cover
Contact Name
Wildani Hefni
Contact Email
annisauinkhas@gmail.com
Phone
+6285258113657
Journal Mail Official
annisauinkhas@gmail.com
Editorial Address
Jl. Mataram No.1, Karang Mluwo, Mangli, Kaliwates Jember, East Java, Indonesia 68136
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
An-Nisa’ Journal of Gender Studies
ISSN : 20860749     EISSN : 26544784     DOI : https://doi.org/10.35719/jsnnqd91
Core Subject : Religion, Social,
An-Nisa’ Journal of Gender Studies focuses on contemporary issues in the field of gender studies within Muslim societies and global contexts, which specified as follows: - Gender, Violence, and Social Justice - Gender in Islamic Education and Religious Discourse - Gender, Culture, and Ecofeminism - Gender Policy and Women’s Empowerment
Articles 125 Documents
TRACING THE DOMESTICATION OF WOMEN: What Has Set It Off And What It Generates Sofkhatin Khumaidah
An-Nisa' Journal of Gender Studies  Vol. 2 No. 2 (2009): An-Nisa Journal of Gender Studies
Publisher : Institute for Research and Community Service, Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, East Java, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/annisa.v2i2.402

Abstract

Abstract: Tempat perempuan di ranah domestik telah dianggap suratan takdir oleh kebanyakan umat manusia, termasuk perempuan sendiri, seolah konstruk tersebut sudah harga mati dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Teori 'natural difference' yang menyatakan bahwa faktor biologis menentukan pola tingkah laku manusia ternyata tidak pernah terbukti secara ilmiah, meski pun masih terus dianggap benar. Peningkatan partisipasi perempuan dalam wilayah publik pun tidak merubah konstruk domestikasi mereka, toh nyatanya tidak banyak laki-laki yang terlibat dalam pekerjaan-pekerjaan domestik. Akibatnya, perempuan masih menghadapi kesulitan dalam setiap upaya untuk menyeimbangkan ranah publik dan privat; ke'ibu'an dan ambisi karir nampaknya juga dilihat sebagai dua hal yang saling berlawanan bagi perempuan. Satu hal yang perlu diingat adalah bahwa peran gender itu bukan harga mati, sangat mungkin untuk dirubah, walaupun bukan tanpa hambatan.
Dosen dan Kaprodi Tafsir-Hadits Jurusan Dakwah STAIN Jember Mawardi Abdullah
An-Nisa' Journal of Gender Studies  Vol. 2 No. 2 (2009): An-Nisa Journal of Gender Studies
Publisher : Institute for Research and Community Service, Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, East Java, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/annisa.v2i2.407

Abstract

Perbedaan biologis, struktur, dan bentuk tubuh antara lakilaki dan wanita yang bersifat kodrati, tidak berubah meskipun situasi dan kondisi zaman berubah. Sementara gender merupakan produk budaya yang diciptakan suatu masyarakat berdasarkan jenis kelamin tentang keidealan laki-laki dan wanita di suatu tempat dan waktu tertentu dan dapat berubah sesuai perubahan waktu situasi dan kondisi, tergantung pemahaman dan kehendak masyarakat. Kesetaraan gender masih menyisakan berbagai permasalahan yang diwarisi dari beberapa teks keagamaan baik dari al-Qur'an sendiri sebagai pusat ajaran Islam maupun dari al-Hadits sebagai sumber ajaran kedua Islam. Dalam hal ini akan disuguhkan sabda Rasulullah saw tentang “Kebanyakan penghuni neraka dari golongan wanita" Hadits ini sekilas mengundang kontroversi dan akan menjadi bumerang yang akan membakar kaum muslimin kalau dibaca parsial, namun akan meneduhkan apabila dikaji secara mendalam, komprehensif, orisinal melalui jalur tranmisi yang akurat, dan akan mengantarkan kepada kehidupan lebih cerdas, dinamis dalam berpikir dan berinteraksi yang berkeadilan.
Menyoal Saksi Perempuan Dalam Pernikahan Analisis Terhadap Perspektif Syafi'iyyah Nikmatul Masruroh
An-Nisa' Journal of Gender Studies  Vol. 2 No. 2 (2009): An-Nisa Journal of Gender Studies
Publisher : Institute for Research and Community Service, Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, East Java, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/annisa.v2i2.408

Abstract

Tak bisa dipungkiri, bahwa wacana gender yang mendiskreditkan peran perempuan telah memasuki banyak ruang, khususnya ruang publik. Seperti halnya masalah persaksian. Beberapa kitab fikihpun, terutama syafiiyah secara tegas dan jelas, mensyaratkan saksi dalam pernikahan Islam haruslah dua orang laki-laki. Padahal, tidak ada signifikansi perbedaan antara laki-laki dengan perempuan. Memang, secara kodrati perempuan harus mengandung, melahirkan dan menyusui. Namun, hal tersebut tidak dapat dijadikan alasan mendiskriminasi posisi perempuan. Tohı, Allah tidak pernah memandang hambaNya dari segi perbedaan suku, budaya, ras ataupun jenis kelamin dalam hal ibadah dan ketaqwaannya. Mengapa lantas dalam persoalan persaksian nikah dalam Islam harus ada pembatas. Betapa dalam hal ini, perempuan dipandang hanya sebagai second sex atau tambal butuh, ketika laki-laki tidak ada maka perempuan boleh maju. Kondisi yang mengagungkan budaya patriarkhi ini lambat laun harus kita rubah untuk menghadirkan perwajahan baru yang lebih berkeadilan dalam kesetaraan gender. Seharusnya, dalam persaksian pernikahan tidak harus mensyaratkan adanya jenis kelamin laki-laki. Sebab secara nash al-Quran tidak disyaratkan bahwa saksi nikah harus laki-laki. Menyikapi hal tersebut, tentunya para mufassir dan mujtahid harus lebih bijak dalam menafsiri dan berijtihad, tanpa dilingkupi bias gender. Karena ternyata saat ini banyak perempuan yang selangkah lebih maju daripada kaum laki-laki
Persepsi Islam Tentang Pendidikan Perempuan Sofyan Hadi
An-Nisa' Journal of Gender Studies  Vol. 2 No. 2 (2009): An-Nisa Journal of Gender Studies
Publisher : Institute for Research and Community Service, Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, East Java, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/annisa.v2i2.409

Abstract

Konstruksi sosial dalam masyarakat yang selama ini diteguhkan adalah konsep stereotipe tentang perempuan sebagai pekerja domestik dan laki-laki adalah pencari pekerja di ruang publik. Ketimpangan antara perempuan dan laki dalam wilayah kerja ini menimbulkan bias gender yang terus bergulir. Rekontruksi dan reformulasi sistem sosial maupun keagamaan yang lebih mendekati cita-cita Islam ideal yang sesungguhnya, yaitu: keadilan pun terus dilakukan. Misi utama al-Qur'an dan Hadits adalah membebaskan manusia dari berbagai bentuk anarkhi, ketimpangan, dan ketidakadilan. Penafsiran yang tidak sejalan dengan prinsipprinsip keadilan dan hak-hak asasi kemanusiaan, harus ditinjau kembali, karena tidak mungkin di dalam kitab suci-Nya terkandung sesuatu yang tidak sejalan dengan prinsip-prinsip tersebut. Perjuangan posisi perempuan tidak cukup melalui pemikiran, pembuatan teori/konsep, namun juga perlu upaya kolektif yang merupakan paduan dari hasil studi, investigasi, analisis sosial, pendidikan serta advokasi. Tulisan ini akan difokuskan di seputar perempuan sebagai subjek belajar dan pendidikan ditilik dari persepsi Islam.
Perempuan Dan Media Massa (Berkaca Dari Media Massa Tentang Perempuan Dalam Pola Pikir Kritis) Eva Maghfiroh
An-Nisa' Journal of Gender Studies  Vol. 2 No. 2 (2009): An-Nisa Journal of Gender Studies
Publisher : Institute for Research and Community Service, Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, East Java, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/annisa.v2i2.410

Abstract

Keindahan perempuan dan kekaguman laki-laki terhadap perempuan adalah cerita klasik dalam sejarah umat manusia. Dua hal itu pula menjadi dominan dalam inspirasi banyak pekerja seni dari masa ke masa. Namun perempuan ketika menjadi simbol dalam seni-seni komersial, maka kekaguman terhadap perempuan menjadi sangat diskriminatif, tendensius, dan bahkan menjadi subordinasi dari simbol-simbol kekuatan laki laki. Lebih dari itu hadir kesan bahwa perempuan adalah simbol kelas sosial dan kehadirannnya hanya karena kerelaan yang dibutuhkan laki laki. Ironisnya, perempuan kerap mengeksploitasi diri mereka sendiri dan tereksploitasi oleh media massa sehingga runtuh harga diri mereka. Saat ini agaknya, media massa relatif bebas dari kontrol kekuasaan pemerintah, tetapi dalam kenyataan yang sebenarnya media massa tidak pernah bebas dari institusi yang memiliki budaya bisnis, dan industri pemilik modal yang berorientasi pada profit kemudian tenggelam dalam tekanan pasar yang mendewakan rating. Media massa yang telah tereduksi ke dalam kepentingan pasar memungkinkan perempuan dimanfaatkan sebagai sarana untuk mengejar keuntungan besar dalam meraih pangsa pasar, sarat dengan persaingan ketat. Sebagaimana dalam permainan dadu industri, perempuan pun ditampilkan secara tidak bermoral dan tidak memiliki nilai etika bersosial.

Page 13 of 13 | Total Record : 125