cover
Contact Name
Lutfia Okta Riwayati
Contact Email
lutfiakta8@gmail.com
Phone
+6285643145048
Journal Mail Official
lutfiakta8@gmail.com
Editorial Address
Karawitan Department, Faculty of Performing Art Indonesian Institute of the Arts, Surakarta, Indonesia Jl. Ki Hajar Dewantara No.19, Jebres, Kec. Jebres, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57126
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi
ISSN : 14122065     EISSN : 27146367     DOI : https://doi.org/10.33153/keteg.v25i1.7302
Core Subject :
Focus And Scope Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi is a peer-reviewed, open-access journal advancing the study of sound, music, and performing arts. We exclusively publish high-quality, original research and review articles that demonstrate significant scientific novelty, supported by a clear state-of-the-art and gap analysis. We welcome both empirical and practice-based/practice-led research. Our core scope includes, but is not limited to: Sound Studies & Acoustics: Multidisciplinary research on auditory culture, soundscapes, and the physical/technological aspects of music. Ethnomusicology & Cultural Studies: Critical analysis of sound and music within socio-cultural and historical contexts. Karawitanologi & Traditional Performing Arts: In-depth studies on Indonesian traditional music, including its education, history, aesthetics, and organology. Contemporary Arts & Composition: Research on modern musical composition, contemporary performance, and creative processes. Keteg strongly encourages interdisciplinary approaches, inviting global scholars and practitioners to enrich the academic discourse on "sound" in all its dimensions.
Arjuna Subject : -
Articles 189 Documents
SUKON WULON DALAM TEMBANG MACAPAT: STUDI KASUS TEMBANG ASMARANDANA S., Suyoto
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 16 No. 1 (2016)
Publisher : Surakarta: Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v16i1.1771

Abstract

Tembang Jawa, baik tembang gedhé, tembang tengahan, maupun tembang macapat, masing-masing memilikiaturan sendiri-sendiri, baik lagu maupun teks. Bahasa tembang, dalam budaya Jawa disebut ‘basapinathok’, artinya bahasanya sudah ditentukan formatnya, sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa tembang,seperti: gatra, guru wilangan, dan guru lagu. Tembang Jawa telah mengalami perubahan yang cukupsignifikan, baik aturan guru gatra, guru lagu maupun guru wilangan, termasuk peng-golongan tembang.Girisa duhulu digolongkan tembang gedhé, sekarang digolongkan tembang tengahan. Gambuh dan Megatruhdahulu digolongkan tembang tengahan, sekarang digolongkan menjadi tembang macapat. Jumlah gatradalam tembang tengahan Balabak yang dahulu terdiri dari 4 gatra, sekarang menjadi 6 gatra. Perubahanguru lagu tembang Mijil pada gatra ke dua, dahulu jatuh é, sekarang o. Tembang Macapat Asmarandana,tepatnya di gatra ke tiga jatuhnya guru lagu bisa ‘è’ bisa ‘o’. Perlu ketahui bahwa diantara tanda atausimbol bunyi vokal dalam aksara Jawa, ada salah satu simbol bunyi yang terdiri dari dua tanda menyadisatu rangkaian, yaitu taling ( ) dan tarung ( ). Tarung tidak bisa berdiri sendiri, artinya tarung tanpataling tidak akan bisa berbunyi ‘o‘. Ketika menghendaki bunyi ‘o’ tidak bisa secara mandirimenggunakan tarung saja, maka taling tarung merupakan rangkaian tanda yang tidak dapat dipisahkanketika menghendaki bunyi ‘o’, dan tanda taling sangat berpengaruh besar terbentuknya bunyi ‘o’.Satu-satunya sandhangan yang terdiri dari dua tanda menjadi satu rangkaian hanya taling dan tarung.Oleh karena itu sangat logis bahwa vokal ‘o’ dapat digantikan dengan vokal ‘é’. Hal ini tidak menutupkemungkinan berlaku untuk tembang lain yang memiliki permasalahan yang sama. Perkembanganselanjutnya Asmarandana digunakan untuk båwå, yaitu: Båwå Langgam Sri Uning, Cengkir wungu, Babonangrem, Jaka lola dan lain sebagainya. Asmarandana menjadi gending, yaitu: ladrang Asmarandana larassléndro pathet manyura. Asmarandana juga digunakan untuk ada-ada sléndro nem dalam wayang klithik,untuk palaran, untuk cakepan sindhènan gendhing sekar, untuk cakepan géronganKata kunci: tembang, sukon wulon, dan cakepan.
AKUSTIKA RESONATOR PADA GAMELAN P., Panggiyo
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 15 No. 1 (2015)
Publisher : Surakarta: Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v15i1.2023

Abstract

Hasil penelitian tentang gamelan sudah banyak dilakukan oleh para peneliti. Sebagian besar berupa kajian tentang notasi gending, teknik garap ricikan, patet, laras, notasi tembang, gerongan, sindenan dan lain-lain. Namun demikian, penelitian yang secara khusus mengupas perihal bunyi pada gamelanbelum pernah dilakukan sebelumnya. Tulisan ini menjelaskan tentang hal-hal yang berkaitan dengan bunyi pada gamelan. Terdapat tiga unsur pokok terjadinya bunyi, yakni sumber bunyi, zat penghantar dan indera pendengar. Terkait dengan instrumen gamelan yang memiliki keanekaragaman jenis danbentuk, maka bunyi yang dihasilkan masing-masing instrumen gamelan memiliki perbedaan. Hal ini terkait juga pada salah satu unsur fisik yang dapat dilihat secara kasat mata yakni resonator. Pada hakekatnya cara kerja resonator adalah turut bergetarnya tabung atau kotak resonator, berfungsi memperbesar amplitudo sehingga menimbulkan bunyi yang lebih keras atau nyaring. Proses inilah yang kemudian mengantarkan peneliti ke dalam permasalahan tentang akustika resonator yang terdapat pada masing-masing jenis ricikan gamelan.Kata kunci: akustika, resonator, gamelan.
MUNGGUH DALAM GARAP KARAWITAN GAYA SURAKARTA: SUBJEKTIFITAS PENGRAWIT DALAM MENGINTERPRETASI SEBUAH TEKS MUSIKAL Bambang Sosodoro
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 15 No. 1 (2015)
Publisher : Surakarta: Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v15i1.2025

Abstract

Pada hakikatnya, tulisan ini mengkaji sebuah konsep yang terkandung dalam garap karawitan gaya Surakarta, yakni mungguh. Secara prinsip, masyarakat karawitan Jawa memaknai mungguh sebagai persoalan yang menyangkut tentang etika-estetika, nilai-nilai keindahan, dan keidealan pengrawitdalam menyikapi ricikannya. Mulai dari sikap duduk menabuh, teknik memainkan atau menyuarakan instrumen, hingga ke persoalan musikal, yakni garap gendhing atau instrumen. Mungguh adalah bahasa Jawa yang berarti: patut atau pantes, manggon, trep, gathuk, dan penak (pantas, sesuai pada tempatnya, pas, cocok, dan enak). Studi ini mengkaji secara tekstual, yaitu menempatkan karawitan Jawa sebagai sebuah teks (musikal), artinya sesuatu yang perlu dibaca dan ditafsir. Adapun fokusnya adalah menyoroti perkembangan mungguh pada garap, berikut pandangan-pandangan oleh para pengrawit khususnya di Surakarta. Kelenturan jenis musik ini menawarkan sejumlah alternatif garap, maka tidak mengherankan jika muncul banyak perbedaan pandangan, keyakinan, dan selera di antara para pengrawit. Dalam menggarap gendhing “klasik”, sebagian besar pengrawit selalu mempertimbangkan konsep-konsep estetika Jawa, salah satunya ialah mungguh. Mungguh sesungguhnya adalah persoalan kebiasaan, kelaziman garap yang telah mapan, disepakati secara kolektif oleh masyarakat karawitanJawa. Bahkan, sifatnya sangat subyektif dan terikat oleh ruang dan waktu. Untuk mengungkap dan mengkaji konsep mungguh, diperlukan konsep garap. Konsep tersebut dipandang cukup relevan, karena pada hakikatnya mungguh adalah konsep estetika yang selalu melekat dan terkandung dalam konsepgarap itu sendiri. Dalam penerapannya, konsep garap tersebut dielaborasi sesuai dengan tujuan dan kebutuhan penelitian ini, sehingga terwujud sebuah model baru.Kata Kunci: mungguh, garap, subyektifitas.
PROSES AMPLIFIKASI GAMELAN JAWA DALAM PERGELARAN KARAWITAN Iwan Budi Santoso
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 15 No. 1 (2015)
Publisher : Surakarta: Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v15i1.2027

Abstract

Pergelaran seni merupakan ajang bagi seniman pertunjukan yang dipertontonkan kepada masyarakat untuk mendapatkan apresiasi. Ketika pergelaran seni di hadirkan kepada masyrakat, biasanya selalumelibatkan berbagai unsur pertunjukan. Unsur-unsur tersebut mempunyai peran dan tanggungjawab yang berbeda-beda. Salah satu unsur pertunjukan adalah hadirnya musik sebagai pendukung pertunjukan seni yang lainnya, atau justru musik hadir sebagai konser mandiri. Peran musik dalam pergelaran seni juga membutuhkan peran unsur lainnya. Unsur tesebut adalah kebutuhan akan adanya proses amplifikasi yang digunakan untuk menguatkan bunyi instrumen musik oleh penata suara. Secara khusus pada kasus pertunjukan musik karawitan yang menggunakan gamelan Jawa selalu banyak kekurangan dalam proses amplifikasi. Hal ini karena kurangnya pemahaman terhadap musikkarawitan dengan gamelan Jawa. Jika musik karawitan dapat dipahami oleh para sound engineer, maka pergelaran seni dengan musik gamelan Jawa akan berhasil dengan baik.Kata Kunci: Pergelaran Karawitan, Gamelan Jawa, amplifikasi.
TEMBANG MACAPAT DALAM PENGEMBANGAN BENTUK MUSIKALNYA D., Darsono
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 15 No. 1 (2015)
Publisher : Surakarta: Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v15i1.2029

Abstract

Tembang macapat merupakan salah satu karya sastra Jawa yang pernah mengalami jaman keemasan sekitar abad XVIII. Secara instrinsik mengandung dua unsur seni yaitu seni sastra dan seni musik (suara). Dari segi musikalnya, tembang macapat memiliki ciri-ciri di antaranya: lagu dan cengkoksederhana, tempo sedang, perubahan laya mendukung cerita, artikulasi yang jelas, ritme yang mendukung isi dan suasana cerita dan pernapasan diatur sesuai dengan isi kalimat dan tidak memutus kata. Meskipun demikian, sejalan dengan perkembangan seni karawitan, tembang macapat tidak sekedar memenuhi ciri-ciri tersebut, melainkan juga mengalami beberapa pengembangan dari segibentuk dan rasa musikalnya.Kata kunci: pengembangan, musikal, macapat.
KONVENSI-KONVENSI DALAM PEMENTASAN KARAWITAN KLENENGAN TRADISI GAYA SURAKARTA S., Sukamso
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 15 No. 1 (2015)
Publisher : Surakarta: Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v15i1.2031

Abstract

Karawitan atau seni gamelan telah ada setidaknya sejak zaman pemerintahan Kerajaan Kediri, hingga sampai dengan pemerintahan Raja Paku Buwono X di Keraton Kasunanan Surakarta seni karawitan telah mencapai bentuknya yang sempurna baik di aspek: wangun (wujud) dan ukuran instrumen, panjang-pendek empuk–atos suara (nada), bentuk gending, garap kendangan, garap cengkok, garap instrumen, serta aturan-aturan dalam penyajian gendingnya. Seni Karawitan Gaya Surakarta sejak dulu sampai sekarang hidup dalam budaya lisan, sehingga sampai sekarang tidak satupun komposisi gending yang ditulis secara partitur. Begitu juga halnya aturan-aturan yang berlaku dalam duniaKarawitan Gaya Surakarta hanya bersifat kesepakatan. Oleh karenanya, perlu diadakan suatu kajian guna mengungkap mengenai aturan-aturan yang berlaku dalam dunia Karawitan Gaya Surakarta. Melalui pendekatan etnomusikologi, pendekatan karawitanologi, pendekatan fungsi, serta pendekatangarap dapat diketemukan, bahwa di dalam pementasan karawitan terdapat aturan-aturan atau konvensi-konvensi yang mengikat dan perlu diperhatikan pengrawit di dalam penggarapan gending.Kata kunci: Karawitan gaya Surakarta, budaya lisan, penggarapan, konvensi.
VOKAL DALAM KARAWITAN GAYA SURAKARTA (Studi Kasus Kehadiran Kinanthi dalam Gending) S., Suyoto; Timbul Haryono
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 15 No. 1 (2015)
Publisher : Surakarta: Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v15i1.2033

Abstract

Dalam karawitan gaya Surakarta terdapat dua unsur penting, yaitu: instrumen dan vokal. Instrumen adalah sumber bunyi yang dapat menimbulkan nada-nada, sedangkan vokal adalah bunyi atau nadanada yang ditimbulkan dari suara manusia.Vokal dalam karawitan dimaksud antara lain: sindhènan, båwå, gerong, senggakan, dan alok, yang kehadirannya tidak lain untuk menambah indahnya sajian karawitan. Dalam vokal juga terdapat dua hal penting yaitu lagu dan teks. Kehadiran teks yang berujud bahasa itu biasanya dalam bentuk tembang atau cakepan yang lain. Kedudukan teks (cakepan) ada kalanya lebih penting dari instrument, atau setidaknya sejajar dengan instrument dalam perangkatgamelan. Seperti misal pada karawitan agamis, keberadaan text adalah lebih penting daripada instrumen. Gending-gending yang menggunakan cakepan khusus, seperti gending karya Mangkunegara IV, yang semuanya tertata, mulai dari båwå sampai pada cakepan gérong.Teks yang digunakan dalamgending tradisi pada umumnya dipilih dari beberapa alternatif karya sastra yang ada, artinya tidak ada keharusan, apalagi kemutlakan dalam penggunaannya, misalnya cakepan tertentu untuk gending tertentu. Hampir 90% teks Kinanthi diakses sebagai cakepan gerongan gending yang memiliki garap vokal. Penggunaan Kinanthi sebagai gérongan sudah barang tentu didasarkan atas beberapa pertimbangan, antara lain: 1) Kinanthi terdiri 6 gatra,2) memiliki guru wilangan setiap gatra 8 suku kata, sehingga dengan gatra, guru wilangan yang genap akan lebih mudah penerapannya ke dalam gending. Selain Kinanthi sebagai cakepan gérong juga digunakan di dalam cakepan båwå, yaitu, båwåSekar Macapat Kinanthi Mintajiwa, laras slendro pathet manyura, båwå Sekar Macapat Kinanthi céngkok Sekar Gadhung, laras slendro pathet manyura. Kinanthi menjadi gending,yaitu:Kinanthi Sandhung, ketawanglaras slendro pathet manyura, Kinanthi Pawukir, ketawang laras slendro pathet manyura, dan Kinanthi Subakastawa, ketawang laras slendro pathet sanga.Sekar Kinanthi juga digunakan untuk ådå-ådå dalam wayangpurwa, untuk palaran dalam klenengan, untuk cakepan sindhènan dalam gending sekar.Kata kunci: Kinanthi, båwå, gérong, dan gending.
MEMBANGUN KONSEP NUMPANG: SALAH SATU UNSUR SISTEM PELARASAN GAMELAN AGENG DALAM KARAWITAN JAWA GAYA SURAKARTA Dandun Danurwendo
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 15 No. 1 (2015)
Publisher : Surakarta: Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v15i1.2035

Abstract

Tulisan ini menjelaskan salah satu konsep yang terdapat pada masyarakat seniman karawitan tradisi Jawa yaitu konsep numpang. Konsep numpang yang dimaksud merupakan posisi dan interaksi antar nada sehingga menghasilkan toleransi nada pada sistem pelarasan gamelan di Nusantara khususnyagamelan ageng Jawa. Numpang diartikan dengan nada yang timbul dari instrumen gamelan yang lebih tinggi dari nada fundamentalnya. Tulisan ini berusaha memaparkan unsur pembentuk konsep numpang. Konsep numpang pada awalnya teridentifikasi pada pelarasan instrumen rebab. Kemudiansetelah diamati secara seksama, konsep numpang terdapat pada sistem pelarasan gamelan ageng Jawa. Numpang menjadi salah satu unsur sistem pelarasan gamelan ageng Jawa. Unsur dalam konsep numpangsendiri dibagi menjadi dua, yaitu perabot fisik dan perabot non fisik. Pada perabot fisik terdiri dari instrumen berdawai dan instrumen non dawai. Instrumen non dawai yang dimaksud adalah instrumen yang memiliki tangga nada. Pada perabot non fisik terdiri dari tiga sub, yaitu: (a) nada pokok; (b)kepekaan atas pelarasan; (c) karakter pengrawit dan pelaras. Tulisan ini juga memaparkan salah satu contoh penggunaan konsep numpang pada instrumen gender dalam jangkah satu gembyang nada.Kata Kunci: Numpang, sistem pelarasan, Gamelan Ageng Jawa.
DINAMIKA KARAWITAN KARATON SURAKARTA MASA PEMERINTAHAN PAKU BUWANA X DAN PAKU BUWANA XI: Suatu Komparasi Historis Joko Daryanto
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 17 No. 1 (2017)
Publisher : Surakarta: Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v17i1.2381

Abstract

AbstractThe reign of Paku Buwana II marked the beginning of the long journey of Karawitan Karaton Surakarta. One important phase in this journey was the era of Paku Buwana X and Paku Buwana XI. During the reign of Paku Buwana X, karawitan inside the karaton (palace) thrived and even became the focal point or center of karawitan, being recognized for its complex and refined style, its unique performance style, and its extraordinary allure in terms of its inventiveness, garap, and presentation. The height of its golden era during the time of Paku Buwana X was marked by the special attention given to various kinds of garap gending, instrumental playing patterns, and the development of wilet. After Paku Buwana X’s death, Paku Buwana XI was seemingly powerless to maintain the former glory of karawitan Karaton Surakarta throughout his reign. This was due to the declining social, political, and economic situation inside the karaton, as well as other external factors. The policies of the Dutch colonial government reduced the area over which the karaton had power, lowered its level of autonomy, restricted the king’s movement, and enforced a new political contract before Paku Buwana XI took to the throne, all of which were external factors that caused the life of karawitan in the karaton to deteriorate. Keywords: Karawitan Karaton Surakarta, Paku Buwana X, Paku Buwana XI. AbstrakMasa pemerintahan Paku Buwana II merupakan awal perjalanan panjang kehidupan Karawitan Karaton Surakarta. Salah satu fase penting dalam perjalanan tersebut adalah masa pemerintahan Paku Buwana X dan Paku Buwana XI. Ketika Paku Buwana X berkuasa karawitan karaton berkibar bahkan dijadikan kiblat sebagai pusat sumber garap karawitan yang rumit dan halus,  memiliki ciri khusus dalam penyajiannya serta memiliki daya tarik yang luar biasa dalam hal penciptaan, garap, maupun penyajian. Puncak kejayaan dan keemasan pada masa pemerintahan Paku Buwana X ditandai dengan adanya perhatian khusus terhadap berbagai garap gending, pola permainan instrumen, serta pengembangan wilet. Pasca mangkatnya Paku Buwana X, Paku Buwana XI seakan tidak berdaya mempertahankan kejayaan karawitan selama memerintah di Karaton Surakarta. Hal in dikarenakan situasi sosial politik dan perekonomian internal Karaton mengalami kemunduran, di samping faktor-faktor dari luar karaton. Kebijakan pemerintah kolonial Belanda yang mengurangi daerah bawahan (manca negara), pengurangan otonomi, pembatasan ruang gerak raja, serta adanya kontrak politik yang baru sebelum Paku Buwana XI naik tahta diduga merupakan faktor-faktor eksternal yang menyebabkan kehidupan karawitan karaton mengalami kemerosotan. Kata kunci: Karawitan Karaton Surakarta, Paku Buwana X, Paku Buwana XI
GARAP ROG-ROG ASEM DALAM GENDING GAYA SURAKARTA Sugimin Sugimin; Eko Nopi Astuti
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 17 No. 1 (2017)
Publisher : Surakarta: Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v17i1.2382

Abstract

AbstractGarap Rog-rog Asem is a kind of garap (treatment or interpretation) which accentuates the treatment of dynamics, in terms of irama, tempo, and volume, and with the use of andhegan. The performance of garap Rog-rog Asem is formed by a number of different elements, such as the form of gendhing, garap ricikan (treatment of the different instruments), treatment of dynamics, and treatment of the vocal melody. In general, garap Rog-rog Asem is performed in gending sekar in the form of ketawang, in which the main melody contains balungan plesedan and or balungan nggantung, such as Ketawang Sinom, Ketawang Kinanthi Sandhung, and Ketawang Gambuh. The most prominent treatment of the instruments in garap Rog-rog Asem is the treatment of the kendhang, balungan, and structural instruments. The function of the kendhang is to give signs (ater) using specific patterns and kendhangan pematut. The play on dynamics by the balungan instruments in garap Rog-rog Asem is to use balungan plesedan and or balungan nggantung which is developed to become balungan ngracik performed in a fast tempo and with a loud volume. The function of the structural instruments in garap Rog-rog Asem is to play like in the form of srepeg. These different elements combine to form a musical interaction and create a unity of garap known as garap Rog-rog Asem. A number of factors that highlight garap Rog-rog Asem include the interpretation of garap, differences in function, and the creativity of the artists. In addition to its use in klenengan, garap Rog-rog Asem is also often used in karawitan tari (dance accompaniment), karawitan pakeliran (accompaniment for shadow puppet theatre), and karawitan kethoprak (accompaniment for traditional stage dramas). It is believed that garap Rog-rog Asem was originally used for the accompaniment of dance.  Keywords: Rog-rog Asem, dynamic play, and gending sekar. AbstrakGarap Rog-rog Asem adalah garap yang menonjolkan garap dinamik, baik irama, tempo sajian, maupun volume tabuhan dengan menggunakan andhegan. Sajian garap Rog-rog Asem dibentuk oleh beberapa unsur yaitu bentuk gendhing, garap ricikan, garap dinamik, dan garap vokal. Garap Rog-rog Asem pada umumnya   disajikan pada gending sekar bentuk ketawang yang pada bagian lagu pokoknya terdapat balungan plesedan dan atau balungan nggantung, seperti Ketawang Sinom, Ketawang Kinanthi Sandhung, dan Ketawang Gambuh. Sementara garap ricikan yang menonjol dalam garap Rog-rog Asem adalah ricikan kendhang, ricikan balungan, dan ricikan struktural.  Ricikan kendhang berfungsi untuk memberi tanda atau ater dengan pola-pola tertentu dengan  menggunakan pola kendhangan pematut. Permainan dinamik yang dilakukan oleh ricikan balungan dalam garap Rog-rog Asem adalah menggarap balungan plesedan dan atau balungan nggantung yang dikembangkan menjadi balungan ngracik yang disajikan dengan tempo cepat serta volume yang keras. Sementara fungsi ricikan struktural dalam garap Rog-rog Asem adalah menyajikan garapan seperti bentuk srepeg. Berbagai unsur tersebut bekerja secara bersamaan sehingga membentuk suatu interaksi musikal dan menjadi kesatuan garap yang disebut dengan garap Rog-rog Asem. Beberapa faktor yang  memunculkan garap Rog-rog Asem, di antaranya adalah tafsir garap, perbedaan fungsi, dan kreativitas seniman. Selain disajikan dalam acara klenengan, garap Rog-rog Asem juga sering digunakan sebagai karawitan tari, karawitan pakeliran, dan karawitan kethoprak. Terdapat dugaan bahwa  garap Rog-rog Asem pada mulanya digunakan untuk keperluan karawitan  tari.Kata kunci: Rog-rog Asem, permainan dinamik, dan gending sekar.

Page 6 of 19 | Total Record : 189