cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Gedung Graha Medika Lt. 1, Ruang 104
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Brawijaya
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 02169347     EISSN : 23380772     DOI : http://dx.doi.org/10.21776/ub.jkb
Core Subject : Health,
JKB contains articles from research that focus on basic medicine, clinical medicine, epidemiology, and preventive medicine (social medicine).
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 26, No 4 (2011)" : 12 Documents clear
Adhesin 61 kDa OMP C.pneumoniae Menghambat Apoptosis Makrofag Halim, Andrew; Murwarni, Sri; Sumarno, Sumarno
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 26, No 4 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (504.941 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2011.026.04.5

Abstract

Banyak bukti menunjukkan Chlamydia pneumoniae dapat menginduksi terjadinya aterosklerosis dan rupturnya plak aterosklerosis. Hal ini diperantarai oleh berbagai hal, salah satunya adalah mekanisme penghambatan apoptosis makrofag. Penelitian ini menguji keterlibatan protein struktural adhesin 61 kDa pada Outer Membrane Protein (OMP) C.pneumoniae dalam menghambat apoptosis makrofag. Makrofag diperoleh dari monosit darah perifer individu sehat. Rancangan penelitian berupa penelitian eksperimental laboratorik in vitro, post control design only. Pada penelitian ini digunakan 4 sampel monosit. Pada setiap sampel dilakukan isolasi dan kultur, serta pemberian Phorbol Myristate Acetate (PMA) agar monosit berdiferensiasi menjadi makrofag. Makrofag kemudian dipapar dengan adhesin 61 kDa OMP C.pneumoniae (kecuali pada kontrol positif) dan diinduksi agar apoptosis dengan H2O2 berbagai macam konsentrasi (5mM, 10 mM, 15mM, 20mM, 25mM, 25mM pada kontrol positif) selama 6 jam. Deteksi apoptosis makrofag dilakukan dengan menggunakan metode imunositokimia, menggunakan antibodi monoklonal terhadap kaspase 3. Hasil dianalisis secara statistik menggunakan ANOVA satu arah, α=0,05. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan bermakna jumlah makrofag yang apoptosis diantara perlakuan dan kontrol positif. Dapat disimpulkan adhesin 61 kDA OMP C.pneumoniae memiliki kemampuan menghambat apoptosis makrofag.Kata Kunci: Apoptosis, adhesin 61 kDA OMP, C.pneumoniae, H2O2, makrofag
Studi Kasus: Efek Suplemen Vitamin A dan C pada Perilaku Anak Autism Spectrum Disorder Madjri, Asmika; Fajar, Ibnu; H, Rolly Francisca
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 26, No 4 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (523.969 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2011.026.04.11

Abstract

Anak Autism Spectrum Disorder (ASD) dengan patologi usus hipersensitifitas terhadap makanan atau leaky gut seringkali menunjukkan defisiensi vitamin dan mineral  diantaranya tidak tercukupinya kebutuhan vitamin A dan C dalam jangka waktu yang lama. Salah satu cara penanganan anak ASD adalah dengan memberikan suplemen vitamin A dan C. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kecenderungan atau pengaruh penggunaan suplemen vitamin A dan C terhadap perilaku anak ASD. Rancangan penelitian yang digunakan adalah case study dengan mengamati perubahan perilaku pada lima kasus ASD yang menggunakan suplemen vitamin A dan C. Penilaian perilaku dilakukan dengan menggunakan Applied Behavioral Analysis. Hasil menunjukkan pada semua kasus menunjukkan konsumsi vitamin A dan C sebagai hasil suplemen vitamin. Pada satu kasus dengan absorbsi vitamin A dan C yang rendah karena kurangnya konsumsi lemak dan protein menunjukkan perilaku yang kurang. Empat kasus lain menunjukkan perilaku yang lebih baik.Kata Kunci: Autism Spectrum Disorder (ASD), perilaku, vitamin A, vitamin C
Soket Kontraktur Orbita: Definisi, Penyebab dan Klasifikasi D, Debby Shintiya; Lyrawati, Diana
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 26, No 4 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1066.971 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2011.026.04.12

Abstract

Soket anoftalmia (SA) lebih sering disebut sebagai anoftalmos atau anoftalmia didefinisikan secara klinis sebagai tidak adanya bola mata di dalam rongga orbita. Prevalensi anoftalmia sebesar 0,3 per 100.000 kelahiran. Berkurangnya volume SA disebut sebagai soket kontraktur (SK), pada keadaan ini soket  tidak dapat menahan protesa. Protesa yang sulit atau tidak terpasang pada soket dengan tepat dan nyaman akan menimbulkan masalah kosmetik bagi penderita. Penyebab SK dapat kongenital atau didapat (acquired). Pengklasifikasian SK sangat penting dilakukan untuk menentukan protesa dan teknik operasi rekonstruksi yang sesuai. SK diklasifikasikan sesuai derajat keparahannya dari derajat ringan (1) sampai dengan derajat berat (5). Pada derajat 5 terdapat hilangnya semua fornik disertai adanya rekurensi kontraktur yang terjadi setelah dilakukan operasi rekonstruksi yang tidak berhasil dalam 1 tahun terakhir. Hal ini menunjukkan kegagalan rekonstruksi soket yang dilakukan.Kata Kunci: Soket anoftalmia, soket kontraktur, protesa, rekonstruksi soket
Efektivitas Ekstrak Daun Ceplukan sebagai Antimikroba terhadap Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus In Vitro AR, Dwi Fitrianti; AS, Noorhamdani; Karyono, Setyawati S
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 26, No 4 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (497.835 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2011.026.04.6

Abstract

Methicillin-resistant Staphylococcuc aureus (MRSA) merupakan bakteri Staphylococcus aureus yang multi resisten terhadap antimikroba. Tumbuhan ceplukan (Physalis angulata L) dapat dijadikan sebuah alternatif pengobatan infeksi MRSA karena pada umumnya memiliki senyawa aktif yang berperan sebagai senyawa antimikroba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak daun ceplukan sebagai antimikroba terhadap MRSA in vitro. Metode yang digunakan adalah dilusi tabung untuk menentukan Kadar Hambat Minimum (KHM) dan Kadar Bunuh Minimum (KBM). Konsentrasi ekstrak daun ceplukan yang digunakan pada penelitian adalah 50%; 55%; 60%; 65%, 70%, serta 2 kelompok kontrol yaitu kelompok kontrol bakteri tanpa diberi ekstrak daun ceplukan (0%) dan kelompok kontrol bahan (100%). Hasil dari penelitian ini didapatkan pertumbuhan koloni bakteri yang lebih rendah pada pemberian ekstrak daun ceplukan dibandingkan kontrol dan jumlah koloni semakin rendah dengan meningkatnya konsentrasi ang (r=-0,770). Dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun ceplukan memiliki efektivitas sebagai antimikroba terhadap bakteri MRSA secara in vitro. Kata Kunci: Antimikroba, ekstrak daun ceplukan (Physalis angulata L.), Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA)
Pengaruh Karakteristik Demografis, Klinis dan Laboratorium pada Neonatus dengan Hiperbilirubinemia Sulistijono, Eko; Gebyarani, Ingga; Udin, M Fahrul; Corebima, Brigitta; K, Siti Lintang
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 26, No 4 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (512.593 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2011.026.04.1

Abstract

Kejadian ikterus pada bayi aterm di beberapa rumah sakit di Indonesia bervariasi antara 13,7-85%. Jenis ikterus patologis dapat menyebabkan hiperbilirubinemia. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh karakter demografi, usia klinis dan laboratorium terhadap bayi hiperbilirubinemia yang dirawat di rumah sakit umum Dr. Saiful Anwar, Malang. Penelitian ini merupakan penelitian observasional retrospektif. Data-data diambil dari rekam medis sejak Januari 2010-Oktober 2010. Dari analisis regresi multiple dengan confident interval 95% (CI 95%) dan p<0,05, ada empat faktor signifikan yang mempengaruhi tingkat bilirubin. Faktor-faktor yang berpengaruh adalah  instrumen persalinan (p=0,006), asfiksia (p=0,013), kadar hemoglobin (p=0,047), dan ASI eksklusif (p=0,049). Asfiksia, persalinan dengan instrumen, ASI eksklusif, dan tingkat hemoglobin merupakan faktor penting yang mempengaruhi tingkat bilirubin pada neonatusKata Kunci: Hiperbilirubinemia, jaundice, neonatus
Quercetin sebagai Penghambat Aktivasi NF-κβ dan Penurunan Kadar MCP-1 pada Kultur HUVECs yang Dipapar dengan Leptin Masyhur, Muhammad; Handono, Kusworini; Fitri, L Enggar; Indra, M Rasjad
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 26, No 4 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (528.298 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2011.026.04.7

Abstract

Hiperleptin mempengaruhi proses oksidasi enzim N-acetyldiphosphat (NADPH) yang berfungsi pada proses metabolisme dan reaksi redoks sehingga terjadi stres oksidatif. Peningkatan ROS menyebabkan aktifnya nuclear factor kappa beta (NF-κβ) yang mengubah reaksi redoks di dalam sel melalui dimer p50 dan p65 yang bertranslokasi ke inti sel yang akan mempengaruhi gen promoter untuk mengekspresikan faktor kemotaksis yaitu monocyte chemoattractant protein-1 (MCP-1). Tujuan penelitian ini adalah melihat efektifitas quercetin pada penurunan ekspresi protein proinflamasi penyebab aterosklerosis. Penelitian ini merupakan eksperimental murni dengan menggunakan sampel kultur sel endotel manusia (HUVECs) yang diberi leptin 500ug/mL dan diinkubasi selama 6 jam yang selanjutnya diberi perlakuan quercetin dengan variasi dosis 0 µM, 50 µM, 125 µM dan 625 µM dan diamati aktivasi NF-κβ menggunakan metode immunofluorescence dan kadar MCP-1 menggunakan teknik ELISA. Hasil analisa data dengan menggunakan Tukey menunjukan adanya penurunan aktivasi NF-κβ yang signifikan setelah diinkubasi dengan quercetin dosis 125 µM (p&lt;0,001) dan penurunan kadar MCP-1 sebesar 503,40±23,93324 (p&lt;0,001) apabila dibandingkan dengan kontrol positif. Dosis optimal quercetin adalah perlakuan dengan dosis 125 µM karena memberikan pengaruh yang signifikan dalam menurunkan kadar MCP-1 dan penghambatan aktivasi NF-κβ. Dosis 625 µM hanya menghambat aktivasi NF-κβ tetapi tidak signifikan dalam menurunkan kadar MCP-1 (p=0,916). Peningkatan dosis quercetin menunjukkan korelasi yang signifikan dengan penurunan kadar MCP-1 (r=-0,498, p&lt;0,001) dan penghambatan aktivasi NF-κβ (r=-0,803, p&lt;0,001). Kata Kunci: Aktivasi NF-κβ, disfungsi endotel, leptin, MCP-1, quercetin
Gambaran Klinis dan Laboratoris Diabetes Melitus Tipe-1 pada Anak C, Haryudi Aji
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 26, No 4 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.393 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2011.026.04.2

Abstract

Diabetes mellitus tipe 1 disebabkan oleh kerusakan sel β pankreas sehingga produksi insulin tidak memadai. Gambaran klinis dan laboratorium telah banyak dipelajari. Penelitian ditujukan untuk mereview gambaran Klinis pada pasien yang didiagnosis diabetes melitus tipe 1  di laboratorium Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar antara tahun 2005 dan 2009. Penelitian deskriptif pada 27 pasien Diabetes Mellitus tipe 1, usia 1-14 tahun, tingkat kejadian diabetes mellitus tipe 1 di klinik rawat jalan selama periode 2005-2009 adalah 0,0034%. Ada tiga puluh pasien diabetes mellitus tipe 1 dengan durasi penyakit lebih dari 2 tahun, dengan rasio laki-laki dan wanita adalah 1:1,7. Sebagian besar pasien tidak memiliki riwayat keluarga diabetes dan memiliki malnutrisi sedang. Frekuensi rata-rata pemantauan glukosa darah di rumah kurang dari ideal. 23 dari 27 pasien gambaran metabolik sepenuhnya terkendali.  Pasien masih memiliki poliuria, polidipsia, dan polifagia. Semua pasien diabetes mellitus tipe 1 memiliki poliuria, polidipsia, polifagia dan penurunan berat badan. Mayoritas usia pasien 5-10 tahun dengan jenis kelamin perempuan. Sebagian besar pasien tidak memiliki riwayat Diabetes mellitus, dan pasien dirawat di rumah sakit dengan ketoasidosis diabetik, malnutrisi sedang, dan kadar gula darah lebih dari 300 mg/dl.Kata Kunci: Anak, DM tipe 1, gambaran klinis
KOMBINASI KLOROKUIN DAN N-ACETYL CYSTEINE MENURUNKAN EKSPRESI INOS TUBULUS PROKSIMAL GINJAL MENCIT YANG DIINFEKSI PLASMODIUM BERGHEI Fitri, L Enggar; Sarwono, Imam; Rahmalia, Rita
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 26, No 4 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (672.953 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2011.026.04.8

Abstract

Gagal ginjal adalah salah satu komplikasi malaria dengan adanya kerusakan pada tubulus selain disebabkan sumbatan kapiler oleh eritrosit terinfeksi Plasmodium juga adanya keterlibatan peningkatan produksi Nitric Oxide yang dikatalis enzim inducible Nitric Oxide Synthase (iNOS). Penelitian ini untuk mengetahui efek pemberian kombinasi klorokuin dan NAC terhadap ekspresi inducible Nitric Oxide Synthase (iNOS) pada sel tubulus proksimal ginjal terinfeksi malaria. Kombinasi klorokuin dan NAC yang dicobakan pada penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimental terhadap mencit Balb/c jantan yang diinfeksi Plasmodium berghei. Kelompok penelitian dibagi menjadi kelompok kontrol (-) (normal) ,kelompok kontrol (+) (mencit terinfeksi Plasmodium tanpa terapi), kelompok klorokuin dengan dosis 0,05 mg/grBB, dan kelompok kombinasi klorokuin dengan dosis 0,05 mg/grBB dan NAC dengan dosis 0,05 mg/grBB. Setelah diinfeksi dan derajat parasitemia mencapai 15% masing-masing kelompok diberi perlakuan. Pada hari ke 3 dan 7 mencit dari masing-masing kelompok dimatikan. Efek kerja klorokuin dan NAC dilihat dari perubahan jumlah ekspresi iNOS yang dideteksi dengan tehnik imunohistokimia pada sel tubulus proksimal ginjal. Hasil memperlihatkan ekspresi iNOS meningkat secara signifikan pada sel tubulus proksimal ginjal yang diinfeksi Plasmodium (p&lt;0,05) dan mengalami penurunan secara signifikan dengan pemberian kombinasi klorokuin dan NAC pada hari ke-3 dan ke-7 (p&lt;0,05). Kesimpulannya infeksi Plasmodium ekspresi iNOS pada sel tubulus proksimal ginjal mencit meningkat, ekspresi iNOS menurun baik dengan pemberian klorokuin saja maupun dengan pemberian kombinasi klorokuin dan NAC.Kata Kunci: Plasmodium berghei, klorokuin, N-acetyl cysteine (NAC), inducible Nitric Oxide Synthase (iNOS)
Suplementasi Ekstrak Bilberry Menurunkan Kadar Malondialdehid Lensa Penderita Katarak Senilis Sulistya, T Budi; Mutamimma, Alfi
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 26, No 4 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (529.345 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2011.026.04.3

Abstract

Salah satu faktor yang berperan pada katarak senilis adalah stres oksidatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh ekstrak bilberry untuk mengurangi kadar malondialdehid lensa katarak senilis. Uji klinis tersamar ganda dilakukan dengan 33 orang pasien katarak senilis. Subjek dibagi menjadi 3 kelompok secara merata yaitu plasebo, perlakuan 100 mg ekstrak bilberry dan 300 mg ekstrak bilberry. Pengobatan yang diberikan sampai 14 hari sebelum operasi katarak untuk mengevaluasi tingkat malondialdehid. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan uji Tukey. Tingkat rata-rata malondialdehid di kelompok plasebo, ekstrak bilberry 100 mg, dan 300mg adalah 11,82± SD 2,96 nmol/mg, 7,99±SD1,99 nmol/mg, dan 5,22±1,27SD nmol/mg. Efek penurunan malondialdehid dengan pemberian 100 mg dan 300 mg ekstrak bilberry berbeda signifikan (p<0,05). Terdapat korelasi negatif antara ekstrak bilberry dan malondialdehid tergantung dosis (r=-0,760; p<0,001). Diagram menunjukkan bahwa peningkatan dosis ekstrak bilberry akan mengakibatkan penurunan tingkat malondialdehid pada pasien katarak senilis. Dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak suplemen bilberry dapat mengurangi kadar malondialdehid di lensa pasien katarak senilis dan peningkatan dosis ekstrak bilberry berkorelasi dengan tingkat penurunan malondialdehid pada lensa penderita katarak senilis.Kata Kunci: Ekstrak bilberry, katarak senilis, malondialdehid
Paparan Morfin Dosis Letal pada Bangkai Tikus terhadap Pertumbuhan Larva Sarcophaga Sp. I, Dicky Faizal; B, Aswin Djoko; Sidharta, Bambang
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 26, No 4 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1042.843 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2011.026.04.9

Abstract

Dalam mengidentifikasi jenazah yang tidak terdeteksi, peran post mortem interval (PMI) sangat penting untuk memperkirakan waktu kematian dengan menentukan umur larva lalat yang terdapat pada jenazah. Umur larva lalat sangat dipengaruhi oleh suhu lingkungan, makanan, kelembapan, intensitas cahaya, dan kontaminan. Kontaminan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan larva lalat adalah narkotika. Keberadaan bahan narkotika mampu mengacaukan estimasi waktu kematian hingga 29 jam. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan media dua bangkai tikus tanpa paparan morfin dan dengan paparan morfin dosis letal. Kedua media tumbuh ini dimasukkan kandang dengan lalat Sarcophaga Sp. Dilakukan pengamatan setiap 24 jam mulai dari larva lalat stadium satu sampai lalat dewasa. Dari setiap media tumbuh diambil lima larva secara acak setiap hari, direndam dalam air panas sampai mati. Selama penelitian dilakukan penentuan stadium larva berdasarkan panjangnya dan jumlah slit pada posterior spirakelnya. Hasil menunjukkan pada media tumbuh yang dipapar morfin dosis letal menunjukkan hasil pertumbuhan larva baik panjang maupun berat lebih tinggi secara signifikan dibandingkan pertumbuhan larva pada media tumbuh yang tidak dipapar morfin dosis letal dengan durasi pencapaian stadium lebih cepat. Perbedaan panjang larva dan durasi pencapaian stadium mulai tampak setelah larva stadium satu. Kata Kunci: Entomologi forensik, morfin dosis letal, Sarcophaga Sp.

Page 1 of 2 | Total Record : 12