cover
Contact Name
Putu Yoga Sukma Pratama
Contact Email
yoga_pratama@unud.ac.id
Phone
+6281237581597
Journal Mail Official
jpu@unud.ac.id
Editorial Address
https://ejournal4.unud.ac.id/index.php/jpu/en/about/editorialHistory
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Psikologi Udayana
Published by Universitas Udayana
Core Subject : Social,
Jurnal Psikologi Udayana aims to facilitate the process of interaction, discussion, and further discussion of the development of psychology in Indonesian society, with a particular interest in Cultural and Health Psychology. Jurnal Psikologi Udayana covers articles related to: 1. Clinical Psychology 2. Industrial/Organizational Psychology 3. Educational Psychology 4. Developmental Psychology 5. Social Psychology Jurnal Psikologi Udayana accepts various research methods, both quantitative and qualitative methods. This journal also covers discussions related to the development of problems found in society.
Articles 422 Documents
HUBUNGAN KONFLIK KERJA KELUARGA TERHADAP MOTIVASI KERJA DENGAN DUKUNGAN SOSIAL SEBAGAI VARIABEL PEMODERASI PADA PERAWAT WANITA BALI DI RUMAH SAKIT DI BALI I Ketut Yoga Adityawira; Supriyadi Supriyadi
Jurnal Psikologi Udayana Vol. 4 No. 1 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i01.p15

Abstract

Wanita Bali saat ini dihadapkan dengan berbagai macam pemenuhan peran yang kompleks. Disamping harus bekerja dan mengurus keluarga, wanita Bali juga berperan dalam mengikuti kegiatan sosial kemasyarakatan yang ada di Bali. Sehingga hal ini memunculkan konflik peran tersendiri bagi wanita Bali, salah satu konflik tersebut yaitu konflik kerja keluarga. Dampak dari konflik kerja keluarga yang dapat terjadi pada wanita Bali yaitu menurunkan motivasi kerja wanita Bali. Ketika wanita Bali mengalami konflik, maka individu tersebut akan mencari sumber-sumber positif yang ada disekitarnya untuk mengatasi dampak konflik yang dihadapinya. Salah satu sumber positif adalah dukungan sosial. Tujuan dari penelitian yaitu untuk melihat hubungan konflik kerja keluarga terhadap motivasi kerja dengan dukungan sosial sebagai variabel pemoderasi pada perawat wanita Bali di rumah sakit di Bali. Data dianalisis menggunakan model Moderated Regression Analysis (MRA) dengan teknik uji residual melalui SPSS 17.0 for windows. Jumlah subjek pada penelitian ini 112 dengan kriteria wanita Bali yang bekerja sebagai perawat minimal satu tahun pada rumah sakit di Bali, telah menikah dan memiliki anak, serta berpendidikan minimal Sekolah Pendidikan Perawat (SPK) atau sederajat. Sampling menggunakan teknik sampling two stage cluster sampling. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan konflik kerja keluarga dengan dukungan sosial sebagai variabel pemoderasi dengan informasi nilai koefisisen variabel motivasi kerja parameter beta standardized negatif yaitu -0,143, akan tetapi nilai probabilitasnya tidak signifikan p = 0,134 (p>0,05). Dari hasil analisis diketahui bahwa dukungan sosial bukanlah variabel moderator, tetapi sebagai variabel prediktor yang mandiri. Kata Kunci: Dukungan Sosial, Konflik Kerja Keluarga, Motivasi Kerja, Perawat wanita Bali
KEPUASAN PERKAWINAN PASANGAN PADA GELAHANG Anak Agung Sri Sanjiwani; Tience Debora Valentina
Jurnal Psikologi Udayana Vol. 4 No. 1 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i01.p16

Abstract

Perkawinan pada gelahang merupakan suatu fenomena yang relatif baru bagi orang Bali yang beragama Hindu. Perkawinan pada gelahang dikatakan berbeda dengan dua bentuk perkawinan lainnya yaitu perkawinan biasa dan nyentana. Perbedaan tersebut adalah status pasangan yang setara yaitu sebagai purusa dan pasangan yang memilih perkawinan pada gelahang akan memiliki kewajiban dan tanggung jawab ganda yang tidak dialami oleh pasangan pada perkawinan biasa atau nyentana. Situasi tersebut kemudian menjadi tantangan tersendiri bagi pasangan perkawinan pada gelahang. Mayoritas pasangan menginginkan hubungan perkawinan yang setara dan pasangan harus selalu menyesuaikan pemahaman pribadi terkait apa yang diharapkan terhadap pasangan pada perannya masing-masing untuk mendapatkan kepuasan perkawinan. Berdasarkan hal tersebut penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menggali kepuasan perkawinan pasangan pada gelahang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengambilan data menggunakan teknik wawancara dan observasi dengan melibatkan tiga pasangan yang menjalani perkawinan pada gelahang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pandangan terkait beratnya pelaksanaan perkawinan pada gelahang tidak memengaruhi pasangan dalam mengevaluasi kepuasan perkawinan. Hal ini dapat terjadi karena perkawinan pada gelahang merupakan satu-satunya solusi bagi kedua belah pihak pasangan. Pasangan perkawinan pada gelahang menunjukkan kepuasan menyangkut 1) perilaku pasangan yang sesuai dengan harapan; 2) keberadaan anak yang sangat berharga; 3) hubungan yang terjalin baik dengan orangtua serta mertua; dan 4) dukungan orang sekitar terkait pelaksanaan perkawinan pada gelahang. Perasaan kurang puas juga dirasakan pasangan perkawinan terkait kondisi ekonomi dan sifat pasangan. Penggunaan kalimat yang sederhana dengan bahasa sehari-hari menjadi saran untuk peneliti selanjutnya agar dapat memudahkan pengambilan data pada responden penelitian. Kata Kunci: Kepuasan perkawinan, perkawinan pada gelahang, kewajiban ganda
PENGARUH STIGMA TERHADAP SELF ESTEEM PADA REMAJA PEREMPUAN YANG MENGIKUTI EKTRAKURIKULER TARI BALI DI SMAN 2 DENPASAR Ni Wayan Yuli Anggreni; Yohanes Kartika Herdiyanto
Jurnal Psikologi Udayana Vol. 4 No. 1 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i01.p17

Abstract

Pendidikan di sekolah membuat remaja dapat mengembangkan keterampilan sesuai dengan minat dan kemampuannya. Pendidikan tersebut hanya mengutamakan aspek fisik dan kognitif sehingga perlu disadari bahwa terdapat aspek psikososial yang hendaknya ditumbuhkan dalam proses pembelajaran yaitu self esteem. Self esteem adalah evaluasi yang dilakukan individu mengenai seberapa besar kepercayaan individu terhadap kemampuan, keberartian, kesuksesan dan keberhargaan, serta memainkan peran penting dalam memprediksi penyesuaian terhadap masa depan. Perkembangan self esteem pada remaja tidak terlepas dari lingkungan sosialnya, mulai dari orang tua, teman sebaya dan masyarakat sekitar serta guru di sekolah yang seringkali memberikan label pada remaja tersebut (Herlina, 2007). Pemberian label akan memunculkan stereotip, separation dan diskriminasi sehingga menjadi sebuah stigma. Crocker (2002) menyatakan stigma memiliki peranan terhadap self esteem. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode eksperimen yang menggunakan desain kuasi eksperimen nonequivalent control group design. Peneliti menyebarkan skala self esteem pre-test dan skala self esteem post-test pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol yang terdiri dari 44 item, teknik pengambilan sampel menggunakan sampel jenuh. Responden dalam penelitian ini adalah remaja perempuan yang mengikuti ektrakurikuler tari Bali di SMAN 2 Denpasar, sebanyak 35 orang. Seluruh subjek dibagi menjadi tiga kelompok yang terdiri dari kelompok eksperimen 1, eksperimen 2 dan kelompok kontrol. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan one way anova. Hasil dari penelitian ini menunjukan probabilitas 0,003 (p)<0,05. Hal ini berarti ada pengaruh stigma terhadap self esteem remaja perempuan yang mengikuti ektrakurikuler tari Bali di SMAN 2 Denpasar. Stigma positif maupun stigma negatif berpengaruh negatif terhadap self esteem artinya baik stigma positif maupun stigma negatif membuat self esteem menurun pada remaja perempuan yang mengikuti ektrakurikuler tari Bali di SMAN 2 Denpasar. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa stigma memberikan pengaruh terhadap menurunnya self esteem remaja perempuan yang mengikuti ektrakurikuler tari Bali di SMAN 2 Denpasar. Kata Kunci : Stigma, Self Esteem, Eksperimen, Remaja Perempuan
HUBUNGAN KONSEP DIRI DENGAN KONFORMITAS PADA REMAJA LAKI-LAKI YANG MENGKONSUMSI MINUMAN KERAS (ARAK) DI GIANYAR, BALI Putu Vebby Diah Ardyanti; David Hizkia Tobing
Jurnal Psikologi Udayana Vol. 4 No. 1 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i01.p18

Abstract

Tradisi minum minuman keras (arak) ditengah kehidupan masyarakat Bali sudah menyatu cukup lama, bahkan minuman keras seperti arak dan berem, termasuk tuak merupakan hal yang wajib ada dalam setiap ritual agama Hindu, sebagai aba-abaan dan tetabuhan untuk Bhuta Kala. Seiring berkembangnya zaman tradisi minum minuman keras menjadi suatu fenomena ditengah kehidupan masyarakat Bali yang merujuk pada remaja-remaja Bali mengkonsumsi minuman keras yang dianggap sebuah kewajaran yang diterima oleh masyarakat Bali. Masa remaja merupakan masa krisis yang ditunjukkan oleh adanya kepekaan dan labilitas tinggi, penuh gejolak dan ketidakseimbangan emosi, sehingga kondisi tersebut mendorong remaja untuk lebih melakukan konformitas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara konsep diri dengan konformitas pada remaja laki-laki yang mengkonsumsi minuman keras (arak) di Gianyar, Bali. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah snowball sampling, dengan subjek berjumlah 60 remaja laki-laki usia 13-17 tahun mengkonsumsi minuman keras (arak) sampai sekarang, berdomisili di Gianyar. Skala konsep diri disusun berdasarkan aspek konsep diri yang dikemukakan oleh Berzonsky (dalam Susilowati, 2011) dan skala konformitas disusun berdasarkan aspek dari teori Myers (dalam Hotpascaman, 2010). Data yang diperoleh dalam penelitian ini dianalisis melalui analisis korelasi Spearman yang dikemukakan oleh Karl Pearson untuk melihat hubungan antara variabel konsep diri dengan konformitas. Analisis korelasi yang dilakukan pada variable konsep diri dan konformitas menghasilkan nilai signifikansi (p) sebesar 0,465 (p < 0,05) yang mengindikasikan H0 diterima, yaitu tidak adanya hubungan antara konsep diri dengan konformitas pada remaja laki-laki yang mengkonsumsi minuman keras (arak) di Gianyar, Bali. Kata kunci : Konsep Diri, Konformitas, Remaja Laki-laki, Minuman Keras (Arak)
SOSIALISASI MORAL PADA ANAK-ANAK MELALUI MAPLALIAN Ida Bagus Gede Bhaskara Manuaba; Yohanes Kartika Herdiyanto
Jurnal Psikologi Udayana Vol. 4 No. 1 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i01.p19

Abstract

Keberadaan moral mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, salah satunya pendidikan. Keberadaan moral sebagai landasan pendidikan sangat penting, karena sering terjadi masalah-masalah penyimpangan moral dalam dunia pendidikan. Ini disebabkan oleh tututan mengejar prestasi akademik yang tinggi, menyebabkan anak-anak hanya sibuk untuk belajar, padahal kegiatan yang identik bagi mereka adalah bermain. Di Bali, kegiatan bermain itu disebut maplalian. Salah satu organisasi yang konsisten melestarikan plalian adalah sanggar Kukuruyuk. Anak-anak yang mengikuti kegiatan maplalian di sanggar Kukuruyuyk, belajar nilai-nilai moral yang bersumber dari dongeng, plalian, dan gending rare. Nilai moral yang anak-anak dapatkan dari sumber-sumber tersebut kemudian disosialisasikan kepada sesama anggota sanggar. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan desain penelitian etnografi. Pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi, wawancara, dan pengumpulan data melalui foto dan video. Responden yang dilibatkan pada penelitian ini adalah empat orang anak anggota sanggar Kukuruyuk, yang telah menjadi anggota lebih dari satu tahun. Penelitian ini juga melakukan observasi pada kegiatan anak-anak saat maplalian. Untuk memperkuat data penelitian maka dilakukan wawancara kepada sigificant others responden, yaitu pengasuh sanggar, orangtua responden, dan guru wali kelas responden. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa banyak nilai moral yang dipelajari anak-anak sanggar Kukuruyuk yang bersumber dari dongeng, tokoh, plalian, aturan, dan hukuman. Agen sosialisasi yang berpengaruh untuk mensosialisasikan moral pada anak-anak sanggar Kukuruyuk, adalah agen sosialisasi kedudukan setara yaitu sesama anggota sanggar, dan agen sosialisasi kedudukan lebih tinggi yaitu pengasuh sanggar, wali kelas, dan orangtua. Sosialisasi moral yang terjadi pada kedua agen sosialisasi ini berhasil menanamkan nilai moral pada anak-anak sanggar Kukuruyuk. Kata Kunci: sosialisasi, nilai moral, plalian,
HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS KOMUNIKASI DENGAN KOMITMEN PADA PASANGAN YANG MENJALANI HUBUNGAN BERPACARAN Jessica Ayu Liana; Yohanes Kartika Herdiyanto
Jurnal Psikologi Udayana Vol. 4 No. 1 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i01.p20

Abstract

Pada masa dewasa awal, individu akan dihadapi dengan tugas perkembangan. Salah satunya yakni pencarian pasangan hidup dan pembentukan keluarga baru. Tugas perkembangan inilah yang mengharuskan individu untuk belajar membangun sebuah komitmen pada suatu hubungan yang sedang dijalaninya. Komunikasi menjadi salah satu cara dalam pembangunan rasa komitmen. Komunikasi tersebut terkait dengan tingkat kedalaman dan keluasan pesan yang terjadi saat proses komunikasi. Namun komunikasi itu sendiri tidak selamanya dapat berjalan secara lancar dan baik. Hal ini dapat memberikan dampak yang baik maupun dampak yang buruk ke dalam suatu hubungan berpacaran. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara intensitas komunikasi dengan komitmen pada pasangan yang menjalani hubungan berpacaran. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode korelasi, teknik sampling yang digunakan yakni cluster sampling, populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Universitas Udayana dengan responden sebanyak 80 orang, yang terdiri dari beberapa mahasiswa fakultas kedokteran, hukum, teknik, fisip, ekonomi dan bisnis, serta pariwisata. Karakteristik sampel pada penelitian ini adalah berjenis kelamin laki-laki maupun perempuan, sedang menjalani hubungan berpacaran, dan berusia 18 sampai dengan 30 tahun. Analisis data pada penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi sederhana. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan dengan arah hubungan positif antara intensitas komunikasi dengan komitmen pada pasangan yang menjalani hubungan berpacaran, hal tersebut berarti semakin tinggi intensitas komunikasi maka semakin tinggi pula komitmen terhadap pasangan, begitu juga sebaliknya semakin rendah intensitas komunikasi maka semakin rendah pula komitmen terhadap pasangan. Kata kunci: Intensitas komunikasi, komitmen, pasangan, dan pacaran.
PROSES GRIEVING DAN PENERIMAAN DIRI PADA IBU RUMAH TANGGA BERSTATUS HIV POSITIF YANG TERTULAR MELALUI SUAMINYA Anna Yunita; Made Diah Lestari
Jurnal Psikologi Udayana Vol. 4 No. 2 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i02.p01

Abstract

Salah satu permasalahan kesehatan yang menjadi perbincangan di dunia adalah HIV-AIDS. Hingga tahun 2013 terdapat 35 juta orang dengan HIV di seluruh dunia (UNAIDS, 2014). Populasi yang berisiko tinggi dalam penularan HIV-AIDS di Indonesia yakni, pengguna narkoba suntik, wanita pekerja seks, dan laki-laki yang berhubungan seks dengan sesama laki-laki (UNAIDS, 2009). Memasuki tahun 2010, terjadi peningkatan jumlah infeksi HIV-AIDS pada kelompok ibu rumah tangga (Kemenkes RI, 2013). Menurut Dalimoenthe (2011) ibu rumah tangga terjangkit HIV dari suami yang melakukan penyimpangan sosial, baik karena seringnya berganti-ganti pasangan seks atau penggunaan narkoba suntik. Tertular HIV dapat menyebabkan timbulnya berbagai kesulitan yang berhubungan dengan harga diri, isolasi sosial, dan kurangnya kesejahteraan psikologis (Asante, 2012). Peters (2013) menemukan kondisi grivieng wajar terjadi pada individu dengan HIV. Maciejewski, Zhang, Block, dan Prigerson (2007) menemukan bahwa penerimaan diri dapat meningkat apabila kondisi grieving menurun. Berdasarkan hal tersebut, peneliti ingin mengetahui proses grieving dan penerimaan diri pada ibu rumah tangga berstatus HIV positif yang tertular melalui suaminya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, menggunakan responden sebanyak 5 orang ibu rumah tangga yang berstatus HIV positif yang tertular dari suaminya. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, FGD, dan observasi. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa proses grieving yang dilalui meliputi tahapan penolakan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan. Terdapat dua bentuk penerimaan, yakni penerimaan negatif dan penerimaan positif. Ketika ibu rumah tangga mengembangkan bentuk penerimaan secara positif, akan berlanjut menuju proses penerimaan diri yang pada akhirnya membentuk self-compassion dan self-disclosure. Kata kunci : grieving, penerimaan diri, ibu rumah tangga, HIV
GAMBARAN KEPERCAYAAN, KOMITMEN PERNIKAHAN DAN KEPUASAN HUBUNGAN SEKSUAL PADA ISTRI DENGAN SUAMI YANG BEKERJA DI KAPAL PESIAR Ni Luh Putu Gede Maharupa Asmarina; Made Diah Lestari
Jurnal Psikologi Udayana Vol. 4 No. 2 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i02.p02

Abstract

Menikah adalah tugas perkembangan manusia pada usia dewasa awal. Meningkatnya kebutuhan hidup dan keinginan untuk memiliki kehidupan yang lebih baik untuk kehidupan rumah tangga membuat suami bekerja di Kapal Pesiar. Banyak isu seputar kehidupan kapal pesiar yang mempengruhi pasangan pernikahan jarak jauh. Kepercayaan, komitmen pernikahan, dan kepuasan hubungan seksual menjadi hal penting untuk mempertahankan pernikahan jarak jauh ini. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan bagaimana gambaran kepercayaan, komitmen pernikahan dan kepuasan hubungan seksual pada istri dengan suami yang bekerja di kapal pesiar.Metode penelitian ini adalah kualitatif fenomenologi yang mewawancarai tiga subjek ibu rumah tangga yang bersuami pekerja di kapal pesiar, usia pernikahan minimal tiga tahun, dan minimal telah menjalani pernikahan jarak jauh minimal satu tahun. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa kepercayaan dipengaruhi oleh dua hal besar hal yang pertama adalah memercayai, dipercayai dan karakteristik tujuan orang lain dimana jaminan kepercayaan, pengingkaran janji dan prasangka dan pandangan positif istri menjadi fakor yang memengaruhi. Hal kedua adalah hubungan kekuasaan dan komunikasi yang dipengaruhi oleh komunikasi itu sendiri dan pengambilan keputusan. Komitmen pernikahan di pengaruhi oleh dua faktor besar yaitu level kepuasan dan investasi serta kualitas alternatif. Kepuasan hubungan seksual sendiri dipengaruhi oleh komunikasi dan keseimbangan kedudukan serta afeksi. Dari ketiga hal tersebut komunikasi menjadi hal yang sangat penting dan berpengaruh dalam kelangsungan kehidupan pernikahan jarak jauh khususnya suami yang bekerja di kapal pesiar. Kata kunci: Istri, pernikahan jarak jauh, kepercayaan, komitmen pernikahan, kepuasan hubungan seksual, kapal pesiar
PROSES PEMILIHAN PASANGAN PADA WANITA BISEKSUAL Sayu P. Mahathanaya; Made Diah Lestari
Jurnal Psikologi Udayana Vol. 4 No. 2 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i02.p03

Abstract

Setiap individu memiliki kebutuhan untuk mendapatkan kasih sayang dan penerimaan, oleh karena itu, manusia tidak terlepas dari keinginan untuk mencari pasangan hidup (Atwater, 1983). Dalam melakukan interaksi untuk mencari pasangan hidup, terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi penilaian individu terhadap orang lain, salah satunya adalah orientasi seksual. Orientasi seksual adalah pola yang unik dari dorongan seksual dan romantis, perilaku, dan identitas yang diekspresikan oleh individu (Lehmiller, 2014). Perbedaan orientasi seksual pada tiap individu dapat mengarahkan individu pada proses pemilihan pasangan yang berbeda, demikian halnya pada biseksual (Lehmiller, 2014). Hasil penelitian Rosario, dkk. (2007) mengungkapkan bahwa biseksual sejati seringkali ditemui pada wanita, khususnya dengan peran sebagai femme. Berbagai konflik yang dialami oleh biseksual akan mengarahkan biseksual pada proses pemilihan pasangan yang cukup kompleks. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini difokuskan untuk membahas mengenai proses pemilihan pasangan pada wanita biseksual. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan desain penelitian studi kasus. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara dan observasi pada tiga orang wanita biseksual dengan taraf biseksualitas yang berbeda, yakni bi-heteroseksual, bi-biseksual, dan bi-homoseksual. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat tiga fase dalam proses pemilihan pasangan oleh wanita bi-heteroseksual dan bi-homoseksual. Fase tersebut mencakup fase rapport, fase intimacy, dan fase committed relationship. Berbeda dengan kedua tipe wanita tersebut, wanita bi-biseksual hanya melalui dua fase, yaitu fase rapport dan intimacy. Tahapan proses yang terjadi pada tiap fase akan dijelaskan melalui proses pemilihan pasangan yang dijalani oleh wanita biseksual secara lengkap dalam kehidupannya. Kata kunci: proses pemilihan pasangan, wanita, biseksual
KONSEP SEHAT DAN SAKIT PADA INDIVIDU DENGAN UROLITHIASIS (KENCING BATU) DI KABUPATEN KLUNGKUNG, BALI Samuel Dwi Krisna Triyono; Yohanes Kartika Herdiyanto
Jurnal Psikologi Udayana Vol. 4 No. 2 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i02.p04

Abstract

Pada era globalisasi ini, dengan perkembangan pengobatan medis yang semakin maju, masih banyak dari masyarakat yang tetap menggunakan pengobatan tradisional, yang dipercaya mampu mengobati berbagai penyakit. Menurut Asimo (1995) penggunaan pengobatan tradisional tidak terlepas dari ketidakpuasan terhadap pengobatan medis. Hal ini juga terlihat pada masyarakat Bali yang masih banyak menggunakan pengobatan tradisional. Gagasan tersebut didukung dengan pre-eliminary study yang menunjukan adanya ketergantungan terhadap pengobatan tradisional yang mengakibatkan keterlambatan pengobatan medis. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan desain penelitian studi kasus. Pengambilan data pada penelitian ini menggunakan teknik wawancara dan observasi. Responden yang digunakan pada penelitian ini merupakan salah seorang kepala keluarga dengan kasus keterlambatan pengobatan medis, dengan dua orang informan untuk memperkuat data penelitian. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa konsep sehat dan sakit pada responden penelitian dipengaruhi oleh; 1) faktor biologis yakni pemahaman terhadap kondisi fisiologisnya; 2) faktor psikologis yang mempengaruhi responden terhadap konsep sehat dan sakitnya dan cara yang dilakukan untuk menjaga kesehatannya; 3) faktor sosial yakni pengaruh masyarakat dan keluarga terhadap konsep sehat dan sakitnya. Health seeking behavior responden terbentuk, karena dipengaruhi oleh perilaku yang dibentuk berdasarkan pengetahuan dan sikap responden serta health system model yang terdiri dari karakteristik predisposisi, karakteristik pendukung, dan karakteristik kebutuhan yang juga dipengaruhi oleh faktor biologis, psikologis, serta sosialnya. Berdasarkan hasil temuan tersebut didapatkan bahwa health seeking behavior responden dalam menggunakan pengobatan usada dan juga medis dipengaruhi oleh konsep sehat dan sakit yang dimilikinya. Kata Kunci: konsep sehat dan sakit, health seeking behavior, health system model