cover
Contact Name
Ghefra Rizkan Gaffara
Contact Email
ghefra@esaunggul.ac.id
Phone
+6282112846970
Journal Mail Official
planesa@esaunggul.ac.id
Editorial Address
https://ejurnal.esaunggul.ac.id/index.php/planesa/about/contact
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Planesa
Published by Universitas Esa Unggul
ISSN : 02169673     EISSN : 02169673     DOI : 10.47007
Jurnal Planesa adalah jurnal ilmiah yang menerbitkan tulisan dalam bidang ilmu planologi, yang mencakup penelitian dan non-penelitian. Jurnal ini dipublikasikan oleh Pusat Pengelola Universitas Esa Unggul dan berisi artikel-artikel hasil penelitian civitas akademika di bidang perencanaan. Jurnal Planesa adalah jurnal ilmiah yang menerbitkan tulisan dalam bidang ilmu planologi, yang mencakup penelitian dan non-penelitian. Jurnal ini dipublikasikan oleh Pusat Pengelola Universitas Esa Unggul dan berisi artikel-artikel hasil penelitian civitas akademika di bidang perencanaan. Scope dari Jurnal Planesa adalah: - Transportasi - Kebencanaan (Pedesaan, Kota dan Wilayah) - Tata Ruang - Lingkungan - Arsitektur dan Bangunan - Pariwisata
Articles 134 Documents
Konsep Perencanaan Kawasan Perdagangan Koridor Jalan Sa. Tirtayasa, Kota Serang Dengan Pendekatan Pedestrianisasi (Memanusiakan Pejalan Kaki)
Jurnal Planesa (Planologi) Vol 2, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pedestrianisasi merupakan suatu usaha dalam perancangan kota dimana dalam perancangannnya lebih mengutamakan kepentingan jalur pedestrian atau jalur pejalan kaki. Perkembangan kota di Indonesia ini sangat pesat dan tidak terkendali.Keberadaan pejalan kaki di Indonesia khususnya di kota – kota besar sampai saat ini dipandang kurang begitu penting bila dibandingkan dengan pengguna jasa lainnya, sehingga pejalan kaki kehilangan haknya dan menerima resiko akibat buruknya pelayanan sebagian fasilitas pejalan kaki yang tersedia. Untuk memperoleh gambaran yang menyeluruh mengenai permasalahan yang terdapat di koridor Royal ( Jl. Tirtayasa ), maka dilakukan pengamatan fisik pedestrian beserta fasilitas pendukungnya dan penghitungan jumlah pejalan kaki dibeberapa titik sehingga teridentifikasi permasalah dan kebutuhan terhadap ruang dan fasilitas yang ada di sepanjang koridor Royal khususnya mengenai jalur pedestrian. Metode analisa data yang digunakan dalam menganalisa adalah perbandingan kondisi eksisting dengan standard dan menghitung arus pejalan kaki/menit/meter dan mengaplikasikannya terhadap konsep pedestrian mall menurut Harvey M Rubeinstein. Berdasarkan pengamatan diambil kesimpulan yaitu ; kondisi fisik pedestrian saat ini belum memenuhi standar yang layak dan belum mengakomodasikan kebutuhan fasilitas pendukung untuk kenyamanan, keselamatan, dan keamanan lalu lintas pejalan kaki termasuk pejalan kaki dengan keterbatasan fisik dan stamina, serta terdapat fungsi-fungsi lain oleh keberadaan pedagang kaki lima yang menggunakan ruang gerak bebas pejalan kaki.Kata Kunci : Pedestrianisasi, Pedestrian Mall, Ruang Gerak, Kenyamanan.
Pemanfaatan Model Sistem Dinamis Dalam Memperkirakan Jumlah Penduduk Di Masa Datang Studi Kasus : Kabupaten Cilacap
Jurnal Planesa (Planologi) Vol 1, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam kegiatan perencanaan, faktor penduduk merupakan hal yang sangat penting, utamanya perkiraan jumlah penduduk. Hal ini mengingat perencanaan adalah untuk masa depan, sehingga sebelum merencana sebagai dasar pertimbangan adalah perkiraan penduduk di masa depan. Untuk memperkirakan jumlah penduduk masa depan, berbagai model telah dikembangkan, seperti regresi linier, bunga berganda dan lain-lain. Namun model-model yang dikembangkan tersebut mempunyai keterbatasan, karena faktor-faktor yang dipertimbangkan hanya jumlah penduduk masa lampau, in-migrasi dan out-migrasi. Dalam kenyataannya, selain jumlah penduduk berbagai faktor lain sangat terkait dengan jumlah penduduk pada suatu wilayah, seperti kondisi ekonomi, kesehatan, kebijakan pemerintah, ketersediaan lahan permukiman, ketersediaan lapangan kerja, dan lain-lain. Faktor-faktor tersebut dapat menjadi variabel-variabel yang dapat dipertimbangkan mempengaruhi jumlah penduduk. Penelitian ini bertujuan memperkirakan jumlah penduduk dengan menggunakan model sistem dinamis, yang dapat mengaitkan variabel-variabel lain  selain jumlah penduduk historis, dan membandingkan dengan perkiraan jumlah penduduk dengan menggunakan model regresi linier dan bunga berganda. Agar supaya dapat diketahui apakah model tersebut dapat diterapkan pada suatu wilayah, maka dilkukan pada wilayah studi Kabupaten Cilacap, dengan pertimbangan, data yang tersedia pada kabupaten tersebut dapat mendukung penggunaan model sistem dinamis. Hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan model sistem dinamis dalam memperkirakan jumlah penduduk masa datang, lebih mendekati kenyataan di lapangan, yaitu dengan perbedaan sebesar 0,13% sementara dengan menggunakan model regresi linier perbedaan sebesar  9,66% dan bunga berganda sebesar 0,62%. Dapat disimpulkan perkiraan jumlah penduduk dengan menggunakan model sistem dinamis lebih baik dan diusulkan digunakan dalam perencanaan wilayah.Kata Kunci: Jumlah Penduduk, Perkiraan Jumlah Penduduk, Model Regresi Linier
Identifikasi Peranan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kebutuhan Air Bersih Di Kecamatan Kosambi Kabupaten Tangerang Banten
Jurnal Planesa (Planologi) Vol 1, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan suatu daerah akan diikuti dengan peningkatan kebutuhan terhadap air bersih. Besarnya penggunaan akan air bersih setiap rumah tangga mempunyai keinginan dan kebutuhan yang berbeda-beda sehingga faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kebutuhan air bersih sangat kompleks. Penelitian ini ditujukan untuk menganalisa pengaruh dari beberapa variabel (pendapatan total keluarga, jumlah tanggungan keluarga, kepemilikan sumur, dan kepemilikan pekerjaan sampingan) terhadap tingkat kebutuhan air bersih pada masyarakat di Kecamatan Kosambi Kabupaten Tangerang Banten. Data  yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dengan bentuk cross section dengan jumlah obervasi sebanyak 70 responden. Data diperoleh secara langsung dari responden dengan cara observasi, wawancara danpenyebaran kuesioner yang mendukung penelitian ini. Model yang digunakan dalam menganalisis penelitian ini adalah regresi log linear, dimana model ini digunakan untuk mengetahui pengaruh dari beberapa variabel independen terhadap variabeldependen. Hasil dari analisis menunjukan bahwa  tingkat kebutuhan air bersih pada masyarakat di Kecamatan Kosambi Kabupaten Tangerang Banten dipengaruhi secara signifikan oleh pendapatan rata-rata total keluarga, jumlah tanggungan keluarga, kepemilikan sumur, dan kepemilikan pekerjaan sampingan.KataKunci: Kebutuhan Air Bersih, Crosssection, Regresi Log Linier
Identifikasi Tingkat Kenyamanan Pejalan Kaki : Studi Kasus Jalan Kedoya Raya – Arjuna Selatan
Jurnal Planesa (Planologi) Vol 1, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan pengaturan penyelesaian masalah fisik kota merupakan bagian tak terpisahkan dari sebuah rencana perkembangan suatau kota. Hal ini di perlukan untuk meningkatkan kualitas kota, baik secara ekonomi maupun estetis. Pengadaan penyediaan suatu fasilitas sarana dan prasarana dengan kondisi yang tidak terpelihara dengan baik, seperti jalur pejalan kaki dan penghijauan, dapat menyebabkan fungsi dan kualitas suatu kawasan menurun. Hal tersebut dapat menurunkan daya tarik kawasan itu sendiri. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka di perlukan upaya perbaikan kualitas kawasan agar dapat mempertahankan ciri khas yang akan dimilikinya dan mampu memberikan vitalitas baru pada kawasan.  Untuk memperoleh gambar yang menyeluruh mengenai permasalahan yang terdapat di trotoar disepanjang Jalan Kedoya Raya – Jl. Arjuna Selatan  (Super Indo sampai dengan Perumahan Tanjung Duren), maka di lakukan pengamatan kondisi fisik trotoar beserta fasilitas pendukungnya dan dengan melakukan penyebaran koesioner berdasarkan pendapat pejalan kaki terhadap tingkat kenyamanan saat melakukan aktifitas berjalan di lokasi studi. Sehingga terientifikasinya permasalahan dan kebuthan terhadap ruang dan fasilitas yang ada di pedestrian pada lokasi studi. Metode analisa data yang digunakan dalam menganalisa adalah perbandingan kondisi eksisting dengan standar dan penilian berdasarkan persepsi pejalan kaki. Berdasarkan pengamatan, di ambil beberapa kesimpulan yaitu:  kondisi trotoar di lokasi studi saat ini belum memenuhui standar yang layak dan belum mengakomodasikan kebutuhan akan fasilitas penukung untuk kenyamanan, keamanan dan keselamatan lalu lintas pejalan kaki termasuk pejalan kaki dengan keterbatasan fisik dan stamina,  serta terdapatnya fungsi lain oleh keberadaan pedangan kaki lima, pangkalan ojek dan parkir kendaraan yang menggunakan ruang gerak bebas pejalan kaki. Hal ini dapat di lihat pada hasil koesioner berdasarkan pendapat pejalan kaki (pada ke 2 zona pengambilan sampel populasi) mengenai persepsi pejalan kaki tentang kenyamanan yang di tinjau dari seluruh faktor, adalah di peroleh bahwa dari jumlah responden sebanyak 100 pejalan kaki, di zona A kondisi kenyamanan pedestrian 47% di bandingkan dengan 41% responden pada zona B. Menyatakan bahwa kondisi kualitas kurang baik. Dari penelitian ini bahwa faktor-faktor yang meliputi, Aspek Fisik dan Non Fisik benar-benar merupakan unsur-unsur pokok yang menunjang rasa kenyamanan pejalan kaki dalam pemanfataan jalur trotoar Jalan di lokasi studiKata Kunci: Tingkat Kenyamanan, Pejalan Kaki, Trotoar
Analisis Kebijakan Pemerintah Dalam Penanganan Permuliman Ilegal Di Bantaran Sungai Studi Kasus : Bantaran Kali Pesanggrahan Kampung Baru, Kedoya Utara Kebon Jeruk
Jurnal Planesa (Planologi) Vol 1, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan Kota DKI Jakarta yang pesat, di tandai dengan tingkat pertumbuhan penduduk, ekonomi serta adanya desakan kebutuhan lahan yang cukup tinggi sehingga berakibat terhadap pola perkembangan permukiman penduduk. Hal tersebut menyebabkan penduduk memilih menempati suatu permukiman di lahan milik negara yaitu dibantaran sungai (DAS) yang di kenal sebagai kawasan ilegal, yaitu seperti minimnya infrastruktur, rawan banjir dan kondisi rumah yang tidak layak huni bagi masyarakat yang miskin serta rawan terhadap tindak kriminal.  Berdasarkan hal di atas perlu di lakukan penelitian dengan tujuan mengkaji faktor-faktor penyebab keberadaan dan bermukim kembalinya permukiman ilegal di kawasan Daerah Aliran Sungai Kali Pesanggrahan, Kampung Baru dengan mengidentifikasi karakter, sejarah kebijakan Pemerintah mengenai penanganan permukiman liar. selanjutnya menganalisis data primer hasil kuesioner kepada masyarakat penghuni permukiman liar yang di padukan dengan hasil wawancara dengan instansi terkait serta tokoh masyarakat dengan metode deskriptif. Temuan penelitian ini adalah bahwa mayoritas warga mempunyai Kartu Tanda Penduduk, kemudahan akses menuju pusat kegiatan terbukti menambah daya tarik warga untuk mendirikan rumah di kawasan bantaran Kali Pesanggrahan. Pemda setempat kurang tegas dalam menegakkan aturan sehingga mayoritas responden telah tinggal di lokasi permukiman ilegal lebih dari 15 tahun dan terdapat fasilitas PDAM dan jaringan listrik. Kesimpulan dari penulisan tugas akhir ini adalah bahwa kebijakan mengenai penanganan pemukiman illegal dibantaran Kali Pesanggrahan adalah tanggungjawab semua stakeholders yang terlibat dalam penanganan maupun peran sertanya mengenai keberadaan pemukiman ilegal tersebut yang di wujudkan dalam tindakan dan peran serta dalam penanganan squatters diKampung Baru serta keberadaan dan bermukim kembalinya permukiman ilegal dibantaran Kali Pesanggrahan, Kampung Baru dipengaruhi oleh faktor antara lain lengkapnya sarana serta prasarana, di akuinya legalitas warga dengan pemberian KTP, penegakan hukum yang kurang tegas, dekat dengan lokasi kerja dan pusat-pusat kegiatan ekonomi. Berdasarkan kesimpulan tersebut penulis  merekomendasikan kepada Pemda Jakarta Barat untuk meninjau ulang  kebijakan-kebijakan mengenai perlindungan Daerah Aliran Sungai dan memberikan sosialisasi kepada masyarakat serta meningkatkan koordinasi dengan instansi terkait.Kata Kunci: Kebijakan Penanganan Squatters, Bermukim Kembali, Kawasan Ilegal
Identifikasi Faktor-Faktor Tidak Berkembangnya Perdagangan Eks PKL Barito di Lokasi Baru
Jurnal Planesa (Planologi) Vol 1, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wilayah perkotaan merupakan pusat pertumbuhan bagi wilayah disekitarnya,Pertumbuhan di wilayah perkotaan merupakan pencerminan pertumbuhan kegiatan perekonomian. Seiring dengan tingginya tingkat perekonomian kota ditambah jumlah penduduk yang meningkat namun tidak diimbangi dengan ketersediaan lapangan kerja yang menyebabkan tingginya tingkat persaingan lapangan kerja. Kondisi inilah yang membuat orang berpikir untuk membuka/menciptakan usaha sendiri salah satunya adalah sektor informal yaitu Pedagang Kaki Lima (PKL). Sektor informal yang menjadi contoh adalah Eks pedagang barito berada di JL BRI kelurahan Gandaria Utara yang merupakan lokasi baru pedagang eks Barito. Di lahan seluas kurang lebih 1.200 m² dengan jumlah 104 kios yang dibagi menjadi 2 bagian, Berdasarkan hasil survey diketahui lokasi yang sepi dengan indikasi jumlah pedagang yang semakin berkurang,  pada awalnya berjumlah 104 pedagang dan hingga saat ini hanya 50 pedagang saja. Hal ini lah yang mendorong untuk diketahui factor-faktor apa saja yang menyebabkan lokasi baru eks Pasar Barito tidak berkembang. Kesimpulan dari penelitian ini adalah lokasi yang sangat tidak, aksesibilitas yang kurang baik, penurunan omzet dengan kondisi tersebut jumlah pedagang menjadi lebih sedikit jika dibandingkan di lokasi lama. Seharusnya dalam proses pembangunan yang dilakukan pemerintah melibatkan peran serta masyarakat serta pemerintah dalam menangani permasalahan ini dapat dilakukan melalui pendekatan menajemen partisipatif.Kata Kunci: Pertumbuhan, Sektor Informal, Manajemen Partisipatif
Identifikasi Pengaruh Parkir di Badan Jalan Terhadap Tingkat Pelayanan Jalan Ki Samaun Tangerang
Jurnal Planesa (Planologi) Vol 1, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kawasan pusat perdagangan merupakan kawasan yang memiliki pergerakan lalu lintas yang tinggi sehingga kebutuhan fasilitas parkir juga cukup tinggi terutama parkir kendaraan pengunjung yang akan berbelanja dan kendaraan yang melakukan bongkar muat barang.  Tingginya kebutuhan parkir di pusat perdagangan dapat menyebabkan adanya kegiatan parkir di badan jalan. Kemacetan lalu lintas pada jam-jam puncak lalu-lintas dikarenakan keberadaan parkir di sisi jalan (On Street parking). Keberadaan parkir sisi jalan menyita sebagian badan jalan sehingga mengurangi lebar efektif jalan tersebut dan kapasitas jalannya menurun. Jalan Ki Samaun adalah salah satu jalan di Kawasan Pusat Kota Tangerang yang memiliki fasilitas parkir di badan jalan yaitu pada satu sisi sebelah kiri jalan dengan posisi parkir menyudut dengan sudut 45º, 60º, dan 90º . Studi ini mengkaji mengenai pengaruh parkir di badan jalan terhadap tingkat pelayanan  jalan Ki Samaun Tangerang. Alat analisis yang digunakan yaitu untuk mengidentifikasi mengenai kondisi lalu lintas, kegiatan perparkiran di badan jalan, dan pengaruh adanya parkir di badan jalan terhadap kapasitas jalan dan tingkat pelayanan jalan menggunakan persamaan dasar MKJI 1997 dan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 14 Tahun 2006 Tentang Manajemen Dan Rekayasa Lalu Lintas Di Jalan. Berdasarkan hasil identifikasi yang telah dilakukan menunjukkan bahwa parkir di badan jalan tersebut sangat mempengaruhi arus lalu lintas terlihat dari nilai rasio V/C terbesar saat pengamatan pada jam sibuk hari kerja adalah 1,09 dan laju kendaraan menjadi tertahan/macet. Maka berdasarkan standar level of service (Tingkat pelayanan jalan) ruas jalan Ki Samaun dikategorikan ke dalam tingkat pelayanan jalan  F artinya tingkat pelayanan jalannya buruk pada jam sibuk.Kata Kunci: Parkir, Badan Jalan, Pelayanan Jalan
Strategi Pengendalian Fungsi Pemukiaman di Kawasan Pemugaran Kebayoran Baru
Jurnal Planesa (Planologi) Vol 1, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebayoran Baru adalah kawasan permukiman, kota pertama yang dirancang putra Indonesia setelah negeri ini merdeka. Dari signifikansi arsitektural kota ini memiliki pola jalan dan ruang terbuka hijau dengan semangat kota taman. Ia direncanakan dengan struktur dan pola penataan ruang serta karakter bangunan yang spesifik. Kebayoran Baru adalah catatan sejarah yang menunjukkan bahwa para perencana kota pada akhir 1940-an berpikir "maju" dan para pengelola kota pada generasi berikutnya membiarkan kawasan itu berkembang di luar kendali. Perubahan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat memberikan wajah lain pada Kebayoran Baru setelah usianya kini lebih dari setengah abad. Beban aksesibilitas lingkungan, kelemahan peraturan, dan perubahan kepemilikan bangunan menyebabkan sejarah kawasan terabaikan. Peruntukan dan fungsi lahan tidak lagi sesuai dengan yang dulu direncanakan. Studi ini bertujuan untuk menentukan strategi pengendalian fungsi permukiman  yang tepat, yang dapat diterapkan di Kawasan Pemugaran Kebayoran Baru, namun sebelumnya terlebih dahulu dilakukan penggalian faktor-faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya perubahan fungsi  dengan melihat dari berbagai aspek terkait dengan sejarah kawasan  serta berbagai kebijakan tentang pelestarian Kawasan Pemugaran Kebayoran Baru. Dari faktor-faktor yang didapat tersebut kemudian diolah dengan menggunakan analisis SWOT. Analisis SWOT merupakan teknik analisis yang digunakan untuk menyusun suatu strategi. Strategi diperoleh dengan cara melakukan analisis internal dan eksternal untuk mengetahui faktor-faktor strength, weakness, opportunity serta threat yang dimiliki oleh obyek studi. Kemudian tiap faktor dimasukkan kedalam matriks SWOT sehingga keluarlah strategi pengendalian SO, ST, WO dan WT yang diharapkan untuk diterapkan pada Kawasan Kebayoran Baru.Kata Kunci: Perubahan Fungsi Permukiman, Arsitektural Kota, Strategi Pengendalian Permukiman
Pengembangan Pertanian Perkotaan : Impian Mewujudkan Kota yang Berkelanjutan
Jurnal Planesa (Planologi) Vol 1, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di negara-negara sedang berkembang termasuknya Indonesia, pertumbuhan kota yang paling pesat terjadi di pusat kota. Tagihan pendapatan tidak merata, kemiskinan, sistem distribusi sumber pangan kurang berjalan dengan baik, areal tanah pertanian merosot, menyebabkan sumber pangan menjadi sangat penting terutama bagi penduduk kota yang miskin. Bank Dunia melaporkan bahwa terdapat 360 juta penduduk kota di negara-negara sedang berkembang  mengalami kekurangan gizi kronis. Lima dari enam keluarga di kota  di India membelanjakan 70% dari pendapatannya untuk membeli makanan. Di Kuala Lumpur, antara 45-50% penghasilan penduduk digunakan untuk mencukupi keperluan makan, atau dua kali ganda yang terjadi di Inggris. Akibatnya, golongan berpendapatan rendah di kota-kota Asia lebih sering kekurangan gizi dibandingkan dengan golongan berpendapatan rendah di pedesaan. Oleh karena itu pertanian kota merupakan cara pendekatan yang holistik  bagi memenuhi keperluan penduduk miskin kota dan bagi meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan. Artikel ini menguraikan tentang berbagai dampak positif pertanian kota bagi penduduk kota bersangkutan dan bagi kehidupan kota yang berkelanjutan, serta mengetengahkan isu dan tantangan pertanian kota di Indonesia dengan mengambil kasus wilayah Jakarta dan sekitarnya.Kata Kunci: Pertanian Kota, Penduduk Miskin Perkotaan, Kualitas Lingkungan Perkotaan
Identifikasi Peranan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Harga Lahan Di Kelurahan Pondok Benda Dan Benda Baru Kecamatan Pamulang
Jurnal Planesa (Planologi) Vol 1, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecamatan Pamulang adalah bagian dari Kota Tangerang Selatan yang merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Tangerang pada tanggal 29 – oktober -2008 oleh Menteri Dalam Negeri, Mardiyanto, berdasarkan Undang – undang Republik Indonesia nomor 51 tahun 2008. Seiring dengan perkembangan jaman, Kecamatan Pamulang mengalami perkembangan dan pertumbuhan yang pesat. Pertumbuhan yang dialami yaitu pertumbuhan penduduk seiring dengan banyaknya para pendatang yang menetap di pamulang. Dari segi pertumbuhan, pertumbuhan ekonomi berkembang diiringi dengan semakin meningkatnya sektor perdagangan dan perumahan yang tersedia di Kecamatan Pamulang. Perkembangan tingginya aktivasi kawasan berpengaruh pada perkembangan intensitas bangunan, kondisi bangunan, kondisi lingkungan serta perkembangan aktifitas ekonomi masyarakatnya yang menyesuaikan permintaan dari konsumen akan kebutuhan lahan. Selain itu tingginya aktifitas, di Kecamatan Pamulang seperti perkantoran maupun maupun aktifitas komersil juga ikut andil dalam terjadinya proses harga lahan yang mempengaruhi wilayah sekitarnya. Dari hasil analisis diketahui bahwa faktor – faktor yang mempengaruhi perubahan harga lahan di kelurahan pondik benda dan benda baru adalah penggunaan lahan, kependudukan, aksesibilitas dan kondisi jalan. Disamping itu, harga lahan di kelurahan Pondok Benda dan benda baru sampai tahun 2016 akan mencapai rata – rata Rp. 373.420/m. Hasil studi ini diharapkan menjadi masukan terutama bagi Pemerintah Kota Tangerang Selatan didalam merumuskan kebijakan penataan ruang dan peruntukan di Kelurahan Pondok Benda dan Benda baruKata Kunci: Harga Lahan, Aktifitas Komersil, Kebijakan Penataan Ruang

Page 11 of 14 | Total Record : 134