. Analisis sensitivitas mengidentifikasi scour depth dan peak ground acceleration sebagai faktor dominan dengan kontribusi gabungan sebesar 67%. Temuan ini menegaskan bahwa interaksi multi-hazard menghasilkan peningkatan risiko yang bersifat non-linear dan signifikan. Secara konseptual, penelitian ini memperluas teori Structural Reliability melalui integrasi Multi-Hazard Risk, serta secara praktis menyediakan dasar kuantitatif untuk evaluasi keamanan dan mitigasi risiko jembatan yang lebih adaptif dan realistis. Abstract Bridge infrastructure is increasingly exposed to complex combinations of hydraulic, seismic, and extreme loads, while most existing studies still rely on single-hazard approaches that may underestimate actual risk. This gap is particularly critical in developing regions where multi-hazard conditions prevail but integrated probabilistic assessment models remain limited. This study aims to develop a probabilistic model to assess bridge vulnerability under integrated multi-hazard conditions. A quantitative approach was employed using Monte Carlo Simulation (10,000 iterations) and Reliability Analysis on representative bridge samples with varying structural types, foundation conditions, and hazard exposure, utilizing probabilistically modeled hydraulic, seismic, and traffic load data. The results showed that the probability of failure increased from an average of 0.21 to 0.46 under multi-hazard conditions, accompanied by a reduction in reliability index from 2.1 to 1.3. Sensitivity analysis identified scour depth and peak ground acceleration as dominant factors, contributing 67% to the total variance. These findings indicate that multi-hazard interactions produce significant non-linear risk amplification. Conceptually, this study extends Structural Reliability theory by integrating Multi-Hazard Risk, while practically providing a quantitative basis for more adaptive and realistic bridge safety evaluation and risk mitigation strategies.
Integrated Risk Framework berbasis GIS–MCDA untuk Mengatasi Fragmentasi Risiko Iklim dan Bencana pada Infrastruktur Kritis Baiq Virgia Srihayati; Lalu Ibrohim Burhan
DINAMIKA: Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan Vol. 2 No. 2 (2026): Desain, Teknologi, dan Inovasi Infrastruktur Tangguh Bencana
Publisher : PT LIB Research Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63982/dinamika.hee41n91

Abstract

Perubahan iklim dan peningkatan frekuensi multi-bencana telah meningkatkan tekanan terhadap keberlanjutan infrastruktur kritis dan kontinuitas layanan publik di berbagai wilayah. Meskipun berbagai penelitian telah mengembangkan analisis risiko berbasis GIS dan multi-hazard, pendekatan yang digunakan masih cenderung sektoral dan terpisah sehingga belum mampu menangkap interaksi lintas risiko, keterkaitan antar infrastruktur, dan efek sistemik secara komprehensif. Penelitian ini bertujuan menyusun Integrated Climate and Disaster Risk Framework berbasis Resilience Theory dan Integrated Risk Theory untuk meningkatkan efektivitas perencanaan ketahanan infrastruktur kritis terhadap ancaman iklim dan bencana. Penelitian menggunakan pendekatan mix methods sequential explanatory melalui integrasi GIS, Multi-Criteria Decision Analysis (MCDA), dan SEM-PLS pada lima sektor infrastruktur kritis, yaitu air bersih, transportasi, energi, kesehatan, dan telekomunikasi. Data penelitian diperoleh dari BMKG, BNPB, InaRISK, survei lapangan, observasi teknis, serta expert judgment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sektor air bersih memiliki skor risiko tertinggi sebesar 0,81, sedangkan sektor telekomunikasi menunjukkan skor risiko terendah sebesar 0,51. Uji ANOVA menunjukkan perbedaan signifikan tingkat kerentanan antar sektor (F = 8,73; p < 0,01), sementara simulasi mitigasi terintegrasi menghasilkan penurunan kerugian infrastruktur sebesar 34% dibandingkan pendekatan parsial. Penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan risiko terpadu mampu meningkatkan akurasi identifikasi hotspot risiko, prioritas mitigasi, dan ketahanan infrastruktur lintas sektor. Temuan ini memperkuat pengembangan teori ketahanan sistemik sekaligus menyediakan kerangka praktis bagi perencanaan infrastruktur tahan iklim dan multi-bencana dalam bidang teknik sipil.. Abstract Climate change and the increasing frequency of multi-hazard events have intensified pressures on the sustainability of critical infrastructure and the continuity of public services across regions. Although previous studies have developed GIS-based and multi-hazard risk assessments, existing approaches remain largely sectoral and fragmented, limiting their ability to capture cross-risk interactions, infrastructure interdependencies, and systemic effects comprehensively. This study aimed to develop an Integrated Climate and Disaster Risk Framework based on Resilience Theory and Integrated Risk Theory to improve the effectiveness of critical infrastructure resilience planning against climate and disaster threats. The study employed a sequential explanatory mixed-methods approach integrating GIS, Multi-Criteria Decision Analysis (MCDA), and SEM-PLS across five critical infrastructure sectors, including water supply, transportation, energy, healthcare, and telecommunications. Data were collected from BMKG, BNPB, InaRISK, field surveys, technical observations, and expert judgment. The results revealed that the water supply sector exhibited the highest composite risk score (0.81), whereas the telecommunications sector showed the lowest score (0.51). ANOVA testing indicated significant differences in vulnerability levels among infrastructure sectors (F = 8.73; p < 0.01), while integrated mitigation simulations reduced infrastructure losses by 34% compared with partial approaches. The findings demonstrate that integrated risk assessment improves hotspot identification accuracy, mitigation prioritization, and cross-sector infrastructure resilience. This study contributes to the advancement of systemic resilience theory and provides a practical framework for climate-resilient and multi-hazard infrastructure planning in civil engineering.

Page 2 of 2 | Total Record : 20