cover
Contact Name
Dewi Susanna
Contact Email
jurnalkesmas.ui@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalkesmas.ui@gmail.com
Editorial Address
G301 Building G 3th Floor Faculty of Public Health Universitas Indonesia Kampus Baru UI Depok 16424
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional (National Public Health Journal)
Published by Universitas Indonesia
ISSN : 19077505     EISSN : 24600601     DOI : https://doi.org/10.7454/kesmas
Core Subject : Health,
The focus of Kesmas is on public health as discipline and practices related to preventive and promotive measures to enhance the public health through a scientific approach applying a variety of technique. This focus includes areas and scopes such as Biostatistics, Environmental Public Health, Epidemiology, Health Policy, Health Services Research, Nutrition, Occupational Health and Industrial Hygiene, Public Health, Public Health Education and Promotion, Women Health.
Articles 928 Documents
Sistem Manajemen Mutu dan Keamanan Pangan pada Perusahaan Jasa Boga Rina, Ananta
Kesmas Vol. 2, No. 6
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan pangan jasa boga yang tinggi (31%) menjadi semakin penting dan perlu mendapat perhatian serius. Masyarakat yang semakin sadar menuntut jaminan mutu dan keamanan pangan yang semakin tinggi. Penelitian ini bertujuan menilai penerapan Sistem Manajemen Mutu pada perusahaan jasa boga perusahaan yang diteliti. Metoda yang digunakan mengacu pada sistem manajemen PDCA ( Plan – Do – Check – Action ), penerapan Sistem Manajemen Mutu ( ISO 9001) dan Sistem Keamanan Pangan ( HACCP dan ISO 22000). Sistem tersebut mencakup unsur- unsur pengendalian bahaya potensial dan parameter kritis aktifitas penyediaan rantai makanan (food chain), kesesuaian produk dan jasa yang terintegrasi ke dalam kegiatan operasional suatu perusahan jasa boga. Prinsip-prinsip tersebut disusun dalam suatu model Sistem Manajemen Mutu dan Keamanan Pangan terpadu kegiatan penyediaan makanan perusahaan Jasa Boga. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa Sistem Manajemen Mutu perusahaan jasa boga perusahaan yang diteliti telah diterapkan dalam proses penerimaan bahan baku, penyimpanan, produksi dan pelayanan. Penetapan dan pelaksanaan Hazard Analysis Critical Control Point pada proses penerimaan bahan baku, penyimpanan, produksi dan pelayanan belum diterapkan sesuai standar HACCP dan ISO 22000. Sistem Manajemen Mutu dan Keamanan Pangan ( SM2KP) dapat diterapkan dengan efektif dan terpadu karena proses pengendalian yang dilakukan sesuai standar yang dapat diterima, diterapkan dan sesuai dengan kondisi, kebutuhan dan bisnis. The high frequency of food poisoning outbreak in catering service (31%) become more important and need more attention. People become more aware to the food safety and demand for serious attention to the problem. The study objective is to evaluate the application of Quality Management System (QMS) in food catering service. The method used in this study referred to PDCA (Plan–Do–Check–Action), application of QMS (ISO 9001) and food safety system (HACCP and ISO 22000). The system includes components of potential hazard control and critical parameter of food chain supply, and the apropriateness of product and services integrated to operational activity of catering service. The study reveals that QMS has been implemented in materials procurement, storage, production, and service. However, HACCP and ISO 22000 had not been fully standardized in implementation. Control process is important to implement Food Safety and Quality Management Syatem (SM2KP) in an effective and integrated way.
Perilaku Makan Menyimpang pada Remaja di Jakarta Tantiani, Trulyana; Syafiq, Ahmad
Kesmas Vol. 2, No. 6
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu transisi gaya hidup yang terjadi adalah perubahan perilaku makan yang paling berdampak pada kaum perempuan untuk terlihat cantik dengan berdiet berlebihan yang menjurus pada Perilaku Makan Menyimpang (PMM). Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui penyebab, mekanisme, dan proses terjadinya PMM dari persepsi penderita. Desain penelitian yang digunakan adalah kualitatif dan kuantitatif. Penelitian kualitatif dilakukan pada 3 informan yang pernah mengalami PMM. Penelitian kuantitatif, dilakukan pada 397 responden yang belum mengalami PMM. Waktu pengambilan data adalah bulan Mei-Juni 2007 dengan menggunakan metode wawancara mendalam untuk penelitian kualitatif dan wawancara terstruktur menggunakan kuesioner dari Sarafino dari Stice untuk penelitian kuantitatif. Studi kualitatif menemukan bahwa semua informan bermasalah dengan anggota keluarganya, terdapat pengaruh pola asuh keluarga yang cukup besar, memiliki citra tubuh dan konsep diri yang terdistorsi, dan berada di lingkungan yang tidak mendukung orang gemuk. Hasil penelitian kuantitatif menemukan prevalensi PMM yang terjadi di Jakarta dengan kuasioner Sarafino adalah 37,3% dan prevalensi anoreksia nervosa dengan kuesioneri Stice adalah 11,6 % dan prevalensi kecenderungan bulimia nervosa adalah 27%. One of the life style changes that occur recently is related to eating behavior that affect mostly women because of the desire to look beautiful with a thin and tall body. One way to achieve this figure is to strictly go on dieting which could lead to eating disorders. The objective of this research is to understand the cause, mechanism, and process of eating disorders. The methods in this research are both qualitative and quantitative. The subjects of the qualitative research are three persons who are willing to be the subject and have a past history of eating disorders. The quantitative subjects are 397 respondents that have not been diagnosed with eating disorders. The research was held at May-June 2007. The information are gathered through in-depth interview for the qualitative research and by through self report questionnaire for the quantitative research. The result from qualitative research shows that all of the subjects have problems with their family, the parenting practice have a big influence in their life, they also have a distorted body image and poor self-concept, and they are living in an environment that have a negative behavior towards overweight problems. The quantitative research shows that using Sarafino questionnaire, there are 37.3% adolescents who have a tendency toward eating disorders. Using the Stice and Telch questionnaire, there are 11.6% adolescents that have a tendency towards anorexia nervosa, and 27.0% adolescents that have a tendency towards bulimia nervosa.
Perilaku Cuci Tangan Sebelum Makan dan Kecacingan pada Murid SD di Kabupaten Pesisir Selatan Sumatera Barat Umar, Zaidina
Kesmas Vol. 2, No. 6
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di Indonesia penyakit cacingan tersebar luas di pedesaan dan di perkotaan dengan prevalensi semua umur 40%-60% dan murid SD 60-80%. Survei Depkes RI di 10 propinsi di Indonesia menemukan prevalensi kecacingan di Kabupaten Pesisir Selatan tahun 2003 (85, 8%) dan tahun 2005 (51,4% ) lebih tinggi dari kabupaten lain. Angka infeksi kecacingan tinggi dipengaruhi oleh kebersihan diri, sanitasi lingkungan dan kebiasaan penduduk. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan perilaku cuci tangan dengan kejadian kecacingan pada murid SD Kabupaten Pesisir Selatan. Penelitian dengan desain cross sectional ini menggunakan data sekunder hasil survei kecacingan Depkes RI tahun 2005, jumlah sampel 257 orang. Diagnosis penyakit kecacingan ditegakkan berdasarkan pemeriksaan telur cacing pada tinja dengan metode Katto-Katz. Hasil penelitian menunjukan perilaku cuci tangan memakai air dan sabun sebelum makan terbukti berhubungan bermakna dengan kejadian kecacingan (OR=2,35, 95% CI=1,40-3,94), variabel lain yang berhubungan bermakna adalah perilaku BAB tidak dijamban dengan nilai OR = 2,64 (95%CI=1,46-4,77) dan perilaku jajan bukan di warung sekolah (OR =1,96 (95% CI=1,06-3,65). Murid SD dan masyarakat disarankan mencuci tangan sebelum makan dengan air dan sabun. Di samping pengobatan, perlu dilakukan penyuluhan kesehatan dan peningkatan PHBS pada murid dengan pemeriksaan berkala perilaku dan kebersihan diri di sekolah. In Indonesia, helminth infection spread out at rural and urban community with prevalence at elementary school of 60% - 80% and for all age of 40%-60%. Helminths prevalence in Pesisir Selatan district is higher than that of other districts which was 85, 8 % on 2003 and 51,4 on 2005. Helmints infection depends on personal hygiene, environmental sanitation and residential habit. The objective of the this study is to know relationship between hand washing behaviour before eating with helminths occurrence among elementary school students in Pesisir Selatan. This research uses cross sectional design, using secondary data of helminths survey of Ministry of Health RI on 2005, with total sample of 257 students. Helminths disease diagnosis was based on laboratory examination of helminth eggs in human feces using Katto-Katz methods. Research’s results showing that hand washing behaviour before eating is related to helminths occurrence (OR= 2,35, 95% CI = 1,40-3,94), other variables with statistically significant relationship to helminths occurrence is defecation behavior not at the toilet (OR = 2,64; (95% CI OR =1,46-4,77) and eating snacks in small shop at school (OR= 1,96 ;95% CI=1,06-3,65). It is recommended to elementary school student and society to familiarize to hand washing before eating with water and soap. In order to prevent and eradicate helminths disease, beside curative effort, there is a need to do health counseling about healthy and clean living (PHBS), undertaking periodical evaluation on behaviour and personal hygiene of student at school.
Usia Menarche pada Siswi SD dan SLTP di Kota Bandung Aryati, Dian
Kesmas Vol. 2, No. 6
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Secara global, kesehatan reproduksi mendapat perhatian yang berbeda sejak konverensi internasional Demografi (International Conference on Demography) (ICPD) di Kairo pada tahun 1994. Tahap seksual remaja diinisiasi oleh pertumbuhan lengkap pada organ reproduksi yang mengantarkan seorang wanita pada menstruasi. Selama bertahun-tahun, usia menarche telah menurun yang dipengaruhi oleh faktor biologi dan lingkungan. Penurunan usia menarche berakibat pada peningkatan kehamilan yang tidak diharapkan yang disebabkan oleh aktivitas seksual sebelum menikah. Hal tersebut dapat meningkatkan tindakan abortus dan penyakit menular seksual pada remaja dan kelainan ingestion. Penelitian ini bertujuan mengetahui berbagai faktor yang berhubungan dengan usia menarche pada remaja. Penelitian dengan desain studi kross sectional ini dilakukan pada siswi kelas lima sekolah dasar sampai kelas satu sekolah lanjutan pertama di kota Bandung, pada tahun 2007. Ditemukan bahwa persentase lemak tubuh rata-rata para responden adalah 22.9%. Status nutrisi adalah 18.7%, rerata usia menarche adalah 11, 61 tahun dan rerata usia menarche ibu rata-rata adalah 12.96 tahun. Persentase lemak tubuh merupakan faktor dominan yang mempengaruhi umur menarche. Ada dua variabel yang terdeteksi memenuhi kriteria kandidat model multivariat yaitu persentase lemak tubuh (nilai p = 0,002 ;) dan status nutrisi ( nilai p = 0,015). Namun, hasil analisis multivariat hanya memperlihatkan persentase lemak tubuh yang berhubungan dengan usia menarche (nilai-p = 0,002 : OR = 4,957). Untuk menghindari dampak peningkatan usia menarche, pendidikan kesehatan reproduksi pada remaja sebaiknya dimulai dari sekolah dasar dan diawasi oleh sekolah, orang tua, dan pemerintah. Globally, reproduction health received particular attention since International Conference on Demography (ICPD) in Cairo 1994. Sexual stages on teenager are initiated by completion of reproductive organ which leads to menstruation on girl. For years, menarche age has decreased due to biological and environmental factors. The acceleration of menarche age has consequence in increasing unexpected pregnancy caused by pre-marital sexual activity and thus increasing abortion and sexually transmitted diseases on teenagers as well as ingestion disorder. This research is to reveal which factors related to menarche age among fifth grade elementary school until first grade junior high school students. Quantitative cross sectional method is used in this research. As the result, body fat percentage of respondents is 22.89% in average. Nutrition status is 18.7%, menarche age of the respondents is 11.61 years old, menarche age of the relatives is 12.96 years old and menarche age of the mothers is 12.96 years old in average. Body fat percentage is a dominant factor which influences menarche age. Early reproductive health education on teenager should be started from elementary school and supervised by schools, parents, and goverment to avoid the impact of menarche age acceleration. Based on bivariate analysis result, there are two related variables, body fat percentage ( p value = 0,002 ; OR 4,957) and nutrition status ( p value = 0,015 : OR 3,767). Meanwhile, multivariate analysis result only showed body fat percentage which is significantly related (p value = 0,002 : OR 4,957).
Pengembangan dan Aplikasi Sistem Informasi Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) di Kabupaten Purwakarta Johari, Johari
Kesmas Vol. 2, No. 5
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pencapaian kegiatan Usaha Kegiatan Sekolah dari Standar Pelayanan Minimal di Kabupaten Purwakarta, tahun 2005 masih jauh dibawah target standar pelayanan minimal secara nasional. Cakupan tersebut meliputi deteksi dini tumbuh kembang anak balita dan prasekolah (74,57%), pemeriksaan kesehatan siswa oleh tenaga terlatih (61,82%) pelayanan kesehatan remaja (51,17%). Penelitian ini bertujuan membangun sistem informasi UKS di Kabupaten Purwakarta dalam upaya mendukung pelaksanaan manajemen UKS Metode yang digunakan berdasarkan System Development Life Cycle (SDLC) yang meliputi tahap perencanaan, analisis, perancangan dan implementasi sistem/ uji coba prototype. Pengumpulan data dan informasi dilakukan melalui wawancara mendalam, telah dokumen dan observasi. Unit kerja yang menjadi obyek penelitian adalah Dinas kesehatan, Puskesmas Jatiluhur, Puskesmas Campaka dan Puskesmas Plered di Kabupaten Purwakarta. Penelitian ini menghasilkan prototipe Sistem Informasi Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) di Kabupaten Purwakarta yang membantu pelaksanaan manajemen UKS sehingga dapat meningkatkan kualitas laporan dan pencapaian kegiatan UKS. Untuk dapat berjalan baik dan sinambung, pelaksanaan sistem informasi ini membutuhkan komitmen dan kebijakan yang kuat, aturan organisasi pelaksana yang jelas, motivasi pelaksana yang kuat dan dukungan dana yang sinambung. The coverage of Health School Program (Usaha Kegiatan Sekolah/UKS) in Purwakarta District in 2005 was far below the target of national Minimal Service Standar. The indicators include early detection of growth and development of underfives and pre-schoolers (74.57%), students health examination by health personnel (61.82%), and teenagers health service (51.17%). This study aimed at developing information system of UKS in Purwakarta district to support the implementation of UKS management. Method used was based on System Development Life Cycle (SDLC) including planning, analysis, design, and system implementation/prototype testing. Data and information collection was done through in-depth interview, document review, and observation. Working unit being study object was Health Office, jatiluhur, Campaka, and Plered Health Centers, all located in Purwakarta district. This study resulted in prototype of UKS system that support the implementation of UKS management as to improve the quality of report and UKS coverage. To run well and to be sustained, this information system needs commitment and strong policy, clarity in rules and regulations, high motivation of personnel, and continuous fund suppport.
Faktor Determinan Aktivitas Kholinesterase Darah Petani Holtikultura di Kabupaten Majalengka Ruhendi, Dedi
Kesmas Vol. 2, No. 5
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kholinesterase darah merupakan salah satu indikator keracunan pestisida yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, khususnya diwilayah pertanian. Pada tahun 2005, di Kabupaten Majalengka, hasil pemeriksaan mendapatkan angka keracunan ringan (21,7%) keracunan sedang (32,5%) dan keracunan berat (3,6%) Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji berbagai faktor determinan aktivitas kholinesterase darah pada petani penyemprot hama tanaman holtikultura. Penelitian yang menggunakan desain potong lintang dengan sumber data sekunder hasil pemeriksaan aktivitas kholinesterase darah yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Majalengka tahun 2007. Variabel dominan yang berhubungan dengan aktivitas kholinesterase menggunakan analisis multivariat adalah riwayat terakhir menyemprot (OR=9,613, 95% CI=2,906 -31,799), memakai Alat Pelindung Diri (APD) baju lengan panjang (OR=8,872, 95% CI=2,006-39,232), Mandi secara baik (OR=5,446, 95% CI=1,266-23,417), Merokok waktu menyemprot (OR=4,641, 95% CI=1,717-12,546), riwayat pelatihan/penyuluhan (OR=3,217, 95% CI=1,466-7,059), posisi menyemprot terhadap arah angin (OR=2,550, 95% CI OR =1,169-5,564) dan umur responden (OR=0,416, 95% CI OR =0,190-0,911). Disarankan agar setiap petani menyemprot hanya tiga minggu sekali, dengan sistem kelompok dan bergantian. Meningkatkan frekuensi pelatihan/penyuluhan bagi para petani secara terpadu di wilayah kerja puskesmas, dengan materi pokok peningkatan hidup bersih dan sehat, pajanan pestisida ke dalam tubuh manusia, penanganan pestisida, penggunaan APD dan upaya pencegahan dan penanggulangan keracunan pestisida. Blood cholinesterase is an indicator of pesticide intoxication which is still a threat to public health, especially in agriculturural areas. In 2005, in Majalengka district, study found rates of mild intoxiciation (21.7%), moderate intoxication (32.5%), and heavy intoxication (3.6%). This research aims at investigating determinant factors of blood cholinesterase activity among horticulture sprayer farmers. The study employed cross-sectional design with blood cholinesterase activity test results conducted by Majelengka Health Office in 2007 as secondary data. Dominant variables related to cholinesterase activity found in multivariate analysis were spraying history (OR=9.613, 95% CI=2.906-31.799), using long sleeve self protective wear (OR=8.872, 95% CI=2.006-39.232), proper shower (OR=5.446, 95% CI=1.266-23.417), smoking during spraying (OR=4.641, 95% CI=1.717-12.546), history of training/extension (OR=3.217, 95% CI=1.466-7.059), spraying position against wind (OR=2.550, 95% CI =1.169-5.564) and age (OR=0.416, 95% CI OR =0.190-0.911). It is recommended to spray once in three weeks and not more, employing group work and shifting method; increasing frequency of training/extension in an integrated way within working área of Health Center by inserting materials on clean and healthy lifestyle, pesticide exposure, pesticide handling, the use of self protective wear, and prevention and handling pesticide intoxication.
Malaria Pasca Tsunami di Pulau Weh Siahaan, Lambok; Yuniarti, Titik
Kesmas Vol. 2, No. 5
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bencana tsunami melanda Nanggroe Aceh Darussalam pada tanggal 26 Desember 2004, selain meningkatkan kejadian luar biasa (KLB) malaria juga memunculkan daerah-daerah endemis malaria. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan prevalensi penderita malaria di Pulau Weh, pasca Tsunami pada akhir 2004. Penelitian dilakukan secara ‘cross sectional’. Diagnostik malaria ditegakkan berdasarkan pemeriksaan apusan darah (mikroskopik). Ditemukan penurunan kasus malaria di Pulau Weh. Prevalensi penderita malaria yang diperoleh adalah 15,3%. Dari semua penderita malaria, 41,4% tanpa gejala klinis demam. Penderita yang tidak mengalami gejala klinis demam tersebut, umumnya mempunyai gejala klinis badan pegal, pusing, gangguan pencernaan dan lemas. Penurunan prevalensi malaria dalam penelitian ini dapat saja terjadi oleh karena perbedaan cara dalam menetapkan diagnosa dan waktu pengambilan data yang tidak dilakukan pada “musim malaria”. Tsunami disaster that occured in Nanggroe Aceh Darussalam on 26 December 2004, has increased malaria outbreak and emerged new malaria endemic areas. The study was conducted to obtain malaria prevalence after tsunami in Weh island. The design used in this study is cross-sectional. Malaria was diagnosed through blood examination (microscopic). The study found reducing malaria cases in Weh Island. The prevalence of malaria in this study was 15.3%. Among all malaria patients, there were 41.4% who did not get fever. Those without fever, usually suffered from myalgia, headache. Abdominal discomfort and weakness. The decrease malaria prevalence in this study could be caused by either differences in diagnostic method or timing of data collection.
Kontaminasi Air dan Infeksi Amuba Asimptomatik pada Anak Usia Sekolah di Kampung Melayu Jakarta Timur Agustina, Hera
Kesmas Vol. 2, No. 5
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di kelurahan Kampung Melayu, penyakit infeksi amuba menempati urutan 9 dari 10 besar penyakit di wilayah tersebut. Diduga di sana banyak terdapat kasus infeksi amuba asimptomatik yang dapat menular ke orang lain akibat kondisi sanitasi lingkungan dan higiene yang buruk. Penelitian ini bertujuan untuk menilai hubungan antara kontaminasi air oleh E.histolytica dengan kejadian infeksi amuba asimptomatik pada anak usia sekolah. Penelitian dengan desain penelitian case control ini dilakukan terhadap 46 kasus dan 46 kontrol. Data dikumpulkan melalui pemeriksaan laboratorium, wawancara dan observasi. Analisa data dengan metode distribusi frekuensi, uji chi square dan regresi logistik. Prevalensi kejadian infeksi amuba asimptomatik dengan pemeriksaan antigen E.histolytica pada tinja anak usia sekolah adalah 9,6 %. Faktor yang berhubungan dengan kejadian infeksi amuba asimptomatik pada anak usia sekolah adalah sarana sanitasi (jamban) dengan OR=5,271 (95% CI: 1,753 – 15,855) dan kebiasaan cuci tangan dengan OR=2,438 (95% CI: 1.051 – 5,654). Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan untuk membangun sarana jamban umum dan pribadi yang memenuhi syarat. Meningkatkan penyuluhan pada orang tua, anak usia sekolah, guru SD, kader dan tokoh masyarakat tentang penyakit infeksi amuba dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Juga memberi pengobatan pada anak usia sekolah yang antigen E. histolytica positif pada tinja. In Kampung Melayu sub district, amoeba infection ranked ninth among 10 major diseases in the area. It was estimated that many asymptomatic amoeba infections occurred due to poor environment sanitation and hygiene. This study objective was to assess the relationship between water contamination of E. histolytica and asymptomatic amoeba infection among school children. The design of the study was case-control with equal number of cases and controls of 46 children. Data was collected through laboratory test, interview, and observation. Data was then analyzed using frequency distribution method, chi-square test, and logistic regression. The prevalence of asymptomatic amoeba infection obtained from fecal E. histolytica antigen test was 9.6%. Factors relating to the infection including sanitation facility (latrine) with OR=5.271 (95% CI: 1.753–15.855) and hand washing practice with OR=2.438 (95% CI: 1.051–5.654). Based on this study, it is recommended to build public and private latrine that fulfilled hygiene and sanitation requirement. It is also recommended to increase education to parents, children, teachers, and informal leaders on asymptomatic amoeba infection and its determinant factors as well as to cure children with positive fecal E.histolytica antigen.
Lingkungan Rumah dan Kejadian Difteri di Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Garut Kartono, Basuki
Kesmas Vol. 2, No. 5
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri yang terjadi di Kabupaten Tasikmalaya (55 kasus dan 15 meninggal) dan Kabupaten Garut (17 kasus dan 2 meningal, CFR = 11,76%, AR = 1,5%). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lingkungan rumah dengan kejadian difteri pada Kejadian Luar Biasa difteri tersebut. Penelitian dengan desain kasus kontrol dengan kasus adalah anak usia 1 – 15 tahun penderita atau karier difteri berdasarkan hasil diagnosis klinis dan pemeriksaan laboratorium. Kontrol adalah anak usia 1 – 15 tahun yang bukan penderita atau karier. Pengumpulan data dilakukan wawancara terstruktur pada ibu anak pada kelompok kasus dan kelompok kontrol dengan menggunakan kuesioner. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa variabel kepadatan hunian ruang tidur (nilai p = 0,003, OR = 15,778), kelembaban dalam rumah (nilai p = 0,041, OR = 18,672), jenis lantai rumah (nilai p = 0,003, OR = 15,790), sumber penularan (nilai p = 0,001, OR = 20,821), status imunisasi (nilai p = 0,000, OR = 46,403) dan pengetahuan ibu (nilai p = 0,007, OR = 9,826) berhubungan bermakna dengan kejadian difteri. Faktor yang paling dominan mempengaruhi kejadian difteri adalah status imunisasi, DPT dan DT yang tidak lengkap (OR = 46,403 ). Disarankan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Garut agar lebih meningkatkan pencapaian imunisasi lengkap DPT ataupun DT. Di samping meningkatkan pengetahuan tentang imunisasi dan penyakit difteri kepada ibu-ibu dan peningkatan kualitas lingkungan rumah. The recent diphtheria outbreak occurred in Tasikmalaya and Garut Districts caused 55 cases and 15 deaths in Tasikmalaya and 17 cases and 2 deaths in Garut had CFR of 11.76% and AR of 1.5%. This study aimed at investigating the relationship between house environment and that diphtheria outbreak. The study has case-control design with case is defined as child aged 1-15 years old who had diphtheria or act as diphtheria carrier based on clinical diagnostic and laboratory test. Control is defined as child with similar age range to cases without diphtheria and non-carrier. Data was collected through structured interview to the mothers of subject using questionnaire. The multivariate analysis showed that bedroom density (p=0.003, OR=15.778), humidity level in the house (p=0.041, OR=18.672), type of house floor (p=0.003, OR=15.790), source of infection (p=0.001, OR=20.821), immunization status (p=0.000, OR=46.403) and mother’s knowledge (p=0.007, OR=9.826) are significantly related to diphtheria outbreak. The most dominant factor is incomplete DPT and DT immunization status (OR=46.403 ). It is suggested that Health Offices in Tasikmalaya and Garut districts to increase their complete DPT and DT immunization coverage, to increase knowledge on immunization and diphtheria among mothers and to improve the house environment quality.
Kesehatan dan Pembangunan Sumber Daya Manusia Notoatmodjo, Soekidjo
Kesmas Vol. 2, No. 5
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebagai aset utama pembangunan bangsa, sumber daya manusia selalu dijadikan tolak ukur keberhasilan kualitas pembangunan suatu bangsa. Indonesia berada di urutan 111 dari 176 negara-negara di dunia, atau urutan ke 6 dari 10 negara-negara Asia Tenggara (Asean). Artikel ini bertujuan untuk membahas berbagai aspek ketertinggalan bangsa Indonesia di bidang kesehatan serta upaya untuk memperbaikinya. Metoda yang digunakan adalah kajian yang rasional melalui tinjauan pustaka dan pemikiran yang logis. Untuk mengejar ketinggalan di bidang kesehatan perlu dilakukan perubahan pradigma dari “health for survival” yang berorientasi pada orang sakit dan mengutamakan kuratif dan rehabilitatif kepada “heath for human development” yang mengutamakan orang sehat yang berorientasi pada promotif dan preventif. Aset utama bangsa meliputi sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM). Namun, sumberdaya manusia berperan lebih menentukan karena peranannya dalam mengelola sumber daya alam. Dalam pembangunan bangsa aspek kualitas lebih penting daripada kuantitas yang telah menempatkan bangsa Indonesia peringkat keempat terbesar di dunia, setelah India, Cina dan Amerika Serikat. Urutan Indonesia yang jauh di bawah Singapura, Jepang dan Korea membuktikan bahwa kualitas sumber daya manusia Indonesia masih rendah. As the main asset of national development, human resource is always used as success indicator of quality development in the country. Indonesia ranked in position 111 out of 176 countries in the world, ranked number 6 out of 10 Southeast Asian (ASEAN) countries. This article aimed at discussing aspects relating to the slow and under development of health sector and efforts to accelerate it. Method used is rational review through literature review and logical thinking. To catch up health sector under development, there is a need for paradigm change from “health for survival” which is oriented toward sick people and prioritizing curative and rehabilitative approaches to “health for human development” which is oriented toward healthy people and prioritizing promotive and preventive approaches. Main assets of a nation include natural resources and human resources, however, human resources is deemed more important due to its role to manage the natural resources. In national development, quality is more important than quantity. Quantitatively, Indonesia ranked fourth after India, China, and USA as the most populated countries, but in term of rank of development index, Indonesia is positioned far below Singapore, Japan, and Korea which are less populated an inarguable evidence of low quality of Indonesia’s human resources.

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 20, No. 5 Vol. 20, No. 3 Vol. 20, No. 2 Vol. 20, No. 1 Vol. 19, No. 5 Vol. 19, No. 4 Vol. 19, No. 3 Vol. 19, No. 2 Vol. 19, No. 1 Vol. 18, No. 5 Vol. 18, No. 4 Vol. 18, No. 3 Vol. 18, No. 2 Vol. 18, No. 1 Vol. 17, No. 5 Vol. 17, No. 4 Vol. 17, No. 3 Vol. 17, No. 2 Vol. 17, No. 1 Vol. 16, No. 5 Vol. 16, No. 4 Vol. 16, No. 3 Vol. 16, No. 2 Vol. 16, No. 1 Vol. 15, No. 5 Vol. 15, No. 4 Vol. 15, No. 3 Vol. 15, No. 2 Vol. 15, No. 1 Vol. 14, No. 2 Vol. 14, No. 1 Vol. 13, No. 4 Vol. 13, No. 3 Vol. 13, No. 2 Vol. 13, No. 1 Vol. 12, No. 4 Vol. 12, No. 3 Vol. 12, No. 2 Vol. 12, No. 1 Vol. 11, No. 4 Vol. 11, No. 3 Vol. 11, No. 2 Vol. 11, No. 1 Vol. 10, No. 4 Vol. 10, No. 3 Vol. 10, No. 2 Vol. 10, No. 1 Vol. 9, No. 4 Vol. 9, No. 3 Vol. 9, No. 2 Vol. 9, No. 1 Vol. 8, No. 8 Vol. 8, No. 7 Vol. 8, No. 6 Vol. 7, No. 12 Vol. 7, No. 11 Vol. 7, No. 10 Vol. 8, No. 5 Vol. 8, No. 4 Vol. 8, No. 3 Vol. 8, No. 2 Vol. 8, No. 1 Vol. 7, No. 9 Vol. 7, No. 8 Vol. 7, No. 7 Vol. 7, No. 6 Vol. 7, No. 1 Vol. 7, No. 5 Vol. 7, No. 4 Vol. 7, No. 3 Vol. 7, No. 2 Vol. 6, No. 6 Vol. 6, No. 5 Vol. 6, No. 4 Vol. 6, No. 3 Vol. 6, No. 2 Vol. 6, No. 1 Vol. 5, No. 6 Vol. 5, No. 5 Vol. 5, No. 4 Vol. 5, No. 3 Vol. 5, No. 2 Vol. 5, No. 1 Vol. 4, No. 6 Vol. 4, No. 5 Vol. 4, No. 4 Vol. 4, No. 3 Vol. 4, No. 2 Vol. 4, No. 1 Vol. 3, No. 6 Vol. 3, No. 5 Vol. 3, No. 4 Vol. 3, No. 3 Vol. 3, No. 2 Vol. 3, No. 1 Vol. 2, No. 6 Vol. 2, No. 5 Vol. 2, No. 4 Vol. 2, No. 3 Vol. 2, No. 2 Vol. 2, No. 1 Vol. 1, No. 6 Vol. 1, No. 5 Vol. 1, No. 4 Vol. 1, No. 3 Vol. 1, No. 2 Vol. 1, No. 1 More Issue