cover
Contact Name
Dewi Susanna
Contact Email
jurnalkesmas.ui@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalkesmas.ui@gmail.com
Editorial Address
G301 Building G 3th Floor Faculty of Public Health Universitas Indonesia Kampus Baru UI Depok 16424
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional (National Public Health Journal)
Published by Universitas Indonesia
ISSN : 19077505     EISSN : 24600601     DOI : https://doi.org/10.7454/kesmas
Core Subject : Health,
The focus of Kesmas is on public health as discipline and practices related to preventive and promotive measures to enhance the public health through a scientific approach applying a variety of technique. This focus includes areas and scopes such as Biostatistics, Environmental Public Health, Epidemiology, Health Policy, Health Services Research, Nutrition, Occupational Health and Industrial Hygiene, Public Health, Public Health Education and Promotion, Women Health.
Articles 928 Documents
Studi Kualitatif : Pelayanan Rujukan Asfiksia Bayi Baru Lahir di Kabupaten Cirebon Jawa Barat Hadi, Ella Nurlaella
Kesmas Vol. 3, No. 3
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada tahun 2005, studi penatalaksanaan asfiksia bayi baru lahir (BBL) oleh bidan di desa Kabupaten Cirebon menemukan kematian asfiksia BBL yang dirujuk ke rumah sakit masih tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi yang mendalam tentang proses rujukan, alur penanganan rujukan kasus asfiksia BBL di RS dan kualitas pelayanan di RS rujukan Kabupaten Cirebon. Untuk itu, digunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan BdD sudah menangani asfiksia BBL dengan benar, tetapi rujukan sering terlambat karena adanya faktor penghambat dari keluarga (ekonomi dan keputusan merujuk harus melibatkan keluarga besar) dan faktor lingkungan (transportasi di desa terpencil sulit terutama pada malam hari). Disamping, karena penanganan rujukan asfiksia BBL di RS belum optimal, karena masih kurangnya keterampilan petugas bagian UGD dalam manajemen asfiksia BBL dan tidak tersedianya alat resusitasi neonatus di bagian UGD, padahal prosedur penanganan kasus rujukan pertama kali di bagian UGD. In Cirebon district (2005) research on village midwives’s experience in managing birth asphyxia showed mortality of newborns with asphyxia who were referred to the hospitals were still high. This research was aimed to assess referral process, management procedure of referral birth asphyxia cases and quality of care given in the referral hospitals. This study was conducted using qualitative approach focusing on case study method. The result of this study showed that village midwives managed birth asphyxia correctly, but referral of newborn cases was often delayed, because of community factors (finance and delayed decision making by whole family to refer the newborn to the hospitals) and environmental factor (transportation in remote villages was difficult, especially at night. Besides that, referral hospitals were not yet providing adequate emergency care for referral cases of birth asphyxia. These were primarily due to lack of skills in management of birth asphyxia and unavailability of resuscitation device in emergency room.
Tinjauan Filsafat Kesehatan Reproduksi Agustina, Farida Mutiarawati Tri
Kesmas Vol. 3, No. 3
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesehatan reproduksi tidak dapat dipisahkan dari kesehatan seksual yang menyangkut peran dua aktor utama laki-laki dan perempuan yang harus dalam kondisi sehat untuk mendapat hasil reproduksi yang sehat. Dari sudut pandang filsafat, ontologi berupaya memahami, mendalami dan mengembangkan pengetahuan kesehatan reproduksi pada tingkat individu dan tingkat masyarakat. Secara epistemologi, kesehatan reproduksi banyak mengalami kemajuan, sejak dari teknologi kontrasepsi sederhana sampai teknologi cloning yang kontroversial. Secara aksiologi, kesehatan reproduksi mampu meningkatkan kesejahteraan dan pemenuhan kebutuhan hidup manusia sesuai perkembangan teknologi. Pemanfaatan dan keberhasilan kesehatan reproduksi dipengaruhi berbagai faktor yang saling terkait dan saling tergantung. Landasan perkembangan ranah kesehatan reproduksi adalah serangkaian konferensi kependudukan dunia sepuluh tahunan. Dimulai pada tahun 1954 di Roma, dilanjutkan 1965 di Belgrade, 1974 di Bucharest, 1984 di Mexico City, dan terakhir tahun 1994 di Cairo. Hingga kini, penerapan berbagai hasil konferensi untuk peningkatan kesejahteraan umat manusia terus berlangsung. Di seluruh negara di dunia, diharapkan hak-hak kesehatan reproduksi dan kesehatan seksual semakin dipenuhi dengan pemanfaatan maksimal teknologi dan sesuai norma dan nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab. The Reproductive Health can not be separated from Sexual Health as there is two main actors of male and female has to be related to. Both of them are must be in a healthy condition, in order to produce a healthy reproductive result. From philosophies stand point, the ontology of reproductive health is tried to understand, to explore and to develop reproductive knowledge in the individual and community levels. Epistemologi of reproductive health show highly progress related to contraceptive technology starting from the simplest one to the most controversial of cloning technology. Axiologically, the reproductive health enables to improve the human prosperity and fulfill the human needs in association with technological development. The utilization and the successfull of reproductive health are determined by several interrelated and interdependent factors. The fundamental of reproductive health field development is in a series of world population conferences that held every tens years. Started in 1954 in Roma, continues to 1965 in Belgrade, 1974 in Bucharest, 1984 in Mexico City, and the latest in 1994 in Cairo. Until now, the implementation of several conference results for improvement of human kind properties is continuously occurred. All over the world, it is hoped that reproductive rights and sexual rights can be continuously fulfilled with a highest utilization of technology and in the line with fairness and enlightened norms and values.
Analisis Saldo Piutang Pasien Jaminan di Rumah Sakit Port Medical Center Kusumawardhani, Dian; Soewondo, Prastuti
Kesmas Vol. 3, No. 3
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Piutang merupakan harta lancar yang terbesar pada organisasi kesehatan dan berdampak dana investasi. Kegagalan pengelolaan piutang di rumah sakit akan mengganggu cash flow dan kegiatan operasional rumah sakit. Penelitian ini bertujuan mengetahui penyebab saldo piutang pasien jaminan pihak ketiga yang tinggi, meliputi dinas dan langganan di RS Port Medical Center. Penelitian operasional ini melakukan pengamatan langsung dan telaah dokumen pada proses pengelolaan piutang pada tahap penerimaan, pembebanan biaya, penataan rekening, penagihan dan penutupan rekening. Informan adalah para pejabat dan pelaksana yang terlibat. Didapatkan bahwa tidak ada standar atau persyaratan kredit yang berlaku sebelum kerja sama. Potongan harga, jangka waktu pembayaran dan sanksi yang tertera dalam perjanjian kerja sama tidak dapat dijalankan. Telah ada upaya penagihan, tetapi belum optimal. Belum ada prosedur tentang cara penagihan bila pembayaran terlambat. Pada lima tahap pengelolaan piutang terlihat beban tugas penata rekening yang tinggi. Dan SOP hanya tersedia pada tahap pembebanan biaya. Proses seleksi yang menggunakan sistem billing online mempermudah pekerjaan tetapi menuntut ketelitian tinggi. Jumlah tagihan dan saldo piutang terbesar adalah dinas. Perusahaan asuransi mempunyai saldo piutang terkecil dan proporsi pembayaran terkecil adalah Jamsostek. Proses penagihan pada dinas, perusahaan umum dan perusahaan asuransi relatif sama (20 hari). Lama proses penagihan dan umur piutang terlama adalah Jamsostek. Account receivables is the biggest current assets in health organization including hospitals and will influence investation fund management. Failure in account receivables management will confound the cash flow and operational activities. The purpose of this study is to know the causes of high account receivables of patients insured by third party. This operational research used direct observations and documents review regarding the management process of the insured patient account receivables at the stage of admission, charge capture, account billing, collecting and account writing off. An in-depth interview was conducted to the involved persons and officers. The result of the study shows that the current credit policy prevails at PMC hospital seems to be linient since no credit standard or credit terms given before colaboration. Discount, payment period and sanctions are included in the agreement but not effective. There are efforts for claiming, but it has not been done optimally. There is no procedure that can be used in collecting account if there were delay. There is a shortage of staff on the account arrangement and overlapped tasks of staff at central opname. The only available standard operating procedure was at the stage of charge capture. Although the completion process has used on line billing system, to simplify the task, it still needs high accuracy to get accurate data. Thehighest claim goes to the state owned company. The highest account receivable also goes to the state owned company. From four health insurance companies, Jamsostek has the lowest payment percentage. It is also found that the length of the collecting process is 20 days for state owned companies, public companies and insurance companies and 60 days for Jamsostek. The length of billing process and account receivable days for Jamsostek was the longest.
Analisis Implementasi Kebijakan PKPS BBM Bidang Kesehatan Bachtiar, Adang; Ayuningtyas, Dumilah; Wardani, Riastuti Kusuma
Kesmas Vol. 3, No. 3
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tingginya harga minyak dunia mengakibatkan pemerintah Indonesia di bawah pimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) harus mengurangi subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM). Hal ini berdampak pada kenaikan harga BBM sebanyak tiga kali yaitu pada Maret 2005 (kenaikan harga berkisar 60 persen), Oktober 2005 (sekitar 108 persen), dan Mei 2008 (sekitar 30 persen). Kebijakan ini dimaksudkan agar dana yang diperoleh dari pengurangan subsidi BBM dapat dipindahkan alokasinya untuk empat program utama bagi penduduk miskin dan tidak mampu. Program-program tersebut adalah Bantuan Langsung Tunai, Bantuan Operasional Sekolah (BOS), pelayanan kesehatan gratis, dan infrastruktur desa. Studi ini bertujuan untuk menilai secara umum pelaksanaan Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak (PKPS-BBM) pada periode 2005-2006. Sedangkan pendekatan kualitatif dan kuantatif digunakan dalam penelitian ini melalui telaah dokumen dan wawancara. Adapun realisasi PKPS BBM di Nusa Tenggara Barat (NTB), Kalimantan Timur (Kaltim), dan Kota Bogor dinilai belum optimal disebabkan perbedaan jumlah sasaran dan standar utilisasi antara masing-masing daerah dengan pusat mengingat perbedaan kondisi geografisnya. Meskipun demikian, masyarakat miskin cukup puas dengan program pelayanan kesehatan gratis walau pelaksanaan program tersebut belum sepenuhnya tepat sasaran dan masih dapat ditemukan sejumlah iuran yang harus dibayar masyarakat miskin. Unavoidable raise of international fuel prices had forced Government of Indonesia under the leadership of Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) to reduce fuel subsidies. These happened in March 2005 (fuel prices increased approximately 60 per cent), October 2005 (with 108 per cent rise in fuel prices), and May 2008 (which increased the fuel prices for around 30 per cent). The point of this policy is that the government has intention to re-allocate the funds from reduced fuel subsidies to four main programs for poor people such as direct compensation (payment of 100,000 Indonesian Rupiah, or about US$10, to 15 million families, or one quarter of the population, through the state postal and banking system), school operational assistance, free health service, and rural infrastructure program. The objective of this study is to evaluate the Fuel Subsidy Reduction Compensation Program (Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak (PKPS-BBM)) during the period 2005-2006 in general. Quantitative and qualitative approaches are used in this research through document analysis and in-depth interview. PKPS BBM program implementation in Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Timur, and Bogor City are not yet optimal because of the dissimilarity on number of target and standard of utilisation in each region, considering differences in their geographical conditions. However, poor people are quite satisfied with free health services although the realization did not touch the target completely. Moreover, there still exists expense charged to poor people.
Model Spesifikasi Dinamis Permintaan Rokok: Rasionalkah Perokok Indonesia? Hidayat, Budi; Thabrany, Hasbullah
Kesmas Vol. 3, No. 3
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Studi ini mengestimasi model spesifikasi dinamis permintaan (demand) rokok di Indonesia. Tujuannya adalah untuk menguji hipotesis kecanduan rasional perokok, dan menghitung elastisitas harga rokok jangka pendek dan jangka panjang. Analisis diaplikasikan pada data agregat individu yang dibentuk dari tiga tahapan survei panel IFLS selama tahun 1993-2000. Studi ini menjajagi sejumlah teknik ekonometrik dan memilih teknik tercocok atas dasar serangkaian uji statistik. Hasilnya menunjukkan bahwa rokok terbukti sebagai produk yang menimbulkan kecanduan (koefisien konsumsi masa lampau positif dan signifikan pada 1%). Sedangkan koefisien negatif dan signifikan untuk konsumsi rokok masa depan menunjukan sifat kecanduan miopik, artinya para perokok bersifat tidak rasional. Studi ini juga menunjukkan permintaan rokok lebih sensitif terhadap perubahan harga untuk jangka panjang ketimbang untuk jangka pendek. Temuan bahwa perokok memiliki sifat kecanduan miopik mengharuskan pengambil kebijakan mendisain ulang strategi promosi kesehatan masyarakat tentang larangan merokok di Indonesia. Berbagi implikasi kebijakan temuan studi disajikan pula pada bagian akhir tulisan ini. This study estimates a dynamic model specification of demand for cigarette in Indonesia. The objectives are to test the rational addiction hypothesis of cigarettes demand, and to calculate price elasticity of cigarettes in the short-run and long-term. The data for this analysis were aggregate individual data from three-wave a panel surveys of the IFLS (Indonesian Family Life Survey) from 1993-2000. This study explores several econometric approaches, and selects the best fit of several statistical measures. The results indicate that cigarette indeed an addictive good (the lags consumption coefficients are a positive with p-value
Dampak Cadmium dalam Ikan terhadap Kesehatan Masyarakat Purnomo, Agus; Purwana, Rachmadi
Kesmas Vol. 3, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kandungan Chemicals Oxygen Demand (COD) dan logam Cadmium pada air laut di Indonesia, dalam kisaran 123-398 ppm dan 0,024-0,044 ppm berada di luar batas yang diizinkan (COD = 40 ppm dan Cd = 0,01 ppm). Masyarakat Teluk Lampung setiap hari terpajan dengan ikan Kurisi (Nomipterus hexodon), ikan Kembung (Rastrelliger neglectus), dan ikan Tongkol (Auxis thazard) dengan kadar rata-rata kandungan cadmium 0,146; 0,144; dan 0,137 mg/kg. Penelitian ini bertujuan melakukan analisis risiko dampak pencemaran cadmium pada ikan terhadap kesehatan masyarakat Pulau Pasaran yang berada tepat di hadapan Kota Bandar Lampung di Teluk Lampung. Disain studi yang digunakan adalah disain cross sectional dengan jumlah sampel 284 orang. Hasil penelitian menemukan besar risiko gangguan kesehatan bagi masyarakat pulau Pasaran di Kota Karang-Bandar Lampung yang mengkonsumsi ikan tiga kali sehari adalah 0,574. Disamping itu, secara statistik terdapat hubungan yang signifikan antara besar risiko itu dengan faktor-faktor konsentrasi cadmium dalam ikan, laju asupan ikan, durasi pajanan, dan berat badan responden. Faktor yang berhubungan paling erat adalah konsentrasi cadmium dalam ikan dan durasi pajanan. Masyarakat pulau Pasaran kota Karang-Bandar Lampung telah berisiko mengalami gangguan kesehatan akibat keracunan cadmium kronis yang dapat menyebabkan kerusakan sistem urinaria, respiasi, sirkulasi darah, jantung, kelenjar reproduksi, sistem penciuman dan kerapuhan tulang. This is a risk analysis research of the health impact of cadmium contamination in fish among the community in Pasaran Island. The Pasaran Island lies right across the Bandar Lampung City in the Lampung Bay. On average, the community in the island consumed fish 3 times a day. Study in 2004 reported three types of fishes that were regularly consumed and caught by the community around the Lampung Bay were contaminated by cadmium. Those contaminated fishes were the Kurisi fish (Nomipterus hexodon), Kembung fish (Rastrelliger neglectus), and Tongkol fish(Auxis thazard). In their daily life the community in the Pasaran Island were posed to the risk of exposure to cadmium from the fish (risk agent). This cross-sectional study on 284 samples of the population verifies that the health risk for the community at the Pasaran Island in the Karang-Bandar Lampung City is 0.574. Besides, statistical analysis showed that the risk is significantly related to factors such as concentration of cadmium in fish, rate of fish consumption, duration of exposure, and respondents body weight.
Faktor Risiko Perilaku Pra-Diabetes di Kota Padang Panjang Fajrinayanti, Fajrinayanti
Kesmas Vol. 3, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pra-diabetes adalah kondisi berisiko Diabates Melitus tipe 2 yang dipengaruhi oleh faktor keturunan dan perilaku dengan prevalensi yang lebih tinggi daripada Diabates Melitus. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan faktor risiko perilaku konsumsi lemak, konsumsi serat, konsumsi karbohidrat, aktivitas fisik dan merokok dengan kejadian pra-diabetes setelah dikendalikan oleh faktor keturunan. Desain studi yang digunakan adalah kros seksional dengan pengumpulan data melalui survei. Responden sebanyak 174 orang dipilih secara acak sederhana dari tiap kelurahan yang menjadi kluster. Analisis data dilakukan secara univariat, regresi logistik sederhana dan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kadar Gula Darah Sewaktu kelompok umur 40-59 tahun adalah 115,4 mg/dl, dengan prevalensi pra-diabetes adalah 57,5%.Ditemukan hubungan yang bermakna antara konsumsi lemak, konsumsi serat dan aktivitas fisik dengan kejadian pra-diabetes tanpa dipengaruhi oleh faktor keturunan. Odd Rasio masing-masing untuk konsumsi lemak (18,7 kali); aktivitas fisik /hari (13,7 kali). Pencegahan primer dengan KIE (komunikasi, informasi dan edukasi) tentang kondisi pra-diabetes serta faktor perilaku yang berisiko dan pembentukan peer group pra-diabetes diharapkan dapat meningkatkan mawas diri masyarakat terhadap kondisi pra-diabetes. Pre-diabetes is a condition leading to the risk of Diabetes Mellitus (DM) type 2, that can be caused by genetic factor and behavior risk factors, such as fat consumption, insufficient fiber consumption, low carbohydrate consumption, sedentary life, and smoking. Prevalence of pre-diabetic has been estimated as higher than prevalence of DM. This research purposed to assess association of behavior risk factors with pre-diabetes incident among population of 40-59 years old in Padang Panjang City in 2008 after controlled by genetic factor. Survey was conducted to the respondents selected using multistage random sampling (n=174). Data were analyzed with design complex by partial regression, simple logistic regression and multivariate (multiple logistic regression). The study found that the prevalence of pre-diabetes is 57.5% with Plasma Glucose Test (RPG) 115.4 mg/dl in average. There is a significant association between fat consumption, fiber consumption and physical activity with pre-diabetes incident after adjusted by genetic. Dominant factors were fat consumption (OR=18.0); fiber consumption (OR= 9.5); and physical activity (OR=13.7 times). District Health Office should develop primary prevention through communication, information and education about pre-diabetes condition and related behavior risk factors. Pre-diabetes peer group should be established to increase community awareness to pre-diabetes condition in order to prevent the DM type 2.
Perbedaan Persepsi Gambar Peringatan Bahaya Merokok antara Masyarakat Jakarta dan Cirebon Dewi, Nina Candra; Damayanti, Rita
Kesmas Vol. 3, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebiasaan merokok merupakan kausa kematian tinggi yang menjadi masalah kesehatan dunia. Data tahun 2004, jumlah perokok memperlihatkan tren meningkat dari 32% menjadi 35%. Jakarta menempati posisi tertinggi jumlah perokok. Penyakit ISPA non specific menempati level tertinggi dan terbanyak pada tahun 2006 dan diduga merupakan dampak kebiasaan merokok. Salah satu upaya pemerintah menurunkan kebiasaan merokok adalah peringatan tertulis pada label sigaret. Studi yang dilakukan pusat studi kesehatan Universitas Indonesia di Jakarta dan Cirebon pada tahun 2007 mengindikasikan bahwa 76,3% peringatan kesehatan terpilih dalam bentuk gambar dan tulisan merupakan peringatan kesehatan yang efektif. Perbedaan persepsi masyarakat pada gambar peringatan bahaya merokok berdasarkan umur, sex, ekonomi, sosial dan status merokok. Studi ini merupakan analisis data peringatan bahaya merokok dengan menggunakan desain cross sectional di kota jakarta dan Cirebon tahun 2007. Penelitian terhadap 138 responden yang tinggal di Jakarta dan Cirebon melakukan analisis dengan uji statistik Mann Whitney and Kruskal Wallis. Hasil studi memperlihatkan bahwa ada persepsi berbeda pada gambar peringatan bahaya merokok berdasarkan jenis kelamin, sosial ekonomi, dan status merokok. Untuk jenis kelamin gambar paling efektif (p = 0,000), paling mendukung (p = 0,002) paling bermasalah (p = 0,000), gambar paling efektif p = 0,001. Berdasarkan status sosial ekonomi yang paling mendukung p = 0,022 dan yang paling efektif p = 0,000. Berdasarkan status merokok, yang paling atraktif p = 0,000, paling jelas p=0,00ktif p=0,000. Sehubungan dengan hasil studi tersebut disarankan untuk promosi kesehatan tentang gambar peringatan bahaya merokok untuk melihat berbagai perbedaan tersebut. Smoking habit is a leading cause of mortality and becomes a world health problem. Susenas data 2004 showed that number of smoker increased from 32% to 35%. Jakarta is on the highest level and has largest number of smoker according to a smoking survey in 2000. Non specific ARI is accordingly on the highest level in 2006 and caused by smoking. One government effort to decrease smoking habit is by provide warning sign on dangers of smoking. Study conducted by Center for Health Research, University of Indonesia in Jakarta and Cirebon cities in 2007 indicated that 76.3% respondents prefer warning sign in the form of combination of picture and words as an effective health warning. This study analyze perception on warning sign of dengers of smoking using a cross-sectional design among 138 respondents in Jakarta and Cirebon cities. Analysis was conducted using univariate and bivariate analyses with Mann Whitney and Kruskal Wallis test. Study result indicated that there is perception difference on warning sign according to age for most effective picture (p = 0.030), sex for most effective picture ( p = 0.000), most supportive picture (p = 0.00), most terrifying picture (p = 0.000), most effective picture (p = 0.001). Based on social-economic status for most supportive picture (p = 0.022) and most effective picture (p = 0.000). Based on smoker status for most attractive picture (p = 0.000), clearest picture (p=0.000), most supportive picture (p = 0.000), most terrifying picture (p=0.000) and most effective picture (p=0.000). According to study result, it was suggested for health promotion program related to dangers of smoking warning sign to consider differences based on age, sex, social economic status and smoker’s status as to effectively convey the message.
Karakteristik Remaja Pengguna Narkoba Suntik dan Perilaku Berisiko HIV/AIDS di Kecamatan Ciledug Kota Tangerang Syarif, Fauzi; Tafal, Zarfiel
Kesmas Vol. 3, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Prevalensi penderita HIV/AIDS di Kota Tangerang yang merupakan daerah industri dari tahun ke tahun meningkat tajam. Kecenderungan peningkatan kemungkinan disebabkan oleh letak strategis Kota Tangerang yang berbatasan langsung dengan Jakarta serta dengan geografi dan demografi yang hampir sama dengan Jakarta. Bersamaan dengan itu kasus peredaran dan pemakaian narkotika di wilayah Tangerang dari tahun ke tahun meningkat tajam. Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan antara karakteristik remaja pengguna narkoba suntik (penasun) dengan perilaku berisiko tertular HIV/AIDS di Kecamatan Ciledug Kota Tangerang Tahun 2007. Data yang dikumpulkan secara cross sectional dilakukan pada 206 sampel responden remaja berusia 15–24 tahun yang menggunakan narkoba suntik melalui wawancara langsung dengan berpedoman pada kuesioner. Karakterisitk remaja tersebut meliputi karakteristik: pribadi (pengetahuan tentang HIV/AIDS, jenis kelamin, umur, tingkat pendidikan, status ekonomi, posisi urutan dalam keluarga, status orang tua, dengan siapa tinggal), lingkungan sosial (keterpaparan pergaulan dengan pengguna narkoba, pola asuh orang tua, lingkungan tempat tinggal) dan karakteristik budaya (masyarakat fanatisme agama, daerah pendatang/campur, kegiatan di luar rumah). Penelitian menunjukkan gambaran perilaku remaja penasun yang berisiko tertular HIV/AIDS mencapai angka 55,3%. Terdapat 8 (delapan) variabel yang berhubungan erat (p < 0,05) dengan perilaku penasun berisiko yaitu tingkat pengetahuan, umur, tingkat pendidikan, status ekonomi, status orang tua, pola asuh orang tua, lingkungan tempat tinggal dan kegiatan di luar rumah. Variabel yang paling dominan adalah tingkat pengetahuan dimana remaja penasun yang mempunyai tingkat pengetahuan kurang, mempunyai risiko tertular HIV/AIDS 6,9 kali dibandingkan yang mempunyai tingkat pengetahuan baik. Prevalence of HIV-AIDS in Tangerang City—an industrial area, continues to increase. The increase may be caused by location of Tangerang which is directly bordered to Jakarta and having similar geographical and demographical characteristics to Jakarta. At the same time, there is a significant increase of drugs distribution and abuse. This study aims at investigating the relationship between injection-drug-user (IDU) teenager’s characteristics and HIV-AIDS high risk behavior in Ciledug Sub-district, Tangerang City in 2007. Data were collected through a cross-sectional survey conducted among 206 samples of IDU teenagers age 15-24 years old using questionnare administered in face-to-face interview. The study results show that HIV-AIDS risk behavior prevalence reached 55,3% among respondents and there were 8 variables with significant relationship (p < 0,05). Those 8 variables were knowledge, age, education level, economic status, parent status, parental care pattern, living environment, and outside home activity. The most dominant variable was knowledge where teenagers with low level of knowledge has 6,9 times higher risk of having HIV-AIDS risk behavior compared to those with higher level of knowledge.
Pemanfaatan Pos Pelayanan Terpadu di Perumahan Pondok Cilegon Indah Raharyanti, Fenny; Jubaedi, Ahmad; Feriyanto, Feriyanto
Kesmas Vol. 3, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) yang pada periode pemerintahan orde baru populer dan berkontribusi besar pada kesehatan ibu dan anak, kini meredup dan mengalami penurunan peran. Ketika kasus-kasus bayi kurang gizi bermunculan, banyak pihak yang menyadari bahwa posyandu merupakan faktor yang berkontribusi pada perbaikan gizi balita. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui keberadaan posyandu, pengetahuan dan kesadaran ibu balita, membawa balita ke posyandu, keaktifan kader menghidupkan posyandu, dan kelayakan fasilitas pendukung Posyandu di komplek Perumahan Pondok Cilegon Indah dengan karakteristik sosial ekonomi penduduk yang beragam. Penelitian yang dilaksanakan pada bulan Desember 2006 mengamati populasi ibu balita dan kader bermukim di PCI dan mengikuti kegiatan posyandu yang telah dijadwalkan pada bulan Desember 2006. Ditemukan bahwa keberadaan Posyandu di Pondok Cilegon Indah masih dipertahankan hingga kini.Tingkat kemampuan ibu menerima penjelasan posyandu cukup baik, tetapi kesadaran ibu membawa balita ke posyandu rendah. Keaktifan kader menghidupkan kegiatan posyandu cukup baik dan kelayakan fasilitas pendukung program posyandu masih terbatas pada pelayanan posyandu minimal. Posyandu is a community-based health care program to improve the quality of life in Indonesia. This research is conducted to study the roles of posyandu in a community unit by observing the awareness of mothers and their satisfaction on the program activities and the quality of services provided. The community unit observed in this research is the one in Pondok Cilegon Indah Housing Complex (PCI) which consists of people with various income levels. This research is a descriptive study with a survey design which was conducted in December 2006 at PCI. The population is mothers living in the housing complex who are involved in the posyandu program activities. Samples are taken from two posyandu groups. Results show that posyandu programs in PCI have been beneficial since its inception in 1990. However, the number of mothers actively involved in the programs is of small portion compared with the total number of residents in the housing complex. Satisfaction on the programs is incredibly high, even though the services provided are quite limited to children weight monitoring, health food provision, vitamin A distribution, and children immunization.

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 20, No. 5 Vol. 20, No. 3 Vol. 20, No. 2 Vol. 20, No. 1 Vol. 19, No. 5 Vol. 19, No. 4 Vol. 19, No. 3 Vol. 19, No. 2 Vol. 19, No. 1 Vol. 18, No. 5 Vol. 18, No. 4 Vol. 18, No. 3 Vol. 18, No. 2 Vol. 18, No. 1 Vol. 17, No. 5 Vol. 17, No. 4 Vol. 17, No. 3 Vol. 17, No. 2 Vol. 17, No. 1 Vol. 16, No. 5 Vol. 16, No. 4 Vol. 16, No. 3 Vol. 16, No. 2 Vol. 16, No. 1 Vol. 15, No. 5 Vol. 15, No. 4 Vol. 15, No. 3 Vol. 15, No. 2 Vol. 15, No. 1 Vol. 14, No. 2 Vol. 14, No. 1 Vol. 13, No. 4 Vol. 13, No. 3 Vol. 13, No. 2 Vol. 13, No. 1 Vol. 12, No. 4 Vol. 12, No. 3 Vol. 12, No. 2 Vol. 12, No. 1 Vol. 11, No. 4 Vol. 11, No. 3 Vol. 11, No. 2 Vol. 11, No. 1 Vol. 10, No. 4 Vol. 10, No. 3 Vol. 10, No. 2 Vol. 10, No. 1 Vol. 9, No. 4 Vol. 9, No. 3 Vol. 9, No. 2 Vol. 9, No. 1 Vol. 8, No. 8 Vol. 8, No. 7 Vol. 8, No. 6 Vol. 7, No. 12 Vol. 7, No. 11 Vol. 7, No. 10 Vol. 8, No. 5 Vol. 8, No. 4 Vol. 8, No. 3 Vol. 8, No. 2 Vol. 8, No. 1 Vol. 7, No. 9 Vol. 7, No. 8 Vol. 7, No. 7 Vol. 7, No. 6 Vol. 7, No. 1 Vol. 7, No. 5 Vol. 7, No. 4 Vol. 7, No. 3 Vol. 7, No. 2 Vol. 6, No. 6 Vol. 6, No. 5 Vol. 6, No. 4 Vol. 6, No. 3 Vol. 6, No. 2 Vol. 6, No. 1 Vol. 5, No. 6 Vol. 5, No. 5 Vol. 5, No. 4 Vol. 5, No. 3 Vol. 5, No. 2 Vol. 5, No. 1 Vol. 4, No. 6 Vol. 4, No. 5 Vol. 4, No. 4 Vol. 4, No. 3 Vol. 4, No. 2 Vol. 4, No. 1 Vol. 3, No. 6 Vol. 3, No. 5 Vol. 3, No. 4 Vol. 3, No. 3 Vol. 3, No. 2 Vol. 3, No. 1 Vol. 2, No. 6 Vol. 2, No. 5 Vol. 2, No. 4 Vol. 2, No. 3 Vol. 2, No. 2 Vol. 2, No. 1 Vol. 1, No. 6 Vol. 1, No. 5 Vol. 1, No. 4 Vol. 1, No. 3 Vol. 1, No. 2 Vol. 1, No. 1 More Issue