cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
REKA KARSA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 4 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 3" : 4 Documents clear
Pengaruh Desain dan Pola Roster terhadap Simulasi Penghawaan Alami pada Fasad Bangunan Muhsin, Ardhiana
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 10, No 3
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v10i3.7998

Abstract

Abstrak Roster atau kerawang telah lama dikenal dan digunakan oleh masyarakat sebagai elemen bangunan. Karakternya yang tampak seperti tertutup namun masih memiliki kesinambungan visual menjadikan roster tidak hanya difungsikan sebagai ventilasi namun dapat juga difungsikan sebagai pembatas untuk menutup daerah atau bagian yang tidak ingin terlihat secara langsung. Akhir-akhir ini roster kembali menjadi alternatif material untuk fasad bangunan agar terlihat unik dan berbeda karakternya. Desain atau pola roster pun banyak berkembang dan tidak tampil monoton seperti dulu lagi. Beberapa pola roster dapat dikombinasikan dengan pola lainnya agar desain fasad tampil lebih menarik lagi. Banyak arsitek yang mengklaim bahwa pemilihan roster agar dapat menyalurkan angin ke dalam bangunan yang menggunakan ventilasi alami. Permasalahannya adalah seberapa jauh sebenarnya roster dapat berfungsi sebagai penerus angin agar dapat tetap mengalir ke dalam ruangan dengan pola serta penempatan yang berbeda dengan dahulu. Penelitian ini mencoba mengungkap permasalahan tersebut lewat simulasi perangkat lunak berbasis Building Information Modelling (BIM). Desain roster yang ada disusun dan dibuatkan beberapa pola alternatif untuk dilihat sejauh mana elemen bangunan tersebut dapat bekerja secara optimal dalam menyalurkan angin ke dalam sebuah ruangan.Kata kunci: arsitektur, roster, simulasi, ventilasi, visualAbstract Ventilation block has been known and used as a building element. Its character which looks like it is an enclosed but still has visual continuity makes its function not only as ventilation but also as a barrier to cover areas or parts of the building that do not want to be seen directly. Recently, ventilation block has become an alternative material for building facades to make it look unique and have a different character. Ventilation block designs or patterns have also developed a lot and don't appear monotonous like they used to. Several ventilation block patterns can be combined with other patterns to make the facade design even more attractive. Many architects claim that the selection of , ventilation block is so that it can channel wind into buildings that use natural ventilation. The problem is how far the rooster can actually function as a successor to the wind so that it can continue to flow into the room with a different pattern and placement than before. This study tries to uncover these problems through software simulations based on Building Information Modeling (BIM). The existing roster design is compiled and several alternative patterns are made to see how far these building elements can work optimally in channeling wind into a room. Keywords: architecture, simulation, ventilation block, visual
Identifikasi Desain Jalur Pedestrian Jalan Dago Sebagai Infrastruktur Yang Mendukung Konsep Walkability Noveryna Dwika Reztrie; Annisa Rahma Fauzia; Kylie Dwi Andreas
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 10, No 3
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v10i3.8159

Abstract

AbstrakDalam mendukung pengembangan Kota Bandung menjadi ‘walkable city’, Pemerintah Kota Bandung telah melakukan renovasi jalur pedestrian di beberapa titik. Salah satunya adalah Jalan Dago. Sebagai ikon dan pusat orientasi warga kota, uniknya kehadiran para pejalan kaki masih terlihat jarang di Jalan Dago. Karya tulis ini akan mengidentifikasi pengaruh fitur fisik dan streetscape di Jalan Dago dengan kehadiran pejalan kaki. Identifikasi dilakukan melalui analisis berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Reid Ewing. Data didapat melalui observasi langsung ke lapangan. Sebagai praktisi yang bergerak pada bidang perencanaan dan perancangan, sangatlah penting untuk mengetahui aspek apa saja yang mempengaruhi minat masyarakat untuk berjalan kaki di ruang publik. Isu terkait hubungan antara pengaruh lingkungan binaan dengan walkability ini masih terus dikembangkan bahkan oleh berbagai bidang seperti transportasi, perencanaan kota dan kesehatan masyarakat. Hasil dari identifikasi ini merekomendasikan beberapa hal untuk perencanaan pembangunan pedestrian termasuk pemahaman terhadap konteks terutama terkait kepadatan penduduk dan rencana tata ruang daerah. Hal ini akan berdampak pada penentuan zonasi kawasan. Sehingga, ketika dilakukan penentuan zonasi dapat direncanakan cara terbaik untuk mencapai value dari masing-masing kriteria jalur pedestrian yang memengaruhi walkability. Selain itu, penyediaan aksesibilitas untuk transit transportasi publik pun dapat memiliki dampak positif pada ‘kehidupan’ jalanan. Hal ini sejalan dengan teori “Great Street” yang dikemukakan oleh Allan Jacobs, dimana jalan yang baik harus mendukung konektivitas antar lokasi di dalam kota, juga dapat dengan mudah diakses. Selain itu, menurut Reid Ewing Koefisien Lantai Bangunan (KLB) di sepanjang jalan sebaiknya bernilai tinggi dan fasad bangunan lebih baik didominasi oleh retail.Kata kunci: walkability, jalur pedestrian, Jalan DagoAbstractIn order to support the development of Bandung City to become a walkable city, the goverment had renovated pedestrian in several streets. Among them is the one on Dago Street. As the icon of the city and the orientation center of citizen, it is odd that pedestrians are rarely seen on Dago Street. This journal will identify the influence of physical fiture and streetscape on Dago Street within the presence of the pedestrians. The identification is carried out by analizing a theory brought out by Reid Ewing. While the data is taken from direct observation. As a practitioner in design and planning, it is important to know the aspects that encourage citizen’s desire to have a walk in public facility.The issue of  relation between built environment’s impact and walkability is been continously developed by various fields like trsasportation, urban planning and public health. The outcome of this identification would recommend some points for pedestrian development planning, such as understanding the context especially those that are related to population density and regional layout planning, as they would intervene area zoning. So, in zoning, it is possible to plan the best way to reach the value of every pedestrian path criteria that affect walkability. Moreover, providing accessibility for public transportation transit would give positive impact for pedestrian’s life. These are in line with “Great Street” theory by Allan Jacobs, where good street should support connectivity within location in the city and have an easy access.On the other hand, according to Reid Ewing, Floor Area Ratio (FAR) along the streets should be valuable and the façades should be dominated by retail.Keywords: walkability, pedestrians, Dago Street
Adaptasi Perumahan terhadap Kebutuhan Generasi Milenial Pasca Pandemi COVID-19 di Indonesia Sari, Ana Ramdani; Dwidayati, Kunthi Herma; Yosita, Lucy
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 10, No 3
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v10i3.11497

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan dan adaptasi perumahan dalam menghadapi Pandemi COVID-19. Penelitian ini berfokus pada persepsi generasi milenial terhadap ruang di tempat tinggal yang kemudian dievaluasi kualitas ruang berdasarkan persepsi responden. Subyek ini dipilih karena kelompok usia ini mendominasi demografi, sehingga generasi millenial adalah target pasar utama perumahan. Penting bagi penyedia perumahan, baik lembaga perumahan swasta maupun negara, untuk beradaptasi terhadap perubahan-perubahan ini, terutama setelah Pandemi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Penelitian ini melibatkan total 113 responden yang sebagian besar berdomisili di Pulau Jawa. Data kualitatif diperoleh melalui wawancara mendalam dan pertanyaan terbuka dalam survei. Data kuantitatif diperoleh melalui dua kali survei dan kemudian dianalisis menggunakan metode deskriptif-kuantitatif. Hasilnya menunjukkan bahwa meskipun tingkat kepuasan penghuni cukup memuaskan (71%), namun kualitas ruang di rumah tinggal belum mencukupi kebutuhannya yang semakin meningkat. Banyak dari generasi milenial yang sebagian besar bekerja di rumah, tidak memiliki ruangan yang layak, furnitur yang ergonomis, pencahayaan yang memadai, dan ventilasi udara untuk bekerja. Sebagian besar rumah mereka juga kekurangan ruang yang dibutuhkan setelah Pandemi, seperti beranda, musala, dan sensor tanpa sentuhan. Masukan ini akan membantu penyedia perumahan membangun rumah yang beradaptasi dengan meningkatnya kebutuhan generasi milenial setelah Pandemi.Kata kunci: Adaptasi Perumahan, Milenial, Pandemi, Persepsi RuangABSTRACTThe study aims to discover housing adaptability in the face of the COVID-19 Pandemic. It focuses on Millennials' perception of the spaces at their home, then evaluating the quality of space based on their perception. The subject was chosen as the people in this age bracket dominate the demography, meaning millennials are the primary target market for housing. It is essential for housing providers, both private and state housing agencies, to adapt to these changes, especially after the Pandemic. The study uses both qualitative and quantitative approaches. The study included a total of 113 respondents who reside mainly in Java Island. The qualitative data is obtained through in-depth interviews and open questions in a survey. The quantitative data is obtained through two surveys and then analyzed using the descriptive-quantitative method. The result shows that even though the residents' satisfaction level is quite satisfactory (71%), the quality of space in their home is not sufficient for their growing needs. Many of these millennials, which work primarily at home, do not have a proper space, ergonomic furniture, adequate lighting, and air ventilation for working. Most of their homes also lack few spaces needed after the Pandemic, such as porch, prayer room, and no-touch censor. This input would help the housing providers build houses that adapt to the growing needs of millennials after the Pandemic.Keywords: Housing Adaptability, Millennials, Pandemic, Perception of Space
Pendekatan Arsitektur Neo Vernakular pada Rancangan Islamic Center Fachrozy, Muhammad Rahfi; Latifah, Nur Laela; Jamaludin, Jamaludin
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 10, No 3
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v10i3.7529

Abstract

ABSTRAK Sambas merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Kalimantan Barat dengan mayoritas penduduknya beragama Islam. Hal ini menyebabkan di sana banyak dilaksanakan kegiatan ke-Islaman, tetapi masih belum tersedia suatu wadah yang dapat menunjang ibadah sekaligus meningkatkan kualitas hidup umat muslim. Sehingga, diperlukan Islamic center yang merupakan pusat peribadatan, pendidikan, kemasyarakatan, dan penyiaran agama serta budaya Islam. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data yaitu kualitatif. Pendekatan tema yang dipilih untuk perancangan ini adalah arsitektur neo vernakular yang merupakan penggabungan antara arsitektur tradisional dan modern. Arsitektur tradisional yang diacu berasal dari suku asli Kalimantan Barat yaitu suku Dayak dan suku Melayu Tradisional. Neo vernakular dipilih dengan tujuan menghasilkan desain Islamic center yang modern dan fungsional sesuai kebutuhan di zaman modern tanpa mengabaikan unsur/ nilai lokalitas tradisional setempat. Tema ini diterapkan pada pola sirkulasi kendaraan dan pejalan kaki yang dapat menjangkau seluruh bangunan seperti sungai, massa bangunan yang mengadaptasi bentuk rumah Panjang suku Dayak bernama Ompuk Domuk, atap yang bentuknya mengadaptasi dari rumah suku Melayu Tradisional (atap Potong Limas, atap Potong Godang) dan Ompuk Domuk, pola batik Pucuk Rebung pada ornamen arsitektural, penerapan neo pada struktur dan material bangunan yang lebih modern, serta adanya paduan warna material alami dan kontras.Kata kunci: islamic center, islam, kabupaten sambas, neo vernakular ABSTRACT Sambas is one of the regencies in West Kalimantan Province, where the majority of the population is Muslim. This demographic condition has led to the frequent organization of Islamic activities; however, the region still lacks a dedicated facility that can simultaneously support religious practices and enhance the quality of life of the Muslim community. Therefore, the development of an Islamic Center—which functions as a hub for worship, education, social activities, and the dissemination of Islamic religion and culture—is required. The data collection for this study employed a qualitative approach. The design adopts a neo-vernacular architectural theme, which integrates traditional and modern architectural elements. The traditional references are drawn from the indigenous ethnic groups of West Kalimantan, namely the Dayak and the traditional Malay communities. The goal of using neo-vernacular architecture is to create a modern and functional design for an Islamic Center that still respects the cultural and traditional values of the area. This theme is reflected in several design aspects: a circulation pattern for vehicles and pedestrians inspired by river networks; building masses adapted from the longhouse form of the Dayak Ompuk Domuk; roof forms derived from traditional Malay houses (Potong Limas and Potong Godang) and Ompuk Domuk; architectural ornamentation incorporating the Pucuk Rebung batik motif; and modern interpretations in building structure and material selection. The design also emphasizes the combination of natural material tones with contrasting colors to reinforce both modernity and regional identity. Keywords: architecture, modern, tropic, education

Page 1 of 1 | Total Record : 4