Medical Journal of Soeradji
Medical Journal of Soeradji (MJS) merupakan jurnal ilmiah peer-reviewed dengan akses terbuka (open access) yang diterbitkan oleh RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. Jurnal ini mempublikasikan artikel hasil penelitian asli (original research article) dan laporan kasus (case report) yang relevan di bidang kedokteran dan kesehatan. Fokus utama jurnal ini adalah menyebarluaskan ilmu pengetahuan berbasis bukti (evidence-based medicine) untuk mendukung peningkatan mutu pelayanan medis dan keselamatan pasien. Bidang dan Tema Publikasi Medical Journal of Soeradji menerima naskah dari berbagai disiplin ilmu kesehatan dengan pembagian tema sebagai berikut: 1. Ilmu Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Dasar Bidang ini mencakup penelitian dan laporan kasus yang berkaitan dengan: * Biokimia, biologi molekuler, dan genetika kesehatan * Anatomi, fisiologi, farmakologi, dan patologi * Mikrobiologi, parasitologi, imunologi, dan bioteknologi medis * Penelitian dasar yang mendukung pengembangan diagnostik, terapi, atau teknologi kesehatan 2. Ilmu Klinik dan Praktik Pelayanan Kesehatan Bidang ini mencakup penelitian dan laporan kasus di berbagai bidang layanan medis dan keperawatan, antara lain: * Penyakit dalam, Bedah, Anak, Kebidanan dan kandungan, Saraf, THT, Mata, Kulit dan kelamin, Jiwa, Radiologi dan Forensik. * Keperawatan medikal-bedah, maternitas, anak, gawat darurat, dan komunitas * Farmasi klinik, fisioterapi, dan pelayanan gizi klinik * Diagnosis, terapi, manajemen kasus klinis, serta evaluasi efektivitas dan keamanan terapi berbasis bukti 3. Pendidikan dan Pengembangan Profesi Kesehatan Bidang ini berfokus pada inovasi dan pengembangan sistem pendidikan tenaga kesehatan, meliputi: * Kurikulum dan metode pembelajaran di pendidikan kedokteran dan tenaga kesehatan * Evaluasi kompetensi, asesmen klinis, dan pengembangan profesional berkelanjutan * Pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran dan pelatihan klinis * Etika, profesionalisme, dan peningkatan mutu pendidikan di bidang kesehatan 4. Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Komunitas Bidang ini menyoroti aspek promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif dalam pelayanan kesehatan masyarakat, antara lain: * Epidemiologi penyakit menular dan tidak menular * Manajemen dan kebijakan sistem kesehatan * Keselamatan pasien, mutu layanan, dan surveilans penyakit * Kesehatan lingkungan, gizi masyarakat, serta perilaku dan promosi kesehatan 5. Riset dan Inovasi Pelayanan Kesehatan Bidang ini mencakup pengembangan dan penerapan inovasi di berbagai aspek sistem pelayanan kesehatan, seperti: * Inovasi teknologi medis, digitalisasi layanan, telemedicine, dan rekam medis elektronik * Optimalisasi prosedur diagnostik, tata laksana, atau sistem rujukan * Peningkatan mutu pelayanan, keselamatan pasien, dan manajemen fasilitas kesehatan * Pengembangan model pelayanan interprofesional lintas profesi kesehatan
Articles
30 Documents
Profil Ibu Bersalin Terkonfirmasi COVID-19 di RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten
Herianto, Agus;
Widhiawati, Singgih;
Haruti, Fadjrina Dwi
MJS Medical Journal of Soeradji Vol 2 No 1 (2025): MJS (Juli)
Publisher : RSUP dr.Soeradji Tirtonegoro Klaten
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.70605/vjty4e31
LATAR BELAKANG: COVID-19 yang disebabkan oleh SARS-Cov-2 menyerang semua rentang usia manusia termasuk kelompok rentan. Salah satu kelompok rentan tersebut adalah ibu hamil. Ibu melahirkan dengan status terkonfirmasi COVID-19 perlu diketahui datanya agar pemangku kepentingan kesehatan dapat meningkatkan kesiapsiagaan TUJUAN: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil ibu bersalin dengan terkonfirmasi COVID-19 di RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro. METODE: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif retrospektif dengan sampel rekam medis ibu hamil yang terkonfirmasi COVID-19 dan bayinya dari Januari 2020 hingga Desember 2022. Pengambilan sampel menggunakan total sampling. Analisis data univariat dengan persentase dan analisis bivariat dengan Fisher exact.. HASIL: 110 ibu hamil yang terkonfirmasi dengan COVID-19 dengan 3 (2,7%) kematian dan 110 bayi yang lahir dengan 4 bayi (3,6%) terkonfirmasi COVID-19. Usia ibu hamil, <20 tahun = 8 (7,3%), 20-35 tahun = 86 (78,2%), >35 tahun = 16 (15,5%). Usia kehamilan, ≤,37 minggu = 32 (29,1%), 37-40 minggu = 75 (68,2%), ≥ 40 minggu = 3 (2,7%). Paritas ibu P0 = 45 (40,9%), P1 = 41 (37,3%, P2 = 17 (15,5%), P3 = 6 (5,5%), dan P4 = 1 (0,9). Jenis persalinan, spontan = 43 (39,1%), ekstraksi vakum = 4 (3,6%), SC = 63 (57,3%). Tingkat keparahan COVID-19 ibu, asimtomatik = 65 (59,1%), gejala ringan = 42 (28,2%), gejala sedang = 3 (2,7%). Tidak ada hubungan antara tingkat keparahan ibu dan status terkonfirmasi COVID-19 bayi dengan p = 0,542. KESIMPULAN: Ibu yang melahirkan dengan terkonfirmasi COVID-19 di RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten didominasi oleh usia ibu 20-35 tahun, usia kehamilan 37-40 minggu, paritas 0, jenis persalinan dengan SC, dan tingkat keparahan COVID-19 ibu adalah asimtomatik. Tidak ada hubungan antara tingkat keparahan ibu dan status terkonfirmasi COVID-19 bayi. Kata Kunci : Ibu hamil, COVID-19, ibu bersalin, bayi
Pengaruh Pemakaian Perban Kompresi Elastis terhadap Lingkar Kaki pada Edema Tungkai Pasien Kondisi Kritis
Hartono, Susilo;
Hidayati, Tri Nur;
Herianto, Agus;
Ar Rosyid, Fadhillah Padang;
Setyawan, Pandu
MJS Medical Journal of Soeradji Vol 2 No 1 (2025): MJS (Juli)
Publisher : RSUP dr.Soeradji Tirtonegoro Klaten
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.70605/wbgwea66
LATAR BELAKANG: Edema tungkai merupakan masalah yang sering terjadi pada pasien kritis. Kondisi ini menyebabkan keterbatasan rentang gerak dan atrofi tungkai, yang kemungkinan dapat memperlambat pemulihan serta meningkatkan biaya dan lama perawatan di rumah sakit. Penanganan edema tungkai masih didominansi oleh pendekatan farmakologis dengan terapi diuretik, sementara metode non-farmakologis seperti perban kompresi elastis belum banyak diterapkan TUJUAN: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan perban kompresi elastis terhadap lingkar kaki pada edema tungkai pasien kritis. METODE: Penelitian ini menggunakan desain quasi-experimental dengan rancangan pretest dan posttest nonequivalent control group design. Sebanyak 21 subjek penelitian direkrut sebagai kelompok intervensi dan kontrol tanpa randomisasi. Prosedur standar manajemen edema yaitu elevasi tungkai setinggi 30º dari pangkal paha dilakukan pada kedua kaki. Selanjutnya, perban kompresi elastis merk Tensocrepe 4 inchi BSN FL 72017 (lebar 10 cm dan panjang 4,5 m) dipasang pada salah satu sisi tungkai, sementara sisi lainnya tidak dilakukan pemasangan. Pemasangan perban kompresi elastis dilakukan selama 8 jam. Perubahan lingkar edema tungkai pada awal dan akhir dilakukan perbandingan antara kedua kelompok. HASIL: Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan edema sebelum dan sesudah intervensi perban elastis. Rerata edema pertengahan betis pretest adalah 31,23±3,81 dan posttest 28,86±3,93; rerata edema pergelangan kaki pretest adalah 22,74±1,86 dan posttest 21,15±1,69. Hasil penelitian ditemukan bahwa terdapat perbedaan signifikan dalam perubahan lingkar kaki pada edema tungkai antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol (nilai p < 0,001). KESIMPULAN: Penggunaan perban kompresi elastis berpengaruh terhadap penurunan lingkar kaki pada edema tungkai pasien kritis. Pendekatan manajemen edema dengan teknik perban kompresi elastis dapat dipertimbangkan karena efektif dan mudah diterapkan. Kata Kunci : perawatan kritis, perban kompresi elastis, lingkar kaki edema, edema tungkai
Analisis Profil Pasien Gangguan Mental Organik di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Jawa Tengah Dr. RM. Soedjarwadi Klaten
Yosanto, Alfian Novanda;
Kusumawati, Eni
MJS Medical Journal of Soeradji Vol 3 No 1 (2026): MJS (Juli 2026)
Publisher : RSUP dr.Soeradji Tirtonegoro Klaten
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.70605/zzxsda38
LATAR BELAKANG: Gangguan mental organik merupakan gangguan psikiatri yang disebabkan karena kerusakan atau disfungsi fisik pada otak. Gangguan mental organik memiliki spektrum manifestasi psikopatologis yang luas dan menyerupai kondisi psikopatologis penyakit fisik lainnya sehingga sulit untuk dilakukan diagnosis secara dini. TUJUAN: Memberikan memberikan informasi terkait profil pasien gangguan mental organik di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Jawa Tengah Dr. RM. Soedjarwadi Klaten. METODE: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif observasional dengan desain penelitian cross-sectional. Dalam desain tersebut, data diambil berdasarkan rekam medis pasien dengan diagnosis gangguan mental organik. HASIL: Dari 27 pasien gangguan mental organik usia produktif yang diteliti, mayoritas berjenis kelamin laki-laki (67%) dengan rerata usia 27,5±10,41 tahun. Hasil dari pemeriksaan CT-scan kepala paling sering adalah developmental delay (33%) dan atrofi cerebri (26%). Rerata waktu admisi hingga diagnosis adalah 209 hari. Nilai rerata NLR sebesar 4,46±4,04 menunjukkan kemungkinan proses inflamasi sistemik. Terapi yang paling banyak digunakan adalah haloperidol dan aripiprazol (antipsikotik), lorazepam (ansiolitik), serta asam valproat (antikonvulsan). KESIMPULAN: Gangguan mental organik pada usia produktif menunjukkan temuan radiologis dan peningkatan NLR yang mengarah pada keterlibatan proses organik dan inflamasi. Lamanya waktu hingga diagnosis, menekankan pentingnya evaluasi neurobiologis dan biomarker inflamasi untuk deteksi dan penatalaksanaan yang lebih dini. Kata Kunci Gangguan mental organik, neutrophil-lymphocyte ratio (NLR), CT-scan otak, usia produktif
Gambaran Demografi Pada Pasien PGK Yang Menjalani Hemodialisis di RSUP dr.Soeradji Tirtonegoro Klaten
Dian Putri, Alamanda Callistamurti;
Daryani, Daryani;
Hamranani, Sri Sat Titi;
Pramono, Cahyo
MJS Medical Journal of Soeradji Vol 3 No 1 (2026): MJS (Juli 2026)
Publisher : RSUP dr.Soeradji Tirtonegoro Klaten
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.70605/s1jfdc10
LATAR BELAKANG: Penyakit Ginjal Kronis (PGK) merupakan masalah yang umum terjadi di Indonesia. Pasien yang menjalani hemodialisis berkontribusi signifikan terhadap data kesehatan dengan membagikan karakteristik pribadi yang membantu dalam mengidentifikasi kelompok demografis mana yang lebih rentan mengalami penurunan fungsi ginjal. TUJUAN: Penelitian ini dilakukan untuk menyajikan karakteristik demografis pasien PGK yang menjalani hemodialisis di Rumah Sakit Soeradji Tirtonegoro Klaten. METODE: Studi ini menggunakan metode penelitian kuantitatif deskriptif dengan metode survei. Data diperoleh dari 217 pasien di fasilitas tersebut dan dianalisis menggunakan analisis univariat untuk tinjauan data. HASIL: Hasil menunjukkan bahwa usia pasien bervariasi dari 16 hingga 84 tahun, dengan rata-rata usia 53,12 tahun. Rata-rata lama hemodialisis pasien adalah 3,84 tahun. Sebagian besar pasien adalah laki-laki, sebanyak 55%. Sebagian besar pasien telah menikah, mencapai 88%. Tingkat pendidikan tertinggi di antara pasien adalah sekolah menengah atas, dengan 55% mencapainya. Semua pasien memiliki asuransi kesehatan, mencapai 100%. Jenis pekerjaan yang dominan adalah pekerjaan buruh atau sektor swasta, yang mencakup 61%. Hipertensi merupakan masalah kesehatan yang paling sering ditemukan, mempengaruhi 55%. KESIMPULAN: Artikel ilmiah ini bertujuan untuk menjadi data dasar untuk penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh faktor demografis terhadap perkembangan dan pengelolaan PGK serta hemodialisis. Kata Kunci: Penyakit ginjal kronis, Hemodialisis, Karakteristik demografis
Pengaruh Skrining Kanker Paru Menggunakan Low Dose CT-Scan Terhadap Keinginan Berhenti Merokok Pada Perokok Aktif
Nugroho, Bramadi;
Utami, Anantia Sari;
Ratnaningsih, Dita Karini;
Sunoto, Joko;
Abdurakhman, Listy
MJS Medical Journal of Soeradji Vol 3 No 1 (2026): MJS (Juli 2026)
Publisher : RSUP dr.Soeradji Tirtonegoro Klaten
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.70605/8htyfj31
LATAR BELAKANG : Merokok merupakan faktor risiko utama berbagai penyakit kronis, termasuk kanker paru. Low Dose CT-scan (LDCT) merupakan metode skrining yang efektif untuk deteksi dini kanker paru dan dapat menjadi momen edukatif (teachable moment) yang mendorong perokok untuk berhenti merokok. TUJUAN : Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh skrining kanker paru menggunakan LDCT terhadap keinginan berhenti merokok pada perokok aktif. METODE : Penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimental dengan rancangan pre-test dan post-test kelompok kontrol. Sebanyak 38 perokok aktif dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok intervensi (intervensi perilaku + skrining LDCT) dan kelompok kontrol (intervensi perilaku saja). Keinginan berhenti merokok diukur menggunakan kuesioner sebelum dan sesudah intervensi. HASIL : Skor keinginan berhenti merokok secara signifikan lebih tinggi pada kelompok LDCT dibandingkan kelompok kontrol (6,8 vs. 5,9; p = 0,016). KESIMPULAN : Skrining kanker paru menggunakan LDCT meningkatkan keinginan berhenti merokok pada perokok aktif. Intervensi ini dapat diintegrasikan ke dalam layanan berhenti merokok untuk memperkuat motivasi pasien. Kata Kunci : low-dose CT-scan, kanker paru, berhenti merokok, skrining, perokok aktif.
Implementasi Rekam Medis Elektronik dan Pengkodean ICD-10 di Puskesmas Tingkat Pertama
Eka Saputri, Yunitya;
Helnindys Guswin, Instreet;
Anggie Isnaini, Sintiya;
Anggraini, Novia Safitri;
Widiyanto, Wahyu Wijaya
MJS Medical Journal of Soeradji Vol 3 No 1 (2026): MJS (Juli 2026)
Publisher : RSUP dr.Soeradji Tirtonegoro Klaten
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.70605/5mm8s256
LATAR BELAKANG: Penerapan Rekam Medis Elektronik (RME) di puskesmas semakin luas untuk mendukung pencatatan dan pelaporan data kesehatan. Namun, pada layanan primer masih dijumpai permasalahan, terutama terkait ketepatan pengkodean diagnosis ICD-10, keterbatasan validasi kode oleh petugas rekam medis, serta kendala integrasi dan keandalan sistem. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi mutu data dan ketepatan pelaporan kesehatan.. TUJUAN: Mengevaluasi implementasi RME dan pengkodean ICD-10 di puskesmas tingkat pertama. METODE: Penelitian deskriptif observasional ini dilakukan selama praktik kerja lapangan (PKL) di UPT Puskesmas Colomadu I, Karanganyar, tahun 2025. Evaluasi melibatkan enam petugas kesehatan yang terdiri atas dua petugas rekam medis, tiga tenaga medis, dan satu staf administrasi, yang dipilih secara purposive berdasarkan keterlibatan langsung dalam pengelolaan rekam medis dan sistem informasi kesehatan. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dan telaah dokumen, kemudian dianalisis secara kualitatif dengan merujuk pada pedoman dan literatur. Penelitian dilaksanakan dengan izin institusi dan memperhatikan prinsip etika penelitian. HASIL: Puskesmas telah beralih sepenuhnya ke RME sejak Mei 2024 melalui aplikasi SIMPUS JOJOK dan menerapkan sistem penomoran unit. Pengkodean ICD-10 digunakan secara konsisten, namun pengkodean prosedur ICD-9-CM dan validasi kode oleh petugas rekam medis belum berjalan optimal. Kendala lain meliputi keandalan sistem, stabilitas jaringan internet, dan keterbatasan sumber daya. KESIMPULAN: Implementasi RME meningkatkan efisiensi dan keteraturan pelaporan, tetapi masih memerlukan penguatan validasi pengkodean, integrasi sistem, dan dukungan infrastruktur untuk keberlanjutan manajemen informasi kesehatan. Kata Kunci Rekam Medis Elektronik, ICD-10, Puskesmas, Manajemen Informasi Kesehatan
Penanganan Syok Hemoragik pada Kasus Trauma dengan Fraktur Terbuka Pelvis : Studi Kasus
Pratama, Dicky Bagus;
Ramadan, Mohamad Alif;
Pulungan, Ndilalah;
Rahmah, Zulfania
MJS Medical Journal of Soeradji Vol 3 No 1 (2026): MJS (Juli 2026)
Publisher : RSUP dr.Soeradji Tirtonegoro Klaten
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.70605/xdj9t742
Latar Belakang : Trauma menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi, akibat adanya perdarahan. Kasus trauma pelvis, sering terjadi kasus syok hemoragik akibat adanya ruptur vena sehingga mengganggu hemodinamik pasien. Tujuan artikel ini untuk melaporkan penanganan stabilisasi syok hemoragik pada pasien fraktur pelvis terbuka disertai dengan fraktur multipel dan trauma kepala akibat kecelakaan Deskripsi Kasus : Pasien laki-laki usia 21 tahun post kecelakaan dengan GCS E3V4M4, frekuensi nafas 30 kali/menit, SpO2 98%, tekanan darah 97/61 mmHg, nadi 120 kali/menit cepat dan lemah, akral dingin, dan CRT >2 detik. Tampak luka terbuka luas pada paha hingga kepala femur terlihat, dengan deformitas femur dan cruris. Hasil USG FAST tampak vena cava inferior kolaps dan tampak fraktur multipel pada pemeriksan rontgen pelvis, femur, dan cruris. Terapi resusitasi yakni oksigenasi non-rebreathing mask 10 liter/ menit, infus 1500 mL NaCl 0,9% dan 500 mL Volulyte, transfusi PRC 2 kolf, vasopressor norepinefrin dan dobutamin. Setelah dilakukan resusitasi, tekanan darah menjadi 129/53 mmHg, frekuensi nadi tetap 120 kali per menit, frekuensi napas 28 kali per menit, suhu tubuh 36,7°C, dan saturasi oksigen 98%. Kesimpulan : Penanganan syok hemoragik akibat trauma butuh resusitasi awal yang cepat dan tepat, menilai tanda vital dan klinis menentukan penanganan syok hemoragik. Kata Kunci : Syok hemoragik, resusitasi cairan, fraktur pelvis, trauma
Penerapan Posisi Ortopnea Untuk Mengurangi Sesak Napas Pada Pasien Tuberkulosis Paru (TBC) : Studi Kasus
Nafisah, Siti;
Sunarto;
TH Suprapti
MJS Medical Journal of Soeradji Vol 3 No 1 (2026): MJS (Juli 2026)
Publisher : RSUP dr.Soeradji Tirtonegoro Klaten
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.70605/bz9jkd66
Latar Belakang : Tuberkulosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberkulosis yang biasanya menyerang pada bagian saluran pernapasan. Bakteri ini menyebabkan penderita mngalami sesak napas akibat adanya peradangan pada saluran bronkus sehingga menghambat pada proses pertukaran oksigen dan karbon dioksida. Tatalaksana yang dapat diberikan pada pasien yang mengalami sesak napas berupa tindakan farmakologis dan nonfarmakologis. Intervensi nonfarmakologis bisa berupa pengaturan posisi orthopnea. Posisi orthopnea merupakan posisi yang dilakukan dengan cara duduk diatas tempat tidur dengan badan sedikit menelungkup diatas meja atau bantal dengan waktu 5 menit, apabila pasien mampu bisa dilakukan selama 15 menit hingga 30 menit Deskripsi Kasus : Studi kasus ini mengambil 2 pasien laki-laki yaitu Tn. Y dan Tn. A. Pada saat dilakukan pengkajian, Tn. Y mengeluh sesak napas, badan lemas, TD 77/54 mmHg, Nadi 74 x/mnt, Suhu 38,6℃, RR 42x/mnt, SpO2 95% dengan hasil laboratorium tes cepat molekuler paru positif dengan bakteri terdeteksi medium, terdapat suara napas ronkhi, konjungtiva anemis, sklera ikterik, dan terdapat penurunan berat badan 54Kg menjadi 42Kg selama 2 minggu. Sedangkan Tn. A mengeluh sesak napas, badan lemas, pusing, TD 134/87 mmHg, Nadi 102x/mnt, RR 35x/mnt, SpO2 95% dan Suhu 36,6℃ dengan hasil tes cepat molekuler paru positif dengan bakteri tidak terdeteksi, suara napas wheezing, serta BB 65Kg Kesimpulan : Pemberian posisi ortopnea selama 3 hari secara kontinu dapat membantu menurunkan sesak napas pada penderita tuberkulosis. Kata Kunci : posisi ortopnea, sesak napas, tuberkulosis
Hubungan Antara Tekanan Darah Dengan Kejadian PONV Pada Pasien Pasca Spinal Anestesi
Nabila;
Indraswati, Ita;
Enikmawati, Anik;
Wardhani, Ika Kusuma
MJS Medical Journal of Soeradji Vol 3 No 1 (2026): MJS (Juli 2026)
Publisher : RSUP dr.Soeradji Tirtonegoro Klaten
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.70605/edn6wc05
LATAR BELAKANG: Postoperative Nausea and Vomiting (PONV) merupakan salah satu komplikasi yang paling sering terjadi setelah spinal anestesi dan dapat berdampak negatif terhadap proses pemulihan pascaoperasi. Perubahan hemodinamik, khususnya perubahan tekanan darah akibat blokade simpatis selama spinal anestesi, diketahui menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya PONV. Namun, bukti mengenai hubungan tekanan darah dengan kejadian PONV pada berbagai populasi pasien bedah masih terbatas. TUJUAN: Mengetahui hubungan antara tekanan darah dengan kejadian Postoperative Nausea and Vomiting (PONV) pada pasien pasca spinal anestesi. METODE: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilaksanakan di Instalasi Bedah Sentral RSUD Kardinah Kota Tegal pada Februari–April 2026. Sebanyak 45 pasien operasi elektif yang menjalani spinal anestesi dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Tekanan darah diukur lima menit setelah pemberian spinal anestesi, sedangkan kejadian PONV dinilai di ruang pemulihan menggunakan skor Gordon. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman Rho dengan tingkat signifikansi 0,05. HASIL: Dari 45 responden, sebanyak 25 pasien (55,6%) mengalami hipotensi, 15 pasien (33,3%) mengalami hipertensi, dan 5 pasien (11,1%) memiliki tekanan darah normal setelah spinal anestesi. Kejadian PONV ditemukan pada 32 pasien (71,1%). Hasil analisis Spearman Rho menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tekanan darah dengan kejadian PONV (r = 0,637; p = 0,000). Pasien yang mengalami hipotensi memiliki proporsi kejadian PONV tertinggi, yaitu sebesar 96%. KESIMPULAN: Terdapat hubungan yang signifikan antara tekanan darah dengan kejadian PONV pada pasien pasca spinal anestesi. Identifikasi dini dan penatalaksanaan perubahan tekanan darah secara tepat berpotensi menurunkan angka kejadian PONV serta meningkatkan kualitas pemulihan pascaoperasi. Kata Kunci: Tekanan Darah, Mual dan Muntah Pascaoperasi, PONV, Spinal Anestesi, Perubahan Hemodinamik
Efek Terapi ESA terhadap Koreksi Anemia Pasien PGK Hemodialisis di RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro
Irijanto, Fredie;
Hidayat, Taufik;
Puspita, Ardhani Indra;
Prasetyo, Haris Joko;
Septiani, Ika
MJS Medical Journal of Soeradji Vol 3 No 1 (2026): MJS (Juli 2026)
Publisher : RSUP dr.Soeradji Tirtonegoro Klaten
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.70605/b27pcg10
LATAR BELAKANG: Penyakit Ginjal Kronik (PGK) merupakan ancaman kesehatan serius dengan prevalensi yang terus meningkat di Indonesia, di mana terdapat 638.178 pasien terdiagnosis pada 2023. Komplikasi klinis tersering pada PGK stadium lanjut adalah anemia renal yang berdampak buruk pada penurunan kualitas hidup serta menjadi prediktor kuat peningkatan mortalitas kardiovaskular. Terapi Erythropoiesis-Stimulating Agents (ESA) merupakan tata laksana utama tetapi efektivitasnya di dunia nyata sering kali dipengaruhi oleh variasi kondisi pasien, sehingga audit klinis berkala sangat diperlukan. TUJUAN: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efek pemberian terapi koreksi ESA terhadap peningkatan kadar hemoglobin (Hb) pada pasien PGK stadium 5 yang menjalani hemodialisis reguler di RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro. METODE: Studi observasional analitik dengan desain kohort retrospektif ini dilakukan pada periode September–Desember 2022. Dari populasi awal sebanyak 192 pasien hemodialisis rutin, dilakukan penapisan menggunakan teknik consecutive sampling. Sebanyak 35 subjek terpilih setelah memenuhi kriteria inklusi, termasuk syarat wajib status kecukupan besi yang adekuat (saturasi transferin ≥20% dan feritin serum >200 ng/mL). Data rekam medis dianalisis menggunakan uji beda Paired T-test. HASIL: Hasil analisis menunjukkan adanya peningkatan kadar Hb yang bermakna secara statistik paska-pemberian terapi ESA (p = 0,036). Rerata kadar Hb awal pasien sebelum terapi adalah 8,70 ± 1,38 g/dL, dan meningkat menjadi 9,14 ± 1,04 g/dL di akhir periode observasi, dengan peningkatan absolut sebesar 0,44 g/dL. KESIMPULAN: Terapi koreksi ESA terbukti meningkatkan kadar hemoglobin pasien PGK yang menjalani hemodialisis. Meskipun peningkatannya masih dalam rentang anemia, luaran ini mencerminkan keberhasilan tata laksana yang aman dan selaras dengan pedoman KDIGO 2026 untuk menghindari target normalisasi Hb secara agresif demi mencegah komplikasi kardiovaskular. Kata Kunci: Penyakit ginjal kronis stadium 5, anemia, Erythropoiesis Stimulating Agents (ESA), hemoglobin, hemodialisis