cover
Contact Name
Herie Saksono
Contact Email
heri030@brin.go.id
Phone
+628118899965
Journal Mail Official
jurnaletheia@gmail.com
Editorial Address
Pondok Indah Office Tower 3, 17 Floor, Jl. Sultan Iskandar Muda Kav. V-TA Pondok Indah, Jakarta - 12310
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Aletheia: Jurnal Sosial & Humaniora, Inovasi, Ekonomi dan Edukasi
Published by INDOCAMP
ISSN : 30642485     EISSN : 30642612     DOI : https://doi.org/10.63892/aletheia
Fokus dan Ruang Lingkup Fokus ALETHEIA: Jurnal Sosial & Humaniora, Inovasi, Ekonomi, dan Edukasi merupakan jurnal ilmiah yang berfokus pada bidang-bidang ilmu Sosial & Humaniora, Inovasi, Ekonomi, dan Edukasi beserta pengembangannya. Jurnal ini menerbitkan artikel berdasarkan studi empiris baik yang menggunakan pendekatan kuantitatif atau kualitatif atau kombinasi keduanya. Ruang Lingkup ALETHEIA: Jurnal Sosial & Humaniora, Inovasi, Ekonomi, dan Edukasi membutuhkan artikel ilmiah tentang Sosial & Humaniora, Inovasi, Ekonomi, dan Edukasi. Ini mencakup isu-isu di berbagai tingkat analisis (penelitian pribadi, kelompok, dan kemasyarakatan). Selain itu, memberikan peluang publikasi artikel berdasarkan penelitian interdisipliner, multidisipliner, transdisipliner, dan krosdisipliner, bahkan memprioritaskan dan/atau memberikan ruang khusus untuk itu.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 2 No 1 (2025)" : 6 Documents clear
Akselerasi Motorisasi di Wilayah Kepulauan Lombok-Sumbawa: Evaluasi Pertumbuhan Kendaraan Bermotor dan Tantangan Infrastruktur Transportasi Darat Idna Raudatul Khotimah; Baiq Mela Hilma Yunita; Karina Juniarti Utami; Herie Saksono
ALETHEIA: Jurnal Sosial & Humaniora, Inovasi, Ekonomi, dan Edukasi Vol 2 No 1 (2025)
Publisher : Penerbit Indocamp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63892/aletheia.2.2025.15-25

Abstract

Wilayah Kepulauan Lombok-Sumbawa mengalami fenomena akselerasi motorisasi yang signifikan dalam era revolusi industri 4.0 dan masyarakat 5.0, namun tidak diimbangi pengembangan infrastruktur transportasi yang memadai. Studi transportasi di wilayah kepulauan masih relatif terbatas, khususnya yang menganalisis disparitas antara pertumbuhan kendaraan bermotor dan kapasitas infrastruktur secara komprehensif. Studi ini menjawab pertanyaan: bagaimana pola akselerasi motorisasi di wilayah Kepulauan Lombok-Sumbawa periode 2015-2023 dan tantangan infrastruktur transportasi darat yang dihadapi? Tujuannya untuk menganalisis akselerasi motorisasi dalam konteks tantangan infrastruktur dan merumuskan rekomendasi strategis untuk pengembangan transportasi berkelanjutan. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif-analitis dengan analisis Compound Annual Growth Rate (CAGR) terhadap data runtut-waktu kendaraan bermotor dan infrastruktur transportasi periode 2015-2024 dari Badan Pusat Statistik. Hasil menunjukkan pertumbuhan kendaraan bermotor mencapai CAGR 5,70% dengan dominasi sepeda motor 90,34%, kontras dengan penurunan panjang jalan sebesar 1.008,56 kilometer (CAGR -1,38%). Temuan kritis mengungkapkan disparitas mengkhawatirkan, di mana rata-rata penambahan 97.740 unit kendaraan per tahun harus menggunakan jaringan jalan yang berkurang 126,07 kilometer per tahun. Heterogenitas spasial menunjukkan panjang jalan di Kabupaten Lombok Utara tumbuh 8,45%, sementara di Kabupaten Lombok Timur turun drastis -10,06%. Kesimpulan menunjukkan ketimpangan fundamental antara motorisasi dan infrastruktur yang mengancam keberlanjutan transportasi regional. Rekomendasi meliputi pengembangan Rencana Induk Transportasi Kepulauan, implementasi Bus Rapid Transit, dan pembentukan Otoritas Transportasi Regional untuk koordinasi tata kelola multilevel yang berkelanjutan.
High-Volume, Short-Duration Tourism: Fenomena Baru Industri Perhotelan dalam Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah NTB Asri Rahmawati; Mery Afrianti; Karina Juniarti Utami; Herie Saksono
ALETHEIA: Jurnal Sosial & Humaniora, Inovasi, Ekonomi, dan Edukasi Vol 2 No 1 (2025)
Publisher : Penerbit Indocamp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63892/aletheia.2.2025.39-48

Abstract

Industri perhotelan di Nusa Tenggara Barat (NTB) mengalami transformasi struktural fundamental pasca-pandemi COVID-19. Penelitian ini menganalisis dinamika pemulihan hotel berbintang dan non-bintang periode 2021–2024 untuk mengidentifikasi kontribusi sektor perhotelan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data sekunder BPS NTB, penelitian menerapkan analisis CAGR terhadap tiga indikator: Jumlah Tamu Menginap (JTM), Rata-rata Lama Menginap (RLM), dan Tingkat Penghunian Kamar (TPK). Hasil penelitian menunjukkan pertumbuhan JTM yang spektakuler pada hotel berbintang (CAGR 35,58%), dipimpin oleh hotel bintang 5 (66,44%) yang mengindikasikan fenomena “revenge travel”. Paradoks signifikan muncul pada RLM: hotel berbintang secara agregat mengalami kontraksi (-5,92%) sementara hotel non-bintang tumbuh positif (4,29%). Hotel non-bintang mencatat pertumbuhan TPK agresif (23,49%) dengan pencapaian absolut 1.019.211 tamu, yang mengonfirmasi “demokratisasi pembangunan pariwisata”. Temuan ini mengkonfirmasi evolusi menuju “Hospitality 4.0” yang dicirikan pariwisata bervolume tinggi berdurasi pendek. Polarisasi kinerja menguntungkan segmen luxury dan budget, sementara mid-range menghadapi tekanan kompetitif. Penelitian ini memvalidasi peran hotel sebagai sektor basis ekonomi NTB dan merekomendasikan pengembangan Master Plan Perhotelan 2025-2030 dengan strategi zonasi investasi berbasis segmen, program fasilitasi diferensial, dan implementasi sistem monitoring real-time. Diharapkan rekomendasi ini dapat mengoptimalkan kebijakan pembangunan sektor perhotelan yang berkelanjutan dan inklusif di NTB.
Implikasi Kesejahteraan dan Kesenjangan Digital: Analisis Kritis Disparitas Pertumbuhan Akses Telekomunikasi di Provinsi Nusa Tenggara Barat Kurun Waktu 2014–2023 Lia Hartini; Baiq Yuniarti Aziza; Karina Juniarti Utami; Herie Saksono
ALETHEIA: Jurnal Sosial & Humaniora, Inovasi, Ekonomi, dan Edukasi Vol 2 No 1 (2025)
Publisher : Penerbit Indocamp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63892/aletheia.2.2025.49-59

Abstract

Transformasi digital telah menjadi pilar fundamental pembangunan global, namun kesenjangan digital antara perkotaan dan perdesaan tetap menjadi tantangan signifikan. Penelitian ini menganalisis anomali pertumbuhan akses telekomunikasi di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang menantang pandangan konvensional tentang kesenjangan digital. Kesenjangan penelitian yang teridentifikasi adalah kurangnya studi empiris tentang pembalikan tren kesenjangan digital pada tingkat pertumbuhan dan analisis transisi dari kesenjangan akses ke kesenjangan pemanfaatan di konteks perdesaan Indonesia. Pertanyaan penelitian yang diajukan adalah bagaimana tren anomali pertumbuhan telekomunikasi rumah tangga di perdesaan NTB yang melampaui laju pertumbuhan di perkotaan dapat dijelaskan secara teoretis dan empiris? Penelitian bertujuan melakukan analisis kritis terhadap paradoks pertumbuhan telekomunikasi rumah tangga di perdesaan NTB berdasarkan data sekunder dari BPS Provinsi NTB periode 2014–2023. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif-analitis dengan studi kepustakaan, melakukan analisis komparatif-deskriptif data CAGR, sintesis kepustakaan, dan analisis tematik. Temuan menunjukkan laju pertumbuhan akses internet di perdesaan (21,89%) jauh melampaui perkotaan (10,34%), namun dengan pertumbuhan pengeluaran telekomunikasi yang relatif rendah (1,86%), mengindikasikan adopsi digital melalui jalur non-konvensional. Analisis mengungkap bahwa akselerasi digital di perdesaan didorong oleh intervensi kebijakan infrastruktur dan dorongan fungsional masyarakat yang memandang teknologi sebagai investasi untuk meningkatkan mata pencaharian. Kebaruan penelitian terletak pada presentasi NTB sebagai studi kasus yang membuktikan akselerasi digital perdesaan dapat melampaui perkotaan, menantang model difusi inovasi tradisional. Kesimpulan menunjukkan bahwa meskipun kesenjangan digital tingkat pertama sedang dijembatani, muncul tantangan baru berupa kesenjangan digital tingkat kedua terkait literasi dan pemanfaatan efektif. Rekomendasi mencakup penguatan literasi digital fungsional, pembangunan ekosistem digital terintegrasi, dan edukasi holistik untuk kesejahteraan sosial.
Dampak Ulasan Negatif Vlogger Kuliner terhadap Keberlanjutan UMKM: Analisis Pemangku Kepentingan dan Kerangka Regulasi Etika Digital di Indonesia Baiq Miftahul Jannah; Karina Juniarti Utami; Herie Saksono
ALETHEIA: Jurnal Sosial & Humaniora, Inovasi, Ekonomi, dan Edukasi Vol 2 No 1 (2025)
Publisher : Penerbit Indocamp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63892/aletheia.2.2025.1-14

Abstract

Era transformasi digital mengubah komunikasi bisnis dengan vlogger kuliner berperan strategis membentuk persepsi publik melalui ulasan makanan, namun ulasan negatif tidak akurat menimbulkan konflik sosial dan berdampak serius terhadap keberlanjutan UMKM yang menghadapi ketidakseimbangan kekuatan dengan vlogger kuliner. Penelitian mengidentifikasi kesenjangan kerangka teoretis komprehensif analisis dampak vlogger kuliner terhadap UMKM menggunakan pendekatan multi-pemangku kepentingan, keterbatasan instrumen pengukuran dampak yang terstandar, dan minimnya integrasi teori etika digital dengan praktik regulasi. Tujuan penelitian menganalisis mekanisme dampak ulasan negatif vlogger kuliner terhadap keberlanjutan UMKM dan mengembangkan kerangka regulasi etika digital yang melindungi UMKM tanpa membatasi kebebasan berekspresi. Metodologi menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis isi sistematik terhadap 35 artikel media nasional Indonesia periode 2023-2025, mengadopsi paradigma konstruktivis-interpretatif dengan pendekatan dialektis menggunakan model Miles dan Huberman. Temuan mengungkapkan 54,3% kasus melibatkan pelanggaran etika, 51,4% berujung kerugian finansial UMKM, 11,4% melibatkan proses hukum, dengan dampak ekonomi penurunan omzet hingga 60%, pemecatan karyawan, dan kerusakan reputasi. Pembahasan mengidentifikasi tiga kategori konflik: berbasis konten (22,9%), etika (54,3%), dan regulasi (22,9%). Kesimpulan menunjukkan pola sistematis ketidakseimbangan kekuatan dalam ekosistem vlogger kuliner. Rekomendasi menekankan pendekatan tiga pilar terintegrasi: Akuntabilitas Konten dengan verifikasi fakta, Perlindungan UMKM melalui sistem rapid response, dan Literasi Digital untuk meningkatkan kapasitas evaluasi konsumen.
Sektor Pertanian Padi-Jagung Indonesia: Analisis Regulasi Bisnis dan Kinerja Berbasis CAGR 2020–2024 Yusriani Nurul Indah; Nadia Sheptia Anggy; Karina Juniarti Utami; Herie Saksono
ALETHEIA: Jurnal Sosial & Humaniora, Inovasi, Ekonomi, dan Edukasi Vol 2 No 1 (2025)
Publisher : Penerbit Indocamp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63892/aletheia.2.2025.27-37

Abstract

Sektor pertanian Indonesia menghadapi kompleksitas regulasi bisnis dalam mencapai kinerja optimal produksi padi dan jagung sebagai komoditas strategis. Studi ini menganalisis efektivitas regulasi bisnis dan kinerja sektor pertanian padi-jagung Indonesia periode 2020–2024 berbasis CAGR. Kesenjangan penelitian teridentifikasi pada minimnya studi yang mengintegrasikan analisis regulasi bisnis dengan kinerja sektor menggunakan pendekatan kualitatif. Pertanyaannya: bagaimana efektivitas regulasi bisnis dalam mendukung kinerja sektor pertanian padi-jagung? Tujuan penelitian adalah menganalisis kerangka regulasi bisnis dan kinerja sektor berbasis CAGR, mengidentifikasi disparitas pertumbuhan, dan merumuskan rekomendasi optimalisasi. Metodologi menggunakan penelitian kepustakaan dengan analisis CAGR terhadap data time series BPS Indonesia dan tinjauan atas sejumlah publikasi ilmiah. Temuan mengungkapkan fenomena “Nasib Berlainan Padi dan Jagung”, di mana padi mengalami kontraksi (CAGR produksi -0,70%) sementara jagung menunjukkan ekspansi kokoh (CAGR produksi +4,02%). Analisis regulasi bisnis mengidentifikasi disparitas efektivitas yang memformulasikan konsep peningkatan produktivitas sebagai kompensasi penurunan luas panen. Kebaruan penelitian terletak pada pengembangan framework analisis multidimensi yang mengintegrasikan 10 dimensi regulasi bisnis dengan pengukuran kinerja berbasis CAGR. Kesimpulan menunjukkan efektivitas regulasi bisnis yang berbeda antarkomoditas dengan 7 dari 10 dimensi menunjukkan efektivitas superior pada sektor jagung. Aspek digitalisasi dan pemanfaatan IoT, Big Data, serta optimasi AI menjadi penting di era pertanian presisi agar dapat dicapai kesejahteraan petani. Direkomendasikan kepada pemerintah dan pemda melakukan adopsi reformasi sistem subsidi berbasis metrik kinerja, penguatan mekanisme kepatuhan regulasi bisnis, dan pembiayaan pengembangan inovatif berbasis matriks kinerja untuk keberlanjutan transformasi pertanian di Indonesia.
Mengapa Digital Gagal Menyerap Tenaga Kerja? Paradoks Nusa Tenggara Barat dan Model Ketenagakerjaan Adaptif Diana Apriilia; Neti Susilawati; Karina Juniarti Utami; Herie Saksono
ALETHEIA: Jurnal Sosial & Humaniora, Inovasi, Ekonomi, dan Edukasi Vol 2 No 1 (2025)
Publisher : Penerbit Indocamp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63892/aletheia.2.2025.61-70

Abstract

Transformasi digital yang diharapkan menjadi solusi pengangguran justru menghadapi kegagalan di Nusa Tenggara Barat (NTB). Penelitian ini menganalisis paradoks penyerapan tenaga kerja era digital dengan tujuan mengembangkan model kebijakan ketenagakerjaan adaptif. Tujuannya adalah mengembangkan model kebijakan transformatif dengan analisis determinan keberhasilan penurunan TPT, penyebab ketahanan pengangguran urban, strategi diferensiasi kebijakan per daerah, dan model prediktif dampak transformasi digital pada TPT-TPAK. Menggunakan pendekatan deskriptif-analitis melalui studi komparatif longitudinal periode 2017–2024, penelitian menganalisis data sekunder Badan Pusat Statistik (BPS) dengan perhitungan Compound Annual Growth Rate (CAGR) dan tipologi daerah berdasarkan nilai TPT-TPAK. Hasil menunjukkan tiga paradoks utama: (1) infrastruktur digital tinggi di perkotaan justru memiliki pengangguran persisten, (2) peningkatan TPAK tidak diimbangi penurunan TPT yang proporsional, dan (3) daerah ekonomi tradisional seperti Sumbawa Barat justru mencapai penurunan pengangguran signifikan (CAGR -6,99%). Dikembangkan Spatial-Adaptive Digital Employment Model (SADEM) yang mengintegrasikan strategi digital terdiferensiasi berbasis karakteristik wilayah dengan prinsip integrasi bertahap, pemanfaatan kearifan lokal, dan kombinasi efisiensi digital-ketahanan tradisional. Kesimpulannya, kegagalan penyerapan tenaga kerja bukan disebabkan teknologi melainkan implementasi yang mengabaikan konteks lokal. SADEM menawarkan solusi melalui strategi adaptif: demokratisasi keterampilan digital di perkotaan, peningkatan rantai nilai digital di pedesaan berperforma tinggi, dan revitalisasi sektor tradisional dengan teknologi tepat guna di daerah tertinggal.

Page 1 of 1 | Total Record : 6