cover
Contact Name
Lutfia Okta Riwayati
Contact Email
lutfiakta8@gmail.com
Phone
+6285643145048
Journal Mail Official
lutfiakta8@gmail.com
Editorial Address
Karawitan Department, Faculty of Performing Art Indonesian Institute of the Arts, Surakarta, Indonesia Jl. Ki Hajar Dewantara No.19, Jebres, Kec. Jebres, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57126
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi
ISSN : 14122065     EISSN : 27146367     DOI : https://doi.org/10.33153/keteg.v25i1.7302
Core Subject :
Focus And Scope Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi is a peer-reviewed, open-access journal advancing the study of sound, music, and performing arts. We exclusively publish high-quality, original research and review articles that demonstrate significant scientific novelty, supported by a clear state-of-the-art and gap analysis. We welcome both empirical and practice-based/practice-led research. Our core scope includes, but is not limited to: Sound Studies & Acoustics: Multidisciplinary research on auditory culture, soundscapes, and the physical/technological aspects of music. Ethnomusicology & Cultural Studies: Critical analysis of sound and music within socio-cultural and historical contexts. Karawitanologi & Traditional Performing Arts: In-depth studies on Indonesian traditional music, including its education, history, aesthetics, and organology. Contemporary Arts & Composition: Research on modern musical composition, contemporary performance, and creative processes. Keteg strongly encourages interdisciplinary approaches, inviting global scholars and practitioners to enrich the academic discourse on "sound" in all its dimensions.
Arjuna Subject : -
Articles 189 Documents
TRANSFORMASI KONFRONTATIF KOMPOSISI GAMELAN BARU: Revitalisasi Penciptaan Inovatif dan Peran Vital Perguruan Tinggi Seni Setyawan Jayantoro
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 18 No. 1 (2018)
Publisher : Surakarta: Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v18i1.2394

Abstract

AbstrakInovasi sebebas-bebasnya tanpa batas adalah persoalan konfrontatif yang sesungguhnya tengah mengancam eksistensi musik tradisi dalam korelasinya dengan masalah jati diri beserta dinamika konservasinya di era tuntutan yang serba mutakhir. Sejatinya orientasi komposisi gamelan baru itu berbasis pada akar tradisinya yang utuh, sebagai wujud inovasi kreatif, puncak dari akumulasi keilmuan karya-karya tradisi sebelumnya, karena desakan dominasi tuntutan kepentingan materialistik, atau memang sebatas ajang pelarian atas sikap frustasinya sebab ketidakmampuan mengusai basis tradisi yang mumpuni – berbagai model kontradiksi semacam ini tentu menjadi persoalan urgensif untuk ditelaah serius. Saat ini kita dapat melihat substansi masalahnya pada wujud karya gamelan non tradisi. Dorongan kuat semangat “modernisasi” berbalut lebat ideologi materialisme memang telah mengkonstruksi kesadaran kuat bahwa gamelan seolah dapat disandingkan dengan instrumen musik apapun, dicampur-sarikan dengan sistem musik apapun, dikolaborasikan dengan hitungan frekuensi apapun, fleksibel ditransformasikan ke dalam bentuk komposisi apapun, dan bahkan bebas direkayasa liar tanpa perlu pertimbangan kognitif yang didasarkan pada pengetahuan yang holistik. Perguruan Tinggi Seni tentu memiliki peran vital dan inheren dengan masalah konfrontasi ini sehingga perlu merumuskan rekonsiliasi ideologis melalui dialektika kritis yang berkesinambungan. Transformasi inovatif gamelan dalam entitas apapun idealnya dapat berjalan konsisten di atas konservasi kemapanan yang dinamis. Tiap hembusan nafas kebaruan yang diciptakan adalah kreasi inovatif yang berbasis pada sintesis dengan progresi intelektualitas yang dinamis, atraktif, impresif, dan konstruktif sehingga memperkaya eksistensi seni tradisi di era mutakhir.Kata Kunci: Konfrontasi, Komposisi, Transformasi, GamelanAbstract Unlimited freedom in innovation is a confronting problem that is seriously threatening the existence of traditional music in with regards to the issue of identity and the dynamics of its conservation in an era that demands one keeps up to date. By right, the orientation of new gamelan compositions should be based on its intact traditional roots: as a form of creative innovation they are the culmination of knowledge found in previous traditional works. However, because of the dominating pressures of materialistic concerns, or indeed as an excuse for the inability to achieve mastery in traditional competencies, this type of contraindicative model is certainly an urgent matter for serious study. At present we can see the substance of the problem in the form of non-traditional gamelan works. The strong impulse of the spirit of “modernization” clad in the ideology of materialism has indeed constructed a strong awareness that the gamelan seems to be juxtaposed with any musical instrument, mixed with any music system, collaborated with any frequency count, flexibly transformed into any composition, and even wildly engineered without the need for cognitive consideration based on holistic knowledge. Higher Education in the Arts certainly has a vital and inherent role with this confronting problem, making it necessary to formulate ideological reconciliation through continuous critical dialectics. The innovative transformation of gamelan in any entity can ideally run consistently above dynamic establishment conservation. Every breath of novelty created is an innovative creation based on synthesis with dynamic, attractive, impressive and constructive intellectual progressions that enrich the existence of traditional art in the current era.Keywords: Confrontation, Composition, Transformation, Gamelan.
REAKTUALISASI GARAP MUSIK KESENIAN PENTHUL MELIKAN DI DUSUN MELIKAN DESA TEMPURAN KABUPATEN NGAWI Wahyu Paramita Jati; Suyoto Suyoto
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 18 No. 1 (2018)
Publisher : Surakarta: Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v18i1.2395

Abstract

Abstrak “ Reaktualisasi Garap Musik Kesenian Penthul Melikan Di Dusun Melikan Desa Tempuran Kabupaten Ngawi” pada dasarnya membahas garap musik kesenian Penthul Melikan Kabupaten Ngawi setelah mengalami perubahan yang kemudian disebut Reaktualisasi.Inti permasalahan yang diungkap dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana bentuk garap musik pada kesenian Penthul Melikan di Dusun Melikan, Desa Tempuran, Kecamatan Paron Kabupaten Ngawi (2) Faktor penyebab perubahan musik pada kesenian Penthul Melikan di Dusun Melikan, Desa Tempuran, Kecamatan Paron Kabupaten Ngawi. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif, metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif, meliputi observasi, pengumpulan data, dan analisis data.Penelitian ini menggunakan teori, konsep-konsep, dan pemikiran dari beberapa tokoh. Landasan konseptual Reaktualisasi menurut Geriya bahwa adanya proses transformasi dalam perubahan bentuk dan fungsi namun tetap dalam esensi spesiesnya. Teori kreativitas diungkapkan Munandar, bahwa manusia yang memiliki kreativitas sehingga mampu untuk menciptakan sesuatu dari tidak ada menjadi ada, dari yang sudah ada menjadi lebih baru lagi. Penelitian ini juga menggunakan teori perubahan yang ditawarkan Boskoff ketika mengupas tentang perubahan atau pembaharuan, yang pada dasarnya disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Teori garap Supanggah, bahwasanya Reaktualisasi musik pada kesenian Penthul Melikan terdapat beberapa unsur garap meliputi; (1) materi garap, (2) penggarap, (3) sarana garap, (4) perabot garap, (5) penentu garap, dan (6) pertimbangan garap.Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa ada pengaruh positif terhadap kesenian Penthul Melikan setelah mengalami reaktualisasi, adanya perubahan garap dan bentuk baru pada kesenian Penthul Melikan yang kemudian dinamakan Ganongan Melikan, membuat kesenian Penthul Melikan dengan bentuk dan garap yang lama kembali dikenal masyarakat dan semakin berkembang.Kata kunci: Reaktualisasi, Garap, Kesenian Penthul Melikan.Abstract“A reactualisation of the musical style of Penthul Melikan in Dusun Melikan, Desa Tempuran, Ngawi Regency” is a discussion of the musical style found in the Penthul Melikan performance which has changed through a process Geriya terms “reactualisation”. This research explores the following issues: 1) What is the musical style of Penthul Melikan in Dusun Melikan, Desa Tempuran, located within the Paron sub-district of the Ngawi Regency, as well as 2) the factors that changed the music of this art form. This qualitative research uses qualitiative methods including observation, data collection and data analysis. This research employs the theories, concepts and ideas of several figures. Geriya’s Reactualisation involves, as its foundation, a transformation within the art form in formal and functional qualities while nonetheless retaining the essence of its species. Munandar’s theory of creativity explores the human ability to create something from nothing, and the new from the currently existing. Change and renewal are discussed through Boskoff’s theory of change which focuses on internal and external factors. Supanggah’s theory of garap, which discusses the musical materials and tools at the disposal of the musicians is also relevant to studying the reactualisation of Penthul Melikan.The findings suggest that reactualisation has had a positive effect on Penthul Melikan, which later became known as Ganongan Melikan. This has allowed the former style of Penthul Melikan to re-enter its community and develop further.Keywords: Reactualisation, Garap, Penthul Melikan
PERKEMBANGAN GARAP KARAWITAN JARANAN KELOMPOK SENI GUYUBING BUDAYA DI KOTA BLITAR (1980-2017) Dhimaz Anggoro Putro; Muhammad Nur Salim
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 18 No. 1 (2018)
Publisher : Surakarta: Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v18i1.2396

Abstract

AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi oleh ketertarikan terhadap perkembangan garap karawitan Jaranan yang terjadi pada kelompok seni Guyubing Budaya di Kota Blitar. Kelompok tersebut berusaha mengembangkan garap karawitan Jaranan dengan tujuan mendapatkan kepopuleran dan mengoptimalkan sajian pertunjukan kesenian Jaranan sebagai upaya menjaga kualitas di kalangan masyarakat dengan tetap mempertimbangkan kearifan lokal warisan leluhur kesenian Jaranan yang telah diwariskan secara turun-temurun. Permalahan yang ingin dijawab pada penelitian ini adalah, (1) bagaimana kronologi perkembangan garap karawitan Jaranan kelompok seni Guyubing Budaya dari tahun 1920 sampai 2017, (2) mengapa garap karawitan Jaranan kelompok seni Guyubing Budaya saat ini mengalami perkembangan.Konsep garap Rahayu Supanggah digunakan untuk mengupas permasalahan terkait garap. Dengan dasar konsep tersebut, garap karawitan Jaranan dapat dibagi berdasarkan unsur-unsur garap di dalamnya yang meliputi (1) materi garap, (2) penggarap, (3) sarana garap, (4) perabot atau piranti garap, (5) penentu garap, dan (6) pertimbangan garap. Sedyawati menjelaskan istilah mengembangkan lebih mempunyai konotasi kuantitatif dan kualitatif yang berarti memperbanyak tersedianya kemungkinan untuk mengolah dan memperbarui. Teori tersebut adalah landasan untuk mengupas permasalahan terkait perkembangan. Penelitian ini juga menggunakan dasar analisis evolusi multilinear Julian Steward. Menurut Steward Terdapat tiga tahapan analitik penting untuk membaca kasus perkembangan kebudayaan dengan teori ini. Tiga tahapan tersebut adalah melakukan perbandingan, menelusuri hubungan causal, dan melihat secara mendalam elemen manusia dalam lingkungan berdasarkan kronologinya.Perkembangan garap karawitan Jaranan kelompok seni Guyubing Budaya terjadi secara kronologis, melalui beberapa tahapan masa atau waktu. Perkembangan ini terjadi karena adanya faktor-faktor pendukung dari dalam (internal) dan dari luar (eksternal) kelompok seni Guyubing Budaya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perkembangan garap karawitan Jaranan kelompok seni Guyubing Budaya terdapat benang merah dengan garap karawitan Jaranan terdahulu. Perkembangan garap tersebut juga ditunjukkan dengan penambahan materi garap, penggarap, prabot atau piranti, penentu dan sarana garapnya.Kata kunci: Garap, Perkembangan, Kronologi, Faktor Pendukung, Karawitan JarananAbstract This research is motivated by an interest in the stylistic developments of the music that accompanies Jaranan, as played by the group Guyubing Budaya in Blitar. This group has been actively developing the style of Jaranan musical accompaniment in order to maintain the quality of performances in the community while also considering the local wisdom [kearifan lokal] passed down through the generations that informs this art form.The issues explored in this research involve 1) a chronological study of Guyubing Budaya from its founding in 1920 until 2018, and 2) the changes that Guyubing Budaya is currently experiencing. This article invokes Supanggah’s theory of garap, which discusses the musical materials and tools at the disposal of the musicians is used to explore issues of musical garap It also utilizes Sedyawati’s exegesis of the term “development” which has quantitative and qualitative connotations that increase the chances for development and renewal. The research also uses Julian Stewards idea of multilinear evolution as the basis of analysis. According to Steward, there are three important analytical stages in understanding the development of culture. These stages involve making comparisons, tracing casual relationships, and taking a chronological view in order to make deep explorations of human elements within their environment.This article gives a chronological account of Guyubing Budaya through its various stages and eras, noting the internal and external factors that motivated the changes. The study shows the continuity between the musical style developed by Guyubing Budaya and the styles of Jaranan accompaniment in the past, indicated by the factors which Supanggah has outlined in his theory of garap.Keywords: Garap, Development, Chronological factors supporting development, Jaranan
MENGENAL KARAWITAN GAYA YOGYAKARTA Sugimin Sugimin
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 18 No. 2 (2018)
Publisher : Surakarta: Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v18i2.2398

Abstract

AbstrakKarawitan gaya Yogyakarta dan karawitan gaya Surakarta diduga bersumber dari budaya yang sama, yaitu kerajaan Mataram. Kedua gaya karawitan ini menggunakan perangkat gamelan yang sama, yaitu perangkat gamelan ageng. Karawitan yang berkembang di wilayah Kasultana Yogyakarta kemudian memunculkan ciri-ciri yang berbeda dengan karawitan gaya Surakarta. Ciri-ciri tersebut dapat dilihat secara fisik maupun non fisik Ciri-ciri fisik dapat dikenali melalui bentuk instrumen, sedangkan ciri-ciri non fisik berupa cara kerja musikal dapat dikenali melalui pola tabuhan, garap, irama, tempo sajian, dan susunan balungan gending yang semuanya dalam rangka untuk penguatan sebuah identitas gaya karawitan. AbstractYogyakarta style karawitan and Surakarta style gamelan are said to originate from the same culturalsource: that of the Mataram kingdom. Each style uses the same type of gamelan: the gamelan ageng.The style of karawitan that developed in the Yogyakarta Sultanate gradually evolved different characteristicsfrom that in Surakarta. These characteristics are both physical and non-physical. The former canbe observed in the shapes of the instruments, while the latter involve how the music is played: how theinstruments are struck, garap, irama, the tempo within performances, and the balungan of compositions.All these elements go towards strengthening the identity of each style.Keywords: Yogyakarta style Karawitan, physical characteristics, and musical characteristicsKata Kunci: Karawitan Gaya Yogyakarta, ciri fisik, dan ciri musikal
KARAWITAN TARI TOPENG SEKARTAJI TUNGGAL Rini Rahayu
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 18 No. 2 (2018)
Publisher : Surakarta: Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v18i2.2399

Abstract

AbstractTopeng Sekartaji Tunggal is dance which is inspired from the inner turmoil of the Dewi Sekartaji, a beloved daughter of protagonist Panji Asmarabangun commonly contained in narratives of Serat Panji. This research aims to know karawitan dance musical idea "Topeng Sekartaji Tunggal" corresponding to shape and work on choreography and describe the creative process when it embodies the idea of a musical idea into a tangible form gamelan musicians dance "Topeng Sekartaji Tunggal". This research uses the steps that consists of three stages, namely 1) Design the idea of Musicians: the Sekartaji mask dance with) the idea of the contents; b) work on the idea; and c) preparation of the implementation. 2) Topeng Sekartaji Tunggal dance Musicians composition process: a) Determine Material Repertoire; and b) process of the exercise. 3) Results of the work: a) results of Product; b) refinements to the Follow-up. The research results obtained are know karawitan idea design, process, and outcomes karawitan Topeng Sekartaji Tunggal dance. Keywords: design idea, kekaryaan, karawitan, Topeng Sekartaji Tunggal. AbstrakTopeng Sekartaji Tunggal merupakan tarian yang terinspirasi dari gejolak batin Dewi Sekartaji, seorang tokoh protagonis putri kekasih Panji Asmarabangun yang umum termuat dalam kisah-kisah “Serat Panji”. Penelitian ini bertujuan untuk Mengetahui ide gagasan musikal karawitan tari “Topeng Sekartaji Tunggal” yang sesuai dengan bentuk dan garap koreografi tariannya dan mendeskripsikan proses kreatif ketika mewujudkan ide gagasan musikal menjadi bentuk nyata gending karawitan tari “Topeng Sekartaji Tunggal”. Penelitian ini menggunakan langkah-langkah yang terdiri dari tiga tahap, yaitu 1) Rancang Gagasan Karawitan Tari Topeng Sekartaji Tunggal: a) Gagasan Isi; b) Gagasan Garap; dan c) Persiapan Penggarapan. 2) Proses Kekaryaan Karawitan Tari Topeng Sekartaji Tunggal: a) Menentukan Materi Gending; dan b) Proses Latihan. 3) Hasil Kekaryaan: a) Capaian Hasil Kekaryaan; b) Tindak Lanjut Penyempurnaan. Hasil penelitian yang diperoleh adalah mengetahui rancang gagasan karawitan, proses kekaryaan karawitan, dan hasil kekaryaan tari Topeng Sekartaji Tunggal. Kata kunci: rancang gagasan, kekaryaan, karawitan, Topeng Sekartaji Tunggal.
SINDHENAN GENDHING JOMPLANGAN GAYA SUJIYATI MENTIR DI SRAGEN Kusnila Hapsari; Suyoto Suyoto
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 18 No. 2 (2018)
Publisher : Surakarta: Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v18i2.2400

Abstract

Abstrak”Sindhènan Gendhing Jomplangan Gaya Sujiyati Mentir di Sragen” dilatarbelakangi oleh fenomena karawitan sragenan yang memiliki keunikan di wilayah Solo Raya. Keunikan tersebut berada pada sosok seseorang yang cukup fenomenal, yaitu Sujiyati. Sujiyati (Mentir) menjadi ikon karawitan sragenan dan identik dengan gendhing Jomplangan. Sujiyati adalah sosok pesindhèn yang karismatik dan memiliki ciri khas dengan gendhing Jomplangannya. Persoalannya adalah 1) mengapa sindhènan Jomplangan gaya Sujiyati Mentir menjadi populer?2) Bagaimana profil Sujiyati Mentir sebagai pesindhèn ?3) bagaimana garap gendhing Jomplangan gaya Sujiyati Mentir?Persoalan dimaksud diungkap dengan menggunakan tiga konsep, yaitu; konsep garap Rahayu Supanggah, konsep artistik karawitan Bambang Sunarto, dan konsep kreativitas I Made Bandem. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dengan menggunakan diskriptik analitik.Hasil penelitian ditemukan, bahwa sindhènan gendhing jomplangan gaya sujiyati populer masyarakat Sragen, pertama: dilatarbelakangi oleh fanatisme masyarakat meyakini hanya Sujiyati sosok yang dapat mewakili gendhing jomplangan, dengan kekhasannya dalam membawakan gending tersebut. Kedua, garap sindhènan Sujiyati sangat khas dan spesifik, terutama parikannya yang familier dan lucu. Tema parikan yang dibuatnya lebih menekankan pada wilayah kehidupan sehari-hari. Kepopuleran Sujiyati terletak pada warna suara dan gaya nyindhènnya yang khas.Ketiga, kisah kehidupan sehari-hari menjadi bahan atau diksi dalam membuat parikan. Ciri khas sindhen Sujiyati menjadi kompleks didukung oleh kendangan yang memiliki karakter sigrak dan eksotis. Nyaris seluruh hidup Sujiyati didedikasikan untuk dunia kesenian khususnyakarawitan. Sujiyati adalah seorang janda yang menggantungkan ekonominya lewat berkesenian, dengan kisah rumah tangganya yang cukup berliku-liku dalam memperjuangkan hidupnya.Kata Kunci: Sujiyati, Garap, Sindhènan, Gendhing Jomplangan.AbstractThis article explores Sujiyati Mentir’s style of Sindhenan of Gendhing Jomplangan, a unique phenomenon within Karawitan Sragen found in the Solo Raya area. It’s unique essence can be found in the phenomenal figure of Sujiyati (Mentir), who is an icon for the style and is closely associated with gendhing Jomplangan. Sujiyati is a charismatic pesindhen with a distinctive style when performing gendhing Jomplangan.This article explores the following issues:1. Why are Sujiyati Mentir’s sindhenan Jomplangan so popular?2. What is Sujiyati’s profile as a pesindhen?3. How does one garap gendhing Jomplangan in her style?These are examined through three concepts: Rahayu Supanggah’s concept of garap, Bambang Sunarto’s concept of karawitan aesthetics, and I Made Bandem’s concept of creativity. This is a qualitative studythat uses analytical descriptions. The findings suggest, firstly, that the popularity of Sujiyati’s garap are motivated by the near fanatical belief of audiences in Sragen that only she truly represents gending JomVolume18 Nomor 2 Bulan November 2018 109 plangan with her individual style. Secondly, her style is distinctive and specific to her, using parikan thatare familiar and humorous, with subjects that revolve around daily life. It is her vocal quality and style that contributes to her popularity. Thirdly, it is the events of daily life that form the content and diction of theparikan. Her sindhenan is complex, with a lively and exotic character. Almost all her life has been dedicated towards the arts, particularly karawitan. She is a widow with a tragic life story, whose livelihood depends on the arts.Keywords: Sujiyati, Garap, Sindhènan, Gendhing Jomplangan.
KLASIFIKASI DAN PENERAPAN WANGSALAN DALAM PEMENTASAN WAYANG KULIT PURWA GAYA SURAKARTA Sri Suparsih
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 18 No. 2 (2018)
Publisher : Surakarta: Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v18i2.2401

Abstract

AbstractThis research began with the writer’s concern for sindhénan, and more specifically wangsalan. In connection with the performance of wayang kulit, wangsalan plays an important part in supporting a performance. This is because wangsalan contains texts (cakepan) which mention the names of characters or places (kingdoms, military headquarters, hermitages) and or the genealogy (silsilah) of characters in wayang stories. In the performance of wayang kulit, accuracy in the application of wangsalan is extremely important to create coherence between the text (cakepan) of the wangsalan and the wayang characters portrayed. In order to ensure the application of wangsalan is used appropriately (trep), a pesindhen must understand the text (cakepan) of the wangsalan she is singing. Therefore, a detailed and accurate analysis of the wangsalan text (cakepan) is needed to understand its content. This will also reduce the occurrence of distortion in meaning or misunderstanding of meaning which frequently occurs amongst pesindhen. In this research, the writer is also required to compile new wangsalan texts (cakepan) to meet the needs of wangsalan in the performance of wayang kulit. The wangsalan compiled by the writer mainly prioritize the characters of wayang stories. The writer classifies, analyzes, compiles, and describes the application of wangsalan to ensure that it is used appropriately. It is hoped that this can be utilized as new vocabulary for pesindhen in particular and for the world of karawitan in general. Academically, this research is beneficial as a reference for vocal studies.Keywords: sindhénan, wangsalan, trep, silsilah, pesindhen.  AbstrakKajian ini bermula dari kepedulian penulis terhadap sindhénan, khususnya wangsalan. Kaitannya dengan pementasan wayang kulit, wangsalan termasuk bagian penting dalam mendukung suatu sajian. Hal ini dikarenakan dalam wangsalan terdapat teks-teks (cakepan) yang menyebut nama tokoh atau tempat (kerajaan, kesatrian, pertapan) dan atau silsilah dalam pewayangan. Ketepatan penerapan wangsalan dalam pementasan wayang kulit menjadi sangat penting agar terjadi kecocokan antara teks (cakepan) wangsalan dengan tokoh wayang yang ditampilkan. Untuk menerapkan wangsalan, agar trep (sesuai) penggunaannya, pesindhén harus mengerti dan memahami teks (cakepan) wangsalan yang dilagukan. Oleh sebab itu, menguraikan teks (cakepan) wangsalan secara rinci dan benar perlu dilakukan agar bisa dimengerti isinya. Hal  ini juga akan mengurangi terjadinya distorsi arti atau kesalahan arti yang selama ini sering terjadi di kalangan pesindhén. Dalam kajian ini, penulis juga perlu menyusun teks (cakepan) wangsalan baru agar bisa melengkapi kebutuhan wangsalan dalam pementasan wayang kulit. Wangsalan yang penulis susun lebih mengutamakan pada tokoh-tokoh dalam pewayangan. Penulis mengklasifikasikan, mengurai, menyusun dan memberi gambaran tentang penerapan wangsalan sehinggga sesuai dengan kegunaan. Hal ini diharapakan dapat dimanfaatkan sebagai perbendaharaan bagi para pesindhén khususnya, dan dunia karawitan pada umumnya. Secara akademis kajian ini bermanfaat sebagai referensi pembelajaran pada mata kuliah tembang.Kata kunci: sindhénan, wangsalan, trep, silsilah, pesindhen.
KEBERTAHANAN NOTASI KEPATIHAN SEBAGAI SISTEM NOTASI KARAWITAN JAWA Rusdiyantoro Rusdiyantoro
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 18 No. 2 (2018)
Publisher : Surakarta: Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v18i2.2402

Abstract

AbstrakNotasi Karawitan Jawa merupakan sebuah metode pencatatan permainan musik gamelan. Ia dilahirkan setelah terjadi proses interaksi budaya yang cukup intensif antara orang-orang yang berlatar budaya Jawa dengan budaya Barat. Sebelumnya masyarakat karawitan Jawa tidak mengenal notasi. Sistem pewarisan permainan musiknya dilakukan dengan cara tradisi lisan. Notasi Karawitan pertama kali diperkenalkan di pusat-pusat kebudayaan Jawa, yaitu di ibu kota kerajaan Surakarta dan Yogyakarta, pada akhir abad ke-19. Tidak kurang dari delapan macam sistem notasi diperkenalkan dan dikembangkan untuk mendokumentasi-kan gending Jawa agar tidak hilang. Pada perkembangan selanjutnya notasi karawitan digunakan sebagai alat untuk belajar menabuhgamelan. Dari ke delapan sistem notasi tersebut, hanya notasi Kepatihan yang dapat bertahan hingga sekarang. Notasi Kepatihan dapat bertahan dalam waktu yang lama, karena sistemnya relatif sederhana dan terbuka untuk dikembangkan. Pemanfaat-an notasi angka tidak hanya untuk dokumentasi dan pembelajaran gamelan, tetapi juga untuk pengkajian ilmu karawitan. Dampak dari penggunaan notasi Kepatihan secara terus menerus dan sangat dominan, menjadikan penyajian karawitan menjadiseragam. Sebuah kondisi yang bertentangan dengan sifat karawitan Jawa itu sendiri, dimana keterbukaan terhadap berbagai gaya permainan dan penghargaan terhadap keberagaman lebih diutamakan.Untuk mengurangi dampak negatif, pemanfaatan notasi Kepatihan dalam proses belajar Karawitan harus ditempatkan kembali sebagai alat bantu ingatan para pemusiknya. Pengembangan sistem notasi Kepatihan lebih diarahkan untuk keperluan dokumentasi terhadap perbendaharaangarap dan teknik karawitan yang mulai hilang dari ingatan para pemusik gamelan. Kata kunci: karawitan, notasi, pencatatan, dan gending.AbstractJavanese gamelan notation is one method for recording the playing of Javanese gamelan. It arose from the intensive cultural interaction between those from Javanese and Western backgrounds. Before this, theJavanese karawitan community did not know of notation, transmitting the music orally. Notation was first introduced towards the end of the 19th century in the centres of Javanese culture: the court cities of Surakarta and Yogyakarta. No fewer than eight systems of notation were introduced and developed to document Javanese gendhing to prevent them from being lost. A subsequent development was the use of notation as a tool for teaching how gamelan should be played. From these eight systems, only the Kepatihan notation has survived to this day.Kepatihan has been able to survive for so long because it is relatively simple and easily modified. The use of cipher notation has not been restricted to documentation and pedagogy, but also to develop theoriesof gamelan music (ilmu karawitan). The impact of Kepatihan’s widespread and continual use has been the standardisation of gamelan performances, a condition at odds with the character of Javanese karawitan which prioritises an openness to different styles of playing and respects diversity. To reduce this negative impact, theuse of Kepatihan notation in teaching should return to being a mnemonic tool for musicians, and developed as a tool for documentation of garap and techniques that are beginning to be forgotten.Keywords: karawitan, notation, recording, and recording.
Interaksi Dan Komunikasi Musikal Dalam Garap Sekaten Bambang Sosodoro
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 18 No. 2 (2018)
Publisher : Surakarta: Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v18i2.2403

Abstract

AbstractThe traditions that govern the music of gamelan Sekaten are commonly referred to as garap Sekaten. Based on observations of current musical practice, it can be comprehensively stated that garap Sekaten involves musical interaction and communication. This is reflected in the melodic phrases and interactive grammar between particular instruments of this ensemble. The characteristics, unique qualities, and complexities of garap sekaten have also influenced the gamelan ageng. For example, gendhing Bonang are a genre within gamelan ageng repertoire that accentuate the "loud" instruments and incorporate the sesegan/sabetan playing style found in garap Sekaten. This style is also adopted in particular gendhing Rebab in specific ways. Similarly, several instrumental techniques found in gamelan Ageng originate in garap Sekaten. These include imbal Demung, kinthilan, cegatan and nduduk tunggal techniques for Bonang, and salahan patterns for Kendhang. In short, an understanding of Garap Sekaten is one way of acquiring performance skills in individual instruments and gaining methods for interpreting certain gendhing. Key words: Garap Sekaten, Musical Interaction, Musical Communication AbstrakTradisi atau kaidah-kaidah dalam praktik musikal gamelan sekaten lazim disebut garap sekaten. Berdasarkan fakta-fakta dan realitas praktik, secara komprehensif dapat dikatakan bahwa garap sekaten terdapat interaksi dan komunikasi musikal. Hal tersebut tercermin dalam kalimat lagu dan gramatikal permainan antar ricikan tertentu. Cirikhas, keunikan, dan kompleksitas garap sekaten juga berkembang di gamelan ageng. Seperti, gending-gending bonang yang menonjolkan instrumen bersuara nyaring, disertai garap sesegan/ sabetan. Garap sabetan yang melekat pada penyajian gending bonang, selanjutnya dikembangkan pada gending-gending rebab dengan ketentuan dan ciri-ciri tertentu. Juga teknik-teknik permainan ricikan, seperti imbal demung, kinthilan, teknik cegatan-nduduk tunggal pada bonangan, hingga pola salahan kendang. Singkatnya, garap sekaten dapat dipahami sebagai suatu tata cara yang memiliki karakteristik dalam menyajikan ricikan maupun mengintepretasi gending tertentu.Kata Kunci: garap sekaten, interaksi, komunikasi musikal
WAYANG DAN GAMELAN BANJAR KALIMANTAN SELATAN Sigit Setiawan
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 19 No. 1 (2019)
Publisher : Surakarta: Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v19i1.2635

Abstract

Tulisan ini merupakan upaya awal untuk mengungkap Wayang Banjar dalam perspektif secara umum, mengingat masih minimnya pembahasan mengenai wayang Banjar di Kalimantan Selatan. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Hasil dari tulisan ini adalah mengetahui tentang sejarah dan perkembangan wayang Banjar serta mendeskripsikan salah satu gending dalam pertunjukan wayang Banjar. Kata kunci: wayang, banjar, gending, gamelan.AbstractThis paper is an initial effort to reveal the Wayang Banjar in a general perspective, given the lack of discussion on the Banjar puppet in South Kalimantan. The  approach used is descriptive qualitative. The results of this paper are to know about the history and development of the Banjar puppet and to describe one of the songs in the Banjar puppet show.Keywords: puppets, banjar, gending, gamelan.

Page 8 of 19 | Total Record : 189