JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Jurnal Teknologi Lingkungan (JTL) is a journal aims to be a peer-reviewed platform and an authoritative source of information. JTL is published twice annually and provide scientific publication for researchers, engineers, practitioners, academicians, and observers in the field related to science and environmental technology. We publish original research papers, review articles and case studies focused on Environmental Sciences, Environmental Technology as well as other related topics to Environment including sanitation, environmental biology, waste water treatment, solid waste treatment, environmental design and management, environmental impact assessment, environmental pollution control and environmental conservation.
Articles
1,211 Documents
EVALUASI DAN PERENCANAAN AWAL UNTUK MENINGKATKAN EFEKTIFITAS IPAL SISTEM ANAEROBIK PKS PT. DELI MUDA PERKASA
Petrus Nugro Rahardjo
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 18 No. 1 (2017)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (454.174 KB)
|
DOI: 10.29122/jtl.v18i1.129
Pabrik Kelapa Sawit PT. Deli Muda Perkasa (DMP) di Kabupaten Batanghari beroperasi sejak tahun 2007 dengan kapasitas 60 ton TBS per jam. Namun hingga tahun 2015 masih mempunyaibanyak masalah lingkungan, karena hasil pengolahan IPALnya masih belum memenuhi baku mutu lingkungan. Kegiatan ini bertujuan untuk mengevaluasi keefektifan IPAL anaerobic PT. DMP,mengindentifikasi permasalahannya, dan memberi rekomendasi beberapa alternatif dalam perencanaan untuk meningkatkan efektifitas IPAL tersebut. Metodologi yang digunakan yaitudiawali dengan survei lapangan, wawancara dengan penanggung jawab IPAL, pengambilan sampel air limbah, analisa laboratorium dan analisis proses pengolahan sistem anaerobik IPAL.Kesimpulan yang diperoleh yaitu efektifitas proses pengolahan anaerobik masih rendah, terutama untuk pengurangan parameter minyak/grease dan Nitrogen Total. Sedangkan untuk parameterBOD dan COD hasilnya sudah sangat bagus. Untuk mengoptimalkan efektifitas unit-unit pemroses anaerobik dapat ditempuh beberapa alternatif, misalnya pengurasan seluruh unit-unit kolam pemroses, perubahan sistem inlet dan outlet, pemasangan flowmeter, remining semua kolam pemroses dan rekonstruksi total IPAL. Selain itu juga harus dilakukan perawatan secara kontinu, yaitu dengan pengerukan lumpur-lumpur endapan secara periodik. Dengan demikian dibutuhkan penanganan lumpur endapan secara khusus dan baik untuk menjamin tidak adanya pencemaran lingkungan sekitarnya.Kata kunci: efektifitas, pengolahan anaerobik, penanganan lumpur
PROSPEK INDUSTRI PENGOLAHAN LIMBAH SABUT KELAPA
Subiyanto Subiyanto
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 1 No. 1 (2000): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (463.905 KB)
|
DOI: 10.29122/jtl.v1i1.157
This article discusses the prospect of coco fibre industry in Indonesia as an effort of increasing added value of coconut product. Supported by the abundance and less utilization of raw materials (coco fibre) throughout the country and increasing price and demand for coco fibre products, domestically as well as internationally, Indonesia has a potential chance for promoting coco fibre based industries. The simple industry that produces coir fibre and coir dust is recommended to be built by using selected technology. Various characteristics of supporting technologies and the financial feasibility of coco fibre based industry have been the concluding remark of the discussion in this article. The industry that use the MTM1 and Bandung type machines in its process is found financially feasible.
PENGOLAHAN GAS LIMBAH PROYEK GAS NATUNA
Sumartono Sumartono
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 1 No. 1 (2000): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (306.294 KB)
|
DOI: 10.29122/jtl.v1i1.158
Proyek Gas Natuna yang akan mengembangkan cadangan gas sebesar 46 TCF dapat menghasilkan 2400 MSCFD hidrokarbon selama lebih dari 30 tahun. Dengan potensi tersebut akan mampu memasok kebutuhan gas dalam jumlah besar dan jangka panjang serta menghasilkan nilai ekonomi yang besar. Namun Proyek Gas Natuna juga menghadapi tantangan harus dapat mengolah gas limbah yang terdiri atas 71 % CO2 dan 0,6 % H2S. Untuk memisahkan CO2 diterapkan teknologi Cryogenic, sedangkan untuk memisahkan H2S diterapkan teknologi Flexsorb SE. Teknologi Cryogenic mampu menurunkan kandungan CO2 dari 71 % menjadi 18 %, sedangkan teknologi Flexsorb SE mampu menurunkan kandungan H2S dari 930 ppmv menjadi 20 ppmv. Pembuangan dan penyimpanan CO2 dan H2S secara permanen dilakukan dengan menginjeksikannya kedalam aquifer melalui anjungan injeksi. Kombinasi teknologi Cryogenic dan Flexsorb SE mampu menghasilkan gas Natuna yang memenuhi persyaratan lingkungan dan kompetitif.
PENGELOLAAN AIR LIMBAH YANG BERWAWASAN LINGKUNGAN SUATU STRATEGI DAN LANGKAH PENANGANANNYA
Budi Supriyatno
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 1 No. 1 (2000): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (241.058 KB)
|
DOI: 10.29122/jtl.v1i1.159
Masalah utama yang dihadapi permukiman adalah pencemaran lingkungan oleh air limbah. Masalah tersebut dikarenakan tingkat pelayanan air limbah yang sangat rendah. Air limbah rumah tangga merupakan sumber utama pencemar lingkungan. Sedangkan pencemaran limbah industri diperkirakan memberi kontribusi rata-rata 25-50%. Sampai saat sekarang tingkat pelayanan air limbah tidak sebanding dengan pertumbuhan penduduk, sehingga masih banyak air limbah yang dibuang ke sungai atau badan air dengan proses yang kurang sempurna. Suatu strategi dan langkah dalam pengelolaan air limbah yang efektif dan efisiensi.
PEMANFAATAN KOTORAN TERNAK SEBAGAI SUMBER ENERGI ALTERNATIF DAN PENINGKATAN SANITASI LINGKUNGAN
Daru Mulyono
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 1 No. 1 (2000): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (230.934 KB)
|
DOI: 10.29122/jtl.v1i1.160
The effort to discover alternative source of energy in the world is still continued because the dependency from the fossil fuel should be aleviated. Since the energy crisis in 1973, the problem of energy become world hudge intention. In every energy crisis, the price of oil increase sharply and cause lack of stock. Therefore, several countries are trying to diversificate their source of energy. One of the alternative energy is biogas. The biogas can be produced from livestock waste. Through the fermentation processing of livestock waste, it can be produced biogas and the other side product and effect from this processing are: organic fertilizer, animals feeding, and prevent pollution. With the several benefits can be taken from the fermentation of livestock waste, the usage of livestock waste become biogas is necessary to be disseminated in Indonesia, where most of people are living in rural area and depending their livelihood on agriculture.
TEKNOLOGI HUJAN BUATAN DALAM SISTEM PENGELOLAAN WADUK IR. JUANDA, DAS CITARUM. JAWA BARAT
Sri Lestari
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 1 No. 1 (2000): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (217.537 KB)
|
DOI: 10.29122/jtl.v1i1.161
Dengan adanya kemajuan bidang industri dan bertambahnya jumlah penduduk mengakibatkan semakin meningkatnya jumlah kebutuhan akan air, sehingga menjadikan air sebagai sumberdaya yang perlu dikelola dengan sistem pengelolaan yang tepat. Sepanjang sungai Citarum bagian hulu dan tengah dibangun 3 buah waduk yaitu Saguling, Cirata dan Ir.Juanda. Dalam hal pengelolaan air waduk Ir.Juanda yang terletak di daerah Jatiluhur, oleh pemerintah diserahkan kepada Perum Otorita Jatiluhur (POJ), terhitung mulai tanggal 23 Mei 1970. Dalam pengelolaan air waduk, sampai dengan tahun 1999, pihak POJ sudah 8 kali mengadakan kerjasama dengan UPT Hujan Buatan, BPPT untuk mengadakan kegiatan hujan buatan dengan tujuan menambah volume air waduk. Berdasarkan evaluasi yang dilakukan oleh POJ, dari kedelapan kali kegiatan hujan buatan, rata-rata telah dapat meningkatkan kemampuan fisik sebesar 80,1% dari target rencana operasional waduk.
VALUASI KOMODITAS LINGKUNGAN BERDASARKAN CONTINGENT VALUATION METHOD
Hidir Tresnadi
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 1 No. 1 (2000): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (381.627 KB)
|
DOI: 10.29122/jtl.v1i1.162
Valuasi lingkungan merupakan bagian dari ekonomi lingkungan, yang bertujuan untuk melakukan valuasi terhadap sumberdaya alam dan lingkungan. Valuasi ini bertujuan untuk memberikan penilaian moneter terhadap sumberdaya lingkungan. Terdapat beberapa metode Valuasi komoditas lingkungan, misalnya Travel cost method, preference method, contingent valuation method, dll. Namun yang memiliki penerapan lebih luas adalah contingent valuation method. Metode valuasi lingkungan ini merupakan metode penelitian terhadap komoditas lingkungan yang akan memberikan masukan-masukan kepada pembuat kebijakan dalam mengelola lingkungan berdasarkan partisipasi masyarakat, berupa pajak yang mereka bayar, karena eksternalitas negatip yang mereka lakukan. Walaupun demikian ternyata metode ini dapat menimbulkan berbagai bias, dalam penelitiannya. Bias ini dapat timbul dari desain kuesioner, elisitasi yang dilakukan, proses penyampaian kuesioner, agregasi respon kuesioner, dan sebagainya. Artikel ini merupakan pengantar yang menjelaskan dasar-dasar dan berbagai kesalahan yang dapat timbul dalam metode valuasi lingkungan ini. Hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi bias yang timbul dalam penelitian ini adalah dengan melakukan eksperimental desain terhadap sampel populasi yang akan diambil responnya.
KARAKTERISTIK DUKUNGAN INDUSTRI TERHADAP UPAYA IMPLEMENTASI PRODUKSI BERSIH (STUDI KASUS : PERUSAHAAN BUMN PULP DAN KERTAS)
Sawarni Hasibuan
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 1 No. 1 (2000): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (295.911 KB)
|
DOI: 10.29122/jtl.v1i1.163
Solusi pengolahan akhir pipa (end-of-pipe) disadari belum mampu memberikan jawaban yang memuaskan terhadap penanganan masalah pencemaran lingkungan. Saat ini sejumlah besar perusahaan di dunia sedang mengupayakan keuntungan melalui suatu pendekatan pencegahan lingkungan yang dikenal sebagai eko-efisiensi dan produksi bersih. Walaupun penerapan Produksi Bersih dapat dilakukan melalui cara-cara yang amat sederhana, namun pada kondisi tertentu kadang-kadang memerlukan perubahan yang radikal dan perlu keterlibatan manajemen perusahaan yang proaktif. Penelitian ini mencoba mengidentifikasi karakteristik dukungan organisasi terhadap upaya penerapan Produksi Bersih perusahaan pada kasus Perusahaan BUMN Pulp dan Kertas. Hallain yang coba diungkap adalah prasyarat keberhasilan implementasi Produksi Bersih berdasarkan persepsi anggota organisasi. Hasil analisis menunjukkan Tingkat Penerimaan Konsep Produksi Bersih secara positif dipengaruhi oleh pemahaman manfaat ekonomi, kebijakan strategis, dan gaya kepemimpinan; sedang mekanisma evaluasi dan sistem insentif perusahaan masih menjadi faktor penghambat dalam penerimaan konsep Produksi Bersih saat ini. Secara umum, kalangan anggota perusahaan menempatkan faktor dukungan finansial sebagai faktor paling esensial bagi keberhasilan implementasi Produksi Bersih. Namun kenyataan dari analisis regresi menunjukkan bahwa sistem insentif perusahaan justru menjadi faktor penghambat penerimaan konsep Produksi Bersih. Faktor lain yang juga dianggap esensial berturut-turut adalah keterlibatan pekerja, komitmenmanajemen, kemampuan karyawan, dan kebijakan strategis. Walaupun kebijakan strategis perusahaan telah mengakomodasikan kepentingan lingkungan, namun hal ini tidak didukung hingga pada tahap pelaksanaan. Hasil analisis memperlihatkan kebijakan strategis perusahaan masih menjadi faktor penghambat dalam pelaksanaan Produksi Bersih. Fenomena lain yang menarik adalah ternyata saat ini belum terbentuk budaya produksi bersih pada tatanan perusahaan, tim pengelola lingkungan yang profesional juga belum memberikan peran yang signifikan bagi penerimaan dan penerapan Produksi Bersih di perusahaan.
ASPEK PENCEMARAN LINGKUNGAN DARI PABRIK PENCAIRAN BATUBARA
Yusnitati Yusnitati
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 1 No. 1 (2000): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (339.731 KB)
|
DOI: 10.29122/jtl.v1i1.164
Studi kelayakan pembangunan pabrik pencairan batubara muda di Indonesia (1999-2001) merupakan jawaban terhadap pencarian kelangkaan energi untuk menghasilkan bahan bakar minyak sintetis. Pabrik tersebut yang rencananya akan dibangun di lokasi tambang batubara muda Banko, Tanjung Enim (Sumatera Selatan), akan memproduksi 130.000-140.000 bbl/d minyak batubara dari 30.000 t/d batubara (berat kering).Teknologi BCL Process yang didisain untuk mengkonversikan jenisbatubara muda menjadi produk cair, menjadi teknologi alternatif dalam hal ini karena merupakan teknologi batubara bersih. Hal ini dicirikan dengan efisiensi thermal yang tinggi (mencapai 98%), lebih sedikit batubara yang dikonsumsi dan pengendalian yang ketat terhadap limbah dari proses. Dengan mengacu pada hasil-hasil yang diperoleh dari pengoperasian pilot plant 50 t/d di Australia, kajian awal aplikasi teknologi tersebut untuk batubara muda Banko menunjukkan tingkat pencemaran yang masih berada di bawah ambang batas.Dari hasil studi kelayakan tersebut nantinya diharapkan akan diperolehgambaran secara detail tentang aspek pencemaran dari pabrik batubara cair di Indonesia. Pada akhirnya akan dapat dijadikan bahan masukan yang sangat berguna dalam menyusun berbagai kebijakan di bidang pencemaran lingkungan dalam kaitannya dengan proses konversi energi maupun upgrading batubara.
MINIMALISASI LAHAN KRITIS MELALUI PENGELOLAAN SUMBERDAYA LAHAN DAN KONSERVASI TANAH DAN AIR SECARA TERPADU
Sutopo Purwo Nugroho
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 1 No. 1 (2000): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (284.363 KB)
|
DOI: 10.29122/jtl.v1i1.165
Akibat adanya pemanfaatan sumberdaya alam yang melebihi daya dukung lingkungan dan tidak dibarengi dengan usaha konservasi tanah dan air, ternyata telah menimbulkan munculnya ketidakseimbangan lingkungan yaitu terus bertambahnya luas lahan kritis. Peningkatan luas lahan kritis ini juga semakin dipercepat dengan meningkatnya tekanan penduduk terhadap lahan, khususnya di Pulau Jawa. Akibatnya pemanfaatan lahan dieksploitasi secara terus menerus sehingga menyebabkan produktivitas lahan menjadi berkurang dan lahan miskinhara. Hal ini akan berakibat pada menurunnya produksi pertanian, semakinbesarnya erosi, sedimentasi, banjir, kekeringan, pendangkalan sungai,berkurangnya umur waduk dan masalah-masalah lingkungan lainnya. Luas lahan kritis pada awal tahun 1974, jumlah lahan kritis secara nasional mencapai 10.751.000 ha, kemudian pada tahun 1998 dengan kriteria penetapan lahan kritis yang lebih objektif, lahan kritis di Indonesia mencapai 23.725.552 ha. Sedangkan luas lahan agak kritis sebesar 3.311.152 ha dan lahan potensial kritis seluas 8.806.758 ha, sehingga luas keseluruhan sebesar 35.852.462 ha atau 18,6% dari luas lahan di Indonesia. Meskipun usaha rehabilitasi lahan dan konservasi tanah dan air sudahdilakukan melalui program penghijauan dan reboisasi serta usaha lainnya, namun usaha-usaha tersebut masih belum mampu mengatasi terjadinya peningkatan luas lahan kritis. Hal ini lebih disebabkan pendekatan yang dilakukan lebih berorientasi pada penanganan fisik dan kurang memperhatikan masalah sosial ekonomi dan budaya masyarakat. Untuk itulah maka untuk mencegah peningkatan laju lahan kritis tersebut perlu dilakukan secara komprehensif, terpadu dan multisektoral. dengan melibatkan peran serta masyarakat secara menyeluruh.