cover
Contact Name
Efa Ida Amaliyah
Contact Email
efa@iainkudus.ac.id
Phone
+628157699032
Journal Mail Official
palastren@iainkudus.ac.id
Editorial Address
Jl. Conge Ngembalrejo PO BOX 51 Kudus Jawa Tengah 59322
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
PALASTREN: Jurnal Studi Gender
ISSN : 19796056     EISSN : 24775215     DOI : http://dx.doi.org/10.21043/palastren
Kajian dalam Isu Gender dan anak dalam perspektif Islam maupun studi gender secara umum. Sub Tema yang Terkait dengan Gender dan Anak berciri crosscuting issues dalam berbagai aspek seperti Gender dan Pendidikan, Gender dan Hukum, Gender dan Politik, Gender dan Psikologi, Gender dan Agama, Sastra dan Gender, Gender dan Sosiologi, Gender dan Antropologi; Gender dan Budaya .
Articles 149 Documents
Pelecehan Seksual Pada Jurnalis Perempuan di Indonesia
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 13, No 2 (2020): PALASTREN
Publisher : IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v13i2.8709

Abstract

Penelitian ini hendak menggali informasi dari informan jurnalis perempuan yang pernah menjadi korban pelecehan seksual. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan data tentang jenis pelecehan seksual, pola pelaku, dampak, dan tindak lanjut dari pelecehan yang terjadi. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif dan teknik pengumpulan data berupa wawancara dan focus group discussion (FGD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat korban mengalami pelecehan verbal yang mengarah pada pelecehan fisik. Dari aspek pelaku, ketiga korban mengatakan bahwa pelaku pelecehan seksual adalah narasumber yang hendak diwawancarai, sementara satu informan lain mengatakan bahwa pelaku pelecehan seksual adalah atasannya di kantor. Dari aspek dampak, keempat informan mengatakan bahwa mereka mengalami trauma meski tidak berkepanjangan. Keempat informan juga menyatakan bahwa mereka memilih tidak melanjutkan kasus yang dialaminya ke ranah hukum. 
MODEL MUSYAWARAH RENCANA AKSI PEREMPUAN (MUSRENA) RESPONSIF GENDER DI KOTA BANDA ACEH
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 9, No 1 (2016): PALASTREN
Publisher : IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v9i1.1718

Abstract

Partisipasi perempuan dalam perencaanaan pembangunan dan penganggaran dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) selama ini ternyata masih memiliki hambatan. Sebagai upaya penyelesaiannya, Pemerintah Kota Banda Aceh merumuskan strategi baru berupa Musyawarah Rencana Aksi Perempuan (Musrena) yang memberikan kesempatan partisipasi penuh pada perempuan sebagai upaya pengarusutamaan gender (PUG) dan Anggaran Responsif Gender (ARG) dari tingkat yang paling rendah yaitu desa/gampong. Penelitian ini bertujuan untuk mengelaborasi secara komprehensif tentang inovasi Musrena di Kota Banda Aceh. Melalui pendekatan kualitatif, data dalam penelitian ini didapatkan dari Focused Group Discussion (FGD), wawancara mendalam (Indepth-interview) dan desk-study (studi dokumen/dokumentasi). Hasil penelitian ini adalah: 1. Tumbuhnya motivasi dan kesadaran wanita di tingkat Gampong, kota/kabupaten untuk ikut berpartisipasi dalam perencaanaan pembangunan dan penganggaran yang responsif gender. 2. Musrena berbasis prinsip kesetaraan, anggaran yang berkeadilan gender, musyawarah dialogis, anti dominasi, keberpihakan kepada kelompok rentan, anti diskriminasi, dan pembangunan secara holistik. Based on the lack of women participation in development planning and budgeting within the Development Planning Meeting (Musrenbang), the government of Banda Aceh formulate a new strategy in the form of Council Action Plan for Women (Musrena) which provides an opportunity and full participation for women as gender mainstreaming (PUG) and the Gender Responsive Budgeting (ARG) on the lowest level; the village (gampong). This study aims to elaborate comprehensively on innovation of Musrena in Banda Aceh. Through a qualitative approach, the data in this study was obtained from Focused Group Discussion (FGD), interview (in depth-interview) and desk-study (documentation). The results of this study are: 1. Growth of motivation and awareness level of women in the village, city /county to participate in development planning and gender responsive budgeting. 2. Musrena based on the principles of: equality, gender fairly budgets, dialogical negotiation, anti-dominant, partiality, anti-discrimination, and holistic principle.
Gender Mainstreaming in PTNU: The Role of PSGA in the Prevention and Handling of Sexual Violence at UNISNU Jepara
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 18, No 1 (2025): PALASTREN
Publisher : IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v18i1.31994

Abstract

This article aims to examine the strategic role of the Gender and Children Studies Centre (PSGA) in integrating gender perspectives within Nahdlatul Ulama Higher Education Institutions (PTNU), particularly at UNISNU Jepara, as well as efforts to prevent and address sexual violence. This research utilizes a qualitative approach with a case study at PSGA UNISNU Jepara, collecting data through observation, interviews, documentation, and surveys. Based on Judith Butler’s theory of gender performativity, the results indicate that PSGA plays a significant role in promoting gender justice on campus through policy development, advocacy for the formation of the PPKS (Prevention and Handling of Sexual Violence) task force, and the implementation of gender awareness training and assistance for victims. PSGA has become the main driving force in creating a more just and safe campus environment, especially in relation to the prevention and handling of sexual violence. However, PSGA’s involvement in policy planning and evaluation is still sporadic and disorganised. Therefore, PSGA’s institutional position in the campus decision-making structure needs to be strengthened.
OTORITAS AGAMA ULAMA PEREMPUAN:Relevansi Pemikiran Nyai Masriyah Amva Terhadap Kesetaraan Gender Dan Pluralisme
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 12, No 2 (2019): PALASTREN
Publisher : IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v12i2.5981

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara kesalehan dengan inisiatif dan realisasi pemberdayaan diri seorang ulama perempuan dengan menggunakan teori kesalehan Saba Mahmood. Didasarkan secara empiris pada penelitian etnografis terhadap transformasi otoritas keagamaan Nyai Masriyah Amva di Kabupaten Cirebon, Propinsi Jawa Barat, Indonesia, artikel ini menyimpulkan dua hal. Pertama, menganalisa transformasi Nyai Masriyah, yang dengan kesalihan, keteguhan dan kreativitasnya mampu membangun otoritas agamanya dan mengembangan Pesantren Kebon Jambu al-Islami di Cirebon, Jawa Barat. Kedua, karya-karya Nyai Masriyah menunjuk kesadaran feminisme dengan merefleksikan pengalaman dan usaha pribadinya sebagai perempuan dan ulama dengan akar pada tradisi pesantren yang berdaya, mandiri, dan toleran dengan keragaman. Pemikiran Nyai Masriyah penting untuk memperkuat bangunan moderasi Islam di Indonesia yang saat ini dihadapkan pada narasi besar menguatnya konservatisme (conservative-turn).
PENDIDIKAN SENSITIF GENDER DALAM ISLAM : TELAAH PARADIGMATIS DALAM SEJARAH INTELEKTUALISME ISLAM INDONESIA
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 8, No 2 (2015): PALASTREN
Publisher : IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v8i2.967

Abstract

Pendidikan Islam adalah proses untuk membangun seseorang secara holistik, baik dari sisi kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Pendidikan Islam tidak mendiskriminasi antara laki-laki dan perempuan. Diskriminasi dan bias gender sebenarnya terbentuk oleh budaya. Namun kesalahan penafsiran Al-Quran juga mempunyai peran dalam pemahaman konsep gender. Hal ini tidak terlepas dari tradisi sebagian orang yang menginterpretasi Al-Qur’an secara parsial dan tidak komprehensif, disamping pemahaman yang menekankan unsur tekstual ketimbang kontekstual. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi bias gender dalam proses pendidikan dan juga cara untuk mengatasinya. Melalui metode kualitatif artikel ini menemukan bahwa pendidikan Islam sebenarnya memberikan pria dan wanita posisi yang proporsional tidak hanya dalam peran domestik, melainkan juga di masyarakat.kata kunci: Pendidikan, Islam, Gender.Islamic education is a process to build some person holistically, i.e. cognitive, affective, and psychomotor field. It does not discriminate men and women. The discrimination and gender bias merely constructed by culture. However the missinterpretation of Quran also takes a part of the gender issue. It comes from the tradition of some Moslem that interprete the Qur’an not in a comprehensive way. Moreover, it is understood textually and not contextually. This article aimed to explore the gender bias in terms of education process and also the way to solve it. Through the qualitative method this article finds that Islamic education actually gives both men and women a proportional position not only in domestic role but also in public one.Keywords:Education, Islam, Gender.
Nalar Gender Para Khatib Nikah di Surabaya
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 13, No 1 (2020): PALASTREN
Publisher : IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v13i1.6902

Abstract

Artikel ini mengupas ide-ide tentang relasi suami-istri dalam rumah tangga yang dipaparkan oleh para khatib nikah di Surabaya. Penelitian dilakukan dengan model kualitatif bertumpu pada data primer berupa pernyataan verbal para khatib dalam moment akad nikah. Jumlah khatib sebagai partisipan penelitian ini ditentukan berdasarkan penetapan lokasi khutbah nikah, yaitu di dua masjid utama di Surabaya, Masjid Al-Akbar dan Masjid Al-Falah yang keseluruhannya berjumlah 12 orang. Pengambilan data dilakukan melalui dokumentasi khutbah, observasi, dan wawancara. Data yang terhimpun dianalisis menggunakan teknik fenomenologis. Temuan riset adalah bahwa para khatib nikah di Surabaya masih banyak yang mengeksplikasi pesan relasi suami-istri dalam kategori; a) bias gender sebanyak 42%; b) ambigu gender, sebanyak 25%, yaitu menyatakan relasi timbal-balik, namun memosisikan istri sebagai tangan kanan suami; c) netral gender yang mencapai sejumlah 8%; d) keadilan dan kesetaraan gender, yaitu 25% dengan kreteria memosisikan suami-istri secara equal. Perbedaan wawasan gender para khatib tersebut disebabkan oleh perbedaan latar belakang sosio-kultural. Khatib yang sudah berwawasan equal berlatar belakang sebagai dosen dan pejabat kementerian agama. Sedangkan yang masih bias berlatar belakang sebagai penceramah dan belum pernah mengikuti pendalaman tentang konsep gender.
KETELADANAN PEREMPUAN DALAM SASTRA QUR’ANI : ANALISIS KRITIK SASTRA FEMINIS KISAH PEREMPUAN DALAM AL QURAN
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 6, No 2 (2013): PALASTREN
Publisher : IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v6i2.987

Abstract

Cerita dalam Al-Qur’an bukan hanya cerita untuk dongeng semata-mata, tapi  juga mengandung pelajaran,tuntutan, dan petunjuk bagi manusia. Al-Qur’an secara khusus membahas jenis perempuan menurut perbuatan mereka. Al-Qur’an mengacu pada seorang wanita sholehah dan wanita yg dzalim. Penelitian ini menganalisis empat cerita wanita, yaitu: Asiyah, ibu Musa, Ratu Saba’,dan istri Nabi Nuh dan Nabi Lut. Qur’an menegaskan pandangan perempuan sebagai orang yang bertanggung jawab penuh atas pilihannya, baik tindakan terpuji atauaktivitas tirani. Perempuan diakui sebagai pribadi yang mandiri yang tidak bergantung pada sosok laki-laki.Orang wanita mendapatkan ganjaran atas apa yang dia lakukan, baik atau buruk.Kata Kunci: Kritik Sastra, Perempuan Teladan, Al-Qur’an. Stories in the Qur’an is not just a fairytale story for sheer,but it also contains lessons, demands, and instructionsfor humans. The Qur’an specifically discuss the types ofwomen according to their deeds. The Qur’an refers to anideal woman and a bad women. This research analyzedfour women stories : Asiyah, Moses mother, the QueenSaba’ and Mrs Nuh dan Mrs Lut. Qur’an confirms theview of women as a person who fully responsible for herchoice, either commendable action or tyranny activity.Women are recognized as an independent person whodoes not rely on the male figure. A woman getting a reward for what she has does, good and bad.Keywords: Literary Criticism, Women  Idols, Al-Qur’an.
Career Woman: The Dual Roles Conflict Management in the Gender Perspective
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 16, No 1 (2023): PALASTREN
Publisher : IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v16i1.17276

Abstract

Human rights are something that is essential and should not be limited only for reasons that refer to gender and social status, especially human rights for women in various aspects, especially the right to a career and self-actualization. Facts on the ground show that women also have the same competence as men in the aspects of public and professional roles. This study aims to analyze the aspects of women's rights and freedoms in carrying out their roles as career women, especially for women who are married and have dual roles. This study examines aspects of social roles and management of role conflicts that are experienced by women with the status of career women. Aspects of social roles are studied based on various theories of social development, studies of women's rights based on the concept of human rights and gender equality. The data in this study were sourced from the results of observations, interviews, and literature studies. The analysis technique used was an interactive model. The results of this study indicate that career women with dual roles have appropriate conflict management techniques, so that their roles have the same priority. This was also supported by the concept of gender equality which is starting to be accepted in society so that women can live a life with the dual roles they have, as well as the guarantee of human rights as human beings who have complete freedom.
BUDAYA ORGANISASI PESANTREN DALAM MEMBENTUK SANTRI PUTRI YANG PEDULI KONSERVASI LINGKUNGAN
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 10, No 1 (2017): PALASTREN
Publisher : IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v10i1.2338

Abstract

ABSTRAK Peran pesantren sebagai lembaga pendidikan kegamaan diharapkan mampu memberikan pengetahuan dan tata nilai Islami berkaitan dengan lingkungan. Santri baik laki-laki maupun perempuan memiliki wawasan ramah lingkungan melalui budaya organisasi yang ada di Pesantren. Unsur budaya organisasi pesantren yang telah dimanfaatkan dalam peningkatan kesadaran ekologi bagi santri putri dilakukan melaui perwujudan verbal dan perwujudan perilaku. Budaya organisasi di pesantren dalam mendorong santri putri terlibat dalam pengelolaan lingkungan terkendala oleh adanya semacam pembagian wilayah bagi santri putri dan putra dalam pengelolaan lingkungan sebagai akibat pembakuan peran di pesantren. Kata kunci: Islamic Boarding School, Female Student, Budaya OrganisasiABSTRACT The role of pesantren as a religious education institution is expected to be able to provide Islamic knowledge and values related to the environment. Santri both male and female have eco-friendly insights through the organizational culture in the pesantren. The organizational culture elements of the pesantren that have been used in increasing ecological awareness for female santri are carried out through verbal manifestations and behavioral manifestations. Organizational culture in pesantren are encouraging female santri to be involved in environmental management. It is constrained by the existence of a kind of division of area for female and male students in environmental management as a result of standardizing roles in pesantren. Keyword: Islamic Boarding School, Female Student, Organizational culture
REKONSTRUKSI HUKUM BERKEADILAN GENDER SEBAGAI PENDEKATAN DALAM PEMBERDAYAAN BURUH PEREMPUAN TELAAH DISPARITAS HUKUM PADA TENAGA KERJA WANITA DI KABUPATEN MAGELANG
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 7, No 1 (2014): PALASTREN
Publisher : IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v7i1.1000

Abstract

Perlakuan terhadap Pria dan wanita tentu saja berbeda,namun kenyataan berbicara bahwa wanita cenderung menjadi korban perlakuan tidak adil. Ini mengarah ke skema yang berbeda antara pria dan wanita dalam penilaian keadilan. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi model penegakan keadilan antaralaki-laki dan perempuan. Melalui metode kualitatif penelitian ini menunjukkan bahwa model penegakan hukum antara laki-laki dan perempuan berbeda. Namun,model utama kedua menunjukkan kemiripan, misalnyarelasi yang didominasi model penegakan hukum. Selainpengaruh dominan hukum internasional, dalam model kesejahteraan, pria terlibat secara signifikan sedangkan dalam model perempuan variabel yang mempengaruhi  adalah harapankata kunci: Pemberdayaan, Penegakan Hukum, KeadilanGender. Men and women are treated differentially but women tend to be the victims of unjust treatment. It leads to the different schemas between men and women in justice judgment. This article aimed to explore the law enforcement model between men and women. Trough the qualitative method the study shows that law enforcement model between men and women is different. However, the main model of these two is similar, e.g. relationaldominated law enforcement model. Besides the dominant influence of interactional law, in the model of men welfare is significantly involved while in the model of women the other influencing variable is expectation.Keywords: Empowerment, Law Enforcement, Gender Justice.