cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
REKA RACANA
ISSN : -     EISSN : 24772569     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 30 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 4: Desember 2016" : 30 Documents clear
Optimasi Pelabuhan di Perairan Cirebon sebagai Alternatif Pengganti Pelabuhan Cilamaya (Hal. 89-99) Rizkyargo, Muhammad Ziko; Muin, Muslim; Muliati, Yati
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 2, No 4: Desember 2016
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (644.064 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v2i4.89

Abstract

ABSTRAK Daerah industri Indonesia yang berpusat di daerah Jawa Barat membuat banyak perusahaan memproduksi barang  dan jasa. Salah satu prasarana dalam menunjangkegiatan tersebut yaitu pelabuhan.Pertumbuhan ekonomi di masa yang akan datang membuat Pelabuhan Tanjung Priok semakin padat, maka dibutuhkan Pelabuhan alternatif lain. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk merencanakan Pelabuhan Peti Kemas di Peraian Cirebon berdasarkan kapal rencana dan biaya yang paling optimum. Lokasi Pelabuhan Peti Kemas Cirebon berada pada koordinat 6o45’3.63” LS dan 108o36’23.53” BT. Pengumpulan data berupa data sekunder yang meliputi kebutuhan peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok dan Pelabuhan Cilamaya serta data hidrooseanografi di lokasi Cirebon.Kebutuhan Pelabuhan Peti Kemas Cirebon pada jangka pendek adalah 3.750.000 TEUs, jangka menengah 7.500.000 TEUs, dan jangka panjang 12.000.000 TEUs. Hasil Analisis didapatkan Kapal optimum yang digunakan di Pelabuhan Peti Kemas Cirebon untuk jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang sama, yaitu kapal ukuran 2.000 TEUs.Kata kunci: optimasi, pelabuhan, peti kemas, Cirebon. ABSTRACTIndustrial area of Indonesia centered in West Java, making many companies producing goods and services. One of the infrastructure that support these activities, such as ports. Economic growth in the future that make the port of Tanjung Priok increasingly crowded, it needed alternative ports. The purpose of this research is to plan a Container Port in Cirebon based on ship and the most optimum cost. The location of Cirebon Container Port at 6o45’3.63” SL and 108o36’23.53” EL. The data were derived from the secondary data including containers demand at Tanjung Priok Port and Cilamaya and environmental data on Cirebon. Port of Tanjung Priok has a demand in the short term is 3,750,000 TEUs, 7,500,000 TEUs medium term and long term 12,000,000 TEUs. Analysis of the results obtained optimum vessel used in Container Port Cirebon for short term, medium term and long term are same, the size of 2,000 TEUs vessels.Keywords: optimization, port, container, Cirebon
Analisis Rembesan dan Stabilitas Bendungan Bajulmati dengan Metode Elemen Hingga Model 2D dan 3D (Hal. 148-159) Nanda, Teuku Nabilla; Hamdhan, Indra Noer
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 2, No 4: Desember 2016
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1550.304 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v2i4.148

Abstract

ABSTRAK Bendungan Bajulmati merupakan bendungan tipe urugan dengan inti terletak tegak pada tubuh bendungan. Bendungan urugan berpotensi runtuh akibat berubahnya tegangan dalam tanah akibat aliran air. Untuk menghindari keruntuhan, maka diperlukan analisis rembesan dan stabilitas yang dihitung secara bersamaan menggunakan metode elemen hingga dengan model 2D dan 3D pada program PLAXIS AE. Analisis akan menggunakan variasi pembebanan, yaitu saat selesai konstruksi, muka air minimum, muka air maksimum dan surut cepat yang keseluruhan kondisi akan di kombinasikan dengan pembebanan gempa pseudostatik. Hasil analisis 2D berupa faktor keamanan terkritis terjadi pada kondisi surut cepat, yaitu 1,750 sebelum ada gempa dan 1,452 setelah dibebani gempa pseudostatik. Hasil SF terkritis pada model 3D adalah 1,890 pada kondisi surut cepat.Kata kunci: bendungan bajulmati, bendungan urugan, stabilitas lereng, pseudostatik, analisis ganda, aliran air tanah, metode elemen hingga, faktor keamanan. ABSTRACTThe Bajulmati dam is types of embankment with center core rock fill dam. Embankment dam is risky to collapse due changes of stress while ground water flow. To avoid collapse, it is necessary to seepage and stability analyzes were calculated silmustaneously using the finite element method with 2D and 3D models in PLAXIS AE program. The analysis will use variation of loading, those are after construction, minimum water level, high water level, and rapid drawdown with the overall conditions is combine to pseudostatics analysis. The most critical safety factor of 2D analysis is happen at rapid drawdown condition, those are 1.750, 1.452 before and after pseudostatic/earthquake analysis. The critical safety factor result  of 3D analysis is 1.890 at rapid drawdown loading condition.Keywords: the bajulmati dam, embankment dam, slope stability, pseudostatic, coupled analysis, ground water flow, finite elemen method, safety factor.
Karakterisasi Sifat Fisis dan Mekanis Tanah Lunak di Gedebage (Hal. 44-55) Siska, Heldys Nurul; Yakin, Yuki Achmad
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 2, No 4: Desember 2016
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1023.55 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v2i4.44

Abstract

ABSTRAKAcuan data mengenai karakterisasi tanah lunak diperlukan, sehubungan dengan peningkatan pembangunan yang pesat di daerah tanah lunak. Karakterisasi tanah lunak di Gedebage yang meliputi data fisis dan mekanis. Berdasarkan grafik hubungan batas cair dan indeks plastisitas, maka tanah ini tergolong tanah lempung tak organik dengan plastisitas tinggi dan tanah lanau tak organik. Indeks properties tanah lunak Gedebage terdiri atas kadar air (105,4% - 315,5%), angka pori (1,23 - 7,26) dan berat jenis (2,1 - 2,67). Adapun parameter kuat gesernya meliputi cu (0,01 - 0,25 kg/cm2) dan Øu (0,2° - 5,5°). Parameter deformasinya menunjukkan nilai sedang sampai tinggi dan kompresibilitas yang besar. Uji triaksial unconsolidated undrained dan uji oedometer pada program PLAXIS 2D AE menghasilkan tegangan deviator dan regangan yang hampir sama dengan pengujian di laboratorium. Model hardening soil paling tepat digunakan sebagai modelisasi untuk jenis tanah lunak di Gedebage.Kata kunci: index properties, kuat geser, kompresibilitas, uji triaksial unconsolidated undrained, uji oedometer. ABSTRACTIt is necessary that a data base on soft soil is characterization, in relation with a fast development in this area. Characterized of soft soil in Gedebage consisted of physical and engineering data. Based on plasticity chart, liquid limit and index plasticity, this soil belongs to anorganic clay with high plasticity and anorganic silt. Index properties of Gedebage soft soil consist of water content (105.4% - 315.5%), void ratio (1.23 – 7.26) and specific gravity (2.1 – 2.67). The shear strength parameters consist of cu (0.01 – 0.25 kg/cm2) and Øu (0.2° - 5.5°). Deformation parameter indicates medium to high compressibility. Triaxial unconsolidated undrained test and oedometer test in the PLAXIS 2D AE program produces deviator strength and strain of soft soil which was similar to the test in the laboratory. The hardening soil model was appropriate to be used as the model in the PLAXIS 2D AE program for the type of soft soil at Gedebage.Keywords: index properties, shear strength, compressibility, triaxial unconsolidated undrained test, oedometer test.
Kajian Pemakaian Shear Wall dan Bracing pada Gedung Bertingkat (Hal. 100-111) Hutahaean, Santi Gloria; Aswandy, Aswandy
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 2, No 4: Desember 2016
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (933.448 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v2i4.100

Abstract

ABSTRAKDinding geser dan bresing merupakan elemen penahan gempa yang banyak digunakan pada gedung bertingkat tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku kinerja dinding geser dan bresing dengan menggunakan metode analisis pushover. Obyek penelitian yang digunakan adalah dua sistem stuktur asimetris, yaitu Model 1 berupa gedung dengan dinding geser dan Model 2 berupa gedung dengan bresing. Hasil penelitian simpangan atap saat titik kinerja tercapai pada Model 1 dalam arah X, -X, Y dan -Y (0,225 m, 0,287 m, 0,225 m and 0,234 m) lebih kecil daripada Model 2 (0,344 m, 0,349 m, 0,317 m and 0,357 m) sedangkan besarnya gaya geser dasar pada Model 1 dalam arah X, -X, Y dan -Y (15.322,977 kN, 20.038,897 kN, 22.564,376 kN and 21.371,845 kN) lebih besar daripada Model 2 (11.459,977 kN, 12.957,979 kN, 69,839 kN and 10.912,926 kN). Hal ini menunjukan bahwa Model 1 lebih kaku dan kuat daripada Model 2. Level kinerja kedua model menurut ATC-40 adalah Immediate Occupancy (IO).Kata kunci: dinding geser, bresing, asimetris, pushover, level kinerja ABSTRACTShear wall and bracing are retaining earthquake elements that are widely-used in high-rise buildings. This research aims to determine the performance of shear wall and bracing using pushover analysis method. The objects of the research are two asymmetrical structure system, Model 1 is building using shear wall and Model 2 is building using bracing. The results of the research show that the roof displacement of Model 1 when performance point is reached in the direction of X, -X, Y and -Y (0,225 m, 0,287 m, 0,225 m and 0,234 m) are lower than Model 2 (0,344 m, 0,349 m, 0,317 m and 0,357 m). While the amount of base shear of Model 1 in the direction of X, -X, Y and -Y (15.322,977 kN, 20.038,897 kN, 22.564,376 kN and 21.371,845 kN) higher than the amount of base shear of Model 2 (11.459,977 kN, 12.957,979 kN, 69,839 kN and 10.912,926 kN). Those show that the Model 1 is more rigid and stronger than Model 2. The level of the performance of both models according to ATC-40 is Immediate Occupancy (IO).Keywords: shear wall, bracing, asymmetric, pushover, peformance level
Kajian Perancangan Komposisi Beton Memadat Mandiri dengan Menggunakan Batu Apung (Hal. 1-10) Taufik, Mohamad Mugni; Herbudiman, Bernardinus
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 2, No 4: Desember 2016
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (490.666 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v2i4.1

Abstract

ABSTRAKBeton ringan memadat mandiri atau Lightweight Self-Compacting Concrete (LWSCC) merupakan suatu inovasi teknologi beton. Memiliki kelecakan tinggi, bobot ringan dan kuat tekan struktural, penggunaan LWSCC diharapkan dapat memangkas biaya konstruksi secara signifikan. Bahan yang digunakan antara lain batu apung, RCC-15 serta superplasticizer. Komposisi yang digunakan adalah volume agregat kasar dari volume agregat total ( ) sebesar 40 %; kadar RCC-15 17,5 %,  20 % dan 22,5 % dari powder; dosis superplasticizer 0,9 %, 0,95 %, 1,0 %, 1,05 % dan 1,1 % dari powder. Terdapat 15 mix design dengan 3 benda uji untuk setiap mix design. Pengujian yang dilakukan adalah uji slump flow, uji kuat tekan, dan penimbangan benda uji untuk mengetahui berat isi. Semua benda uji memenuhi syarat karakteristik SCC, dengan slump flow antara 53,5 cm hingga 74,5 cm, dan diketahui bahwa slump flow membesar apabila dosis superplasticizer ditambah. Semua mix design menghasilkan beton ringan, dengan berat isi maksimum 1.592 kg/m3. Namun kuat tekan seluruh benda uji tidak mencapai kuat tekan struktural, dengan kuat tekan yang dihasilkan maksimum sebesar 14,21 MPa.Kata kunci: beton memadat mandiri, perancangan komposisi, batu apung ABSTRACTLightweight concrete that compact independently or Lightweight Self-Compacting Concrete (LWSCC) is an innovation in concrete technology. Having a high workability, light in weight, and structural compression strength, LWSCC expected to cut construction costs significantly. The materials used include pumice, RCC-15 and superplasticizer. Composition used is coarse agregat volume of total aggregate ( ) is 40 %; RCC-15 level is 17.5 %, 20 % and 22.5 % of powder; superplasticizer dosage 0.9 %, 0.95 %, 1.0%, 1.05 % and 1.1 % of powder. There are 15 mix designs and 3 specimens for each mix design. Tests run are slump flow test, compression strength test, and weighing to determine bulk density of concrete. All specimens eligible the SCC characteristics, with slump flow of 53.5 cm to 74.5 cm, and it is known that the slump flow enlarged if the superplasticizer dose added. All mix designs produce lightweight concrete, with maximum bulk density 1,592.19 kg/m3. Nevertheless, no specimens reach structural compression strength, with maximum compression strength gained of 14.21 MPa.Keywords: self compacting concrete, mix design, lightweight aggregate
Peramalan Gelombang di Perairan Kabupaten Indramayu dengan Pemodelan Numerik SWAN 41.01A (Hal. 160-171) Widhiarno, Fajar; Muliati, Yati
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 2, No 4: Desember 2016
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1061.859 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v2i4.160

Abstract

ABSTRAKKarakteristik gelombang merupakan hal yang sangat penting dalam perencanaan bangunan pantai. Melakukan pengukuran gelombang dalam jangka waktu yang panjang membutuhkan biaya yang sangat mahal. Diperlukan alternatif lain untuk meramalkan gelombang yaitu dengan menggunakan data angin. Belum ada lembaga yang melakukan peramalan gelombang secara berkelanjutan di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tinggi gelombang signifikan , periode gelombang signifikan dan arah gelombang dengan menggunakan metode pemodelan numerik SWAN 41.01A yang selanjutnya divalidasi dengan menggunakan metode SPM. Hasil dari peramalan gelombang didapat nilai setinggi 0,4-0,5 m dengan selama 2-3 detik dengan musim timuran yang mendominasi arah angin, tinggi gelombang maksimum setinggi 0,8-0,9 m dengan periode 2-2,5 detik, dan adanya pembelokan arah gelombang diakibatkan oleh pendangkalan kedalaman laut.Kata Kunci: peramalan gelombang, SWAN, tinggi gelombang signifikan, periode signifikan, arah gelombang. ABSTRACTCharacteristic of wave is the important thing in seashore building construction planning. The cost for the wave forecast in long duration is very expensive. Wind data is an alternative method for the wave forecast. There is no institution yet to forecast waves sustainably in indonesia. The purpose of this research is to determine the significant wave height , significant wave period and direction of the waves using SWAN 41.01A numerical modelling method which is then validated using SPM method. The results of forecast obtains values wave height 0.4-0.5 m with during 2-3 second with easterlies season dominate the wind direction, the maximum wave height 0.8-0.9 m with a period of 2-2.5 second, and bending the direction of the waves caused by silting ocean depths.Keywords: wave forecast, SWAN, significant wave height, significant period, wave direction.
Perencanaan Pelabuhan Penyeberangan Desa Buton, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah (Hal. 56-65) Setiawan, Aji; Muliati, Yati; Madrapriya, Fachrul
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 2, No 4: Desember 2016
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (569.054 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v2i4.56

Abstract

ABSTRAK Kondisi pelabuhan di desa Buton saat ini yang merupakan pelabuhan tradisional yang tidak memadai untuk menampung kapal-kapal yang berkapasitas besar untuk bersandar. Seiring dengan meningkatnya arus penduduk dan kendaraan di Desa Buton, Kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah, maka dibutuhkan fasilitas pelabuhan yang memadai agar menunjang kemajuan perekonomian di desa Buton. Hasil perencanaan Pelabuhan di desa Buton menunjukkan bahwa dermaga jetty sesuai untuk kapal rencana penumpang maupun barang. Karakteristik kapal rencana pada pelabuhan ini adalah kapal dengan bobot 2000 GT agar terbesar pada daerah lokasi yaitu kapal Madani dengan 1106 GT dengan kapasitas 400 penumpang dan 22 kendaraan dapat berlabuh pada pelabuhan Penyeberangan Buton.Kata kunci: pelabuhan penyeberangan, buton, desain ABSTRACTButon port conditions in the village at this time which is a traditional port may be inadequate to accommodate ships of large capacity for lean. Along with the increasing flow of people and vehicles in the village of Buton, Morowali regency, Central Sulawesi province, it takes adequate port facilities in order to support economic progress in the village of Buton. Ports in the village planning results indicate that the pier jetty Buton according to plan boat passengers and goods. Characteristics ship in the port plans are ships weighing 2000 GT to be the largest in the location area that Madani ships with 1106 GT with a capacity of 400 passengers and 22 vehicles can be docked at the port of Buton Crossing. Keywords: ferry port, buton, design
Analisis Perilaku Timbunan Tanah Pasir Menggunakan Uji Model Fisik (Hal. 112-123) Akmal, Fadi Muhammad; Yakin, Yuki Achmad
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 2, No 4: Desember 2016
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (877.445 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v2i4.112

Abstract

ABSTRAKIlmu teknik pada dasarnya berhubungan dengan pemodelan untuk mencari solusi dari permasalahan yang nyata. Pemodelan dapat berupa model fisik atau model numerik. Pemodelan yang dilakukan pada studi ini adalah model fisik, yaitu model fisik timbunan menerus dengan material tanah pasir. Analisis yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui besarnya penurunan timbunan tanah pasir setelah diberi beban yang dimodelkan di laboraturium dengan material tanah yang sama tetapi kondisi pemadatannya berbeda. Tingkat kepadatan tanah yang didapatkan dan dimodelkan ada tiga yaitu, sangat lepas, sangat lepas sampai lepas, dan lepas. Penurunan umumnya terjadi pada tanah dengan kondisi kepadatan sangat lepas hingga lepas. Hasil penurunan dari pemodelan ini kemudian dibandingkan dengan metode numerik dan analitik. Penurunan yang didapat dari pemodelan empirik untuk pemodelan pertama dengan kepadatan sangat lepas adalah 1,2 cm, kedua model timbunan dengan kepadatan sangat lepas sampai lepas sebesar 0,75 cm, dan model timbunan ketiga dengan kepadatan lepas sebesar 0,45 cm.Kata kunci: timbunan, tanah non-kohesif, penurunan, pemodelan geoteknik, model fisik: skala kecil. ABSTRACTEngineering is fundamentally concerned with modelling to find solutions of real problems. Modelling could be a physical model or numerical model. A model that had been analysed in this study was physical model of continuous embankment with sand as the material. The purpose of this analysis was to find the settlement of sand embankment after the embankment loaded through modelling in laboratory with same material but in different condition of compaction. The kinds of soil density that were modelling were, very loose, very loose-to-loose, and loose. Settlement commonly happened on very loose through loose density condition. The result from physical modelling were compare with numerical and analytical method. The settlement of the first modelling with very loose density was 1.2 cm, the second modelling with very loose-to-loose density was 0.75 cm, and the third modelling with loose density was 0.45 cm.Keywords: embankment, non-cohessive soil, settlement, geotechnical modelling, physical models: small scale.
Stabilisasi Tanah Lempung Ekspansif Menggunakan Campuran Renolith dan Kapur (Hal. 11-21) Maulana, Gibral; Hamdhan, Indra Noer
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 2, No 4: Desember 2016
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (668 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v2i4.11

Abstract

ABSTRAKTanah lempung ekspansif merupakan tanah yang memiliki kemampuan kembang susut yang tinggi akibat adanya perubahan kadar air. Perubahan kadar air ini dipengaruhi oleh perubahan musim, dimana hal tersebut dapat menyebabkan tanah menjadi tidak stabil. Tanah yang digunakan dalam penelitian ini memiliki engineering properties yang tergolong buruk dengan nilai CBR rendamannya sebesar 2,88%.  Untuk mengatasi kondisi tersebut diperlukan upaya perbaikan tanah. Salah satu cara yang efektif untuk mengatasi kemampuan kembang susut tanah ekspansif adalah dengan cara dicampur dengan bahan kimia. Bahan kimia yang digunakan dalam penelitian ini yaitu  campuran dari renolith dan kapur. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan campuran renolith dan kapur dapat meningkatkan nilai CBR rendaman menjadi 11,13% dan menurunkan nilai potensial pengembangan dari 29,54% menjadi 0,96%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penggunaan campuran renolith dan kapur dapat meningkatkan CBR rendaman hingga 286,45% dan menurunkan potensi pengembangan hingga 96,75%.Kata kunci: tanah ekspansif, renolith, kapur, CBR. ABSTRACTAn expansive clay soil that has high shrinkage capability development due to change in moisture content. Changes in water content are affected by the change of seasons, it caused the soil become unstable. The soil that used in this study had a relatively poor engineering properties which CBR soaked value of 2.88%. To overcome these condition the soil improvement is necessary to increase the soil stability. The one of the effective ways to overcome shrinkage and development capability of expansive soil are mixed with chemicals. The chemicals are used in this study is a mixture of renolith and lime. The result from using a mixture of renolith and lime showed that increase the value of soaked CBR into 11.13% and decrease the value of swelling potential from 29.54% to 0.96%. Summary of using this material can increase the value of soaked CBR up to 286.45% and decrease the swelling potential until 96.75%.Keywords: expansive soil, renolith, lime, CBR.
Kajian Pengaruh Panjang ‘Back Span’ pada Jembatan Busur Tiga Bentang (Hal. 66-77) Yuliantono, Yuno; Aswandy, Aswandy
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 2, No 4: Desember 2016
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (930.179 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v2i4.66

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini melakukan kajian pengaruh variasi bentang ‘back span’ pada jembatan. Jembatan yang dikaji adalah jembatan baja profil persegi tubular dengan bentang utama 150 meter dan ‘back span’ 51,2 meter. Ada 6 variasi penambahan dan pengurangan terhadap bentang ‘back span’ jembatan acuan awal yaitu : Model 1 berupa penambahan 10 meter, Model 2 berupa penambahan 5 meter, Model 3 berupa penambahan 0 meter, Model 4 berupa pengurangan 5 meter, Model 5 berupa pengurangan 10 meter, dan Model 6 berupa pengurangan 25 meter. Hasil analisis nilai terbesar menunjukan Model 1 sebesar 78.693,89 kN untuk reaksi perletakan rol, Model 1 sebesar 305,8 mm di girder jembatan untuk lendutan, Model 1 sebesar 21.611,454 kN di girder untuk aksial, Model 1 sebesar 36.775,691 kN di girder untuk momen lentur, dan model 1 sebesar 5.020,33 kN di girder untuk geser. Hal ini menunjukkan beban dari lengkung dan main span jembatan disalurkan menuju ‘back span’ seiring bertambahnya bentang.Kata kunci: jembatan lengkung baja, ‘back span’ ABSTRACTThis research investigate the effect of variant ‘back span’ length in a bridge. The type of the studied bridge is a hollow tube steel bridge with 150 meter of main span and 51,2 meter of back span. There are 6 variations of the addition and subtraction of the bridge 'back span'  length, that is: Model 1 with 10 meters addition, Model 2 with 5 meters addition, Model 3 with 0 meters addition, Model 4 with 5 meters reduction, Model 5 with 10 meters reduction, and Model 6 with 25 meters reduction. Results of the analysis showed that Model 1 have the greatest value of 78693.89 kN for the for roll joint reaction, 1Model amounted to 305.8 mm in girder bridge for deflection, Model 1 amounted to 21.611,454 kN in girder for axial, Model 1 amounted to 36.775,691 kN in girder for momen, and 1 Model amounted to 5.020,33 kN in girder for shear. This show that with increasing of the length, loads from arch and main span are distributed towards ‘back span’Keywords: steel arch bridge, ‘back span’

Page 1 of 3 | Total Record : 30