cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
ISSN : 1411318X     EISSN : 25486101     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Teknologi Lingkungan (JTL) is a journal aims to be a peer-reviewed platform and an authoritative source of information. JTL is published twice annually and provide scientific publication for researchers, engineers, practitioners, academicians, and observers in the field related to science and environmental technology. We publish original research papers, review articles and case studies focused on Environmental Sciences, Environmental Technology as well as other related topics to Environment including sanitation, environmental biology, waste water treatment, solid waste treatment, environmental design and management, environmental impact assessment, environmental pollution control and environmental conservation.
Arjuna Subject : -
Articles 1,211 Documents
FLOWER BIOLOGY OF TWO DIOSPYROS SPECIES NEIGHBORLY LIVE AT CSC AREA: DO POLLEN VIABILITY AND TUBE GROWTH RATE SHIRE ENDEMIC DISTRIBUTION Rachman, Erlin
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 9 No. 3 (2008): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (68.279 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v9i3.467

Abstract

Aims of study were to compare flower structure, pollen viability and pollen tube growth rate of two Diospyros species neighborly live in Cibinong Science Centre (CSC) park, Diospyros blancoi and D. celebica, and pursue if pollen-tube growth rate shire reasons endemic distribution of D.celebica in native habitat. Floral structurewas in situ or ex situ morphologically observed. Germination test and pollen tube growth incubation were done in Sarfatti medium and digitally captured and computerize analysis. The result showed that, both species have flower part resemblance each other. D. blancoi has bigger size in almost all flower parts. D. blancoi showed much more pollen viability (41% vs 7%) and tube growth rate than D. celebica1 (66 vs 0.57 μm per minute). Average pollen-tube length of both species at about 31/2 hours incubation was significantly different each other (342.679 ± 37.067 vs 128,673 ± 49,215μm). Most observed D. blancoi female trees set high number of fruit year to year and almost observed D. celebica female trees set very low number of fruit and some time without fruit in the year. It is associated with geographical distribution difference between the two species. Very significantlydifferent in pollen-germination percentage and pollen-tube growth rate provide a tool of further study to know microenvironment for reproduction and propagation of the endemic species, D. celebica.
Appendix JTL Vol 20, No 2, Juli 2019 JTL Vol 20, No 2, Juli 2019, Appendix
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 20 No. 2 (2019)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.65 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v20i2.3673

Abstract

BEBAN PENCEMARAN LIMBAH DOMESTIK DAN PERTANIAN DI DAS CITARUM HULU salim, hilmi
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 3 No. 2 (2002): JURNAL TEKNIK LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jtl.v3i2.243

Abstract

Daerah aliran sungai (DAS) Citarum yang merupakan DAS terbesar di Jawa Barat yang mengalami tekanan yang sangat kuat akibat pemanfaatan yang melebihi daya dukungnya, yang antara lain dari kegiatan pertanian, perkebunan, pemukiman dan industri. Kegiatan pemukiman dan pertanian merupakan dua komponen utama yang pada saat ini telah menyebabkan penurunan kualitas dan kuantitas air sehingga mempengaruhi nilai ekonomi terhadap output/keluaran pembangunan seperti rendahnya sistem sanitasi lingkungan yang menyebabkan timbulnya wabah penyakit yang vektornya berasal dari air (water borne disease), sedimentasi sungai dan waduk, berkembangannya makrofita dan mikrofita yang merugikan lingkungan, hilangnya jenis ikan di perairan sungai serta kematian ikan budidaya di Waduk Saguling dan Cirata serta laju korosi di instalasi di instalasi PLTA menjadi lebih cepat.Hal ini disebabkan karena limbah cair domestik dan pertanian serta industri yang meningkatkan masuknya unsur hara (nutrient) yang berlebihan seperti nitrogen dan fosfor serta bahan organik lainnya yang menyebabkan rendahnya nilai oksigen terlarut (DO) yang berguna bagi kehidupan ekosistem perairan dan tingginya kadar BOD, COD serta bakteri kolitinja.Oleh karena itu, untuk mencegah semakin tingginya tingkat degradasi perairan di wilayah tersebut perlu dilakukan pengelolaan DAS secara terpadu baik yang meliputi aspek teknis dan nonteknis (Peraturan dan kelembagaan), serta dapat mengakomodasi kepentingan stakeholder secara proporsional sehingga pembangunan yang ada di DAS Citarum Hulu dapat terlanjutkan.
PENGARUH EXTERNALITAS PADA NET ENERGY RATIO PRODUKSI BIODIESEL MIKROALGA = Externalities Effect on Net Energy Ratio of Microalgae Biodiesel Production Santoso, Arif Dwi; ., Kardono; Susanto, Joko P.
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 14 No. 2 (2013)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.505 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v14i2.1426

Abstract

In the future, Indonesia is predicted to be hit by national energy crisis so that it needs to do some efforts to overcome its dependences on these fossil energy sources. One of the efforts to lower high dependency on fossil energy sources is to find renewable energy sources. Microalgae has a great potential as a renewable energy source because it has the advantages of high productivity and sustainability. Development of microalgal biomasses as a renewable energy source is however, constrained by high cost of biomass production and low value of NER (net energy ratio) comparing tothese of other biomasses, like palm oil, jatrophaand tubers. Literature study shows that the method of NER calculation on biodiesel production does not yet include environmental variables. This researchis therefore to evaluate the values of NER before and after the addition of environmental commodity variables that consist of social, environmental and land use cost. Results of NER values calculatedusing existing LCA and modification LCA method are found to be 0,62 ± 0,078 and 0,60 ± 0,075 for algal biodiesel and 4,17 ± 0,79 and 3,22 ± 0,61 for palm biodiesel. The lower value of NER value differences for algal biomass indicates that biodiesel production from algal biomass is more environmentally-friendly. In addition, it is predicted that microalgae will have a significant contribution in the green house gases (GHGs) mitigation by replacing fossil fuel in the future through its role as a biodiesel. Keywords: net energy ratio, life cycle analysis, environmental commodity, microalgae, biodieselAbstrakDi masa depan, Indonesia diperkirakan akan dilanda krisis energi nasional sehingga perlu melakukan upaya untuk mengatasi ketergantungan terhadap energi fosil tersebut. Salah satu upayauntuk menurunkan ketergantungan pada energi fosil adalah untuk menemukan sumber energi terbarukan. Mikroalga memiliki potensi besar sebagai sumber energi terbarukan karena memiliki keuntungan dari produktivitas tinggi. Pengembangan biomasa mikroalga sebagai sumber energi terbarukan terkendala oleh tingginya biaya produksi dan nilai rendah APM (rasio energi bersih) dibandingkan dengan biomasa lainnya, seperti kelapa sawit ataupun umbi-umbian. Studi literatur menunjukkan bahwa metode perhitungan APM pada produksi biodiesel belum menyertakan variabel lingkungan. Oleh karena itu penelitian ini adalah untuk mengevaluasi nilai-nilai APM sebelum dansesudah penambahan variabel komoditas lingkungan yang terdiri dari biaya sosial, lingkungan dan penggunaan lahan. Hasil nilai NER dihitung dengan menggunakan LCA yang ada dan metode LCAmodifikasi yang ditemukan 0,62 ± 0078 dan 0,60 ± 0,075 untuk biodiesel alga dan 4,17 ± 0,79 dan 3,22 ± 0,61 untuk biodiesel sawit. Nilai yang lebih rendah dari perbedaan nilai APM untuk biomassaalga menunjukkan bahwa produksi biodiesel dari biomassa alga lebih ramah lingkungan. Selain itu, diperkirakan bahwa mikroalga akan memiliki kontribusi yang signifikan dalam mitigasi gas rumahkaca (GRK) dengan mengganti bahan bakar fosil. Kata kunci: rasio energi, analisa siklus hidup, komoditas lingkungan, mikroalga, biodiesel
ANALISIS EKONOMI PEMANFAATAN LIMBAH CAIR DI KEBUN SAWIT SEI MANDING, RIAU Maryadi, Maryadi
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 7 No. 1 (2006): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.749 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v7i1.371

Abstract

The growth of the oil palm industry in Indonesia has been phenomenal. With only 106.000 ha planted in 1968, it has increased to more than 3,393 million ha in 2000. Fertilizer has played a major role in contributing to the advancement of sustainable oil palm yields. Currently with Asian economies experiencing an economic slow down and locally with the depreciation of rupiah, fertilizer costs have inevitably gone up causing the increase of production costs. Recently some plantations are trying to use waste water for fertilising purpose since it known that waste water contains some potential nutrient such as N, P, K and Mg. In Sei Manding this usage increases the production up to 27%.
Jejak Karbon Individu Pegawai di Instansi Pemerintah Studi Kasus Pegawai Pemerintahan di Kawasan Puspiptek, Tangerang Selatan Santoso, Arif Dwi
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 18 No. 2 (2017)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.719 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v18i2.2242

Abstract

Peningkatan konsentrasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfir bumi sebagian besar disebabkan oleh gas karbon dioksida (CO2), termasuk didalamnya adalah emisi gas karbondiosida yang dihasilkan dari aktivitas individu manusia dalam waktu tertentu yang disebut jejak karbon atau carbon footprint. Dalam penelitian ini jejak karbon individu dihitung dari berbagai aktivitas individu yang berpotensi menghasilkan emisi terhadap 35 sampel pegawai yang bekerja pada Instansi Pemerintah di kawasan Puspiptek Tangerang Selatan. Perhitungan jejak karbon dilakukan dengan menggunakan perhitungan emisi faktor yang telah diadaptasi dari sumber yang terpercaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pegawai yang berkantor di kawasan Puspiptek secara rutin mengemisikan gas karbon sebesar 3.1 - 6.6 ton CO2-e/orang/tahun  atau rata-rata 4,96 ±1,23 ton CO2-e/orang/tahun.  Emisi karbon terdistribusi untuk aktivitas transportasi sebesar 2,3 ±0,78 ton CO2-e/ orang/tahun, konsumsi makanan sebesar sebesar 1,35 ±0,27 ton CO2-e/orang/tahun, hiburan 0,34 ±0,13 ton CO2-e/ orang/tahun, sampah 0,29 ±0,05 ton CO2-e/orang/tahun dan keperluan lainnya 0,39 ±0,02 ton CO2-e/orang/tahun. Hasil investigasi menyatakan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara emisi karbon yang dikeluarkan oleh pegawai laki-laki dan pegawai perempuan. Pegawai laki-laki mengemisikan gas karbon sebesar 4,965 ton CO2-e/orang/tahun sedangkan pegawai perempuan sebesar 4,923 ton CO2-e/orang/tahun. Tingginya aktivitas kantor yang diwakili oleh pegawai  dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi meningkatkan emisi. Demikian pula dengan semakin tinggi gaji pegawai mempengaruhi tingginya emisi karbon secara signifikan.Kata kunci : pemanasan global, gas rumah kaca (GRK), jejak karbon, pegawai Instansi Pemerintah 
PEMODELAN DISPERSI GAUSSIAN MENGGUNAKAN METODE TRANSFORMASI LAPLACE DAN INTEGRASI DENGAN CITRASATELIT GOOGLE EARTH Sulaiman, Albert; Sadly, Muhamad
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 15 No. 2 (2014)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5034.187 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v15i2.1597

Abstract

Dispersi polutan disekitar pabrik akan diselidiki dengan model dispersi Gaussian. Persamaan adveksidifusi yang memberikan sebaral polusi udara dengan sumber banyak cerobong pabrik akandiselesaikan dengan metode transformasi laplace dan simulasi hasil akan diintegrasikan denganGoogle Earth. Hasil menunjukkan bahwa koefisien difusi yang merepresentasikan lebardari sebaranpolutan akan melebar sejalan dengan semakin jauh dari sumber. Simulasi juga menunjukkan bahwasemakin tinggi sumber maka polutan akan semakin menyebar ke area yang lebih luas. Integrasi hasilsimulasi dengan Google Earth menghasilkan informasi yang lebih mudah diinterpretasikan danmenarik.
APLIKASI TEKNOLOGI OSMOSIS BALIK UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN AIR MINUM DI KAWASAN PESISIR ATAU PULAU TERPENCIL Said, Nusa Idaman
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 4 No. 2 (2003): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1762.636 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v4i2.275

Abstract

Teknologi pengolah air asin menjadi air tawar ada bermacam-macam jenisnya. Saat ini untuk mengolah air asin dikenal dengan cara destilasi, pertukaran ion, elektrodialisis, dan osmosa balik. Masing-masing teknologi mempunyai keunggulan dan kelemahan. Pemanfaatan teknologi pengolahan air asin harus disesuaikan dengan konsidi air baku, biaya yang tersedia, kapasitas dan kualitas yang diinginkan oleh pemakai air. Di antara berbagai macam teknologi tersebut yang banyak dipakai adalah teknologi destilasi dan osmosa balik. Teknologi destilasi umumnya banyak dipakai ditempat yang mempunyai energi terbuang (pembakaran gas minyak pada kilang minyak), sehingga dapat menghemat biaya operasi dan skala produksinya besar (>500 m3/hari). Sedangkan teknologi osmosa bali banyak dipakai dalam skala yang lebih kecil. Keunggulan teknologi membran osmosa balik adalah kecepatannya dalam memproduksi air, karena menggunakan tenaga pompa. Kelemahannya adalah penyumbatan pada selaput membran oleh bakteri dan kerak kapur atau fosfat yang umum terdapat dalam air asin atau laut. Untuk mengatasi kelemahannya pada unit pengolah air osmosa balik selalu dilengkapi dengan unit anti pengerakkan dan anti penyumbatan oleh bakteri. Sistem membran reverse yang dipakai dapat berupa membran dan mampu menurunkan kadar garam hingga 95-98%. Air hasil olahan sudahbebas dari bakteri dan dapat langsung diminum.
MODEL PENGENDALIAN LINGKUNGAN DALAM PEMBANGUNAN KOTA BARU BERKELANJUTAN Hadi, Syamsul; Pramudya, Bambang; Sutjahjo, Surjono Hadi; Hadi, Setia
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 13 No. 1 (2012)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.663 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v13i1.1400

Abstract

AbstrakPembangunan kota baru diharapkan dapat memecahkan masalah seperti pengurangan migrasi ke kota-kota besar, pembangunan ekonomi regional, dll, tetapi kenyataannya tidak sesuai dengan tujuan. Perubahan lingkungan adalah salah satudampak yang tidak dipertimbangkan dengan hati-hati ketika kota baru direncanakan dan dikembangkan. Tujuan penelitian ini untuk merumuskan model pengendalian lingkungan selama pembangunan kota baru, untuk mencapai tujuan keberlanjutan.Studi kasus penelitian dilakukan di kota baru Bumi Serpong Damai (BSD) di Propinsi Banten, Indonesia. Penelitian ini menganalisis kualitas udara dan air dan kemudian membandingkan keduanya dengan kualitas lingkungan standar, analisis keberlanjutan BSD menggunakan skala multidimensional (MDS), dan merumuskan parameter kuncimenggunakan “prospective tools”, model mengembangkan pengendalian lingkungan menggunakan sistem dynamic, dan merumuskan prioritas kebijakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa air dan tanah di sekitar daerah BSD terkontaminasi limbah organik seperti BOD dan COD, sedangkan atmosfer mengandung gas toksik seperti: CO, SOx, NOx, ozon (O3) dan TSP. Di dalam analisis keberlanjutan mengungkapkan bahwa kota BSD mempunyai kategori kurang berkelanjutan (46,75), kurang dari 50 poin. Hanya dalam aspek seperti infrastruktur dan teknologi (52,20), ekonomi (53,17) dan hukum dan lembaga (59,95) mendekati kategori berkelanjutan. Sementara dalam aspek ekologi (42,22) dan sosial budaya (26,49) kota BSD dikategorikan tidak berkelanjutan.Terdapat 22 faktor pengaruh dan 5 parameter kunci untuk dapat dipertimbangkan kota BSD di dalam mencapai kota yang keberlanjutan. Disarankan kebijakan untuk pengembangan kota berkelanjutan baru harus ada penyediaan teknologi produksibersih, penyediaan fasilitas sistem pembuangan kotoran, pengembangan jaringan jalan, transportasi umum yang efektif dan efisien, mempertimbangkan budaya lokal, peningkatan lembaga yang sesuai. kata kunci: kota baru, kualitas air dan udara, system pembuangan kotoran, model, strategi, dan kebijakan.kata kunci: kota baru, kualitas air dan udara, system pembuangan kotoran, model, strategi, dan kebijakan.
BIOGAS SEBAGAI ENERGI ALTERNATIF ANTARA MITOS dan FAKTA ILMIAH Padmono, Djoko
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 8 No. 1 (2007): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.6 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v8i1.403

Abstract

In the year of seventienth where the energy crisis struck the world, thecompeting person looked for the alternative to energy change the sourceof conventional energy (petroleum). One of the topics that it was hopedbecame alternative was BIOGAS from the process of the anaerobicfermentation of organic matter either agricultural or food industrial waste.Several parameters were studied to prove that anaerobic fermentationof the solid organic matter could become the BIOGAS as alternativeenergy replaced petroleum. Currently these all ideas were remains atthe myth completely.The reality from investigation of the technology degradation process /digestion of the organic matter by making use of this anaerobicfermentation system was only could be used as one of the wastetreatment as the solving problem of pollution of the environment, withresults of taking the form of BIOGAS that could be made use of assubstitution energy for the waste treatment it self. In other wordsanaerobic fermentation technology of the solid waste was one of thesolid waste treatments with minimal energy. Energy that was needed forwaste treatment process will be produced from himself to substituteenergy that was used from the network of the public (PLN). So as to behoped energy that usually is taken from the national net (PLN) for theprocessing of waste could be reduced, and was subtituted with energybiogas that was produced by him.

Page 51 of 122 | Total Record : 1211


Filter by Year

2000 2022


Filter By Issues
All Issue Vol. 23 No. 2 (2022) Vol. 23 No. 1 (2022) Vol. 22 No. 2 (2021) Vol. 22 No. 1 (2021) Vol. 21 No. 2 (2020) Vol. 21 No. 1 (2020) Vol. 20 No. 2 (2019) Vol. 20 No. 1 (2019) Vol. 19 No. 2 (2018) Vol. 19 No. 1 (2018) Vol. 18 No. 2 (2017) Vol. 18 No. 1 (2017) Vol. 17 No. 2 (2016) Vol. 17 No. 1 (2016) Vol. 16 No. 1 (2015) Vol. 15 No. 2 (2014) Vol. 15 No. 1 (2014) Vol. 14 No. 2 (2013) Vol. 14 No. 1 (2013) Vol. 13 No. 3 (2012) Vol. 13 No. 2 (2012) Vol. 13 No. 1 (2012) Vol. 12 No. 3 (2011) Vol. 12 No. 2 (2011) Vol. 12 No. 1 (2011) Vol. 11 No. 3 (2010) Vol. 11 No. 2 (2010) Vol. 11 No. 1 (2010) Vol. 10 No. 3 (2009) Vol. 10 No. 2 (2009) Vol. 10 No. 1 (2009) Vol. 9 No. 3 (2008): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 9 No. 2 (2008): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 9 No. 1 (2008): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 8 No. 3 (2007): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 8 No. 2 (2007): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 8 No. 1 (2007): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 7 No. 3 (2006): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 7 No. 2 (2006): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 7 No. 1 (2006): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 6 No. 3 (2005): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 6 No. 2 (2005): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 6 No. 1 (2005): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 5 No. 3 (2004): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 5 No. 2 (2004): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 5 No. 1 (2004): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 4 No. 3 (2003): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 4 No. 2 (2003): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 4 No. 1 (2003): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 3 No. 3 (2002): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 3 No. 2 (2002): JURNAL TEKNIK LINGKUNGAN Vol. 3 No. 1 (2002): JURNAL TEKNIK LINGKUNGAN Vol. 2 No. 3 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 2 No. 2 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 2 No. 1 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 1 No. 3 (2000): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 1 No. 2 (2000): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 1 No. 1 (2000): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN More Issue