cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 28 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1: Januari 2014" : 28 Documents clear
CYBER CATHARSIS PADA BLOG RADITYA DIKA Zefa Alinda Fitria; Triyono Lukmantoro; Wiwid Noor Rakhmad
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.444 KB)

Abstract

CYBER CATHARSIS PADA BLOG RADITYA DIKAAbstractBlog, is one form of social media that is most commonly used and is ableto attract users who are so great. Even in its use, blogs have their own designationfor active users to update the text and then imprinted on the pages in the blog.Users are referred to the creation of this blogger ideas and ideas without beingbound by standard rules of writing and theme writing. In fact, not infrequentlyuser blog pages online diary filled with the experience of a personal experiencethat has unique style. This is partly demonstrated by the blogger whose name isknown through the writings in the blog address www.radityadika.com. As aliterary figure, Raditya Dika unsparing report various life experiences, from thingsthat are fun, sad, embarrassing, even though personal stories. All of thisexperience shows how important social media can facilitate the psychologicalaspect of a person as a place to share and pour emotion is referred to as acatharsis. In contrast to the interpersonal communication that exists with thespeaker, virtual communication with the media writing can accommodate all userswithout the need to feel the burden of anxiety disordered communication .This study aims to describe the writings Raditya Dika cyber ladencatharsis. The researcher used a qualitative approach with semiotic analysismethods to see how Raditya Dika construct experiences through reality, whichcan then be interpreted by readers that content catharsis, but has a distinctivewriting style like in the analysis of literary works. To that end, this studysupported the use of the theory of media (Media Equation Theory) and the theoryof human personality (Psychoanalytic theory) .The results showed that absurd style Raditya Dika used in constructing theexperience in ways unique, such as the delivery of messages is hyperbolic, poetic,and have an element of comedy in its delivery. However, with Raditya Dikaabsurd style in constructing experiences, researchers assessed it be an attraction togive a lesson on the importance of creativity in the frame of mind and dare to be„different‟ in creating a work, particularly in the field of writing.Keywords : Blog, Catharsis, Raditya Dika, Construction, EmotionCYBER CATHARSIS PADA BLOG RADITYA DIKAAbstrakBlog, merupakan salah satu bentuk media sosial yang paling umumdigunakan dan mampu menjaring penggunanya yang begitu besar. Bahkan dalampenggunaannya, blog memiliki sebutan sendiri bagi penggunanya yang aktifmeng-update tulisan yang kemudian dicantumkan pada halam blog. Penggunayang disebut blogger ini dapat mengkreasikan ide-ide dan gagasan tanpa terikatoleh aturan baku penulisan dan tema tulisan. Bahkan tak jarang pengguna blogyang mengisi halaman diary online dengan pengalaman pengalaman pribadi yangmempunyai corak keunikan tersendiri. Hal ini salah satunya ditunjukkan olehblogger yang namanya dikenal melalui karya tulisan dalam alamat blogwww.radityadika.com. Sebagai sosok penulis, Raditya Dika tak tanggungtanggungmenceritakan berbagai pengalaman hidup, dari mulai hal-hal yangmenyenangkan, menyedihkan, memalukan, bahkan kisah pribadi sekalipun.Kesemua pengalaman ini menunjukkan betapa pentingnya media sosial yangdapat memfasilitasi aspek psikologis seseorang sebagai tempat untuk berbagi danmencurahkan emosi yang disebut dengan istilah katarsis (catharsis). Berbedadengan komunikasi yang terjalin antarpribadi dengan lawan bicara, komunikasivirtual dengan media penulisan dapat menampung semua beban penggunanyatanpa perlu merasakan ganggunan kecemasan berkomunikasi.Penelitian ini, bertujuan mendeskripsikan karya tulisan Raditya Dika yangbermuatan cyber catharsis. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif denganmetode analisis semiotika untuk melihat bagaimana Raditya Dikamengkonstruksikan pengalaman-pengalaman melalui realitas, yang kemudiandapat dimaknai oleh pembaca sebagai tulisan yang bermuatan catharsis, namunmemiliki gaya penulisan tersendiri seperti layaknya analisis dalam karya sastra.Untuk itu, penelitian ini didukung dengan penggunaan teori teori media (MediaEquation Theory) dan teori kepribadian manusia (Psychoanalytic Theory).Hasil penelitian menunjukkan gaya absurd yang digunakan Raditya Dikadalam mengkonstruksikan pengalaman dengan cara-cara unik, sepertipenyampaian pesan secara hiperbolis, puitis, dan memiliki unsur komedi dalampenyampaiannya. Namun dengan gaya absurd Raditya Dika dalammengkonstruksikan pengalamannya, justru dinilai peneliti menjadi daya tarikuntuk memberikan pelajaran akan pentingnya kreativitas dalam kerangka berpikirdan berani menjadi „berbeda‟ dalam mencipta suatu karya, khususnya di bidangpenulisan.Kata kunci : Blog, Katarsis, Raditya Dika, Konstruksi, Emosi1.1 Latar BelakangBerbagai tulisan dalam buku-buku karya penulis yang akrab dipanggilRadith ini sebagian besar isinya merupakan cuplikan dari blog pribadi miliknyadengan alamat web www.kambingjantan.com. Blog yang saat ini telah bergantinama menjadi www.radityadika.com ini banyak mengulas kehidupan pribadiseorang Raditya Dika dari berbagai sisi mengenai problematika yang terjadidalam kesehariannya. Problematika yang terjadi dalam kehidupan seseorang jikatidak disikapi secara bijak dan dikelola secara benar akan menimbulkan dampakyang merugikan bagi diri sendiri maupun lingkungan. Permasalahan yang dialamioleh individu sebagai suatu kondisi yang tidak menyenangkan dapat mengganggukondisi psikis atau mental maupun fisik. Hingga pada akhirnya pada suatu kondisiseseorang dapat secara tidak sadar mengeluarkan emosi secara berlebihan dengancara-cara yang destruktif. Pengeluaran emosi dalam bentuk yang destruktif dapatterjadi pada setiap orang jika tidak ada penyaluran yang tepat untuk menetralisirmunculnya efek negatif dari emosi.Sebagai makhluk yang mempunyai naluri untuk hidup bersama denganyang lain, manusia dibekali dengan daya nalar dan perasaan atau emosi. Keduahal ini merupakan aspek yang mendukung komunikasi antarmanusia melaluiinteraksi dan sosialisasi. Dengan daya nalar, manusia akan terikat oleh kebutuhaninformasi dari orang lain. Sedangkan menggunakan perasaan dan emosinya,manusia akan terikat oleh kebutuhan untuk berbagi dan mengutarakan keinginankeinginannya.Untuk memenuhi setiap kebutuhan ini diperlukan komunikasi.Komunikasi mampu menjembatani pikiran, perkataan, dan perbuatan denganmenggunakan bahasa dari masing-masing pihak yang berkomunikasi (Liliweri,1997 : 64).Berdasarkan fungsi interaksi dan komunikasi inilah manusia terikatdengan manusia lainnya untuk dapat berbagi, baik untuk menyampaikan ide-ide,gagasan, dan keinginan masing-masing pihak. Melalui proses pengiriman danpenerimaan pesan, sebuah hubungan interaksional akan terjalin dari pihak-pihakyang terlibat di dalamnya. Pesan yang disampaikan oleh komunikator (pengirimpesan) harus dapat dimengerti oleh komunikan (penerima pesan) agar timbulkesamaan makna sehingga akan terbentuk komunikasi yang efektif. Namunseringkali proses pengiriman pesan ini terkendala pada pihak yang menyampaikanpesan itu sendiri. Menurut James Mc Croskey, pada dasarnya setiap orang pernahmengalami kecemasan dalam berkomunikasi (communication anxiety).Kecemasan berkomunikasi merupakan kecenderungan untuk mengalamikecemasan secara berlebihan dalam waktu yang relatif lama dan dalam berbagaisituasi yang berbeda (Morissan dan Wardhany, 2009 : 50 - 51). Untuk metralisirkecemasan tersebut, dibutuhkan suatu cara yang disebu dengam katarsis(catharsis). Banyak cara yang dapat dilakukan untuk melakukan katarsis,sehingga dapat mengurangi tingkat kecemasan seseorang sebagai reaksiketidakmampuan menghadapi suatu permasalahan dan tidak dapat keluar darimasalah tersebut. Salah satunya dengan menuliskan pengalaman pribadi dalammedia sosial blogging sebagai sarana pelampiasan perasaan.1.2 PermasalahanFenomena yang disebut oleh anak muda sebagai fenomena nge-blog inisemakin berkembang setelah kemunculan tulisan-tulisan karya Raditya Dika yangsecara terbuka menjadikan media blogging sebagai tempat berbagi menceritakanseluruh pengalaman hidupnya. Tidak terlepas dari sifat dasar manusia yang inginselalu berbagi untuk menyumbangkan gagasan dan perasaannya, setiap orangmembutuhkan sosok „pendengar‟ untuk berbagai hal. Terlebih lagi untuk hal-halyang berkaitan erat dengan perasaan dan emosi manusia yang membutuhkanruang untuk penyalurannya. Namun terkadang seseorang terhalang oleh adanyakecemasan dalam komunikasi, seperti yang terjadi dalam komunikasiinterpersonal. Untuk itulan, peneliti peneliti ingin melihat bagaimana cara RadityaDika mengkomunikasikan pengalaman hidupnya yang mengecewakan melaluicara katarsis sebagai sarana alternatif pelampiasan kecemasan berkomunikasi.1.3 Tujuan PenelitianTujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan karya tulisan padablog Raditya Dika yang mencerminkan bentuk katarsis online (cyber catharsis)atau pelampiasan perasaan melalui sosial media.1.4 Kerangka TeoretisPenelitian ini menggunakan teori Kepribadian Psikoanalisis dan teori EkuasiMedia.1.5 Metoda PenelitianPenelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif deskripstif dengan paradigmakonstruktivistik. Dalam hal ini, pengalaman hidup Raditya Dika sebagai hasilkonstruksi sosial dapat dimaknai sebagai teks yang bermuatan katarsis.Pemaknaan atas teks dilakukan dengan menggunakan analisis semiotika JuliaKristeva, yang memfokuskan kajian bahasa sebagai salah satu bentuk karya sastrayang melekat makna-makna tersembunyi di dalamnya. Namun untukmenganalisis makna dalam teks karya sastra, lebih lanjut dapat dilakukanpembacaan makna secara subyektif yang mengedepankan peran aktif pembacadengan berbagai pengalaman psikologis dan pengalaman membaca sebelumya.Berdasarkan hal inilah, Michael Riffaterre memperkenalkan tahapan pembacaanteks dalam karya sastra melalui empat hal, yakni : Ketidaklangsungan ekspresi,pembacaan heuristik dan hermeneutik, matriks dan varian, serta hubunganintertekstualitas.1.6 Temuan PenelitianPenelitian ini dilakukan dengan pembacaan teks pada blog Raditya Dikayang bermuatan cyber catharsis terhadap dua postingan yang berjudul “PahitManis Cinta Adalah...” dan “Hal-hal yang Gue Pikirin Pas Lagi Laper dan GueBingung Kenapa Juga Gue Pikirin...”. Kedua postingan ini dapat dilakukanpembacaan makna dengan dua hahap, yakni tahap pertama (heuristik) dan tahapkedua (hermeneutik). Pembacaan tahap pertama (heuristik) dilakukan dengan caramembubuhkan tambahan kata yang diberi tanda kurung untuk lebihmempermudah memahami maksud kalimat yang dicantumkan pada halaman blog.Kemudian tahap kedua dilakukan dengan membaca teks padakalimat secara penuhuntuk lebih memahami maksud kalimat yang mengandung makna konotasi ataumakna kias.Postingan “Pahit Manis Cinta Adalah...” dapat digolongkan ke dalam tekskarya sastra berbentuk puisi yang hampir semua kalimat dalam bait menggunakangaya bahasa, seperti metafora, personifikasi, elipsis, dan lain sebagainya.Postingan ini berisi kegelisahan atau kekecewaan Raditya Dika terhadap kisahpercintaan yang pernah dialami di masa lalu. Kemudian postingan “Hal-hal yangGue Pikirin Pas Lagi Laper dan Gue Bingung Kenapa Juga Gue Pikirin...”berbentuk prosa komedi. Postingan ini berisi kegelisahan Raditya Dika terhadaphal-hal sepele yang dialami saat sedang merasakan lapar maupun saat makan danhal-hal absurd yang dipikirkan Raditya Dika berkaitan dengan rasa lapar.1.7 Hasil PenelitianKedua postingan Raditya Dika yang berjudul “Pahit Manis Cinta Adalah...”dan “Hal-hal yang Gue Pikirin Pas Lagi Laper dan Gue Bingung Kenapa JugaGue Pikirin...” dikonstruksikan mengandung muatan katarsis berdasarkan asumsidari teori kepribadian Psikoanalisis yang diperkenalkan oleh Sigmund Freud.Postingan tersebut dipandang sebagai ungkapan perasaan Raditya Dika mengenaikejadian yang tidak menyenangkan, baik berupa kekecewaan, kekesalan, ataukebingungan terhadap kejadian yang dialami. Ditinjau dari struktur kepribadianmanusia, terdapat aspek bawah sadar sebagai tempat menyimpan memori-memoridan transferensi-transferensi dari kejadian masa lalu. Kesemua hal-hal negatifyang tersimpan dalam bawah sadar ini harus dikeluarkan agar tidak menimbun dialam bawah sadar dan keluar dalam kesadaran dalam bentuk yang destruktif(meusak). Apa yang menjadi dasar kegelisahan ini dikarenakan manusiamempunyai keinginan (id) yang berisi seluruh hawa nafsu dan keinginankeinginan.Namun terkadang Id ini berjalan tidak sesuai dengan konsep realitas(ego). Oleh karena itu, dibutuhkan cara untuk melampiaskan seluruh energinegatif yang tersimpan dalam alam bawah sadar agar muncul dalam kesadarandalam bentuk konstruktif. Cara ini disebut dengan mekanisme pertahanan ego.Wujud katarsis dilakukan dengan mekanisme pertahanan ego, yakni sublimasi.Sublimasi merupakan suatu cara untuk melampiaskan perasaan yang dilakukandengan cara-cara positif seperti menghasilkan suatu karya. Hal inilah yangdilakukan Raditya Dika unutk menyalurkan perasaannya melalui media penulisanonline blog sebagai media untuk menampung segala jenis gagasan dan perasaanpengunanya. Kemudian apa yang ditampilkan dalam media sosial blog tersebutdapat menjadi konsumsi khalayak, bahkan menjadi sebuah karya yang menghiburseperti layaknya tulisan yang dimuat dalam website atau blogwww.radityadika.com.1.8 KesimpulanPengalaman hidup Raditya Dika yang dituangkan dalam blog dikonstruksikansebagai tulisan bermuatan cyber catharsis. Peneliti meerubrikasi tulisan RadityaDika ke dalam bentuk karya sastra dengan menggunakan analisis bahasa sebagaialat untuk berkomunikasi dan mengungkapkan gagasan-gagasan yang tersimpandalam alam bawah sadar. Teks yang memuat bahasa karya sastra ini kemudiandicari maknanya dengan menggunakan analisis semiotika Riffaterre. Bahasabahasayang bersifat konotatif ini menyimpan makna tersendiri dari sistem bawahsadar manusia.Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa blog dapat dijadikan sarana untukpelampiasan perasaan yang mampu mengatasi kecemasan berkomunikasi danmampu menampung segala hal yang disampaikan penggunanya secara terbuka.DAFTAR PUSTAKABuku :Ali, Mohammad dan Mohammad Asrori. (2008). Psikologi Remaja :Perkembangan Peserta Didik. Jakarta : PT. Bumi Aksara.Aminuddin. (1991). Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung : C. V. SinarBaru.Atmazaki. (1993). Analisis Sajak : Teori, Metodologi, dan Aplikasi. Bandung :Angkasa.Bocock, Robert. (2002). Sigmund Freud. London : Routledge.Bateman, Anthony and Jeremy Holmes. Introduction to Psychoanalysis :Contemporary Theory and Practice. London : Routledge.Berger, Arthur Asa. (1991). Media Analysis Techniques. California : SAGEPublications.Berger, Peter L. and Thomas Luckmann. 1966. The Social Construction of Reality: A Treatise in the Sociology of Knowledge. New York : SAGE Publication,Inc.Bertens, Kees. (1980). Memperkenalkan Psikoanalisa Sigmund Freud . Jakarta :PT. Gramedia. [Eds.] Freud, Sigmund. (1980). Ueber Psychoanalyse, FunfVorlesungen. London : Imago Publishing.Bungin, Burhan. (2007). Imaji Media Massa : Konstruksi Sosial Iklan Televisidalam Masyarakat Kapitalistik. Yogyakarta : Jendela.Bungin, Burhan. (2007). Penelitian Kualitatif : Komunikasi, Ekonomi, KebijakanPublik, dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta : Kencana.Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. (2010). Sosiolinguistik Perkenalan Awal.Jakarta : Rineka Cipta.Chaplin, J. P. (2011). Dictionary of Psychology. New York : Dell Publishing, Inc.Chun, Wendy Hui Kyong and Thomas Keenan. (2006). New Media Old Media : AHistory and Theory Reader. New York : Routledge.Corbetta, Piergiorgio. (2003). Social Research : Theory, Methods, andTechniques. London : SAGE Publications.Danesi, Marcel. (2010). Pengantar Memahami Semiotika Media. Terj.A.Gunawan Admiranto. Yogyakarta : Jalasutra.Denzin, Norman K. and Yvonna S. Lincoln. (1994). Handbook of QualitaiveResearch. London : SAGE Publications.Dominick, Joseph R. The Dynamics of Mass Communication. America : McGrawHill.Fachri, Hisyam A. (2010). Tarot Psikologi : Menemukan Jati Diri, Konseling, danHipnosis Terapan.. Jakarta : Gagas Media.Fiske, John. (2011). Cultural and Communication Studies : Sebuah PengantarPaling Komprehensif. Terj. Yosal Iriantara dan Idi Subandy Ibrahim.Yogyakarta : Jalasutra.Friedman, Howard S. dan Miriam W. Schutack. (2008). Kepribadian : TeoriKlasik dan Riset Modern. Terj. Dina Mardiana. Jakarta : Erlangga.Gerungan, W. A. (2004). Psikologi Sosial. Bandung : Refika Aditama.Hall, Calvin S, Gardner Linsey, John B. Compbell. (1993). Teori-teoriPsikodinamik (Klinis) : Psikologi Kepribadian. Terj. Yustinus Semiun.Yogyakarta : Kanisius.Hall, Stuart, Dorothy Hobson, dkk. [ed]. (2011). Budaya Media Bahasa. Terj.Saleh Rahmana. Yogyakarta : Jalasutra.Heller, Sharon. (2005). Freud A to Z. Canada : John Wiley & Sons, Inc.Irwanto. (2002). Psikologi Umum. Jakarta : PT. Prenhallindo.Kothari, C. R. (2004). Methodology : Methods and Techniques (Second RevisedEdition). New Delhi : New Age International Publishers.Liliweri, Alo. (1997). Komunikasi Antar Pribadi. Bandung : PT. Citra AdityaBakti.Littlejohn, Stephen W. and Karen A. Foss. 2009. Encyclopedia of CommunicationTheory. California: SAGE Publication, Inc.Maslow, Abraham H. (1994). Motivasi dan Kepribadian 2. Terj. Nurul Imam.Jakarta : PT. Pustaka Binaman Pressindo.McQuail, Denis. (1987). Teori Komunikasi Massa. Terj. Agus Dharma danAminuddin Ram. Jakarta : Erlangga.Morissan dan Andy Corry Wardhani. (2009). Teori Komunikasi : Komunikator,Pesan, Percakapan, dan Hubungan. Jakarta : Ghalia Indonesia.Morreall, John. (2009). Comic Relief : A Comprehensive Philosophy of Humour.UK : John Wiley & Sons, Ltd.Nurudin. (2007). Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta : Rajawali Pers.Piliang, Yasraf Amir. (1998). Sebuah Dunia yang Dilipat : Realitas KebudayaanMenjelag Milenium Ketiga dan Matinya Posmodernisme. Bandung : MizanPustaka.Rakhmat, Jalaluddin. (2011). Psikologi Komunikasi. Bandung : PT. RemajaRosdakarya.Rybacki, Karyn C. and Rynacki Donald C. (1990). Communication Critism :Approaches and Genre. United State : Wadsworth Pub Company.Sobur, Alex. (2006). Semiotika Komunikasi. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.Shoemaker, Pamela J. And Stephen D. Reese. (1991). Mediating the Message :Theories of Influences on Mass Media Content. New York : Longman.Sujanto, Agus, Halem Lubis, Taufik Hadi. (1984). Psikologi Kepribadian. Jakarta: Aksara Baru.Suryabrata, Sumaji. (2003). Psikologi Kepribadian. Jakarta : PT. Raja GrafindoPersada.Thwaites, Tony, Lyod Davis, Warwick Mules. (2009). Introducing Cultural andMedia Studies : Sebuah Pendekatan Semiotik. Terj. Ikramullah Mahyiddin.Yogyakarta : Jalasutra.Waluyo, Herman J. (2002). Apresiasi Puisi. Jakarta : Gramedia.Wade, Carole dan Carol Tavris. (2008). Psikologi. Terj. Benedictine Widyasintadan Darma Juwono. Jakarta : Erlangga.West, Richard dan Lynn H. Turner. (2008). Pengantar Teori Komunikasi :Analisis dan Aplikasi. Terj. Maria Natalia Damayanti Maer. Jakarta : PT.Salemba Humanika.Yusuf, Syamsu dan A. Juntika Nurihsan. (2007). Teori Kepribadian. Bandung :PT. Remaja Rosdakarya.Zoest, Aart Van. (1993). Semiotika : Tentang Tanda, Cara Kerjanya, dan Apayang Kita Lakukan Dengannya. Terj. Ani Soekowati. Jakarta : YayasanSumber Agung.Jurnal :Powell, Esta. 2007. Catharsis in Psychology and Beyond : A Historic Overview.Washington DC : Author.Tesis :Wulandari, Diah. (2010). Analisis Framing : Konstruksi Pemberitaan Politik Ber-Isu Gender. Tesis. Universitas Diponegoro.Artikel :Noguchi, Yuki. (2005). Cyber-Catharsis : Bloggers Use Web Sites as Therapy.http://www.washingtonpost.com/wpdyn/content/article/2005/10/11/AR2005101101781.html. Diakses pada 20Juli 2013.Internet :Anonim. (2013). Kata-kata Mutiara Cinta Terbaik Kahlil Gibran.http://statuzgue.blogspot.com/2013/03/kata-kata-mutiara-cinta-kahlilgibran.html. Diakses 14 Oktober 2013.Anonim. (2013). Pengertian RSS Feed dan Kegunaan.http://prowebpro.com/articles/ pengertian rss feed dan kegunaan html.Diakses pada 2 November 2012.Darwati, Yuli. (2013). Dinamika Kepribadian Menurut Sigmund Freud.http://www.slideshare.net/elmakrufi/dinamika-kepribadian-sigmund-freud.Diakses pada 10 November 2013.Dika, Raditya. Ini Dia Cara Standup Comedian Menemukan Bahan Komedi.http://radityadika.com/ini-dia-cara-standup-comedian-menemukan-bahankomedi,Diakses pada 24 Oktober.Fajar. (2012). Biografi Raditya Dika - Penulis Muda Indonesia. http://kolombiografi.blogspot.com/2012/02/biografi-raditya-dika.html. Diakses pada 18November 2013.Hary, Eka. (2011). Pengertian Blog dan Mengenal Sejarah Blog.http://www.ekahary.com/pengertian-blog-dan-mengenal-sejarah-blog.Diakses pada 25 September 2013.Isharyanto. (2013). Perempuan Dilarang Melucu : Beberapa Makna Humor.http://hiburan.kompasiana.com/humor/2013/05/10/perempuan-dilarangmelucu-beberapa-makna-humor-558883.html. Diakses pada 28 Juli 2013.Ismono, Henry. (2009). Raditya Dika : Semua Berawal dari Kesuksesan "Ngeblog".http://entertainment.kompas.com/read/2009/01/07/10305623/Raditya.Dika.Semua.Berawal.dari.Kesuksesan.Ngeblog. Diakses pada18 November 2013.Janiar, Nia. (2010). Menulislah dan Jangan Bunuh Diri.http://ruangpsikologi.com/menulislah-dan-jangan-bunuh-diri. Diakses pada13 September 2013.Kresna, Arya. (2010). Menatap Kelucuan : Menelaah Opera Van Java.http://aryaningaryakresna.blogspot.com/2010/04/menatap-kelucuanmenelaah-opera-van.html. Diakses pada 18 November 2013.Purwanti, Tenni. (2011). Hari Blogger Nasional, Sejarah dan Perkembangannya.http://tekno.kompas.com/read/2011/10/27/18033547/Hari.Blogger.Nasional.Sejarah.dan.Perkembangannya. Diakses pada 18 November 2013.Rivera, Ryan. “Tanpa tahun”. How Anxiety Can Impair Communication.http://www.calmclinic.com/anxiety/impairs-communication. Diakses pada 2Mei 2013.Tasmil. (2010). Blog Sebagai Media Kampanye Politik.http://tasmil.blogspot.com/2010/03/my-history.html. Diakses pada 27September 2013.Website :www.alexa.comwww.benablog.comwww.blog.bukukita.comwww.poconggg.comwww.radityadika.com
Pengaruh Intensitas Mengkonsumsi Program Televisi Bermuatan Jurnalisme Warga dan Partisipasi Coaching Citizen Journalism terhadap Minat Mahasiswa menjadi Jurnalis Warga Paranggani, Kembang Soca; Herieningsih, Sri Widowati; Pradekso, Tandiyo
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.636 KB)

Abstract

Pengaruh Intensitas Mengkonsumsi Program Televisi bermuatanJurnalisme Warga dan Partisipasi Coaching Citizen Journalism terhadapMinat Mahasiswa menjadi Jurnalis WargaABSTRAKLatar belakang penelitian ini didasarkan pada rendahnya minat masyarakat termasukmahasiswa untuk menjadi jurnalis warga. Hal tersebut diperoleh dari sedikitnya partisipasimasyarakat yang mengirimkan karya jurnalis warga pada program televisi bermuatanjurnalisme warga. Padahal, kemajuan teknologi seperti keberadaan alat komunikasi yangsemakin canggih seharusnya mempermudah masyarakat untuk saling berbagi informasi. Olehkarenanya, media televisi seperti Metro TV dan SCTV membuat program on air seperti WideShot dan Citizen6 maupun program off air bermuatan jurnalisme warga yakni coachingcitizen journalism. Oleh karenanya, ketika seseorang mengkonsumsi program tersebut danberpartisipasi dalam coaching diharapkan dapat mempengaruhi minatnya untuk menjadijurnalis warga.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intensitas mengkonsumsiprogram televisi bermuatan jurnalisme warga dan partisipasi coaching citizen journalismterhadap minat mahasiswa menjadi jurnalis warga. Teori yang digunakan pada penelitian iniadalah teori Powerfull Effect dan Teori Pembelajaran Sosial dari Albert Bandura. Penelitianini merupakan tipe penelitian eksplanatif dengan pendekatan kuantitatif, dan menggunakanparadigma positivistik. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa di kota Semarangyang pernah menjadi peserta dalam SCTV Goes to Campus 2012 yang digelar di kampusFISIP Undip. Sampel yang digunakan adalah random sampling atau probability samplingdengan tekhnik simple random sampling maka diperoleh jumlah sampel sebanyak 67responden. Berdasarkan perhitungan statistik dengan menggunakan analisis regresisederhana, maka diperoleh pengaruh yang sangat signifikan. Variabel intensitasmengkonsumsi program televisi bermuatan jurnalisme warga (X1) memiliki pengaruhsebesar 0,112 terhadap minat mahasiswa menjadi jurnalis warga (Y) dengan nilai signifikansisebesar 0,003 < 0,01 maka H0 ditolak dengan koefisien regresi sebesar 0,017. Dapatdisimpulkan bahwa variabel intensitas mengkonsumsi program televisi bermuatan jurnalismewarga berpengaruh positif terhadap minat mahasiswa menjadi jurnalis warga. Selanjutnya,partisipasi coaching citizen journalism (X2) memiliki pengaruh sebesar 0,204 terhadap minatmahasiswa menjadi jurnalis warga (Y) dengan nilai signifikansi 0,000 <0,01 maka H0 ditolakdengan koefisien regresi sebesar 0,086. Maka dapat disimpulkan bahwa variabel partisipasicoaching citizen journalism berpengaruh positif terhadap minat mahasiswa menjadi jurnaliswarga.Kata kunci: Intensitas, Partisipasi dan MinatNama : Kembang Soca ParangganiNIM : D2C009086Judul : The Influence Intensity of Consuming Television Program containingCitizen Journalism and The Participation of Coaching CitizenJournalism towards The College Student Interest to be a CitizenJournalist.ABSTRACTThe background of the research was based on the lack of public interest including students tobe a citizen journalist. It is derived from the least participation of citizen journalists whosubmit their video or news on television program countaining citizen journalism. In fact, thetechnology is becoming more sophisticated and easier for people to share information.Therefore, the television media such as Metro TV and SCTV made an on air program (WideShot and Citizen6) and also made an off air pogram that is coaching citizen journalism foreducating people. The media expected to affect people’s interest to be a citizen journalistwhen they consume the program and participate in coaching citizen journalism.The purpose of this research is to find out the influence intensity of consumingtelevision program containing citizen journalism and the participation of coaching citizenjournalism towards the college student interest to be a citizen journalist. The theory used inthis research is the theory Powerful Effect and Social Learning Theory of Albert Bandura.This reaserch is type of explanatory with a quantitative, and uses paradigm of positivisme.The reaserch's subjects were the college students in Semarang who had participated in SCTVGoes to Campus 2012 held at the Faculty of Political and Social Science, Undip. The usedsample is random sampling or probability sampling with simple random sampling techniquewith 67 respondents. Based on the statistic computation with Simple Regression Analysis,then there is known a significant result. Variable the influence intensity of consumingtelevision program containing citizen journalism (X1) has the effect of 0.112 on the collegestudent interest to be a citizen journalist (Y) with a significance value of 0.003 <0.01 then H0is rejected with koefisien regression of 0,017. It can be concluded that the influence intensityof consuming television program containing citizen journalism has a positive effect on on thecollege student interest to be a citizen journalist. Furthermore, the participation of coachingcitizen journalism (X2) has the effect of 0.204 on the college student interest to be a citizenjournalist (Y) with a significance value of 0.000 <0.01 then H0 is rejected with koefisienregression of 0,086. It can be concluded that the participation of coaching citizen journalismhas a positive effect on on the college student interest to be a citizen journalist.Keywords: Intensity, Participation and InterestsPENDAHULUAN1.1 Latar BelakangFenomena jurnalisme warga semakin berkembang berkat kemajuan teknologi komunikasiyang begitu pesat. Kemajuan teknologi alat rekam, internet, dan streaming turutmembuka akses masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam menghadirkan informasisemakin cepat dan terbuka. Meskipun kemajuan teknologi komunikasi telah memberikanruang gerak yang luas bagi perkembangan jurnalisme warga di Indonesia, akan tetapipada kenyataanya animo masyarakat untuk berpartisipasi menjadi jurnalis warga masihtergolong rendah. Hal tersebut diungkapkan oleh oleh Syaifudin, produser Wide ShotMetro TV, Imam Suwandi, produser Wide Shot Metro TV divisi jurnalisme warga, danTria Maulida Putri selaku ketua panitia seminar dan talkshow dengan tema “EnchanchingNational Economic Journalism.Oleh karenanya, sebagai program televisi bermuatan jurnalis warga, Metro TVmelalui program Wide Shot dan SCTV melalui program online Citizen6 melakukanberagam upaya untuk mendorong minat mahasiswa menjadi jurnalis warga. Metro TVdan SCTV mengadakan pelatihan atau coaching citizen journalism di berbagaiuniversitas di Indonesia. Oleh karenanya, masalah dalam penelitian ini apakah terdapatpengaruh intensitas mengkonsumsi program televisi bermuatan jurnalisme warga danpartisipasi coaching citizen journalism terhadap minat mahasiswa menjadi jurnaliswarga?1.2 TujuanPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intensitas mengkonsumsi programtelevisi bermuatan jurnalisme warga dan partisipasi coaching citizen journalism terhadapminat mahasiswa menjadi jurnalis warga1.3 Kerangka Teori- Powerfull Effects Theory : Teori ini mengasumsikan bahwa media massa dapatmenyuntikkan informasi ide, dan bahkan propaganda ke public.- Teori Pembelajaran Sosial : Teori hasil penelitian Albert Bandura ini memandangbahwa seseorang dapat belajar, baik dengan cara mengamati, diberikan cerita tentangsesuatu, atau melalui pengalaman langsung.Bagan geometri :1.4 HipotesisHipotesis yang diajukan dalam penelitian ini sebagai berikut :1. Intensitas mengkonsumsi program televisi bermuatan jurnalisme warga berpengaruhpositif terhadap minat mahasiswa menjadi jurnalis warga2. Partisipasi coaching citizen journalism berpengaruh positif terhadap minat mahasiswamenjadi jurnalis warga.1.5 Metode Penelitian- Tipe Penelitian : penelitian eksplanatif (explanatory)- Sampel : peserta coaching SCTV Goes to Campus 2012 sebanyak 67 responden.- Teknik penarikan sampel : teknik Simple Random Sampling- Teknik analisis data : kuantitatif dengan mengganakan uji analisis Simple Regression.Sebelum melakukan penyebaran kuesioner diakukan uji validitas dan reliabilitas.Kemudian sebelum melakukan pengolahan data dilakukan uji Asumsi Klasik.Intensitas mengkonsumsi Program Televisibermuatan Jurnalisme Warga ( X1)Partisipasi Coaching Citizen Journalism (X2)Minat Mahasiwa menjadiJurnalis Warga (Y)PEMBAHASAN2.1 Pengaruh Intensitas Mengkonsumsi Program Televisi Bermuatan JurnalismeWarga terhadap Minat Mahasiswa menjadi Jurnalis WargaBerdasarkan hasil pengujian uji regresi sederhana diperoleh nilai signifikansi sebesar0,003 dengan koefisien regresi sebesar 0,017. Oleh karena sig sebesar 0,003 < 0,01 makaH0 ditolak atau dapat disimpulkan bahwa koefisien regresi variabel intensitasmengkonsumsi program televisi bermuatan jurnalisme warga berpengaruh positifterhadap minat mahasiswa menjadi jurnalis warga.Selanjutnya, nilai Adjusted R Square sebesar 0,112. Nilai tersebut menunjukkanbahwa minat mahasiswa menjadi jurnalis warga dipengaruhi oleh intensitasmegkonsumsi program televisi bermuatan jurnalisme warga sebesar 11,2% sedangkansisanya dipengaruhi oleh faktor –faktor lain.Televise sebagai media massa dapat memberikan pengaruh kepada audiensnyamelalui program-program acara yang ditayangkan. Secara langsung program televisibermuatan jurnalisme warga menjadi referensi bagi para pemirsa yang aware terhadaplingkungan untuk berbagi informasi terhadap sesama.2.2 Pengaruh Partisipasi Coaching Citizen Journalism terhadap Minat Mahasiswamenjadi Jurnalis Warga.Berdasarkan hasil pengujian uji regresi sederhana diperoleh nilai signifikansi sebesar0,000 dengan koefisien regresi sebesar 0,086. Oleh karena sig sebesar 0,000 <0,01 makaH0 ditolak atau dapat disimpulkan bahwa koefisien regresi variabel partisipasi coachingcitizen journalism berpengaruh positif terhadap minat mahasiswa menjadi jurnalis wargaNilai Adjusted R Square sebesar 0,204. Nilai tersebut menunjukkan bahwa minatmahasiswa menjadi jurnalis warga dipengaruhi oleh partisipasi coaching citizenjournalism sebesar 20,4% sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor –faktor lain.Dengan demikian, apa yang dialami langsung oleh peserta coaching citizenjournalism sesuai dengan apa yang dijelaskan oleh Albert Bandura mengenai tahapanbelajar sosial yakni dimulai pada tahapan memperhatikan hingga mengarahkan dorongansesuai pengalaman.PENUTUP3.1 Kesimpulan- Intensitas mengkonsumsi program televisi bermuatan jurnalisme warga berpengaruhpositif terhadap minat mahasiswa menjadi jurnalis warga. Semakin tinggi intensitasmengkonsumsi program televisi bermuatan jurnalisme warga maka semakin tinggipula pengaruhnya terhadap minat mahasiswa menjadi jurnalis warga. Begitu puladengan keadaan sebaliknya.- Partisipasi coaching citizen journalism berpengaruh positif terhadap minat mahasiswamenjadi jurnalis warga. Tingginya partisipasi coaching citizen journalism akanberpengaruh pada tingginya minat mahasiswa menjadi jurnalis warga. Begitu puladengan keadaan sebaliknya.3.2 Saran- Sebagai upaya untuk meningkatkan minat mahasiswa menjadi jurnalis warga,sebaiknya media televisi juga meningkatkan frekuensi pengadaan coaching citizenjournalism dan memperluas jangkauan wilayah pengadaan coaching.DAFTAR PUSTAKABuku :Ardianto, Elvinaro dan Lukiati K. Edinaya. (2004). Komunikasi Massa: Suatu Pengantar.Bandung: Simbiosa Rekatama Media.Bungin, Burhan. (2007). Sosiologi Komunikasi: Teori Paradigma, dan Diskursus TeknologiKomunikasi di Masyarakat. Jakarta: Kencana.Ghozali, Imam. (2006). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Semarang:Badan Penerbit Universitas Diponegoro.Hazim, Nurkholif.(2005). Teknologi Pembelajaran. Jakarta: UT Pustekom IPTPIKuswandi, Wawan. (1996). Komunikasi Massa: Sebuah Analisis Media Televisi. Jakarta: PTRineka Cipta.Kusumaningati, Imam FR (2012). Jadi Jurnalis Itu Gampang!. Jakarta: PT Elex MediaKomputindo.Kriyantoro, Rahmat. (2006). Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana PrenadaMedia Group.Liliweri, Alo. (1991). Memahami Peran Komunikasi Massa Dalam Masyarakat. Bandung:PT. Citra Aditya Bakti.Mulyasa, E. (2004). Implementasi Kurikulum 2004 panduan pembelajaran KBK. Bandung:PT. Remaja Rosda KaryaMcQuail, Dennis. (1996). Teori Komunikasi Massa Suatu Pengantar Edisi Kedua. Jakarta:Erlangga.Nurudin. (2007). Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.Prasetyo, Bambang dan Miftahul Jannah.(2012). Metode Penelitian Kuantitatif. Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada.Rahmat, Jalaludin. (2006). Psikologi Komunikasi Edisi Revisi. Bandung: P.T RemajaRosdakarya.Romli, Asep S. (2012).Jurnalistik Online. Bandung: Nuansa Cendekia.Santoso, Singgih. (2000). SPSS Mengolah Data Statistik Secara Profesional Versi 7.5.Jakarta: PT Elex Media KomputindoSarwono, Sarlito Wirawan. (1997). Psikologi Remaja. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.Simamora, Bilson. (2002). Panduan Riset Perilaku Konsumen. Jakarta: PT Gramedia PustakaUtama.Syarif, Rusli. (1987). Teknik Manajemen Latihan dan Pembinaan. Bandung: Angkasa.Soekanto, Soerjono. (1993). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: CV Rajawali.Soetrisno dan Rita, Hanafi. (2007). Filasafat Imu dan Metodologi Penelitian edisi ketujuh.Jakarta: CV Andi OffsetSuwandi, Imam. (2012). Langkah Otomatis Jadi Citizen Journalist. Jakarta: Dian Rakyat.Vivian, John. (2008). Teori Komunikasi Massa edisi Kedelapan. Jakarta: Kencana PrenadaMedia Group.Skripsi:Pricilia P.(2012). Pengaruh Terpaan Program Acara Stand Up Comedy Show di Metro TVterhadap Minat Menonton (Studi Kasus Terhadap Pengunjung Comedy CafeKemang). Skripsi. Universitas Bina Nusantara.Nurul Inayah S. (2007). Hubungan Intensitas Menonton Program Acara Pencarian Bakat diTelevisi dan Dukungan Orang Tua dan Teman dengan Minat Remaja dalammengembangkan Bakat di Dunia Musik. Skripsi. Universitas Diponegoro.Arsita Pitriawanti. (2010). Pengaruh Intensitas Menonton Televisi dan Komunikasi Orang tua– Anak terhadap Kedisiplinan Anak dalam Menaati Waktu Belajar. Skripsi.Universitas Diponegoro.Internet:Universitas Pamulang Coaching Jurnalistik. (2013). Dalam http:/ /lentera berita.com/index.php/tagsel/339-universitas-pamulang-coaching-jurnalistik. html.Diunduh pada tanggal 15 Juni 2013 pukul 20:18 WIB.Ratusan Mahasiswa Ikuti Pelatihan Jurnalistik Metro TV. (2013). Dalam http://www.metrotvnews.com /metronews/read/2013/05 /13 /3/153081/ Ratusan-Mahasiswa-Ikuti-Pelatihan-Jurnalistik-Metro-TV. Diunduh pada 20 Juni 2013 pukul 12:07 WIB.Wide Shot.(2012). Dalam http://wideshot. metrotvnews.com /news . php?id=14. Diunduhpada 15 Juni 2013, pukul 20:22 WIB.Wide Shot.(2012). Dalam http://wideshot. metrotvnews.com /news . php?id=20. Diunduhpada 15 November 2013, pukul 20:18 WIB.Wide Shot.(2012). Dalam http://wideshot.metrotvnews.com/news. php ?id=18. Diunduh pada28 Oktober 2013, pukul 14:43 WIB.Wide Shot. (2013). Dalam http://wideshotmetrotv.blogspot.com/search?updated-max = 2013-02-26T18:52:00-08:00&max-results=7. Diunduh diakses pada 28 Oktober 2013,pukul 14:27 WIB.Jadwal Tayang Wide Shot. (2012). Dalam http://wideshotmetrotv.blogspot.com/. Diunduhpada 28 Oktober 2013, pukul 14:22 WIB.Konten Wide Shot. (2012). Dalam http://wideshotmetrotv.blogspot.com/. Diunduh pada 28Oktober 2013, pukul 14:26 WIB.Pelatihan Jurnalisme Warga di Semarang. (2012). Dalam http:/ /www. metro tvnews.com/detail /2012/ 10/03/ 19580/695/ Pelatihan-Jurnalisme-Warga-di-Semarang/Wideshot, Diunduh pada 28 Oktober 2013, pukul 10:40Pewarta Warga asal Solo Raih CJC Metro TV.(2012). Dalam http://www .solopos.com/2012/ 11/23/cjc-2012-2 pewarta -warga-asal-solo-raih-cjc-metro-tv-350266,Diunduh pada 28 Oktober 2013, pukul 09:30 WIB.Jadilah Citizen Journalist di Wide Shot. (2012). Dalam http://www.ediginting. com/ 2012/02/jadilah-citizen-journalist-di-wide-shot.html. Diunduh pada 28 Oktober 2013, pukul14:10 WIB.Yuk Jadi Pewarta Warga di Citizen6. (2012). Dalam http ://m.liputan6 .com/ news/ read/52781/yuk-jadi-pewarta-warga-di-citizen6. Diunduh pada 28 Oktober 2013, pukul10:37 WIB.Ajang Cari Bakat SCTV Goes to Campus (2012). Dalam http://blujer. blogspot.com/2012/03/ajang-cari-bakat-sctv-goes-tocampus.html. Diunduh pada 28 Oktober2013, pukul 10:40 WIB.Arvinda Pemenang SGTC Semarang 2012. (2012). Dalam http:// berita. plasa.msn.com/nasional/sctv/arvinda-pemenang-sgtc-semarang-2012. Diunduh pada 28Oktober 2013, pukul 10:47 WIB.
Memahami Komunikasi Antarpribadi Guru, Orang Tua Karier, dan Anak Remaja dalam Berinteraksi untuk Pencapaian Prestasi Sekolah Eryke Pramestaningtyas; Sri Budi Lestari; Agus Naryoso
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.523 KB)

Abstract

MEMAHAMI KOMUNIKASI ANTARPRIBADI GURU, ORANG TUA KARIER, DAN ANAK REMAJA DALAM BERINTERAKSI UNTUK PENCAPAIAN PRESTASI SEKOLAHABSTRAKAnak remaja merupakan usia yang memerlukan perhatian ekstra dari orang tua. Perhatian orang tua menjadi satu kendala pada anak-anak yang memiliki orang tua yang bekerja. Prestasi anak remaja di sekolah menjadikan prestige tersendiri. Fenomena komunikasi antara guru dan orang tua pada umumnya hanya terjadi dalam pertemuan-pertemuan yang diadakan pihak sekolah. Sedangkan komunikasi antara guru dan siswa pada umumnya berlangsung secara formal. Keadaan ini kurang mendukung terciptanya proses komunikasi antarpribadi yang berlangsung antara guru,orang tua karier, dan anak remaja.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengalaman komunikasi antarpribadi guru, orang tua karier, dan anak remaja dalam berinteraksi untuk pencapaian prestasi sekolah. Penelitian ini menggunakan tipe penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi yang menjelaskan pengalaman unik guru, orang tua karier, dan anak remaja mengenai interaksi di antara ketiganya menggunakan komunikasi verbal dan nonverbal untuk pencapaian prestasi sekolah. Penelitian ini menggunakan Teori Interaksi Simbolik yang menjelaskan bahwa makna atas komunikasi verbal dan nonverbal yang dipahami guru, orang tua karier dan anak remaja akan menentukan tindakan yang dilakukan.Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa sinergi komunikasi antara guru dan orang tua bergantung pada kemauan untuk menjalin kerjasama. Keterbukaan antara guru dan orang tua bermanfaat untuk dapat saling memberikan informasi terkait pendidikan anak remaja khususnya mengenai pengetahuan bakat dan minat anak remaja yang dapat dikembangkan menjadi prestasi. Sikap guru terhadap siswa baik melalui komunikasi verbal maupun komunikasi nonverbal juga merupakan satu hal penting untuk membuat siswa memiliki kedekatan dan keterbukaan terhadap guru. Informasi terkait pendidikan anak remaja di sekolah dan kehidupan pribadi siswa dapat diperoleh dengan adanya kedekatan dan keterbukaan antara guru dan siswa. Selain itu, keberhasilan anak remaja dalam mencapai prestasi sekolah turut dipengaruhi oleh lingkungan keluarga dan kemauan orang tua karier membagi waktu antara pekerjaan dan perhatian kepada anak di rumah membutuhkan kesadaran akan adanya tanggung jawab mengurus anak baik di rumah maupun terkait pendidikan anak remaja.Kata kunci: sinergi komunikasi, komunikasi verbal dan nonverbal, prestasi sekolah3UNDERSTANDING INTERPERSONAL COMMUNICATION BETWEEN TEACHER, CAREER PARENTS, AND ADOLESCENT IN INTERACT FOR ACADEMIC ACHIEVEMENTABSTRACTAn adolescent is the age of requiring extra attention from their parents. Attention from parents would be one obstacle in children have career parents. The achievement of an adolescent in school make more prestigious. Generally, the phenomenon of communication between teachers and parents occurs only in the meetings held the school. While communication between teachers and their students in general place in a formal situation. This situation is less supporting the creation of the process of interpersonal communication between teachers, career parents, and an adolescent.This study aims to describe the experiences of interpersonal communications between teachers, career parents, and adolescent in interact to achievement in school. This research using a research descriptive qualitative by phenomenology approach which explains experience unique between teacher, career parents and adolescent about interactions which use verbal communication and nonverbal communication for scholastic achievement school. This research uses the Symbolic Interaction Theory which explains that the meaning of the verbal and nonverbal communication to understand teachers, career parents and adolescent will determine the actions taken.Based on the results of the study showed that the synergy communication between teachers and parents is dependent on a willingness to establish cooperation. Openness between teachers and parents is beneficial to be able to give information regarding the education of adolescents in particular regarding knowledge of talent and interest adolescent that can be developed into achievements. Attitudes of teachers towards students either through verbal communication and nonverbal communication is also the one thing it is important to make the students have a closeness and openness against the teacher. Related information education an adolescent in schools and personal life students can be obtained by the proximity and transparency between teachers and students. In addition, the success of an adolescent in achieve at school also affected by family environment and volition career parents apportion time among the job and attention to a child at home require a conscious awareness of the responsibility propose at home or related to education an adolescent.Key words: the synergy communication, verbal and nonverbal communication, academic achievement4Memahami Komunikasi Antarpribadi Guru, Orang Tua Karier, dan Anak Remaja dalam Berinteraksi untuk Pencapaian Prestasi SekolahLatar BelakangMasa remaja merupakan masa peralihan dari masa anak ke masa dewasa yang mengalami perkembangan mencakup kematangan mental, emosional sosial dan fisik. Secara psikologis, anak usia remaja merupakan usia munculnya nalar yang berupa akal (ratio) dan kesadaran diri (self consciousness) Dalam masa ini tumbuh rasa keingintahuan dan keinginan untuk mencoba-coba. Periode ini merupakan puncak perkembangan emosi. Anak usia remaja dikategorikan sebagai usia labil atau rentan. Oleh karena itu, anak remaja memerlukan perhatian ekstra dari orang tuanya. (Hidayat, 2012:149)Tak hanya keluarga, lingkungan sekolah juga ikut mempengaruhi perkembangan karakter anak remaja. Sebagai pelajar, anak remaja menghabiskan waktu di sekolah 7 jam sehari atau 42 jam selama seminggu. Selama waktu tersebut, tentunya banyak kegiatan yang dilakukan anak remaja seperti belajar maupun bermain dengan teman-teman sebayanya. Apabila anak remaja mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, waktu yang dihabiskan di sekolah bertambah menjadi kurang lebih 10 jam sehari.Prestasi anak remaja dapat tercapai apabila ada kemauan belajar, dukungan dari orang tua maupun guru di sekolah. Selain dukungan sosial dari orang tua dan guru, konsep diri memiliki peran penting dalam pencapaian prestasi siswa.5Konsep diri dibentuk dari keluarga. Dalam hubungannya dengan perkembangan anak, keluarga sering dikenal dengan sebutan primary group. Bagaimana anak akan melihat dirinya sendiri, dan bagaimana pandangan orang lain terhadap dirinya akan menentukan kepribadian anak (Hidayat 2012:154). Proses pembentukan konsep diri akan menjadi satu kendala pada anak-anak yang memiliki orang tua yang berkarier di luar rumah. Adapun beberapa kendala yang umumnya dihadapi anak-anak yang memiliki orang tua yang berkarier di luar rumah meliputi minimnya waktu bertemu secara fisik dengan orang tua yang digantikan melalui media telepon, hingga tidak jarang muncul rasa sepi pada anak-anak tersebut.Kewajiban orang tua adalah untuk mendidik dan mengasuh anak-anak dengan baik. Namun karena kesibukan, kadangkala orang tua lebih mempercayakan pendidikan dan pengasuhan kepada guru di sekolah. Orang tua juga menganggap dengan menyerahkan anak ke sekolah favorit dan ternama, tugas untuk mendidik dan mengasuh mereka sudah selesai. Namun sebenarnya guru di sekolah hanya sekadar membantu karena pelaku utama dalam pendidikan dan pengasuhan anak adalah orang tuanya.Fenomena komunikasi antarpribadi antara guru dan orang tua saat ini pada umumnya hanya terjadi dalam pertemuan-pertemuan yang diadakan pihak sekolah saat penentuan uang komite sekolah dan penerimaan hasil belajar (raport). Keadaan ini kurang mendukung terciptanya proses komunikasi antarpribadi yang berlangsung antara guru dan orang tua. Guru dan orang tua jarang membicarakan6bakat yang dimiliki anak untuk dikembangkan. Hal ini dapat menghambat anak remaja untuk mencapai prestasi.Adanya komunikasi antara guru, orang tua karier, dan anak remaja sangat diperlukan, mengingat untuk mencapai prestasi di sekolah, anak remaja membutuhkan dukungan dari guru dan orang tua. Dukungan guru dan orang tua dapat tercipta apabila ada relasi yang baik di antara keduanya.Kerangka Teori dan MetodologiKomunikasi adalah bentuk dasar adaptasi terhadap lingkungan. Kebutuhan individu akan hubungan sosial yang baik hanya dapat terpenuhi apabila membina hubungan yang baik dengan orang lain. Diperlukan rasa saling berbagi dalam menjaga hubungan yang baik antara orang tua karier dengan anak remaja. Begitu juga hubungan dengan guru di sekolah. Cara semuanya berinteraksi dijelaskan dalam Teori Interaksi Simbolik.Interaksi orang tua karier – anak remaja menggunakan komunikasi interpesonal sebagai saluran komunikasi. Komunikasi antar pribadi dapat digunakan bagi dua orang atau lebih. Tindakan yang dipilih sebagai orang tua karier merupakan suatu kenyataan yang disebut realitas yang bermakna secara sosial (socially meaningful reality) Sebagai realitas sosial, menjadi orang tua karier tentu saja didasari dan memiliki alasan –alasan yang berorientasi ke masa lalu maupun berorientasi ke masa depan. Schutz menyebutnya sebagai pengalaman dan perilaku manusia (human being). (Hidayat, 2012:167).7Asumsi dari teori ini, ketika orang tua karier dan anak remaja sudah membentuk keharmonisan keluarga, maka dengan mudah informasi dari orang tua akan mudah diterapkan pada anak remaja terutama dalam pencapaian prestasi sekolah. Begitu pula dengan keberadaan guru yang dapat berinteraksi secara personal dengan baik terhadap orang tua karier dan anak remaja, akan berdampak pada kemauan anak untuk mengembangkan bakat yang dimiliki sehingga dapat mencapai prestasi yang didambakan.Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Deskriptif kualitatif bertujuan untuk membuat gambaran atau deskripsi mengenai suatu hal, situasi, fakta, ataupun kejadian secara sistematis. Peneliti menggunakan tipe penelitian ini karena ingin mengungkap gambaran pengalaman komunikasi antarpribadi antara guru, orang tua karier, dan anak remaja dalam berinteraksi untuk pencapaian prestasi sekolah.Pendekatan penelitian dalam penelitian ini adalah pendekatan fenomenologi. Fenomenologi mendeskripsikan pengalaman yang diperoleh secara langsung dan memahami perilaku sebagai sesuatu yang dipengaruhi fenomena pengalaman daripada realitas obyektif yang berasal dari luar diri individu. (Tim Fisip Undip 2006:16). Dalam penelitian ini, maka peneliti akan mengungkap pengalaman proses komunikasi antarpribadi dari guru, orang tua karier, dan anak remaja dalam berinteraksi untuk pencapaian prestasi sekolah.8Hasil1) Sinergi Komunikasi Guru dan Orang Tua dalam Pendidikan Anak RemajaKomunikasi yang dilakukan oleh guru dan orang tua siswa pada SMP Islam Al Azhar 14 Semarang seringkali terjadi. Frekuensi pertemuan di antara kedua pihak tak bergantung pada saat terjadi masalah saja pada siswa, melainkan sewaktu-waktu saat diperlukan. Frekuensi pertemuan yang sering antara guru dan orang tua karier di sekolah ini membuat hubungan di antara keduanya menjadi akrab dan tidak segan menceritakan kehidupan pribadi masing-masing. Pada SMP Negeri 40 Semarang, guru melibatkan orang tua siswa hanya saat siswa mengalami kesulitan belajar dan saat siswa melakukan pelanggaran tata tertib saja.2) Komitmen Guru Sebagai Tanggung Jawab ProfesiDalam temuan penelitian ini, baik guru SMP Islam Al Azhar 14 Semarang dan guru BK SMP Negeri 40 Semarang sama-sama menunjukkan sikap empatinya pada siswa dengan komunikasi nonverbal seperti ekspresi wajah dan kontak mata saat berkomunikasi.3) Pentingnya Komunikasi Keluarga sebagai Pijakan Awal dalam Pembentukan Karakter Anak RemajaMasing-masing informan dalam penelitian ini memiliki cara tersendiri dalam mengasuh anak mereka. Dua informan membiasakan anak untuk bangun pagi agar tidak terlambat ke sekolah. Keduanya juga menyempatkan waktu untuk mengantar jemput anak sekolah. Komunikasi nonverbal berupa cium tangan,9memeluk anak dan mencium kening anak sebelum berangkat sekolah merupakan kebiasaan sehari-hari pada kedua informan ini. Sedangkan pada kedua informan yang lain membiasakan hanya cium tangan saja sebelum anak berangkat sekolah.4) Kepedulian Orang Tua Karier terhadap Pendidikan Anak RemajaDalam penelitian ini, dua informansedari dulu menyuruh anak untuk mengikuti bimbingan belajar dan mendukung apapun kegiatan anak yang bersifat positif. Sedangkan pada dua informan lainnya membebaskan anak untuk memilih akan mengikuti bimbingan belajar atau tidak. Keduanya tidak memaksakan anak untuk mengikuti suatu kegiatan.Kesimpulan1. Guru dan orang tua karier pada SMP Islam Al Azhar 14 Semarang melakukan pertemuan yang relatif sering yang membuat hubungan di antaranya keduanya menjadi terbuka satu sama lain dan baik guru maupun orang tua sama-sama mengetahui bakat dan minat anak remaja yang dapat dikembangkan menjadi prestasi. Suasana informal saat pertemuan guru dan orang tua dibutuhkan dalam menciptakan keterbukaan di antara keduanya. Perbincangan tak hanya mengenai masalah sekolah saja, akan tetapi membicarakan mengenai masalah keluarga. Sedangkan pada guru dan orang tua karier pada SMP Negeri 40 Semarang melakukan pertemuan hanya saat anak mengalami masalah saja. Informan orang tua karier juga enggan bertanya kepada guru bagaimana anak remajanya saat di sekolah.102. Informan guru dari masing-masing sekolah (SMP Islam Al Azhar 14 Semarang dan SMP Negeri 40 Semarang) meluangkan waktu saat jam istirahat untuk berbincang dengan siswa. Guru menghampiri siswa dan bersikap aktif agar siswa tak merasa canggung lagi untuk berbincang dengan guru. Guru menunjukkan kasih sayang kepada siswa melalui komunikasi verbal dan komunikasi nonverbal.3. Keberhasilan anak remaja dalam pencapaian prestasi sekolah turut dipengaruhi oleh lingkungan keluarga. Sikap orang tua dalam menyikapi nilai anak seperti saat anak mendapat nilai bagus, orang tua memuji dengan ucapan “kamu hebat” dan saat anak mendapat nilai jelek, orang tua menyemangati dengan ucapan “tidak apa-apa, lain kali belajar lebih giat” akan memotivasi siswa untuk mendapat nilai baik dibandingkan dengan sikap orang tua dengan cara memarahi anak. Selain itu, bagi orang tua karier membagi waktu antara pekerjaan dan perhatian kepada anak di rumah membutuhkan kesadaran akan adanya tanggung jawab mengurus anak baik di rumah maupun terkait pendidikan anak remaja.DAFTAR PUSTAKACangara, Hafid. (2002). Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: PT Raja Grafindo PersadaDeVito, Joseph A. (2006). Komunikasi Antarmanusia. Jakarta: Professional BooksHidayat, Dasrun. (2012). Komunikasi Antarpribadi dan Medianya. Yogyakarta: Graha Ilmu11LePoire, Beth.A. (2006). Family Communication (Nurturing and Control in a Changing World). California: Sage Publication, Inc.Liliweri, Alo. (1991). Komunikasi Antar Pribadi. Bandung: PT. Citra Aditya BaktiLiliweri, Alo. (2011). Komunikasi Serba Ada Serba Makna. Jakarta : PT. Kencana Prenada Media GroupMoleong, Lexy. (2007). Metodologi Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi). Bandung: PT. Remaja RosdakaryaMoustakas, Clark. (1994). Phenomenologycal Research Methods. California: Sage Publisher.Mulyana, Deddy. (2007). Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: PT. Remaja RosdakaryaTim Fisip Undip. (2006). Modul Pelatihan Metode Penelitian Kualitatif. SemarangWest, Richard dan Lynn H. Turner. (2007). Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi. Jakarta: Salemba HumanikaEbook:Hartley, Peter. (1946). Interpersonal Communication 2nd Edition. London: RoutledgeSkripsi:Dessy Christiyanti. (2010). Memahami Komunikasi Antar Pribadi Orang tua-Anak Yang Terlibat Dalam Kenakalan Remaja. Skripsi. Universitas DiponegoroDiah Ayu Berliana. (2010). Memahami Komunikasi Interpersonal Antara Orang Tua Dan Remaja Dalam Proses Pendidikan Kepribadian di Keluarga Single Parent. Skripsi. Universitas DiponegoroRetno Primastuti. (2009). Memahami Komunikasi Interpersonal antara Orang Tua Bekerja dengan Anak Remaja berkaitan dengan Kenakalan Remaja. Skripsi. Universitas DiponegoroInternet:http://psg.uii.ac.id/index.php/RADIO/4-Februari.html waktu akses: 21 April 2013 13:2012http://ejournal.gunadarma.ac.id/index.php/psiko/article/download/231/174 waktu akses 25 April 2013 6:45http://www.bppk.depkeu.go.id/webpegawai/attachments/617_Sinergi.pdf waktu akses : 10 September 2013 20:14http://pjjpgsd.dikti.go.id/file.../Kode_Etik_Keguruan.docx waktu akses : 10 September 2013 20:21
Video Dokumenter Televisi “Koboy Melukis Pusaka Jawa” Yuniawan Eko Widyantoko; Djoko Setiabudi; I Nyoman Winata
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (345.45 KB)

Abstract

Video Dokumenter Televisi “Koboy Melukis Pusaka Jawa”ABSTRAKVideo dokumenter merupakan salah satu produk jurnalistik dalam bentuk audio visual.Terdapat tim yang bekerja dari pra hingga pasca produksi untuk pembuatannya, dokumentaris dalamhal ini menjabat posisi sebagai cameraperson dan merangkap sebagai editor. Pemilihan posisi tersebutmerupakan kemauan dan kemampuan jurnalis dalam menjalankan proyek dokumenter ini.Dokumentaris berkerja sesuai dengan naskah sekenario yang di buat oleh sutradara. DokumenterKomunitas Komplotan Bocah Wayang (Koboy) yang berjudul “Koboy Melukis Pusaka Jawa”menampilkan sekumpulan anak muda yang gemar mengikuti kegiatan pewayangan di Sobokartti.Anak-anak muda ini bersepakat untuk menggelorakan semangat cinta wayang pada masyarakatSemarang dan menghimpun siapa saja yang berminat terhadap dunia pewayangan. Namun sayangnyatidak banyak generasi muda yang tertarik kepada wayang kulit. Wayang kulit selama ini identikdengan generasi lama atau orang tua, kuno, serta kolot untuk anak muda saat ini, karena bahasapengantarnya bahasa Jawa yang tidak populer lagi di kalangan generasi muda. Untuk menarik minatgenerasi muda pada wayang sebagai kesenian tradisional, akhirnya mereka berdua berusahamemberikan inovasi terhadap pewayangan dengan sentuhan kreatif yaitu dengan membuat sebuahwayang kreasi baru, yaitu dengan menggunakan fiber, tekson, kardus, serta e-wayang yang bisadiaplikasikan menjadi komik, poster, video animasi, dan yang bersentuhan dengan bidang digitalteknologi agar bisa lebih mendekatkan dan menarik minat anak muda sekarang.Mereka sangat totalitas dalam menggelorakan semangat cinta wayang pada masyarakatsemarang dan menghimpun siapa saja yang berminat terhadap dunia pewayangan, tergambar padakegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Koboy. Dari sekolah ke sekolah mereka bawa tongkat estafetbudaya wayang yang diwariskan oleh nenek moyang untuk mengenalkan kembali ke anak-anak mudasaat ini, Koboy menjembatani dengan ketulusan mereka, ketekunan serta semangat dan upaya-upayaagar anak muda semakin mengenal dan bangga serta dapat ikut menjaga kelestarian seni tradisionalwayang dalam wadah komunitas Komplotan Bocah Wayang atau Koboy. Melalui Koboy, diharapkanwayang bisa lebih dekat dengan masyarakat khususnya anak mudaSutradara sebagai seorang jurnalis harus memiliki ide dan konsep yang jelas mengenaiapa yang disampaikan dalam video news features dan bagaimana menyampaikannya secara logisberdasarkan fakta yang terjadi. Untuk memberikan sentuhan estetika dalam penyampaian pesan dalamnews features ada empat topic utama yang menjadi konsentrasi sutradara, yakni:pendekatan, gaya,bentuk, dan struktur. Setelah menentukan kemasan dari news features. Sutradara melakukan risetimengenai pendalaman tema, objek lokasi, dan pemilihan subjek- subjek yang akan menjadi tokohdalam news features Kegiatan riset dilakukan untuk menganalisis visi visual yaitu gambaran untukmengembangkan ide.Sutradara sebagai seorang penulis naskah menuangkan ide dan konsep dalamtreatment kemudian menulis naskah scenario beserta shooting list. Di dalam naskah scenario, sutradaramenentukan audio dan visual. Setelah masa produksi selesai, Sutradara menyeleksi gambar yanglayak dan sesuai naskah scenario kemudian membuat naskah editing. Sutradara memberikan naskahediting kepada editor, kemudian selama proses editing sutradara mendampingi editor sebagai tempatbertanya untuk kelancaran proses editingKata kunci: jurnalis, sutradara, penulis naskah, Wayang, KoboyiABSTRACTVideo documentary is one of audio-visual journalism product . There is a team working frompre to post-production to production, documentary in this case serves as a cameraperson and aconcurrent position as editor . The selection of these positions is the willingness and ability ofjournalists to carry out this documentary project . Documentary work in accordance with the scenarioscript made by the director . Komunitas Komplotan Bocah Wayang (Koboy) entitled “Koboy DrawsJava’s Heritage” featuring a bunch of young people who love to take part in Sobokartti puppet . Theyare agreed to foster a spirit of love puppets in Semarang and gather people who are interested in thepuppet world . But unfortunately not many young people are attracted to the shadow play . Wayangkulit is synonymous with the old generation or the old , ancient , and old-fashioned for today's youth ,because language introduction to the Java language is no longer popular among the youngergeneration . To attract young people to the puppet as traditional art , finally they both tried to deliverinnovation to the puppet with a creative touch to create a new puppet creations , using fiber , tekson ,cardboard , as well as e - puppets that can be applied into comics , posters , video animation , and is incontact with the field of digital technology in order to get closer and attract young people today .They are very total in spreading spirit of love puppets in Semarang and raise public who areinterested in the puppet world , reflected in the activities undertaken by Koboy . From school to schoolthey carry the baton puppet culture inherited by the ancestors to introduce back to young kids today,Koboy bridge with their sincerity , passion and perseverance as well as efforts to bring more youngpeople to know and be proud of and care for preservation of traditional art puppets Komplotan BocahWayang or Koboy gang. Through Koboy , puppet is expected to be closer to the public, especiallyyoung people .Film Director is a journalist who has clear idea and concept about what he will say on NewsFeatures video and how to delivering facts that occurred logically. To give aesthetic touch in givingmessage on News Features, there are four main topics that can be a concentration of the director, theyare : approaching, style, place and choosing players, research is doing by visual vision to make animage that decided an idea.Film Director as a screenwriter needs to pour some ideas and concepts in his treatment then he writesscenario script with shooting list. In scenario script, Film Director selecting the best appropriatepictures then he makes editing script to give to the editor. In editing process, Film Director has to sitnext the editor as a place to asking while film is being edited.Keywords : journalist, film director, script writer, Wayang and CowboyKeywords : Journalist , film director, script writer, wayang and Koboy .iBAB IPENDAHULUAN1.1. Latar BelakangKegiatan Jurnalistik sangat berkaitan erat dengan media massa cetak maupunelektronik, karena publikasi di media massa adalah salah satu syarat utama agar sebuah produktersebut dapat dikatakan sebagai produk jurnalistik. Media massa elektronik salah satunyatelevisi merupakan media massa elektronik yang mampu menyebarkan informasi secara cepatdan mampu mencapai pemirsa dalam jumlah banyak dalam waktu bersamaan. Televisi denganberbagai acara yang ditampilkan telah mampu menarik minat pemirsanya , dan mampumembius pemirsanya untuk selalu menyaksikan berbagai tayangan yang disiarkan televisi.Terlebih lagi TV merupakan media yang menyuguhkan tampilan melalui bentuk audio visual(suara dan gambar) sehingga tentunya membuat masyarakat lebih tertarik kepada televisidaripada media massa lainnya. Banyaknya audien televisi mejadikannya sebagai mediumdengan efek yang besar terhadap orang, kultur dan juga terhadap media lain. Sekarang televisiadalah media massa dominan (Vivian, 2008:225).Beberapa jenis dan bentuk pengembangan documenter televisi meliputi expositorydocumenter (penutur tunggal narrator), documenter drama, news feature, reality show daninvestigasi. Kami sebagai jurnalis ingin mebuat sebuah produk jurnalistik dalam bentuk newsfeature dengan format documenter yang nantinya akan di publikasikan melalui media televise.Alasan menggunakan format documenter karena konten didalamnya lebih lengkap, yaituseperti unsur informasi, ilmu pengetahuan, dan yang dominan unsure hiburan yang kreatif(fachrudin,2012:314).Kami ingin mengangkat salah satu kesenian tradisional yang mulaiterpinggirkan bahkan mulai ditinggalkan oleh anak muda khususnya adalah kesenianiwayang.Wayang selama ini kita kenal sebagai kekayaan budaya jawa.Wayang telah menjadietos dan pandangan hidup masyarakat jawa.Bahkan wayang menjadi esensi budaya jawa.Bagimasyarakat Jawa, wayang tidaklah hanya sekedar tontonan tetapi juga tuntunan.Wayang bukanhanya sekedar sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai media komunikasi, mediapenyuluhan dan media pendidikan.Wayang telah menjadi asset kebudayaan nasional, makakewajiban itu berarti terletak di pundak masyarakat Indonesia seluruhnya.Tetapi tentulahmasyarakat Jawa khususnya yang harus merasa lebih terpanggil untuk nguri-uri kekayaanbudayanya yang indah dan sarat nilai-nilai budaya yang adiluhung ini.Berbicara mengenai upaya pelestarian wayang masih terhitung sedikit terutamagenerasi muda. Salah satunya komunitas koboy (komplotan bocah wayang) yang berpusat diSobokartti yang melakukan kegiatan pelestarian dan pengenalan wayang dengan pelatihandalang bagi anak maupun remaja dan proses pembuatan wayang dengan berbagai medium.Meskipun mereka bukan pelaku seni atau orang yang terlibat dalam kegiatan pewayangannamun kegiatan yang mereka lakukan dengan mengenalkan wayang melalui workshop kesekolah-sekolah atau tempat-tempat umum, sudah menjadi salah satu cara pelestarian terhadapwayang. Meski hanya workshop, setidaknya kegiatan itu mampu memberi pesan untukmengenalkan tentang wayang terlebih dahulu kepada anak-anak dan orang tua, apabilakedepannya wayang tetap tidak diminatipun itu bukan merupakan kegagalan para koboy, yangterpenting adalah masyarakat yang terutama anak-anak mengetahui bahwa kita mempunyaipeninggalan kebudayaan yang sangat bernilai yaitu wayang. Koboy sangat berperan dalammelestarikan wayang meski tidak mampu meneruskan kebudayaan sebagai pelaku, setidaknyakoboy dapat meneruskan tongkat estafet kepada generasi muda, yang seharusnya tongkatestafet tersebut dibawa oleh orangtua untuk anak-anaknya namun terbentur orang tua jamansekarang banyak yang tidak peduli atau malah tidak mengenal tentang pewayangan, maka paraiorang tua sendiri tidak mampu berperan untuk mengenalkan wayang kepada anak-anaknyadidalam sistem pelestarian kebudayaan wayang saat ini.1.2 Kerangka Pemikiran1. Jurnalistik dalam DokumenterJurnalistik didefinisikan sebagai seni dan ketrampilan mencari, mengumpulkan,mengolah, menyusun dan menyajikan berita tentang peristiwa yang terjadi sehari-hari secaraindah, dalam rangka memenuhi segala kebutuhan hati nurani khalayaknya, sehingga terjadiperubahan sikap, sifat pendapat, dan perilaku khalayak sesuai dengan kehendak parajurnalisnya. (Suhandang, 2004:21).Video dokumenter merupakan sebuah produk jurnalistik berbentuk soft news yangbertujuan untuk pembelajaran dan pendidikan namun disajikan secara menarik (Morrison,2008:211). Sehingga dokumenter pun menjadi salah satu dari sekian media yang dapatdigunakan untuk menyampaikan informasi, pendidikan, pengaruh dan sekaligus hiburan untukkahalayak atau cakupan massa. Video dokumenter dapat diputar dan dipertunjukan kepadakhalayak dan target audience melalui ruang-ruang komunitas maupun secara massive yaitutelevisi. Televisi sendiri telah menjadi media komunikasi massa yang tidak terpisahkan denganmasyarakat. Masyarakat dari segala usia termasuk di dalamnya adalah remaja yang sangatakrab dengan televisi. Menurut Vivian (2008:16) televisi merupakan salah satu media yangtidak menuntut audiensnya untuk terlalu aktif , bahkan cukup pasif saja (cool media). Mediaseperti televisi, radio dan film yang diputar pada televisi merupakan jenis-jenis media yangmasuk kedalam kategori itu.i2. Gaya Bertutur dan Strukur DokumenterDalam pembuatan dokumenter ini, kamipara jurnalis memilih menggunakan gayarekonstruksi pada umunya bentuk ini dapat ditemui pada documenter investigasai dan sejarah,termasuk pula pada film etnografi dan antropologi visual. Dalam tipe ini, pecahan-pecahanatau bagian –bagian peristiwa masalampau maupun masa kini disusun atau direkonstruksiberdasarkan fakta sejarah.Pada saat merekonstruksi suatu peristiwa, latarbelakang sejarah,periode, serta lingkungan alam dan masyarakatnya menjadi bagian dari konstruksi peristiwatersebut.Konsep penuturan rekonstruksi terkadang tidak mementingkan unsur dramatic tetapilebih terkonsentrasi pada pemaparan isi sesuai kronologi peristiwa (Ayawaila, 2008: 40-43).Diharapkan pembuatan documenter dengan gaya rekonstruksi dapat membangunkan kembalipemahaman tentang wayang sebagai seni tradsisi yang menjadi pusat tatanan nilai dengannilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.Seperti halnya video documenter koboy ini yangmembandingkan kondisi kesenian wayang jaman dahulu yang banyak diminati,sertamerupakan sebagai pusat referensi tatanan nilai dan tatanan hidup, namunberbeda padasaat sekarang ini, padahal wayang dahulu lebih rumit dibanding dengan wayang jamansekarang yang sudah berinovasi dari segi cerita dan bahasa agar dapat diterima. Perkembanganjaman dengan munculnya media-media baru, peran wayang sebagaipusat tatanan nilai tergeseroleh media-media baru tersebut.1.3. Konstribusi KaryaNews feature ini dibuat sebagai tugas akhir untuk persyaratan kelulusan dalam Program StudiS-1 jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UNDIP. Selain itu juga dapat dimanfaatkan untuk :1. Media dalam mengenalkan kesenian wayang kepada generasi muda sehingga tumbuh rasacinta dan bangga generasi muda terhadap kesenian wayang.i2. Sarana untuk menumbuhkan kesadaran banyak pihak untuk terlibat dalam upaya menjagaeksistensi kesenian wayang.1.4 Konsep filmBentuk Dokumenter Tematis`Struktur penuturan ini biasanya digunakan apabila fokus cerita adalah sebuah objek lokasiyang merupakan tempat sejumlah orang melakukan aktivitasnya. Seperti halnya PerkumpulanKoboy dimana merupakan sebagai tempat berkumpulnya para para pencinta atau penggiatkesenian wayang dikalangan anak muda dalam melakukan kegiatan-kegiatannya, yang berpusat diSobokartti.Dalam “Koboy Melukis Pusaka Jawa” penceritaan diawali dengan pernyataan-pernyataan dariketiga narasumber mengenai permasalahan semakin terasingnya dan antusiasme yang kuranggenerasi muda terhadap kesenian wayang, kemudian upaya yang dilakukan oleh koboy untukmenumbuhkan rasa cinta dan bangga di generasi muda terhadap kesenian wayang dan diakhiridengan pernyataan-pernyataan narasumber mengenai eksistensi kesenian wayang dan upayaupayayang dilakukan untuk menarik minat generasi muda terhadap kesenian wayang.1.7. Personel dan Job DescriptionKarya bidang ini dibuat oleh tim yang terdiri dari 3 mahasiswa dalam sebuah sistem kerja yangdirancang sedemikian rupa untuk penilaian yang independen dalam laporan yang disusun.Personil dan Job description tersebut sebagai berikut :1. Rizka Putra Dinanti (D2C607042) Producer : Penanggung jawab dalam suatu produksi acara Lobi dengan pihak stasiun televisi untuk penayangani Lobi Narasumber Penanggung jawab anggaran untuk produksi2. Wisnuadi Trianggoro (D2C009129) Juru Kamera (cameraman) : melakukan riset lokasi riset narasumber, riset stockshoot kotasemarang, melakukan pengambilan gambar wawancara, melakukan pengambilan gambarsaat kegiatan objek dokumenter, memindahkan file untuk editor. Editor : bertugas memilih dan menyambung gambar atau siaran audio.3. Yuniawan Eko (D2C009136) Program Director/Sutradara : Orang yang bertanggung jawab dalam mengarahkan suatuproses produksi acara radio atau televisi. Penulis Naskah/Reporter : Orang yang berprofesi sebagai peliput atau pencari berita,menulis naskah atau melaporkan (to report) suatu event atau peristiwa atau kejadian padamedia radio tau televisi. Pra Produksi- Sutradara menentukan ide dan merumuskan konsep mengenai apa yang akan disampaikan- Sutradara menentukan bagaimana kemasan produk news features yang di dalamnyaditentukan pendekatan, bentuk penuturan dan struktur.- Sutradara melakukan riset mengenai pendalaman tema, objek lokasi, dan pemilihan subjeksubjekyang akan menjadi tokoh dalam news features.- Sutradara menuangkan ide dalam treatment.- Sutradara menulis naskah skenario- Sutradara menentukan audio dan visual dalam scenario Produksi- Sutradara menentukan format dan pemilihan shot saat melakukan produksii- Sutradara menentukan lokasi, latar belakang, dan posisi narasumber saat wawancara,sutradara mempertimbangkan siapa narasumber yang diwawancara termasuk kelengkapanmengenai usia dan profesi narasumber. Paska Produksi- Sutradara menyeleksi gambar yang layak dan sesuai naskah scenario kemudian membuatnaskah editing dengan tujuan menentukan visualisasi struktur cerita.Sutradara memberikan naskah editing kepada editor, kemudian selama proses editingsutradara mendampingi editor sebagai tempat bertanya.PENUTUPMembuat sebuah film baik itu fiksi ataupun non fiksi diperlukan riset yang matang. Dengancara mengumpulkan data atau informasi melalui observasi mendalam mengenai subjek, peristiwa, danlokasi sesuai tema yang akan diangkat. Riset secara mendalam sangat dibutuhkan karena news faeturetidak disajikan dalam sisi estetika saja tetapi juga kelengkapan informasi seusai dengan peristiwanyata. Secara umum dalam sebuah news features terdapat fakta-fakta yang ingin disampaikan dalambentuk informasi kepada masyarakat. Dalam pembuatan video news faeture ini mengalami tiga tahap,pra produksi, produksi, dan paska produksi. Berikut beberapa kesimpulan yang dokumentaris dapatkanselama proses pembuatan news faeture “Koboy Melukis Pusaka Jawa”Kesimpulan1) Pemilihan KOBOY ( Komplotan Bocah Wayang) sebagai subjek utama dalam videoini disesuaikan dengan tema yang diangkat yaitu pengenalan wayang sebagai kesenian yangmulai jauh di kalangan generasi muda. KOBOY yang beranggotakan anak- anak muda yangmemiliki minat dan kepedulian besar terhadap eksistensi wayang di tengah-tengah generasimuda .Mereka mempunyai komitmen kuat untuk menumbuhkan rasa cinta dan bangga padaigenerasi muda terhadap kesenian wayang. Pemilihan KOBOY didasarkan pada kesamaan visiyang sama dengan tujuan dibuatnya video News Features ini yaitu berupaya mengenalkanwayang kepada generasi muda sehingga tumbuh rasa cinta dan bangga terhadap wayang.2) Pemilihan Cakra Semarang TV sebagai media yang akan mempublikasikan videoNews Features kami dikarenakan salah satu program di Cakra Semarang TV yaitu ProgramSluman-Slumun yang mempunyai kesamaan dengan konten yang kami angkat yaitu upayapengenalan keberagaman budaya salah satunya wayang. Program Sluman-Slumun sendirimerupakan tayangan yang bercerita mengenai tempat-tempat yang memiliki history atausejarah di Semarang dan menceritakan keberagaman budaya yang ada di Semarang. SepertiKoboy yang merupakan salah satu komunitas wayang yang berpusat di Sobokartti.3) Pemilihan narasumber dan tokoh utama dalam video News Features mempunyaiperanan penting. Keberadaan narasumber dapat mempermudah sutradara dalammengembangkan ide cerita dan menjadi daya tarik dalam cerita. Pihak-pihak yang menjadinarasumber dalam News Features ini merupakan sosok-sosok yang mempunyai kepedulianyang besar terhadap perkembangan kesenian wayng dan memiliki pemahaman yang baikberkaitan dengan upaya-upaya untuk menjaga eksistensi kesenian wayang. Dalam penentuannarasumber diperlukan riset pendahuluan terlebih dahulu untuk mengetahui kapasitas dankompetensi para narasumber dalam menjawab permasalahan yang kami angkat.4) News Features “Koboy Melukis Pusaka Jawa” ini dibuat dengan menyasar targetaudience dengan kisaran umur 18-35 baik laki-laki maupun perempuan tanpa membedabedakankelas ekonomi maupun social. Dalam pembuatan News Features ini bahasa yangdigunakan bersifat formal dan informatif yang disesuaikan dengan karakteristik audience.Pemilihan bahasa tersebut diharapkan audience bisa memahami makna yang disampaikandalam News Features iniiDAFTAR PUSTAKABukuAyawaila, Gerzon R. (2008). Dokumenter dari Ide sampai Produksi. Jakarta : FFTV -IKJPRESSMuhammad, Djawahir. (2009). Semarang Sepanjang jalan kenangan, Semarang : PustakaSemarang 16Muhammad, Djawahir. (2011). Gambang Semarang Sebagai seni pernakan Cina, (belumditerbitkan)Morisson. (2008). Manajemen Media Penyiaran : Strategi Mengelola Radio dan Televisi.Jakarta : Kencana.Wibowo, Fred. 1997. Dasar-Dasar Produksi Program Televisi. Jakarta : PT GramediaWidiasarana IndonesiaWidagdo, Bayu dan Gora Winastwan (2007). Bikin Film Indie itu Mudah. Yogyakarta : C.VAndi OffsetJurnalDhanang Respati Puguh, dkk, 1999. Penataan Kesenian Gambang Smearang sebagai Identitas BudayaSemarang. laporan Penelitian Hibah Bersaing Perguruan Tinggi. Tahun I Anggaran 1998/1999.Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Universitas Diponegoro.InternetBudiman, Amen. 1974. “Gambang Semarang”, dalam Suara Merdeka 9 Pebruari 1974Er Maya Nugroho, 2010. “Gambang Semarang Tak Lagi Gamang”, dalam Suara Merdeka.comhttp://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/layar/2010/12/08/723/Gambang-Semarang-Tak-Lagi-GamangJodhi Yudono, 2010. “Gambang Semarang yang Gamang” dalam Kompas.com.http://nasional.kompas.com/read/2010/09/18/06273414/iTimur Arif Riyadi, 3013. “Regenerasi Tak Boleh Mati”, dalam Jurnal Nasional, Sabtu, 5 Jan 2013, diunduh pada 27 april 2013, http://www.jurnas.com/halaman/12/2013-01-05/231037Timur Arif Riyadi, 3013. “Klangenan bersama Gambang Semarang”, dalam Jurnal Nasional, Sabtu, 5Jan 2013, di unduh pada 27 april 2013, http://www.jurnas.com/halaman/12/2013-01-05/231036http://www.tempo.co/read/news/2012/12/13/112447876/Kesenian-Gambang-Semarang-Kembali-Dimunculkan
PENGARUH INTENSITAS MENGAKSES TWITTER DUTA IM3 TERHADAP KEPUASAN PENGALAMAN ADOPSI DAN KEPUASAN PENGALAMAN ADOPSI TERHADAP KEPUTUSAN PENGGUNAAN PROGRAM IM3 Ayu Kinasih, Diyan Hafdinovianti; Pradekso, Tandiyo; Setiabudi, Djoko
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.539 KB)

Abstract

Nama : Diyan H Ayu KinasihNIM : D2C009029Judul : Pengaruh Intensitas Mengakses Twitter Duta IM3 terhadapKepuasan Pengalaman Adopsi dan Kepuasan PengalamanAdopsi terhadap Keputusan Penggunaan Program IM3ABSTRAKTwitter sebagai salah satu promotion tools yang digunakan oleh PTIndosat Tbk, diharapkan dapat memperkenalkan program-program serta eventyang dilakukan oleh Indosat. Melalui duta IM3 sebagai brand ambassador, Indosatmencoba meraih pasar anak muda dengan melakukan kegiatan promosi.Tipe penelitian ini adalah eksplanatory yang menjelaskan pengaruhintensitas mengakses twitter duta IM3 terhadap kepuasan pengalaman adopsiterhadap kepuasan pengalaman adopsi, dan kepuasan pengalaman adopsi terhadapkeputusan penggunaan program IM3. Teknik pengambilan sampling denganproporsional random sampling. Uji pengaruh antara variabel intensitasmengakses twitter duta IM3 (X1) terhadap kepuasan pengalaman adopsi (X2)menggunakan Uji Regresi Linier Sederhana sementara uji pengaruh variabelkepuasan pengalaman adopsi (X2) terhadap keputusan penggunaan program IM3(Y) menggunakan Uji Regresi Logistik Biner.Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat intensitas mengakses twitterduta IM3 berpengaruh negatif terhadap kepuasan pengalaman adopsi dimanahanya 6,1% perubahan pada variabel Kepuasan Pengalaman Adopsi (X2)disebabkan oleh variabel Intensitas Mengakses Twitter Duta IM3 (X1) sisanya93,9% dipengaruhi oleh variabel lain diluar model yang diajukan. Serta kepuasanpengalaman adopsi (X2) berpengaruh positif terhadap keputusan penggunaanprogram IM3 (Y) dengan taraf kepercayaan sebesar 95%. Twitter merupakanmedia sosial yang bersifat real time. Sifat real time ini dapat menjadi kelebihanyaitu twitter mampu memberikan informasi secara cepa, namun juga memberikankelemahan yaitu cepat berlalunya informasi Dalam penelitian ini, twitter duta IM3dirasa kurang memberikan pengaruh yang maksimal dalam kegiatan komunikasipemasaran. Masih rendahnya frekuensi responden terhadap jumlah tweet yangdilihat per harinya menjadi salah satu penyebabnya. Pada kepuasan pengalamanadopsi, untuk kategori persyaratan tarif sendiri masih terhitung rendah namunsecara keseluruhan sudah merasa puas terhadap program-program IM3. Padaakhirnya keputusan yang diambil dalam penelitian ini adalah memutuskan untuktetap menggunakan program IM3, yang paling mendominasi adalah besarnyakeinginan untuk tetap merekomendasikan program IM3 kepada orang lain.Kata kunci: komunikasi pemasaran, intensitas mengakses twitter duta im3,keputusan menggunakan program im3.Nama : Diyan H Ayu KinasihNIM : D2C009029Judul : The influence of Intensity of Accessing to Twitter IM3Ambassador against Satisfaction of The Adoption Experienceand Satisfaction of The Adoption Experience against TheDecision Use of IM3 ProgramsABSTRACTTwitter as one of promotion tools used by PT Indosat Tbk, is expected tointroduce programmes and events carried out by Indosat. Through AmbassadorIM3 Indosat as brand ambassador, trying to grab the youth market by conductingpromotional activities.This research type is explanatory which explains the influence ofintensity of accessing twitter IM3 ambassadors against satisfaction of the adoptionexperience, and satisfaction of the adoption experience against decision use ofIM3 program. Retrieval technique of sampling with proportional randomsampling. Test of influence of variable intensity access twitter ambassadors IM3(X 1) to the satisfaction of the adoption experience (X 2) using Simple Linearregression test while the test influences of variable satisfaction the experience ofadoption (x 2) against the decision use of IM3 programs (Y) using BinaryLogistic regression test.The results of this research indicate there is an intensity to access twitterambassadors IM3 effect negatively to the satisfaction of the adoption experiencewhere only 6.1% change in the variable Satisfaction of the adoption Experience(X 2) the variable Intensity caused by Accessing Twitter Ambassadors IM3 (X 1)rest 93,9% influenced by variables other than the model asked. As well assatisfaction of the adoption experience (X2) have a positive effect against thedecision of the IM3 program (Y) with 95% confidence level. Twitter is a socialmedia in real time. This real time can be an excess of twitter to provideinformation we have load, but also give a quick passage of the weakness of theinformation. In this study, twitter proved less IM3 Ambassadors providemaximum influence in the activity of marketing communications. Still the lowfrequency of respondents against the number of tweets viewed per day to be oneof the cause. On the adoption experience, satisfaction for its own costrequirements category still accounts for low but overall it feels satisfied towardsIM3 programs. Ultimately the decision taken in this research is decided to stay,using program im3 most dominate is the desire to remain im3 programrecommends to others.Keywords: marketing communications, intensity of accessing twitter im3ambassadors, decision of the use of im3 programs.I Latar BelakangBanyak operator seluler di Indonesia menjadikan persaingan pasarsemakin ketat. Masing-masing operator meluncurkan program-program tambahanyang menawarkan berbagai macam bonus seperti bonus sms, telepon, maupuninternet. Untuk memperkenalkan program-program tersebut tentu dibutuhkanbauran promosi seperti TVC, radio, flayer, billboard/baliho, poster, event, maupunsponsorship.Dari hasil survey awareness yang dilakukan kepada masyarakat Bandungterhadap salah satu program Indosat yaitu 7 Hari 7 Malam, menunjukkan hasilbahwa responden mengetahui program tersebut dengan presentase 88%.Sementara responden yang memahami informasi yang didapat sebanyak 44%.Dan responden yang menggunakan program tersebut hanya 35% saja. Kurangnyainformasi dari Indosat inilah yang mengakibatkan responden tidak menggunakanprogram tersebut. Informasi disini berkaitan tentang cara pemakaian, berapanominal pulsa yang harus dipakai, serta apa kelebihan dan kekurangan dariprogram tersebut. Masyarakat Bandung mengetahui program tersebut mayoritasdari iklan televisi dan radio dengan presentase 86%, sementara sisanya mengakumengetahui program tersebut dari billboard/baliho, event, maupunbanner(http://www.academia.edu/3519915/HASIL_SURVEY_AWARENESS_MASYARAKAT_BANDUNG_TERHADAP_PROMO_INDOSAT_7h7m).Dengan menggunakan sosial media twitter melalui akun pribadi duta IM3diharapkan mampu mempromosikan segala program maupun event Indosatkepada masyarakat.II Perumusan MasalahMenurut hasil survey terhadap salah satu program Indosat yaitu 7 hari 7malam yang dilakukan di Kota Bandung, menunjukkan bahwa mayoritasresponden sudah mengetahui adanya program 7 hari 7 malam, namun karenakurangnya pemahaman informasi tentang program 7 hari 7 malam sepertiinformasi mengenai cara pemakaian, berapa nominal pulsa yang harus digunakan,dan apa kelebihan-kekurangan dari program tersebut menjadikan masyarakatmemilih untuk tidak menggunakan program 7 hari 7 malam. Ketika ditanyaresponden mengetahui program tersebut darimana, responden mayoritasmenjawab dari iklan televisi dan radio. Kedua media iklan yang disebutkan olehresponden merupakan media iklan yang bersifat satu arah, dimana tidak terdapatumpan balik atau feedback dari pengirim pesan.Keterbatasan informasi yang disampaikan serta komunikasi yang terjalinbersifat satu arah inilah yang menjadi awal mula terjadinya masalah. Awarenessmasyarakat mengenai produk memang sudah baik, namun dikarenakanketerbatasan informasi yang diberikan dari Indosat menjadikan masyarakatenggan untuk mencoba menggunakan program tertentu.Melihat keterbatasan tersebut, Indosat dengan menggunakan sosial mediatwitter melalui para duta IM3 melakukan kegiatan promosi mengenai setiapprogram-program terbaru yang dikeluarkan oleh Indosat. Duta IM3 yang dipilihdari anak-anak SMA inilah akan mendapat tugas sebagai ambassador, salesendorser, public influencer, community acquisition, indosat representatif.Kecenderungan konsumsi remaja menggunakan sosial media twitter inilah yangmenjadi alasan Indosat untuk menggerakkan duta IM3 melakukan promosi disosial media khususnya twitter. Dengan demikian, apakah ada pengaruh antaraintensitas mengakses twitter duta IM3 terhadap kepuasan pengalaman adopsi dankepuasan pengalamn adopsi terhadap keputusan penggunaan program IM3.III Tujuan PenelitianPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh antara intensitasmengakses twitter duta IM3 terhadap kepuasan pengalaman adopsi. Dan pengaruhantara kepuasan pengalaman adopsi terhadap keputusan penggunaan programIM3.IV HipotesisDalam penelitian ini dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut :1. Terdapat pengaruh positif antara intensitas mengakses twitter duta IM3(X1) terhadap kepuasan pengalaman adopsi (X2)2. Terdapat pengaruh positif antara kepuasan pengalaman adopsi (X2)terhadap keputusan penggunaan program IM3 (Y)V Landasan TeoriDalam penelitian ini, peneliti menggunakan 3 teori yang menjadi acuanatau dasar dalam pengerjaan penelitian ini yakni :Teori Difusi InovasiPada proses pengambilan keputusan inovasi, konsumen akan melaluibeberapa tahap yaitu pengetahuan, persuasi, keputusan, implementasi, dankonfirmasi (Shimp, 2003: 270).Low Involvement HierarchyLow involvement hierarchy menyebutkan bahwa tahapan perubahansikap untuk produk low involvement yaitu penerima setelah menerima pesan yangdikomunikasikan atau tahap kognitif, penerima akan langsung melakukantindakan (behavior), dan baru setelah itu kemudian dipandang sebagai lewat dariingatan untuk perilaku untuk sikap perubahan (afektif) (Belch, 2003 : 152).Teori Hierarki BelajarTeori hirarki belajar (The Learning Hierarchy Theory) (Liliweri, 1992 :90) menerangkan bahwa setiap informasi pertama-tama akan menerpa khalayakdan akibatnya terjadi perubahan komponen kognitif dari khalayak tersebut.Perubahan itu meliputi kesadaran, perhatian, pemahaman khalayak terhadapproduk yang dipersuasifkan. Dengan kata lain, khalayak pertama-tama harusmemperhatikan, mengerti, dan paham tentang informasi.VI Metoda PenelitianTipe penelitian ini adalah penelitian eksplanatori, yaitu penelitian yangmenjelaskan hubungan kausal antara variabel-variabel yaitu intensitas mengaksestwitter duta IM3, kepuasan pengalaman adopsi, dan keputusan penggunaanprogram IM3.Dari total populasi 19511 follower duta IM3 Semarang, diambilsebanyak 100 responden sebagai sampel dengan teknik pengambilan sampelproporsional random sampling. Metode pengambilan sampel ini digunakanapabila populasi terdiri dari beberapa unit yang memiliki besar kecil yangberbeda. Dengan mengetahui jumlah setiap unit populasi yang ada, sampelkemudian diambil dari setiap unit secara berimbang berdasarkan besar kecilnyajumlah. Dari ukuran sampel 100, kemudian didistribusikan secara proporsionalmasing-masing ke dalam 10 unit duta IM3, yang disesuaikan dengan persentasejumlah total populasi yang dimiliki sampel. Kemudian tiap follower pada 10 unitduta IM3 diberi nomer terlebih dahulu, sesuai dengan jumlah anggota populasidan dilakukan pengundian.Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan mengajukanpertanyaan secara langsung atau wawancara terhadap responden mengenaipertanyaan-pertanyaan yang tertera pada kuesioner.VII PembahasanHasil penelitian ini menunjukkan terdapat intensitas mengakses twitterduta IM3 berpengaruh negatif terhadap kepuasan pengalaman adopsi dimanahanya 6,1% perubahan pada variabel Kepuasan Pengalaman Adopsi (X2)disebabkan oleh variabel Intensitas Mengakses Twitter Duta IM3 (X1) sisanya93,9% dipengaruhi oleh variabel lain diluar model yang diajukan. Sehingga H1ditolak.Serta kepuasan pengalaman adopsi (X2) berpengaruh positif terhadapkeputusan penggunaan program IM3 (Y) dengan taraf kepercayaan sebesar 95%.Sehingga H2 diterima.Twitter merupakan media sosial yang bersifat real time. Sifat real timeini dapat menjadi kelebihan yaitu twitter mampu memberikan informasi secaracepa, namun juga memberikan kelemahan yaitu cepat berlalunya informasi Dalampenelitian ini, twitter duta IM3 dirasa kurang memberikan pengaruh yangmaksimal dalam kegiatan komunikasi pemasaran. Masih rendahnya frekuensiresponden terhadap jumlah tweet yang dilihat per harinya menjadi salah satupenyebabnya. Pada kepuasan pengalaman adopsi, untuk kategori persyaratan tarifsendiri masih terhitung rendah namun secara keseluruhan sudah merasa puasterhadap program-program IM3. Pada akhirnya keputusan yang diambil dalampenelitian ini adalah memutuskan untuk tetap menggunakan program IM3, yangpaling mendominasi adalah besarnya keinginan untuk tetap merekomendasikanprogram IM3 kepada orang lain.VIII KesimpulanBerdasarkan uraian pokok bahasan penelitian sebelumnya, maka dalambab ini berisi tentang kesimpulan atas hasil penelitian pengaruh intensitasmengakses twitter duta IM3 terhadap kepuasan pengalaman adopsi dan kepuasanpengalaman adopsi terhadap keputusan penggunaan program IM3 :1. Intensitas mengakses twitter duta IM3 berpengaruh negatif terhadap kepuasanpengalaman adopsi. Setiap kenaikan pada frekuensi dan durasi twittermenyebabkan penurunan pada kepuasan pengalaman adopsi.2. Kepuasan pengalaman adopsi berpengaruh positif terhadap keputusanpenggunaan program IM3. Tingkat kepuasan pengalaman adopsi membuatfollower twitter memutuskan untuk tetap menggunakan program Indosat.IX Saran1. Penggunaan twitter melalui akun pribadi duta IM3 dirasa masih kurangmemberikan pengaruh yang maksimal dalam aktifitas komunikasipemasaran, oleh karena itu penggunaan promotion tools lainnya perludipertimbangkan.2. Perlu adanya perencanaan dalam penggunaan sosial media dalam kegiatankomunikasi pemasaran, hal ini berkaitan dengan pemilihan waktu yangtepat untuk melakukan aktifitas dalam twitter. Para duta IM3 sebaiknyamemperhatikan waktu-waktu yang tergolong “premier” dimana pada jamjamtersebut mayoritas follower twitternya sedang mengakses twitter.3. Indosat perlu memperhatikan kembali ketentuan tarif yang dikenakanuntuk menggunakan program tertentu dengan melihat banyak respondenyang merasa kurang puas dengan persyaratan tarif program. Denganbegitu diharapkan masyarakat akan tetap menggunakan program IM3yang ditawarkan.DAFTAR PUSTAKABelch, George and Michael A Belch. (2003). Advertising and Promotion:AnIntegrated Marketing Communications Perspective (6th ed.). The McGraw-HillCompaniesDuden. (2003). Deutsche Grammatik. Manheim Leipzig Wein: DudenverlagFahmi, Abu Bakar. (2011). Mencerna Situs Jejaring Sosial. Jakarta: PT ElexMedia KomputindoKasali, Rhenald. (1995). Manajemen Periklanan. Jakarta: Pustaka Utama GrafitiSumartono. (2002). Terperangkap dalam Iklan:Meneropong Imbas Pesan IklanKomputer. Bandung: CV AlfabetaKotler, Philip. (1995). Manajemen Pemasaran Analysis Perencanaan danImplementasi. Jakarta: Salemba EmpatLiliweri, Alo. (1992). Dasar-Dasar Komunikasi Periklanan. Bandung: PT CitraAditya BaktiNisfiannoor, Muhammad. (2009). Pendekatan Statistika Modern untuk IlmuSosial. Jakarta: Salemba HumanikaRuslan, Rosadi. (2006). Metode Penelitian Public Relation dan Komunikasi.Jakarta: PT Raja Grafindo PersadaShimp A, Terence. (2003). Periklanan Promosi dan Aspek Tambahan KomunikasiPemasaran Terpadu (5th ed. Jilid 1). Jakarta: ErlanggaSugiarto, dkk. (2001). Teknik Sampling. Jakarta: Gramedia Pustaka UtamaSugiyono. (2007). Statistika untuk Penelitian. Bandung: CV AlfabetaTrihendradi,C. 2011. Langkah Mudah Melakukan Analisis Statistik MenggunakanSPSS 19. Yogyakarta : Penerbit AndiSumber Internet :Hasil Survey Top Brand Index. (2013). Dalam http://www.topbrandaward.com/top-brand-survey/survey-result/top-brand-index-2013/ Diunduh pada10 April 2013 pukul 10.30 WIBAdhima, Faza. (2013). Hasil Survey Awareness Masyarakat Bandung TerhadapPromo Indosat 7 Hari 7 Malam. Dalamhttp://www.academia.edu/3519915/HASIL_SURVEY_AWARENESS_MASYARAKAT_BANDUNG_TERHADAP_PROMO_INDOSAT_7h7m Diunduhpada 15 Mei 2013 pukul 13.00 WIBDela Permata Jadi Duta IM3 Queen 2012. (2012). Dalamhttp://www.tribunnews.com/2012/06/17/della-permata-jadi-duta-im3-queen-2012 Diunduh pada 15 Mei 2013 pukul 14.00 WIBHariyanti, Dini. (2011). Remaja, 64 Persen Pengguna Jejaring Sosial. Dalamhttp://www.jurnas.com/news/34328/Remaja,_64_Persen_Pengguna_Jejaring_Sosial_/2/Sosial_Budaya/Saintek Diunduh pada 16 Mei 2013 pukul 20.00 WIBhttps://twitter.com/search?q=%23DUTAIM3SASMG&src=hash Diunduh pada16 Mei 2013 pukul 21.30 WIBhttp://www.telkomsel.com/kartuas Diunduh pada 2 Agustus 2013 pukul 19.30WIBhttp://www.telkomsel.com/product/simpati/631-simPATI-Freedom.htmlDiunduh pada 2 Agusutus 2013 pukul 20.00 WIBhttp://www.telkomsel.com/promosimpati Diunduh pada 2 Agustus 2013 pukul21.00 WIBhttp://www.xl.co.id/id/internet/paket/hotrod Diunduh pada 21 Agustus 2013pukul 19.00http://www.xl.co.id/id/prabayar Diunduh pada 21 Agustus 2013 pukul 20.00http://www.xl.co.id/id/prabayar/perdana/xl-ku Diunduh pada 21 Agustus 2013pukul 20.30http://www.indosat.com/Personal/IM3_Update/IM3_Sekalee Diunduh pada 22Agustus 2013 pukul 15.00http://www.indosat.com/Personal/IM3_Update/IM3_SMS_SUKA_SUKADiunduh pada 22 Agustus 2013 pukul 15.30http://indosat.com/Personal/Personal/DOBEL_1000_BERKAH Diunduh pada22 Agustus 2013 pukul 17.00http://icity.indosat.com/t5/Events-Announcements/Terbaru-Dari-Indosat-Pulsa-Isi-Ulang-12000/td-p/78840 Diunduh pada 7 November 2013 pukul 19.00http://www.indosat.com/Personal/IM3_Update/IM3_Play Diunduh pada 7November 2013 pukul 19.30http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/113510 Diunduh pada 9 April2013 pukul 21.00http://www.indosat.com/Public_Relations/Press_Release_Photo_Gallery/INDOSAT_GELAR_IM3_MOBILE_ACADEMY_KE6 Diunduh pada 7 November 2013pukul 20.00Jurnal dan Skripsi :Raditya, C. (2012). Hubungan intensitas penggunaan situs jejaring sosial twitterdengan intensitas komunikasi interpersonal mahasiswa program studi ilmukomunikasi UPN FISIP “veteran” Yogyakarta. Skripsi. UPN VeteranYogyakarta.Kwon, Eun Sook and Yongjun Sung. (2011). Follow Me! Global MarketersTwitter Use. Journal of Interactive Advertising: 1-11Sari, Viranti Mustika. (2012). Pengaruh Eletronic Word of Mouth (eWOM) disocial media twitter terhadap minat beli konsumen: Studi pada RestoranHolycowsteak. Skripsi. Universitas IndonesiaSteyer, Alexandre, Renaud Garcia Bardidia, Pascale Quester. (2010). OnlineDiscussion Groups as Social Networks: An Empirical Investigation of Word ofMouth on The Internet. Journal of Interactive Adevertising: 1-6
Kembang Soca Paranggani Kembang Soca Paranggani; Sri Widowati Herieningsih; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.636 KB)

Abstract

Nama : Kembang Soca ParangganiNIM : D2C009086Judul : Pengaruh Intensitas Mengkonsumsi Program Televisi bermuatanJurnalisme Warga dan Partisipasi Coaching Citizen Journalism terhadapMinat Mahasiswa menjadi Jurnalis WargaABSTRAKLatar belakang penelitian ini didasarkan pada rendahnya minat masyarakat termasukmahasiswa untuk menjadi jurnalis warga. Hal tersebut diperoleh dari sedikitnya partisipasimasyarakat yang mengirimkan karya jurnalis warga pada program televisi bermuatanjurnalisme warga. Padahal, kemajuan teknologi seperti keberadaan alat komunikasi yangsemakin canggih seharusnya mempermudah masyarakat untuk saling berbagi informasi. Olehkarenanya, media televisi seperti Metro TV dan SCTV membuat program on air seperti WideShot dan Citizen6 maupun program off air bermuatan jurnalisme warga yakni coachingcitizen journalism. Oleh karenanya, ketika seseorang mengkonsumsi program tersebut danberpartisipasi dalam coaching diharapkan dapat mempengaruhi minatnya untuk menjadijurnalis warga.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intensitas mengkonsumsiprogram televisi bermuatan jurnalisme warga dan partisipasi coaching citizen journalismterhadap minat mahasiswa menjadi jurnalis warga. Teori yang digunakan pada penelitian iniadalah teori Powerfull Effect dan Teori Pembelajaran Sosial dari Albert Bandura. Penelitianini merupakan tipe penelitian eksplanatif dengan pendekatan kuantitatif, dan menggunakanparadigma positivistik. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa di kota Semarangyang pernah menjadi peserta dalam SCTV Goes to Campus 2012 yang digelar di kampusFISIP Undip. Sampel yang digunakan adalah random sampling atau probability samplingdengan tekhnik simple random sampling maka diperoleh jumlah sampel sebanyak 67responden. Berdasarkan perhitungan statistik dengan menggunakan analisis regresisederhana, maka diperoleh pengaruh yang sangat signifikan. Variabel intensitasmengkonsumsi program televisi bermuatan jurnalisme warga (X1) memiliki pengaruhsebesar 0,112 terhadap minat mahasiswa menjadi jurnalis warga (Y) dengan nilai signifikansisebesar 0,003 < 0,01 maka H0 ditolak dengan koefisien regresi sebesar 0,017. Dapatdisimpulkan bahwa variabel intensitas mengkonsumsi program televisi bermuatan jurnalismewarga berpengaruh positif terhadap minat mahasiswa menjadi jurnalis warga. Selanjutnya,partisipasi coaching citizen journalism (X2) memiliki pengaruh sebesar 0,204 terhadap minatmahasiswa menjadi jurnalis warga (Y) dengan nilai signifikansi 0,000 <0,01 maka H0 ditolakdengan koefisien regresi sebesar 0,086. Maka dapat disimpulkan bahwa variabel partisipasicoaching citizen journalism berpengaruh positif terhadap minat mahasiswa menjadi jurnaliswarga.Kata kunci: Intensitas, Partisipasi dan MinatNama : Kembang Soca ParangganiNIM : D2C009086Judul : The Influence Intensity of Consuming Television Program containingCitizen Journalism and The Participation of Coaching CitizenJournalism towards The College Student Interest to be a CitizenJournalist.ABSTRACTThe background of the research was based on the lack of public interest including students tobe a citizen journalist. It is derived from the least participation of citizen journalists whosubmit their video or news on television program countaining citizen journalism. In fact, thetechnology is becoming more sophisticated and easier for people to share information.Therefore, the television media such as Metro TV and SCTV made an on air program (WideShot and Citizen6) and also made an off air pogram that is coaching citizen journalism foreducating people. The media expected to affect people’s interest to be a citizen journalistwhen they consume the program and participate in coaching citizen journalism.The purpose of this research is to find out the influence intensity of consumingtelevision program containing citizen journalism and the participation of coaching citizenjournalism towards the college student interest to be a citizen journalist. The theory used inthis research is the theory Powerful Effect and Social Learning Theory of Albert Bandura.This reaserch is type of explanatory with a quantitative, and uses paradigm of positivisme.The reaserch's subjects were the college students in Semarang who had participated in SCTVGoes to Campus 2012 held at the Faculty of Political and Social Science, Undip. The usedsample is random sampling or probability sampling with simple random sampling techniquewith 67 respondents. Based on the statistic computation with Simple Regression Analysis,then there is known a significant result. Variable the influence intensity of consumingtelevision program containing citizen journalism (X1) has the effect of 0.112 on the collegestudent interest to be a citizen journalist (Y) with a significance value of 0.003 <0.01 then H0is rejected with koefisien regression of 0,017. It can be concluded that the influence intensityof consuming television program containing citizen journalism has a positive effect on on thecollege student interest to be a citizen journalist. Furthermore, the participation of coachingcitizen journalism (X2) has the effect of 0.204 on the college student interest to be a citizenjournalist (Y) with a significance value of 0.000 <0.01 then H0 is rejected with koefisienregression of 0,086. It can be concluded that the participation of coaching citizen journalismhas a positive effect on on the college student interest to be a citizen journalist.Keywords: Intensity, Participation and InterestsPENDAHULUAN1.1 Latar BelakangFenomena jurnalisme warga semakin berkembang berkat kemajuan teknologi komunikasiyang begitu pesat. Kemajuan teknologi alat rekam, internet, dan streaming turutmembuka akses masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam menghadirkan informasisemakin cepat dan terbuka. Meskipun kemajuan teknologi komunikasi telah memberikanruang gerak yang luas bagi perkembangan jurnalisme warga di Indonesia, akan tetapipada kenyataanya animo masyarakat untuk berpartisipasi menjadi jurnalis warga masihtergolong rendah. Hal tersebut diungkapkan oleh oleh Syaifudin, produser Wide ShotMetro TV, Imam Suwandi, produser Wide Shot Metro TV divisi jurnalisme warga, danTria Maulida Putri selaku ketua panitia seminar dan talkshow dengan tema “EnchanchingNational Economic Journalism.Oleh karenanya, sebagai program televisi bermuatan jurnalis warga, Metro TVmelalui program Wide Shot dan SCTV melalui program online Citizen6 melakukanberagam upaya untuk mendorong minat mahasiswa menjadi jurnalis warga. Metro TVdan SCTV mengadakan pelatihan atau coaching citizen journalism di berbagaiuniversitas di Indonesia. Oleh karenanya, masalah dalam penelitian ini apakah terdapatpengaruh intensitas mengkonsumsi program televisi bermuatan jurnalisme warga danpartisipasi coaching citizen journalism terhadap minat mahasiswa menjadi jurnaliswarga?1.2 TujuanPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intensitas mengkonsumsi programtelevisi bermuatan jurnalisme warga dan partisipasi coaching citizen journalism terhadapminat mahasiswa menjadi jurnalis warga1.3 Kerangka Teori- Powerfull Effects Theory : Teori ini mengasumsikan bahwa media massa dapatmenyuntikkan informasi ide, dan bahkan propaganda ke public.- Teori Pembelajaran Sosial : Teori hasil penelitian Albert Bandura ini memandangbahwa seseorang dapat belajar, baik dengan cara mengamati, diberikan cerita tentangsesuatu, atau melalui pengalaman langsung.Bagan geometri :1.4 HipotesisHipotesis yang diajukan dalam penelitian ini sebagai berikut :1. Intensitas mengkonsumsi program televisi bermuatan jurnalisme warga berpengaruhpositif terhadap minat mahasiswa menjadi jurnalis warga2. Partisipasi coaching citizen journalism berpengaruh positif terhadap minat mahasiswamenjadi jurnalis warga.1.5 Metode Penelitian- Tipe Penelitian : penelitian eksplanatif (explanatory)- Sampel : peserta coaching SCTV Goes to Campus 2012 sebanyak 67 responden.- Teknik penarikan sampel : teknik Simple Random Sampling- Teknik analisis data : kuantitatif dengan mengganakan uji analisis Simple Regression.Sebelum melakukan penyebaran kuesioner diakukan uji validitas dan reliabilitas.Kemudian sebelum melakukan pengolahan data dilakukan uji Asumsi Klasik.Intensitas mengkonsumsi Program Televisibermuatan Jurnalisme Warga ( X1)Partisipasi Coaching Citizen Journalism (X2)Minat Mahasiwa menjadiJurnalis Warga (Y)PEMBAHASAN2.1 Pengaruh Intensitas Mengkonsumsi Program Televisi Bermuatan JurnalismeWarga terhadap Minat Mahasiswa menjadi Jurnalis WargaBerdasarkan hasil pengujian uji regresi sederhana diperoleh nilai signifikansi sebesar0,003 dengan koefisien regresi sebesar 0,017. Oleh karena sig sebesar 0,003 < 0,01 makaH0 ditolak atau dapat disimpulkan bahwa koefisien regresi variabel intensitasmengkonsumsi program televisi bermuatan jurnalisme warga berpengaruh positifterhadap minat mahasiswa menjadi jurnalis warga.Selanjutnya, nilai Adjusted R Square sebesar 0,112. Nilai tersebut menunjukkanbahwa minat mahasiswa menjadi jurnalis warga dipengaruhi oleh intensitasmegkonsumsi program televisi bermuatan jurnalisme warga sebesar 11,2% sedangkansisanya dipengaruhi oleh faktor –faktor lain.Televise sebagai media massa dapat memberikan pengaruh kepada audiensnyamelalui program-program acara yang ditayangkan. Secara langsung program televisibermuatan jurnalisme warga menjadi referensi bagi para pemirsa yang aware terhadaplingkungan untuk berbagi informasi terhadap sesama.2.2 Pengaruh Partisipasi Coaching Citizen Journalism terhadap Minat Mahasiswamenjadi Jurnalis Warga.Berdasarkan hasil pengujian uji regresi sederhana diperoleh nilai signifikansi sebesar0,000 dengan koefisien regresi sebesar 0,086. Oleh karena sig sebesar 0,000 <0,01 makaH0 ditolak atau dapat disimpulkan bahwa koefisien regresi variabel partisipasi coachingcitizen journalism berpengaruh positif terhadap minat mahasiswa menjadi jurnalis wargaNilai Adjusted R Square sebesar 0,204. Nilai tersebut menunjukkan bahwa minatmahasiswa menjadi jurnalis warga dipengaruhi oleh partisipasi coaching citizenjournalism sebesar 20,4% sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor –faktor lain.Dengan demikian, apa yang dialami langsung oleh peserta coaching citizenjournalism sesuai dengan apa yang dijelaskan oleh Albert Bandura mengenai tahapanbelajar sosial yakni dimulai pada tahapan memperhatikan hingga mengarahkan dorongansesuai pengalaman.PENUTUP3.1 Kesimpulan- Intensitas mengkonsumsi program televisi bermuatan jurnalisme warga berpengaruhpositif terhadap minat mahasiswa menjadi jurnalis warga. Semakin tinggi intensitasmengkonsumsi program televisi bermuatan jurnalisme warga maka semakin tinggipula pengaruhnya terhadap minat mahasiswa menjadi jurnalis warga. Begitu puladengan keadaan sebaliknya.- Partisipasi coaching citizen journalism berpengaruh positif terhadap minat mahasiswamenjadi jurnalis warga. Tingginya partisipasi coaching citizen journalism akanberpengaruh pada tingginya minat mahasiswa menjadi jurnalis warga. Begitu puladengan keadaan sebaliknya.3.2 Saran- Sebagai upaya untuk meningkatkan minat mahasiswa menjadi jurnalis warga,sebaiknya media televisi juga meningkatkan frekuensi pengadaan coaching citizenjournalism dan memperluas jangkauan wilayah pengadaan coaching.DAFTAR PUSTAKABuku :Ardianto, Elvinaro dan Lukiati K. Edinaya. (2004). Komunikasi Massa: Suatu Pengantar.Bandung: Simbiosa Rekatama Media.Bungin, Burhan. (2007). Sosiologi Komunikasi: Teori Paradigma, dan Diskursus TeknologiKomunikasi di Masyarakat. Jakarta: Kencana.Ghozali, Imam. (2006). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Semarang:Badan Penerbit Universitas Diponegoro.Hazim, Nurkholif.(2005). Teknologi Pembelajaran. Jakarta: UT Pustekom IPTPIKuswandi, Wawan. (1996). Komunikasi Massa: Sebuah Analisis Media Televisi. Jakarta: PTRineka Cipta.Kusumaningati, Imam FR (2012). Jadi Jurnalis Itu Gampang!. Jakarta: PT Elex MediaKomputindo.Kriyantoro, Rahmat. (2006). Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana PrenadaMedia Group.Liliweri, Alo. (1991). Memahami Peran Komunikasi Massa Dalam Masyarakat. Bandung:PT. Citra Aditya Bakti.Mulyasa, E. (2004). Implementasi Kurikulum 2004 panduan pembelajaran KBK. Bandung:PT. Remaja Rosda KaryaMcQuail, Dennis. (1996). Teori Komunikasi Massa Suatu Pengantar Edisi Kedua. Jakarta:Erlangga.Nurudin. (2007). Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.Prasetyo, Bambang dan Miftahul Jannah.(2012). Metode Penelitian Kuantitatif. Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada.Rahmat, Jalaludin. (2006). Psikologi Komunikasi Edisi Revisi. Bandung: P.T RemajaRosdakarya.Romli, Asep S. (2012).Jurnalistik Online. Bandung: Nuansa Cendekia.Santoso, Singgih. (2000). SPSS Mengolah Data Statistik Secara Profesional Versi 7.5.Jakarta: PT Elex Media KomputindoSarwono, Sarlito Wirawan. (1997). Psikologi Remaja. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.Simamora, Bilson. (2002). Panduan Riset Perilaku Konsumen. Jakarta: PT Gramedia PustakaUtama.Syarif, Rusli. (1987). Teknik Manajemen Latihan dan Pembinaan. Bandung: Angkasa.Soekanto, Soerjono. (1993). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: CV Rajawali.Soetrisno dan Rita, Hanafi. (2007). Filasafat Imu dan Metodologi Penelitian edisi ketujuh.Jakarta: CV Andi OffsetSuwandi, Imam. (2012). Langkah Otomatis Jadi Citizen Journalist. Jakarta: Dian Rakyat.Vivian, John. (2008). Teori Komunikasi Massa edisi Kedelapan. Jakarta: Kencana PrenadaMedia Group.Skripsi:Pricilia P.(2012). Pengaruh Terpaan Program Acara Stand Up Comedy Show di Metro TVterhadap Minat Menonton (Studi Kasus Terhadap Pengunjung Comedy CafeKemang). Skripsi. Universitas Bina Nusantara.Nurul Inayah S. (2007). Hubungan Intensitas Menonton Program Acara Pencarian Bakat diTelevisi dan Dukungan Orang Tua dan Teman dengan Minat Remaja dalammengembangkan Bakat di Dunia Musik. Skripsi. Universitas Diponegoro.Arsita Pitriawanti. (2010). Pengaruh Intensitas Menonton Televisi dan Komunikasi Orang tua– Anak terhadap Kedisiplinan Anak dalam Menaati Waktu Belajar. Skripsi.Universitas Diponegoro.Internet:Universitas Pamulang Coaching Jurnalistik. (2013). Dalam http:/ /lentera berita.com/index.php/tagsel/339-universitas-pamulang-coaching-jurnalistik. html.Diunduh pada tanggal 15 Juni 2013 pukul 20:18 WIB.Ratusan Mahasiswa Ikuti Pelatihan Jurnalistik Metro TV. (2013). Dalam http://www.metrotvnews.com /metronews/read/2013/05 /13 /3/153081/ Ratusan-Mahasiswa-Ikuti-Pelatihan-Jurnalistik-Metro-TV. Diunduh pada 20 Juni 2013 pukul 12:07 WIB.Wide Shot.(2012). Dalam http://wideshot. metrotvnews.com /news . php?id=14. Diunduhpada 15 Juni 2013, pukul 20:22 WIB.Wide Shot.(2012). Dalam http://wideshot. metrotvnews.com /news . php?id=20. Diunduhpada 15 November 2013, pukul 20:18 WIB.Wide Shot.(2012). Dalam http://wideshot.metrotvnews.com/news. php ?id=18. Diunduh pada28 Oktober 2013, pukul 14:43 WIB.Wide Shot. (2013). Dalam http://wideshotmetrotv.blogspot.com/search?updated-max = 2013-02-26T18:52:00-08:00&max-results=7. Diunduh diakses pada 28 Oktober 2013,pukul 14:27 WIB.Jadwal Tayang Wide Shot. (2012). Dalam http://wideshotmetrotv.blogspot.com/. Diunduhpada 28 Oktober 2013, pukul 14:22 WIB.Konten Wide Shot. (2012). Dalam http://wideshotmetrotv.blogspot.com/. Diunduh pada 28Oktober 2013, pukul 14:26 WIB.Pelatihan Jurnalisme Warga di Semarang. (2012). Dalam http:/ /www. metro tvnews.com/detail /2012/ 10/03/ 19580/695/ Pelatihan-Jurnalisme-Warga-di-Semarang/Wideshot, Diunduh pada 28 Oktober 2013, pukul 10:40Pewarta Warga asal Solo Raih CJC Metro TV.(2012). Dalam http://www .solopos.com/2012/ 11/23/cjc-2012-2 pewarta -warga-asal-solo-raih-cjc-metro-tv-350266,Diunduh pada 28 Oktober 2013, pukul 09:30 WIB.Jadilah Citizen Journalist di Wide Shot. (2012). Dalam http://www.ediginting. com/ 2012/02/jadilah-citizen-journalist-di-wide-shot.html. Diunduh pada 28 Oktober 2013, pukul14:10 WIB.Yuk Jadi Pewarta Warga di Citizen6. (2012). Dalam http ://m.liputan6 .com/ news/ read/52781/yuk-jadi-pewarta-warga-di-citizen6. Diunduh pada 28 Oktober 2013, pukul10:37 WIB.Ajang Cari Bakat SCTV Goes to Campus (2012). Dalam http://blujer. blogspot.com/2012/03/ajang-cari-bakat-sctv-goes-tocampus.html. Diunduh pada 28 Oktober2013, pukul 10:40 WIB.Arvinda Pemenang SGTC Semarang 2012. (2012). Dalam http:// berita. plasa.msn.com/nasional/sctv/arvinda-pemenang-sgtc-semarang-2012. Diunduh pada 28Oktober 2013, pukul 10:47 WIB.
MEMAHAMI PENGALAMAN KOMUNIKASI PENGASUHAN ANAK DALAM EXTENDED FAMILY MERCYANA MAJESTY YULION; Sri Budi Lestari; Wiwid Noor Rakhmad
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.802 KB)

Abstract

JURNALMEMAHAMI PENGALAMAN KOMUNIKASI PENGASUHAN ANAKDALAM EXTENDED FAMILYMERCYANA MAJESTY YULIOND2C009132JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2013MEMAHAMI PENGALAMAN KOMUNIKASI PENGASUHAN ANAKDALAM EXTENDED FAMILYABSTRAKSIKeluarga merupakan lembaga sosial inti di dalam masyarakat, sebab di dalamkeluargalah seorang anak memperoleh berbagai bekal dalam menghadapikehidupannya kelak di masyarakat. Konsep keluarga meluas (extended family)atau keluarga besar yang tidak hanya terdiri dari orang tua dan anak (keluarga inti)tetapi juga anggota keluarga besar yang lain seperti kakek-nenek, paman, bibi, dansaudara sepupu. Di dalam keluarga besar yang memiliki anak sebagai salah satuanggotanya menimbulkan adanya intervensi atau campur tangan juga dominasipengasuhan anak oleh anggota keluarga besar selain orang tua kandung anak itusendiri.Penelitian ini menggunakan genre interpretif dan tradisi fenomenologiyang berusaha untuk menyelami dunia pengalaman perceiver dalam kasus ini,yaitu orang tua dan anggota keluarga besar yang lain ketika melakukan kegiatanpengasuhan anak sehari-hari di dalam keluarga besar. Dengan menggunakan teorirelational dialectics theory (RDT) atau teori dialektika hubungan yang berfokuspada dialog multivocal dalam komunikasi keluarga, penelitian ini berupaya untukmenjelaskan pemaknaan partisipan terhadap pengasuhan anak dalam keluargabesar.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa figur orang tua di dalam keluargabesar memiliki pemaknaan bahwa pengasuhan anak, selain dari segi fisik seperimemberikan suplai kebutuhan pokok, juga berkaitan dengan segi psikis dan sosialyang diwujudkan dalam bentuk kasih sayang, perhatian, komunikasi,pembelajaran, serta kontrol orang tua kepada anak-anak. Keberadaan pihak ketigadalam pengasuhan anak dipandang dapat memicu konflik akibat perbedaan carapandang dan cara pengasuhan anak. Hal ini terlihat pada pengalaman informan, dimana keberadaan anggota keluarga lain sebagai pihak ketiga yang lebih banyakberinteraksi dengan anak pada pengasuhan anak dalam keluarga besar, kerapmenimbulkan konflik antara orang tua dan anggota keluarga besar. Penyelesaianmasalah dalam keluarga besar dilakukan dengan gaya collaboration dimanapihak-pihak yang terlibat dalam konflik berdiskusi mengenai suatu masalah untukdiselesaikan bersama.Kata kunci: intervensi, pengasuhan anak, keluarga besarUNDERSTANDING THE COMMUNICATION EXPERIENCE OFPARENTING IN EXTENDED FAMILYABSTRACTThe family is a core social institution in society, as in the family a child obtainsvarious provisions to face their future life in the community. The concept of anextended family or a big family does not only consist of parents andchildren (nuclear family), but also other major family members, such asgrandparents, uncles, aunts, and cousins. In an extended families who havechildren as their members raises any intervention or interference, and also thedominance of parenting by a family member other than the child's biologicalparents itself.This research uses interpretive genre and phenomenology approach todeeply understanding the perceiver's world, which is parents and other familymembers when performing activities of daily child care within the family. Byaccomodating the theory of relational dialectics (RDT) focusing on familycommunication in multivocal dialog, this study seeks to explain participants’sdefinition of parenting in an extended family.The results of this research shows that the figure of the elderly within thefamily have the meaning of parenting, aside from the physical aspects such asdelivering supplies of basic necessities, also related to psychic and social aspectwhich is manifested in the form of affection, attention, communication, learning,as well as parent’s control to children. The presence of a third party in parenting isseen could trigger the conflict due to differences in viewpoints and ways ofparenting. It can be seen at the informants’s experience, in which the existence ofother family members as third parties that dominate the parenting in an extendedfamily, often gives rise the conflicts between parents and other family members.To solve a problem in an extended family is using collaboration style where theparties involved in the conflict discuss about an issue to be resolved together.Keywords: intervention, parenting, extended familyPendahuluanPengasuhan anak di dalam sebuah keluarga meluas (extended family) tidak hanyamenjadi dominasi orang tua si anak, tetapi turut menimbulkan adanya intervensibahkan dominasi dari keluarga besar. Mengasuh dan merawat anak menjadi perandan tanggung jawab orang tua di dalam keluarga. Namun di saat sebuah keluargainti tinggal bersama dengan orang tua maupun saudara-saudara mereka, makaperan mengasuh dan merawat tidak hanya menjadi milik orang tua. Akibatnyamuncul suatu campur tangan atau intervensi dari keluarga besar di dalampengasuhan anak tersebut.Keluarga merupakan lembaga sosial dasar di dalam masyarakat. Dalampraktiknya masyarakat memiliki berbagai definisi mengenai keluarga. Keluargainti (nuclear family) merupakan keluarga yang didasarkan pada pertalianperkawinan atau kehidupan suami-istri dengan anak-anak mereka. Selain keluargainti, juga ada keluarga hubungan sedarah yang dewasa ini lebih dikenal denganistilah keluarga meluas (extended family), yaitu keluarga inti berikut kerabat laindengan siapa hubungan baik dipelihara dan dipertahankan. Bentuk keluarga initidak didasarkan pada perkawinan, melainkan pada pertalian darah dari sejumlahkerabat dekat. (Horton, 2006: 268).Bentuk keluarga tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan masyarakatsekitar tempat tinggal. Bagi masyarakat kebudayaan barat keluarga bisa terbentukbaik dengan atau tanpa ikatan perkawinan yang sah, sedangkan di budaya timuryang disebut keluarga adalah mereka yang terikat dalam ikatan perkawinan yangsah. Jumlah anggota keluarga di masyarakat barat biasanya hanya terdiri darianggota keluarga inti yaitu ayah, ibu, dan anak. Sedangkan di masyarakat timurkonsep anggota keluarga bukan hanya terdiri dari keluarga inti namun termasukanggota keluarga yang lainnya seperti nenek, kakek, adik, keponakan, dansebagainya yang tinggal dalam satu rumah. (Sumarwan, dalam Wardyaningrum,2010: 289-298).Perubahan bentuk keluarga inti akan menimbulkan kesulitan dalamkomunikasi keluarga dan peran yang disandang. Hal ini juga berlaku ketikabentuk keluarga inti berubah ke bentuk keluarga meluas. Anak yang dibesarkanoleh kakek-neneknya mungkin merasa bahwa bentuk keluarganya tidak lazim danmenolak untuk membicarakan tentang keluarganya ketika berada di sekolah. (LePoire, 2006: 17-19).Salah satu peran utama dalam keluarga inti adalah pengasuhan anak.Namun di dalam sebuah keluarga meluas (extended family) peran ini tidak hanyamenjadi dominasi orang tua, tetapi turut menimbulkan adanya intervensi darikeluarga besar. Peran yang disandang oleh ayah dan ibu di dalam keluarga intisebenarnya memiliki porsi yang sama terutama dalam hal mendidik anak mereka.Pendidikan non formal dalam lingkungan keluarga sadar atau tidak, akan turutmembentuk karakter dan kepribadian anak. (Le Poire, 2006: 16-22).Sosialisasi juga menjadi salah satu fungsi keluarga. Keluarga menjadiujung tombak bagi masyarakat untuk melakukan sosialisasi kepada anak-anakmengenai alam dewasa sehingga nantinya mereka dapat berfungsi dengan baik didalam masyarakat itu. (Horton, 2006: 275-276).Fungsi sosialisasi tersebut diterapkan perlahan-lahan dalam prosespengasuhan anak. Pengasuhan yang dilakukan keluarga ini memiliki pola.Menurut pedoman yang dikeluarkan oleh Tim Penggerak PKK Pusat (1995) yangdimaksud sebagai pola asuh anak dalam keluarga, adalah usaha orang tua dalammembina anak dan membimbing anak baik jiwa maupun raganya sejak lahirsampai dewasa (18 tahun), serta kegiatan kompleks yang memiliki dampak padaanak dengan tujuan menciptakan kontrol pada anak. (Puspa, 2013).Keberadaan beberapa orang dewasa ini memicu adanya intervensi atauikut campur tangan bahkan dominasi dari orang-orang sekitar dalam mendidikanak. Keberadaan keluarga besar yang terlibat dalam mengasuh anak terkadangmenimbulkan kontra terhadap peraturan yang sudah disepakati sebelumnya yangdapat menimbulkan kebingungan bagi anak. Bahkan dominasi pengasuhan olehpihak ketiga membuatnya menjadi lebih dekat dengan anak, sehingga memicuadanya kecemburuan orang tua terhadap pihak ketiga. Hal-hal tersebut dapatmemicu konflik di antara orang tua si anak dengan anggota keluarga besar yanglain.Teori dan Metoda PenelitianTeori dialektika hubungan (RDT) digunakan untuk memahami bahwa orangorangyang telah memiliki hubungan menggunakan komunikasi untuk mengatasikekuatan yang bertentangan secara alami yang menimpa hubungan mereka setiapsaat. RDT menjelaskan bagaimana di dalam setiap hubungan mengalamikontradiksi dialektika, yaitu suara-suara yang bersatu tetapi bertentangan. Dalamteori ini disebutkan 3 pandangan mengenai dialog yaitu dialog sebagai proseskonstitutif, dialog sebagai percakapan, dan dialog sebagai estetika. (Littlejohn danFoss, 2009: 298-300).Pengasuhan anak dalam keluarga besar melibatkan beberapa pihak selainorang tua kandung si anak. Hubungan antar partisipan (orang tua, kakek-nenek,paman, bibi, anak) berkembang melalui proses komunikasi yang kontradiktifterutama dalam konteks pengasuhan anak. Pemaknaan masing-masing individuterhadap pengasuhan anak mungkin berbeda dan bahkan bertentangan. Dalamperbedaan ini justru makna dapat terbentuk. Tidak menutup kemungkinan masingmasingindividu dapat saling mengerti dan hubungan keluarga semakin dekat.Dalam keluarga besar yang terdiri dari beberapa individu menggunakan dialogsebagai proses komunikasi yang tidak terlepas dari kontradiksi dialektika. Meskiterdapat kontradiksi, dalam dialog tersebut muncul suatu pemahaman yang estetistentang hubungan keluarga besar yang dimiliki oleh partisipan (Littlejohn danFoss, 2009: 306).Sedangkan untuk menyelesaikan konflik yang muncul di dalam keluarga,terdapat lima macam gaya penyelesaian konflik menurut K.W.Thomas dan R.H.Killmann (dalam Bebee, 2005: 231-236): (1) avoidance atau menghindar darimasalah yang ada, (2) accomodation atau mengalah kepada partner, (3)competition atau menyelesaikan masalah dengan beradu pendapat hingga salahsatu pihak menang, (4) compromise atau menentukan jalan tengah, (5)collaboration atau menampilkan konflik sebagai sebuah masalah untukdiselesaikan bersama-sama.Penelitian ini menggunakan tipe penelitian kualitatif yang merujuk padaparadigma intepretif. Penelitian tipe kualitatif merupakan penelitian yangmenggunakan pendekatan alamiah untuk mencari dan menemukan pengertian ataupemahaman tentang fenomena dalam suatu latar yang berkonteks khusus dantidak mengadakan perhitungan. (Moleong, 2007: 3-5).Pendekatan yang digunakan dalam mengkaji fenomena tersebut adalahtradisi fenomenologi. Fenomenologi berusaha memahami arti suatu peristiwa dankaitannya terhadap orang-orang biasa dalam situasi tertentu, dimana yangditekankan adalah aspek subjektif dari perilaku orang tersebut. Fenomenologimenganggap bahwa manusia secara aktif merepresentasikan pengalaman merekadan memahami dunia berdasarkan pengalaman mereka. (Littlejohn, 2002: 38).Komunikasi dalam pengasuhan anak merupakan fenomena yang dialamisecara sadar yang diseleksi untuk menjadi pengalaman masing-masing individu.Tujuan penelitian ini sejalan dengan tujuan fenomenologi, yaitu untukmempelajari bagaimana fenomena dialami dalam kesadaran, pikiran, dan tindakan,seperti bagaimana fenomena tersebut bernilai atau diterima secara estetis.(Kuswarno, 2009: 2).Memahami Pengalaman Komunikasi Pengasuhan Anak Dalam ExtendedFamilyCara pengasuhan anak yang diterapkan seseorang tidak terlepas dari pemaknaanmasing-masing individu terhadap pengasuhan itu sendiri. Pengasuhan anak dimata para informan bukan saja merupakan perkara fisik atau sesuatu hal yangdapat dilihat mata. Lebih dari itu seluruh informan mengungkapkan bahwapengasuhan anak juga berkaitan dengan memberikan pendidikan baik secarapsikis dan sosial dalam bentuk kasih sayang, perhatian, komunikasi, pembelajaran,dan kontrol. Le Poire (2006: 134) mencatat bahwa figur orang tua di dalamkeluarga amat memperhatikan keperluan anak-anak agar mereka tumbuh dengansehat. Orang tua berkomunikasi dalam cara-cara yang dibentuk untuk membantuanak berkembang secara intelektual, fisik, emosional, dan sosial, yang mengarahpada kesehatan dan kesejahteraan terbaik bagi mereka.Kegiatan pengasuhan anak yang dilakukan para informan sehari-haridilakukan bergantian dengan anggota keluarga besar yang lain, biasanyaberdasarkan waktu luang di luar jam kerja mereka. Aktifitas keseharian tersebutterkadang digunakan informan untuk berbincang-bincang dengan anak, mengajakmereka bercerita kegiatan selama di sekolah, atau menjelaskan kepada anak halhalyang baru mereka temukan. Akan tetapi kemajuan teknologi yang berkembangsampai ke dunia permainan lebih menarik bagi anak-anak dari pada harusmenuruti perintah orang tua untuk belajar, tidur siang, bahkan makan. Dalammenghadapi dan menyelesaikan hal ini hampir seluruh informan mengambillangkah serupa yaitu memarahi anak dan menjelaskan. Langkah ini selaludilakukan agar perilaku anak dapat terkontrol dengan baik.Meskipun berpartisipasi dalam kegiatan pengasuhan anak yangmelibatkan orang ketiga, mayoritas informan justru menyatakan ketidaksetujuanbahkan ketidaksukaan terhadap keberadaan pihak ketiga dalam proses pengasuhananak. Menurut mereka campur tangan pihak ketiga justru berpotensi menimbulkanperbedaan pandangan yang berdampak pada perbedaan cara pengasuhan anak.Berdasarkan temuan penelitian kedua ibu yang menjadi informan memilikipandangan bahwa sebagai ibu, mereka lah yang mengemban tanggung jawabdalam mengasuh anak, sementara anggota keluarga besar hanya membantu,selama yang bersangkutan tidak bisa melakukan kewajibannya.Strategi komunikasi pengasuhan anak meliputi aspek perawatan dankontrol. (Baumrind, dalam Le Poire 2006: 134-139). Kedua hal ini memerlukanproses interaksi orang tua dan anak. Dalam penelitian ini ditemukan suatu realitadimana anggota keluarga besar memiliki intensitas interaksi dengan anak yanglebih tinggi, jika dibandingkan dengan ibu sebagai orang tua, sehingga seolaholahmereka mendominasi pengasuhan anak. Tingginya intensitas interaksi pihakketiga dengan anak dalam keluarga besar membuat anak-anak lebih merasa dekatdan terbuka kepada nenek dan paman.Upaya Menangani Konflik tentang Pengasuhan Anak dalam ExtendedFamilySaat berhubungan dengan pengasuhan anak di dalam keluarga, terutama dalamkeluarga besar, dimungkinkan terjadi adanya perbedaan pendapat, cara pandang,cara pengasuhan, yang seringkali menimbulkan pertengakaran di antara anggotakeluarga. Dalam menyelesaikan masalah tentang pengasuhan anak dalam keluargabesar, masing-masing informan mengesampingkan gaya penyelesaian konfliknya,dan cenderung mengambil gaya collaboration dimana mereka mengambil jalanberdiskusi dengan anggota keluarga yang bermasalah untuk mencari jalankeluarnya bersama-sama. Semua proses komunikasi secara tatap mata tersebutdilakukan tanpa adanya pihak ketiga dari anggota keluarga besar yang menjadipenengah.Berdasarkan pengalaman menghadapi konflik di dalam keluarga, semuainforman sepakat bahwa mereka tetap memiliki hubungan baik dengan anggotakeluarga, bahkan menjadi semakin dekat dan mengenal kepribadian masingmasing.Kesimpulan1. Kegiatan pengasuhan anak dianggap lebih tepat jika dilakukan oleh orang tuakandung anak dari pada oleh figur orang tua yang lain, sebab merekalah yanglebih mengerti apa saja kebutuhan pokok anak. Anggota keluarga besar hanyabersifat mendukung dalam proses kegiatan pengasuhan dalam bentukmemberikan perhatian dan memenuhi kebutuhan anak di saat orang tuakandung mereka tidak berada di rumah karena berbagai alasan, misalnyakarena harus bekerja.2. Proses pengasuhan anak yang terjadi di dalam keluarga besar tetapmelibatkan dimensi responsif dan tuntutan guna mengarahkan perilaku anak.Gaya authoritative di mana tingkat responsif dan kontrol tinggi menjadipilihan anggota keluarga dengan pertimbangan anak-anak akan menjadi lebihsegan terhadap figur orang tua memegang kuasa penuh atas diri mereka,namun di saat lain tetap memberikan perhatian, kehangatan, dan kasihsayang.3. Perbedaan cara pengasuhan dan intensitas komunikasi tatap muka dengananak di antara orang tua dan anggota keluarga besar berdampak padakedekatan dan keterbukaan anak dengan pihak ketiga lebih besar dari padadengan orang tuanya sendiri.4. Penyelesaian konflik yang muncul di dalam keluarga besar cenderungmenggunakan gaya collaboration di mana anggota keluarga besar berdiskusimengenai suatu masalah untuk diselesaikan bersama. Gaya penyelesaiankonflik individu tidak selalu diterapkan. Mereka akan menyesuaikan diridengan anggota keluarga yang lain, terutama demi kepentingan anak-anak.DAFTAR PUSTAKABeebe, Steven. A. (2005). Interpersonal Communication Relating to Others(4thed). USA : Pearsons Education.Braithwaite, Dawn O and Leslie A. Baxter. (2006). Engaging Theories in FamilyCommunication Multiple Perspectives. California: Sage Publications,Inc.Horton, Paul dan Chester L. Hunt. (2006). Sosiologi Jilid I (Edisi 6). Jakarta:ErlanggaKuswarno, Engkus. (2009). Metodologi Penelitian Komunikasi Fenomenologi:Konsepsi, Pedoman, dan Contoh Penelitian. Bandung: WidyaPadjadjaranLe Poire, Beth. A. (2006). Family Communication Nurturing and Control in aChanging World. California: Sage PublicationLittlejohn, Stephen W. (2002). Theories of Human Communication (7thed).USA:Wadsworth.Littlejohn, Stephen W dan Karen A. Foss. (2009). Teori Komunikasi(Edisi 9).Jakarta: Salemba Humanika.Moleong, Lexy J. (2007). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: RemajaRosda KaryaWadyaningrum, Damayanti. (2010). Pola Komunikasi Keluarga dalamMenentukan Konsumsi Nutrisi bagi Anggota Keluarga. Jurnal IlmuKomunikasiFISIP UPN Yogyakarta 8 (3): 289-298.Puspa, Dian. (2013). Pola Asuh Anak dalam Keluarga (Makalah). http://blogdianpuspa.blogspot.com/2013/04/pola-asuh-anak-dalam-keluargamakalah.html. Diunduh 1 Juli 2013, pukul 10.20 WIB
PENGALAMAN KOMUNIKASI WANITA PENJAJA SEKS (WPS) SEBAGAI PEER EDUCATOR DALAM UPAYA PENCEGAHAN HIV Maharani Easter; Tandiyo Pradekso; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (109.634 KB)

Abstract

PENGALAMAN KOMUNIKASI WANITA PENJAJA SEKS (WPS) SEBAGAI PEEREDUCATOR DALAM UPAYA PENCEGAHAN HIVAbstrakSosialisasi menjadi komunikasi persuasif yang paling sering dipilih oleh LSM maupunpemerintah dalam mempersuasif masyarakat atas isu-isu tertentu seperti pencegahan HIVmelalui penggunaan kondom, sayangnya mensosialisasi penggunaan kondom bagi para WanitaPenjaja Seks (WPS) tidak semudah mensosialisasikannya pada kelompok masyarakat lainnya.Sikap skeptis ditunjukkan WPS akibat tanggapan masyarakat atas pekerjaan mereka sertabanyaknya salah kaprah mengenai penyakit HIV yang membuat WPS menutup diri dariinformasi luar. Hadirnya Peer Educator (PE) yang merupakan WPS juga dalam program peereducation diharapkan dapat membantu mempersuasi WPS menggunakan kondom. masalahyang muncul: Bagaimana cara PE tersebut mempersuasif WPS lainnya hingga tujuan merubahperilaku dapat tercapai?Tujuan penelitian ini menggambarkan pengalaman komunikasi WPS sebagai PE dalammempersuasif WPS lainnya untuk menggunakan kondom 100% dalam upaya pencegahan HIVserta bagaimana seorang PE menjadi persuader yang baik. Upaya untuk menjawabpermasalahan dan tujuan penelitian dilakukan dengan menggunakan teori dialog dan retortikaajakan serta teori kompetensi komunikasi. Penelitian ini bertipe deskriptif kualitatif denganmetode fenomenologi untuk mengungkap pengalaman komunikasi PE kepada peer-nya.Hasil dari penelitian menunjukkan bagaimana komunikan bertipe skeptis seperti WPSdapat menerima informasi dari pihak luar dengan cara persuasif menggunakan ajakan sertadialog dimana dalam interaksi tersebut WPS dapat mengemukakan pendapat, alasan, sertapandangannya terhadap isu yang diangkat seperti penggunaan kondom untuk mencegah HIV.Selain itu kompetensi komunikasi PE sangat mempengaruhi keberhasilan komunikasi persuasifdimana ketiga faktor: pengetahuan, motivasi, serta keterampilan menjadi satu kesatuan yangharus dimiliki PE secara maksimal. Perlu adanya pemahaman mengenai peran PE oleh setiapWPS sehingga peran WPS tidak hanya penyedia kondom melainkan sesuai dengan tujuanadanya PE yaitu mengedukasi dan mempersuasif sesamanya untuk merubah perilaku.Kata kunci : Peer Educator; WPS; kompetensi komunikasiTHE EXPERIENCE OF WPS COMMUNICATION AS PEER EDUCATORIN PREVENTION OF HIVAbstractThis research aims to describe the communication between WPS (Wanita Pekerja Seks) as PeerEducator (PE) and her peer, the another WPS about using condom to prevention of HIV and toexplain how to be a good persuader in this situation. This research based on the experiencecommunication of female sex worker in Resosialisasi Argorejo, Semarang. Using the TheoryRhetoric of Persuasion, Theory Dialog and Theory Communication Competence for answer thequestion of this research. The type of this research is qualitative descriptive by usingphenomenology method. Phenomenological approach is used to reveal experiencecommunication of PE to her peer.The result of this research is how to persuade the communicant of skeptic type like WPS toaccept the information from the others is with persuasion and dialog in interaction so WPS cantell what her opinion, reason, and perspective, about using condom for prevention of HIV.Moreover, communication competence of PE is affective for the success of persuasivecommunication, which three factors of communication competence : knowledge, motivation,and skill is union and PE must have them maximum. There needs to be an understanding of therule that PE by any WPS, that PE isn’t only just a condom providers but according to purposeof PE is to educate and persuasion the other.Keywords: Peer Educator; WPS; communication competenceI. PENDAHULUANSosialisasi merupakan bentuk komunikasi persuasif yang sering dipilih pemerintah maupunLembaga Swadaya Masyarakat (LSM) kepada masyarakat dalam berbagai isu penting. Meskibegitu, tidak sedikit dari sosialisasi tersebut yang menciptakan polemik dimasyarakat karenamenimbulkan pro dan kontra. Salah satunya adalah sosialisasi penggunaan kondomdimasyarakat. Ada yang mendukung tindakan tersebut, namun tidak sedikit yang mengecamtindakan tersebut.Human Immunedefficiency Virus atau yang disingkat HIV adalah penyakit mematikanyang menjadi masalah kesehatan di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia. BerdasarkanDitjen PP dan PL Kemenkes RI pada laporan statistik HIV/AIDS di Indonesia, jumlah kasusbaru HIV/AIDS pada 1 Januari sampai dengan 31 Desember 2012 adalah 21.511 kasus HIVdan 5.686 kasus AIDS. Provinsi Jawa Tengah pun tidak luput dari penyakit mematikan ini.Dalam artikel berita di lensaindonesia.com, Jawa Tengah malahan menjadi peringkat ke-6nasional dari segi jumlah kasus HIV/AIDS setelah Bali, dengan jumlah penderita hingga Juni2012 yang baru terungkap mencapai 5.301 orang dari estimasi sebanyak 10.815 kasus.Pengelola Program Komisi Penanggulangan HIV/AIDS (KPA) Jateng, Ridha Citra Turyanimengatakan, jumlah penderita tersebut masih separuh ditemukan karena penyakit yangmematikan ini masih sangat sulit terdeteksi bagaikan gunung es. (Gawat! 436 Ibu RumahTangga di Jateng Terjangkit HIV/AIDS. (2012). Dalamhttp://www.lensaindonesia.com/2012/10/17/gawat-436-ibu-rumah-tangga-di-jateng-terjangkithivaids.html diunduh 3 September 2013 pukul 20.30 WIB)Terdapat banyak penyebab penularan HIV, antara lain : ibu hamil dan pemberian ASI dari ibuyang menjadi penderita HIV kepada bayi, penggunaan jarum suntik, transfusi darah, dan yangmenduduki persentase terbesar (70%-80%) adalah hubungan seksual. Menteri KesehataNafsiah Mboi menanggapi bahwa salah satu penyebab mengapa angka penderita HIB masihtinggi adalah karena masih rendahnya kesadara masyarakat terhadap seks berisiko. Tingginyapenulara HIV dan AIDS disebabkan oleh banyaknya pria dewasa yang memelihara kebiasaan“belanja seks” dan kurangnya penggunaan kondom. Menurutnya perilaku negatif inimenyebabkan 1,6 juta penduduk menikah dengan pria berisiko menderita HIV dan AIDS.(HIV/AIDS Tinggi karena Pria Doyan Jajan Seks. (2012) dalamhttp://www.tempo.co/read/news/2012/06/25/173412771/HIVAIDS-Tinggi-karena-Pria-Doyan-Jajan-Seks diunduh 3 September 2013 pukul 20.35 WIB).Sosialisasi penggunaan kondom yang dilakukan oleh pemerintah maupun LSMkhususnya bidang kesehatan guna mencegah dan menanggulangi penyebaran penyakit HIVakibat “kebiasaan jajan pria” ini sayangnya tidak berjalan mulus, timbulnya pro dan kontramembuat sosialisasi ini kurang berdampak untuk menekan angka penderita HIV. Kini tindakansosialisasi penggunaan kondom sebagai pencegahan penyakit HIV dilakukan di beberapatempat lokalisasi (atau saat ini disebut resosialisasi), dengan kegiatan peer education.PE sebagai komunikator dalam kegiatan komunikasi berupa peer education yangdipaparkan diatas, menunjukkan betapa penting peranannya dalam mencapai keberhasilandalam mempengaruhi perilaku seseorang/kelompok, dalam hal ini yaitu WPS maupun PSK.LSM Griya Asa PKBI Kota Semarang yang merupakan salah satu LSM yang bergerakdi bidang Keluarga Berencana (KB), pencegahan Infeksi Menular Seksual (IMS) danHIV/AIDS di Kota Semarang. PKBI Semarang telah mendampingi wanita yang dikategorikankelompok Risiko Tinggi (RisTi) di wilayah Kota Semarang. Salah satu bentuk kegiatanpencegahan HIV yang dilakukan oleh LSM Griya Asa PKBI bekerjasama dengan FHI (FamilyHealth International) pada tahun 2003 adalah mengunakan peer education sebagai salah satustrategi komunikasi dalam pencegahan HIV di Lokalisasi Sunan Kuning. Alasan awal mengapadibentuk PE karena PE yang berasal dari sesama WPS, karena WPS sendiri memilikikecendurungan menutup diri, namun lebih terbuka dengan lingkungan dalamnya, khususnyasesama WPS. Hal tersebut tentu akan memudahkan LSM dalam mempengaruhi WPS untukmerubah tingkah lakunya sesuai dengan program pencegahan HIV. Selain itu, pemikiranlainnya bahwa tidak selamanya LSM Griya Asa ada di daerah lokalisasi tersebut. Harapannya,dengan adanya PE, edukasi mengenai program pencegahan HIV akan terus berlangsung meskiLSM tidak lagi ada disana.Sayangnya terdapat lack of communicator di Lokalisasi Sunan Kuning. Sejakdibentuknya kegiatan peer education pada tahun 2003 hingga saat ini 2013, tercatat sebanyak60 WPS sebagai PE. Namun kenyataannya dari 60 WPS tersebut, kurang lebih hanya 15 orangyang aktif sebagai PE.Peer Educator yang terdapat di Lokalisasi Sunan Kuning mempunyai fungsi untukmengajak dan mengedukasi sesama WPS, untuk menjaga kesehatan reproduksi denganmenggunakan kondom dan menjalani scanning secara rutin. Sayangnya fungsi tersebut kiniberalih. “PE di Lokalisasi Sunan Kuning kini hanyalah penyetok kondom saja,” pengakuan Ari,salah satu relawan LSM Griya Asa yang mengikuti program ini sejak awal. Menurutnyadibutuhkan peran aktif dan dukungan penuh dari para pengurus resos dalam menjalankanprogram PE tersebut.Masalah yang timbul kemudian adalah bagaimana interaksi yang dilakukan WPSsebagai PE dalam mempersuasif sesama WPS serta bagaimana kompetensi komunikasi yangseharusnya dimiliki WPS tersebut sebagai persuader yang baik. Dalam menjawab pertanyaantersebut peneliti melakukan penelitian kepada 6 (enam) WPS sebagai informan dimana merekaterdiri dari 2 (dua) orang yang berperan sebagai peer, 2 (dua) orang yang berperan sebagai PEnon aktif, dan 2 (dua) orang yang berperan sebagai PE aktif. Penelitian ini sendiri dilakukan diLokalisasi Sunan Kuning, dimana peer education pertama kali diterapkan dilingkunganlokalisasi di Semarang. Tipe penelitian ini adalah deskriptif kualitatif yang menggunakanmetode fenomenologi dengan paradigma interpretif. Paradigma interpretif dapat dimengertimerupakan proses aktif dalam pemberian makna dari suatu pengalaman. Peneliti menggunakanparadigma ini dan berusaha mengungkapkan dan memahami pengalaman WPS sebagai peer PEdalam upaya pencegahan HIV.Data yang dikumpulkan dalam penelitian kualitatif berupa catatan di lapangan dan hasilwawancara (Denscombe, 2007:289). Studi ini berusaha mendeskripsikan pemahaman wanitaWPS sebagai PE dan menyimpulkan pentingnya peran peer educator sebagai komunikatorkhususnya dalam upaya merubah tingkah laku sebagai tujuan pencegahan HIV. Sehingga dapatdirumuskan pengalaman WPS sebagai PE dalam upaya pencegahan HIV.II. ISISetelah melakukan depth interview, peneliti kemudian melakukan deskripsi tekstural danstruktural dari hasil wawancara tersebut. Setelah individual textural-structural descriptiontersusun, maka dibuat suatu composite description dari makna dan esensi pengalaman sehinggamenampilkan gambaran pengalaman kelompok sebagai satu kesatuan. Sehingga tahap akhirdari studi fenomenologi adalah mempersatukan pandangan dari deskripsi tekstural danstruktural guna membangun sintesis makna dan intisari dari sebuah fenomena dan pengalaman(Moustakas, 1994:181).Dalam penelitian didapatkan pemahaman WPS mengenai peran PE sangatmempengaruhi keputusannya untuk mengikuti arahan dari PE atau tidak. Ketika seorang WPSmenganggap PE hanyalah seorang “penyetok” kondom maka dirinya merasa tidak perluterbuka kepada PE mengenai kesehatan reproduksinya. Baginya keputusan menggunakankondom merupakan keputusan pribadi dimana tidak seorang pun berhak mendiktenya.Selain pemahaman peran PE di lingkungan resos, penelitian ini juga mendapatibagaimana interaksi yang dilakukan antara PE dan WPS. Dalam mempersuasif WPS, PE perlumemulai interaksi dengan menyatakan pandangannya mengenai kegunaan kondom, bagaimanamanfaat dari penggunaan kondom 100%, dan bagaimana dampak yang dirasakan PE secarapribadi selama menggunakan kondom 100%. Penjelasan tersebut dilakukan PE sebagai bentukpersuasif menggunakan kalimat mengajak dimana PE tidak serta merta memaksa WPSmenggunakan kondom, tapi sebaliknya membiarkan WPS memutuskan menggunakan kondom100% secara pribadi meski harapan dari PE mereka mengikuti program pencegahan tersebut.Ketika timbul konflik diantara PE dan WPS, PE dan PE, bahkan PE dengan pihak LSMmaupun resos, dialog menjadi pilihan utama sebagai problem solving, dimana setiap pihak yangberselisih paham dapat bebas mengutarakan pendapat dan alasannya sesuai dengan konteksyang menjadi masalah. Seperti halnya ketika ada WPS yang menolak menggunakan kondom,PE akan menanyakan alasan mengapa ia tidak mau menggunakan kondom. Terjepitnya WPSakan kebutuhan yang semakin meningkat serta kondisi sepi tamu membuat WPS seringkaliberkompromi dalam menggunakan kondom atau tidak. Setelah mendengarkan penjelasan WPStersebut, PE kemudian memilih mengutarakan alasan-alasan yang rasional mengapa WPS tetapharus menggunakan kondom, seperti bagaimana penyakit HIV saat ini belum ada obat yangdapat menyembuhkannya, sehingga berapa pun uang yang dimiliki WPS tidak akan bisamenyembuhkannya ketika terjangkit HIV. Dengan penjelasan-penjelasan yang rasional sertamenyertakan contoh dan trik-trik (merayu tamu menggunakan kondom atau menggunakankondom wanita) akan membuat WPS mau terbuka atas pendapat orang lain (PE) dan mengikutiapa yang PE sampaikan karena merasa itu juga untuk kesehatan reproduksi WPS itu sendiri.Kompetensi komunikasi yang harus dimiliki oleh seorang PE dapat dipenuhi ketikafaktor-faktor dari kompetensi komunikasi tersebut dimiliki secara keseluruhan. pengetahuan,motivasi, serta keahlian komunikasi harus dimiliki PE untuk dapat menjadikannya seorangpersuader yang berhasil. ketika seorang PE kurang memiliki kompetensi komunikasi makadirinya pun masuk kedalam kategori PE non aktif. Adanya trauma yang dimiliki ketikamenghadapi respon negatif WPS ketika sedang dipersuasif menjadi salah satu alasan mengapaseorang PE menjadi non aktif.III. PENUTUPKomunikasi merupakan cara terbaik dalam mempersuasif seseorang agar mau merubahperilakunya sesuai dengan harapan yang diinginkan. Meski demikian tidak semua komunikasidapat berhasil. Banyaknya elemen dalam komunikasi memiliki peran tersendiri dalam mecapaikeberhasilan, namun dalam komunikasi persuasif, peran seorang komunikator mengambil andilpaling besar dibandingkan elemen komunikasi yang lainnya.Keberhasilan seorang WPS sebagai PE didalam mempersuasif WPS untuk mengikutiprogram pencegahan HIV dengan cara menggunakan kondom 100% perlu didukung olehsegala pihak, tidak hanya bagaimana seorang PE menjalankan tugas dan tanggungjawabnya,melainkan juga respon positif dari WPS lain sebagai peer-nya serta bagaimana LSM sertapengurus resos yang konsen dalam memberdayakan PE dimana terus meng-upgrade PEkhususnya agar memiliki kompetensi komunikasi adalah faktor penentu keberhasilan programpeer education di lingkungan resosialisasi.DAFTAR PUSTAKAAw., Suranto. (2011). Komunikasi Interpersonal. Yogyakarta : Graha IlmuJans, Molly. (1999). Comm 3210: Human Commucation Theory, Martin Buber’s DialogicCommunication. Research Report. University of Colorado at BoulderKuswarno.Engkus. (2009). Metodologi Penelitian Komunikasi Fenomenologi: Konsepsi,Pedoman, dan Contoh Penelitiannya. Bandung:Widya PadjadjaranLittlejohn, Stephen W. & Foss, Karen A. (2009). Theories of Human Communication (9thedition) Teori Komunikasi (diterjemahkan oleh : Mohammad Yusuf Hamdan) . Jakarta:Salemba HumanikaMiller, Robert and Williams, Gary. (2004). The 5 Paths To Persuasion: The Art of Selling YourMessage. Summaries.comMoleong, Lexy J. (2004). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT. Remaja RosdakaryaMoustakas, Clark. (1994). Phenomenological Research Methods. London: SAGE Publications,Inc.Pawito. (2007). Penelitian Komunikasi Kualitatif. Yogyakarta : Lembaga Kajian Islam danSosial (LKIS)Rahmat, Jalaluddin. (1999). Psikologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya OffsetTubbs, Stewart L. & Moss, Sylvia. (1994). Human Communication:Prinsip-Prinsip Dasar.(diterjemahkan oleh: Dr. Deddy Mulyana). Bandung: PT Remaja Rosdakarya OffsetWest, Richard & Turner, Lynn H. (2007). Introducing Theory: Analysis and Application (3rdedition). (diterjemahkan oleh: Maria Natalia Damayanti Maer). Jakarta : SalembaHumanikaJurnalAgustina, Rakhmawati. (2011). Pelaksanaan Kegiatan Peer Educator Dalam Upaya Pencegahan HIVdan AIDS di SMK Ibu Kartini Kota Semarang. Skripsi. Semarang : Universitas DiponegoroIka Setya Purwanti dan Rika Suarniati, The Indonesian Journal of Public Health vol. 2 no. 3, Mar.2006 : 98Jubaedah, Edah. (2009). Jurnal Ilmu Administrasi (pdf), Analisis Hubungan Gaya Kepemimpinan danKompetensi Komunikasi Dalam Organisasi. 370-375Murti, Elly Swandewi,dkk. (2006). Efektivitas Promosi Kesehatan Dengan Peer Education PadaKelompok Dasawisma Dalam Upaya Penemuan Tersangka Penderita TB Paru. BeritaKedokteran Mayarakat, Vol. 22 No. 3 September 2006, hal 128-134Zuhriyyah, L.Z. Penggunaan Kondom pada Wanita Pekerja Seks (WPS) Di Kawasan ResosialisasiGambilangu Kabupaten Kendal Tahun 2010. Skripsi. Semarang : Universitas NegeriSemarangInternetIndah,dkk. (2009). Peran Komunitas AIDS Peduli HIV/AIDS. Dalamhttp://theonlinejournalism.blogspot.com/2009/01/hivaids-siapkah-solomelawan_13.html 21/05/2013. Diunduh pada 20 Mei 2013 pukul 20.45 WIBFarihah. (2010). Dampak Psikologis PSK. Dalamhttp://ulfahfarihah51.blogspot.com/2011/07/dampak-psikologis-yang-dialami-psk.html.Diunduh pada 23 Mei 2013 pukul 18.30 WIBPeer Education (2000). Dalam http://www.unicef.org/lifeskills/index_12078.html. Diunduh 2Juni 2013 pukul 17.20 WIBIriyanto,Yuwana. (2011). Ibu Rumah Tangga di Jateng Terjangkit HIV/AIDS. Dalamhttp://www.lensaindonesia.com/2012/10/17/gawat-436-ibu-rumah-tangga-di-jatengterjangkit-hivaids.html. Diunduh 3 September 2013 pukul 23.00 WIB
Hubungan Iklim Komunikasi Organisasi dengan Loyalitas Anggota Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Diponegoro Infra Ranisetya; Sri Widowati Herieningsih; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (34.254 KB)

Abstract

1Hubungan Iklim Komunikasi Organisasi dengan Loyalitas AnggotaBadan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa UniversitasDiponegoroSkripsiDisusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikanPendidikan Strata IJurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikUniversitas DiponegoroPenyusunNama: Infra RanisetyaNIM: D2C009092JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG20132HUBUNGAN IKLIM KOMUNIKASI ORGANISASI DENGAN LOYALITASANGGOTA BADAN EKSEKUTIF MAHASISWA KELUARGA MAHASISWAUNIVERSITAS DIPONEGOROABSTRAKPermasalahan mengenai loyalitas anggota dalam organisasi mahasiswa BEM KM Undipditunjukkan dengan terdapat anggota yang memutuskan untuk keluar dari organisasi¸adanya pergantian kedudukan dalam organisasi, hingga permasalahan komunikasi yangmelibatkan hubungan antar anggota organisasi dikhawatirkan akan berdampak padakeberlangsungan organisasi dalam mencapai tujuan organisasi. Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara iklim komunikasi organisasi (x)dengan loyalitas anggota BEM KM Undip (y). Variabel bebas (x) dijabarkan menjadi 6variabel yaitu kepercayaan (x1), pembuatan keputusan bersama (x2), kejujuran (x3),keterbukaan dalam komunikasi ke bawah (x4), mendengarkan dalam komunikasi keatas (x5), perhatian pada tujuan-tujuan berkinerja tinggi (x6) dengan loyalitas anggotaBadan Eksekutif Mahasiswa Universitas Diponegoro (BEM KM Undip). Kerangkakonsep yang menghubungkan variabel menggunakan pemikiran Guzley (dalam Pacedan Faules, 2000:155) yang menyebutkan bahwa iklim komunikasi tertentu memberipedoman bagi keputusan dan perilaku individu, sehingga berhubungan dengan loyalitasanggota.Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah tipe explanatorydengan pendekatan metode penelitian kuantitatif. Sedangkan teknik pengambilansampel menggunakan proportional random dengan jumlah 126 responden. Uji hipotesisdalam penelitian ini menggunakan metode statistik Korelasi Rank Kendall’s Tau.Teknik ini digunakan untuk mencari koefisien korelasi antara data ordinal dan dataordinal lainnya.Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan nilai koefisien korelasi antarakepercayaan (x1) dengan loyalitas (y) sebesar 0,423 dengan nilai signifikan 0,000 <0,01, artinya terdapat hubungan positif antara (x1) dan (y) pada taraf kepercayaan 99%.Nilai koefisien korelasi pengambilan keputusan bersama (x2) dengan loyalitas (y)sebesar 0,420 dengan nilai signifikan 0,000 < 0,01, artinya terdapat hubungan positifantara (x2) dan (y) pada taraf kepercayaan 99%. Kemudian untuk variabel kejujuran(x3) dengan loyalitas (y) mempunyai nilai koefisien korelasi sebesar 0,462 dengan nilaisignifikansi 0,000 < 0,01 yang berarti terdapat hubungan positif antara (x3) dan (y) padataraf kepercayaan 99%. Untuk variabel keterbukaan dalam komunikasi ke atas (x4)dengan loyalitas (y) mempunyai nilai koefisien korelasi sebesar 0,373 dengan nilaisignifikan 0,000 < 0,01 yang berarti terdapat hubungan positif antara (x4) dengan (y)pada taraf kepercayaan 99%. Selanjutnya variabel mendengarkan dalam komunikasi kebawah (x5) dengan loyalitas (y) memiliki nilai koefisien korelasi sebesar 0,496 dengannilai signifikansi 0,000 < 0,01 yang berarti terdapat hubungan positif antara (x5) dan (y)pada taraf kepercayaan 99%. Variabel perhatian pada tujuan berkinerja tinggi (x6)dengan loyalitas (y) mempunyai koefisien korelasi sebesar 0.405 dengan nilai signifikan0,000 < 0,01 yang menandakan adanya hubungan positif antara (x6) dengan (y) padataraf kepercayaan 99%.Keyword : Iklim Komunikasi Organisasi, Loyalitas Anggota Organisasi, BEM KMUndip3ORGANIZATION’S COMMUNICATION CLIMATE AND THE MEMBER’SLOYALTY AT BADAN EKSEKUTIF MAHASISWA KELUARGAMAHASISWA DIPONEGORO UNIVERSITYABSTRACTIndicator for BEM KM Undip member's loyalty is shown by some problems happenedsuch as members who decide to resign, structure organization changes, communicationmatter between organization's member, which will affect organization sustainability inachieving organization's vision and mission. This research aims to find out thecorrelation between organization's communication climates (x) with the loyalty MemberBEM KM Undip (y). The variable (x) are divided into 6 variables (x 1) trust, shareddecision making (x 2) (x 3), honesty, openness in communication downward (x 4),listening in upward communications (x 5), attention on high performance goals (x 6)and the loyalty of BEM KM Undip. The conceptual framework of that relate to thesevariables are based on Guzley (in Pace and Faules, 2000: 155) who stated that theorganization’s communication climate provides guidelines for decisions and behavioron individuals, thus affecting member's loyalty.This research used explanatory type with quantitative research method approach.The sampling technique is using Proportional random which have 126 respondents assamples. The hypothesis test is using Kendall's Tau Rank Correlation statistic methodsto find the correlation between these variables on ordinal data.Based on the research result that were calculate with Kendall's Tau RankCorrelation, a correlation coefficient value between the honesty (x1) and member'sloyalty (y) is 0,423 with a significant value of 0,000 < 0,01, means that there is acorrelation between (x1) and (y) at the 99% level. Then, the result for correlationcoefficient value between shared decision making (x2) and member’s loyalty (y) is0,420 with a significant value of 0,000 < 0,01, means that there is a correlation between(x2) and (y) at the 99% level. The result for correlation coefficient value between thehonesty (x3) with member’s loyalty (y) is 0,462 with a significant value of 0,000 < 0,01,means that there is a correlation between (x3) and (y) at the 99% level. Next, the resultfor correlation coefficient value between openness in communication downward (x4)and member’s loyalty (y) is 0,373 with a significant value of 0,000 < 0,01, means thatthere is a correlation between (x4) and (y) at the 99% level. Then, the result forcorrelation coefficient value between listening in upward communications (x5) andmember’s loyalty (y) is 0,496 with a significant value of 0,000 < 0,01, means that thereis a correlation between (x5) and (y) at the 99% level. The last, the result for correlationcoefficient value between attention on high performance goals (x6) and member’sloyalty (y) is 0,405 with a significant value of 0,000 < 0,01, means that there is acorrelation between (x6) and (y) at the 99% level.Keyword: Organization’s Communication Climates, Organization Member’s Loyalty,BEM KM Undip4Hubungan Iklim Komunikasi Organisasi dengan Loyalitas AnggotaBadan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa UniversitasDiponegoroLatar BelakangOrganisasi mahasiswa merupakan suatu sistem terbuka dan terus-menerus mengalamiperubahan, karena selalu menghadapi tantangan baru dari lingkungan dan perlumenyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan yang selalu berubah tersebut, misalnyakondisi sosial. Hal yang penting dan fundamental di dalam sebuah organisasi adalahloyalitas dari setiapnya yang akan sangat menentukan kemajuan dan perkembanganorganisasi mengingat adanya berbagai tantangan yang seringkali dialami oleh sebuahorganisasi. Tanpa adanya loyalitas, maka sebuah organisasi tidak akan berjalan denganbaik bahkan terkadang tidak akan mampu bertahan apabila di dalamnya tidak diterapkansikap loyal. Sikap loyalitas anggota dapat dikatakan sebagai kesetiaan terhadaporganisasinya. Apabila para anggota organisasi memiliki loyalitas terhadaporganisasinya, maka ia akan merasa memiliki kesadaran akan kewajiban untukmenjunjung tinggi nilai-nilai yang diberlakukan dalam organisasi, mempunyai rasamemiliki terhadap organisasi yang tinggi serta mempertahankan keanggotaannya demikemajuan organisasinya. Semua itu dapat terlihat dari anggota organisasi yangmendukung setiap program kerja organisasi yang telah dijalankan dan akanmengerjakan bagiannya dengan baik dan penuh tanggung jawab.Masalah-masalah yang berkaitan dengan loyalitas anggota organisasi mahasiswadalam Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Diponegoro dapat dilihat dari tingginyajumlah pergantian menteri hingga mencapai 5 orang pada kepengurusan periode2008/2009 dan jumlah anggota resign yang mencapai 15 orang pada kepengurusan52009/2010 dalam satu tahun kepengurusan. Selain itu terdapat beberapa hal yangmenunjukkan rendahnya loyalitas yaitu rendahnya partisipasi anggota organisasi dalamberbagai aktivitas organisasi seperti dalam mengikuti rapat harian anggota BEM bahkanketika menjalankan program kerja BEM KM Undip. Beberapa masalah tersebutmenjadi sebuah dinamika di dalam organisasi BEM KM Undip mengingat periodekepengurusan hanya satu tahun saja. Dengan adanya anggota yang pasif, pergantianmenteri dan anggota yang resign tentu akan membawa pengaruh terhadapkeberlangsungan organisasi. Program kerja yang seharusnya dapat dijalankan denganlancar menjadi terhambat sehingga nantinya tentu berdampak pada pencapaian tujuantujuanorganisasi.Hal-hal yang berkaitan dengan masalah loyalitas anggota organisasi tersebutbisa terjadi salah satunya disebabkan oleh iklim komunikasi organisasi yang kurangkondusif di dalamnya. Iklim komunikasi organisasi yang kurang kondusif dapatditunjukan dengan adanya konflik terkait dengan hubungan komunikasi antar anggota.Seperti sikap yang diberlakukan oleh salah satu Menteri BEM dalam satu kementrianperiode tersebut terlalu kaku dimana hubungan komunikasi yang terjalin hanya secarastruktural organisasi dan tidak ada komunikasi antar pribadi yang terjalin yangmengakibatkan kurangnya keakraban atau keintiman antara menteri. Hal inimengakibatkan staf merasa kurang diperhatikan sehingga tidak memunculkan sense ofbelonging. Kurangnya komunikasi yang bersifat cultural atau intim antara pimpinan danstaf membuat staf BEM jenuh untuk mengerjakan program kerja di BEM. Selain itu,iklim komunikasi organisasi yang kurang kondusif juga dapat terlihat dari pendapat darianggota yang dipandang kurang penting dalam pembuatan keputusan maupun masukandalam pelaksanaan program kerja. Padahal seharusnya dalam sebuah organisasi, setiap6anggota berperan dan mempunyai kesempatan yang sama untuk berpendapat demipencapaian tujuan organisasi.Kerangka Teori dan MetodologiKerangka konsep yang menghubungkan variabel menggunakan pemikiran Guzley(dalam Pace dan Faules, 2000:155) yang menyebutkan bahwa iklim komunikasi tertentumemberi pedoman bagi keputusan dan perilaku individu, sehingga berhubungan denganloyalitas anggota. Mowday, Steers, & Porter (dalam Pace dan Faules, 2000:156)menyatakan bahwa kesediaan untuk melakukan usaha sungguh-sungguh atas namaorganisasi, kepercayaan yang kuat serta penerimaan atas tujuan serta nilai-nilaiorganisasi, dan keinginan yang besar untuk mempertahankan keanggotaan dalamorganisasi adalah faktor komitmen (loyalitas) organisasi. Sehingga dapat dikatakanbahwa iklim komunikasi dalam organisasi mempunyai konsekuensi penting bagipergantian dan masa kerja anggota dalam organisasi. Iklim komunikasi yang positifcenderung meningkatkan dan mendukung komitmen pada organisasi.Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah tipe explanatorydengan pendekatan metode penelitian kuantitatif. Sedangkan teknik pengambilansampel menggunakan proportional random dengan jumlah 126 responden. Uji hipotesisdalam penelitian ini menggunakan metode statistik Korelasi Rank Kendall’s Tau.Teknik ini digunakan untuk mencari koefisien korelasi antara data ordinal dan dataordinal lainnya.HasilSesuai dengan tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui hubungan iklim komunikasiorganisasi yang terdiri dari enam aspek yaitu kepercayaan, pembuatan keputusan7bersama, kejujuran, keterbukaan dalam komunikasi ke atas, mendengarkan dalamkomunikasi ke bawah, perhatian pada tujuan berkinerja tinggi dengan loyalitas anggotaBEM KM Undip, maka hasil dalam penelitian ini adalah:1. Terdapat hubungan positif antara kepercayaan dengan loyalitas anggota BEMKM Undip. Berdasarkan hasil analisis hubungan antara kepercayaan denganloyalitas anggota BEM KM Undip menggunakan perhitungan statistik korelasiRank Kendall, diperoleh hasil bahwa nilai signifikansi sebesar 0,000 dengankoefisien korelasi kepercayaan (x1) dengan loyalitas anggota BEM KM Undip(Y) sebesar 0,423. Hal ini dapat dikatakan bahwa nilai signifikansi sebesar 0,000< 0,01 yang berarti kedua variabel tersebut terdapat hubungan yang sangatsignifikan, hipotesis alternatif (Ha) diterima dan hipotesis nol (Ho) ditolak.2. Terdapat hubungan positif antara pembuatan keputusan bersama denganloyalitas anggota BEM KM Undip. Berdasarkan hasil analisis hubungan antarapembuatan keputusan bersama dengan loyalitas anggota menggunakanperhitungan statistik korelasi Rank Kendall, diperoleh hasil bahwa nilaisignifikansi sebesar 0,000 dengan koefisien korelasi pembuatan keputusanbersama (x2) dengan loyalitas anggota BEM KM Undip (Y) sebesar 0,420. Halini dapat dikatakan bahwa nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,01 yang berartikedua variabel tersebut terdapat hubungan yang sangat signifikan, hipotesisalternatif (Ha) diterima dan hipotesis nol (Ho) ditolak.3. Terdapat hubungan positif antara kejujuran dengan loyalitas anggota BEM KMUndip. Berdasarkan hasil analisis hubungan antara kejujuran dengan loyalitasanggota BEM KM Undip menggunakan perhitungan statistik korelasi RankKendall, diperoleh hasil bahwa nilai signifikansi sebesar 0,000 dengan koefisien8korelasi kejujuran (x3) dengan loyalitas anggota BEM KM Undip (Y) sebesar0,462. Hal ini dapat dikatakan bahwa nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,01yang berarti kedua variabel tersebut terdapat hubungan yang sangat signifikan,hipotesis alternatif (Ha) diterima dan hipotesis nol (Ho) ditolak.4. Terdapat hubungan positif antara keterbukaan dalam komunikasi ke bawahdengan loyalitas anggota BEM KM Undip. Berdasarkan hasil analisis hubunganantara keterbukaan dalam komunikasi ke bawah dengan loyalitas anggota BEMKM Undip menggunakan perhitungan statistik korelasi Rank Kendall, diperolehhasil bahwa nilai signifikansi sebesar 0,000 dengan koefisien korelasiketerbukaan dalam komunikasi ke bawah (x4) dengan loyalitas anggota BEMKM Undip (Y) sebesar 0,373. Hal ini dapat dikatakan bahwa nilai signifikansisebesar 0,000 < 0,01 yang berarti kedua variabel tersebut terdapat hubunganyang sangat signifikan, hipotesis alternatif (Ha) diterima dan hipotesis nol (Ho)ditolak.5. Terdapat hubungan positif antara mendengarkan dalam komunikasi ke atasdengan loyalitas anggota BEM KM Undip. Berdasarkan hasil analisis hubunganantara mendengarkan dalam komunikasi ke atas dengan loyalitas anggota BEMKM Undip menggunakan perhitungan statistik korelasi Rank Kendall, diperolehhasil bahwa nilai signifikansi sebesar 0,000 dengan koefisien korelasikepercayaan (x1) dengan loyalitas anggota BEM KM Undip (Y) sebesar 0,496.Hal ini dapat dikatakan bahwa nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,01 yangberarti kedua variabel tersebut terdapat hubungan yang sangat signifikan,hipotesis alternatif (Ha) diterima dan hipotesis nol (Ho) ditolak.96. Terdapat hubungan positif antara perhatian pada tujuan-tujuan berkinerja tinggidengan loyalitas anggota BEM KM Undip. Berdasarkan hasil analisis perhatianpada tujuan-tujuan berkinerja tinggi dengan loyalitas anggota BEM KM Undipmenggunakan perhitungan statistik korelasi Rank Kendall, diperoleh hasil bahwaberkinerja tinggi (x6) dengan loyalitas anggota BEM KM Undip (Y) sebesar0,405. Hal ini dapat dikatakan nilai signifikansi sebesar 0,000 dengan koefisienkorelasi perhatian pada tujuan-tujuan bahwa nilai signifikansi sebesar 0,000 <0,01 yang berarti kedua variabel tersebut terdapat hubungan yang sangatsignifikan, hipotesis alternatif (Ha) diterima dan hipotesis nol (Ho) ditolak.KesimpulanDari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dalam iklim komunikasi, variabelkepercayaan (x1), pembuatan keputusan bersama (x2), kejujuran (x3), keterbukaandalam komunikasi ke bawah (x4), mendengarkan dalam komunikasi ke atas (x5), danperhatian pada tujuan–tujuan berkinerja tinggi (x6) , masing-masing mempunyaihubungan positif dengan loyalitas anggota (Y).DAFTAR PUSTAKAMuhammad, Arni. 2009. Komunikasi Organisasi. Jakarta: Bumi AksaraPace, R. Wayne., dan Faules, Don. F. 2006. Komunikasi Organisasi StrategiMeningkatkan Kinerja Perusahaan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.Mowday, Richard T., Richard M. Steers, dan Lyman W.Porter. 1979. “TheMeasurement of Organizational Commitment”. Journal of Vocational Behavior,14.Peterson, Brent D., dan R Wayne Pace. 1985. Organizational Communication Profile.Provo,Utah: Organizational Associates.10Redding, W. Charles. 1972. Communication within the Organization: An InterpretiveReview of Theory and Research. New York: Industrial Communication Council.Nawawi, Hadari. 1987. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta:Gadjah MadaUniversity PressDennis, Harry S. 1974. The Construction of a Managerial Communication ClimateInventory for Use in Complex Organizations. Makalah yang disajikan pada pertemuantahunan Asosiasi Komunikasi Internasional New Orleans.Guzley, Ruth M. 1992. Organizational Climate and Communication Climate.Management Communication Quarterly.Devito, Joseph A. 1997. Komunikasi Antarmanusia. New York: Hunter College of theCity. University of New York.Umar, Husein. 2002.Metode Riset Komunikasi Organisasi. Jakarta: PT GramediaPustaka UtamaSugiono. 2006. Statistika Untuk Penelitian. Bandung: CV ALFABETAJurnalUtomo, Budi. 2002. Menentukan Faktor-Faktor Kepuasan Kerja dan Tingkat KepuasanKerja Terhadap Loyalitas Karyawan PT. P. Jurnal Manajemen & Kewirausahaan,Vol.7 (2), 171 – 188.Mowday, Richard T., Richard M.Steers, dan Lyman W. Porter. 1979. The Measurementof Organizational Commitment”. Journal of Vocational Behavior, 14, 224-247Internethttp://id.wikipedia.org/wiki/Organisasi_mahasiswa_di_Indonesiadiunduh pada 8 April 2013, pukul 21.00http://id.wikipedia.org/wiki/Organisasi_mahasiswa_di_Indonesia11diunduh pada 8 April 2013, pukul 21.10http://edukasi.kompasiana.com/2012/02/10/melihat-lebih-dekat-badan-eksekutifmahasiswa-437194.htmldiunduh pada 9 April 2013, pukul 20.30Sumber LainLaporan Pertanggung Jawaban BEM KM Undip 2008-2012Daftar Pengurus BEM KM Universitas Diponegoro 2013www.bemkmundip.ac.idSkripsiAstrid Christina. 2012. Hubungan Iklim Komunikasi Organisasi dengan LoyalitasAnggota Paduan Suara Mahasiswa Universitas Diponegoro. Universitas Diponegoro.Skripsi Astri Lestari. 2012. Pengaruh Iklim komunikasi Organisasi terhadap LoyalitasKaryawan English First Pluit Jakarta. Universitas Tarumanegara.Skripsi RR Mira Ayu Prameswari. 2007. Hubungan Iklim Organisasi dengan LoyalitasKaryawan Garden Palace Hotel Surabaya. Universitas Petra Christian.
Pengaruh Terpaan Kampanye Cagub-Cawagub, Intensitas Komunikasi Politik di dalam Keluarga, dan Kelompok Referensi terhadap Partisipasi Politik Pemilih Pemula pada Pilgub Jateng 2013 Awang Asmoro; Tandiyo Pradekso; Muchamad Yulianto
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.667 KB)

Abstract

Pengaruh Terpaan Kampanye Cagub-Cawagub,Intensitas Komunikasi Politik di dalam Keluarga, dan Kelompok Referensiterhadap Partisipasi Politik Pemilih Pemula pada Pilgub Jateng 2013ABSTRACTOn May 26th, 2013, people of Central Java implemented the Gubernatorial Election.Various campaigns conducted to gain public sympathy. However, the number of abstentions wasvery high, reaching 44 percent. On the other hand, youth voters have a significant impact to thesuccess of the elections, or the victory of candidate, based on the relatively large amount.Adolescents at 17-18 years old, which when the Central Java Gubernatorial Election 2013, theyvote for the first time, most of them live with a family and at that age are also often involved insome reference groups.This study used quantitative research methods and the type is explanatory research,which examines the relationship between variables through hypothesis testing. The populationused in this study were high school students, Madrasah Aliyah, and vocational high schools inSemarang city, with multistage random sampling technique. This study used logistic regressionas statistical test. This test is used when the dependent variabel have dichotomous scale.The results showed that exposure to the candidates’ campaigns has no effect on youthvoters political participation, while political communication intencity in the family and politicalcommunication intencity in the reference group both has influence on youth voters politicalparticipation. Opened campaign or through the media can’t reach youth voters effectively. Onthe other side, youth voters need some party (but not political party) to mobilize their politicalparticipation. So, this study suggested that the target of the campaign are families or groups whohave access to the youth voters. Family and reference group had a significant influence on thepolitical socialization process to the youth voters, so that will be more effective when the politicor campaign informations delivered through the socialization agents.Keywords : campaign, family, reference group, youth votersABSTRAKSIPada tanggal 26 Mei 2013, masyarakat Jawa Tengah melaksanakan pemilihan Gubernurdan Wakil Gubernur secara langsung. Namun, angka golput ternyata sangat tinggi, yaitumencapai angka 44 persen. Di sisi lain, pemilih pemula memiliki pengaruh yang cukupsignifikan bagi kesuksesan pemilihan umum, ataupun bagi kemenangan salah satu kandidat,mengingat jumlah yang relatif besar. Remaja pada usia 17-18 tahun, di mana pada saat PilgubJateng 2013 menjadi pemilih untuk pertama kalinya, sebagian besar tinggal dengan keluarga danpada usia tersebut juga sering terlibat dalam suatu kelompok referensi.Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan tipe penelitianeksplanatori, yaitu mengkaji hubungan antar variabel melalui pengujian hipotesis. Populasi yangdigunakan dalam penelitian ini adalah siswa SMA, MA, dan SMK di Kota Semarang, denganteknik multistage random sampling. Uji statistik yang digunakan adalah uji regresi logistik. Ujiini digunakan ketika variabel tetap berskala dikotomi.Hasil penelitian menunjukan bahwa terpaan kampanye Cagub-Cawagub tidakmempunyai pengaruh terhadap partisipasi politik pemilih pemula, sedangkan intensitaskomunikasi politik di dalam keluarga dan intensitas komunikasi politik di dalam kelompokreferensi memiliki pengaruh terhadap partisipasi politik pemilih pemula. Kampanye terbuka ataumelalui media tidak dapat menjangkau pemilih pemula dengan efektif. Di sisi lain, pemilihpemula membutuhkan pihak-pihak untuk memobilisasi partisipasi politik mereka. Untuk itu,disarankan agar kampanye dilakukan untuk menyasar keluarga atau kelompok-kelompok yangmemiliki akses kepada pemilih pemula. Keluarga dan kelompok referensi memiliki pengaruhyang signifikan dalam proses sosialisasi politik kepada pemilih pemula sehingga akan lebihefektif ketika informasi politik atau informasi kampanye disampaikan melalui agen-agensosialisasi tersebut.Kata kunci: kampanye, keluarga, kelompok, pemilih pemulaPENDAHULUANKomunikasi merupakan aspek penting dalam kehidupan manusia. Pertukaran pesandilakukan di antara manusia melalui komunikasi. Fungsi komunikasi untuk mempersuasi banyakdijumpai dalam dunia politik. Komunikasi berperan sebagai penghubung antara pemerintahdengan rakyat. Di Indonesia, dengan sistem pemerintahan yang republik, di mana republikdengan Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Presiden yang dipilihlangsung oleh rakyat, maka komunikasi digunakan sebagai alat untuk mempersuasi masyarakatagar memberi dukungan kepada suatu pihak atau golongan. Salah satu bentuk nyata dukunganmasyarakat terhadap suatu pihak atau golongan adalah melalui pemilihan umum (pemilu). Dalampemilu, para kandidat berlomba-lomba memperoleh suara rakyat untuk bisa menduduki jabatantertentu dalam pemerintahan. Komunikasi dalam kegiatan ini berperan penting untukmempersuasi masyarakat. Salah satu strategi komunikasi untuk mempersuasi masyarakat adalahkampanye. Upaya perubahan yang dilakukan kampanye selalu berkaitan dengan aspek kognitif,afektif, dan behavior. Namun, di tengah maraknya kampanye politik yang dilakukan partaipolitik dalam pemilu di tahun 1999, 2004, dan 2009, didapat data bahwa partisipasi politikmasyarakat Indonesia dalam pemilu justru mengalami penurunan. Tidak hanya dalam Pemilu,rendahnya partisipasi politik masyarakat dalam Pilgub juga terasa. Data hasil Pilgub di beberapadaerah juga menunjukkan bahwa tingkat Golput masyarakat sangat tinggi, yaitu Jawa Tengahdengan tingkat Golput paling tinggi dari provinsi lain dengan 45,25 persen(http://ugm.ac.id/index.php?page=rilis&artikel=1432).Keluarga sebagai lingkungan terdekat bagi seseorang memiliki peran yang cukup pentingbagi perkembangan seseorang. Dalam dunia politik, keluarga, terutama orang tua memilikiperanan untuk mengedukasi anaknya tentang politik. Tidak hanya melalui keluarga, pemilihpemula yang masih berusia remaja cenderung terlibat dengan kelompok referensi dalampergaulannya. Kelompok referensi dalam bentuk kelompok teman sebaya, kelompok diskusi, dankomunitas memiliki peran penting juga dalam kesuksesan pemilihan umum. Sosialisasi tentangpolitik juga dapat terjadi dalam kelompok referensi, di mana dengan keberadaan kelompokreferensi, informasi, dalam hal ini informasi politik yang diperoleh masing-masing anggota dapatdibagikan kepada anggota lain, sehingga menambah pengetahuan bagi anggota, sehinggaanggota dapat menentukan sikapnya terhadap politik.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terpaan kampanye Cagub-CawagubJateng 2013, intensitas komunikasi politik di dalam keluarga, dan intensitas komunikasi politikdi dalam kelompok referensi terhadap partisipasi politik pemilih pemula dalam Pilgub Jateng2013.Tipe penelitian ini adalah eksplanatori. Tipe penelitian ini digunakan untuk menjelaskanhubungan (korelasi) antar variabel melalui pengujian hipotesis. Populasi dalam penelitian iniadalah siswa SMA, MA, dan SMK di Kota Semarang. Data diambil dari Profil Pendidikan KotaSemarang Tahun 2012 dengan mengambil data kelompok usia 16-18 tahun. Pada tahun 2013,usia terkecil dalam kelompok usia tersebut akan memenuhi syarat usia sebagai pemilih dalampemilihan umum, maka anggota kelompok usia tersebut pada Pemilihan Gubernur Jawa Tengah2013 dianggap sebagai pemilih pemula. Jumlah anggota populasi ini adalah 50.419 orang.Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah multistage random sampling.Kerangka TeoriBeberapa studi menunjukkan bagaimana agenda kampanye mempengaruhi isu yangmenonjol di kalangan pemilih (Iyengar & Simon; Togeby, dalam Hansen, 2008: 8). Kampanyesebagai sarana komunikasi persuasi kandidat digunakan untuk mengarahkan isu yang menonjoldi kalangan pemilih sesuai dengan keinginannya. Misalnya, De Vreese (dalam Hansen, 2008: 9)menunjukkan bagaimana isu dari kampanye jajak pendapat menyebabkan pemilih mengevaluasikinerja politisi terhadap isu kampanye. Johnston dkk. (dalam Hansen, 2008: 9) menunjukkanbagaimana isu perdagangan bebas meningkatkan isu yang menonjol selama kampanye danbagaimana pemilih mengevaluasi kandidat berdasar pengaruh yang kuat terhadap perdaganganbebas pada pilihan mereka. Freedman dkk (dalam Hansen, 2008: 7) menemukan bahwa terpaankampanye meningkatkan ketertarikan politik, kesadaran, pengetahuan, dan kecenderungan untukmemilih.Para peneliti secara tradisional berkonsentrasi pada keluarga sebagai agen sosialisasi utama,menemukan bahwa diskusi politik di dalam rumah, partisipasi orang tua dalam pemilihan, dansumber daya politik secara signifikan berdampak pada partisipasi politik remaja (Verba dkk;Brady dkk, dalam Pacheco, 2008: 415). . Menurut beberapa ilmuwan, anak muda hanya memilihseperti pilihan orang tua mereka (Rundio; dalam Armstrong, dkk, 2008: 1). Misalnya, jika orangtua mereka Partai Republik, mereka cenderung memilih Partai Republik juga. Studi telahmenunjukkan bahwa arah politik dikalahkan oleh paksaan orang tua yang lebih banyak padatahun-tahun awal seseorang bergabung dalam pemilihan umum dan perlahan-lahan berkurang,selalu tersisa sedikit pengaruh (Jennings; dalam Gross, 2007: 6).Kelompok referensi adalah seseorang atau sekelompok orang yang mempengaruhi perilakuindividu secara signifikan (Bearden dan Etzel, 2001: 184). Dalam studi merek pilihan konsumen,Witt (dalam Bearden dan Etzel, 2001: 183-184) menegaskan studi nonmarketing pada awalnyamengindikasi bahwa kohesivitas kelompok mempengaruhi perilaku. Baron dan Byrne (dalamRakhmat, 2009: 149) berpendapat bahwa pengaruh sosial terjadi ketika perilaku, perasaan, atausikap kita diubah oleh apa yang orang lain katakan atau lakukan.Hipotesis1. Terpaan kampanye Cagub-Cawagub Jateng 2013 (X1) secara signifikan berpengaruhterhadap partisipasi politik pemilih pemula (Y).2. Intensitas komunikasi politik di dalam keluarga (X2) secara signifikan berpengaruh terhadappartisipasi politik pemilih pemula (Y).3. Intensitas komunikasi politik di dalam kelompok referensi (X3) secara signifikanberpengaruh terhadap partisipasi politik pemilih pemula (Y).PEMBAHASANRegresi logistik merupakan pendekatan untuk memprediksi, seperti regresi Ordinary LeastSquare (OLS). Namun, dengan regresi logistik, peneliti memprediksi hasil yang dikotomi, dalampenelitian ini adalah partisipasi politik pemilih pemula, dengan nilai 1 untuk kategoriberpartisipasi dan nilai 0 untuk kategori tidak berpartisipasi. Situasi ini menimbulkan masalahbagi asumsi OLS yang mengharuskan varians eror (nilai residual) terdistribusi normal.Uji parsial dilakukan untuk mengetahui apakah variabel bebas secara individu mempengaruhivariabel terikat.TabelPartial TestB Sig. Exp(B)x1 -.085 .633 .918x2 1.085 .000 2.959x3 1.239 .000 3.454Constant -6.209 .000 .002Ho : β = 0 (Variabel x tidak signifikan mempengaruhi variabel dependen)Ha : β ≠ 0 (Variabel x signifikan mempengaruhi variabel dependen)Kriteria pengujian: Jika nilai signifikansi < 0,05, maka Ho ditolak, Ha diterima. Jika nilai signifikansi > 0,05, maka Ho diterima, Ha ditolak.Hasil pengujian :Nilai signifikansi X1 = 0,633, berarti > 0,05Nilai signifikansi X2 = 0,000, berarti < 0,05Nilai signifikansi X3 = 0,000, berarti < 0,05Karena ada satu variabel yang tidak signifikan, maka dilakukan penghitungan ulang denganmembuang variabel yang tidak signifikan. Hasilnya sebagai berikut:TabelPartial TestB Sig. Exp(B)x2 1.078 .000 2.938x3 1.226 .000 3.409Constant -6.526 .000 .001Interpretasi Odds RatioKoefisien regresi pada regresi logistik sulit diinterpretasikan karena regresi logistik berbicaramengenai probabilitas. Maka digunakan angka odds ratio, di mana nilai odds ratio ditunjukkanpada kolom Exp(B).1. Exp(B1) = 2,938Artinya, semakin tinggi intensitas komunikasi politik di dalam keluarga yang dilakukanpemilih pemula, maka kecenderungannya untuk ikut berpartisipasi politik meningkat.Atau,Kecenderungan pemilih pemula yang mengalami intensitas komunikasi politik di dalamkeluarga yang tinggi untuk berpartisipasi politik dalam Pilgub Jateng 2013 meningkat 2,938kali lipat lebih tinggi dibanding pemilih pemula yang memiliki intensitas komunikasi politikdi dalam keluarga yang lebih rendah.2. Exp(B2) = 3,409Artinya, semakin tinggi intensitas komunikasi politik di dalam kelompok referensi yangdilakukan pemilih pemula, maka kecenderungannya untuk ikut berpartisipasi politikmeningkat.Atau,Kecenderungan pemilih pemula yang mengalami intensitas komunikasi politik di dalamkelompok referensi yang tinggi untuk berpartisipasi politik dalam Pilgub Jateng 2013meningkat 3,409 kali lipat lebih tinggi dibanding pemilih pemula yang memiliki intensitaskomunikasi politik di dalam keluarga yang lebih rendah.Pengaruh Terpaan Kampanye Cagub-Cawagub Jateng 2013, Intensitas KomunikasiPolitik di dalam Keluarga, dan Kelompok Referensi terhadap Partisipasi Politik PemilihPemula dalam Pilgub Jateng 2013Berdasarkan hasil analisis statistik, diketahui bahwa dari tiga variabel bebas yaitu terpaankampanye Cagub-Cawagub Jateng 2013, intensitas komunikasi politik di dalam keluarga, danintensitas komunikasi politik di dalam kelompok referensi, variabel terpaan kampanye Cagub-Cawagub Jateng 2013 tidak berpengaruh terhadap partisipasi politik pemilih pemula. Dari hasilperhitungan, tidak terdapat cukup bukti untuk menerima hipotesis yang menyatakan bahwaterpaan kampanye Cagub-Cawagub Jateng 2013 berpengaruh positif terhadap partisipasi politikpemilih pemula.Zaller (dalam Evans, 2004: 201) berpendapat bahwa dari sudut pandang statistika, meskipunkita tahu dari perspektif dunia nyata bahwa terpaan kampanye memiliki efek pada bagaimanaorang-orang memilih (pemilu), belum ada yang formalisasi nyata dari efek kampanye karenasurvey dengan ribuan responden pun tidak cukup besar untuk mendeteksi efeknya. Selarasdengan hasil penelitian ini, bahwa terpaan kampanye yang diterima oleh kelompok pemilihpemula ternyata tidak memiliki pengaruh terhadap partisipasi politik pada pemilihan umum. Efekkampanye pada Pilgub Jateng 2013 tidak terlihat pada kelompok pemilih pemula, karena tidakmendapat cukup bukti yang mendukung hipotesis yang diajukan. Lebih lanjut, Newton (dalamFarrell dan Beck, 2004: 184) berpendapat, pemilih membentuk preferensi mereka atas dasarinformasi selain yang disediakan dalam kampanye, dan terhadap informasi ini, pesan bias yangdipikirkan oleh spesialis pemasaran tidak bisa menang. Artinya adalah bahwa pemilih,memutuskan pilihan mereka pada pemilihan umum bukan berdasar informasi yang diberikandalam kampanye. Sedangkan pesan-pesan yang telah disusun oleh tim sukses kampanye, tidakdapat menang melawan informasi yang diperoleh di luar kampanye. Dalam penelitian ini,sumber informasi lain diperoleh melalui diskusi politik dalam keluarga dan kelompok referensi,di mana keduanya memberikan pengaruh yang signifikan terhadap partisipasi politik kelompokpemilih pemula. Semakin intensif diskusi yang dilakukan, baik di dalam keluarga maupunkelompok referensi, maka akan semakin tertanam dalam benak pemilih pemula, yang kemudianmempengaruhi pandangan politiknya, sehingga partisipasi politiknya sebagai pengamatterbentuk berdasarkan pandangan keluarga maupun kelompok referensi.Berdasarkan seminar “Voting” (1954), oleh Bernard Berelson, Paul F. Lazarsfeld, danWilliam N. McPhee, dan “The American Voter” (1960), oleh Angus Campbell, Philip E.Converse, Warren E. Miller, dan Donald E. Stokes, pada penelitian terbaru, banyak ahliberpendapat bahwa keputusan pemilihan bergantung pada identifikasi partisan dan sosiologiyang sudah ada sebelum kampanye dimulai dan kampanye hanya mengaktifkan preferensi yangtersembunyi ini (dalam Mayer, 2008: 59). Jadi, dalam sebuah keputusan partisipasi pemilih,kampanye tidak memiliki pengaruh yang berarti, namun keputusan lebih dipengaruhi olehmisalnya faktor lingkungan dan pandangan pribadi terhadap kandidat, di mana hal ini sudahmulai berkembang di dalam benak kalangan pemilih sebelum dilakukannya kampanye. Kegiatankampanye diperlukan untuk hanya mengaktifkan ingatan tentang pandangan pribadi danlingkungan yang mempengaruhinya saat sebelum dilakukannya pemungutan suara. Kampanyedalam hal ini tidak lebih sebagai pengingat saja tentang kegiatan pemilihan umum, hal inimenggambarkan tidak adanya pengaruh yang diberikan kepada keputusan pemilih.Kelompok yang menolak perlunya kampanye politik, berpendapat bahwa hasil pemiluditentukan oleh kinerja pemerintah dan bahwa kampanye hanya berarti sedikit dalammenentukan hasil pemilu. Mengikuti tradisi klasik dari V.O. Key (dalam Maisel dkk, 2007: 3),peneliti tersebut menekankan model reward atau hukuman berdasarkan indikator pemerintahanyang sebenarnya, seperti perekonomian atau perang dan damai. Jika perekonomian berjalandengan baik dan masyarakat puas dengan kinerja keseluruhan pemerintahan saat ini, merekaharus memilih anggota partai tersebut, dan jika mereka tidak puas, mereka harus menghukumpartai tersebut dengan menolak memilih partai tersebut. Model demokrasi ini, menurut Popkin(dalam Maisel dkk, 2007: 3) hanya membutuhkan informasi dan pilihan yang minim sebagaibagian dari pemilihan umum. Pemilih tidak diharuskan mengikuti debat dengan sangat hati-hatiatau mencari detail dari program kerja kandidat. Sebaliknya, mereka hanya harus mampu menilaiyang telah dilakukan pemerintah saat ini. Sesuai dengan konsep tersebut, analisis berbasis kinerjacenderung berpikir bahwa kualitas kampanye, janj-janji kandidat, dan liputan media massa tidakberarti dalam menentukan hasil pemilihan umum. Permasalahan yang menonjol (seperti tingkatpengangguran, inflasi, dan lain-lain) adalah yang menggerakan pemilih (Beck dan Nadeau,dalam Maisel dkk, 2007: 3). Kegiatan kampanye, ditujukan untuk meraih simpati masyarakatagar memilih suatu partai atau kandidat dalam pemilihan umum, namun, berdasarkan uraian diatas, kampanye politik tidak berpengaruh terhadap keputusan pemilih dikarenakan pemilihmengambil keputusan berdasarkan kinerja kandidat. Kegiatan kampanye yang lebih berfokuspada penyampaian program kerja atau hiburan-hiburan tidak memiliki dampak signifikanterhadap keputusan pemilih. Pemilih pemula, yang sebagian besar pelajar, memiliki cenderungmemiliki sedikit waktu untuk mengakses informasi mengenai kinerja kandidat. Namun denganadanya keluarga dan kelompok referensi, di mana di antaranya memiliki pengetahuan danpenilaian terhadap kandidat, maka dalam diskusi yang melibatkan pemilih pemula, pemilihpemula akan dapat menilai kinerja kandidat berdasarkan informasi yang diperoleh dari keluargaataupun kelompok referensi. Semakin banyak pemilih pemula memperoleh informasi, makapemilih pemula akan lebih obyektif dalam menentukan pilihan.Chaffe dkk (dalam Nimmo 2006: 112-113) berpendapat anak dari keluarga yang mendorongpengungkapan diri dan penyingkapan gagasan politik yang bertentangan; sementara mengecilkanhubungan sosial yang berupa penghormatan dan yang konformis, cenderung lebihberpengetahuan tentang politik, lebih besar kemungkinannya terlibat dalam politik, lebih percayakepada politik, lebih realistik dalam mengagumi pemimpin politik, dan lebih menaruh minatterhadap politik dibandingkan dengan anak dari keluarga tipe yang lain. Dalam diskusi keluarga,semakin intensif komunikasi yang dilakukan dalam rangka membahas masalah politik danmelibatkan pemilih pemula, maka pemilih pemula yang cenderung aktif dalam diskusi, misalnyadengan mengutarakan pandangan politiknya, akan cenderung berpartisipasi dalam politik.Hirsch (dalam Nimmo, 2006: 113) menyebutkan bahwa kelompok sebaya memiliki pengaruhyang memperkuat dan mendukung pandangan politik anak sehingga politik benar-benar menjadimasalah pembahasan yang relevan. Nimmo (2006: 113) berpendapat bahwa kelompok sebayajuga mempengaruhi belajar politik sehingga mereka memberikan bimbingan melaluikeanggotaan dalam asosiasi sukarela, perhimpunan kewarganegaraan, atau dengan rekan kerja diperusahaan, serikat, buruh, atau tempat kerja yang lain. Karena orang biasanya masuk dalampandangan sendiri, maka kemungkinan asosiasi seperti itu mengubah opini politik menjadiberkurang. Meskipun tidak selalu demikian, kecenderungan yang umum ialah bahwa orangmenyesuaikan kepercayaan, nilai, dan pengharapan politiknya dengan kawan sebaya untukmemelihara persahabatan yang ditunjukkan dengan menjadi kawan sebaya.Menurut Huntington dan Nelson (dalam Arifin, 2011: 213), sifat partisipasi politik yangterlihat berdasarkan hasil penelitian cenderung kepada partisipasi politik yang dimobilisasi ataudigerakan oleh pihak lain (mobilized participation). Namun, berbeda dengan pendapatHuntington dan Nelson, penggerak partisipasi politik kelompok pemilih pemula bukan olehpartai politik, kandidat, tim sukses, atau pejabat pemerintah, karena terpaan kampanye tidakmempengaruhi partisipasi politik kelompok ini. Penggerak yang berpengaruh terhadap kelompokpemilih pemula adalah keluarga dan kelompok referensi. Keluarga dan kelompok referensitermasuk dalam lingkungan terdekat bagi kelompok pemilih pemula. Ini artinya bahwakeputusan kelompok pemilih pemula dalam pemilihan umum dipengaruhi oleh lingkungan yangada di dekatnya. Dengan intensitas komunikasi yang tinggi di dalam keluarga maupun kelompok,pemilih pemula mendapat pengetahuan politik yang mana pengetahuan tersebut berdasar padaperspektif masing-masing keluarga atau kelompok, artinya pengetahuan yang diberikan bersifatsubjektif. Berdasarkan hal tersebut, menurut Dan Nimmo (dalam Arifin 2011: 223-224)kelompok pemilih pemula ini cenderung masuk dalam tipe pemilih rasional. Kelompok pemilihpemula yang berpartisipasi cenderung melakukan diskusi mendalam tentang politik baik dengankeluarga maupun kelompok referensi. Pemberi suara rasional berminat secara aktif terhadappolitik, rasa ingin tahu yang dimiliki kelompok pemilih pemula menjadikan diskusi denganlingkungan terdekat sebagai sarana mendapatkan informasi, dalam hal ini adalah informasipolitik. Melalui diskusi, pemilih pemula dapat memperoleh cukup informasi untuk menentukanalternatif yang dihadapkan padanya, alternatif pemimpin Jawa Tengah periode 2013-2018. Motifpartisipasi yang terlihat dalam penelitian ini, menurut Dan Nimmo (2006: 129-130) yaitusengaja, diarahkan dari dalam, dan diarahkan dari luar. Motif sengaja, artinya bahwa pemilihpemula secara sengaja terlibat dalam diskusi politik yang kemudian akan meningkatkanpengetahuan politiknya dan dapat mempengaruhi pandangan politiknya. Motif diarahkan daridalam, artinya bahwa orientasi atau kecenderungan partisipasi politiknya diperoleh melaluibimbingan orang tuanya. Pemilih pemula dengan intensitas komunikasi politik yang tinggi didalam keluarga cenderung terpengaruh untuk berpartisipasi dalam pemilihan umum. Yangketiga, motif diarahkan dari luar, artinya bahwa kecenderungan partisipasi pemilih pemula,selain dipengaruhi oleh keluarga, juga dipengaruhi lingkungan yang lebih luas, dalam hal iniadalah kelompok referensi. Diskusi politik yang terjadi dalam kelompok yang melibatkanpemilih pemula, cenderung mempengaruhi partisipasi pemilih pemula dalam pemilihan umum.Partisipasi pemilih pemula dalam Pilgub Jateng 2013 ini termasuk rendah, di mana sebanyak59% menyatakan tidak berpartisipasi dalam pemilihan umum. Ini menunjukkan bahwa motifyang ada dalam diri pemilih pemula kurang dibangun. Jika intensitas komunikasi politik didalam keluarga dan kelompok referensi berpengaruh secara signifikan terhadap kecenderunganpartisipasi dalam pemilihan umum, maka ketika intensitas komunikasi politik di dalam keluargadan kelompok referensi rendah, pemilih pemula cenderung tidak berpartisipasi. Ini berarti motifdiarahkan dari dalam dan luar, kurang berkembang dalam diri pemilih pemula. Keluarga dankelompok referensi kurang bisa memaksimalkan perannya sebagai agen sosialisasi politik kepadapemilih pemula. Sedangkan pemilih pemula, juga kurang termotivasi untuk secara aktif mencariinformasi politik sehingga kecenderungan partisipasinya rendah.PENUTUPBerdasarkan hasil analisis data menggunakan regresi logistik, maka dapat disimpulkansebagai berikut:1. Tidak terdapat pengaruh terpaan kampanye Cagub-Cawagub terhadap partisipasi politikpemilih pemula. Beberapa jawaban atas temuan ini yaitu antara lain, kegiatan kampanyeyang ditujukan kepada kelompok pemilih pemula sedikit, hal ini menyebabkan terpaan yangdiperoleh cenderung rendah, sehingga pengetahuan yang dimiliki pemilih pemula tentangkandidat juga minim. Kegiatan kampanye yang umum dilakukan seperti kampanye terbukadan melalui media massa maupun media luar ruang tidak dapat menjangkau kalangan remaja.2. Terdapat pengaruh yang signifikan dari intensitas komunikasi politik di dalam keluargaterhadap partisipasi politik pemilih pemula.3. Terdapat pengaruh yang signifikan dari intensitas komunikasi politik di dalam kelompokreferensi terhadap partisipasi politik pemilih pemula.4. Partisipasi politik pemilih pemula cenderung rendah dan hal itu lebih dipengaruhi padaintensitas komunikasi politik di dalam keluarga dan kelompok referensi yang cenderungrendah juga.Berdasarkan kesimpulan di atas, peneliti memberikan beberapa saran sebagai berikut:1. Para calon yang tampil dalam pemilihan umum, agar melakukan kampanye dengan cara lainuntuk menyasar pemilih pemula, hal ini karena dengan kegiatan kampanye yang telahdilakukan seperti kampanye terbuka, melalui media massa maupun media luar ruang, tidakdapat mempengaruhi partisipasi mereka. Untuk itu, disarankan agar melakukan kampanyemelalui agen sosialisasi bagi pemilih pemula atau remaja, yaitu keluarga dan kelompokreferensi, hal tersebut bisa menjadi alternatif yang efektif untuk menjangkau pemilih pemulaatau remaja.2. Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai pihak penyelenggara pemilihan umum bersamapemerintah, agar memberikan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnyapendidikan politik bagi anak muda.3. Keberadaan keluarga dan kelompok referensi, sebagai lingkungan terdekat dan sebagai agensosialisasi bagi pemilih pemula, berpengaruh terhadap partisipasi politik pemilih pemula.Maka, keluarga dan kelompok referensi sebaiknya lebih aktif mengajak anak berkomunikasidan berdiskusi tentang politik, sehingga terjadi keterbukaan antar anggota keluarga danpemilih pemula dapat meningkatkan pengetahuan politik.4. Keberadaan pemilih pemula sebagai bagian baru dalam dunia politik memiliki peran pentinguntuk ikut membangun bangsa, maka pemilih pemula sebaiknya lebih aktif dan tertarik padadunia politik. Pemilih pemula sebaiknya terbuka terhadap informasi politik yang diterimabaik melalui media massa maupun dari orang lain. Hal ini sangat berguna untukmengembangkan pengetahuan politik para pemilih pemula.DAFTAR PUSTAKAArifin, Anwar. 2011. Komunikasi Politik: Filsafat-Paradigma-Teori-Tujuan-Strategi danKomunikasi Politik Indonesia. Yogyakarta: Graha Ilmu.Armstrong, Abbigail dkk. 2008. Examining Trends in Youth Voting: The Effect of Turnout,Competition, and Candidate Attributes on 18-24 Voters from 1974-2004. University ofEvansville.Bearden, William O. dan Michael J. Etzel. 1982. Reference Group Influence on Product andBrand Purchase Decisions. Journal of Consumer Research: Volume 9.Evans, Jocelyn A.J. 2004. Voter & Voting: an Introduction. London: Sage Publications.Farrell, David M. dan Rudiger Schmitt-Beck. 2004. Do Political Campaigns Matter? CampaignEffects in Elections and Referendums. New York: Routledge.Gross, John. 2007. The Influence of Parents in the Voting Behavior of Young People: A Look atthe National Civic and Political Engagement of Young People Survey and the 2008Presidential Election. Public Opinion and Survey Research.Hansen, Kaper M. 2008. The Effect of Politial Campaigns: Overview of the Research OnlinePanel of Electoral Campaigning (OPEC). University of Copenhagen.Maisel, L. Sandy, Darrell M. West, dan Brett M. Clifton. 2007. Evaluating Campaign Quality:Can the Electoral Process be Improved. New York: Cambridge University Press.Mayer, William G. 2008. The Swing Voter in American Politics. Washington: The BrookingInstitution.Nimmo, Dan. 2006. Komunikasi Politik: Khalayak dan Efek. Bandung: Remaja Rosdakarya.Pacheco, Julianna Sandell. 2008. Political Socialization in Context: The Effect of PoliticalCompetition on Youth Voter Turnout. USA: Springer Science+Business Media.Rakhmat, Jalaluddin. 2009. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.http://ugm.ac.id/index.php?page=rilis&artikel=1432

Page 2 of 3 | Total Record : 28