cover
Contact Name
Dian Eka Indriani
Contact Email
stkip.civicculture@gmail.com
Phone
+6281333212229
Journal Mail Official
dianindrian79@stkippgri-bkl.ac.id
Editorial Address
STKIP PGRI Bangkalan Jl. Soekarno Hatta No. 52 Telp/Fax (031) 3092325 Bangkalan Website: http://www.stkippgri-bkl.ac.id
Location
Kab. bangkalan,
Jawa timur
INDONESIA
Civic-Culture: Jurnal Ilmu Pendidikan PKn dan Sosial Budaya
Published by STKIP PGRI Bangkalan
ISSN : 25799878     EISSN : 25799924     DOI : https://doi.org/10.31597/ccj
The Aim and Scope of the journal Focus and Civic-Culture are to provide Academic and Scientific writings in the field of Citizenship Education; Character building; Social; Culture; Religious of results of research and thinking in the form of articles, supplemental articles, review articles, research notes.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 4 No. 2 Extra (2020): September" : 5 Documents clear
Perjuangan Kaum Disabilitas Dalam Mendapatkan Identitas Kewargaan Naofal Bayu Saputra Dewa; Sulton, Sulton; Asmaroin, Ambiro Puji
Civic-Culture : Jurnal Ilmu Pendidikan PKN dan Sosial Budaya Vol. 4 No. 2 Extra (2020): September
Publisher : Penerbit STKIP PGRI Bangkalan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31597/ccj.v4i2 Extra.422

Abstract

Penelitian ini membahas tentang perjuangan kaum disabilitas dalam mendapatkan identitas kewargaan. Politik kewargaan di berikan sebagai sebuah status hukum yang diberikan oleh negarabangsa dengan kajian-kajian ilmu, sosial kewargaan semakin fokus pada bentuk-bentuk kewargaan sosial, kultural dan politik. Dalam konteks seperti itu, maka kewargaan difahami sebagai perjuangan melawan hubungan kekuasaan yang secara politik, ekonomi dan kultural menindas dan mengeksklusi kelompok rakyat tertentu atau diskriminasi. Inti dari perjuangan ini adalah tuntutan akan adanya representasi politik, keadilan sosial dan ekonomi, serta pengakuan kultural. Secara umum tuntutan itu ditujukan kepada negara dan kekuatan dominan lainnya. Strategi untuk memenuhi tuntutan kewargaan dapat berlangsung dengan cara menjaga jarak atau dengan terlibat langsung dengan pemegang kekuasaan hegemonik. Negeri ini secara formal bisa di katakan demokratif, tetapi secara subtansif masih belum dikarenakan banyak kelompok yang terpinggirkan. Kelompok-kelompok yang tertindas dan terpinggirkan merupakan masyarakat dari kalangan sipil dan kerakyatan yang dianggap sebelah mata dan tidak terlihat oleh pemerintah dianggap hanya sebagai kaum lemah seperti halnya, PKL, perempuan, disabilitas, mahasiswa dan kelompok pasca fundamentalis.Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif analisis yang akan mengungkapkan fenomenan secara sistematis pada berbagai temuan dalam penelitian. Penelitian ini fokus membahas bagaimana perjuangan yang dilakukan oleh kaum disabilitas. Penelitian ini bertujuan untuk membahas langkah-langkah Perjuangan Disabilitas Atas Identitas Kewargaannya serta menjelaskan faktor-faktor yang memperngaruhi perjuangan kaum disabilitas atas identitas kewargaannya. Kata Kunci: Perjuangan, Disabilitas, Identitas Kewargaan
Gerakan Aisyiyah Dalam Meneguhkan Identitas Kewargaannya Fitriana, Diyan; Sulton, Sulton; Utami, Prihma Sinta
Civic-Culture : Jurnal Ilmu Pendidikan PKN dan Sosial Budaya Vol. 4 No. 2 Extra (2020): September
Publisher : Penerbit STKIP PGRI Bangkalan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31597/ccj.v4i2 Extra.429

Abstract

Penelitian ini membahas tentang gerakan kaum wanita yang terhimpun pada organisasi Aisyiyah dalam meneguhkan identitas kewargaannya. Politik kewargaan adalah serangkaian hak–hak kewargaan yang diperjuangkan oleh kelompok sosial yang mengalami eksklusi politik, ekonomi dan kultural dan selalu bersifat politis. Dalam mewujudkan hak-hak kewargaan dapat dilakukan dengan melalui tiga upaya, antara lain yaitu memperjuangkan pengakuan kultural, keadilan sosial dan kesejahteraan, memperjuangkan demokrasi dan representasi politik secara bersinergi. Praktik demokrasi formal di Indonesia yang relatif berhasil ternyata jauh dari cukup untuk menjamin kewargaan yang lebih substantif. Terlebih proses demokrasi yang sedang berjalan menunjukkan tanda-tanda kemandekan, sehingga tidak heran jika demokrasi yang ada hanya memberi keuntungan utamanya bagi kelompok elit oligarki, sembari mendorong perjuangan individu dan kelompok non-oligarki dalam menggunakan tata aturan dan regulasi yang ada untuk menuntut hak-hak kewargaannya. Ada banyak organisasi atau gerakan di Indonesia yang berjuang untuk identitas kolektif mereka. Salah satu organisasi yang menghimpun gerakan-gerakan dalam ranah publik secara kontestan adalah dari kelompok perempuan. Kelompok perempuan pada dasarnya memiliki ruang untuk terlibat aktif dalam memajukan bangsa Indonesia. Namun demikian, fakta di lapangan menunjukkan kelompok perempuan sering kali termarginalkan oleh lingkungan bahkan oleh bangsanya sendiri. Memang eksistensi perempuan telah diakui, tetapi keadaan Indonesia kontemporer masih terbatas dalam mempertahankan kesejahteraan perempuan dan representasi politik terabaikan bagi kaum perempuan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif analisis yang berusaha mengungkap fenomena secara sistematis dari berbagai kepustakaan . Penelitian ini fokus membahas bagaimana gerakan yang dilakukan oleh Aisyiyah dalam memperjuangkan perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk membahas langkah-langkah Pergerakan Aisyiyah dalam meneguhkan identitas kewargaannya serta menjelaskan faktor-faktor yang memperngaruhi pergerakan Aisyiyah dalam meneguhkan identitas kewargaannya.
Penguatan Civic Literasi Dalam Membentuk Wawasan Kebangsaan Tachyudin, Muhammad; Cahyono , Hadi; Utami, Prihma Sinta
Civic-Culture : Jurnal Ilmu Pendidikan PKN dan Sosial Budaya Vol. 4 No. 2 Extra (2020): September
Publisher : Penerbit STKIP PGRI Bangkalan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31597/ccj.v4i2 Extra.434

Abstract

Penelitian ini mengkaji manfaat civic literacy dalam membentuk wawasan kebangsaan guna menjadikan warga Negara yang baik (good citizen) dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara, sesuai nilai nilai Pancasila. Tentunya dalam penelitian ini peneliti ingin memastikan bahwa penguatan civic literacy memang sangat di perlukan dalam mengantisipasi dampak arus globalisasi yang bisa kapan saja memberikan efek tidak baik terhadap warga masyarakat Indonesia. Krisisnya wawasan kebangsaan juga menjadikan pola hidup yang bisa membuat perilaku kurang baik dalam berbanga dan bernegara, tentunya upaya yang harus segera dibenahi ialah dengan meningkatkan kualitas literasi masyarakat kita. Metode yang digunakan yaitu studi kepustakaan, dimana hasil dari pembahasan merupakan analisa kajian teori dari berbagai literature, untuk mengolah teori dan kajian penelitian yang sudah dilakukan oleh beberapa peneliti. Hasil penelitian membuktikan bahwa dalam perannya civic literacy mempunyai peran dalam memingkatkan kualitas bagi masyarakat, pelajar dan mahasiswa.
Peran Kelompok Teman Sebaya dalam Upaya Pembentukan Moral Siswa di Kabupaten Ponorogo Alviyan, Artha; Mahardhani, Ardhana Januar; Utami , Prihma Sinta
Civic-Culture : Jurnal Ilmu Pendidikan PKN dan Sosial Budaya Vol. 4 No. 2 Extra (2020): September
Publisher : Penerbit STKIP PGRI Bangkalan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31597/ccj.v4i2 Extra.439

Abstract

Penelitian ini membahas tentang peran kelompok teman sebaya dalam pembentukan moral siswa di Kabupaten Ponorogo. Fokus dalam tulisan ini adalah melihat peran kelompok teman sebaya pada lingkup pendidikan siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau remaja. Tulisan ini menggunakan metode kepustakaan yaitu dengan mengumpulkan banyak informasi dan dokumentasi tentang peran kelompok teman sebaya sebagai pembentuk moral siswa pada masa remaja. Dalam konteks seperti itu, teman sebaya dipahami sebagai salah satu sumber informasi yang cukup signifikan dalam membentuk pengetahuan, sikap dan perilaku pada siswa remaja. Dari hasil informasi yang telah dikoleksi oleh peneliti dapat diperoleh kesimpulan bahwa urgensi moral pada remaja di Kabupaten Ponorogo membuktikan bahwa pembentukan moral yang positif dengan memaksimalkan peran teman sebayanya sangatlah perlu dilakukan. Pembentukan moral merupakan suatu tindakan untuk membimbing dan melembagakan nilai-nilai moral. Hal ini dilihat dari beberapa informasi yang telah peneliti dapat dari beberapa hasil penelitian bahwasannya sebagian besar waktu remaja atau siswa dihabiskan untuk berhubungan atau bergaul dengan teman-teman sebaya mereka. Dalam perkembangan sosio emosional, melalui interaksi sebayalah anak-anak belajar bagaimana berinteraksi dalam hubungan yang simetris dan timbal balik. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa pembentukan moral siswa baik negatif maupun positif sangat bergantung terhadap pergaulan teman sebaya. Ini dikarenakan seringnya siswa berinteraksi dengan teman sebaya dilingkungan sekolah dan masyarakat sehingga siswa cenderung mengikuti tindakan yang dilakukan oleh teman sebayanya.
Perjuangan Pedagang Kaki Lima(PKL) dalam Membangun Identitas Kewargaan Nurcahyani, Dwi; Sulton, Sulton; Asmaroini, Ambiro Puji
Civic-Culture : Jurnal Ilmu Pendidikan PKN dan Sosial Budaya Vol. 4 No. 2 Extra (2020): September
Publisher : Penerbit STKIP PGRI Bangkalan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31597/ccj.v4i2 Extra.445

Abstract

Penelitian ini membahas tentang perjuangan Pedagang Kaki Lima (PKL) dalam membangun identitas kewargaannya. Politik kewargaan adalah serangkaian hak–hak kewargaan yang diperjuangkan untuk kelompok sosial yang mengalami eksklusi politik, ekonomi dan kultural dan selalu bersifat politis. Dalam mewujudkan hak-hak kewargaan dapat dilakukan dengan melalui tiga upaya, antara lain yaitu memperjuangkan pengakuan kultural, keadilan sosial dan kesejahteraan, memperjuangkan demokrasi dan representasi politik secara bersinergi. Demokrasi merupakan faham dan sistem politik yang disasarkan pada doktrin power of the people, yakni kekuasaan dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. Bahwa rakyat adalah pemegang kedaulatan tertinggi dalam sistem pemerintahan. Praktik demokrasi formal di Indonesia yang relatif berhasil ternyata jauh dari cukup untuk menjamin kewargaan yang lebih substantif. Demokrasi yang ada hanya memberi keuntungan utamanya bagi kelompok oligarki, sembari mendorong perjuangan individu dan kelompok non-oligarki menggunakan tata aturan dan regulasi yang ada untuk menuntut hak-hak kewargaannya. Ada banyak organisasi atau gerakan di Indonesia yang berjuang untuk membangun identitas kewargaannya. Salah satu kelompok yang menghimpun gerakan-gerakan dalam ranah publik secara konsisten adalah dari kelompok pedagang kaki lima. Pedagang Kaki Lima atau pedagang kaki lima dapat diartikan sebagai pedagang yang tidak memiliki lokasi usaha yang permanen atau tetap. Para Pedagang Kaki Lima pada dasarnya memiliki tujuan sederhanan yakni untuk memenuhi kebutuhan perekonomian mereka. Akan tetapi, dilapangan menunjukkan para Pedagang Kaki Lima sering kali termarginalkan oleh lingkungan bahkan oleh pemerintah sendiri. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif analisis yang akan mengungkapkan fenomenan secara sistematis pada berbagai temuan dalam penelitian. Penelitian ini fokus membahas tentang bagaimana perjuangan yang dilakukan oleh Pedagangan Kaki Lima. Penelitian ini bertujuan untuk membahas langkah-langkah perjuangan Pedagangan Kaki Lima dalam membangun identitas kewargaannya serta menjelaskan faktor-faktor yang memperngaruhi perjuangan Pedagang Kaki Lima dalam meneguhkan identitas kewargaannya.

Page 1 of 1 | Total Record : 5