Jurnal Bebasan
Jurnal Bébasan (2721-4362 and 2406-7466) is a linguistic and literary scientific journal managed by Kantor Bahasa Provinsi Banten and Perkumpulan pengelola Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pengajarannya (PPJB-SIP). This journal is a cross-disciplinary publication for researchers from diverse language and literature backgrounds, focusing on multilingual and multicultural development. It covers macro-level topics such as ethnicity, education and nationalism, identity politics (including linguistics, literature, religion, and psychology), language and literature in cultures in contact, and the interconnections among language, culture, and religion. Jurnal Bébasan is dedicated to fostering vibrant interdisciplinary dialogue that transcends traditional academic boundaries, with a specific emphasis on advancing knowledge and understanding aligned with the United Nations Sustainable Development Goals (SDGs). Jurnal Bébasan has been active since 2014 and has been integrated with the OJS system since 2019. Currently, Jurnal Bébasan has been accredited SINTA 4 (2019) by the Ministry of Research, Technology and Higher Education, the Republic of Indonesia and SINTA 5 until 2026 and is currently in the re-accreditation assessment process held by the Ministry of Research, Technology and Higher Education, the Republic of Indonesia Focus and Scope Jurnal Bébasan is a linguistic and literary scientific journal managed by Kantor Bahasa Provinsi Banten and Perkumpulan pengelola Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pengajarannya (PPJB-SIP). This journal is a cross-disciplinary journal for researchers from diverse scholars on language and literature backgrounds. This journal focuses on multilingual and multicultural development. It is concerned with macro-level coverage of topics in the ethnicity, education and nationalism, identity politics (with its linguistics, literature, religion, and psychology), languages-literature in cultures in contact, and intertwinings among language, culture and religion. Jurnal Bébasan is committed to nurturing a vibrant interdisciplinary dialogue that transcends traditional academic boundaries, with a specific focus on advancing knowledge and understanding that aligns with the United Nations Sustainable Development Goals (SDGs). Focus and Scope: 1. Ethnicity: Examines topics at the macro level related to ethnicity, education, and nationalism. 2. Identity Politics: Investigates identity politics including linguistics, literature, religion, and psychology. 3. Language and Literature in Culture: Explores the interactions between language, literature, and culture in the context of cultural encounters. 4. Relationship between Language, Culture and Religion: Explores the deep connection between language, culture and religion.
Articles
166 Documents
BAHASA JAWA DIALEK BANTEN DALAM KOMUNIKASI INTRAPERSONAL
Siti Suharsih
Jurnal Bebasan Vol 7 No 1 (2020)
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Banten and Perkumpulan pengelola Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pengajarannya (PPJB-SIP).
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26499/bebasan.v7i1.104
Sebagai salah satu sarana mengekspresikan gagasan, komunikasi intrapersonal merujuk pada komunikasi dengan diri sendiri. Sebagai seorang penutur bahasa ibu, kita terkadang menggunakan bahasa ibu untuk berbicara dengan diri sendiri, atau mungkin saat berdoa, melalui komunikasi intrapersonal. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pilihan bahasa da lam komunikasi intrapersonal di antara penutur bahasa Jawa dialek Banten dan menjelaskan pengaruh variabel sosial dalam pilhan berbahasa. Penelitian dilakukan di wilayah Provinsi Banten dengan jumlah responden 340 penutur bahasa Jawa dialek Banten. Dengan menggunakan pendekatan sosiolinguistik, data diperoleh melalui sebaran kuesioner. Selanjutnya data dianalisis dengan membandingkan jawaban responden dan jumlah responden. Hasil analisis menunjukkan bahwa bahasa Jawa dialek Banten masih digunakan untuk komunikasi intrapersonal, khususnya saat sedang marah. Sebagai pengaruh variabel sosial dalam pilihan bahasa, responden yang paling banyak memilih menggunakan bahasa Jawa dialek Banten berusia 51—60 tahun (93,8%), laki-laki (82,82%), tidak lulus SD (95%) dan ASN (94,7%).
KONSEP PENAMAAN MAKANAN TRADISIONAL DALAM LEKSIKON RITUAL ARUH BAHARIN SUKU DAYAK HALONG: SEBUAH KAJIAN ETNOLINGUISTIK
Hestiyana
Jurnal Bebasan Vol 7 No 2 (2020)
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Banten and Perkumpulan pengelola Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pengajarannya (PPJB-SIP).
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26499/bebasan.v7i2.105
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan konsep penamaan makanan tradisional dalam leksikon ritual aruh baharin suku Dayak Halong dan mendeskripsikan makna semiotis makanan tradisional dalam leksikon ritual aruh baharin suku Dayak Halong. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan etnolinguistik. Data dalam penelitian ini berupa leksikon nama-nama makanan tradisional dalam ritual aruh baharin suku Dayak Halong dan makna semiotis makanan tradisional tersebut yang diperoleh dari tatuha adat suku Dayak Halong di Kabupaten Balangan. Penyediaan data diperoleh melalui metode simak, metode catat, studi dokumen, dan pustaka. Analisis data mencakup pendeskripsian konsep penamaan makanan tradisional dalam leksikon ritual aruh baharin berdasarkan warna, bahan, dan pinjaman dari bahasa lain. Makna semiotis makanan tradisional dianalisis dari aspek bentuk dan aspek arti serta dilihat dari sudut pandang sistem kepercayaan dan praktik aturan budaya suku Dayak Halong. Penyajian hasil analisis data menggunakan metode informal. Berdasarkan hasil analisis data, ditemukan 27 leksikon nama makanan tradisional. Dari 27 leksikon nama makanan tradisional dalam ritual aruh baharin tersebut, pemberian konsep penamaan dapat diklasifikasikan menjadi tiga kategori, yaitu berdasarkan warna, berdasarkan bahan (buah pisang, parutan kelapa muda, serta tepung beras dan tepung beras ketan), dan berdasarkan pinjaman dari bahasa lain. Adapun makna semiotis makanan tradisional dalam ritual aruh baharin mengacu kepada bahan-bahan dasar yang digunakan dan diperoleh dari hasil alam. Gula merah dimaknai sebagai makanan untuk darah manusia atau dianggap sebagai pengganti darah manusia. Air santan dimaknai sebagai lambang kesucian yang mengalir dalam darah manusia. Beras ketan dimaknai sebagai simbol kedekatan hubungan sesama manusia. Kemudian, daun pisang dan daun kelapa muda dimaknai sebagai lambang kehidupan suku Dayak Halong yang akan menuntun kehidupan manusia sebelum menuju kematian atau menghadap Sang Bahatara.
TERMINOLOGI NAMA PENYAKIT DALAM BAHASA LAMPUNG DIALEK A DESA NEGARA RATU DALAM KAJIAN ETNOLINGUISTIK
Roveneldo
Jurnal Bebasan Vol 7 No 2 (2020)
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Banten and Perkumpulan pengelola Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pengajarannya (PPJB-SIP).
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26499/bebasan.v7i2.106
Penelitian ini bertujuan untuk menginterpretasikan serta mendeskripsikan nama-nama penyakit dalam bahasa Lampung dialek A yang diusulkan menjadi kosakata bahasa Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Data berupa kosakata nama-nama penyakit dalam bahasa Lampung dialek A yang dikumpulkan dari Desa Negara Ratu, Kecamatan Sungkai Utara, Kabupaten Lampung Utara, Provinsi Lampung. Pengumpulan data mengunakan 206 kosa kata nama-nama penyakit dilakukan dengan teknik catat, teknik sadap mengunakan alat perekam, dan teknik simak libat cakap. Berdasarkan pembahasan ditemukan bahwa terdapat 206 nama-nama penyakit dan pengobatan yang terhimpun. Ada satu kata mengandung dua makna sangat berbeda seperti kata ngan-ngan ngilu ‘otot kaku’ dan ‘otot sakit’, kata, rimol ‘pelo’ dan ‘lumpuh bagian otot alat bicara’, ritol ‘langit-langit terbelah’ dan ‘cadel’. Terdapat 206 contoh kalimat nama penyakit bahasa Lampung diartikan bahasa Indonesia.
BENTUK DAN MAKNA TINDAK TUTUR PADA WACANA PEMILIHAN GUBERNUR SULAWESI TENGAH DAN WALIKOTA PALU
Tamrin
Jurnal Bebasan Vol 7 No 2 (2020)
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Banten and Perkumpulan pengelola Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pengajarannya (PPJB-SIP).
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26499/bebasan.v7i2.107
Setakat ini, penggunaan bahasa dalam tindak tutur, khususnya yang digunakan dalam berkampanye marak ditemui dalam spanduk. Bermacam-macam makna yang terkandung dalam tindak tutur tersebut cukup menarik untuk dianalisis dan diketahui. Demikian juga penggunaan bentuk tindak tutur pada wacana pemilihan Gubernur Sulawesi Tengah dan Wali Kota Palu 2020, berbagai macam makna sangat menarik untuk dikaji.Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan makna tindak tutur dalam spanduk kampanye pemilihan gubernur dan wakil gubernur Sulawesi Tengah dan pemilihan wali kota dan wakil wali kota Palu tahun 2020. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik observasi, foto rekam, dan pembuatan catatan.dan perekaman, kemudian dianalisis dengan menggunakan metode agih atau metode struktural. Hasil analisis menunjukkan bahwa bentuk tindak tutur pada spanduk pemilihan Gubernur Sulawesi Tengah dan Wali Kota Palu yaitu tindak tutur lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Makna yang terkandung pada tindak tutur bermakna memperkenalkan diri tanpa tendensi kepada mitra tutur, menginformasikan sesuatu yaitu progam kerja, dan melakukan sesuatu kepada mitra tutur, memeng memengaruhi mitra tutur untuk memilih mereka.
DISCOVERY LEARNING SEBAGAI ALTERNATIF MODEL PEMBELAJARAN PADA MATERI MENGIDENTIFIKASI DAN MENYIMPULKAN ISI TEKS PROSEDUR
Sakila
Jurnal Bebasan Vol 7 No 2 (2020)
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Banten and Perkumpulan pengelola Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pengajarannya (PPJB-SIP).
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26499/bebasan.v7i2.108
Penulisan ini dilatarbelakangi adanya permasalahan dalam pembelajaran mengidentifikasi dan menyimpulkan isi teks prosedur di kelas VII. Permasalahan itu berupa kesulitan siswa dalam mengidentifikasi dan menyimpulkan isi teks prosedur. Salah satu penyebabnya adalah guru yang belum menggunakan model yang tepat dalam pembelajaran. Penulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan langkah-langkah penggunaan model discovery learning dalam pembelajaran mengidentifikasikan dan menyimpulkan isi teks prosedur pada siswa kelas VII pada semester ganjil jenjang SMP. Masalah penulisan adalah bagaimana langkah-langkah penggunaan model discovery learning dalam pembelajaran mengidentifikasikan dan menyimpulkan isi teks prosedur. Untuk memecahkan masalah dan tujuan penulisan digunakan metode deskriptif dengan metode pengumpulan data studi kepustakaan. Hasil penulisan memberikan gambaran mengenai langkah-langkah penggunaan model discovery learning dalam pembelajaran mengidentifikasikan dan menyimpulkan isi teks prosedur. Dari hasil penulisan dapat disimpulkan bahwa penggunaan model discovery learning melalui langkah-langkah yang tepat dapat dijadikan salah satu alternatif untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam mengidentifikasi dan menyimpulkan isi teks prosedur di kelas VII.
SUBALTERNITAS DAN REPRESENTASI GANDA DALAM CERITA PENDEK “KALABAKA” KARYA IKSAKA BANU
Yuniardi Fadilah
Jurnal Bebasan Vol 7 No 2 (2020)
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Banten and Perkumpulan pengelola Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pengajarannya (PPJB-SIP).
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26499/bebasan.v7i2.109
Dalam cerpen “Kalabaka” yang berkisah tentang periode kolonial, permasalahan tentang penjajah dan yang terjajah selalu melibatkan pula permasalahan dikotomi Barat-Timur. Cerpen ini juga mempersoalkan tentang relasi kuasa, identitas, serta ruang. Terkait relasi kuasa antara penjajah dengan yang terjajah tersebut, kemudian, memunculkan peran antara yang dominan dan subaltern. Dalam hal ini, yang dominan tentu merupakan penjajah dan subaltern adalah pribumi yang terjajah. Persoalan seperti ini di dalam cerpen membuat penelitian ini menggunakan pandangan Gayatri Spivak tentang subalternitas dan representasi. Oleh karena itu, penelitian berusaha menjelaskan posisi subaltern yang dikonstruksikan oleh struktur cerpen serta peran representasi sebagai bentuk pelanggengan kolonialisme. Di dalam cerpen “Kalabaka”, subalternitas tercipta karena posisi dominan tokoh penjajah terhadap warga pribumi. Cara pandang Barat ini kemudian selalu memandang rendah Timur. Hal ini kemudian menyebabkan munculnya representasi-representasi yang mencoba mengisi posisitokoh Kalabaka serta masyarakat Banda oleh tokoh Belanda di dalam cerita.
THE ANALYSIS OF POSITIVE VERBAL REINFORCEMENT OF PRE-SERVICE TEACHER IN EFL CLASSROOM
Maria Fatima Kolo;
Imanuel Kamlasi
Jurnal Bebasan Vol 7 No 2 (2020)
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Banten and Perkumpulan pengelola Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pengajarannya (PPJB-SIP).
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26499/bebasan.v7i2.110
The objective of the study was to find out the types of positive verbal reinforcement used by an English pre-service teacher in the EFL classroom. The study used a qualitative method. This study involved an English teacher and students as participants. The researcher used tape video recording to get the data; transcription and codifying techniques were used to analyze the data. The result showed that the teacher used three types of verbal reinforcement namely words, phrases, and sentences. The researcher found out 27 words, 22 phrases, and 10 sentences of verbal reinforcement used by a teacher in the EFL classroom.
ALIH WAHANA DONGENG KE KOMIK DARING (WEBTOON)
Windy Mulia Jayanti;
Ahmad Bahtiar
Jurnal Bebasan Vol 7 No 2 (2020)
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Banten and Perkumpulan pengelola Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pengajarannya (PPJB-SIP).
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26499/bebasan.v7i2.111
Tulisan ini bertujuan untuk melihat bagaimana alih wahana dongeng ke dongeng ke dalam kartun dalam bentuk webtoon (komik daring). Data yang digunakan adalah dongeng klasik Bawang Putih Bawang Merah dan Timun Emas serta webtoon Mera Puti Emas karya Kathrinna Rakhmavika. Webtoon Mera Puti Emas dipilih karena cerita tersebut menggabungkan tokoh-tokoh dalam dongeng klasik Bawang Putih Bawang Merah dan Timun Emas. Oleh karena itu, tulisan kualitatif ini menggunakan metode karakteristik tokoh untuk mengungkapkan alih wahana tersebut. Temuan itulisan ini adalah alih wahana yang ditunjukkan mencakup nama-nama tokoh-tokoh dalam dongeng klasik tersebut berganti sehingga karakter mereka pun berubah meskipun dengan kadar yang berbeda. Perubahan lainnya ialah hadirnya tokoh-tokoh baru yang memengaruhi jalan cerita serta memunculnya nilai-nilai baru yang tidak terdapat dalam dongeng klasik tersebut.
MENELUSURI MAUT DAN CINTA KARYA MOCHTAR LUBIS: NASIONALISME DAN KARAKTER BANGSA
Nurweni Saptawuryandari
Jurnal Bebasan Vol 8 No 1 (2021)
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Banten and Perkumpulan pengelola Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pengajarannya (PPJB-SIP).
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26499/bebasan.v8i1.112
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana gagasan nasionalisme diungkapkan dalam karya sastra, khususnya novel Maut dan Cinta karya Mochtar Lubis. Penelitian ini menggunakan perspektif nasionalisme menurut Ben Anderson dengan pendekatan strukturalisme menurut Luxemburg. Upaya yang dilakukan untuk mengetahui gagasan nasionalisme melalui struktur naratif, antara lain, (a) cerita yang bertokoh dan berlatar masa revolusi Indonesia, (b) sikap, perilaku, dan gagasan tokoh, dan (c) deskripsi narator tokoh-tokoh yang ditampilkan. Melalui ketiga hal tersebut, terutama sikap dan perilaku yang ditampilkan akan mengasah empati, sekaligus mengasah budi pekerti sehingga akan tumbuh rasa nasionalisme dan karakter bangsa. Pengambilan data dilakukan melalui kepustakaan, yaitu dengan teknik simak dan catat isi novel yang menggambarkan masalah tersebut. Analisis data diawali dengan interpretasi nasionalisme dalam teks novel tersebut. Dari hasil penelitian diperoleh gambaran bahwa Maut dan Cinta mengungkapkan nasionalisme, yang secara tidak langsung dapat menumbuhkan karakter bangsa.
KEKERASAN SIMBOLIK DAN PERLAWANAN PEREMPUAN DALAM NOVEL MY LECTURER MY HUSBAND KARYA GITLICIOUS
Tania Intan
Jurnal Bebasan Vol 8 No 1 (2021)
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Banten and Perkumpulan pengelola Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pengajarannya (PPJB-SIP).
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26499/bebasan.v8i1.113
Penelitian ini bertujuan untuk membongkar dan membincangkan isu kekerasan simbolik dan perlawanan perempuan dalam novel My Lecturer My Husband karya Gitlicious. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan kritik sastra feminis. Data berupa kata, frasa, dan kalimat dikumpulkan dengan teknik simak catat setelah dilakukan pembacaan tertutup. Data selanjutnya diklasifikasi, diinterpretasi, dan dikaji dengan teori-teori yang relevan serta hasil dari penelitian terdahulu. Landasan teoretis utama yang diapropriasi berasal dari Bourdieu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kekerasan simbolik dalam novel My Lecturer My Husband berlaku pada tiga tataran yaitu akademis, pernikahan, dan keluarga. Kekerasan simbolik terjadi karena adanya ideologi patriarkis yang memberikan pengaruh dalam menentukan peran dan posisi perempuan sebagai pihak yang tersubordinasi. Perlawanan yang dilakukan tokoh perempuan dalam menghadapi kekerasan simbolik terutama berbentuk verbal (hujatan, nama panggilan, pembalikan kata) tanpa didukung dengan tindakan yang memadai sehingga tidak berdampak. Selain itu, perlawanan juga tidak efektif karena ada pertimbangan kepatuhan perempuan pada nilai tradisional dan rasa cinta pada pasangan.