cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
FIKkeS
ISSN : 19786735     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 2 (2011): JURNAL KEPERAWATAN" : 7 Documents clear
LAMA WAKTU PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI DI USIA DINI DENGAN STATUS GIZI BAYI (6-12 BULAN) DI KELURAHAN TLOGOURANG WILAYAH KERJA PUSKESMAS BOJA Eko Widya Retno Wahyu Indriani; Tri Hartiti; Amin Samiasih
FIKkeS Vol 4, No 2 (2011): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.742 KB)

Abstract

Usia awal bayi yaitu 0-6 bulan sering timbul masalah gizi, baik gizi kurang ataupun gizi lebih. Salah satu faktor penyebab timbulnya masalah gizi pada bayi adalah perilaku pemberian makanan, dalam hal ini pemberian makanan pendamping ASI secara dini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara lama waktu pemberian makanan pendamping ASI di usia dini (0-6) dengan status gizi di Desa Tlogourang Wilayah Kerja Puskesmas Boja. Jenis penelitian ini adalah analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang memiliki bayi usia 6 bulan yang tinggal di Desa Tlogourang sebanyak 35 orang Teknik sampling yang digunakan adalah sampel jenuh. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar ibu memberikan MP ASI pada usia 5 bulan yaitu 25,7%. Sebagian besar bayi dalam status gizi baik yaitu 71,4%. Berdasarkan uji Chi Square didapatkan nilai p sebesar 0,036 (<0,05), maka dapat dinyatakan ada hubungan yang bermakna antara usia pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi anak di Desa Tlogourang Wilayah kerja Puskesmas Boja. Diharapkan kepada institusi kesehatan diharapkan dapat lebih meningkatkan penyuluhan kepada ibu bayi agar memberikan asupan gizi yang baik terutama ASI eksklusif selama 6 bulan agar pertumbuhan dan perkembangan anak dapat berlangsung normal.Kata Kunci : Usia MP ASI, Status gizi
ANALISIS FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN STATUS GIZI ANAK USIA (1 5 TAHUN) DI POSYANDU CEMPAKA DESA NGREMBEL KELURAHAN GUNUNGPATI KOTA SEMARANG Eli Setiasih
FIKkeS Vol 4, No 2 (2011): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.666 KB)

Abstract

Gizi kurang dan gizi buruk pada balita dapat mengakibatkan terganggunya pertumbuhan jasmani dan kesehatan. Akibat jangka panjang yaitu berkaitan dengan kesehatan anak, pertumbuhan anak, penyakit infeksi dan kecerdasan anak. Apabila hal ini dibiarkan tentunya balita sulit sekali berkembang. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi status gizi pada balita adalah pendapatan keluarga, tingkat pengetahuan ibu, tingkat pendidikan ibu, pekerjaan ibu, dan tingkat konsumsi makanan. Hasil survey di posyandu Cempaka Desa Ngrembel diketahui bahwa ada keengganan para ibu untuk menimbangkan berat badan anaknya di posyandu, selain itu juga ditemukan ibu yang menganggap hal biasa melihat berat badan anaknya berada di bawah garis merah.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi anak usia 1- 5 tahun di Posyandu Cempaka Desa Ngrembel Kelurahan Gunung Pati.Jenis penelitian ini deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh ibu yang memiliki anak balita di wilayah kerja Posyandu Cempaka Gunung Pati Desa Ngrembel RW VII Kelurahan Gunung Pati kota Semarang yang berjumlah 55 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah sampel jenuh.Berdasarkan hasil penelitian menggunakan uji Chi square didapatkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara pendidikan orang tua dengan status gizi anak balita (p=0,028), terdapat hubungan yang bermakna antara pendapatan orang tua dengan status gizi anak balita (p=0,009), tidak terdapat hubungan yang bermakna antara pekerjaan ibu dengan status gizi anak balita (p=0,312), terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan ibu dengan status gizi anak balita (p=0,000), terdapat hubungan yang bermakna antara konsumsi makanan yang diberikan dengan status gizi anak balita (p=0,000)Diharapkan kepada setiap ibu balita untuk memberikan asupan gizi yang baik kepada anak balitanya walaupun dalam kondisi perekonomian keluarga yang pas-pasan.Kata Kunci : Pendidikan, Pendapatan, Pekerjaan, Pengetahuan, Konsumsi makanan, Status giziPustaka : 27 (1999-2010).
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU AGRESIF PADA REMAJA DI STIMART AMNI SEMARANG, JAWA TENGAH Endah Fitriasari; Heryanto Adi N; Rahayu Astuti
FIKkeS Vol 4, No 2 (2011): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.61 KB)

Abstract

Perilaku agresif remaja merupakan suatu keadaan emosi yang merupakan campuran perasaan frustasi dan benci atau marah. Hal ini didasari keadaan emosi secara mendalam dari setiap orang sebagai bagian penting dari keadaan emosional yang dapat diproyeksikan ke lingkungan, ke dalam diri atau secara destruktif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menggambarkan faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku agresif remaja yaitu keluarga, masyarakat, sekolah, dan teman sebaya. Penelitian ini merupakan penelitian correlational study dengan rancangan cross sectional. Proses penelitian telah dilaksanakan pada tanggal 19-22 juli 2010 di STIMART AMNI SEMARANG dengan metode proportional stratified random sampling, jumlah sampel 142.Hasil penelitian menunjukkan bahwa 62 responden (43,7%) agresif dan 80 responden (56,3%) tidak agresif. Ada hubungan yang signifikan antara faktor keluarga, masyarakat, sekolah dan teman sebaya dengan perilaku agresif remaja pada pelajar di STIMART AMNI Semarang, Jawa Tengah dengan (p value< 0,05). Berdasar hasil penelitian tersebut mengindikasikan bahwa diperlukan adanya penyuluhan atau diskusi interaktif tentang pentingnya pemilihan teman secara selektif bagi remaja (pelajar), sebagai bahan pertimbangan untuk memformulasi kembali berbagai aktifitas positif yang melibatkan peran serta remaja sebaya (pelajar). Penelitian lebih lanjut terhadap faktor-faktor tersebut atau faktor lain yang lebih mendukung dengan pengkajian yang lebih mendalam tentang pengaruhnya terhadap agresifitas remaja, misal umur, gender, intelegensi, sosio ekonomi keluarga, keteladanan guru dan kepala sekolah maupun fasilitas rekreasi atau hiburan remaja. Sebagai pertimbangan bagi penelitian selanjutnya diperlukan adanya penggunaan metode penelitian yang berbeda dan pengembangan kuesioner penelitian.Kata kunci : Perilaku Agresif, Remaja
HUBUNGAN PERAN ORANG TUA DENGAN KEBIASAAN MENCUCI TANGAN PADA ANAK PRASEKOLAH DI TAMAN KANAK-KANAK SIWI PENI GUNTUR DEMAK Eka Puji Hastuti; Siti Aisah; Budi Santosa
FIKkeS Vol 4, No 2 (2011): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.389 KB)

Abstract

Peran aktif orangtua terhadap perkembangan sangat diperlukan pada saat mereka masih berada dibawah usia lima tahun. Peran aktif orangtua tersebut yang dimaksud adalah usaha langsung terhadap anak seperti membimbing, memberikan pengertian, mengingatkan, dan menyediakan fasilitas kepada anak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan peran orang tua dengan kebiasaan mencuci tangan pada anak prasekolah di Taman Kanak-Kanak Siwi Peni Guntur Demak. Jenis penelitian ini adalah analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua anak di TK. Siwi Peni Guntur Demak sebanyak 64 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah sampel jenuh. Berdasarkan hasil uji Chi-Square didapatkan nilai Continuity corection sebesar 20,631 dengan nilai p=0,000. Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara peran orangtua dengan kebiasaan mencuci tangan pada anak prasekolah di TK Siwi Peni Guntur Demak. Diharapkan kepada orangtua agar menambah wawasan tentang prilaku hidup sehat pada anak sehingga dapat berperan aktif kepada anak-anaknya agar dapat melakukan kebiasaan mencuci tangan untuk kebersihan diri dengan cara menyediakan sarana-prasarana mencuci tangan, memberikan teladan dan memberikan pemahaman arti pentingnya kebersihan diri pada anak.Kata Kunci : Peran orangtua, Kebiasaan mencuci tangan
HUBUNGAN ANTARA PERILAKU MENGKONSUMSI MAKAN MAKANAN MANIS DAN PERILAKU MENGGOSOK GIGI DENGAN KEJADIAN KARIES GIGI PADA ANAK TK PERTIWI 37 GUNUNG PATI Ernawati -; Arwani -; Amin Samiasih
FIKkeS Vol 4, No 2 (2011): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.503 KB)

Abstract

Penyakit gigi dan mulut adalah suatu penyakit yang tidak kalah pentingnya dengan penyakit lain. Karies gigi dan gangguan gigi berlubang merupakan gangguan kesehatan gigi yang paling umum dan tersebar luas di sebagian penduduk dunia. Tingginya angka karies gigi dapat dipengaruhi berbagai faktor.Karies gigi dapat disebabkan oleh faktor distribusi penduduk, lingkungan, perilaku dan faktor pelayanan kesehatan gigi. Pada anak prasekolah, karies gigi banyak disebabkan karena adanya kebiasaan yang kurang baik. Pada umumnya anak usia prasekolah tersebut mempunyai kebiasaan mengkonsumsi makanan yang manis atau yang mengandung gula murni seperti permen, cokelat, dan donat.Di lain pihak anak prasekolah memiliki kebiasaan menggosok gigi hanya dua kali sehari yaitupada waktu pagi hari dan sore hari. Jenis penelitian adalah penelitian deskriptif korelasi, Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah cros sectional (belah lintang). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu siswa di TK Pertiwi 37 Gunung berjumlah 47 siswa. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi square.Dari hasil penelitian didapatkan bahwa Sebagian besar anak pada anak TK Pertiwi 37 Gunungpati Semarang sering mengkonsumsi makanan manis. Sebagian besar anak pada anak TK Pertiwi 37 Gunungpati Semarang, melakukan gosok gigi dengan buruk. Sebagian besar anak pada anak TK Pertiwi 37 Gunungpati Semarang, mengalami karies gigi. Ada hubungan antara perilaku konsumsi makanan manis dengan kejadian karies gigi pada anak TK Pertiwi 37 Gunungpati Semarang (p = 0,007).Ada hubungan antara perilaku menggosok gigi dengan kejadian karies gigi pada anak TK Pertiwi 37 Gunungpati Semarang (p = 0,001).Saran yang diberikan kepada ibu-ibu yang memiliki anak sebaiknya mengurangi konsumsi makanan manis-manis pada anak-anak dengan cara memberikan bekal makanan ke sekolah sehingga akan mengurangi konsumsi makanan jajanan yang manis-manis sehingga karies gigi dapat terkurangi.Kata kunci : Perilaku konsumsi makanan manis, perilaku gosok gigi, kejadian karies gigi
HUBUNGAN ANTARA DUKUGAN KELUARGA DENGAN KEIKUTSERTAAN SENAM LANSIA DI PERUMAHAN SINAR WALUYO SEMARANG Eko Kurniadi Siswanu; MF. Mubin -; Sarah Ulliya
FIKkeS Vol 4, No 2 (2011): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.719 KB)

Abstract

Latar belakang; Senam lansia merupakan bentuk peran serta masyarakat lansia dalam upaya bidang kesehatan untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal serta kondisi menua yang sehat dan mandiri. Sehingga dalam pemanfaatannya diperlukan suatu motivasi yang mampu untuk menggerakkan diri lansia menghadiri senam lansia. Melalui dukungan keluarga yang baik diharapkan akan memunculkan motivasi lansia yang tinggi pula dalam mengikuti kegiatan senam lansia.Tujuan; Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah hubungan antara dukungan keluarga dengan keikutsertaan senam lansia.Metode penelitian; Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif non experimental dengan studi korelasional dan pendekatan yang digunakan adalah desain Retrospective. Instrumen berupa kuesioner dukungan keluarga. Subyek penelitian adalah semua lansia usia 60-82 tahun di Perumahan Sinar Waluyo Semarang dengan sample sebanyak 81 orang. Untuk pengolahan dan analisa data uji Continuity Correction.Hasil penelitian; Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara dukungan keluarga terhadap keikutsertaan senam lansia, didapatkan hasil uji Continuity Correctiondengan significancy = 0,030 pada a = 0,05Kesimpulan; Untuk dapat meningkatkan motivasi lansia dalam keikutsertaan senam lansia, hendaknya keluarga memberikan dukungan, seperti halnya dengan mengantarkan lansia mengikuti senam dapat meningkatkan semangat lansia untuk selalu aktif mengikuti senam lansia, dengan mengikuti kegitan senam lansia secara teratur lansia dapat meningkatkan status kesehatannya.Kata Kunci : Dukungan Keluarga, Senam Lansia Daftar Pustaka : 37 (1996 - 2009)
KEJADIAN INSOMNIA BERDASAR KARAKTERISTIK DAN TINGKAT KECEMASAN PADA LANSIA DI PANTI WREDHA PUCANG GADING SEMARANG Evi Rianjani; Heryanto Adi Nugroho; Rahayu Astuti
FIKkeS Vol 4, No 2 (2011): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.905 KB)

Abstract

Secara individu, pada usia diatas 55 tahun terjadi proses penuaan secara alamiah. Hal ini akan menimbulkan masalah fisik, mental, sosial, ekonomi, dan psikologi. Penyakit yang umum dijumpai pada lansia adalah penyakit gangguan tidur atau insomnia. Berdasarkan data di Panti Wredha Pucang Gading Semarang terdapat 50% lansia yang mengalami keluhan gangguan tidur diantaranya disebabkan oleh faktor kecemasan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kejadian insomnia berdasarkan karakteristik dan tingkat kecemasan pada lansia di Panti Wredha Pucanggading Semarang. Penelitian ini merupakan penelitian Deskriptif Korelasi dengan pendekatan Crossectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh lansia yang tinggal di panti Wredha Pucang Gading Semarang, sebanyak 115 orang dan sampel yang diambil adalah seluruh anggota populasi kecuali lansia yang tidak memenuhi criteria inklusi sehingga sampel berjumlah 97 orang. Variabel independent adalah karakteristik responden (umur dan jenis kelamin) serta tingkat kecemasan. Variabel dependent adalah kejadian insomnia pada lansia. Uji statistik yang digunakan korelasi Pearson Product Moment,Rank Spearman dan Chi Square (x2). Berdasarkan hasil analisis statistik diperoleh rata-rata umur responden yaitu sebesar 69,9 tahun, sebagian besar responden adalah berjenis kelamin perempuan yaitu sebesar 51 responden (52,6%), rata-rata skor tingkat kecemasan responden yaitu sebesar 32,42, rata-rata skor kejadian insomnia responden yaitu sebesar 30,10. Ada hubungan yang signifikan antara umur dengan kejadian inomnia pada lansia di Panti Wredha Pucang Gading Semarang didapatkan hasil r = 0,921 nilai p-value 0,000, Ada hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan kejadian inomnia pada lansia di Panti Wredha Pucang Gading Semarang didapatkan hasil X2 = 78,036 dan nilai p-value 0,000, Ada hubungan yang signifikan antara tingkat kecemasan dengan kejadian inomnia pada lansia di Panti Wredha Pucang Gading Semarang didapatkan hasil r = 0,952 nilai p-value 0,000. Berdasarkan hasil analisis statistik tersebut maka dapat dismpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara usia, jenis kelamin dan tingkat kecemasan dengan kejadian insomnia. Diharapkan lansia dan pengurus panti dapat lebih mengantisipasi faktor-faktor yang dapat menimbulkan kecemasan pada lansia, dan dapat mengatasi masalah yang dialaminya secara bersama-sama untuk dapat mengurangi tingkat kecemasan sehingga dapat mengurangi kejadian insomnia pada lansiaKata kunci: lansia, usia, jenis kelamin, tingkat kecemasan, insomnia

Page 1 of 1 | Total Record : 7