cover
Contact Name
Ghefra Rizkan Gaffara
Contact Email
ghefra@esaunggul.ac.id
Phone
+6282112846970
Journal Mail Official
planesa@esaunggul.ac.id
Editorial Address
https://ejurnal.esaunggul.ac.id/index.php/planesa/about/contact
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Planesa
Published by Universitas Esa Unggul
ISSN : 02169673     EISSN : 02169673     DOI : 10.47007
Jurnal Planesa adalah jurnal ilmiah yang menerbitkan tulisan dalam bidang ilmu planologi, yang mencakup penelitian dan non-penelitian. Jurnal ini dipublikasikan oleh Pusat Pengelola Universitas Esa Unggul dan berisi artikel-artikel hasil penelitian civitas akademika di bidang perencanaan. Jurnal Planesa adalah jurnal ilmiah yang menerbitkan tulisan dalam bidang ilmu planologi, yang mencakup penelitian dan non-penelitian. Jurnal ini dipublikasikan oleh Pusat Pengelola Universitas Esa Unggul dan berisi artikel-artikel hasil penelitian civitas akademika di bidang perencanaan. Scope dari Jurnal Planesa adalah: - Transportasi - Kebencanaan (Pedesaan, Kota dan Wilayah) - Tata Ruang - Lingkungan - Arsitektur dan Bangunan - Pariwisata
Articles 134 Documents
Pengelolaan Kawasan Perkampungan Industri Kecil (PIK) BPLIP Pulo Gadung Berbasis Masyarakat
Jurnal Planesa (Planologi) Vol 2, No 2 (2011)
Publisher : Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengelolaan berbasis masyarakat adalah kemampuan swakelola oleh masyarakat melalui instansi RT/RW merupakan potensi yang harus dimanfaatkan oleh pihak pengelola, merupakan bentuk community development. Perkampungan yang menjadi obyek penelitian yaitu Perkampungan Industri Kecil (PIK) BPLIP Pulogadung. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kegiatan yang berlangsung di dalam kawasan Perkampungan Industri Kecil (PIK) BPLIP Pulogadung, untuk mengetahui sejauh mana kesadaran masyarakat PIK BPLIP dalam melaksanakan pengelolaan kawasan di tempat tinggalnya, dan untuk meningkatkan sistem pengelolaan kawasan Perkampungan Industri Kecil (PIK) yang melibatkan partisipasi masyarakat PIK BPLIP Pulogadung. Metode penelitian yang digunakan adalah metode analisis crosstabs dengan menggunakan system SPSS 15. Hasil pengolahan kuisioner kepada masyarakat PIK BPLIP menggambarkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi masih rendahnya partisipasi warga yaitu pendidikan masih rendah sehingga mempengaruhi pola pikir warga, dana masih terbatas, pengetahuan responden masih rendah sehingga tidak langsung menerapkannya. Kebanyakan orang akan melihat akan pelaksanaan pengawasan peraturan terhadap peraturan yang dikeluarkan oleh pihak pengelola, kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan kawasan PIK BPLIP pulogadung masih rendah,  SDM (Sumber Daya Manusia) yang masih rendah terhadap peran sertanya dalam pengelolaan kawasan.Kata kunci: perkampungan industri kecil, pengelolaan berbasis masyarakat, community development
Peran Serta Masyarakat Dalam Pengelolaan Sampah Di Lingkungan Perumahan Studi Kasus : Kampung Banjar Sari Kelurahan Cilandak Barat, Jakarta Selatan
Jurnal Planesa (Planologi) Vol 2, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembangunan yang dilakukan akan mempengaruhi lingkungan. Salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas lingkungan adalah populasi penduduk yang kemudian mempengaruhi tingkat konsumsi yang pada akhirnya akan meningkatkan pencemaran sebagai akibat dari adanya eksternalitas pertambahan penduduk. Studi yang dilakukan di kampong Banjarsari, dengan jumlah penduduk 1.399 jiwa (363 KK) bertujuan untuk mengetahui peran serta masyarakat dalam pengelolaan sampah lingkungan perumahan secara swadaya di Kampung Banjarsari, dan mengetahui bagaimana masyarakat terlibat dalam pengolahan sampah, serta memahami bagaimana sistem pengolahan sampah dapat dilakukan secara swadaya. Kemudian memahami apa yang menjadi faktor pendorong kegiatan tersebut sehingga dari studi ini diketahui bahwa tingkat keperdulian masyarakat Kampung Banjarsari terhadap kualitas lingkungan sudah sangat baik. Kemudian diketahui bahwa permasalahan yang ada di Kampung Banjarsari adalah kurangnya sarana dan prasarana untuk kegiatan pengelolaan sampah di wilayah tersebut. Kesadaran masyarakat untuk merubah lingkungan mejadi bersih dan nyaman adalah faktor utama dalam pengelolaan sampah di Kampung Banjarsari.Kata kunci: pembangunan, lingkungan, pengelolaan
Identifikasi Pelaksanaan Kegiatan Program Sanitasi Berbasis Masyarakat (Sanimas) Studi Kasus : Program Sanimas Di Kampung Pulo, Desa Gintung, Kecamatan Sukadiri Kabupaten Tangerang
Jurnal Planesa (Planologi) Vol 2, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Tangerang merupakan kota penyangga Ibukota, yang letak geografisnya berbatasan langsung dengan Provinsi DKI Jakarta sehingga mengakibatkan pertumbuhan yang pesat diiringi oleh kebutuhan pelayanan sanitasi yang semakin meningkat pula, namun peningkatan itu tidak diiringi kesiapan pemerintah Kabupaten Tangerang dalam hal pelayanan sanitasi khususnya penanganan air limbah permukiman. Hal itu terlihat dari banyaknya kasus berupa penyakit diare yang terjadi di kabupaten Tangerang salah satunya di Kampung Pulo Desa Gintung Kecamatan Sukadiri. Menyadari kondisi bahaya tersebut maka Depertemen PU bekerjasama dengan pemerintah Kabupaten Tangerang melakukan program Sanitasi Oleh Masyarakat (Sanimas) di Kampung Pulo Desa Gintung Kecamatan Sukadiri Kabupaten Tangerang. Program SANIMAS ini bertujuan untuk memperbaiki sistem sanitasi dan kualitas lingkungan sehingga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dalam hal peningkatan kualitas kesehatan. Namun pada kenyataan di lapangan, program SANIMAS yang ada di kecamatan Sukadiri ini tidak sesuai dengan tujuan sehingga berdasarkan hasil observasi diketahui bahwa program SANIMAS ini kurang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi efektivitas pada pelaksanaan Program Sanimas di Kampung Pulo Desa Gintung Kecamatan Sukadiri Kabupaten Tangerang. Tingkat efektivitas diukur dari aspek perencanaan, penguatan kelembagaan, kesehatan lingkungan dan penggunaan sarana. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa dari sisi pelaksanaannya program Sanimas ini dikatakan efektif dan berhasil namun dilihat dari penyediaan prasarana dan sarana air limbah, program Sanimas ini kurang efektif, hal itu disebabkan karena faktor lokasi.Kata kunci: Program SANIMAS, Efektivitas, identifikasi pelaksanaan
Tipologi Perkotaan di Kabupaten Cilacap
Jurnal Planesa (Planologi) Vol 2, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam perencanaan pembangunan pada suatu wilayah diperlukan tipologi wilayah, salah satu tipologi wilayah yang perlu dilakukan adalah tipologi perkotaan. Penetapan tipologi wilayah berdasarkan kawasan perkotaan  dan kawasan perdesaan pada dasarnya sangat membantu dalam penerapan kebijakan pembangunan misalnya dalam menetapkan penyediaan fasilitas kehidupan seperti penedidikan, kesehatan, perdagangan dan lain-lain,  sehingga memungkinkan kawasan tersebut berkembang sesuai kemampuan dan potensinya. Kabupaten Cilacap adalah salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang secara ekonomi lebih maju dibandingkan kabupaten lain di sekitarnya.  Meskipun berbagai wilayahnya sudah memiliki sifat kekotaan, namun secara administratif  belum dapat disebut sebagai kota.  Fasilitas kehidupan yang tersedia belum memadai seperti sebuah kota, padahal dari segi penduduknya telah membutuhkan fasilitas kehidupan setingkat kota, sehingga pengembangan wilayahnya menjadi terhambat khususnya pada wilayah yang telah mempunyai sifat kekotaan tinggi. Tujuan penelitian ini adalah menetapkan tipologi perkotaan di wilayah Kabupaten Cilacap, sehingga dapat digunakan dalam penerapan kebijakan pembangunan di kabupaten tersebut. Tipologi perkotaan pada suatu wilayah dapat dilakukan dengan berbagai metode, namun mengingat keterbatasan data yang tersedia di Kabupaten Cilacap,  dengan menggunakan analisis sosial yaitu kependudukan dan analisis fisik bangunan telah dapat menggambarkan tipologi perkotaan di wilayah tersebut. Hasilnya menunjukkan dari 308 desa yang ada di Kabupaten Cilacap, terdapat 91 desa yang membentuk kawasan perkotaan. Kawasan perkotaan tersebut pada umumnya berada di sepanjang jaringan jalan utama yaitu jalan regional.Kata kunci: tipologi wilayah, kawasan perkotaan, kawasan perdesaan
Studi Penentuan Lokasi Potensial Pengembangan Pusat Perbelanjaan di Kota Tangerang
Jurnal Planesa (Planologi) Vol 2, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sejak berdiri pada tanggal 27 Febuari 1993 berdasarkan UU No. 02 Tahun 1993 Kota Tangerang kini telah tumbuh dan berkembang karena wilayahnya sebagai wilayah penunjang dan daerah limpahan berbagai kegiatan perkotaan dari Ibukota Negara DKI Jakarta, yang ditandai pula oleh pertumbuhan penduduk rata-rata pertahun diatas 2% serta perkembangan di sektor-sektor lainnya seperti industri, perumahan, dan perdagangan, dengan kondisi tersebut Pemerintah Kota Tangerang memprioritaskan 3 pengembangan sektor kegiatan salah satunya sektor perdagangan berupa konsep pengembangan shopping center (pusat perbelanjaan), melihat kondisi tersebut penelitian ini dimaksud untuk mengkaji tentang “Studi Penentuan Lokasi Potensial Pengembangan Pusat Perbelanjaan sebagai Penyediaan Fasilitas Sektor Perdagangan di Kota Tangerang”, dengan merumuskan kajian “bagaimana potensi pengembangan pusat perbelanjaan di Kota Tangerang dan dimana lokasi potensialnya”. Terdapat empat analisis yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu Analisis Potensi Pengembangan Pusat Perbelanjaan, Analisis Arahan Kebijakan pengembangan Kesatuan Fungsional Wilayah Kecamatan di Kota Tangerang, Analisis Penyeleksian Kecamatan Potensial, dan terakhir adalah Analisis Lokasi Potensial di Kecamatan Terpilih. Hasil dari ke empat analisis tersebut ditemukan bahwa dalam pengembangan pusat perbelanjaan di Kota Tangerang, Kecamatan Larangan merupakan kecamatan potensial diantara tiga Kecamatan terpilih sebagai pengembangan pusat perbelanjaan dalam penyediaan fasilitas sektor perdagangan di Kota Tangerang dengan Sub BWK Tengah yang merupakan bagian dari Kecamatan Larangan sebagai lokasi potensial untuk pengembangan pusat perbelanjaan tersebut.Kata kunci: pusat perbelanjaan, lokasi potensial, wilayah limpahan
Identifikasi Proses dan Dampak Perubahan Fungsi Perumahan menjadi Komersil di Koridor Wolter Monginsidi dan Kawasan Pasar Santa, Kecamatan Kebayoran Baru
Jurnal Planesa (Planologi) Vol 2, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keterbatasan lahan dan harga lahan yang tinggi di perkotaan mengakibatkan invasi fungsi komersial ke kawasan perumahan, salah satunya di koridor Wolter Monginsidi Kecamatan Kebayoran Baru. Perubahan pemanfaatan lahan tersebut secara bertahap telah merubah kawasan dari dominasi perumahan menjadi kegiatan komersial. Percampuran antara kegiatan perumahan dan komersial dapat menimbulkan dampak positif dan negatif. Hal ini terjadi karena guna lahan yang baru (komersial) mempunyai implikasi yang berbeda dari guna lahan sebelumnya (perumahan). pola perubahan pemanfaatan lahan perumahan menjadi komersial di koridor Wolter Monginsidi sangat dipengaruhi dengan  jaringan jalan. Proses perkembangannya mengabungkan dua pola diantaranya pola star shaped (star shaped development) dan linear (ribbon development). sementara  sifat perubahan adalah menyebar disepanjang koridor Wolter Monginsidi. Dampak positif akibat perubahan pemanfaatan lahan, antara lain : bertambahnya lapangan pekerjaan  yang secara ekonomi memberikan keuntungan, sementara dampak negatif akibat perubahan pemanfaatan lahan, antara lain : gangguan lalu lintas akibat on street parking, gangguan tata bangunan, mempengaruhi beberapa fungsi yang seharusnya ada di dalam perumahan (kenyamanan, interaksi sosial, aksesibilitas, dsb). Upaya pengaturan difokuskan pada pengendalian penetrasi kegiatan komersial pada zona perumahan di bagian belakang koridor serta pengandalian  on street parking, pemberlakuan insentif dan disinsentif, dan pelibatan partisipasi stakeholders.Kata kunci: perubahan pemanfaatan lahan, perumahan, komersil
Identifikasi Pola Pemanfaatan Fasilitas Sosial Di Lingkungan Perumahan Terencana
Jurnal Planesa (Planologi) Vol 2, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pesatnya pembangunan lingkungan perumahan berskala besar akan membebani sarana dan prasarana kota. Hal ini dapat menimbulkan ketimpangan, karena beban yang ditanggung fasilitas umum di dalam kota jauh melebihi kapasitas yang ada. Dengan dibangunnya fasilitas sosial di lingkungan perumahan baru, beban terhadap fasilitas kota diharapkan berkurang. Fenomena yang ada di lokasi, masyarakat lebih cenderung menggunakan fasilitas sosial yang berada di luar lingkungan perumahan. Dengan diketahuinya pola pemanfaatan fasilitas sosial di lingkungan perumahan dan faktor-faktor yang mempengaruhi diharapkan dapat dikenalinya kebutuhan penghuni maupun penyediaan fasilitas yang dilakukan oleh pihak pengembang atau developer. Menurut Menteri Negara Perumahan Rakyat no.648-384 tahun 1992, no.739/KPTS/1992, no.09/KPTS/1992, tentang Pedoman Pembangunan Perumahan dan Pemukiman dengan Lingkungan Hunian Berimbang tentang komposisi fasilitas umum dan perumahan adalah 60% untuk rumah dan 40% fasilitas umum. Metode penelitian yang dilakukan adalah menggunakan metode deskriptif, bertujuan menggambarkan secara tepat sifat-sifat suatu individu, keadaan, gejala atau kelompok tertentu, untuk menentukan frekuensi atau penyebaran suatu gejala, atau frekuensi adanya hubungan tertentu antara suatu gejala dan gejala lain dalam masyarakat Ketiga lingkungan perumahan terletak di Perumahan Medang Lestari Kecamatan Pagedangan, Perumahan Dasana Indah dan Perumahan Villa Ilhami terletak di Kecamatan Kelapa Dua. Kesimpulannya adalah faktor yang berpengaruh pada pemanfaatan dalam perumahan pemanfaatannya dipengaruhi oleh kedekatan tempat tinggal, sedangkan pemanfaatan fasilitas di luar sebagian besar dipengaruhi oleh kualitas guru dan pelajaran.Kata kunci: identifikasi, fasilitas sosial, perumahan terencana,
Penentuan Lokasi Alternatif Kawasan Hijau Binaan Di Jakarta Barat
Jurnal Planesa (Planologi) Vol 2, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembagian fungsi utama kawasan mencakup kawasan lindung dan kawasan budidaya, sesuai dengan kondisi nyata Provinsi DKI Jakarta yang merupakan kota metropolis, secara tidak langsung pentingnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebenarnya telah diantisipasi dalam RBWK 1965-1985 dan RUTR Jakarta 2005. Akan tetapi dengan berbagai macam kendala yang dihadapi oleh Pemda DKI Jakarta antara lain : daerah yang peruntukannya ditetapkan sebagai RTH dalam RBWK 1985 sudah lama berkembang sebagai daerah perkampungan dan komplek perumahan, status pemilikan tanah pada areal yang telah diperuntukan tersebut merupakan pemilikan anggota masyarakat, banyak lokasi RTH yang sudah dibebaskan tetapi karena tidak ada pengamanan dilapangan dimanfaatkan oleh masyarakat secara ilegal.Berdasarkan Rencana Struktur Tata Ruang wilayah Jakarta Barat dengan target lahan akan Ruang Terbuka Hijau 1,68% dari luas Jakarta, serta melaksanakan refungsionalisasi taman pada 52 lokasi seluas kurang lebih 10,5 Ha di Jakarta Barat. Pemerintah kota Jakarta Barat mengalokasikan beberapa kawasan hijau binaan., pembangunan taman kota, dan penanaman pohon pelindung di Sentral Primer Baru Barat, pengembangan hutan kota Srengseng untuk kegiatan wisata, dan penataan Kawasan Rawa Belong sebagai pusat tanaman hias. Adanya kendala yang cukup besar dalam dana dan pengelolaan kawasan hijau binaan, mengakibatkan banyak kawasan hijau binaan di kota Jakatra Barat dikelola swasta, hal ini bisa dinilai negatif disatu sisi tetapi dipihak lain bisa dinggap positif, pemerintah daerah yang telah susah payah menata kawasan hijau binaan perlu didukung partisipasi dan peran serta warga dalam mengelolah kawasan hijau binaan berdasarkan kemandirian dan swadaya masyarakat, bahwa perkembangan kota Jakarta Barat yang semakin pesat mengakibatkan migrasi desa-kota semakin tinggi, oleh karena itu cara untuk mencegah terciptanya kondisi lingkungan yang tidak terencana serta kawasan kumuh dan kotor, dapat dilakukan melalui penghijauan kota Jakarta Barat dengan menanam pohon dan menyediakan kawasan hijau binaan yang mempunyai potensi untuk berkembang, memperbesar kawasan penghijauan sebagai paru-paru kota, melakukan penanaman pohon yang berfungsi memberikan perlindungan, meningkatkan pendidikan dan pengetahuan warga kota, dan menciptakan keindahan kota Jakarta Barat.Kata kunci: kawasan lindung, kawasan hijau binaan, lokasi
Identifikasi Faktor-Faktor Yang Dimiliki Pedagang Dan Pembeli Dalam Menentukan Lokasi Untuk Bertransaksi Studi Kasus : Pasar Dan Terminal Ciledug Kota Tangerang, Provinsi Banten
Jurnal Planesa (Planologi) Vol 2, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pasar merupakan salah satu fasilitas ekonomi yang diperlukan sebagai tempat jual beli untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat kota. Sementara terminal merupakan fasilitas yang menampung kendaraan yang ditujukan bagi kenyamanan dan kemudahan pergerakan penumpang angkutan umum. Pada kenyataannya fungsi pasar dan terminal menjadi bercampur sehingga pasar lembang yang seyogyanya merupakan fasilitas perdagangan yang sebenarnya menjadi kalah bersaing dengan pasar dadakan yang muncul di terminal sehingga pada akhirnya pasar dan terminal menjadi tidak berfungsi sebagaimana baiknya dan sangat tidak optimal. maka studi ini akan mengulas topik mengenai identifikasi faktor-faktor yang dimiliki pedagang dan pembeli untuk menentukan lokasi bertransaksi, studi kasus pasar dan terminal Ciledug Kota Tangerang Provinsi Banten. Dalam hal ini adalah tidak digunakannya lahan dan fasilitas pasar tradisional oleh pedagang sehingga pasar menjadi tidak berfungsi (idle). Dan juga berubah fungsinya terminal (miss function). Oleh karena itu agar permasalahan ini dapat diatasi maka perlu menjaring pedagang dengan variasi komoditi yang berbeda, agar komoditi pasar bertambah lengkap dan variatif. Dengan begitu akan menarik minat pembeli untuk berbelanja ke pasar Lembang. Penambahan fasilitas pasar seperti listrik atau penerangan yang masih gelap di bagian dalam pasar. Juga perlu menyedikan saluran telepon di pasar Lembang untuk kemudahan pedagang dalam pemantauan harga dan pendistribusian baik yang masuk ke pasar Lembang maupun yang keluar dari pasar Lembang. Kemudian jika nantinya kebijakan mengenai pasar dan terminal sudah diberlakukan, perlu diadakan pengawasan dan dibuat law enforcement terhadap pihak atau oknum yang membantu pedagang kaki lima melakukan transaksi jual beli diluar lokasi yang sudah ditentukan. Begitupun dengan supir kendaraan umum yang tidak mengikuti peraturan.Kata kunci: pasar, terminal, pedagang
Analisa Taman Menteng Sebagai Taman Kota Berdasarkan Kriteria Kualitas Taman Jakarta Pusat
Jurnal Planesa (Planologi) Vol 2, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berdasarkan berbagai potensi dan kendala yang dimiliki kota Jakarta, arahan RT/RW 2010 serta sasaran ruang terbuka hijau yang diinginkan maka dikembangkan konsepsi utama rancangan fisik ruang terbuka hijau berbentuk linier/ koridor yang menyebar secara fisik dalam kota. Sasaran dari pengelolaan ruang terbuka hijau di DKI Jakarta adalah ruang terbuka hijau yang dapat mengatasi permasalahan lingkungan kota, dapat meningkatkan kualitas visual kota, dan juga memberikan dampak positif terhadap tingkat kesejahteraan sosial warganya. Sasaran secara kualitatif adalah untuk mendapatkan kualitas lingkungan fisik kota dan secara kuantitatif adalah untuk mendapat jumlah luasan ruang terbuka hijau kurang lebih 9.250 ha (13,94 %) dari luas kota Jakarta. Berdasarkan pengamatan diambil kesimpulan yaitu ; kondisi fisik pedestrian saat ini belum memenuhi standar yang layak dan belum mengakomodasikan kebutuhan fasilitas pendukung untuk kenyamanan, keselamatan, dan keamanan lalu lintas pejalan kaki termasuk pejalan kaki dengan keterbatasan fisik dan stamina, serta terdapat fungsi-fungsi lain oleh keberadaan pedagang kaki lima yang menggunakan ruang gerak bebas pejalan kaki. Dengan adanya taman kota Menteng yang berkualitas dan dapat diakses oleh masyarakat umum sehingga dapat mengurangi permasalahan kurangnya fasilitas umum di kecamatan Menteng khususnya. Maksud tujuan studi ini adalah menemukenali potensi dan permasalahan taman Menteng sebagai taman kota serta kriteria kualitas taman berdasarkan nilai keinginan dan kepuasan pengguna atau pengunjung yang datang. Dari hasil analisa dapat diperoleh bahwa taman Menteng sebagai taman kota berdasarkan kriteria kualitas taman terdapat kekurangan seperti penerangan lampu, penertiban parkir motor dan perawatan. Kesimpulannya adalah taman kota Menteng berdasarkan kriteria kualitas taman sudah baik jika benar-benar dijaga oleh dirawat secara berkala dan kerjasama antara pihak-pihak terkait yaitu pemerintah, swasta/pengelola dan masyarakat sebagai pengguna.Kata kunci: ruang terbuka hijau, kualitas, lingkungan

Page 10 of 14 | Total Record : 134