Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Ruang Pertunjukan Musik Karawitan (Gamelan Jawa) Santoso, Iwan Budi
Nuansa Journal of Arts and Design Vol 2, No 1 (2018): Maret
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (849.708 KB) | DOI: 10.26858/njad.v1i2.6668

Abstract

Karawitan music is part of the wealth of art and culture of Indonesia. Karawitan art using Javanese gamelan instruments was born hundreds of years ago, and until now still sustainable and growing in society. Along with the development of musical music, there are several factors that make gamelan performances of Java less able to bring the soul (soul) musicality. This is because of the use of show space. Javanese people are generally aware that, the presentation of gamelan will be better sounded when presented in the pendhapa. Nevertheless some performance auditoriums can be used to present karawitan music using Javanese gamelan, taking into account the same acoustic system as the pendhapa acoustic system.
Orkes Keroncong Nada Kasih di Yogyakarta dan Peranannya dalam Melestarikan Nasionalisme Musik Keroncong Wisnu Mintargo; Iwan Budi Santoso; Andre Indrawan
PROMUSIKA Vol 7, No 2 (2019): Oktober 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v7i2.3532

Abstract

This study examines the activities of the Orkes Keroncong (OK) Nada Kasih conducted by Fx Supardi who has given a positive impact on the development of Keroncong music in the Sleman Regency of Yogyakarta. This research reveals how the efforts made by Fx Supardi with his OK Nada Kasih in conserving the keroncong music. To answer these problems, this study utilizes descriptive qualitative methods. This study concludes that the OK Nada Kasih’s programs aim to conserve and develop keroncong music so that it will be favored by the Indonesian community, especially the younger generation. Its program that encompasses public performances, social gatherings, and other social activities has made this band continues to work as the potential keroncong orchestra. By consistently developing as well as disseminating its keroncong music repertoire this band has given a great contribution to public services in strengthening national identity so that public services in developing the nation have chronologically improved. The Penelitian ini mengkaji aktivitas Orkes Keroncong (OK) Nada Kasih pimpinan Fx Supardi yang telah memberikan dampak positif pada perkembangan musik Keroncong di Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Penelitian ini mengungkap bagaimana upaya yang dilakukan Fx Supardi dengan OKNada Kasih-nya dalam melestarikan musik keroncong. Untuk menjawab masalah ini, penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Studi ini menyimpulkan bahwa program-program OK Nada Kasih bertujuan untuk melestarikan dan mengembangkan musik keroncong sehingga akan disukai oleh masyarakat Indonesia, terutama generasi muda. Program-programnya yang meliputi pertunjukan publik, pertemuan sosial, dan kegiatan sosial lainnya telah membuat kelompok musik ini terus bekerja sebagai orkestra keroncong yang potensial. Dengan secara konsisten mengembangkan serta menyebarkan repertoar musik keroncongnya, OK Nada Kasih ini telah memberikan kontribusi yang besar terhadap layanan publik dalam memperkuat identitas nasional. Sehubungan dengan itu layanan publik dalam membangun bangsa telah meningkat secara kronologis.
Bentuk Imitasi Kendang Dangdut Pada Instrumen Ketipung Paralon Iwan Budi Santoso; Kiswanto Kiswanto; Yusuf Beny Setiawan
Gondang: Jurnal Seni dan Budaya Vol 6, No 1 (2022): GONDANG: JURNAL SENI DAN BUDAYA, JUNI 2022
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gondang.v6i1.33206

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bentuk imitasi kendang dangdut pada instumen ketipung paralon yang biasa digunakan oleh para pengamen jalanan di kota Surakarta berdasarkan organologi bahan dan cara pembuatannya, karakter dan warna bunyi yang dihasilkan, serta cara memainkan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif, dengan metode analisis yang bersifat interpretatif. Data-data yang diperlukan untuk dianalisis dan dijelaskan dalam penelitian ini dikumpulkan melalui proses pengamatan, wawancara, dokumentasi, serta studi kepustakaan. Penelitian ini menunjukkan bahwa instrumen ketipung paralon terdiri dari tiga atau empat buah rangkaian pipa silinder, dengan dimater dan panjang yang bervariasi guna mengatur tinggi dan rendah suara yang dihasilkan. Bunyi ketipung paralon dapat diidentifikasi dengan sebutan onomatope dut, dhung, tung, thut, tak, dan thang. Ketipung paralon dimainkan dengan cara memukul membran melalui tekanan dan teknik penjarian dari kedua tangan. Apabila dibandingkan dengan kendang dangdut, ketipung paralon mempunyai karakter akustik bunyi yang keras jika ditabuh, meskipun tanpa menggunakan alat pengeras suara. Instrumen ketipung paralon juga mudah dibawa dan dimainkan untuk berpindah-pindah tempat oleh para pengamen.
BENTUK DAN PERUBAHAN FUNGSI MUSIK KONGKIL DI DESA BUNGKAL KABUPATEN PONOROGO Bina Kiki Rahayuningsih; Iwan Budi Santoso
Sorai: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Musik Vol 13, No 1 (2020)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/sorai.v13i1.3091

Abstract

Kongkil music was created in 1933 by Eyang Toinangun as a means of gathering the people of Bungkal Village as an effort to resist the Dutch invaders. Kongkil music is an ensemble consisting of instruments of kongkil, kedhang, saron, kethuk, kenong, kempul and gong. In the beginning, Kongkil's music brought songs created by its members with the theme of passion-building, because there was no legacy of the old repertoire of the predecessors. There was an innovation in the form of repertoire changes since 1975, namely bringing dolanan gendhing. Around 2000, Kongkil's music was in a vacuum, then it was revived in 2012 with a new repertoire that presented lancaran and langgam gendhing. The research entitled "The Form and Change of Kongkil Music Function in Bungkal Village, Ponorogo Regency" uses the concept of Edy Sedyawati's thought that changes in social structure and values will cause physical changes and the role of art itself in society. It also causes changes in the structure of forms. These changes cannot be avoided if the art is willing to live within the society. This study uses descriptive qualitative analysis methods.  From this study, it found several things related to the Kongkil Martapura music group, including: (1) History and regeneration of the Kongkil Martapura music group, (2) the forms of performances, instruments and repertoires presented, (3) the factors driving changes in function and its impact on intellectuals and contextual.
PERJALANAN TEKNIK REKAMAN STEREOFONIK PADA KARAWITAN JAWA Iwan Budi Santoso
Sorai: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Musik Vol 13, No 2 (2020)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/sorai.v13i2.3550

Abstract

The touch between karawitan and recording technology produce karawitan recording based on stereophonic forms. Stereophonics is a form of the next generation of monophonics recording. Monophonics has a single-track or single- sound while stereophonics emphasizes two-track recording. The recording technique with stereophonics eventually became the main choice in the development of music recording because it is able to bring the sound of music closer to the original. A stereophonic development for karawitan recording does not eventually begin. It is through the stages of time that finally stereophonic recording technology is used in Javanese karawitan recording.
Pelatihan Karawitan dan Tari Gaya Minang Pada Sanggar Seni Sayuk Rukun Dukuh Girimulya Desa Tibayan Kecamatan Jatinom Kabupaten Klaten Teti Darlenis; Iwan Budi Santoso
Abdi Seni Vol 11, No 1 (2020)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.689 KB) | DOI: 10.33153/abdiseni.v11i1.3126

Abstract

Bangsa Indonesia dengan beragam kekayaan seni dan budaya yang ditemukan di berbagai pulau dari Sabang hingga Merauke adalah aset nasional yang luar biasa. Inilah identitas masing-masing daerah yang merupakan bagian dari Bangsa Indonesia. Stabilitas identitas daerah di Indonesia  dibutuhkan untuk menangkal derasnya arus budaya asing di era globalisasi yang terkadang memiliki bagian-bagian yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa. Kegiatan Pengabdian Masyarakat adalah bagian dari cara untuk memperkuat identitas nasional di masyarakat.Musik dan tarian adalah bagian dari seni yang memiliki peran yang penting dalam pengembangan karakter kehidupan masyarakat. Keduanya adalah  bentuk kekayaan budaya. Karawitan dan tarian yang tumbuh dan berkembang di Indonesia adalah kekayaan yang beragam, dan ada yang sesuai dengan budaya masyarakatnya. Untuk memperkuat dan menerapkan perlawanan terhadap derasnya budaya asing, peran Pengabdian Masyarakat dalam bentuk pelatihan musik dalam tari gaya Minang untuk masyarakat Jawa adalah kegiatan positif. Manfaat kegiatan Pengabdian Masyarakat pada akhirnya mampu mendominasi dan memperkaya kosakata seni antar daerah. Dengan demikian akan berdampak pada pengalaman dan pengetahuan masyarakat lain untuk belajar tentang budaya bangsa. Kata kunci : musik, tarian, budaya, identitas.
Pelatihan Sound System Bagi Anggota Sanggar Kandang Seni Jabung Magetan Iwan Budi Santoso; Wahyu Purnomo
Abdi Seni Vol. 14 No. 1 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/abdiseni.v14i1.5082

Abstract

The artwork community service program was carried out at the Kandang Seni Jabung studio, Jabung Village, Panekan District, Magetan Regency, in the form of workshops/training activities on the use of a sound system to create an album of Jaranan Art Accompaniment Music (Reog) in Magetan Style. Workshops/training activities at the Kandang Seni Jabung art studio use the lecture method and practices of operating sound system equipment. The final result of this artwork community service is to create reliable artists and/or sound-engineer artists to make the music album of the Jaranan Art Accompaniment (Reog) Magetan Style. On the other hand, artists can record and produce music albums. They can also become sound engineers in amplifying the sound of musical performances or other arts that use elements of sounds. 
Hibridasi Sajian Karawitan Jawa Menggunakan Instrumen Gamelan Dan Syntheziser Pendekatan Rasa Manusiawi Santoso, Iwan Budi; Purnomo, Wahyu; Kurniawan, Muh Zakki
Visual Heritage: Jurnal Kreasi Seni dan Budaya Vol 7, No 1 (2024): Visual Heritage: Jurnal Kreasi Seni Dan Budaya
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/vh.v7i1.11030

Abstract

Penelitian berjudul Hibridasi Sajian Karawitan Jawa Menggunakan Instrumen Gamelan Dan Gamelan Syntheziser Dengan Pendekatan Rasa Manusiawi (Eksperimen Rekaman Gending) didasari dari keprihatinana peneliti pada saat melihat dan/atau mendengarkan sajian karawitan Jawa. Sebagaimana yang didengarkan peneliti pada sajian karawitan Jawa yang menggunakan instrumen gamelan syntheziser terjadi pergeseran nilai estetika bunyi. Sajian karawitan Jawa menggunakan gamelan syntheziser terasa mencaut akar estetika sajian gamelan dari akar budayanya. Persoalan ini membawa dampak yang siginfikan akan pelestarian karawitan Jawa. Berbagai faktor bunyi instrumen gamelan syntheziser sangat dipaksakan, sehingga meninggalkan nilai-nilai rasa manusiawi dan estetika bunyi dalam sajian karawitan. Peneiltian terapan ini menawarkan dan memberi solusi dalam sajian karawitan Jawa menggunakan gamelan syntheziser dan gamelan asli pada sajian karawitan Jawa melalui metode dan teknik rekaman. Metode yang dapat memberi solusi adalah bagaimana cara menyamakan persepsi bunyi instrumen gamelan syntheziser yang mendekati bunyi gamelan asli. Sedangkan rekaman adalah salah satu cara untuk mengkombinasikan dan/atau menggabungkan sajian gamelan syntheziser dengan gamelan asli dalam sajian rekaman karawitan Jawa yang akan dikonsumsi dan/atau didengarkan oleh masyarakat. Hasil penelitian akan berdampak pada kualitas dan estetika sajian Karawitan Jawa sesuai akar budayanya.
PERANAN SOUND SYSTEM TERHADAP ESTETIKA PERTUNJUKAN WAYANG KULIT PURWA: STUDI KASUS PERGELARAN WAYANG KI PURBO ASMORO Finarno, Hannova Aji; Santoso, Iwan Budi
Lakon Jurnal Pengkajian & Penciptaan Wayang Vol. 21 No. 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study examines the role and influence of the sound system in Ki Purbo Asmoro’s ancient shadow puppet performance. Research studies answer three basic questions as the formulation of research problems, namely (1) How the concept of sound in the wayang purwa performance? (2) What are the sound system devices for amplification and how is it applied in wayang purwa performances? and (3) What is the role and function of using a sound system in a puppet show? prototype? This type of research uses a qualitative descriptive approach, with data collection through interview with resource persons, literature study and observation. Results Research shows that the use of sound system technology in performances wayang purwa with the puppeteer Ki Purbo Asmoro not only for the sake of amplify sound. Utilization by means of microphones, audio mixers and equalizer is done to amplify the sound. Sound reinforcement in the sense of wayang performances don’t have to be loud, but the strength of the sound can mean sound clear and/or clear sound.
Ungkapan Estetika Karawitan Jawa pada Reproduksi Rekaman Gamelan Ageng Surakarta Santoso, Iwan Budi; Sunarto, Bambang; Santosa, Santosa; Mistortoify, Zulkarnaen
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 24, No 1 (2023): April 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v24i1.8885

Abstract

ABSTRACTThe Expression of Javanese Karawitan Aesthetics in the Reproduction of Gamelan Ageng Surakarta Recordings. Sound recordings have the purpose of transferring musical offerings to the storage media. The aesthetics and sound meanings contained in musical performances of course become a mandatory when sound is recorded. The concept of Javanese karawitan recordings certainly takes into consideration of the aesthetic value of the presentation and will not leave the principles as well as the sound meanings behind. Recorded musical performances of musical instruments must present an ideal sound according to the cultural convention. Recording documents in the form of audios are felt to be highly essential in karawitan concert area because they are way of storing events. As a result, musical concerts which are already in the form of audio media have more value compared to concerts being integrated with particular event. The authors found that karawitan concert carried out by using recorded audio are more practical, economic, efficient and encourage preservation value. Practical value arises because musical concerts that are already in the form of record media can be carried anywhere. Furthermore, this also lead to improve economic value since documentation can be a product of a commodity process if properly utilized. The value is efficient as the sounds are in the form of media, musical concert records can be employed without having to use devices and human resources as in the event.ABSTRAKProduk rekaman suara mempunyai tujuan memindahkan sajian musikal ke dalam media penyimpan. Estetika dan makna bunyi yang terkandung dalam sajian musik karawitan Jawa tentunya menjadi hal wajib ketika direkam. Kemasan produk rekaman karawitan Jawa pastinya mempertimbangkan nilai estetika sajian, serta tidak akan meninggalkan norma dan makna bunyi dalam sajiannya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Pendekatan ini mengharuskan peneliti melakukan tafsir tentang makna yang ada dibalik data, tujuan-nya untuk membantu memahami kehidupan sosial. Dokumen rekaman sajian musik karawitan wajib menghadirkan suara yang ideal sesuai konvensi budayanya. Dokumen perekaman dalam bentuk media audio dirasakan penting dalam wilayah konser karawitan karena menjadi cara penyimpanan akan peristiwanya, sehingga konser karawitan yang sudah dalam bentuk media audio lebih banyak memiliki nilai lebih dibandingkan dengan konser dalam konteks peristiwanya. Kelebihan media audio konser karawitan lebih memiliki nilai praktis, ekonomis, efisien dan pengawetan. Nilai praktis muncul karena konser karawitan yang sudah dalam bentuk media rekam bisa dibawa ke mana-mana. Nilai ekonomis karena dokumentasi bisa menjadi produk yang bisa bernilai ekonomi jika diberdayakaan sebagai barang komuditas. Nilai efisien karena dalam bentuk media rekam konser karawitan bisa dimanfaatkan tanpa harus menggunakan perangkat dan sumber daya manusia sebagaimana dalam peristiwanya.