cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains Materi Indonesia
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Sains Materi Indonesia (Indonesian Journal of Materials Science), diterbitkan oleh Pusat Teknologi Bahan Industri Nuklir - BATAN. Terbit pertama kali: Oktober 1999, frekuensi terbit: empat bulanan.
Arjuna Subject : -
Articles 865 Documents
STUDI FASA DAN SIFAT MAGNETIK NANOPARTIKEL OKSIDA BESI HASIL PROSES EMULSI Siti Wardiyati
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 9, No 3: JUNI 2008
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.452 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2008.9.3.4706

Abstract

STUDI FASA DAN SIFAT MAGNETIK NANOPARTIKEL OKSIDA BESI HASIL PROSES EMULSI. Telah dilakukan proses pembuatan nanopartikel oksida besi denganmetode emulsi. Sebagai surfaktan penstabil emulsi digunakan CTAB (Cethyl Trimethyl Amonium Bromide) bervariasi dari 10 mg hingga 40 mg. Partikel yang terbentuk dipelajari fasanya dengan menganalisis pola difraksi sinar-X menggunakan program RIETAN dan sifatmagnetiknya dengan menganalisis kurva magnetisasi hasil pengukuran VSM (Vibrating Sample Magnetometer). Hasil analisis menunjukkan adanya pembentukan oksida besi dalam fasa Fe3O4 dan γ-Fe2O3 dimana perbandingan fraksi berat keduanya akan dipengaruhi oleh jumlah CTAB yang ditambahkan. Nanopartikel oksida besi optimal diperoleh pada harga CTAB 20 mg dengan nilai magnetisasi mencapai 76 emu/gram dan perbandingan fraksi berat Fe3O4/γ-Fe2O3 sebesar 69,42 %/30,48 %.
MODIFIKASI FISIKO KIMIA MEMBRAN KOMPOSIT KITOSAN POLIVINIL ALKOHOL HASIL CASTING DENGAN TEKNIK INDUKSI IRADIASI GAMMA Erizal Erizal; Dian Pribadi Perkasa; Zuhelmi Aziz; Sulistioso G S
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 14, No 3: APRIL 2013
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.58 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2013.14.3.4403

Abstract

MODIFIKASI FISIKO KIMIA MEMBRAN KOMPOSIT KITOSAN POLIVINIL ALKOHOL HASIL CASTING DENGAN TEKNIK INDUKSI IRADIASI GAMMA. Penelitian ini bertujuan mensintesis membran komposit PoliVinil Alkohol (PVA) kitosan untuk keperluan Guided Tissue Regeneration (GTR) dengan teknik casting dan mempelajari pengaruh iradiasi gamma pada sifat fisiko kimianya. Campuran larutan PVA10% dan kitosan 2% dengan komposisi 75:25; 50:50;25:75 v/v) dicasting pada suhu kamar dan selanjutnya diiradiasi dengan sinar gamma pada dosis 20 kGy, 30 kGy, 40 kGy dan 50 kGy. Perubahan struktur kimia membran dikarakterisasi menggunakan Fourier Transform-Infra Red (FT-IR). Kemampuan menyerap air dan biodegradasinya diuji secara gravimetri. Perubahan kekuatan tarik dan perpanjangan putus diukur dengan Universal Testing Machine. Hasil evaluasi menunjukkan dengan meningkatnya dosis iradiasi dari 20 kGy hingga 50 kGy, daya serap air dan biodegradasi membran meningkat. Sebaliknya, kekuatan tarik dan perpanjangan putus menurun. Iradiasi gamma selayaknya dapat dipertimbangkan sebagai tool untuk modifikasi polimer.
ANALISIS DIMENSI DAN SIMILARITAS PADA SINTESIS MICROSPHERE POLIMER BERBASIS POLILAKTAT Indra Gunawan; Aloma K. K.; Rukihati Rukihati; Sudaryanto Sudaryanto
Jurnal Sains Materi Indonesia EDISI KHUSUS: OKTOBER 2006
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.331 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2006.0.0.5067

Abstract

ANALISIS DIMENSI DAN SIMILARITAS PADA SINTESIS MICROSPHERE POLIMER BERBASIS POLILAKTAT. Telah dipelajari analisis bilangan tak berdimensi dan konsep similaritas pada pembuatan microsphere berbasis polilaktat (PLA). Hubungan teoritis diameter microsphere yang dipengaruhi kecepatan pengadukan dapat diramalkan dari analisis matematis mengikuti konsep similaritas. Sedangkan korelasi empiris hubungan antara diameter microsphere dengan bilangan Weber diturunkan menggunakan analisis dimensi dari variabel yang berpengaruh pada sintesis, dengan melakukan serangkaian percobaan untuk memperoleh butir microsphere pada variasi kecepatan pengadukan, dan variabel lain dibuat tetap. Persamaan empiris yang diperoleh berbentuk ln (dm/dF) = 0,5151 ln (We) - 0,4788, bermanfaat untuk meramalkan diameter microsphere sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan. Karakterisasi butir microsphere dengan menggunakan peralatan Simultaneous Thermal Analysis menunjukkan PLA mengalami peleburan pada suhu 168,4 oC hingga 191,6 oC dan titik dekomposisi 350,7 oC. Pengujian X-Ray Diffractometer menunjukkan bahwa telah dapat dibuat pengungkungan Holmium didalam microsphere PLA dengan kandungan sebesar 86,23 %. Uji biodegradibilitas dengan melihat perubahan berat molekul dengan Gel Permeability Chromatography menunjukkan PLA mengalami degradasi sempurna diperkirakan setelah 89 minggu.
ANALISIS STRUKTUR KRISTAL NaPO3 PADA SUPERIONIK KOMPOSIT (AgI)0,5 (NaPO3)0,5 DENGAN METODE RIETVELD Supandi Suminta; Evvy Kartini
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 6, No 2: FEBRUARI 2005
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.087 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2005.6.2.4862

Abstract

ANALISIS STRUKTUR KRISTAL NaPO3 PADA SUPERIONIK KOMPOSIT (AgI)0,5 (NaPO3)0,5 DENGAN METODE RIETVELD. Telah berhasil disintesis bahan baru superionik komposit (AgI)0,5 (NaPO3)0,5, melalui metode pendinginan cepat. Pengukuran struktur kristal dilakukan menggunakan Difraktometer Sinar-X di Departemen Fisika Universitas Ibaraki, Jepang. Profil pola difraksi Sinar-x bahan baru tersebut memperlihatkan beberapa puncak Bragg menunjukkan kesesuaian dengan kristal presipitat (NaPO3 )n dan kristal -AgI. Analisis struktur kristal dengan metode Rietveld pada fasa natrium meta-fosfat (NaPO3 )n dan fasa -AgI, telah dilakukan. Hasil refinement masing-masing fasa menunjukkan bahwa struktur kristal presipitat tersebut teridentifikasi dari campuran fasa natrium meta-fosfat (NaPO3)n, simetri grup ruang I41/a No.88, tetragonal, parameter kisi a = b = 13,32(3)Å dan c = 6,22(3) Å dan fasa γ-AgI simetri grup ruang F-43m No 216, FCC dengan parameter kisi a = 6,49(3). Tiga puncak kuat pada refleksi hk0 dengan intensitas tinggi berasal dari presipitat (NaPO3)n terletak pada sudut 2θ = 19,144o bidang (220), 2θ = 26,009o, bidang (400) dan 2θ = 30,45o bidang (420). Hasil difraksi ini menunjukkan bahwa presipitat tersebut, benar-benar presipitat dari kristal NaPO3 bukan amorf. Sedangkan puncak lainnya merupakan puncak fasa γ-AgI pada sudut 2 = 39,183o bidang (220) yang berimpit dengan puncak presipitat (NaPO3)n, pada sudut 2 = 38,783o bidang (251). Satu puncak tunggal dengan intensitas tinggi, terletak pada sudut 2θ = 23,690o bidang (111) adalah milik fasa γ-AgI. Beberapa puncak Bragg yang muncul teridentifikasi berasal dari struktur kristal presipitat NaPO3 dan fasa γ-AgI.
STUDI PENDAHULUAN PEMBUATAN LAPISAN TIPIS MWCNT-Fe PADA PERMUKAAN GELASDENGAN SPIN COATING P. Purwanto; Yunasfi Yunasfi; Salim Mustofa
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 17, No 1: OKTOBER 2015
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (402.481 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2015.17.1.4196

Abstract

STUDI PENDAHULUAN PEMBUATAN LAPISAN TIPIS MWCNT-Fe PADA PERMUKAAN GELASDENGAN SPIN COATING. Telah dilakukan pembuatan lapisan tipis Multi-Walled Carbon Nanotubes (MWCNT)-Fe pada permukaan gelas. Pengukuran struktur kristal campuran serbuk MWCNT-Fe dilakukan dengan XRD, dimana pola difraksi yang nampak menunjukkan adanya puncak dari carbon dan Fe saja, tidak ditemukan unsur pengotor lainnya. Pengamatanmorfologi denganmenggunakan SEM menunjukkan permukaan lapisan tipis MWCNT-Fe yang terbentuk pada permukaan substrat gelas. Pengukuran sifat listrik pada lapisan tipis MWCNT-Fe selanjutnya dilakukan untuk mengetahui efek perubahan frekuensi ukur terhadap nilai konduktansi dan kapasitansi. Secara umum nilai konduktansi relatif stabil terhadap perubahan frekuensi, sedangkan nilai kapasitansi lapisan tipis MWCNT-Fe mengalami penurunan seiring dengan naiknya frekuensi ukur. Namun seiring dengan bertambahnya persen (%) berat Fe di dalamlapisan tipis, nilai konduktansi lapisan tipis naik drastis, dan sebaliknya nilai kapasitansi mengalami penurunan drastis seiring dengan naiknya frekuensi pengukuran. Dari spektrum Raman terlihat adanya puncak D band pada posisi 1310 cm-1 hingga 1320 cm-1, puncak harmonik pertama G band (tangensial G band) pada posisi 1580 cm-1 hingga 1595 cm-1, dan puncak harmonik kedua G band (G’ band) pada posisi 1605 cm-1 hingga 1615 cm-1.
MAGNETIC PHASE TRANSITIONS OF T-PHASE Gd2CuO4 SINGLE CRYSTAL I. M. Sutjahja; M. Diantoro; A. A. Nugroho; A. Menovsky; M. O. Tjia
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 3, No 2: FEBRUARI 2002
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (613.32 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2002.3.2.5223

Abstract

MAGNETIC PHASE TRANSITIONS OF T-PHASE Gd2CuO4 SINGLE CRYSTAL. The magnetic properties of T‘-phase Gd2CuO4 Single crystal grown by the Traveling Solvent Floating Zone (TSFZ) method have been investigated by means of ac-magnetic susceptibility and dc-magnetization measurements. The result of these studies revealed an anomaly in the temperature dependent magnetization at temperature of T = 6.5, 290 and 20 K, associated respectively with the long-range antiferromagnetic ordering of the Gd and Cu ions and Cu- spin reorientation transitions. The complex magnetic structure of this compound shown by the weak ferromagnetic behavior below the copper ordering temperature (TN(Cu) = 290 K) is induced by an effective field due to exchange interactions between the ordered copper moments and the rare-earth ions. These results, together with the previous neutron diffraction measurement, establishes the existence of ferromagnetic Gd layers in the ab-plane which are stacked antiferromagnetically along c-direction, indicating a quasi—two dimensional antiferromagnetic nature of Gd2CuO4.
PENGARUH TEKNIK BEKU LELEH DAN DOSIS IRADIASI GAMMA PADA PELEPASAN RESORSINOL DARI MATRIKS HIDROGEL POLIVINIL ALKOHOL Erizal Erizal; Darmawan Darmawan; Basril A; Sudirman Sudirman
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 13, No 4: Edisi Khusus Material untuk Kesehatan
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.116 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2012.13.4.4747

Abstract

PENGARUH TEKNIK BEKU LELEH DAN DOSIS IRADIASI GAMMA PADA PELEPASAN RESORSINOL DARI MATRIKS HIDROGEL POLIVINIL ALKOHOL. Hidrogel adalah polimer dengan struktur tiga dimensi memungkinkan zat bioaktif terimobilisasi di dalam matriksnya dan dimanfaatkan sebagai sistem obat lepas terkendali. Telah dilakukan imobilisasi resorsinol dalam hidrogel Poli Vinil Alkohol (PVA) dengan teknik kombinasi beku leleh (1 siklus hingga 3 siklus) dan iradiasi gamma (10 kGy hingga 30 kGy). Hidrogel dikarakterisasi dengan spektrofotometer Fourier Transform-Infra Red (FT-IR). Fraksi gel dan daya serap air ditentukan secara gravimetri, dan pelepasan resorsinol diukur dengan spektrofotomer Ultraviolet- Visible (UV-Vis). Hasil evaluasi menunjukkan bahwa dengan meningkatnya siklus beku leleh hingga 3 siklus dan dosis iradiasi 30 kGy meningkatkan fraksi gel 95 %. Sebaliknya kemampuan daya serap air menurun dari 600 % ke 200 %, pola penurunan ini (kondisi yang sama) sesuai dengan penurunan kemampuan release resorsinol dari 88% ke 59 %. Proses sistem beku leleh dan iradiasi selayaknya dapat dipertimbangkan sebagai salah satu sistem imobilisasi obat terkendali.
KETAHANANIMPAK,KEKERASAN DAN STRUKTUR MIKRO PADA BAJA TAHAN KARAT MARTENSITIK13 Cr3MO3Ni DENGAN VARIASI SUHU PERLAKUAN PANAS Franco Dwiky Praguna; Moch. Syaiful Anwar; Sunardi Sunardi; Efendi Mabruri
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 19, No 3: APRIL 2018
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (656.408 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2018.19.3.4502

Abstract

Sudu turbinmerupakan salah satu bagian penting pada turbin yang bertujuan untukmemutar poros turbin sehingga menghasilkan energi listrik. Pada umumnya material yang digunakan pada sudu turbin adalah baja tahan karat martensitik, akan tetapimaterial tersebut mudah terjadi kegagalan.Mekanisme kegagalannya dipicu oleh adanya retakmikro dan unsur klorida didalam retakan tersebut sehingga akhirnya sudut tersebut mengalami patah. Adanya perbedaan perlakuan panas juga mempengaruhi nilai kekerasan yang berdampak pada jenis patahan yang dihasilkan pada baja tersebut. Pada penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi ketahanan impak, kekerasan dan strukturmikro pada baja tahan karatmartensitik 13 Cr3Mo3Ni dengan variasi suhu perlakuan panas serta mengevaluasi bentuk patahan pada baja tahan karat martensitik 13 Cr3Mo3Ni. Proses austenisasi dilakukan pada suhu 1000 oC, 1050 oC, dan 1100 oC dengan proses tempering pada suhu 500 oC, 550 oC, 600 oC, 650 oC, dan 700 oC dengan waktu penahanan 60 menit. Sedangkan uji mekanik yang dilakukan adalah uji kekerasan rockwell C dan uji impak charpy. Dan untukmengetahui strukturmikro yang terbentuk,maka dilakukan uji metalografi dan untuk mengetahui hasil patahan setelah dilakukannya uji impak,maka dilakukan uji SEM.Adapun hasil yang diperoleh dari penelitian ini yaitu nilai kekerasan terendah ditunjukkan pada suhu austenisasi 1000 oC dan suhu tempering 700 oC, yaitu 38,13 HRC. Sedangkan nilai impak tertinggi ditunjukkan pada suhu austenisasi 1100 oC dan suhu tempering 650 oC, yaitu 114,00 J. Adapun strukturmikro yang terbentuk adalah martensit, austenit sisa, ferit, dan karbida logam.
ANALISIS NUMERIK HOOKE JEEVES-RUNGE KUTTA UNTUK MENENTUKAN PERSAMAAN LAJU REAKSI POLIMERISASI PIROL Gunawan, Indra; Sulistyo, Hary; Rochmadi, Rochmadi
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 3, No 1: OKTOBER 2001
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (603.731 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2001.3.1.5249

Abstract

ANALISIS NUMERIK HOOKEJEEVES-RUNGEKUTTA UNTUK MENENTUKAN PERSAMAAN LAJU REAKSI POLIMERISASI PIROL. Telah dilakukan analisis numerik dengan menggunakan metode Hooke Jeeves yang dikombinasikan dengan metoda Runge Kutta, untuk menentukan model yang paling tepat dari persamaan laju reaksi polimerisasi pirol secara kimia. Polimerisasi kimia pirol dijalankan di dalam larutan FeCl3/pirol pada nisbah pereaksi 1,62 mol/mol dan 2,18 mol/mol dengan suhu reaksi 28℃, 40℃, 50℃, dan 60℃. FeCl3 berfungsi sebagai oksidator untuk membentuk kation pirol yang akan siap berpolimerisasi. Dilakukan analisis numerik dari dua model persamaan laju reaksi yang diturunkan dari persamaan-persamaan reaksi pemicuan, perambatan, dan penghentian. Dari analisis numerik di terhadap konsentrasi kation pirol.
FASA OKSIDA BESI UNTUK SINTESIS SERBUK MAGNET FERIT Agus Yulianto
Jurnal Sains Materi Indonesia EDISI KHUSUS: OKTOBER 2007
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (65.648 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2007.0.0.5103

Abstract

FASA OKSIDA BESI UNTUK SINTESIS SERBUK MAGNET FERIT. Anggota keluarga mineral oksida besi adalah magnetit (Fe3O4), maghemit (γ-Fe2O3) dan hematit (α-Fe2O3).Magnetit memiliki fasa kubus. Maghemit dan hematit, meskipun komposisi kimia kedua bahan tersebut sama tetapi fasa keduanya berbeda. Maghemit berfasa kubus, sedangkan hematit berfasa heksagonal. Para peneliti lazim menggunakan hematit sebagai bahan dasar dalam proses sintesis serbuk magnet ferit. Oksida besi produk industri atau bahan lokal biasanya diolah terlebih dahulu menjadi hematit (berfasa tunggal) sebelum digunakan untuk sintesis serbuk magnet. Penelitian ini mengkaji sintesis serbuk barium heksaferit dengan bahan dasar berfasa tunggal berupa magnetit, maghemit dan hematit serta bahan berfasa campuran yang mengandung ketiga senyawa tersebut. Proses sintesis dilakukan dengan menggunakan metode metalurgi serbuk. Serbuk hasil sintesis kemudian diproses lebih lanjut menjadi magnet keramik. Hasil karakterisasi dengan metode XRD menunjukkan bahwa serbuk magnet ferit hasil sintesis menggunakan ketiga jenis oksida besi atau campurannya tersebut memiliki pola difraksi yang sama, serta sesuai dengan pola difraksi serbuk magnet sejenis produk industri. Setelah diolah menjadi magnet keramik, sifat kemagnetan untuk ketiganya juga sama. Hasil-hasil tersebut menunjukkan bahwa oksida besi yang digunakan untuk mensintesis serbuk magnet tidak harus berfasa tunggal heksagonal. Serbuk magnet tetap dapat diperoleh secara efektif meskipun oksida besi yang dipakai berfasa kubus, bahkan berfasa campuran.

Filter by Year

2000 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 1: OCTOBER 2022 Vol 23, No 2: APRIL 2022 Vol 23, No 1: OCTOBER 2021 Vol 22, No 2: APRIL 2021 Vol 22, No 1: OCTOBER 2020 Vol 21, No 4: JULY 2020 Vol 21, No 3: APRIL 2020 Vol 21, No 2: JANUARY 2020 Vol 21, No 1: OCTOBER 2019 Vol 20, No 4: JULY 2019 Vol 20, No 3: APRIL 2019 Vol 20, No 2: JANUARY 2019 Vol 20, No 1: OCTOBER 2018 Vol 19, No 4: JULI 2018 Vol 19, No 3: APRIL 2018 Vol 19, No 2: JANUARI 2018 Vol 19, No 1: OKTOBER 2017 Vol 18, No 4: JULI 2017 Vol 18, No 3: APRIL 2017 Vol 18, No 2: JANUARI 2017 Vol 18, No 1: OKTOBER 2016 Vol 17, No 4: JULI 2016 Vol 17, No 3: APRIL 2016 Vol 17, No 2: JANUARI 2016 Vol 17, No 1: OKTOBER 2015 Vol 16, No 4: JULI 2015 Vol 16, No 3: APRIL 2015 Vol 16, No 2: JANUARI 2015 Vol 16, No 1: OKTOBER 2014 Vol 15, No 4: JULI 2014 Vol 15, No 3: APRIL 2014 Vol 15, No 2: JANUARI 2014 Vol 15, No 1: OKTOBER 2013 Vol 14, No 4: JULI 2013 Vol 14, No 3: APRIL 2013 Vol 14, No 2: JANUARI 2013 Vol 14, No 1: OKTOBER 2012 Vol 13, No 3: JUNI 2012 Vol 13, No 2: FEBRUARI 2012 VOL 13, NO 1: OKTOBER 2011 Vol 12, No 3: JUNI 2011 Vol 12, No 2: FEBRUARI 2011 Vol 12, No 1: OKTOBER 2010 Vol 11, No 2: FEBRUARI 2010 Vol 11, No 1: OKTOBER 2009 Vol 10, No 1: OKTOBER 2008 Vol 9, No 3: JUNI 2008 Vol 9, No 2: FEBRUARI 2008 Vol 9, No 1: OKTOBER 2007 Vol 8, No 3: JUNI 2007 Vol 8, No 2: FEBRUARI 2007 EDISI KHUSUS: OKTOBER 2007 Vol 8, No 1: OKTOBER 2006 Vol 7, No 3: JUNI 2006 Vol 7, No 2: FEBRUARI 2006 EDISI KHUSUS: OKTOBER 2006 Vol 7, No 1: OKTOBER 2005 Vol 6, No 3: JUNI 2005 Vol 6, No 2: FEBRUARI 2005 Vol 6, No 1: OKTOBER 2004 Vol 5, No 3: JUNI 2004 Vol 5, No 2: FEBRUARI 2004 Vol 5, No 1: OKTOBER 2003 Vol 4, No 3: JUNI 2003 Vol 4, No 2: FEBRUARI 2003 Vol 4, No 1: OKTOBER 2002 Vol 3, No 3: JUNI 2002 Vol 3, No 2: FEBRUARI 2002 Vol 3, No 1: OKTOBER 2001 Vol 2, No 3: JUNI 2001 Vol 2, No 2: FEBRUARI 2001 Vol 2, No 1: OKTOBER 2000 Vol 1, No 3: JUNI 2000 Vol 1, No 2: FEBRUARI 2000 Vol 13, No 4: Edisi Khusus Material untuk Kesehatan More Issue