cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
ISSN : 1411318X     EISSN : 25486101     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Teknologi Lingkungan (JTL) is a journal aims to be a peer-reviewed platform and an authoritative source of information. JTL is published twice annually and provide scientific publication for researchers, engineers, practitioners, academicians, and observers in the field related to science and environmental technology. We publish original research papers, review articles and case studies focused on Environmental Sciences, Environmental Technology as well as other related topics to Environment including sanitation, environmental biology, waste water treatment, solid waste treatment, environmental design and management, environmental impact assessment, environmental pollution control and environmental conservation.
Arjuna Subject : -
Articles 1,211 Documents
Remediasi Merkuri (Hg) pada Air Limbah Tambang Emas Rakyat Dengan Metode Lahan Basah Buatan Terpadu Hanies Ambarsari; Aulia Qisthi
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 18 No. 2 (2017)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.848 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v18i2.29

Abstract

Suatu metode lahan basah buatan terpadu diterapkan pada penelitian remediasi lingkungan dengan menggunakan tanaman Phragmites australis dan mikroba pada kompos untuk mengurangi konsentrasi merkuri (Hg) pada air limbah. Air limbah yang digunakan pada penelitian terdiri dari limbah asli tambang emas rakyat Pongkor dengan konsentrasi 27 ppb dan limbah buatan dengan konsentrasi 30 ppb, 60 ppb dan 90 ppb. Hasil penelitian menunjukkan tingkat efisiensi penurunan konsentrasi Hg yang dihasilkan adalah sebesar 99,8% pada air limbah buatan dengan konsentrasi 60 ppb dan 90 ppb, serta sebesar 99,6% pada air limbah asli dan air limbah buatan konsentrasi 30 ppb. Tingkat akumulasi Hg tertinggi ditemukan di bagian akar tanaman dengan konsentrasi Hg total pada bagian akar, batang dan daun tanaman Phragmites australis adalah sebesar 3,502 mg/kg, 5,102 mg/kg dan 12,066 mg/kg pada air limbah buatan konsentrasi 30 ppb, 60 ppb dan 90 ppb. Lebih tingginya tingkat akumulasi Hg di bagian akar, dibandingkan dengan bagian lain dari tanaman, dapat menjadi suatu tanda bukti bahwa mikroba dari kompos yang menempel pada bagian akar tanaman itu juga ikut berperan dalam proses penyerapan Hg oleh tanamanKata kunci: lahan basah buatan, merkuri (Hg), tambang emas rakyat, tailing
KAJI TERAP TEKNOLOGI KOMPOSTING UNTUK PENANGANAN LIMBAH TERNAK SAPI POTONG Firman Sahwan
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 17 No. 2 (2016)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.412 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v17i2.32

Abstract

Program swasembada daging sapi, telah memacu berkembangnya usaha peternakan sapi potong lokal. Sedangkan usaha penggemukan sapi impor ikut berkembang karena adanya target untuk memenuhi kebutuhan daging sapi perkapita sebanyak 2,2 kg. Hasil ikutannya adalah meningkatnya timbulan limbah  kandang yang merupakan campuran antara alas kandang dengan kotoran sapi. Limbah kandang yang utamanya kotoran sapi, merupakan bahan baku utama pada pembuatan pupuk organik. Namun pembuatan pupuk organik berbahan baku limbah kandang bukanlah tanpa masalah. Untuk itulah penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengetahui karakteristik pupuk organik berbahan baku limbah kandang, mengevaluasi faktor positif dan negatifnya; serta memberikan masukan untuk meningkatkan kualitas pupuk organiknya. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa kandungan unsur hara makro utama, kadar Fe, pH dan keberadaan mikroba fungsionalnya memenuhi Permentan 70 tahun 2011. Hal tersebut menunjukkan bahwa pupuk organik yang dibuat dari pupuk kandang memiliki kualitas yang baik. Pada sisi lain, keberadaan mikroba kontaminan (E. coli dan Salmonella sp), positif pada pukan segar dan negatif pada pukan kering dan pupuk organik. Selain itu, analisa tingkat kematangan menyimpulkan bahwa pupuk organik yang diteliti belum mencirikan pupuk yang sudah stabil atau matang. Kedua hal tersebut merupakan permasalahan yang sering dihadapi pada pembuatan pupuk organik berbahan baku limbah kandang. Pemecahannya adalah memperpanjang waktu proses dekomposisinya sampai diperoleh pupuk yang memenuhi kriteria pupuk organik (kompos) matang, dengan menggunakan teknologi composting. Proses dekomposisinya akan berjalan secara aerobik sehingga menghasilkan suhu tinggi yang dapat membunuh mikroba patogen (kontaminan) dan bibit gulma.
PERUBAHAN LINGKUNGAN DAN STRATEGI ADAPTASI DAMPAK PERUBAHAN IKLIM DI BANDAR UDARA HASANUDDIN, MAKASSAR Robertus Haryoto Indriatmoko; Wahyu Purwanta
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 18 No. 1 (2017)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.462 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v18i1.33

Abstract

Salah satu sektor pembangunan di Indonesia yang tidak bebas dari ancaman perubahan iklim adalah sektor transportasi udara. Oleh karena, perlu disiapkan strategi adaptasi dampak perubahan iklim. Bandara Hasanuddin Makassar berpotensi terkena dampak peningkatan suhu permukaan, kelembaban udara dancurah hujan dalam sepuluh tahun terakhir. Jika melihat data emisi gas polutan (non-GRK) terlihat bahwa polusi udara belum menjadi ancaman nyata. Namun ancaman yang akan segera dialami adalah berubahnya beberapa parameter meteorologis seperti suhu permukaan, kelembaban dan intensitas curah hujan. Berdasarkan data pemantauan oleh otoritas bandara memperlihatkan untuk rentang waktu 10 tahun sejak 2003 hingga 2013, telah terjadi kenaikan suhu permukaan rata-rata sebesar 10C. Kenaikan suhu permukaan ini juga diikuti kenaikan kelembaban pada rentang waktu yang sama sebesar 5%. Perubahan ketiga komponen iklim ini akan memberi dampak pada sistem penerbangan sehubungan dengan fenomena perubahan iklim. Melalui analisis risiko dan peluang untuk tiap perubahan komponen iklim, akan dapatditentukan dampak negatif dan dampak positif dari suatu fenomena cuaca dan iklim. Ancaman utama atau dampak negatip perubahan iklim bagi bandara Hasanuddin adalah potensi banjir, kekeringan, kebutuhan energi yang meningkat, rusaknya infrastruktur seperti runway, taxiway dan apron serta terganggunya operasional penerbangan akibat cuaca ekstrim. Strategi adaptasi yang tepat untuk bandara Hasanuddinantara lain dengan peningkatan kinerja sistem drainase, sumur resapan, penerapan efisiensi energi dan penggunaan energi ramah lingkungan, penerapan eco-office serta efisiensi proses dan prosedur kerja dalam pelayanan penumpang di bandara.Kata kunci : bandar udara, adaptasi, perubahan iklim
ESTIMASI EMISI GAS METANA DARI FERMENTASI ENTERIK TERNAK RUMINANSIA MENGGUNAKAN METODE TIER-1 DI INDONESIA Sindu Akhadiarto
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 18 No. 1 (2017)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.092 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v18i1.38

Abstract

Ternak ruminansia seperti sapi, kambing, domba dan kerbau mempunyai sistem pencernaan khusus yang memungkinkan melepas gas metana (CH4) keluar ke atmosfer melalui proses eruktasi. Tujuan dari penelitian ini adalah menduga total emisi gas CH4 dari fermentai enterik ternak ruminansia di Indonesia melalui metode Tier-1 (2007). Hasil perhitungan estimasi emisi gas CH4 dari fermentasi enterik ternak ruminansia menunjukkan bahwa ada hubungan positif antara populasi dengan nilai estimasi emisinya. Indonesia mempunyai tingkat pertumbuhan ternak ruminansia sebesar 5.55% per tahun dengan nilai estimasi emisi gas CH4 dari fermentasi enterik sebesar 5.35%. Nilai total estimasi emisi gas CH4 dari fermentasi enterik ternak ruminansia adalah sebesar 1.066,63 Gg CH4/tahun atau 22,40 Gg CO2 ekuivalen/tahun pada tahun 2013. Nilai emisi tersebut sangat jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan total emisi gas CH4 dari sektor peternakan di beberapa Negara di dunia. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah estimasi emisi gas CH4 dari fermentasi enterik ternak ruminansia di Indonesia perlu dikembangkan melalui pendekatan metode estimasi lainnya (Tier-2 atau Tier-3) yang memerlukan dukungan data yang lengkap mengenai karakteristik ternak dan koefisien cerna energi ternak ruminansiadengan pakan yang berbeda di Indonesia.Kata kunci : emisi, metana, ruminansia, fermentasi enterik
KARAKTERISTIK AIR TANAH AKUIFER DALAM SEKITAR TEMPAT PEMBUANGAN SAMPAH TERPADU (TPST) BANTAR GEBANG-BEKASI, JAWA BARAT satrio satrio
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 18 No. 1 (2017)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.584 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v18i1.48

Abstract

Telah dilakukan penelitian air tanah akuifer dalam di sekitar TPST Bantar Gebang, Bekasi menggunakan pendekatan isotop alam dan kimia air. Penelitian dilakukan dengan mengambil sejumlah sampel air tanah akuifer dalam (kedalaman lebih dari 40 m) di beberapa lokasi sumur bor sekitar TPST Bantar Gebang dan kemudian dianalisis konsentrasi isotop alam dan kimia airnya. Penelitian bertujuan untuk mengetahui karakteristik air tanah akuifer dalam di sekitar TPST Bantar Gebang terhadap kemungkinan interaksi dengan air lindi sebagai dampak aktivitas pembuangan sampah. Berdasarkan hasil analisis isotop alam 18 O dan 2H, karakteristik air tanah akuifer dalam dapat dibagi menjadi tiga kelompok sesuai perbedaan konsentrasi isotop alamnya. Pertama, air tanah B3 memiliki konsentrasi isotop alam 18O dan 2H paling miskin (depleted), diperkirakan berasal dari daerah imbuh (recharge) dengan elevasi relatif tinggi. Kedua, air tanah BG2, BG8, BG9, BG4 dan BG7 memiliki konsentrasi isotop alam 18O dan 2H paling kaya (enrich), diperkirakan berasal dari daerah imbuh dengan elevasi relatif rendah. Ketiga, air tanahBG6, BG1dan BG5 memiliki konsentrasi isotop alam 18O dan 2H berada diantara kelompok pertama dan kedua, diperkirakan daerah imbuhnya berada pada elevasi diantara keduanya.Namun demikian, baik berdasarkan hasil analisis isotop alam maupun kimia air, air tanah BG5 dan BG7 terindikasi telah mengalami proses evaporasi atau percampuran dengan air tanah dangkal atau air permukaan tetapi bukan dengan air lindi. Demikian pula dengan sampel air tanah lainnya, seluruhnya tidak mengalami interaksi dengan air lindi. Sementara itu, hasil 14C menunjukkan bahwa aliran air tanah akuifer dalam bergerak dari selatan menuju utara dan barat-laut.Kata kunci: karakteristik air tanah, akuifer dalam, isotop alam, kimia air, TPST Bantar Gebang
BIOAKUMULASI TIMBAL PADA PENGOLAHAN AIR LIMBAH BATERAI OLEH ACINETOBACTER SP. IRC2 MENGGUNAKAN BIOFILTER LEKAT DIAM Nida Sopiah; Wahyu Irawati; Susi Sulistia; Djoko Prasetyo
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 18 No. 1 (2017)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5073.667 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v18i1.74

Abstract

Acinetobacter sp. IrC2 merupakan bakteri yang memiliki sifat multiresistensi terhadap berbagai logam berat, tembaga, kadmium, timbal dan seng. Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari karakterisasi bioakumulasi timbal oleh Acinetobacter sp. IrC2 dalam menyisihkan kadar timbal pada air limbah bateraiyang diolah menggunakan biofilter lekat diam bermedia sarang tawon. Efisiensi penyisihan kadar timbal ditentukan dengan berkurangnya kadar timbal menggunakan spektrofotometri serapan atom. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses bioakumulasi timbal mengalami fluktuasi secara berkala dalam airlimbah yang diolah Acinetobacter sp IrC2. Efisiensi penyisihan kadar timbal pada jam ke-28 adalah sebesar 86,5% (6,31mg)/L dan pada jam ke-176 kadar timbal dalam air olahan limbah baterai dalam bioreaktor menjadi kurang dari 0,01 mg/L. Dengan demikian maka Acinetobacter Sp. IrC2 mampu bertindak sebagai agen bioremediasi dalam menyisihkan kadar timbal dalam air limbah baterai dengan menggunakan biofilter lekat diamKata kunci: Acinetobacter sp. IrC2, timbal, bioakumulasi, biofilter lekat diam
STUDI FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA DI LAHAN PASCA TAMBANG TIMAH KABUPATEN BANGKA TENGAH Tuti Suryati
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 18 No. 1 (2017)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.285 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v18i1.81

Abstract

Kegiatan penambangan timah telah merusak lahan subur menjadi lahan yang sangat kritis yang merusak ekosistem di dalamnya. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengembalikan lahan tersebut menjadi lahan produktif adalah melalui reklamasi atau revegetasi. Untuk meningkatkan keberhasilan program tersebut salah satunya dilakukan dengan penggunaan Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan mikoriza lokal dari lahan pasca tambang timah Kabupaten Bangka Tengah yang akan dikembangkan sebagai sumber inokulum untuk kemudian diaplikasikan dalam pemulihan lahan pasca tambang timah di Kabupaten Bangka Tengah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis jumlah spora FMA dari 23 sampel tanah di area rizosfir tumbuhan lahan pasca tambang  timah ditemukan 3 genus FMA, yakni Glomus sp., Gigaspora sp., dan Acaulospora sp. Glomus ditemukan di sebagian besar lokasi penelitian. Jumlah spora terbanyak ditemukan dari rizosfir akar Pennisetum purpureum Schumach yang berjumlah 82 spora/50 g tanah dengan 2 jenis FMA yakni Gigaspora dan Glomus yang diperoleh dari lokasi lahan pasca tambang Nibung. Persentase kolonisasi terbesar yaitu 52% ditemukan pada akar Cyperus polystachyus Rottb dari lahan pasca tambang timah Kayu Ara.Kata Kunci : Fungi mikoriza arbuskula, lahan pasca tambang timah, reklamasi, remediasi
TELAAH PRODUKSI BIODIESEL DARI BIOMASSA MIKROALGA Arif D Santos
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 17 No. 2 (2016)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.615 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v17i2.95

Abstract

Pusat Teknologi Lingkungan-BPPT telah melakukan ujicoba budidaya mikroalga dalam fotobioreaktor untuk mengetahui produktivitas sel, efisiensinya terhadap penyerapan gas rumah kaca hingga potensinya sebagai bahan baku biofuel. Pada penelitian ini telah dihitung kesetimbangan energi dari keseluruhan proses budidaya alga untuk kemudian hasilnya dibandingkan dengan nilai kapabiltas penyerapan gas karbon dari proses tersebut. Nilai kesetimbangan energi dihitung dengan menggunakan metode perhitungan Life Cycle Assessment (LCA), sedangkan nilai kapabilitas penyerapan karbon diukur langsung dari ujicoba reaktor. Nilai kapabilitas penyerapan karbon kemudian dibandingkan dengan nilai pengantian biaya dari emisi karbon yang diacu oleh beberapa negara yang telah menerapkan satuan biaya penggantian penyerapan emisi karbon. Hasil perhitungan menyatakan bahwa Penelusuran variable dengan menggunakan aplikasi LCA dapat memberi gambaran dengan rinci tentang inventarisasi input, output  pada proses produksi. Energi terbesar yang digunakan pada proses produksi terjadi pada tahap budidaya yakni pada kegiatan pemanenan sebesar 55,6 MJ dan proses pemecahan dinding sel sebesar 35 MJ. Nilai hasil perhitungan NER pada produksi biodiesel mikroalga adalah 0,62±0,78. Total biaya dan total pendapatan dari proses produksi biodiesel dari mikroalga sebesar Rp. 62.980,- dan Rp. 42.900,-.Kata kunci : alga fotobioreaktor, kesetimbangan energi, NER (net energy ratio), Life Cycle Assessment (LCA), emisi karbon
UJI LINGKUNGAN ANGIN DISEKITAR MODEL GEDUNG DI TEROWONGAN ANGIN fariduzzaman fariduzzaman
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 17 No. 2 (2016)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1009.623 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v17i2.105

Abstract

Gangguan angin sekitar gedung adalah kasus lingkungan yang penting karena bisa menimbulkan beberapa masalah, antara lain: penurunan tingkat kenyamanan dan produksi polusi udara. Hal ini juga bisa memacu kerusakan pada beberapa bagian struktur sekitarnya. Gangguan ini sudah tentu harus di antisipasi sejak awal konstruksi, yakni selama proses perancangan. Metoda yang paling praktis untuk mencari solusi masalah angin ini adalah dengan simulasi atau pengujian model di terowongan angin. Makalah akan menguraikan beberapa pengalaman penulis dalam simulasi lingkungan angin sekitar bangunan.
PENGARUH KOMPOSISI PUPUK KANDANG DAN KOMPOS TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KANGKUNG (Ipomea reptans) AKUAPONIK Sayekti Rahmi
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 17 No. 2 (2016)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.834 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v17i2.111

Abstract

Peningkatan jumlah penduduk mengakibatkan peningkatan kebutuhan pangan. Keterbatasan lahan pertanian menjadi kendala dalam produksi bahan pangan. Pertanian vertikultur merupakan salah satu solusi peningkatan produksi pertanian. Akuaponik adalah konsep pengembangan bio-integrated farming system, yaitu suatu rangkaian teknologi yang memadukan antara teknik budidaya perikanan dan teknik pertanian. Ember diisi air 60 liter dengan perlakuan pupuk 0 g/1000 l, pupuk kandang 250 g/ 1000 l, pupuk kandang 500 g/ 1000 l, pupuk kompos  250 g/ 1000 l, dan pupuk kompos 500 g/ 1000 l. Aplikasi pupuk organik dalam bentuk pupuk kandang dan kompos mampu meningkatkan pertumbuhan, hasil, dan kualitas dari kangkung akuaponik dibandingkan dengan tanpa aplikasi pupuk organik. Pupuk kandang dengan takaran 500 g/1000 l memberikan hasil dan kualitas kangkung akuaponik yang terbaik.

Page 77 of 122 | Total Record : 1211


Filter by Year

2000 2022


Filter By Issues
All Issue Vol. 23 No. 2 (2022) Vol. 23 No. 1 (2022) Vol. 22 No. 2 (2021) Vol. 22 No. 1 (2021) Vol. 21 No. 2 (2020) Vol. 21 No. 1 (2020) Vol. 20 No. 2 (2019) Vol. 20 No. 1 (2019) Vol. 19 No. 2 (2018) Vol. 19 No. 1 (2018) Vol. 18 No. 2 (2017) Vol. 18 No. 1 (2017) Vol. 17 No. 2 (2016) Vol. 17 No. 1 (2016) Vol. 16 No. 1 (2015) Vol. 15 No. 2 (2014) Vol. 15 No. 1 (2014) Vol. 14 No. 2 (2013) Vol. 14 No. 1 (2013) Vol. 13 No. 3 (2012) Vol. 13 No. 2 (2012) Vol. 13 No. 1 (2012) Vol. 12 No. 3 (2011) Vol. 12 No. 2 (2011) Vol. 12 No. 1 (2011) Vol. 11 No. 3 (2010) Vol. 11 No. 2 (2010) Vol. 11 No. 1 (2010) Vol. 10 No. 3 (2009) Vol. 10 No. 2 (2009) Vol. 10 No. 1 (2009) Vol. 9 No. 3 (2008): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 9 No. 2 (2008): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 9 No. 1 (2008): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 8 No. 3 (2007): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 8 No. 2 (2007): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 8 No. 1 (2007): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 7 No. 3 (2006): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 7 No. 2 (2006): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 7 No. 1 (2006): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 6 No. 3 (2005): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 6 No. 2 (2005): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 6 No. 1 (2005): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 5 No. 3 (2004): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 5 No. 2 (2004): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 5 No. 1 (2004): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 4 No. 3 (2003): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 4 No. 2 (2003): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 4 No. 1 (2003): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 3 No. 3 (2002): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 3 No. 2 (2002): JURNAL TEKNIK LINGKUNGAN Vol. 3 No. 1 (2002): JURNAL TEKNIK LINGKUNGAN Vol. 2 No. 3 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 2 No. 2 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 2 No. 1 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 1 No. 3 (2000): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 1 No. 2 (2000): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol. 1 No. 1 (2000): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN More Issue