cover
Contact Name
Putu Yoga Sukma Pratama
Contact Email
yoga_pratama@unud.ac.id
Phone
+6281237581597
Journal Mail Official
jpu@unud.ac.id
Editorial Address
https://ejournal4.unud.ac.id/index.php/jpu/en/about/editorialHistory
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Psikologi Udayana
Published by Universitas Udayana
Core Subject : Social,
Jurnal Psikologi Udayana aims to facilitate the process of interaction, discussion, and further discussion of the development of psychology in Indonesian society, with a particular interest in Cultural and Health Psychology. Jurnal Psikologi Udayana covers articles related to: 1. Clinical Psychology 2. Industrial/Organizational Psychology 3. Educational Psychology 4. Developmental Psychology 5. Social Psychology Jurnal Psikologi Udayana accepts various research methods, both quantitative and qualitative methods. This journal also covers discussions related to the development of problems found in society.
Articles 422 Documents
HUBUNGAN ANTARA SOCIAL COMPARISON DAN HARGA DIRI TERHADAP CITRA TUBUH PADA REMAJA PEREMPUAN Ida Ayu Wika Permata Sari; Luh Made Karisma Sukmayanti Suarya
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus: Psikologi Positif (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/

Abstract

Citra tubuh merupakan hal yang sangat penting bagi seorang remaja. Remaja perempuan memiliki kekhawatiran yang lebih tinggi terhadap konsep citra tubuh yang dimiliki. Seseorang biasanya dalam menilai citra tubuh yang dimiliki melalui sebuah social comparison dan juga menilai harga diri yang dimiliki untuk menghasilkan penilaian citra tubuh yang negatif ataukah positif. Subjek pada peneitian ini berjumlah 100 orang remaja perempuan yang berusia 15-18 tahun. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini ialah cluster random sampling. Alat ukur penelitian yang digunakan ialah Skala Citra Tubuh, Skala Social Comparison, dan Skala Harga Diri. Hasil uji analisis regresi ganda menunjukan nilai R 0,729 dan R2 0,532 sehingga dapat dikatakan bahwa perbandingan sosial dan harga diri menentukan 53,2% citra tubuh yang dimiliki oleh remaja perempuan. Koefisien beta terstandarisasi dari social comparison sebesar -0,411 dengan nilai t sebesar -5,063 dan memiliki taraf signifikansi sebesar 0,000 (<0,05) yang menunjukkan bahwa social comparison berhubungan terhadap citra tubuh, nilai t yang negatif menunjukan bahwa variabel social comparison memiliki hubungan yang berlawanan terhadap variabel citra tubuh, dimana artinya hubungan antara perbandingan sosial dan citra tubuh berbanding terbalik yaitu semakin tinggi social comparison, maka akan semakin rendah citra tubuhnya begitupun sebaliknya. Variabel harga diri memiliki koefisien beta terstandarisasi sebesar -0,427 dengan nilai t sebesar -5,258 dan memiliki taraf signifikansi sebesar 0,00 (<0,05) yang menunjukkan bahwa harga diri berhubungan terhadap citra tubuh, nilai t yang negatif menunjukan bahwa variabel harga diri memiliki hubungan yang berlawanan terhadap variabel citra tubuh, dimana artinya hubungan antara harga diri dan citra tubuh berbanding terbalik yaitu semakin tinggi harga diri, maka akan semakin rendah citra tubuhnya begitupun sebaliknya. Kata Kunci : Citra Tubuh, Social Comparison, Harga Diri, dan Remaja Perempuan
PENERIMAAN DIRI DIFABEL (DIFFERENT ABILITIES PEOPLE): STUDI TENTANG REMAJA TUNANETRA PEROLEHAN Son Three Nauli Gultom; I Gusti Ayu Putu Wulan Budisetyani
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus: Psikologi Positif (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/

Abstract

Difabel (Different abilities people) merupakan kata yang digunakan untuk memperhalus istilah penyandang cacat, dan salah satu bagian dari difabel ini ialah penyandang tunanetra. Tunanetra merupakan istilah yang digunakan untuk menjelaskan kondisi individu dengan indera penglihatan yang tidak berfungsi sebagai saluran penerima informasi dalam kehidupan sehari-hari seperti orang awas (Somantri, 2006). Kondisi tunanetra berpengaruh pada aspek kehidupan individu yang salah satunya adalah aspek sosial dan emosional. Sebagian tunanetra pada akhirnya mampu untuk berdamai dan menerima kondisi yang dimiliki dan berusaha untuk mengembangkan diri. Penerimaan terhadap diri ini merupakan sikap individu yang mampu merasa puas terhadap diri sendiri, kualitas, serta bakat sendiri serta adanya pengakuan terhadap keterbatasan diri sendiri (Chaplin, 2011). Havighurst (dalam Hurlock, 2006) juga menyatakan bahwa menerima keadaan fisik dan menggunakan tubuh secara efektif merupakan salah satu tugas dalam perkembangan remaja. Berdasarkan hal tersebut, peneliti ingin mengetahui penerimaan diri remaja difabel dengan fokus tunanetra perolehan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain penelitian studi kasus. Proses pengambilan data dilakukan dengan teknik wawancara dan observasi terhadap dua orang remaja tunanentra perolehan. Peneliti juga melakukan wawancara terhadap significant other remaja tunanetra untuk memperkuat data yang telah ada. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa proses penerimaan diri remaja tunanetra terjadi melalui tiga fase. Fase tersebut adalah fase awal, fase konflik, dan juga fase menerima. Dinamika yang terjadi berbeda pada setiap individu dan akan dibahas lebih detail sesuai dengan pengalaman hidup remaja tunanentra tersebut hingga mampu menerima kondisi diri.Kata Kunci: penerimaan diri, difabel, tunanetra, perolehan.
GAMBARAN RESILIENSI PADA PEREMPUAN DENGAN KANKER PAYUDARA Andini Saputri; Tience Debora Valentina
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus: Psikologi Positif (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/

Abstract

Kanker payudara memiliki prevalensi yang tinggi di Indonesia dan dialami sebagian besar oleh perempuan. Penegekan diagnosa dan pengobatan kanker payudara menghadirkan berbagai dampak yang memengaruhi keseluruhan aspek hidup perempuan dengan kanker payudara. Perempuan memiliki kemampuan pada diri masing-masing dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi dan menangani beban emosional yang disebut dengan resiliensi. Terdapat keterkaitan antara resiliensi dengan kesehatan fisik dan mental perempuan yang mengalami kanker payudara dan hal tersebut membantu perempuan untuk beradaptasi dengan kondisi sakit yang dialami. Berdasarkan hal tersebut penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran resiliensi pada perempuan dengan kanker payudara. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengambilan data menggunakan teknik wawancara dan observasi dengan melibatkan empat orang responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat responden menunjukkan gambaran resiliensi yang baik. Hal ini dapat terjadi karena keempat responden mampu mengembangkan karakteristik resiliensi dengan baik dan memenuhi sebagian besar dari aspek-aspek pembentukan resiliensi. Regulasi emosi, mampu mengendalikan tekanan, memiliki harapan masa depan, dan mampu mengidentifikasi masalah merupakan aspek yang paling berperan dalam pembentukan resiliensi. Hal tersebut membuat keempat responden memiliki pandangan hidup yang lebih positif dengan bersyukur atas kondisi yang dialami dan menerima kanker payudara sebagai bagian dari hidup saat ini. Kata Kunci: resiliensi, kanker payudara, fenomenologi.
GAMBARAN PENERIMAAN IBU DENGAN ANAK AUTISME SERTA PENERAPAN TERHADAP DIET BEBAS GLUTEN DAN KASEIN Putu Sonia Insani Sudarmintawan; Luh Made Karisma Sukmayanti Suarya
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus: Psikologi Positif (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/

Abstract

Autisme adalah gangguan perkembangan pervasif yang berawal sebelum anak berusia 2,5 tahun yang ditandai dengan masalah dalam kemampuan sosial dan emosional, kekurangan komunikasi, dan adanya tindakan repetitif dan ritualistik. Penerimaan dari orangtua yang memiliki anak dengan autisme diperlukan agar anak dengan autisme mendapat penanganan yang tepat, sehingga prognosis anak dapat membaik. Salah satu penanganan atau terapi yang dapat diberikan bagi anak dengan autisme adalah diet bebas gluten dan kasein. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana gambaran penerimaan ibu dengan anak autisme, serta melihat bagaimana penerapan diet bebas gluten dan kasein untuk anak dengan autisme. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Responden dalam penelitian ini adalah dua orang ibu yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Pengambilan data terhadap kedua responden dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara dan observasi. Hasil penelitian ini adalah kedua ibu telah menunjukkan penerimaan terhadap anak dengan autisme, namun hanya satu satu orang ibu yang menerapkan diet bebas gluten dan kasein. Perbedaan tersebut akan dijelaskan dalam tiga tema besar penelitian ini, yaitu gambaran penerimaan orangtua dengan anak autisme, penerapan diet bebas gluten dan kasein, dan faktor lain yang mendukung penerapan diet bebas gluten dan kasein. Kata kunci: Penerimaan orangtua, autisme, diet bebas gluten dan kasein
PENGARUH PENERIMAAN DIRI PADA KONDISI PENSIUN DAN DUKUNGAN SOSIAL TERHADAP KECEMASAN MENGHADAPI MASA PENSIUN PADA PEGAWAI NEGERI SIPIL DI KABUPATEN BADUNG Putu Diana Wulandari; Made Diah Lestari
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus: Psikologi Positif (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/

Abstract

Kecemasan menghadapi masa pensiun adalah suatu keadaan khawatir yang dialami oleh individu yang akan memasuki masa pensiun. Individu yang memiliki penerimaan diri yang baik dapat mengurangi kecemasan dalam menghadapi masa pensiun. Dukungan sosial yang berasal dari keluarga, pasangan, dan teman juga berperan penting dalam mengurangi kecemasan menghadapi masa pensiun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerimaan diri pada kondisi pensiun dan dukungan sosial terhadap kecemasan menghadapi masa pensiun pada Pegawai Negeri Sipil (PNS). Subjek dalam penelitian ini adalah PNS eselon IIb, eselon IIIa, eselon IIIb dan eselon IVa di Kabupaten Badung yang akan memasuki masa pensiun pada tahun 2017, 2018, 2019 dan 2020, yang dipilih dengan menggunakan teknik proportionate stratified random sampling. Sampel pada penelitian ini berjumlah 88 orang. Alat ukur dalam penelitian ini adalah skala kecemasan menghadapi masa pensiun dengan reliabilitas 0,888, skala penerimaan diri pada kondisi pensiun dengan reliabilitas 0,904, dan skala dukungan sosial dengan reliabilitas 0,935. Metode analisis yang digunakan adalah teknik analisis regresi berganda. Hasil uji regresi berganda menunjukkan R=0,430 dan adjusted R square sebesar 0,165. Hal ini menunjukkan bahwa variabel penerimaan diri pada kondisi pensiun dan dukungan sosial memiliki hubungan terhadap kecemasan menghadapi masa pensiun dan memberikan pengaruh sebesar 16,5% terhadap kecemasan menghadapi masa pensiun dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 (p<0,05) sehingga dapat disimpulkan penerimaan diri pada kondisi pensiun dan dukungan sosial secara bersama-sama berpengaruh terhadap kecemasan menghadapi masa pensiun. Kata kunci: kecemasan menghadapi masa pensiun, penerimaan diri pada kondisi pensiun, dukungan sosial
PROSES PENERIMAAN DIRI PADA GAY YANG BERSTATUS HIV POSITIF Cokorda Istri Dwi Anindyawati Pemayun; Made Diah Lestari
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus: Psikologi Positif (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/

Abstract

Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang menyerang leukosit yang menyebabkan penurunan sistem kekebalan tubuh manusia. Sekumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh infeksi oleh HIV disebut dengan Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS). Berdasarkan faktor risiko penularannya, salah satu populasi yang berisiko adalah gay karena aktivitas seksual berisiko. Di Indonesia gay masih mengalami stigma. Stigma dapat memengaruhi penerimaan diri (self acceptance) gay. Penerimaan diri adalah keadaan individu menerima serta mengakui segala kelebihan dan keterbatasan yang ada dalam dirinya tanpa merasa malu atau merasa bersalah (Ryff dalam Atwater, 2015). Dikaitkan pada gay yang berstatus HIV-AIDS, maka akan sulit melakukan penerimaan diri tersebut karena adanya diskriminasi dan stigma. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini difokuskan untuk membahas mengenai proses penerimaan diri pada gay yang berstatus HIV positif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan desain penelitian fenomenologi. Pengambilan data dilakukan dengan teknik wawancara, observasi serta photovoice pada tiga orang laki-laki homoseksual yang berstatus HIV positif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat dua fase dalam proses penerimaan pada gay yang berstatus HIV positif. Fase I (Setelah mengetahui status HIV positif tetapi belum menjalani terapi) terdiri dari penolakan terhadap status HIV, kekecewaan dan penyesalan terhadap diri, dan penerimaan status HIV. Fase II (Setelah menjalani terapi) terdiri dari kondisi menurun akibat efek samping obat, penerimaan kembali status HIV setelah terapi, adanya pengalaman penolakan terkait status HIV positif, kondisi memperkenankan dan kondisi bersahabat dengan status HIV positif. Faktor pendukung untuk mencapai penerimaan diri pada gay antara lain kepatuhan menjalani terapi Antiretroviral (ARV) dan adanya dukungan sosial dari orang-orang terdekat.Kata kunci: proses penerimaan diri, gay, HIV positif
HUBUNGAN SIKAP TERHADAP AYAHAN DENGAN KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS PEREMPUAN HINDU BALI DI DESA ADAT LEGIAN Ni Luh Christina Prapmika Jayanti; Luh Made Karisma Sukmayanti Suarya
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus: Psikologi Positif (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/

Abstract

Setiap perempuan yang menikah dengan laki-laki Hindu Bali dan beragama Hindu, akan secara langsung melaksanakan social roles (peran sosial) dengan tanggung jawab melaksanakan ayahan, selain melaksanakan peran sebagai ibu rumah tangga dan bekerja. Ayahan adalah wajib kerja atau tugas yang harus dilaksanakan oleh krama banjar atau krama desa, baik kegiatan adat, kegiatan agama maupun kegiatan sosial kemasyarakatan. Frekuensi pelaksanaan ayahan di Desa Adat Legian yang cenderung tinggi, dengan penerapan yang cukup kompleks dan diasumsikan menyebabkan ketidakseimbangan dalam peran yang dimiliki perempuan Hindu Bali, dapat memunculkan sikap yang negatif terhadap ayahan pada perempuan Hindu Bali di Desa Adat Legian dan diyakini berhubungan dengan kesejahteraan psikologis perempuan Hindu Bali. Sebaliknya, ketika perempuan Hindu Bali di Desa Adat Legian dengan ikhlas dan merasa bahagia melaksanakan ayahan yang cukup kompleks, akan memunculkan sikap positif terhadap ayahan yang dapat berhubungan dengan kesejahteraan psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan postif antara sikap terhadap ayahan dengan kesejahteraan psikologis pada perempuan Hindu Bali di Desa Adat Legian dan seberapa besar sikap terhadap ayahan berkontribusi terhadap kesejahteraan psikologis pada perempuan Hindu Bali di Desa Adat Legian. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan analisis regresi sederhana. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan skala penelitian yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya kepada 221 perempuan Hindu Bali di Desa Adat Legian. Data penelitian mengikuti distribusi normal dan linear. Hasil dari penelitian ini menunjukkan koefisien korelasi sebesar 0.180 dan probabilitas 0.007 (p<0.05). Hal ini berarti ada hubungan positif antara sikap terhadap ayahan dengan kesejahteraan psikologis perempuan Hindu Bali di Desa Adat Legian. Sumbangan dari variabel sikap terhadap ayahan terhadap kesejahteraan psikologis adalah sebesar 3.2%. Kata Kunci: sikap, ayahan, kesejahteraan psikologis, perempuan Hindu Bali, Legian.
GAMBARAN KEPUASAN PERNIKAHAN PADA ISTRI ANAK BUAH KAPAL (ABK) I Gusti Made Surya Erlangga; Putu Nugrahaeni Widiasavitri
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus: Psikologi Positif (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/

Abstract

Pernikahan merupakan tahap selanjutnya dari suatu hubungan. Idealnya setiap pasangan menginginkan tercapainya kebahagiaan dan tercapainya kepuasan di dalam suatu hubungan pernikahan. Kepuasan pernikahan adalah evaluasi suami istri terhadap hubungan pernikahan yang cenderung berubah sepanjang perjalanan pernikahan itu sendiri. Tuntutan ekonomi merupakan tantangan terbesar di dalam suatu pernikahan karena tuntutan serta kebutuhan yang tentunya semakin beragam pada zaman ini. Dalam memenuhi kebutuhan tersebut banyak dari pasangan suami istri mencari sumber penghasilan yang lebih baik dari sebelumnya, salah satunya adalah dengan bekerja sebagai Anak Buah Kapal (ABK) di kapal pesiar dan menjalani commuter marriage. Commuter marriage adalah pasangan suami istri yang tinggal terpisah dan berada pada dua wilayah geografis yang berbeda karena pekerjaan masing-masing. Commuter marriage memiliki dampak positif dan juga negatif di dalam suatu hubungan, namun dampak negatif yang ada tentunya sangat dirasakan oleh istri yang harus melakukan segala sesuatunya sendiri. Hubungan pernikahan tersebut tidak dapat dikatakan baik maupun buruk karena hal tersebut terrgantung dari bagaimana pasangan suami istri mengevaluasi hubungan mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lebih dalam mengenai faktor-faktor yang memengaruhi kepuasan pernikahan pada istri Anak Buah Kapal (ABK). Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Sampel penelitian ini berjumlah 4 orang perempuan yang diperoleh dari purposive sampling dengan karakteristik menikah dengan suami yang bekerja sebagai Anak Buah Kapal dengan usia usia 26-35 tahun serta berdomisili di Denpasar dan Badung, Bali. Penggalian data dilakuan dengan wawancara dan observasi mendalam dan dianalisis dengan teknik analisis dari Miles dan Huberman yang terdiri dari reduksi data, penyajian data, serta kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian adalah yakni faktor-faktor yang memengaruhi kepuasan pernikahan pada istri ABK. Faktor tersebut terdiri atas hal-hal yang mendasari tercapainya kepuasan pernikahan, hal-hal yang meningkatkan, dan menurunkan kepuasan pernikahan.Kata kunci : kepuasan pernikahan, commuter marriage, anak buah kapal, kapal pesiar
HUBUNGAN ANTARA CITRA TUBUH DAN PERILAKU MAKAN INTUITIF PADA REMAJA PUTRI DI DENPASAR Ni Made Kristizia Paramitha; Luh Made Karisma Sukmayanti Suarya
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus: Psikologi Positif (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/

Abstract

Perilaku makan intuitif merupakan perilaku makan adaptif yang berlangsung secara naluriah, ditandai dengan hubungan yang kuat dengan isyarat-isyarat internal dari rasa lapar dan kenyang fisiologis. Perilaku makan intuitif meminimalisir tekanan psikologis akibat menahan keinginan dan lapar yang terjadi dalam perilaku diet sertamengurangi gejala gangguan makan. Perilaku makan ditentukan oleh banyak faktor, salah satunya citra tubuh. Citra tubuh merupakan cara individu memandang, merasakan, serta mengevaluasi bentuk tubuh yang dapat berupa gambaran atau penilaian positif maupun negatif. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan citra tubuh dan perilaku makan intuitif. Subjek pada penelitian ini adalah remaja putri di Denpasar. Sampel pada penelitian berjumlah 80 orang. Hasil uji hipotesis menggunakan Product Moment Pearson menunjukkan signifikansi sebesar 0,000 dengankoefisien korelasi sebesar 0,419. Koefisien korelasi sebesar 0,419 menunjukkan bahwa tingkat hubungan antara citra tubuh dan perilaku makan intuitif adalah sedang. Signifikansi <0,05 menunjukkan bahwa hubungan citra tubuh dan perilaku makan intuitif adalah signifikan. Koefisien korelasi positif menunjukkan bahwa arah hubungan citra tubuhdan perilaku makan intuitif bersifat positif. Artinya, semakin positif citra tubuh, semakin tinggi pula perilaku makan intuitif dan semakin negatif citra tubuh, semakin rendah perilaku makan intuitif. Kata Kunci: Perilaku makan intuitif, citra tubuh, diet, remaja putri.
MEDITASI MENINGKATKAN REGULASI EMOSI PADA REMAJA Natassa R Tejena; Luh Made Karisma Sukmayanti Suarya
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus: Psikologi Positif (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/

Abstract

Pada masa remaja, individu mengalami perubahan emosi. Emosi remaja yang cenderung meledak-ledak dan sulit dikendalikan apabila tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan berbagai masalah bagi remaja dan lingkungan sekitarnya. Untuk itu, remaja membutuhkan kemampuan regulasi emosi. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk melatih regulasi emosi adalah meditasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah meditasi meningkatkan regulasi emosi pada remaja. Penelitian ini menggunakan metode kuasi eksperimen dengan desain penelitian NonEquivalent Group Design. Meditasi yang digunakan adalah meditasi Bali Usada yang terdiri dari meditasi teknik mindfulness dan loving kindness. Subjek dalam penelitian ini adalah remaja berusia 15 sampai dengan 18 tahun atau siswa SMA atau SMK di Denpasar yang diperoleh dengan melakukan two stages cluster sampling. Subjek dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok eksperimen yang terdiri dari 32 orang dan kelompok kontrol yang terdiri dari 31 orang. Kedua kelompok diberikan pre-test berupa skala regulasi emosi. Kemudian, kelompok eksperimen diberikan perlakuan berupa pelatihan meditasi selama sebulan, sedangkan kelompok kontrol tidak diberikan pelatihan. Setelah itu, kedua kelompok diberi post-test berupa skala regulasi emosi.Hasil uji hipotesis dengan Paired Sample ttest menunjukkan nilai signifikansi selisih pre-test dan post-test pada kelompok eksperimen sebesar 0.000yang kurang dari 0.05 (p<0.05) dan nilai signifikansi selisih pre-test dan post-test pada kelompok kontrol sebesar 0.388 yang lebih dari 0.05 (p>0.05). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa meditasi dapat meningkatkan regulasi emosi pada remaja. Kata Kunci: meditasi, regulasi emosi, remaja.