cover
Contact Name
Efa Ida Amaliyah
Contact Email
efa@iainkudus.ac.id
Phone
+628157699032
Journal Mail Official
palastren@iainkudus.ac.id
Editorial Address
Jl. Conge Ngembalrejo PO BOX 51 Kudus Jawa Tengah 59322
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
PALASTREN: Jurnal Studi Gender
ISSN : 19796056     EISSN : 24775215     DOI : http://dx.doi.org/10.21043/palastren
Kajian dalam Isu Gender dan anak dalam perspektif Islam maupun studi gender secara umum. Sub Tema yang Terkait dengan Gender dan Anak berciri crosscuting issues dalam berbagai aspek seperti Gender dan Pendidikan, Gender dan Hukum, Gender dan Politik, Gender dan Psikologi, Gender dan Agama, Sastra dan Gender, Gender dan Sosiologi, Gender dan Antropologi; Gender dan Budaya .
Articles 149 Documents
PEMIMPIN AKADEMIK ATAU MANAJERIAL? Aspirasi, Harapan dan Tantangan Perempuan untuk Menjadi Pemimpin di Lembaga Pendidikan Tinggi Islam
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 12, No 2 (2019): PALASTREN
Publisher : IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v12i2.5628

Abstract

The disparity of women leadership in higher education has been the concern of scholars for decades. However, the problem still exists until today. In the context of Islamic higher education in Indonesia, similar problem also continues to occur, yet the aspiration of young women lecturers has not been examined. This research aims to investigate the aspiration, hope, and challenges of young women lecturers at Islamic University in Banda Aceh, Indonesia on leadership positions. Employing in-depth interviews with 12 women lecturers in junior and mid leadership career this study found that: first,  women lecturers are less represented both in academic and managerial leaderships; second, all participants aspire more for academic leadership than the managerial one. However they would accept leadership position if they are given trust (amanah) or are appointed for that position; third,  the university uses a direct appointment model in the managerial positions, thus limiting highly motivated women or even men to apply for leadership career; and fourth, women academics have to deal with triple challenges in leadership careers: related to balancing between career and family as well as organizational culture and policies.
MENGGAGAS PENDIDIKAN KARAKTER RESPONSIF GENDER
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 8, No 2 (2015): PALASTREN
Publisher : IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v8i2.966

Abstract

Baru-baru ini muncul fenomena krisis karakter bangsa yang menyebabkan krisis nasional dalam berbagai dimensi. Berbagai aspek kehidupan juga bertanggung jawab atas rapuhnya kepribadian bangsa ini. Termasuk sekolah sebagai lembaga yang secara esensial sebagai media pembangun karakter. Pendidikan meminjam istilah dari Shapiro (2006) sudah kehilangan hati, karena dimensi moral dan spiritual telah terpinggirkan. Jadi jika momentum “Hari Pendidikan” (2 Mei 2010), pemerintah menyatakan “gerakan nasional di negara pendidikan karakter,” maka perlu diterima dengan baik, meskipun masih dalam pencarian model. Tulisan singkat ini mencoba untuk meninjau bagaimana esensi dari pendidikan karakter dan desain kurikulum seperti itu harus disiapkan dalam perspektif keadilan gender. Makalah ini menyimpulkan bahwa pendidikan karakter berbeda dengan pendidikan moral. Jika pendidikan moral cenderung mengajarkan dimensi etika, baik dan buruk di tingkat kognitif, maka pendidikan karakter memerlukan pendekatan holistik. pendidikan karakter sebagai dikonfirmasi (Lickona, 1991) harus mencakup tiga aspek mengetahui, merasakan dan bertindak dari kebaikan.Oleh karena itu, dalam merancang kurikulum perlu mempertimbangkan tiga-lingkungan yang didukung oleh upaya intervensi dan habituasi, mulai dari kelas, sekolah, dan lingkungan keluarga. Agar pembangunan kurikulum tidak bias gender, perlu mengedepankan perspektif gender dalam mengembangkan kurikulum pendidikan karakter di semua tingkat.ABSTRACT Problems of character education already started sticking in various aspects of life involving men and women. Efforts are needed breakthrough in the design of character educational that can transform the moral values into action and real personality with gender responsive. This brief paper tries to review how the essence of character education and curriculum design as it should be prepared in the perspective of gender justice. This paper concludes that character education is different from the of moral education. If moral education tends to teach the ethical dimensions, good and bad in cognitive level, then character education requires a holistic approach. Character education should include three aspects of knowing, feeling and acting of the good. Therefore, in designing the curriculum needs to consider the three-sphere which is supported by intervention efforts and habituation, starting at the class, school, and family environment. In order for the construction of curricula is not gender-biased, the need to put forward a gender perspective in developing a character education curriculum especiallya in Islamic education in all level in Indonesia.
The Prevention of Sexual Violence Against Women Based on Minangkabau Local Wisdom
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 15, No 2 (2022): PALASTREN
Publisher : IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v15i2.16373

Abstract

This paper aims to explain the local wisdom used in preventing sexual violence against women in West Sumatra Province. This type of research uses a PAR approach through management planning, actuating, organizing, and reflecting. Data were analyzed descriptively using data reduction, display, and verification. The findings of this study show that Aisiyah organization used the local wisdom to change people’s mindsets in seeing victims of sexual violence as figures that need to be strengthened together. The Minangkabau traditional order, which is based on customs and religion, is a comprehensive guide to governing people’s lives, particularly in the Minangkabau community. Minangkabau customs’ philosophical values of adat basandi syarak-syarak basandi kitabullah place women to a noble position. Women are the limpapeh rumah nan gadang, or the pillars of rumah gadang, which symbolize honor and glory. Women, as bundo kanduang, become symbols both physically and personality because they know how to behave in good manners and how to dress appropriately.
MENGGUGAT STEREOTIPE “PEREMPUAN SEMPURNA” : Framing Media terhadap Perempuan Pelaku Tindak Kekerasan
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 10, No 2 (2017): PALASTREN
Publisher : IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v10i2.2610

Abstract

Penelitian ini menggunakan metode framing dan Teori Agenda Setting untuk melihat sejauh mana media massa memotret citra perempuan sebagai pelaku tindak kekerasan terhadap anak. Berdasarkan stereotipenya perempuan yang sempurna merupakan perempuan yang mampu berperan ganda (multi tasking) sebagai penguasa domestik sekaligus pekerja di sektor publik. Framing media merepresentasikan perempuan sebagai sosok yang lemah-lembut, bijak, penyayang, sabar dan pemaaf. Namun maraknya kasus-kasus kekerasan terhadap anak yang dilakukan oleh perempuan melanggengkan objectivikasi perempuan sebagai sosok yang kejam, pemarah, dan tidak berperikemanusiaan. Dengan kekuatan untuk mengkonstruksi realitas dan membentuk opini publik, media massa seharusnya dapat menghadirkan pemberitaan berimbang dan humanis. Framing media seharusnya tidak hanya menuntut dan menonjolkan kegagalan perempuan sebagai perempuan yang sempurna saja melainkan mengulas pula faktor-faktor psikologis yang melatar-belakangi tindakan kekerasan sebagai akibat tekanan hidup, ketidakberdayaan ekonomi-pendidikan serta ketiadaan dukungan dari lingkungan terdekat. Perimbangan pemberitaan media dilakukan untuk meningatkan kesadaran dan tanggungjawab masyarakat sekitar terhadap keselamatan anak-anak di lingkungannya, dan bukan hanya mengutuk atau mendiskreditkan tindakan pelaku kekerasan.
MODEL KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DI ERA WIKINOMICS
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 7, No 2 (2014): PALASTREN
Publisher : IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v7i2.1020

Abstract

Pembangunan ekonomi berbasis manusia sebagai konsep ekonomi Islam dan penerapannya diikuti oleh kebutuhan untuk mengoptimalkan martabat kehidupan bangssa indonesia di segala bidang. Muhammad Rasulullah Saw adalah model yang tepat, selain sebagai pelaku ekonomidan manajer bisnis, beliau juga memberikan bimbingan dan arahan tentang bagaimana kegiatan ekonomi berbasis manusia. Peran perempuan dalam pembangunan bangsa tidak dapat dipisahkan dari pendidikan yang diperolehnya untuk meningkatkan akses perempuanke pasar tenaga kerja dan meningkatkan keterampilan tertentu, termasuk keahlian di bidang ekonomi dan kepemimpinan. Wikinomics adalah kekuatan baruyang menyatukan orang di internet untuk membuat otak raksasa. Dampak dari Wikinomics sendiri cukup mengesankan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana  konsep Wikinomics telah menjadi kata dalam percakapan sehari-hari. Di berbagai negara dan perusahaan Wikinomics digunakan untuk merujuksebuah komunitas dan inovasi kolaboratif.Kata kunci: Wikinomik, Peran Perempuan, PemimpinPerempuan Human-based economic development as a concept ofIslamic economics and its application is followed by theneed to optimize the dignity of life in all areas of theIndonesian nation. Muhammad is the right model, heprovides guidance and direction on how the economicactivities carried out, also economic actors as a businessmanager. The role of women in nation-building can notbe separated from education which is believed to increasethe access of women to the labor market and improvecertain skills, including expertise in economics andleadership. Wikinomics is a new force that unites peopleon the internet to create a giant brain. Impact wikinomicsquite impressive, the concept itself has become a wordin everyday conversation. Wikinomics word (with a ‘w’small) is used in the manner and by some unexpectedgroups, in many different countries and companies usewikinomics to form a community and collaborativeinnovation.keywords: Wikinomics, Women’s Role, Female Leader.  
Peace Education Taught by the Female Muslim Nobel Peace Prize Laureates in 21st Century
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 13, No 1 (2020): PALASTREN
Publisher : IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v13i1.6744

Abstract

AbstractWomen have a very important role in upholding world peace and security because they have the power that is not possessed by men, namely the maternal instinct which naturally can create peace with love, care and harmony. This study aims to find out Muslim women who received world peace awards in the 21st century and analyze the points of peace education that they teach and implement. This research was a qualitative descriptive study with the content analysis of the peace speech they deliver. Based on the analysis, it can be seen that there are three Muslim women who received world nobel peace prize in the 21st century, namely Shirin Ebadi, Tawakkul Karman and Malala Yousafzai. The messages of peace that become their focus are efforts for democracy and human rights, especially the struggle for human rights and children (Shirin Ebadi), nonviolent struggle against women's security and women's human rights for full participation in peace-building work (Tawakkul Karman), struggle against the oppression of children and young people and the right of all children to get education (Malala Yousafzai).
DEHUMANISASI TERHADAP PEREMPUAN DALAM PRAKSIS POLIGAMI : DIALEKTIKA ANTARA NORMATIVITAS DAN HISTORISITAS
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 8, No 1 (2015): PALASTREN
Publisher : IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v8i1.935

Abstract

Praktek di lingkungan masyarakat etnis dan agamanon-Muslim, konsep poligami dalam Islam memiliki tujuan yang berbeda. Berbagai pernikahan dalam Islam bertujuan, antara lain, untuk menghin dari praktik yangmengarah pada dehumanisasi perempuan . Namun,masalah poligami masih menjadi isu kontroversial di beberapa kalangan. Selain itu, banyak orang lebih memilih praktik poligami ilegal daripada dengan izin resmi. Telah ada kesenjangan antara konsep dan praktek poligami yang ideal. Aturan mengenai poligami tidak bisa efektif dalam mengatur masyarakat. Selain itu, hal ini dipengaruhi oleh sejarah perkawinan masyarakat pra-Islam, pola budaya patriarki mata pencaharian dimasyarakat, dan kesalahpahaman dari sumber-sumber agama (Islam) karena pengaruh budaya .kata kunci: Poligami, Dehumanisasi, Perempuan.
NEGOTIATING MODERN ISLAMIC IDENTITY: The Political and Sociological Dynamics of Niqabis in Indonesia and Egypt
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 16, No 2 (2023): PALASTREN
Publisher : IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v16i2.22427

Abstract

Type the Arab Springs and the rise of Daesh in Syria and Iraq gave the niqabi women a   special stand and visibility they never had before. Some niqabis women became visible sharing during the demonstrations calling for justice and social changes, others who believe in the Salafi jihadi trend were intensely mediatised due to their implication, next to Daesh, in tortures and bomb attacks. The civil societies in Egypt and Indonesia started to shape new calls to ban niqâb and presented it as a danger for the country. In both countries’ controversy has raised among Islamic mass organizations and universities. The Salafi doctrine which control women to cover the body including the face have increased in Egypt by the 70’ and in Indonesia during the 90’. It has entailed deep socio-religious norms’ transformations in both countries, with different impacts. This research focuses on how niqabis negotiate their modern identities in Indonesia and Egypt. It employs mixed method and uses surveys, in-depth interview (life stories), and focus group discussion. This paper would like to expose some results of those investigations happened in Indonesia and Egypt from June to November 2018.
FENOMENA TABU MAKANAN PADA PEREMPUAN INDONESIA DALAM PERSPEKTIF ANTROPOLOGI FEMINIS
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 11, No 2 (2018): PALASTREN
Publisher : IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v11i2.3757

Abstract

Fenomena tabu makanan yang dialami perempuan Indonesia berkaitan dengan dominasi kultur patriarki. Menggunakan studi dokumentasi, penelitian ini memperlihatkan bahwa  dalam masyarakat penganut sistem patriarki yang kuat, tabu-tabu, termasuk tabu makanan, lebih banyak diberlakukan pada perempuan dari pada laki-laki, dan bahwa tabu makanan berkaitan dengan kepentingan untuk berbagi sumber daya makanan. Beberapa tabu makanan bertentangan dengan ajaran kesehatan perempuan, terutama yang hamil atau menyusui, justru dilarang mengonsumsi makanan yang berprotein hewani tinggi yang diperlukan tubuh, dengan alasan kesehatan.  Dampak tabu makanan menyebabkan perempuan mengalami defisit gizi yang dapat membahayakan kesehatannya. Intervensi pemerintah dan kalangan akademisi diperlukan untuk mendistribusikan kesadaran perempuan tentang urgensi dari situasi tersebut
SEKSISME PEREMPUAN DALAM BUDAYA POP MEDIA INDONESIA
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 6, No 1 (2013): PALASTREN
Publisher : IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v6i1.985

Abstract

Kehadiran perempuan dalam media bagaikan buah simalakama. Di satu sisi, Media dapat berfungsi sebagai wadah aktualisasi diri bagi perempuan, namun di sisi yang lain seringkali perempuan hanya dilihat sebelah mata bagi para laki-laki maupun mesin-mesin yang memproduksinya sebagai sebuah obyekobjek. Mediacenderung  mereduksi perempuan hanya semata persoalan tubuh. Artikel ini bertujuan untuk melihat bagaimana permasalahan seksisme perempuan dalam media. Melalui pendekatan kualitatif, artikel ini menyimpulkan bahwa, seksisme dalam media berasal dari pandangan bias gender terhadap perempuan  baik dalam masyarakat umum maupun pelaku industri media, terutama  melalui chanel-chanel saluran kapitalisme. kata kunci: Perempuan, Media The presence of women in the media makes an awry conditions. In one side, tThe media may seencan serve asa forum for women’s self-actualization, but on the othersidehand women are oftenly  only seen onnext to the eye for the men and machines that produce as an objects. Themedia tend to reduce women merely as a body issues. Thise article aimed to explore the women sexism in media.Through the qualitative method, this article  concludesthat sexism in the media formed by rom the view ofgender bias against women in both the public and themedia industry players  especially through the channel of capitalism.keywords: Women, Media

Page 1 of 15 | Total Record : 149