cover
Contact Name
Yudha Adi Pradana
Contact Email
moj@ub.ac.id
Phone
+6281285130860
Journal Mail Official
moj@ub.ac.id
Editorial Address
Jl. JA Suprapto No. 2 Malang, Indonesia
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 31094147     EISSN : 31094139     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
MOJ (Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal) is a peer-reviewed and open access journal that provides timely information for physicians and scientists concerned with diseases of the head and neck. This journal publishes original articles, reviews, and also interesting case reports. We place a high priority on strong study designs that accurately identify etiologies, evaluate diagnostic strategies, and distinguish among treatment options and outcomes. Letters and commentaries of our published articles are welcome. Subjects suitable for publication include: Otology Rhinology Allergy and immunology Laryngology Bronchoesophagology Speech science Swallowing disorder Facial plastic surgery Head and neck surgery Sleep medicine Pediatric otolaryngology Geriatric otolaryngology Oncology Neurotology Audiology Auditory and vestibular neuroscience Salivary Gland Skull base surgery Community Ear, Nose and Throat Craniofacial pathology
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 2 No. 2 (2023): September 2023" : 5 Documents clear
Rinosinusitis Akut dengan Komplikasi Selulitis Orbita Sitompul, Bobby Pardomuan; Suheryanto, Rus
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 2 No. 2 (2023): September 2023
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Rinosinusitis merupakan inflamasi di mukosa hidung dan sinus paranasal dengan angka komplikasi yang rendah yakni 3,7-20%. Komplikasi dapat terjadi pada orbita, intrakranial dan tulang. Komplikasi yang paling banyak terjadi adalah komplikasi orbita. Pengenalan diagnosis dini dan terapi yang adekuat menjadi sangat penting karena apabila tidak adekuat akan menimbulkan kebutaan permanen bahkan kematian. Tujuan: Melaporkan sebuah kasus rinosinusitis akut dengan komplikasi selulitis orbita. Laporan kasus: Laki-laki usia 57 tahun dengan keluhan utama bengkak pada pipi dan mata kanan. Berdasarkan anamnesis, presentasi klinis dan pemeriksaan High Resolution Computed Tomography (HRCT) Scan Pre Functional endoscopic sinus surgery (FESS) pasien didiagnosis rhinosinusitis akut dekstra dengan komplikasi selulitis orbita dekstra, diabetes mellitus tipe II, leukositosis, septum deviasi sinistra dan CAD stabil. Pasien menjalani operasi FESS, dilakukan konsultasi ke bagian mata dan menunjukkan hasil pasca operasi yang baik. Kesimpulan: Tatalaksana utama pada rinosinusitis akut dengan komplikasi selulitis orbita adalah melakukan eradikasi infeksi secara komplit dan tatalaksana komprehensif dengan bagian mata dan bagian lain terkait. Pada kasus ini telah dilaporkan kasus laki-laki usia 57 tahun dengan rinosinusitis akut dengan komplikasi selulitis orbita yang ditangani dengan Tindakan FESS.
Korelasi Hasil Tes Alergi terhadap Rinosinusitis Kronik dengan Polip Nasi Marulitua, Christian Hendrik; Maharani, Iriana
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 2 No. 2 (2023): September 2023
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Rinosinusitis kronis (RSK) merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan adanya inflamasi pada mukosa hidung dan sinus paranasal dan dikategorikan menjadi RSK dengan Nasal Polip dan RSK tanpa Nasal Polip. Hubungan antara atopi dan RSK telah cukup banyak diteliti, namun peran alergi dalam RSK dengan dan tanpa polip masih kontroversial. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui korelasi antara hasil tes alergi pada terjadinya rinosinusitis kronis dengan nasal polip. Metode: Penelitian cross sectional, melibatkan 22 subjek penelitian yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu 10 subjek RSK dengan polip dan 12 subjek RSK tanpa polip, dengan menggunakan Skin Prick Test (SPT) sebagai tes alergi. Hasil: Dari 22 pasien, sembilan pasien (41%) memiliki hasil tes alergi positif dan 13 pasien (59%) tes alergi negatif. Dari 10 pasien RSK dengan polip, 7 pasien (70%) memiliki tes alergi positif, dan 3 pasien (30%) tes alergi negatif. Dari 12 pasien RSK tanpa polip, enam pasien (50%) memiliki tes alergi positif dan enam lainnya (50%) negatif. Pada penelitian ini, berdasarkan uji Fisher’s Exact Test tidak didapatkan perbedaan bermakna antara proporsi hasil tes alergi positif terhadap pasien RSK dengan polip dan proporsi hasil tes alergi positif terhadap pasien RSK tanpa polip (nilai p=0.415). Hasil ini menunjukkan tes alergi positif tidak berkorelasi dengan terjadinya RSK dengan polip. Kesimpulan: Tidak didapatkan korelasi antara hasil tes alergi positif terhadap pasien RSK dengan polip. 
Pendekatan Intraoral Pada Insisi Drainase Abses Buccal Salim, Fransiska Anggriani; Murdiyo, Mohammad Dwijo
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 2 No. 2 (2023): September 2023
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Abses leher dalam merupakan infeksi bakteri pada rongga-rongga potensial disepanjang leher yang dapat mengancam nyawa. Angka kejadian abses leher dalam diperkirakan mencapai 9-15 per 100.000 kejadian, dimana infeksi odontogenik menjadi penyebab terseringTujuan: Melaporkan sebuah kasus abses buccal. Laporan kasus: laki laki berusia 68 tahun datang dengan keluhan bengkak pada pipi kanan. Berdasarkan anamnesis, presentasi klinis, radiologi pasien didiagnosis Abses buccal. Pasien menjalani operasi insisi dan drainase abses secara GA. Kesimpulan: Ruang daerah kepala leher merupakan ruang potensial yang berada di beberapa fascia yang normalnya berisi jaringan ikat longgar. Prinsip tatalaksana abses kepala leher meliputi: medikamentosa, pembedahan, terapi sumber masalah gigi, maupun kombinasi dari ketiganya
Prediktor Migrasi Benda Asing Bronkus di RSUD dr Saiful Anwar Periode Januari 2014 - Desember 2020 Soerodjo, Victor Kristanto; Surjotomo, Hendradi
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 2 No. 2 (2023): September 2023
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Aspirasi benda asing ialah masuknya benda yang berasal dari luar atau dalam tubuh, ke saluran trakeobronkial. Aspirasi benda asing saluran trakeobronkial merupakan keadaan darurat yang memerlukan tindakan bronkoskopi segera untuk mencegah komplikasi yang lebih serius. Tujuan: Mengidentifkasi karakteristik migrasi benda asing pada  pasien aspirasi benda asing saluran trakeobronkial di bagian Telinga Hidung Tenggorok – Bedah Kepala Leher (T.H.T.K.L) Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya/ Rumah Sakit Umum Daerah dr. Saiful Anwar Malang. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional dengan menggunakan odds ratio. Sampel penelitian ini diambil dari data rekam medis pasien aspirasi benda asing pada saluran trakeobronkial di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Saiful Anwar Malang periode Januari 2014 - Desember 2020. Hasil: Didapatkan 50 pasien dengan riwayat teraspirasi benda asing di saluran trakeobronkial. Dijumpai 16 orang laki-laki dan 34 orang perempuan dengan perbandingan 1:2,1, di mana sebanyak 11 pasien usia dibawah 8 tahun merupakan kelompok penderita yang mengalami migrasi beda asing pada kasus aspirasi benda asing ini. Benda asing yang paling banyak ditemukan adalah jarum pentul sebanyak 25 kasus, serta kacang sebanyak 6 kasus. Kesimpulan: kelompok pasien dengan aspirasi benda asing di bawah usia 8 tahun memiliki resiko lebih tinggi untuk terjadinya migrasi benda asing dibanding dengan kelompok usia diatas 8 tahun. Aspirasi benda asing di saluran trakeobronkial sering terjadi pada anak-anak yang berusia kurang dari 15 tahun. Benda asing terbanyak adalah anorganik berupa jarum pentul. Pemeriksaan radiologi paru dalam 24 jam pertama setelah kejadian aspirasi pada umumnya menunjukkan gambaran normal. Lokasi benda asing di saluran trakeobronkial terbanyak pada penelitian ini adalah di trakea.
Tuli Sensorineural Mendadak Bilateral pada Ibu Hamil Intan, Monica; Handoko, Edi
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 2 No. 2 (2023): September 2023
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Tuli sensorineural mendadak merupakan penyakit gawat darurat dibidang THT-KL yang didefinisikan sebagai gangguan pendengaran minimal 30 dB dalam tiga frekuensi yang berdekatan dan tidak lebih dari 72 jam. Tuli sensorineural mendadak bilateral pada kehamilan sangat jarang terjadi dengan etiologi yang belum pasti dan sangat berhubungan dengan penyakit sistemik. Terapi empiris untuk tuli sensorineural mendadak pada ibu hamil masih menjadi kontroversial.  Tujuan: Mengetahui lebih lanjut mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya tuli sensorineural mendadak bilateral pada ibu hamil dan bagaimana penatalaksanaannya. Laporan kasus: Dilaporkan 1 kasus tuli sensorineural mendadak bilateral pada ibu hamil. Metode: Telaah literatur berbasis bukti melalui pencarian PubMed, ProQuest, dan Google Scholar dengan kata kunci “sudden sensoryneural hearing loss in pregnancy AND intratympanic corticosteroid injection”. Hasil: Tuli sensorineural mendadak bilateral selama kehamilan memiliki berhubungan erat dengan penyakit sistemik sehinggga diperlukan pemeriksaan yang menyeluruh untuk menentukan penyebabnya. Terapi yang direkomendasikan adalah pemberian steroid sistemik atau topikal. Kesimpulan: Tuli sensorineural mendadak bilateral pada ibu hamil memiliki etiologi yang belum pasti dan biasanya didasari oleh penyakit sistemik. Perubahan fisiologis yang terjadi saat hamil juga dapat mempengaruhi keadaan tuli sensorineural mendadak. Penatalaksaan tuli sensorineural medadak pada ibu hamil masih menjadi kontroversi tetapi pemberian kortikostreoid dianggap sebagai terapi yang paling aman dan efektif. Keberhasilan terapi harus dimonitoring dan dievaluasi hingga enam bulan setelah terapi. 

Page 1 of 1 | Total Record : 5