cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains Materi Indonesia
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Sains Materi Indonesia (Indonesian Journal of Materials Science), diterbitkan oleh Pusat Teknologi Bahan Industri Nuklir - BATAN. Terbit pertama kali: Oktober 1999, frekuensi terbit: empat bulanan.
Arjuna Subject : -
Articles 44 Documents
Search results for , issue "EDISI KHUSUS: OKTOBER 2007" : 44 Documents clear
KARAKTERISTIK SENYAWA PENGKONTRAS MRI (MAGNETIC RESONANCE IMAGING) GADOLINIUM(III)-DTPA DALAM TUBUH HEWANPERCOBAAN MELALUI SIMULASI 153Gd-DTPA SEBAGAI TRACER Adang H. Gunawan; A. Mutalib; S. Aguswarini; Ratna Dini H.
Jurnal Sains Materi Indonesia EDISI KHUSUS: OKTOBER 2007
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.911 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2007.0.0.5141

Abstract

KARAKTERISTIK SENYAWA PENGKONTRAS MRI (MAGNETIC RESONANCE IMAGING) GADOLINIUM(III)-DTPA DALAM TUBUH HEWANPERCOBAAN MELALUI SIMULASI 153Gd-DTPA SEBAGAI TRACER. Perilaku senyawa pengkontrasMRI (Magnetic Resonance Imaging) Gd-DTPA di dalam tubuh dapat dipelajari dengan mengamati biodistribusi di dalam jaringan tubuh serta laju clearance baik dalam urin maupun feces dengan menggunakan hewan percobaan. Kestabilannya di dalamaliran darah dapat diamati melalui penguraiannya di dalam serum darah setelah diinkubasi pada suhu tubuh. Studi ini perlu dilakukan karena erat kaitannya dengan aspek khasiat (efficacy) dan keselamatan (safety) penggunaan senyawa pengkontras untuk MRI. Dalam laporan ini akan disampaikan hasil uji biodistribusi, clearance, serta kestabilan senyawa Gd-DTPA di dalam serum darah dengan mengunakan senyawa bertanda 153Gd-DTPA. Komplek 153Gd-DTPA disintesis sama seperti Gd-DTPA, yaitu dengan mensuspensikan DTPA (diethylenetriaminepentaacetic acid) dalam larutan 153GdCl3, kemudian suspensi direfluks selama 1 jam dan diperoleh larutan jernih 153Gd-DTPA. Kemurnian radiokimia komplek 153Gd-DTPA ditentukan melalui pengukuran dengan elektroforesa kertas dan kemurniannya diperoleh lebih besar dari 95 %. Uji biodistribusi senyawa komplek 153Gd-DTPA dilakukan terhadap mencit dan uji yang sama dilakukan pula terhadap 153GdCl3 untuk melihat biodistribusi Gd3+ bebas. Hasil percobaan menunjukkan bahwa ion 153Gd3+ terakumulasi di beberapa organ seperti hati, jantung, paru dan limpa. Sedangkan akumulasi senyawa komplek 153Gd-DTPA pada ginjal dicapai dalam waktu 2 jamsetelah penyuntikan. Setelah 48 jam lebih dari 95 % komplek 153Gd-DTPA dikeluarkan melalui urin dan feces dan aktivitas yang tersisa dalam tubuh hewan kurang dari 5 %. Hasil uji kestabilan senyawa kompleks dalam plasma darah pada suhu 37 oC sampai dengan 50 jammasih menunjukkan lebih dari 95%sebagai 153Gd-DTPA.
KARAKTERISASI SIFAT MEKANIK MAGNET KOMPOSIT HEKSAFERIT BERBASIS POLIESTER DAN EPOKSI Sudirman Sudirman; Sugik S.; Aloma Karo Karo; Deswita Deswita; Ari Handayani; Anik S.
Jurnal Sains Materi Indonesia EDISI KHUSUS: OKTOBER 2007
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (559.27 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2007.0.0.5132

Abstract

KARAKTERISASI SIFAT MEKANIK MAGNET KOMPOSIT HEKSAFERIT BERBASIS POLIESTER DAN EPOKSI. Karakterisasi sifat mekanik magnet komposit heksaferrit berbasis poliester dan epoksi telah dipelajari. Proses pembuatan magnet komposit adalah serbuk bahan magnet heksaferit jenis SrM dan BaMdalamjumlah tertentu ditambahkan coupling agent jenis 3-APE (3-Aminopropyltriethoxysilane) diaduk hingga merata dan dikeringkan. Hasil campuran serbuk magnet dengan coupling agent tersebut kemudian dicampur dengan poliester atau epoksi menggunakan perbandingan volume tertentu. Persentase perbandingan antara bahan magnet dengan matriks polimer poliester atau epoksi yaitu 60 : 40, 50 ; 50 , dan 40 : 60. Bahan campuran tersebut diaduk sampai merata kemudian dilakukan hot press dan cold press. Hasil magnet komposit tersebut dilakukan karakterisasi berupa pengujian kekerasan, uji tarik , uji termal dan pengamatan strukturmikro pada permukaan bahan magnet komposit. Hasil karakterisasi sifat mekanik dari magnet komposit melalui uji tensile strength dan kekerasan dapat diperoleh informasi bahwa perbandingan optimum rata-rata yang dicapai bahan magnet baik SrM maupun BaM dengan matriks polimer poliester atau epoksi adalah 50 : 50 %volume dengan suhu degradasi untuk matriks poliester 380 oC dan matriks epoksi 395 oC. Produk energi (BHmax) terbesar dicapai yaitu 0,27682 MGOe diperoleh pada bahan magnet komposit dari SrM dan poliester dengan perbandingan 50 : 50 %volume.
VARIASI BASA PADA PEMBENTUKAN NANO PARTIKEL MAGNETIK OKSIDA BESI Grace Tj. Sulungbudi; Mujamilah Mujamilah; Ridwan Ridwan
Jurnal Sains Materi Indonesia EDISI KHUSUS: OKTOBER 2007
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.519 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2007.0.0.5123

Abstract

VARIASI BASA PADA PEMBENTUKAN NANO PARTIKEL MAGNETIK OKSIDA BESI. Nanopartikel magnetik oksida besi dapat terbentuk dalam proses presipitasi campuran garam Fe(II)/Fe(III) oleh basa. Dalam penelitian ini variasi jenis basa yang digunakan adalah NaOH, NH3 dan TMAOH (Tetramethyl Ammonium Hydroxide).Magnetisasi saturasi,Ms, tertinggi diperoleh pada oksida besi hasil presipitasi dengan basa TMAOH yaitu 82,2 emu/g, dengan fraksi massa Fe3O4 79,43 %, dan ukuran butir 12,52 nm. Ukuran butiran terkecil diperoleh pada oksida besi hasil presipitasi dengan basa NaOH yaitu 9,34 nm dengan magnetisasi saturasi, Ms, 73,8 emu/g.
ANALISIS UKURAN DAN KORELASI NANO PARTIKEL Fe3O4 DALAM FLUIDA MAGNETIK DENGAN TEKNIK HAMBURAN NEUTRON SUDUT KECIL Sistin A. Ani; Edy Giri Rachman Putra; Abarrul Ikram; Suminar Pratapa; Sriyani Purwaningsih; Triwikantoro Triwikantoro; Darminto Darminto
Jurnal Sains Materi Indonesia EDISI KHUSUS: OKTOBER 2007
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.031 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2007.0.0.5112

Abstract

ANALISIS UKURAN DAN KORELASI NANO PARTIKEL Fe3O4 DALAM FLUIDA MAGNETIK DENGAN TEKNIK HAMBURAN NEUTRON SUDUT KECIL. Telah dilakukan analisis ukuran dan korelasi nanopartikel Fe3O4 dalam fluida magnetik menggunakan Teknik Hamburan Neutron Sudut Kecil. Analisis ukuran partikel dilakukan dengan pendekatan daerah Guinier untuk memperoleh ukuran jari-jari girasi dalam partikel yang selanjutnya digunakan untuk menentukan rerata jari-jari partikel magnetit. Ukuran jari-jari partikel magnetit berkisar antara 17,8 nmhingga 53,6 nm. Pendekatan dengan model Poly Core Shell Ratio menunjukkan harga ukuran rerata jari-jari partikel sebesar 25 nm dengan polidispersitas sebesar 0,4. Pengaruh konsentrasi fluida magnetik terhadap ketebalan lapisan surfaktan tidak menunjukkan perubahan harga yang signifikan yaitu sebesar 6 Å hingga 8 Å dan dalamkisaran variasi 0,5Mhingga 3M belum ditemukan adanya korelasi antar partikel magnetit dalam fluida magnetik.
FASA OKSIDA BESI UNTUK SINTESIS SERBUK MAGNET FERIT Agus Yulianto
Jurnal Sains Materi Indonesia EDISI KHUSUS: OKTOBER 2007
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (65.648 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2007.0.0.5103

Abstract

FASA OKSIDA BESI UNTUK SINTESIS SERBUK MAGNET FERIT. Anggota keluarga mineral oksida besi adalah magnetit (Fe3O4), maghemit (γ-Fe2O3) dan hematit (α-Fe2O3).Magnetit memiliki fasa kubus. Maghemit dan hematit, meskipun komposisi kimia kedua bahan tersebut sama tetapi fasa keduanya berbeda. Maghemit berfasa kubus, sedangkan hematit berfasa heksagonal. Para peneliti lazim menggunakan hematit sebagai bahan dasar dalam proses sintesis serbuk magnet ferit. Oksida besi produk industri atau bahan lokal biasanya diolah terlebih dahulu menjadi hematit (berfasa tunggal) sebelum digunakan untuk sintesis serbuk magnet. Penelitian ini mengkaji sintesis serbuk barium heksaferit dengan bahan dasar berfasa tunggal berupa magnetit, maghemit dan hematit serta bahan berfasa campuran yang mengandung ketiga senyawa tersebut. Proses sintesis dilakukan dengan menggunakan metode metalurgi serbuk. Serbuk hasil sintesis kemudian diproses lebih lanjut menjadi magnet keramik. Hasil karakterisasi dengan metode XRD menunjukkan bahwa serbuk magnet ferit hasil sintesis menggunakan ketiga jenis oksida besi atau campurannya tersebut memiliki pola difraksi yang sama, serta sesuai dengan pola difraksi serbuk magnet sejenis produk industri. Setelah diolah menjadi magnet keramik, sifat kemagnetan untuk ketiganya juga sama. Hasil-hasil tersebut menunjukkan bahwa oksida besi yang digunakan untuk mensintesis serbuk magnet tidak harus berfasa tunggal heksagonal. Serbuk magnet tetap dapat diperoleh secara efektif meskipun oksida besi yang dipakai berfasa kubus, bahkan berfasa campuran.
PERUBAHAN SIFAT MAGNETIK BAHAN KOMPOSIT Fe-C OLEH RADIASI SINAR GAMMA Yunasfi, Yunasfi,; Salim Mustofa; Setyo Purwanto; Mashadi Mashadi; Tria Madesa
Jurnal Sains Materi Indonesia EDISI KHUSUS: OKTOBER 2007
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.298 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2007.0.0.5137

Abstract

PERUBAHAN SIFAT MAGNETIK BAHAN KOMPOSIT Fe-C OLEH RADIASI SINAR GAMMA. Telah dilakukan penelitian terhadap perubahan sifat magnetik bahan komposit Fe-C oleh radiasi sinar gamma. Fe-C dibuat dari campuran serbuk Fe dan serbuk karbon, dengan rasio komposisi berat kandungan Fe dan karbon 50 % dan 50 %. Dalam penelitian ini, diamati perubahan sifat magnetik bahan komposit Fe-C setelah diiradiasi dengan sinar gamma pada dosis 250 kGy. Identifikasi struktur bahan komposit Fe-C yang telah diiradiasi dilakukan dengan metode XRD (X-Ray Diffractometer ) dan karakterisasi sifat magnetik dilakukan dengan menggunakan VSM (Vibrating Sample Magnetometer). Hasil identifikasi dengan metode XRD menunjukkan adanya penurunan intensitas difraksi setelah iradiasi sinar gamma. Hasil pengukuran kurva histeresis M-H dengan VSM, menunjukkan bahwa bahan komposit Fe-C setelah diiradiasi memiliki Hc (medan koersiv), Ms (magnetisasi saturasi) serta Mr (magnetisasi remanen) lebih rendah dibanding dengan kondisi sebelum diiradiasi dengan sinar gamma pada dosis 250 kGy. Penurunan ini terjadi karena adanya cacat struktur di dalam bahan komposit Fe-C akibat interaksi radiasi sinar gamma dengan bahan komposit Fe-C.
PREPARATION OF BARIUM HEXAFERRITE BY SOL GEL SELF COMBUSTION USING POLYVINYL ALCOHOL N. Idayanti; A. Nuruddin; Suyatman Suyatman
Jurnal Sains Materi Indonesia EDISI KHUSUS: OKTOBER 2007
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (479.462 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2007.0.0.5128

Abstract

PREPARATION OF BARIUM HEXAFERRITE BY SOL GEL SELF COMBUSTION USING POLYVINYL ALCOHOL. Barium hexaferrite powders were produced by sol-gel auto-combustion. Ferric and barium nitrate in the molar ratio of 1:2, and Poly Vinyl Alcohol (PVA) are used as starting materials. After gelation with ammonium hydroxide, dehydration and subsequent mechanical milling, auto combustion and calcination at temperature from 300 oC to 1250 oC were performed to produce barium ferrite powder. XRD pattern showed barium ferrite phase started to form at temperature of 500 oC and grew to single phase at 1000 oC, with hexagonal structure. At this stage, the powder has saturation and remanence magnetization of 50.9 emu/g and 33.6 emu/g, respectively, and coercivity of 2.94 kOe.
PENGARUH KOMPOSISI, SUHU DAN ALAT MILLING PADA FENOMENA PEMBENTUKAN NANOTUBE SISTEM Bi-Mn-O DENGAN MECHANICAL ALLOYING. Wahyu Bambang W.; Suryadi Suryadi; Widhya B.; Wahyu F.M.I. Amal; Alfian N.; Agus S. W.; Nurul T. R.
Jurnal Sains Materi Indonesia EDISI KHUSUS: OKTOBER 2007
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (497.287 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2007.0.0.5151

Abstract

PENGARUH KOMPOSISI, SUHU DAN ALAT MILLING PADA FENOMENA PEMBENTUKAN NANOTUBE SISTEM Bi-Mn-O DENGAN MECHANICAL ALLOYING. Studi tentang pengaruh komposisi, suhu, dan alat milling pada pembentukan nanotube Bismuth Oxide sistem Bi-Mn dengan Mechanical Alloying (MA) telah dilakukan. Bubuk Bi dan Mn dengan komposisi Bi-20 %at Mn dan Bi-50 % at Mn diproses dengan metode Mechanical Alloying menggunakan Planetary Ball Mill dan High Energy Milling (HEM) untuk menghasilkan bubuk paduan Bi-Mn berorde nanometer. Suhu pada proses divariasikan untuk melihat pengaruh suhu pada proses pembentukan paduan dengan variasi suhu kamar (± 25 oC), suhu 0 oC, dan suhu di bawah 0 oC (-50 oC). Bubuk yang telah diproses dikarakterisasi menggunakan X-Ray Diffraction (XRD), Energized Scanning Electron Microscopy (ESEM) dan Energy Dispersive Spectroscopy (EDS). Hasil analisis struktur memperlihatkan penurunan dan pelebaran spektrum difraksi yang menandakan proses penghalusan butiran. Hasil analisis strukturmikro memperlihatkan munculnya fenomena nanotube yang dikonfirmasi sebagai bismuth oxide oleh analisis EDS. Dari hasil analisis strukturmikro, terlihat pengaruh yang kuat dari komposisi campuran bubuk, suhu proses dan alat milling yang digunakan terhadap fenomena pemunculan nanotube.
GIANT MAGNETORESISTANCE PADA PADUAN CaMnO3 Wisnu Ari Adi; Setyo Purwanto; Engkir Sukirman; Dudung Abdul Kodir; Budhy Kurniawan
Jurnal Sains Materi Indonesia EDISI KHUSUS: OKTOBER 2007
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.892 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2007.0.0.5108

Abstract

GIANT MAGNETORESISTANCE PADA PADUAN CaMnO3. Telah dilakukan sintesis dan karakterisasi GiantMagnetoresistance (GMR) paduan CaMnO3. Sintesis bahan CaMnO3 menggunakan metode Mechanical Alloying. Bahan ini dimilling selama 12 jam dan dilakukan proses pemanasan pada suhu 1000 oC selama 9 jam. Hasil pengukuran dengan difraksi sinar-x (XRD) menunjukkan bahwa paduan CaMnO3 memiliki kualitas yang cukup baik. Hasil foto dengan Scanning Eectron Microscope (SEM) menunjukkan bahwa butir-butir kristal berbentuk bulat-bulat hampir homogen di seluruh permukaan paduan dengan ukuran butiran sekitar 200 nm hingga 300 nm walaupun masih tampak adanya porositas. Paduan CaMnO3 ini memiliki rasio magnetoresistance Δρ/ρ cukup besar sebesar 28%. Disimpulkan bahwa telah diperoleh paduan giant magnetoresistance CaMnO3 yang memiliki sifat magnetoresistance sangat baik. Rasio GMR pada penelitian ini 2 kali hingga 10 kali lebih besar dibandingkan dengan penelitian sebelumnya.
EFEK MEDAN MAGNET PADA PENURUNAN KESADAHAN DAN PENCEGAHAN PEMBENTUKAN KERAK CaCO3 Nelson Saksono; Elisabeth A. S.; Setijo Bismo; Roekmijati W.; Azwar Manaf
Jurnal Sains Materi Indonesia EDISI KHUSUS: OKTOBER 2007
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.795 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2007.0.0.5142

Abstract

EFEK MEDAN MAGNET PADA PENURUNAN KESADAHAN DAN PENCEGAHAN PEMBENTUKAN KERAK CaCO3.Metode MWT (Magnetic Water Treatment) merupakan alternatif potensial yang dapat digunakan untuk mengurangi terbentuknya deposit kerak CaCO3, namun hingga saat ini aplikasi metode ini masih mengundang kontroversi karena pengaruhnya yang belum jelas. Di sisi lain, masih terdapat pro dan kontra di kalangan para penelitimengenai pengaruh dan efektivitas proses magnetisasi itu sendiri. Oleh karena itu, dibutuhkan penelitian lebih lanjut dan komprehensif yang dapat menjelaskan efektivitas metode ini secara lebih ilmiah. Penelitian ini dilakukan untukmenguji pengaruhmedan magnet terhadap presipitasi CaCO3 saat magnetisasi dan tendensi presipitasi setelah magnetisasi filtrasi dari sampel air sadah yang disirkulasi melewati medan magnet.Medan magnet dihasilkan dari beberapa pasang magnet permanen berbasis Nd-Fe-B dengan kuat medan 5200 Gauss. Jumlah CaCO3 yang terbentuk diukur dengan metode titrasi kompleksometri EDTA (Ethylene Diamine Tetra-acetic Acid). Variabel kondisi operasi meliputi laju alir dan waktu sirkulasi. Magnetisasi menyebabkan kenaikkan presipitasi relatif sebesar 13,1 % saat magnetisasi dan penurunan presipitasi relatif sebesar 60,5 % sesudah magnetisasi filtrasi untuk laju alir 1,33 L/min dan waktu sirkulasi 30 menit. Penelitian ini menunjukkan bahwa magnetisasi air sadah dapat meningkatkan presipitasi CaCO3 saat magnetisasi dan mengurangi tendensi presipitasi CaCO3 setelah magnetisasi filtrasi.

Filter by Year

2007 2007


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 1: OCTOBER 2022 Vol 23, No 2: APRIL 2022 Vol 23, No 1: OCTOBER 2021 Vol 22, No 2: APRIL 2021 Vol 22, No 1: OCTOBER 2020 Vol 21, No 4: JULY 2020 Vol 21, No 3: APRIL 2020 Vol 21, No 2: JANUARY 2020 Vol 21, No 1: OCTOBER 2019 Vol 20, No 4: JULY 2019 Vol 20, No 3: APRIL 2019 Vol 20, No 2: JANUARY 2019 Vol 20, No 1: OCTOBER 2018 Vol 19, No 4: JULI 2018 Vol 19, No 3: APRIL 2018 Vol 19, No 2: JANUARI 2018 Vol 19, No 1: OKTOBER 2017 Vol 18, No 4: JULI 2017 Vol 18, No 3: APRIL 2017 Vol 18, No 2: JANUARI 2017 Vol 18, No 1: OKTOBER 2016 Vol 17, No 4: JULI 2016 Vol 17, No 3: APRIL 2016 Vol 17, No 2: JANUARI 2016 Vol 17, No 1: OKTOBER 2015 Vol 16, No 4: JULI 2015 Vol 16, No 3: APRIL 2015 Vol 16, No 2: JANUARI 2015 Vol 16, No 1: OKTOBER 2014 Vol 15, No 4: JULI 2014 Vol 15, No 3: APRIL 2014 Vol 15, No 2: JANUARI 2014 Vol 15, No 1: OKTOBER 2013 Vol 14, No 4: JULI 2013 Vol 14, No 3: APRIL 2013 Vol 14, No 2: JANUARI 2013 Vol 14, No 1: OKTOBER 2012 Vol 13, No 3: JUNI 2012 Vol 13, No 2: FEBRUARI 2012 VOL 13, NO 1: OKTOBER 2011 Vol 12, No 3: JUNI 2011 Vol 12, No 2: FEBRUARI 2011 Vol 12, No 1: OKTOBER 2010 Vol 11, No 2: FEBRUARI 2010 Vol 11, No 1: OKTOBER 2009 Vol 10, No 1: OKTOBER 2008 Vol 9, No 3: JUNI 2008 Vol 9, No 2: FEBRUARI 2008 Vol 9, No 1: OKTOBER 2007 Vol 8, No 3: JUNI 2007 Vol 8, No 2: FEBRUARI 2007 EDISI KHUSUS: OKTOBER 2007 Vol 8, No 1: OKTOBER 2006 Vol 7, No 3: JUNI 2006 Vol 7, No 2: FEBRUARI 2006 EDISI KHUSUS: OKTOBER 2006 Vol 7, No 1: OKTOBER 2005 Vol 6, No 3: JUNI 2005 Vol 6, No 2: FEBRUARI 2005 Vol 6, No 1: OKTOBER 2004 Vol 5, No 3: JUNI 2004 Vol 5, No 2: FEBRUARI 2004 Vol 5, No 1: OKTOBER 2003 Vol 4, No 3: JUNI 2003 Vol 4, No 2: FEBRUARI 2003 Vol 4, No 1: OKTOBER 2002 Vol 3, No 3: JUNI 2002 Vol 3, No 2: FEBRUARI 2002 Vol 3, No 1: OKTOBER 2001 Vol 2, No 3: JUNI 2001 Vol 2, No 2: FEBRUARI 2001 Vol 2, No 1: OKTOBER 2000 Vol 1, No 3: JUNI 2000 Vol 1, No 2: FEBRUARI 2000 Vol 13, No 4: Edisi Khusus Material untuk Kesehatan More Issue