cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Geodesi Undip
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geodesi Undip adalah media publikasi, komunikasi dan pengembangan hasil karya ilmiah lulusan Program S1 Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Arjuna Subject : -
Articles 51 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 1 (2019)" : 51 Documents clear
APLIKASI MULTIBEAM ECHOSOUNDER NORBIT WBMS UNTUK PENENTUAN JALUR PELAYARAN (Studi Kasus : Teluk Awur, Jepara) Mulawarman, Reza Al Arif; Sasmito, Bandi; Sabri, L M
Jurnal Geodesi Undip Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (452.708 KB)

Abstract

Indonesia sebagai Negara maritim yang memiliki kawasan laut yang luas menjadikan transportasi kapal menjadi transportasi yang sangat penting untuk keberlangsungan baik aktivitas perekonomian maupun moda transportasi masyarakat Indonesia. Kabupaten Jepara sebagai salah satu kawasan di Jawa Tengah yang dekat dengan laut menjadikan kapal sebagai suatu moda transportasi yang penting. Perencanaan jalur pelayaran menjadi hal yang utama dalam navigasi kapal. Hal ini dilakukan karena adanya objek objek yang ada di bawah laut menjadi perhatian penting dalam pelayaran guna menghindari terjadinya pergesekan lunas kapal dengan objek bawah laut yang dapat menyebabkan kapal karam atau rusak. Dengan memanfaatkan teknologi echosounder guna pemeruman bawah laut untuk pengambilan data berupa koordinat xyz bawah laut yang bertujuan untuk mengetahui kondisi topografi yang ada di Teluk Awur, Jepara. Pemeruman dilakukan pada daerah yang dekat dengan dermaga dan diharapkan dapat menjadi suatu acuan bagi pelayaran warga Jepara khususnya daerah Teluk Awur agar tercipta keamanan dalam pelayaran kapal. Berdasarkan peraturan dari direktorat Jendral Perhubungan Laut, batas minimal kedalaman untuk kapal yang dengan ukuran kurang dari 86 meter adalah 1.725 meter dibawah permukaan laut, sehingga, melihat dari hasil pemeruman menggunakan echosounder, terdapat daerah yang memiliki kedalaman kurang dari 2 meter yang dapat menyebabkan peningkatan risiko terjadinya kapal karam akibat kedalaman laut terlalu dangkal sehingga perlu adanya peringatan kepada seluruh kapal mengenai daerah bahaya pelayaran pada daerah Teluk Awur.
ANALISIS PENGARUH PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN AKIBAT PERPINDAHAN FASILITAS PUBLIK TERHADAP ZONA NILAI TANAH DI KECAMATAN BOYOLALI KABUPATEN BOYOLALI Putri, Erni Dwi Hapsari; Sudarsono, Bambang; Bashit, Nurhadi
Jurnal Geodesi Undip Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1093.731 KB)

Abstract

Kabupaten Boyolali memiliki terminal sebagai fasilitas publik yang berada di Desa Siswodipuran. Namun, pada tahun 2017 sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Boyolali, fasilitas publik yang semula di Desa Siswodipuran dipindahkan ke Desa Penggung. Selain itu, Kecamatan Boyolali dilewati pembangunan jalan tol Semarang-Solo yang dilakukan oleh PT Jasa Marga (Persero). Seiring dengan bertambahnya waktu, Kecamatan Boyolali mengalami peningkatan jumlah penduduk. Hal tersebut mempengaruh peningkatnya aktifitas masyarakat sehingga mengakibatkan terjadinya perubahan penggunaan lahan berupa pemukiman dan perubahan harga/nilai tanah. Metode pada  penelitian ini  menggunakan metode tumpang susun (overlay) yang merupakan salah satu analisis dari SIG. Tahapan selanjutnya itu dilakukan analisis perubahan penggunaan lahan terhadap zona nilai tanah yang dikaitkan dengan pengaruh perpindahan terminal dan pembangunan jalan tol Semarang-Solo di Kecamatan Boyolali. Hasil penelitian ini menunjukkan terjadi perubahan penggunaan lahan pada tahun 2013 – 2018. Kenaikan penggunaan lahan tertinggi terdapat pada permukiman sebesar 1%, dan kenaikan terendah terdapat pada industri sebesar 0,37%. Penurunan penggunaan lahan tertinggi terdapat pada sawah sebesar 1,28% dan terendah pada kebun  sebesar 0,29%. Perubahan zona nilai tanah terdapat kenaikan pada zona 3 di Desa Penggung, terjadi kenaikan 1.183,08%. Faktor yang mempengaruhi kenaikan adalah dekat dengan fasilitas publik yaitu pembangunan terminal baru dan pasar Penggung, selain itu dekat dengan jalan nasional, pada zona 3 perubahan penggunaan lahan dari kebun menjadi pemukiman dan kebun menjadi terminal baru. Pembuatan jalan tol melewati zona 12, 13, 19, 30, 33, 36, 39, dan 40 pada peta ZNT 2018, yang mengalami kenaikan perubahan kenaikan terbesar pada zona 38 pada tahun 2013 berubah menjadi zona 39 pada tahun 2018, naik sekitar 994,87%. Faktor yang mempengaruhi kenaikan karena merupakan permukiman padat penduduk, dekat dengan jalan utama, dan adanya pembangunan jalan tol, selain itu terjadi perubahaan penggunaan lahan dari permukiman menjadi jalan tol. Zona lainnya mengalami kenaikan tetapi tidak begitu besar karena daerah exit tol. Kenaikan nilai NIR per m2 terendah terjadi pada zona 14 sebesar 24% dan mengalami perubahan penggunaan lahan kebun menjadi industri.
ANALISIS PENGARUH ANGIN MONSUN TERHADAP PERUBAHAN CURAH HUJAN DENGAN PENGINDERAAN JAUH (STUDI KASUS: PROVINSI JAWA TENGAH) Fitra S Pandia; Bandi Sasmito; Abdi Sukmono
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (758.146 KB)

Abstract

Indonesia merupakan negara yang berperan besar terhadap kontribusi curah hujan di dunia, yaitu sebesar 50 gr/cm2. Sebagai negara maritim, variabilitas curah hujan di Indonesia sangat dipengaruhi oleh aktivitas angin monsun. Aktivitas angin monsun yang mempengaruhi di wilayah Indonesia termasuk Provinsi Jawa Tengah adalah angin monsun barat (Asia) dan angin monsun timur (Australia). Angin monsun Asia mempengaruhi variabilitas curah hujan pada saat musim hujan dan angin monsun Australia berpengaruh terhadap variabilitas curah hujan pada saat musim kemarau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh angin monsun terhadap variabilitas curah hujan di Provinsi Jawa Tengah. Data yang digunakan ialah angin zonal NCEPReanalysis pada level ketinggian 850 milibar hourly dan curah hujan TRMM hourly dari tahun 1998 – 2017. Metode pengolahan data penelitian menggunakan bahasa pemrograman untuk mendapatkan indeks monsun Asia,  indeks monsun Australia, angin zonal dan curah hujan di Provinsi Jawa Tengah. Indeks monsun yang digunakan untuk melihat variabilitas angin zonal dan curah hujan ialah Western North Pasific Monsoon Index (WNPMI) dan Australian Monsoon Index (AUSMI). Hasil penelitian yang diperoleh berupa peta sebaran angin zonal dan curah hujan untuk melihat pengaruh dari angin monsun berdasarkan indeks WNPMI dan AUSMI. Kecepatan angin zonal pada saat normal rata-rata sebesar -5,211 m/s (musim hujan) dan +4,682 (musim kemarau). Pada saat WNPMI – AUSMI Kuat mengakibatkan kenaikan sebesar 0,410 m/s dan 0,515 m/s, sedangkan pada saat WNPMI – AUSMI Lemah mengakibatkan penurunan sebesar 0,443 m/s dan 0,724 m/s. Intensitas curah hujan pada saat keadaan normal sebesar 98,208 mm/hr (musim hujan) dan 32,831 mm/hr (musim kemarau). Pada saat WNPMI Kuat – Lemah dan AUSMI Lemah mengakibatkan kenaikan sebesar 5,944 mm/hr, 7,548 mm/hr dan 14,310 mm/hr, sedangkan pada saat AUSMI Kuat mengakibatkan penurunan sebesar 2,214 mm/hr. Korelasi antara angin zonal dan curah hujan pada saat normal, WNPMI – AUSMI Kuat – Lemah sebesar -0,902, -0,836, -0,955, -0,941 dan -0,956. Berdasarkan koefisien korelasi menunjukkan bahwa adanya pengaruh angin zonal dan curah hujan yang sangat kuat dimana setiap kenaikan kecepatan angin zonal mengakibatkan penurunan curah hujan dan penurunan kecepatan angin zonal mengakibatkan kenaikan curah hujan.
ANALISIS HASIL PENGOLAHAN TITIK PENGAMATAN CORS BIG MENGGUNAKAN ULTRA RAPID, RAPID DAN FINAL EPHEMERIS UNTUK PENGAMATAN DEFORMASI Khairuddin Khairuddin; Bambang Darmo Yuwono; Moehammad Awaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (574.024 KB)

Abstract

Survey  Global Navigation Satellite System (GNSS) adalah suatu metode penentuan koordinat titik dengan menggunakan teknologi satelit yang memiliki ketelitian tertentu. Selain itu terdapat pula teknologi CORS (Continuously Operating Reference Station) yang juga berbasis GNSS dan berwujud jaring kerangka geodetik yang pada tiap titiknya memiliki receiver. Jaringan CORS dibangun dengan tujuan untuk menjaga tingkat akurasi dan presisi dari kerangka dasar geodetik di seluruh wilayah Indonesia dan juga untuk membantu berbagai macam kegiatan ilmiah maupun praktis dilapangan seperti survei deformasi. Pengamatan deformasi menggunakan CORS biasanya membutuhkan final ephemeris IGS untuk memperoleh hasil yang akurat, tetapi latency update final ephemeris IGS membutuhkan 12 sampai 18 hari dari waktu terakhir pengamatan data. Penelitian ini menggunakan tiga strategi dalam pengolahan data yaitu: Strategi I menggunakan final ephemeris (IGF), strategi II menggunakan rapid ephemeris (IGR) dan strategi III menggunakan ultra rapid ephemeris (IGU). Titik pengamatan dalam penelitian ini menggunakan stasiun CSEM, CPBL, CMGL,CPKL. Titik ikat global menggunakan :  XMIS, BAKO, DARW, PIMO, PBRI, HYDE, COCO. Hasil pengolahan koordinat dengan menggunakan final ephemeris dan rapid ephemeris tidak memiliki perbedaan secara signifikan, hal sama juga berlaku terhadap hasil pengolahan menggunakan final ephemeris dan ultra rapid ephemeris. Arah pergeseran vektor setiap stasiun CORS BIG di Jawa Tengah bergerak ke arah tenggara pada seluruh strategi yang diterapkan. Resultan keceptan horizontal masing-masing stasiun pada semua strategi relatif sama. Pada stasiun CSEM nilai resultan kecepatan horizontal berkisar 0,02540 m/tahun sampai 0,02545 m/tahun. Untuk stasiun CMGL nilai resultan kecepatan horizontal berkisar 0,02652 m/tahun sampai 0,02677 m/tahun. Nilai resultan kecepatan horizontal stasiun CPKL berkisar 0,02229 m/tahun sampai 0,02304 m/tahun. Kemudian nilai resultan kecepatan horizontal stasiun CPBL berkisar 0,02582 m/tahun sampai 0,02600 m/tahun.
ANALISIS KESESUAIAN RUANG TERBUKA HIJAU KOTA MAGELANG MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Kevin Dio Maldini; Arief Laila Nugraha; Hana Sugiastu Firdaus
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (685.029 KB)

Abstract

Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah area memanjang atau mengelompok, tempat tumbuh tanaman secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. Ketersediaan Ruang terbuka hijau di suatu wilayah dapat berfungsi sebagai paru-paru kota, untuk membuat perkotaan tetap indah dan tidak penuh dengan polusi udara. Setiap wilayah kota harus menyediakan RTH sebesar 30% dari luas wilayah, dimana 20% RTH publik dan 10% RTH privat.Pemetaan RTH diperlukan untuk mengetahui ketersediaan RTH pada suatu kota. Pada penelitian ini klasifikasi RTH publik Kota Magelang terdiri dari makam, hutan kota, jalur hijau jalan, sempadan sungai, jalur hijau listrik dan taman. Klasifikasi RTH privat Kota Magelang terdiri kebun dan pekarangan. Penelitian ini mengunakan citra Quickbird 2016 untuk mengetahui sebaran dan luasan RTH dengan interpretasi visual dan digitasi. Kemudian dilakukan topologi pada hasil digitasi dan validasi lapangan untuk melihat kesesuaian hasil digitasi terhadap kondisi di  lapangan. Proses tersebut menghasilkan peta RTH Kota Magelang dan dilakukan analisis terhadap Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 05/PRT/M/2008 dan analisis terhadap RTRW Kota Magelang. Berdasarkan pengolahan citra resolusi tinggi, luasan RTH Kota Magelang sebesar 30,91 % yang terdiri dari RTH Publik sebesar 11,99 % dan RTH privat sebesar  18,93 %. Ketersediaan RTH klasifikasi taman Kota Magelang secara keseluruhan memenuhi luas minimal unit taman tiap kecamatan. Kesesuaian RTH Kota Magelang antara hasil digitasi dengan RTH pada RTRW yang sesuai sebesar 1.778.888,45 m2 dan tidak sesuai sebesar 4.097.082,44 m2.
PENGAMATAN PENURUNAN MUKA TANAH KOTA SEMARANG METODE SURVEI GNSS TAHUN 2018 Adzindani Reza Wirawan; Bambang Darmo Yuwono; L M Sabri
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (594.312 KB)

Abstract

Penurunan muka tanah atau land subsidence merupakan fenomena perubahan ketinggian muka tanah yang berlangsung dalam kurun waktu singkat atau lama yang persebarannya tidak merata di setiap lokasi. Penelitian penurunan muka tanah di Kota Semarang telah dilakuan secara berkelanjutan karena masih terjadi penurunan yang signifikan. Berdasarkan penelitian terdahulu, besarnya penurunan muka tanah di Kota Semarang bervariasi pada tiap tahunnya dan berbeda di setiap lokasi penelitian sehingga titik pengamatan harus tersebar merata di Kota Semarang. Pengamatan penurunan muka tanah pada penelitian tugas akhir ini menggunakan pengamatan GNSS metode statik selama ± 6 jam di 9 titik yang terdiri dari 8 titik pengamatan dan titik ikat. Penelitian ini juga didukung dengan data pengamatan titik yang sama pada tahun 2013, 2015, 2016 dan 2017. Data pengamatan diolah menggunakan software scientific GAMIT 10.7 yang diikatkan dengan titik ikat IGS sebagai titik ikat global dan titik TTG447 sebagai titik ikat lokal. Koordinat hasil pengolahan kemudian dibandingkan dengan hasil penelitian terdahulu yang akan didapatkan perubahan ketinggian titik pengamatan. Nilai laju penurunan muka tanah pada titik SMK3 sebesar 2,95269 cm/tahun; titik N259 sebesar 4,59026 cm/tahun; titik K371 sebesar 0,40994 cm/tahun dan titik KOP8 sebesar 6,17139 cm/tahun. Hasil analisa laju penurunan muka tanah menyatakan bahwa adanya korelasi yang signifikan antara penurunan muka tanah dengan pengambilan air tanah di Kota Semarang.
ANALISIS PERUBAHAN GARIS PANTAI TERHADAP EKSISTENSI MANGROVE MENGGUNAKAN PENGINDERAAN JAUH DAN APLIKASI DIGITAL SHORELINE ANALYSIS SYSTEM (DSAS) TAHUN 2014-2018 (STUDI KASUS : KABUPATEN KENDAL) Ghazian Hazazi; Bandi Sasmito; Hana Sugiastu Firdaus
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (819.611 KB)

Abstract

Indonesia memiliki garis pantai sepanjang 99.093 kilometer sehingga membuat  Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki garis pantai terpanjang. Namun, akibat berbagai macam faktor menyebabkan garis pantai mengalami abrasi yang berakibat berkurangnya wilayah pesisir. Salah satu cara untuk mencegah atau mengurangi abrasi adalah dengan cara menanam mangrove di sepanjang garis pantai. Ekosistem mangrove memiliki fungsi sebagai pelindung garis pantai dari abrasi, mempercepat perluasan pantai melalui pengendapan atau akresi, dan sebagainya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kerapatan mangrove terhadap perubahan garis pantai di pesisir Kabupaten Kendal. Pada penelitian ini menggunakan citra Landsat 8 tahun 2014-2018 untuk mendapatkan perubahan garis pantai dan indeks vegetasi berdasarkan pengolahan indeks vegetasi NDVI. NDVI digunakan untuk memetakan kerapatan vegetasi mangrove. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata perubahan garis pantai di Kabupaten Kendal dengan menggunakan aplikasi DSAS mengalami penambahan sebesar 10,487 m. Perubahan luasan mangrove di pesisir Kabupaten Kendal mengalami kenaikan pada tahun 2014-2018 sebesar 427,50 ha. Kecamatan yang mengalami penambahan luas mangrove paling besar adalah Kecamatan Kaliwungu sebesar 152,32 ha. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa hubungan perubahan garis pantai dengan kerapatan mangrove di pesisir Kabupaten Kendal menggunakan regresi linear sederhana memiliki korelasi sebesar 0,592. Hasil korelasi apabila ditinjau dari tingkat hubungan korelasi termasuk korelasi kuat. Berdasarkan perhitungan uji F hubungan kerapatan mangrove dengan perubahan garis pantai memiliki pengaruh signifikan, sehingga jika perubahan garis pantai semakin meningkat atau mengalami penambahan (akresi) maka nilai NDVI atau kerapatan mangrove akan cenderung meningkat.
KAJIAN AKURASI PENENTUAN GARIS PANTAI MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT 8 (Studi Kasus Kabupaten Lampung Timur) Victor Andreas Tarigan; Bandi Sasmito; Hani'ah Hani'ah
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1063.987 KB)

Abstract

Garis pantai adalah garis imajiner yang menunjukkan pertemuan pantai (daratan) dan air (lautan). Walaupun secara periodik permukaan air laut selalu  berubah suatu tinggi muka air tertentu yang tetap harus dipilih untuk menjelaskan posisi garis pantai. Seiring berkembangnya teknologi, penginderaan jauh dapat digunakan untuk penentuan garis pantai. Metode penginderaan jauh dapat dilakukan dengan cepat dan menjangkau daerah yang luas.Penentuan garis pantai menggunakan citra Landsat dilakukan dengan mengaplikasikan rumus BILKO, AGSO dan Tresholding untuk membedakan daratan dan lautan. Penentuan garis pantai menggunakan citra Landsat ini dilakukan dengan mendigitasi batas antara air dan daratan.  Penentuan garis pantai menggunakan data pengukuran metode terestris dilakukan dengan menginterpolasi titik-titik data kedalaman, sehingga terbentuk DEM, dari DEM tersebut akan dibentuk kontur sesuai jam perekaman citra yakni + 0,688 untuk 27 Agustus 2017 dan + 0,611 untuk 12 September 2017.Hasil akhir penelitian ini menunjukkan langkah-langkah penentuan garis pantai menggunakan citra Landsat dan langkah-langkah penentuan garis pantai menggunakan data pengukuran dengan metode terestris. Akurasi garis pantai dari data citra Landsat terhadap garis pantai dari data pengukuran metode terestris dihitung berdasarkan PERKA BIG No 15 Tahun 2014. Metode pengapilkasian rumus BILKO memiliki ketelitian horizontal sebesar 27,712 untuk 27 Agustus 2017 dan 28,209 untuk 12 September 2017. Metode pengapilkasian rumus AGSO memiliki ketelitian horizontal sebesar 28,407 untuk 27 Agustus 2017 dan 29,555 untuk 12 September 2017. Metode Thresholding memiliki ketelitian horizontal sebesar 22,481 untuk 27 Agustus 2017 dan 23,799 untuk 12 September 2017. Bedasarkan nilai ketelitian horizontal, ketiga metode tersebut masuk kedalam kelas 2 pada skala 1 : 100.000.
STUDI DEFORMASI WADUK PENDIDIKAN DIPONEGORO TAHUN 2018 Wikan Isthika Murti; Bambang Darmo Yuwono; L M Sabri
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (598.941 KB)

Abstract

Bendungan merupakan kontruksi yang digunakan untuk menahan pergerakan air menjadi danau atau waduk yang dapat digunakan untuk berbagai kegiatan dan fungsi, seperti pembangkit listrik, tempat rekreasi ,tempat penyimpanan cadangan air, mencegah banjir dan sebagai sumber irigasi. Kontruksi bendugan yang terdapat di kawasan Universitas Diponegoro membentuk waduk yang biasa dikenal dengan nama Waduk Pendidikan Diponegoro. Waduk ini mampu menampung genangan air normal sampai 478.240 m3 dengan luas daerah tangkapan air mencapai 7,1338 Ha. Bangunan bendungan sangat rentan mengalami perubahan dimensi dan bentuk  karena adanya tekanan air. Proses loading air menyebabkan adanya tekanan terus menerus terhadap badan bendungan, apabila tidak dilakukan suatu pemantauan berkala maka tidak akan diketahui perubahan dimensi dan bentuk yang dapat mengakibatkan kerusakan bendungan. Salah satu cara untuk mengetahui adanya perubahan tersebut adalah dengan melakukan pengamatan deformasi pada tubuh bendungan. Penelitian tugas akhir ini akan dilakukan pengamatan fenomena-fenomena deformasi dan geodinamika buatan manusia terhadap Waduk Pendidikan Diponegoro, dengan metode pengamatan satelit menggunakan Global Navigation Satellite System (GNSS) akan dilakukan pengamatan terhadap titik tetap (bench mark) yang tersebar di sekitar bendungan. Pengamatan deformasi akan dilaksanakan pada periode April sampai dengan Juli. Setelah pengamatan maka dilakukan pengolahan data menggunakan software GAMIT/GLOBK 10.7 untuk mengetahui koordinat dari masing-masing titik tetap setiap akuisisi data. Pengolahan yang dilakukan pada penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa pengukuran koordinat dan jarak menggunakan GNSS maupun totalstation tidak terjadi pergeseran. Pada hasil pengukuran ketinggian menggunakan GNSS terjadi perubahan nilai pada titik pengamatan, berdasarkan hasil uji statistik yang dilakukan tidak terjadi pergerakan pada titik pengamatan.
ANALISIS FAKTOR AKSESIBILITAS TERHADAP ZONA NILAI TANAH DI KAWASAN PUSAT KOTA UNTUK MENINGKATKAN POTENSI PAD (Studi Kasus : Kecamatan Kendal, Kabupaten Kendal) Putri Ardianti Kinasih; Sawitri Subiyanto; Bambang Sudarsono
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (842.94 KB)

Abstract

Kecamatan Kendal merupakan ibu kota Kabupaten Kendal dengan kegiatan pembangunan wilayah yang cukup pesat, sehingga mendorong kebutuhan tanah meningkat dan menyebabkan lonjakan harga tanah. Hal ini terjadi karena berbagai faktor, salah satunya adalah faktor aksesibilitas. Berdasarkan Perda Kabupaten Kendal Nomor 11 Tahun 2011 tentang aturan penarikan pajak daerah, Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan  (PBB-P2) dan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) adalah pendapatan dari sektor pajak yang sangat potensial. Oleh karena itu perlu dianalisis penilaian tanah dengan pembentukan peta ZNT sebagai acuan penarikan pajak daerah sehingga dapat meningkatkan PAD (Pendapatan Asli Daerah). Dalam penelitian dibentuk peta ZNT  berdasarkan nilai tanah dengan penilaian massal menggunakan pendekatan perbandingan penjualan (sales comparative). Data yang digunakan berupa data Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) serta data harga tanah. Data harga tanah diolah untuk memperoleh NIR yang kemudian dibandingkan dengan nilai tanah berdasarkan NJOP. Untuk analisis pengaruh faktor aksesibilitas dilakukan pengujian statistik antara harga pasar tanah dan variabel-variabel bebas yang ditentukan. Hasil penelitian menunjukan 67 Zona Nilai Tanah dengan data NJOP (Nilai Jual Objek Pajak) tanah dengan nilai terendah sebesar Rp 20.000 per m2 dan nilai tertinggi sebesar Rp 916.000 per m2. Sedangkan NIR dengan nilai terendah sebesar Rp 81.000 per m2 dan nilai tertinggi sebesar Rp 3.864.000 per m2. Hasil penelitian mengenai faktor aksesibilitas yang paling berpengaruh adalah lebar jalan, sedangkan hasil dari pengujian statistik didapatkan pengaruh variabel bebas dan variabel terikat sebesar 49,3%. Untuk analisis potensi peningkatan pendapatan rata-rata PAD (Pendapatan Asli Daerah) berdasarkan perbandingan antara NIR dan NJOP adalah 511,84%.

Filter by Year

2019 2019


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 13, No 1 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 4 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 3 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 2 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 4 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 3 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 2 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 1 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 4 (2021): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 3 (2021): Jurnal Geodesi Undip Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021 Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021 Volume 9, Nomor 4, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 3, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020 Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 3, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019 Vol 8, No 1 (2019) Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 2, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018 Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017 Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016 Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015 Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014 Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013 Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012 More Issue