cover
Contact Name
Idil Hamzah
Contact Email
idilhamzahsengkang@gmail.com
Phone
+6285215388348
Journal Mail Official
idilhamzahsengkang@gmail.com
Editorial Address
Jl. Taman Wijaya Kusuma, Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
IJMIS: Istiqlal Journal on Mosque and Islamic Studies
ISSN : 30636345     EISSN : 30636035     DOI : https://doi.org/10.70017/ijmis.v1i1
Core Subject :
The IJMIS Istiqlal Journal on Mosque and Islamic Studies is published by the Istiqlal Mosque Management Board Jakarta. The journal provides a scholarly platform for research and discussion in Mosque and Islamic Studies. It covers a wide range of topics including Islamic Education, Islamic Law, Islamic Economics and Business, Quranic Studies, Hadith Studies, Islamic Philosophy, Islamic Thought, Islamic Literature, Islam and Peace, Science and Civilization in Islam, Islam in local and national contexts, and Islam and Gender. Through these areas of study, the journal promotes academic dialogue and interdisciplinary research in Islamic Studies. The journal is published twice a year in February and August.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
دور المسجد في النهوض بالحضارة؛ الشيخ جنيد سليمان ومسجد رايا Zainal Abidin; Ahmad Thib Raya; Kholilurrohman
IJMIS: Istiqlal Journal on Mosque and Islamic Studies Vol. 1 No. 1 (2024): Masjid dan Transformasi Umat: Meneguhkan Peran Spiritual, Sosial, dan Ekologis
Publisher : Badan Pengelola Masjid Istiqlal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70017/ijmis.v1i1.1

Abstract

للمسجد دور مركزي في تشكيل الحضارة. تتناول هذه المقالة دور المسجد في مختلف جوانب الحياة: الروحانية والاجتماعية والاقتصادية. لقد ظل مسجد رايا، بقيادة جنيد سليمان، مثالا واضحا لكيفية تحول المسجد إلى مركز لتنمية الحياة الحضارية وفقا للتعاليم الإسلامية. لا يركز جنيد سليمان على طقوس العبادات فحسب، بل ينشط أيضًا في تحسين الجوانب الاجتماعية والاقتصادية والتعليمية لجماعة مسجده. وجهوده في كتابة التفسير واليوميات التقدمية جعلت منه شخصية ملهمة في تقدم الحضارة الإسلامية. يوضح مسجد رايا أن المسجد يمكن أن يكون أيضًا أهم عامل من عوامل التغيير الاجتماعي. وهذا يتماشى مع المبدأ الثاني للبنشاسيلا الذي يؤكد على الإنسانية المتحضرة والتقدمية. جنيد سليمان هو مثال في تطوير المسجد كمركز للحضارة الإسلامية الشاملة والديناميكية
Treatment Limbah Plastik: Analisis Ice Berg dan U Theory Pendekatan Ekofeminisme Natural dalam Menjaga Alam-Lingkungan Sopiyan Iqbal; Idil Hamzah
IJMIS: Istiqlal Journal on Mosque and Islamic Studies Vol. 1 No. 1 (2024): Masjid dan Transformasi Umat: Meneguhkan Peran Spiritual, Sosial, dan Ekologis
Publisher : Badan Pengelola Masjid Istiqlal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70017/ijmis.v1i1.2

Abstract

Sejak abad ke-18 revolusi industri membawa pengaruh yang besar terhadap pola hidup manusia. Revolusi industri menerjang segala aspek kehidupan manusia dalam rangka memberikan kemudahan setiap aktivitas personal maupun sosial. Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk yang relatif besar harus memiliki regulasi dalam penanganan sampah, terutama sampah plastik. Mengutip data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) tahun 2021 tercatat bahwa timbulan sampah sebesar 30.429.174,09 ton/tahun, sementara pengurangan sampah sebesar 15,6%, penanganan sampah sebesar 49,18%, sampah terkelola sebesar 64,78%, sedangkan sampah tidak terkelola sebesar 35,22%, dan komposisi sampah plastik sebesar 17,3%. Untuk mengurai permasalahan tersebut penelitian ini menggunakan metode library research dengan model analisis deskriptif empirik dalam mengkaji sebuah permasalahan. Ekofeminsisme natural merupalan cara pandang yang tidak sekedar melihat relasi kerjasama antara laki-laki dan perempuan dalam menangani krisis lingkungan. Akan tetapi, ekofeminisme natural adalah konsep yang bertujuan untuk mengembalikan hak-hak alam dan lingkungan berdasarkan sifat alamiahnya. Konsep yang memandang linierisasi peran dan fungsi sebagai subjek dalam hubungan timbal balik antara manusia-alam dan lingkungan.
Pandangan Politik Soekarno Dalam Membangun Masjid Istiqlal Achmad Rizki Nugraha; Darul Ma'arif
IJMIS: Istiqlal Journal on Mosque and Islamic Studies Vol. 1 No. 1 (2024): Masjid dan Transformasi Umat: Meneguhkan Peran Spiritual, Sosial, dan Ekologis
Publisher : Badan Pengelola Masjid Istiqlal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70017/ijmis.v1i1.3

Abstract

Masjid Istiqlal sebagai masjid terbesar di Asia Tenggara adalah satu dari sedikit masjid yang berdiri di tengah ibukota negara. Apalagi, sebagai masjid negara, ia berhadapan dengan rumah ibadah agama lain, yang di saat yang bersamaan juga, bertetangga dengan Monumen Nasional. Karena lokasinya yang sangat unik, maka menarik untuk menelaah lebih lanjut mengenai bagaimana pemilihan lokasi dan pembangunannya, yang bersamaan dengan dinamika politik Indonesia di usianya yang belum cukup satu dekade, di bawah pemerintahan Presiden Ir. Soekarno. Artikel ini akan mencari tahu apa latarbelakang didirikannya Masjid Istiqlal? Apa pandangan politik Soekarno dalam pembangunan Masjid Istiqlal? dan bagaimana sambutan umat Islam ketika Masjid Istiqlal didirikan? Untuk menjawab pertanyaan tersbut, metode penelitian yang dipergunakan di dalam artikel ini adalah metode historis, dengan mengumpulkan referensi pustaka maupun wawancara. Penelitian ini menemukan bahwa ide awal pendirian Masjid Istiqlal adalah gagasan dari tokoh Islam, yang kemudian didukung oleh Presiden Soekarno, yang ternyata, memang memiliki cita-cita untuk membangun masjid yang besar sejak di pengasingan. Soekarno memilih lokasi Masjid Istiqlal sebagaimana sekarang adalah simbol politis anti-kolonialisme, sekaligus sebagai simbol kebangkitan Indonesia pasca penajajahan. Keterlibatan masyarakat dari berbagai kalangan -baik dari segi latar belakang agama, profesi hingga afiliasi politik- dalam pembangunan Masjid Istiqlal menunjukkan bahwa masjid ini memang diinginkan oleh masyarakat Indonesia dan menjadi kebanggaannya sebagai negara dengan populasi muslim terbanyak di dunia.
Mosque’s and Imam’s Dynamic Roles Khairun Nisa
IJMIS: Istiqlal Journal on Mosque and Islamic Studies Vol. 1 No. 1 (2024): Masjid dan Transformasi Umat: Meneguhkan Peran Spiritual, Sosial, dan Ekologis
Publisher : Badan Pengelola Masjid Istiqlal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70017/ijmis.v1i1.4

Abstract

Compared to Java and Sumatra, the discourse of Islam in Eastern Indonesia is understudied. The academic studies on Eastern Indonesia has not touched significantly Islam and Muslims in the areas inhabited by more than twenty five millions (25,083,901) Muslims who widely disperse in Sulawesi, Nusa Tenggara, Moluccas, and Papua islands. This was the main reason of a long-term Discovery research project entitled “Being Muslim in Eastern Indonesia: Practice, Politics, and Cultural Diversity” led by Kathryn Robinson, and funded by the Australian Research Council (DP0881464). This edited volume is the result of a conference organised within this five-year research project.
Ellenchos Practices in Classical Islam: Hayy b. Yaqzan of Ibn Tufayl Faried F. Saenong
IJMIS: Istiqlal Journal on Mosque and Islamic Studies Vol. 1 No. 1 (2024): Masjid dan Transformasi Umat: Meneguhkan Peran Spiritual, Sosial, dan Ekologis
Publisher : Badan Pengelola Masjid Istiqlal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70017/ijmis.v1i1.5

Abstract

Scholars have considered the story of Robinson Crusoe by Daniel Defoe (1660-1731) in Western context as equally comparable to that of Hayy b. Yaqzan by Ibn Tufayl (1110-1185) in Islamic philosophy, or vice versa. Both imaginative and allegorical tales feature different fictive figures who lived alone in a remote island. They both covers how human being could absorb divine and profane knowledge based on their own experience with particular level of intellectuality and intention of knowledge seeking. Both tales also stand for the way both authors, followed later by many writers and novelists, employed imagination and allegories to reconstruct ellenchos to emphasise lessons learned and wisdoms from both stories. Although both Ibn Tufayl and Defoe practiced assorted styles and methods in different time and cultural contexts, both have set trends in writing such imaginative and allegorical stories in world literature. This paper examines the practices of ellenchos in classical Islam, by taking the case of “Hayy b. Yaqzan” by Ibn Tufayl. Starting with a postulation that the fundamental difference between Islamic philosophy and Western one is at the starting line of neo-platonism, this paper reorients the understanding of Ibn Tufayl’s philosophical contribution that is peripheral in Islamic philosophy. It includes his neo-platonist orientation which is the general alignment of Muslim philosophers.
المسجد وتمكين الأمة: إعادة توجيه وظائف المسجد في العصر الحديث Nasaruddin Umar
IJMIS: Istiqlal Journal on Mosque and Islamic Studies Vol. 1 No. 1 (2024): Masjid dan Transformasi Umat: Meneguhkan Peran Spiritual, Sosial, dan Ekologis
Publisher : Badan Pengelola Masjid Istiqlal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70017/ijmis.v1i1.6

Abstract

يهدف هذا المقال إلى فك شفرة توجهات المساجد في العصر الحديث. تستخدم هذه الدراسة الأسلوب النوعي مع مصادر البيانات المستمدة من الأدبيات (طريقة البحث المكتبة). أهم نتائج هذه الدراسة أن وظيفة المساجد قد تطورت بشكل كبير على مر التاريخ، تجاوزت المعنى الحرفي كمكان للسجود فقط. فخلال عهد النبي محمد صلى الله عليه وسلم، لم تكن المساجد أماكن للعبادة فقط، وإنما كانت أيضًا مراكز للتعليم، وتشكيل الشخصية، والأنشطة الاجتماعية، مما يعكس تعدد استخداماتها. ومع الوقت، تكيفت المساجد مع التغيرات الاجتماعية والتقدم التكنولوجي، والديناميات الحديثة لتظل ذات أهمية في تلبية الاحتياجات الروحية والتعليمية والاجتماعية والثقافية للمجتمع المسلم. المساجد ليست مجرد أماكن للعبادة، بل لديها مهمة أوسع، بما في ذلك التعليم الديني، وتعزيز الروابط الاجتماعية، وتمكين الاقتصاد، باستغلال الموارد المحلية بفعالية. من خلال التقليد النبوي للنبي محمد صلى الله عليه وسلم، تلعب المساجد دورًا حاسمًا في التنمية الاجتماعية، مما يعكس نجاحها كمؤسسات تعزز التنمية الشاملة والمستدامة للمجتمع المسلم وتمكين المجتمع بشكل عام.
Koeksistensi Manusia Dan Lingkungan: (Pengalaman Tadabbur Alam PKUMI) Darlis
IJMIS: Istiqlal Journal on Mosque and Islamic Studies Vol. 1 No. 2 (2024): Islam, Society, and Contemporary Challenges: Textual Interpretation, Environmen
Publisher : Badan Pengelola Masjid Istiqlal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70017/ijmis.v1i2.10

Abstract

Krisis ekologi telah menjadi isu global yang menjadi perhatian seluruh dunia. Krisis tersebut tidak lepas dari hubungan tidak harmonis antara manusia dan lingkungannya, sebagai akibat dari paradigma yang berorentasi materialistik maupun karena keserakahan manusia itu sendiri. Merespon persoalan tersebut, para ahli telah menawarkan solusi berbasis kultural dan agama. Namun kesadaran ekologis di tengah masyarakat masih terbilang rendah. Tulisan ini bertujuan untuk mendiskusikan peran tadabbur alam PKU-MI sebagai salah satu best practice dalam internalisasi nilai-nilai ekologis kepada mahasantri. Tulisan ini adalah kualitatif dengan model studi kasus. Pastisipan penelitian ini adalah peserta tadabbur alam PKU-MI yang terdiri dari 50 orang yang terbagi dalam enam kelompok. Melalui pendekatan sosio-sufistik dengan tekhnik wawancara, observasi dan dokumen tertulis, penelitian menegaskan bahwa tadabbur alam PKU-MI sangat efektif dalam peningkatan kesadaran ekologis mahasantri. Kesadaran itu tumbuh melalui penguatan teori, pelepasan masa lalu, bersahabat dengan malam, muhasabah, sinergi energi dan praktek. Proses tersebut merupakan salah satu trategi internalisasi nilai-nilai positif kepada mahasantri yang terjadi melalui tahapan takhalli, tahalli, dan tajalli. Selain itu, tulisan ini juga menunjukkan bahwa tadabbur alam tidak hanya menumbuhkan pemahaman tentang spiritualitas lingkungan (ekologi), tapi juga meningkatkan kesejahteraan psikologis sebagai aspek penting dalam upaya konservasi lingkungan. Dengan demikian, tulisan ini menyimpulkan bahwa kesadaran ekologis memiliki hubungan erat dengan kesejahteraan psikologis.
Integrasi Teks dan Konteks Asbabunnuzul Terhadap Justifikasi Dalil Agama Pelaku Terorisme Misbah Hudri
IJMIS: Istiqlal Journal on Mosque and Islamic Studies Vol. 1 No. 2 (2024): Islam, Society, and Contemporary Challenges: Textual Interpretation, Environmen
Publisher : Badan Pengelola Masjid Istiqlal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70017/ijmis.v1i2.14

Abstract

Tulisan ini mengulas mengenai peran penting asbabunnuzul didukung oleh latar kesejarahan di mana Al-Qur’an diturunkan. Memperhatikan teks dan konteks ayat menjadi salah satu upaya untuk menemukan pemahaman ayat. Termasuk ayat Al-Qur’an yang disalahpahami dan dijadikan dasar untuk melakukan aksi terorisme. Tujuannya dalam rangka jihad di jalan Allah dengan ragam jenis yang sering terjadi di Indonesia termasuk peristiwa bom bunuh diri. Dua dalil yang sering digunakan: rangkaian ayat dari QS. al-Baqarah (2): 190-193 dan QS. al-Maidah (5): 44. Tentang kebolehan untuk berperang dan berhukum atas hukum Allah. Jenis penelitian yang digunakan dalam tulisan ini ialah kualitatif dengan instrumen kerja deskrptif-analitis. Termasuk dalam penelitian yang menggunakan data pustaka (library research). Selanjutnya mempertanyakan mengenai teks dan konteks asbabunnuzul dalil dari ayat Al-Qur’an yang digunakan oleh pelaku terorisme. Hal ini dilihat dengan berdasar pada pemahaman asbabunnuzul khassah dan asbabunnuzul ‘ammah sebagai mana pemahaman Imam Syatibi, juga yang disebutkan oleh al-Dahlawi dengan asbabunnuzul juz’i dan asbabunnuzul haqiqi dan asbabunnuzul mikro makro yang disebutkan oleh scholar Islam kontemporer. Selanjutnya dengan pemamaham Imam Syatibi implementasi dan penerapannya, berdasarkan teks dan konteks (tatbiq). Dua dalil yang sering digunakan para kaum radikal atau pelaku aksi terorisme ini memiliki peristiwa dibaliknya. Rangkaian QS al-Baqarah (2): 190-193 peristiwa Hudaibiyah ketika sahabat khawatir akan diperangi oleh kafir Quraisy maka ayat turun untuk membolehkan perang dengan syarat ketentuannya. QS. al-Maidah (5): 44 berkenaan dengan peristiwa ketidakinginan sahabat untuk menerapkan hukum rajam. Ayat turun sebagai respon untuk menerapkan hukum yang berlaku. Dalil yang digunakan pelaku terorisme, dari segi konteksnya tidak mampu mengakomodir alasan pembenar jihad menurut pandangan mereka. Dilihat juga dari konteks Indonesia di mana ‘dipaksa’ untuk diterapkan, tidaklah sesuai. Mengingat Indonesia sebagai negara merdeka memiliki hukum dan aturannya sendiri, yang tentu saja sudah menjadi bagian dari cita-cita bangsa secara umum.
Qur’anic Perspectives on Interfaith Marriage: a Comparative Interpretation between Ibn Kathir and al-Munir Siti Rifatusssaadah Sitorus Pane
IJMIS: Istiqlal Journal on Mosque and Islamic Studies Vol. 1 No. 2 (2024): Islam, Society, and Contemporary Challenges: Textual Interpretation, Environmen
Publisher : Badan Pengelola Masjid Istiqlal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70017/ijmis.v1i2.17

Abstract

This study investigates the complex issue of interfaith marriage through a comparative analysis of two prominent Tafsīr works: Tafsīr Ibn Kathīr and al-Munīr by Wahbah al-Zuḥaylī. Ibn Kathīr’s exegesis adopts a conservative stance, strictly prohibiting marriages between Muslims and non-Muslims, emphasizing the preservation of faith, religious identity, and adherence to traditional legal rulings. In contrast, al-Zuḥaylī’s al-Munīr offers a more contextual and flexible perspective, acknowledging the social realities, pluralistic dynamics, and interreligious interactions characteristic of contemporary societies. Using qualitative content analysis, this study examines the underlying principles, interpretive methodologies, and hermeneutical reasoning employed by each scholar, highlighting the interplay between textual fidelity and contextual considerations. The findings suggest that while Ibn Kathīr prioritizes legal and doctrinal certainty, al-Zuḥaylī emphasizes social cohesion and pragmatic ethics, illustrating how exegetical thought evolves in response to historical, cultural, and societal changes. This comparative framework underscores the importance of fostering dialogue between rigid and contextual interpretations, advocating for approaches that harmonize religious adherence with the principles of tolerance, mutual respect, and coexistence. Beyond legal discourse, interfaith marriage is thus framed as a potential avenue for enhancing interreligious understanding, promoting social integration, and enabling individuals to exercise agency in choosing life partners while navigating the delicate balance between faith and pluralism. This study contributes to ongoing debates in Islamic jurisprudence, modern ethics, and interfaith relations, offering insights for scholars, policymakers, and communities seeking to reconcile tradition with contemporary social realities.
Penguatan Peran Hai’ah Lughawiyah Pesantren dalam Meningkatkan Keterampilan Berbahasa Arab Santri PTUQI Bogor Muh. Abrar; Asriani
IJMIS: Istiqlal Journal on Mosque and Islamic Studies Vol. 1 No. 2 (2024): Islam, Society, and Contemporary Challenges: Textual Interpretation, Environmen
Publisher : Badan Pengelola Masjid Istiqlal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70017/ijmis.v1i2.19

Abstract

Penguatan ini bertujuan untuk untuk melakukan pendampingan kepada  beberapa  anak  di Pondok Tahfidz Ummul Quro Al-Islami Bogor  dalam  membentuk hai’ah lughawiyah. Model penguatan peran Ma’had dalam meningkatkan keterampilan berbahasa Arab santri tahfidz PTUQI Bogor  diwujudkan dalam bentuk, sosialisasi dan Indoktrinasi terus menerus dari dewan pengurus kepada mahasantri tentang pentingnya bahasa asing termasuk bahasa Arab, figur pimpinan yang welcome dengan segala macam inovasi terkait kegiatan kebahasaan demi terciptanya eskalasi prestasi santri, segala macam keterbatasan sarana dan prasarana di lingkungan asrama Ma’had selalu teratasi berkat kerjasama antar unit/lembaga, terdaftarnya Ma’had dalam organisasi Forum Mudir Ma’had PTUQI, optimalisasi tutor sebaya untuk mengisi kekosongan waktu yang tidak mungkin diisi atau didampingi oleh musyrif pengurus ma’had. Model penguatan peran Ma’had dalam meningkatkan keterampilan berbahasa Arab dilakukan dengan sosialisasi dan indoktrinasi tentang pentingnya bahasa asing, figur pimpinan yang welcome dengan segala macam inovasi, sertaoptimalisasi tutor sebaya untuk mengisi kekosongan SDM guru ahli. Sikap dan kebijakan pimpinan lembaga berorientasi pada peningkatan kualitas siswa yang dipondokkan dan diberdayakan di Ma’had Tahfidz. Namun sarana yang dibutuhkan masih perlu dilengkapi lagi, karena keberadaan sarana penunjang menjadi bagian tidak terpisahkan dari proses pembelajaran dan keberhasilan program bahasa Arab santri. Laboratorium juga menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi untuk menunjang keberhasilan. Juga praktik berbahasa Arab secara rutin dan konsisten perlu ditingkatkan. Sistem penilaian keberhasilan perlu dibuatkan SOP sebagai pedoman penilaian. Peminatan program yang spesifik juga perlu dilakukan supaya spesifik dan fokus dalam pengembangannya.

Page 1 of 2 | Total Record : 12