cover
Contact Name
Efa Ida Amaliyah
Contact Email
efa@iainkudus.ac.id
Phone
+628157699032
Journal Mail Official
palastren@iainkudus.ac.id
Editorial Address
Jl. Conge Ngembalrejo PO BOX 51 Kudus Jawa Tengah 59322
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
PALASTREN: Jurnal Studi Gender
ISSN : 19796056     EISSN : 24775215     DOI : http://dx.doi.org/10.21043/palastren
Kajian dalam Isu Gender dan anak dalam perspektif Islam maupun studi gender secara umum. Sub Tema yang Terkait dengan Gender dan Anak berciri crosscuting issues dalam berbagai aspek seperti Gender dan Pendidikan, Gender dan Hukum, Gender dan Politik, Gender dan Psikologi, Gender dan Agama, Sastra dan Gender, Gender dan Sosiologi, Gender dan Antropologi; Gender dan Budaya .
Articles 149 Documents
Kapitalisasi Politik Identitas dalam Produk Halal; Industri Fashion dan Kosmetika
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 14, No 1 (2021): PALASTREN
Publisher : IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v14i1.7031

Abstract

Isu produk halal merupakan fenomena industri yang dekat dengan politik identitas, karena produk halal menjanjikan standar jaminan atas ketaatan konsumen pada norma-norma agama terutama terkait kebutuhan sehari-hari yang dikonsumsi. Jilbab dan kosmetika halal merupakan dua contoh produk yang sangat dekat dengan politik identitas dan seolah-olah menggaransi kebutuhan konsumen atas produk halal. Beragam materi iklan maupun informasi tentang konten halal dalam sebuah produk merupakan jawaban atas kebutuhan konsumen terkait dua produk halal yang kebanyakan dikonsumsi oleh perempuan (muslimah). Penelitian ini berupaya menjelaskan pandangan, persepsi, dan respon atas produk fashion dan kosmetika dengan jaminan produk halal yang diperoleh dari questioner, analisis iklan produk halal, dan kajian pustaka terkait materi produk halal tersebut.   
PEREMPUAN DAN PEMANFAATAN TEKNOLOGI INTERNET DENGAN PENDEKATAN UTAUT
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 9, No 1 (2016): PALASTREN
Publisher : IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v9i1.1746

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perilaku pemanfaatan internet pada kaum perempuan dengan menggunakan pendekatan Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT). Terdapat enam variabel dalam penelitian ini, yaitu ekspektasi kinerja, ekspektasi usaha, pengaruh sosial, kondisi pendukung, efikasi diri dan intensi pemanfaatan internet. Data penelitian ini diperoleh dari 110 responden dengan menggunakan teknik convenience sampling. Teknik pengujian model penelitian ini menggunakan regresi linier berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekspektasi kinerja, ekspektasi usaha, kondisi pendukung dan efikasi diri berpengaruh secara positif signifikan terhadap terhadap intensi pemanfaatan internet. Namun demikian, pengaruh sosial tidak berpengaruh secara signifikan terhadap intensi pemanfaatan internet. This research aims to analyze the behavior of internet use on women by using Unified Theory of cceptance and Use of Technology (UTAUT). There are six variables in this research, namely the performance expectancy, effort expectancy, social influence, facilitating conditions, self-efficacy and intention of internet use. The data were obtained from 110 respondents by using convenience sampling technique. The research model testing technique used the multiple linear regression approach. The results showed that performance expectancy, effort expectancy, facilitating conditions, and self-efficacy positively and significantly had effects on intention of internet use. Nevertheles, the social influence is not related to intention of internet use.
Patriarchal Culture and the Meaning of Male Social Privilege According to ALB (Aliansi Laki-Laki Baru)
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 17, No 2 (2024): PALASTREN
Publisher : IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v17i2.23760

Abstract

This research examines the meanings of privilege according to ALB’s perspective in three main formulations, including: first, what is the objective meaning of ALB group members towards male social privilege? Secondly, what factors encourage the emergence of this objective meaning in male privilege? Then thirdly, what are the implications of the objective meaning of male privilege for gender equality? The data collection method used in this research was personal interviews with six informants and a literature review on themes related to social privilege and the position and role of males in social reality. The data analysis used is Huberman's approaches, there are data reduction, data visualization, data verification, and data interpretation analyzed by the Manheim social method. This research concludes that male does not always protect their social privileges. ALB in this research also shows meanings that are at odds with the general view of male social privilege. Factors that influence this meaning include social factors that tend to experience and see directly the phenomenon of gender discrimination, adequate education in exploring gender issues, and a culture that tends to be patriarchal. while the implications produced by this meaning refer to various strengthening dimensions, including the intellectual and social dimension
NASIB TRAGIS DAN CITRA TKI DALAM BINGKAI MEDIA
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 10, No 2 (2017): PALASTREN
Publisher : IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v10i2.2714

Abstract

Kajian ini tertujuan untuk mendeskripsikan berbagai nasib tragis dan citra tenaga kerja Indonesia (TKI) yang selama ini banyak medapat sorotan dari berbagai media, baik cetak maupun elektrorik. Metode yang digunakan dalan penulisan kajian ini adalah metode kepustakaan dengan melakukan penelusuruan terhadap berbagau sumber-sumber ilmiah yang meliputi, buku, jurnal, dan berita dari berbagai media. Berdasarkan hasil pembacaan terhadap seluruh sumber tersebut dapat disimpulkan bahwa banyak sekali nasib tragis yang dialami oleh TKI, yang seluruhnya menggabarkan citra buruk manjemen TKI mulai dari penyiapan dasar hukum untuk perlindungan, proses mobilisasi, pelatihan, pemberangkatan, penempatan, monitoring, hingga proses pemulangan.  Oleh karena itu, pemerintah, BNP2TKI, Disnaker, PJTKI, dan semua pemangku kepentingan hendaknya selalu berupaya untuk meningkatkan manajemen TKI dari hulu hingga hilir.
EVALUASI PEMBELAJARAN PERSPEKTIF KESETARAAN GENDER DALAM SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 8, No 2 (2015): PALASTREN
Publisher : IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v8i2.974

Abstract

Sehubungan dengan evaluasi pembelajaran, sampai sekarang masih banyak instrumen hasil belajar, baik digunakan oleh guru untuk ulangan harian atau oleh sekolah-sekolah untuk ulangan umum yang belum memenuhi persyaratan ideal yaitu, non bias dan standar dapat diukur. instrumen hasil pembelajaran yang berisi item bias akan merugikan siswa yang memiliki kemampuan yang sama dengan siswa yang menjawab dengan benar hanya karena kelompok yang berbeda. Dengan kata lain, instrumen yang berisi item bias, tidak memberikan kesempatan yang sama untuk menjawab dengan benar pada orang mengambil tes dengan kemampuan yang sama, hanya karena mereka berasal dari kelompok yang berbeda. Dalam hal ini, itu bisa berarti perbedaan dalam budaya, jenis kelamin, agama, dan banyak lagi. menurut Saifuddin Azwar, empat faktor yang diduga sebagai penyebab kesenjangan kinerja antara laki-laki dan perempuan dalam kaitannya dengan tanggapan untuk menguji pertanyaan, yaitu 1). pertanyaan tes bias, 2). format pilihan ganda, 3). kesempatan untuk menebak, dan 4) kendala waktu. Regarding to the evaluation of learning, until now there are still a lot of learning outcomes instruments, whether used by teachers for daily test or by schools for general test , have not met the requirements of an ideal yet i.e.,non biased and scalable standard. Learning outcomes instrumentcontaining bias items would be detrimental to the students who has the same abilities with studentswho answered correctly simply becauseof different groups. In other words, the instrumentscontaining bias items, do not give the same opportunity to answer correctly on the person taking the test with the same abilities, just because they come from different groups. In this case, it could mean the difference in cultures, gender, religion, and more. According to Saifuddin Azwar, four factors suspected as the causes of the performance gapbetween men and women in relation to responses to test questions, namely 1). Bias test questions , 2). multiple-choice format, 3). opportunity toguess, and 4) time constraints. 
Women and Resilience on Pandemic Covid-19 Disaster: Feminist Participatory Action (FPA)
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 15, No 1 (2022): PALASTREN
Publisher : IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v15i1.11161

Abstract

Women are the group that receives double impacts than men in disaster situations, including the Covid-19 pandemic. On the other hand, women have bigger potentials to participate in the implementation of the Covid-19 pandemic disaster management. This article explores women's resilience initiatives in the face of the Covid-19 pandemic disaster situation. This study used a descriptive narrative method to explain the initiative of the women community assisted by LRC-KJHAM in Central Java, Indonesia. The results showed that the women's community through the feminist participatory action (FPA) took the initiative and adaptive activities during the Covid-19 pandemic, including through education consist online discussions, counseling and campaigns and promote economic empowerment such as online markets, MSMEs, health protocol equipment, women's planting movements). In this article,  Feminists Participatory Action means the collection of some actions which is based on the data collected by vulnerable women and following by distributing some actions as part of their social assistance, such as through the provision of temporary shelters for women victims of domestic violence during the pandemic.
Ekoteologi berwawasan Gender dalam al-Quran
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 10, No 1 (2017): PALASTREN
Publisher : IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v10i1.2463

Abstract

Ekoteologi adalah bentuk teologi konstruktif yang membahas interrelasi antara agama dan alam, terutama dalam menatap masalah-masalah lingkungan. Secara umum, ekoteologi berangkat dari suatu premis bahwa ia ada karena adanya hubungan antara pandangan dunia keagamaan manusia dan degradasi lingkungan.Ekoteologi sangat penting dalam merekonstruksi paradigma antroposentris. Interkoneksi antara manusia dengan dirinya sendiri, manusia dengan sesama manusia, manusia dengan lingkungan dan manusia dengan Tuhan yang harmonis dalam konsep ekoteologi, diharapkan dapat membangun kesadaran spiritual manusia yang menurut Nasr semakin memudar dalam masyarakat modern dan menjadi sumber segala permasalahan yang terjadi. Di sisi lain, peran laki-laki dan perempuan yang komplementer dan kooperatif dalam relasi gender termasuk dalam upaya konservasi lingkungan, adalah suatu yang niscaya dalam al-Quran. Al-Quran menyanggah stereotipe karakter bagi keduanya berdasarkan jenis kelamin. Artinya, stereotipe yang ada adalah doktrin dari pandangan masyarakat yang telah melekat dan teraktualisasi serta membentuk pola relasi gender yang inharmonis
WOMEN LEADERSHIP ON PUBLIC INSTITUTION IN MUSLIM MINORITY SOCIETY OF WEST PAPUA
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 12, No 2 (2019): PALASTREN
Publisher : IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v12i2.6520

Abstract

This article focuses on the leadership style, role, and construction of West Papuan women's leadership in politics and education.This research applied case study method.The results show that West Papuan women have several roles in empowering society in different ways.This is indicated by the large number of women in West Papua occupying important positions in the government in West Papua.In addition, education field shows that West Papuan women made many breakthroughs and led several educational institutions in West Papua.In fact, it can be concluded that the role of West Papuan women, both in politics and in education,is not a complement of men, but partners of men in leading and building West Papua.
RATU BALQIS DALAM NARASI SEMIOTIKA AL QUR’AN
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 6, No 2 (2013): PALASTREN
Publisher : IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v6i2.986

Abstract

Penelitian ini membahas perspektif wacana dan hubungan gender dalam Al-Qur’an, terutama di wilayah publik politikdengan menggunakan kisah objek formal, Ratu Balqis di Kerajaan Saba’ di Qs. al-Naml (27): 29-44.Menerapkan semiotika yang memberi arti dan maknayang mampu merekonstruksi pemahaman yang telah terkesan kaku dan eksklusif pada kisah Ratu Balqis.Melalui pemahaman semiotik, hubungan antara pria dan wanita mengacu pada simbol kesetaraan gender di antara mereka. Dalam konteks ayat-ayat ini Ratu Balqis ternyata menjadi simbol feminis sejati dengan menjelaskanketaatan dan penyerahan dirinya hanya untuk Allah swt,bukan untuk Nabi Sulaiman. Karena keduanya adalah hamba Allah swt yang tidak boleh mengklaim dirinya superior, sementara yang lain ditekan sebagai inferior.Keterlibatan Nabi Sulaiman dalam pengakuan Balqi sadalah hanya sebagai aktor dan mediator yang membuat mereka mengadopsi teologi monotheisme.kata kunci: Semiotika, Al-Qur’an, Ratu Balqis, Gender. This study tried to dismantle the discourse and genderrelations perspective of the Qur’an, especially in thepublic-political region by using formal object tale, of Queen Balqis in the Kingdom of Saba’ on Qs. al-Naml(27):29 - 44. Applying semiotics that signed meaning andsignificance was able to reconstruct the understanding which has been impressed rigid, exclusive and misogynicon the story of Queen Balqis. Through a semiotic understanding, relationships between men and women refer to the gender equality symbols between them. Inthe context of these verses, Queen Balqis turned outto be a true feminist symbol through clarifying herobedience and submission only to Allah swt, not toProphet Solomon. Because both are the servants of Allahswt that should not be claiming to be the superior, whileothers are suppressed as the inferior. The involvement of Prophet Solomon in Balqis’ confession was merely as theactor and mediator that made them adopting a theology of monotheism.Keywords: Semiotics, Al-Qu’an, Queen Balqis, Gender
Politik Desa dan Kepemimpinan Perempuan: Pengintegrasian Isu Gender Di Desa Wilayah Perbatasan Indonesia - Timor Leste
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 15, No 1 (2022): PALASTREN
Publisher : IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v15i1.14334

Abstract

Kepemimpinan Perempuan di Provinsi Nusa Tenggara Timur menarik untuk dikaji mengingat kompleksitas kehidupan sosio kultur masyarakat setempat. Selain adanya kultur yang menomorduakan perempuan seperti pemberian belis untuk pernikahan, secara umum kehidupan masyarakat adalah miskin. Konteks ekonomi yang miskin berikutnya berkelindan dengan ketegangan wilayah perbatasan serta eksistensi kekuasaan adat yang relatif besar dimana sumber daya yang terbatas kerap harus dihabiskan untuk upacara-upacara adat. Di tengah situasi tersebut, di Desa Fatuba’a Kabupaten Belu terpilih Kepala Desa Perempuan. Menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan dua teknik pengumpulan data yaitu wawancara mendalam dan studi dokumen, penelitian ini menyimpulkan tiga hal, pertama, Kepala Desa perempuan di Fatuba’a mendapatkan posisinya karena modal sosial berupa pengaruh adat dan dukungan warga baru dalam relasi yang patron-klientelistik. Kedua, selama kepemimpinan kepala desa perempuan, muncul kebijakan-kebijakan yang memfasilitasi peningkatan kualitas hidup perempuan seperti pada pengaturan belis. Sejumlah kemajuan pun muncul seperti peningkatan kualitas pelayanan kesehatan ibu, bayi dan balita yang berdampak pada menurunnya angka stunting. Selain perempuan, Emiliana juga mengakomodir kebutuhan dari kelompok minoritas lain yakni warga baru. Ketiga, kepemimpinan Kepala Desa perempuan relatif tidak memiliki dinamika politik yang berarti karena kepala desa kuatnya dukungan dari suku terbesar serta dari warga baru.