cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
REKA RACANA
ISSN : -     EISSN : 24772569     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 24 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 4: Desember 2018" : 24 Documents clear
Studi Eksperimental Batang Tarik Sambungan Baut pada Plat Baja (Hal. 118-129) Hardianti, Desi; Herbudiman, Bernardinus; Diredja, Nessa Valiantine
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 4, No 4: Desember 2018
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (907.35 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v4i4.118

Abstract

ABSTRAKSambungan baut pada batang tarik baja memiliki kapasitas dengan macam-macam tipe kegagalan. Melalui penelitian ini diharapkan dapat menjadi media pembelajaran untuk mengetahui salah satu jenis kegagalan pada sambungan batang tarik. Pada penelitian ini dilakukan perbandingan kapasitas sambungan batang tarik plat baja 70mm*300mm*3mm disambung dengan baut penyambung diameter 8mm dengan mutu A449 melalui studi analisis kapasitas dan kegagalan dengan studi eksperimental. Pada studi analisis kapasitas dan kegagalan sambungan batang tarik baja diperoleh kapasitas sambungan sebesar 44,04kN dengan tipe kegagalan geser. Pada studi eksperimental dilakukan pengujian tarik sambungan baja batang tarik, didapatkan nilai kapasitas ultimit sebesar 52,23kN. Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah baik hasil perhitungan secara analitis dan pengujian eksperimental di laboratorium menunjukkan trend yang baik dan sama. Kekuatan nominal tarik rencana () dari hasil studi analitis dengan beban ultimit hasil studi eksperimental memiliki perbedaan sebesar 15,69 % dengan hasil eksperimental lebih tinggi.Kata kunci: sambungan batang tarik baja, eksperimental, analitis, kapasitas. ABSTRACTThe bolted connection of the tension rod has capacity with various types of failure. Through this research, it is hoped that it can become a learning medium to find out one of the types of failures in the tension rod joint. In this research, the comparison of 70mm*300mm*3mm angle cross-section connections using 8mm bolt connectors with A449 quality through capacity analysis studies and failure with experimental studies. In the capacity analysis and failure of the steel pull rod connection, a connection capacity of 44.04kN was obtained with a type of shear failure. In the experimental study, tensile testing of tensile rod steel was carried out, obtained the ultimate capacity value of 52.23kN. The conclusion that can be drawn from this study is that both the results of analytical calculations and experimental testing in the laboratory show a good and the same trend. The nominal strength of plan pull () from the results of analytical studies with ultimate load results from experimental studies had a difference of 15.69% with higher experimental results.Keywords: steel tension joint, experimental, analytical, capacity.
Studi Mengenai Perlakuan Agregat Berukuran 2,38 mm ­ 4,75 mm sebagai Agregat Kasar dalam Campuran Beton (Hal. 22-31) Ramdani, Ahmad; Saelan, Priyanto
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 4, No 4: Desember 2018
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (616.197 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v4i4.22

Abstract

ABSTRAKBatu pecah berukuran 2,38 mm – 4,75 mm tidak digunakan dalam campuran beton. Jika campuran beton dirancang menggunakan batu pecah ini sebagai agregat kasar, maka campuran beton yang dihasilkan diduga tidak akan mengalami segregasi untuk semua kelecakan, lebih homogen, dan jika diberi bahan tambahan superplasticizer diduga dapat dengan mudah berperilaku sebagai campuran beton memadat mandiri. Penelitian ini dilakukan untuk membuktikan dugaan tersebut. Penelitian dilakukan dengan kuat tekan rencana 30 MPa, slump 40 mm dan 100 mm, tanpa dan dengan bahan tambahan superplasticizer dengan dosis 1% dan 1,5%. Perancangan campuran beton dengan cara Dreux menggunakan faktor granular 0,40; 0,45; 0,50; dan 0,55. Pengujian kuat tekan pada benda uji silinder diameter 10 cm dan tinggi 20 cm membuktikan bahwa dugaan tersebut adalah benar, dan perancangan campuran beton dengan memperlakukan batu pecah berukuran 2,38 mm – 4,75 mm sebagai agregat kasar dapat dilakukan untuk faktor granular 0,40 – 0,50.Kata kunci: batu pecah berukuran 2,38 mm – 4,75 mm,agregat kasar,superplasticizer ABSTRACT2.38 mm – 4.75 mm crushed aggregate size is not used in concrete mix. If this crushed aggregate is used as coarse aggregate, the resulting concrete mix is assumed will not segregate in all workability, more homogeneous, and it will behave easily as self-compacting concrete by adding superplasticizer. This research was conducted to prove these assumption. Concrete mix with compressive strength of 30 MPa, 40 mm and 100 mm slump is made using Dreux method with granular factor 0.40; 0.45; 0.50; and 0.55. The doses of superplasticizer is 1% and 1.5% by cement weight. Compressive strength tests of 10 cm diameter and 20 cm height cylinder diameter showed these assumption is true, and concrete mix can be designed using granular factor 0.40 – 0.50.Keywords: 2,38 mm – 4,75 mm crushed aggregate size, coarse aggregate, superplasticizer
Kajian Eksperimental Sifat Mekanik Panel Cross Laminated Timber Kayu Sengon dan Kayu Jabon (Hal. 78-87) Abdurrahman, Irfan Naufal; Gultom, Heru Juhdi; Desmaliana, Erma
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 4, No 4: Desember 2018
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (785.934 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v4i4.78

Abstract

ABSTRAKPanel Cross Laminated Timber (CLT) merupakan rekayasa kayu dengan penyusunan kayu dengan arah bersilangan 90  Material kayu yang digunakan yaitu kayu Sengon dan kayu Jabon. Pembuatan panel CLT menggunakan perekat Polyvinyl Acetate, Cross-linker, dan Lateks Karet Alam dengan perbandingan 1:1 untuk base dan 15% untuk katalisator. Tujuan dari penelitian ini, untuk mengetahui kinerja panel CLT kayu Sengon dan kayu Jabon terhadap beban tekan dan geser. Pembuatan panel CLT dilakukan dengan menggunakan kempa dingin dan dimensi panel CLT yang digunakan yaitu 950mm 950mm 120mm. Hasil pengujian eksperimental pada benda uji small clear, didapatkan bahwa kayu jabon dan kayu sengon masuk kedalam kelas kuat V. Kapasitas tekan panel CLT kayu Sengon lebih kuat dibandingkan CLT Jabon yaitu 12,196 MPa dengan defleksi 10,51 mm dan kapasitas tekan panel CLT Kayu Jabon 9,572 MPa dengan defleksi 2,67. Pada pengujian kuat geser Panel CLT kayu Sengon menghasilkan nilai kuat geser lebih baik dari pada CLT kayu Jabon sebesar 0,09 MPa, dan kuat geser CLT kayu Jabon 0,089 MPa. Kata kunci: cross laminated timber, perekat, kuat tekan, kuat geser, defleksi. ABSTRACTCross Laminated Timber (CLT) Panel Is wood engineering with wood’s arrangement cross direction 90°. Wood materials used Sengon and Jabon. Making CLT panels using Polyvinyl Acetate, Cross-linker, and Natural Rubber Latex adhesives with a ratio of 1:1 for base and 15% for catalyst. The purpose of this research is to know the performance of Sengon and Jabon wood CLT panels against press and shear load. CLT panel is made by used cold press processed and the CLT panel dimensions used is 950mm 950mm 120mm. The results of small clear test object, found that Jabon wood and sengon wood were included in the strong V class.The compressive capacity of Sengon wood CLT panel is stronger than Jabon CLT which is 12.196 MPa with 10.51 mm deflection and the compressive capacity of Jabon CLT panel is 9.572 MPa with a deflection of 2.67. The shear strength testing of Sengon wood CLT Panel produces better shear strength than Jabon wood. Shear strength Sengon’s CLT is 0.089 MPa and Jabon’s CLT is 0.128 MPa.Keywords: cross laminated timber, glue, compression strength, shear strength, deflection.
Kajian Analisis Struktur Jembatan Gantung Pejalan Kaki Asimetris Ganda (Hal. 32-42) Arifin, Altie Santika; Herbudiman, Bernardinus; Sukmara, Gatot
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 4, No 4: Desember 2018
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (856.201 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v4i4.32

Abstract

ABSTRAKKeberadaan jembatan sangat membantu perkembangan ekonomi penduduk, karena terhubungnya satu wilayah dengan wilayah lainnya. JUDESA (Jembatan Untuk Pedesaan Asimetris) adalah jembatan gantung yang dikembangkan oleh Puslitbang Jalan Jembatan, didesain tipikal dapat mengakomodasi kebutuhan panjang jembatan dengan bentang 30 m hingga 120 m. Terdapat dua tipe JUDESA yaitu asimetris tunggal dan asimetris ganda. Penelitian ini mengkaji JUDESA asimetris ganda dengan bentang 120 m. Perubahan geometrik pada jembatan gantung memberi efek yang signifikan dalam aspek kekuatan struktur.  Pada penelitian ini diajukan alternatif konfigurasi batang penggantung dengan menggunakan dimensi dan mutu yang sama. Konfigurasi 1 menempatkan batang penggantung dengan jarak 2m sepanjang setengah bentang dan konfigurasi 2 menempatkan batang penggantung sepanjang bentang dengan jarak pisah 4m.  Pemodelan dan perencanaan jembatan gantung menggunakan SAP2000 ver.20. Dari hasil pemodelan dan pengecekkan, didapatkan konfigurasi model 2 menunjukan perilaku struktur yang lebih baik dengan beberapa parameter yang dijadikan acuan.Kata Kunci: jembatan gantung, asimetris ganda, konfigurasi batang penggantung ABSTRACTThe existence of the bridge is very helpful economic development of the population, because the connected one region with other areas. JUDESA (Jembatan Untuk Pedesaan Asimetris) is a suspention bridge that developed by Puslitbang Jalan Jembatan, designed to accommodate a tyipical bridge with span 30 m to 120 m. In this study will analysis double asymmetrical bridge with span 120 m. Changes of geometric have a significant effect on the suspention bridge. Type 1 have the configuration that hanger placed in every 2 m on the half-sapan. Type 2 have the configuration that hanger places ini every 4 m along the span. This suspention bridge modeling by used SAP2000 ver. 20. From the modeling and analysis, type 2 shows that configuration give the better structure performance with the parameter that used.Keywords: suspention bridge, double asymmetric, configuration of hanger
Studi Mengenai Perancangan Campuran Beton Abu Terbang dengan Pendekatan Blended Sand (Hal. 88-97) Nirwan, Reza Fauzi; Saelan, Priyanto
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 4, No 4: Desember 2018
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1083.29 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v4i4.88

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini dilakukan untuk mengetahui hasil perancangan campuran beton abu terbang yang mensubtitusi semen dengan cara pendekatan sand blended, yaitu abu terbang yang mensubtitusi semen diperlakukan sebagai agregat halus, sehingga agregat halus merupakan campuran dari pasir dan abu terbang. Penelitian dilakukan dengan kuat tekan rencana 20 MPa dan 30 MPa. Substitusi semen oleh abu terbang sebesar  10 %, 20 %, dan 30 % dari berat semen. Ukuran maksimum agregat kasar yang digunakan adalah 20 mm, dan pasir dengan modulus kehalusan 2,768, slump rencana 6 cm dan 10 cm. Hasil pengujian tekan silinder beton berdiameter 10 cm dan tinggi 20 cm menunjukkan bahwa kuat tekan beton abu terbang yang dihasilkan berdekatan dengan beton acuan yaitu beton tanpa abu terbang, untuk semua kadar abu terbang yaitu sampai dengan kadar subtitusi semen oleh abu terbang sebesar 30 %. Pendekatan sand blended dapat dilakukan dalam perancangan campuran beton abu terbang.Kata Kunci : beton abu terbang, kuat tekan, pasir blendedABSTRACTThis is research was performed to know the result of the test of fly ash concrete mix designed by sand blended method. Fly ash will be treated as fine aggregate so that the total fine aggregate is the consist of fly ash and sand. 20 MPa and 30 MPa concrete mix are designed for 10 %, 20 % and 30 % by weight of cement subtitution by fly ash. Concrete mix use 20 mm maximum aggregate size, finess modulus of sand 2.768, and 6 cm and  10 cm slump. Compressive strength tests of 10 cm diameter and 20 cm height cylinder showed that the stength of fly ash concrete is the same as the strength of initial concrete. Fly ash concrete mix can be designed by sand blended approximation.Keywords : fly ash concrete, compressive strength, blended sand
Studi Mengenai Hubungan antara Kelecakan dengan Faktor Air-Semen dan Kadar Air dalam Campuran Beton Cara SNI pada Kondisi Agregat Kering Udara (Hal. 43-53) Astanto, Dika Dwi; Saelan, Priyanto
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 4, No 4: Desember 2018
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (648.196 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v4i4.43

Abstract

ABSTRAKKelecakan campuran beton dapat didefinisikan sebagai tingkat kemudahan campuran beton untuk diaduk, diangkut, dituang, dan dipadatkan. Sifat kemudahan campuran beton untuk dikerjakan dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu jumlah air, faktor air-semen yang digunakan, jumlah agregat dalam campuran beton, dan ukuran butiran agregat serta gradasinya. Hubungan antara kelecakan dengan faktor air-semen, dan jumlah agregat yang digunakan tidak diperlihatkan dengan jelas pada perancangan campuran beton cara SNI. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian dengan mengacu kepada cara SNI dengan menggunakan agregat kering udara berukuran 10 mm, 20 mm, dan 40 mm serta faktor air-semen sebesar 0,40; 0,45; 0,50; 0,55; dan 0,60 dengan rentang nilai slump 3060 mm, dan 60180 mm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelecakan tidak dipengaruhi oleh faktor air-semen tetapi hanya dipengaruhi oleh jumlah air dan ukuran butiran agregat.Kata kunci: kelecakan, faktor air-semen, jumlah air ABSTRACTConcrete workability can be defined as the level of easiness of concrete mix to be mixed, transported, casted, and compacted. Workability is influenced by several factors, such as amount of water, water-cement ratio, aggregate amount in concrete mix, and the size and gradation of aggregate. The relation between concrete workability, water-cement ratio, and the amount of aggregate used is not clearly shown in SNI method. This research was carried out to prove whether or not workability is not influenced by water-cement ratio in SNI method. Experiments was carried out using air dry aggregates 10 mm, 20 mm, and 40 mm size, water-cement ratio used are 0.40; 0.45; 0.50; 0.55; and 0.60. Workability was designed in 3060 mm and 60180 mm slump. The results showed that workability in SNI method is not influenced by water-cement ratio but only influenced by the amount of water and maximum size of coarse aggregate.Keywords: workability, water-cement ratio, amount of water
Analisis Kebutuhan Pelat Injak pada Box Underpass Akibat Pengaruh Beban (Hal. 98-108) Satrio, Wibisono Bangun; Herbudiman, Bernardinus; Desmaliana, Erma
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 4, No 4: Desember 2018
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (763.885 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v4i4.98

Abstract

ABSTRAKUnderpass merupakan suatu bangunan terowongan termasuk sarana transportasi barang dan manusia. Underpass dibangun di bawah tanah untuk menghindari daerah/kawasan rawan kemacetan. Pada kasus tertentu, kebutuhan pelat injak dapat diabaikan keberadaanya pada struktur box underpass. Analisis dilakukan dengan membandingkan perilaku struktur dengan 2 kondisi yaitu kondisi 1 pelat tanpa timbunan dan kondisi 2 pelat injak yang tertimbun oleh tanah timbunan. Analisis dilakukan dengan perangkat lunak SAP2000. Intensitas beban mengacu pada pembebanan jembatan SNI 1725:2016. Variasi panjang untuk pelat injak yang digunakan 5 m, 6 m dan 7 m, variasi tebal pelat yaitu 30 cm, 35 cm dan 40 cm, serta pengaruh jarak spring yaitu 10 cm, 20 cm dan 30 cm. Dari penelitian, lendutan yang terjadi cenderung lebih besar pada kondisi 2 karena pengaruh beban SIDL yang besar, lendutan maksimum kondisi 1 dan 2 adalah 1,148 mm dan 1,486 mm. Perbedaan momen maksimum kondisi 1 dan 2 masing-masing 422,111 kN-m dan 309,883 kN-m. Gaya geser masing-masing sebesar adalah 259,634 kN dan 583,885 kN. Gaya-gaya yang terjadi pada kondisi 1 cenderung lebih besar dari pada kondisi 2.Kata kunci: pelat injak, tanah timbunan, distribusi beban ABSTRACTUnderpass is a tunnel building for transportation of goods and people. Underpasses are built underground to avoid areas / areas prone to congestion. In certain cases, requirement of approach slab may be ignored in structure of the underpass box. Analysis was done by comparing the behavior of the structure with 2 conditions, condition 1 with plate without soil embankment and the condition 2 approach slab is covered by soil embankment. Analysis was carried out with SAP2000. Load intensity refers to SNI 1725: 2016. Variation of length for approach slab used 5 m, 6 m and 7 m, variation of plate thickness are 30 cm, 35 cm and 40 cm, and influence of spring distance are 10 cm, 20 cm and 30 cm. From the research, deflection that occurred tends to be greater in condition 2 because influence of large SIDL loads, maximum deflection conditions 1 and 2 are 1.148 mm and 1.486 mm. Difference in maximum moment in conditions 1 and 2 is 422.111 kN-m and 309.888 kN-m. Respectively shear force is 259.634 kN and 583.885 kN. The forces that occur in condition 1 tend to be greater than conditions 2.Keywords:  approach slab,  soil  embankment, load distribution. 
Pengaruh Silica Fume sebagai Subtitusi Semen terhadap Nilai Resapan dan Kuat Tekan Mortar (Hal. 12-21) Sutriono, Bantot; Trimurtiningrum, Retno; Rizkiardi, Aditya
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 4, No 4: Desember 2018
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (571.934 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v4i4.12

Abstract

ABSTRAKBeton dan mortar banyak digunakan sebagai bahan konstruksi di seluruh dunia. Meningkatnya permintaan beton dan mortar juga meningkatkan permintaan semen di pasar yang berdampak negatif bagi lingkungan. Industri semen  menghasilkan sekitar 6 hingga 7 persen dari seluruh CO2 di seluruh dunia. Oleh karena itu, para peneliti mencoba mengembangkan gagasan tentangbeton ramah lingkungan, dengan mengurangi penggunaan semen dengan menggunakan bahan alternatif seperti silica fume. Silica fume adalah bahan pozzolan yang kaya akan silika dan dapat bereaksi kimia dengan kalsium hidroksida, membentuk gel kalsium silikat (CSH) pada beton. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki pengaruh silica fume sebagai pengganti parsial semen terhadap nilai resapan dan kekuatan tekan mortar. Persentase silica fume bervariasi 0%, 5%, 10%, 12% dan 15%. Hasil pengujian menunjukkan nilai resapan minimum adalah 3,276% diperoleh campuran dengan 15% silica fume dan kuat tekan maksimum 312,574 kg/cm2 diperoleh campuran dengan 8% silica fume.Kata kunci: silica fume, nilai resapan, kuat tekan, mortar ABSTRACTConcrete and mortar are widely used as contruction materials. The increasing demand of concrete and mortar also increase the demand of cement in the market which has negative impact for environment. The cement industry produced for approximately 6 to 7 percent of all CO2 worldwide. Therefore, the researches try to develop the idea of green concrete with reducing the utilize of cement with using the alternative materials such as silica fume. Silica fume is a pozzolanic material that contain rich of silica and has chemical reaction with calcium hydroxide forming calcium silicate hydrate (C-S-H) gel in concrete.The aimed of this research is to investigate the influence of silica fume as partial replacement of cement on absoption and compressive strength of mortar.The percentage of silica fume were varied from 0%, 5%, 10%, 12% and 15%. The test result showed that the minimum absorption value is 3.276% obtain from the mixture with 15% of silica fume and the maximum compressive strength is 312.574 kg/cm2 obtain from the mixture with 8% of silica fume.Keywords: Silica fume, absorption, compressive strength, mortar
Kajian Karakteristik Beton Memadat Sendiri yang Menggunakan Serat Ijuk (Hal. 54-65) Nurjamilah, Iis; Sihotang, Abinhot
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 4, No 4: Desember 2018
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (832.276 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v4i4.54

Abstract

ABSTRAKKajian karakteristik beton memadat sendiri yang menggunakan serat ijuk merupakan sebuah kajian yang dilakukan untuk mengetahui pengaruh penambahan serat ijuk terhadap karakteristik beton memadat sendiri (SCC). Beton memadat sendiri yang menggunakan serat ijuk (PFSCC) didesain memiliki campuran yang encer, bermutu tinggi (= 40 MPa) dan memiliki persentase kekuatan lentur yang lebih baik. PFSCC  didapatkan dari hasil pencampuran antara semen sebanyak 85%, fly ash 15%, superplastizicer 1,5%, serat ijuk 0%, 0,5%; 1%; 1,5%; 2% dan 3% dari berat binder (semen + fly ash), kadar air 190 kg/m3, agregat kasar 552,47 kg/m3 dan pasir 1.063 kg/m3. Semakin banyak persentase penambahan serat ijuk ke dalam campuran berdampak terhadap menurunnya workability beton segar. Penambahan serat ijuk yang paling baik adalah sebanyak 1%, penambahan tersebut dapat meningkatkan kekuatan tekan beton sebesar 13% dan lentur sebesar 1,8%.Kata kunci: beton memadat sendiri (SCC), beton berserat, beton memadat sendiri yang menggunakan serat ijuk (PFSCC), serat ijuk ABSTRACTThe study of characteristics self compacting concrete using palm fibers is a study conducted to determine the effect of adding palm fibers to characteristics of self compacting concrete (SCC). palm fibers self compacting concrete (PFSCC) is designed to have a dilute mixture, high strength (= 40 MPa), and have better precentage flexural strength. PFSCC was obtained from mixing of 85% cement, 15% fly ash, 1.5% superplastizicer, 0%, 0.5%, 1%, 1.5%, 2% and 3% palm fibers from the weight of binder  (cement + fly ash), water content 190 kg/m3, coarse aggregate 552.47 kg/m3 and sand 1,063 kg/m3. The more persentage palm fibers content added to the mixture makes workability of fresh concrete decreases. The best addition of palm fiber is 1%, this addition can increases the compressive strength 13% and flexural strength 1.8%.Keywords: self compacting concrete (SCC), fiber concrete, Palm fiber self compacting concrete (PFSCC), palm fiber
Studi Mengenai Batasan Maksimum Kadar Volume Pasir dalam Campuran Beton Cara SNI (Hal. 109-117) Gunawan, Gugum; Saelan, Priyanto
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 4, No 4: Desember 2018
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.31 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v4i4.109

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini dilakukan untuk mengetahui batasan maksimum volume pasir yang harus ditingkatkan agar kuat tekan beton tercapai tanpa merubah rentang kelecakan pada cara SNI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar maksimum volume pasir untuk  0,40, slump 30 mm – 60 mm adalah 0,143 m3 untuk modulus kehalusan pasir (FM) 1,5; 0,169 m3 untuk FM 2,0; 0,201 m3 untuk FM 2,50; 0,253 m3 untuk FM 3,0; 0,304 m3 untuk FM 3,50; untuk slump 60 mm – 180 mm adalah 0,281 m3 untuk FM 1,50; 0,282 m3 untuk FM 2,0; 0,313 m3 untuk FM 2,50; 0,316 m3 untuk FM 3,0; 0,376 m3 untuk FM 3,50. Untuk w/c 0,50, slump 30 mm-60 mm adalah 0,163 m3 untuk FM 1,5; 0,184 m3 untuk FM 2,0; 0,224 m3 untuk FM 2,50; 0,278 m3 untuk FM 3,0; 0,332 m3 untuk FM 3,50; untuk slump 60 mm – 180 mm adalah 0,289 m3 untuk FM 1,50; 0,321 m3 untuk FM 2,0; 0,321 m3 untuk FM 2,50; 0,322 m3 untuk FM 3,0; 0,386 m3 untuk FM 3,50.Kata kunci: volume pasir, SNI, FM ABSTRACTThis research is performed to know maximum sand volume may be increased in other that the strength of concrete is achieved without changing range of workability in concrete mix. The results of tests showed that maximum sand volume  for  0,40 and 30 mm – 60 mm slump are 0,143 m3 to finess modulus (FM) 1,5; 0,169 m3 to FM 2,0; 0,201 m3 to FM 2,50; 0,253 m3 to FM 3,0; 0,304 m3 to FM 3,50; and 60 mm – 180 mm slump are 0,281 m3 to FM 1,50; 0,282 m3 to FM 2,0; 0,313 m3 to FM 2,50; 0,316 m3 to FM 3,0; 0,376 m3 to FM 3,50. For   0,50, 30 mm – 60 mm slump are 0,163 m3 to FM 1,5; 0,184 m3 to FM 2,0; 0,224 m3 to FM 2,50; 0,278 m3  FM 3,0; 0,332 m3 to FM 3,50; and 60 mm – 180 mm slump are 0,289 m3 to FM 1,50; 0,321 m3 to FM 2,0; 0,321 m3 to FM 2,50; 0,322 m3 to FM 3,0; 0,386 m3 to FM 3,50.Keywords: volume of sand, SNI, FM

Page 1 of 3 | Total Record : 24