cover
Contact Name
Putu Yoga Sukma Pratama
Contact Email
yoga_pratama@unud.ac.id
Phone
+6281237581597
Journal Mail Official
jpu@unud.ac.id
Editorial Address
https://ejournal4.unud.ac.id/index.php/jpu/en/about/editorialHistory
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Psikologi Udayana
Published by Universitas Udayana
Core Subject : Social,
Jurnal Psikologi Udayana aims to facilitate the process of interaction, discussion, and further discussion of the development of psychology in Indonesian society, with a particular interest in Cultural and Health Psychology. Jurnal Psikologi Udayana covers articles related to: 1. Clinical Psychology 2. Industrial/Organizational Psychology 3. Educational Psychology 4. Developmental Psychology 5. Social Psychology Jurnal Psikologi Udayana accepts various research methods, both quantitative and qualitative methods. This journal also covers discussions related to the development of problems found in society.
Articles 422 Documents
Home / Archives / Edisi Khusus / Articles DINAMIKA HARAPAN IBU TUNGGAL YANG MEMILIKI ANAK DENGAN GANGGUAN AUTISME PADA FASE DEWASA AWAL Putu Ika Pratiwi; Luh Made Karisma Sukmayanti Suarya
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus: Psikologi Positif (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/

Abstract

Menjadi ibu tunggal yang memiliki anak dengan gangguan autisme dapat menyebabkan cemas dan depresi maternal(Orsmond dkk., 2007). Seiring bertambahnya usia, stresor ibu tunggal juga meningkat. Hal tersebut dapat memengaruhikesejahteraan hidup ibu tunggal dan kualitas pengasuhan. Kondisi patologis yang berlanjut dapat mengarah padapemikiran kematian dan kecenderungan pengabaian pengasuhan (Cox dkk., 2015). Salah satu cara yang dapat dilakukanibu tunggal untuk meminimalisir kondisi patologis adalah dengan mengembangkan harapan (Monsson, 2010). Harapandidefinisikan sebagai kondisi mental yang positif tentang kemampuan untuk mencapai tujuan di masa mendatang (Lopez& Snyder, 2003). Penelitian ini bertujuan untuk melihat dinamika harapan ibu tunggal yang memiliki anak dengangangguan autisme pada fase dewasa awal.Penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan studi kasus. Teknikpengambilan sampel adalah sampel bertujuan. Responden merupakan ibu tunggal, memiliki anak dengan gangguanautisme pada fase dewasa awal. Data dikumpulkan dengan melakukan wawancara, observasi, dan penghimpunandokumen. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan sistem koding, terdiri dari koding terbuka, aksial, dan selektif(Strauss, 2003). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dinamika harapan terdiri dari fase penurunan level harapan,fase membangun harapan, dan proses harapan. Kondisi anteseden dan faktor harapan memengaruhi dinamika harapandalam penelitian ini. Kata kunci: dinamika harapan, ibu tunggal, gangguan autisme pada fase dewasa awal
PENGARUH MEDITASI CAHAYA TERHADAP SELF COMPASSION REMAJA DI SAI STUDY GROUP DENPASAR Ni Made Asti Suprabhawanti; Putu Nugrahaeni Widiasavitri
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus: Psikologi Positif (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/

Abstract

Karakteristik remaja yang sedang berproses untuk mencari identitas diri sering kali menimbulkan masalah pada diri remaja. Ajaran spiritual di kota Denpasar yang memfasilitasi kegiatan spiritual untuk mengantisipasi masalah-masalah pada remaja yaitu Sai study group Denpasar. Salah satu ajaran spiritual yang diajarkan adalah meditasi cahaya.Meditasi cahaya dapat memberikan ketenangan pikiran, mampu membantu dalam pengambilan keputusan serta dapat menghasilkan pikiran yang jernih.Terdapat masalah yang dihadapi oleh rermaja Sai study group Denpasar.Remaja Sai study group Denpasar masih memperlakukan dirinya dengan buruk seperti memukul benda yang ada disekitar dan membenturkan kepala kedinding walaupun sudah melakukan latihan meditasi, sehingga perilaku dari beberapa remaja Sai study group Denpasar tidak menunjukkan Self compassion.Self compassion merupakan belas kasih terhadap diri ketika menghadapi kesulitan, dan memahami bahwa kesulitan, kegagalan, dan ketidakcukupan yang dirasa adalah manusiawi, dan setiap individu berhak mendapat belas kasih.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh meditasi cahaya terhadap self compassion remaja di Sai study group Denpasar. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen yang bersifat pre-experimental designs dengan One-Group Pretest-Posttest Design. Teknik pengambilan sampel menggunakan nonprobability sampling dengan teknik purposive sampling yang diperoleh subjek berjumlah dua orang remaja.Tahapan penelitian terdiri dari pretest, perlakuan dan post test.Alat ukur yang digunakan adalah skala self compassion yang terdiri dari 38 soal.Perlakuan diberikan selama satu bulan sebanyak 20 kali pertemuan. Analisis data menggunakan Wilcoxon Signed-Rank Test menunjukkan hasil dengan signifikansi (p = 0.000 ? 0.180) yang artinya Ho diterima. Dapat disimpulkan bahwa meditasi cahaya tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap self compassion remaja di Sai study group Denpasar. Kata kunci:meditasi cahaya, self compassion, remaja di Sai study group Denpasar.
PERAN SELF COMPASSION TERHADAP PSYCHOLOGICAL WELL-BEING PENGAJAR MUDA DI INDONESIA MENGAJAR Atikah Fairuz Renggani; Putu Nugrahaeni Widiasavitri
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus: Psikologi Positif (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/

Abstract

Psychological well-being merupakan aspek penting yang perlu dimiliki pengajar muda selama bertugas di daerahpedalaman Indonesia. Salah satu faktor yang dapat memengaruhi psychological well-being adalah self compassion.Self compassion merupakan kemampuan individu untuk memberikan perhatian dan kepedulian terhadap diri sendiriketika mengalami tantangan, masalah, dan kesulitan dalam hidup serta mampu melihat hal tersebut sebagai bagiandari pengalaman hidup manusia. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif untuk mengetahui peran selfcompassion terhadap psychological well-being pengajar muda di Indonesia Mengajar. Subjek dalam penelitian iniberjumlah 60 orang pengajar muda yang sedang bertugas di daerah pedalaman dengan menggunakan teknik simplerandom sampling. Alat ukur dalam penelitian ini menggunakan skala self compassion dengan reliabilitas sebesar0,943 dan skala psychological well-being dengan reliabilitas sebesar 0,915. Hasil uji regresi linier sederhanamenunjukan R= 0,792 dan adjusted R square sebesar 0,628. Hal tersebut menjelaskan bahwa self compassionmemiliki peran sebesar 62,80% terhadap psychological well-being. Koefisien beta terstandarisasi self compassionsebesar 0,792 dan signifikansi 0,000 (p<0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa self compassion berperan terhadappsychological well-being pengajar muda di Indonesia Mengajar. Kata Kunci: Self compassion, Psychological well-being, Pengajar Muda, Indonesia Mengajar
PERAN DUKUNGAN SOSIAL DAN PENERIMAAN DIRI PADA STATUS DIABETES MELITUS TIPE II TERHADAP KEPATUHAN MENJALANI DIET PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE II BERUSIA DEWASA MADYA DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH WANGAYA KOTA DENPASAR Desak Ulan Sukmaning Ayu; Made Diah Lestari
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus: Psikologi Positif (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/

Abstract

Diabetes Melitus tipe II disebut diabetes yangtidak bergantung dengan insulin, disebabkan penggunaan insulin yang kurang efektif oleh tubuh yang dapat menimbulkan komplikasi jika tidak ditangani dengan baik. Kondisi ini yang memicu timbulnya stressor psikologis dan psikososial terhadap pemeliharaan status kesehatan. Terdapat lima komponen dalam penatalaksanaan DM tipe II adalah diet, latihan, pemantauan, terapi dan pendidikan.Kepatuhan menjalani diet berkaitan dengan faktor internal pasien yaitu penerimaan diri pada status DM tipe II dan faktor eksternal yaitu dukungan sosial dari lingkungan sekitar pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran dukungan sosial dan penerimaan diri pada status DM tipe II terhadap kepatuhan menjalani diet pada pasien DM tipe II berusia dewasa madya di RSUD Wangaya kota Denpasar.Subjek dalam penelitian ini adalah 82 orang pasien DM tipe IIberusia dewasa madya di RSUD Wangaya kota Denpasar. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik simple random sampling. Metode analisis yang digunakan adalah teknik analisis regresi berganda. Hasil analisis regresi berganda menunjukkan R=0,286 dan adjusted R square sebesar 0,268. Hal ini menunjukkan bahwa variabel dukungan sosial dan penerimaan diri pada status DM tipe II memberikan peran terhadap kepatuhan menjalani diet sebesar 26,8%. Nilai signifikansi sebesar 0,000 (p<0,05) sehingga dapat disimpulkan dukungan sosial dan penerimaan diri pada status DM tipe II secara bersama-sama berperan terhadap kepatuhan menjalani diet.Kata kunci: kepatuhan menjalani diet, dukungan sosial, penerimaan diri pada status diabetes melitus tipe II, diabetes melitus tipe II
PERAN CITRA TUBUH DAN PENERIMAAN DIRI TERHADAP SELF ESTEEM PADA REMAJA PUTRI DI KOTA DENPASAR Anak Agung Mas Damayanti; Luh Kadek Pande Ary Susilawati
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus: Psikologi Positif (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/

Abstract

Masa remaja adalah masa transisi dalam rentang kehidupan manusia yang menghubungkan masa kanak-kanak danmasa dewasa. Masa remaja merupakan masa yang mana individu pada umumnya memiliki perhatian khusus mengenaipersepsi terhadap citra tubuh. Penilaian mengenai tubuh pada remaja putri yang berfokus terhadap penampilanmerupakan hal yang utama, sehingga dapat memengaruhi citra tubuh remaja putri. Remaja putri lebih seringmerasakan keinginan untuk memiliki tubuh yang menarik sesuai dengan persepsi masyarakat mengenai citra tubuhperempuan ideal. Remaja memiliki pandangan terhadap diri mengenai siapa dan apa yang membedakan diri denganorang lain. Memasuki tahap transisi ke masa remaja jika seorang remaja tidak memiliki kepercayaan diri untukmembangun dan menerima sebuah interaksi, maka akan mengalami kesulitan dalam membentuk relasi sosialnantinya, oleh karena itu masa remaja adalah saat yang tepat untuk memperkuat self esteem pada individu. Penelitianini bertujuan untuk mengetahui peran citra tubuh dan penerimaan diri terhadap self esteem pada remaja putri di KotaDenpasar. Subjek dalam penelitian ini sebanyak 100 orang siswi kelas X dan XI SMAN 1 Denpasar yang dipilihmenggunakan teknik cluster sampling. Instrumen dalam penelitian ini adalah skala citra tubuh, skala penerimaan diri,dan skala self esteem. Hipotesis penelitian diuji dengan teknik analisis regresi berganda. Hasil analisis menunjukkannilai signifikansi sebesar 0,000 (p<0,05) sehingga dapat disimpulkan citra tubuh dan penerimaan diri berperanterhadap self esteem remaja putri di Kota Denpasar. Citra tubuh dan penerimaan diri positif penting bagi peningkatanself esteem remaja putri. Kata Kunci: citra tubuh, penerimaan diri, self esteem, dan remaja
DINAMIKA PENERIMAAN DIRI PADA REMAJA BROKEN HOME DI BALI Ida Ayu Shintya Dewi; Yohanes Kartika Herdiyanto
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus: Psikologi Positif (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/

Abstract

Penerimaan diri merupakan kesadaran dan kemauan individu untuk hidup dengan kekurangan dan kelebihan dalam dirinya. Pada remaja broken home penerimaan diri menjadi hal penting yang harus dimiliki agar remaja mampu menyesuaikan diri dengan realitas yang dihadapi, sehingga dapat menumbuhkan toleransi terhadap peristiwa-peristiwa menyakitkan terkait konflik yang terjadi dalam keluarga. Berbeda dengan remaja pada umumnya, remaja broken home di Bali memiliki permasalahan yang lebih kompleks mengingat remaja Bali tumbuh dalam lingkungan sosial yang menjunjung tinggi nilai-nilai adat, salah satunya adalah sistem kekerabatan patrilineal. Sistem kekerabatan patrilineal ini menuntut remaja broken home di Bali untuk menyesuaikan diri dengan pihak keluarga purusa (keluarga ayah) agar dapat meneruskan keturunan keluarga, walaupun remaja tidak memiliki kedekatan dengan pihak keluarga purusa. Merujuk dari permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk melihat dinamika penerimaan diri pada remaja broken home di Bali.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif tipe fenomenologi dengan responden sejumlah lima remaja Bali yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara individu, wawancara kelompok, dan observasi dengan guideline yang mengacu pada teori penerimaan diri Kubler Ross yang terdiri dari lima tahap yaitu denial, anger, bargaining, depression, dan acceptance. Adapun hasil dari penelitian ini, diantaranya: pertama adalah penerimaan diri remaja broken home di Bali dominan dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal yaitu keluarga dan sosial, kedua adalah wujud setiap tahap penerimaan diri berbeda pada setiap fase perkembangan, pada fase anak-anak wujud penerimaan diri dominan berbentuk emosi, pada fase remaja awal wujud penerimaan diri dominan berbentuk perilaku, dan pada fase remaja akhir wujud penerimaan diri dominan berbentuk pikiran, dan yang ketiga penerimaan diri pada remaja broken home di Bali merupakan proses dinamis dan terdapat perbedaan dinamika penerimaan diri antara responden dengan hak asuh patrilineal dan responden dengan hak asuh mandiri.Kata kunci: penerimaan diri, broken home, remaja Bali.
Penerapan Kearifan Lokal Masyarakat Bali yang dapat Mengurangi Stigma terhadap Orang dengan Gangguan Jiwa Ida Bagus Gde Agung Yoga Pramana; Yohanes Kartika Herdiyanto
Jurnal Psikologi Udayana Vol. 5 No. 2 (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JPU.2018.v05.i02.p01

Abstract

Hasil riset kesehatan dasar pada tahun 2013 menunjukkan bahwa prevalensi kasus gangguan jiwa dengan tipe skizofrenia di Indonesia sebesar 1,7 per seribu jumlah penduduk dan untuk prevalensi kasus gangguan jiwa tipe skizofrenia di Bali adalah sebesar 2,3 per seribu jumlah penduduk. Sebagian masyarakat Indonesia memandang gangguan jiwa dengan sudut pandang negatif atau yang biasa disebut dengan stigma. Stigma adalah bentuk prasangka yang mendeskreditkan atau menolak seseorang maupun kelompok karena individu atau kelompok yang ditolak tersebut dianggap berbeda dengan diri kita atau kebanyakan orang. Bali yang dikenal sebagai pulau yang sarat akan budaya dan memiliki kearifan lokal yang mengikat masyarakatnya. Kearifan lokal atau yang dikenal dengan istilah kearifan tradisional merupakan semua bentuk pengetahuan, keyakinan, pemahaman, dan wawasan serta adat kebiasaan atau etika yang menuntut perilaku manusia dalam kehidupan di dalam komunitas ekologis. Berbagai nilai atau kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat Bali seharusnya mampu menekan stigma yang diterima oleh ODGJ di Bali karena nilai atau kearifan lokal tersebut secara langsung mengajarkan individu untuk berperilaku saling menghargai, peduli, dan menjaga keharmonisan satu sama lain, namun pada kenyataannya ODGJ di Bali masih mendapatkan stigma negatif dari lingkungan sekitar. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini difokuskan untuk membahas penerapan kearifan lokal masyarakat Bali yang dapat menurunkan stigma terhadap ODGJ. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara dan observasi pada total tujuh responden masyarakat Bali dengan dua kategori yaitu masyarakat umum berjumlah empat responden dan tokoh agama berjumlah tiga responden. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat empat konsep kearifan lokal masyarakat Bali yang dapat menurunkan stigma terhadap ODGJ yaitu tat twam asi, karma phala, tri kaya parisudha dan tri pramana. Temuan lainnya menunjukkan bahwa selain dapat menurunkan stigma, konsep karma phala ternyata dapat mendorong terbentuknya stigma masyarakat Bali terhadap ODGJ. Kata kunci: Kearifan lokal, stigma, ODGJ, masyarakat Bali.
Perbedaan Kepuasan Kerja Karyawan Hotel yang Dipimpin oleh Pemimpin Ekspatriat dan Pemimpin Lokal Ni Komang Dewi Sikiani; Supriyadi Supriyadi
Jurnal Psikologi Udayana Vol. 5 No. 2 (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JPU.2018.v05.i02.p02

Abstract

Dengan adanya globalisasi, menghadirkan suatu fenomena yang dinamakan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Salah satu tujuan MEA adalah meningkatkan daya saing kawasan secara keseluruhan di pasar dunia, khususnya ASEAN (Susilo, 2010). Hal ini menunjukkan mudahnya akses pekerja asing atau ekspatriat yang hendak bekerja di Indonesia, ataupun sebaliknya. Bali menduduki posisi lima teratas yang memiliki jumlah ekspatriat terbanyak di Indonesia. Sektor pariwisata di Bali juga mengalami peningkatan serta jumlah pemimpin ekspatriat pada hotel di Bali yang meningkat. Dengan adanya pemimpin ekspatriat dan pemimpin lokal, tentunya kepuasan kerja karyawan pada hotel akan beragam. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kepuasan kerja karyawan hotel yang dipimpin pemimpin ekspatriat dan pemimpin lokal. Subjek penelitian ini diambil dengan metode simple random sampling hingga mendapatkan 72 sampel dari dua hotel bintang empat yaitu Hotel Mercure Bali Nusa Dua dan Hotel Mercure Bali Legian. Metode pengambilan data menggunakan skala kepuasan kerja dengan koefisien Cronbach’s Alpha (? = 0,970). Analisis uji beda Independent Sample T-Test menunjukkan signifikansi (2-tailed) 0,311 yang artinya tidak terdapat perbedaan kepuasan kerja karyawan yang dipimpin oleh pemimpin ekspatriat dan pemimpin lokal. Kata Kunci: Kepuasan Kerja, Pemimpin Lokal, Pemimpin Ekspatriat
Dinamika Perencanaan Karir Remaja Perempuan Bali Ni Made Dyah Sathya Pradnyadari; Yohanes Kartika Herdiyanto
Jurnal Psikologi Udayana Vol. 5 No. 2 (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JPU.2018.v05.i02.p03

Abstract

Remaja memiliki tugas perkembangan diantaranya adalah melakukan perencanaan karir dan berperan dalam lingkungan sosial. Masyarakat Bali yang beragama Hindu memiliki adat istiadat dan budaya yang kental yang disosialisasikan kepada perempuan Bali sehingga perempuan Bali memiliki tanggung jawab adat yang semakin ditekankan ketika remaja. Meskipun remaja perempuan Bali berhak untuk mengembangkan karir tetapi remaja perempuan Bali tidak dapat meninggalkan budayanya, sementara remaja perempuan Bali yang sangat mementingkan budaya juga tidak dapat meninggalkan dorongan dari dalam diri untuk berkarir sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika perencanaan karir remaja perempuan Bali. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Teknik sampling yang digunakan adalah dengan teknik purposive sampling. Responden dalam penelitian ini terdiri dari 10 orang dengan kriteria remaja perempuan berusia 18-21 tahun, bersuku Bali, sejak lahir tinggal di Bali, beragama Hindu, berstatus sebagai mahasiswa dan telah mengisi angket online pada studi pendahuluan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam semi terstruktur dan analisis data yang digunakan adalah theoretical coding. Penelitian ini menghasilkan suatu model dinamika perencanaan karir remaja perempuan Bali yang bergerak pada pertimbangan karir, persiapan karir dan penetapan tujuan karir dengan internalisasi budaya Bali dalam setiap proses tersebut, serta faktor internal dan eksternal sebagai faktor evaluatif dinamika. Kata kunci: Perencanaan Karir, Remaja Perempuan Bali, Budaya Bali
Dukungan Sosial Keluarga terhadap Pemulihan Orang dengan Skizofrenia (ODS) di Bali Kadek Yah Eni; Yohanes Kartika Herdiyanto
Jurnal Psikologi Udayana Vol. 5 No. 2 (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JPU.2018.v05.i02.p04

Abstract

Proses pemulihan orang dengan skizofrenia (ODS) tidak terlepas dari peran keluarga. Keluarga merupakan bagian yang penting dalam proses pengobatan ODS. Dukungan keluarga sangat diperlukan oleh ODS dalam memotivasi selama perawatan dan pengobatan. Di sisi lain, terdapat tindakan-tindakan yang dilakukan oleh keluarga yang dapat menghambat pemulihan ODS, seperti penelantaran, pengucilan dan pemasungan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan dukungan sosial keluarga pada orang dengan skizofrenia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Teknik pengumpulan data melalui wawancara semi tersruktur, wawancara kelompok dan observasi. Subyek penelitian ini adalah 32 responden yang merupakan keluarga ODS dan 10 significant others yang merupakan ODS dan keluarga besar. Data dianalisis dengan theoretical coding yang terdiri dari open, axial, dan selective coding. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dukungan sosial keluarga kepada ODS terdiri dari dukungan pendampingan, dukungan emosional, dukungan instrumental, dukungan kelompok atau persahabatan, dan dukungan informasi. Dukungan sosial keluarga memiliki pengaruh kepada keluarga yang meliputi pekerjaan/ aktivitas, emosi dan sosial serta pengaruh terhadap ODS meliputi kemandirian, keterampilan sosial, aktivitas dan emosi. Faktor-faktor yang dapat mendukung keluarga dalam memberikan dukungan sosial kepada ODS dan berperan dalam pemulihan ODS, antara lain strategi koping keluarga, motivasi, dan pengetahuan. Selain dukungan keluarga, terdapat dua faktor utama dalam proses pemulihan ODS, yaitu peran pengobatan dan peran sosial. Kata kunci: Dukungan Sosial, peran pengobatan, peran sosial, keluarga, dan ODS.