cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 38 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 3: Agustus 2013" : 38 Documents clear
Representasi Sosok Anak-Anak Pedalaman Papua dalam Film Denias, Senandung di Atas Awan Daeng Lanta Mutiara Rato R; Triyono Lukmantoro; Nurul Hasfi
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.306 KB)

Abstract

Representasi Sosok Anak-Anak Pedalaman Papua dalam Film Denias,Senandung di Atas AwanJUDUL : Representasi Sosok Anak-Anak Pedalaman Papuadalam Film Denias, Senandung di Atas AwanNAMA : Daeng Lanta Mutiara Rato RasanaeNIM : 14030110151029ABSTRAKFilm adalah media populer yang digunakan tidak hanya untuk menyampaikanpesan-pesan, tetapi juga menyalurkan pandangan-pandangan kepada khalayak.Perkembangan film Indonesia menjadikan para pembuat film semakin kreatifmengangkat tema dan subjek film, salah satunya tentang anak-anak pedalaman.Ini yang membuat Alenia Pictures memproduksi Denias, Senandung di AtasAwan. Film ini menjadi tema segar di tengah sedikitnya film anak-anak nasional,yang semuanya berlatar kota metropolitan. Film yang diproduksi tahun 2006 inimenceritakan perjuangan anak-anak pedalaman Papua mengejar pendidikan.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui representasi sosok anak-anakpedalaman Papua. Dengan tipe penelitian kualitatif, penelitian menggunakananalisis semiotika. Teknik analisis data menggunakan konsep Kode-Kode Televisiyang dikemukakan John Fiske. Analisis dilakukan dengan tiga level, yakni levelrealitas, level representasi, dan level ideologi. Level realitas dan level representasidianalisis secara sintagmatik, sedangkan analisis secara paradigmatik untuk levelideologi.Hasil penelitian menemukan bahwa anak-anak pedalaman Papuadigambarkan sebagai Other, seperti halnya stereotip terhadap ras kulit hitam.Stereotip ini digambarkan primitif, miskin, bodoh, dan suka berkelahi. Sangatmungkin bagi pembuat film untuk mengonstruksi realitas agar dapatmenempatkan ideologi-ideologi. Di sini, pembuat film menggunakan anak-anaksebagai alat penyalur ideologi dominan. Pendidikan membuat peradaban danpemikiran anak-anak pedalaman lebih modern. Film ini juga menonjolkan sisinasionalis seorang anak pedalaman Papua, serta menjunjung peran militer secarapositif. Konstruksi realitas dilakukan dengan menghilangkan fakta tentang konfliksosial politik di Papua. Selain berusaha mengajak penonton anak-anak semangatbersekolah, film ini juga menyiratkan makna yang kuat bahwa Papua adalahbagian dari wilayah Indonesia yang tidak boleh dipisahkan.Kata kunci: film, representasi, anak-anak, PapuaTITLE : Representation of Papua Inland Children Figure onDenias, Senandung di Atas AwanNAME : Daeng Lanta Mutiara Rato RasanaeNIM : 14030110151029ABSTRACTMovie is popular media that is used not only to convey messages, but also to leadideas to public. Indonesia movie development causes the movie makers gettingcreative in raising movie themes and subjects, one of them is about the inlandchildren. This is the reason why Alenia Pictures produced Denias, Senandung diAtas Awan. The movie becomes a fresh theme in the middle of some nationalchildren movies, which all are set in metropolitan cities. The movie was producedin the year 2006, tells about the Papua inland children who struggle to reacheducation.The research aims to determine the representation of Papua inland childrenfigure. With qualitative type, the research uses semiotics analysis. Data analysistechnique applies the concept of Television Codes put forward by John Fiske. Theanalysis is applied by three levels, namely reality level, representation level, andideology level. Reality and representation level are sintagmatically analyzed,whereas paradigmatically analyzed for ideology level.The final results of the research find out that Papua inland children aredescribed as Other, just as the stereotypes of black race. The stereotypes aredescribed as primitive, poor, foolish, and fight a lot. It is very possible for moviemaker to construct reality so they can put down ideologies. Here, movie makeruse the children as a medium for dominant ideology. Education makes theircivilization and ideas get a little more modern. The movie also shows up theirnationalist side, and positively give a full respect for military role as well. Theconstruction of reality is attempted by missing the facts about social politicconflict in Papua. Beside attempting to invite the children audience to be schoolspirited,the movie implies a strong meaning that Papua is part of Indonesiaterritories that may not be separated.Keyword : movie, representation, children, PapuaPENDAHULUANMedia audio visual telah menjadi bentuk hiburan yang banyak digunakankhalayak, salah satunya film. Selain berfungsi menghibur, film diproduksi sebagaipenyalur pesan dari pembuat film kepada khalayak. Dalam perkembangan filmIndonesia pada kurun dekade terakhir, pembuat film semakin kreatifmengeksplorasi tema-tema baru. Tak hanya menyampaikan pesan, pembuat filmpun meletakkan ideologi-ideologi. Tujuannya selain agar penonton menerimapesan yang dimaksud, juga agar ideologi-ideologi tersebut terserap dan menempeldi benak penonton. Ini menjadikan film sebagai salah satu media komunikasimassa yang efektif.Pembuat film tentu menyadari benak penonton anak-anak dengan mudahmenyerap apa yang mereka lihat dan dengar. Namun, pembuat film juga perlumemilih tema yang sesuai dan disukai anak-anak, yakni film yang mengandungpesan moral dan bertema petualangan. Menurut analisis Heru Effendy (2008: 28),kelompok remaja maupun anak adalah sasaran empuk bagi film-film denganmuatan pendidikan yang baik. Dari segi ekonomis, bisa dideskripsikan bahwalebih dari separuh penonton film Indonesia di bioskop saat ini adalah remaja. Disisi lain, jumlah anak-anak tidak sebanyak remaja, hingga film anak-anak yangdiproduksi tidak sampai 5% dari total produksi film Indonesia.Rumah produksi Alenia Pictures menemukan celah baru yang selama inibelum dirambah film lain. Film Denias, Senandung di Atas Awan menjadi debutAlenia sekaligus film anak-anak pertama yang menyorot kehidupan di pedalamanPapua.Film Indonesia tampaknya masih berkiblat pada perfilman Hollywood, dimana kehidupan pedalaman ditampilkan secara kurang beradab atau masihprimitif. Terlebih pada ras kulit hitam, secara global mereka ditampilkan sebagaisosok yang identik dengan kekerasan, bodoh, miskin, dan primitif. Tak jauhberbeda dengan film tentang pedalaman Papua, pembuat film masihmengadopsi—walau walau tak seesktrem—stereotip-stereotip kulit hitamHollywood tersebut.Adalah kewenangan pembuat film untuk membentuk seperti apa realitas dilayar, terlepas dari sesuai tidaknya dengan dunia nyata. Demikian juga dalam filmDenias, Senandung di Atas Awan, menceritakan keinginan anak-anak pedalamanuntuk belajar, meski hanya di sekolah darurat yang berbentuk Honai sederhana.Denias dan teman-temannya diceritakan sangat akrab dengan seorang TNI-AD,dikenal dengan nama Maleo, yang bertugas di desanya.Namun tak dapat dipungkiri, sebagai daerah yang sedang mengalamikonflik, Papua ada dalam pengawasan TNI. Menurut laporan Human RightsWatch (HRW) pada 2007, wilayah pegunungan/dataran tinggi Papua telah lamamenjadi wilayah konfrontasi antara militer dan polisi Indonesia dengan sel-selkecil Organisasi Papua Merdeka (OPM), sebuah organisasi politik bawah tanahyang didirikan sejak tahun 1965. Organisasi rahasia ini telah berulang kalimelakukan serangan terhadap instalasi militer Indonesia, sementara militerIndonesia dengan gencar melakukan sweeping hingga ke daerah-daerah palingterpencil untuk memberantas kaum yang disebut pemberontak ini. Sweeping yangdilakukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) tidak jarang disertai penjarahan,perusakan barang milik penduduk setempat bahkan tindak kekerasan hinggapemerkosaan dan pembunuhan terhadap rakyat sipil. Menurut laporan terbaruHRW, pengawasan militer untuk daerah dataran tinggi Papua jauh lebih intensifdari daerah-daerah lain di Papua(http://pravdakino.multiply.com/journal/item/24?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem diakses 4 Juli 2012).Mengesampingkan fakta-fakta tentang perlakuan kekerasan TNI di tanahPapua terhadap rakyat sipil, dalam Denias, Senandung di Atas Awan, sosok TNIADyang dipanggil Maleo (diperankan Ari Sihasale) justru sangat akrab dengananak-anak. Maleo merupakan salah satu tokoh panutan Denias yang mengantarsemangatnya mengejar mimpi ke sekolah fasilitas di kota.Di balik kesuksesan Denias, Senandung di Atas Awan menyentuh emosipenonton dalam kegigihan Denias untuk menuntut ilmu, film ini justrumenempatkan—tak hanya orang dewasa Papua seperti film-film sebelumnya,tetapi juga—anak-anak dalam ke-inferioritas-an. Alenia Pictures nampaknyaberhasil menggambarkan keoptimisan seorang anak meraih pendidikan sembarimenjual keibaan terhadap anak-anak Papua itu sendiri. Yang artinya, realitas yangdiadaptasi dari film ini berhasil dikonstruksi sedemikian rupa sehinggamembelokkan stereotip-stereotip miring terhadap orang-orang Papua, menjadilebih beradab lewat sosok anak-anak yang mengejar pendidikan. Namun tetap,terpinggirkan dan inferior bahkan di kampung halamannya sendiri.Berdasarkan sosok orang Papua yang ditampilkan sacara tidak mengancamseperti ini, maka penelitian merumuskan permasalahan tentang representasi sosokanak-anak pedalaman Papua dalam film Denias, Senandung di Atas Awan.ISIPenelitian ini menggunakan tipe deskriptif kualitatif dengan analisis semiotika,yakni menganalisis teks media sebagai suatu kesatuan struktur untuk melihat danmembaca makna yang terkandung di balik teks. Untuk meneliti respresentasisendiri menggunakan tanda (gambar, bunyi dan lain-lain) untuk menghubungkan,menggambarkan, memotret, atau mereproduksi sesuatu yang dilihat, diindera,dibayangkan, atau dirasakan dalam bentuk fisik tertentu (Danesi, 2010: 24).Data yang diperoleh untuk melakukan penelitian ini berdasarkanpengamatan dan pengkajian pada film Denias, Senandung di Atas Awan, denganteknik analisis kode-kode televisi John Fiske. Kode-kode ini meliputi tiga level,yakni level realitas, level representasi, dan level ideologi. Analisis ketiga leveltersebut lebih lanjut akan mengungkapkan bagaimana pembuat filmmerepresentasikan sosok anak-anak pedalaman Papua melalui tanda-tanda,bagaimana realitas dikonstruksi untuk mencapai makna yang mengandungideologi pembuat film.Memahami bagaimana media (termasuk film) merepresentasikan realitas,Croteau dan Hoynes (2000: 214) menjelaskan dalam tiga gagasan. Pertama,representasi bukanlah realitas. Ada proses seleksi di mana terdapat aspek-aspekyang ditonjolkan atau diabaikan. Kedua, media tidak merefleksikan dunia nyata.Disebabkan keterbatasan waktu, sumber daya, atau alasan lain yang tidakmemungkinkan. Ketiga, penggunaan kata nyata. Dalam perspektif konstruksionis,adanya pembingkaian isu menyebabkan representasi realitas tidak pernah benarbenarnyata.Bagi penonton anak-anak yang terbiasa dengan pemandangan kotametropolitan, film ini memiliki daya tarik sendiri. Pembuat film sengajamengenalkan Papua dari pemandangan etnografi yang indah dan eksotis,ditambah dengan budaya dan penampilan fisik orang Papua yang berbeda darikita. Perbedaan yang ditonjolkan ini seperti perulangan dari stereotip kulit hitamyang biasa dilihat di film Hollywood, yang oleh Donald Bogle dalam Hall (1997:251) disebut sebagai Other. Dari lima tipe stereotip yakni Tom, Coon, Mullato,Mammies, dan Bad Bucks, dua diantaranya terdapat di film ini. Sosok Denias yanglugu jelas dikategorikan pada tipe Tom. Karakternya adalah anak baik hati danpatuh, sering dianiaya Noel, tidak pernah melawan orang kulit putih(direpresentasikan pada sosok Maleo, Pak Guru, Ibu Gembala, dan Angel), gigihnamun pasrah ketika menyadari usahanya tidak membuahkan hasil. Karakter inicukup berhasil diperankan dengan baik oleh Albert Fakdawer hingga film inimendapat banyak pujian karena sukses menarik simpati penonton. Tapisebaliknya, karakter Noel yang suka berbuat onar mendekati tipe Bad Bucks.Meskipun di akhir cerita, anak nakal ini kapok dan menjadi anak baik sepertiDenias.Pengamatan menemukan bahwa pembuat film dekat dengan pemikirandominan bahwa Papua masih inferior. Tampak dari bagaimana realitas yangdirepresentasikan masih terkait dengan stereotip tentang Papua. Stereotip terkaitdengan pandangan atau judgment atas identitas, baik kondisi fisik, jender, ras,maupun politik. Sederhananya, menurut Richard Dyer (dalam Hall 1997: 257),stereotip didefenisikan sebagai karakteristik yang simpel, gamblang, dapat diingat,mudah diserap, umum dikenal tentang seseorang atau kelompok tertentu.Meskipun melalui karakter polos anak-anak, kepedalaman mereka ditonjolkandengan budaya dan adat yang primitif. Hal utama yang mudah ditangkap sebagaisisi primitif di film Denias, Senandung di Atas Awan tampak menonjol dalampenampilan fisik sebagai penanda tubuh. Bahkan kamera sering mengambilgambar penampilan ini secara close up. Penduduk lokal di latar pedalamantampak menonjol dengan kulit hitam dan penampilannya yang hampir telanjangkarena hanya berpakaian untuk menutupi alat kelaminnya saja. Pakaian ini berupakoteka pada laki-laki, dan sadli pada perempuan. Semuanya bertelanjang dada.Perbedaan dalam merepresentasikan tubuh ini menjadi bukti nyata akan perbedaanras. Ras dianggap sebagai fakta sosial, sebuah bukti diri atas identitas dan karaktermanusia. Di sisi lain, pembuat film memperhatikan sisi estetika berpakaian yangmenyesuaikan budaya kota, yaitu dengan memperlihatkan pakaian menutup auratpada tokoh-tokoh utama film. Selain itu, kehidupan pedalaman Papua yang miskinjuga ditampilkan di film ini. Diceritakan dari hambatan Denias dan Enos masuksekolah fasilitas di kota karena mereka bukan anak siapa-siapa.Kurangnya akses pendidikan di pedalaman direpresentasikan pada sosokanak-anak yang terkesan bodoh karena kepolosannya. Namun di dalam film,kesan bodoh ini justru dijadikan bahan lelucon untuk penonton. Bahkan Deniasyang tergolong paling cerdas di antara teman-teman desanya tidak bisamembedakan sapi, anjing, dan babi, serta tidak bisa menyusun peta Indonesiadengan benar. Sementara itu, stereotip keras pada watak orang Papua pundirepresentasikan pada anak-anak pedalaman ini. Denias dan Noel diceritakanbermusuhan dan mudah terpancing emosi yang berbuntut adu fisik. Teman-temanmereka, bukannya melerai, justru menonton perkelahian mereka dengan senang.Sedangkan secara tersirat, pembuat film memasukkan ideologi ataupandangan dominan. Lewat sosok anak-anak penuh semangat sekolah yangdisajikan di film Denias, Senandung di Atas Awan, Papua terlihat sangat damai.Namun di sinilah ideologi diletakkan, dan dikonstruksi melalui representasi,hingga memunculkan makna baru bagi penonton. Fiske (1987: 11) menyatakankita ini telah menjadi generasi pembaca yang dikonstruksi oleh teks, bahkanmenurut Althusser (1971), konstruksi subjek-dalam-ideologi merupakan praktikideologi utama pada masyarakat kapitalis, yang kemudian disebut ideologidominan. Ini mengapa banyak penonton simpati dengan film ini, karena maknadari pesan pembuat film tersalurkan.Adanya tokoh Maleo, Ibu Gembala, dan Pak Guru menjadi tandaberlakunya ideologi dominan di film ini. Ketiganya tokoh penting bagi hidupDenias, ketiganya pula diceritakan berasal dari Jawa. Di sini pembuat filmmemposisikan Jawa sebagai role model bagi anak-anak pedalaman Papua.Terdapat oposisi biner antara pemikiran anak-anak dan orang dewasa dipedalaman Papua tentang Jawa. Pemikiran anak-anak pedalaman Papua sudahlebih terbuka, maju, dan modern dibanding para orang tua yang kolot. Deniasmemandang belajar di sekolah adalah sebuah keharusan. Denias dan temantemannyabahkan mendambakan seragam merah-putih agar bisa seperti anak-anaksekolah di Jawa. Sementara ayah Denias, Samuel, dan kepala suku berkerasmenilai belajar adalah kewajiban anak-anak di Jawa, tak perlu diterapkan dipedalaman Papua. Ideologi yang disampaikan dalam film ini adalah pandanganmodernisme, yaitu dengan menyetarakan Papua dengan Jawa, tetapi tetapmerendahkan Papua dengan stereotip-stereotip atas Other yang mengacu padarasisme.Ada pun bagi penonton dewasa yang sedikit banyak mengertikompleksnya konflik yang terjadi di Papua, representasi ke-Indonesia-an yang adadi film ini jelas sebuah konstruksi yang berlebihan. Namun bagi penonton anakanak,yang dalam pelajaran di sekolahnya dipatenkan bahwa Papua, yang dulubernama Irian Jaya ini, adalah bagian dari Republik Indonesia, representasinasionalisme di film ini tidak mengada-ada. Berdasarkan argumen Ernest Gellnerdan Hobsbawn dalam Billig (2002: 19), nasionalisme sangat terkait dengankonsep negara-bangsa, yang mana di kondisi ini prinsip politik terlihat alami.Lingkup negara-bangsa adalah segala bentuk karakter dasar tentang modernitas.Sementara sejarawan Watson dan Johnson menyebut munculnya rasa patriotismedan loyalitas. Begitu nasionalisnya seorang Denias, bocah ini hormat di hadapanpeta Indonesia dari kertas karton meski dengan susunan pulau yang salah. Deniasjuga menyanyikan reffrain lagu Indonesia Raya dengan baik, walaupun denganlafal yang keliru: Endonesa. Anak-anak pedalaman ini pun senang bukan kepalangsaat Maleo memberikan masing-masing seragam merah-putih.Dari Maleo pula anak-anak ini belajar tentang Indonesia. Peran Maleo difilm ini tidak menunjukkan fungsi seorang tentara yang bertugas, karenakeberadaannya di desa Denias lebih pada misi sosial. Satu-satunya identitastentara Maleo yang terlihat jelas hanya pada saat ia mengenakan seragamprofesinya dengan lengkap. Menengok beberapa pemikiran Louis Althusser(1969), ideologi diproduksi pada subjek, seperti halnya pemaknaan representasi.Pada masyarakat kapitalis, Althusser menjelaskan pendekatan konseptual peranideologi (Wayne, 2005: 88). Repressive State Apparatus (RSAs) atau AparatusNegara Represif dan Ideological State Apparatus (ISAs) yaitu Aparatus NegaraIdeologis. Kedua pendekatan ini bersama-sama menyokong kekuatan negarauntuk kelas penguasa, dan mempertahankan status quo.Fungsi militer yang ditugaskan di Papua antara lain mengawasi aktivitaswarga setempat. Dari pemberitaan media, kerap terjadi bentrokan antara militerdengan warga sipil. Bahkan berbagai bentuk penindasan hingga pembantaiandilakukan satuan militer, mengakibatkan penderitaan dan tekanan dialami wargasipil. Anak-anak pun menjadi sulit mendapat akses pendidikan karena ketatnyaoperasi militer dijalankan. Dari sini terlihat pendekatan pertama Althusser.Tentara berkuasa, menguasai negara.Anak-anak pedalaman Papua digunakan sebagai alat untuk mengangkatkekuatan militer di Papua, tapi dengan menyinggung sisi lembut seorang militer,yang selama ini identik keras. Jelas bahwa ideologi di sini adalah militerismepemerintah Indonesia, direpresentasikam dengan menjunjung tinggi sosok militersebagai aspek yang ditonjolkan. Dan mengabaikan aspek lainnya seperti apasesungguhnya fungsi militer di tanah Papua, karena dalam film sama sekali tidakditampilkan konflik nyata sedikit pun.PENUTUPFilm ini tidak hanya berusaha menekankan pentingnya pendidikan bagianak-anak, termasuk anak-anak pedalaman Papua. Tetapi juga menyajikankebudayaan Papua, memberi contoh bagaimana menjadi anak Indonesia, hinggamemperkenalkan sosok militer. Penelitian menemukan representasi sosok anakanakpedalaman Papua, juga ideologi-ideologi yang tersimpan di baliknya.a. Anak-anak pedalaman Papua dianggap sebagai Other, yang membedakanmereka dengan anak-anak kita. Perbedaan tidak hanya diperlihatkan dariwarna kulit, tetapi juga kebudayaan, ekonomi, intelektual, dan perilaku.Anak-anak pedalaman berkulit hitam ini direpresentasikan dengankebudayaan primitif, keluarga miskin, tidak pintar, dan suka berkelahi.Representasi atas ke-other-an ini menyiratkan pandangan tentang perbedaanras. Bahwa ras orang Papua masih dianggap lebih rendah dan tidak seberadabkita yang tinggal di Jawa, misalnya.b. Pemikiran anak-anak pedalaman Papua direpresentasikan sudah lebih majudengan menyadari pentingnya pendidikan. Semangat belajar dan menuntutilmu hingga ke kota merupakan bentuk kemajuan peradaban anak-anakpedalaman Papua. Di samping itu, semangat belajar Denias dan teman-temandidorong oleh orang-orang pendatang dari Jawa. Pembuat film memasukkanideologi modernisme, sebagai upaya menyetarakan peradaban Papua denganJawa.c. Pada sosok Denias, anak pedalaman Papua direpresentasikan sebagai pribadiyang nasionalis. Bentuk kecintaannya pada negara ditonjolkan lewatpenghormatan terhadap wilayah Indonesia, seragam sekolah merah-putih,lagu Indonesia Raya, dan upacara bendera. Dengan representasi ini, pembuatfilm mengambil jalan aman, yakni menghilangkan konflik sosial politik diPapua, dan meletakkan nasionalisme sebagai ideologi dominan. Untukmematenkan Papua sebagai wilayah yang tak terpisah dari Negara KesatuanRepublik Indonesia.d. Keseharian hidup anak-anak pedalaman Papua digambarkan tidak lepas dariperan militer. Film merepresentasikan anak-anak pedalaman Papua yangberteman baik dengan TNI-AD yang bertugas di wilayahnya. Keakraban diantara mereka membentuk pencitraan positif militer di Papua. Maka dalamrepresentasi ini terdapat ideologi militerisme, yang mana penontonmenangkap makna bahwa militer adalah pengayom rakyat Papua, berdedikasitinggi untuk misi sosial, antara lain mengusahakan pendidikan yang layakbagi anak-anak pedalaman Papua.DAFTAR PUSTAKABillig, Michael. 2002. Banal Nationalism. London: SAGE Publications.Croteau, David dan William Hoynes. 2000. Media Society: Industries, Images andAudiences. Thousand Oaks: Pine Forge Press.Danesi, Marcel. 2010. Pesan, Tanda, dan Makna. Yogyakarta: Jalasutra.Effendy, Heru. 2008. Industri Perfilman Indonesia: Sebuah Kajian. Jakarta:Erlangga.Fiske, John. 2001. Television Culture. New York: Routledge.Hall, Stuart. 1997. Representation: Cultural Representations and SignifyingPractices. London: SAGE Publications.Wayne, Mike (ed.). 2005. Understanding Film: Marxist Perspectives. London:Pluto Press.Sumber internet:Veronique. 2008. Problem Representasi dalam Film “Denias, Senandung di AtasAwan”. Dalam http://pravdakino.multiply.com/journal/item/24?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem. Diakses pada 4 Juli 2012.
REPRESENTASI PEREMPUAN DALAM SAMPUL MAJALAH FEMINA Ade Ayu Kartika Sari Rezki; Taufik Suprihatini; Triyono Lukmantoro
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

REPRESENTASI PEREMPUAN DALAM SAMPUL MAJALAH FEMINAAde Ayu Kartika Sari RezkiJurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikUniversitas DiponegoroAbstrakMedia massa di Amerika Serikat menampilkan gambaran sosok perempuan yang berbeda-beda tiap masanya, ada ikon perempuan yang dikenal dengan the vamp, the flapper, the college girl, dan masih banyak lainnya. Terjadinya perubahan ini tidak hanya dipengaruhi oleh adanya perubahan peran jender, tapi lebih dipengaruhi oleh banyak hal seperti perkembangan teknologi, perubahan dalam bidang ekonomi, dan sosial. Perbedaan dalam menampilkan gambaran sosok perempuan juga terjadi di Indonesia, pada majalah Femina. Hal inilah yang melatarbelakangi penelitian ini, sehingga ingin diketahui mengenai bagaimana perempuan digambarkan dalam Femina selama beberapa periode, dan mengapa perempuan digambarkan seperti demikian. Penelitian kualitatif dengan metode penelitian deskriptif yang menggunakan pendekatan semiotika Barthes dan representasi, bertujuan untuk mengetahui bagaimana sosok perempuan ditampilkan dalam sampul. Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivisme yang bertujuan untuk memahami mengapa perempuan direpresentasikan seperti pada sampul majalah yang diteliti, realitas apa saja yang dikonstruksikan dan ditampilkan. Sampul majalah Femina yang dianalisis dibagi dalam lima periode, yaitu tahun 1970-an, 1980-an, 1990-an, 2000-an, 2010 – saat ini, dan dalam setiap periodenya dipilih tiga sampul majalah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahun 1970-an dari tiga sampul yang dianalisis perempuan digambarkan lebih dominan dalam peran domestik sebagai seorang ibu atau sebagai seorang istri. Pada tahun 1980-an dari tiga sampul yang dianalisis perempuan digambarkan dalam sosok yang lebih bervariasi seperti perempuan yang fun, atau perempuan karier. Pada tahun 1990-an dari tiga sampul yang dianalisis perempuan digambarkan dalam seorang yang modern dan berasal dari kalangan menengah ke atas, berpenampilan elegan atau glamor. Pada tahun 2000-an hingga saat ini dari enam sampul yang dianalisis menampilkan perempuan dalam isu sehari-hari, seperti hubungan kedekatan dengan sahabat atau kakak-adik perempuannya, perempuan karier. Penggambaran sosok perempuan yang berbeda menunjukkan bahwa Femina sebagai media massa tidak menampilkan semua situasi yang sedang terjadi, bahkan terkadang menggambarkan situasi yang baru. Hal tersebut menunjukkan sifat media massa sebagai pengkonstruksi realita.Key Words: Representasi Perempuan, Media Massa, Majalah Wanita, Semiotika, Konstruksi Realitas.PendahuluanMedia massa dalam hal ini adalah majalah memiliki berbagai fungsi, Wright mengidentifikasi terdapat empat fungsi media yang dikenal the classic four functions of the media. Keempat fungsi tersebut adalah; (1) surveillance dari lingkungan, (2) menghubungkan dari bagian-bagian sosial dalam memberi respon ke lingkungan, (3) transmisi dari kebudayaan sosial dari satu generasi, ke generasi selanjutnya, dan (4) hiburan. Dari keempat fungsi tersebut, fungsi transmisi adalah salah satu fungsi yang menunjukan bagaimana kekuatan media massa dalam mempengaruhi khalayaknya. Melalui fungsi ini sebuah majalah dapat mewariskan norma-norma ataupun nilai-nilai tertentu dari suatu masyarakat kepada masyarakat lainnya (Baran and Davis, 2010: 178-179).Di Amerika Serikat, diadakan penelitian mengenai bagaimana representasi perempuan ditampilkan dalam media massa. Hasilnya menunjukkan bahwa terjadi perubahan ikon visual wanita dalam media massa Amerika. The True American Woman, The College Girl, The Vamp, The Flapper merupakan beberapa sosok perempuan yang ditampilkan dalam media massa. Transisi ini tidak hanya berkaitan dengan adanya perubahan peran jender, adanya aspirasi sosial dan ekonomi dalam pertumbuhan kelas menengah di Amerika juga turut mempunyai andil yang besar (Kitch, 2001: 18).Media massa di Indonesia juga mengalami perkembangan, ditandai munculnya segmentasi majalah yang mulai tampak pada tahun 1970-an, salah satu contohnya adalah kehadiran majalah wanita. Majalah wanita dinilai memiliki peran yang sangat responsif dalam perubahan keadaan sosial wanita pada umumnya, hal tersebut karena majalah wanita memiliki spesialisasi market yang jelas dan dalam skala yang kecil (Strinati, 2004: 169-170).Salah satu majalah wanita di Indonesia adalah Femina. Terbit sejak tahun 1972, Femina yang merupakan majalah wanita modern pertama di Indonesia, sampai saat ini dianggap masih bisa mempertahankan eksistensinya. Dilihat dari sampulnya, terdapat perubahan yang terjadi antara sampul tahun 1970-an, 1980-an, hingga sampul pada saat ini.Sampul merupakan salah satu bagian penting dari suatu majalah. Menurut Swann, sampul majalah memiliki dua fungsi utama yaitu harus bisa “menjual” konsep majalah itu secara keseluruhan seperti sama halnya dengan publikasi, serta harus bisa mencerminkan tingkat intelektual dari isi editorial majalah. Pendapat yang hampir sama, dikemukakan oleh Click dan Baird, dijelaskan bahwa cover majalah memiliki fungsi yang lebih personal dibandingkan hanya fungsi intelektual saja. Sampul majalah diibaratkan sebagai wajah dari majalah itu, sama seperti wajah orang yang menjadi indikator utama dari kepribadian seseorang (McKay, 2001: 162).Femina sebagai majalah wanita dinilai mempunyai peran penting dalam membentuk perilaku pembacanya, selain itu dengan tingginya tingkat sirkulasimenunjukkan bahwa Femina diminati oleh perempuan Indonesia dan secara tidak langsung memiliki pengaruh yang cukup besar dalam hidup wanita Indonesia. Sebagai salah satu media massa, tak dapat dipungkiri bahwa Femina memiliki sifat yang tidak bebas nilai, karena dianggap sebagai sarana untuk menanamkan pandangan atau nilai-nilai tertentu kepada para pembacanya. Hal tersebut dapat dapat dilihat dari sampul yang ditampilkan, karena dengan sebuah sampul dapat mewakili keseluruhan isi dari suatu majalah.Dari hal-hal tersebut muncul pertanyaan mengenai seperti apakah Femina menggambarkan perempuan dalam sampul majalahnya? Dan mengapa perempuan digambarkan sedemikian rupa seperti pada sampul majalah Femina yang diteliti?. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana perempuan digambarkan dalam tanda-tanda, mengungkapkan representasi yang ada tentang mengapa perempuan direpresentasikan sedemikian rupa seperti dalam sampul majalah Femina.MetodaTipe penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode penelitian deskriptif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bertujuan untuk memahami fenomena yang dialami oleh subyek penelitian dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa (Moleong, 2007: 6). Untuk menjawab tujuan penelitian dilakukan dengan pendekatan semiotika, karena tiap objek budaya membawa pesan tersendiri dan semua praktek budaya bergantung pada makna yang dihasilkan tanda-tanda.Subyek dalam penelitian ini adalah sampul Femina (versi cetak) yang didapatkan melalui browsing di internet. Setelah terkumpul, dipilih tiga sampul majalah dari masing-masing periode. Sampul yang dipilih adalah sampul dalam kondisi yang baik yaitu gambarnya masih terlihat dengan jelas, sehingga dapat dianalisis. Periode dibagi menjadi lima, periode 1970-an, 1980-an, 1990-an, tahun 2000-an, dan 2010 sampai saat ini.Analisis data yang dilakukan menggunakan teknik dari Roland Barthes yaitu tentang dua tingkat tingkatan pertandaan (staggered system) yang memungkinkan untuk dihasilkannya makna yang bertingkat yaitu denotasi dan konotasi (Sunardi, 2002: 84-85).PembahasanTataran Denotasi dan Konotasi pada Sampul FeminaDalam menemukan tataran denotasi dan konotasi pada sampul majalah tidaklah sama. Menganalisis tataran denotasi tidak perlu sampai ke unit-unit terkecilnya, sebaliknya untuk tataran konotasi penguraian harus sampai ke unit-unit terkecil. Dengan tahapan; photo trick, pose, objek, fotogenia, estetisisme, dan sintaksis (Barthes, 2010: 5-12).Pada tahun 1970-an terdapat tiga sampul yang dianalisis. Sampul pertama, edisi 01 memiliki tataran denotasi: “terdapat seorang perempuan mengenakan pakaian terusan berwarna kuning tua, dan mempunyai sepuluh tangan yang masing-masing memegang benda tertentu, seperti papan penggilasan, sebuah wajan teflon, sebuah cermin wajah yang berbentuk oval, sebuah benda yangberbentuk hati dan berwarna merah, sebuah jam dinding, sebuah setrika, sebuah celengan dari tanah liat, sebuah buku, sebuah mesin tik, dan memegang sebuah gunting dengan sehelai kain. Di bawah perempuan yang sedang berdiri tersebut, duduk seorang anak perempuan kecil dengan atasan berwarna putih, dan bawahan merah”. Lalu, pada tataran konotasinya menampilkan perempuan dalam melakukan peran ganda. Yang dimaksud peran ganda perempuan yaitu peran perempuan dalam ranah domestik dan dalam ranah publik, peran sebagai ibu dan peran sebagai wanita karir, yang dituntut untuk bisa selalu menyeimbangkan keduanya (Sulqifli, 2010).Sampul kedua, edisi 61 memiliki tataran denotasi: “terdapat seorang perempuan berambut pendek mengenakan terusan hitam bermotif bunga sedang duduk di sebuah kursi kayu.” Lalu, pada tataran konotasinya menampilkan perempuan dalam sosok seorang nyonya besar. Model dalam sampul yang penampilannya modern, anggun, dan elegan menunjukkan bahwa dia berasal dari kelas atas, karena untuk dapat tampil sedemikian rupa membutuhkan materi yang tidak sedikit dan biasanya kalangan kelas atas yang berpenampilan seperti itu. Selain itu, sosoknya yang terlihat mendominasi atau punya kekuasaan identik dengan ciri khas seorang nyonya besar.Sampul ketiga, edisi 64 memiliki tataran denotasi: “terdapat dua orang perempuan. Perempuan pertama mengenakan pakaian terusan tanpa lengan berwarna coklat khaki sedang duduk memegang cangkir. Perempuan kedua mengenakan pakaian dengan potongan yang sama berwarna putih sedang berdiri memegang cangkir.” Lalu pada tataran konotasinya menampilkan perempuandalam sosok seorang sosialita. Sosialita lebih diartikan sebagai sejenis gaya hidup yang mewah, berkumpul dengan kelompok tertentu yang melakukan aktifitas-aktifitas yang tidak biasa, dan malah sedikit melakukan kegiatan sosial (Hardjanto, 2013)Pada tahun 1980-an terdapat tiga sampul yang dianalisis. Sampul pertama, edisi 179 memiliki tataran denotasi: “terdapat seorang perempuan dengan ekspresi wajah tersenyum, menggunakan atasan berkerah dengan corak leopard, dan menggunakan topi baret berwarna merah.” Lalu pada tataran konotasinya menampilkan perempuan dalam sosok yang fun, ekspresif dalam menampilkan dirinya, berani dan percaya diri.Sampul kedua, edisi 01 memiliki tataran denotasi: “terdapat dua orang perempuan dalam posisi yang berdekatan. Perempuan pertama sedang tersenyum lebar, posisinya di atas, dan mengenakan atasan berwarna pink. Perempuan kedua tersenyum tipis, posisinya di bawah, dan mengenakan atasan berwarna biru.” Lalu pada tataran konotasinya menampilkan dua perempuan sebagai sosok yang perempuan yang bekerja dan masing-masing memiliki karakter yang berbeda.Sampul ketiga, edisi 15 memiliki tataran denotasi: “terdapat seorang perempuan dengan pose berkacak pinggang, mengenakan pakaian batik berwarna merah.” Lalu pada tataran konotasinya menampilkan sosok perempuan Indonesia yang berasal dari Jawa dan berkarakter berkarakter berani, kuat, tangguh, agresif, memiliki rasa percaya diri yang tinggi, dan cenderung senang untuk tampil beda dengan yang lain.Pada tahun 1990-an terdapat tiga sampul yang dianalisis. Sampul pertama, edisi 36 memiliki tataran denotasi: “terdapat seorang perempuan dengan tatanan rambut updo, mengenakan pakaian dengan model sleeveless berwarna coklat, sedang tersenyum sambil menyilangkan tangannya.” Lalu pada tataran konotasinya menampilkan perempuan karier yang masuk dalam kelompok white collar dan penampilannya menunjukkan bahwa perempuan ini berasal dari kelas sosial atas.Sampul kedua, edisi 23 memiliki tataran denotasi: “terdapat seorang perempuan dengan tatanan rambut sleek, mengenakan dress dan anting-anting berwarna merah dengan ekspresi wajah yang tatapan matanya ke depan sambil tersenyum simpul.” Lalu pada tataran konotasinya menampilkan sosok perempuan elegan.Sampul ketiga, edisi 48 memiliki tataran denotasi: “terdapat seorang perempuan dengan tatanan rambut updo, mengenakan dress berwarna pink dan scarf berwarna sama, sedang tersenyum menatap ke arah kamera.” Lalu pada tataran konotasinya menampilkan sosok perempuan yang tampil modern dan glamor dilihat dari pilihan gaya tatanan rambut, pakaian dan aksesoris yang dikenakannya.Pada tahun 2000-an terdapat tiga sampul yang dianalisis. Sampul pertama, edisi 46 memiliki tataran denotasi: “terdapat seorang perempuan yang mengenakan atasan bustier dan bawahan abu-abu sedang berpose menghadap kamera.” Lalu pada tataran konotasinya menampilkan sosok perempuan cantikyang berpenampilan seksi yang didefinisikan dengan bentuk tubuh yang ramping dan berlekuk, memiliki leher yang jenjang, dan berkulit coklat.Sampul kedua, edisi 35 memiliki tataran denotasi: “terdapat seorang perempuan yang mengenakan halter neck dress berwarna putih, yang tersenyum dan terlihat seperti sedang menahan gaunnya yang tertiup angin dengan kedua tangannya.” Lalu pada tataran konotasinya menampilkan gambaran sosok perempuan melalui sosok ikon terkenal yaitu Marilyn Monroe yang dikenal sebagai ikon kecantikan dan sensual.Sampul ketiga, edisi 03 memiliki tataran denotasi: “terdapat tiga orang perempuan dengan gaya berpakaian yang berbeda terlihat sedang tersenyum dan dalam posisi yang saling berdekatan.” Lalu pada tataran konotasinya menggambarkan sosok tiga perempuan yang memiliki hubungan yang erat atau biasa disebut dengan istilah sisterhood.Pada tahun 2010 hingga saat ini terdapat tiga sampul yang dianalisis. Sampul pertama, edisi 22 memiliki tataran denotasi: “terdapat dua perempuan mengenakan pakaian yang seragam warnanya yaitu kuning dan hitam, terlihat sedang berdiri dan tersenyum.” Lalu pada tataran konotasinya menggambarkan dua sosok perempuan yang memiliki hubungan sebagai kakak-adik dan masing-masing digambarkan memiliki kesamaan juga perbedaan.Sampul kedua, edisi 161 memiliki tataran denotasi: “terdapat seorang perempuan mengenakan atasan berkerah biru, dipadukan dengan celana putih, yang sedang duduk melipat tangan dan tersenyum menatap kedepan.” Lalu pada tatarankonotasinya menggambarkan sosok perempuan karier yang dinamis, percaya diri, dan suka memperhatikan penampilannya.Sampul ketiga, edisi 11 memiliki tataran denotasi: “terdapat seorang perempuan mengenakan bustier hitam, celana panjang hitam, dan dipadukan dengan blazer putih, sedang duduk pada sebuah kursi dikelilingi tiga pria yang berdiri di belakangnya.” Lalu pada tataran konotasinya menggambarkan sosok perempuan yang memiliki posisi karier yang tinggi yaitu memiliki posisi sebagai atasan.Gambaran Perempuan dalam Sampul Majalah FeminaPeriode tahun 1970-an menampilkan tiga sampul Femina, yaitu edisi 01 atau edisi perdana, edisi 61, dan edisi 64. Pada sampul pertama yang menampilkan perempuan dalam peran ganda menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil dari realita yang ditampilkan. Pada sampul kedua menampilkan perempuan dalam sosok seorang nyonya besar dapat menjadi suatu petunjuk yang menggambarkan keadaan perempuan dan perekonomian Indonesia saat itu. Pada sampul ketiga menunjukkan bahwa Femina menjadi acuan gaya hidup kaum kelas menengah ke atas, mencerminkan keadaan politik dan ekonomi Indonesia pada tahun 1970-an. Pada periode ini perempuan yang ditampilkan dalam sampul yang dianalisis memiliki kesamaan yaitu ditampilkan lebih dominan peranannya dalam ranah domestik, dan berasal dari kalangan ekonomi atas.Periode tahun 1980-an menampilkan tiga sampul Femina yaitu edisi 179, edisi 01, dan edisi 15. Pada sampul pertama menunjukkan bahwa sosok perempuan yang ditampilkan berbeda dengan periode sebelumnya dapat menjadi tanda bahwa Femina memiliki “pembaca baru” yang memiliki karakteristikberbeda dengan sebelumnya. Pada sampul kedua yang menampilkan perempuan sebagai pekerja kalangan menengah menunjukkan bahwa sampul tersebut mencerminan keadaan sosial masyarakat pada saat itu. Pada sampul ketiga yang menampilkan seorang perempuan yang mengenakan aksesoris khas suatu budaya Barat dapat menjadi suatu tanda bahwa di Indonesia sedang terjadi proses masuknya budaya-budaya asing. Pada periode ini perempuan dalam sampul-sampul ditampilkan lebih bervariasi, dilihat dari ekspresi maupun gaya penampilannya.Periode tahun 1990-an menampilkan tiga sampul Femina, yaitu edisi 36, edisi 23, dan edisi 48. Pada sampul pertama yang menampilkan sosok perempuan modern menunjukkan bahwa pada saat itu keadaan masyarakat Indonesia khususnya daerah perkotaan sedang berkembang dengan pesat dan segala hal yang berbau modern menjadi daya tarik tersendiri. Pada sampul kedua dan ketiga juga menampilkan hal yang sama, yaitu sosok perempuan modern, hal ini menegaskan bahwa Femina memiliki peran dalam memacu atau memberi inspirasi bagi para pembacanya mengenai gaya hidup. Pada periode ini perempuan yang ditampilkan dalam tiga sampul yang dianalisis memiliki kesamaan, yaitu menampilkan sosok yang modern dan berasal dari kalangan ekonomi atas.Periode tahun 2000-an menampilkan tiga sampul Femina, yaitu edisi 46, edisi 35, dan edisi 03. Pada sampul pertama yang menampilkan sosok perempuan cantik dan seksi menunjukkan bahwa majalah ini tidak mencerminkan keadaan ekonomi maupun politik Indonesia saat itu, tapi lebih memberikan acuan ataupandangan lain untuk perempuan Indonesia dalam hal definisi kecantikan. Pada sampul kedua yang menampilkan sosok perempuan sebagai Marylin Monroe secara tidak langsung dapat menunjukkan bahwa di Indonesia sedang terjadi proses globalisasi yang memungkinkan banyak informasi dari luar masuk ke Indonesia, salah satunya dalam bidang hiburan. Pada sampul ketiga yang menggambarkan isu kaum perempuan yaitu sisterhood, menunjukkan bahwa Femina tidak mencerminkan kondisi perekonomian ataupun politik pada tahun tersebut. Pada periode ini dari ketiga sampul yang dianalisis menampilkan isu-isu yang menyangkut kehidupan seputar perempuan.Periode tahun 2010 hingga saat ini menampilkan tiga sampul Femina, yaitu edisi 22, edisi 161, dan edisi 11. Pada sampul pertama yang menampilkan sosok dua perempuan kakak beradik tidak mencerminkan keadaan ekonomi maupun politik Indonesia saat itu. Pada sampul kedua yang menampilkan sosok perempuan karier yang dinamis, meskipun sosok perempuan tersebut tidak bisa mewakili semua perempuan yang bekerja, namun sosok yang ditampilkan dalam sampul tersebut dapat menjadi acuan atau insipirasi. Pada sampul ketiga yang menampilkan perempuan memiliki posisi yang tinggi dalam kariernya dapat mencerminkan keadaan perempuan yang saat ini posisinya sudah semakin setara dengan kaum pria, khususnya dalam bidang pekerjaan. Pada periode ini dari ketiga sampul yang dianalisis memiliki kesamaan dengan periode sebelumnya, yaitu menampilkan isu yang dekat dengan kehidupan perempuan.PenutupKesimpulanAnalisis sampul Femina selama lima periode menunjukkan bahwa pada tiap sampulnya, Femina merepresentasikan perempuan secara berbeda. Perubahan dalam tiap sampul dapat dipengaruhi oleh kondisi masyarakat yang sedang terjadi. Pada beberapa edisi sampul Femina yang telah dianalisis, ditemukan bahwa gambaran dalam sampul dapat menjadi semacam petunjuk dari kondisi yang terjadi saat itu. Namun, beberapa sampul lainnya menunjukkan hal yang tidak berhubungan dengan kondisi masyarakat yang sedang terjadi.Femina sebagai media massa mempunyai sifat yang disebut pengkonstruksi realitas, yaitu Femina dapat memilih bagaimana menampilkan suatu keadaan atau realitas yang sedang terjadi. Dalam merepresentasikan sosok perempuan dalam sampulnya, Femina tidak secara “mentah” menampilkan seluruh realitas yang ada.DAFTAR PUSTAKADAFTAR PUSTAKAAhman, Eeng dan Epi Indriani. (2007). Membina Kompetensi Ekonomi. Bandung: Grafindo Media PratamaArivia, Gadis. (2006). Feminisme: Sebuah Kata Hati. Jakarta: KompasBaran, J. Stanley and Dennis K. Davis. (2010). Mass Communication Theory: Foundation, Ferment, and Future (6th ed.). USA: WadsworthBarker, Chris. (2000). Cultural Studies, Theory and Practice. London: SageBarker, Chris. (2004). The Sage Dictionary of Cultural Studies. London: SageBarthes, Roland. (2010). Imaji, Musik, Teks. Yogyakarta: Jalasutra.Bayu, W.M dan Gora W.S. (2007). Bikin Film Indie itu Mudah!. Yogyakarta: Andi OffsetBerger, Arthur Asa. (2010). The Objects of Affection: Semiotics and Consumer Culture. USA: Palgrave MacmillanBudiman, Kris. (2011). Semiotika Visual – Konsep, Isu, dan Problem Ikonisitas. Yogyakarta: JalasutraBurton, Graeme. (2002). More Than Meets the Eye: An Introduction To Media Studies (3rd ed.). London: ArnoldChandler, Daniel. (2007). Semiotics: The Basic (2nd ed). New York: RoutledgeCobley, Paul. (2010). The Routledge Companion to Semiotics. New York: RoutledgeDanesi, Marcel. (2002). Understanding Media Semiotics. London: ArnoldDanesi, Marcel. (2004). Messages, Signs, and Meanings: A Basic Textbook in Semiotics and Communication Theory (3rd ed.). Ontario: Canadian Scholars Press Inc.Denzin, Norman K dan Yvonna S. Lincoln. (2009). Handbook of Qualitative Research. Yogyakarta: Pustaka PelajarDjojosoekarto, Agung, dkk. (2008). Transformasi Demokratis Partai Politik di Indonesia: Model, Strategi, dan Praktik. Jakarta: Kemitraan PartnershipFakih, Mansour. (2002). Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi. Yogyakarta: Pustaka PelajarGaffar, Afan. (2004). Politik Indonesia Transisi Menuju Demokrasi. Yogyakarta: Pustaka PelajarGuba, E. G., and Yvonna S. Lincoln. (1994). Competing Paradigms in Qualitative Research. In N. K Denzin and Y. S. Lincoln (eds.), Handbook of Qualitative Research (pp. 105-117) California: SageHall, Stuart. (1997). Representation: Cultural Representations and Signifying Practices. London: SageIbrahim, Idi Subandi dan Hanif Suranto. (1998). Wanita dan Media: Konstruksi Ideologi Gender dalam Ruang Publik Orde Baru. Bandung: Remaja Rosda Karya.Irianto, Sulistyowati. (2008). Perempuan dan Hukum: Menuju Hukum yang Berspektif Kesetaraan dan Keadilan. Jakarta: Yayasan Obor IndonesiaKitch, Carolyn. (2001). The Girls on The Magazine Cover: The Origins of Visual Stereotypes in American Mass Media. The University of North Carolina PressLeirissa, RZ, dkk. (1996). Sejarah Perekonomian Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RILittlejohn, Stephen W. and Karen A. Foss. (2009). Teori Komunikasi – Theories of Human Communication (9th ed.). Jakarta: Salemba HumanikaMartin, Bronwen and Felizitas Ringham. (2000). Dictionary of Semiotics. London: CassellMaryati, Kun dan Juju Suryawati. (2007). Sosiologi. Jakarta: ESISMcKay, Jenny. (2001). The Magazine Handbook. London: RoutledgeMoleong, Lexy. (2007). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja RosdakaryaNitisastro, Widjaja. (2010). Pengalaman Pembangunan Indonesia – Kumpulan Tulisan dan Uraian Widjaja Nitisastro. Jakarta: KompasNotopuro, Hadjito. (1984). Peranan Wanita dalam Masa Pembangunan Indonesia. Jakarta: Ghalia IndonesiaNovita, Windya. (2002). Meraih Inner Beauty Dengan Doa Dan Zikir. Jakarta: GramediaRicklefs, M.C. (2008). Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Jakarta: Serambi Ilmu SemestaSardar, Ziauddin and Borin van Loon. (1999). Introducing Cultural Studies. Cambridge: Icon BooksSardiman. (2006). Sejarah 3+. Bogor: QuandraSjahrir. (1998). Krisis Ekonomi Menuju Reformasi Total. Jakarta: Yayasan Obor IndonesiaSobur, Alex. (2001). Analisis Teks Media : “Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing”. Bandung: Remaja Rosda KaryaSoeroso, Santoso. (2005). Mengarusutamakan Pembangunan Berwawasan Kependudukan di Indonesia. Jakarta: Buku Kedokteran EGCSumodisastro, Hardjantho. (1985). Pembangunan Ekonomi Indonesia. Jakarta: Gunung AgungStrinati, Dominic. (2004). An Introduction to Theories of Popular Culture (2nd ed.). London: RoutledgeSunardi, St. (2002). Semiotika Negativa. Yogyakarta: KanalSupriatna, Nana. (2006). Sejarah. Bandung: Grafindo Media PratamaSuryochondro, Sukanti. (1984). Potret Pergerakan Wanita. Jakarta: Yayasan Ilmu-Ilmu SosialTurner, Graeme. (2003). British Cultural Studies: An Introduction (3rd ed.). London: RoutledgeVivian, John. (2008). Teori Komunikasi Massa (8th ed.). Jakarta: KencanaWest, Richard dan Lynn H. Turner. (2008). Pengantar Teori Komunikasi 1: Analisis dan Apilkasi. Jakarta: Salemba HumanikaWinarno, Budi. (2008). Sistem Politik Indonesia Era Reformasi. Yogyakarta: Media PressindoSumber Internet:Admin FashionPro Magazine. (2013). Edgy. Dalam http://www.fashionpromagazine.com/?p=6818. Diunduh pada 6 Mei 2013 pukul 23.53 WIBAdnan, Ita. (2012). Nyaman dan Gaya Berbusana Kerja. Dalam http://www.tabloidnova.com/Nova/Busana/Konsultasi/Nyaman-dan-Gaya- Berbusana-Kerja. Diunduh pada 21 Juni 2013 pukul 08.16 WIBAmanah. (2009). Bukaan Atas Versus Bukaan Depan. Dalam http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2009/08/03/75067 /Bukaan-Atas-Versus-Bukaan-Depan. Diunduh pada 9 April 2013 pukul 21.00 WIBAnna, Lusia Kus. (2008). Psikologi dan Arti Warna. Dalam http://nasional.kompas.com/read/2008/10/09/15551015/psikologi.dan.arti. warna. Diunduh pada 13 Maret 2013 pukul 18.00 WIBAnonymous. (tanpa tahun). Femina. Dalam http://www.jakarta.go.id/jakv1/encyclopedia/detail/570. Diunduh pada 29 Agustus 2012 pukul 19.00 WIBAnonymous. (tanpa tahun). Sejarah Majalah - Dari Masa Daniel Defoe hingga Era Internet. Dalam http://www.anneahira.com/sejarah-majalah.htm. Diunduh pada 15 Desember 2012 pukul 21.00 WIBAnonymous. (tanpa tahun). Show Your Wild Side with Animal Print Sunglasses. Dalam http://www.optikmelawai.com/style_idea/show-your-wild-side- with-animal-print-sunglasses/9111350/. Diunduh pada 27 April 2013 pukul 06.30 WIBAnonymous. (2008). Scarf Melilit Cantik. Dalam http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/6035-scarf_melilit_cantik. Diunduh pada 6 Maret 2013 pukul 03.45 WIBAnonymous. (2012). Perjalanan „Membaca‟ Zaman. Dalam http://www.femina.co.id/isu.wanita/topik.hangat/perjalanan.membaca.zam an/005/007/175 . Diunduh pada 15 Desember 2012 pukul 23.00 WIBAster, Altifanidya. (2013). Mencontek Gaya Sanggul Modern Pengantin Barat. Dalam http://www.teruskan.com/10370/mencontek-gaya-sanggul-modern- pengantin-barat.html#_. Diunduh pada 29 April 2013 pukul 19.42 WIBBintaranny, Kadek. (tanpa tahun). Rahasia Dibalik Bahasa Tubuh. Dalam http://informasitips.com/rahasia-dibalik-bahasa-tubuh. Diunduh pada 27 April 2013 pukul 17.20 WIBBonang, Jimmy. (2011). Tips Stylish Dengan Warna. Dalam http://lifestyle.kompasiana.com/urban/2011/09/21/tips-stylish-dengan- warna-397399.html diunduh pada 28 April 2013 pukul 20.38 WIBChoiron. (2012). Cincin Penyelamat Para Mahasiswi. Dalam http://sosbud.kompasiana.com/2012/09/29/cincin-penyelamat-para- mahasiswi-497264.html. Diunduh pada 13 Maret 2013 pukul 19.45 WIBDila. (2008). Membaca Bahasa Tubuh. Dalam http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/wanita/2008/04/08/204/Memb aca-Bahasa-Tubuh. Diunduh pada 23 Aril 2012 pukul 22.30 WIBDini. (2013). 3 Gaya untuk Busana Bahan “Chiffon”. Dalam http://female.kompas.com/read/2013/05/06/22560699/3.Gaya.untuk.Busan a.Bahan.Chiffon?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=K anawp. Diunduh pada 6 Mei 2013 pukul 23.29 WIBDjumena, Erlangga. (2010). Perempuan dan Empati terhadap Sesama. Dalam http://female.kompas.com/read/2010/11/23/21440574/perempuan.dan.emp ati.terhadap.sesama. Diunduh pada 6 Juni 2013 pukul 04.37 WIBEsther. (2013). Budaya Jawa Tidak Butuh Diubah Menjadi Islami. Dalam http://sosbud.kompasiana.com/2013/01/13/budaya-jawa-tidak-butuh- diubah-menjadi-islami-519190.html. Diunduh pada 30 Mei 2013 pukul 80.30 WIBFazriyati, Wardah. (2011). Kreatif Menjadi Nyonya Rumah Sekaligus Berwirausaha. Dalam http://female.kompas.com/read/2011/02/25/18474719/Kreatif.Menjadi.Ny onya.Rumah.Sekaligus.Berwirausaha. Diunduh pada 16 Maret 2013 pukul 19.00 WIBFelicia, Nadia. (2011). Trik Berbusana Ibu Bekerja. Dalam http://female.kompas.com/read/2011/02/24/14330058/Trik.Berbusana.Ibu. Bekerja. Diunduh pada 17 Mei 2013 pukul 02.31 WIB.Franka. (2011). Invansi Rambut Pendek. Dalam http://www.tabloidnova.com/Nova/Kecantikan/Rambut/Invasi-Rambut- Pendek. Diunduh pada 23 April 2013 pukul 21.45 WIB\Frederika, Mellyana. (tanpa tahun). Scarf. Dalam http://timetoscarf.com/serba- scarf/scarf. Diunduh pada 6 Maret 2013 pukul 03.28 WIBIrwansyah, Ade. (2011). Memaknai Kulit Coklat Agnes Monica. Dalam http://www.tabloidbintang.com/extra/lensa/17610-memaknai-kulit-coklat- agnes-monica.html. Diunduh pada 5 Mei 2013 pukul 05.02 WIBHardjanto, Yustinus Sapto. (2013). Sosialis vs Sosialita. Dalam http://sosbud.kompasiana.com/2013/04/27/sosialis-vs-sosialita- 554876.html. Diunduh pada 27 April 2013 23.30 WIBHarmandini, Felicitas. (2009). Padu-padan Busana Berwarna Netral. Dalam http://female.kompas.com/read/2009/10/27/11542367/function.require. Diunduh pada 6 Mei 2013 pukul 22.44 WIBHarmandini, Felicitas. (2011). Make-up Polos untuk Wajah Segar Alami. Dalam http://female.kompas.com/read/2011/07/15/17211565/Make- up.Polos.untuk.Wajah.Segar.Alami. Diunduh pada 9 Maret 2013 pukul 16.00 WIBHeka, Yudha. (2012). 11 Makna Warna untuk Personality Anda. Dalam http://edukasi.kompasiana.com/2012/05/14/11-makna-warna-untuk- personality-anda-457313.html. Diunduh pada 6 Mei 2013 pukul 20.13 WIBHendramartono, Wijoyo. (tanpa tahun). Tips Menata Beranda Rumah. Dalam http://www.arsitekonline.com/articles/arsitek-tips-menata-beranda- rumah.html. Diunduh pada 11 Maret 2013 pukul 22.30 WIBHernasari, Putri Rizqi. (2012). Ini Dia 15 Topi Paling Khas dari Seluruh Dunia. Dalam http://travel.detik.com/read/2012/12/17/085544/2120062/1382/ini- dia-15-topi-paling-khas-dari-seluruh-dunia?v771108bcj. Diunduh pada 24 April 2013 pukul 21.00 WIBHestianingsih. (2013). Trik Berbusana dari Tyra Banks untuk Tampilkan Sisi Tangguh Wanita. Dalam http://wolipop.detik.com/read/2013/02/07/172948/2164148/233/trik- berbusana-dari-tyra-banks-untuk-tampilkan-sisi-tangguh-wanita. Diunduh pada 20 Maret 2013 pukul 18.45 WIB Junaidi, A. (2006). INDONESIA: 'Femina' receives Asia Media award. Dalam http://www.asiamedia.ucla.edu/article.asp?parentid=46302 . Diunduh pada 1 September 2012 pukul 17.00 WIBKrisnamurti, Dahlia. (2012). Rahasia di balik Keunikan Bentuk Alis. Dalam http://gayahidup.inilah.com/read/detail/1872939/rahasia-di-balik- keunikan-bentuk-alis#.UXhxuqJmiSo. Diunduh pada 24 April 2013 pukul 21.00 WIBKristiani, Florentina Lenny. (tanpa tahun). Mengenal Tradisi Minum Teh. Dalam http://klubnova.tabloidnova.com/KlubNova/Artikel/Aneka-Tips/Tips- Rumah/Mengenal-Tradisi-Minum-Teh. Diunduh pada 9 Maret 2013 pukul 23.00 WIBKurniawan, Iwan dan Nina Raharyu. (2013). Kelas Menengah Indonesia Bakal Tembus 170 Juta Orang. Dalam http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/407013-kelas-menengah- indonesia-bakal-tembus-170-juta-orang. Diunduh pada 6 Juni pukul 05.42 WIBLegita. (tanpa tahun). Manfaat Sosial Teh. Dalam http://www.gadis.co.id/gaul/ngobrol/manfaat.sosial.teh/001/007/465. Diunduh pada 9 Maret 2013 pukul 22.00 WIBMadjid, Aidil Akbar. (2011). Logam Mulia. Dalam http://blog.tempointeraktif.com/ekonomi-bisnis/logam-mulia/. Diunduh pada 14 Maret 2013 pukul 21.45 WIBMahardi, Karina. (2012). 6 Trik Menata Rambut Dengan Cepat di Pagi Hari. Dalam http://wolipop.detik.com/read/2012/10/08/070257/2056894/234/6- trik-menata-rambut-dengan-cepat-di-pagi-hari. Diunduh pada 9 Maret 2013 pukul 19.00 WIBMaya. (2012). Oxford Shoes, Cara Tampil Beda. Dalam http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/wanita/2012/07/18/1328 /Oxford-Shoes-Cara-Beda-Tampil-Beda. Diunduh pada 16 Mei 2013 pukul 23.32 WIBNatalia, Maria. (2012). LSI: Politik Indonesia Cenderung Memburuk. Dalam http://nasional.kompas.com/read/2012/02/19/17205490/LSI.Politik.Indone sia.Cenderung.Memburuk. Diunduh pada 6 Juni 2013 pukul 05.59 WIBNugraheni, Mutia. (2013). Tampil Lebih Seksi dengan Atasan Sheer. Dalam http://life.viva.co.id/news/read/389631-tampil-lebih-seksi-dengan-atasan-- i-sheer--i-. Diunduh pada 6 Mei 2013 pukul 20.24 WIBNugraheni, Mutia dan Tasya Paramitha. (2013). Gaun Halter Bikin Leher Seksi. Dalam http://life.viva.co.id/news/read/400292-gaun-halter-bikin-leher- seksi. Diunduh pada 6 Mei 2013 pukul 15.08 WIBNurcahyani, Dwi Indah. (2012). Kiat Tampil Elegan Berbusana Animal Print. Dalam http://lifestyle.okezone.com/read/2012/02/15/29/576379/kiat- tampil-elegan-berbusana-animal-print. Diunduh pada 26 April 2013 pukul 15.30 WIBOcktaviany, Tuty. (2010). Tren Alis dari Masa ke Masa. Dalam http://lifestyle.okezone.com/read/2010/02/28/29/307659/tren-alis-dari- masa-ke-masa. Diunduh pada 13 Maret 2013 pukul 18.30 WIBOktaviani, Kiki. (2011). Cara Membangun Kepercayaan Diri saat Bekerja. Dalam http://wolipop.detik.com/read/2011/01/06/113624/1540414/857/cara- membangun-kepercayaan-diri-saat-bekerja. Diunduh pada 23 April 2013 pukul 22.00 WIBOktaviani, Kiki. (2012). 5 Keuntungan Menggunakan Lipstik Warna Merah. Dalam http://wolipop.detik.com/read/2012/11/13/160115/2090584/234/5- keuntungan-menggunakan-lipstik-warna-merah. Diunduh pada 26 Maret 2013 pukul 19.53 WIBPratama, Adinindra. (2011). Macam-Macam Model Jeans. Dalam http://dunia.news.viva.co.id/news/read/262093-macam-macam-model- jeans. Diunduh pada 6 Mei 2013 pukul 21.42 WIBPribadi, Andy. (tanpa tahun). Riasan “Cat Eye” Tetap Ngetren. Dalam http://wartakota.tribunnews.com/detil/berita/104507/Riasan-Cat-Eye- Tetap-Ngetren. Diunduh pada 24 April 2013 pukul 19.30 WIBPurwanti, Niken Ari. (2012). Hidup dan Tragedi Marilyn Monroe: Bom Seks Abad ke-20 (I). Dalam http://www.solopos.com/2012/09/16/kisah-kasus- hidup-dan-tragedi-marilyn-monroe-bagian-i-329321. Diunduh pada 6 Mei 2013 pukul 15.23 WIBRona. (2011). Nilai Sejarah yang Mahal. Dalam http://www.koran- jakarta.com/index.php/detail/view01/70564. Diunduh pada 6 Mei 2013 pukul 15.18 WIBRona. (2012). Aksesori Mencekik Leher yang Jadi Trend: Choker Band. Dalam http://m.koran-jakarta.com/?id=99516&mode_beritadetail=1. Diunduh pada 5 Mei 2013 pukul 05.26 WIBRatmilia, Bani. (2013). Berbicara Santun itu Baik. Dalam http://bahasa.kompasiana.com/2013/01/19/berbicara-santun-itu-baik- 526193.html. Diunduh pada 24 April 2013 pukul 21.00 WIBSetyanti, Christina Andhika. (2013). 5 “Fashion Statement” Ikonik Margaret Thatcher. Dalam http://sains.kompas.com/read/2013/04/09/09124792/5.Fashion.Statement.I konik.Margaret.Thatcher. Diunduh pada 24 April 2013 pukul 22.00 WIBSubhan, Muhammad. (2011). Refleksi Akhir Tahun, 80 Persen Wartawan Pemeras? Dalam http://media.kompasiana.com/mainstream-media/2011/12/30/refleksi-akhir-tahun-80-persen-wartawan-pemeras- 425934.html . Diunduh pada 6 Januari 2013 pukul 22.00 WIBSulqifli. (2010). Peran Ganda Perempuan Menciptakan Pegeseran Nilai dalam Keluarga. Dalam http://www.unm.ac.id/berita/19-berita/30-peran-ganda- perempuan-menciptakan-pergeseran-nilai-dalam-keluarga.html. Diunduh pada 16 April 2013 pukul 21.00 WIBSusanto, A. B. (tanpa tahun). Citra Profesional Penunjang Karier. Dalam http://www.jakartaconsulting.com/art-13-02.htm. Diunduh pada 7 Mei 2013 pukul 10.17 WIBTim Central Java Tourism. (tanpa tahun). Batik. Dalam http://www.central-java- tourism.com/cult-heri-batik.php. Diunduh pada 16 Februari 2013 pukul 23.30 WIB.Tim Men‟sHealth. (tanpa tahun). Sporty dengan Sneakers. Dalam http://www.menshealth.co.id/style.grooming/detil/sporty.dengan.sneakers/ 005/001/10. Diunduh pada 17 Mei 2013 pukul 01.36 WIBTim Redaksi Femina. (tanpa tahun). Motif Mania. Dalam http://www.femina.co.id/mode/fashion.news/motif.mania/001/001/142. Diunduh pada 12 Maret 2013 pukul 21.00 WIBTim Redaksi Femina. (2011). Tampil Gaya Dengan Kemeja Putih. Dalam http://www.femina.co.id/mode/fashion.tips/tampil.gaya.dengan.kemeja.put ih/001/005/53. Diunduh pada 24 April 2013 pukul 22.30 WIBTim Redaksi Femina. (2011). Istilah Kalung. Dalam http://www.femina.co.id/mode/fashion.tips/istilah.kalung/001/005/78. Diunduh pada 26 Maret 2013 pukul 21.18 WIBTim Redaksi Femina. (2012). Transformasi Aksesori. Dalam http://m.femina.co.id/article/mobArticleDetail.aspx?mc=001&smc=003&a r=129. Diunduh pada 20 Maret 2013 pukul 21.45 WIBVemale.com (2012). Sexy Pantsuit Ala Evan Rachel Wood. Dalam http://www.vemale.com/fashion/tips-and-tricks/10712-sexy-pantsuit-ala- evan-rachel-wood.html. Diunduh pada 5 Mei 2013 pukul 2.50 WIBWahyuni, Nurseffi D. (2012). 10 Kesalahan Bahasa Tubuh Saat Wawancara Kerja. Dalam http://bisnis.liputan6.com/read/469090/10-kesalahan- bahasa-tubuh-saat-wawancara-kerja. Diunduh pada 7 Mei 2013 pukul 07.57 WIBWiana, Ketut. (tanpa tahun). Hari Raya Saraswati. Dalam http://www.hindubatam.com/upacara/dewa-yadnya/hari-saraswati.html. Diunduh pada 13 April 2013 pukul 17.30 WIBWidyarsih, Widha. (2012). Buku Ajar Aksesoris Pelajar. Dalam http://edukasi.kompasiana.com/2012/04/11/buku-ajar-aksesoris-pelajar- 454036.html. Diunduh 16 April 2013 pukul 18.00 WIBWijaya, Bambang Sukma. (2008). Teori – Teori Semiotika, Sebuah Pengantar. Dalam http://bambangsukmawijaya.wordpress.com/2008/02/19/teori-teori- semiotika-sebuah-pengantar/ . Diunduh pada 31 Oktober 2012 pukul 20.00 WIBYani, C. (2010). Marylin Monroe dan Kisah Cinderella. Dalam http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/03/07/101279/Mar ylin-Monroe-dan-Kisah-Cinderella. Diunduh pada 28 Maret 2013 pukul 15.29 WIBYusuf, Iwan Awaluddin. (2010). Memotret Industri Majalah Bersegmen di Indonesia. Dalam http://bincangmedia.wordpress.com/2010/05/27/memotret-industri- majalah-bersegmen-di-indonesia/. Diunduh pada 28 Agustus 2012 pukul 21.00 WIBThe Oxford Dictionary. http://oxforddictionaries.com/definition/english/representation?q=represen tation. Diunduh pada tanggal 29 Januari 2013 pukul 20.30 WIBSkripsi :Rovi‟atin, Nur. (2010). Rasisme Warna Kulit dalam Cover Majalah Kartini. Skripsi. Universitas DiponegoroHemas, Nur Lintang. (2012). Negosiasi Identitas Punkers dengan Masyarakat Budaya Dominan. Skripsi. Universitas DiponegoroJurnal :Hakim, Lukmanul. (2011). Perkembangan Tenaga Kerja Wanita di Sektor Informal: Hasil Analisa dan Proxy Data Sensus Penduduk. Among Makarti, 4(7)Hidayat, Deddy N. (2002). Metodologi Penelitian dalam Sebuah Multi-Paradigm Science. Mediator Jurnal Komunikasi, 3(2)Mubah, Safril. (2011). Strategi Meningkatkan Daya Tahan Budaya Lokal dalam Menghadapi Arus Globalisasi. Jurnal UNAIR, 24(4) Wiratmo, Liliek Budiastuti dan Mochamad Gifari. (2008). Representasi Perempuan dalam Majalah Wanita. Dalam ejournal.stainpurwokerto.ac.id/index.php/.../73 . Diunduh pada 1 September 2012 pukul 20.00 WIB Sumber Lain: Buku Peringatan Ulang Tahun majalah Femina ke-25. (tanpa tahun).
KOMUNIKASI STRATEGIS UNIVERSITAS DIPONEGORO DAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG DALAM MEMBANGUN BRAND IMAGE UNIVERSITAS SEBAGAI GREEN UNIVERSITY Kurniawan Akbar; Yanuar Luqman; Djoko Setiabudi
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.676 KB)

Abstract

KOMUNIKASI STRATEGIS UNIVERSITAS DIPONEGORO DAN UNIVERSITASNEGERI SEMARANG DALAM MEMBANGUN BRAND IMAGE UNIVERSITASSEBAGAI GREEN UNIVERSITYAbstrakKebijakan green university merupakan kombinasi antara tiga elemen yaitu green building, greenplace dan green behaviour yang diterapkan pada komunitas akademis. Ketiga hal tersebut dapattercapai jika dilaksanakan melalui implementasi strategi komunikasi strategis yang tepat.Komunikasi strategis terdiri dari dua aspek yaitu komunikasi secara makro dan komunikasi secaramikro. Kedua aspek tersebut mempunyai fungsi untuk menyebarluaskan pesan komunikasi yangbersifat informatif, persuasif dan instruktif secara sistematis kepada sasaran untuk memperoleh hasilyang optimal pada implementasi program atau kebijakan.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mengevaluasi implementasi strategikomunikasi strategis Universitas Diponegoro (Undip) dan Universitas Negeri Semarang (Unnes)dalam membangun brand image universitas sebagai green university. Upaya menjawabpermasalahan dan tujuan penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan strategikomunikasi strategis yang diaplikasikan pada kebijakan green university. Metode penelitian yangdigunakan adalah metode penelitian deskriptif evaluatif dengan pendekatan studi kasus.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kebijakan green university belum diterapkansebagaimana mestinya karena masih menekankan pada pembangunan fisik kampus saja.Pemrosesan informasi pada target audiens terhadap kebijakan green university masih cukup rendahkarena strategi komunikasi yang dijalankan cenderung belum tepat sasaran dan tidakmengedepankan aspek efektivitas dan efisiensi sehingga berdampak pada pembangunan brandimage universitas yang tidak optimal. Hal tersebut juga dikarenakan strategi komunikasi yangdijalankan masih sebatas pada publisitas media dan pengadaan kegiatan.Disarankan setiap implementasi kebijakan sebaiknya dilakukan melalui pendekatankomunikasi strategis secara komprehensif dan didahului oleh proses riset serta dievaluasi denganindikator-indikator tertentu untuk mengetahui keberhasilan kebijakan yang diterapkan.Key Words: komunikasi strategis, green university, strategi komunikasi, brand image, implementasikebijakan.STRATEGIC COMMUNICATIONS OF UNIVERSITAS DIPONEGORO ANDUNIVERSITAS NEGERI SEMARANG IN BUILDING BRAND IMAGE AS GREENUNIVERSITYAbstractGreen university policy is a combination of the three elements of green building, green place andgreen behavior is applied to the academic community. These three things can be achieved in theimplementation of strategic communication suitable strategy. Strategic communication consists oftwo aspects : the micro communication and macro communication. Both aspects have a function todisseminate communication messages that are informative, persuasive and instructivesystematically to target audience to obtain optimal results in the implementation of the program orpolicy.The purpose of this study to determine and evaluate the implementation of a strategiccommunications strategy of Universitas Diponegoro and Universitas Negeri Semarang in buildingthe brand image of the university as a green university. Efforts to address concerns and goals ofresearch by using a strategic communications strategies approach that apply to green universitypolicy. The research method is descriptive evaluative research with the case study approach.Results of this study indicate that the university has not been implemented green policies as theyshould because they emphasize the physical development of the campus. Processing of informationon the target audience of the green university policies are still quite low due to communicationstrategies tend out of the target and not prioritizing aspects of the effectiveness and efficiency sothat the impact on the development of the brand image of the university that are not optimal. Thatwas caused by priority in the strategic communications just concern at themedia publicity and special events. Policy implementation should be done through a comprehensiveapproach to strategic communications and is preceded by a process of research and evaluated withspecific indicators to determine the success of the green university is applied.Key Words: strategic communications, green university, communication strategy, brand image, theimplementation of the policy.PendahuluanFenomena dan isu mengenai kerusakan lingkungan sedang menjadi sorotan dan perhatian berbagaikalangan masyarakat dewasa ini. Lingkungan diartikan sebagai sebuah sistem yang kompleks dalamtatanan kehidupan makhluk hidup. Kompleksitas permasalahan lingkungan tersebut menuntutsebuah gerakan penyelamatan lingkungan dari semua kalangan baik pemerintah, pihak swasta,akademisi dan semua masyarakat secara umum.Berbagai bentuk antisipasi menyiasati berupa mitigasi serta adaptasi sebagai wujudkepedulian telah mewujudkan telah melahirkan berbagai program maupun gerakan lingkungan, baikprogram yang diprakarsai oleh pemerintah, gerakan lingkungan oleh LSM lingkungan, pendidikanlingkungan di lembaga pendidikan serta kampanye dan lain sebagainya.Salah satu hal yang muncul dalam bentuk antisipasi fenomena kerusakan lingkungan adalahmanifestasi konsep green campus pada perguruan tinggi. Green campus adalah sistem pendidikan,penelitian pengabdian masyarakat dan lokasi yang ramah lingkungan serta melibatkan wargakampus dalam aktifitas lingkungan yang harus berdampak positif bagi lingkungan, ekonomi dansosial. Green campus tersebut merupakan konsep perpaduan antara lingkungan dengan duniakampus dimana konsep lingkungan yang meliputi 3R, penghijauan, in front of office, CSR dansebagainya digabung dengan konsep kampus yang terdiri dari fisik kampus, lokasi dan perilakuwarga kampus. Sehingga dapat disimpulkan bahwa green campus merupakan kombinasi antaragreen building, green place dan green behaviour.Implementasi konsep green campus di beberapa perguruan tinggi disebut juga sebagai sebuahkomunitas perguruan tinggi untuk meningkatkan efisiensi energi, melestarikan sumber daya danmeningkatkan kualitas lingkungan yang berkelanjutan serta menciptakan lingkungan belajar yangsehat (Humblet, E.M, Owens, R. Roy, L.P., 2010). Konsep green campus meliputi beberapa elemenantara lain :a. Green BuildingGreen Building memiliki 4 ciri yaitu: Material Bangunan ramah lingkungan, Pengolahanlimbah, media promo tools yang ramah lingkungan dan bebas polusi udara dan suara.b. Green PlaceGreen Place memiliki lima ciri yaitu permukiman tersebut memiliki konsep yang disebutone stop living, ruang terbuka hijau, harmonis, mengurangi penggunaan kendaraan bermotordan kemudahan mengakses transportasi umum.c. Green BehaviourGreen behaviour memiliki ciri yaitu pengetahuan lingkungan, perilaku lingkungan sertatanggung jawab sosial.Terdapat fenomena menarik ketika banyak kampus khususnya yang tak hanya berwacananamun berlomba-lomba untuk menjadikan konsep green university sebagai reputasi dan citra yangdekat dengan perguruan tinggi tersebut yakni sebagai lembaga pendidikan yang berwawasanlingkungan. Sebagai contoh Universitas Indonesia (UI) bertekad menjadi green campus denganmengembangkan hutan kota seluas 100 hektare. Upaya tersebut sangat positif dalam kaitannyapelestarian flora dan fauna serta bisa menjadi daerah resapan air sekaligus mencegah banjir danlongsor, selain membangun danau untuk penghijauan, UI juga merilis green metric world universityranking yang melakukan pemeringkatan universitas di dunia merujuk pada konsep green university.Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) juga mengusungkonsep green kampus dengan mengoptimalkan kampus dengan fasilitas ramah lingkungan, InstitutPertanian Bogor (IPB) juga gencar melaksanakan gerakan penghijauan untuk mewujudkan greenuniversity pada area kampus.Universitas Diponegoro (Undip) muncul melalui gerakan penghijauan dan mewujudkan hutankampus dan diterapkannya program car free day di area kampus Undip Tembalang sekali setiapminggu setidaknya dapat meminimalisir polusi dan merupakan bagian dari upaya implementasi darikampus berwawasan lingkungan (green campus). Universitas Negeri Semarang (Unnes)mengembangkan taman keanekaragaman hayati yang meliputi program penghijauan, pemilahansampah organik dan anorganik di kawasan kampus termasuk pengolahan sampah organik menjadikompos. Dalam mewujudkan kampus berkonsep hijau, Pada tahun 2010 Unnes mendeklarasikandiri sebagai kampus konservasi dan masih banyak universitas lain di Indonesia yang membangunbrand image kampus sebagai green university. (Suara Merdeka, 17 Januari 2013)Undip dan Unnes dikenal sebagai tempat aktivitas pendidikan berlangsung danmengedepankan wawasan lingkungan terhadap warga kampus melalui penerapan konsep greenuniversity. Hal tersebut didukung dengan apresiasi yang diberikan oleh Kementerian LingkunganHidup Republik Indonesia dimana Universitas Diponegoro (Undip) ditunjuk sebagai model greencampus pertama di Indonesia, sebelumnya Undip juga meraih penghargaan dari KementerianKehutanan RI sebagai perguruan tinggi yang peduli terhadap penghijauan (Suara Merdeka, 30November 2012) sedangkan Universitas Negeri Semarang (Unnes) di tahun 2010 dikukuhkanKementerian Pendidikan RI untuk mendeklarasikan diri sebagai Universitas Konservasi bertarafinternasional. Hal tersebut berdampak pada citra Undip dan Unnes sebagai kampus dalampenerapan konsep green university dan berwawasan lingkungan terbaik dengan reputasiinternasional.PembahasanImplementasi dari sebuah kebijakan selalu berawal pada keputusan-keputusan lintas fungsionalyang dapat memungkinkan suatu perusahaan atau lembaga mencapai sasarannya, sehingga perludilakukan langkah strategis yang berfokus pada proses penetapan tujuan organisasi, pengembangankebijakan dan perencanaan untuk mencapai sasaran, serta mengalokasikan sumber daya untukmenerapkan kebijakan dan merencanakan pencapaian tujuan organisasi tersebut, salah satu hal yangdisebut memiliki peran yang signifikan dalam keberhasilan suatu kebijakan agar dapat mencapaitujuan yang diinginkan oleh para perumus dan pelaksana kebijakan adalah upaya-upaya strategisdalam melakukan komunikasi yang baik dan terarah kepada sasaran kebijakan.Universitas Diponegoro (Undip) dan Uniiversitas Negeri Semarang (Unnes) merupakansalah satu lembaga pendidikan yang tengah menjalankan kebijakan green university di lingkungankampusnya. Melalui berbagai langkah strategis, Kedua lembaga pendidikan tinggi tersebutmengupayakan terciptanya brand image baru yang muncul di mata khalayak terhadap kampussebagai perguruan tinggi yang berhasil mengintegrasikan antara isu lingkungan dengan kehidupanakademis.Secara konsepsi kebijakan, Universitas Diponegoro dikenal khalayak baik secara internalmaupun eksternal sebagai universitas riset sehingga image excellent research university dilekatkanpada lembaga pendidikan tersebut, namun melalui pemikiran pimpinan universitas yang jugaberperan sebagai policy makers maka menginginkan adanya image baru yang ingin diciptakan olehUndip yakni sebagai lembaga pendidikan tinggi yang bukan hanya dikenal sebagai universitas risettetapi juga universitas yang memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan sedangkan konsepgreen university diterapkan Unnes sejak tahun 2010 dengan mendeklarasikan diri sebagaiuniversitas konservasi. Konsep konservasi yang dirumuskan oleh Universitas Negeri Semarang(Unnes) adalah menciptakan suasana kampus dengan melakukan pelestarian alam dan lingkungansekitar dan mengajarkan unsur nilai seni dan budaya kepada civitas akademika.Upaya untuk membangun brand image sebagai kampus green university dilakukan melaluiberbagai strategi oleh Undip dengan tujuan mencapai mutual understanding dari target audiens baikpublik internal seperti mahasiswa, dosen dan karyawan (seluruh civitas akademika) dan publikeksternal seperti masyarakat luas pada umumnya. Penerapan kebijakan green university olehUniversitas Diponegoro (Undip) dilakukan melalui langkah-langkah strategis dalam mencapaitujuan kebijakan. Hal tersebut sesuai dengan konsepsi green university yang dirumuskan olehUndip yakni dengan mengembangkan drainase (penataan lingkungan termasuk penghijauan),biopori, pengolahan sampah dan transportasi sedangkan Unnes menerapkan kebijakan greenuniversity atau kampus konservasinya berdasarkan 7 pilar konservasi Unnes yang meliputiarsitektur hijau dan transportasi internal, biodiversitas, pengolahan limbah, energi bersih, kebijakannir kertas, kaderisasi konservasi dan seni budaya.Kebijakan tersebut memiliki tujuan jangka panjang yaitu menciptakan mutual understandingtarget audiens dan stakeholders dan berakhir pada munculnya brand image sebagai greenuniversity. Tujuan green university akan tercapai melalui perumusan kebijakan komunikasi yangbaik dan tepat sasar. Upaya tersebut dilakukan oleh Undip dan Unnes dalam mencapai tujuan greenuniversity melalui formula kebijakan komunikasi seperti fact finding, planning, action andcommunication dan evaluation. Tahap fact finding dan planning dilakukan oleh perumus kebijakanmelalui observasi lingkungan kampus yang ternyata masih sangat minimnya jumlah ruang terbukahijau serta tingkat polusi udara yang cukup tinggi terlebih Unnes yang didukung dengan topologiatau lokasi kampus yang sangat mendukung untuk dikembangkannya kebijakan tersebut. Tahapanaction communication dijalankan oleh UPT. Hubungan Masyarakat (Humas) dari masing-masinginstitusi, berbeda dengan Undip , Unnes memiliki Badan Pengembang Konservasi sebagaipelaksana kebijakan tersebut berkoordinasi dengan Humas dalam menjalankan kebijakankomunikasinya. Undip lebih cenderung menekankan pada upaya publisitas dan pemanfaatan mediadalam membangun citranya sebagai green university, melalui pendistribusian press release kepadasejumlah media dengan ekspektasi yakni intensitas publikasi pemberitaan sebanyak-banyaknya sementaraUnnes lebih cenderung pada upaya media relations yakni membangun hubungan jangka panjang denganwartawan dalam upaya pemberitaan pada media melalui pengadaan acara bersama rekan pers dansebagainya, Pengadaan kegiatan (event) juga menjadi pilihan dalam melaksanakan startegi komunikasiseperti diadakannya car free day setiap hari jumat pagi di kampus Undip dan kebijakan kampus bebaskendaraan di lingkungan Unnes. Sementara untuk tahapan evaluasi, baik Undip maupun Unnes belummempunyai indikator keberhasilan yang rigid, hal tersebut dikarenakan tidak adanya target pencapaian yangharus dilakukan dalam strategi komunikasi. Tingkat keberhasilan diukur melalui respon dan kendali yangdiberikan oleh perumus kebijakan dan respon target audiens yang dilakan melalui survey secara informal.PenutupPengembangan kebijakan dan komunikasi strategis mempunyai hubungan yang kuat dalamimplementasi kebijakan dan akan berdampak pada respon audiens terhadap pelaksanaan kebijakantersebut dan akan berimbas pada tujuan kebijakan. Dalam membangun brand image universitassebagai green university, implementasi strategi komunikasi strategis yang diterapkan oleh Undipbelum diformulasikan secara optimal. Secara konsep kebijakan green university yang diterapkanoleh Undip belum dengan pola kebijakan green university yang seharusnya mencakup pada tigaaspek yaitu green builing, green place dan green behaviour. Hal tersebut dikarenakan Undip masihmenekankan pada pembangunan secara fisik atau green building dan green place sedangkan aspekgreen behaviour belum me Dalam menjalanjadi prioritas, Kondisi audiens yang masih sangatrendah jika dilihat dari segi pemrosesan informasi (aspek kognisi, afeksi dan konasi) menunjukkanbahwa belum diterpkannya kebijakan komunikasi secara efisien dan tepat sasar.Implementasi kebijakan green university Unnes dilakukan oleh Badan PengembangKonservasi Unnes bekerjasama dengan pimpinan universitas berupaya untuk mencapai aspek greenbehaviour sehingga yang dilakukan bukan hanya pada aspek green building dan green place sajanamun program yang dijalankan dan berdasarkan pada tujuh pilar konservasi sesuai rencanastrategis universitas dalam kebijakan cenderung tidak didasarkan pada proses riset tetapi lebihmenekankan pada kewajiban yang diberlakukan oleh perumus kebijakan dan harus diikuti olehtarget audiens. Hal tersebut berdampak positif terhadap tingkat kognisi, afeksi dan konasi targetaudiens namun karena dilakukan melalui tidakan koersif maka tidak akan mencapai pada tataranbehaviour (perilaku) dalam jangka waktu yang lama.Strategi komunikasi dalam kebijakan green university Unnes dilakukan dengan cara mediarelations (hubungan media), event (pengadaan kegiatan) dan komunikasi verbal dua arah melaluisosialisasi langsung namun karena hal tersebut tidak melalui proses riset dan perencanaan makaaspek green behaviour yang dicapai hanya merupakan efek dari tindakan koersif yang diberlakukanoleh perumus kebijakan saja meskipun tetap dapat disimpulkan bahwa dampak implementasistrategi komunikasi strategis Unnes kaitannya dalam kebijakan green university dapat dikatakansudah berhasil dalam membangun brand image universitas sebagai green university meskipunbelum secara optimal.DAFTAR PUSTAKAAbdurahman, Oemi. 2001. Dasar-dasar Public Relations, Bandung : PT. Citra Aditya Bakti.Allen , Center dan Scott Cutlip. 2007. Effective Public Relations. Jakarta : PT. Kencana PrenadaMedia GroupAlo, Liliweri. 2011. Komunikasi Serba Ada Serba Makna. Jakarta : Kencana Prenada Media GroupArdianto, Elvinaro & Soemirat, Soleh. 2004. Dasar-Dasar Public Relations, Cetakan Ketiga,Bandung : Remaja Rosda KaryaAprilia, Hera. 2009. Evaluasi Pelaksanaan Program Transmigrasi Model Ring Satu. Tesis.Universitas Gadjah Mada.Argenti, Paul. A. Howell, Robert A, Beck, Karen A. 2005. The Strategic Communication. MITSloan ManagementBeard, M. 2002. Running a Public Relations Departement. London : Kogan SageCutlip, S. M., Center, A. H., & Broom, G. M.. (2000). Effective Public Relations.Jakarta : Kencana.Cutlip, S. M., Center, A. H., & Broom, G. M.. (2007). Effective Public Relations.Jakarta : Kencana.Danim Sudarman. 2000. Pengantar Studi Penelitian Kebijakan, Jakarta : Bumi Aksara.Denig, E, A. Van Der Meiden. 1985. A Geographic of Public Relations Trends. Dordrecht :Martins Publisher.Effendy, Onong Uchajana. 1981. Komunikasi dan Modernasi, Bandung : AlumniJefkins, Frank. (1998). Public Relations. Jakarta : Erlangga.Jefkins, Frank. (2003). Public Relations. Jakarta : Erlangga.Goldblatt, Joe. 2010. Special Events A New And The New Frontier. 6ed. John Willey : New Jersey.Grindle, Marilee. 1980. Politics and Policy Implementation in The Third World. PrincetonUniversity Press : New JerseyGregory, Anne. 2010. Planning and Managing Public Relations Campaigns : A StrategicApproach. Kogan Page Publisher : LondonKurniawan.E, 2006. Studi Analisis Isi Pemberitaan Media Masa Tentang Lingkungan danImplikasinya Terhadap Kebijakan Pengelolaan Lingkungan di Kabupaten Bangka. Tesis.Universitas DiponegoroLesly, Philip, 1987. Lesly’s Public Relations Handbook Third Edition. Englewood Cliff, New York: Prentice Hall.Moleong, Lexy J. 2008. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT. Remaja Rosda Karya.Mulyana, Dedy. 2007. Ilmu Komunikasi : Suatu Pengantar. Bandung : PT. Remaja Rosda Karya.Nakamura, R & Smallwood. F, 1980. Politics and Policy Implementation. New York : St. Martin’sPress.Ruslan, Rosady. 2005. Kiat dan Strategi Kampanye Public Relations, Jakarta : PT. Raja GrafindoPersadaRakhmat Jalaludin, 1996. Komunikasi Massa. Bandung : PT. Remaja Rosda KaryaSabatier, Paul. 1986. Top Down And Bottom Up Models of Policy Implementation : A CriticalAnalysis and Sugested Synthesis. Journal of Public Policy.Sukmadinata. 2005. Landasan Kebijakan Makro, Bandung : PT. Remaja Rosda KaryaSoemirat, Soleh dan Elvinaro Radianto.2003. Dasar-Dasar Public Relations. Bandung : RemajaRosdakarya.Wilcox, Dennis L, dkk. 2006. Public Relations Strategies and Tactics. Interaksa : Batam.www.e-journal.undip.ac.id/index.php/pwk/article/view/1451/teknik-perencanaan-wilayah-dankota/ISSN-2338-3526. (diunduh 19 Maret 2013, pk. 16.35)www.edukasi.kompas.com/read/2011/12/14/13141023/inilah.kampus.hijau.terbai.di.dunia.versi.ui(diunduh 23 Maret 2013, pk.20.09)www.dikti.go.id/?p=8453&lang-id 5 perguruan tinggi jadi percontohan kampus hijau. (diunduh 23Maret 2013, pk. 21.44)www.digilib.unmuhjember.ac.id/gdl.pdf?mood=browse&op=read&id=umj-ix-heribudh-1355Analisis asosiasi merek dalam membentuk brand image (diunduh 24 Maret 2013, pk. 16.37)www.suaramerdeka.com/vi/index.php/read/news/2013/03/06/148015/ tahun ini lima perguruantinggi dijadikan green campus. (diunduh 26 Maret 2013, pk. 17.22)www.sustainablecampus.org/universities.html.the.sustainable.campus. sustainable campusdevelopment. (diunduh 26 Maret 2013, pk.14.22)www.unnes.ac.id/bulettin/sosialisasi-kebijakan-transportasi-hijau-unnes-sekaran (diunduh 26 Maret2013, pk. 20.10)www.e-resources.pnri.go.id/index.php?option=com-library&itemid=53key=1. corporatecommunication : a strategic approach to building reputation. (diunduh 27 Maret 2013pk.17.23)http://www.shnews.co/duniakampus/detile-1206-ui-raih-peringkat-kampus-terhijau-ke25-didunia.html (diunduh 29 Maret 2013 pk.16.42)http://www.ui.ac.id/en/campus/page/green-campus green campus global development in recentyears brings indications that the future of the world are on the down edge of the environmen.(diunduh 5 April 2013 pk.13.20)www.find.lib.uts.edu.au/search-do-jsesionedid, Building The Brand : A Case Study of TroyUniversity (diunduh : 23 Maret 2013, pk. 19.22)www.researchgate.net/profile/andrea-muntean/publication, The Brand : One of The University’sMost Valuable Asset. (diunduh : 24 Maret, pk.13.21)www.palgrave.journal.com.pb./journal.abs/p20137a.html, City Branding : A brand concept mapAnalisys of a university top (diunduh 24 Maret 2013, pk. 17.09)www.digilib.ui.ac.id/file?file-abstrak-79123.pdf, Studi Kasus Brand Image Universitas Terbuka(Membangun ekuitas merek (brand equity) elemen brand awareness dan brand associationUniversitas Terbuka (diunduh : 24 Maret 2013, pk. 22.14)www.e-prints.undip.ac.id/21945/1/447.ki-fsp-1995a.pdf. Membentuk Citra Undip Melalui Media(diunduh :25 Maret 2013, pk.12.18)www.puslit.petra.ac.id.journals/iko/190080202/180020202.pdf. Kajian Peran Public Relationsdalam Meningkatkan Citra Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Tengah (diunduh : 25 Maret 2013,pk. 17.22)
PELECEHAN SEKSUAL: MASKULINISASI IDENTITAS PADA MAHASISWI JURUSAN TEKNIK ELEKTRO UNDIP Lia Faiqoh; Sunarto Sunarto; Sri Widowati Herieningsih
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.477 KB)

Abstract

PELECEHAN SEKSUAL: MASKULINISASI IDENTITAS PADAMAHASISWI JURUSAN TEKNIK ELEKTRO UNDIPAbstrakKekerasan seksual sering kali muncul di sekitar kita, terutama seringmerugikan pihak perempuan. Namun, kebanyakan korban dari kekerasan tersebutjustru tidak banyak yang melaporkannya, salah satu bentuk yang paling seringdijumpai adalah pelecehan seksual. Pelecehan seksual diartikan sebagai suatukeadaan yang tidak dapat diterima, baik secara lisan, fisik atau isyarat seksual danpernyataan-pernyataan yang bersifat menghina atau keterangan seksual yang bersifatmembedakan. Tindakan yang tidak diinginkan tersebut ternyata bukan saja terjadi diranah privat saja, melainkan sudah mengarah pada ruang publik dan dapat berasaldari orang-orang yang dikenal seperti teman-teman di lingkungan pendidikan.Fokus penelitian adalah untuk menggambarkan bagaimana maskulinisasidapat diterima oleh mahasiswi di lingkungan Teknik Elektro Undip. Selain itu, untukmenjelaskan bentuk dan dampak pelecehan seksual yang terdapat dalam sebuahmaskulinisasi tersebut, dan ideologi yang digunakan di balik dominasinya.Penelitian kualitatif ini menggunakan paradigma kritis, dengan tipe penelitiandeskriptif. Manakala metode penelitiannya menggnakan Studi Kasus yang mengacupada Yin (2006). Data diperoleh dari observasi langsung di lapangan dan wawancarainforman secara mendalam terhadap tiga informan yaitu mahasiswi Teknik ElektroUndip, dengan menggunakan Teknik Snowball Sampling. Teori utama penelitian iniadalah Muted Group Theory dari Cheris Kramarae.Hasil penelitian menggambarkan bagaimana pelecehan seksual dapat diterimadikalangan perempuan dalam sebuah dominasi kelompok, berkat hegemoni kelompokyang membuatnya semakin tersamar. Bentuk pelecehan yang dialami merekacenderung mengarah pada hostile environment, di mana berdampak terhadap keadaanpsikologis, berupa lontaran komentar-komentar maupun julukan seksis yangmendeskripsikan keadaan fisik mereka. Ideologi di balik dominasi mereka adalahPatriarki yang telah melebur dengan nilai-nilai di lingkungannya, sehinggamenjadikan suatu “kebiasaan laki-laki”, salah satunya pelecehan seksual yang telahdijadikan keadaan normal di kalangan perempuan.Kata kunci : Pelecehan Seksual, Dominasi, MaskulinisasiSEXUAL HARASSMENT: MASCULINIZATION OF FEMALE STUDENTIDENTITY ON ELECTRICAL ENGINEERING MAJOR OF DIPONEGOROUNIVERSITYAbstractSexual violence often appear around us, especially the often detrimental towomen. However, most of the violence victims didn’t make reports on it, one of themost common sexual violence is sexual harassment. Sexual harassment is defined asa situation that is unacceptable, whether verbal, physical or sexual cues andstatements that are sexually derogatory or discriminatory statements. The unwantedactions are apparently not only occur in the private sphere, but has led to the publicand can be derived from known people like friends in the educational environment.The focus of the research is to describe how the masculinization may beaccepted by the student in the Electrical Engineering Diponegoro University.Moreover, to explain the shape and impact of sexual harassment contained in a themasculinization, and ideology are used behind its dominance.This qualitative study using a critical paradigm, the descriptive type. Whereasthe research method is using the case study which refers to Yin (2006). Data obtainedfrom direct field observations and in-depth informant interviews to three informantsof the Electrical Engineering Diponegoro University students, by using the SnowballSampling technique. The main theory of this study is Muted Group Theory of CherisKramarae.The result of the research illustrates how sexual harassment is acceptableamong women in a group of domination, through to the hegemony group that make itmore subtle. The form of harassment experienced by women tends to lead to a hostileenvironment, where the impact on the psychological state, a burst of comments andsexist epithets describing their physical state. The ideology behind their dominance isPatriarchy which has merged with the values in the environment, making a "habit ofmen", one of which sexual abuse has become a normal state among women.Keywords: Sexual harassment, Domination, MasculinizationPendahuluanAkhir-akhir ini, pemberitaan mengenai kekerasan semakin marak diberitakan dimedia-media, baik cetak maupun elektronik. Bahkan tidak jarang media itu sendirijuga turut menjadi pelaku dari kekerasan. Di sini, kekerasan yang dimaksud tidakmelulu berkaitan dengan tindakan tembakan, pukulan atau dengan tetesan darah.Kekerasan adalah suatu penyerangan yang berakibat menyakiti seseorang, baikberupa verbal maupun non-verbal, dan dilakukan secara langsung maupun tidaklangsung. Jenis-jenis kekerasan juga dapat dilihat dari berbagai aspek, salah satu yangsering menjadi sorotan adalah Kekerasan Berbasis Gender (KBG).Dalam sebuah seminar berjudul “Gender-Based Violence In A RomanticRelationship” (Anonim, 2012), Murnizam Halik PH.D, seorang Dekan Psikologi diUniversitas Malaysia Sabah (UMS) sekaligus narasumber seminar, mengungkapkanGender Based Violence atau Kekerasan Berbasis Gender merupakan serangkaianpenganiayaan yang dilakukan terhadap perempuan, yang berakar dari ketidaksetaraangender dan rendahnya status perempuan dibandingkan laki-laki. KBG dapat terjadi dimanapun, dari ruang privat hingga ruang publik, yang nyata diketahui banyak orang.Selain itu, KBG dapat dilakukan dalam berbagai bentuk: kekerasan fisik, kekerasanpsikis dan kekerasan seksual. Akan tetapi, pembahasan dalam penelitian ini akanmengarahkan pembaca pada kekerasan dalam bentuk seksual, yang mana salahsatunya menyangkut pelecehan seksual. Sexual harassment atau pelecehan seksualsering kali terjadi disekitar kita, dengan atau tanpa disadari.Pelecehan seksual diartikan sebagai suatu keadaan yang tidak dapat diterima,baik secara lisan, fisik atau isyarat seksual dan pernyataan-pernyataan yang bersifatmenghina atau keterangan seksual yang bersifat membedakan, di mana membuatseseorang merasa terancam, dipermalukan, dibodohi, dilecehkan dan dilemahkankondisi keamanannya. Pada dasarnya, pelaku pelecehan dapat dilakukan oleh lakilakidan perempuan; baik laki-laki terhadap perempuan, perempuan terhadapperempuan, bahkan antar sejenis yaitu laki-laki terhadap laki-laki dan perempuanterhadap perempuan. Bentuknya dapat berupa verbal dan non-verbal, dan dapatdijumpai di manapun, kapanpun, kepada siapapun dan oleh siapapun, tanpa mengenalstatus atau pangkat. Richmond dan Abbott (1992:329) menyatakan, bahwa hanyasekitar satu per sepuluh kasus-kasus pelecehan seksual sesama jenis yang diberitakan.Pelecehan seksual sesama jenis biasanya dilakukan oleh pasangan homoseksual, atauseseorang yang mengidap kelainan seksual. Meski demikian, tidak dapat dipungkiribahwa pada kenyataannya perempuan sering menjadi korban kekerasan maupunpelecehan seksual oleh laki-laki, sehingga setiap harinya bahkan setiap saatperempuan harus merasa berwaspada terhadap serangan-serangan yang akanmenimpanya.Menurut data WHO 2006 (dalam artikel Kinasih, 2007:11), ditemukan adanyaseorang perempuan dilecehkan, diperkosa dan dipukuli setiap hari di seluruh dunia.Paling tidak setengah dari penduduk dunia berjenis kelamin perempuan telahmengalami kekerasan secara fisik. Bahkan, pelecehan ini telah terjadi di tempattempatumum dan tanpa disadari (oleh korban pelecehan). Misalnya, kasus pelecehanmenjadi mimpi buruk (terror) bagi kaum hawa, terutama di Ibu Kota, Jakarta.Berdasarkan sumber okezone.com, (wirakusuma, 2011) perempuan yang menaikijasa mobil angkutan kota di malam hari akan merasakan takut yang berlebih sehinggamereka harus menyamarkan penampilan mereka seperti seorang laki-laki. Seorangkaryawati asal Ciputat, bernama Tungga Pawestri (30) mengaku harus pulang kantorpada malam hari (di atas pukul 22.00 WIB). Sebelum menaiki angkot tersebut,Tungga harus memakai jaket tebal dan topi agar tampak seperti laki-laki, agar dapatterlepas dari tindak pelecehan seksual di angkot.Sebuah survei “YouGov” yang dilakukan oleh End Violence Against WomenCoalition (Evaw) juga memperkuat kenyataan tersebut, yaitu sebanyak 43 persen dari1.047 wanita berusia 18 – 34 tahun (yang disurvei) mengalami pelecehan seksual ditempat-tempat umum pada tahun 2011 (Anonim, 2012). Di Indonesia sendiri,menurut pantauan yang dilakukan oleh Komisi Nasional (Komnas) Perempuan dalamkurun waktu 13 tahun terakhir (1998 – 2011) telah tercatat sebanyak 22.284 kasuskekerasan seksual terhadap perempuan di ruang umum dan menjadi urutan kedua dariseluruh kasus kekerasan seksual yang berjumlah 93.960 kasus (Hidayatullah, 2012).Pelecehan seksual ini merupakan latar belakang dari kekerasan, sehinggahukum di Indonesia pun menciptakan suatu undang-undang perlindungan perempuan,yang terdapat pada Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) Indonesia, yangmana merupakan pengaturan pasal-pasal pelecehan seksual: (a) KUHP Pasal 289 –296 merupakan pasal-pasal tentang pencabulan, (b) KUHP Pasal 295 – 298 dan pasal506 merupakan pasal-pasal tentang Penghubungan Pencabulan, dan (c) KUHP Pasal281 – 299, 532 – 533 dan lain-lain merupakan pasal-pasal tentang Tindak Pidanaterhadap Kesopanan (Laluyan, 2009).Meski terdapat aturan hukum mengenai pelaku pelecehan, kaum lelaki tetapmerasa lebih berkuasa dibanding perempuan dan konotasi perempuan menjadimakhluk yang lemah. Terbukti dari kasus-kasus pelecehan yang nyata ada di manamana.Bukan hanya di tempat-tempat umum, kasus-kasus pelecehan seksual jugadapat terjadi pada lingkup yang tertutup, seperti lingkungan akademis. Pelecehanseksual, baik guru/dosen terhadap murid/mahasiswa atau sebaliknya, serta antarguru/dosen dan antar murid/mahasiswa tidak dapat dipungkiri dalam duniapendidikan. Dalam hal ini, peneliti menyingkap kasus pelecehan seksual yang terjadidiantara mahasiswa-mahasiswi yang berada pada lingkungan dominasi laki-laki,tepatnya pada Fakultas Teknik Jurusan Teknik Elektro Undip.Teknik Elektro Undip memiliki perbandingan mahasiswa (antara laki-laki danperempuan) yang signifikan yaitu sebanyak 87 persen laki-laki dan 13 persenperempuan dari jumlah 920 orang. Dengan dominasi maskulin (sifat laki-laki), makaakan dengan mudah mengambil alih sifat-sifat feminin dari seorang perempuan,inilah yang disebut dengan “Maskulinisasi” atau laki-laki dapat mengkonstruksikandiri perempuan. Proses maskulinisasi tersebut, salah satunya dapat berimbas dalamidentitas diri seseorang. Karakteristik macho sangat terkenal pada salah satu kampusteknik yang paling diminati tersebut. Dengan konstruksi penampilan laki-laki,mencerminkan sifat-sifat macho pada diri perempuan; make up yang jarangdigunakan dan tas ransel yang lebih menjadi pilihan para mahasiswi, akan seringditemui di Teknik Elektro.Suatu diskriminasi identitas, jika identitas seseorang tersebut harus diikutisecara “paksaan”. Oleh karenanya, peneliti akan menggali lebih dalam mengenaidominasi maskulin terhadap perempuan. Karenanya, peneliti mengambil judul“Pelecehan Seksual: Maskulinisasi Identitas Pada Mahasiswi Jurusan TeknikElektro Undip”, yang mana peneliti berusaha untuk mencari tahu bagaimanaperempuan (sebagai minoritas) dapat beradaptasi dengan lingkungan dominasimaskulin, dan dampak maskulinisasi identitas perempuan yang ditimbulkan daribentuk-bentuk pelecehan seksual. Selain itu, peneliti juga berusaha mencaritahuideologi di balik dominasi maskulin di lingkungan Teknik tersebut.MetodaTipe penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode penelitian deskriptif.Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2010:4) mendefinisikan metodologi kualitatifsebagai prosedur penelitian yang menghasilkan kata-kata tertulis atau lisan dariorang-orang dan perilaku yang diamati. Untuk menjawab tujuan penelitian dilakukandengan paradigma kritis, karena peneliti menekankan pada konsep maskulinisasi, yangdominan di kalangan mahasiswa-mahasiswi Teknik Elektro Undip.Data diperoleh dari observasi langsung di lapangan dan wawancarainforman secara mendalam terhadap tiga informan yaitu mahasiswi Teknik ElektroUndip, dengan menggunakan Teknik Snowball Sampling. Bungin (2007:108)menetapkan beberapa prosedur pada penggunaan teknik Snowball, yaitu dengan siapapeserta atau informan pernah dikontak atau pertama kali bertemu dengan penelitiadalah penting untuk menggunakan jaringan sosial mereka untuk merujuk penelitikepada orang lain yang berpotensi berpartisipasi atau berkontribusi dan mempelajariatau memberi informasi kepada peneliti.Analisis data terdiri atas pengujian, pengkategorian, pentabulasian, ataupunpengombinasian kembali bukti-bukti untuk menunjuk proposi awal suatu penelitian(Yin, 2006:133). Strategi penjodohan pola dalam studi kasus deskriptif bersifatrelevan dan fleksibel, sehingga pola-pola spesifik dapat diprediksikan sebelumpengumpulan data (Yin, 2006:140).PembahasanRefleksi: Pelecehan Seksual Dalam Maskulinisasi Identitas Mahasiswi TeknikElektro UndipStrategi analisis data yang digunakan pada penelitian ini, dalam pendekatan studikasus adalah strategi penjodohan pola. Peneliti telah menetapkan asumsi di awalpenelitian, sehingga dapat menghasilkan sebuah perbandingan antara pra penelitiandan pasca penelitian. Asumsi peneliti pra penelitian menyatakan bahwa praktekpelecehan seksual yang dialami perempuan dalam dominasi maskulin merupakanakibat maskulinisasi di lingkungan Teknik Elektro Undip. Laki-laki menggunakankelebihannya untuk menguasai perempuan. Posisi laki-laki menempatkan dirinyapada tatanan superior. Dengan demikian, laki-laki juga bebas menggunakankekuatannya dalam mengkonstruksi perempuan.Sedangkan pasca penelitian, peneliti menemukan beberapa temuan. Pertama,laki-laki menyisipkan praktek pelecehan seksual dalam maskulinisasi identitasperempuan di lingkungan dominasi, Teknik Elektro Undip. Dampak dari dominasimaskulin begitu terasa di lingkungan tersebut, sehingga memberi keleluasaan bagilaki-laki untuk menguasai perempuan. Mereka seakan harus mengikuti aturan(terutama dalam hal identitas gender) yang dibuat oleh laki-laki agar dapat diterimasebagai bagian di lingkungan kampus Teknik Elektro Undip. Paludi (1990:23)menegaskan, bahwa pelecehan seksual adalah perilaku seksual yang tidak diinginkan,permintaan atas kenikmatan seksual, dan segala tindakan verbal atau fisik yangmengarah pada seksual secara alamiah dalam berbagai situasi, salah satunya ketikasalah satu pihak mengarah pada ketundukkan yang dibuat secara emplisit (langsung)atau implisit (tidak langsung) oleh pihak lain.Kedua, peneliti menemukan pelecehan seksual yang dialami mahasiswi dilingkungan Teknik Elektro, lebih berupa kata-kata (verbal), antara lain: memberikomentar negatif, memberi julukan yang tidak menyenangkan, dan pembicaraan yangmengarah pada hal-hal seksis. Bahkan Michigan Task Force (Richmond dan Abbott,328:1992) yang fokus menyoroti kasus pelecehan seksual, menyatakan bahwapelecehan seksual mencakup verbal abuse atau kekerasan verbal yang dilakukanberulang-ulang dari hasrat atau naluri seksual. Kekerasan verbal yang berulang-ulangitu sama seperti yang dialami oleh para informan penelitian, sehingga dapatmengakibatkan suatu ketidaknyamanan kondisi psikologis ketika berada dilingkungan kampusnya. Kondisi yang dialami oleh perempuan di lingkungantersebut, dalam pelecehan seksual lengkapnya termasuk jenis hostile environment,yaitu suatu keadaan seorang individu dijadikan subyek atas segala pengulanganseputar seksual yang tidak diinginkan, sehingga dapat menciptakan suasana yangtidak nyaman dilingkungan pekerjaan maupun pendidikan (Carroll, 2010:486).Ketiga, keadaan di mana laki-laki sangat ingin mengontrol perempuan samaseperti penjelasan dalam Budaya Patriarki. Patriarki lahir dari hasrat laki-laki untukmenguasai perempuan dan alam, yang merupakan suatu sistem hirarki yangmenghargai sebuah power-over (hasrat menghancurkan) (Tong, 81:2010). Praktekpraktekuntuk menaklukkan perempuan, sering kali dinormalisasi oleh laki-laki agardapat mencapai kekuasaan (power) yang diinginkannya. Oleh karenanya, konseppatriarki telah melebur menjadi landasan ideologis dibalik dominasi yang terdapat dilingkungan Teknik Elektro tersebut.“Muted Group theorists criticize dominant groups and argue that hegemonicideas often silence other ideas” (West dan Turner, 2007:516). Kalimat tersebutmenekankan bahwa MGT sangat kritis terhadap kelompok dominan yang seringmengontrol makna pada anggota-anggota kelompok lainnya. Perempuan hanya bisamengikuti aturan-aturan tersebut karena merasa tidak dapat memberikan sikapresponsif untuk menjelaskan pikirannya. Bahkan ketika subjek penelitian mengalamipelecehan, mereka cenderung pasif karena hal tersebut dianggap sebagai sesuatu yangwajar serta konsekuensi yang harus diterima berada dalam lingkungan dominasimaskulin.Penggunaan teori MGT mampu menjelaskan sepenuhnya, mengapaperempuan mengalami ketidakberdayaan menghadapi pelecehan seksual dalampraktek maskulinisasi identitas perempuan. Dominasi laki-laki yang begitu kuatmampu menguasai kebiasaan interaksi lawan jenis, bahkan secara bawah sadar yangdikuasai dapat dengan mudah merasa patuh dan menerima begitu saja. Bagikelompok bungkam (muted group), apa yang dikatakan pertama kali harus bergeserdari pandangan mereka sendiri terhadap dunia dan kemudian diperbandingkandengan pengalaman-pengalaman dari kelompok yang dominan (West dan Turner,2007:517).Asumsi Muted Group Theory dalam sudut pandang perempuan, turutmenyatakan bahwa dalam berpartisipasi pada kelompok sosialnya, perempuan harusmentransformasi cara mereka menjadi cara-cara yang dapat diterima oleh laki-laki.Perempuan mengalami pelecehan seksual sebagai usaha pembungkaman diri karenamereka memahami bahwa dirinya akan selalu berada di bawah laki dan menjadimanusia sekunder. Kenyataan yang terdapat di lapangan, mahasiswi Teknik Elektromerasa harus menyesuaikan peran yang cocok dengan identitas kelompoknya, macho.Adapun, peneliti menemukan beberapa hal menarik dalam penelitian ini.Pertama, konstruksi identitas yang diciptakan oleh mayoritas anggota kelompoksendiri biasanya dapat saling mempengaruhi, apalagi jika hubungan tersebut berhasilmenciptakan rasa solidaritas yang tinggi. Ketidaksadaran kaum perempuan dalammematuhi aturan-aturan yang diciptakan kelompok dominan sama seperti penjelasandalam Teori Hegemoni. Secara umum, teori tersebut menjelaskan dominasi sebuahkelompok terhadap kelompok lainnya, biasanya kelompok yang lebih lemah, dalamhal ini perempuan (West dan Turner, 2008:67).Arahan-arahan para penguasa kelompok sebenarnya telah menciptakan suatukesadaran palsu bagi kelompok tertindas. Kesadaran palsu atau false consciousness(dalam West dan Turner, 2008:68) adalah suatu keadaan di mana individu-individumenjadi tidak sadar mengenai dominasi yang terjadi di dalam kehidupan mereka.Identitas atau ciri khas macho yang melekat pada kelompok Teknik Elektro, terbuktitelah dibentuk oleh kelompok dominan yang ada di lingkungannya. Konsep machomenjadi sesuatu yang identik dengan Teknik Elektro secara terus-menerus dapatberpengaruh pada diri perempuan yang ada di lingkungan tersebut. Perempuan tidakakan pernah benar-benar yakin bahwa ia feminin, jika lingkungannya sendiri tidakmenerimanya sebagai seorang yang feminin.Kedua, yaitu berdasarkan pengakuan ketiga informan yang menjelaskanbahwa teman-teman lelaki yang terdapat di dalam dan di luar lingkungan KampusTeknik Elektro ternyata memiliki perbedaan cara pandang mengenai sosokpenampilan perempuan. Jika kelompok laki-laki yang dalam lingkungan kampustersebut cenderung memandang identitas feminin kurang pantas dikenakan olehmahasiswinya, teman-teman lelaki di luar lingkungan itu justru menganggappenampilan feminin bukanlah merupakan sesuatu yang terlalu berlebihan bagiperempuan.Perbedaan cara pandang tersebut sebenarnya terbentuk dari penerimaan suatukelompok di setiap lingkungannya. Mahasiswi yang berada pada lingkungandominasi maskulin tentu akan merasakan kadar kedekatan dan pengaruh yang lebihkuat, daripada kelompok lain atau out-groups. Dari sesama anggota kelompoksendiri, tentunya akan menimbulkan suatu harapan atas pengakuan, kesetiaan, danpertolongan (Horton dan Hunt, 1996:220). Ini pula yang dijadikan suatu kesempatanbagi kelompok dominan untuk menaklukan minoritas.Hal unik yang terakhir (ketiga), mengenai kurangnya pemahaman mendalamseputar pelecehan seksual, yang mengakibatkan para informan tidak dapatmenyatakan bahwa dirinya telah mengalami pelecehan seksual. Hal ini serupa denganpernyataan Bourdieu dalam konsepnya “misrecognition” yaitu yaitu sebuah “bentukmelupakan” dari seseorang akan suatu hal. Korban tidak akan merasa bahwa dirinyaadalah seorang “korban pelecehan seksual” yang telah diperlakukan sebagai makhlukinferior yang kerap mengalami penolakan atas keinginannya, dan memilikiketerbatasan dalam berekspresi. (Webb, Schiratto, dan Danaher, 2002:24-25).SimpulanPara mahasiswi yang menjadi subyek penelitian menyadari kedudukannya sebagaikelompok minoritas di lingkungan Teknik Elektro Undip. Mereka seakan berhasil“dikostumkan” dengan segala persepsi maskulin dari kelompok dominan. Dengandemikian, melalui hegemoni, perempuan dapat dengan mudah dipengaruhi dandibentuk oleh keinginan laki-laki.Jenis pelecehan seksual yang dialami kelompok minoritas, termasuk ke dalamkondisi hostile environment, yaitu perempuan sebagai korban sebenarnya telahmencapai titik pertentangan terhadap lingkungan kampusnya, sehingga sering kalimenimbulkan dampak ketidaknyamanan (psikologis) bagi perempuan, yaitu rasatakut, terpaksa, kehilangan rasa percaya diri, kecewa dan risih. Nilai-nilai maskulinyang dominan seakan “mengurung” keinginan para mahasiswi untuk tampil lebihfeminin dengan berbagai berbagai tindakan yang cenderung mengarah pada verbalabuse, baik melalui ejekan-ejekan yang mengarah pada fisik perempuan dan beberapajulukan diskriminatif yang secara langsung ditujukan oleh mahasiswa laki-lakikepada mahasiswinya.Budaya patriarki telah melebur dibalik keadaan dominasi yang dialamiperempuan, sehingga sering tercipta suatu “kebiasaan lelaki”. Laki-laki melakukannormalisasi pada tindakan-tindakan pelecehan seksual, sehingga perempuan secaratidak sadar menganggapnya sebagai perilaku normal sehari-hari, yang dilakukan paralelaki.DAFTAR PUSTAKAAndaryuni, Lilik. (2012). To Promote: Membaca Perkembangan Hak Asasi Manusiadi Indonesia (Editor: Eko Riyadi). Yogyakarta: PUSHAM UIIBasuki, Sulistyo. (2006). Metode Penelitian. Fakultas Ilmu Pengetahuan BudayaUniversitas Indonesia: Wedatama Widya SastraBourdieu, Pierre. (2010). Dominasi Maskulin. Yogyakarta: JalasutraBulaeng, Andi. (2004). Metode Komunikasi Kontemporer. Yogyakarta: AndiBungin, Burhan. (2003). Analisis Data Penelitian Kualitatif: Pemahaman Filosofisdan Metodologis ke Arah Penguasaan Model Aplikasi. Jakarta: PTRajaGrafindo PersadaBungin, Burhan. (2007). Penelitian Kualitatif (Edisi Kedua): Komunikasi, Ekonomi,Kebijakan Publik dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana Prenada MediaGroupCarroll, Janell L. (2010). Sexuality Now: Embracing Diversity (Third Edition).Amerika: Wadsworth PublishingDenzin, Norman K. dan Lincoln, Yvonna S (Eds). (2009). Handbook of Qualitative Research. Yogyakarta: Pustaka PelajarDenzin, Norman K. dan Lincoln, Yvonna S. (1994). Handbook of Qualitative Research. London : SAGE Publications Djajanegara, Soenarjati. (2000). Kritik Sastra Feminis: Sebuah Pengantar. Jakarta:PT. Gramedia Pustaka UtamaEvans, Patricia. (2010). The Verbally Abusive Relationship: How To Recognize It andHow To Respond. USA: Adams MediaFakih, Mansour. (2008). Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta:Pustaka Pelajar OffsetFetterman, D.M. (ed). (1988). Qualitative Approaches to Evaluation in Education.The Silent Scientific Revolution. New York : PraegerGriffin, Em. (2011). A First Look At Communication Theory: Eighth Edition. NewYork: McGraw-HillGriffin, Ricky W. and O’Leary-Kelly, Anne M. (2004). The Dark Side ofOrganizational Behavior. USA: Jossey-BassHall, Calvin S. and Lindzey, Gardner. (1993). Psikologi Kepribadian 3: Teori-Teoridan Sifat Behavioristik. Yogyakarta: KanisiusHamad, Ibnu. (2004). Konstruksi Realitas Politik Dalam Media Massa: Sebuah StudiCritical Discourse Analysis Terhadap Berita-Berita Politik. Jakarta: GranitHamidi. (2005). Metode Penelitian Kualitatif. Malang: UMM PressHasan, Abdul Fatah. (2007). Mengenal Falsafah Pendidikan. Selangor, Malaysia:Yeohprinco Sdn. BhdHill, Catherine and Silva, Elena. (2005). Drawing The Line: Sexual Harassment OnCampus. United States: AAUW Educational FoundationHollows, Joanne. (2010). Feminisme, Feminitas dan Budaya Populer (terj.Ismayasari, Bethari Anissa). Yogyakarta: JalasutraHorton, Paul B. and Hunt Chester L. (1996). Sosiologi: Jilid 1, Edisi Ke-enam (terj.Ram, Aminuddin & Sobari, Tita). Jakarta: Penerbit ErlanggaIrianto, Sulistyowati (Ed). 2006. Perempuan dan Hukum: Menuju Hukum YangBerperspektif Kesetaraan dan Keadilan. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia,anggota IKAPI DKI JayaLarkin, June. (1997). Sexual Harassment: High School Girls Speak Out. Canada:Second Story PressMoleong, Lexy J. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif: Edisi Revisi. Bandung:PT Remaja RosdakaryaNazir, Mohammad. (1988). Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia IndonesiaNeuman, Lawrence W. (1997). Social Research Methodes : Qualitative andQuantitative Approaches. MA : Allyn & BaconNoor, Ida Ruwaida dan Hidayana, Irwan M. (2012). Pencegahan dan PenangananPelecehan Seksual di Tempat Kerja: Panduan Bagi Para Pemberi Kerja.Jakarta: APINDOPaludi, Michele A. (Ed). (1990). Ivory Power: Sexual Harassment On Campus.Albany : State University of New York PressRachmat, Jalaludin. (2007). Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. RosdakaryaRaco, J.R. (2010). Metode Penelitian Kualitatif: Jenis, Karakteristik danKeunggulannya. Jakarta: GrasindoRatna, Nyoman Kutha. (2004). Teori, Metode dan Teknik Penelitian Sastra.Yogyakarta: Pustaka PelajarRichmond, Marie dan Abott. (1992). Masculine & Feminine: Gender Roles Over TheLife Cycle: Second Edition. Great Britain: Methuen & Co. LtdSendjaja, Sasa Djuarsa, dan kawan-kawan. (1994). Teori Komunikasi. Jakarta:Universitas TerbukaSoekanto, Soerjono. (2012). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT RajaGrafindoSukmadinata, Nana Syaodih. (2006). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung:Remaja Rosda Karya.Sunarto. (2009). Televisi, Kekerasan & Perempuan. Jakarta: Penerbit Buku KompasSunaryo. (2004). Psikologi untuk Keperawatan. Jakarta: Penerbit Kedokteran EGCTong, Putnam. (2010). Feminist Thought:Pengantar Paling Komprehensif kepadaArus Utama Pemikiran Feminis (terj. Prabasmoro, Aquarini Prayitni).Yogyakarta: JalasutraUripni, Christina Lia, Untung Sujianto, Tatik Indrawati. (2002). KomunikasiKebidanan. Jakarta: Buku Kedokteran EGCWebb, Jen, Tony Schirato dan Geoff Danaher. (2002). Understanding Bourdieu.London: SAGE Publications LtdWest, Richard & Turner, Lynn H. (2007). Introducing Communication Theory:Analysis and Application. New York: McGraw-HillYin, Robert K. (2002). Studi Kasus: Desain & Metode. Jakarta: PT RajaGrafindoJurnal dan ArtikelIrianto, Jusuf. (2007). Perempuan Dalam Praktek Manajemen Sumber Daya Manusia.Artikel Media Masyarakat, Kebudayaan dan Politik. (online) Vol. 20 – No. 4(Dalam http://journal.unair.ac.id/detail_jurnal.php?id=2156&med=15&bid=8, diakses pada tanggal 03 Juli 2012 pukul 19.00 WIB)Kinasih, Sri Endah. (2007). Perlindungan dan Penegakan HAM terhadap PelecehanSeksual. Artikel Media Masyarakat, Kebudayaan dan Politik. (online) Vol. 20– No. 4 (Dalam http://journal.unair.ac.id/detail_jurnal.php?id=2162&med=15&bid=8, diakses pada tanggal 03 Juli 2012 pukul 19.00 WIB)Laporan Independent NGO. (2007). Implementasi Konvensi Penghapusan SegalaBentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan (CEDAW) di Indonesia (Dalamhttps://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&ved=0CDAQFjAA&url=http%3A%2F%2Fcedaw-seasia.org%2Fdocs%2Findonesia%2FIndpt_Report_Bahasa_Laporan_CEDAW.pdf&ei=R_fxUZjZH4jXrQfH9IDoCw&usg=AFQjCNEe363XZ4_SgVAWk6VU8W8RWaV7Ng&sig2=5ZAYf48Zvzrfc6iqt9sXaQ, diakses pada tanggal 27 Mei 2013 pukul 20.00)Sulistyani, Hapsari Dwiningtyas. (2011). “Korban dan Kuasa” Di Dalam KajianKekerasan terhadap Perempuan. (online) Vol. 32 – No. 2 (Dalamhttp://ejournal.undip.ac.id/ index.php/forum/article/view/3153, diakses padatanggal 03 Juli 2012 pukul 20.00 WIB)Suryandaru, Yayan Sakti. (2007). Pelecehan Seksual Melalui Media Massa. ArtikelMedia Masyarakat, Kebudayaan dan Politik. (online) Vol. 20 – No. 4 (Dalamhttp://journal.unair.ac.id/detail_jurnal.php?id=2157&med=15&bid=8,diakses pada tanggal 03 Juli 2012 pukul 19.00 WIB)SkripsiFarika, Ummi. (2009). Memahami Gaya Komunikasi Laki-Laki Dan PerempuanDalam KulturOrganisasi Berkeadilan Gender: Studi Kasus PergerakanMahasiswa Islam Indonesia (PKC PMII). Skripsi. Universitas DiponegoroIsriyati. (2010). Studi Kasus: Kekerasan KomunikasiTerhadap Perempuan DalamRomantic Relationship. Skripsi. Universitas DiponegoroSoekmadewi, Rr. Mariza D. (2012). Perempuan Maskulin Dalam Sinetron (AnalisisResepsi Karakter Maskulin Tokoh Utama Perempuan Protagonis DalamSinetron “Dewa”. Skripsi. Universitas DiponegoroUtama, Yossi Indria. (2005). Konstruksi Identitas Perempuan Marjinal. Skripsi.Universitas DiponegoroWulandari, Wiwit Asri. (2007). Konstruksi Majalah Hai. Skripsi. UniversitasDiponegoroInternetAdidharta, Syaifud. (2011). Wanita Indonesia Antara Kegelapan dan MasaDepannya. Dalam http://sejarah.kompasiana.com/2011/04/17/wanita-indonesia-antara-kegelapan-dan-masa-depannya-356224.html. Diunduh padatanggal 25 Mei 2013 pukul 20.00 WIBAnonim. (2009). Dia Suka Pegang-Pegang Aku. Dalam http://remajadalamkliping.word press.com/2009/05/06/dia-suka-pegang-pegang-aku/. Diunduhpada tanggal 10 Juli 2012 pukul 20.00 WIBAnonim. (2009). Profil Fakultas Teknik Universitas Diponegoro. Dalamhttp://www.ft.undip. ac.id/index.php/profil.html. Diunduh pada tanggal 06 Julipukul 20.30 WIBAnonim. (2010). Latar Belakang. Dalam http://www.komnasperempuan.or.id/keadilanperempuan/index.php?option=com_content&view=article&id=20&Itemid=108. Diunduh pada tanggal 30 Juni 2013 pukul 20.00 WIB. Hal. 01Anonim. (2010). Profil. Dalam http://www.komnasperempuan.or.id/2010/10/mekanisme-ham-nasional-bagi-perempuan-nasional-indonesia/. Diunduhpada tanggal 25 Mei 2013 pukul 20.30 pukul 21.00 WIBAnonim. (2010). Tabir Asap Kerusuhan Mei 1998 (1). Dalam http://sociopolitica.com/2010/05/13/tabir-asap-kerusuhan-mei-1998-1/. Diunduh padatanggal 25 Mei 2013 pukul 19.30 WIBAnonim. (2011). Perkembangan Feminisme Di Dunia. Dalam http://komahi.umy.ac.id/2011/05/perkembangan-feminisme-di-dunia.html. Diunduh pada tanggal 02Januari 2013 pukul 19.00 WIBAnonim. (2012). Biografi R.A Kartini Biodata, Profil Raden Ajeng Kartini Lengkap.Dalam http://www.erabaca.com/2012/03/biografi-ra-kartini-biodata-profil.html. Diunduh pada tanggal 26 Mei 2013 pukul 19.00 WIBAnonim. (2012). Gender-Based Violence In A Romantic Relationship. Dalamhttp://pasca.mercubuana.ac.id/newsumb.php?mode=baca&pct_ no=738&l=.Diunduh pada tanggal 05 Juli 2012 pukul 19.00 WIBAnonim. (2012). Guru Yang Melakukan Pelecehan Seksual Terhadap Murid. Dalamhttp://www.suatufakta.com/2012/06/guru-yang-melakukan-pelecehan-seksual.html. Diunduh pada tanggal 11 Juli 2012 pukul 20.30 WIBAnonim. (2012). Setiap Hari, 4 Perempuan Alami Kekerasan Seksual. Dalamhttp://www.gatra.com/hukum/31-hukum/9651-setiap-hari-4-perempuanalami-kekerasan-seksual#comments. Diunduh pada tanggal 05 Juli pukul19.30 WIBAnonim. (2013). Kekerasan Seksual Pada Mei 1998 Tak Boleh Disangkal. Dalamwww.pikiran-rakyat.com/node/235085. Diunduh pada tanggal 30 Juni 2013pukul 19.00 WIBAnonim. (2013). Segerakan Perbaikan Sistemik untuk Tangani Kekerasan Seksual.Dalam http://www.komnasperempuan.or.id/2013/01/pernyataan-sikap-menanggapi-maraknya-kasus-kekerasan-seksual-dan-pernyataan-calon-hakimagung-yang-menyudutkan-perempuan-korban-perkosaan/. Diunduh padatanggal 03 Februari 2013 pukul 19.00 WIBAnonim. (2013). Visi, Misi dan Peran. Dalam http://www.komnasperempuan.or.id/about/visi/. Diunduh pada tanggal 25 Mei 2013 pukul 20.00Anonim. (Tanpa tahun). Pelecehan Seksual Di Tempat Kerja. Dalam http://www.gajimu.com/main/pekerjaan-yanglayak/pelecehan-seksual. Diunduh padatanggal 04 Juli 2012 pukul 21.00 WIBAyub. (2009). Wanita-pun Bisa Di Elektro. Dalam http://www.elektro.undip.ac.id/?p=285. Diunduh pada tanggal 06 Juli pukul 19.00 WIBBohman, James. (2005). “Critical Theory”. In Edward N. Zalta (Ed.), The StanfordEncyclopedia of Philosophy. Spring 2005 Edition. Dalam http://plato.stanford.edu/archives/spr2005/entries/critical-theory. Diunduh pada tanggal03 September 2012 pukul 19.00 WIBHidayatullah. (2012). Banyak Wanita London Dilecehkan Di Jalan. Dalamhttp://www.al-khilafah.org/2012/05/banyak-wanita-london-dilecehkandi.html. Diunduh pada tanggal 05 Juli 2012 pukul 19.00 WIBIS. (Tanpa tahun). Setiap Hari, 4 Perempuan Alami Pelecehan Seksual. Dalamhttp://www.gatra.com/hukum/31-hukum/9651-setiap-hari-4-perempuanalami-kekerasan-seksual. Diunduh pada tanggal 04 Juli 2012 pukul 20.00WIBLaluyan, Joe. (2009). Pelaku Pelecehan Seksual Dapat Dihukum?. Dalamhttp://www.kadnet.info/web/index.php?option=com_content&id=733:pelakupelecehan-seksual-dapat-dihukum&Itemid=94. Diunduh pada tanggal 04 Juli2012 pukul 19.00 WIBMariana, Anna. (2011). Tak Ada Rotan, Akar Pun Jadi (Kisah Gedung InspektoratSukabumi. Dalam http://etnohistori.org/tak-ada-rotan-akar-pun-jadi-kisahgedung-inspektorat-sukabumi.html. Diunduh pada tanggal 30 Juni 2013 pukul19.00 WIBPriliawito, E. dan Mahaputra, Sandy A. (2010). Pembunuh 14 Anak Jalanan HadapiTuntutan. Dalam http://metro.news.viva.co.id/%20news/read/179756-pembunuh-14-anak-jalanan-hadapi-tuntutan. Diunduh pada tanggal 11 juli 2012pukul 19.30 WIBPriliawito, Eko. (2009). Menolak Dilecehkan, Mata Kuliah Diulang 5 Kali. Dalamhttp://metro.news.viva.co.id/news/read/51030-menolak_dilecehkan_mata_kuliah_diulang_5_kali. Diunduh pada tanggal 12 Juli pukul 19.00 WIBPutra, Rama Narada. (2012). Ditegur KPI, Raffi Ahmad Menyesal. Dalamhttp://jogja.okezone.com/read/2012/06/27/33/654407/ditegur-kpi-raffiahmad-menyesal. Diunduh pada tanggal 04 Juli 2012 pukul 19.00 WIBPutro, Suwarno. (2013). Riwayat Singkat Pahlawan Nasional. Dalam http://smpn3kebumen.sch.id/berita-224-riwayat-singkat-pahlawan-nasional-radenadjeng-kartini.html. Diunduh pada tanggal 26 Mei 2013 pukul 19.30 WIBRadius, Dwi B. (2012). Pelecehan Seks 10 Murid, Kepala Sekolah Ditahan. Dalamhttp://regional.kompas.com/read/2012/04/27/16175534/Pelecehan.Seks.10.Murid..Kepala.Sekolah.Ditahan. Diunduh pada tanggal 10 Juli 2012 pukul21.00 WIBRahadi, Fernan. (2013). Anak-anak Jadi Korban Pemerkosaan di AS. Dalamhttp://www.republika.co.id/berita/internasional/global/13/01/10/mge55y-anakanak-jadi-korban-pemerkosaan-di-as. Diunduh pada tanggal 26 Mei 2013pukul 20.00 WIBWahid, Muhammad N. (Tanpa tahun). Pelajar Ditelanjangi Di Dalam Kelas. Dalamhttp://www.indosiar.com/patroli/pelajar-ditelanjangi-didalam-kelas_78555.html. Diunduh pada tanggal 10 Juli pukul 20.00 WIBWidyarini, M.M. Nilam. (2011). Kekerasan Seksual, Mereka Mungkin SalingMengenal. Dalam http://www.henlia.com/2011/03/kekerasan-seksual-merekamungkin-saling-mengenal/. Diunduh pada tanggal 04 Juli 2012 pukul 19.00WIBWirakusuma, K. Yudha. (2011). Naik D 02 Malam Hari, Cewek Harus NyamarJadi Cowok. Dalam http://news.okezone.com/read/2011/09/18/338/504005/naik-d-02-malam-hari-cewek-harus-nyamar-jadi-cowok. Diunduh padatanggal 10 Juli 2012 pukul 20.00 WIBYuwono, Markus dan Trijaya. (2011). Dilecehkan Sesama Jenis Wanita Ini LaporPolisi. Dalam http://autos.okezone.com/read/2011/07/05/340/476201/dilecehkan-sesama-jenis-wanita-ini-lapor-polisi. Diunduh pada tanggal 11 Juli 2012pukul 19.30 WIB
MEMAHAMI PENGALAMAN KOMUNIKASI WANITA BERCADAR DALAM PENGEMBANGAN HUBUNGAN DENGAN LINGKUNGAN SOSIAL Yenny Puspitasari; Turnomo Rahardjo; Agus Naryoso
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (80.475 KB)

Abstract

Memahami Pengalaman Komunikasi Wanita Bercadar dalam Pengembangan Hubungan dengan Lingkungan SosialABSTRAKKehidupan wanita bercadar di Indonesia menjadi sorotan masyarakat sejak kejadian teror di berbagai wilayah Indonesia yang sebagian besar melibatkan wanita bercadar di dalamnya. Wanita bercadar kemudian diidentikkan dengan terorisme sehingga dalam kehidupannya wanita bercadar menjadi sulit berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya. Masyarakat pun berusaha menutup diri dengan hadirnya wanita bercadar di lingkungan mereka, hal ini dibuktikan dengan banyak kasus wanita bercadar yang dikucilkan dari lingkungan.Studi ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi yang berupaya memberikan penjelasan tentang pengalaman komunikasi wanita bercadar dalam pengembangan hubungan dengan lingkungan sosialnya. Penulis menggunakan Teori Penetrasi Sosial, Teori Pengembangan Hubungan, Teori Kompetensi Komunikasi dan Teori Adaptasi untuk memahami bagaimana individu bercadar berkomunikasi dan menjalin kedekatan dengan orang lain. Informan dalam penelitian ini berjumlah empat orang, dimana terdiri dari dua wanita yang mengenakan cadar dan dua wanita yang tidak mengenakan cadar.Temuan penelitian menunjukkan bahwa wanita yang menggunakan cadar tidak selalu menutup diri dengan lingkungan sekitar. Bahkan di satu sisi, wanita bercadar memiliki potensi-potensi yang dapat dikembangkan dan bermanfaat bagi lingkungan. Kepercayaan diri dan konsep diri yang positif menjadi hal utama yang harus dimiliki oleh wanita bercadar dalam berkomunikasi dengan orang lain. Wanita bercadar juga mempunyai kompetensi komunikasi yang berbeda satu sama lain, artinya komunikasi dengan orang lain dipengaruhi oleh kompetensi komunikasi masing-masing individu. Jika seorang individu mempunyai kompetensi komunikasi yang baik, maka komunikasi akan berjalan dengan baik pula. Dalam hal pengembangan hubungan, informan bercadar juga pernah mengalami kegagalan maupun keberhasilan dalam berkomunikasi dengan orang lain. Kegagalan komunikasi biasanya terjadi karena mereka gagal melawan hambatan psikologis yang menghalangi mereka yaitu stigma masyarakat. Sementara itu, temuan penelitian juga menemukan bahwa kedua informan bercadar belum konsisten mengenakan cadar dalam aktivitas sehari-hari. Hal ini dikarenakan adanya hambatan diantaranya keterbatasan komunikasi ketika berada di ruang publik dan adanya ketidaksetujuan keluarga dalam keputusan menggunakan cadar.Implikasi penelitian ini secara akademis adalah memperluas pengayaan teoritik mengenai hubungan komunikasi interpersonal dengan nilai-nilai dalam keyakinan. Dalam tataran praktis, studi ini menjelaskan tentang bagaimana seharusnya wanita bercadar melakukan komunikasi yang baik dalam masyarakat sehingga masyarakat dapat mengurangi stereotype dan menghapus stigma. Sementara sebagai implikasi sosial, penelitian ini merekomendasikan kepada masyarakat agar lebih terbuka terhadap wanita bercadar untuk menekan terjadinya konflik dalam hubungan dengan wanita bercadar karena prasangka yang dominan.Kata kunci: pengalaman, cadar, komunikasi, pengembangan hubunganUNDERSTANDING WOMEN WITH VEIL COMMUNICATION EXPERIENCE IN DEVELOPING RELATIONSHIP WITH SOCIAL ENVIRONMENTABSTRACTVeiled woman's life in Indonesia public spotlight since the incident of terror in various regions of Indonesia are mostly involved them. Veiled woman later identified by linkage to terrorist activities so that veiled women in their live find it difficult to communicate with the surrounding environment. The community tried to cover herself with presence of veiled women in their environment, this was evidence by many cases of veiled women were exclude from the environment.This study is a qualitative descriptive study with a phenomenological approach seeks to provide an explanation of veiled women communication experience in developing relationships with their social environment. The author uses social penetration theory, theory of relationship development, communication competence theory and theory of adaptation to understand how individual communicate and veiled attachment to another person. Informants in this study were four people in this study, which consist of two women wearing veils and two women who were not wearing a veil.The study findings indicate that women who use veil does not always cover themselves with their surrounding. Even on the one hand, the veiled woman has potential to be develop and benefit the environment. Confidence and a positive self-concept to be main thing that must be own by a woman veiled in communicate with other. Veiled women also have different communication competence of each other, that communication with other is influence by communication competence of each individual. If an individual has good communication competence, then relationship will run well too. In terms of develop relationship, veiled informants also experienced failures as well as success in communicating with other. Communication failure usually occurs because they fail to resist the psychological barriers that prevent them from stigma society. Meanwhile, the finding of the study also found that both informants veiled were not consistent to wear a veil in the day-to-day activities. This happen because in some situations they feel that they wear veil limitedness communications with others.Implication of this study is to expand academic enrichment of the theoretical relationship interpersonal communication with the values of the faith. In practical terms, this study describes how a woman should be veil to do good communication within the community so that people can receive their state. While the social implication, the study recommends to community to be more open to women veiled and suppress the occurrence of conflict in a relationship with a woman wearing a veil.Keywords: experience, veil, communication, relationship developmentSkripsi berjudul “Memahami Pengalaman Komunikasi Wanita Bercadar dalam Pengembangan Hubungan dengan Lingkungan Sosial” ini berawal dari keprihatinan penulis melihat kondisi dimana wanita bercadar di Indonesia khususnya menjadi kelompok yang minoritas dalam masyarakat. Wanita bercadar menjadi pihak yang berada dalam kondisi sulit untuk berkomunikasi dengan lingkungan sekitar karena stigma masyarakat yang negatif tentang mereka yaitu cadar mereka dikaitkan dengan tindakan terorisme.Muncul gagasan di dalam diri penulis mengenai bagaimana sebaiknya wanita bercadar berkomunikasi di dalam masyarakat. Bagaimana mereka bisa diterima di masyarakat tanpa predikat “teroris” seperti yang mereka terima saat ini. Secara praktis, penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana wanita bercadar menjalin komunikasi dengan orang-orang yang berada di lingkungan sosialnya. Dari situ dapat diketahui apakah komunikasi yang mereka lakukan itu sudah tepat atau belum. Secara akademis, penelitian ini diharapkan mampu mengembangkan pemikiran teoritik tentang teori pengembangan hubungan terutama hubungan komunikasi antara individu dari kelompok minoritas dengan individu dari kelompok mayoritas. Dan secara sosial, penelitian ini diharapkan mampu memberikan pengertian kepada masyarakat tentang pentingnya toleransi, mampu menerima kehadiran individu individu bercadar dalam masyarakat tanpa memberikan predikat “teroris” serta meminimalisir terjadinya konflik dalam interaksi.Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan fenomenologi yang berupaya menjelaskan pengalaman individu bercadar dalam mengembangkan hubungan dengan lingkungan sosialnya. Penelitian diawali dengan penetapan tujuan penelitian dan pemilihan subyek penelitian. Selanjutnya dengan menggunakan instrumen indepth interview penulis mengumpulkan data pengalaman individu dalam berkomunikasi dengan orang-orang di lingkungan sosialnya. Dalam penelitian ini penulis melibatkan dua informan bercadar dandua informan yang tidak bercadar yang berada di lingkungan sosial dimana wanita bercadar tersebut berinteraksi.Penelitian ini berfokus pada interaksi yang terjadi antara wanita bercadar dengan orang-orang yang berada di lingkungan sosialnya. Interaksi yang terjadi meliputi latar belakang, motivasi, aktivitas komunikasi, stigma dan pengelolaan konflik serta kondisi psikologis wanita bercadar. Hasil wawancara dengan informan kemudian diterjemahkan secara tekstural dan struktural serta tekstural struktural gabungan dan dianalisis dengan menggunakan metode analisis data Van Kaam. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Kompetensi Komunikasi, Teori Pengembangan Hubungan, Teori Penetrasi Sosial dan Teori Adaptasi.Data berupa hasil wawancara mendalam terhadap para informan tersebut menjadi bekal bagi penulis untuk menyusun deskripsi tematis, deskripsi tekstural, dan deskripsi struktural. Setelah mendeskripsikan hasil temuan secara tekstural dan struktural tentang pengalaman individu bercadar dalam berkomunikasi dengan individu lain di lingkungan sosialnya, penulis menyusun sintesis makna tekstural dan struktural yang bertujuan untuk menggabungkan secara intuitif (intuitive integration) deskripsi tekstural dan struktural ke dalam sebuah kesatuan pernyataan mengenai esensi pengalaman dari suatu fenomena secara keseluruhan. Dan pada tahap terakhir penulis merumuskan kesimpulan beserta implikasi teoretis, praktis, dan sosial dari keseluruhan hasil penelitian.Pembahasan mengenai temuan studi ini menghasilkan beberapa hal, diantaranya:1)Masyarakat cenderung melekatkan stereotype negatif kepada wanita bercadar sebagai bagian dari terorisme dan dianggap mengancam.2)Masyarakat menganggap bahwa wanita bercadar cenderung menutup diri dan tidak mau bergaul dengan lingkungan.3)Tidak semua wanita bercadar itu hidup tertutup dan tidak mau bergaul dengan lingkungan. Salah satu subyek penelitian ini membuktikan bahwa sebagai wanita bercadar, dia mampu menunjukkan keberhasilannya dalam menjalankan bisnis. Cadar tidak menghalanginya dalam menjalankan roda bisnisnya.4)Wanita bercadar mencoba menerima keadaan mereka yang dianggap sebagai bagian dari terorisme. Namun mereka mencoba melawan pandangan masyarakat itu dengan melakukan hal-hal positif sehingga mereka berharap masyarakat akan menilai mereka positif.5)Meskipun sebagian besar masyarakat mempercayai bahwa wanita bercadar dekat dengan terorisme, ternyata ada sebagian masyarakat yang masih menganggap mereka sebagai seorang individu, bukan sebagai seseorang yang mempunyai atribut tertentu seperti cadar. Mereka menjalin komunikasi sebagaimana menjalin komunikasi dengan orang lain.6)Seorang wanita bercadar membutuhkan kompetensi komunikasi yang baik ketika akan menjalin komunikasi dengan orang lain. Ada pengetahuan, kemampuan dan motivasi yang harus mereka miliki untuk lebih dekat dengan orang lain.7)Wanita bercadar dan orang-orang yang berada di lingkungan sosialnya juga harus memiliki kemampuan adaptasi yang baik dengan orang lain. Self Disclosure merupakan hal yang penting dalam berkomunikasi agar mereka tidak dianggap sebagai kelompok eksklusif.8)Dalam menghadapi konflik, wanita bercadar dan orang di lingkungan sosialnya hendaknya memahami cara-cara penyelesaian konflik yang baik sehingga tercipta win-win solution dalam suatu hubungan.Secara akademis (teoritis) penelitian ini berhasil memberikan kontribusi bagi penelitian ilmu komunikasi dalam mengkaji teori-teori yang berkaitan denganpengembangan hubungan dalam komunikasi interpersonal. Dalam Teori Pengembangan Hubungan, penelitian ini membuktikan bahwa ada tahapan-tahapan yang harus dilalui oleh seorang individu dalam melakukan aktivitas komunikasi dengan individu lain. Dengan mengkiuti fase-fase tersebut diharapkan individu mampu menjalin komunikasi yang baik sehingga tercipta iklim komunikasi yang baik juga. Sementara dalam Teori Kompetensi Komunikasi, seorang individu harus memiliki kompetensi komunikasi yang baik (meliputi pengetahuan, motivasi dan kemampuan komunikasi) sehingga dia mampu menjalin hubungan dengan baik dengan lingkungannya. Kompetensi komunikasi yang tidak baik, akan membuat individu menjadi kesulitan dalam berkomunikasi. Dalam Teori Adaptasi, seorang individu yang berasal dari golongan minoritas memang harus lebih pandai menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar tempat dia berada sehingga kehadirannya dapat diterima dengan baik. adaptasi yang tidak baik akan membuat individu meraa terkucil dari lingkungan. Terakhir dalam Teori Penetrasi Sosial, individu yang ingin mencapai tataran hubungan yang akrab membutuhkan pengungkapan diri secara pribadi sehingga masing-masing pihak saling mengetahui satu sama lain. Pemikiran teoritik yang bisa dikembangkan dari penelitian ini adalah sebuah pengayaan mengenai hubungan komunikasi interpersonal dan nilai-nilai dalam keyakinan.Dalam tataran praktis, penelitian ini dapat memberikan referensi tentang pengalaman komunikasi antara wanita bercadar dengan orang-orang di sekitarnya. Penelitian ini menjelaskan bagaimana proses adaptasi, kompetensi komunikasi seperti apa yang lakukan oleh informan dalam pengembangan hubungan. Penelitian ini memberikan suatu referensi bagi wanita bercadar agar mampu menciptakan aktivitas komunikasi yang baik sehingga keberadaan mereka di masyarakat dapat diterima dengan baikpula. Secara sosial, melalui pengalaman-pengalaman komunikasi informan bercadar dan yang tidak bercadar dalam penelitian ini, masyarakat hendaknya memahami bahwa berkomunikasi dengan wanita bercadar bukanlah hal yang menakutkan. Memandang seorang wanita yang mengenakan cadar dengan sebelah mata dan stigma yang negatif juga sebaiknya tidak dilakukan karena mereka juga berhak mendapatkan perlakuan yang sama dengan orang lain. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan implikasi yaitu mengurangi stigma negatif mengenai wanita bercadar dan mengeliminasi terjadinya konflik di dalam masyarakat.Penelitian ini tentunya memiliki keterbatasan-keterbatasan yaitu di antaranya:1) Dalam penelitian ini, penulis tidak bisa menghadirkan sosok laki-laki sebagai informan, sehingga pengalaman interaksi wanita bercadar dengan laki-laki kurang bisa digali secara lebih detil. Misalnya bagaimana pola komunikasi yang terjadi antara informan bercadar dengan laki-laki. Bagaimana romantic relationship yang terjadi diantara wanita bercadar dengan seorang laki-laki, bagaimana penyelesaian konflik antara wanita bercadar dengan laki-laki dll.2) Penggalian informasi oleh penulis kurang mendalam karena pada tema-tema tertentu, informan merasa bahwa penulis sudah banyak mengetahui tentang tema tersebut sehingga informan memberikan penjelasan yang kurang detil.DAFTAR PUSTAKABuku•Budyatna, Muhammad dan Leila Mona Ganiem. (2011). Teori Komunikasi Antarpribadi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.•Bungin, Burhan (Eds). (2011). Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.•Cupach, William R and Daniel J. Canary. (1997). Competence in Interpersonal Conflict. United States of America: Waveland Press, Inc.•Denzin, Norman K and Yvonna S. Lincoln. (2005). Qualitative Research 3rd Edition. California: SAGE Publication.•Devito, Joseph A. 1997. Komunikasi Antar Manusia, Kuliah Dasar Edisi Ke-lima. Jakarta: Professional Books.•Littlejohn, Stephen W and Karen A. Foss. (2009). Teori Komunikasi, Theories of Human Communication Edisi 9. Jakarta: Salemba Humanika.•Moustakas, Clark. (1994). Phenomenological Research Methods. California: Sage Publication.•Saverin, J Werner dan James W. Tankard Jr. (2007). Teori Komunikasi, Sejarah, Metode dan terapan di Dalam Media Massa. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.•Soemanto, Wasty. (1987). Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. Bina Aksara.•Tubbs, Steward L and Sylvia Moss. (1996). Human Communication, Prinsip-prinsip Dasar.. Bandung: PT Remaja Rosadakarya.•Winardi. (1992). Manajemen Perilaku Organisasi. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.•Tim Penyusun Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro tahun 2010.Proceeding Konferensi•Chariri, Anis. (2009). Landasan Filsafat dan Metode Penelitian Kualitiatif (pdf). Makalah. Disajikan dalam Workshop Metodologi Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif, Fakultas Ekonomi, Universitas Diponegoro Semarang (31 Juli-1 Agustus 2009) : 1-13.Jurnal•Jubaedah, Edah. (2009). Jurnal Ilmu Administrasi (pdf), Analisis Hubungan Gaya Kepemimpinan dan Kompetensi Komunikasi Dalam Organisasi: 370-375•Ratri, Lintang. (2011). Cadar, Media dan Identitas Perempuan Muslim (pdf). Jurnal Ilmiah Forum Universitas Diponegoro: 29-37.Skripsi•Sapto, Hari. (2009). Memahami Makna Jilbab dan Mengkomunikasikan Identitas Muslimah. Universitas Diponegoro.Internet:• (http://www.alsofwah.or.id/?pilih=lihatfatwa&id=760).• (http://www.artikata.com/arti-124402-cadar.html).• (http://news.detik.com/read/2013/05/03/001115/2236851/10/polisi-amankan-seorang-wanita-di-rumah-terduga-teroris-di-jl-bangka).•(/berita/dunia-islam/perancis-tolak-masuk-tiga-wanita-saudi-yang-bercadar.htm#.UWjE91bTOt8).• (http://www.eramuslim.com/berita/dunia-islam/muslim-denmark-larangan-cadar-di-prancis-ancam-kebebasan-individu.htm#.UWjFsVbTOt8).• (http://www.eramuslim.com/berita/dunia-islam/setelah-mahasiswi-kini-giliran-dosen-bercadar-dilarang-mengajar-di-mesir.htm#.UWq4blbTOt8).• (http://hizbut-tahrir.or.id/2010/07/26/dua-mahasiswi-bercadar-dilarang-naik-bus-di-london/).•(http://www.anashir.com/2012/05/102159/46553/10-negara-dengan-jumlah-penduduk-muslim-terbesar-di-dunia).• (http://nasional.kompas.com/read/2009/08/23/06021424/).• (http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20110420201913AAWG8qA• (http://kelaspshama2012.blogspot.com/2012/03/sikap-diskriminasi-di-sekitar-kita.html).• (http://www.antarajateng.com/detail/index.php?id=68450).• (http://ruangstudio.blogspot.com/2009/08/label-teroris-dan-hilangnya-kenyamanan.html).• http://links.org.au/node/1351
REPRESENTASI MASKULINITAS LAKI-LAKI DALAM IKLAN PRODUK BUMBU MASAK, DETERJEN PAKAIAN, DAN SABUN PENCUCI PERALATAN MAKAN DAN MASAK Ima Putri Siti Sekarini; Triyono Lukmantoro; Nurist Surayya Ulfa
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.268 KB)

Abstract

REPRESENTASI MASKULINITAS LAKI-LAKI DALAM IKLAN PRODUK BUMBU MASAK, DETERJEN PAKAIAN, DAN SABUN PENCUCI PERALATAN MAKAN DAN MASAKAbstrakSetiap iklan mengandung gagasan mengenai femininitas perempuan dan maskulinitas laki-laki yang direpresentasikan dalam teks iklan tersebut. Namun, aspek maskulinitas laki-laki dalam iklan masih jarang digali. Itulah yang melatarbelakangi penelitian ini. Bagaimana iklan produk ‘untuk perempuan’, seperti produk kebutuhan rumah tangga, merepresentaikan maskulinitas laki-laki tersebut?Penelitian ini menggunakan pendekatan semiotika tradisi Roland Barthes untuk mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Dengan pendekatan semiotika ini, penelitian ini berusaha membongkar tanda-tanda dalam iklan bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak untuk menemukan makna berupa gagasan di balik tanda-tanda tersebut. Dibantu oleh konsep codes of television milik John Fiske, teks diurai menjadi kode-kode, yaitu suatu unit yang lebih sempit, untuk kemudian dideskripsikan dan dianalisa.Hasil penelitian menunjukkan adanya kesamaan pola pada representasi maskulinitas laki-laki yang ditemukan dari analisa terhadap iklan bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak. Maskulinitas laki-laki, dalam iklan untuk tiga jenis produk tersebut, direpresentasikan melalui sosok ayah, suami, serta pencari nafkah di mana ketiganya merupakan aspek dari sosok kepala keluarga dalam masyarakat yang hidup dengan ideologi patriarki.Key words : iklan, jender, maskulinitas, patriarkiREPRESENTATION OF MALE’S MASCULINITY IN TV COMMERCIALS FOR HOUSEHOLD PRODUCTSAbstarctIn every advertisements, including television commercials, there are always two aspects: female’s femininity and male’s masculinity. But, unfortunately, when compared to female’s femininity, male’s masculinity is still such a rare topic to be discussed and examined in gender studies field. That argument began this particular gender study. How, then, do television commercials for ‘female only’ products such as household products represent their male’s masculinity?This study make use of Roland Barthes’s semiotic approach to try to answer that question. By this means, this gender study struggles to break down the signs found in TV commercials for household products in order to discover the idea(s) behind those signs. By the help of John Fiske’s codes of television concept, text(s) were analyzed into codes, an unit(s) more restricted and specific.The result shows that there is a similarity in pattern of representation of male’s masculinity found by analyzing television commercials for household products. In television commercials for such products, male’s masculinity is represented through the use of father figure, husband figure, and responsible breadwinner figure, which the three being a huge aspect shaping the head of household figure in a society(ies) where patriarchal ideology lives.Key words: advertising, TV commercials, gender, masculinityPendahuluanPada hakikatnya, iklan merupakan salah satu bentuk komunikasi (Noviani, 2002: 22). Namun, iklan juga unik karena memiliki kemampuan mempengaruhi yang cukup kuat. Dari aspek pengaruh ekonomi, iklan terbukti telah banyak memberikan keuntungan ekonomi yang sangat besar pada perorangan atau agen yang terlibat di baliknya (Widyatama, 2007: 156). Namun, iklan tidak hanya memiliki pengaruh ekonomi saja. Dia juga memiliki pengaruh psikologis dan pengaruh sosial budaya.Dalam kaitannya dengan penelitian ini, pengaruh iklan secara sosial budayalah yang lebih disorot, di mana pesan-pesan yang ditampilkan melalui iklan akan mengkristal secara kolektif dan menjadi perilaku masyarakat secara umum. Perilaku masyarakat yang umum ini pada akhirnya akan membentuk sistem nilai, gaya hidup, maupun standar budaya tertentu.Iklan, sebagai alat (komunikasi) pemasaran yang berfungsi sebagai media untuk mengkomunikasikan produk dari produsen (pengiklan) kepada calon konsumen (audience), memerlukan perencanaan yang matang agar selain pesan yang diinginkan (oleh pengiklan) sampai ke calon konsumen dengan utuh, calon konsumen juga menjadi percaya pada isi pesan dan karenanya berminat untuk mencoba maupun membeli produk yang diiklankan. Untuk mencapai tujuan ini, salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah pemilihan endorser yang mampu membantu membawakan pesan iklan dengan meyakinkan dan sekaligus membantu membentuk citra yang diharapkan untuk produk yang diiklankan.Selain pemilihan endorser, pengiklan juga harus merancang bagaimana endorser ini harus ditampilkan mulai dari segi penampilan fisik hingga perkataan dan perbuatan. Secara fisik, endorser perempuan yang sering muncul dalam iklan biasanya berwajah cantik, berkulit putih mulus, tubuh langsing, dan rata-rata berusia muda. Sedangkan laki-laki yang menjadi endorser biasanya berwajah tampan, berkulit putih, bertubuh tinggi atletis, dan juga berusia muda.Sedangkan dari segi karakterisasi, perempuan ditampilkan dengan kepribadian yang dikategorikan sebagai karakteristik feminin: anggun, lemahlembut, pasif, dan emosional. Sedangkan laki-laki ditampilkan dengan sifat-sifat yang dikelompokkan dalam kategori maskulin, misalnya kuat (secara fisik dan mental), rasional, tegas, dan agresif. Dari aspek setting, iklan juga stereotipikal dalam menampilkan perempuan dan laki-laki, di mana karakter perempuan hampir selalu ditampilkan berada di rumah atau di lingkungan rumah sedangkan tokoh laki-laki sering kali ditampilkan sedang sibuk beraktivitas di luar rumah, misalnya kantor.Umumnya, dalam iklan, perempuan dan laki-laki sering kali ditampilkan dalam kerangka jender yang sama dari waktu ke waktu. Pada bagian awal subbab ini telah disebutkan bahwa iklan memiliki pengaruh sosial budaya. Pengaruh ini bisa timbul salah satunya dikarenakan adanya stereotipisasi dalam penampilan sosok laki-laki dan perempuan dalam iklan, gaya penampilan yang mengikuti suatu pola dan peran jender tertentu.Iklan bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak termasuk dalam kelompok iklan yang sering menampilkan sosok laki-laki dan perempuan yang stereotipikal sesuai dengan peran jender konvensional. Iklan untuk produk bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak tidak pernah absen menghadirkan gambaran perempuan dalam kerangka femininitas tertentu, yaitu sebagai ibu rumah tangga yang sedang melakukan aktivitas seperti memasak, merawat anak, serta membersihkan rumah, dan perempuan tersebut mayoritas dimunculkan dalam setting rumah.Yang kadang luput dari perhatian adalah arti keberadaan sosok laki-laki dalam iklan yang sama. Banyak iklan untuk produk bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak yang menghadirkan sosok endorser laki-laki. Laki-laki dalam iklan tersebut, seperti halnya perempuan, juga ditampilkan dalam kerangka jender tertentu, yaitu kerangka jender maskulin. Tentu saja representasi maskulinitas laki-laki dalam iklan produk bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak berbeda dengan representasi maskulinitas laki-laki yang umum ditemui dalam iklan rokok. Laki-laki dalam iklan produk bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak seringkali dimunculkan menyandang peranayah/suami/kepala rumah tangga, atau sebagai voice over yang memberikan penjelasan mengenai produk yang sedang diiklankan. Posisi laki-laki dalam iklan produk bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak sekilas memang tidak mengandung maksud tertentu. Namun, bila ditelaah lebih jauh, sesungguhya peran-peran yang disandang laki-laki dalam iklan-iklan tersebut memiliki posisi superior terhadap sosok perempuan. Sebaliknya, iklan rokok merk Marlboro misalnya, merepresentasikan maskulinitas melalui sosok koboi. Di balik representasi maskulinitas laki-laki melalui sosok koboi ini, kita bisa saja menarik kesimpulan mengenai bagaimana seharusnya laki-laki ideal itu. Iklan rokok merk Marlboro mungkin bermaksud menyampaikan pada khalayak bahwa laki-laki yang ideal itu adalah laki-laki yang pemberani, tangguh, kasar, serta individualistis.Karena iklan produk bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak menampilkan representasi maskulinitas laki-laki dengan cara berbeda dari iklan rokok merk Marlboro, maka bisa kita tarik asumsi bahwa iklan produk bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak memiliki gagasan tersendiri mengenai maskulinitas laki-laki dan sosok laki-laki ideal untuk disampaikan pada khalayak. Pembahasan dalam makalah ini akan membongkar ideologi apa yang tersembunyi di balik pesan iklan produk bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak sebagai cara mendeskripsikan representasi maskulinitas laki-laki dalam iklan-iklan tersebut.PembahasanTerdapat empat ideolog yang bekerja dalam pesan iklan produk bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak. Tiga ideologi pertama bisa dikatakan sebagai ideolog yang bersifat minor, sedangkan ideologi keempat merupakan bersifat lebih luas di mana tiga ideology pertama merupakan bagian dari ideology keempat ini. Tiga ideologi minor tersebut, yaitu kode ideologis son preference, fatherhood, dan kecerdasan laki-laki ideologi. Ketiganyamerupakan bagian dan pendukung ideologi yang bersifat mayor, yaitu ideologi patriarki.Dalam The Gender Knot: Unraveling Our Patriarchal Legacy (2005) diutarakan bahwa patriarki bukan semata sinonim dari ‘laki-laki’, melainkan suatu jenis masyarakat (society) di mana baik laki-laki maupun perempuan sama-sama terlibat dan berpartisipasi di dalamnya. Menurut Johnson, masyarakat yang patriarkis adalah masyarakat yang hingga taraf tertentu mendukung adanya hak-hak istimewa laki-laki (male privilege) melalui aksi serta gagasan yang berbau dominasi laki-laki (male dominated), diidentifikasikan dengan laki-laki (male identified), dan terpusat pada laki-laki (male centered). Masyarakat patriarkis juga menunjukkan adanya obsesi terhadap kendali atau keinginan kuat untuk mengendalikan segalanya (Johnson, 2005: 5). Male dominated, male identified, male centered, dan obsesi terhadap kendali, menurut Johnson, merupakan empat karakteristik patriarki.Dominasi laki-laki sebagai suatu karakteristik patriarki mengandung pemahaman bahwa posisi-posisi dengan kewenangan tinggi, misalnya dalam bidang politik, hukum, dan militer, sebagian besar diduduki oleh laki-laki dan seolah diperuntukkan bagi laki-laki. Kondisi ini akhirnya menciptakan perbedaan kekuasaan yang cukup mencolok antara laki-laki dan perempuan. Dominasi laki-laki seperti yang banyak terdapat dalam masyarakat patriarkis juga mengakibatkan timbulnya gagasan bahwa laki-laki lebih superior (dibandingkan perempuan). Anggapan semacam ini muncul karena masyarakat cenderung tidak membedakan antara superioritas yang dikandung oleh posisi atau kedudukan dalam suatu hierarki dengan orang-orang yang biasanya menempati posisi tersebut. Johnson menambahkan, penting untuk dipahami bahwa dominasi laki-laki dalam masyarakat patriarkis tidak berarti setiap laki-laki itu berkuasa. Dominasi laki-laki berarti di mana ada pusat atau konsentrasi kekuasaan, hampir bisa dipastikan (kaum) laki-laki yang akan menguasainya karena laki-laki dalam hal ini bisa dipandang sebagai rancangan dasar kaum atau orang yang memegang kekuasaan (Johnson, 2005: 5-6).Karakteristik berikutnya yang dimiliki oleh masyarakat patriarkis yaitumale identified yang diartikan bahwa dasar gagasan kultural mengenai apa yang dianggap baik, yang dikehendaki, dan yang dianggap normal adalah hal-hal yang biasa diasosiasikan dengan laki-laki dan maskulinitas ideal. Dengan kata lain, male identified dalam patriarki memposisikan laki-laki dan kehidupannya sebagai standar dalam menentukan apakah sesuatu itu normal atau tidak. Anggapan ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Sigmund Freud yang menganggap bahwa manusia normal adalah laki-laki (Sultana, 2010: 4).Aspek lain dari male identified adalah deskripsi kultural mengenai maskulinitas dan sosok laki-laki ideal yang kemudian seolah menjelma menjadi nilai-nilai inti dalam masyarakat. Kualitas-kualitas seperti kontrol, kekuatan (fisik), senang berkompetisi, keteguhan, ketenangan di bawah tekanan, logika, kemampuan mengambil keputusan, rasionalitas, dan otonomi dikenal sebagai karakteristik-karakteristik maskulin dan standar ideal bagi laki-laki. Dengan kata lain, kualitas-kualitas tersebut diidentifikasikan sebagai ‘laki-laki’. Dalam masyarakat patriarkis, sifat-sifat tersebut pun lebih dihargai (Johnson, 2005: 6-10).Selain bersifat male dominated dan male identified, masyarakat patriarkis juga bersifat male centered atau terpusat pada laki-laki yang berarti bahwa laki-laki dan apa pun yang mereka lakukan lah yang menjadi fokus perhatian. Hal ini dikarenakan menurut kultur patriarki, pengalaman dan kehidupan laki-laki merepresentasikan pengalaman seorang manusia yang utuh. Dalam kehidupan sehari-hari pun, fokus perhatian terhadap laki-laki dapat ditemui, misalnya bagaimana laki-laki mendominasi percakapan dengan cara bicara lebih banyak (daripada perempuan), lebih sering menginterupsi pembicaraan, hingga mengendalikan topik dan arah pembicaraan (Johnson, 2005: 10-12).Obsesi untuk memegang kendali (the obsession with control) merupakan karakteristik selanjutnya dari paham patriarki. Kontrol atau kendali merupakan elemen penting dalam patriarki dikarenakan paham patriarki adalah sistem di mana di dalamnya terdapat hak-hak istimewa yang diberikan pada salah satu kelompok. Dalam praktiknya, hak-hak istimewa tersebut menempatkan salah satu kepompok dalam kedudukan yang tinggi dan mengopresi kelompok lain yangtidak memperoleh hak istimewa tersebut. Dengan kata lain, kelompok superior mempertahankan posisi dan hak istimewanya dengan cara mengontrol kelompok lainnya, misalnya kaum laki-laki melindungi dan mempertahankan kedudukan dan hak istimewa yang diberikan padanya dengan cara mengendalikan para perempuan di sekitarnya. Kemampuan mengendalikan ini telah menjadi standar kultural bagi manusia sebagai makhluk superior, yang pada akhirnya dipandang sebagai piranti bagi laki-laki untuk mengukuhkan dan membenarkan posisi dan hak istimewanya.Perlu juga diketahui bahwa sesungguhnya kendali atau kontrol tidaklah bersifat buruk dan tidak dengan sengaja bertujuan untuk mengopresi. Dengan melakukan pengendalian, manusia mampu menciptakan keteraturan dari situasi chaos dan melindungi diri dari ancaman-ancaman terhadap eksistensinya. Namun, di bawah kekuasaan paham patriarki, kemampuan mengendalikan tersebut bukan lagi dianggap sebagai lambang dari esensi manusia sebagai makhluk hidup, melainkan berubah menjadi begitu dihargai dan didambakan hingga menimbulkan obsesi dalam tingkat ekstrim yang membuat kehidupan sosial menjadi sangat menekan (Johnson, 2005: 14-15).Empat karakteristik patriarki di atas dapat ditemukan pada banyak praktik-praktik sosial. Ideologi son preference, fatherhood, dan kecerdasan laki-laki termasuk dalam praktik sosial bersifat patriarkis karena ketiganya memiliki karakter yang sama dengan karakteristik patriarkis yang digagas oleh Johnson.Son preference memiliki karakteristik patriarki, yaitu male centeredness. Dia dijalankan dengan memusatkan pada apa yang diasumsikan dapat dilakukan oleh laki-laki. Male centeredness yang memusatkan perhatian pada apa yang diasumsikan dapat dilakukan oleh laki-laki sebagai karakteristik son preference dapat terlihat pada faktor ekonomi son preference, yaitu anggapan bahwa anak laki-laki mampu menyokong orangtua dan keluarga secara finansial serta anak laki-laki yang juga dinilai lebih potensial dan menguntungkan sebagai tenaga kerja.Selain son preference, praktik patriarkis di masyarakat juga tampak dalam pandangan yang menempatkan sosok ayah (laki-laki) sebagai figur pemegangotoritas. Konsep fatherhood memiliki karakteristik yang sama dengan karakteristik patriarki, yaitu male dominated dan obsesi terhadap kendali (obsession with control).Ideologi fatherhood atau kebapakan memiliki karakter male dominated, yang artinya sebagian besar posisi-posisi dengan otoritas tinggi biasanya dipegang atau diduduki oleh, bahkan seolah diperuntukkan bagi, laki-laki. Mulai dari lingkup keluarga inti yang sempit hingga cakupan negara, laki-laki hampir bisa dipastikan menjabat sebagai pemegang kedudukan tertinggi. Karakteristik lain ideologi fatherhood yang masih cukup berkaitan dengan karakter male dominated ini adalah obsesi terhadap kendali. Sebagai kelompok yang beruntung dikarenakan hak-hak istimewa yang dialamatkan kepadanya, menyebabkan kaum laki-laki menempati posisi yang menjadikan mereka superior terhadap kelompok lainnya, terutama perempuan. Dengan status yang lebih superior tersebut, maka kaum laki-laki pada akhirnya memiliki keleluasaan untuk mengendalikan kelompok inferior lainnya. Pengendalian tersebut dilakukan terutama sebagai upaya untuk mempertahankan dan melindungi hak-hak istimewa mereka dari siapapun atau apapun yang mungkin mengancamnya. Kemampuan untuk mengendalikan telah menjadi standar kultural bagi makhluk hidup superior, yang kemudian digunakan sebagai piranti oleh laki-laki untuk mengukuhkan dan membenarkan hak dan posisi istimewa mereka (Johnson, 2005: 14).Kode ideologis kecerdasan laki-laki juga bagian dari praktik yang bersifat patriarkis. Dia memiliki karaktersitik patriarki, sama seperti dua kode ideologis yang telah diuraikan sebelumnya. Karakteristik patriarki yang melekat pada konsep kecerdasan laki-laki sendiri adalah male identified.Kecerdasan, atau intelligence dalam bahasa Inggris, merupakan hasil kombinasi dari rasionalitas maskulin (masculine rationality) dengan keberhasilan sosial (social success) (Raty dan Snellman, 1995: 2). Pada kenyataannya, rasionalitas bukanlah konsep yang bersifat netral-jender, walau banyak orang masih mengira demikian. Justru sesungguhnya yang selama ini dikenal sebagai rasionalitas a la Barat adalah rasionalitas maskulin (Ross-smith dan Kornberger, 2004: 282). Ross-Smith dan Kornberger juga mencantumkan dalam tulisanmereka tentang penggunaan akal pikiran (sebagai ciri dari sifat rasional) yang telah diasosiasikan dengan laki-laki dan maskulinitas sejak zaman Yunani Kuno. Asosiasi di antara keduanya masih terus berlangsung di masa kini, sehingga dalam kehidupan sehari-hari di zaman sekarang, konsep mengenai akal pikiran dan rasionalitas sesungguhnya memiliki konotasi maskulin. Mengasosiasikan rasionalitas dengan laki-laki dan/atau maskulinitas merupakan salah satu aspek dari male identified, di mana gagasan kultural mengenai laki-laki ideal telah menjelma menjadi nilai-nilai inti masyarakat secara keseluruhan (Johnson, 2005: 7). Salah satu kualitas yang telah diidentifikasi sebagai kualitas laki-laki ideal tersebut adalah penggunaan logika dan rasionalitas.KesimpulanBerdasarkan hasil temuan penelitian dan analisis yang telah dilakukan, kesimpulan yang bisa ditarik dari penelitian ini, yaitu:1. Iklan bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak menampilkan maskulinitas laki-laki dengan cara melekatkan peran, sifat, maupun karakteristik, seperti:1.1. Memosisikan laki-laki dewasa dalam peran ayah dan/atau suami yang memiliki kemampuan dalam menyelesaikan masalah atau konflik, memberi solusi, serta tampil sebagai pemimpin yang dipatuhi1.2. Menampilkan beberapa laki-laki dewasa yang sedang aktif berkarya di lingkungan kerja sebagai pekerja di sebuah pabrik (area publik), dengan posisi mulai dari staf di gudang hingga peneliti produk di laboratorium1.3. Menjadikan laki-laki dewasa sebagai sumber informasi, baik dengan menjadi duta produk maupun voice-over dalam iklan, yang tugas utamanya adalah mendeskripsikan keunggulan, karakteristik, dan cara penggunaan produk kepada khalayak produk tersebut, yang umumnya adalah perempuan dewasa2. Pemberian setiap peran dan karakteristik tersebut kepada laki-laki dewasa dalam iklan produk bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuciperalatan makan dan masak mengandung makna yang lebih mendalam daripada sekadar peran yang dimainkan dalam suatu karya fiktif (iklan). Dengan menyandangkan peran sebagai suami/ayah, pekerja yang giat mencari nafkah, serta informan yang menguasai informasi pada aktor laki-laki, membuat mereka tampak berada pada posisi dominan dan lebih superior dibandingkan lawan mainnya, yaitu perempuan dan anak-anak3. Kedudukan lebih dominan dan superior yang dimiliki oleh laki-laki seperti ditampilkan dalam iklan tersebut dikarenakan adanya ideologi patriarki yang berpihak dan memberi hak-hak istimewa pada laki-laki. Ideologi patriarki ini hidup lestari di masyarakat melalui berbagai praktiknya, yaitu son preference, fatherhood, dan gagasan tentang kecerdasan dan rasionalitas sebagai kualitas alami laki-laki.DAFTAR PUSTAKABarker, Chris. (2005). Cultural Sudies: Teori dan Praktik. Yogyakarta: PT. Bentang Pustaka.Berger, Arthur Asa. (2010). The Object of Affection: Semiotics and Consumer Culture. New York: Palgrave Macmillan.Budiman, Kris. (2011). Semiotika Visual: Konsep, Isu, dan Problem Ikonisitas. Yogyakarta: Jalasutra.Bungin, Burhan. (2001). Imaji Media Massa: Konstruksi dan Makna Realitas Sosial Iklan Televisi dalam Masyarakat Kapitalistik. Yogyakarta: Penerbit Jendela.Bungin, Burhan. (2005). Analisis Data Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.Burton, Graeme. (2008). Yang Tersembunyi di Balik Media: Pengantar Kepada Kajian Media. Yogyakarta: Jalasutra.Chandler, Daniel. (2007). Semiotics: The Basics (2nd ed.). New York: Routledge.Cornwall, Andrea dan Nancy Lindisfarne (Eds.). (1994). Dislocating Masculinity: Comparative Ethnographies. New York: Routledge.Danesi, Marcel. (2010). Pesan, Tanda, dan Makna: Buku Teks Dasar Mengenai Semiotika dan Teori Komunikasi. Yogyakarta: Jalasutra.Denzin, Norman K. dan Yvonna S. Lincoln (Eds.). (2005). The Sage Handbook of Qualitative Research (3rd ed.). Thousand Oaks, California: Sage Publications.Donovan, Josephine. (2006). Feminist Theory: The Intellectual Traditions (3rd ed.). The Continuum International Publishing.Fiske, John. (1987). Television Culture: Popular Pleasures and Politics. New York: Routledge.Fiske, John. (2007). Cultural and Communication Studies: Pengantar Paling Komprehensif. Yogyakarta: Jalasutra.Fletcher, Winston. (2010). Advertising: A Very Short Introduction. New York: Oxford University Press.Guba, Egon G. dan Yvonna s. Lincoln. (1994). Competing Paradigms in Qualitative Research. Dalam N. Denzin dan Y. Lincoln (Eds.), Handbook of Qualitative Research (1st ed.) (105-117). California: Sage Publications.Goddard, Angela. (1998). The Language of Advertising. New York: Routledge.Hall, Stuart (Ed.). (1997). Representation: Cultural Representations and Signifying Practices. Sage Publications.Iriantara, Yosal. (2009). Literasi Media: Apa, Mengapa, Bagaimana. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.Johnson, Allan G. (2005). The Gender Knot: Unraveling Our Patriarchal Legacy (Revised and Updated Edition). Philadelphia: Temple University Press.Kasiyan. (2008). Manipulasi dan Dehumanisasi Perempuan dalam Iklan. Yogyakarta: Penerbit Ombak.Malti-Douglas, Fedwa (Ed.). (2007a). Encyclopedia of Sex and Gender Volume I. Macmillan Reference USA.Malti-Douglas, Fedwa (Ed.). (2007b). Encyclopedia of Sex and Gender Volume II. Macmillan Reference USA.Murray, Mary. (1995). The Law of the Father? Patriarchy in the Transition from Feudalism to Capitalism. New York: Routledge.Neuman, W. Lawrence. (2007). Basics of Sosial Research: Qualitative and Quantitative Approaches (2nd ed.). New York: Pearson.Noviani, Ratna. (2002). Jalan Tengah Memahami Iklan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Pease, Allan dan Barbara Pease. (2004). The Definitive Book of Body Language. Pease International.Pilcher, Jane dan Imelda Whelehan. (2004). Fifty Key Concepts in Gender Studies. Thousand Oaks, California: Sage Publications.Richmond-Abbott, Marie. (1992). Masculine and Feminine: Gender Roles Over The Life Cycle (2nd ed.). McGraw-Hill, Inc.Rustan, Surianto. (2009). Mendesain Logo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.Saptari, Ratna dan Brigitte Holzner. (1997). Perempuan, Kerja, dan Perubahan Sosial: Sebuah Pengantar Studi Perempuan. Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti.Schement, Jorge Reina (Ed.). (2002). Encyclopedia of Communication and Information Volume I. Macmillan Reference USA.Talbot, Mary. (2007). Media Discourse: Representation and Interaction. Edinburgh University Press.Thompson, Roy dan Christoper J. Bowen. (2009). Grammar of the Shot (2nd ed.). Focal Press.Webb, Jen. (2009). Understanding Representation. Thousand Oaks, California: Sage Publications.Widyatama, Rendra. (2007). Pengantar Periklanan. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher (Kelompok Penerbit Pinus).Wood, Julia T. (19940. Gendered Media: The Influence of Media on Views of Gender. Dalam Julia T. Wood, Gendered Lives: Communication, Gender, and Culture (231-244). Wadsworth Publishing.JurnalConnell, R.W. (1996). Teaching The Boys: New Research on Masculinity, and Gender Strategies for Schools. Teachers College Record, 98(2): 206-235.Koller, Veronika. (2008). ‘Not Just a Colour’: Pink as a Gender and Sexuality Marker in Visual Communication. Visual Communiaction, 7(4): 395-423.Nafajian, Maryam dan Saeed Ketabi. (2011). Advertising Social Semiotic Representation: A Critical Approach. International Journal of Industrial Marketing, 1(1): 63-78. Dalam http://faculty.washington.edu/thurlow/com210b/readings/koller(2008).pdf. Diunduh pada 29 Januari 2013 pukul 11.15.Prentice, Deborah A. and Erica Carranza. (2002). What Women and Men Should Be, Shouldn’t Be, Are Allowed to Be, And Don’t Have to Be: The Contents of Prescriptive Gender Streotypes. Psychology of Women Quarterly, 26: 269-281. Dalam http://psych.princeton.edu/psychology/research/prentice/pubs/Prentice%20Carranza.pdf. Diunduh pada 3 Maret 2012 pukul 13.50 WIB.Ross-Smith, Anne dan Martin Kornberger. (2004). Gendered Rationality? A Genealogical Exploration of the Philosophical and Sociological Conceptions of Rationality, Massculinity, and Organization. Gender, Work, and Organization, 11(3): 280-305. Dalam http://www.martinkornberger.com/includes/04gender.pdf. Diunduh pada 8 Mei 2013 pukul 15.37.Sacristan, Marisol Velasco. (2009). Overt-Covertness in Advertising GenderMetaphors. Journal of English Studies, 7: 111-148.Sultana, Abede. (2010). Patriarchy and Women’s Subordination: A Theoretical Analysis. The Arts Faculty Journal Volume 4 July 2010- June 2011: 1-18. Dalam http://bdresearch.org/home/attachments/article/nArt/A5_12929-47213-1-Pb.pdf. Diunduh pada 21 Mei 2013 pukul 12.06.Tsai, Wan-Hsiu Sunny dan Moses Shumow. (2011). Representing Fatherhood and Male Domesticity in American Advertising. Interdisciplinary Journal of Research in Business, 1(8): 38-48. Dalam http://idrjb.com/articlepdf/idrjb8n5.pdf. Diunduh pada 18 Maret 2012 pukul 15.10.Tesis, Disertasi, Laporan PenelitianCochran, Susan Sims. (2009). Exploring Mascilinities in the United States and Japan. Tesis. Kennesaw State University. Dalam http://digitalcommons.kennesaw.edu/etd/53. Diunduh pada 30 April 2012 pukul 11.38.Das Gupta, Monica, dan kawan-kawan. (2002). Why is Son Preference so Persistent in East and South Asia? A Cross-country Study of China, India, and the Republic of Korea. Laporan Penelitian. The World Bank. Diunduh pada 9 April 2013 pukul 14.52.De Camargo, Camilla. (2012). The Police Uniform: Power, Authority, and Culture. Disertasi. University of Salford. Dalam http://www.internetjournalofcriminology.com/DeCamargo_The_Police_Uniform_IJC_Oct_2012.pdf. Diunduh 23 Januari 2013 pukul 10.27.Eklund, Lisa. (2011). Rethinking Son Preference: Gender, Population Dynamics, and Social Change in the People’s Republic of China. Disertasi. Lund University. Dalam http://lup.lub.se/luur/download?func=downloadFile&recordOld=1950819&fileOld=1951084. Diunduh pada 9 April 2013 pukul 14.52.Nilsson, Marie. (2004). The Paradox of Modernity: A Study of GirlDiscrimination in Urban Punjab, India. Tesis. Lund University. Dalam http://www.ekh.lu.se/publ/mfs/9.pdf. Diunduh pada 13 November 2012 pukul 11.57.Nixon, Elizabeth, Padraic Whyte, Joe Buggy, Sheila Greene. (2010). Sexual Responsibilty, Fatherhood, and Discourses of Masculinity among Socially and Economically Disadvantaged Young Men in Ireland. Laporan Penelitian. Crisis Pregnancy Agency. Diunduh pada 19 April 2013 pukul 18.00.Tadpikultong, Supavee. (2008). The Representation of Different Genders in Product Advertising: Comparison of TV Advertisements in Thailand and the United Kingdom. Disertasi. Dalam http://edissertations.nottingham.ac.uk/2038/1/08MSceexst1.pdf. Diunduh pada 14 April 2012 pukul 15.24.Seminar/WorkshopRaty, Hanu dan Leila Snellman. (1995). On the Social Fabric of Intelligence. Makalah. Dipresentasikan pada The Symposium of Social Representations in the Northern Context di Mustio, Finlandia (22-26 Agustus): 1-9.Sumber-sumber lainJally, Sut. Advertising, Gender, and Sex: What’s Wrong with a Little Objectification?. Dalam https://mediasrv.oit.umass.edu/~sutj/Objectification.pdf. Diunduh pada 20 September 2012.http://en.wikipedia.org/wiki/Polo_shirt.http://id.wikipedia.org/wiki/Edwin_Lau.http://teukuwisnu.com/bio.Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan. Dalam http://sdm.ugm.ac.id/main/sites/sdm.ugm.ac.id/arsip/peraturan/UU_1_1974.pdf. Diunduh pada 14 April 2012.
Hubungan Daya Tarik Endorser dan Citra Merek dengan Minat Beli Wardah Cosmetics Nofita Fatmawati; Hedi Pudjo Santosa; Djoko Setyabudi
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKJudul Skripsi : Hubungan Daya Tarik Endorser dan Citra Merek dengan Minat Beli Wardah CosmeticsNama : Nofita FatmawatiNim : D2C308011Jurusan : Ilmu KomunikasiMaraknya sertifikasi halal pada produk konsumsi (makanan) akhir-akhir ini mulai merambah pada produk kosmetik. Wardah Cosmetics merupakan kosmetika Indonesia yang sejak awal kemunculannya pada 1995 membawa label halal. Akan tetapi meskipun mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, Wardah Cosmetics bukan merupakan merek kosmetika yang penjualannya berada di peringkat treratas atau menjadi top brand pilihan konsumen. Iklan merupakan salah satu bentuk komunikasi antara produsen dengan target market. Iklan Wardah Cosmetics yang menggunakan endorser Inneke Koesherawaty diharapkan mampu menimbulkan minat beli sekailgus menguatkan citra merek Wardah sebagai kosmetika halal dan aman.Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan kepada pembaca tentang hubungan daya tarik endorser dan citra merek dengan minat beli Wardah Cosmetics. Penulis menggunakan teori respon kognitif yang menjelaskan tentang bagaimana minat beli produk didasari oleh sumber pesan (endorser) yang kemudian dapat membentuk sikap merek, dimana semakin positif sikap konsumen terhadap merek maka citra merek pun juga positif yang kemudian dapat menimbulkan minat beli terhadap produk.Uji korelasi diantara ketiga variable menunjukkan bahwa Nilai Kendall W adalah sebesar 0,980. Nilai signifikansi pengujian diperoleh sebesar 0,000 < 0,05. Hal ini berarti ada hubungan antara Daya tarik Endorser dan Citra Merek dengan Minat Beli Produk. Dengan demikian, hal ini sesuai dengan Hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara daya tarik endorser dan citra merek dengan minat beli produk Wardah Cosmetics.ABSTRACTSkripsi Title : Celebrity endorser attractiveness and Brand Image relatedto Buying Intentions of Wardah CosmeticsName : Nofita FatmawatiNIM : D2C308011Departement : Science of CommunicationsThe rise of the halal certification on consumer products (food) recently began to explore in cosmetic products. Wardah Cosmetics is a cosmetic Indonesia since its inception in 1995 to bring halal label. However, although the majority of Indonesia's population is Muslim, Wardah Cosmetics not a brand of cosmetics whose sales ranks treratas or a top brand consumer choice. Advertising is a form of communication between producers and target market. Wardah Cosmetics ads that use Inneke Koesherawaty endorser is expected to generate interest in purchasing sekailgus reinforce brand image Wardah as halal and safe cosmetics.This study aims to explain to the reader about the relationship endorser attractiveness and image of the brand by buying interest Wardah Cosmetics. The author uses the theory of cognitive response that explains how interest in buying products based on message source (endorser) which then can form brand attitudes, which increasingly positive consumer attitudes toward the brand were also positive brand image that can then lead to interest in buying the product.Correlation among the three variables showed that the value is equal to 0.980 W Kendall. Values obtained by testing the significance of 0.000 <0.05. This means that there is a connection between the endorser and the appeal of the Brand Image Buy Interests Products. Thus, it is in accordance with the hypothesis that there is a relationship between the endorser attractiveness and image of the brand with buying interest Wardah Cosmetics products. HUBUNGAN DAYA TARIK ENDORSER DAN CITRA MEREK DENGAN MINAT BELI WARDAH COSMETICSPENDAHULUANSertifikasi halal pada produk konsumsi saat ini semakin marak tidak hanya di negara-negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Di benua Eropa pun saat ini juga sudah mulai diterapkan pelabelan halal pada produk konsumsi. Produk kosmetika merupakan salah satu produk yang juga banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Meskipun bukan produk konsumsi yang berupa makanan, akan tetapi pemakaian kosmetik juga diserap oleh tubuh melalui kulit. Wardah Cosmetics merupakan kosmetika asli Indonesia yang sejak awal kemunculannya pada tahun 1995 sudah mencantumkan label halal dan aman dari MUI dan BPOM. Meskipun demikian, penjualan Wardah Cosmetics tidak terlalu bagus, karena tidak dapat menjadi top brand ataupun kosmetika terlaris di Indonesia, padahal mayoritas penduduk di Indonesia merupakan muslim.Pertumbuhan indoustri kosmetik di Indonesia cukup pesat. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya produsen kosmetik yang muncul dipasaran. Bahkan menurut Wiyantono, selaku ketua bidang perdagangan persatuan perusahaan dan asosiasi kosmetika Indonesia (Perkosmi) proyeksi penjualan kosmetik semester I cukup baik, naik 14,9% secara tahunan, (http://www.indonesiafinancetoday.com).Wakil Direktur LPPOM MUI Bidang Auditing, Ir. Muti Arintawati, M.Si mengungkapkan, berdasarkan asalnya, kosmetika dapat dikategorikan berasal dari beberapa sumber bahan, yaitu tumbuhan, hewan, sintetik kimia, mikroba dan manusia. Dilihat dari sumber asalnya tersebut, ada beberapa bahan yang menjadi titik kritis pencemaran bahan haram dalam kosmetika, bahkan ada pula bahan-bahan kosmetika yang jelas-jelas haram, seperti plasenta, protein hewani maupun media yang digunakan untuk menghasilkan senyawa tersebut bagi sebagian besar pengguna bersifat haram. (http://www.halalmui.org).Produsen kosmetik pun kemudian seolah berlomba untuk bisa memperoleh sertifikasi halal atas produknya. Jauh sebelum banyaknya produk kosmetik yang mempunyai labelhalal, Wardah Cosmetics muncul dengan karakteristik yang berbeda, yaitu dengan label halal dan aman. Wardah Cosmetics merupakan pioneer kosmetik halal dan aman yang sudah memiliki sertifikat halal dari MUI. Wardah Cosmetics mempunyai kurang lebih 200 jenis produk kosmetik yang tercatat mempunyai label halal dan aman dikonsumsi. Setelah label halal menjadi trend, produsen-produsen kosmetik yang sebelumnya tidak mempunyai sertifikat halal mulai berusaha untuk mendapatkan sertifikasi halal. beberapa produkkosmetik yang beberapa produknya sudah mendapatkan sertifikasi halal antara lain : La Tulipe, Ristra, Sari Ayu, Caring Colours Martha Tilaar, Purbasari (lulur), Pourvous dan Kanna (krim penghalus) (http://naturafia.blogspot.com/2012/06/kosmetik-halal.htmlPasar kosmetik di Indonesia semakin meningkat, persaingan antar produsen kosmetik pun juga semakin kompetitif untuk memperebutkan pasar. Menurut Direktur Marketing Martha Tilaar Group Samuel Pranata di sela pembukaan IFW 2010 di Jakarta, saat ini sejumlah produk lokal kalah bersaing dalam merebut pasar dalam negeri. Sebagai contoh, pangsa pasar produk kosmetik dan skincare Indonesia berada di bawah produk luar negeri. jawara untuk kategori kosmetik di Indonesia adalah Oriflame. Dengan sistem penjualan multilevel marketing, merek kosmetik asal Swedia itu berhasil menguasai pasar Indonesia. Dan Martha Tilaar sendiri berada di posisi 2 atau hanya menguasai 16% atau nomer dua di pasar Indonesia, sedangkan untuk produk skincare Martha Tilaar menguasai 6% atau berada di nomor empat setelah Unilever, P n G dan L’oreal. (http://www.beritasatu.com)Perumusan masalahMaraknya tren halal akhir-akhir ini membuat banyak produsen kosmetik untuk mendapatkan sertifikat halal dari MUI. Wardah kosmetik merupakan produk kosmetik yang sejak awal kemunculannya pada tahun 1995 sudah mempunyai label halal jauh sebelum tren halal marak akhir akhir ini. Meskipun demikian merek Wardah belum bisa menguasai pasar. Hal ini dapat di lihat dari urutan kosmetika yang paling laris di Indonesia. Bahkan Wardah Cosmetics tidak berada di urutan 3 besar ataupun 10 besar.Adakah hubungan antara daya tarik endorser dan citra merek dengan minat beli produk Wardah Cosmetics?Tujuan penelitianUntuk mengetahui hubungan antara daya tarik endorser dan citra merek dengan minat beli produk Wardah cosmetics?Penelitian ini menggunakan teori respon kognitif, Cognitive Response Model (CRM) adalah sebuah teori untuk mengenali proses kognisi pada iklan, melalui tahap pengolahan informasi (kognisi), perubahan sikap terhadap merek (afeksi) yang pada akhirnya menuju pada keputusan pembelian (konasi).Fokusnya adalah untuk menentukan jenis respon yang ditimbulkan oleh sebuah pesan iklan dan bagaimana respon ini berhubungan dengan sikap terhadap iklan, sikap terhadap merek, dan minat pembelian. Gambar 1 menggambarkan tiga kategori dasar respon kognitif yang telah diidentifikasi peneliti – product/message, source oriented, dan ad execution thought – dan bagaimana ketiganya mungkin berhubungan dengan sikap dan minat (attitudes and intentions).Penelitian ini menggunakan tipe penelitian eksplanatory (penjelasan) karena peneliti ingin menjelaskan pengaruh antara tiga variable penelitian, yaitu daya tarik endorser (X1), Citra merek (X2) sebagai variable bebas dan minat beli produk (Y) sebagai variable terikat.Data yang diperoleh langsung dari responden melalui kuesioner tentang daya tarik endorser, citra merek terhadap minat beli Wardah Cosmetics. Melalui wawancara survey dengan menggunakan kuesioner terhadap sampel penelitianPopulasi dari penelitian ini adalah wanita muslimah yang berstatus mahasiswi, karyawati dan ibu rumah tangga. Pemilihan objek disebabkan karena wanita merupakan sasaran produk Wardah Cosmetics. Karena tuntutan pekerjaan dan kehidupan sosial sangat penting bagi mereka. Kecenderungan itu membuat mereka mencari produk kecantikan yg cocok. Teknik pengambilan sampel menggunakan non-probability sampling.Teknik sampling yang digunakan adalah Accidental Sampling, Merupakan metode sampling yang memilih sampel dari orang atau unit yang paling mudah dijumpai atau diakses. Dimana pengambilan sampel didasarkan pada pemilihan sampel yang sesuai sebagai sumber data oleh peneliti. Metode ini digunakan karena peneliti tidak mempunyai data populasi.ISIWardah Cosmetics merupakan produsen kosmetik yang pertama kali mengusung tema halal dan aman. Muncul di Indonesia pada tahun 1995, didirikan oleh Nurhayati Subakat..Awalnya Wardah dipasarkan secara door to door, multi level marketing, hingga sekarang produknya mudah dijumpai di pasar. Saat ini sudah ada lebih dari 200 produk Wardah yang sudah mempunyai sertifikat halal, mulai dari perawatan wajah hingga perawatan tubuh.Iklan Wardah pada awal kemunculannya di bintangi oleh Marissa Haque, kemudian Inneke Koesherawaty dan sekarang sudah turut menggandeng Marshanda dan seorang desainer muda baju-baju muslimah, Dian Pelangi. Bahkan di beberapa iklan, Wardah tidak hanya menampilkan sosok muslimah yang diwakilkan oleh sosok yang menggunkaan jilbab Dari pemilihan bintang iklan dan penggunaan endorser pendukung, dapat dilihat bahwa Wardah sepertinya sedang melakukan perluasan segment. Karena sebelumnya Wardah Cosmetics terkesan hanya diperuntukkan bagi wanita dewasa saja. Iklan-iklan Wardah saat ini berbeda sekali dengan iklan Wardah yang terdahulu. Iklan Wardah Cosmetics saat ini terlihat lebih fresh dan menarik bersaing dengan iklan-iklan produk kosmetik lainnya.Khalayak sasaran penelitian ini merupakan wanita yang beragama islam. Mulai dari remaja yang diwakili oleh mahasiswi hingga wanita dewasa yang diwakili oleh wanita muslimah yang bekerja hingga ibu rumah tangga. Usia mereka berkisar antara 18-50 tahun.Hasil penelitian- Diperoleh hasil bahwa sebagian besar responden memberikan penilaian yang tinggi mengenai Daya Tarik Endorser yaitu sebanyak 75%, dan diikuti dengan 23%responden yang menilai sangat tinggi dan hanya 2% yang menilai bahwa Inneke Koesherawaty memiliki daya tarik yang rendah.- Kemudian sebagian besar responden memberikan penilaian yang tinggi mengenai Citra merek produk Wardah Cosmetic yaitu sebanyak 76%, dan didukung oleh 17% penilaian sangat tinggi dan hanya 7% responden yang menilai rendah.- Dan sebagian besar responden memberikan penilaian yang sangat tinggi mengenai minat beli yaitu sebanyak 87%, didukung oleh 9% menjawab memiliki minat beli yang tinggi dan hanya 1% responden yang menilai rendah dan 3% memiliki minat yang sangat rendah.Temuan penelitian- Korelasi antara Daya Tarik Endorser dengan Minat Beli Produk diperoleh sebesar 0,068. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang sangat rendah. Nilai signifikansi pengujian diperoleh sebesar 0,381 > 0,05. Hal ini berarti tidak ada hubungan antara Daya Tarik Endorser dengan Minat Beli Produk. Dengan demikian H1 yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara daya tarik endorser dengan minat beli tidak terbukti.- Korelasi antara Citra merek dengan Minat beli produk adalah sebesar 0,379. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang relative rendah. Nilai signifikansi pengujian diperoleh sebesar 0,000 < 0,05. Hal ini berarti ada hubungan positif antara Citra merek dengan Minat beli produk. Dengan demikian H2 dalam penelitian ini terbukti, yaitu bahwa terdapat hubungan antara citra merek dengan minat beli produk Wardah Cosmetics- Nilai Kendall W adalah sebesar 0,980. Nilai signifikansi pengujian diperoleh sebesar 0,000 < 0,05. Hal ini berarti ada hubungan antara Daya tarik Endorser dan Citra Merek dengan Minat Beli Produk. Dengan demikian, hal ini sesuai dengan H3 yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara daya tarik endorser dan citra merek dengan minat beli produk Wardah Csmetics.- Berdasarkan uji statistik didapati bahwa ternyata tidak terdapat hubungan antara daya tarik endorser dengan minat beli Wardah Cosmetics. Dengan demikian, secara statistik hipotesis di awal yang menyatakan “terdapat hubungan positif antara daya tarikendorser dengan minat beli Wardah Cosmetics”. Artinya, semakin tinggi daya tarik endorser maka akan semakin tinggi pula minat beli Wardah Cosmetics tidak dapat diterima. Dan tidak sesuai dengan teori respon kognitif yang digunakan dalam penelitian ini. Padahal menurut teori respon kognitif disebutkan bahwa terdapat hubungan antara sumber pesan yang diwakili oleh Endorser dengan minat beli. Hal ini dapat dijelaskan dengan beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya minat beli Wardah Cosmetics yang berkaitan dengan daya tarik endorser. Antara lain seperti banyaknya responden yang menilai bahwa Inneke Koesherawaty merupakan selebritis yang jarang tampil di Indonesia, dan jarang membintangi film/sinetron dan iklan islami. Selain itu Inneke Koesherawat dianggap tidak sesuai dengan usia target market Wardah Cosmetics dan dianggap tidak dapat memberikan rekomendasi kepada target market yang usianya lebih muda dari Inneke Koesherawaty. Bagi beberapa target market Wardah Cosmetics yang berusia di bawah Inneke Koesherawaty, mereka menilai bahwa Inneke tidak sesuai dengan usia mereka dan tidak dapat memberikan rekomendasi kepada mereka. Inneke hanya dinilai cocok oleh target market Wardah Cosmetics yang berusia kurang lebih sama dengan Inneke Koesherawaty.- Sesuai dengan hasil pengujian hipotesis yang menyebutkan bahwa tidak adanya hubungan antara daya tarik endorser dengan minat beli bisa jadi juga dikarenakan pemilihan daya tarik endorser yang dinilai tidak sesuai dengan konsumen Wardah Cosmetics. Pemilihan selebriti menjadi sesuatu yang penting. Selebriti harus mempunyai pengakuan yang tinggi, pengaruh yang sangat positif dengan ketepatan produk yang tinggi pula.- Kemungkinan yang terjadi pada penelitian ini, sesuai dengan hasil penelitian di lapangan adalah karena Inneke dinilai sudah jarang tampil di Indonesia, tidak sesering dulu. Dan lagi perubahan image Inneke yang dahulu kerap membintangi film-film yang bertolak belakang dengan penampilannya sekarang. Perubahan image tersebut bagi sebagian target market Wardah Cosmetics yang berusia sama dengan Inneke Koesherawaty mungkin belum bisa diterima. Sedangkan bagi target market yang lebih muda dianggap bahwa Inneke tidak sesuai dengan usia mereka sebagai target market Wardah Cosmetics.- Setelah dilakukan pencarian dan pengolahan data diperoleh hasil bahwa terdapat hubungan antara citra merek dengan minat beli produk Wardah Cosmetics. Dalam hipotesis disebutkan bahwa terdapat hubungan positif antara citra merek dengan minat beli Wardah Cosmetics yang artinya semakin tinggi/positif citra merek artinya semakin tinggi minat beli terhadap produk Wardah Cosmetics. Hal ini sesuai dengan temuan penelitian dan seseuai dengan teori respon kognitif yang menyebutkan bahwa sikap terhadap merek dapat memunculkan minat beli.- Jika sikap seorang konsumen terhadap suatu merek cenderung positif maka konsumen tersebut juga cenderung mempunyai citra yang positif terhadap merek tersebut, begitu pula sebaliknya. Maka sangat disayangkan ketika seorang selebritis yang sudah dipilih untuk menjadi endorser suatu produk kemudian tersangkut masalah atau tidak dapat mempertahankan citranya sehingga citra tersebut berdampak pada produk yang diiklankannya.Melalui hasil pencarian dan pengolahan data dalam penelitian ini ternyata membuktikan bahwa terdapat hubungan antara daya tarik endorser dan citra merek dengan minat beli Wardah Cosmetics. Meskipun pada hasil penelitian tidak didapati hubungan antara daya tarik endorser dengan minat beli akan tetapi setelah dimunculkan faktor lain selain daya tarik endorser yaitu citra merek dapat memunculkan minat beli produk Wardah Cosmetics.- Hal ini konsisten dengan Cognitive Respons Model yang menerangkan bahwa dalam untuk menimbulkan minat beli distimuli oleh beberapa tahap pengolahan informasi (kognisi), perubahan sikap terhadap merek (afeksi) yang pada akhirnya kemudian menuju pada keputusan pembelian (konasi). Konsumen akan mempunyai kecenderungan untuk memeilih sebuah merek saat dalam dirinya terkumpul sejumlah informasi positif tentang merek. Informasi-informasi tersebut disampaikan melalui sumber pesan yang diwakili oleh endorser iklan.. dimana citra endorser tersebut diharapkan mampu untuk memperkuat citra merek dibenak konsumen sehingga dapat mempersuasi target market untuk melakukan pembelian.PENUTUPIklan merupakan salah satu bentuk komunikasi pemasaran yang sering digunakan oleh produsen untuk mengenalkan produk hingga menarik minat beli konsumen. Dalam iklan, endorser lazim digunakan untuk dapat lebih mempersuasif minat beli konsumen. Penggunaan selebriti sebagai endorser sebuah produk diharapkan untuk dapat menjadi sebuah daya tarik tersendiri bagi konsumen., yaitu untuk menarik minat beli dan menguatkan citra produk di benak konsumen. Pemilihan endorser yang tidak sesuai dengan produk dapat berakibat pada citra produk itu sendiri, sehingga berdampak pada minat beli terhadap produk.KesimpulanDari hasil analisis data yang telah diuraikan pada bab sebelumnya dari penelitian ini, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :1. Hasil pengujian hubungan antara Daya tarik Endorser dengan Minat Beli Produk diperoleh tidak adanya hubungan yang signifikan,2. Hasil pengujian hubungan antara Citra merek dengan Minat beli produk menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan namun dalam kategori rendah3. Hasil pengujian hubungan Daya tarik Endorser dan Citra merek dengan Minat Beli Produk secara bersama-sama menunjukkan adanya hubungan yang signifikan.Saran1. Pemilihan selebriti sebaiknya dilakukan dengan terlebih dahulu mempertimbangakan faktor-faktor yang membentuk citra selebriti, latar belakang selebriti, reputasi selebriti, kesesuaian karakter selebriti dengan produk yang akan diiklankan.2. Pemilihan selebriti sebaiknya dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan survey terhadap masyarakat yang menjadi target market. Hal ini dimaksudkan agar pesan iklan tersebut nantinya sampai kepada target market.DAFTAR PUSTAKABuku :Assael, Henry, Consumer Behaviour, Houghtn Mifflin 2004Belch&Belch,2001 dalam Ardha, Ardha Berlian, Modu Manajemen Promosi, Universitas MercuBuana Jakarta 2007Kotler, Philips & Armstrong, Gary , Prinsip-Prinsip Pemasaran Edisi 12 Jilid 2 2008,Kotler, Philip,Manajemen Pemasaran Jilid 2, 2000Rangkuti, Fredy, Riset Pemasaran, Gramedia Pustaka Utama2009Royan, Frans M, Marketing Celebrities, Elex Media Komputindo 2005Setiadi, Nugroho J, Perilaku Konsumen, Kencana 2003Shimp, A Terence, Periklanan Promosi jilid 1, Erlangga 2001Tjiptono, Fandy, Strategi Pemasaran, Andy Offset 1997Widiyanto, Ibnu, Pointers Metodologi Penelitian, CV.Dikalia 2008Mowen, John C, Consumer Behaviour, Prentice Hall 1995Skripsi :Prita Ayu Nurastuti, Hubungan Daya Tarik Selebriti dan Atribut Produk terhadap Minat Beli Motor Yamaha Jupiter MX, 2009Rike Ayu Yuniar , Hubungan Daya Tarik Endorser iklan Vaseline Men dan Ekuitas MErek terhadap Minat Beli Konsumen, 2011Pengaruh Terpaan Iklan dan Citra Merek terhadap Loyalitas Knsumen Aqua, Aprilia Nur Prasiwi, 2012Hubungan Daya TArik EmosionalIklan Pond’s Flawless White dan Citra Merek terhadap Minat Beli Produk, Kurnianingrum Ayu Miranti, 2009Hubungan Daya Tarik Iklan Animasi dan Sikap Merek dengan Minat Beli Produk Molto Ultra, Rhima Sugi Prabandani, 2010Hubungan Terpaaan Iklan Televisi dan Tingkat Awareness terhadap Minat Beli Konsumen pada Produk L-Men, Elbwisza Hertanto, 2010Majalah :Majalah Medisina Edisi 4/Vo.II/Aptil-Juni2008 halaman 5Internet :http://www.indonesiafinancetoday.comhttp://naturafia.blogspot.com/2012/06/kosmetik-halal.htmlhttp://www.halalmui.orghttp://www.indonesiafinancetoday.comhttp://www.beritasatu.com
Hubungan Antara Kesesuaian Format Siaran Acara ZOOM dan Kredibilitas Penyiar dengan Loyalitas Mendengarkan Program Acara ZOOM di Radio Ichthus. Daniel Dwi Listantyo; Tandiyo Pradekso; Taufik Suprihatini
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.305 KB)

Abstract

Hubungan Antara Kesesuaian Format Siaran Acara ZOOM dan Kredibilitas Penyiardengan Loyalitas Mendengarkan Program Acara ZOOM di Radio Ichthus.AbstraksiRadio sebagai salah satu media massa yang dikonsumsi orang setiap hari baik untukmendapatkan informasi maupun hiburan. Di radio Ichthus terdapat program acara ZOOMdengan format siaran yang disesuaikan segmentasinya supaya menarik loyalitas pendengaruntuk mendengarkan program acara tersebut. Selain format siaran yang sesuai, kredibilitaspenyiar menjadi faktor lain untuk membuat program acara ZOOM lebih menarik dan lebihhidup. Penelititan ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kesesuaian format siaranprogram acara ZOOM dan kredibilitas penyiar dengan loyalitas mendengarkan program acaraZOOM di radio Ichthus. Peneliti menggunakan teori dari Geller yang menyatakan, Pendengaritu menyukai format. Format memberikan struktur, seperti dinding sebuah rumah. Orangorangingin sekali mengetahui siapa dan apa yang sedang mereka dengarkan, dan merekajuga ingin mengetahui waktu (Geller, 2007 : 35), Kita membentuk gambaran tentang dirikomunikator dari pengalaman langsung dengan komunikator itu atau dari pengalamanwakilan (vicarious experiences), misalnya karena sudah lama bergaul dengan dia dan sudahmengenal integritas kepribadiannya atau karena kita sudah sering melihat atau mendengarnyadalam media massa (Rakhmat, 2009 : 258).Populasi dari penelitian ini adalah anak muda beragama kristen yang berusia 15-25 di kotaSemarang. Penarikan sampel dilakukan secara aksidental sebanyak 50 orang. Uji hipotesisdilakukan dengan menggunakan uji statistik Kendal Tau untuk melihat hubungan antarakesesuaian format siaran (X1) dan kredibilitas penyiar (X2) dengan loyalitas mendengarkan(Y). Hasil pengujian hipotesis adalah hubungan antara kesesuaian format siaran programacara ZOOM dengan loyalitas mendengarkan menggunakan perhitungan Kendall Tau,diperoleh hasil bahwa nilai signifikansi sebesar 0,001 maka terdapat hubungan. Nilaikoefisien korelasi kesesuaian format siaran dengan loyalitas mendengarkan sebesar 0,428.Hal ini dapat dikatakan bahwa nilai signifikansi sebesar 0,001 < 0,01 yang berarti keduavariabel tersebut terdapat hubungan yang sangat signifikan dan hipotesis diterima. Dengandemikian, dapat dinyatakan bahwa “ada hubungan antara kesesuaian format siaran programacara ZOOM dengan loyalitas mendengarkan”. Sedangkan hubungan antara kredibilitaspenyiar dengan loyalitas mendengarkan menggunakan perhitungan Kendall Tau, diperolehhasil bahwa nilai signifikansi sebesar 0,189 maka tidak ada hubungan. Nilai koefisienkorelasi kredibilitas penyiar dengan loyalitas mendengarkan sebesar 0,174. Hal ini dapatdikatakan bahwa nilai signifikansi sebesar 0,189 > 0,05 yang berarti kedua variabel tersebuttidak signifikan dan hipotesis ditolak. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa “tidak adahubungan antara kredibilitas penyiar dengan loyalitas mendengarkan”.Keywords: kesesuaian, kredibilitas, loyalitasRelationship Between Compliance Programs Broadcast Format Zoom and Broadcaster Credibilitywith Loyalty Zoom Programs Listening On Radio Ichthus.AbstractionRadio as a mass media consumed a good person every day for information and entertainment. AtIchthus radio programs are broadcast format ZOOM with customized listener loyalty segmentationso interesting to listen to the event program. In addition to the appropriate broadcast format,broadcasters credibility is another factor to make the program more attractive ZOOM and morealive. This study was aimed to investigate the relationship between compliance programs broadcastformat ZOOM broadcaster with credibility and loyalty listening to radio programs in Ichthus ZOOM.Researchers used the theory of Geller stated, the audience liked the format. Format provides thestructure, such as the wall of a house. People want to know who and what they are hearing, andthey also want to know the time (Geller, 2007: 35), we form a picture of yourself communicatorsfrom direct experience with the communicator or representation of experience (vicariousexperiences), eg because it had long been hanging out with him and get to know the integrity of hispersonality or because we've seen or heard in the mass media (Rachmat, 2009: 258).The population is young people aged 15-25 who are Christians in the city of Semarang. Accidentalsampling conducted as many as 50 people. Hypothesis testing is done by using a statistical testKendal Tau to see the relationship between the suitability of the broadcast format (X1) and thecredibility of the broadcaster (X2) with loyalty listening (Y).Results of hypothesis testing is the relationship between the broadcast format compatibility withloyalty programs ZOOM listening using Kendall Tau calculation, the result that the significance valueof 0.001 then there is a relationship. Correlation coefficient values conformity with loyalty listeningto the broadcast format of 0.428. It can be said that the significance value of 0.001 <0.01 whichmeans that there is a relationship between the two variables are highly significant and thehypothesis is accepted. Thus, it can be stated that "there is a relationship between the broadcastformat compatibility with loyalty programs ZOOM listening". While the relationship betweencredibility and loyalty listening broadcasters using Kendall Tau calculation, the result that thesignificance value of 0.189 then there is no relationship. Correlation coefficient broadcaster withcredibility listening loyalty of 0.174. It can be said that the significance value of 0.189> 0.05, whichmeans that the two variables are not significant and the hypothesis is rejected. Thus, it can be statedthat "there is no relationship between the broadcaster with credibility listening loyalty".Keywords: suitability, credibility, loyaltyHubungan Antara Kesesuaian Format Siaran Program Acara ZOOM danKredibilitas Penyiar dengan Loyalitas Mendengarkan Program AcaraZOOM di Radio Ichthus.PENDAHULUAN : Peranan komunikasi massa melalui media massa pada saat sekarangsemakin penting dimana masyarakat berkaitan erat dengannya, media massa merupakansumber informasi bagi masyarakat. Dalam kehidupannya manusia tidak terlepas dari mediamassa yang setiap hari mengelilinginya. Orang cenderung menggunakan media seperti suratkabar, majalah, radio, televisi untuk menghubungkan diri mereka sendiri dengan masyarakatatau dengan kata lain untuk mendapatkan informasi tentang dunia diluar dirinya dan jugauntuk mendapatkan hiburan. Sama halnya dengan bentuk-bentuk media massa yang lainseperti koran, televisi, majalah, film. Radio sebagai salah satu media massa yang dikonsumsiorang setiap hari baik untuk mendapatkan informasi maupun hiburan. Radio termasuksebagai media mekanis, karena media ini menggunakan saluran tertentu secara teknis yaknipemancar. Melalui program-program siarannya, radio menjalankan fungsi-fungsi sebagaimedia massa. Fungsi media massa pada umumnya antara lain adalah memberi informasi,mendidik, membujuk dan memberi hiburan. Untuk media radio fungsi hiburan memiliki porsiyang lebih besar dibandingkan fungsi-fungsi yang lainnya. Jumlah media radio, khususnyaradio siaran swasta, sekarang ini semakin banyak dan semakin tersegmentasi. Seperti diSemarang, terdapat 5 radio rohani diantaranya : Ichthus FM, Goodnews FM, Agape FM,Rhema FM dan BeFM dengan segmentasi audiens merupakan umat Nasrani yang berbedabedadari segi usia, kelas ekonomi maupun jenis kelamin. Radio Ichthus adalah salah saturadio siaran swasta yang berdomisili di Semarang dengan segmentasi audiens umat Nasrani.Sebagai radio yang memiliki segmentasi audiens tertentu, maka program-program siaranyang disajikan disesuaikan terhadap pendengar. Seperti lagu-lagu yang diputar, topik-topikyang menjadi bahasan, informasi yang diberikan serta program siaran khusus, contohnyaacara siraman rohani yang menjadi mayoritas acara di radio Ichthus (radio rohani) dalammenjaga dan menumbuhkan iman para pendengar yang beragama Nasrani. Radio rohanimerupakan radio atau media yang dipakai sebagai perantara akan firman Tuhan bagi parapendengarnya yang kebanyakan umat Nasrani. Media ini mempunyai daya tarik tersendiridikalangan pendengar dikarenakan mempunyai kesamaan akan batin serta keyakinan.Terlebih lagi media radio rohani ini menjadi pilihan bagi umat Nasrani yang terlalu sibukakan pekerjaannya sehingga belum bisa meluangkan waktu untuk beribadah digereja. Selamaperjalanannya, pada tahun 2005 beberapa penyiar senior di radio Ichthus pindah ke radiorohani lain yang merupakan pesaing dari radio Ichthus itu sendiri, sehingga tidak jarangsebagian anggota monitor radio Ichthus yang dulu sering masuk on air sudah jarang sekaliterdengar saat ini dikarenakan mereka (pendengar) lebih mengikuti penyiar kesayangannyapergi. Radio Ichthus memperhitungkan jumlah anggota monitor yang ikut bergabung setiapbulannya, baik anggota monitor tersebut aktif atau pasif. Jumlah pendengar yang seringmasuk atau on air mempengaruhi pendapatan Ichthus melalui iklan karena pihak pengiklantidak mau mengiklankan produknya di radio yang sepi pendengar. Dengan adanya jumlahpendengar yang bergabung mempengaruhi pihak pengiklan untuk memakai jasa radioIchthus. ZOOM (Zona Orang-Orang Muda) merupakan sebuah program acara yang adadalam radio Ichthus. Fungsi dari acara ini yaitu berusaha mempererat hubungan anak mudaKristiani di kota Semarang dan sekitarnya bahkan siapa saja yang mendengarkan Ichthus.Selain tujuannya mempererat jalinan kasih, acara ini juga sebagai ajang untuk mengontrolkehidupan anak muda dalam bergereja serta kehidupan sosialnya, antara lain berupa prestasiatau segala hal yang berhubungan dengan luar gereja. Pendengar acara ini disebut Zoomers,karena acara ini bertema anak muda maka kata Zoomers yang berarti “pecinta ZOOM”dipakai untuk memberi semangat bagi para pecinta acara ini. Acara ZOOM hadir setiap hariSenin hingga Sabtu dengan tema yang berbeda-beda. Format siaran program acara ZOOMdisesuaikan dengan segmentasinya yaitu anak muda. Format siaran terbagi dalam 4 hal yaitu :acara, musik, informasi dan iklan yang ada pada sebuah acara. Acara ZOOM memiliki temayang yang berbeda dalam tiap harinya selama 6 hari mengudara. Acara yang membahasmengenai kehidupan anak muda, mengenai gaya berpakaian, teknologi, hobby serta prestasiyang diperoleh entah di akademik maupun di kalangan professional. Acara Zoom merupakanacara di radio Icthus yang memiliki rating tinggi dikarenakan feedback dari pendengar yangsangat antusias. Dibandingkan dengan acara lainnya, acara Zoom selalu mendapat respondalam bentuk telepon secara on air dan SMS terbanyak di setiap acara berlangsung. Karenaacara Zoom merupakan acara untuk anak muda, maka penyiarnya juga disesuaikan berusiasekitar 15-25 tahun. Penyiar Zoom yang telah melebihi usia 25 tahun di pindah ke acara yanglain, sehingga secara otomatis penyiar junior menggantikan posisi para seniornya. Dalampergantian beberapa penyiar senior dengan penyiar junior, acara Zoom pernah mengalamipenurunan feedback dalam bentuk telepon maupun SMS pada saat on air. Selama mengudarakredibilitas penyiar pada Acara Zoom di radio Ichthus juga sering mendapat kritikan daripendengar yang menelepon ke studio pada saat off air. Beberapa kritikan yang disampaikankepada sebagian penyiar antara lain : artikulasi kurang jelas, banyak bicara pada saat siaran /banyak bercanda, kurang pintar mengolah kata-kata, materi siaran kurang dipahami sehinggapenyampaian menjadi bias, terlalu cepat berbicara, lupa memutarkan lagu yang di request dll.Beberapa hal tersebut menjadi tolak ukur bagi Radio Ichthus sendiri untuk meningkatkankualitas penyiarnya. Meski program acara ZOOM di radio Ichthus memiliki rating tinggikarena feedback yang antusias, tidak berarti program acara tersebut akan selalu baik apabilaIchthus kurang jeli dan teliti dalam menjaga program acara di radio Ichthus. Dengan formatsiaran yang dimiliki program acara ZOOM bukan berarti acara ZOOM telah memenuhisemua keinginan audiens. Penurunan jumlah pendengar terjadi pada acara ZOOM di akhirtahun 2009 hingga 2011. Kenyataan ini dapat dilihat dari penerimaan SMS dan telepon secaraOn Air yang tidak stabil. Penyiar program acara ZOOM juga sering mendapat mendapatkritikan dari para pendengar, diantaranya terlalu banyak berbicara pada saat siaran,membahas topik-topik yang dirasa tidak perlu, banyak bercanda, kurang memahami materisiaran, kurang pintar mengolah kata-kata artikulasi kurang jelas, terlalu cepat berbicara lupamemutarkan lagu yang di-request dan lain-lain. Jika dilihat dari format siaran program acaraZOOM dan kredibilitas penyiar, mungkinkah ada ketidaksesuaian dengan kebutuhanpendengar sehingga mempengaruhi loyalitas? Dari hal tersebut, muncullah pertanyaanapakah ada hubungan antara kesesuaian format siaran program acara ZOOM dan kredibilitaspenyiar dengan loyalitas mendengarkan acara ZOOM di radio Ichthus?PEMBAHASAN : Komunikasi Radio, Para pelaku industri radio harus paham betulmengenai teori-teori komunikasi jika ingin menguasai pasar dan mendapat banyakpendengar. Pada intinya semua media termasuk radio adalah sarana penyampai pesan untukpara komunikan. Teori klasik yang berkatian dengan hal ini adalah sebuah teori yangdikemukakan oleh Aristoteles. Dia menyebutkan bahwa unsur sebuah komunikasi adalapembicara (speaker), dalam hal ini adalah penyiar (jika di media radio), kemudian pesantermasuk hasil menulis di radio (message), dan materi siaran serta pendengar (listener)(Prayudha, 2006 : 3). Kemudian sebuah teori yang umum dan sangat terkenal dari Lasswellyang menyebutkan bahwa who says what in which channel to whom with what effects. Modeltersebut lebih menitikberatkan pada kelompok khusus yang bertanggung jawab dalammelaksanakan fungsi korelasi. Misalnya, dalam lingkungan radio siaran, seorang penyiarmembantu mengkorelasikan atau mengumpulkan respon orang-orang teradap informasi baru.Jika teori tersebut diaplikasikan dalam siaran radio, model Lasswell terdiri dari atas unsurpengirim (who - komunikator/ penyiar) yang merangsang pertanyaan mengenai pengendalianpesan, unsur pesan (say what – pesan/ bahan) untuk analisis isi siaran radio, salurankomunikasi (in which cannel – media) yang dikaji dalam analisis media radio, unsurpenerima (to whom – receiver/ pendengar) yang dikaitkan dengan analisis khalayak, danunsur pengaruh (with what effect – influence akibat)yang ditimbulkan pesan komunikasi padapendengar (Prayudha, 2006 : 7). John R. Wenburg dan William W. Wilmot mengemukakantiga konseptualisasi komunikasi, yaitu komunikasi sebagai tindakan satu arah, interaksi (duaarah) dan transaksi. Komunikasi yang terjadi pada media, seperti radio dan televisimerupakan bentuk konseptualisasi komunikasi interaksi, yaitu komunikasi dengan suatuproses sebab akibat atau aksi-reaksi, yang arahnya bergantian (Mulyana, 2003 : 65). Sebagaicontoh di dunia radio, ketika penyiar memberikan topik atau bahasan kepada pendengarnya,hal itu menandakan bahwa penyiar sedang memberikan aksi atau sebab. Ketika pendengarmulai memberikan feedbacknya berupa SMS atau telepon, hal itu menandakan adanya reaksiatau akibat. Radio memiliki karakteristik yang unik. Meskipun hanya bisa didengarkanternyata efek mendengarkan radio tidak kalah dengan media audio visual yaitu televisi. Radiobisa menjadi media penyampaian pesan yang sangat efektif. Sculberg dalam bukunya RadioAdvertising – The Authoritative Handbook, mengatakan bahwa para ahli psikologi telahmenyimpulkan bahwa memori ingatan yang berasal dari aspek pendengaran manusia,ternyata jauh lebih kuat daripada ingatan yang diperoleh dari indera penglihatan ataupenciuman (Prayudha, 2006 : 12). Radio memiliki kekuatan yang dapat memunculkan theaterof mind bagi para pendengarnya. Radio dapat membuat pendengar merasa akrab dan dekatseperti seorang teman atau sahabat yang sedang mengajak bicara, juga dapat berinteraksimelalui SMS ataupun telepon. Memberi masukan ataupun sekedar membagi informasi danopini untuk pendengar lainnya dapat menjadi alternatif. Selain itu, juga dapat mendengarkanmusik favorit dari radio. Format Siaran Radio, Perkembangan media massa khususnyaradio yang semakin maju, merupakan tantangan bagi pelaku industri media massa untukmengembangkan media tersebut. Perkembangan ini kemudian menimbulkan persaingan yangketat sehingga konsekuensi bagi pelaku industri media adalah keharusan untuk menyajikanprogram acara dan lagu yang menarik dan diminati audien. Seiring dengan perkembanganjaman, saat ini industri radio sudah menjadi sebuah komoditi bisnis yang menguntungkan.Hal ini dikarenakan, radio memang dirancang untuk memiliki sebuah penataan format acaradan format musik yang sedemikian rupa, sehingga mampu menarik pendengar dari berbagaimacam latar belakang (Schament, 2002 : 811). Seperti yang sudah disinggung sebelumnya,bahwa format adalah penyajian program dan musik yang memiliki ciri-ciri tertentu olehstasiun radio. Secara lebih sederhana dapat dikatakan format stasiun penyiaran atau formatsiaran radio dapat didefinisikan sebagai upaya pengelola stasiun radio untuk memproduksiprogram siaran yang dapat memenuhi kebutuhan audiensnya (Morrisan, 2009 : 220). MenurutMorrisan dalam bukunya Pringle Starr McCavitt menjelaskan bahwa : the programming ofmost station is dominate by one principal content element or sound, known as format.Artinya, program sebagian besar stasiun radio didominasi oleh satu elemen isi atau suarayang utama yang dikenal dengan format (Morrisan, 2009 : 220). Geller mengatakan bahwapendengar itu menyukai format. Format memberikan struktur, seperti dinding sebuah rumah.Orang-orang ingin sekali mengetahui siapa dan apa yang sedang mereka dengarkan, danmereka juga ingin mengetahui waktu (Geller, 2007 : 35). Artinya, pendengar lebih nyamanmemilih radio yang memang sudah jelas format dan strukturnya. Siapa penyiar dan informasiapa yang disampaikan semuanya jelas dan mudah dimengerti. If you can create qualityprogramming, consistently stick with a host, program, or format over the time it takes to findits audience, you will likely have your own success story (Geller, 2007 : 5). Artinya, jikasebuah stasiun radio mampu menciptakan program yang berkualitas termasuk program yangkreatif di dalamnya, selain itu dengan penyiar yang konsisten dan format yang sesuai, makadengan sendirinya pendengar akan menjadi konsumen yang loyal bagi radio tersebut danakan memunculkan persepsi bahwa format siaran radio tertentu sesuai dengan dirinya.Kredibilitas Penyiar, Penyiar adalah orang yang bertugas membawakan atau memanduacara di radio, menjadi ujung tombak radio dalam berkomunikasi atau berhubungan langsungdengan pendengar. Keberhasilan sebuah program acara dengan parameter jumlah pendengardan pemasukan iklan utamanya ditentukan oleh kepiawaian penyiar dalam membawakansekaligus menghidupkan acara tersebut (Rosalia, 2010 : 28-29). Penyiar merupakan ujungtombak keberhasilan sebuah radio. Melalui seorang penyiar, radio menyampaikan visi misi,informasi dan berita untuk kebutuhan dan konsumsi pendengar. Ibarat bermain film, penyiarmerupakan aktor yang memerankan suasana sebuah siaran radio. Sebagai aktor, penyiar harusmengendalikan empat senjata utama, yaitu pikiran, perasaan, suara dan raga (Masduki, 2004 :117). Sementara itu, modal yang harus dimiliki seorang penyiar adalah suara, percaya diri,hobi dan bakat (ngobrol-ngobrol dan bakat menghibur), wawasan dan pergaulan luas,penguasaan studio yang baik (Ningrum, 2007 : 23-27. Selain itu, penyiar juga dituntutmemiliki beberapa keterampilan yang mendukung performa siarannya. Secara umum ada tigaketerampilan yang harus dikuasai para DJ dan penyiar. Pertama announcing skill,keterampilan menuturkan segala sesuatu menyangkut musik, kata atau lirik lagu yangdisajikan. Kedua, operating skill, yaitu keterampilan mengoperasikan segala peralatan siaran.Ketiga, musical touch, yaitu keterampilan merangkai musik dalam tatanan yang menyentuhemosi pendengar, bercita rasa dalam seleksi, harmonis dalam rangkaian (Masduki, 2004 :119). Sedangkan dari segi kepribadian, announcer atau penyiar perlu membentuk sikap(attitude), bahasa (language), memiliki wawasan professional (knowledge). Sikap yang harusdimiliki adalah (1) sopan di udara sesuai dengan kebutuhan situasi acara, (2) menghargaiwaktu, (3) bertanggung jawab, rendah hati, (4) tidak mengurai (Masduki, 2004 : 120). Uraiandiatas menunjukan bahwa banyak sekali yang harus dipersiapkan dan dimiliki oleh seorangpenyiar. Hal ini dikarenakan seorang penyiar memiliki tanggung jawab dan tugas yang besar.Departemen perburuhan AS dalam paparan seputar lowongan pekerjaan diradio siaran diAmerika Serikat menggambarkan penyiar radio sebagai sosok dengan banyak aktivitas atautugas kerjanya, beberapa tugasnya adalah sebagai berikut (Masduki : 2004 : 121-122).Loyalitas Mendengarkan, Loyalitas adalah komitmen pelanggan bertahan secara mendalamuntuk berlangganan kembali atau melakukan pembelian ulang produk atau jasa terpilih secarakonsisten di masa yang akan datang, meskipun pengaruh situasi dan usaha-usaha pemasaranmempunyai potensi untuk menyebabkan perubahan perilaku (Hartiti, 2003 : 129). Masihdalam buku yang sama, Griffin menjelaskan bahwa loyalitas lebih mengacu pada wujudperilaku dari unit-unit pengambilan keputusan untuk melakukan pembelian secara terusmenerus terhadap barang atau jasa suatu perusahaan yang terpilih. Sama halnya denganperusahaan radio, ketika ada seorang pendengar yang dengan setia mendengarkan dari waktuke waktu, hal itu merupakan indikasi seorang pendengar yang loyal. Hal Ini menunjukkanbahwa usaha maksimal yang dilakukan oleh radio berhasil. Produk yang diproduksi olehradio berupa informasi atau berita, penyiar yang menyenangkan dan musik yang disajikandalam suatu program mampu menarik hati para pendengar. Kunci keberhasilan sebuah radioadalah kelokalan itu sendiri, sehingga bisa mempengaruhi hati pendengarnya. Sifat radioyang sangat pribadi seakan-akan mampu me-maintainance atau melayani pendengar denganperhatian yang maksimal. Geller mengatakan, bahwa the key to personality radio is logically,having a personality. This means having rich, full life and drawing or all of your experiences.How you relate to life is how your audience will relate to you. The best broadcaster are greatoservers of life. They filter what they see going on around them through their unique creativeproses and send it back to the world. Artinya, kunci radio secara logika, memilikikepribadian. Hal ini berarti kaya makna, penuh arti kehidupan dan gambaran akan semuapengalaman Anda. Bagaimana Anda berhubungan dengan kehidupan adalah bagaimanaaudiens Anda akan berhubungan dengan Anda. Penyiar terbaik adalah pembagi pengalamandalam kehidupan. Mereka menyaring apa yang mereka lihat, atau yang terjadi di sekitarmereka melalui proses kreatif yang unik dan memberikan kembali pada dunia (Geller, 2007 :3). Radio mampu menjadi teman sejati bagi pendengar, membagikan banyak sekalipengalaman (penyiar) dan memberikan gambaran hidup yang kadang berarti bagi pendengar.Dengan ini akan ada kedekatan emosi antara radio dan juga pendengarnya. Terlebih lagidengan sajian lagu-lagu yang banyak sesuai dengan hati sehingga membuat pendengarnyamakin nyaman. Penelitian ini menggunakan tipe penelitian eksplanatori (penjelasan) karenamenjelaskan hubungan antara tiga variabel penelitian. Variabel itu meliputi kesesuaianformat siaran program acara ZOOM, kredibilitas penyiar dan loyalitas mendengarkanprogram acara ZOOM pada radio Ichthus. Populasi dalam penelitian ini adalah anak mudayang beragama Nasrani di kota Semarang berusia sekitar 15-25 tahun yang pernah atau seringmendengarkan siaran radio Ichthus terutama tentang program acara Zoom (Zona Orang-Orang Muda). Sampel yang diambil dalam penelitian ini sebanyak 50 orang, sesuai denganteori Gay & Diehl (1992 : 146) mengenai ukuran sampel yang dapat diterima. Merekamengemukakan bahwa untuk penelitian korelasi, secara minimum tolok ukurannya sekitar 30subyek sebagai obyek penelitian (Ruslan, 2003 : 47). Karena besarnya populasi yang tidakdapat dketahui secara pasti, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik nonprobability sampling, yaitu metode sampling yang tidak memberi kesempatan atau peluangyang sama bagi setiap unsur atau populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik pengambilansampel menggunakan metode sampling Accidental, merupakan teknik penentuan sampelberdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan/ incidental bertemu denganpeneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itucocok sebagai sumber data (Kriyantono, 2006 : 156). Adapun kriteria orang yang cocokmenjadi sampel adalah : beragama Kristen, berusia 15-25 tahun, pernah mendengarkanAcara Zoom di Radio Icthus. Uji Hipotesis, Analisis ini menggunakan tes statistik korelasiuntuk menguji apakah terdapat hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikatdengan menggunakan rumus Kendal Tau (τ) karena data yang digunakan memakai skalaordinal. (Sugiyono, 2006 : 237). Perhitungan menggunakan SPSS 18. Berdasarkan hasil ujistatistik hubungan antara kesesuaian format siaran program acara ZOOM dengan loyalitasmendengarkan menggunakan perhitungan Kendall Tau, diperoleh hasil bahwa nilaisignifikansi sebesar 0,001 maka terdapat hubungan. Nilai koefisien korelasi kesesuaianformat siaran dengan loyalitas mendengarkan sebesar 0,428. Hal ini dapat dikatakan bahwanilai signifikansi sebesar 0,001 < 0,01 yang berarti kedua variabel tersebut terdapat hubunganyang sangat signifikan dan hipotesis diterima. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa“ada hubungan antara kesesuaian format siaran program acara ZOOM dengan loyalitasmendengarkan”. Teori yang digunakan juga sesuai, seperti yang dikatakan Geller bahwapendengar itu menyukai format. Format memberikan struktur, seperti dinding sebuah rumah.Orang-orang ingin sekali mengetahui siapa dan apa yang sedang mereka dengarkan, karenapendengar lebih nyaman memilih radio yang memang sudah jelas format dan strukturnya.Terbukti bahwa format siaran program acara ZOOM yang bertema anak muda sesuai denganpendengar, mulai dari pembahasan acara, informasi, musik dan iklan disukai oleh pendengarsehingga membuat mereka (pendengar) loyal dalam mendengarkan program acara tersebutsecara bertahap atau berkali-kali. Sedangkan, berdasarkan hasil uji statistik hubungan antarakredibilitas penyiar dengan loyalitas mendengarkan menggunakan perhitungan Kendall Tau,diperoleh hasil bahwa nilai signifikansi sebesar 0,189 maka tidak ada hubungan. Nilaikoefisien korelasi kredibilitas penyiar dengan loyalitas mendengarkan sebesar 0,174. Hal inidapat dikatakan bahwa nilai signifikansi sebesar 0,189 > 0,05 yang berarti kedua variabeltersebut tidak signifikan dan hipotesis ditolak. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa“tidak ada hubungan antara kredibilitas penyiar dengan loyalitas mendengarkan”. Dengankata lain dalam penelitian ini, walaupun pendengar acara ZOOM telah mendengarkan secaralangsung ketika penyiar melaksanakan siaran, termasuk mengetahui kemampuan yangdimiliki oleh seorang penyiar mulai dari kompetensi, atraktif atau dinamis, kepercayaan dankesungguhan saat siaran, belum tentu menjamin mereka (pendengar) untuk loyal terhadappenyiar tersebut, melainkan pendengar loyal dalam mendengarkan program acara ZOOMkarena format siaran acara ZOOM telah sesuai dengan apa yang diinginkan pendengar, tidakpeduli siapapun penyiar yang membawakan program acara tersebut. PENUTUP : Karenaformat siaran program acara ZOOM ada hubungan dengan loyalitas mendengarkan maka halyang kurang sesuai dalam format siaran seperti iklan, untuk disesuaikan dengan segmentasiprogram acara ZOOM yaitu anak muda. Untuk itu kesimpulan dari pengujian hipotesis ialahTerdapat hubungan positif yang signifikan antara kesesuaian format siaran program acaraZOOM dengan loyalitas mendengarkan program acara ZOOM, hal tersebut ditunjukkandengan nilai signifikansi sebesar 0,001. Sehingga semakin sesuai format siaran program acaraZOOM maka pendengar semakin loyal mendengarkan program acara ZOOM di radioIchthus. Sedangkan hasil uji variable selanjutnya tidak terdapat hubungan yang signifikanantara kredibilitas penyiar dengan loyalitas mendengarkan program acara ZOOM, haltersebut ditunjukkan dengan nilai signifikansi sebesar 0,189 atau melebihi dari ketentuanstandar siginifikasi 0,05. Sehingga hipotesis ditolak, dan beberapa hal untuk menilai ataumeneliti mengenai kredibilitas penyiar bisa dijelaskan oleh sebab-sebab yang lain yang tidakditeliti dalam penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA : Bramson, Robert. 2005. CustomerLoyaliti : 50 Strategi Ampuh Membangun dan Mempertahankan loyalitas Pelanggan. Jakarta: PT Prestasi Pustaka. Geller, Valerie. 2007. Creating Powerful Radio : Getting, Keeping &Growing Audiences. Jordan Hill Oxford : Elsevier Inc. Gray, Frank dan James, Ross. 1997.Radio Programming Roles; FEBC Perspectives. Yaski. Hartiti. 2003. Loyalitas Pelanggan.Bandung : Yayasan Nuansa Cendikia. Kriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis RisetKomunikasi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Masduki. 2001. Jurnalistik Radio;Menata Profesionalisme Reporter dan Penyiar. Yogyakarta : LKIS. Masduki. 2004.Menjadi Broadcaster Profesional. Yogyakarta : LKIS. McQuail, Denis. 1987. TeoriKomunikasi Massa . Edisi Kedua. Jakarta : Erlangga. Morrisan, MA. 2009. ManajemenMedia Penyiaran : Strategi Mengelola Radio dan Televisi. Jakarta : Kencana Prenada MediaGroup. Ningrum, Fatmasari. 2007. Sukses Menjadi Penyiar, Scriptwriter dan Reporter Radio.Depok : Penebar Swadaya. Prayudha, Harley. 2004. RADIO; Suatu Penghantar untukWacana dan Praktik Penyiaran. Malang : Bayumedia Publishing. Prayudha, Harley. 2006.Radio : Penyiar It’s not just a talk. Malang : Bayumedia Publishing. Rakhmat, Jalaluddin.2009. Psikologi Komunikasi. Bandung : Remaja Rosdakarya. Rakhmat, Jalaluddin. 2007.Metodologi Penelitian Komunikasi. Bandung : Remaja Rosdakarya. Sumarwan, Ujang.2003. Perilaku Konsumen; Teori dan Penerapannya Dalam Pemasaran. Jakarta : GhaliaIndonesia. Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung:CV Alfabeta. Sunyoto, W. Daniels Handoyo. 1978. Seluk Beluk Programa Radio.Yogyakarta : Penerbitan Yayasan Kanisius. Vivian, John. 2008. Teori Komunikasi Massa.Jakarta : Kencana Prenada Media Group. Wardhana, Ega. 2009. Sukses Menjadi PenyiarRadio Profesional. Yogyakarta : CV Andi Offset.
Audit Media Relations Humas Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Tengah untuk Peningkatan Publisitas Lizzatul Farhatiningsih; Tandiyo Pradekso; Agus Naryoso
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.895 KB)

Abstract

Nama : Lizzatul FarhatiningsihNIM : D2C009011Judul : Audit Media Relations Humas Sekretariat Daerah ProvinsiJawa Tengah untuk Peningkatan PublisitasABSTRAKPenelitian ini dilatarbelakangi karena kurang berperannya Biro HumasSetda Jawa Tengah dalam melakukan fungsi kehumasan terhadap PemerintahProvinsi Jawa Tengah. Humas telah melakukan banyak kegiatan namun efeknyapada pemberitaan tentang Pemerintah Provinsi yang muncul belum terasa. Namunkesesuaian melakukan banyak kegiatan tersebut belum diimbangi denganpemberitaan-pemberitaan positif yang muncul di media massa baik cetak maupunelektronik. Hal tersebut menyebabkan terjadinya aksi di masyarakat yangmemperburuk citra Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.Metode yang digunakan adalah metode audit komunikasi. Tipe penelitianini adalah tipe penelitian deskriptif, di mana tipe penelitian ini terbatas pada usahamengungkapkan suatu masalah atau keadaan sebagaimana adanya dan bertujuanuntuk membuat deskripsi gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual, danakurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat, serta hubungan antara fenomena ataukegiatan yang dilakukan oleh Biro Humas Setda Provinsi Jawa Tengah yangberkaitan dengan media relations. Teknik pengumpulan data yang dipakai adalahteknik wawancara mendalam kepada delapan orang yang terdiri dari pimpinan danstaf Biro Humas serta wartawan baik dari media massa cetak maupun elektronikyang berkaitan dengan Humas.Dari hasil penelitian didapatkan hasil bahwa kinerja Humas Setda JawaTengah belum efektif. Kegiatan media relations yang dilakukan masih terbataspada kegiatan yang biasa dari tahun ke tahun mereka lakukan. Padahal,semestinya Humas mampu memahami, memiliki pengetahuan yang terusberkembang dan maju, serta melakukan lebih dari itu. Hal ini dikarenakanbanyaknya ketimpangan yang terjadi di Humas. Pemahaman mengenai mediarelations masih menitik beratkan pada fokus tujuan Humas saja yaitu untukmendapatkan publisitas, pemahaman mengenai tools media relations yang belumberkembang, belum adanya SDM yang kompeten dalam melaksanakan tugaspokok dan fungsi, minimnya anggaran, dan kewenangan yang terbatas membuatkinerja Humas menjadi kurang efektif. Dengan hasil audit komunikasi ini, pihakPemerintah Provinsi Jawa Tengah terutama Sekretariat Daerah Jawa Tengah perlumelakukan perbaikan terhadap fungsi maupun kewenangan Humas agar kinerjaHumas menjadi lebih efektif dan meningkatkan publisitas positif di media massa.Kata kunci: Audit Komunikasi, Media Relations, Public Relations, Publisitas.Nama : Lizzatul FarhatiningsihNIM : D2C009011Judul : Media Relations Audit of Public Relations in Region SecretariatCentral Java Province for Increasing The PublicityABSTRACTThis research is backgrounded of less contribution from Public Relations RegionSecretary Central Java Province when they do their function. Public Relationshave been doing many activities but the effect in news mass media about theGovernment of Central Java Province is nothing yet. However, doing moreactivity is not balance with appearing the good news in mass media, both printand electronic media. It causes many actions in society that make the bad imageof Government of Central Java Province.Communications audit methods is used in this research. Reseacher usesdescriptif research type that this research limited to the efforts to reveals aproblem or situation as it is and aims to create a picture or description of thepainting in a systematic, factual, and accurate information on the facts,characteristics, and relations between phenomena or activities conducted byPublic Relations in Region Secretariat Central Java Province related to mediarelations. In this research, used indepth interview technique to collect theinformation to eight people that consist of head, leader, staf of Public Relationeither reporters from print and electronic media.The outcomes from this research is the activity in Public Relations RegionSecretariat Central Java Province is not effective. Media relations activity thatconducted are limited to their annual activity. Besides, Public Relations should beable to understand, develop the knowledge, and do more than it. It is caused muchunbalances in Public Relations. Understanding of media relations is still focusedon the goal of Public Relations is only to get publicity, undevelop ofunderstanding media relations tools, nothing humans resources that competencewith main duty and functions of Public Relations, minimum budgeting andfacilities, and limited authority that makes the performance of Public Relations isnot effective. The outcome of this communication audit, Central Java Province,espescially Region Secretariat of Centra Java need an improvement in PublicRelations’function and competence. In order to make Public Relations’s task bemore effective and increasing positive publicity in mass media.Keywords: Communication Audit, Media Relations, Public Relations, Publicity.JURNALAudit Media Relations Humas Setda Jawa Tengah untukPeningkatan PublisitasLIZZATUL FARHATININGSIHD2C009011JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2013PENDAHULUANKeberadaan Public Relations atau Humas sangat dibutuhkan olehperusahaan-perusahaan maupun instansi pemerintah. Fungsi-fungsi dan tugastugasHumas sangat menunjang kelangsungan hidup dan mempengaruhi citra darisuatu instansi pemerintah. Humas merupakan suatu profesi dengan proseskomunikasi kepada publik atau dengan kata lain Humas menghubungkan antaralembaga/instansi dengan publiknya baik eksternal maupun internal. Dalamkonteks lembaga publik seperti pemerintah, peran melayani dan mengembangkandukungan publik guna mencapai tujuan organisasi merupakan hal yang sangatpenting. Pemberitaan yang beredar mengenai instansi pemerintah merupakansalah satu tanggung jawab besar bagi Humas.Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Tengah (Setda ProvJateng) merupakanunsur pembantu pimpinan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang dipimpin olehSekretaris Daerah, berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Gubernur.Sekretariat Daerah Provinsi bertugas membantu Gubernur dalam melaksanakantugas penyelenggaraan pemerintahan, administrasi, organisasi dan tata laksanaserta memberikan pelayanan administrasi kepada seluruh Perangkat DaerahProvinsi. Divisi Humas Setda Jateng bertugas memberikan informasi danpenjelasan mengenai kebijakan-kebijakan yang akan atau telah dilakukan olehpemerintah/instansi, menciptakan hubungan yang harmonis antara pemerintahdengan publiknya. Untuk dapat melakukan tugas-tugas tersebut Humas harusmelakukan berbagai macam kegiatan komunikasi yang berbeda untuk masingmasingpublik, baik internal maupun eksternal.Media massa memegang peran dalam tugas Humas tersebut karena mediamassa dapat menimbulkan kesadaran terhadap sesuatu, mempersuasi ataumengajak untuk melakukan hal tertentu, serta mengubah sikap, pendapat, atauperilaku seseorang. Menurut Wasesa dalam Political Branding and PublicRelations (2011 : 18) agar suatu citra sebuah merek baik komersial maupunpolitik dapat melekat di benak konsumen atau audiens, perlu dilakukanrehabilitasi setiap 3 bulan sekali agar loyalitas konsumen pun tercipta. Haltersebut dapat diartikan menjadi institusi pemerintah, khususnya Humas SetdaJateng perlu melakukan pembaharuan, pencerahan, analisis, atau evaluasi di setiap3 bulan untuk dapat mempertahankan loyalitas dalam hal ini adalah loyalitaspihak-pihak eksternal terhadap Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, seperti pers danmasyarakat.Pemerintah Provinsi Jateng yang dipimpin oleh Gubernur Bibit Waluyobanyak menuai prestasi selama melaksanakan tugas memimpin Jawa Tengah,akan tetapi, pemberitaan mengenai prestasi yang diraih oleh Pemerintah ProvinsiJawa Tengah tersebut rupanya tidak terlalu mendapat perhatian publik ketikamedia menyiarkan pemberitaan tersebut, justru beberapa kasus yang dialami olehPemerintah Provinsi Jawa Tengah baik Gubernur Bibit Waluyo besertajajarannyalah yang belakangan ini lebih menjadi sorotan dan kemudianberpengaruh terhadap sikap masyarakat dan opini masyarakat kepada pemerintah.Seperti kasus yang terjadi ketika Gubernur Bibit Waluyo memberikan pernyataanmengenai kesenian Jathilan atau jaran kepang dengan menyebut Jathilan sebagaikesenian terjelek di dunia.Kegiatan media relations yang selama ini telah dilakukan oleh HumasSetda Pemprov Jateng antara lain konferensi pers, press release, press luncheon,dan talk show. Selain itu ada pula anggaran APBD dengan jumlah yang cukupbesar yang diberikan kepada organisasi-organisasi wartawan Jawa Tengah, sertapembuatan Forum Komunikasi Wartawan Jawa Tengah yang dipimpin olehSekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah. Beberapa kebijakan dan kegiatantersebut merupakan upaya menjalin hubungan yang baik sehingga kiranya dapatmeningkatkan publisitas dan meminimalisir pemberitaan negatif di media massa.Tetapi, meskipun Humas Setda Jateng sudah melakukan berbagai kegiatan danupaya tersebut, pada kenyataannya pemberitaan mengenai Pemerintah ProvinsiJawa Tengah masih didominasi oleh munculnya pemberitaan yang negatif baik dimedia cetak maupun elektronik.Oleh sebab itu, yang kemudian menjadi pokok permasalahan adalahbagaimana kegiatan Media Relations Humas Sekretariat Daerah PemerintahProvinsi Jawa Tengah dalam meningkatkan publisitas?Penelitian ini diharapkan dapat memperdalam kajian Teori MediaRelations yang berkaitan dengan audit media relations serta diharapkanmemberikan kontribusi bagi Humas Setda Provinsi Jawa Tengah pada khususnyadan humas di seluruh instansi pemerintah daerah pada umumnya untukmenentukan langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk menjalin hubunganyang baik dengan media massa agar dapat meningkatkan publisitas instansitersebut. Penelitian ini mengambil pemikiran-pemikiran tentang media relationsIriantara, teori media relations Lesley suatu hubungan dengan media komunikasiuntuk melakukan publisitas atau merespon kepentingan media terhadap organisasidan berguna untuk memberikan informasi kepada masyarakat karena kaitannyadengan media massa dan pers selain itu juga bermanfaat untuk memperolehdukungan dan kepercayaan masyarakat. Kegiatan-kegiatan media relations antaralain, Press Conference, Press Tour, Press Reception, Press Briefing, PressStatement, Press Interview, Press Gathering, Press Release, Media Advisory,Press Kit, Press Room, Media List, Talkshow. Ada pula teori-teori tentang auditkomunikasi, Jane Gibson dan Richard Hodgetss (1991 : 453) dalam bukunyaOrganizational Communication: A Manajerial Perspective dalam Hardjana (2000: 10) yaitu suatu analisis yang lengkap atas sistem-sistem komunikasi internal daneksternal dari suatu organisasi.Audit public relations merupakan komponen reguler dari banyak programpublic relations. Mereka menyediakan data input bagi perencanaan programpublic relations pada masa mendatang dan membantu mengevaluasi efektivitaskerja sebelumnya. Agensi Joyece F.Jones dan Ruder Finn Rotmann yang dikutipBakin, Aronoff & Lattimore (1997 : 124) menjelaskan proses audit dalam empatproses :1. Mencari tahu apa yang “kita” pikirkan (finding out what “we” think)2. Mencari tahu apa yang “mereka” pikirkan (finding out what “they” think)3. Mengevaluasi kesenjangan sudut pandang di antara keduanya (Evaluatingthe disparity)4. Memberi Rekomendasi (Recomending)ISIPenelitian ini terbagai ke dalam dua bab pembahasan yang membahas mengenaikesesuaian kinerja Humas atau kegiatan-kegiatan media relations yang dilakukandengan konsep dan mencari tahu mengenai kebutuhan Humas dalam rangkapeningkatan kerja dan jika diperlukan perbaikan di dalamnya. Pembahasantersebut antara lain sebagai berikut :1. Pemahaman media relations : Humas Setda Jawa Tengah sendiri memahamimedia relations sebagai upaya menjalin hubungan baik dengan media massauntuk mempublikasikan kegiatan pimpinan daerah seperti Gubernur, WakilGubernur, Setda, dan lainnya kepada masyarakat sesuai dengan kedudukanHumas sebagai Kominfo, Komunikasi dan Informasi. Humas perlu jugamemahami tools media relations dan bahwa media relations merupakanupaya menjalin hubungan yang baik dengan wartawan serta bagaimanamenyampaikan informasi-informasi kepada masyarakat dengan tepat.2. Tujuan kegiatan media relations : bertujuan untuk menjalin hubungan yangbaik dengan media, bekerja sama, memaksimalkan publisitas dari kegiatankegiatanpara pejabat pimpinan daerah seperti Gubernur, Wakil Gubernur,Sekretaris Daerah dan Asisten Daerah. Humas seharusnya perlu memahamitujuan-tujuan kegiatan media relations yang lain, yaitu perlunya memperolehumpan balik dari masyarakat mengenai upaya dan kegiatanlembaga/organisasi yang telah dilakukan karena hal tersebut akan menjadisalah satu dasar bagi pemerintah untuk melakukan perbaikan-perbaikankinerja yang dilakukan.3. Target audience kegiatan media relations : menyasar seluruh media massabaik lokal maupun nasional dan baik cetak maupun elektronik yang memilikikredibilitas, dapat memberitakan suatu berita secara objektif, serta ikutmelakukan fungsi informatif dan edukatif kepada masyarakat. Humasseharusnya menerapkan absensi bagi wartawan yang hadir dalam setiapkegiatan yang dilaksanakan, karena hal tersebut merupakan salah satu carauntuk melakukan kontrol terhadap ketepatan sasaran Humas.4. Jenis kegiatan media relations : Hanya sedikit dari kegiatan media relationsyang diketahui dan dilakukan dengan baik oleh Humas. Humas kurangmemaksimalkan sebagian besar kegiatan media relations dan terlihat hanyasekedar formalitas dalam melaksanakannya. Banyak persiapan yang tidakdilakukan secara matang seperti persiapan tempat, waktu, yang lebihmengandalkan keseluruhan kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan secaraincidental. Perlu dipahami bahwa saat ini kegiatan media relations mulaiberkembang dan lebih beraneka ragam. Selain itu, Humas harus mengetahuikarakteristik dan perbedaan teknik pelaksanaan masing-masing kegiatanmedia relations. Anggaran dana dan fasilitas yang disediakan oleh pemerintahjuga bisa lebih dimanfaatkan untuk memaksimalkan kegiatan.5. Analisis Masalah : Pendekatan research maping media dengan melakukanmonitoring belum dapat dilakukan dengan baik oleh Humas karena saat iniyang dilakukan oleh Humas adalah sekedar melakukan kliping berita tanpamenganalisis, sehingga hal tersebut akan berdampak pada kurangmaksimalnya pelaksanaan respon krisis pemberitaan. Biro Humasmembutuhkan staf-staf yang lebih mengerti mengenai pekerjaan kehumasan.Bagaimanapun juga, Biro Humas harus melakukan maping media secaraperiodik dengan melakukan analisis pada pemberitaan-pemberitaan yang dikliping setiap harinya. Selain itu respon pada krisis pemberitaan juga harussegera dilakukan jika diperlukan. Humas harus memahami bahwa mapingmedia bukan hanya sekedar kliping, tetapi mengumpulkan pemberitaan, sertapembuatan analisis dari pemberitaan tersebut dan membuat kecenderungan isimasing-masing media massa secara periodik6. Indikator berita : Indikator berita yang diterapkan Humas yaitu visi misi daripemerintah rupanya belum dapat dimaksimalkan karena analisis berita sendiritidak dilakukan dengan baik. Humas harus memahami bahwa indikatorpemberitaan yang merupakan visi misi dari pemerintah menjadi salah satufaktor penentu bagaimana hasil dari maping media yang dilakukan olehHumas. Baik pimpinan maupun staf perlu menangani secara seriusterhambatnya proses maping media tersebut. Selain merupakan visi dan misi,harusnya Humas juga memiliki indikator-indikator tetap yang akan selaluberlaku meski terjadi pergantian pemerintahan sebagai tolok ukur mendasarpenilaian terhadap suatu berita.7. Budgeting kegiatan media relations : Perencanaan anggaran kegiatan mediarelations di Humas telah dilakukan namun memang masih kurang maksimal.Humas dalam melakukan budgeting perlu memperhatikan beberapa hal yaituperencanaan yang ditulis secara rinci dan lebih mendetail untuk anggaranbagi setiap kebutuhan yang mungkin diperlukan. Selain itu, dalam melakukanperencanaan anggaran seharusnya Humas juga mempertimbangkan danacadangan yang sekiranya dibutuhkan, terlebih jika terdapat wartawanwartawanyang memang meminta upah kepada Humas setelah melakukanpeliputan8. Time schedule : Humas tidak memiliki time schedule yang jelas denganalasan bahwa mereka bekerja incidental sesuai dengan kegiatan-kegiatanyang dilakukan oleh Gubernur yang tidak bisa direncanakan pada jauh harisebelumnya. Humas seharusnya membuat time table perencanaan suatukegiatan atau event yang akan diselenggarakan. Selain itu, pembagian kerjadalam setiap kegiatan juga harus diperjelas dengan membuat job descriptionyang lebih rinci bagi masing-masing orang karena selama ini terlihat ketidakteraturan koordinasi yang memang berjalan berdasarkan kebiasaan. Pimpinanjuga harus mengecek kesiapan staf dalam menangani kegiatan tersebut dariawal hingga evaluasi dilakukan.9. Strategi dan taktik : Humas masih mengandalkan sistem menghafal dankebiasaan dalam melakukan setiap kegiatan media relations. Oleh sebab itu,Humas perlu memiliki SOP secara tertulis yang menjadi pedoman pengerjaandari setiap kegiatan. Pembagian tugas kerja yang jelas juga harus diterapkandari awal perencanaan hingga evaluasi kegiatan. Sebagai pimpinan, KepalaBiro dapat menjadi fasilitator untuk saling tukar menukar pikiran danpendapat mengenai kinerja Humas antara bagian satu dengan yang lain agartidak terjadi pemikiran atau pemahaman yang subyektif. Selain itu, Humasjuga harus memahami bahwa pelaksanaan kegiatan kehumasan menyangkuthubungan antara instansi dengan pihak luar dalam hal ini adalah media.Humas harus memiliki cara untuk dapat memaksimalkan publisitas yangpositif dengan melakukan pendekatan dengan media.10. Pemilihan Tempat Pelaksanaan : Pemilihan tempat pelaksanaan yangmemang ikut menyesuaikan tempat kegiatan yang dilaksanakan pimpinandaerah pada saat itu memang sudah biasa dilakukan. Dengan begitu faktorkenyamanan wartawan memang cenderung dikesampingkan. Humasseharusnya menyelenggarakan kegiatan media relations dalam hal ini PressConference di tempat yang nyaman.11. Penanggungjawab Pelaksanaan : Kepala Biro Humas sebagaipenanggungjawab meskipun banyak menghabiskan waktu di luar ruangansetidaknya harus dapat melakukan monitoring setiap kegiatan dari paraKepala Bagian. Di sini peran pimpinan sangat dibutuhkan untuk memberikanpengarahan di mana masih banyaknya staf yang merasakan kebingungan dancenderung asal kerja sesuai dengan pemahaman subyektif mereka.12. Evaluasi : Evaluasi yang dilakukan oleh Humas yaitu check list kesesuaianrencana dan pelaksanaan yang meliputi pencapaian tujuan, narasumber, isimateri rencana anggaran, target yang datang serta rekomendasi. Humas sudahmemahami dan melakukan evaluasi pada keseluruhan hal-hal tersebut. Tetapi,dalam laporan pertanggungjawaban tahunan, evaluasi dari kekurangan tidakdicantumkan. Humas seharusnya merinci segala kekurangan dalampencapaian target dari setiap kegiatan media relations. Humas juga harusterbuka dengan pimpinan atas pencapaian dan kegagalan yang terjadi. Selainitu, Humas juga harus mengetahui bahwa evaluasi dilakukan setelah akhirkegiatan dan secara berkala yaitu tiga bulan sekali untuk dapat membuatrekomendasi bagi kegiatan yang akan dilaksanakan selanjutnya.13. Proses Pendokumentasian : Selama ini memang Humas baru melakukandokumentasi pemberitaan di media cetak saja. Humas perlu memahamibahwa saat ini media televisi dan internet merupakan media yang banyakdigunakan dan diakses oleh masyarakat. Dokumentasi media televisi pun saatini sebenarnya sudah cukup mudah, melalui youtube, rekaman pemberitaandapat diakses dan didokumentasikan. Selain itu, untuk media internet, situssituspemberitaan kini mulai banyak dan mudah diakses kapan dan di manasaja oleh masyarakat, melihat bahwa saat ini pun banyak isu bermula darimedia internet. Humas harus mengikuti perkembangan isu di media massauntuk menjadi suatu pertimbangan langkah-langkah yang akan dilakukan.14. Model Respon Krisis Pemberitaan : Respon krisis pemberitaan yangdilakukan oleh Humas selama ini dilakukan hanya jika pemberitaan negatifsudah menyebabkan akibat tergeraknya massa dalam aksi-aksi demonstrasi.Hal tersebut juga menunjuk ke arah maping dan monitoring media yangmemang belum dilaksanakan oleh Humas dengan baik. Penyatuanpemahaman antara melakukan respon dengan release dan melakukan respondengan membuat pemberitaan tandingan juga perlu dilakukan, seharusnyaHumas memiliki kategori-kategori tertentu pemberitaan yang memang akandirespon dengan release dan kriteria-kriteria pemberitaan yang akan direspondengan membuat pemberitaan lain di media massa. Humas juga seharusnyalebih memahami bagaimana cara melakukan respon krisis yang efektif danefisien. Setidaknya dalam membuat release, setelah itu mereka harusmelakukan cross check dengan memantau dimuat atau tidaknya pemberitaantersebut di media massa. Humas seharusnya mendapatkan feedback darimedia atas kegiatan yang telah dilaksanakan bagaimana pun juga mediarelations melibatkan komunikasi dua arah.PENUTUPPenelitian mengenai audit media relations Humas Setda Jawa Tengah untukpeningkatan publisitas ini adalah penelitian yang berfokus pada kajian tentangkegiatan media relations yang dilakukan oleh Humas Setda. Kegiatan-kegiatanmedia relations yang diteliti adalah kegiatan-kegiatan media relations yangmemang dilakukan oleh Humas selama ini demi terjalinnya hubungan yang baikdengan wartawan dan mendapatkan publisitas di media massa. Penelitian tersebutdilakukan karena melihat banyaknya pemberitaan-pemberitaan negatif tentangPemprov Jateng akhir-akhir ini.Pada penelitian ini, hal-hal yang dibahas adalah kegiatan-kegiatan mediarelations dari proses awal perencanaan hingga tahap evaluasi beserta jenisjenisnyaserta cara melakukan respon pada krisis pemberitaan yang terjadi.Mengacu pada pendapat dari Lesley bahwa media relations adalah suatuhubungan dengan media komunikasi untuk melakukan publisitas atau meresponkepentingan media terhadap organisasi.Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Humas selama ini masihmemunculkan pemberitaan-pemberitaan negatif mengenai pemerintah provinsi.Terlebih-lebih pada beberapa kasus yang terjadi seperti kasus pembangunan jalantol, kuda kepang, parcel lebaran, serta masih banyak lagi hal-hal yang kemudianmenjadikan munculnya pemberitaan negatif di media massa meski memiliki sisipositif pada faktanya.Penelitian mengambil kesimpulan bahwa Humas sudah dapat memahamimedia relations. Hanya saja pemahaman tersebut masih berfokus padakepentingan yang ingin dicapai oleh Humas yaitu sekedar untuk mendapatkanpublisitas di media massa. Selain itu, Dalam fokus dan sasaran kegiatan mediarelations, Humas belum menguasai keseluruhan maksud dan tujuan dilakukannyamedia relations. Hal tersebut yang kemudian membuat Humas dalammelaksanakan pekerjaannya kurang memperhatikan prosedur-prosedurpelaksanaan kegiatan media relations secara teknis yang tepat.Kesimpulan lain yang sekaligus merupakan kritik kepada Humas adalahHumas belum memahami adanya perkembangan dari jenis-jenis kegiatan-kegiatanmedia relations. Humas masih bertahan dengan kegiatan-kegiatan yang biasadilakukan dari tahun ke tahun dengan tata cara pelaksanaan yang juga kurangdipahami oleh sebab itu tidak dipersiapkan dengan baik. Kinerja Humas yangkurang efektif juga dikarenakan rendah dan lemahnya kemampuan di manaHumas kurang memiliki sumber daya manusia yang kompeten dalammelaksanakan tugas-tugas kehumasan seperti dalam Bagian Analisis Media danInformasi Humas, kegiatan menganalisis media belum dilakukan karena stafmerupakan lulusan Sekolah Menengah Atas yang tidak mendapatkan pengetahuanmengenai konsep-konsep kehumasan. Humas tidak melakukan perencanaan danpelaksanaan kegiatan dengan baik. Banyak kegiatan yang dilakukan tidakmenggunakan perencanaan komunikasi strategis yang benar, lebih kepada hanyamengikuti perintah atasan, sehingga tidak terkoordinir dengan baik. Evaluasi yangdilakukan oleh Humas cenderung formalitas dan kurang maksimal. Tidak adarekomendasi yang dicantumkan dalam setiap laporan pertanggungjawaban yangdibuat.Hubungan antara Humas dengan media sejauh ini baik, hanya saja masihselalu terjadi perbedaan pendapat yang disebabkan oleh perbedaan kepentinganantara Humas dengan media massa. Seperti perbedaan pendapat ketika terjadikasus kuda kepang, dan pembangunan proyek tol Semarang-Solo. Selain itu,media juga masih bertindak pasif dalam kegiatan-kegiatan komunikasi denganHumas.Kepala Biro juga kurang memahami media relations, sehingga kurangnyakontrol pimpinan membuat pelaksanaan kegiatan-kegiatan media relations tidakberjalan dengan baik. Tidak ada pertemuan rutin untuk membahas mengenaievaluasi kegiatan dan hasil dari pelaksanaan kegiatan media relations.Humas belum dapat memanfaatkan fasilitas, sarana dan prasarana yangdimiliki dan diberikan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dengan baik.Seperti dalam melakukan dokumentasi pemberitaan, Humas tidakmelaksanakannya pada media selain media cetak. Hal tersebut terjadi dikarenakantidak adanya pendidikan dan pelatihan mengenai kegiatan pendokumentasianberita yang baik yang seharusnya diberikan kepada baik pimpinan maupun stafHumas. Humas belum dapat melakukan respon terhadap krisis pemberitaandengan efektif dan efisien dikarenakan sistem kerja Humas yang belumterkoordinir dengan baik. Banyak pemberitaan negatif yang kemudian hanyalewat tanpa mendapat penanganan.Biro Humas perlu mendapatkan penataran dan pelatihan berkala yangdiikuti oleh baik Kepala Bagian maupun staf, mengenai pemahaman serta tugastugaspenting yang harus dilaksanakan seperti bagaimana praktek analisis mediaseharusnya dilakukan dan dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan media relationsdengan baik dan benar. Apabila pimpinan tidak dapat meminta bantuan penatardari kantor regional, maka pimpinan dapat menyewa tenaga ahli komunikasiuntuk memberikan pelatihan.DAFTAR PUSTAKAAnggoro, M. Linggar. 2002. Teori dan Profesi Kehumasan serta Aplikasi diIndonesia. Jakarta : Bumi AksaraArdianto, E.L. 2004. Komunikasi Massa: Suatu Pengantar. Bandung: SimbiosaArdianto, Elvinaro & Soemirat, Soleh. (2008). Dasar-Dasar Public Relations.Bandung: PT Remaja RosdakaryaBaskin Otis, Aronoff Craig, dan Lattimore. 1997. Public relations: The Professionand the Practice 4 Edition. United state of America: McGraw Hill CompaniesBungin, Burhan H.M. 2007. Penelitian Kualitatif : Komunikasi, Ekonomi,Kebijakan. Publik, dan Ilmu social. Jakarta : Kencana Prenama Media GroupDarmastuti, Rini. 2012. Media Relations : Konsep, Strategi Dan Aplikasi.Yogyakarta : ANDIDennis L. Wilcox, Glen T. Cameron, Phillip H. Ault, and Warren K. Agee. PublicRelations: Strategies and Tactics. Seventh Edition, Pearson Education, Inc., USA,2003Effendy, Onong Uchjana. 2002. Hubungan Masyarakat suatu StudyKomunikologis. Bandung : PT Remaja RosdakaryaF, Rachmadi. 1994. PR dalam Teori dan Praktek : Aplikasi dalam Badan Swastadan Lembaga Pemerintah. Jakarta : Gramedia Pustaka UtamaIriantara, Yosal. 2005. Media Relations: Konsep, Pendekatan, dan Praktik.Bandung: Simbiosa Rekatama MediaIriantara, Yosal. 2007. Community Relations (Konsep dan Aplikasinya). Bandung: Simbiosa RekatamaHamidi. 2010. Metode Penelitian dan Teori Komunikasi. 3rd. Malang : HamidiHardjana, Andre. 2000. Audit Komunikasi Teori dan Praktek. Jakarta: GrasindoJefkins, Frank. 2004. Public Relations. Jakarta : ErlanggaKriyantono, Rachmat.2008. Public Relations Writing. Cetakan ke-2. Jakarta :Fajar InterpratamaLarkin, Judy, 2003, Risk Issues and Crisis Management: A Casebook of BestPractice. London: Kogan PageMoleong. 2008. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : RosdakaryaNurudin.2007. Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta : PT Raja Grafindo PersadaNova, Firsan.2011. Crisis Public Relations. Jakarta : PT Raja Grafindo PersadaNova, Firsan. 2009. Crisis Public Relations. Jakarta : PT. GrasindoPuspandani, Kartika Dewi. 2006. Pengukuran Publicity Effectiveness Level danPemanfaatannya dalam Perencanaan Strategi dan Taktik Komunikasi.Yogyakarta: Fisipol Universitas Gajah Mada.Ruslan, Rosady. 1997. Kiat dan Strategi Kampanye Public Relations. Jakarta : PTRaja Grafindo PersadaRuslan, Rusady. 2006. Manajemen Humas dan Komunikasi, Konsepsi danAplikasi. Jakarta : PT Rajagrafindo PersadaRusady, Ruslan. 2007. Manajemen Public Relations & Media KomunikasiKonsepsi dan Aplikasi. Jakarta : PT Rajagrafindo PersadaRuslan, Rosady. 2010. Manajemen Public Relations dan Media Komunikasi.Jakarta : PT Rajagrafindo PersadaWardhani, Diah. 2008. Media Relations : Sarana Membangun ReputasiOrganisasi. Yogyakarta : Graha IlmuWasesa, Silih Agung. 2011. Political Branding & Public Relations. Jakarta : PTGramedia Pustaka UtamaWidjaja. 1997. Komunikasi dan Hubungan Masyarakat. Jakarta : Bumi AksaraSumber internethttp://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2012/04/11/115146/Pemprov-Jateng-Gagal-Entaskan-Kemiskinan diunduh pada tanggal 04 Februari 2013pukul 19.11 WIBhttp://www.antarajateng.com/detail/index.php?id=69893#.URMs-R1QFVYdiunduh pada tanggal 04 Februari 2013 pukul 19.15 WIBhttp://regional.kompas.com/read/2012/09/12/13433283/Gubernur.Jateng.Menyinggung.Seniman.Jathilan diunduh pada tanggal 04 Februari 2013 pukul 19.16 WIBhttp://www.solopos.com/2011/05/17/komisi-d-peringatkan-gubernur-soal-jalantol-98292 diunduh pada tanggal 04 Februari 2013 pukul 19.17 WIBhttp://www.tempo.co/read/news/2010/10/22/177286567/Pemberian-Dana-ke-Wartawan-Tradisi-Lama diunduh pada tanggal 07 Februari 2013 pukul 15.00WIBhttp://news.detik.com/read/2012/11/22/174732/2098697/10/kpk-sebut-banyakpejabat-korupsi-gubernur-jateng-sepertinya-tidak-ada diunduh pada tanggal 14Februari 2013 pukul 22.00 WIBhttp://eprints.undip.ac.id/29126/1/SUMMARY_PENELITIAN_Wiwid_Adiyanto.pdf diunduh pada tanggal 21 Februari 2013 pukul 20.28 WIBhttp://tvku.tv/v2010b/index.php?page=stream&id=6444 diunduh pada tanggal 19Maret 2013 pukul 20.14 WIBhttp://efkawejete.blogspot.com/ diunduh pada tanggal 05 Maret 2013 pukul 21.00WIBhttp://kabar17.com/2012/05/gubernur-jawa-tengah-dikecam-petani-tembakau/diunduh pada tanggal 05 Maret 2013 pukul 21.28 WIBhttp://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2009/04/27/61199/Pers-Diminta-Tak-Hanya-Tulis-Berita-Negatif- diunduh pada tanggal 05 Maret 2013pukul 21.59 WIBhttp://news.detik.com/read/2012/11/29/123142/2104844/10/warga-menolakeksekusi-tanah-lemah-ireng-semarang-ricuh diunduh pada tanggal 05 Februari2013 pukul 01.00 WIBhttp://repository.upnyk.ac.id/2306/1/Nunung_Prajarto.pdfhttp://ahmadyusuf-fpsi08.web.unair.ac.id/artikel_detail-46452-Umum-Metode%20Penelitian.html(http://www.solopos.com/2012/11/28/gubernur-jateng-raih-planinum-gold-darisby-351805 05 Maret 2013 pukul 23.00 WIB(http://news.detik.com/read/2011/06/27/180047/1669850/10/sebut-walikota-solobodoh-gubernur-jateng-akan-ditolak-masuk-solo diunduh pada tanggal 05Februari 2013 pukul 01.00 WIB)(http://www.youtube.com/watch?v=miDtNj_JIwg diunduh pada tanggal 08 Maret2013 pada pukul 19.00 WIB)(http://www.youtube.com/watch?v=3H0aQzl8M1w diunduh pada tanggal 08Maret 2013 pada pukul 19.01 WIB(http://birohumas.jatengprov.go.id/portal/view/struk2 diunduh pada tanggal 11Maret 2013 pada pukul 00.04 WIB)http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2009/04/27/61199/Pers-Diminta-Tak-Hanya-Tulis-Berita-Negatif- diunduh pada tanggal 11 Maret 2013pada pukul 00.05 WIB)http://web.undp.org/comtoolkit/reaching-the-outside-world/outside-world-coreconcepts-working-media.shtml diunduh pada tanggal 13 Juli 2013 pukul 16:51 WIBhttp://prinyourpajamas.com/how-to-build-your-own-media-list/ diunduh padatanggal 13 Juli 2013 pukul 16:51 WIB
PEMAKNAAN TREN FASHION BERJILBAB ALA HIJABERS OLEH WANITA MUSLIMAH BERJILBAB Taruna Budiono; Sri Widowati Herieningsih; Triono Lukmantoro
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.682 KB)

Abstract

ABSTRAKNama : Taruna BudionoNIM : 14030110151025Judul : Pemaknaan Tren Fashion Berjilbab Ala Hijabers Oleh WanitaMuslimah BerjilbabMengkomunikasikan identitas diri menggunakan medium fashion adalah hal umum yang dilakukan oleh banyak orang. Salah satu pilihan fashion tersebut adalah jilbab. Tren fashion berjilbab belakangan ini sedang marak di Indonesia. Para wanita muslim khususnya yang tinggal di kota-kota besar banyak yang mengikuti tren fashion ini. Jilbab yang mereka pakai banyak dipengaruhi oleh kehadiran komunitas wanita berjilbab seperti hijabers community, serta beberapa figur publik yang juga memakai jilbab.Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Penelitian ini memberikan gambaran tentang fenomena tren fashion berjilbab di kalangan wanita muda dan pemaknaan jilbab yang dipakai oleh para mereka. Penelitian ini mengacu pada konsep fashion sebagai komunikasi, sebagaimana dikatakan oleh Fiske bahwa fashion atau pakaian menjadi medium yang digunakan seseorang untuk menyatakan sesuatu pada orang lain (Fiske dalam Barnard, 2011: 41). Jilbab sebagai bagian dari fashion juga berguna untuk medium penyampaian pesan-pesan para pemakainya kepada orang lain. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap empat orang informan yakni para wanita muda yang memakai jilbab ala hijabers/modifikasi yang tinggal di kota Semarang.Hasil temuan penelitian menggambarkan Jilbab yang dipakai oleh para wanita muslim digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu, menunjukkan identitas diri, dan sebagai media ekspresi diri. Pesan utama yang ingin dinyatakan oleh para wanita berjilbab ini adalah bahwa selain melaksanakan perintah agama, mereka juga bisa tampil modis dan fashionable, serta tetap aktif dengan berbagai macam kegiatan tanpa terganggu jilbab yang mereka pakai. Lebih lanjut, media massa yang dijadikan rujukan oleh para wanita berjilbab adalah media internet, dimana kemudahan akses menjadi daya tariknya.Kata kunci: jilbab; tren fashion; identitas diriABSTRACTName : Taruna BudionoNIM : 14030110151025Title : Interpreting Hijabers Veiling Fashion Trends By Veiled MuslimWomenCommunicating identity through fashion are common things, one is the hijab. Veiled fashion trend lately emerging in Indonesia. Many muslim women especially those who lives in big cities follow the fashion trend. Veil they wear affected a lot by the presence of veiled women communities such as hijabers community, as well as some public figures who also wears the hijab.This study is a qualitative research with phenomenological approach. This study provides an overview of veiled fashion trends phenomenon among young women and the meaning of the veil they worn. This study refers to the concept of fashion as communication, as stated by Fiske that fashion or clothing become medium that used to express something to others (Fiske in Barnard, 2011: 41). Hijab as part of fashion also useful as medium to conveying messages to others. Data were obtained through in-depth interviews of four informants that is young women who wear the hijabers/modification hijab style that living in Semarang.This research describes the hijab worn by muslim women used to convey certain messages, show identity, and as a medium of self-expression. The main message expressed by the veiled women is that in addition to carrying out the religious orders, they can also look fashionable, and stay active with a variety of activities without being bothered by their hijab. Furthermore, the mass media are used as a reference by the veiled woman is the internet, where the ease of access become its appeal.Keywords: veil; fashion trends; personal identityPendahuluan Mengkomunikasikan identitas diri menggunakan medium fashion adalah hal umum yang dilakukan oleh banyak orang. Salah satu pilihan fashion tersebut adalah jilbab. Penutup kepala ini telah berkembang menjadi satu identitas sosial bagi pemakainya. Jilbab sekarang ini memiliki banyak varian corak dan model. Tren fashion berjilbab di Indonesia mungkin telah dimulai sejak beberapa artis ibukota memilih untuk memakai jilbab sebagai pakaian sehari-hari mereka. Ada beberapa artis populer yang dulunya tidak berjilbab sekarang memakai jilbab sebagai busana sehari-hari, mereka memakai jilbab sebagai bentuk penghayatan dan kesadaran mereka untuk memenuhi kewajiban agama untuk menutup aurat, mereka antara lain adalah: Nuri Maulida, Marshanda, Puput Melati, Rachel Maryam, Desi Ratnasari, Risty Tagor, Zaskia Sungkar. (http://jogja.tribunnews.com/2012/07/20/7-artis-yang-kini-berjilbab). Namun merebaknya penggunaan jilbab sebagai fashion di kalangan anak muda nampaknya lebih dipengaruhi oleh kemunculan sosok Dian Pelangi dan Hijabers Community. Dian Pelangi adalah desainer muda Indonesia, yang debutnya di dunia mode telah dimulai sejak umurnya 19 tahun pada gelaran Jakarta Fashion Week 2009. Pada ajang tahunan tersebut Dian Pelangi mampu mencuri perhatian dengan rancangan busana muslim modern yang ditampilkannya. Selain itu ia adalah pendiri Hijabers Community yaitu komunitas yang berisi anak-anak muda berjilbab yang tampil modis dan gaya yang diresmikan pada tanggal 27 November 2010 di Jakarta. (http://www.tabloidbintang.com/hobi/56493-hijabers-community-bermula-dari-acara-buka-puasa-di-mal.html) Hijabers Community sendiri mempunyai suatu misi untuk memperkenalkan jilbab/kerudung yang modis kepada anak-anak muda, dan ingin mengikis anggapan bahwa para pemakai jilbab adalah orang yang kuno. Meningkatnya jumlah wanita muslimah yang memakai jilbab ini juga tidak lepas dari banyaknya event yang dilaksanakan oleh hijabers community untuk mengenalkan jilbab trendy kepada masyarakat. Salah satu event yang seringdigelar oleh mereka adalah Hijab Class. Dalam acara Hijab Class ini para peserta diajarkan tentang bagaimana memakai jilbab yang modis dan trendi. Selain itu Hijabers Communnity juga memanfaatkan media jejaring sosial dalam setiap acara yang mereka buat, tercatat ada tiga media sosial yang digunakan Hijabers Community yaitu WebBlog, Facebook dan Twitter.Media massa tersebut memberi ide dan gagasan pada wanita muslimah untuk memakai jilbab seperti yang dikenakan oleh publik figur yang sering muncul di media massa. Hal ini dimungkinkan karena media massa memiliki kekuatan untuk mengonstruksikan realitas. Pada umumnya sebaran konstruksi sosial media massa menggunakan model satu arah, di mana media menyodorkan informasi sementara konsumen media tidak memiliki pilihan lain selain mengonsumsi informasi itu. Model satu arah ini terutama terjadi pada media cetak. Sedangkan media elektronik khususnya radio bisa dilakukan dua arah (Bungin, 2008: 198). Banyaknya wanita muslimah yang memakai jilbab tidak lantas membuat mereka terbebas dari cibiran dan pandangan negatif dari masyarakat. Para wanita muslimah yang memakai jilbab trendi dan modis ala hijabers kadangkala dianggap hanya mengikuti tren semata, ada juga yang beranggapan bahwa jilbab yang mereka pakai tidak sesuai syariah islam karena jilbab yang mereka pakai tidak memenuhi kaidah berjilbab yang benar. Pandangan-pandangan negatif tersebut bisa dilihat salah satunya dalam pemberitaan di media-media berbasis Islam seperti yang diberitakan oleh media online Dakwatuna berikut: Ketika kita berbicara tentang jilbab, maka kita berbicara tentang pakaian takwa. Pakaian yang diturunkan untuk muslimah, untuk menutup auratnya dan jelas disebutkan di Al-Qur’an. Baru-baru ini, paradigma manusia tentang jilbab semakin jauh dari kata “syar’i”, bagaimana tidak? Iklan-iklan jilbab yang “mengaku menjual jilbab syar’i” semakin membuat kening ini berkerut? Apakah memang seperti itu jilbab yang diperintahkan oleh Allah, atau kita selama ini telah tertipu? Jilbab syar’i dan modis, begitu tagline yang selama ini digembar-gemborkan oleh kalangan hijabers. (http://www.dakwatuna.com/2013/05/13/33127/jilbab-syari-jilbab-paling-modis-sepanjang-zaman/#ixzz2ZYcppqlC)Dalam kehidupan sehari-hari kata fashion lebih sering diartikan sebagai dandanan atau gaya dan busana, ada juga orang yang mengartikan fashion sebagai pakaian atau memakai pakaian (Barnard, 2011: 13). Fashion juga menjadi simbol kelas dan status sosial pemakainya, ia juga menjadi representasi sosial budaya yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Dalam hal representasi sosial budaya, fashion kadang juga dikaitkan dengan simbol-simbol agama tertentu. Misalnya pemakaian kerudung/jilbab yang diidentikan dengan Islam, aksesoris-aksesoris berupa kalung berbentuk salib yang diidentikan dengan agama Kristen, dan masih banyak lagi. Malcolm Barnard dalam bukunya Fashion as Communication mengidentifikasi busana baku dengan antifashion, sedangkan busana modis dengan fashion (Barnard, 2011: 20). Apabila fashion dan antifashion dikaitkan dengan jilbab, maka jilbab sebagai busana sekarang ini bisa dikategorikan sebagai busana fashion. Jilbab sebagai busana yang antifashion sekarang ini sudah tidak ada lagi, karena sekarang telah banyak model-model jilbab yang dibuat mengikuti tren fashion yang sedang berkembang. Yang ada adalah jilbab yang fashionable dan jilbab yang tidak fashionable. Perkembangan jilbab tentu saja tidak bisa dilepaskan dari kebudayaan di mana jilbab itu dipakai, di Indonesia sendiri jilbab telah mengalami banyak perkembangan dari segi bentuknya. Berdasarkan hal tersebut, maka bisa dirumuskan permasalahan “Bagaimana pengalaman dan pemaknaan wanita muslimah berjilbab dalam memakai jilbab ala hijabers”.IsiPenelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi. Fenomenologi adalah metode yang berusaha untuk memahami bagaimana seseorang mengalami dan memberi makna pada sebuah pengalaman (Kuswarno, 25: 2009). Fenomenologi sendiri bertujuan untuk memahami bagaimana pemahaman manusia dalam mengonstruksi makna dan konsep-konsep penting dalam kerangka intersubjektivitas.Sumber informasi dalam penelitian ini adalah empat wanita muslimah yang tinggal di kota Semarang yang memakai jilbab dengan ala hijabers untuk busana sehari-hari mereka. Mereka ditanya tentang fenomena semakin banyaknya wanita muslimah yang memakai jilbab ala hijabers, pengalaman mereka memakai jilbab ala hijabers, dan bagaimana mereka memberi makna terhadap tren fashion berjilbab ala hijabers.Jilbab yang dipakai oleh para wanita muslim dengan berbagai macam model dan bentuknya adalah upaya mereka untuk membentuk identitas individu mereka. Tubuh kita memiliki peran penting dalam merepresentasikan identitas kita. Pengertian tentang siapa kita, dan hubungan kita dengan individu, personal, dan masyarakat di mana kita hidup selalu berada dalam perwujudan tubuh. (Woodward, 2002: 1-2). Jilbab yang dipakai oleh para wanita muslim adalah representasi identitas diri mereka yang bisa dilihat melalui perwujudan tubuh. Mereka memilih menunjukkan identitas diri melalui perwujudan tubuh karena cara inilah yang paling mudah, karena setiap orang yang melihat wanita berjilbab pasti akan tahu bahwa ia adalah wanita muslim.Dalam usaha untuk membentuk identitas diri, ada proses yang dinamakan identifikasi diri. Identifikasi diri adalah kecenderungan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan orang lain. Orang lain yang menjadi sasaran identifikasi dinamakan idola. Setiap orang pada saat berinteraksi dengan orang lain melalui pakaiannya, dapat memilih ia ingin menjadi seperti siapa (Crane & Bovone, 2006: 319). Jilbab yang dipakai oleh para wanita muslim bisa menunjukkan kecenderungan merujuk kepada siapa identifikasi diri mereka. Kebanyakan mereka mengidentifikasi diri mereka dengan para public figure yang memakai jilbab, seperti Jenahara Nasution, Dian Pelangi, dan Zaskia Adya Mecca.Dalam proses pembentukan identitas diri dan identifikasi diri, lingkungan merupakan faktor yang memiliki pengaruh besar. Lingkungan tersebut bisa berupa lingkungan tempat tinggal, lingkungan pergaulan, ataupun lingkungan kerja. Para wanita muslim ini menyatakan lingkungan di sekitar mereka memiliki andil yangcukup besar dalam proses pembentukan identitas diri sebagai wanita muslimah, dalam hal ini dengan cara memakai jilbab. Lingkungan yang memberi pengaruh besar umumnya adalah lingkungan teman sepergaulan dan teman sebaya, disusul lingkungan keluarga. Selain itu ada juga pengaruh khusus yang didapat dari guru mengaji.Selain tubuh kita sendiri, identitas diri seseorang juga dipengaruhi beberapa faktor eksternal, antara lain ekonomi, sosial, budaya, dan politik (Woodward, 2002: 1-2). Dalam proses pembentukan identitas diri dan identifikasi diri yang dilakukan oleh para informan, ada faktor eksternal yang mempengaruhi mereka. Ada dua faktor eksternal yang membentuk identitas diri para informan sebagai wanita muslim, dua faktor tersebut yaitu faktor sosial dan budaya.Pengaruh faktor sosial bisa bisa dilihat dari mereka yang tertarik memakai jilbab setelah melihat lingkungan sekitar mereka, yaitu teman sepergaulan dan keluarga yang memakai jilbab. Dari faktor sosial inilah akhirnya muncul keinginan dari mereka untuk menunjukkan identitas diri mereka sebagai seorang wanita muslim dengan cara memakai jilbab. Sedangkan pengaruh faktor budaya bisa dilihat dari salah satu informan yang memakai jilbab sejak kecil, karena ia selalu bersekolah di sekolah Islam. Kebiasaannya memakai jilbab sejak kecil dan budaya di sekolahnya yang mengharuskan setiap siswi untuk memakai jilbab adalah hal yang membentuk identitas dirinya sebagai wanita muslim.Sebagai bagian dari fashion, jilbab selain berfungsi sebagai penanda identitas diri sebagai seorang muslim, juga menjadi bagian dari ekspresi diri dalam berbusana. Ekspresi tersebut terlihat dari pilihan jenis jilbab yang dipakai oleh setiap wanita muslim. Jilbab modifikasi yang sedang menjadi tren saat ini, sejatinya juga menggambarkan ekspresi diri para pemakainya. Warna, corak dan bentuk dari jilbab modifikasi yang dipakai oleh para wanita muslim tersebut, bisa menunjukkan perasaan atau isi hati si pemakai.Fashion sebagai bentuk komunikasi nonverbal mengikuti mahzab komunikasi yaitu mahzab “proses”. Yaitu fashion atau pakaian menjadi mediumyang digunakan seseorang untuk “menyatakan” sesuatu pada orang lain (Fiske dalam Barnard, 2011: 41). Pesan yang ingin disampaikan melalui jilbab inipun beragam, seperti jilbab dipakai sebagai batasan diri dalam bergaul. Seorang wanita muslim memakai jilbab untuk membatasi dirinya dalam pergaulan negatif dan menghindarkan diri dari pelecehan seksual.Jilbab yang dipakai olehnya menjadi medium komunikasi nonverbal yang membawa pesan bagi orang lain bahwa dengan memakai jilbab, ia ingin memberi jarak/batasan bagi dirinya dalam bergaul. Dengan jilbab yang dipakainya tersebut, diharapkan orang lain juga paham dengan maksudnya untuk membatasi diri dalam pergaulan. Selain membatasi diri dalam pergaulan, jilbab dalam hal ini jilbab modifikasi, juga dipakai sebagai media untuk menunjukkan bahwa seorang wanita muslim bisa aktif dalam berbagai macam kegiatan tanpa terhalangi oleh jilbab yang dipakainya.Jilbab sebagai bagian dari fashion juga berfungsi sebagai penanda status sosial bagi pemakainya. Ada sebagian wanita muslim yang melakukan hal ini dengan cara memakai jilbab modifikasi yang sedang menjadi tren, dengan tujuan agar dilihat memiliki status sosial yang lebih tinggi dari orang lain. Hal ini wajar saja, karena orang sering menggunakan pakaian atau fashion untuk menunjukkan nilai sosial atau status sosial, dan orang kerap membuat penilaian terhadap nilai sosial atau status sosial orang lain berdasarkan apa yang dipakai orang tersebut (Barnard, 2011: 86).Jilbab juga bisa menjadi ekspresi diri dari pemakainya. Wanita muslim memiliki selera dan ketertarikan yang berbeda terhadap model dan bentuk jilbab. Kebanyakan jilbab yang disukai oleh para wanita muslim adalah jilbab yang dipopulerkan dan dipakai oleh para public figure seperti Jenahara Nasution, Dian Pelangi, dan Zaskia Adya Mecca. Sedangkan untuk jenisnya sendiri, mereka lebih banyak memakai jilbab segi empat, dan shawl.Meskipun para wanita muslim ini ingin mengekspresikan diri dan menunjukkan keunikan mereka dengan memakai jenis dan bentuk jilbab yangdipakai berbeda, namun mereka juga tidak ingin merasa terasing dari pergaulan kelompok mereka. Maka ketika para wanita muslim di lingkungan mereka memakai jilbab modifikasi, mereka pun menjadi tertarik untuk juga memakai jilbab tersebut. Orang rupanya perlu menjadi sosial dan individual di saat yang sama, dan fashion serta pakaian merupakan cara dari sejumlah hasrat atau tuntutan yang kompleks dinegosiasikan (Barnard, 2011: 17). Karena selain keinginan untuk menunjukkan keunikan individu, manusia juga memiliki keinginan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Hal ini adalah kebutuhan manusia yang bisa diwujudkan oleh fashion (dalam hal ini jilbab).Umumnya para wanita muslim lebih memilih memakai jilbab modern/modifikasi karena mereka tertarik dengan berbagai macam model jilbab sekarang. Selain itu ada diantara mereka yang memakai jilbab modern untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya, sedangkan yang lainnya memakai jilbab modern karena tidak ingin dianggap kuno. Disini bisa dilihat bahwa para wanita muslim tersebut tidak ingin menjadi terasing dari lingkungannya, oleh sebab itu mereka memutuskan untuk memakai jilbab modifikasi karena lingkungan sekitar mereka juga memakai jilbab yang sama.Media massa juga turut andil dalam mempopulerkan berbagai macam model jilbab, sehingga akhirnya banyak wanita yang tertarik untuk memakai jilbab sebagai busana sehari-hari mereka. Tren fashion berjilbab sekarang yang banyak dipengaruhi oleh hijabers community sudah sangat bagus dan maju dibandingkan fashion berjilbab sebelum adanya hijabers community. Meskipun sudah bagus dan berkembang pesat, namun ada beberapa orang yang memakai jilbab hanya untuk menonjolkan kekayaan dan status sosial saja. Selain itu tren fashion berjilbab ini seringkali disalah artikan oleh sebagian masyarakat, dengan seringnya dilihat wanita berjilbab namun memakai pakaian ketat. Tren fashion berjilbab ala hijabers ini sebenarnya juga lebih ditujukan untuk kalangan menengah ke atas, sebab tren fashion yang mereka bawa termasuk tren fashion yang mahal.Media massa memiliki kemampuan untuk membentuk konstruksi sosial, dalam hal ini konstruksi sosial tentang wanita berjilbab. Selama ini konstruksi sosial yang ditampilkan oleh media massa tentang wanita berjilbab menimbulkan citra positif di masyarakat, karena oleh media massa wanita berjilbab sekarang ini tidak lagi dicitrakan sebagai wanita kuno dan ketinggalan jaman, melainkan sebagai wanita yang cantik dan modis. Selain itu berbagai pemberitaan tentang kegiatan positif yang dilakukan oleh komunitas wanita berjilbab juga menambah citra positif tentang wanita berjilbab. Hal-hal yang demikian akhirnya menumbuhkan ketertarikan bagi para wanita untuk memakai jilbab.Pada umumnya sebaran konstruksi sosial media massa menggunakan model satu arah, di mana media menyodorkan informasi sementara konsumen media tidak memiliki pilihan lain selain mengonsumsi informasi itu. Model satu arah ini terutama terjadi pada media cetak. Sedangkan media elektronik khususnya radio bisa dilakukan dua arah (Bungin, 2008: 198). Konstruksi sosial media massa yang berlangsung satu arah ini membuat media cetak seperti majalah dan buku tidak terlalu diminati oleh para wanita muslim dalam mencari informasi tentang tren fashion berjilbab. Hal ini karena para wanita muslim sebagai penerima pesan hanya bisa menerima pesan dari media tersebut, tanpa bisa memberi tanggapan langsung atas pesan yang ia terima.Dalam perkembangan tren fashion berjilbab sekarang ini, internet menjadi media yang paling banyak digunakan oleh para wanita berjilbab untuk mencari informasi dan referensi tentang jilbab. Internet tampaknya telah menggeser peran media massa cetak dan media elektronik lainnya seperti televisi dan radio. Hal ini juga dilakukan oleh para wanita berjilbab yang lebih sering mengakses internet dibandingkan dengan membaca majalah, ataupun menonton televisi.Mereka lebih suka mengikuti perkembangan tren fashion berjilbab melalui internet karena ia memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh media massa lain seperti majalah dan televisi. Keunggulan utama dari internet adalah kemudahan akses, dimana hampir semua orang yang memiliki komputer bisa masuk kejaringan. Dengan beberapa kali klik tombol mouse, kita akan masuk ke lautan informasi dan hiburan yang ada di seluruh dunia. (Vivian, 2008: 262). Terlebih lagi sekarang ini koneksi internet tidak hanya tersedia melalui jaringan kabel yang hanya bisa diakses melalui komputer saja. Jaringan internet nirkabel pun sekarang telah bisa dinikmati melalui perangkat laptop ataupun ponsel. Hal ini tentu saja menambah kemudahan akses internet untuk dipakai dimana saja.Internet juga memiliki kelebihan lain yang tidak dimiliki oleh media massa lainnya, yaitu bersifat interaktif. Interaktif disini memiliki arti bahwa internet punya kapasitas untuk memampukan orang berkomunikasi, bukan sekadar menerima pesan belaka, dan mereka bisa melakukannya secara real time. (Vivian, 2008: 263). Meskipun media elektronik seperti televisi dan radio sekarang ini juga bisa bersifat interaktif, namun interaksi antara media massa dan audience mereka tidak bisa berlangsung setiap waktu. Berbeda dengan internet dimana penerima pesan/audience bisa memberi tanggapan sewaktu-waktu.Dari berbagai macam situs internet yang ada dan menjadi referensi dalam mengikuti perkembangan tren fashion berjilbab, situs berbagi video youtube adalah situs yang paling sering diakses oleh para wanita berjilbab ini. Youtube menjadi pilihan karena ia memiliki kelebihan dibanding situs internet lain yang kebanyakan hanya berisi tulisan dan gambar. Youtube menawarkan konten audio visual yang menarik sama seperti televisi, ditambah dengan segala kelebihan internet yang melekat padanya. Ditambah lagi konten audio visual yang ada di youtube bisa diunduh dan disimpan, untuk nantinya disaksikan pada lain waktu. Kelebihan inilah yang tidak dimiliki oleh televisi yang membuat youtube lebih unggul, meskipun keduanya sama-sama memiliki konten audio visual.Media-media yang menjadi referensi para wanita berjilbab memberi pengaruh kepada jilbab yang mereka pakai, meskipun tingkat pengaruhnya berbeda-beda. Mereka cenderung selektif dalam mengambil/menggunakan konten dari sebuah media. Seberapapun jernih dan jelasnya pesan, orang mendengar dan melihatnya secara egosentris. Fenomena ini dikenal sebagai selective perception(Vivian, 2008: 478). Selektifitas para wanita berjilbab dalam menggunakan konten media massa yang mereka pakai untuk mencari informasi tentang jilbab, terlihat dari sebagian dari mereka yang hanya mengambil tutorial berjilbab yang ada di media massa, namun tidak berusaha untuk menirunya secara persis dan sama.Penutup Alasan utama para wanita muslim memakai jilbab adalah untuk menjalankan perintah agama. Dalam keputusan untuk memakai jilbab tersebut ada berbagai faktor yang mempengaruhi mereka, faktor-faktor tersebut adalah kesadaran dari dalam diri sendiri dan lingkungan sekitar. Para wanita ini memakai jilbab untuk menunjukkan identitas diri mereka sebagai seorang wanita muslim, karena di Indonesia jilbab identik dengan Islam.Ada beberapa pesan komunikasi yang ingin disampaikan oleh para wanita muslim melalui jilbabnya. Pesan-pesan tersebut adalah jilbab yang dipakai digunakan sebagai batasan diri dalam pergaulan agar tidak berlaku yang tidak baik. Jilbab juga dijadikan simbol perubahan diri menjadi orang yang lebih baik, dibanding sebelum memakai jilbab. Selain itu sebagai wanita berjilbab mereka juga ingin menyampaikan bahwa wanita berjilbab juga bisa tampil modis dan fashionable, dan tetap aktif dengan berbagai macam kegiatan tanpa terganggu jilbab yang mereka pakai.Internet adalah media massa yang paling sering digunakan oleh para wanita berjilbab untuk mencari informasi tentang tren fashion berjilbab, dan situs yang paling sering diakses adalah youtube. Mereka memilih internet karena kemudahan akses dimana saja, dan youtube dipilih karena youtube menawarkan konten audio visual yang menarik sama seperti televisi, ditambah dengan segala kelebihan internet yang melekat padanya. Selain itu daya tarik utama youtube adalah konten media tersebut yang bisa diunduh, sehingga bisa ditonton lagi sewaktu-waktu.Daftar Pustaka Barnard, Malcolm. 2011. Fashion Sebagai Komunikasi : Cara mengkomunikasikan identitas sosial, seksual, kelas, dan gender. Diterjemahkan oleh: Idy Subandy Ibrahim & Drs. Yosal Iriantara, Ms. Yogyakarta: Jalasutra. Bungin, Burhan. 2008. Konstruksi Sosial Media Massa. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Kuswarno, Engkus. 2009. Metode Penelitian Komunikasi Fenomenologi: Konsepsi, Pedoman, dan Contoh Penelitiannya. Bandung: Widya Padjajaran.Vivian, John. 2008. Teori Komunikasi Massa. Diterjemahkan oleh: Tri Wibowo B.S. Jakarta: Kencana Prenada GroupWoodward, Kath. 2002. Understanding Identity. London: ArnoldJurnalCrane, D, & Bovone, L. 2006. Approaches to Material Culture: The Sociology of Fashion and Clothing. PoeticsSumber InternetKriswanti, Wida. 2012. Hijabers Community: Bermula dari Acara Buka Puasa di Mall. (http://www.tabloidbintang.com/gaya-hidup/hobi/56493-hijabers-community-bermula-dari-acara-buka-puasa-di-mal.html; diakses pada 2 Oktober 2012) Reswari, Arnova. 2013. Jilbab Syar’i = Jilbab Paling Modis Sepanjang Zaman. (http://www.dakwatuna.com/2013/05/13/33127/jilbab-syari-jilbab-paling-modis-sepanjang-zaman/#ixzz2ZYcppqlC; diakses pada 15 Juli 2013)Thea. 2012. 7 Artis yang Kini Berjilbab. (http://jogja.tribunnews.com/2012/07/20/7-artis-yang-kini-berjilbab; diakses pada 2 Oktober 2012)      

Page 1 of 4 | Total Record : 38