cover
Contact Name
Astoni
Contact Email
anoterosjurnalteologi@gmail.com
Phone
+6282156454041
Journal Mail Official
anoterosjurnalteologi@gmail.com
Editorial Address
https://ojs.stt-pontianak.ac.id/index.php/anoteros/about/editorialTeam
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Anoteros: Jurnal Teologi
ISSN : 29881617     EISSN : 29881617     DOI : https://doi.org/10.66511/anoterosjt.v3i2
Anoteros: Jurnal Teologi is a peer-reviewed academic journal dedicated to the advancement of Christian theology and its applied disciplines. The term Anoteros, derived from the Greek word meaning excellent, superior, or preeminent, reflects the journal’s commitment to fostering theological scholarship of outstanding quality and relevance. The journal welcomes manuscripts presenting original research in Christian theology and Christian Education, contributed by lecturers, researchers, students, and practitioners engaged in theological and educational studies. Anoteros: Jurnal Teologi is published biannually, with issues released in January–June and July–December. All submitted manuscripts undergo an initial editorial screening followed by a rigorous double-blind peer review process conducted by experts in their respective fields. The journal aims to provide a platform for scholarly discourse, critical reflection, and innovative research contributing to the development of Christian theology in academic and practical contexts.
Articles 26 Documents
Pendampingan Self-Healing-Forgiveness Terhadap Perilaku Sosial Perempuan Hamil Sebelum Menikah Putri Wanny Anjelin; Tri Supartini
Anoteros: Jurnal Teologi Vol. 2 No. 1 (2024): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66511/anoterosjt.v2i1.66

Abstract

The purpose of this study is to explain self-healing-forgiveness assistance to the social behavior of pregnant women before marriage at GKII Bukit Hermon Mentarang Baru, North Kalimantan. The research method used in writing this research is a qualitative method. Several steps have been taken by the researcher starting from exploring through literature, among others, online thesis, journals, freelance articles related to the discussion in this study. Then the researcher carried out observations and conducted interviews. The respondent was a pregnant woman out of wedlock at GKII Bukit Hermon Mentarang Baru, North Kalimantan. The conclusion of this writing is that this self-healing-forgiveness assistance is to enable clients to release their past feelings that made them disappointed and hurt at that time by releasing all the emotions that have been pent-up all along. In each phase of self-healing-forgiveness that the client has done by answering every interview question asked by the author and if the client can answer it honestly and there is nothing to hide, then it can be concluded that each phase that has been carried out is successful and finally it can be known that the client has done self-healing-forgiveness can forgive themselves and forgive the perpetrators who have hurt the client and feel ashamed. As a result, clients can forgive themselves, their husbands and the people who have hurt them who used to have hurt the perpetrator. The achievement of forgiveness for perpetrators begins from within oneself who first forgives oneself and is aware of what has been done and repents to God.
Kajian Hermeneutik Tentang Frasa Tetaplah Kerjakan Keselamatanmu Berdasarkan Filipi 2:12-13 dan Implikasinya Bagi Kekristenan Angelina Gracesita Zagoto; Robi Panggarra
Anoteros: Jurnal Teologi Vol. 2 No. 1 (2024): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66511/anoterosjt.v2i1.67

Abstract

His study aims to examine the meaning of the phrase "Work Out Your Salvation" based on Philippians 2:12-13 and its implications for Christian life. Utilizing a qualitative research method grounded in hermeneutical principles and a general interpretive approach as outlined by Hasan Sutanto, the study focuses on the text of Philippians 2:12-13. Data were collected through a literature review, with the Bible serving as the primary source, and secondary sources including lexicons, commentaries, theological books, and articles from print and digital media. The findings reveal that the phrase "Work Out Your Salvation" emphasizes the importance of active participation in the process of living out the salvation that has been received. This salvation is not a final destination but an ongoing journey that requires dedication and effort. It involves transformation in mindset and behavior in accordance with the teachings of Christ, as well as engagement in church community life and social service. The implications of this study include the integration of Christian values into daily life and active contribution to community life. The study recommends deeper Bible study, the development of applicable training and educational programs to embody Christ's teachings, and the establishment of supportive church communities for spiritual growth. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna frassa “Tetaplah Kerjakan Keselamatanmu” berdasarkan Filipi 2:12-13 dan implikasinya bagi kehidupan kekristenan. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif berbasis prinsip hermeneutik serta pendekatan penafsiran umum menurut Hasan Sutanto, penelitian ini memusatkan perhatian pada teks Filipi 2:12-13. Data dikumpulkan melalui studi kepustakaan, di mana Alkitab digunakan sebagai sumber utama, sementara sumber sekunder mencakup kamu, tafsiran, buku-buku teologi, serta artikel dari media cetak maupun digital. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa frasa “Tetaplah Kerjakan Keselamatanmu” menyoroti pentingnya partisipasi aktif dalam prosses menjalani keselamatan yang telah diterima, yang bukan merupakan akhir tetapi sebuah perjalanan berkesinambungan yang membutuhkan dedikasi dan usaha. Hal ini mencakup perubahan pola pikir dan perilaku sesuai dengan ajaran Kristus, serta keterlibatan dalam kehidupam komunitas gereja dan pelayanan sosial. Implikasi dari penelitian ini meliputi nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan sehari-hari, serta kontribusi aktif dalam kehidupan komunitas. Penelitian ini merekomendasikan pendalaman dalam studi Alkitab, pengembangan program pelatihan dan pendidikan yang aplikatif untuk penghayatan ajaran Kristus, serta pembentukan komunitas gereja yang mendukung dalam perkembangan spiritual.
Transformasi Kualitas Pendidikan berdasarkan Mazmur 119:105 dalam Perencanaan Pembangunan Pendidikan Sharon Evangelica Manete; Hanoch Herkanus Hamadi
Anoteros: Jurnal Teologi Vol. 2 No. 1 (2024): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66511/anoterosjt.v2i1.68

Abstract

Education has a central role in improving the quality of human life. The Bible is the foundation for the implementation of quality education. This article explores the role discussed in Psalm 119:105 in serving as a spiritual foundation in planning educational development. This study discusses how the spiritual and moral values contained in God's word can transform the quality of education in the context of modern educational dynamics. The research method used is a qualitative approach with the study of biblical theology, which is related especially to Old Testament theology. The data collection techniques used are literature studies and hermeneutics. The transformation of the quality of education based on Psalm 119:105 in the planning of educational development is not only a methodological innovation, but also a search for meaning and values that can form a moral basis for society. By integrating these spiritual principles into planning, the education system is expected to produce a generation that is not only superior in knowledge but also solid in character, creating a strong foundation for a sustainable future. Pendidikan memiliki peran sentral dalam meningkatkan kualitas hidup manusia. Alkitab merupakan fondasi bagi pelaksanaan pendidikan yang berkualitas. Artikel ini menggali peran yang dibahas dalam Mazmur 119:105 berfungsi sebagai fondasi spiritual dalam merencanakan pembangunan pendidikan. Penelitian ini membahas bagaimana nilai-nilai spiritual dan moral yang terkandung dalam firman Tuhan dapat mentransformasi kualitas pendidikan dalam konteks dinamika pendidikan modern. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan dengan kajian teologi biblika, yang berkaitan khususnya dengan teologi Perjanjian Lama. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu studi pustaka dan hermeneutik. Transformasi kualitas pendidikan berdasarkan Mazmur 119:105 dalam perencanaan pembangunan pendidikan bukan hanya sekadar inovasi metodologis, tetapi juga pencarian makna dan nilai-nilai yang dapat membentuk dasar moral bagi masyarakat. Dengan mengintegrasikan prinsip-prinsip spiritual ini ke dalam perencanaan, sistem pendidikan diharapkan dapat melahirkan generasi yang tidak hanya unggul dalam pengetahuan tetapi juga kokoh dalam karakter, menciptakan fondasi yang kuat untuk masa depan yang berkelanjutan.
Strategi Misi Gereja Dalam Upaya Menjangkau Remaja Pemuda Bagi Kristus Di Tengah Tantangan Pelayanan Pada Era Digital Daud Sekius
Anoteros: Jurnal Teologi Vol. 2 No. 1 (2024): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66511/anoterosjt.v2i1.69

Abstract

Youth ministry is still often overlooked, as they face complex social problems and the dynamics of the digital age, so a strategic study of the church's mission model is needed that is relevant and contextual. This article outlines and formulates the church's mission strategy to reach young people for Christ in the midst of the challenges of the digital age. The method used is qualitative research based on literature research with content analysis, combined with a theological reflection approach to literature and biblical texts. The research found the need for youth organization, incarnation service models, active involvement of young people, counseling, as well as the use of worship, small groups, multimedia, and various social-educational activities. The Church needs to develop a comprehensive and ongoing mission strategy for young men to grow into spiritually mature, responsible, and God-glorifying individuals. Pelayanan remaja pemuda masih sering terabaikan, sementara mereka menghadapi masalah sosial kompleks dan dinamika era digital, sehingga diperlukan kajian strategis tentang model misi gereja yang relevan dan kontekstual. Artikel ini menguraikan dan merumuskan strategi misi gereja untuk menjangkau remaja pemuda bagi Kristus di tengah tantangan era digital. Metode yang digunakana adalah penelitian kualitatif berbasis riset kepustakaan dengan analisis isi, dipadu pendekatan refleksi teologis terhadap literatur dan teks Alkitab. Penelitian menemukan kebutuhan pengorganisasian remaja, model pelayanan inkarnasi, pelibatan aktif kaum muda, konseling, serta pemanfaatan ibadah, kelompok kecil, multimedia, dan berbagai kegiatan sosial-edukatif. Gereja perlu mengembangkan strategi misi komprehensif dan berkelanjutan agar remaja pemuda bertumbuh menjadi pribadi rohani yang dewasa, bertanggung jawab, dan memuliakan Allah.
Peran Roh Kudus Dalam Memberikan Kemampuan Untuk Mengasihi Berdasarkan Roma 12:20 Oktario Johan Pratama; Enggar Objantoro
Anoteros: Jurnal Teologi Vol. 2 No. 2 (2024): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66511/anoterosjt.v2i2.70

Abstract

Love of the enemy is a central teaching in the Christian faith that challenges human faculties. This study explores how the Holy Spirit enables believers to love, even to those who have hurt or hurt them, according to the teachings of Romans 12:20. Using a qualitative literature study method through an analysis of academic and biblical literature, this study identifies three main roles of the Holy Spirit: providing inner strength beyond human capabilities, transforming a hardened heart into compassion, and enabling tangible action that brings peace. The research also uncovered three major challenges in ego love and self-esteem, the desire to expect return, and the difficulty of forgiving that can be overcome through the power of the Holy Spirit. The findings show that love for the enemy is not just a moral demand but a spiritual call that can be practically realized in the daily lives of believers. In conclusion, the Holy Spirit plays a crucial role in transforming the human heart so that it can present the love of Christ as a witness of life in a middle world full of conflict and continuity. Kasih kepada musuh merupakan ajaran sentral dalam iman Kristen yang menantang kemampuan manusia. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana Roh Kudus memampukan orang percaya untuk mencintai, bahkan kepada mereka yang telah menyakiti atau menyakiti mereka, sesuai dengan ajaran Roma 12:20. Dengan menggunakan metode studi kepustakaan kualitatif melalui analisis literatur akademik dan alkitabiah, penelitian ini mengidentifikasi tiga peran utama Roh Kudus: memberikan kekuatan batin yang melampaui kemampuan manusia, mengubah hati yang keras menjadi penuh belas kasih, dan memampukan tindakan nyata yang membawa damai. Penelitian juga mengungkap tiga tantangan utama dalam cinta ego dan harga diri, keinginan mengharapkan balasan, dan kesulitan mengampuni yang dapat diatasi melalui kekuatan Roh Kudus. Temuan menunjukkan bahwa kasih kepada musuh bukan sekadar tuntutan moral tetapi panggilan spiritual yang dapat diwujudkan secara praktis dalam kehidupan sehari-hari orang percaya. Kesimpulannya, Roh Kudus berperan krusial dalam mentransformasi hati manusia sehingga dapat menghadirkan kasih Kristus sebagai kesaksian hidup di dunia tengah yang penuh konflik dan kesinambungan.
Teologi Persekutuan Jemaat dalam Era Digital: Tinjauan Kepustakaan Ndawa Kaborang
Anoteros: Jurnal Teologi Vol. 2 No. 2 (2024): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66511/anoterosjt.v2i2.71

Abstract

This article examines the theology of congregational fellowship in the digital era through a literature-based study. Digital transformation has influenced how churches communicate, participate, and experience community. These changes prompt a key question: how should koinonia be understood when fellowship takes place both in church buildings and on digital platforms? The literature indicates that digital space functions not only as a technological tool but also as a relational setting that shapes how presence, belonging, and the body of Christ are perceived. Digitalization can widen access and participation, especially for individuals facing distance or mobility constraints. However, increased connectivity does not automatically strengthen relationships without theological and pastoral guidance. Therefore, congregational fellowship in digital environments requires a balance between classical understandings of koinonia and contemporary socio-technological realities. This study encourages churches to rethink ministry, communication, and spiritual formation so that their identity as the body of Christ remains intact amid ongoing digital change. Artikel ini mengkaji teologi persekutuan jemaat dalam konteks era digital melalui pendekatan studi kepustakaan. Transformasi digital menghadirkan perubahan penting dalam kehidupan gereja, terutama terkait komunikasi, partisipasi, dan pengalaman kebersamaan. Ruang digital tidak hanya berfungsi sebagai sarana teknis, tetapi menjadi ruang relasional yang membentuk cara jemaat hadir, berinteraksi, dan memahami diri sebagai tubuh Kristus. Digitalisasi membuka peluang untuk memperluas akses dan keterlibatan, khususnya bagi jemaat yang mengalami keterbatasan geografis maupun situasional. Namun, perlu dicatat bahwa percepatan interaksi digital juga berpotensi mengurangi kedalaman relasi dan pembentukan spiritual jika tidak diintegrasikan secara teologis dan pastoral. Oleh sebab itu, persekutuan jemaat di era digital menuntut keseimbangan antara pemahaman klasik mengenai koinonia dan dinamika sosial‐teknologis masa kini. Kajian ini mendorong gereja untuk merumuskan kembali pola pelayanan, komunikasi, dan pembentukan iman agar tetap setia pada identitas eklesialnya di tengah perubahan digital.
Teologi Lingkungan Berbasis Kearifan Lokal: Landasan Alkitabiah untuk Konservasi Alam Welikinsi Welikinsi
Anoteros: Jurnal Teologi Vol. 3 No. 1 (2025): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66511/anoterosjt.v3i1.72

Abstract

Preachers play a central role in church life because, through their sermons, God's Word is proclaimed and applied to the congregation. However, modern challenges have given rise to a character crisis among preachers, resulting in a decline in the quality of their preaching and the growth of their congregation's faith. This study aims to examine the characteristics of biblical preachers based on 1 Timothy 3:1–7 and analyse their influence on the effectiveness of their ministry. This study used a qualitative method with a literature approach through the study of the Bible, relevant books, and theological journals. The results indicate that the characteristics of preachers according to 1 Timothy 3:1–7 include living a morally blameless life, being competent to teach, not being a lover of money, being faithful in marriage, being spiritually mature, having self-control, and having a good testimony. These characteristics serve as important normative standards for restoring the quality of church ministry and the growth of their congregation's faith.   Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran umum mengenai fondasi teologis terhadap kearifan lokal sebagai upaya pemeliharan lingkungan. Latar belakang dari penelitian ini yaitu karena terjadinya kerusakan lingkungan alam akibat dari antroposentrik manusia yang mengekploitasi lingkungan alam secara berlebihan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Hasil tulisan atau penelitian ini yaitu untuk menyeimbangkan lingkungan alam agar tidak semakin rusak, maka perlu menumbuhkan kembali kesadaran dengan memberikan pemahaman yang benar tentang fondasi teologis terhadap kearifan lokal supaya manusia peduli terhadap lingkungan.  Hal ini berdampak dalam upaya mengurangi resiko bencana seperti mencegah lonsor dan banjir, terjaganya keutuhan sumber daya alam, terjaganya fungsi hutan yang merupakan paru-paru kehidupan, serta semua makhluk hidup yang ada. Sehingga fondasi teologis terhadap kearifan lokal berdampak positif terhadap pemeliharaan lingkungan.
Karakteristik Seorang Pengkhotbah Menurut I Timotius 3:1-7 Otniel Pratama Siagian; Hariyanto Hariyanto; Mulyani Susana; Daud Margiat; Ronio Otniel Panggabean
Anoteros: Jurnal Teologi Vol. 3 No. 1 (2025): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66511/anoterosjt.v3i1.73

Abstract

Preachers play a central role in church life because through their sermons, God's Word is proclaimed and applied to the congregation. However, modern challenges have given rise to a character crisis among preachers, resulting in a decline in the quality of their preaching and the growth of their congregation's faith. This study aims to examine the characteristics of biblical preachers based on 1 Timothy 3:1–7 and analyze their influence on the effectiveness of their ministry. This study used a qualitative method with a literature approach through the study of the Bible, relevant books, and theological journals. The results indicate that the characteristics of preachers according to 1 Timothy 3:1–7 include living a morally blameless life, being competent to teach, not being a lover of money, being faithful in marriage, being spiritually mature, having self-control, and having a good testimony. These characteristics serve as important normative standards for restoring the quality of church ministry and the growth of their congregation's faith. Pengkhotbah memiliki peran sentral dalam kehidupan gereja karena melalui khotbah Firman Tuhan diberitakan dan diaplikasikan bagi jemaat. Namun, tantangan zaman modern telah memunculkan krisis karakter di kalangan pengkhotbah yang berdampak pada menurunnya kualitas pelayanan khotbah dan pertumbuhan iman jemaat. Penelitian ini bertujuan mengkaji karakteristik pengkhotbah yang Alkitabiah berdasarkan I Timotius 3:1–7 serta menganalisis pengaruhnya terhadap efektivitas pelayanan Firman. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan melalui studi Alkitab, buku, dan jurnal teologi yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa karakteristik pengkhotbah menurut I Timotius 3:1–7 meliputi hidup tidak bercacat secara moral, cakap mengajar, tidak hamba uang, setia dalam pernikahan, dewasa rohani, berpenguasaan diri, dan memiliki kesaksian yang baik. Karakter tersebut menjadi standar normatif yang penting bagi pemulihan kualitas pelayanan gereja dan pertumbuhan iman jemaat.
Pengaruh Penerapan Nilai-Nilai Kristiani Terhadap Karakter Siswa SMP Mardi Waluyo Mihardo Saputro; Sri Wahyuni; Ruth Mbooh; Alexius Adam; Fajar Kurnia Harefa
Anoteros: Jurnal Teologi Vol. 3 No. 1 (2025): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66511/anoterosjt.v3i1.74

Abstract

This study aims to analyze the role of Christian Religious Education in instilling Christian values ​​and its influence on character formation in students at Mardi Waluyo Junior High School, Cibinong. The research background is based on the importance of Christian character education amidst the challenges of adolescence, such as identity crises, negative social influences, and moral degradation. This study used a quantitative approach with a survey method using a closed-ended Likert-scale questionnaire. The sample consisted of 200 seventh and eighth grade students selected using Krejcie and Morgan tables. The research instrument met validity and reliability tests. Data analysis using simple linear regression showed that the application of Christian values ​​had a positive effect on student character, with a significance value of 0.000 and an influence coefficient of 25.5%. Although the effect is relatively low, the results of this study confirm that Christian Religious Education contributes to the formation of students' Christian character, necessitating strengthening through synergy between the school, family, and social environment.   Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Pendidikan Agama Kristen dalam menanamkan nilai-nilai Kristiani serta pengaruhnya terhadap pembentukan karakter peserta didik SMP Mardi Waluyo, Cibinong. Latar belakang penelitian didasarkan pada pentingnya pendidikan karakter Kristen di tengah tantangan remaja berupa krisis identitas, pengaruh lingkungan sosial negatif, dan degradasi moral. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei melalui angket tertutup skala Likert. Sampel penelitian berjumlah 200 peserta didik kelas VII dan VIII yang dipilih menggunakan tabel Krejcie dan Morgan. Instrumen penelitian telah memenuhi uji validitas dan reliabilitas. Analisis data menggunakan regresi linier sederhana menunjukkan bahwa penerapan nilai-nilai Kristiani berpengaruh positif terhadap karakter peserta didik dengan nilai signifikansi 0,000 dan koefisien pengaruh sebesar 25,5%. Meskipun pengaruhnya tergolong rendah, hasil penelitian ini menegaskan bahwa Pendidikan Agama Kristen berkontribusi dalam pembentukan karakter Kristen peserta didik, sehingga perlu penguatan melalui sinergi sekolah, keluarga, dan lingkungan sosial.
Peran Gembala Sidang Sebagai Pendidik Dalam Pertumbuhan Rohani Jemaat Okta Kristiani; Riniwati Riniwati
Anoteros: Jurnal Teologi Vol. 3 No. 1 (2025): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66511/anoterosjt.v3i1.75

Abstract

This article aims to analyze the role of the congregational pastor as an educator in the spiritual growth of the congregation, by placing the pastoral task explicitly within the framework of Christian education and the spiritual formation of the congregation. This research uses a descriptive qualitative method through a literature study of articles in the journal of Christian theology and Religious Education published in 2020–2024, as well as normative theological reflection on relevant biblical texts. The results of the study show that the role of the shepherd as an educator is manifested in at least three main dimensions: (1) the shepherd as a teacher of the Word who shapes the knowledge, attitudes, and practices of the faith of the congregation; (2) pastors as designers and managers of the spiritual formation process through various programs and strategies of congregational education; and (3) the pastor as a spiritual guide and example who accompanies the church in the process of personal and communal faith maturation. This article proposes a conceptual framework of the role of the pastor as an educator that can serve as a reference for churches and theological educational institutions in preparing pastors of the congregation who are able to facilitate the spiritual growth of the congregation in a sustainable manner.   Artikel ini bertujuan menganalisis peran gembala sidang sebagai pendidik dalam pertumbuhan rohani jemaat, dengan menempatkan tugas penggembalaan secara eksplisit dalam kerangka pendidikan Kristen dan formasi rohani jemaat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui studi pustaka terhadap artikel-artikel jurnal teologi dan pendidikan agama Kristen terbitan 2020–2024, serta refleksi teologis normatif atas teks-teks Alkitab yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa peran gembala sebagai pendidik terwujud sedikitnya dalam tiga dimensi utama: (1) gembala sebagai pengajar Firman yang membentuk pengetahuan, sikap, dan praktik iman jemaat; (2) gembala sebagai perancang dan pengelola proses pembinaan rohani melalui berbagai program dan strategi pendidikan jemaat; dan (3) gembala sebagai pembimbing dan teladan rohani yang menyertai jemaat dalam proses pendewasaan iman secara personal dan komunal. Artikel ini mengusulkan suatu kerangka konseptual peran gembala sebagai pendidik yang dapat menjadi acuan bagi gereja dan lembaga pendidikan teologi dalam mempersiapkan gembala-gembala jemaat yang mampu memfasilitasi pertumbuhan rohani jemaat secara berkelanjutan.

Page 2 of 3 | Total Record : 26