cover
Contact Name
Lutfia Okta Riwayati
Contact Email
lutfiakta8@gmail.com
Phone
+6285643145048
Journal Mail Official
lutfiakta8@gmail.com
Editorial Address
Karawitan Department, Faculty of Performing Art Indonesian Institute of the Arts, Surakarta, Indonesia Jl. Ki Hajar Dewantara No.19, Jebres, Kec. Jebres, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57126
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi
ISSN : 14122065     EISSN : 27146367     DOI : https://doi.org/10.33153/keteg.v25i1.7302
Core Subject :
Focus And Scope Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi is a peer-reviewed, open-access journal advancing the study of sound, music, and performing arts. We exclusively publish high-quality, original research and review articles that demonstrate significant scientific novelty, supported by a clear state-of-the-art and gap analysis. We welcome both empirical and practice-based/practice-led research. Our core scope includes, but is not limited to: Sound Studies & Acoustics: Multidisciplinary research on auditory culture, soundscapes, and the physical/technological aspects of music. Ethnomusicology & Cultural Studies: Critical analysis of sound and music within socio-cultural and historical contexts. Karawitanologi & Traditional Performing Arts: In-depth studies on Indonesian traditional music, including its education, history, aesthetics, and organology. Contemporary Arts & Composition: Research on modern musical composition, contemporary performance, and creative processes. Keteg strongly encourages interdisciplinary approaches, inviting global scholars and practitioners to enrich the academic discourse on "sound" in all its dimensions.
Arjuna Subject : -
Articles 189 Documents
GENDING POTHOK DALAM KARAWITAN GAYA SURAKARTA Bambang Sosodoro; Faralin Sulfianastiwi
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 17 No. 1 (2017)
Publisher : Surakarta: Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v17i1.2383

Abstract

AbstractThe aim of this study is to gain an understanding of gending pothok in Surakarta style karawitan. The research data was gathered through a library study, transcription of data, and interviews, relying on data obtained from the empirical knowledge of karawitan maestros. A qualitative method is used with emphasis on an analytical descriptive and interpretative approach. The problem of garap (interpretation) in gending pothok is addressed using a musicological approach and the theory of garap. The results of the study show that: (1) the term pothok in Surakarta style karawitan refers to traditional Surakarta style gending with a single balungan (skeleton melody) that is used in all forms and irama, without – or different from – the concept of widening gatra such as in Ladrang Pangkur; (2) the form of gending Pothok is merong becoming inggah, inggah becoming ladrang, and ladrang; (3) the performance of gending Pothok always includes several different irama and is not restricted to a particular irama unless it is connected to another art; (4) the appearance of gending Pothok began with gending santiswara during the reign of PB IV, subsequently developing into gending klenengan, pakeliran, and dance. It is hoped that the results of this research will contribute new ideas to the world of karawitan and be used as a reference for future studies.  Keywords: garap, gending, pothok. AbstrakStudi ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran mengenai gending–gending pothok dalam karawitan gaya Surakarta. Penelitian ini menggunakan pengumpulan data melalui studi pustaka, transkripsi data, serta wawancara dengan mengandalkan data yang diperoleh dari pengetahuan empirik empu–empu karawitan. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif yang menekankan pada deskriptif analitik dan interpretatif. Sementara  permasalahan garap gending–gending pothok dikupas dengan menggunakan pendekatan musikologi yaitu teori garap. Hasil dari studi ini menunjukkan, bahwa (1) istilah Pothok di dalam karawitan Gaya Surakarta adalah sebuah istilah untuk menyebutkan atau menunjukkan gending tradisi karawitan Gaya Surakarta yang mempunyai satu rangkaian balungan saja, dimana balungan tersebut digunakan dalam semua bentuk dan irama, akan tetapi tanpa dan atau berbeda dengan konsep pelebaran gatra seperti yang ada pada Ladrang Pangkur. (2) Bentuk dari gending–gending Pothok yaitu merong menjadi inggah, inggah menjadi ladrang dan ladrang. (3) Pada sajiannya gending–gending Pothok selalu terdiri dari beberapa irama, dan tidak hanya dengan satu irama saja kecuali yang berhubungan dengan keperluan seni lain. (4.) Kemunculan gending Pothok berawal dari gending santiswara pada masa PB IV, yang kemudian berkembang menjadi gending klenengan, pakeliran, dan tari. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam dunia karawitan dan dapat dijadikan sebagai acuan maupun referensi bagi penelitian selanjutnya. Kata Kunci: garap, gending, pothok.
MAKNA GENDHING–GENDHING BAKU RASULAN DALAM RITUAL SRÈDÈKAN Nil Ikhwan
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 17 No. 1 (2017)
Publisher : Surakarta: Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v17i1.2384

Abstract

AbstractThis research focuses on the meaning of rasulan in the Srèdèkan ritual using a combined emic and etic approach. It also discusses the form and structure of rasulan in the Srèdèkan ritual and the standard gendhing performed. The standard gendhing in the Srèdèkan ritual can be divided into two categories, namely larangan and Srèdèkan. Gendhing larangan consist of five gendhing. Gendhing Srèdèkan also consist of five gendhing. The standard gendhing rasulan in the Srèdèkan ritual and the offerings made have an important meaning for the community. The meaning of gendhing larangan, amongst others, is to remind people of their goals, ideas and thoughts about life and their ancestors; to save the lives of people and their descendants in this world; to bring prosperity so that they are never short of food; and to enable them to live a long life, to enjoy time with their children, grandchildren, great-grandchildren, and even great-great-grandchildren, if God is willing. The meaning of gendhing Srèdèkan comes from dahnyang Srèdèk. Keywords: Meaning, Gendhing, Rasulan, Srèdèkan. AbstrakPenelitian ini difokuskan pada makna rasulan dalam ritual Srèdèkan dengan gabungan pendekatan, emik dan etik. Selain itu, dibahas mengenai bentuk maupun tatanan rasulan dalam ritual Srèdèkan serta gendhing – gendhing baku yang disajikan. Gendhing–gendhing baku ritual Srèdèkan terbagi menjadi dua bagian, larangan dan Srèdèkan. Gendhing–gendhing larangan terdiri dari lima gendhing. Gendhing–gendhing Srèdèkan terbagi menjadi lima ge;ndhing. Gendhing–gendhing baku rasulan dalam ritual Srèdèkan dan sesaji yang memberi makna untuk masyarakat. Makna gendhing larangan antara lain; mengingatkan manusia akan tujuan, gagasan fikiran hidup dan leluhur; menyelamatkan hidup manusia di dunia beserta anak cucunya, melancarkan rejeki masyarakat agar pedaringan yang dimiliki selalu penuh; dan agar usia manusi sampai keturunan anak, cucu, buyut bahkan canggah bila Tuhan menghendaki. Makna gendhing baku Srèdèkan ditimbulkan dari dahnyang Srèdèk. Kata Kunci: Makna, Gendhing, Rasulan, Srèdèkan
TEKNIK PELARASAN GAMELAN JAWA PADA INSTRUMEN GENDER DAN GONG Risnandar Risnandar
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 17 No. 1 (2017)
Publisher : Surakarta: Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v17i1.2385

Abstract

AbstractThis study about the tuning of the gender and gong in Javanese gamelan is an attempt to formulate a technique for Javanese gamelan tuning. There are a number of problems concerning gamelan tuning that in the past have always been a mystery. There has never been any systematic written documentation about the theory or method of gamelan tuning. Traditionally, the process of knowledge transfer takes place in the family environment of the gamelan tuner during the tuning process in the workshop (besalen). This makes it difficult for the next generation of tuners to imitate their seniors. Therefore, it is possible that someday the technique or knowledge of tuning will become distorted or even disappear along with the death of the old generation of gamelan tuners. The goal of this research is to formulate a technique and seek answers to various questions about the tuning of the gender and kempul from the perspective of the gamelan tuner. The focus of this study is to uncover problems related to the technique and process of tuning the gender and gong. Hence, the research uses a qualitative method, collecting and processing as much data as possible from gamelan tuners, gamelan owners, and artists. In this way, it is hoped to discover the various problems surrounding the tuning of the gender and gong in Javanese gamelan. Keywords: technique, tuning, gender, gong. AbstrakPenelitian tentang pelarasan gender dan gong gamelan Jawa ini merupakan usaha untuk merumuskan teknik pelarasan gamelan Jawa. Terdapat berbagai persoalan yang selama ini masih menjadi misteri dalam pelarasan gamelan. Belum terdapat teori ataupun cara kerja pelarasan gamelan yang tertulis secara sistematis. Proses transfer knowlage terjadi secara tradisional di lingkungan keluarga pelaras saat proses pengerjaan di besalen. Hal ini mengakibatkan generasi penerus sulit untuk menirukan generasi seniornya. Dengan demikian dimungkinkan suatu saat teknik ataupun ilmu pelarasan akan mengalami distorsi atau bahkan hilang seiring dengan meninggalnya umpu pelaras gamelan. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan teknik dan juga mencari jawaban berbagai persoalan pelarasan gender dan kempul dilihat dari sudut pandang pelaku (pelaras gamelan). Fokus dari penelitian ini adalah mengungkap persoalan-persoalan terkait dengan teknik dan proses pelarasan gender dan gong. Bertolak dari sudut pandang ini maka penelitian akan menggunakan metode kualalitatif dengan mengumpulkan dan mengolah data sebanyaknya dari pelaras (pelaku), pemilik gamelan, dan seniman sebagai pemakai. Melalui cara ini diharapkan mampu mengungkap berbagai persoalan pelarasan gender dan gong gamelan Jawa. Kata Kunci: teknik, pelarasan, gender, gong.
EKSISTENSI KELOMPOK KARAWITAN CAKRA BASKARA DI KABUPATEN KARANGANYAR Mega Ayu Suryowati; I Nyoman Sukerna
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 17 No. 2 (2017)
Publisher : Surakarta: Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v17i2.2386

Abstract

AbstractThe background to this research is the existence of a karawitan group that began in 2008 when its members were young children and has continued up to the time when they are already young men and women. The involvement of young people, the way in which performances are packaged, and the role of the community have all influenced the development of the Cakra Baskara karawitan group’s existence. The role of this group in the community and its ability to connect with the community are amongst the reasons for its continued existence. Various efforts have been made to preserve the existence of the Cakra Baskara karawitan group. Based on this background, the problems addressed in this research are the form of activities of the Cakra Baskara karawitan group and the factors that have caused the group to exist in its present form. A qualitative research method is used with an analytical descriptive approach. The writer uses Marx’s ideas about sociology, Sedyawati’s ideas of development. Using this method of approach, a picture was obtained about the existence of the Cakra Baskara karawitan group in the Karanganyar Regency and the factors that have caused the continued existence of this group.The involvement of young people in the Cakra Baskara karawitan group and the efforts (series of activities) that have been made to ensure the continued existence of the group include developments to the way in which performances are packaged in the supporting community. These activities include planning, organization, implementation, and management. The efforts to preserve the existence of the Cakra Baskara karawitan group through these activities are based on the motivation of members and stimulation from outside. The members’ motivation includes their desire to express their enjoyment of karawitan, to get together with people with a similar interest in the arts, and to increase their income. External stimulation which influences the continued existence of the Cakra Baskara karawitan group includes the support of the community and the community’s need for the presence of the Cakra Baskara karawitan group. Keywords: Existence, Cakra Baskara, Activities, Young People. AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi oleh keberadaan kelompok karawitan sejak tahun 2008 yang anggotanya masih anak-anak hingga tumbuh menjadi pemuda. Keterlibatan pemuda, kemasan pertunjukan yang disajikan dan peran masyarakat menyebabkan perkembangan terhadap eksitensi kelompok karawitan Cakra Baskara. Peran kelompok karawitan tersebut dalam masyarakat dan menyatu dengan masyarakat menjadikan kelompok tersebut tetap hidup. Upaya-upaya dilakukan untuk tetap mempertahankan eksistensi kelompok karawitan Cakra Baskara. Berdasarkan latar belakang tersebut, permasalahan yang diungkap adalah mengenai bentuk aktivitas kelompok karawitan Cakra Baskara serta faktor yang menyebabkan kelompok karawitan Cakra Baskara dapat menjadi bentuk seperti sekarang.Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptik analitik. Penulis menggunakan pemikiran Marx mengenai sosiologi, Sedyawati mengenai perkembangan. Melalui pendekatan tersebut, didapatkan gambaran mengenai eksistensi kelompok karawitan Cakra Baskara di Kabupaten Karanganyar dan faktor yang menyebabkan kelompok tersebut tetap eksis.Keterlibatan pemuda di dalam kelompok karawitan Cakra Baskara dan upaya-upaya (serangkaian aktivitas) dilakukan untuk menjaga keeksisan kelompok karawitan tersebut melalui perkembangan kemasan pementasan di masyarakat pendukungnya. Aktivitas tersebut meliputi kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian. Upaya-upaya yang dilakukan untuk mempertahankan eksistensi kelompok karawitan Cakra Baskara melalui aktivitas yang didasari oleh motivasi anggota dan stimulasi dari luar. Motivasi anggota tersebut berupa keinginan untuk mengungkapkan rasa senang terhadap karawitan, berkumpul dengan orang-orang yang mempunyai minat sama dalam bidang seni, dan menambah penghasilan (keuangan). Stimulasi yang berpengaruh terhadap eksistensi karawitan Cakra Baskara tetap berupa dukungan masyarakat dan kebutuhan masyarakat akan kehidaran kelompok karawitan Cakra Baskara. Kata Kunci: Eksistensi, Cakra Baskara, Aktivitas, Pemuda
GARAP GENDING JULA-JULI LANTARAN GAYA MALANG Iska Aditya Pamuji; darsono darsono
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 17 No. 2 (2017)
Publisher : Surakarta: Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v17i2.2387

Abstract

AbstractThe research on Gending Jula-juli Lantaran in Malang style is based on the writer’s interest in the emergence of a new gending. This gending is treated in a different way from the general interpretation of gending in East Javanese style karawitan. The presence of this gending forms the background to the two problems addressed in this research. First, the role of Malang style tembang macapat in the interpretation of gending Jula-juli; second, the interpretation of Gending Jula-juli in Malang style. This research uses a qualitative method with emphasis on an analytical descriptive and interpretative approach. The concept of garap (interpretation / treatment) is used to examine the problems related to the interpretation of gending Jula-juli in Malang style.Gending Jula-juli Lantaran is a development of the general gending Jula-juli and uses a variety of treatment not commonly found in gending Jula-juli. The gending places emphasis on the interpretation of tembang macapat (sung verse) in Malang style. The composition of this gending brings alignment or balance between the development of gending and tembang macapat. This phenomenon presents a new model of interpretation of Malang style gending and provides new knowledge about Malang style karawitan and East Javanese karawitan in general.   Keywords: Interpretation, Gending, Jula-juli Lantaran. AbstrakPenelitian tentang Gending Jula-juli Lantaran gaya Malang didasari atas ketertarikan peneliti terhadap kemunculan gending baru. Gending tersebut memiliki garap yang berbeda dari gending secara umum pada karawitan gaya Jawa Timuran. Kehadiran gending tersebut melatarbelakangi munculnya dua permasalahan. Pertama adalah mengenai peran tembang macapat gaya Malang dalam garap gending Jula-juli. Permasalahan kedua berkaitan dengan garap gending Jula-juli Lantaran gaya Malang. Gending Jula-juli Lantaran merupakan pengembangan dari gending Jula-juli secara umum serta memilki garap yang beragam dan tidak ditemukan dalam gending Jula-juli secara umum. Gending tersebut memberikan penekanan terhadap kemunculan garap yang terletak pada tembang macapat gaya Malang. Terciptanya gending tesebut membawa kesejajaran atau keseimbangan antara perkembangan gending dan tembang macapat. Fenomena ini bisa menjadi suatu model garap baru pada gending - gending gaya Malang, memberi pengetahuan baru pada karawitan gaya Malang serta karawitan Jawa Timuran pada umumnya. Kata Kunci: Garap, Gending, Jula-juli Lantaran.
KEBERADAAN SALAHAN DALAM KARAWITAN GAYA SURAKARTA Kartika Ngesti Handono Warih; Hadi Boediono
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 17 No. 2 (2017)
Publisher : Surakarta: Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v17i2.2388

Abstract

Abstract“The Presence of Salahan in Surakarta Style Karawitan” is the result of a research study that not only discusses salahan in terms of the aspect of treatment or garap in karawitan but also analyzes aspects outside karawitan. The writer is interested in the use of the term salahan in karawitan because salahan is a phenomenon that is wrong or incorrect (salah) but is intentionally presented in a performance. Musicians from the past had a particular goal and reason for using the term salahan. There is still ambiguity about certain patterns as to whether or not they can be classed as salahan or should be identified using a different term. Based on this interest, the writer formulated two problems to be addressed: first, why is salahan present in the performance of Surakarta style karawitan, and second, what identifies a pattern as salahan or distinguishes it from banggen or other similar patterns. In order to obtain data to support this paper, a number of stages were followed: data collection, data validation, data reduction, and data analysis. The data was collected from several sources, including interviews, observation, a library study, and recording transcripts. This article investigates the object of the study, namely salahan, in more depth. It adopts Hussrel’s concept of phenomenology, in which a phenomenon should not only be viewed from outside but should also be explored in more depth to see what exists behind the outer layer.The meaning of salahan in a karawitan performance is a symbol of the imperfectness of human beings as they pass through their journey of life, a representation of the form of a balanced life, and a representation of the phenomenon of current development. In a karawitan performance itself, salahan functions as a sign or ater on the approach to the gong stroke, or the lowest point of a melody. It also marks the end of a repetition and merely enhances the aesthetics of a performance, emphasizing the sense of seleh, yet not influencing the course of performance of a gending. Keywords: meaning, ater, salahan.Abstrak“Keberadaan Salahan dalam Karawitan Gaya Surakarta” merupakan hasil penelitian yang tidak hanya membahas mengenai salahan dari aspek garap karawitan saja melainkan juga mengupas hal yang berada di luar karawitan. Penulis tertarik dengan keberadaan istilah salahan dalam karawitan, karena salahan adalah suatu fenomena yang salah tetapi secara sengaja dihadirkan dalam sajian. Para pengrawit terdahulu memiliki alasan dan tujuan khusus dalam memberikan istilah salahan. Selain itu juga masih terdapat kerancuan mengenai suatu pola apakah termasuk salahan atau terdapat istilah lain. Berdasarkan ketertarikan tersebut penulis merumuskan dua rumusan masalah yaitu pertama mengapa terdapat salahan dalam sajian karawitan gaya Surakarta, dan yang kedua apakah yang dapat dijadikan pembeda atau yang dapat mengidentifikasikan salahan dengan banggen atau pola-pola lain yang hampir menyerupai.Guna mendapat data yang dapat mendukung tulisan ini maka digunakan beberapa tahapan metode meliputi; tahap pengumpulan data, validasi data, reduksi data, dan analisis data. Data yang diperoleh berasal dari berbagai sumber diantaranya; wawancara, observasi, studi pustaka, dan transkip rekaman. Tulisan ini mengkaji obyek yaitu salahan secara lebih mendalam. Sejalan dengan pemahaman fenomenologi menurut Hussrel yaitu suatu fenomena tidak hanya dilihat dari kulit luarnya saja, akan tetapi yang lebih mendalam adalah melihat apa yang ada di balik yang tampak.Makna keberadaan salahan dalam sajian karawitan yaitu sebagai simbol ketidaksempurnaan manusia dalam menjalani proses kehidupan, sebagai gambaran wujud keseimbangan hidup, dan suatu gambaran fenomena perkembangan zaman. Dalam sajian karawitan sendiri salahan berfungsi sebagai penanda atau ater menjelang gong, atau titik melodi terrendah. Selain itu juga sebagai tanda batas pengulangan yang keberadaannya hanya sebatas menambah rasa estetik atau penekanan rasa seleh, dan sama sekali tidak mempengaruhi jalannya sajian gendhing. Kata Kunci: makna, ater, salahan.
KONDISI KLENÈNGAN GAYA SURAKATA DI WILAYAH SOLO RAYA (2000-2017) Suyoto suyoto
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 17 No. 2 (2017)
Publisher : Surakarta: Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v17i2.2390

Abstract

AbstractThis research focuses on the condition of Surakarta style karawitan that is performed independently, also known as klenèngan, in the Greater Solo district. The research uses a musicological perspective and analyzes various aspects related to an ideal klenèngan performance. In accordance with the developments in the present era, the condition of klenèngan in the Greater Solo district has experienced a significant development in terms of its quantity. From the point of view of quality, aspects such as form, packaging of gending, and concept of patet are given insufficient attention in the performance of klenèngan in the Greater Solo district, and as a result, an ideal klenèngan performance has not been achieved. The results of this research show that in order to achieve an ideal klenèngan performance, there are a number of determining criteria, such as: (1) condition of the gamelan, (2) place and position of the gamelan, (3) sufficient number of musicians, (4) time, (5) continuity of performance, and (6) weather.  Keywords: gamelan, klenèngan, ideal. Abstrak Penelitian ini difokuskan pada kondisi karawitan gaya Surakarta yang bersifat mandiri yang disebut klenèngan, di wilayah Solo Raya. Penelitian ini  menggunakan perspektif musikologis, dengan menganalisis berbagai aspek berkaitan dengan penyajian klenèngan yang ideal. Sesuai dengan perkembangan zaman kondisi sajian klenèngan di wilayah Solo Raya dalam kehidupannya dari tahun ke tahun secara kuantitas telah mengalami perkembangan yang cukup signifikan.  Sajian klenèngan di wilayah Solo Raya,  pada umumnya secara kualitas terutama bentuk, kemasan gending, konsep patet kurang diperhatikan, sehingga  tidak  dicapai sajian klenèngan yang ideal.  Hasil penelitian ini ditemukan bahwa untuk mencapai sajian klenèngan yang ideal terdapat beberapa kreteria antara lain, (1) kondisi gamelan, (2) tempat dan posisi gamelan, (3) kelengkapan pengrawit, (4) waktu, (5) kelancaran sajian, dan (6) cuaca. Kata Kunci: gamelan, klenèngan, ideal
MELACAK GELAR KARAWITAN PUJANGGA LARAS TAHUN 2001-2009 (Upaya Pendokumentasian Ragam Gending) Suraji Suraji
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 17 No. 2 (2017)
Publisher : Surakarta: Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v17i2.2391

Abstract

AbstractThis research entitled Tracing the Performance of Karawitan Pujangga Laras from 2001 - 2009 is concerned with both textual and contextual issues. One issue that continues to appear up to the present time is that whenever the same gending is played by different musicians, the result will also be different. In the Surakarta karaton, the existence of Javanese karawitan in Surakarta style has undergone significant developments from one era to another. The increasing number of gending klenèngan in the repertoire has led to a variety of different treatment or interpretational style (garap). Treatment that had not previously been used has been reinterpreted and subsequently influenced the development of interpretational style in the present day.This research aims to document the repertoire of gending klenèngan performed by the karawitan group Pujangga Laras. In the performance of these gending, the Pujangga Laras group is not restricted to classical gending from the karaton. Instead, musicians are given the opportunity to perform other works, including new works composed by musicians or pesindhèn (female vocalists) who are active in the group, or gending composed by Ki Nartosabda. The results of this research show that during an 8 year period, Pujangga Laras performed over 400 gending in various forms. Although there is frequent repetition of certain gending, the outcome or result is always different. These differences are caused by a number of factors, including the venue, the musicians’ ability to interpret the gending, and so on.  Keywords: Pujangga Laras, Repertoire, Gendhing. AbstrakPenelitian Melacak Gelar Karawitan Pujangga Laras Tahun 2001 - 2009 menyangkut persoalan tekstual dan kontekstual. Permasalahan yang muncul hingga kini adalah setiap gending yang sama bila disajikan oleh penggarap yang berbeda hasilnya juga berbeda. Di karaton Surakarta dari masa ke masa, keberadaan karawitan Jawa gaya Surakarta secara bertahap telah mengalami perkembangngan yang cukup signifikan. Makin banyaknya repertoar gending-gending klenèngan berdampak terhadap keragaman garap. Garap yang belum muncul sebelumnya, kemudian ditafsir kembali dan selanjutnya mempengaruhi perkembangan garap saat ini.Penelitian ini berupaya untuk mendokumentasi repertoar gending-gending klenèngan yang disajikan oleh kelompok karawitan Pujangga Laras. Dalam menyajikan gending-gending, kelompok karawitan Pujangga Laras tidak dibatasi pada gending klasik karaton, melainkan para pengrawit diberi kesempatan untuk menyajikan karya lain, baik karya baru hasil susunan pengrawit dan atau pesindhèn yang aktif dalam pergelaran tersebut, atau gending karya Ki Nartosabda. Hasil penelitian ini, dalam kurun waktu 8 tahun, ditemukan bahwa karawitan Pujangga laras telah menyajikan lebih dari 400 gending dalam berbagai bentuk.Kendatipun setiap pergelaran sering terjadi pengulangan gending yang sama, akan tetapi hasilnya tetap beerbeda. Perbedaan ini disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain: tempat penyelenggaraan, kemampuan pengrawit dalam tafsir garap dan lain lain. Kata Kunci: Pujangga Laras, Repertoar, Gendhing.
THE PROCESS OF WAKIJA WARSAPANGRAWIT MUSICIANSHIP (A Tracer To Provide A Model For Young Musicians) Slamet Riyadi
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 18 No. 1 (2018)
Publisher : Surakarta: Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v18i1.2392

Abstract

Abstrak Artikel ini merupakan pelacakan proses kesenimanan Wakija Warsapangrawit. Untuk mengekspos musiknya yang luar biasa, ia menggunakan pendekatan sosial, psikologis dan historis. Pelacakan dimulai dari bidang sosial, yaitu latar belakang keluarga, lingkungan, dan kegiatan karawitan, sebagai bagian dari kehidupan sosial, unsur-unsur ini memiliki peran penting dalam membangun kepribadiannya, termasuk di dalamnya keahlian bermusiknya. Pendekatan psikologis memberi dukungan sehubungan dengan motivasi dirinya untuk mewujudkan cita-citanya menjadi pemain kendang. Pendekatan historis digunakan untuk memberikan gambaran singkat tentang aktivitas karawitan selama masa kanak-kanaknya yang dianggap memiliki hubungan dengan peningkatan kemampuan musiknya.Kata kunci: musisi, sosial, motivasi, aktivitas karawitanAbstract This article traces the process through which Wakija Warsapangrawit developed as a musician, using social, psychological and historical approaches to reveal his excellent musicianship. The article begins with the social factors – family background, surrounding environment, and karawitan activities – that constituted his social life and played an important role in forming his personality and musicianship. Next, a psychological approach supports the connection between his self-motivation and ambitions to become a kendhang player. Lastly, a historical approach is used to give a brief description of the karawitan activities during his childhood where he is thought to have honed his musical skills.Keywords: musicianship, social, motivation, karawitan activities.
UNSUR KOMPETISI MUSIKAL DALAM SAJIAN GENDING GAMELAN SEKATEN Sigit Setiawan
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 18 No. 1 (2018)
Publisher : Surakarta: Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v18i1.2393

Abstract

AbstrakSekaten merupakan sebuah refleksi kebudayaan di Keraton Surakarta. Saat ini, perayaannya dimaknai sebagai bentuk eksistensi Keraton Surakarta sebagai tonggak penyangga kebudayaan. Perayaan Sekaten dengan berbagai kepentingan masyarakat di Surakarta telah menjadikannya peristiwa yang patut diapresiasi oleh mereka yang masih menjadikan Keraton Surakarta sebagai kiblat lingkup kebudayaan Jawa. Salah satu yang mencerminkan situasi tersebut adalah keberadaan Gamelan Sekaten yang di dalam penyajiannya terdapat unsur “kompetisi” musikal. Hal ini tidak dapat lepas dari penambahan perangkat Gamelan Sekaten yang semula berjumlah satu perangkat menjadi dua perangkat yakni di masa pemerintahan Paku Buwono IV. Situasi tersebut membuat para pengrawit (pemain gamelan) harus kreatif dan mempunyai referensi gending yang banyak. “Iklim kompetisi” – yang hingga kini masih berlangsung – tersebut akhirnya melahirkan konsep musikal berdasarkan pertimbangan-pertimbangan estetika musikal karawitan seperti konsep sisihan. Konsep inilah yang digunakan sebagai “standar kompetisi” seperti kemiripan nama, kemiripan garap, golongan gending dan bentuk kemiripan (lagu) balungan gending.Kata Kunci: gamelan, sekaten, kompetisi musikal.Abstract Sekaten is a reflection of the culture within the Keraton Surakarta. Currently, this celebration is understood as one way the Keraton Surakarta exists to support cultural institutions. Sekaten, which serves many interests of Surakarta’s community, has become an event that should be appreciated by those who still consider the Keraton Surakarta as the mecca of Javanese culture. One phenomenon that reflects the aforementioned situation is the existence of musical “competition” in the presentation of Gamelan Sekaten. This is closely tied to the addition of a second set of instruments during the reign of Paku Buwono IV to the original one. This situation spurs the pengrawit (gamelan musicians) towards creativity and knowledge of a wide repertoire of gendhing. The “climate of competition” - still found today - finally gave rise to musical concepts based on considerations of musical aesthetics, such as the idea of “sisihan” found in karawitan. This concept is used as the “standard of competition”: the similarities of names, similarities in garap (musical interpretation), the grouping of gending and melodic (lagu) similarities in the balungan gending.Keywords: gamelan, sekaten, musical competition.

Page 7 of 19 | Total Record : 189