cover
Contact Name
Ghefra Rizkan Gaffara
Contact Email
ghefra@esaunggul.ac.id
Phone
+6282112846970
Journal Mail Official
planesa@esaunggul.ac.id
Editorial Address
https://ejurnal.esaunggul.ac.id/index.php/planesa/about/contact
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Planesa
Published by Universitas Esa Unggul
ISSN : 02169673     EISSN : 02169673     DOI : 10.47007
Jurnal Planesa adalah jurnal ilmiah yang menerbitkan tulisan dalam bidang ilmu planologi, yang mencakup penelitian dan non-penelitian. Jurnal ini dipublikasikan oleh Pusat Pengelola Universitas Esa Unggul dan berisi artikel-artikel hasil penelitian civitas akademika di bidang perencanaan. Jurnal Planesa adalah jurnal ilmiah yang menerbitkan tulisan dalam bidang ilmu planologi, yang mencakup penelitian dan non-penelitian. Jurnal ini dipublikasikan oleh Pusat Pengelola Universitas Esa Unggul dan berisi artikel-artikel hasil penelitian civitas akademika di bidang perencanaan. Scope dari Jurnal Planesa adalah: - Transportasi - Kebencanaan (Pedesaan, Kota dan Wilayah) - Tata Ruang - Lingkungan - Arsitektur dan Bangunan - Pariwisata
Articles 134 Documents
Strategi Pengembangan Jalan HOS Cokroaminoto Tangerang Sebagai Kawasan Perdagangan dan Jasa Dengan Pendekatan Pemasaran Kota
Jurnal Planesa (Planologi) Vol 1, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konsep Pemasaran Kota merupakan suatu konsep yang sangat baik dalam pengembangan kota/kawasan yang sedang mengalami penurunan fungsi kualitas pelayanan. Hal inilah yang sedang terjadi pada koridor jalan HOS Cokroaminoto Tangerang yang sedang mengalami penurunan kualitas fungsi pelayanan. Untuk itu perlu suatu alat ukur yang tepat untuk memecakan masalah tersebut yaitu dengan pendekatan pemasaran kota. Analisis yang di pakai adalah analisis Kepuasan Pelanggan yang dinilai dari harapan dan kenyataan yang mereka rasakan sehari-hari dan nantinya akan di bandingkan dengan program kerja pemerintah daerah yang telah di lakukan selama ini. Hasil penelitian ini berupa upaya strategi pengembangan kawasan perdagangan dan jasaKata Kunci: Pemasaran Kota, Kepuasan Target Pasar, Strategi Pengembangan
Studi Identifikasi Kebutuhan Ruang Terbuka Hijau Menggunakan Teknik Interpretasi Citra Ikonos (Studi Kasus Kecamatan Lubuk Baja di Kota Batam)
Jurnal Planesa (Planologi) Vol 1, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Faktor penting dalam permasalahan lingkungan adalah besarnya populasi manusia. Pertambahan jumlah penduduk merupakan faktor utama yang mempengaruhi perkembangan pemukiman dan kebutuhan prasarana dan sarana. Ruang terbuka hijau semakin terdesak keberadaannya dan berubah menjadi bangunan untuk mencukupi kebutuhan fasilitas penduduk kota. Penyebaran jumlah penduduk yang tidak merata dalam suatu wilayah, akan memberikan pengaruh negatif terhadap daya dukung lingkungan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kebutuhan ruang terbuka hijau berdasarkan luas wilayah dan jumlah penduduk. Standar kebutuhan ruang terbuka hijau diperoleh dari studi literatur. Perkiraan jumlah ruang terbuka hijau diperoleh dengan analisis tutupan lahan. Hasil yang diperoleh bahwa kebutuhan ruang terbuka hijau untuk Kecamatan Lubuk Baja di Kota Batam berdasarkan luas wilayah terdapat kekurangan ruang terbuka hijau sebesar 154,43 hektar, sedangkan berdasarkan jumlah penduduk masih kekurangan ruang terbuka hijau sebesar 116,21 hektar. Untuk tingkat kelurahan berdasarkan jumlah penduduk hanya Kelurahan Baloi Indah dan Tanjung Uma yang masih memenuhi syarat. Luas pengembangan ruang terbuka hijau yang diperlukan pada masing-masing kelurahan adalah, Kelurahan Batu Selicin 62,67 hektar, Lubuk Baja Kota 48,68 hektar dan Kampung Pelita 22,35 hektar. Berdasarkan hal tersebut, perlu dilakukan pengembangan kawasan hijau buatan baru seperti jalur hijau/path, taman kota dan lingkungan serta pengembalian fungsi hijau alami yang berbentuk batas/belt buffer pantai, sungai dan kawasan lindung.Kata Kunci: Ruang Terbuka Hijau, Citra Ikonos, Kebutuhan Ruang
Strategi Pengembangan Wisata Kota Tua Sebagai Salah Satu Upaya Pelestarian Urban Heritage (Studi Kasus : Koridor Kali Besar, Jakarta Barat)
Jurnal Planesa (Planologi) Vol 1, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Koridor Kali Besar merupakan salah satu urban heritage district atau kawasan kota tua di Jakarta. Urban Heritage hadir sebagai kesatuan dari aspek fisik suatu bangunan, ruang publik dan morfologi kota yang diwariskan untuk generasi saat ini dan yang akan datang. Keberadan urban heritage sebagai warisan sejarah dan kebudayaan dapat menunjukkan identitas asli sebuah kota. Namun seiring dengan berjalannya waktu, Jakarta berkembang mengikuti pola keinginan masyarakat tanpa memperhatikan eksistensi akar sejarah dan kebudayaan yang ada. Keberadaan urban heritage semakin tersingkir dan terlupakan akibat modernisasi yang terjadi. Padahal apabila dikelola dan dimanfaatkan secara tepat, tidak menutup kemungkinan urban heritage tourism dapat menjadi sumber pendapatan daerah yang dapat mendorong pertumbuhan perekonomian kota. Pemerintah DKI Jakarta termasuk lambat dalam usaha pengembangan Kawasan Kota Tua Jakarta, termasuk Kawasan Kali Besar. Selama lebih dari 30 tahun, rencana revitalisasi kota tua hanya menjadi sekedar wacana, tanpa ada realisasi yang berarti. Kendala-kendala yang dihadapi dalam usaha pengembangan kawasan kota tua yang telah dilakukan oleh pemerintah DKI Jakarta antara lain produk unggulan yang kurang berkembang, penurunan kualitas dan kuantitas bangunan di kawasan kota tua, kurangnya SDM yang berkualitas, kurangnya sarana-prasarana, kurangnya promosi dan kurangnya peran serta masyarakat. Agar usaha pengembangan dapat berhasil, diperlukan strategi pengembangan yang tepat. Studi ini bertujuan untuk menentukan strategi pengembangan urban heritage tourism yang paling tepat, yang dapat diterapkan di Koridor Kali Besar. Variabel penelitian yang digunakan mencakup beberapa aspek, yaitu kondisi fisik bangunan, sarana dan prasarana penunjang kegiatan, lalu lintas serta aksesibilitas, dan kondisi lingkungan, baik alamiah maupun buatan, termasuk di dalamnya kondisi kebersihan, keamanan dan kenyamanan lingkungan. Penilaian dilakukan melalui pengamatan langsung, penyebaran kuesioner dan wawancara. Didukung dengan data-data sekunder yang diperoleh. Data-data variabel penelitian yang telah dikumpulkan kemudian diolah dengan menggunakan analisis SWOT. Analisis SWOT merupakan teknik analisis yang digunakan untuk menyusun suatu strategi. Strategi diperoleh dengan cara melakukan analisis internal dan eksternal untuk mengetahui faktor-faktor strength, weakness, opportunity serta threat yang dimiliki oleh obyek studi. Kemudian tiap faktor dimasukkan kedalam mariks SWOT sehingga keluarlah strategi pengembangan SO, ST, WO dan WT yang diharapkan.Kata Kunci: Pariwisata, Urban Heritage, Analisis SWOT
Studi Penentuan Lokasi Potensial Pengembangan Pusat Perbelanjaan di Kota Tangerang
Jurnal Planesa (Planologi) Vol 1, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sejak berdiri pada tanggal 27 Februari 1993 berdasarkan Undang-undang Nomor 02 Tahun 1993 Kota Tangerang kini telah tumbuh dan berkembang karena wilayahnya sebagai wilayah penunjang dan daerah limpahan berbagai kegiatan perkotaan dari Ibu Kota Negara DKI Jakarta, yang tandai pula oleh pertumbuhan penduduk rata-rata per tahun di atas 2% serta perkembangaan di sektor-sektor lainnya seperti industri, perumahan dan perdagangan, dengan kondisi tersebut Pemerintah Kota Tangerang memprioritaskan tiga pengembangan sektor kegiatan salah satunya pengembangan sektor perdagangan berupa konsep pengembangan shopping center (pusat perbelanjaan), melihat kondisi tersebut penulis mengkaji tentang "Studi Penentuan Lokasi Potensial Pengembangan Pusat Perbelanjaan Sebagai Penyediaan Fasilitas Sektor Perdagangan Di Kota Tangerang", dengan merumuskan kajian "Bagaimana potensi pengembangan pusat perbelanjaan di Kota Tangerang, dan dimana lokasi potensialnya yang tepat untuk pengembangannya". Penyusunan Tugas Akhir Studi Penentuan Lokasi Potensial Pengembangan Pusat Perbelanjaan Di Kota Tangerang dimaksudkan untuk penyediaan fasilitas perdagangan dan mengantisipasi kebutuhan penduduk Kota Tangerang, dengan sasaran studi adalah mengidentifikasi potensi pengembangan pusat perbelanjaan di Kota Tangerang, mengidentifikasi arahan kebijakan pengembangan kesatuan fungsional wilayah kecamatan di Kota Tangerang, menyeleksi kecamatan yang berpotensi untuk pengembangan pusat perbelanjaan di Kota Tangerang, dan setelah diketemukan kecamatan yang berpotensi, penulis mengidentifikasi lokasi potensial untuk pengembangannya. Empat analisis yang di lakukan dalam penyusunan Studi Penentuan Lokasi Potensial Pengembangan di Kota Tangerang, yaitu pertama Analisis Potensi Pengembangan Pusat Perbelanjaan, kedua arahan Analisis Arah Kebijakan Pengembangan Kesatuan Fungsional Wilayah Kecamatan di Kota Tangerang Analisis Penyeleksian Kecamatan Potensial, dan yang terakhir adalah Analisis Lokasi Potensial Di Kecamatan Terpilih. Hasil dari ke empat analisis tersebut, bahwa di peroleh potensi dalam pengembangan pusat perbelanjaan di Kota Tangerang, dan Kecamatan Larangan yang merupakan kecamatan potensial di antara tiga kecamatan terpilih sebagai pengembangan pusat perbelanjaan dalam penyediaan fasilitas sektor perdagangan di Kota Tangerang dengan Sub BWK Tengah yang merupakan bagian dari Kecamatan Larangan sebagai lokasi potensial untuk pengembangan pusat perbelanjaan tersebut.Kata kunci : Lokasi Potensial, Pusat Perbelanjaan, Perdagangan
Identifikasi Dinamika Harga Lahan di Kawasan Cipadu Kota Tangerang
Jurnal Planesa (Planologi) Vol 1, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kawasan Cipadu terletak di Kecamatan Larangan Kota Tangerang, merupakan kawasan yang terkenal dengan kawasan perdagangan/ jasa, khususnya perdagangan tekstil. Kawasan ini mempunyai tingkat pertumbuhan penduduk 4,82% dan perkembangan fisik yang sangat pesat. Kondisi tersebut berdampak pada perubahan fungsi lahan di wilayah studi dan sekitarnya. Penggunaan lahan yang pada awalnya didominasi oleh perumahan mulai beralih fungsi menjadi pertokoan dan kios-kios pedagang tekstil (mixed use) sebagai imbas dari keberadaan pasar tekstil di kawasan tersebut. Peralihan fungsi lahan ini disertai pula dengan kenaikan harga lahan, khususnya pada bagian kawasan yang telah beralih fungsi menjadi kegiatan perdagangan. Kenyataan ini membuktikan bahwa tingginya kenaikan harga lahan sangat dipengaruhi oleh fungsi lahan atau jenis penggunaan lahan bersangkutan. Kegiatan perdagangan/ jasa sebagai kegiatan yang memiliki nilai ekonomi tinggi cenderung memacu kenaikan harga lahan yang tinggi pula. Studi ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai dinamika harga lahan di wilayah studi dan aspek-aspek mempengaruhinya serta proyeksi harga lahan di wilayah studi pada masa mendatang. Untuk mencapai tujuan tersebut studi ini mengkaji berbagai aspek-aspek yang terkait diantaranya penggunaan lahan, kependudukan dan transportasi. Dari hasil analisis diketahui bahwa faktor-faktor yang sangat mempengaruhi dinamika harga lahan di Kawasan Cipadu adalah aksesibilitas, penggunaan lahan dan kependudukan. Di samping itu, harga lahan di Kawasan Cipadu berdasarkan hasil proyeksi kenaikan harga lahan sampai dengan tahun 2014 akan mencapai rata-rata Rp 373.420/m². Hasil studi ini diharapkan dapat menjadi masukan terutama bagi Pemerintah Kota Tangerang didalam merumuskan kebijakan penataan ruang dan peruntukkan lahan di Kawasan Cipadu.Kata Kunci : Harga Lahan, Perubahan Fungsi Lahan, Dinamika Harga Lahan
Studi Proses Bermukim Komunitas Kolong Tol Kasus : Kolong Tol Harbour Road Rawa Bebek Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan – Jakarta Utara
Jurnal Planesa (Planologi) Vol 1, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

‘Permukiman liar’ sebenarnya tidak mengandung suatu kecenderungan kriminal. Pemukiman liar hanya menunjukkan hubungan antara kelompok orang dan perumahan di atas tanah tertentu. Seorang pemukim liar adalah seorang yang menempati sebidang tanah, sebuah rumah, atau sebuah bangunan tanpa kekuatan hukum. Masalah permukiman liar di kota besar seperti Jakarta belum bisa diatasi dengan baik, salah satunya adalah masalah permukiman liar di kolong jalan tol. Gambaran penelitian mengenai pemukiman liar di kolong Tol Harbour Road Rawa Bebek, Penjaringan - Jakarta Utara dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif melalui pengamatan dan wawancara kepada seluruh stakeholders untuk memperoleh gambaran bagaimana proses bermukim komunitas kolong tol, bagaimana tahapan dalam proses bermukim, dan siapa yang mendapat benefit dengan keberadaan permukiman liar tersebut. Studi Penelitian ini dilakukan untuk melengkapi literatur-literatur sebelumnya, karena masalah permukiman liar selalu dilihat sebagai masalah sosial-politik saja sehingga pengetahuan mengenai masalah permukiman liar menjadi dangkal dan tidak mendalam. Padahal masalah permukiman liar merupakan masalah  yang sangat kompleks yang menyangkut masalah fisik tata ruang, aspek legal, sosial-ekonomi, dan aspek teknis seperti bagaimana proses terjadinya permukiman liar serta mengapa permukiman liat tersebut dapat terjadi.     Kata Kunci: Permukiman Liar, Kolong Tol Harbour Road Rawa Bebek,  Proses Bermukim
Studi Penyusunan Kriteria Perencanaan Pelestarian Kawasan Bersejarah Sunda Kelapa Menggunakan Metode Analytical Hierarchy Process (AHP)
Jurnal Planesa (Planologi) Vol 1, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Semenjak awal tahun 1990, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebenarnya sudah membuat studi, kajian dan kegiatan revitalisasi bagi kawasan kota tua. Namun usaha tersebut terkesan seperti jalan di tempat. Hal ini dikarenakan banyak hal, salah satunya adalah tidak adanya kriteria bagi perencanaan pelestarian kawasan bersejarah yang bisa dijadikan acuan bagi penyusunan rencana pelestarian itu sendiri. Untuk itu perlunya disusun kriteria perencanaan pelestarian kawasan bersejarah yang diharapkan dapat dijadikan acuan arahan dalam membuat rencana pelestarian kawasan bersejarah, sehingga bias menjadi komitmen bagi setiap stakeholders, dimana penanganan kawasan dan bangunan bersejarah dapat lebih optimal. Dalam penyusunan kriteria pelestarian kawasan bersejarah dalam studi ini menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP) sebagai metode pengambilan keputusan yang komprehensif dengan metode expert choice yaitu metode yang dilakukan untuk mengolah masukan dari informan yang diperoleh dengan menggunakan indeep interview. Penelitian ini adalah bertolak dari adanya permasalahan yang timbul pada kawasan kota lama Batavia khususnya kawasan Sunda Kelapa. Sebagai kawasan potensial yang dapat dikembangkan menjadi suatu kawasan yang lebih bernilai, pada saat ini permasalahan yang timbul adalah permasalahan sirkulasi dan kondisi jalan, pembongkaran bangunan-bangunan kuno dan pertumbuhan bangunan baru secara sporadis, dan berkurangnya ruang-ruang terbuka kota baik secara jumlah maupun ukuran. Ketiga permasalahan tersebut dikhawatirkan akan merubah dan memudarkan pola kota lama yang khas. Berdasarkan hasil analisis dalam studi ini, diperoleh 13 kriteria pelestarian kawasan dan bangunan bersejarah. kriteria-kriteria tersebut diperoleh dari hasil studi literatur yang kemudian diuji cobakan kepada stakeholders dengan menggunakan metode AHP. Hasil analisis menunjukan bahwa kriteria utama yang harus diperhatikan adalah aspek peraturan dan tujuan dari kegiatan pelestarian, dengan demikian diharapkan pelestarian kawasan dan bangunan bersejarah dapat lebih terarah dan sesuai dengan harapan banyak pihak.Kata Kunci: Kawasan Bersejarah, Sunda Kelapa, Analytical Hierarchy Process
Identifikasi Potensi Kawasan Wisata Kali Pasir, Kota Tangerang
Jurnal Planesa (Planologi) Vol 1, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Tangerang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi kota wisata budaya. Di daerah Kali Pasir yang terletak di tepi sungai Cisadane terdapat fenomena kultur yang menarik, yaitu pembauran antara etnik Tionghoa dan penduduk asli Tangerang. Didaerah tersebut terdapat bangunan Klenteng “Boen Tek Bio” yang berdekatan dengan bangunan masjid yang dikenal dengan nama Masjid Kali Pasir. Tidak hanya wisata budaya saja yang terdapat didaerah ini, namun tepatnya disepanjang jalan Kisamaun atau jalan yang menuju lokasi Klenteng ataupun Masjid, khususnya pada malam hari banyak terdapat penjaja makanan yang menawarkan berbagai jenis panganan, salah satunya penjual daging ular dan biawak yang hanya dijual dilokasi ini. Kawasan ini juga berdekatan dengan sungai yang tidak hanya digunakan sebagai sumber air, tapi juga sebagai lokasi upacara keagamaan maupun olah raga. Potensi-potensi yang terdapat di Kali Pasir ini belum terlihat didukung oleh fasilitas-fasilitas agar berkembang lebih optimal menjadi sebuah kawasan wisata. Berbagai aktifitas yang telah berlangsung belum pula dikelola secara baik, Menyikapi kondisi tersebut diperlukan identifikasi kajian potensi wisata di Kawasan Kali pasir yang dapat mengoptimalkan potensi-potensi wisata tersebut Setelah melakukan pengamatan, mengidentifikasi dan menganalisis, maka kesimpulan yang di dapat adalah sebagai berikut : Berdasarkan hasil analisis mengenai kondisi eksisting, baik kondisi fisik maupun pengunjung yang datang ke kawasan Kali pasir, dapat di simpulkan bahwa kawasan Kali Pasir dapat di kembangkan untuk menjadi suatu kawasan wisata. Yang perlu ditingkatkan nantinya adalah pemeliharaan dan peningkatan infrastruktur yang sudah ada di kawasan Kali Pasir dan dari beberapa wisata yang dikembangkan di Kawasan Kali Pasir ini, wisata Budaya yang akan dijadikan wisata utama (main tourism), dan wisata yang lainnya menjadi pendukung dari wisata utama. Studi ini mencoba menemukenali potensi wisata di kawasan Kali Pasir, khususnya pariwisata budaya di kawasan pecinan kali pasir untuk dijadikan sebagai suatu kawasan wisata. Untuk mendukung rencana tersebut diperlukan juga koordinasi yang baik antar pihak-pihak yang terkait dalam pengembangan dan pemantauan kawasan wisata dan juga upaya pembuatan peraturan daerah tentang kawasan wisata serta tindak lanjut dari peraturan daerah tersebut. Kajian potensi wisata di kawasan Kali Pasir ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh semua pihak dalam melakukan perencanaan pengembangan kawasan wisata di kawasan Kali Pasir.Kata kunci : Kawasan wisata, Kali Pasir, Pecinan
Arahan Pengembangan Obyek Wisata Pantai Tanjung Pasir Kabupaten Tangerang
Jurnal Planesa (Planologi) Vol 1, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Tangerang sebagai bagian dari sistem perwilayahan Botabek (Bogor, Tangerang dan Bekasi) diberi fungsi sebagai wilayah penyangga (Buffer area) DKI Jakarta untuk kegiatan permukiman dan industri, pengembangan pertanian dan perlindungan terhadap kegiatan yang merusak lingkungan. Keberadaan wilayah penyangga ini antara lain untuk menghindari tumbuhnya Jakarta sebagai Kota yang membawa dampak berbagai inefisiensi. Oleh karena itu dengan dikembangkannya objek-objek pariwisata di Utara Kabupaten Tangerang diharapkan dapat meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Juga menjadi alternatif tujuan wisata di sekitar Jabotabek dengan tidak menghilangkan karakteristik daerah tersebut sebagai daya tarik dan identitas daerah  sehingga dapat memenuhi kebutuhan ruang rekreasi bagi masyarakatnya. Keberadaan Pantai Tanjung Pasir yang belum dikembangkan secara optimal merupakan awal terbentuknya suatu arahan pengembangan objek wisata pantai pada khususnya. Pantai ini memiliki potensi menjadi obyek wisata yang menarik karena letaknya menghadap ke Kepulauan Seribu dan berdekatan. Jaraknya hanya sekitar 60 menit dengan menggunakan perahu tradisional yang dilengkapi dengan mesin diesel sehingga antara kedua objek wisata tersebut dapat saling mendukung. Wisatawan yang berasal dari luar kota Tangerang memilih berekreasi ke Pantai Tanjung Pasir karena mereka merasa jenuh dengan kegiatan rutin yang terjadi di Metropolitan Jakarta. Mereka juga merasa bosan atau biasa dengan tempat-tempat rekreasi yang ada di kota. Sedangkan Pantai Tanjung Pasir masih terasa suasana pedesaannya dan terlihat alami. Namun dalam hal pengadaan fasilitas terkesan seadanya dan tidak teratur sehingga pantai ini harus dikembangkan menjadi objek wisata yang menarik tapi tidak menghilangkan karakteristik kawasan tersebut sebab dapat dijadikan daya tarik bagi wisatawan dan sebagai identitas kawasan. Pengoperasian obyek wisata ini nantinya dapat bekerja sama dengan masyarakat sekitar, sehingga terjadi kegiatan yang saling menguntungkan antara pihak pengelola,  masyarakat, sekaligus menjaga kebudayaan setempat.Kata Kunci: Obyek Wisata Pantai, Pantai Tanjung Pasir, Pariwisata
Aksesibilitas Ruang Terbuka Publik Bagi Kelompok Masyarakat Tertentu Studi Fasilitas Publik Bagi Kaum Difabel Di Kawasan Taman Suropati Menteng-Jakarta Pusat
Jurnal Planesa (Planologi) Vol 1, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Taman merupakan fasilitas umum yang memiliki fungsi ruang yang sangat penting dan merupakan salah satu ruang terbuka publik kota yang di mana berlaku universal bagi setiap orang dan berhak untuk menikmati dan menggunakannya. Bukan hanya milik orang yang normal saja namun juga kaum difabel terutama para tuna daksa (penyandang cacat fisik) yang memiliki hak yang sama untuk dapat hidup layak dan bermasyarakat seperti orang-orang lainnya yang normal, sangat jarang terlihat menggunakan ruang terbuka publik kota seperti di kawasan Taman Suropati Menteng yaitu melakukan berbagai macam kegiatan aktivitas seperti masyarakat lainnya. Hal tersebut diakibatkan karena tidak tersedianya fasilitas kemudahan yang membantu pergerakan mereka atau aksesibilitas. Tujuan dari studi identifikasi ini adalah merumuskan upaya untuk mengefektifkan pelaksanaan penyediaan aksesibilitas bagi kaum difabel. Sasaran yang ditetapkan untuk mencapai tujuan tersebut adalah perumusan prinsip perancangan ruang terbuka publik yang dapat juga digunakan oleh difabel terutama tuna daksa yang dilakukan dengan studi pustaka, peniliaian kelangkapan peraturan yang berlaku dengan mengacu pada hasil perumusan prinsip perancangan, penilaian pelaksanaan penyediaan aksesibilitas di ruang terbuka publik Kawasan Taman Suropati Menteng Jakarta Pusat dengan mengunankan prinsip perancangan serta peraturan yang berlaku sebagai dasar penilaian, serta identifikasi persoalan yang dihadapi dalam penyediaan aksesibilitas bagi kaum difabel terutama tuna daksa yang didapat melalui wawancara. Upaya agar penyediaan aksesibilitas bagi kaum difabel dapat dilaksanakan dengan efektif dan untuk mewujudkan kesamaan kesempatan hidup bagi kaum difabel adalah dengan menyusun dan melengkapi suatu peraturan dan standar di tingkat daerah dan usulan perancangan teknis yang dilengkapi oleh ilustrasi berupa gambar dan foto dengan jelas, membentuk badan khusus yang bertugas untuk melakukan sosialisasi perda yang proses didalamnya melibatkan secara langsung para kaum difabelnya sendiri serta koordinasi dengan dinas terkait, pemberian insentif bagi pengembang dan masyarakat serta menyediaakan dana untuk penyediaan aksesibilitas.Kata Kunci : Aksesibilitas, Ruang Terbuka, Difabel