cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Gedung Graha Medika Lt. 1, Ruang 104
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Brawijaya
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 02169347     EISSN : 23380772     DOI : http://dx.doi.org/10.21776/ub.jkb
Core Subject : Health,
JKB contains articles from research that focus on basic medicine, clinical medicine, epidemiology, and preventive medicine (social medicine).
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 27, No 4 (2013)" : 12 Documents clear
Ekstrak Metanol Daun Kelor Mempengaruhi Ekspresi p53 Mukosa Kolon Tikus yang Diinduksi DMBA Rahmahani, Fitria Nurindro; Indra, Mohamad Rasjad; Lyrawati, Diana
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 4 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (702.635 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2013.027.04.5

Abstract

Protein p53 berperan pada jalur respon stres yang mencegah pertumbuhan dan survival sel-sel yang memiliki potensikeganasan dan banyak diekspresikan pada sel yang mengalami mutasi dan stres genotoksik. Penelitian ini bertujuanmengetahui pengaruh ekstrak metanol daun Moringa oleifera terhadap jumlah epitel yang mengekspresikan p53 padamukosa kolon Rattus novergicus strain wistar jantan yang diinduksi DMBA. Penelitian ini merupakan penelitianeksperimental dengan rancangan post test control group design yang menggunakan 20 ekor tikus wistar jantan yangdibagi secara acak menjadi lima kelompok. Kelompok I diberi diet normal tanpa DMBA dan ekstrak metanol daun Moringaoleifera selama 105 hari. Kelompok II diberi diet normal dan DMBA 10 mg/kgBB/hari per oral selama 45 hari, dilanjutkandengan diet normal saja selama 60 hari. Kelompok III-V diberi diet normal dan DMBA 10 mg/kgBB/hari per oral selama 45hari, dilanjutkan dengan diet normal dan ekstrak metanol daun Moringa oleifera dalam berbagai dosis (20, 40, dan 80mg/kgBB/hari) per oral selama 60 hari. Jumlah epitel yang mengekspresikan p53 pada mukosa kolon tikus dihitungmenggunakan metode imunohistokimia. Analisis data menggunakan metode One Way ANOVA diikuti dengan uji post hocTukey menunjukkan bahwa ekstrak metanol daun Moringa oleifera memberikan pengaruh yang signifikan terhadapjumlah epitel yang mengekspresikan p53 (p=0,042) (dari 12 sel pada kelompok II menjadi 5 sel pada kelompok IV per60.000 sel). Kesimpulan penelitian ini adalah ekstrak metanol daun Moringa oleifera dapat menurunkan jumlah epitelyang mengekspresikan p53 pada mukosa kolon tikus wistar jantan yang diinduksi DMBA.Kata Kunci: Daun Moringa oleifera, DMBA, ekstrak metanol, p53
Caffeic Acid Phenethyl Ester Menurunkan Ekspresi Endoglin pada Kultur HUVECs yang Dipapar Glukosa Tinggi L, Tri Ayu; Refa, Safaruddin
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 4 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (565.49 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2013.027.04.3

Abstract

Komplikasi vaskuler pada diabetes mellitus (DM) menimbulkan keadaan hipoksia yang berlanjut pada proses angiogenesis yang dapat dicegah dengan antiioksidan diantaranya caffeic acid phenethyl Ester (CAPE). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian CAPE terhadap ekspresi endoglin pada HUVECs yang dipapar glukosa tinggi. Penelitian ini menggunakan desain analitik eksperimental pada HUVECs primer yang dipapar glukosa tinggi. HUVECs dibagi menjadi 5 kelompok yaitu: 1. HUVECs+DMSO (kontrol negatif), 2. HUVECs+glukosa 22 mM+DMSO (kontrol positif), 3. HUVECs+glukosa 22 mM+CAPE 3 µM+DMSO 4. HUVECs+glukosa 22 mM+CAPE 10 µM+DMSO, 5. HUVECs+glukosa 22 mM+CAPE 30 µM+DMSO. Inkubasi dilakukan selama 48 jam pada suhu 37°C, lalu dilakukan pengecatan imunositokimia menggunakan antibodi endoglin. Ekspresi endoglin diamati dengan mikroskop cahaya 400x, endoglin tervisualisasi berwarna coklat. Didapatkan perbedaan efek CAPE  di antara kelompok perlakuan terhadap ekspresi endoglin pada HUVECs yang dipapar glukosa tinggi (ANOVA p=0,000). Ekspresi endoglin pada tiap kelompok didapatkan perbedaan signifikan (Tukey test, p<0,05), kecuali antar kelompok 1 dan 5 tidak didapatkan perbedaan signifikan (Tukey test, p>0,05). Dengan Person test didapatkan korelasi positif signifikan antara pemberian CAPE dengan ekspresi endoglin pada HUVECs yang dipapar glukosa tinggi (r=-0,839; p=0,000). Pemberian CAPE dapat menurunkan ekspresi endoglin pada HUVECs yang dipapar glukosa tinggi.Kata Kunci: Caffeic acid phenetyl ester, endoglin, HUVECs
Potensi Kadar Neopterin sebagai Biomarker untuk Monitoring Kemajuan Terapi TB Paru pada Anak Sholeh, Aunillah Hamid; Raras, TY Mardining; Kusuma, HMS Chandra
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 4 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2013.027.04.7

Abstract

Kadar neopterin plasma ditemukan berhubungan dengan efikasi terapi pada tuberkulosis paru pasien dewasa. Penanda biologis untuk diagnosis tuberkulosis pada anak masih terus diteliti. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi peran neopterin sebagai penanda biologis untuk mengevaluasi keberhasilan terapi standar tuberkulosis paru pada anak. Sebanyak 25 pasien dengan tuberkulosis paru diikuti selama enam bukan. Kadar neopterin plasma diukur dengan metode ELISA sebelum terapi, 2, 4, dan 6 bulan sesudah terapi. Sepuluh anak sehat ditetapkan sebagai kontrol. Hasil menunjukkan pada semua pasien kadar neopterin tertinggi didapatkan sebelum terapi dengan rerata 0,27 (SD 0,09c ) ng/mL. Kadar neopterin plasma pada kelompok kontrol  1,50 (SD 0,18) ng/mL, sebelum terapi 1,12 (SD 0,22) ng/mL, bulan kedua 1,08 (SD 0,22) ng/mL, bulan keempat 0,97 (SD 0,35) ng/mL, dan bulan keenam 0,45 (SD 0,29) ng/mL. Kadar neopterin tertinggi didapatkan sebelum terapi yang kemudian menurun secara bertahap sesuai terapi bersamaan dengan perbaikan gejala klinis. Kadar neopterin pada kontrol lebih tinggi dibandingkan pasien selama masa pengamatan. Dapat disimpulkan kadar neopterin plasma mempunyai potensi sebagai biomarker kemajuan terapi tuberkulosis paru anak.Kata Kunci: Anak, biomarker, neopterin plasma, terapi, tuberkulosis paru
Isolat EGCG Teh Hijau Klon GMB4 Menurunkan Ekspresi Protein Faktor Transkripsi C/EBPα dan Kadar Leptin pada Kultur Sel Preadiposit Visceral Tikus Wardhana, Analis W; Ratnawati, Retty; Sujuti, Hidayat
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 4 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (633.465 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2013.027.04.6

Abstract

Isolat golongan senyawa katekin teh hijau (Camelia sinensis) klon GMB4 dapat dikembangkan sebagai agen terapeutik potensial untuk obesitas. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui efek isolat EGCG teh hijau klon GMB4 terhadap ekspresi protein faktor transkripsi C/EBPα dan terhadap kadar protein leptin pada kultur preadiposit viseral tikus. Metode ELISA digunakan untuk mengukur kadar leptin dan immunositokimia untuk ekspresi protein faktor transkripsi C/EBPα. Kultur sel preadiposit viseral tikus yang diisolasi dari tikus Rattus norvegicus Wistar yang ditumbuhkan dalam medium adipogenik dan selanjutnya dipapar dengan isolat golongan senyawa katekin teh hijau (Camelia sinensis) klon GMB4 dengan konsentrasi 0, 50 µM, 100 µM, dan 200 µM. Ekspresi C/EBPα paling rendah terdapat pada konsentrasi isolat EGCG 200 µM. Kadar leptin menurun seiring dengan dosis EGCG yang dinaikkan, sehingga kadar leptin berbanding terbalik dengan dosis EGCG. Kadar leptin terendah pada pemaparan EGCG dengan dosis 200 µM. Dapat disimpulkan bahwa isolat EGCG teh hijau klon GMB4 secara signifikan dapat menurunkan ekspresi  protein faktor transkripsi  C/EBPα pada kultur preadiposit viseral tikus pada konsentrasi 200 µM dan menurunkan kadar protein leptin pada kultur preadiposit viseral tikus pada konsentrasi 50 µM, 100 µM, dan 200 µM.Kata Kunci: C/EBPα, EGCG, GMB4, leptin, sel preadiposit, teh hijau
Ekstrak Metanol Daun Kelor Menurunkan Ekspresi BCL-2, TRAIL-R1, dan Kadar Caspase-3 Jaringan Kolon Tikus yang Diinduksi DMBA Sihite, Bov Adventus; endang, tinny
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 4 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2013.027.04.4

Abstract

Ekstrak metanol daun kelor atau Moringa oleifera dapat berfungsi sebagai antioksidan, antiproliferasi, maupun antitumor. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan pengaruh pemberian ekstrak methanol daun kelor khususnya varietas NTT terhadap ekspresi protein-protein apoptosis (TRAIL R1, Bcl-2, dan caspase-3) pada jaringan kolon tikus wistar yang diinduksi DMBA. Rancangan eksperimental post test group design dilakukan dilakukan pada 30 ekor tikus wistar yang dipilih secara random acak lengkap. Semua tikus dikondisikan dalam keadaan homogen dan dibagi dalam 5 kelompok perlakuan berdasarkan dosis ekstrak metanol daun kelor var NTT dan DMBA yang diberikan secara peroral dan selanjutnya diamati selama 60 hari. Pemeriksaan TRAIL-R1 dan Bcl-2 dengan metode imunohistokimia (Anti human/mouse/rat Bcl-2 purified mouse monoclonal IgG2 dan Anti-m TRAIL R1 purified Rat monoclonal IgG2A, R&D system). Pemeriksaan caspase-3 dengan metode ELISA (human/mouse caspase-3 Duoset IC® ELISA R&D System). Data dianalisis dengan uji ANOVA dan korelasi. Hasil menunjukkan pemberian ekstrak metanol daun kelor var NTT memberikan rerata TRAIL R1 yang lebih rendah bermakna pada dosis 20 dan 40 mg/KgBB  namun tidak pada dosis 80 mg/KgBB. Ketiga dosis tersebut juga memberikan rerata Bcl-2 lebih rendah dibanding kontrol positif. Tidak ada hubungan bermakna rerata caspase-3 antar perlakuan dengan (F=0,375, p=0,824). Dapat disimpulkan pemberian ekstrak metanol daun kelor varian NTT dapat menurunkan ekspresi TRAIL-R1 pada dosis 20 dan 40mg/KgBB dan ekspresi Bcl-2 pada semua dosis namun tidak berpengaruh terhadap kadar rerata caspase-3 pada jaringan kolon tikus yang diinduksi DMBA.Kata Kunci: Bcl-2, caspase-3, daun kelor, DMBA, kanker, TRAIL-R1
Terapi ARV Meningkatkan Kadar IL-17 Serum pada Pasien HIV Wahyudi, Hendrik; Candradikusuma, Didi; B, Niniek Budiarti; Ismanoe, Gatoet
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 4 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (529.47 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2013.027.04.8

Abstract

Penurunan jumlah atau fungsi Th-17 mempengaruhi produksi IL-17 sehingga virus HIV lebih mudah mengalami replikasi. Pemberiaan ARV yang dapat menekan replikasi virus HIV diharapkan dapat memperbaiki produksi IL-17 dan menyebabkan pulihnya fungsi Th-17. Penelitian dilakukan untuk mengetahui rerata kadar IL-17 serum pada pasien HIV sebelum dan setelah 3 bulan mendapat terapi ARV. Survei pre dan post tes dilakukan pada  pasien infeksi HIV yang baru terdiagnosa di RSU Dr. Saiful Anwar-Malang. Diagnosa HIV berdasarkan  kriteria WHO, dan IL-17 serum diukur dengan metode ELISA. Hitung limfosit T-CD4 absolut menggunakan metode flowcytometry. Analisa statistik yang digunakan untuk komparasi numerik  adalah uji t berpasangan dan  analisa korelasi menggunakan uji Spearman. Kadar IL-17 serum penderita HIV sebelum dan sesudah 3 bulan mendapat terapi ARV adalah 44,17±12,56 pg/mL dan 52,91±9,90 pg/mL (p=0,005). Hitung sel limfosit T-CD4 absolut  sebelum dan sesudah 3 bulan mendapat terapi ARV adalah 69,41±95,06 cells/mL dan 180,72±73,15 cells/mL (p=0,000). Kadar IL-17 serum didapatkan tidak berkorelasi dengan hitung sel T-CD4 absolut (p=0,914, r=-0,024). Dapat disimpulkan kadar IL-17 serum dan CD4 penderita HIV setelah 3 bulan mendapat terapi ARV lebih tinggi dibandingkan sebelum mendapat terapi ARV, namun, kadar IL-17 tidak berhubungan dengan hitung sel limfosit T-CD4.Kata Kunci: CD4, infeksi HIV, IL-17 serum, Th-17
Determinan Keberhasilan Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif Kurniawan, Bayu
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 4 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (515.539 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2013.027.04.11

Abstract

Pemberian ASI eksklusif secara nasional pada tahun 2010-2012 hanya 33,6-35%. Menyusui adalah perilaku kesehatan multidimensional yang dipengaruhi oleh interaksi dari faktor sosial, demografi, biologi, pre/postnatal, dan psikologi. Penelitian dilakukan untuk mengidentifikasi faktor determinan pemberian ASI eksklusif. Cross sectional retrospective study dilakukan di Instalasi Rawat Jalan dan Rawat Inap RS Muhammadiyah Lamongan pada Januari-Maret 2013. Sebanyak 150 ibu dari anak berusia 6-24 bulan dilibatkan sebagai sampel penelitian yang diambil dengan metode purposive quota sampling. Kuesioner digunakan sebagai instrumen penelitian untuk mengevaluasi faktor sosiodemografik, pre/postnatal, dan psikososial terhadap keberhasilan ibu memberikan ASI eksklusif dengan uji korelasi Spearman. Hasil menunjukkan angka ASI eksklusif sebesar 35,3% dengan masa pemberian terbanyak sampai usia 4 bulan. Permasalahan menyusui (rs=0,249, p=0,002) dan kunjungan ke klinik laktasi, keinginan (rs=0,306, p=0,000), keyakinan (rs=0,306, p=0,000), dan persepsi ibu tentang kepuasan bayi saat menyusu (rs=0,263, p=0,001), dukungan suami (rs=0,318, p=0,000) dan orang tua (rs=0,290, p=0,000) mendorong keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Usia tua (rs=-0,196, p=0,016), ibu bekerja (rs=-0,170, p=0,038), pemberian susu formula di instansi pelayanan kesehatan(rs=-0,335, p=0,000), MPASI dini pada bayi usia &lt;6 bulan (rs=-0,710, p=0,000), dan pemakaian empeng (pacifier) (rs=-0,189, p=0,020) menjadi faktor yang menghalangi keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Pemberian MPASI dini merupakan faktor determinan negative yang paling kuat, sedangkan keyakinan dan persepsi ibu yang kuat tentang menyusui merupkan faktor determinan positif yang paling kuat. Kata Kunci: ASI eksklusif, pre/post natal, psikososial, sosiodemografi
Hubungan Orang Tua Perokok dengan Status Refraksi pada Anak F, Nur Khoma; A, Nanda Wahyu
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 4 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (490.714 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2013.027.04.9

Abstract

Hubungan antara orang tua perokok dengan status refraksi sampai saat ini belum begitu jelas. Hasil penelitian secara eksperimental pada hewan coba dan secara observasional pada manusia mempunyai hasil yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara orang tua yang merokok dengan status refraksi dan parameter biometri okular pada anak. Penelitian ini merupakan suatu penelitian analitik  observasional  pada pasien yang berkunjung ke poli mata sub divisi refraksi periode 1 September 2011 sampai 30 April 2012 dan didiagnosa dengan miopia, emetropia atau hipermetropia. Parameter biometri okular diukur menggunakan biometri. Rerata ketebalan kornea sentral  536,89±10,38 µm, panjang bola mata 24,11±1,29 mm, kedalaman bilik mata depan 3,62±0,29 mm dan ketebalan lensa 3,45±0,15 mm. Panjang bola mata dan kedalaman bilik mata depan didapatkan perbedaan yang bermakna antara kelompok dengan orang tua perokok dan yang tidak merokok. Orang tua perokok mempunyai hubungan yang signifikan dengan status refraksi, panjang bola mata dan kedalaman bilik mata depan, tetapi tidak berhubungan dengan ketebalan lensa.Kata Kunci: Anak, orang tua, parameter biometri okular,  rokok, status refraksi
PROBIOTIK TIDAK MEMPENGARUHI PROFIL SEL IMUN ADAPTIF PADA INFEKSI ESCHERICHIA COLI Proborini, Astri; Sumarno, Sumarno; Sumakto, Sumakto
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 4 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (674.594 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2013.027.04.1

Abstract

Probiotik diketahui memiliki peran potensial dalam manajemen beberapa kondisi patologis. Salah satu mekanisme penting dari sistem imun adalah konsep keseimbangan sitokin yang diperankan oleh sel Th1, Th2, Tregulator, dan sel Th17. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian Lactobacillus rhamnosus dan L. acidophilus terhadap ekspresi sitokin Th1, Th2, Tregulator, Th17 pada sistem imun adaptif sistemik mencit yang terpapar oleh Lipopolisakarida (LPS) Escherichia coli. Tiga puluh dua ekor mencit BALB/c jantan dibagi menjadi 4 kelompok yaitu kelompok kontrol, LPS (mendapat LPS per sonde pada hari pertama), probiotik (mendapat probiotik per sonde selama 7 hari), LPS-Probiotik (mendapat LPS per sonde pada hari pertama, dilanjutkan probiotik per sonde selama 7 hari berikutnya). Pada hari ke-9 semua mencit dibunuh dan diambil sampel darahnya. Sel penghasil sitokin Th1 (IL-2, IFN-?), Th2 (IL-4, IL-5), Tregulator (IL-10, TGF-?) dan Th17 (IL-17, IL-23) diperiksa dengan metode flowcytometri. Kelompok Probiotik, LPS dan LPS-Probiotik menunjukkan penurunan semua sel penghasil sitokin IL-2, IL-17, IL-23, IL-4, IL-10 dan TGF-? yang berbeda bermakna dibanding kontrol, sedangkan kelompok LPS-Probiotik tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna pada sel penghasil sitokin bila dibandingkan kelompok LPS. Pemberian probiotik pada penelitian ini tidak berpengaruh terhadap ekspresi sitokin sel Th1, Th2, Tregulator dan Th17 pada darah mencit yang terpapar LPS.Kata Kunci: LPS, probiotik, respon imun adaptif sistemik
Faktor Risiko Sepsis Awitan Dini pada Neonatus Sulistijono, Eko; RVC, Brigitta Ida; K, Siti Lintang; K, Astrid Kristina
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 4 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (505.546 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2013.027.04.10

Abstract

Faktor risiko maternal pada sepsis  neonatal adalah ketuban pecah dini (KPD), demam pada ibu dua minggu sebelum kelahiran, cairan mekoneal yang bau dan persalinan dengan tindakan, sedangkan faktor risiko pada janin adalah berat lahir, usia kehamilan dan skor apgar. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikaso prevalensi, karakteristik dan hubungan antara faktor risiko maternal dan fetus dengan terjadinya sepsis awitan dini. Strudi dilakukan pada Juli hingga Desember 2008 dengan menggunakan data rekam medis pasien yang memenuhi kriteria. Data faktor risiko ibu dan janin dianalisis dengan uji Chi-square. Hasil menunjukkan bahwa dari 69 pasien yang memenuhi kriteria didapatkan 45 pasien yang terbukti sepsis, dan 24 pasien yang meskipun menunjukkan tanda klinis sepsis namun pemeriksaan kultur darah negatif. Faktor risiko maternal yang menunjukkan hubungan signifikan adalah ketuban pecah dini (p=0,017, OR=3,466) dan faktor risiko janin adalah berat lahir rendah (p=0,034, OR=7,441) dan skor apgar menit pertama <7 (p<0,001); OR=9,1). Dapat disimpulkan bahwa ketuban pecah dini, berat lahir yang rendah serta skor apgar<7 meningkatkan risiko terjadi sepsis awitan dini pada neonates.Kata Kunci: Faktor risiko, ibu, janin, sepsis awitan dini

Page 1 of 2 | Total Record : 12