cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Geodesi Undip
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geodesi Undip adalah media publikasi, komunikasi dan pengembangan hasil karya ilmiah lulusan Program S1 Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Arjuna Subject : -
Articles 38 Documents
Search results for , issue "Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016" : 38 Documents clear
ANALISIS PENENTUAN ZONASI RISIKO BENCANA TANAH LONGSOR BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (Studi Kasus : Kabupaten Banjarnegara) Dhuha Ginanjar Bayuaji; Arief Laila Nugraha; Abdi Sukmono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (946.447 KB)

Abstract

ABSTRAK Kabupaten Banjarnegara merupakan salah satu daerah di wilayah provinsi Jawa Tengah yang masuk dalam kategori sangat rawan bencana tanah longsor. Sebanyak 134 kasus tanah longsor terjadi dari tahun 2012-2014. Maka dibutuhkan pemetaan risiko bencana tanah longsor sebagai upaya mitigasi bencana di Kabupaten Banjarnegara.Pemetaan risiko bencana tanah longsor berbasis Sistem Informasi Geografis dibuat dengan software GIS dengan cara skoring dan pembobotan, serta tumpang susun (overlay) antar parameter penyusunnya. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu SNI (Standar Nasional Indonesia) dan AHP (Analythical Hierarchy Process) kemudian akan diketahui metode mana yang  lebih mendekati keadaan nyata di lapangan. Dari hasil pemetaan risiko bencana tanah longsor metode SNI diperoleh daerah risiko tinggi sebesar 69,961%, sedang 25,868%, dan rendah 4,171%. Sedangkan hasil metode AHP diperoleh daerah risiko tinggi sebesar 73,244%, sedang 23,592%, dan rendah 3,165% yang tersebar di Kabupaten Banjarnegara. Dari hasil validasi lapangan didapatkan kesesuain untuk metode SNI sebesar 65% dan 45% untuk hasil metode AHP. Perangkat lunak SIG dapat digunakan sebagai media pembuatan peta dengan metode bobot dan skoring.  Kata kunci: Tanah Longsor, AHP , SNI, Peta Risiko, SIG,    Top of FormABSTRACT Banjarnegara Regency is located in the province of Central Java which has high risk to landslide. There were 134 cases of landslide occur from 2012- 2014. Therefore, mapping of the risks of landslide is required as disaster mitigation efforts in the Banjarnegara Regency. Mapping of landslide risks based on Geographic Information System created with GIS software by scoring and weighting, and overlays  between constituent parameters. In this research, using two methods namely SNI (Indonesian National Standard) and AHP (Analythical Hierarchy Process) then will be known which method is closer to the real situation on the fieldFrom the result of mapping of the risks of landslide using SNI method obtained high-risk areas by 69,961%, medium 25,868%, dan low risk level 4,171%. Whereas from AHP method result obtained high-risk areas by 73,244%, medium 23,592%, dan low risk level 3,165% that scattered in the Banjarnegara Regency. From the field validation obtained conformity to SNI by 65% and 45% for the result of AHP. GIS software can be used as media of making map by the method of weighting and scoring. Keywords : Landslide, AHP , SNI, Risk Map, GIS, *) Penulis, PenanggungJawab
ANALISIS PENGARUH PERKEMBANGAN INDUSTRI BATIK TERHADAP NILAI TANAH DI KECAMATAN TIRTO KABUPATEN PEKALONGAN Muhammad Fitrianto; Sawitri Subiyanto; Andri Suprayogi
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1135.817 KB)

Abstract

ABSTRAKPekalongan sudah lama kita kenal dengan istilah world city of batik atau kota batik. Permintaan batik di Pekalongan yang saat ini sangat besar sehingga menimbulkan banyaknya usaha batik yang bermunculan. Dan oleh sebab itu di Pekalongan khususnya di kabupaten Pekalongan industri batik mempunyai potensi yang besar untuk  berkembang nantinya. Dengan adanya perkembangan industri batik tersebut di Kabupaten Pekalongan khususnya di Kecamatan Tirto sendiri mengakibatkan perubahan nilai tanahakibat adanya aktifitas industri batik tersebut.                Penelitian ini awalnya dilakukan pembuatan peta zona nilai tanah Kecamatan Tirto dengan menggunakansoftware Aplikasi Pengolahan Data ArcGis 10.2 untuk pembuatanpeta ZNT berdasarkan Harga Pasar Tahun 2009 dan 2014 dan pembuatanpeta ZNT berdasarkan NJOP Tahun 2009 dan Tahun 2014  . Langkah selanjutnya untuk pembuatan peta perubahan harga tanah menggunakan software ArcGis 10.2dan untuk nilai dari variabel-variabel dimasukkan pada software SPSS untuk mendapatkan hasil yang selanjutnya dilakukan analisis.Hasil penelitian menunjukkan total luas perubahan penggunaan lahan di Kecamatan Tirto dalam kurun waktu tahun 2009 ke tahun 2014 adalah 136,579 ha. Perubahan penggunaan lahan terbesar terjadi pada penggunaan lahan tegalan menjadi perumahan dengan luas sebesar 115,415 ha.Berdasarkan hasil korelasi Kendall's tau, ada hubungan yang signifikan antara perubahan nilai tanah dengan perkembangan industri batik dan begitu pula berdasarkan hasil korelasi Spearman's Rho terdapat juga hubungannya yang signifikan artinya semakin tinggi omset dari industri batik maka nilai tanah akan memiliki nilai yang tinggi pula dan melalui uji regresi linear, pengaruh adanya perkembangan industri batik terbukti memengaruhi perubahan nilai tanah di Kecamatan Tirto. Besarnya konstribusi pengaruh perkembangan industri batik terhadap perubahan nilai tanah sebesar 58,5%; R2 =0,585; β=0,001;p<0,01.Kata Kunci : Kecamatan Tirto, industri batik, perubahan nilai tanah ABSTRACTPekalongan was long known to us as the world city of batik or batik city. Request of batik in Pekalongan that is currently so great that raises a large number of batik business are popping up. And therefore in particular in Pekalongan batik of Pekalongan Regency has a great potensial in Pekalongan Regency, especially inits own momentarily TirtoLand values due to the batik industry activities.This research was originally done making zone map the value soil Sub Tirto using ArcGis Data Processing software application for the creation of a map of ZNT 10.2 based on market price in 2009 and 2014 and the making ofa map based on NJOP ZNT in 2009 and 2014. The next step for the creation on land price changes using the map softwareArcGis 10.2 and for the values of the variables included in the SPSS software to get results that are subsequently carried out the analysis.The result showed the total area land use change in district irto within years 2009 to 2014 is 136,579 ha. Based on the result of the correlation of Kendall’s know. Thre is a significant relationship between changes in land values with the development of batik industry and sois based on the correlation result Spearman’s Rho  there is also a significant relationhipmeans the higher turnover of batik industry the value soil will have a higher value and through linear regression test, influenceof the existence of the batik industry proven development influenced the change in the value of land in district Tirto. The magnitude of the contribution of  industrial development to the influence of batik to changes the value soil amounted to 58,5%; R2 =0,585; β=0,001;p<0,01.Keywords :Tirto District, batik industry, changes in the value of land *) Penulis, Penanggungjawab
PEMBUATAN PETA ZONA NILAI TANAH UNTUK MENENTUKAN NILAI JUAL OBJEK PAJAK (Studi Kasus : Kec. Gunungpati, Kota Semarang) Tumanggor, Ramlansius; Subiyanto, Sawitri; Yuwono, Bambang Darmo
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (733.883 KB)

Abstract

ABSTRAK NJOP (Nilai Jual Objek Pajak) selama ini digunakan sebagai dasar pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan. Penentuan NJOP haruslah sesuai dengan ketentuan nilai pasar wajar (NPW), jadi pemerintah tidak salah jika berharap bahwa NJOP adalah sama dengan nilai pasar . Tetapi kenyataannya NJOP seringkali tidak sesuai dengan NPW, hal ini mendasari semakin berkembangnya sistem penilaian harga pasar menggunakan Peta Zona Nilai Tanah (ZNT ).Pendekatan penilaian menggunakan pendekatan perbandingan penjualan (Sales Comparative), dimana objek pajak yang akan dinilai dibandingkan dengan objek pajak lain sejenis yang sudah diketahui nilai jualnya. Penelitian ini dilakukan dengan pembuatan zona untuk menentukan titik sampel yang akan dicari. Kemudian membuat peta zona nilai tanah berdasarkan Harga Transaksi dan NJOP (Nilai Jual Objek Pajak) Kecamatan Gunungpati.Perhitungan penilaian menggunakan Microsoft Excel 2007. Pembuatan Peta Zona Nilai Tanah Kecamatan Gunungpati Tahun 2015 menggunakan teknologi analisis SIG (Sistem Informasi Geografis).Hasil penelitian ini berupa Peta Zona Nilai Tanah yang terdiri dari 117 zona. Peningkatan NJOP berdasarkan harga pasar yang tertinggi mencapai 998,06%. Sedangkan peningkatan harga pasar yang terendah adalah 20,83%. Tinggi rendahnya peningkatan ini sangat dipengaruhi oleh faktor lokasi dan akses jalan.Kata Kunci : : Nilai Jual Objek Pajak (NJOP), Nilai Pasar Wajar (NPW), Nilai Indikasi Rata-rata (NIR), Sistem Infomasi Geografik (SIG), Zona Nilai Tanah  (ZNT) ABSTRACTTax Object Sales Value (NJOP) has been used as a basis for the imposition of tax on land and building. NJOP determination process must be suitable with the provisions of the fair market value (NPW), so the goverment consider that NJOP is equal to the market value. But the fact is NJOP often incompatible with NPW, it underlies the development of a scoring system using the market value of the Land Value Zone (ZNT) Map. Assessment approach using the sales comparison approach (Comparative Sales), where the object of the tax is compare to other similar tax object that has been known resales value. This research was conducted with the manufacturing zone to determine sample points to be searched. Then create a zone map of land values based on transaction of value and NJOP (Tax Object Sale Value) District of Gunungpati. Assessment calculations using Microsoft Excel 2007. Making the District Land Value Zone Map Gunungpati 2015 using GIS (Geographical Information Systems)  analysis technology.Results of this study are Land Value Zone Map that consists of 117 zones. NJOP increased based on the highest market value reached 998,06% , while the lowest value increased is 20,83%. The level of this increase is influenced by location and access road factors. Keywords:Tax Object Sale Value (NJOP), the Fair Market Value (NPW), Indicative Value Average ( NIR), Geographical Information Systems (GIS), Land Value Zone (ZNT) .  *) Penulis, Penanggungjawab
ANALISIS PERUBAHAN LUAS DAN POLA PERSEBARAN PERMUKIMAN (Studi Kasus : Kecamatan Tembalang, Kecamatan Banyumanik, Kecamatan Gunungpati, Kecamatan Mijen Kota Semarang Jawa Tengah) Dian Ayu Saraswati; Sawitri Subiyanto; Arwan Putra Wijaya
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (824.57 KB)

Abstract

ABSTRAKJumlah penduduk dan aktivitas pembangunan yang semakin meningkat menuntut ketersediaan lahan terutama lahan permukiman dan fasilitasnya juga meningkat pesat, sedangkan ketersediaan lahan terbatas. Ketidakseimbangan akan hal tersebut memungkinkan terjadinya pemusatan permukiman di daerah/ wilayah tertentu yang kemudian akan membentuk pola persebaran permukiman tertentu dan berbeda-beda, terjadinya kenaekaragaman pola persebaran permukiman sebagai wujud persebaran penduduk yang tidak merata. Sehingga dibutuhkan informasi mengenai perubahan penggunaan lahan dan pola persebaran permukiman dalam kaitannya dengan  tata guna lahan pada perencanaan kota.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik penginderaan jauh dan sistem informasi geografis dengan interpretasi penggunaan lahan pada peta Rupabumi tahun 1992 dan Citra SPOT 6 tahun 2014 yang kemudian dianalisis menggunakan metode analisis tetangga terdekat untuk mengetahui pola persebaran permukiman.Berdasarkan pengolahan data dan hasil analisis didapatkan perubahan luas lahan permukiman di Kecamatan Tembalang, Banyumanik, Gunungpati dan Mijen tahun 1992 sampai tahun 2014 mengalami perubahan sebesar 1.466,837 Ha, sedangkan lahan non permukiman mengalami perubahan sebesar 2.617,194 Ha. Pola persebaran acak mengalami perubahan sebesar 167,1764 Ha, sedangkan pola persebaran mengelompok mengalami perubahan sebesar 1.326,2547 Ha. Kata Kunci : Perubahan Penggunaan Lahan, Citra SPOT 6, Pola Persebaran Permukiman, Analisis Tetangga Terdekat ABSTRACTThe increasing of population and development activities demands the availability of land, especially land settlements and facilities are also increasing rapidly whereas the availability of land are limited. The imbalance would it enable the concentrations of settlements in some areas or regions which is will form a specific and different distribution pattern settlements. The diversity of distribution patterns of settlements are happened as a form of uneven population distribution. So that required an information regarding changes in land use and the distribution pattern of settlements in relation to land use in urban planning.This study using a remote sensing technique method and geographic information system with the interpretation of land use on Topographicmap in 1992 and SPOT Image 6  year 2014 which was then analyzed using the nearest neighbor analysis to determine the distribution pattern of settlements. Based on the data processing and result analysis obtained changes in land settlement in the district of Tembalang, Banyumanik, Gunungpati, Mijen from 1992 to 2014 change in amount of 1.466,837 hectares, while non-residential land change in amount of 2.617,194 hectares. Random distribution pattern changed in amount of  167,1764 hectares, whereas the clump distribution pattern changed in amount of  1.326,2547 hectares. Keywords : Land Use Changes, SPOT 6 Imagery, The Distribution Pattern of Settlement, Nearest Neighbor Analysis *) Penulis, Penanggungjawab
DETEKSI OBJEK BERBAHAYA DAN PEMODELAN 3D JARINGAN KELISTRIKAN MENGGUNAKAN TEKNOLOGI LIDAR Studi kasus: Koridor jaringan kelistrikan di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Indonesia Alfian Adi Atmaja; Yudo Prasetyo; Haniah Haniah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1157.814 KB)

Abstract

ABSTRAKPada era modern seperti sekarang ini, energi listrik sudah menjadi kebutuhan primer dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Saluran transmisi udara merupakan salah satu komponen penting dalam penyaluran energi listrik pada sistem tenaga listrik. Keamanan infrastruktur jaringan kelistrikan secara signifikan memberikan efek dalam kehidupan sehari-hari dan aktivitas industri. Ada banyak faktor dan objek yang mengancam keamanan jaringan kelistrikan yaitu vegetasi, pohon dan bangunan di sekitar jaringan kelistrikan; selain itu juga kerusakan pada infrastruktur jaringan kelistrikan itu sendiri, dan lain-lain. Pengawasan yang akurat secara terus-menerus terhadap jaringan kelistrikan tersebut dapat mencegah terjadinya situasi yang berbahaya seperti pemadaman listrik total.Sekarang ini, perusahaan milik negara yang menangani masalah kelistrikan di Indonesia yaitu PT. PLN masih sangat bergantung pada petugas lapangan dalam pengawasan jaringan kelistrikan secara manual. Hal tersebut masih kurang efektif dan sangat mahal, pada sisi lain juga masih sangat berbahaya. Akhir-akhir ini, sistem LiDAR udara mulai digunakan dalam pengawasan jaringan kelistrikan dengan pemodelan secara 3D. Sistem ini dianggap dapat membuat biaya dan waktu pengawasan jadi lebih efisien karena dapat memetakan jaringan kelistrikan secara cepat dengan akurasi 30 titik/m2. Dalam penelitian ini bertujuan untuk melakukan rekonstruksi model jaringan kelistrikan secara 3D dari data LiDAR udara pada koridor jaringan kelistrikan 150 KV (2000 m X 600 m) di Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia.Metode yang dilakukan terdiri dari 3 komponen utama, yaitu deteksi, ekstraksi, dan pemodelan. Powerline dideteksi secara otomatis dengan bentuk geometrik yang umum menggunakan satu set algoritma, termasuk vertical spacing filtering dan density-based filtering. Powerline secara lengkap selanjutnya diekstraksi menggunakan metode Hough Transform. Terakhir, merekonstruksi model jaringan kelistrikan secara 3D agar dapat digunakan untuk mendeteksi objek berbahaya di sepanjang koridor jaringan kelistrikan sesuai dengan SNI 04-6918-2002 tentang ruang bebas dan jarak bebas minimum pada Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) dan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET). Hasil dari penelitian ini membuktikan bahwa pemodelan jaringan kelistrikan secara 3D dapat dilakukan dan efektif untuk mendeteksi objek berbahaya di sepanjang koridor jaringan kelistrikan, sehingga dapat digunakan untuk mendukung manajemen dan pengawasan jaringan kelistrikan di Indonesia.Kata kunci :  3D, Jaringan Kelistrikan, LiDAR, Powerline, Rekonstruksi ABSTRACTNowadays in modern era, electric energy has been primary needed in our daily activities.Transmission powerline is important part to transmit electricity in powerline system. The safety of powerline infrastructure significantly affects to our everyday life and industrial activities. There are many factors and objects to threaten powerline safety, which includes encroaching vegetation, surrounding trees, surrounding building, structural faults of insulator, tower and so on. A timely and accurate monitoring of those keys, powerlines features enables to prevent causing possible dangerous situation such as blackout.At present, most of utility firms such as PT.PLN heavily relies on men-centric and manual powerline monitoring methods which are time consuming and costly, moreover hazardous. Recently, airborne LiDAR system was introduced as a cost effective data acquisition tool which enables to rapidly capture 3D powerline scene with up to 30 points/m2. This study aims at 3D reconstruction workflow for powerline extracted from airborne LiDAR data of 150 kV transmission line corridors (2000 m by 600 m) in Gowa, South Sulawesi Province, Indonesia.The proposed workflow consists of three components: detection, extraction, and modelling. The powerlines are automatically detected with regular geometric shape using a set of algorithms, including Vertical Spacing Filtering and density-based filtering. The complete powerlines are then extracted using Hough Transform method. Finally, the 3D powerline are reconstructed to evaluate the proposed workflow for danger objects detection according to SNI 04-6918-2002 about the Indonesian standard rule for minimum distance in horizontal and vertical space in the powerline corridor. The results obtained demonstrate that powerlines can be reconstructed in 3D, which are useful in detection of danger objects to support powerline corridor management.Keywords : 3D, LiDAR,Powerline, Reconstruction*) Penulis penanggung jawab
KAJIAN KERAPATAN SUNGAI DAN INDEKS PENUTUPAN LAHAN SUNGAI MENGGUNAKAN PENGINDERAAN JAUH (Studi Kasus : DAS Juana) Utama, Alfian Galih; Wijaya, Arwan Putra; Sukmono, Abdi
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (824.013 KB)

Abstract

ABSTRAK DAS Juana merupakan DAS yang mencangkup dua kabupaten yang sedang berkembang pesat di Jawa Tengah antara lain Kabupaten Kudus dan Kabupaten Pati. Dalam sebuah Daerah Aliran Sungai keberadaan vegetasi merupakan hal yang sangat penting. Indeks Penutupan Lahan Daerah Aliran Sungai adalah suatu nilai yang menyatakan kualitas tutupan lahan pada Daerah Aliran Sungai. Berdasarkan keputusan Keputusan Menteri Kehutanan No52/Kpts-II/2001 nilai indeks penutupan lahan dikatakan buruk apabila kurang dari 30%. Dalam aliran air yang deras, kondisi penahan aliran air berupa vegetasi seharusnya lebih diperhatikan untuk menghindari bencana yang mungkin terjadi dan untuk meminimalisir kekeringan.Pada penelitian ini, analisis menggunakan citra satelit Landsat 7 tahun 2000, 2005 dan tahun 2011 serta Landsat 8 tahun 2015. Pengklasifikasian terbimbing digunakan untuk mencari nilai indeks penutupan lahan sungai (IPL), sedangkan kajian mengenai sifat aliran sungai menggunakan data ASTER GDEM melalui proses analisis watershed.Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejak tahun 2000 nilai IPL DAS Juana tidak pernah dalam kondisi baik. Nilai IPL DAS Juana secara keseluruhan menurun, pada tahun 2000 nilai IPL sebesar 38,298% namun pada tahun 2005  mengalami kenaikan menjadi 43,125%. Kemudian hingga tahun 2015 nilai tersebut terus turun menjadi 23,462% atau dalam kondisi buruk. Sedangkan nilai kerapatan sungai DAS Juana didapatkan sebesar 0,500 km/km2 dalam kelas sedang dimana erosi berpotensi cenderung besar dengan arus yang kuat. Kata Kunci: Penginderaan Jauh, Indeks Penutupan Lahan, Kerapatan Sungai, Daerah Aliran Sungai.  ABSTRACT Juana Watershed is a watershed covered two counties that are growing rapidly in Central Java, there is Kudus and Pati. In a watershed existenced of vegetation was very important. River Land Cover Indes is a value that showing the quality of land cover in the watershed. Based on the decision of Ministerial Decree No52 / Kpts-II / 2001 Land Cover Index of Watershed was classified poor if that value was less than 30%. Under conditions of heavy water, the condition of retaining the water flow in the form of vegetation should be taken to avoid disasters that may occur and to minimize dryness.In this study, the analysis using Landsat 7 satellite images in 2000, 2005 and 2011 as well as 2015. The classification of Landsat 8 guided used to search the index value of land cover indeks, while the study of the watersheds using ASTER GDEM through the analysis watershed.The results showed that since 2000 the value of Land Cover Indeks from DAS Juana was never in a good condition. IPL value DAS Juana overall decreased, in 2000 the value of the Land Cover Indeks are 38.298% but increased in 2005 to 43.125%. And then until 2015, the value of Land Cover Index continues to dropped to 23.462% or in bad condition. While the value of the density of the river watershed Juana obtained by 0.500 km / km2 or in classed where erosion has potential and with strong streams. Keywords: Remote Sensing, Land Cover Index, The density of the river, Watershed.  *) Penulis, PenanggungJawab 
ANALISIS HARMONIK DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK KUADRAT TERKECIL UNTUK PENENTUAN KOMPONEN-KOMPONEN PASUT DI WILAYAH LAUT SELATAN PULAU JAWA DARI SATELIT ALTIMETRI TOPEX/POSEIDON DAN JASON-1 Jaka Gumelar; Bandi Sasmito; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (997.469 KB)

Abstract

ABSTRAK Laut selatan Pulau Jawa merupakan salah satu wilayah perairan yang dimiliki oleh Indonesia. Merupakan bagian dari Samudra Hindia, perairan ini memiliki banyak potensi baik dari segi ekologi, fisika, maupun kerawanan terjadinya bencana alam. Pasang surut air laut merupakan salah satu fenomena yang bisa dijadikan referensi dalam penentuan kebijakan perihal pengelolaan sumber daya alam dan sebagai data pelengkap untuk menggambarkan kondisi laut pada masa mendatang.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui komponen-komponen pasang surut dan tipe pasang surut di perairan selatan Pulau Jawa. Data yang digunakan adalah Sea Level Anomaly (SLA) dari data Satelit Topex/Poseidon tahun 1992-2002 dan data Satelit Jason-1 tahun 2002-2011. Metode interpolasi Inverse Distance Weight (IDW) digunakan untuk menentukan besar SLA pada titik normal yang kemudian dilanjutkan dengan proses analisis harmonik menggunakan teknik kuadrat terkecil dengan pembobotan untuk menentukan komponen pasang surut. Proses pengolahan analisis harmonik ini menggunakan aplikasi Microsoft Excel 2010 yang dikombinasikan dengan aplikasi Matlab 7.6.0 untuk proses interpolasi data.Hasil dari penelitian ini menunjukkan terdapat 21 komponen yang berpengaruh dalam pembentukan pasang surut air laut pada perairan Cilacap, Sadeng, dan Prigi yang terdiri dari 4 komponen periode panjang, 8 komponen diurnal, dan 9 komponen semidiurnal. Sedangkan tipe pasang surut yang terbentuk pada perairan selatan Pulau Jawa yaitu campuran condong harian ganda. Kata Kunci : Analisis harmonik, Inverse Distance Weight, Komponen pasang surut, Pasang surut ABSTRACT South Java’s sea is one of Indonesia’s territorial waters which is part of Indian Ocean. It has a lot of potentials in terms of ecology, physics, and vulnerability to natural disasters. Tide is one phenomenon that can be used as a reference in policy decisions regarding the management of natural resources and as supplementary data to describe the condition of the sea in the future.The aim of this research was to determine the components and south Java’s sea tide types. The data used is Sea Level Anomaly (SLA) data from satellites Topex/ Poseidon in 1992-2002 and data satellite Jason-1 in 2002-2011. Inverse Distance Weight (IDW) interpolation method is used to determine the SLA at the normal point followed by harmonic analysis process using least squares with weighted technique to determine the components of the tides. Calculation of harmonic analysis process was using Microsoft Excel 2010 combined with Matlab 7.6.0 application for the interpolation of data.The result of this research showing there are 21 components that influence the formation of the tide in waters Cilacap, Sadeng, and Prigi which is consists of 9 long period component, 8 diurnal component, and 9 semidiurnal components. While the type of tidal formed in the waters south of the island of Java, which is a mixed tide prevailing semidiurnal. Keywords : Components of tide, Harmonic analysis, Invers Distance Weight, Tide *) Penulis, Penanggungjawab
EVALUASI KRITERIA KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN DENGAN ANALITYCAL HIERARCHY PROCESS ( Studi Kasus :Kecamatan Boja dan Kecamatan Limbangan di Kabupaten Kendal ) Togi Pardo Siagian; Bambang Sudarsono; Arwan Putra Wijaya
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (629.745 KB)

Abstract

ABSTRAKTersedianya suatu ruang maupun lahan yang memenuhi kriteria untuk dijadikan sebagai lokasi permukiman merupakan suatu jaminan akan kehidupan yang layak bagi setiap masyarakat. Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan langkah yang tepat dalam menyajikan solusi tentang aspek spasial (keruangan). Dalam hal ini SIG  digunakan untuk menganalisa proses evaluasi kesesuaian lahan yang sesuai dengan parameter yang digunakan dalam menentukan kawasan permukiman yang ideal, yaitu tata guna lahan, kemiringan lereng, jenis tanah, curah  hujan, jarak terhadap jalan  utama dan gerakan tanah.Berdasarkan analisis Sistem Informasi Geografis dan  hasil scoring atau pembobotan menggunakan metode AHP dari peta kemiringan lereng, gerakan tanah, jenis tanah, curah hujan, penggunaan lahan serta jarak terhadap jalan utama yang terdapat di Kecamatan Limbangan,  dengan luas 2.213,26 (ha) untuk lahan Sesuai (S2), 4.377,643 (ha) untuk lahan Cukup Sesuai (S3), 1.648,422 (ha) untuk kelas lahan Kurang Sesuai (N1) serta untuk lahan Tidak Sesuai (N2) memiliki lahan seluas 171,99 (ha). Untuk Kecamatan Boja, diperoleh 194,57 (ha) untuk lahan kelas Sangat Sesuai (S2), dan 3.779,58 (ha) untuk lahan Sesuai (S1), 1.945,98  (ha) untuk lahan Cukup Sesuai (S3), 1,5 (ha) untuk kelas lahan Kurang Sesuai (N1) serta untuk lahan Tidak Sesuai (N2) memiliki lahan seluas 9,79 (ha).Kata Kunci : Permukiman, AHP, SIG,Scoring. ABSTRACT                    The availability of area that has the criteria to be used as a residential location is a guarantee of a decent life  for every society. Geographic Information Systems (GIS) is a right choice in presenting  a solution on the spatial aspects (spatial). In this case the GIS was used to analyze land suitability evaluation process in accordance with the parameters used in determining the ideal area to be used as a residential area, in this research used land use, slope, soil type, rainfall, distance to the main road and ground movement.Based on Geographic Information System analysis and the results of scoring  using AHP of maps of slope, ground movement, soil type, rainfall, land use and the distance to the main road located in district Limbangan, with an area of 2213.26 (ha) of  match land class (S2), 4377.643 (ha) of  in quite appropriate land class (S3), 1648.422 (ha) of less suitable land class (N1) as well as for  not match land class (N2) has a land area of 171.99 (ha) , For the District Boja, gained 194.57 (ha) of very match land class (S2), and 3779.58 (ha) of Match land class (S1), 1945.98 (ha) of quite appropriate land class (S3), 1, 5 (ha) of  Less suitable land class (N1) as well as for not match land class (N2) has a land area of 9.79(ha).Keyword: Residential,AHP, GIS,Scoring. *) Penulis, Penanggungjawab
ANALISIS AKURASI PENAPISAN DSM KE DTM MENGGUNAKAN METODE SIMPLE MORPHOLOGICAL FILTER DAN SLOPE BASED FILTERING Lanjar Cahyo Pambudi; Yudo Prasetyo; Bambang Darmo Yuwono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Foto udara yang didapat dari pemotretan dengan pesawat akan diolah melalui serangkaian proses komputasi sehingga nantinya dihasilkan model permukaan digital (DEM). Proses pembuatan DEM dapat dilakukan secara otomatis dengan metode image matching. Namun DEM yang dihasilkan menggunakan metode ini masih merepresentasikan permukaan bumi beserta objek diatasnya atau dalam bentuk Digital Surface Model (DSM). Penggunaan DSM belum bisa efektif digunakan dalam bidang praktis. Oleh karena itu perlu dilakukan penapisan supaya menjadi Digital Terrain Model (DTM) yang menggambarkan bidang tanah tanpa ada objek lainnya yang bukan tanah.Pada penelitian ini penapisan DSM menjadi DTM menggunakan dua metode yaitu Slope Based Filtering (SBF) dan Simple Morphological Filtering (SMRF). Kemampuan proses penapisan dalam menghilangkan fitur bukan tanah dinilai dengan bantuan kontur. Akurasi proses penapisan dinilai dengan membandingkan kedua DTM hasil penapisan dengan  DTM yang dibuat dengan metode spotheighting sebagai referensi. Akurasi ini akan dijadikan acuan untuk menentukan peta skala berapa akurasi DTM penapisan memenuhi toleransi.Hasil proses penapisan terhadap DSM adalah turunnya rata-rata kelerengan dari 47,3% menjadi 4,77% dan 8,15%. Rata-rata ketinggian juga turun dari 15,814 m menjadi 12,121 m dan 12,889 m pada DTM SBF dan DTM SMRF secara berurutan. Akurasi DTM SBF dan DTM SMRF yang ditunjukan dengan nilai RMSEz adalah 1,601 m dan 2,055 m. Nilai ketelitian skala peta direpresentasikan dengan LE90%, untuk DTM SBF adalah 2,641 m dan masuk skala 1:10000 kelas 2 serta untuk DTM SMRF adalah 3,390 m dan masuk skala 1:10000 kelas 3. Kata kunci : DEM , penapisan, slope based, morphological, spotheighting ABSTRACT Aerial photographs that is obtained by the plane will be processed through a series of computing processes in order to generate digital surface model (DEM). DEM creation process can be done automatically with the method of image matching. However a DEM generated using this method still represent objects above the earth's surface or Digital Surface Model (DSM). The use of DSM is ineffective when  used in the practical field. Therefore, filtering procees have to be done in order to generate a Digital Terrain Model (DTM) which represent bare earth.In this study, filtering of a DSM into a DTM using two methods: Slope Based Filtering (SBF) and Simple Morphological Filtering (SMRF). The ability of the filtering process in removing features that non-bare earth was assessed with the visualitation of the contour. The accuracy of the DTMs was assessed by comparing the both of DTMs with another DTM that was made with spotheighting method as a reference. This accuracy will be used as a reference to determine on what scale the map that the filtering process meets tolerances.The results of the filtering process on DSM is the decline of the average slope from 47.3% become 4.77% and 8.15% so are the average elevation  also dropped from 15.814 m become 12.121 m and 12.889 m in the DTM SBF and the DTM SMRF  respectively. The Accuracy of DTM SBF and the DTM SMRF  that indicated by RMSEz value is 1,601 m and 2,055 m. The map scale accuracy represented by the LE90% value, for DTM SBF is 2,641 m and meet requirement on scale of 1: 10000 grade 2 as well as for DTM SMRF is 3.390 m and meet requirement on scale of 1: 10000 grade 3. Keywords : DEM , filtering, slope based, morphological, spotheighting *) Penulis, PenanggungJawab
PEMBUATAN PETA ZONA NILAI TANAH UNTUK MENENTUKAN NILAI INDIKASI RATA-RATA (NIR) HARGA PASAR MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KECAMATAN NGALIYAN, KOTA SEMARANG (Studi Kasus :Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang) Wahyu Eko Saputro; Sawitri Subiyanto; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1258.984 KB)

Abstract

ABSTRAKZona Nilai Tanah (ZNT) merupakan kumpulan area yang terdiri dari beberapa bidang tanah dengan nilai tanah yang relatif sama dan batasannya bersifat imajiner atau nyata sesuai penggunaan tanahnya. Setiap area ZNT mempunyai nilai yang berbeda berdasarkan analisis perbandingan harga pasar dan biaya. Mengingat ZNT berbasis nilai pasar, ZNT dapat dimanfaatkan untuk penentuan tarif dalam pelayanan pertanahan, referensi masyarakat dalam transaksi, penentuan ganti rugi, inventarisasi nilai aset publik maupun aset masyarakat, memonitor nilai tanah dan pasar tanah, dan referensi penetapan Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP) untuk Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), agar lebih adil dan transparan. Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 13 Tahun 2011 tentang PBB, NJOP merupakan acuan penarikan PBB yang merupakan salah satu pendapatan daerah yang sangat penting untuk peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Oleh karena itu, perlu diwujudkan informasi nilai tanah untuk mewujudkan fungsi tanah. Salah satu perwujudannya adalah Peta ZNT.Dalam penelitian ini dibentuk peta ZNT dibentuk berdasarkan nilai tanah dengan penilaian masal (tidak memperhatikan properti dan karakteristik khusus dari objek pajak tersebut) dan menggunakan pendekatan perbandingan penjualan (sales comparative), dimana objek pajak yang akan dinilai dibandingkan dengan objek pajak lain sejenis yang sudah  diketahui nilai jualnya. Hasil penelitian ini berupa Peta ZNT yang terdiri dari 68 zona dari data NJOP dan data Survei Transaksi Harga Tanah. Perubahan selisih harga tanah transaksi dengan NJOP terendah sebesar 49,45% sedangkan untuk harga tertinggi adalah 768,13 %.Kata Kunci :Nilai Jual Objek Pajak (NJOP), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Zona Nilai  Tanah (ZNT). ABSTRACTZona Nilai Tanah (ZNT) are areas which show the relatively similar value of the terrain and the boundaries of land use are imaginary or real appropriate. Each area of ZNThave a different values based on a comparative analysis of market prices and costs. Considering ZNT based on market value, ZNT can be used for the determination of tariffs in land services, the public reference to the transaction, the determination of compensation, the inventory value of public assets and the assets of the community, monitoring the value and market of land, and the determination reference of Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) for PBB (Building and Land Tax), to make it more fair and transparent.Based on Semarang Regional Regulation Number 13 of 2011 on PBB, NJOP is the basis for the determination reference of PBB, which is one of the local revenue that is essential to improve service to the public. Therefore, it is necessary to realize the information value of the land for the functions realization of the land. One if it is map of ZNT.In this study, ZNT maps formed based on the value of the land with the assessment of the masses (not paying attention to property and the specific characteristics of the tax object) and use a comparison of sales (sales comparative), where the object of the tax is to be assessed in comparison with the object value of another tax type is already known.The results of this study is ZNT map that consits of 68 zones of the NJOP data and the transaction survey data. The change difference of transaction land price and NJOP with the low price is 49,45% and the highest price is 768,13%. Keywords:Nilai Jual Objek Pajak (NJOP), Land and Building Tax (PBB), Zona Nilai  Tanah (ZNT).*) Penulis, Penanggungjawab

Page 1 of 4 | Total Record : 38


Filter by Year

2016 2016


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 13, No 1 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 4 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 3 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 2 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 4 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 3 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 2 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 1 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 4 (2021): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 3 (2021): Jurnal Geodesi Undip Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021 Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021 Volume 9, Nomor 4, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 3, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020 Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 3, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019 Vol 8, No 1 (2019) Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 2, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018 Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017 Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016 Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015 Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014 Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013 Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012 More Issue