cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 28 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1: Januari 2014" : 28 Documents clear
Hubungan Intensitas Menonton Film Animasi dan Peran Orangtua Sebagai Gatekeeper terhadap Tingkat Agresivitas Anak Marcia Julifar Ardianto; Tandiyo Pradekso; Sri Widowati Herieningsih
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.516 KB)

Abstract

Hubungan Intensitas Menonton Film Animasi dan Peran Orangtua SebagaiGatekeeper terhadap Tingkat Agresivitas AnakABSTRAKSaat ini banyak film animasi yang ditayangkan untuk anak-anak dan pada jammenonton anak. Film animasi tersebut tidak hanya ditayangkan di televisi nasional saja,bahkan televisi berlangganan pun mempunyai beberapa channel yang khususmenayangkan film animasi. Akan tetapi, tidak semua film animasi mengandung muatanpositif. Film animasi yang mengandung muatan-muatan negatif, dikhawatirkan dapatmemicu perilaku agresif pada anak. Faktor yang mempengaruhi tingkat agresivitas anakantara lain intensitas menonton film animasi dan peran orangtua sebagai gatekeeper.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara intensitasmenonton film animasi terhadap tingkat agresivitas anak yang disertai dengan peranorangtua sebagai gatekeeper. Teori yang digunakan adalah teori belajar sosial (sociallearning theory) dan parental mediation theory. Tipe penelitian yang digunakan dalampenelitian ini adalah tipe eksplanatori dengan pendekatan metode penelitian kuantitatif.Populasi penelitian ini adalah anak sekolah dasar kelas 4, 5, dan 6 di kota Semarang.Teknik pengambilan sampel menggunakan multistage random sampling dengan sampelsebanyak 73 responden.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif antaraintensitas menonton film animasi terhadap tingkat agresivitas anak dengan signifikansi0,04 dan terdapat hubungan yang negatif antara peran orangtua sebagai gatekeeperterhadap tingkat agresivitas anak dengan signifikansi 0,521. Akan tetapi terdapathubungan yang positif antara intensitas menonton film animasi dan peran orangtuasebagai gatekeeper terhadap tingkat agresivitas anak dengan signifikansi 0,021.Persentase sumbangan variabel intensitas menonton film animasi dan variabel peranorangtua sebagai gatekeeper terhadap variabel tingkat agresivitas anak sebesar 10,4%.Saran bagi Komisi Penyiaran Indonesia, hendaknya bisa membatasi penayanganfilm animasi yang mengandung muatan negatif. Bagi penelitian selanjutnya disarankanuntuk melakukan penelitian dengan variabel yang berbeda, misalnya intensitaskomunikasi interpersonal, pola asuh orangtua, atau faktor demografis, karenavariabel-variabel tersebut dimungkinkan bisa mempengaruhi tingkat agresivitas anak.Kata kunci : intensitas menonton film animasi; peran orangtua sebagai gatekeeper;tingkat agresivitas anakABSTRACTToday there’s a lot of animated films are aired for the children and in thechildren’s spare time. The animated film is not only aired on national television,but also in subscription television that have channels that broadcast animatedfilms. However, not all animated films contains positive values. Animated filmsthat contained negative values, it is feared could trigger aggressive behavior inchildren. Factors that affected the level of children’s aggressivity include theintensity of watching animated films and the parent’s role as gatekeeper.The purpose of this study was to recognize the relationship between theintensity of watching the animated films and the parent’s role as gatekeeper andthe level of children’s aggressivity. The theory that is used is the social learningtheory and parental mediation theory. This type of research used in this study isthe explanatory type with quantitative research method approach. The populationof this research were primary school childrens grades 4, 5, and 6 in Semarang.The sampling technique was multistage random sampling with the sample of 73respondents.The results showed that there was a realtionship between the intensity ofwatching the animated movie and the level of children’s aggresivity with asignificance level of 0,04, and also a relationship between the parent’s role asgatekeeper and the level of children’s aggressivity with a significance level of0,521. However, there’s a relationship between the intensity of watching animatedmovie and the parent’s role as gatekeeper and the level of children’s aggresivitywith a significance level of 0.021. The contribution from independence variableand intervening variable toward dependence variable are 10,4%The suggestion for Komisi Penyiaran Indonesia is to limit the animatedfilms with negative values. To the next research, it is suggested to do a researchwith different variables, such as interpersonal communication intensity, parent’sparenting method, or children’s demographic factors, because these variables canalso influence the level of children’s aggressiveness.Keywords: the intensity of watching the animated films;parent’s role asgatekeeper; levels of children’s aggressivity1. PENDAHULUANFilm animasi merupakan tayangan TV bergenre program anak yang mempunyaipersentase paling besar dibandingkan tayangan anak lainnya. Ironisnya, tidaksedikit film animasi yang ditayangkan mengandung lebih banyak muatan negatif,seperti kekerasan, mistik, dan seks.Menurut Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) terdapat tigakategori tayangan televisi untuk anak, yaitu : a). Aman: kategori tayangan yangtidak hanya menghibur bagi anak, tapi juga memberikan manfaat lebih, sepertipendidikan, motivasi, mengembangkan sikap percaya diri dan penanamannilai-nilai positif dalam kehidupan (persahabatan, penghargaan terhadap dirisendiri dan orang lain, kejujuran). b). Hati-hati : tayangan yang relatif seimbangantara muatan positif dan negatif. c). Bahaya : tayangan yang mengandung jauhlebih banyak muatan negatif daripada muatan positif.Di Indonesia pada tahun 2010, menurut YPMA tayangan anak berlabelmerah masih 30%, idealnya 70% adalah aman, padahal angka 30% tersebut belumtermasuk tayangan berkategori hati-hati. Menurut Wayne Danielson dalamNational Television Violence Study 1995-1997, disimpulkan bahwa anak-anaklebih rawan daripada orang dewasa ketika menonton kekerasan. Anak-anak yangmemiliki kecenderungan untuk meniru apa yang dilihat, mempunyaikemungkinan untuk meniru adegan kekerasan di televisi (Vivian, 2008 : 487).Salah satu penyebab anak melakukan kekerasan, menurut Ketua KomnasPerlindungan anak adalah adegan kekerasan yang dipertontonkan pada anak.Adegan kekerasan tersebut menjadi role model bagi anak yang kemudiandiaplikasikan anak dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dikarenakan anak senangmeniru apa yang dilihatnya(http://m.merdeka.com/jakarta/tawuran-pelajar-dampak-adegan-kekerasan-yang-dilihat-remaja.html. diakses pada tanggal 12 April 2013).Orangtua sebagai pembimbing anak saat menonton televisi sangatlahpenting. Orangtua perlu menyeleksi program-program, menghidupkan hanya padaacara tertentu, melakukan diet televisi, juga mengajari anak untuk mengkritisiacara yang ada di televisi. Selain itu, orangtua pun harus tahu banyak mengenaiacara apa saja yang berkaitan dengan anak (Hidayati, 1998 : 90). Peran orangtuasebagai gatekeeper dilihat sebagai penyaring dan pengontrol tayangan televisiyang ditonton anak. Gatekeeper dapat berupa seseorang atau sekelompok yangdilalui suatu pesan dalam perjalanannya dari pengirim ke penerima. Fungsi utamagatekeeper adalah menyaring pesan yang diterima seseorang (DeVito, 1997:530).Hal ini dapat dilakukan orangtua dengan memberi batasan mana yang ditontonoleh anak dan mana yang tidak, serta mendampingi dan memberi penjelasanmengenai adegan atau peristiwa yang ada dalam film kepada anak.Perumusan masalahApakah terdapat hubungan antara intensitas menonton film animasi dan peranorang tua sebagai gatekeeper dengan tingkat angresivitas anak-anak?Tujuan penelitianUntuk mengetahui hubungan intensitas menonton film animasi dan peranorangtua sebagai gatekeeper dengan tingkat agresivitas anak.Kerangka teoriTeori belajar sosial oleh Bandura mengatakan bahwa kita belajar denganmengamati apa yang dilakukan oleh orang lain. Melalui belajar observasi(modeling atau imitasi), kita secara kognitif mempresentasikan tingkah laku oranglain dan kemudian mungkin meniru tingkah laku tersebut (Santrock, 2003 : 53).J. L. Singer menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara parentalmediation, tingkat agresivitas anak, dan seringnya anak menonton televisi. Anakprasekolah yang jarang menonton televisi menunjukkan tingkat agresivitas danparental mediation yang rendah. Anak yang sering menonton televisi denganorangtua yang melakukan parental mediation menunjukkan tingkat agresivitasyang lebih rendah daripada anak yang sering menonton televisi dengan orangtuayang jarang melakukan parental mediation (Moeller, 2001 : 144).Parental mediation merupakan mediasi yang dilakukan orangtua pada anakmengenai televisi. Parental mediation diuraikan sebagai salah satu cara yangpaling efektif dalam mengatur pengaruh televisi pada anak. Terdapat tiga bentukparental mediation menurut Nathanson (Mendoza, 2009 : 30), antara lain:Coviewing mediation (orangtua menonton televisi dengan anak tanpa adanyadiskusi), Restrictive mediation (orangtua menetapkan aturan dan batasan padakonsumsi televisi anak, termasuk jenis program dan isi dari televisi), Activemediation (orangtua mendiskusikan dengan anak mengenai apa yang dilihat ditelevisi).Geometri Hubungan Antar VariabelHipotesis· Terdapat hubungan yang positif antara intensitas menonton film animasi(X1) terhadap tingkat agresivitas anak (Y). Semakin tinggi intensitasmenonton film animasi akan menyebabkan semakin tingginya tingkatagresivitas anak.· Terdapat hubungan yang positif antara peran orangtua sebagai gatekeeper(X2) terhadap tingkat agresivitas anak (Y). Semakin tinggi peran orangtuasebagai gatekeeper akan menyebabkan semakin rendahnya tingkatagresivitas anak.· Terdapat hubungan yang positif antara intensitas menonton film animasi(X1) dan peran orangtua sebagai gatekeeper (X2) terhadap tingkatagresivitas anak (Y).MetodologiTipe / jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksplanatori.Populasi dalam penelitian ini adalah anak sekolah dasar kelas 4, 5 dan 6 di kotaSemarang yang tersebar di 16 subrayon. Untuk penelitian ini menggunakanmultistage random sampling dengan teknik pengambilan sampel menggunakansimple random sampling, jumlah sampel yang diperoleh adalah 73 siswa.INTENSITASMENONTON FILMANIMASI (X1)PERAN ORANGTUASEBAGAIGATEKEEPER (X2)TINGKATAGRESIVITASANAK(Y)2. HASIL PENELITIANFrekuensi Menonton Film Animasi Durasi Menonton Film AnimasiIndikator Peran Orangtua Sebagai GatekeeperPeran Orangtua Sebagai Gatekeeper Tingkat Agresivitas Responden3. PEMBAHASANHubungan X1 dengan YPengujian adanya hubungan intensitas menonton film animasi (X1) terhadaptingkat agresivitas anak (Y) didasarkan pada nilai korelasi yang diperoleh yaitu0,311, nilai korelasi mendekati angka 1 dengan signifikansi yang diperoleh, yaitusebesar 0,04, yang artinya lebih kecil dari 0,05, maka Ho ditolak. Sehinggahipotesis yang menyatakan bahwa intensitas menonton film animasi berpengaruhterhadap tingkat agresivitas anak diterima.Hubungan X2 dengan YPengujian adanya hubungan intensitas menonton film animasi (X1) terhadaptingkat agresivitas anak (Y) didasarkan pada nilai korelasi yang diperoleh yaitu -0,073, nilai korelasi mendekati angka 0, menunjukkan hubungan yang lemah.Signifikansi yang diperoleh, yaitu sebesar 0,521, yang artinya lebih besar dari0,05, maka Ho diterima. Sehingga hipotesis yang menyatakan bahwa peranorangtua sebagai gatekeeper berpengaruh terhadap tingkat agresivitas anakditolak.Hubungan X1 dan X2 dengan YPengujian adanya pengaruh intensitas menonton film animasi dan peran orangtuasebagai gatekeeper terhadap tingkat agresivitas anak didasarkan pada signifikansiyang diperoleh, yaitu sebesar 0,021. Karena signifikansi < 0,05, maka Ho ditolak.Sehingga hipotesis yang menyatakan bahwa intensitas menonton film animasi danperan orangtua sebagai gatekeeper berpengaruh terhadap tingkat agresivitas anakditerima. persentase sumbangan pengaruh variabel intensitas menonton filmanimasi dan peran orangtua sebagai gatekeeper terhadap variabel tingkatagresivitas anak sebesar 10,4%. Sedangkan sisanya dipengaruhi oleh variabel lainyang tidak dimasukkan dalam model penelitian ini.4. PENUTUPSimpulan1. Terdapat hubungan yang positif antara intensitas menonton film animasi (X1)terhadap tingkat agresivitas anak (Y). Semakin tinggi intensitas menontonfilm animasi, menyebabkan semakin tingginya tingkat agresivitas anak.2. Terdapat hubungan yang negatif antara peran orangtua sebagai gatekeeper(X2) terhadap tingkat agresivitas anak (Y). Tingkat agresivitas anak rendahwalaupun parental mediation yang dilakukan orangtua rendah.3. Terdapat hubungan yang positif antara intensitas menonton film animasi (X1)dan peran orangtua sebagai gatekeeper (X2) terhadap tingkat agresivitas anak(Y). Semakin tinggi intensitas menonton film animasi, semakin tinggi tingkatagresivitas anak, apabila peran orangtua sebagai gatekeeper rendah.SaranSecara teoriris, disarankan tidak hanya meneliti mengenai hubungan, tetapi jugapengaruh intensitas menonton film animasi. Peneliti selanjutnya juga bisamenambahkan variabel yang berbeda, misalnya intensitas komunikasiinterpersonal, pola asuh orangtua, atau faktor demografis, karena variabel-variabeltersebut dimungkinkan bisa mempengaruhi tingkat agresivitas anak.Secara praktis, untuk Komisi Penyiaran Indonesia adalah supaya bisa membatasipenayangan film animasi yang mengandung muatan negatif, dan memberikanklasifikasi tayangan pada film animasi yang ditayangkan.Secara sosial, untuk masyarakat khususnya orang tua agar lebih waspada terhadaptontonan anak, khususnya film animasi. Orangtua harus bisa memperhatikaninformasi yang dikonsumsi melalui program televisi beserta dampak negatifnyapada anak dengan memberikan bimbingan pada anaknya (parental mediation).Bagi orang tua yang memiliki kesibukan karena bekerja, sehingga tidak memilikiwaktu untuk selalu bisa menemani anak menonton televisi, sebaiknya bimbingankepada anak tetap dilakukan dengan melakukan restrictive mediation yaitumemberi aturan-aturan pada anak mengenai tayangan televisi. Selain itu, orangtuadapat melakukan coviewing mediation dan active mediation pada hari libur,seperti sabtu dan minggu.5. DAFTAR PUSTAKADeVito, Joseph. 1997. Komunikasi Antar Manusia. Jakarta : Profesional BooksHidayati, Arini. 1998. Televisi dan Perkembangan Sosial Anak. Yogyakarta :Pustaka PelajarMendoza, Kelly. 2009. Journal of Media Literacy Education : Surveying ParentalMediation: Connections, Challenges and Questions for MediaLiteracyMoeller, Thomas G. 2001. Youth Aggresion and Violence: A PsychologicalApproachSantrock, John W. 2003. Adolescence : Perkembangan Remaja, Edisi 6. Jakarta :ErlanggaSilalahi, Laurel Benny Saron. 2012. Tawuran Pelajar, Dampak Adegan Kekerasanyang Dilihat Remaja dalamhttp://m.merdeka.com/jakarta/tawuran-pelajar-dampak-adegan-kekerasan-yang-dilihat-remaja.html . Diakses pada tanggal 12 April 2013Vivian, John. 2008. Teori Komunikasi Massa, Edisi Kedelapan. Prenada MediaGroup
ANALISIS FRAMING PEMBERITAAN MENGENAI UJIAN NASIONAL 2013 DI HARIAN KOMPAS Rani Rakhmaputri Wiranto; Sunarto Sunarto; Muchamad Yulianto
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.272 KB)

Abstract

ANALISIS FRAMING PEMBERITAAN MENGENAIUJIAN NASIONAL 2013 DI HARIAN KOMPASRani Rakhmaputri WirantoD2C009095Jurusan Ilmu KomunikasiFakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu PolitikUniversitas Diponegoro SemarangABSTRACTNational test is held as a way to syncronise education level throughout Indonesia. Nevertheless it isalways be a controversy that never end on each year. Many said this year is the worst national testbecause the test itself didn’t held at same time. This problem had rose many opinion about the importanceof national test.Kompas used this as headline. Every media has unique characteristic that differensiate between oneand another. this characteristic made every newspaper has different ways to write the news. Kompaschose to focus the news on people opinion about the national test.This research used descriptive methos with framin analysis method which is developed by RobertN Entman. The purpose of this study is to analyse the way Kompas wrire the news and to understand thebackground why Kompas write the news as the way it was.This research indicate that Kompas was focused to the effect of the delay of national test. It can beseen with impact framing that Kompas used and used human interest and information frame to makeanalysis.Kompas tried to picture about the mess of management of education in Indonesia as the caused ofthe national test delay. Every problem that happened in each national test only indicate that ministry ofeducation cannot do their job professionally.Kompas also showed the effect of national test delay on students. Every student that happened thenational test delay has their psychological taken the toll. Every stakeholder must realized that everyproblem happened in national test caused stress to students. Kompas used this method as their vision“amanat hati nurani rakyat”.Key word: national test, Kompas, framingABSTRAKSIIdealita ujian nasional dilaksanakan untuk meningkatkan pemerataan kualitas pendidikan diwilayah Indonesia. Akan tetapi, pelaksanaan ujian nasional sendiri, selalu menuai kontroversi dari tahunke tahun. Pada tahun ini,ujian nasional dianggap sebagai ujian nasional terburuk dikarenakan tidakserempaknya pelaksanaan ujian nasional di beberapa wilayah Indonesia. Hal ini tentu saja menjadi beritautama di berbagai media massa dan membuat berbagai opini publik bermunculan mengenai fungsi ujiannasional itu sendiri, terkait masih penting atau tidaknya diadakan ujian nasional pada tahun depan.Kompas, sebagai koran nasional, tentu saja tidak melewatkan berita ini untuk ditampilkan sebagaiheadline news. Institusi media massa memiliki karakteristik atau kepribadian, begitu juga dengan harianKompas. Karakteristik inilah yang mendorong setiap institusi media massa melahirkan kebijakan redaksiyang berbeda. Pemberitaan mengenai ujian nasional di koran Kompas memberikan gambaran tersendirimengenai ujian nasional di Indonesia. Bagaimana ujian nasional diberitakan, nantinya akanmempengaruhi cara pandang masyarakat terhadap ujian nasional itu sendiri.Tipe penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan metode análisis framing yangdikembangkan oleh Robert N. Entman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pembingkaian harianKompas tentang pemberitaan mengenai pelaksanaan ujian nasional 2013 dan juga memahami latarbelakang pembingkaian tersebut.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Kompas membuat penonjolan terhadap dampakdampakyang terjadi akibat penundaan ujian nasional. Hal ini terlihat dari digunakannya dominasi polabingkai Impact, yang lebih ditonjolkan dalam headline. Selain itu, dalam pemberitannya mengenai ujiannasional, Kompas juga menggunakan pola bingkai Human Interest dan Information.Kompas mencoba membentuk kontruksi bahwa penundaan ujian nasional yang terjadi,menunjukkan bahwa sebenarnya manajemen pendidikan di Indonesia masih buruk. Dengan berbagaipermasalahan yang terjadi dalam ujian nasional yang merupakan agenda nasional tahunan yangdiselenggarakan oleh pemerintah, mencerminkan juga bahwa kinerja Kemdikbud tidak profesional.Dalam pemberitaannya, Kompas juga tidak hanya menampilkan mengenai kekacauan yang terjadipada ujian nasional, tetapi juga menampilkan dampak dampak psikologis pada siswa yang mengalamipenundaan ujian nasional. Ditampilkan bahwa seolah-olah siswa menjadi korban terus menerus sehinggapemerintah dinilai perlu mengambil langkah tegas untuk mengevaluasi UN. Hal tersebut juga terkaitdengan visi humanisme transendentalnya yang mengutamankan humanitas dan “Amanat Hati NuraniRakyat” sehingga Kompas mengemban tugas mulia untuk menyampaikan apa yang dirasakan olehmasyarakat.Key words : ujian nasional, koran Kompas, pola bingkai1. PendahuluanUjian nasional yang diadakan setiap tahun, baik di tingkat SD, SLTP, maupun SLTA bertujuanuntuk meningkatkan pemerataan kualitas pendidikan di seluruh wilayah Indonesia. Selama inikualitas pendidikan di seluruh wilayah Indonesia tidak sama. Kualitas pendidikan di pulau Jawatidak sama dengan kualitas pendidikan di pulau Papua. Dengan dilaksanakannya ujian nasional,diharapkan dapat diketahui kualitas pendidikan di masing-masing daerah, sehingga pemerintahbisa mengatasi ketimpangan kualitas pendidikan antara daerah satu dengan daerah lainnya.Namun dalam kenyataannya ujian nasional yang dimaksudkan untuk mencapai standarkemampuan siswa, justru memunculkan berbagai persoalan.Dari tahun ke tahun UN (Ujian Nasional) selalu menuai banyak kontroversi. Banyakpihak-pihak yang merasa bahwa ujian nasional tidak perlu dilaksanakan dengan berbagai alasan.Masalah Ujian Nasional (UN) tiap tahun selalu ramai dibicarakan, mulai dari persiapan siswadengan berbagai bimbingan belajar, orang tua dengan menyiapkan materi untuk mendukung paraputranya, pihak sekolah dengan berbagai penganyaan dan uji coba UN, pemerintah denganmemberikan materi pokok UN, masyarakat dengan katentuan / syarat pelulusan yang sangatmemberatkan. Selain kebocoran soal, penyelenggaraan UN juga ditandai dengan adanyapecontekan massal yang sangat tidak etis dalam dunia pendidikan, apalagi menyangkut pesertadidik yang masih anak-anak.Belum selesai dengan itu semua, persoalan baru muncul ketika Kemendikbud melakukansuatu terobosan untuk memerangi kecurangan UN dengan menciptakan set soal sebanyak pesertadi ruang ujian. Terdapat 20 set soal yang berbeda dengan tingkat kesulitan yang sama, sehinggapara siswa tidak dapat melakukan kecurangan karena setiap siswa mengerjakan soal yangberbeda. Namun ternyata terobosan ini menyebabkan permasalahan baru, ketika perusahaanpercetakan tidak bisa mendistribusikan soal UN dengan tepat waktu. Pelaksanaan UN 2013 padajenjang SMA/SMK/MA/SMALB yang direncanakan diadakan secara serentak di Indonesia padatanggal 15 April mengalami kekacauan dikarenakan terlambatnya distribusi soal di 11 provinsi diIndonesia. Pengumuman penundaan ini pun baru diberitahukan sehari sebelum pelaksanaan UNyaitu pada tanggal 14 April. UN baru akan dilaksanakan di 11 provinsi yang mengalamiketerlambatan pada tanggal 18, 19, 22 dan 23 April. Hal ini tentu saja mengundang berbagaikomentar dari berbagai pihak, apalagi ini merupakan kejadian pertama dalam penyelenggaraanUN di Indonesia.Tidak hanya permasalahan mengenai keterlambatan soal saja yang mewarnai UN kali ini.Pelaksanaan UN 2013 tingkat SMA/SMK/MA/SMALB di sejumlah daerah juga mengalamikekacauan. Berbagai kesalahan teknis terjadi, sehingga menyebabkan berbagai persoalan. Mulaidari rendahnya kualitas lembar jawaban UN, tertukarnya paket-paket soal, kurangnya naskahsoal dan lembar jawaban UN, hingga indikasi kecurangan yang mulai dlaporkan ke poskopengaduan UN ataupun yang diungkapkan melalui media sosial. Kondisi tersebut seolahmenyempurnakan amburadulnya pelaksanaan UN pada tahun ini. Oleh sebab itu, tidak heran jikamedia menjadikan berita ini sebagai berita utama (headline).Ketika pengumuman pengunduran UN pada tingkat SMA ini diumumkan, semua medialangsung meliput berita ini dan menjadikannya sebagai headline news. Media massa merupakansarana penyampaian komunikasi dan informasi yang dapat diakses oleh masyarakat secara luas.Selain itu media massa bukan hanya memberikan informasi dan hiburan, tetapi juga memberikanpengetahuan kepada khalayak sehingga proses berfikir dan menganalisis sesuatu berkembangdan pada akhirnya membawa pada suatu kerangka berpikir sosial bagi terbentuknya sebuahkebijakan publik yang merupakan implikasi dari proses yang dilakukan elemen-elemen tersebut.Hal ini merupakan bagian bagaimana media merekontruksi realitas sosial di masyarakat.(Tamburaka, 2012 : 84)Dalam kurun waktu selama kurang lebih sebulan, yaitu dari tanggal 13 April hingga 15Mei, pemberitaan mengenai ujian nasional dibahas dalam ketiga surat kabar yakni Kompas,Suara Merdeka, dan juga Kedaulatan Rakyat. Untuk lebih jelas melihat ragam berita yangdihadirkan oleh Kompas, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat mengenai ujian nasional edisi 13April sampai 15 Mei 2013, disajikan dalam tabel berikut :Tabel 1.1Perbandingan jumlah ragam berita dalam surat kabar Suara Merdeka, Kompas,dan Kedaulatan Rakyat edisi 13 April – 15 Mei 2013.Ragam Berita MediaSuara Merdeka Kompas Kedaulatan RakyatHeadline 7 judul 10 judul 7 judulArtikel 23 judul 24 judul 24 judulOpini 5 judul 8 judul 6 judulJumlah 35 judul 43 judul 37 judulPada pemberitaannya, Kompas selama ini mencoba menempatkan dirinya sebagai korannasional yang obyektif dan independen sehingga cenderung hati-hati dalam memberitakan suatuperistiwa. Institusi media massa memiliki karakteristik atau kepribadian, begitu juga denganharian Kompas. Karakteristik inilah yang mendorong setiap institusi media massa melahirkankebijakan redaksi yang berbeda. Pemberitaan mengenai ujian nasional di koran Kompasmemberikan gambaran tersendiri mengenai ujian nasional di Indonesia. Bagaimana ujiannasional diberitakan, nantinya akan mempengaruhi cara pandang masyarakat terhadap ujiannasional itu sendiri.2. Metode PenelitianPenelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dimana peneliti akanmenggambarkan bingkai pemberitaan yang dilakukan oleh harian Kompas terkait denganpemberitaan ujian nasional dengan menggunakan metode analisis framing. Analisis framingmencoba menangkap bentuk pemberitaan dalam kaitannya dengan bagaimana orientasi sebuahmedia memperlakukan fakta tertentu. (Nugroho, 1999;8)Subjek penelitian ini adalah pemberitaan pada harian Kompas tentang pelaksanaan ujiannasional 2013 pada periode tanggal 13 April – 15 Mei 2013 yang terdiri sebanyak 10 berita yangdijadikan sebagai headline.Pengumpulan serta analisis data untuk analisis framing ini dilakukan secara langsungdengan mengidentifikasi wacana berita pada harian Kompas mengenai pemberitaan ujiannasional 2013 yang kemudian dianalis dengan menggunakan perangkat framing dari Robert N.Entmant. Entmant menekankan pada empat perangkat framing (Eriyanto, 2004 : 189- 195) yaitu(1) Define Problems; (2) Diagnose Causes; (3) Make Moral Judgement; (4) TreatmentRecommendation3. Hasil PenelitianDalam tabel dibawah tercantum daftar berita yang telah diteliti. Berita-berita tersebut adalahsebagian berita yang terkait dengan berita mengenai ujian nasional 2013 yang dimuat dalamharian Kompas selama periode 13 April hingga 15 Mei 2013 yang terdiri sebanyak 10 beritayang dijadikan sebagai headline.Tabel 3.1Hasil Analisis Seleksi Isu 10 BeritaNoBerita Define Problem DiagnoseCausesMake MoralJudgementTreatmentRecommendation1 DitundaKamis, UNdibayangiKebocoran.(15 April 2013)Framing :Polabingkai ImpactPenekananmasalah :Manajemenpendidikan burukKinerjaKemdikbudyang tidakprofesionalTidakserentaknyaujian nasionalmerupakanpreseden burukdalampendidikannasionalPemerintahharus beranimengevaluasiapakah UNmemangdibutuhkanuntukmenentukankelulusan siswaatau seharusnyadipakai untukpemetaanpendidikan.2 PelaksanaanUjian NasionalKacau(16 April 2013)Framing : Polabingkai ImpactPenekananmasalah :Pelaksanaan UNkacauDistribusinaskah perwilayahterkendalaDapat merusakmotivasi dankonsentrasisiswaBerbagai upayadilakukan untukmendistribusikansoal ke beberapadaerah.3 Kami sepertiKelinciPercobaan(16 April 2013)Framing : Polabingkai HumanInterestPenekananmasalah : SiswaSMA sepertikelinci percobaanKarutmarutnyapenyelanggaraan ujiannasional tahuniniPemerintahdinilai perlumengambillangkah tegasuntukmengevaluasiUN agar siswatidak menjadikorban terusmenerusKemdikbudperlu mengkajiulang kebijakanpencetakannaskah soal UN4 Distribusi SoalBelum Tuntas(17 April 2013)Framing : Polabingkai ImpactPenekananmasalah :Sejumlahdaerah belummenerimapaket soalDistribusi soaltidak gampanguntuk sekolah– sekolah yangPresidenbersama-samadenganKemdikbud danDistribusi soalbelum tuntasberada dikepulauan.juga jajarantertinggiTNI/Polrimencari carabagaimana agarujian ini dapatdilakukandengan terbaik5 Ujian NasionalJalan Terus(18 April 2013)Framing : Polabingkai ImpactPenekananmasalah : Ujiannasional“gelombangkedua” jalanterus.Ketersediaanpaket soalmasih menjadipersoalan disejumlahdaerahUntukmengantisipasiagar tidak adalagiketerlambatanprosespercetakan,Kemdikbudmemutuskanuntukmengalihkantugaspercetakan danpengepakannaskah soalUN dari PTGhaliaIndonesiaPrinting.Hasil UNgelombangkedua akan tetapmemiliki bobotdan fungsi yangsama denganhasil UN diprovinsi lainnya6 Harap harapCemas SiswaBerkepanjangan(18 April 2013)Framing : Polabingkai HumanInterestPenekananmasalah : Karutmarutpelaksanaan UNmengusikkonsentrasi parasiswaPara siswatelahmempersiapkan diri secaraintensifsetahunbelakangan ini.ManajemenUN sendirimencerminkanburuknyakinerja jajaranKemdikbudPemerintahharus beranimengevaluasiapakah UNmemangdibutuhkanuntukmenentukankelulusan siswaatau seharusnyadipakai untukpemetaanpendidikan.7 Investigasi UN Framing : Pola Sejumlah UN gelombangInvestigasidi duaPersoalan(19 April 2013)bingkai ImpactPenekananmasalah :Distribusi soalbelum beres.daerah belummenerimapaket soal.kedua masaharus ditundalagiterhadapkekacauanpenyelenggaraanujian nasionaldifokuskan didua persoalan,yakni distribusisoal danpersoalan tender.8 KeabsahanUjian NasionalDiragukan(22 April 2013)Framing : Polabingkai ImpactPenekananmasalah :Keabsahan ujiannasionaldiragukan olehbanyak pihak.Banyakprosedurstandar yangdilanggar.UN kali initidakmenggambarkan prestasisiswa yangsebenarnya.Pemerintahharus beranibersikap tegas.9 Ujian NasionalTetap JadiSyarat(23 April 2013)Framing : Polabingkai ImpactPenekananmasalah : HasilUN tetap menjadisyarat masukPTNTerjadi banyakkekacauandalampelaksanaanUNKekacauan UNkali ini bukankesalahansiswa,sehingga akandibicarakanlagi soalpertimbangannilai UN untukmasuk PTNSiswa haruslulus UN terlebihdahulu untukbisa diterima diPTN.10 BPK SarankanCetak diProvinsi(26 April 2013)Framing : PolabingkaiInformationPenekananmasalah : Prosesdistribusi naskahsoal UNdidesentralisasikan.BPKmenyikapikekisruhanpencetakan dandistribusinaskah soalUNPencetakannaskah soal didaerah ataupundi pusat hanyamasalah cara.Prosespencetakan bisasaja dilakukan diprovinsi tetapiharus betul betuldapat dipercaya.4. PembahasanTerdapat 43 berita yang dimuat oleh harian Kompas terkait dengan pemberitaan mengenai ujiannasional 2013. 10 judul berita merupakan headline, 24 judul berita termasuk ke dalam artikelpendidikan dan kebudayaan, dan 8 judul lainnya berupa opini yang dikeluarkan oleh Kompasmengenai ujian nasional. Dengan intesitas pemberitaan yang cukup tinggi mengenai ujiannasional, penelitian ini difokuskan kepada 10 judul berita yang dijadikan sebagai headline olehKompas. Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, dengan menggunakan perangkat framingEntman, dapat diketahui bagaimana sikap Kompas terhadap pemberitaan mengenai ujiannasional. Berikut penjabarannya :Define problem atau pendefinisian masalah. Dalam membahas mengenai pemberitaanujian nasional, 10 berita yang diturunkan oleh Kompas sebagai headline news didominasi olehframe dengan pola bingkai impact. Tercatat dari 10 berita yang diberitakan, ada 7 berita yangmenggunakan pola bingkai impact dengan 2 berita menekankan masalah pada distribusi soalyang belum tuntas, 2 berita menekankan masalah terhadap keabsahan ujian nasional, 2 beritamenekankan masalah terhadap pelaksanaan UN yang kacau, 1 berita menekankan terhadapmanajemen pendidikan buruk, dan 1 berita menekankan masalah terhadap pelaksanaan UN yangkacau. 2 berita lain menggunakan pola bingkai human interest dengan menekankan masalahterhadap kondisi psikologis yang dialami oleh para siswa yang mengalami penundaan UN. 1berita lain menggunakan pola bingkai information dengan menekankan masalah agar prosespendistribusian soal didesentralisasikan atau dikembalikan ke provinsi.Dari penjelasan di atas, temuan yang didapat oleh peneliti menjadi pembenaran asumsipenelitian di bab pertama, bahwa dalam setiap pemberitaannya Kompas menggunakan beberapapola bingkai. Dalam pemberitaannya mengenai ujian nasional, Kompas menggunakan dominasipola bimgkai impact. Kompas lebih menonjolkan aspek dampak yang terjadi diakibatkanpenundaan ujian nasional dibandingkan dengan aspek aspek lainnya. Berita adalah segala sesuatuyang berdampak luas. Suatu peristiwa tidak jarang menimbulkan dampak besar dalam kehidupanmasyarakat. (Sumadiria, 2008 : 82).Dengan dampak-dampak yang ditampilkan oleh Kompas mengenai penundaan ujiannasional, seolah-olah mengajak para pembaca Kompas untuk mempertanyakan fungsi dan tujuandari ujian nasional itu sendiri, apakah memang masih bermanfaat untuk dijadikan sebagai tolakukur penentuan nasib kelulusan para siswa.Masalah terjadi disebabkan karena distribusi soal yang belum beres di sejumlah daerahsehingga berbagai kekacauan terjadi. Dengan berbagai kekacauan dan prosedur yang dilanggar,tentu saja keabsahan pada hasil UN tahun ini dipertanyakan apakah memang sesuai untukdijadikan sebagai syarat masuk PTN. Terlepas dari itu semua, manajamen UN sendirimencerminkan bahwa manajemen pendidikan di Indonesia masih buruk. Ujian nasional telahdiselenggarakan dari tahun ke tahun. Dengan alokasi anggaran UN lebih dari Rp 500 miliar,tentu saja seharusnya persiapan dan pelaksanaan UN di tingkat pusat terus membaik.Diagnose Causes atau memperkirakan penyebab masalah. Dalam memberitakan ujiannasional 2013, Kompas menyoroti distribusi naskah soal yang terkendala sebagai penyebabutama dari kekacauan ujian nasional kali ini. Tercatat dari 10 berita yang diturunkan olehKompas sebagai headline news, 5 berita menyoroti kekacauan yang terjadi pada UN tahun ini,sehingga keabsahan UN masih dipertanyakan dan juga membuat konsentrasi para siswa menjaditerusik, 4 berita menyoroti bagaimana distribusi naskah soal yang terkendala, dan bagaimanaketersedian paket soal masih menjadi persoalan di sejumlah daerah, 1 berita menyoroti kinerjaKemdikbud yang tidak profesional.Dalam pemberitaannya Kompas menyoroti berbagai permasalahan terjadi disebabkankarena distribusi naskah soal yang terkendala di sejumlah daerah. Terlepas dari itu, manajemenUN itu sendiri mencerminkan buruknya kinerja jajaran Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan,karena mengurus pendistribusian naskah soal saja tidak beres.Make Moral Judgement atau evaluasi moral. Menanggapi kekacauan yang terjadi akibatujian nasional, ada tiga evaluasi moral yang diberikan oleh Kompas, yaitu :Pertama, Pemerintah dinilai perlu untuk mengambil langkah tegas untuk mengevaluasiUN agar siswa tidak terus menerus menjadi korban. Kedua, untuk mengantisipasi agar tidak adalagi keterlambatan proses pencetakan naskah soal, sebaiknya Kemdikbud mengembalikan prosesdistribusi naskah soal lagi ke provinsi, atau didesentralisasikan. Ketiga, kekacauan UN kali inimembuat UN tidak menggambarkan prestasi siswa yang sebenarnya, sehingga tidak tepat untukdijadikan pertimbangan nilai untuk masuk PTN.Treatment Recommendation atau menentukan penyelesaian. Kompas memberikan empatrekomendasi yang bisa dilakukan dalam pemberitaan mengenai kacaunya pelaksanaan UN tahunini :Pertama, Pemerintah harus berani mengevaluasi apakah UN memang dibutuhkan untukmenentukan kelulusan siswa atau seharusnya dipakai untuk pemetaan pendidikan. Kedua,berbagai upaya telah dilakukan oleh Kemdikbud untuk mendistribusikan soal ke berbagai daerah,salah satunya dengan mengajak jajaran tinggi TNI/POLRI. Ketiga, hasil UN gelombang keduaakan tetap memiliki bobot dan fungsi yang sama dengan hasil UN di provinsi lainnya. Keempat,siswa harus lulus UN terlebih dahulu untuk bisa diterima di PTN berapapun nilainya.Jika dilihat dari pemberitaan yang dimunculkan, Kompas mencoba mengarahkan opinipublik agar mendesak pemerintah untuk mengevaluasi UN, apakah memang dibutuhkan untukmenentukan kelulusan siswa atau hanya dipakai untuk pemetaan pendidikan. Seperti yangdikatakan Wiryanto, adanya istilah “the powerfull effect”, bahwa media memiliki suatu kekutandalam membentuk satu pikiran atau persepsi melalui terpaan media atau media exposure. Hal inibertujuan agar publik yang memanfaatkan media (baik cetak maupun elektronik) menjaditerpengaruh oleh pemberitaan media. (Wiryanto: 2005, 58).Kompas dalam pemberitaannya, memfokuskan masalah pada distribusi soal yang tidaktuntas. Secara tidak langsung, Kompas ingin menyampaikan bahwa kinerja Kemdikbud tidakprofesional dan juga masih buruknya manajemen pendidikan di Indonesia. Hal ini sesuai denganstrategi pembahasan yang dilakukan Kompas ketika berusaha mengupas sebuah masalah sensitifyang berkembang di tengah masyarakat dengan menggunakan model jalan tengah (MJT), yaitumenggugat secara tidak langsung: mengkritik tapi disampaikan secara santun, terkesan berputarputardan mengaburkan pesan yang hendak disampaikan.Tidak lupa dalam setiap pemberitaanya mengenai ujian naisonal, Kompas berbekaldengan tagline “Amanat Hati Nurani Rakyat” juga menyertakan berbagai dampak psikologisyang dirasakan oleh para siswa yang mengalami penundaan ujian nasional. Seperti yang dimuatdalam Kompas pada tanggal 16 April 2013 dan 18 April 2013 dengan judul berita “Kami sepertiKelinci Percobaan” dan “Harap-harap Cemas Siswa Berkepanjangan”. Dalam kedua beritatersebut ditampilkan bahwa seolah-olah siswa menjadi korban terus menerus sehinggapemerintah dinilai perlu mengambil langkah tegas untuk mengevaluasi UN. Hal ini sesuaidengan visi humanisme transdental, Kompas menempatkan kemanusiaan sebagai nilai tertinggi,mengarahkan fokus perhatian dan tujuan pada nilai-nilai yang transeden atau mengatasikepentingan kelompok. Oleh karena itu, pemberitaan Kompas yang kritis mengupas masalahmasalahyang ada dalam masyarakat serta cenderung berpihak kepada rakyat.5. PenutupSetelah terselesaikannya penelitian ini, maka kesimpulan yang dapat ditarik dalam pemberitaanmengenai ujian nasional adalah Kompas membuat penonjolan terhadap dampak-dampak yangterjadi akibat penundaan ujian nasional. Hal ini terlihat dari digunakannya dominasi pola bingkaiImpact, yang lebih ditonjolkan dalam headline yang dimunculkan oleh Kompas mengenai ujiannasional. Berita adalah segala sesuatu yang berdampak luas. Ujian nasional kali ini menimbulkandampak besar dalam kehidupan masyarakat, terutama untuk para siswa. Dengan dampak yangditimbulkan karena penundaannya, ujian nasional kali ini dianggap penting dan layak dijadikanberita. Selain itu, dalam pemberitannya mengenai ujian nasional, Kompas juga menggunakanpola bingkai Human Interest dan Information.Kompas mencoba mengkontruksi bahwa penundaan ujian nasional yang terjadi,menunjukkan manajemen pendidikan di Indonesia masih buruk. Dengan berbagai permasalahanyang terjadi dalam ujian nasional yang merupakan agenda nasional tahunan yangdiselenggarakan oleh pemerintah, mencerminkan juga bahwa kinerja Kemdikbud tidakprofesional.Dalam pemberitaannya, Kompas tidak hanya menampilkan mengenai kekacauan yangterjadi pada ujian nasional, tetapi juga menampilkan dampak dampak psikologis pada siswa yangmengalami penundaan ujian nasional. Ditampilkan bahwa seolah-olah siswa menjadi korbanterus menerus sehingga pemerintah dinilai perlu mengambil langkah tegas untuk mengevaluasiUN. Hal tersebut juga terkait dengan visi humanisme transendentalnya yang mengutamankanhumanitas dan “Amanat Hati Nurani Rakyat” sehingga Kompas mengemban tugas mulia untukmenyampaikan apa yang dirasakan oleh masyarakat.DAFTAR PUSTAKAAgus, Salim. 2006. Teori dan Paradigma Penelitian Sosial. Yogyakarta : Tiara WacanaArdianto, Elvinaro dan Lukiati Komala Erdinaya. (2007). Komunikasi Massa : Suatu Pengantar.Bandung : Simbiosa Rekatama Media.Bungin, Burhan. (2006). Sosiologi Komunikasi. Jakarta : Kencana Prenada Media GroupBungin, Burhan, (2008). Konstruksi Sosial Media Massa : Kekuatan Pengaruh Media Massa,Iklan Televisi dan Keputusan Konsumen Serta Kritik terhadap PETER L. BERGER &THOMAS LUCKMANN. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.Chaer, Abdul. (2010). Bahasa Jurnalistik. Jakarta : Rineke CiptaDewabrata, AM. (2004). Kalimat Jurnalistik : Panduan Mencermati Penulisan Berita. Jakarta :KompasDenzin, Norman K., dan Yvonna S. Lincoln. (2009). Handbook of Qualitative Research.Diterjemahkan oleh Dariyanto dkk dengan judul Handbook of Qualitative Research.Yogyakarta: Pustaka PelajarEffendi, Onong Uchjana. (1993). Ilmu Komunikasi : Teori dan Praktek. Bandung : RemajaRosdakaryaEriyanto. (2003). Analisis Wacana : Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta : PT. LKiSYogyakarta.Eriyanto. (2003). Analisis Framing : Konstruksi, Ideologi dan Politik Media. Yogyakarta : PT.LKiS Yogyakarta.Ishwara, Luwi. (2011). Jurnalisme Dasar. Jakarta : KompasHamad, Ibnu. (2004). Kontruksi Realitas Politik Dalam Media Massa : Sebuah CriticalDiscourse Analysis Terhadap Berita-Berita Politik. Jakarta : GranitKusumaningrat, Hikmat. (2005). Jurnalistik : Teori dan Praktik. Bandung : Remaja Rosdakarya.Moleong, J. Lexy. (2010). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : PT Remaja RosdakaryaMulyana, Dedy. (2001). Metodologi Penelitian Kualitatif (Paradigma Baru Komunikasi danIlmu Sosial Lainnya). Bandung : Remaja RosdakaryaMulyana, Dedy. (2007). Analisis Framing : Kontruksi, Ideologi dan Politik Media. Yogyakarta.LKiS Pelangi AksaraNurudin. (2007). Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta : PT Raja Grafindo PersadaRahardi, Kunjana. (2011). Bahasa Jurnalistik : Pedoman Kebahasan untuk Mahasiswa, Jurnalis,dan Umum. Bogor : Penerbit Ghalia IndonesiaRolnicky, Tom E, C. Dow Tate, Sherri A. Taylor. (2008). Pengantar Dasar Jurnalisme(Scholastic Journalism). Jakarta : Kencana.Santoso, FA. (2010). Sejarah, Organisasi dan Visi Misi Kompas. Pusat Informasi KompasShahab, A.A. (2008). Cara Mudah Menjadi Jurnalis. Jakarta : Diwan PublishingSudibyo, Agus. (2006). Politik Media dan Pertarungan Wacana. Yogyakarta : LKiS Yogyakarta.Suhandang, Kustadi. (2010). Pengantar Jurnalistik : Seputar Organisasi, Produk, dan KodeEtik. Bandung : NuansaSumadiria, Haris. (2006). Jurnalistik Indonesia : Menulis Berita dan Feature. Bandung : RemajaRosdakaryaSobur, Alex. (2009). Analisis Teks Media : Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, AnalisisSemiotik, dan Analisi Framing. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.Sobur, Alex. (2004). Analisis Teks Media. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.Tilaar, H.A.R. (2009). Kekuasaan dan Pendidikan : Manajemen Pendidikan Nasional dalamPusaran Kekuasaan. Jakarta : Rineke CiptaTamburaka, Apriadi. (2012). Agenda Setting Media Massa. Jakarta : RajaGrafindo, PersadaWiryanto. (2000). Teori Komunikasi Massa. Jakarta : PT. GrasindoZaenuddin, HM. (2011). The Journalist : Bacaan Wajib Wartawan, Redaktur, Editor, dan ParaMahasiswa Jurnalistik. Bandung : Simbiosa Rekatama MediaSumber dari internet :Hemas, GKR. (2013). Ujian Nasional Tidak Mendidik. Dalamhttp://www.tempo.co/read/kolom/2013/04/24/694/Ujian-Nasional-Tidak-Mendidik diunduh padatanggal 20 Mei 2013 pukul 17.30Purwoko. (2013). Apakah UN (Ujian Nasional) Harus Tetap Diadakan? Dalam http://alumniits.blogspot.jp/2013/04/apakah-un-ujian-nasional-harus-tetap.html diunduh pada tanggal 20 Mei2013 pukul 18.30
AUDIT IKLIM KOMUNIKASI ORGANISASI DI BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH ( BAPPEDA ) PEMERINTAH KABUPATEN PEKALONGAN Widiyasari, Woro; Suprihatini, Taufik; Yulianto, Muchammad
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.309 KB)

Abstract

ABSTRAKSIJudul : Audit Iklim Komunikasi Organisasi di Badan Perencanaan PembangunanDaerah (BAPPEDA) Pemerintah Kabupaten PekalonganPeneliti : Woro WidiyasariNIM : D2C 009 028Penelitian ini dilatarbelakangi oleh iklim komunikasi organisasi Bappeda PemerintahKabupaten Pekalongan yang diketahui masih sering terjadi hal-hal negatif yang menimbulkansemangat kerja menurun. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui iklimkomunikasi yang terjalin di dalam instansi Bappeda dengan menggunakan Teori yang dipakaiTeori Sistem ; Teori Iklim komunikasi ; Teori Gaya Kepemimpinan ; Aliran Komunikasi .Metode penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah audit komunikasi. Sedangkantipe penelitian yang digunakan adalah tipe penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuanuntuk menjabarkan situasi dan keadaan komunikasi di Bappeda Pemerintah KabupatenPekalongan. Untuk teknik pengumpulan data di lapangan , peneliti menggunakan teknikwawancara mendalam (indepth interview) kepada enam informan yang terdiri dari karyawanBappeda Pemerintah Kabupaten Pekalongan.Hasil penelitian , maka diketahui iklim komunikasi organisasi yang selama initerjalin di kantor Bappeda Pemerintah Kabupaten Pekalongan tidak berjalan dengan efektif.Dari hasil penelitian di lapangan ditemukan bahwa hubungan antara atasan dengan bawahantidak berjalan dengan baik, hubungan dengan sesama karyawan juga kurang baik, aruskomunikasi yang terjadi selama ini hanya belangsung searah (linier) tanpa adanya feedback,pembagian tugas yang dianggap oleh sebagian besar informan belum merata kepada masingmasingkaryawan.Serta atasan yang jarang memberikan reward kepada bawahan berprestasi.Hal ini mengakibatkan karyawan tidak bersemangat dalam bekerja. Hal tersebut jugamenimbulkan kesenjangan di antara karyawan karena tidak meratanya pembagian tugas yangditimbulkan.Kata Kunci : Audit komunikasi, Kepemimpinan, Iklim Komunikasi, Aliran InformasiABSTRACTAudit of Organizational Communication Climate in Regional Development PlanningDepartment ( BAPPEDA ) Pekalongan Regency Government.This research is motivated by organizational communication climate of BAPPEDAPekalongan Regency Government who has known still commonly has negative things, whichraises working spirit declined. The purpose of this research was to find out thecommunication climate that involve in the BAPPEDA institution using the theory that issystem theory; Theory of Communication Climate; Theory of Leadership Style; and FlowCommunications .The research method used by the researchers is a communication audit. While thetype of research is a descriptive research that aims to describe the situation and the conditionof communication in BAPPEDA Pekalongan Regency Government. For data collectiontechniques in the field, researchers used in depth interview techniques (in depth interview ) tosix informants consisting of employees BAPPEDA Pekalongan Regency Government .The results of the research, it is known that organizational communication climatehas been declined in the BAPPEDA’s Office Pekalongan Regency Government is notoperating effectively. From the results of the field research, was found that the relationshipbetween supervisors and subordinates are not running well, relations with fellow employeesis also not good, the communication flow that happen during this lasts only one side withoutany feedback, the informant consider that the distribution of duties and functions have notbeen spread evenly to each employees. Along supervisors who rarely gives rewards totalented subordinates. This result caused the employee does not feel like working. It alsoraises the gap among the employees because the distribution of duties did not spread evenly.Keywords: Audit of communication, Leadership, communication climate, flow informationBAB IPENDAHULUAN1.1. Latar BelakangBappeda merupakan suatu Badan di dalam Kabupaten Pekalongan yangsangat menentukan perubahan di kota Pekalongan, Bappeda dengan tugas-tugasnyayang sangat berhubungan dengan perencanaan daerah membutuhkan kerja pegawaiyang maksimal, di dukung dengan tekhnologi dan kerjasama yang baik akanmenjadikan kota Pekalongan semakin maju. Tetapi di sisi lain, karyawan BappedaPemerintah Kabupaten Pekalongan mengeluhkan adanya iklim komunikasi yangtidak efektif .Pemimpin yang kurang bisa berkomunikasi dengan lancar denganbawahannya, dan selalu menyerahkan tugas kepada bawahannya menjadikanmunculnya konflik yang menjadikan karyawan semakin tidak nyaman dengankeadaan di kantor.Poole dalam Pace dan Faules (2001: 148), mengatakan bahwa iklimkomunikasi sangat penting karena mengaitkan konteks organisasi dengan konsepkonsep,perasaan-perasaan dan harapan-harapan anggota organisasi dan membantumenjelaskan perilaku anggota organisasi. Lebih lanjut, iklim komunikasi yang baikdalam suatu organisasi lebih memberikan kebebasan kepada anggota organisasi untukmemperoleh informasi tentang perusahaan, lebih berani mengeksplor kemampuanmereka dalam berkarya, berani menghadapi tantangan dunia pekerjaan, dan lebihmenunjukkan bahwa mereka dipercaya untuk mempertanggung jawabkan hasil-hasildari pekerjaan mereka.Iklim komunikasi yang baik sangat besar pengaruhnya dalam suatu organisasi,salah satunya berpengaruh pada peningkatan produktivitas kerja anggota organisasi,Mengapa, karena iklim mempengaruhi usaha anggota organisasi. Usaha tersebutdikelompokkan Frantz terdiri dari empat unsur, yaitu: “(1) aktivitas yang merupakanpekerjaan tersebut; (2) langkah-langkah pelaksanaan kerja; (3) kualitas hasil; (4) polawaktu kerja” (Pace dan Faules, 2001: 155)Hal ini menarik dikaji , bahwa berdasarkan gambaran di atas maka di dalamsuatu Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Pemerintah KabupatenPekalongan yang bertugas penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah di bidangperencanaan pembangunan daerah yang meliputi ekonomi, fisik, sosial budaya, sertapengendalian dan evaluasi. Iklim komunikasi sangat penting dibutuhkan gunameningkatkan kinerja pegawai, apabila hal tersebut belum terjadi secara efektif makadiperlukan audit iklim komunikasi di Badan Perencanaan Pembangunan DaerahKabupaten Pekalongan sebagai evaluasi dan memperbaiki iklim komunikasi yangtercipta di instansi tersebut guna menjadikan Kabupaten Pekalongan menjadi suatudaerah yang lebih maju.1.2 Tujuan PenulisanTujuan dari penelitian adalah:Untuk mengetahui iklim komunikasi yang terjalin di dalam instansi BappedaPemerintah Kabupaten Pekalonganbaik pada tingkatan iklim komunikasi secarakeseluruhan maupun pada tingkatan kegiatan-kegiatan komunikasi khusus.1.3 KERANGKA TEORITeori yang dipakai Teori sistem; Teori Iklim komunikasi; Teori GayaKepemimpinan; Aliran Komunikasi .1.4 Metode Penelitian1.4.1 Tipe PenelitianPenelitian ini menggunakan tipe penelitian desktiptif kualitatif denganmenggunakan metode audit komunikasi dengan tujuan mendapatkan data darilapangan untuk digunakan sebagai instrumen untuk menjabarkan situasi dan keadaaniklim komunikasi di Bappeda Pemerintah Kabupaten Pekalongan.BAB IITemuan Penelitian Tentang Iklim Komunikasi Organisasi BadanPerencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) PemerintahKabupaten PekalonganBab ini mendeskripsikan temuan penelitian dengan audit komunikasi untukmemahami iklim komunikasi organisasi yang terjadi di Bappeda PemerintahKabupaten Pekalongan terkait dengan Kepemimpinan, Iklim Komunikasi , dan ArusKomunikasi. Temuan penelitian berupa hasil indepth interview yang dilakukanterhadap pimpinan dan beberapa karyawan perusahaan . KepemimpinanData yang diperoleh pada saat melakukan indepth interview terhadapkaryawan Bappeda Pemerintah Kabupaten Pekalongan mengenai masalahkepemimpinan yang selama ini dijalankan dari periode 2011 hingga sekarang bagimasing-masing informan memiliki pendapat yang cukup berbeda di antara informansatu dengan yang lain, bagi masing-masing informan masalah komunikasi yangdihadapi selama ini di kantor Bappeda Pemerintah Kabupaten Pekalongan ada yangmengatakan masih dalam tahap yang wajar ada pula yang mengatakan masih terjadikesenjangan di antara masing – masing bagian di kantor Bappeda PemerintahKabupaten Pekalongan. Iklim KomunikasiIklim komunikasi di suatu organisasi sangat penting karena bisa dipastikan bilatidak ada iklim komunikasi yang kondusif , maka akan terjadi adanya kesenjangandan kurangnya semangat dalam bekerja dari masing-masing karyawan dalam suatuorganisasi tersebut. Dari beberapa pertanyaan yang sudah di ajukan ke 6 informantentang iklim komunikasi maka ada beberapa pendapat yang sama dan berbeda satudengan yang lainnya. Pertama mengenai keefektifan iklim komunikasi di kantorBappeda Pemerintah Kabupaten Pekalongan dimana semua informan dari informan 1hingga informan ke 6 mengatakan hal yang sama mengenai keefektifan iklimkomunikasi yang terjadi selama ini di kantor Bappeda Pemerintah KabupatenPekalongan . Arus KomunikasiDalam suatu organisasi, komunikasi merupakan hal yang paling penting., karenatanpa adanya komunikasi, organisasi tidak bisa berjalan dengan baik. Bila dalamorganisasi komunikasinya kurang baik akan berdampak pada efektifitas organisasi.Dengan pendapat masing-masing informan mengenai arus komunikasi di kantorBappeda Pemerintah Kabupaten Pekalongan maka dapat dilihat kurang efektif danharus segera dibenahi.BAB IIIANALISIS IKLIM KOMUNIKASI ORGANISASI BADANPERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH (BAPPEDA)PEMERINTAH KABUPATEN PEKALONGANA. KEPEMIMPINANBerdasarkan teori gaya kepemimpinan di atas maka gaya kepemimpinan yangsesuai dengan kepemimpinan yang ada di kantor Bappeda Pemerintah KabupatenPekalongan yaitu gaya kepemimpinan Otoriter. Gaya kepemimpinan Otoriter inisesuai dengan kepemimpinan di kantor Bappeda Pemerintah Kabupaten Pekalongankarena bila disimpulkan dari beberapa komentar dari informan mengatakan, belumbersemangat dalam bekerja dikarenakan kurangnya motivasi dari pimpinan danbelum ada penghargaan yang diberikan kepada karyawan berprestasi.B. IKLIM KOMUNIKASI ORGANISASI BAPPEDA PEMERINTAHKABUPATEN PEKALONGANIklim komunikasi organisasi di setiap fungsi tidak selalu sama dengan fungsilainnya. Hal ini dikarenakan iklim organisasi dipengaruhi oleh bermacam-macamcara anggota organisasi bertingkah laku dan berkomunikasi. Hubungan sehari-harimenggambarkan tentang bagaimana iklim diciptakan dan dipelihara. Iklimkomunikasi yang penuh persaudaraan mendorong para anggota organisasiberkomunikasi secara terbuka , rileks, ramah tamah dengan anggota lain. Sedangkaniklim yang negatif menjadikan anggota tidak berani berkomunikasi secara terbukadengan penuh rasa persaudaraan (Pace & Faules, 2005: 165-166).C. ARUS KOMUNIKASI BAPPEDA PEMERINTAH KABUPATENPEKALONGANUntuk menilai komunikasi itu efektif atau tidak terletak pada kualitas dari proseskomunikasi yang baik pada tingkat individu maupun pada tingkat organisasi .kualitasproses komunikasi salah satunya berkaitan dengan ada tau tidaknya umpan balik(feedback). Kesalahpahaman dapat dikurangi jika proses umpan balik dapat dilakukandengan baik. Apabila kesalahpahaman mampu diminimalisir , kinerja komunikasiatara pimpinan dengan bawahan, dan antara sesama karyawan akan menjadi lebihbaik karena pihak-pihak yang akan berkomunikasi akan tahu apakah pesannya sudahditerima , dipahami dan dilaksanakan atau tidak. Dengan demikian, semua aktivitasyang dilakukan dapat berjalan dengan baik.BAB IVPENUTUPA. KESIMPULAN KepemimpinanTipe kepemimpinan yang terjadi di kantor Bappeda Pemerintah KabupatenPekalongan adalah tipe kepemimpinan Otoriter . Prakteknya Otoriter biladisimpulkan dari beberapa komentar dari informan mengatakan, belumbersemangat dalam bekerja dikarenakan kurangnya motivasi dari pimpinandan belum ada penghargaan yang diberikan kepada karyawan berprestasi.Tipe gaya kepemimpinan Otoriter ini memang seharusnya dirubah agar parabawahannya bersemangat dalam bekerja dan pimpinan memberikan motivasi,penghargaan , serta adil dalam pembagian tugas pokok dan fungsi yangmemang sering menjadi kendala yang selama ini dirasakan oleh bawahan. Iklim KomunikasiIklim komunikasi yang terjalin selama ini di kantor Bappeda PemerintahKabupaten Pekalongan masih negatif . Iklim komunikasi selama ini masihnegatif dikarenakan masih sering terjadi kesenjangan diantara para bawahanyang merasa tidak adil atasan memberikan tugas pokok dan fungsi selama iniyang diberikan dari atasan , dan atasan yang hanya memberikan tugas tanpamemberikan penjelasan bagi bawahan. Hal tersebut menimbulkan iklim dikantor Bappeda Pemerintah Kabupaten Pekalongan menjadi tidak kondusifdan masih jauh dari kesan nyaman dalam bekerja. Arus KomunikasiArus komunikasi yang terjadi yaitu ke bawah, komunikasi mengalir daritingkatan yang lebih tinggi ke tingkatan yang lebih rendah , pimpinanberperan penting dalam segala aktivitas komunikasi yang terjadi. Hal tersebutdipengaruhi oleh budaya birokrasi pemerintah yang cenderung searah hanyadari pimpinan ke bawahan dan hal itu juga berlaku di kantor BappedaPemerintah Kabupaten Pekalongan , yaitu terbukti dari semua kebijakanditetapkan langsung oleh pucuk pimpinan tanpa melibatkan pendapat daribawahan.B. SARANDi sini akan diberikan rekomendasi-rekomendasi sebagai bagian darikelanjutan penelitian. Kelanjutan ini dimaksudkan sebagai langkah berikutnya untukmengubah iklim komunikasi organisasi yang kurang efektif di kantor BappedaPemerintah Kabupaten Pekalongan, adapun rekomendasi berupa :1. Untuk meningkatkan iklim komunikasi organisasi di Badan PerencanaanPembangunan Daerah (BAPPEDA) Pemerintah Kabupaten Pekalonganmenjadi lebih baik, maka pemimpin lebih komunikatif dan melakukanpendekatan terhadap para bawahan, agar para bawahan dapat menyampaikaninspirasi , ataupun memberikan masukan kepada atasan dengan lebih terbukauntuk mencapai apa yang selama ini menjadi tujuan bersama.2. Bawahan juga harus berani memberikan pendapat terhadap pemimpin agartidak terjadi kesenjangan antar bawahan yang menimbulkan ketidaknyamanandalam bekerja, berkomunikasi dengan pimpinan dan melakukan pendekatandengan atasan dapat memberikan masukan yang baik untuk pimpinan dansesama bawahan.3. Pimpinan sebaiknya memberikan penghargaan kepada bawahan berprestasiagar meningkatkan semangat bekerja bawahan.DAFTAR PUSTAKABungin, Burhan. 2001. Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.Denzin, Norman K. Yvonnas S Lincoln. (2000). Handbook of QualitativeResearch, ed.3.Sage PublicationHardjana, Andre. (2000). Audit Komunikasi. Jakarta: GrasindoKuswarno, Engkus. 2009. Metode Penelitian Komunikasi Fenomenologi :Konsepsi, Pedoman, dan Contoh Penelitian. : Widya Padjajaran.Lattimore, Dan . Otis Baskin, Suzette T. Heiman, Elizabeth L. Toth, PublicRelation Profesi dan Praktik, hal. 119-120Littlejohn, W. Stephen.(1998). Theories of Human Communications (6th ed.).Belmont, California: Wadsworth Publishing Company.Masmuh , Abdullah. (2008). Komunikasi Organisasi dalam Prespektif Teoridan Praktek.Malang:UMM PressMuhammad Arni . (2009). Komunikasi Organisasi. Jakarta:Bumi AksaraMoleong, Lexy J. 2008. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. RemajaRosdakarya.Mulyana, Deddy. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif : Paradigma BaruIlmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. Bandung: PT. RemajaRosdakarya.Neuman, W Lawrence. (1997), Social research menthods : Qualitative andquantitative approaches, ed.3. Boston: Allyn and BaconPace. R. Wayne & Don F. Faules.2005. (Editor :Deddy Mulyana, M.A PH.D).Komunikasi Organisasi Strategi Meningkatkan Kinerja Perusahaan. Bandung:RosdakaryaSuranto. 2005. Komunikasi Perkantoran: Prinsip Komunikasi UntukMeningkatkan Kinerja Perkantoran. Yogyakarta:Media WacanaNon Buku:http://www.Suara Merdeka.com/ Pelanggaran PNS)(http://bappeda.pekalongankota.go.id.)
MEMAHAMI PENGALAMAN KOMUNIKASI PERSUASI PENDAMPING DALAM PROGRAM REHABILITASI SOSIAL WANITA PEKERJA SEKS PADA RESOSIALISASI ARGOREJO KOTA SEMARANG Theresia Karo Karo; Turnomo Rahardjo; Triyono Lukmantoro
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (127.152 KB)

Abstract

MEMAHAMI PENGALAMAN KOMUNIKASI PERSUASI PENDAMPINGDALAM PROGRAM REHABILITASI SOSIAL WANITA PEKERJA SEKS PADARESOSIALISASI ARGOREJO KOTA SEMARANGABSTRAKKomunikasi persuasi adalah suatu proses memengaruhi sikap, pendapat danperilaku orang lain, baik secara verbal maupun nonverbal. Dengan menggunakankata-kata lisan dan tertulis, menanamkan opini baru dan usaha yang disadari mengubahsikap, kepercayaan, dan perilaku orang lain melalui transmisi pesan. Pada programrehabilitasi sosial terhadap wanita pekerja seks (WPS) di Resosialisasi Argorejo KotaSemarang, pendamping berperan untuk mempengaruhi motivasi WPS dalammengembalikan perannya di masyarakat dengan beralih pekerjaan.Penelitian ini menggunakan tipe penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatanfenomenologi. Penelitian ini berusaha untuk menjelaskan pengalaman unik pendampingdari pihak Resosialisasi Argorejo, Dinas Sosial, Pemuda dan Olahraga Kota Semarang,dan PKBI Griya ASA Kota Semarang terhadap WPS mengenai komunikasi persuasi yangdilakukan dalam komunikasi antarpribadi dan kelompok dengan pendekatan insentif.Konsep diri WPS akan mempengaruhi pengambilan keputusan. Hal ini diperjelas denganpendekatan insentif dalam Teori Respons kognitif dan pendekatan nilai-ekspetansi. Teoriini menjelaskan bahwa seseorang mengambil sikap yang memberikan keuntungan lebihbesar.Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa pendamping dan WPSmelakukan pendekatan awal secara individual dan dalam kelompok. Hal inimempengaruhi tingkat kedekatan, keterbukaan dan kepercayaan WPS terhadappendamping. Ketika WPS mampu untuk memaknai pesan, perilaku yang ditunjukkanakan sesuai dengan tujuan program rehabilitasi sosial. WPS juga akan memahami bahwaberalih pekerjaan akan memberikan kesempatan yang lebih baik lagi dalam menjalankanperannya sebagai bagian dari masyarakat, yakni dengan mematuhi aturan, norma dannilai yang berlaku di masyarakat.Kata kunci : Persuasi, Rehabilitasi, WPSUNDERSTANDING THE COMMUNICATION EXPERIENCE OF PERSUASIONIN A SOCIAL REHABILITATION PROGRAMME TO ACCOMPANYINGWOMEN SEX WORKERS ON RESOCIALIZATION ARGOREJO SEMARANGABSTRACTPersuasion is a process influenced by the attitudes, opinions, and behaviors of others,both verbal and nonverbal. By using the words spoken and written, instilling a newopinion and effort consciously changing the attitudes, beliefs, and behavior of otherthrough transmission of the message. On the social rehabilitation of women sex workers(WSW) in Semarang City, Resocialization Argorejo escort role to influence motivation inreturn for her role in the community by switching jobs.This research uses qualitative descriptive study type with the approach of thePhenomenology. This research seeks to explain the unique experience of accompanyingfrom Resocialization Argorejo, Dinas Sosial, Pemuda and Olahraga Semarang City, andLSM PKBI Griya ASA toward WSW about communication persuasion in interpersonalcommunication and group incentive approach. The concept of self WSW will affectdecision making. This is made clear by the incentive approach in Cognitive ResponseTheory and approach to value-ekspetansi. This theory explains that a person take a stancethat provides greater advantages.Based on the results of the study, suggests that the escort WSW doing the initialapproach, individually and in groups. This affects the level of closeness, openness, andtrust of WSW to escort. When WSW is able to interpret the message, the behavior that isdemonstrated to be in accordance with the purposes of social rehabilitation programmes.WSW will also understand that turning the job will give her a better chance of runningagain in her role as part of the community, namely the compliance with rules, norms, andvalues which prevail in the community.Keywords : Persuasion, Rehabilitation, WSWMEMAHAMI PENGALAMAN KOMUNIKASI PERSUASI PENDAMPINGDALAM PROGRAM REHABILITASI SOSIAL WANITA PEKERJA SEKS PADARESOSIALISASI ARGOREJO KOTA SEMARANGA. PendahuluanNilai dan aturan yang berlaku di masyarakat merupakan hasil dari budaya. Budayaterbentuk dari kebiasaan manusia dalam mereprentasikan satu hal dan yang lainnya,selanjutnya menjadikannya sebagai patokan di kehidupan selanjutnya. Aturan yangberlaku dalam masyarakat menjadi patokan untuk mengatur tingkah laku dalamberinteraksi. Wanita pekerja seks (WPS) atau lebih dikenal dengan pekerja seks komersial(PSK) adalah wanita yang pekerjaan utamanya sehari-hari memuaskan nafsu seksuallaki-laki atau siapa saja yang sanggup memberikan imbalan tertentu yang biasa berupauang atau benda berharga lainnya (Mudjijono, 2005:16). Hal ini menjadi pemisah antaramasyarakat dan WPS. Pemisahan ini bukan tanpa alasan, WPS merupakan jenis pekerjaanyang sulit diterima oleh masyarakat karena dianggap tidak bermoral dan melanggar aturanyang berlaku di masyarakat.Dalam kebebasan individu terdapat batasan sosial dalam berinteraksi. Norma-normasosial membatasi perilaku individu. Masing-masing individu yang terlibat di dalammasyarakat melalui perilaku yang dipilih secara aktif dan sukarela. Pembentukan sikapsosial dalam masyarakat dinyatakan dengan cara-cara kegiatan yang sama danberulang-ulang terhadap suatu objek sosial, biasanya tidak hanya oleh seseorang tetapijuga oleh orang lain yang sekelompok atau di masyarakat.Alasan yang paling utama dalam bekerja sebagai WPS, seringkali terkait denganmateri. Ketika sudah tidak ada lagi pilihan lain untuk mempertahankan hidupnya, makajalan pintas ini dianggap setimpal dengan terpenuhinya kebutuhan dasar yang mendesak.Kurangnya pendidikan, keahlian dan pengetahuan akan hal-hal yang bersifat rohanimenjadikan WPS sebagai pilihan untuk mempertahankan hidup, ditambah lagi saat inisangat sulit menemukan pekerjaan dengan pendidikan dan tingkat pengetahuan yangminim.Tingginya jumlah lokalisasi dan semakin meningkatnya jumlah WPS semakinmenunjukkannya ekonomi masyarakat yang semakin kritis. Bekerja sebagai WPSbukanlah pilihan untuk memperoleh materi. Tetapi karena dianggap dapat menghasilkanuang dengan cepat, jumlah yang banyak, dan mudah, membuat mereka memilihpekerjaan ini. Konsekuensi yang harus ditanggung oleh WPS merupakan dikucilkan olehmasyarakatUntuk membimbing dan mendampingi WPS maka pemerintah bersama-sama denganmasyarakat mengadakan program rehabilitasi sosial, yakni yang bertujuan untukmemasyarakatkan kembali. Tugas ini menjadi tanggung-jawab dalam programKementerian Sosial di Indonesia. Dinsospora Kota Semarang mendapat bagian untukmelaksanakan program rehabilitasi sosial, yang lebih merumuskan pada programpengentasan WPS untuk masa depan.Lokalisasi menjadi salah satu sasaran bagi Dinas Sosial Pemuda dan Olah Raga(Dinsospora) Kota Semarang dengan pengadaan program rehabilitasi sosial. Program inimulai sejak tahun 2009, bekerja sama dengan lokalisasi Sunan Kuning atau yangsekarang berganti nama dengan sebutan Resosialisasi (Resos) Argorejo di Kota Semarangyang diketuai oleh Bapak Suwandi E.P. Rehabilitasi sosial yang diadakan di ResosialisasiArgorejo bekerja sama dengan Dinsospora Kota Semarang, Dinas Kesehatan KotaSemarang, Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, dan Bina Masyarakat KapolresKota Semarang. Subjek penelitian ini melibatkan lima orang narasumber yaitu tiga orangpendamping dan dua orang wanita pekerja seks. Tiga orang pendamping terdiri dariKetua Resosialisasi Argorejo Kota Semarang, pekerja lapangan (PL) dari LSM PKBIGriya ASA Kota Semarang dan Kepala Bidang Penyandang Masalah KesejahteraanSosial (PMKS) Dinsospora Kota Semarang. Ketiganya dengan latar belakang yangberbeda tetapi memiliki tujuan yang sama dalam program rehabilitasi sosial. Beberapateori yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya komunikasi persuasi, untukmengetahui proses dan strategi komunikasi yang terjadi antara pendamping dan WPSdalam pengambilan keputusan yang baru. Selain itu juga digunakan pendekatan insentif,Teori Respons Kognitif dan nilai ekspetansi untuk memahami pengaruh keuntunganmaksimal yang mempengaruhi sikap WPS dalam pengambilan keputusan.Rehabilitasi sosial berfungsi untuk melaksanakan proses memasyarakatkan kembalianggota masyarakat yang perilakunya tidak sesuai dengan harapan dari sebagian besarmasyarakat. Tujuan utama dari pengadaan pendampingan dan konseling ini adalahbagaimana pendamping dapat melakukan komunikasi persuasi yang efektif, sehinggadapat mengarahkan WPS kepada keputusan meninggalkan dunia prostitusi dan memilihpekerjaan yang lebih bermartabat. Tentunya dibutuhkan waktu dan tahapan dalammembimbing dan setiap keputusan tidak dapat dipaksakan kepada orang lain.Untuk itu, Pemerintah Kota Semarang mengadakan program rehabilitasi sosial, selainuntuk pengentasan masalah tuna sosial, juga dapat memberikan solusi dari kesenjangansosial yang muncul antara WPS dan masyarakat, akibat konsekuensi dari pekerjaan mereka.Program rehabilitasi sosial ini dilakukan secara bertahap dan dalam kurun waktu tiga tahundiharapkan WPS dapat meninggalkan dunia prostitusi serta kembali mematuhi norma dannilai yang berlaku di masyarakat. Tidak menutup kemungkinan proses rehabilitasi inimenemui hambatan.Komunikasi persuasi bertujuan untuk mengubah sikap, pendapat, dan perilakuseseorang yang menimbulkan perubahan. Dalam melaksanakannya pendamping berperansebagai komunikator yang mampu untuk melakukan komunikasi secara personal kepadasetiap individu dan lebih baik bila dilakukan secara tatap muka. WPS sebagai pihakpenerima pesan merupakan individu atau kelompok yang menjadi sasaran persuasi untukmengubah pendapat, sikap dan perilakunya. Sedangkan pesan merupakan pemberianpengertian. Setiap pesan yang disampaikan oleh pendamping dapat mempengaruhipengambilan keputusan pada WPS.B. ISIDengan menggunakan pendekatan interpretif untuk menganalisis fenomena yang ditelitiyang dipadu dengan self-disclosure theory, pendekatan insentif (Teori Respons Kognitifdan nilai ekspetansi) dan komunikasi persuasi. Tujuan penelitian adalah untuk memahamipengalaman komunikasi persuasi dan mengetahui kendala komunikasi yang munculdalam melakukan pendampingan itu sendiri. Karena tujuan interpretasi bukan untukmenemukan hukum yang mengatur kejadian-kejadian, tetapi berusaha mengungkapkancara-cara yang dilakukan orang dalam memahami pengalaman mereka sendiri.Paradigma interpretif kemudian dikombinasikan dengan pendekatanfenomenologis, yang sama-sama berusaha melihat realitas berdasarkan pengalamanindividu yang mengalami langsung pengalaman tersebut tanpa berusaha mengategorikanfenomena yang ada. Diharapkan dapat terjadi pemahaman terhadap cara-cara orangdalam memahami pengalaman mereka sendiri dan akhirnya menentukan realitaskeberadaan manusia yang merupakan inti dari paradigma interpretif.Dalam penelitian ini dapat dilihat bagaimana pendamping membangun kedekatandan keterbukaan terhadap WPS. Pendamping berasal dari latar belakang yangberbeda-beda, informan I merupakan pendamping dari pihak pengurus Resosialisasi(Resos) Argorejo sendiri. Kesibukan sebagai ketua yang membatasi informan I untukmelakukan pendekatan secara personal terhadap WPS. Untuk pertemuan antara informanI dengan WPS, dilakukan secara berkelompok dalam penyuluhan. Hal tersebut dilakukanoleh pengurus Resos Argorejo atau bawahan dari informan I yang telah dibentuk.Interaksi yang dilakukan tidak secara langsung, melainkan mengawasi melalui laporandari pengurus Resos Argorejo.Pendekatan oleh informan kedua, dilakukan dalam dua bentuk, komunikasiantarpribadi dan komunikasi dalam kelompok. Komunikasi antarpribadi dilakukan ketikapendamping menerima laporan kesehatan dari klinik Griya ASA, yang menjadi tempatcek kesehatan bagi WPS. Komunikasi kelompok dilakukan pada saat pelatihanketerampilan yang diadakan sekali dalam sebulan di Gedung Resos.Selanjutnya, informan yang ketiga berasal dari pihak pemerintah. Informan IIIditunjuk sebagai Kepala Bidang PMKS (penyandang masalah kesejahteraan sosial) dalamDinsospora Kota Semarang. Awal pendekatannya hampir sama dengan informan I yangmelakukan pendekatan secara berkelompok, yakni dalam acara penyuluhan atau pelatihanyang dilakukan sekali dalam sebulan oleh Dinsospora Kota Semarang. Dapat diakuinya,dengan intensitas pertemuan yang jarang, sehingga beranggapan bahwa ia kurang dapatmengenal WPS secara individual.Dalam penelitian ini akan dilihat bagaimana komunikasi persuasi yang dilakukanoleh pendamping terhadap WPS. Kasus nyatanya adalah WPS yang memiliki harapanakan pemenuhan kebutuhan dan pemuasan dalam hal materi, yang berujung padapelanggaran nilai dan norma dalam masyarakat. Stigma yang diberikan oleh masyarakatsebagai akibat dari ketidakmampuan individu. Untuk mengembalikan kembali WPS kedalam masyarakat maka perlu dilakukan pendekatan secara persuasi yang mengajak WPSmemikirkan kembali tentang pekerjaannya.Pendekatan komunikasi yang efektif dilakukan dengan menyesuaikan pesan persuasiagar terkait dengan dasar motivasi setiap WPS. Hal ini disebabkan oleh karena lebih darisetengah WPS yang ada di Resos Argorejo memiliki latar belakang yang sama, yaknimasalah ekonomi dan berpendidikan rendah. Maka pendampingan dengan mengarahkanWPS pada pelatihan keterampilan dirasa sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh WPS.Pendamping mewajibkan bagi setiap WPS di Resos Argorejo untuk mengikuti programrehabilitasi sosial yang bertujuan untuk beralih pekerjaan.Pendamping dalam penelitian ini memiliki cara yang berbeda dalam melangsungkankomunikasi persuasi. Hubungan awal yang tercipta dalam komunikasi persuasi yangdilangsungkan oleh ketiga pendamping adalah 1) Ayah dan anak, 2) Teman dan teman, 3)Pemerintah dan masyarakat. Pertama hubungan ayah-anak terlihat dari informan I yangjuga sebagai Ketua Resosialisasi Argorejo. Dia cukup dihormati di kalangan WPS, olehsebab itu WPS menganggapnya sebagai ayah dan informan I juga menganggap WPSsebagai anaknya. Tetapi yang unik adalah walaupun ada anggapan informan I sebagaiayah, hubungannya dengan WPS tidak dekat secara personal. Lebih kepada bentukmenghormati, segan, dan patuh terhadap informan I. Dengan posisi yang cukup tinggi dikalangan Resosialisasi Argorejo membuat kesibukannya semakin padat. Sehingga dirinyakurang terlibat secara langsung dengan WPS. Walaupun begitu, dia tetap mengontrollewat pengurus Resos Argorejo dan mengajukan kegiatan baru yang berhubungan denganpendampingan WPS. Hubungan yang hampir sama juga ditunjukkan oleh informan IIIyang menempatkan dirinya pada bentuk hubungan pemerintah dan masyarakat.Pendampingan ini bertujuan untuk mengentaskan dan mengembalikan WPS padakewajibannya sebagai anggota masyarakat yang mematuhi nilai dan norma yang berlaku,yakni dengan pemberian pengajaran keahlian, penyuluhan dan kejar paket pendidikanbagi yang WPS yang membutuhkannya. Pendekatan yang dilakukan oleh informan I danIII merupakan pendekatan berbentuk kelompok. Hubungan yang lebih santai ditunjukkanoleh informan yang kedua. Menggunakan pendekatan sebagai seorang teman.Memberikan perhatian yang sederhana dengan menanyakan kabar dan berinteraksi secaralangsung membuat WPS merasa diperhatikan.Identifikasi diri WPS cukup berpengaruh dalam proses pengambilan keputusan darikomunikasi persuasi yang disampaikan oleh pendamping. Tingkat ekonomi yang rendahadalah alasan yang paling banyak yang menjadi latar belakang pekerjaan mereka sebagaiWPS. Para WPS di Resos Argorejo rata-rata merupakan tulang punggung keluarga.Sebanyak 75% dari uang hasil bekerja diserahkan WPS kepada keluarga. Meningkatnyaprostitusi sejalan dengan terjadinya krisis ekonomi. Terdapat pula kekecewaan dariperceraian, dilihat dari jumlah persentase 44% WPS yang mayoritas bercerai. Selanjutnya,tingkat pendidikan yang rendah, hal ini dapat dilihat dari persentasi tingkat pendidikanWPS di Resos Argorejo yang hanya tamatan SD (Sekolah Dasar) yakni 52%. Sehinggahal ini mempersempit kesempatan untuk memperoleh pekerjaan dengan pendidikan yangrendah. Terdapat pula alasan lainnya yakni kepuasan secara seksual, kemarahan, dantrafficking yang menjadi latar belakang pekerjaan sebagai WPS.Informan IV dan V memiliki latar belakang yang sama yakni masalah materi,informan IV yang harus memenuhi kebutuhannya setelah bercerai dengan suami danmasih memiliki tanggung jawab untuk menyekolahkan anak. Sehingga informan IV danV terpaksa bekerja sebagai WPS. Mereka sadar akan tingkat pendidikan yang rendah dankurangnya keahlian mempersempit kesempatan mereka untuk bekerja di masyarakat.Sehingga, pilihan sebagai WPS dirasa dapat menjadi sumber penghasilan berkecukupantanpa membutuhkan ijasah dan pengalaman bekerja.Dengan pekerjaan mereka, kedua informan menyadari konsekuensi yang merekaterima selama menjalani pekerjaan sebagai WPS. Mereka harus pintar untukmenyembunyikan pekerjaan mereka dari keluarga dan masyarakat yang mengenal merekadi daerah asalnya. Mereka mengaku malu kalau sampai keluarga terdekat mengetahuipekerjaannya. Untuk itu mereka memilih tempat yang jauh dari keluarga, seperticontohnya informan IV berasal dari Jawa Timur sedangkan informan V berasal dariJepara. Selanjutnya harus pintar dalam menjaga diri, sebab tidak jarang dengan pekerjaanmereka, terdapat tamu yang bertindak sesuka hati. Usaha selanjutnya yang dilakukan olehWPS adalah berupaya untuk menjaga kesehatan tubuh agar tidak terkena penyakit danhal-hal merugikan lainnya.Penelitian ini menjelaskan bagaimana tanggapan WPS terhadap komunikasi persuasioleh pendamping dalam program rehabilitasi sosial. Informan IV mengakui bahwabanyak manfaat yang didapat dari program rehabilitasi sosial yang dijalaninya sejak 2011.Tetapi untuk mencari pekerjaan lain, dia berpendapat bahwa hal ini masih jauh darirencananya. Karena dia masih mengumpulkan modal untuk membangun usaha.Sedangkan hal yang sebaliknya didapatkan dari informan V yang sudah mulai berpikiruntuk mencari pekerjaan lain. Dengan keahliannya membuat keterampilan tangan dansudah mulai dipasarkan, membuatnya berpikir untuk keluar ari pekerjaannya sebagaiWPS. Ia juga ingin untuk menghasilkan uang secara halal dan berkumpul kembalibersama keluarga. Dirinya menyadari bahwa umur yang sudah melebihi 45 tahunmembuatnya berpikir untuk menekuni pekerjaan lain.Informan IV beranggapan bahwa pendamping yang mendampinginya cukup mampudalam mengajar atau menjadi pelatih. Dirinya akan sangat terbuka dengan pendampingkalau hanya seputar masalah pekerjaan dan program rehabilitasi sosial, tetapi biladitanyakan mengenai masalah pribadi, dirinya tidak dapat menceritakan kepadapendamping atau orang lain. Sedangkan oleh informan V, dirinya beranggapan bahwapendamping sudah cukup mampu untuk mengajar dan membimbingnya. Dirinya cukupdekat dengan pendamping dari PKBI Griya ASA Kota Semarang dibandingkan dengandua pendamping lainnya. Informan V beranggapan bahwa semua pendamping samabaiknya dan bentuk perhatian yang diterima juga sama rata bagi semua WPS.C. PENUTUPPenelitian ini merupakan studi yang mengkaji mengenai pengalaman komunikasi persuasipendamping dengan wanita pekerja seks dalam program rehabilitasi sosial padaResosialisasi Argorejo, Kota Semarang. Instrumen yang digunakan dalam studi ini adalahindepth interview, dengan mencoba menggali pengalaman narasumber dalammelangsungkan komunikasi persuasi dalam pendampingan pada program rehabilitasisosial, baik itu dalam penyuluhan maupun dalam pelatihan keterampilan untuk mencapaitujuan resosialisasi WPS.Kesimpulan yang didapat dari penelitian ini antara lain, pendekatan oleh pendampingdilakukan dengan dua cara yakni pendekatan secara individual dan pendekatan dalamkelompok. Pendamping yang menggunakan pendekatan secara individual pada awalperkenalan dengan intensitas pertemuan yang tinggi mempengaruhi tingkat kedekatan,keterbukaan, dan kepercayaan yang semakin tinggi dari WPS terhadap pendamping,begitu pula sebaliknya. Selanjutnya dapat dilihat bahwa keberhasilan pendamping terletakpada ada atau tidaknya motivasi WPS untuk mencari pekerjaan lain dengan modalkeahlian yang diterima. Sedangkan, pengambilan keputusan untuk beralih pekerjaan tidakdapat dipaksakan oleh pihak manapun, baik dari lembaga atau pemerintah danmasyarakat. Kendala dalam proses komunikasi persuasi ini adalah kurangnya penanganansecara individual kepada WPS. Untuk ini dirasa perlu untuk melakukan dialog denganpemerintah atau elemen masyarakat lainnya, guna mencapai satu titik temu mengenai apayang sebenarnya dibutuhkan oleh WPS sehingga dapat memberantas prostitusi.Akan lebih baik bila pendekatan komunikasi persuasi dengan menyertakan buktinyata. Pendamping saat ini semuanya berasal dari elemen masyarakat dan pemerintah,akan lebih baik bila memang terdapat pendamping dengan latar belakang yang samadengan WPS sehingga terdapat perasaan senasib yang dapat menggerakkan WPS.Selanjutnya, ditemukan alasan lain yang muncul pada WPS pada saat pengambilankeputusan untuk meninggalkan pekerjaan sebagai WPS, yang pertama menjadi ibu rumahtangga dan faktor umur yang semakin tua.Pengalaman komunikasi persuasi pendamping dalam menyampaikan programrehabilitasi sosial ternyata lebih rumit. Pendekatan komunikasi antarpribadi denganmenciptakan hubungan yang terbuka sehingga menciptakan rasa kedekatan dankepercayaan. Pendekatan dengan komunikasi kelompok menggunakan TeoriPenstrukturan Adaptif, yang menyatakan bahwa aturan yang dibuat oleh kelompokberfungsi sebagai perilaku para anggotanya. Aturan yang ada akan membatasi individudalam berperilaku akan tetapi aturan yang sama dapat membuat individu memahami danmelakukan interaksi dengan orang lain.Dalam penelitian ini, penyampaian pesan untuk mempengaruhi WPS mengikutiprogram rehabilitasi sosial yang bertujuan pada resosialisasi atau memasyarakatkan WPSdengan beralih profesi tidak digunakan secara mendalam oleh pendamping. Pendekatanawal yang dilakukan sangat berpengaruh dalam proses pembentukan sikap. Dua dari tigaorang pendamping melakukan pendekatan awal secara kelompok dan dengan tingkatkedekatan yang rendah, sehingga dapat disimpulkan bahwa pendamping belum mampuuntuk membentuk motivasi pada WPS untuk beralih pekerjaan.Pendekatan insentif terhadap sikap dengan Teori Respon Kognitif dan pendekatannilai-ekspentasi. Teori ini kemudian mengasumsikan bahwa seseorang memberikanrespon terhadap suatu komunikasi dengan beberapa pikiran positif atau negatif dan bahwapikiran-pikiran ini sebaliknya menentukan apakah orang akan mengubah sikapnyasebagai akibat dari komunikasi atau tidak. Pada WPS, perubahan sikap untuk mengikutipesan dari komunikasi persuasi yang disampaikan oleh pendamping adalah denganmemperhitungkan keuntungannya. Bagi WPS bila sebagai wanita pekerja seks akanmemenuhi kebutuhannya dalam hal materi, maka hal ini akan menutupi nilai negatif yangtercipta dari pekerjaan mereka. Sehingga, WPS masih akan tetap melakukanpekerjaannya selama memiliki kesempatan dan menguntungkannya.Penelitian ini dapat memberi referensi bagi pendamping tentang pentingnyamencapai satu kesepakatan mengenai apa yang harus dilakukan oleh pendamping dan apayang sebenarnya dibutuhkan oleh WPS dalam mencapai realisasi beralih pekerjaan.Selain pesan yang disampaikan, sangat perlu menciptakan komunikasi antarpribadi yangbaik, dan perlu diperhitungkan kemampuan pendamping dalam menyampaikan pesan.Latar belakang ekonomi dan pendidikan yang rendah, serta kekecewaan (perceraian)merupakan alasan utama, sehingga hal ini dapat menjadi bahan untuk menyesuaikanpesan persuasi agar terkait dengan dasar motivasi setiap WPS dalam pemenuhan harapanmereka.Lebih jauh lagi penelitian ini dapat membawa pengaruh positif terhadap masyarakat.Masyarakat dapat lebih mengerti dan paham akan situasi dari WPS dan tidak hanya bisamemberikan stigma tetapi juga dapat membantu dalam meyakinkan WPS untuk beralihpekerjaan. Hal yang penting adalah agar tidak dengan secara paksa untuk menutuplokalisasi. Karena perubahan keputusan untuk beralih pekerjaan merupakan proses yangbertahap dan memerlukan waktu. Keputusan tersebut berasal dari dalam dirimasing-masing WPS untuk beralih pekerjaan, pilihan tersebut tidak dapat dipaksakan.DAFTAR PUSTAKAReferensi Buku :Denzin, Norman K & Yvonna S. Lincoln. (1994). Handbook of QualitativeResearch. California: Sage PublicationDevito, Joseph A. (1997). Human Communication (Edisi kelima). Jakarta:Profesional BooksGerungan, W, A. (2000). Psikologi Sosial (Edisi kedua). Bandung: RefikaAditamaFisher, Aubrey. (1986). Teori-Teori Komunikasi. Bandung: RemajaRosdakaryaGudykunst, B William. (2005). Theorizing About InterculturalCommunication. California: Sage PublicationLiliweri, Alo. 2003. Makna Budaya Dalam Komunikasi Antarbudaya.Yogyakarta: LKiSLiliweri, Alo. 2009. Dasar-Dasar Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta:Pustaka PelajarLittlejohn, Stephen W. (1999). Theories of Human Communication, SixthEdition. Belmont, California: Wadsworth Publishing CompanyLittlejohn, Stephen W & Karen A. Foss. (2008). Theories of HumanCommunication. Thomson Wadsworth: USALittlejohn, Stephen W & Karen A. Foss. (2009). Communication. SAGE: USAMartin, Judith N & Thomas K. Nakayama. (2003). InterculturalCommunication in Context. California: Mountain View: MayfieldMoran, Dermot. (2000). Introduction to Phenomenology. London: RoutledgeMoustakas, Clark. (1994). Phenomenological Research Methods. ThousandOaks, California: Sage Publication Inc.Nimmo, Dan. (2000). Komunikasi Politik. Bandung: Remaja RosdakaryaSears, Freedman dan Peplau. (2006). Psikologi Sosial. Jakarta: ErlanggaSuranto. (2010). Komunikasi Sosial Budaya. Yogyakarta: Graha IlmuSuranto. (2011). Komunikasi Interpersonal. Yogyakarta: Graha IlmuSeverin dan Tankard. (2005). Teori Komunikasi, Sejarah, Metode dan Terapandi Dalam Media Massa. Jakarta: KencanaUchjana, Onong. (2002). Dinamika Komunikasi. Bandung: RosdakaryaWest dan Turner. (2008). Pengantar Teori Komunikasi. Jakarta: SalembaHumanikaZgourides, D. George & Christie S. Zgourides. (2000). Sociology. USA: IDGBooks WorldwideSkripsi / Laporan Penelitian :Irsyadina, Iffah (2007).“Komunikasi Persuasif Pendampingan dalam ProgramPendampingan Anak Jalanan” . Skripsi. Universitas DiponegoroSetiawan, YB (2007). "Memahami Komunikasi Kelompok Dalam Pendampingan KorbanKekerasan Berbasis Gender ". Skripsi. Universitas DiponegoroYunda, Nugraheni (2013). "Memahami Komunikasi Persuasif Kelompok DukunganSebaya (KDS) Smile Plus dalam Meyakinkan Orang dengan HIV/AIDS (ODHA)Bergabung untuk Menumbuhkan Kepercayaan Diri”. Skripsi. Universitas DiponegoroPeraturan Daerah Kabupaten Klaten No. 27 Tahun 2002 tentang Larangan Pelacuran,Pasal 1 angka 4Referensi Internet :Dinas Sosial, Pemuda dan Olahraga, Provinsi Jawa Tengah. (2012). Seksi PelayananRehabilitasi Sosial Tuna Sosial dan Korban Narkobahttp://dinsos.jatengprov.go.id/index.php/yanrehsos/95-seksi-pelayanan-rehsos-tuna-sosial-korban-narkoba. Diakses pada tanggal 19 September 2012 pukul 09.17 WIB.Oktarini, Fitri. (2003). 129 Ribu Perempuan Indonesia Jadi pekerja Seks.http://www.tempo.co/read/news/2003/06/20/05520469/null, diakses 27 September 2012,pukul 14.30 WIBKomisi Nasional Perempuan. (2012). Perempuan dan Pemiskinan.http://www.komnasperempuan.or.id/pengetahuan_perempuan/perempuan-dan-pemiskinan/, diakses 27 September 2012 pukul 14.06 WIBKementrian pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia.(2012). Situasi Eksplitasi Seks Komersial Anak di Semarang.http://www.gugustugastrafficking.org/index.php?option=com_content&view=article&id=651:jawa-tengah-situasi-eksploitasi-seks-komersial-anak-disemarang&catid=145:situasi-eska&Itemid=185, diakses 27 September 2012 pukul 14.50WIBKompasiana. (2012). Prostitusi dan Indonesiaku.http://sosbud.kompasiana.com/2012/10/07/prostitusi-dan-indonesia-ku/, diakses tanggal 9Oktober 2012 pukul 15.30 WIBLandasan hukum dalam Undang Undang Dasar 1945 pasal 27(http://lib.unnes.ac.id/14214/ diakses tanggal 19 September 2012 pukul 08.32 WIB)Merdeka. (2012). Sunan Kuning Jadi Percontohan Lokalisasi sejak 2009.http://www.merdeka.com/peristiwa/sunan-kuning-jadi-percontohan-lokalisasi-sejak-2009.html diakses pada tanggal 15 Maret 2013, pukul 01.33 WIBRadar Bekasi. (2012) Apa Benar Motivasi PSK adalah Ekonomi?http://www.radar-bekasi.com/?p=33924, diakses 27 September 2012 pukul 13.42 WIBSuara Merdeka. (2008). Kondom 100 Persen untuk Resos Argorejo.http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2008/09/18/31264/Kondom.100.Persen.untuk.Resos.Argorejo diakses 15 Maret 2013, pukul 01.51 WIB
KOMUNIKASI STRATEGIS JOKOWI DALAM PEMILUKADA DKI JAKARTA 2012 Rizky Amalya Hadiningtyas; Tandiyo Pradekso; Djoko Setiabudi
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.098 KB)

Abstract

KOMUNIKASI STRATEGIS JOKOWI DALAM PEMILUKADA DKI JAKARTA 2012AbstrakKondisi masyarakat yang dinamis dan semakin kritis dengan perkembangan politik membawa dampak perubahan cara atau pola yang biasanya dilakukan oleh partai politik untuk memenangkan perhatian masyarakat sebagai pendukung partai. Untuk itu, institusi politik membutuhkan metode dan konsep baru sebagai sarana pendekatan alternatif guna membangun hubungan yang lebih efektif dengan konstituen kandidat, konstituen partai lain, dan masyarakat non partisan yang menjadi target audiens kontestan, yakni marketing politik. Tim kampanye Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama adalah tim pemenang yang menggunakan konsep dan metode dalam marketing politik Newman untuk mencapai tujuan komunikasi dengan kemenangannya dalam pertarungan politik pada Pemilukada DKI Jakarta 2012 yang berlangsung dua putaran.Berawal dari situlah maka, penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan secara komprehensif pelaksanaan komunikasi strategis dalam konteks politik pada kampanye Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama dalam memenangkan pemilihan umum kepala daerah secara langsung di wilayah DKI Jakarta tahun 2012. Konsep dasar yang digunakan untuk menganalisis data adalah Marketing Politik (Firmanzah) dan Handbook of Political Marketing (Newman). Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, dokumentasi, rekaman arsip, dan perangkat fisik.Tim kampanye Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama sangat memerhatikan elemen strategi pemasaran dalam marketing politik terutama segmentasi pemilih karena ketepatan pembagian pasar pemilih, berperan besar dalam ketepatan penyampaian pesan politik dan pembentukan image politik kandidat dalam menciptakan, membentuk dan memperkuat persepsi target pemilih kontestan untuk memenangkan pertarungan politik yang ketat dengan menggunakan bauran komunikasi pemasaran yang efektif dan efisien pada target pemilih.Kata kunci: strategi pemasaran, bauran pemasaran, persepsiTHE STRATEGIC COMMUNICATION OF JOKOWI IN PEMILUKADA DKI JAKARTA 2012AbstractThe condition of society, nowadays, become more dynamic and more critical in the political development. It is make a changes for the impact of the way or the pattern, that is usually use by the political party to win attention of the society as a supporter of the party. For that, the political institutions need a new methods and concepts as a means of alternative approaches to build more effective relationship with constituents candidate, contituents other party, and non partisan as a public target audience, it is called a political marketing. The campaign team of Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama used concepts and methods in Newman’s political marketing to achieve their communication goals with his victory in the Pemilukada DKI Jakarta 2012 which held two rounds.This research aims to describe implementation of strategic communication of Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama to win in Pemilukada DKI Jakarta 2102. The basic concepts which used to analyze the data is the Political Marketing by Firmanzah and the Handbook of Political Marketing by Newman. The research method is descriptive qualitative research with the case study approach. The data was collected through in depth interviews, documentation, archival footage, and physical tools.Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama’s campaign team is very concerned about the marketing strategy especially segmentation. Because the accuracy of segmentation voters market, played a major role in accuracy of political message and image of political candidate for creating, shaping and strengthening the perception of the target audiences to win the election used marketing communication mix for more effective and more efficient.Keywords: marketing strategic, marketing mix, perceptionPENDAHULUANPerubahan pemilihan kepala daerah dari dipilih oleh DPRD secara bersamaan menjadi dipilih langsung oleh rakyat membawa situasi politik terutama di tataran lokal (daerah) menjadi semakin dinamis. Pemilukada secara langsung yang menjadi bagian integral dari akselarasi demokratisasi di tingkat nasional dinilai dapat mengakomodasi sistem seleksi terpadu yang saling melengkapi untuk melahirkan kepala daerah terpilih yang berkualitas, mulai dari seleksi sistem kenegaraan, partai politik, administratif, hukum administratif sampai seleksi politis.Di sisi lain, sistem multipartai menjadikan kompetisi antar kandidat di daerah semakin tinggi dalam era globalisasi dengan kondisi masyarakat yang semakin kritis terhadap perkembangan politik Indonesia. Untuk itu, politisi yang ikut serta dalam persaingan politik yang ketat tidak hanya semata – mata menonjolkan kemampuan kandidat atau kapasitas organisasional dari politisi tetapi juga membutuhkan dukungan dan jaringan dari pihak lain. Kondisi ini menuntut politisi untuk menerapkan cara – cara yang lebih tepat dan relevan dengan melakukan pendekatan yang lebih persuasif dalam berkampanye untuk memenangkan persaingan politik.Marketing politik yang merupakan komunikasi strategis dalam kajian komunikasi politik ialah perencanaan yang matang dalam menggunakan elemen – elemen yang terkandung pada strategi pemasaran dan bauran pemasaran sehingga dapat menghasilkan sebuah komunikasi yang efektif dan efisien. Keberhasilan marketing politik dalam berkomunikasi akan menciptakan dampak yang lebih tinggi kadarnya dibanding dengan komunikasi informatif, meliputi dampak kognitif, dampak afektif, dan dampak behavioral.Sebagaimana dengan komunikasi strategis yang berperan membujuk, menggerakkan, dan meyakinkan target audiens dalam mencapai tujuan, metode dan konsep dalam marketing politik juga memiliki peran membantu partai politik dan kandidat membangun hubungan dua arah yang efisien dan efektif dengan masyarakat agar menjadi lebih baik dalam mengenal masyarakat terutama yang menjadi target audiens sehingga dalam pengembangan program kerja partai sesuai dengan keinginan dan kebutuhan masyarakat.Terdapat fenomena menarik di antara Pemilukada yang terjadi sepanjang tahun 2012, yakni Pemilukada DKI Jakarta 2012 yang diikuti oleh enam pasangan calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur, dimana Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama adalah Gubernur – Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih dengan masa jabatan 2012 – 2017 menjadi bukti bahwa penggunaan metode kampanye yang tepat, relevan, dan sesuai dengan kondisi masyarakat sekarang ini akan menentukan kalah – menang kontestan pemilihan umum.Marketing politik yang digunakan tim kampanye Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama dalam menghadapi Pemilukada DKI Jakarta 2012 sesuai dengan konsep marketing politik yang disampaikan oleh Newman (1999: 8) bahwa terdapat enam langkah, meliputi: (1) environmental research; (2) internal & external assessment analysis; (3) strategic marketing; (4) goal setting & campaign strategy; (5) communication, distribution, and organization plan; (6) key markets & outcomes.Keberhasilan marketing politik yang diterapkan tim kampanye dalam berkomunikasi dengan masyarakat Jakarta terutama yang menjadi target audiens mampu menciptakan dampak behavioral. Salah satunya adalah menggiring Addie MS, seorang konduktor ternama di Indonesia, menjadi salah seorang simpatisan Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama melalui kicauan tweet-nya yang menjadi virus liar positif dengan pengaruh yang sangat kuat dalam perang media sosial antara kubu Fauzi Bowo dengan kubu Joko Widodo, antara lain terkait slogan Fokoke Jokowi dan hastag JOKOWINNERS (Leinad, 2012).Partisipasi yang tinggi dari masyarakat Jakarta dalam keikutsertaan kegiataan pengadaan baju kotak – kotak yang menjadi ikon Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama hingga mampu berubah menjadi trend di semua kalangan masyarakat Jakarta yang menghiasi di setiap sudut jalan di wilayah DKI Jakarta (Rizal, 2012). Adapula eksposure yang tinggi dari media massa terkait pemberitaan aktivitas komunikasi Joko Widodo. Pasalnya Joko Widodo menjadi sosok media darling bagi media massa nasional karena kampanye yang menarik dari kandidat sehingga membuat audiens mencari – cari berita tentang kandidat. Untuk itu, semua pemberitaan mengenai kandidat adalah pemberitaan dengan nilai berita yang tinggi bagi media (Saut, 2012).PEMBAHASANMarketing politik merupakan sebuah perencanaan dan pelaksanaan kampanye untuk mengatasi isu tertentu yang akan menghasilkan suatu rencana komunikasi yang saling terkait satu sama lain. Rencana komunikasi tersebut dalam wujud strategi komunikasi yang dibuat secara hati – hati berdasarkan tujuan yang dikembangkan disertai dengan sasaran audiens yang spesifik, kebutuhan akan informasi yang telah diidentifikasi secara cermat dan ketat, dan penggabungan secara optimal strategi pemasaran dan komunikasi pemasaran yang dibuat dengan biaya yang efektif dan efisien dengan hasil yang diinginkan.Tim kampanye Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama merupakan tim pemenang yang menggunakan konsep dan metode dalam marketing politik Newman untuk mencapai tujuan komunikasi dengan kemenangannya pada Pemilukada DKI Jakarta 2012 yang berlangsung dua putaran. Melalui berbagai langkah strategis dalam marketing politik, timkampanye sangat memerhatikan elemen strategi pemasaran dalam marketing politik terutama segmentasi pemilih karena ketepatan pembagian pasar pemilih, berperan besar dalam ketepatan penyampaian pesan dan pembentukan image politik dalam menciptakan, membentuk, dan memperkuat persepsi publik atas kelayakan Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama memimpin Jakarta, yang didukung dengan penggunaan bauran komunikasi pemasaran yang efektif dan efisien.Tentu saja, sebelum menerapkan metode dan konsep strategi pemasaran dan bauran pemasaran dalam marketing politik, tim kampanye telah lebih dulu mengenal publik terutama target audiens baik secara internal maupun eksternal melalui riset pasar dan analisis situasi. Hasil riset pasar melalui kunjungan langsung tersebut, memberikan pertimbangan bagi tim dan kandidat sebagai aktivitas monitoring pencarian dan pengumpulan informasi atas perkembangan isu – isu dalam opini publik salah satunya terkait kandidat yang diajukan dalam pemilihan yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat atas figur pemimpin yang mampu membawa perubahan kota dan kehidupan masyarakat khususnya keadaan ekonomi. Selain itu, riset pasar juga berperan membantu tim untuk memahami masyarakat dalam identifikasi kondisi heterogenitas masyarakat Jakarta. Kemudian berdasarkan identifikasi masyarakat dalam riset pasar tersebut, tim melakukan segmentasi pasar pemilih pada masyarakat Jakarta guna mengidentifikasi khalayak mana yang sanggup dilayani dan menguntungkan bagi kandidat dalam memperoleh dukungan suara saat pemilihan umum. Tim melakukan pembagian pasar berdasarkan pengembangan pendekatan etnis Jawa, etnis China, dan non muslim pada konstituen kandidat, konstituen partai lain, dan non partisan. Berdasarkan segmen pemilih tersebut, kemudian tim melakukan pembidikan dan pemilihan pada masing – masing wilayah yang meliputi wilayah Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta Pusat, Jakarta Utara, dan Jakarta Selatan.Pemilih dibanjiri oleh informasi politik dalam jumlah besar dan beragam yang berasal dari masing – masing kandidat pada Pemilukada DKI Jakarta 2012. Kondisi tersebut menyulitkan pemilih untuk memilah – milah informasi guna membuat keputusan perilaku pemilih saat pemilihan umum karena adanya kesamaan pada masing – masing informasi politik dari kandidat. Untuk itu, tim kampanye Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama melakukan upaya untuk memposisikan kandidat pada tempat yang jelas, berbeda, dan diinginkan dalam benak pemilih dibandingkan dengan tempat kandidat lain. Tim kampanye melakukan upaya memposisikan kandidat yang memberikan keunggulan paling besar dalam benak pemilih dengan menempatkan image politik kandidat dan produk politik yang sesuai dengan masing – masing kelompok masyarakat yang telah ditetapkan sebagai target audienskandidat. Tim yang memiliki tujuan komunikasi strategis, yakni mengubah opini publik menjadi persepsi publik atas kelayakan kandidat memimpin Jakarta, melakukan upaya positioning pada segmen kelompok masyarakat konstituen kandidat melalui image politik bahwa Joko Widodo adalah sosok pemimpin yang menjunjung tinggi empat pilar kebangsaan yang menjamin keberagaman dan sosok pemimpin yang jujur dan amanah dalam kepemimpinannya. Untuk memperkuat persepsi dalam pembentukan image politik tersebut, tim mewujudkannya dalam dua tahapan produk politik, yakni core product bahwa kelayakan kandidat tersebut karena kandidat memimpin Jakarta dengan menjamin keberagaman dalam kebersamaan pada heterogenitas masyarakat Jakarta dengan didukung actual product kandidat melalui hasil kinerja Joko Widodo selama menjabat sebagai wali kota Solo yang mendapat peringkat ketiga sebagai walikota terbaik tingkat internasional. Pembentukan image politik yang diperuntukkan segmen kelompok masyarakat konstituen kandidat yang berperan memperkuat persepsi yang diwujudkan dalam bentuk dua tahapan produk politik tersebut memiliki keterkaitan dengan past records kandidat yang terekam dalam benak pemilih (Nursal, 2004: 153).Tim kampanye juga membentuk image politik yang sama dengan konstituen kandidat pada konstituen partai lain dan non partisan sebagai langkah awal mengenalkan sosok kandidat dalam benak pemilih tersebut. Karena, kondisi kognitif dan afektif pada segmen kelompok masyarakat konstituen partai lain dan non partisan yang berbeda dengan konstituen kandidat maka tim perlu melakukan aktivitas positioning dengan membentuk image politik kandidat secara bertahap. Setelah konstituen partai lain dan non partisan berusaha mengenali sosok Joko Widodo melalui image politik sebelumnya, tim kembali membentuk image politik bahwa Joko Widodo adalah sosok pemimpin yang mewakilkan diri setiap individu dalam masyarakat Jakarta terutama individu yang tergolong konstituen partai lain dan non partisan. Pembentukan image politik ini diperkuat dengan karakter Joko Widodo sebagai pribadi yang sederhana, apa adanya, tulus, ikhlas, dan mengutamakan komunikasi yang humanis dalam berkomunikasi dengan siapa saja. Karakter tersebut dibangun dan ditunjukkan ketika kandidat melakukan kunjungan langsung ke pasar, kawasan tua/kawasan padat, cagar budaya maupun rumah penduduk yang telah ditetapkan sebagai tempat kampanye guna berinteraksi langsung dengan masyarakat untuk mengenal maupun hanya sekedar memperkenalkan diri Joko Widodo kepada basis pemilihnya. Kemudian, tim membentuk image politik selanjutnya bahwa Joko Widodo adalah sosok pemimpin pendengar dan dibutuhkan Jakarta saat itu. Terbentuknya image politik tersebut semakin memungkinkan konstituen partai lain dan nonpartisan mengenal kandidat yang memungkinkan pula terbentuknya persepsi publik atas kelayakan kandidat memimpin Jakarta dalam benak mereka.Positioning politik tidak akan dapat dilakukan tanpa adanya proses penciptaan dan komunikasi politik. Karenanya, ketepatan dan konsistensi yang jelas pada elemen branding, produk politik, dan pesan politik akan membantu tim dalam pembentukan identitas politik kandidat yang kuat dan jelas guna membentuk persepsi publik atas kelayakan Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama memimpin Jakarta dalam benak basis pemilih kandidat yang telah ditetapkan sebagai target audiens. Pesan politik bukan hanya sekedar jargon politik melainkan di dalamnya berisikan tujuan dan harapan yang diberikan kandidat sebagai daya tarik bagi basis pemilih. Dalam marketing politik, strategi pengelolaan dan perancangan pesan merupakan faktor yang perlu diperhatikan oleh tim kampanye dalam melakukan aktivitas branding dengan menonjolkan image politik kandidat sehingga menjadi pembeda dibanding pesaing. Image politik yang bagus di benak basis pemilih akan memberikan efek positif bagi pemilih guna memberikan prioritas keputusan perilaku politik mereka dengan memberikan dukungan suara pada kandidat saat pemilihan umum.Tim kampanye Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama membentuk dan menyampaikan konsistensi pesan politik, yaitu Jakarta membutuhkan perubahan yang dapat diwujudkan dengan Jakarta Bersih, Jakarta Bangkit, dan Jakarta Bersama menjadi Jakarta Baru bersama Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama. Untuk mempercepat dan memperkuat penyampaian pesan politik dalam benak basis pemilih, tim kemudian mewujudkannya dalam tiga produk politik. Core product berupa penjaminan hak masyarakat atas penyelesaian problema Jakarta dan penjaminan keberagaman dalam kebersamaan masyarakat Jakarta, didukung dengan actual product berupa sembilan unggulan dan enam puluh delapan ribu kegiatan pemerintah daerah (PemDa) DKI Jakarta serta augmented product berupa perwujudan perubahan Jakarta dengan Jakarta Bersih, Jakarta Bangkit, dan Jakarta Bersama menjadi Jakarta Baru bersama dengan Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama.Komunikator sebagai orang yang menyampaikan pesan politik juga memiliki peran dan ikut andil pada proses positioning dengan membentuk image politik dan produk politik yang sesuai dengan harapan pemilih. Faktor komunikator yang meliputi kredibilitas dan daya tarik komunikator yang diperoleh dengan adanya etos dan sikap komunikator sangat berperan dalam pembentukan image politik di benak basis pemilih (Effendy, 2007: 38-39). Karena, pemilih akan tertarik dengan suatu hal yang ditawarkan secara politik jika hal tersebut memiliki kedekatan ideologi dengan diri pemilih, yang kemudian dibangun oleh tim dengan merepresentasikan kedekatan ideologis pemilih pada diri Joko Widodo selaku komunikator.Terbentuknya persepsi publik atas kelayakan kandidat memimpin Jakarta di benak basis pemilih menciptakan daya tarik baru sendiri bagi basis pemilih terhadap aktivitas komunikasi tim atas penawaran solusi alternatif penyelesaian problema Jakarta. Daya tarik tersebut dibentuk dan diperkuat tim hingga mampu menciptakan komitmen dalam benak basis pemilih untuk mendukung dan memilih kandidat saat pemilihan umum. Pembentukan komitmen tersebut merupakan bentuk konsistensi image politik, pesan politik, dan produk politik kandidat sehingga mampu meminimalisasi bauran pemasaran price untuk berkomitmen memilih Joko Widodo saat pemilihan oleh basis pemilih, yang kemudian tim dapat meningkatkan manfaat yang diperoleh pemilih atas price tersebut dalam kegiatan pengadaan baju kotak – kotak. Hal ini karena kegiatan pengadaan baju kotak – kotak menciptakan wirausahawan dari masyarakat Jakarta kalangan menengah ke bawah yang ikut serta dan menamakan diri mereka sebagai relawan kandidat. Kegiatan pengadaan baju kotak – kotak semakin memperkuat persepsi publik atas kelayakan Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama memimpin Jakarta. Kelayakan tersebut salah satunya bahwa kandidat adalah pemimpin yang bisa dan mampu membawa perubahan Jakarta khususnya keadaan ekonomi masyarakat Jakarta terutama rakyat kecil sehingga semakin memperkuat terbentuknya bauran pemasaran price di benak pemilih, hingga mampu menciptakan arus besar masyarakat Jakarta akan solidaritasnya mendukung kandidat di setiap kawasan di DKI Jakarta, yang menamakan diri mereka sebagai relawan kandidat.Semua kegiatan yang dilakukan tim guna mengubah opini publik menjadi persepsi publik juga diperlukan perancangan kegiatan promosi dengan penetapan bauran komunikasi pemasaran yang dapat digunakan sebagai sarana untuk menyampaikan image politik, produk politik, dan pesan politik pada pemilih. Pemilihan media perlu dipertimbangkan karena tidak semua media tepat sebagai sarana untuk melakukan promosi. Kandidat perlu memerhatikan dengan seksama dan bijak atas media yang paling efektif dalam mentransfer pesan politik pada masing – masing segmen konstituen kandidat, konstituen partai lain, dan non partisan dalam etnis Jawa, etnis China, dan non muslim. Tim kampanye Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama melakukan promosi terbagi menjadi dua media, yakni above the line dan below the line. Above the line adalah media komunikasi yang digunakan tim kampanye untuk menjangkau basis pemilih terutama masyarakat non partisan, seperti kalangan elit, kalangan profesional, dan sebagainya yang tergolong dalam kalangan menengah ke atas. Tim kampanye menggunakan media massa televisi untuk berkomunikasi dalam penyampaian pesan dengan jangkauan luasnya sehingga komunikasi antara komunikator dan komunikan menjadi lebih efektif dan efisien dalam mencapai tujuan komunikasi strategis. Adapula mediasosial facebook dan twitter yang digunakan tim untuk mengenalkan kandidat dan berbagi informasi terkait dengan kandidat dan produk politik. Sedangkan below the line adalah media komunikasi yang menggunakan personal selling melalui kunjungan langsung sosial tatap muka dan bersama yang dilakukan oleh kandidat untuk berkomunikasi dengan basis pemilih yang terdiri dari tiga kelompok masyarakat, meliputi konstituen kandidat, konstituen partai lain, dan non partisan dalam etnis Jawa, etnis China, dan non muslim. Kunjungan langsung sosial tatap muka dan bersama yang dilakukan di pasar, kawasan padat/kawasan tua, dan cagar budaya dengan diskusi dan kumpul bersama untuk bersilaturahmi dan berkenalan maupun membahas mengenai problema Jakarta dan solusinya. Kunjungan langsung kandidat yang dilakukan secara berkala dan terus menerus semakin memperkuat persepsi publik atas kelayakan kandidat memimpin Jakarta dalam benak basis pemilih. Terbentuknya persepsi publik yang semakin kuat, semakin menciptakan dan memperluas arus besar masyarakat Jakarta untuk mendukung dan memilih kandidat yang kemudian menamakan diri mereka sebagai relawan kandidat. Relawan kandidat berperan sales promotion kandidat yang ikut serta menyampaikan pesan politik kepada basis pemilih kandidat. Adapula stiker merupakan media yang digunakan tim melakukan evaluasi terhadap setiap aktivitas komunikasi strategis yang membantu pemilih untuk menentukan prioritas yang besar di benak basis pemilih atas perilaku politik. Media stiker dipasang pada lingkungan basis pemilih yang telah berkomitmen untuk memilih Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama pada Pemilukada DKI Jakarta 2012.PENUTUPDinamika politik modern dengan masyarakat yang semakin kritis terhadap perkembangan dunia politik menuntut politisi untuk menerapkan cara yang lebih efisien dan efektif dalam berkampanye untuk memenangkan persaingan politik. Marketing politik yang digunakan tim kampanye Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama dalam menghadapi Pemilukada DKI Jakarta 2012, membangun hubungan dua arah yang efisien dan efektif dengan masyarakat Jakarta yang memungkinkan tim untuk mengenal masyarakat dengan baik terutama kantong pemilih. Hubungan tersebut membantu tim dalam proses penyampaian pesan politik dengan menggunakan pengelolaan dan perancangan pesan yang memiliki konsistensi dengan image politik dan produk politik pada masing – masing segmen basis pemilih tim.Marketing politik yang digunakan tim kampanye berperan pada proses membangun dan menciptakan citra politik kandidat melalui tahapan strategi pemasaran dengan konsistensi pada proses branding yang diwujudkan dalam bauran pemasaran. Langkah awal dalam proses strategi pemasaran; segmentasi, membantu tim melakukan pembagian pasar pemilih ke dalamkelompok pemilih yang sesuai etnis pada kelompok masyarakat Jakarta, meliputi konstituen kandidat, konstituen partai lain, dan non muslim untuk dibidik dan ditetapkan tim sebagai kantong pemilih (target audiens). Penetapan audiens mempermudah dalam proses positioning yang berbeda pada masing – masing kelompok masyarakat yang telah ditetapkan sebagai target audiens tersebut guna mencapai tujuan komunikasi strategis tim, yaitu mengubah opini publik menjadi persepsi publik atas kelayakan kandidat memimpin Jakarta. Penyampaian produk politik tim yang terbagi menjadi tiga tahapan; core product, actual product, dan augmented product memungkinkan adanya diferensiasi produk di benak pemilih dibanding produk politik lainnya yang akan semakin memperkuat terbentuknya persepsi publik.Marketing politik membantu tim dalam proses pencapaian tujuan komunikasi tim dengan merancang kegiatan promosi yang diakhiri penetapan bauran komunikasi pemasaran, meliputi personal selling tim kampanye dan kandidat melalui kunjungan langsung pada lingkungan kantong pemilih yang hanya sekedar untuk bersialturahmi dan berkenalan maupun membahas mengenai problema Jakarta dan solusinya, relawan kandidat sebagai sales promotion yang berperan serta dalam membentuk persepsi publik atas kelayakan kandidat memimpin Jakarta pada benak basis pemilih, serta media massa televisi dan media sosial facebook dan twitter sebagai media komunikasi antara kandidat dengan masyarakat Jakarta guna mencapai tujuan komunikasi strategis tim.DAFTAR PUSTAKAArifin, Anwar. (2003). Komunikasi Politik. Jakarta: PT. Balai Pustaka.Baxter, Leslie A., and Earl Babbie. (2004). The Basics of Communication Research. Wadsworth: Thomson.Bryman, Alan. (2008). Social Research Methods (3rd ed.). Oxford University Press.Cangara, Hafied. (2009). Komunikasi Politik. Jakarta: Rajawali Pers.Denzin, Norman K., and Yvonna S. Lincoln. (2009). Handbook of Qualitative Research. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Departemen Pendidikan Nasional. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa (4th ed.). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.Effendy, Onong Uchjana. (1999). Hubungan Masyarakat. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Effendy, Onong Uchjana. (2007). Ilmu Komunikasi & Teori. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Firmanzah. (2007). Marketing Politik. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.Firmanzah. (2008). Mengelola Partai Politik: Komunikasi dan Positioning Ideologi Partai di Era Demokrasi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.Griffin, EM. (2011). A First Look at Communication Theory (8th ed.). New York: McGraw-Hill.Heryanto, Gun Gun., and Irwa Zarkasy. (2012). Public Relations Politik. Bogor: Ghalia Indonesia.Kennedy, John E., dan R. Dermawan Soemanagara. (2009). Marketing Communication: Taktik & Strategi. Jakarta: Bhuana Ilmu Populer.Kriyantono, Rachmat. (2010). Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana.Kotler, Philip, and Gary Amstrong. (2004). Dasar – Dasar Pemasaran Jilid I (9th ed.). Jakarta: PT Indeks.Kotler, Philip, and Gary Amstrong. (2004). Dasar – Dasar Pemasaran Jilid II (9th ed.). Jakarta: PT Indeks.Littlejohn, Stephen W., and Karen A. Foss. (2009). Teori Komunikasi (9th ed.). Jakarta: Salemba Humanika.Moleong, Lexy J. (1991). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Nimmo, Dan. (2005). Komunikasi Politik: Komunikator, Pesan, dan Media. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Newman, Bruce I. (Eds.). (1999). Handbook of Political Marketing. London: SAGE Publications Ltd.Nursal, Adman. (2004). Political Marketing: Strategi Memenangkan Pemilu. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.Percy, Larry. (2008). Strategic Integrated Marketing Communication: Theory and Practice. USA: Elsevier.Perpustakaan Nasional RI Data Katalog Dalam Terbitan (KDT). (2012). Demokrasi Lokal: Evaluasi Pemilukada di Indonesia. Jakarta: Konstitusi Press.Ruslan, Rosady. (2008). Kiat dan Strategi Kampanye Public Relations. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.Severin, Werner J., and James W. Tankard, Jr. (2009). Teori Komunikasi: Sejarah, Metode, & Terapan Di Dalam Media Massa (5th ed.). Jakarta: Kencana.Sulaksana, Uyung. (2003). Integrated Marketing Communications. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Upe, Ambo. (2008). Sosiologi Politik Kontemporer. Jakarta: Prestasi Pustakaraya.Yin, Robert K. (2006). Studi Kasus. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.West, Richard., and Lynn H. Turner. (2008). Pengantar Teori Komunikasi (3rd ed.). Jakarta: Salemba Humanika.Skripsi, Tesis, dan JurnalAttia, Ashraf M. et al. (2011). Commentary: The Impact of Social Networking Tools on Political Change in Egypt’s “Revolution 2.0”. Electronic Commerce Research and Applications, 10 (June): 369-374. New York: Elsevier B.V.Chu, Chih-Chung et al. (2012). The Effect of Advertisement Frequency on the Advertisement Attitude-The controlled Effects of Brand Image and Spokesperson’s Credibility. Procedia – Social and Behavioral Sciences, 57: 352-359. Elseiver Ltd.Lariscy, Ruth Ann Weaver and Spencer F. Tinkham. (1996). Use and Impact of Direct Mail in the Context of Integrated Marketing Communications: U.S. Congressional Campaigns in 1982 and 1990. Journal of Business Research, 37: 233-244. New York: Elsevier Science Inc.Nuriyatul Lailiyah. (2011). Komunikasi Strategis Dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah, Studi Kasus: Kampanye Pasangan Widya Kandi – M. Mustamsikin dalam Pemilihan Bupati Kendal 2010. Tesis. Universitas Diponegoro.Seravica Molasita Mahu. (2010). Marketing Politik Partai Demokrat Dalam Pemilu Legislatif 2009. Skripsi. Universitas Diponegoro.InternetAnggadha, Ary., dan Fajar Sodiq. (2012). Dalam http://metro.news.viva.co.id/news/read/342548-ibunda-jokowi--bang-haji-rhoma-mungkin-khilaf. Diunduh pada 8 Oktober pukul 22.15 WIB.Febriyan. (2012). Dalam http://www.tempo.co/read/news/2012/03/19/214391119/Nasib-Ahok-Dampingi-Jokowi-Masih-Tunggu-Mega. Diunduh pada 1 Desember 2013 pukul 02.21 WIB.Fokoke Jokowi Mantra Ampuh di Jagat Maya. (2012). Dalam http://ahok.org/berita/news/fokoke-jokowi-mantra-ampuh-di-jagat-maya/. Diunduh pada 6 April pukul 10.00 WIB.Hartawan, Tony. (2012). Dalam http://www.tempo.co/read/news/2012/03/19/214391063/Pertemuan-Rahasia-Foke-dan-Calon-Gubernur-Lain. Diunduh pada 1 Desember 2013 pukul 22.30 WIB.Leinad, Sam. (2012). Jokowi Menang Lagi di Twitter. Dalam http://media.kompasiana.com/new-media/2012/09/20/jokowi-menang-lagi-di-twitter-494958.html. Diunduh pada 6 April pukul 10.00 WIB.Noviansyah, Aditia. (2012). Dalam http://www.tempo.co/read/news/2012/07/16/078417190/Dana-Kampanye-Foke-Tujuh-Kali-Lipat-dari-Jokowi. Diunduh pada 1 Desember 2013 pukul 23.00 WIB.Rizal, Ade. (2012). Dalam http://jogja.tribunnews.com/2012/04/05/baju-kotak-kotak-jokowi-jadi-trend/. Diunduh pada 6 April pukul 10.00 WIB.Saut, Prins David. (2012). Dalam http://news.detik.com/read/2012/09/21/013101/2028702/10/jokowi-menangkan-pilgub-dki-karena-jadi-kesayangan-media. Diunduh pada 6 April pukul 10.00 WIB.Sodikin, Amir. (2012). Addie MS Ternyata Pemicu “Fokoke Jokowi”. Dalam http://megapolitan.kompas.com/read/2012/09/26/10010016/Addie.MS.Ternyata.Pemicu.Fokoke.Jokowi. Diunduh pada 6 April pukul 10.00 WIB.Wiwoho, Laksono Hari. (2012). Dalam. http://pilkada.kompas.com/berita/read/2012/09/19/02371093/Peta.Kekuatan.Foke.Versus.Jokowi.2. Diunduh pada 1 Desember 2013 pukul 02.30 WIB.www.lsi.or.id. Diunduh pada 1 Desember 2013 pukul 21.00 WIB.www.lsi.co.id. Diunduh pada 1 Desember 2013 pukul 21.30 WIB.
Video Dokumenter Televisi “Koboy Melukis Pusaka Jawa” Dinanti, Rizka Putra; Setiabudi, Djoko; Winata, I Nyoman
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.722 KB)

Abstract

iVideo Dokumenter Televisi “Koboy Melukis Pusaka Jawa”Karya BidangDisusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikan Pendidikan strata 1Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikPenyusunRizka Putra Dinanti D2C607042JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2013iABSTRAKVideo dokumenter merupakan salah satu produk jurnalistik dalam bentuk audio visual.Terdapat tim yang bekerja dari pra hingga pasca produksi untuk pembuatannya, dokumentarisdalam hal ini menjabat posisi sebagai produser. Pemilihan posisi tersebut merupakan kemauandan kemampuan jurnalis dalam menjalankan proyek dokumenter ini. Dokumentaris berkerjasesuai dengan naskah sekenario yang di buat oleh sutradara. Dokumenter Komunitas KomplotanBocah Wayang (Koboy) yang berjudul “Koboy Melukis Pusaka Jawa” menampilkansekumpulan anak muda yang gemar mengikuti kegiatan pewayangan di Sobokartti. Anak-anakmuda ini bersepakat untuk menggelorakan semangat cinta wayang pada masyarakat Semarangdan menghimpun siapa saja yang berminat terhadap dunia pewayangan. Namun sayangnya tidakbanyak generasi muda yang tertarik kepada wayang kulit. Wayang kulit selama ini identikdengan generasi lama atau orang tua, kuno, serta kolot untuk anak muda saat ini, karena bahasapengantarnya bahasa Jawa yang tidak populer lagi di kalangan generasi muda. Untuk menarikminat generasi muda pada wayang sebagai kesenian tradisional, akhirnya mereka berduaberusaha memberikan inovasi terhadap pewayangan dengan sentuhan kreatif yaitu denganmembuat sebuah wayang kreasi baru, yaitu dengan menggunakan fiber, tekson, kardus, serta ewayangyang bisa diaplikasikan menjadi komik, poster, video animasi, dan yang bersentuhandengan bidang digital teknologi agar bisa lebih mendekatkan dan menarik minat anak mudasekarang.Mereka sangat totalitas dalam menggelorakan semangat cinta wayang padamasyarakat semarang dan menghimpun siapa saja yang berminat terhadap dunia pewayangan,tergambar pada kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Koboy. Dari sekolah ke sekolah merekabawa tongkat estafet budaya wayang yang diwariskan oleh nenek moyang untuk mengenalkankembali ke anak-anak muda saat ini, Koboy menjembatani dengan ketulusan mereka, ketekunanserta semangat dan upaya-upaya agar anak muda semakin mengenal dan bangga serta dapat ikutmenjaga kelestarian seni tradisional wayang dalam wadah komunitas Komplotan Bocah Wayangatau Koboy. Melalui Koboy, diharapkan wayang bisa lebih dekat dengan masyarakat khususnyaanak mudaKata kunci: jurnalis, produser, Wayang, KoboyiABSTRACTVideo documentary is one of audio-visual journalism product . There is a team workingfrom pre to post-production to production, documentary in this case serves as a camerapersonand a concurrent position as editor . The selection of these positions is the willingness and abilityof journalists to carry out this documentary project . Documentary work in accordance with thescenario script made by the director . Komunitas Komplotan Bocah Wayang (Koboy) entitled“Koboy Draws Java’s Heritage” featuring a bunch of young people who love to take part inSobokartti puppet . They are agreed to foster a spirit of love puppets in Semarang and gatherpeople who are interested in the puppet world . But unfortunately not many young people areattracted to the shadow play . Wayang kulit is synonymous with the old generation or the old ,ancient , and old-fashioned for today's youth , because language introduction to the Javalanguage is no longer popular among the younger generation . To attract young people to thepuppet as traditional art , finally they both tried to deliver innovation to the puppet with acreative touch to create a new puppet creations , using fiber , tekson , cardboard , as well as e -puppets that can be applied into comics , posters , video animation , and is in contact with thefield of digital technology in order to get closer and attract young people today .They are very total in spreading spirit of love puppets in Semarang and raise public whoare interested in the puppet world , reflected in the activities undertaken by Koboy . From schoolto school they carry the baton puppet culture inherited by the ancestors to introduce back toyoung kids today, Koboy bridge with their sincerity , passion and perseverance as well as effortsto bring more young people to know and be proud of and care for preservation of traditional artpuppets Komplotan Bocah Wayang or Koboy gang. Through Koboy , puppet is expected to becloser to the public, especially young people .Keywords : Journalist , producer, wayang and Koboy .iBAB IPENDAHULUAN1.1. Latar BelakangKegiatan Jurnalistik sangat berkaitan erat dengan media massa cetak maupunelektronik, karena publikasi di media massa adalah salah satu syarat utama agar sebuahproduk tersebut dapat dikatakan sebagai produk jurnalistik. Media massa elektronik salahsatunya televisi merupakan media massa elektronik yang mampu menyebarkan informasisecara cepat dan mampu mencapai pemirsa dalam jumlah banyak dalam waktubersamaan. Televisi dengan berbagai acara yang ditampilkan telah mampu menarik minatpemirsanya , dan mampu membius pemirsanya untuk selalu menyaksikan berbagaitayangan yang disiarkan televisi. Terlebih lagi TV merupakan media yang menyuguhkantampilan melalui bentuk audio visual (suara dan gambar) sehingga tentunya membuatmasyarakat lebih tertarik kepada televisi daripada media massa lainnya. Banyaknyaaudien televisi mejadikannya sebagai medium dengan efek yang besar terhadap orang,kultur dan juga terhadap media lain. Sekarang televisi adalah media massa dominan(Vivian, 2008:225).Beberapa jenis dan bentuk pengembangan documenter televisi meliputi expositorydocumenter (penutur tunggal narrator), documenter drama, news feature, reality showdan investigasi. Kami sebagai jurnalis ingin mebuat sebuah produk jurnalistik dalambentuk news feature dengan format documenter yang nantinya akan di publikasikanmelalui media televise. Alasan menggunakan format documenter karena kontenididalamnya lebih lengkap, yaitu seperti unsur informasi, ilmu pengetahuan, dan yangdominan unsure hiburan yang kreatif (fachrudin,2012:314).Kami ingin mengangkat salahsatu kesenian tradisional yang mulai terpinggirkan bahkan mulai ditinggalkan oleh anakmuda khususnya adalah kesenian wayang.Wayang selama ini kita kenal sebagaikekayaan budaya jawa.Wayang telah menjadi etos dan pandangan hidup masyarakatjawa.Bahkan wayang menjadi esensi budaya jawa.Bagi masyarakat Jawa, wayangtidaklah hanya sekedar tontonan tetapi juga tuntunan.Wayang bukan hanya sekedarsebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai media komunikasi, media penyuluhan danmedia pendidikan.Wayang telah menjadi asset kebudayaan nasional, maka kewajiban ituberarti terletak di pundak masyarakat Indonesia seluruhnya.Tetapi tentulah masyarakatJawa khususnya yang harus merasa lebih terpanggil untuk nguri-uri kekayaan budayanyayang indah dan sarat nilai-nilai budaya yang adiluhung ini.Berbicara mengenai upaya pelestarian wayang masih terhitung sedikit terutamagenerasi muda. Salah satunya komunitas koboy (komplotan bocah wayang) yangberpusat di Sobokartti yang melakukan kegiatan pelestarian dan pengenalan wayangdengan pelatihan dalang bagi anak maupun remaja dan proses pembuatan wayang denganberbagai medium. Meskipun mereka bukan pelaku seni atau orang yang terlibat dalamkegiatan pewayangan namun kegiatan yang mereka lakukan dengan mengenalkanwayang melalui workshop ke sekolah-sekolah atau tempat-tempat umum, sudah menjadisalah satu cara pelestarian terhadap wayang. Meski hanya workshop, setidaknya kegiatanitu mampu memberi pesan untuk mengenalkan tentang wayang terlebih dahulu kepadaanak-anak dan orang tua, apabila kedepannya wayang tetap tidak diminatipun itu bukanmerupakan kegagalan para koboy, yang terpenting adalah masyarakat yang terutamaianak-anak mengetahui bahwa kita mempunyai peninggalan kebudayaan yang sangatbernilai yaitu wayang. Koboy sangat berperan dalam melestarikan wayang meski tidakmampu meneruskan kebudayaan sebagai pelaku, setidaknya koboy dapat meneruskantongkat estafet kepada generasi muda, yang seharusnya tongkat estafet tersebut dibawaoleh orangtua untuk anak-anaknya namun terbentur orang tua jaman sekarang banyakyang tidak peduli atau malah tidak mengenal tentang pewayangan, maka para orang tuasendiri tidak mampu berperan untuk mengenalkan wayang kepada anak-anaknya didalamsistem pelestarian kebudayaan wayang saat ini.1.2 Kerangka Pemikiran1. Jurnalistik dalam DokumenterJurnalistik didefinisikan sebagai seni dan ketrampilan mencari, mengumpulkan,mengolah, menyusun dan menyajikan berita tentang peristiwa yang terjadi sehari-harisecara indah, dalam rangka memenuhi segala kebutuhan hati nurani khalayaknya,sehingga terjadi perubahan sikap, sifat pendapat, dan perilaku khalayak sesuai dengankehendak para jurnalisnya. (Suhandang, 2004:21).Video dokumenter merupakan sebuah produk jurnalistik berbentuk soft news yangbertujuan untuk pembelajaran dan pendidikan namun disajikan secara menarik (Morrison,2008:211). Sehingga dokumenter pun menjadi salah satu dari sekian media yang dapatdigunakan untuk menyampaikan informasi, pendidikan, pengaruh dan sekaligus hiburanuntuk kahalayak atau cakupan massa. Video dokumenter dapat diputar dan dipertunjukankepada khalayak dan target audience melalui ruang-ruang komunitas maupun secaraimassive yaitu televisi. Televisi sendiri telah menjadi media komunikasi massa yang tidakterpisahkan dengan masyarakat. Masyarakat dari segala usia termasuk di dalamnyaadalah remaja yang sangat akrab dengan televisi. Menurut Vivian (2008:16) televisimerupakan salah satu media yang tidak menuntut audiensnya untuk terlalu aktif , bahkancukup pasif saja (cool media). Media seperti televisi, radio dan film yang diputar padatelevisi merupakan jenis-jenis media yang masuk kedalam kategori itu.2. Gaya Bertutur dan Strukur DokumenterDalam pembuatan dokumenter ini, kami para jurnalis memilih menggunakan gayarekonstruksi pada umunya bentuk ini dapat ditemui pada documenter investigasi dansejarah, termasuk pula pada film etnografi dan antropologi visual. Dalam tipe ini,pecahan-pecahan atau bagian –bagian peristiwa masalampau maupun masa kini disusunatau direkonstruksi berdasarkan fakta sejarah.Pada saat merekonstruksi suatu peristiwa,latarbelakang sejarah, periode, serta lingkungan alam dan masyarakatnya menjadi bagiandari konstruksi peristiwa tersebut.Konsep penuturan rekonstruksi terkadang tidakmementingkan unsur dramatic tetapi lebih terkonsentrasi pada pemaparan isi sesuaikronologi peristiwa (Ayawaila, 2008: 40-43). Diharapkan pembuatan documenter dengangaya rekonstruksi dapat membangunkan kembali pemahaman tentang wayang sebagaiseni tradsisi yang menjadi pusat tatanan nilai dengan nilai-nilai luhur yang terkandung didalamnya.Seperti halnya video documenter koboy ini yang membandingkan kondisikesenian wayang jaman dahulu yang banyak diminati, sertamerupakan sebagai pusatreferensi tatanan nilai dan tatanan hidup, namunberbeda pada saat sekarang ini, padahalwayang dahulu lebih rumit dibanding dengan wayang jaman sekarang yang sudahiberinovasi dari segi cerita dan bahasa agar dapat diterima. Perkembangan jaman denganmunculnya media-media baru, peran wayang sebagaipusat tatanan nilai tergeser olehmedia-media baru tersebut.1.3. Konstribusi KaryaNews feature ini dibuat sebagai tugas akhir untuk persyaratan kelulusan dalam ProgramStudi S-1 jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UNDIP. Selain itu juga dapat dimanfaatkan untuk :1. Media dalam mengenalkan kesenian wayang kepada generasi muda sehingga tumbuhrasa cinta dan bangga generasi muda terhadap kesenian wayang.2. Sarana untuk menumbuhkan kesadaran banyak pihak untuk terlibat dalam upaya menjagaeksistensi kesenian wayang.1.4 Konsep filmBentuk Dokumenter Tematis`Struktur penuturan ini biasanya digunakan apabila fokus cerita adalah sebuah objeklokasi yang merupakan tempat sejumlah orang melakukan aktivitasnya. Seperti halnyaPerkumpulan Koboy dimana merupakan sebagai tempat berkumpulnya para para pencintaatau penggiat kesenian wayang dikalangan anak muda dalam melakukan kegiatankegiatannya,yang berpusat di Sobokartti.Dalam “Koboy Melukis Pusaka Jawa” penceritaan diawali dengan pernyataan-pernyataandari ketiga narasumber mengenai permasalahan semakin terasingnya dan antusiasme yangkurang generasi muda terhadap kesenian wayang, kemudian upaya yang dilakukan olehkoboy untuk menumbuhkan rasa cinta dan bangga di generasi muda terhadap kesenianwayang dan diakhiri dengan pernyataan-pernyataan narasumber mengenai eksistensiikesenian wayang dan upaya-upaya yang dilakukan untuk menarik minat generasi mudaterhadap kesenian wayang.1.7. Personel dan Job DescriptionKarya bidang ini dibuat oleh tim yang terdiri dari 3 mahasiswa dalam sebuah sistem kerjayang dirancang sedemikian rupa untuk penilaian yang independen dalam laporan yangdisusun. Personil dan Job description tersebut sebagai berikut :1. Rizka Putra Dinanti (D2C607042) Producer : Penanggung jawab dalam suatu produksi acara Lobi dengan pihak stasiun televisi untuk penayangan Lobi Narasumber Penanggung jawab anggaran untuk produksi2. Wisnuadi Trianggoro (D2C009129) Juru Kamera (cameraman) : melakukan riset lokasi riset narasumber, riset stockshootkota semarang, melakukan pengambilan gambar wawancara, melakukanpengambilan gambar saat kegiatan objek dokumenter, memindahkan file untukeditor. Editor : bertugas memilih dan menyambung gambar atau siaran audio.3. Yuniawan Eko (D2C009136) Program Director/Sutradara : Orang yang bertanggung jawab dalam mengarahkansuatu proses produksi acara radio atau televisi.i Penulis Naskah/Reporter : Orang yang berprofesi sebagai peliput atau pencari berita,menulis naskah atau melaporkan (to report) suatu event atau peristiwa atau kejadianpada media radio tau televisi. Pra Produksi- Produser melakukan pengurusan izin dan lobi dengan televisi.- Produser melakukan pembuatan janji dengan narasumber dan pemilihan lokasipengambilan gambar.- Produser membuat anggaran biaya produksi.- Produser melakukan pengadaan peralatan produksi. Produksi- Produser mendampingi sutradara dan camera person dalam pengambilan gambar saatmelakukan produksi- Produser memastikan seluruh peralatan produksi sudah lengkap dan memastikankembali seluruh narasumber dapat diwawancarai sekaligus pengambilan gambarnya. Paska Produksi- Produser mempersiapkan seluruh kebutuhan proses editing.- Produser mendampingi sutadara,camera person dan editor selama proses editingberlangsung.iPENUTUPMembuat sebuah film baik itu fiksi ataupun non fiksi diperlukan riset yang matang.Dengan cara mengumpulkan data atau informasi melalui observasi mendalam mengenai subjek,peristiwa, dan lokasi sesuai tema yang akan diangkat. Riset secara mendalam sangat dibutuhkankarena news faeture tidak disajikan dalam sisi estetika saja tetapi juga kelengkapan informasiseusai dengan peristiwa nyata. Secara umum dalam sebuah news features terdapat fakta-faktayang ingin disampaikan dalam bentuk informasi kepada masyarakat. Dalam pembuatan videonews faeture ini mengalami tiga tahap, pra produksi, produksi, dan paska produksi. Berikutbeberapa kesimpulan yang dokumentaris dapatkan selama proses pembuatan news faeture“Koboy Melukis Pusaka Jawa”Kesimpulan1) Pemilihan KOBOY ( Komplotan Bocah Wayang) sebagai subjek utama dalamvideo ini disesuaikan dengan tema yang diangkat yaitu pengenalan wayang sebagaikesenian yang mulai jauh di kalangan generasi muda. KOBOY yang beranggotakananak- anak muda yang memiliki minat dan kepedulian besar terhadap eksistensi wayangdi tengah-tengah generasi muda .Mereka mempunyai komitmen kuat untukmenumbuhkan rasa cinta dan bangga pada generasi muda terhadap kesenian wayang.Pemilihan KOBOY didasarkan pada kesamaan visi yang sama dengan tujuan dibuatnyaivideo News Features ini yaitu berupaya mengenalkan wayang kepada generasi mudasehingga tumbuh rasa cinta dan bangga terhadap wayang.2) Pemilihan Cakra Semarang TV sebagai media yang akan mempublikasikanvideo News Features kami dikarenakan salah satu program di Cakra Semarang TV yaituProgram Sluman-Slumun yang mempunyai kesamaan dengan konten yang kami angkatyaitu upaya pengenalan keberagaman budaya salah satunya wayang. Program Sluman-Slumun sendiri merupakan tayangan yang bercerita mengenai tempat-tempat yangmemiliki history atau sejarah di Semarang dan menceritakan keberagaman budaya yangada di Semarang. Seperti Koboy yang merupakan salah satu komunitas wayang yangberpusat di Sobokartti.3) Pemilihan narasumber dan tokoh utama dalam video News Featuresmempunyai peranan penting. Pihak-pihak yang menjadi narasumber dalam NewsFeatures ini merupakan sosok-sosok yang mempunyai kepedulian yang besar terhadapperkembangan kesenian wayang dan memiliki pemahaman yang baik berkaitan denganupaya-upaya untuk menjaga eksistensi kesenian wayang. Dalam penentuan narasumberdiperlukan riset pendahuluan terlebih dahulu untuk mengetahui kapasitas dan kompetensipara narasumber dalam menjawab permasalahan yang kami angkat.4) Dalam pembuatan News Features ini bahasa yang digunakan bersifat formaldan informatif yang disesuaikan dengan karakteristik audience. Pemilihan bahasaitersebut diharapkan audience bisa memahami makna yang disampaikan dalam NewsFeatures ini
INTERPRETASI KHALAYAK TERHADAP IMPRESSION MANAGEMENT PRABOWO SUBIANTO DALAM IKLAN POLITIK DI TELEVISI Handi Aditia; Hedi Pudjo Santosa; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.775 KB)

Abstract

Interpretasi Khalayak terhadap Impression Management Prabowo Subiantodalam Iklan Politik di TelevisiABSTRAKMenuju pemilu 2014 banyak tokoh politik yang menampilkan diri melaluiiklan politik. Iklan politik di media televisi digunakan sebagai ajang untukmendapatkan simpati dan menciptakan citra positif dari khalayak. Tujuanpenelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana interpretasi khalayak terhadapsosok Prabowo Subianto dalam iklan politik di televisi . Teori yang digunakanyaitu dramaturgi dari Erving Goffman, Information integration, dan ReaderRespon Theory dari Stanley Fish. Tipe penelitian ini adalah deskriptif kualitatifdengan pendekatan fenomenologi. Teknik pengumpulan data dilakukan denganmenggunakan indepth interview kepada delapan informan yang telah dipilih olehpeneliti, yakni khalayak yang pernah menonton iklan politik Prabowo Subianto.Hasil penelitian ini menunjukan bahwa khalayak menilai Prabowomerupakan pemimpin yang tegas, memiliki jiwa kepemimpinan, serta sosokpemimpin yang akan membawa perubahan. Interpretasi khalayak terhadap SosokPrabowo Subianto tidak selalu merujuk pada apa yang ditampilkan oleh iklanpolitik. Dalam memberikan interpretasinya, khalayak mengaitkan sosok Prabowodengan rezim Orde Baru Soeharto, mitos tentang pemimpin yang militeristik,serta khalayak melihat bibit bobot dan bebet yang dimiliki Prabowo. Pemaknaankhalayak terhadap sosok Prabowo dalam iklan politik mampu menimbulkan kesandan citra diri tertentu. Iklan politik Prabowo telah berhasil menimbulkan kesantegas dan citra positif bagi khalayak yang melihatnya. Iklan politik yangditampilkan Prabowo Subianto dapat menciptakan citra positif dan mampumenutupi stigma negatif tentang tuduhan pelanggaran HAM. Selain iklan politikdi televisi, khalayak juga mendapat informasi mengenai sosok Prabowo melaluibuku-buku, media sosial, dan interaksi sosial yang menjadi referensi sikap politik.Hal tersebut dapat merubah sikap ataupun justru menguatkan sikap khalayakterhadap tokoh politik.Kata kunci: pemaknaan khalayak, Impression Management, iklan politikIndonesia.Audience interpretation of the Impression Management Prabowo Subianto inPolitical Advertising on TelevisionABSTRACTTowards the 2014 elections many politicians who present themselves throughpolitical advertising. Political ads in the media television used as an event to getcommiserate and create a positive image of the audience. The purpose of thisstudy was to determine how the interpretation of the audience to figure Prabowoin political advertising on television. The theory used is the dramaturgy of ErvingGoffman, Information integration, and Reader Response Theory of Stanley Fish.Type of this research is a descriptive qualitative with phenomenology approach.Data was collected using in-depth interview to eight informants who had beenchosen by the researcher, the audience who have seen the political ads Prabowo.These results indicate that the audience judge Prabowo is the leader of the firm,has leadership qualities, as well as a leader who would bring change.Interpretation of the audience to figure Prabowo not always refer to what isdisplayed by political ads. In providing interpretation, audience associate Prabowofigures with the New Order regime of Soeharto, the myth of the militaristicleaders, and audiences seeing the “bibit, bebet, bobot” owned Prabowo. Thedefinition of the audience against the figure of political ads capable of Praboworaises certain impressions and self-image. Prabowo political advertising firm hasmanaged to create an impression and a positive image for the audience to see it.Prabowo political advertising can create a positive image and are able to cover thenegative stigma about allegations of human rights violations. In addition topolitical advertising on television, audiences also get information about the figurePrabowo through books, social media, and social interaction that references thepolitical attitudes. It can change attitudes or even strengthen public attitudestoward political figuresKeywords : interpretation of audience, Impression Management, Indonesianpolitical adsInterpretasi Khalayak terhadap Impression Management Prabowo Subiantodalam Iklan Politik di TelevisiLatar BelakangMendekati pemilu legislatif dan pemilu presiden 2014, partai politik dantokoh-tokoh nasional mulai menampilkan diri di media massa. Media massa cetakdan elektronik sering dimanfaatkan partai politik, calon anggota legislatif, danjuga calon presiden sebagai alat penyampaian pesan-pesan politik. Salah satumedia penyampaian pesan-pesan politik itu adalah iklan yang sering disebut iklanpolitik.Prabowo Subianto dengan kendaraan politiknya Partai Gerakan IndonesiaRaya (Gerindra) memanfaatkan media massa dalam menyampaikan pesanpolitiknya. Partai Gerindra, juga merupakan salah satu partai yang memanfaatkankekuatan media iklan untuk mendapatkan simpati dari masyarakat. Partai yangberseberangan dengan pemerintah saat ini dalam iklannya, sering menampilkanPrabowo Subianto sebagai pemimpin yang bersih, tegas dan mampu menjawabsegala permasalahan pemerintah saat ini. Prabowo dalam partai Gerindramenjabat sebagai pembina dan dicalonkan sebagai presiden RI periode 2014-2019oleh Partai Gerindra. Untuk meningkatkan elektabilitasnya maka dibuat berbagaiiklan Gerindra dengan melibatkan langsung tokoh Prabowo agar masyarakatmengenal dan dekat dengan Prabowo.Pencalonan Prabowo Subianto sebagai presiden periode 2014-2019menuai kontroversi dari berbagai pihak. Hal ini disebabkan karena track recordyang dimiliki Prabowo buruk, yakni pada tahun 1990an dimana Prabowo menjadiKomandan Kopassus diduga terlibat sejumlah kasus Hak Azasi Manusia (HAM)seperti penculikan dan pembunuhan aktivis pro-demokrasi.Meskipun diduga terlibat kasus pelanggaran HAM berat seperti penculikandan pembunuhan aktivis pro-demokrasi, hingga saat ini Prabowo Subianto justrumemiliki elektabilitas yang tinggi dibandingkan calon presiden lainnya.Hal iniditunjukkan melalui survey Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang terbaru yaknipada tahun 2013.Dari hasil survei yang dilakukan pada 1 sampai 8 Maret 2013mayoritas masyarakat memilih Partai Golkar dengan perolehan suara 22,2 persen,dilanjutkan dengan PDI Perjuangan 18,8 persen, Demokrat 11,7 persen, Gerindra7,3 persen, dan Nasdem 4,5 persen.Dari hasil survei bursa calon presidenMegawati masih menempati posisi teratas dengan perolehan 20,7 persen, AburizalBakrie 20,3 persen, Prabowo Subianto 19,2 persen, Wiranto 8,2 persen, HattaRajasa 6,4 persen, Ani Yudhoyono 2,4 persen, Surya Paloh 2,1 persen.(http://news.okezone.com/read/2013/03/17/339/777081/survei-lsi-parpol-capresberbasis-agama-tak-laku. Diunduh pada 21 April 2013).Keberhasilan iklan partai Gerindra yang ditampilkan dalam media massaditunjukkan oleh survey terbaru dari Lingkaran Survei Indonesia (LSI). Dimanapartai Gerindra masuk dalam empat besar parpol dengan presentase naik hampirdua kali lipat dari pemilu sebelumnya menjadi 7,3 persen dan capres yangdiusungnya dalam hal ini Prabowo menduduki peringkat 3 teratas bursa calonpresiden favorit dengan hanya selisih 1% saja. Dari hasil tersebut,mengindikasikan bahwa dengan adanya iklan yang ditampilkan dalam mediamassa berhasil membentuk opini publik yang positif terhadap prabowo, sehinggadapat meningkatkan elektabilitas partai dan tokoh Prabowo sebagai calon presiden2014.Dengan melihat data dan contoh di atas menunjukkan bahwa mediatelevisi merupakan media yang banyak digunakan oleh pengiklan sebagai alatuntuk mempromosikan produknya. Televisi saat ini merupakan salah satu darimedia massa elektronik yang banyak dipilih oleh pengiklan untuk melakukanpromosi dan menunjang popularitas, dikarenakan sifat dari televisi itu sendiriyang mampu menampilkan gambar audio dan visual yang bergerak, sehinggalebih menarik bila dibandingkan dengan media yang lainnya. Televisi adalahmedia massa yang merakyat dengan kemampuan publikasi maksimal. Melihatbegitu besarnya pengaruh televisi, maka televisi dijadikan sebagai salah satumedia iklan untuk mendongkrak popularitas Prabowo Subianto untuk maju dalampemilihan presiden 2014.Kerangka Teori dan MetodologiDalam kehidupan masyarakat iklan telah mendapatkan tempat dalammenyampaikan pesannya. Iklan menggambarkan tipe atau bentuk pengumumanpublik apa pun yang dimaksudkan untuk mempromosikan penjualan komoditasatau jasa spesifik, atau untuk menyebarkan sebuah pesan sosial atau politik(Danesi, 2010: 362). Berkaitan dengan perilaku politikus dalam iklan di mediayang mempresentasikan diri sedemikian rupa sehingga layak untuk dipercaya dandipilih, merupakan fenomena tersebut adalah perspektif dramaturgis dari ErvingGoffman.Dalam memberikan pemaknaan tentang sebuah naskah, Seseorang tidakmemutuskan dengan sewenang-wenang tentang makna sebuah naskah denganmengikuti sebuah pendekatan konstruksionis sosial, Stanley Fish mengajarkanbahwa pembaca merupakan anggota dari komunitas interpretif, kelompok yangsaling berinteraksi, membentuk realitas dan pemaknaan serta menggunakannyadalam pembacaan atau pemaknaan mereka sendiri (Littlejohn dan Foss, 2009:196-197).Teori integrasi informasi digunakan dalam penelitian ini untukmengetahui, memahami, dan mempelajari sesuatu merupakan suatu sisteminteraksi yang mana informasi memiliki potensi mempengaruhi kepercayaan atausikap individu. Suatu sikap merupakan kumpulan informasi mengenai suatuobjek, orang, situasi atau pengalaman. Setiap perubahan sikap dipandang sebagaiproses penambahan informasi atau perubahan penilaian terhadap kebenaraninformasi. Namun, setiap satu informasi biasanya tidak akan langsungmemberikan pengaruh pada sikap karena sikap terdiri atas sejumlah kepercayaanyang dapat menolak informasi baru (Littlejohn,2009:111-112).Adanya interpretasi yang beragam dari khalayak, dapat dipengaruhi daripengalaman dan latar belakang sosial mereka yang berbeda-beda. Mulai daritingkat pendidikan, usia, dan pengalaman mereka masing-masing. Dalam hal iniiklan politik di televisi berkaitan erat dengan khalayak, dalam hal ini khalayakadalah sebagai penerima pesan yang disampaikan oleh media. Khalayak jugasebagai pencipta makna atas pesan-pesan di produksi dari mediaPenelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan paradigmainterpretif. Penelitian kualitatif ditujukan untuk memahami fenomena-fenomenadari sudut perspektif informan. Penelitian deskriptif kualitatif bertujuan untukmembiarkan pembaca mengetahui apa yang terjadi dalam penelitian yang terkait,seperti apa menurut sudut pandang peserta (subjek penelitian dan kejadian tertentuyang ada dalam penelitian yang terkait).Pendekatan penelitian dalam penelitian ini adalah pendekatanfenomenologi. Hal yang ditekankan oleh kaum fenomenologis ialah aspeksubjektif dari interpretasi individu. Mereka berusaha untuk masuk ke dalam duniakonseptual para subjek yang ditelitinya sedemikian rupa sehingga merekamengerti apa dan bagaimana suatu pengertian yang dikembangkan oleh mereka disekitar peristiwa dalam kehidupan sehari-hari (Moleong, 2007: 17). Penelitiankualitatif dengan fenomenologi, membantu mencari informasi tentang bagaimanapengalaman yang dialami oleh subjek penelitian dalam mengintrepetasikan iklanpolitik calon presiden, yang merujuk pada pengalaman dan pengetahuan tentangsosok calon presiden dalam iklan tersebut.HasilSetelah peneliti memaparkan kesimpulan (summary) dan implikasi hasilpenelitian, langkah terakhir dalam fenomenologi adalah pemaparan hasil(outcomes) penelitian. Hasil penelitian mengenai interpretasi khalayak terhadapsosok Prabowo Subianto dalam iklan politik, menunjukan bahwa mayoritaskhalayak menilai Prabowo merupakan pemimpin yang tegas, memiliki jiwakepemimpinan, serta sosok pemimpin yang akan membawa perubahan. SehinggaIklan politik Prabowo Subianto telah berhasil menciptakan citra positif PrabowoSubianto.KesimpulanBerdasarkan hasil temuan penelitian di lapangan dan sintesis makna yangtelah dilakukan, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:1. Interpretasi khalayak terhadap Sosok Prabowo Subianto tidak selalu merujukpada apa yang ditampilkan oleh iklan politik. Khalayak mengaitkan Prabowodengan rezim Orde Baru Soeharto, mitos tentang pemimpin militeristik, sertamelihat bibit bobot dan bebet yang dimiliki Prabowo. Kedekatan Prabowodan Soeharto membuat khalayak menilai Prabowo memiliki sifat yang samadan akan menunjukkan kepemimpinan yang sama ketika memimpin. Caraberpikir khalayak masih menganggap bahwa sosok pemimpin yang berasalmiliter memiliki sifat ketegasan dalam memiliki jiwa kepemimpinan. TradisiJawa yang melihat bibit, bobot dan bebet seseorang, tampak juga digunakanoleh khalayak dalam melihat tokoh politik yang maju sebagai calon presiden.Keyakinan khalayak terhadap sosok Prabowo, salah satunya dengan melihatbibit dan bobot yang dimiliki oleh Prabowo yang dirasa berasal dari keluargayang terpandang dan intelektual2. Pemaknaan informan terhadap sosok Prabowo dalam iklan politik mampumenimbulkan kesan dan citra diri tertentu. Iklan politik Prabowo telahberhasil menimbulkan kesan tegas dan citra positif bagi khalayak yangmelihatnya. Iklan politik Prabowo Subianto mampu mempengaruhi khalayakuntuk menciptakan citra positif Prabowo Subianto yang mampu menutupistigma negatif tentang tuduhan pelanggaran HAM.3. Khalayak menggunakan media lain sebagai sarana penambahan informasi.Selain iklan politik di televisi yang diterima khalayak, melalui buku-bukuyang menjadi referensi sikap politik, media sosial, interaksi sosial secaralangsung membuat khalayak mendapat penambahan informasi yang dapatmerubah sikap ataupun justru menguatkan sikap khalayak terhadap tokohpolitik.Daftar PustakaBurton, Graeme. (2008). Yang Tersembunyi Di Balik Media. Yogyakarta:JalasutraCangara, Hafied. (2009). Komunikasi Politik Konsep, Teori, Dan Strategi.Jakarta: Rajawali PressDanesi, Marcel. (2010). Pesan, Tanda, Dan Makna. Yogyakarta: JalasutraEffendy, Heru. (2008). Industri Pertelevisian Indonesia. Jakarta: ErlanggaKuswarno, Engkus. (2009). Fenomenologi. Bandung: Widya PadjajaranLittlejohn, Stephen W dan Karen A. Foss. 2005. Teori Komunikasi. (Terj.)Jakarta: Salemba HumanikaLittlejohn, Stephen W dan Karen A. Foss. 2009. Teori Komunikasi.( Terj.).Jakarta: Salemba HumanikaMoleong, Lexi J. (2007). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT RemajaRosdakaryaNimmo, Dan. (2005). Komunikasi Politik Komunikator, Pesan dan Media.Bandung: PT Remaja RosdakaryaPatton, Michael Quinn. (2006). Metode Evaluasi Kualitatif. Yogyakarta: PustakaPelajarSukmadinata, Nana Syaodih. (2009). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PTRemaja RosdakaryaWinarni. (2003). Komunikasi Massa: Suatu Pengantar. Malang: UMM PressSkripsi:Wibowo,Radityo Ari. (2011). Analisis Resepsi Individu Mengenai Citra DiriPrabowo Subianto Dalam Iklan HKTI, APPSI, Dan Partai Gerindra. Skripsi.Universitas DiponegoroInternet:Ramadhian Fadillah. (2011). Jenderal 08 Tak Kapok Dipecundangi. Dalamhttp://news.detik.com/read/2011/11/14/111757/1766824/159/jenderal-08-takkapok-dipecundangi. Diunduh pada tanggal 21 April 2013Susi Fatimah. (2013). Survei LSI, Parpol & Capres Berbasis Agama Tak Laku.Dalam http://news.okezone.com/read/2013/03/17/339/777081/survei-lsi-parpolcapres-berbasis-agama-tak-laku. Diunduh pada tanggal 21 April 2013LSI. (2009).“SILENT REVOLUTION”: Media dan Kekuatan Parpol MenujuPemilu 2009. Dalam http://www.lsi.or.id/riset/348/silent-revolution-kampanyekompetisi-caleg-dan-kekuatan-partai-menjelang-pemilu. Diunduh pada tanggal 23April 2013Eko Priliawito, Fadila Fikriani Armadita.(2009). Iklan Gerinda Paling DiingatMasyarakat.Dalamhttp://politik.news.viva.co.id/news/read/46559iklan_gerinda_paling_diingat_masyarakat. Diunduh pada tanggal 21 April 2013
Hubungan Antara Terpaan Tweet Iklan pada Akun Twitter @infotembalang dan Brand Awareness @CalzoneUp dengan Minat Beli Masyarakat Sofi Kumala Fatma; Tandiyo Pradekso; Djoko Setiabudi
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.007 KB)

Abstract

NAMA : SOFI KUMALA FATMANIM : D2C009113JUDUL : HUBUNGAN ANTARA TERPAAN TWEET IKLAN PADAAKUN TWITTER @INFOTEMBALANG DAN BRANDAWARENESS @CALZONEUP DENGAN MINAT BELIMASYARAKATABSTRAKPemanfaatan media sosial khususnya Twitter saat ini bukan hanya sebagai saranaberkomunikasi, melainkan juga sebagai media untuk keperluan pemasaran.@infotembalang di sini merupakan salah satu dari sekian banyak akun Twitteryang banyak dilirik brand lokal, yang digunakan untuk menawarkan produkmereka. Salah satu brand lokal yang menggunakan jasa @infotembalang yaitu@CalzoneUp. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tweetiklan pada akun Twitter @infotembalang dan brand awareness @CalzoneUpdengan minat beli masyarakat.Adapun variabel yang diteliti adalah terpaan tweet iklan sebagai variabelindependen (X), brand awareness sebagai variabel intervening (Z) dan minat belisebagai variabel dependen (Y). Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaituTeori Advertising Exposure dan Hierarchy of Effect Model. Penelitian inimenggunakan metode kuantitatif dengan jenis penelitian eksplanatif(eksplanatory), dimana data yang digunakan adalah data primer dan sekunder.Data primer diperoleh melalui survei dengan menggunakan kuesioner yangdisebarkan kepada 100 responden dengan teknik random sampling. Untukmenjawab permasalahan yang terdapat dalam perumusan masalah, penelitian inimenggunakan Uji Korelasi Rank Kendall sebagai teknik analisis data.Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa banyak responden mendapatterpaan rendah dan tidak mengetahui tentang brand @CalzoneUp. Kurangnyapemanfaatan “jam publik” diduga menjadi penyebab mengapa respondenmendapat terpaan rendah dan tidak mengetahui tentang brand. Meskipundemikian, responden memiliki minat beli yang tinggi terhadap brand. Hal inididuga dipengaruhi oleh faktor lain di luar terpaan tweet iklan yang tidak dapatdijelaskan dalam penelitian ini. Hasil uji korelasi menunjukkan bahwa terdapathubungan yang positif antara terpaan tweet iklan dengan brand awareness. Begitupula dengan hubungan antara brand awareness dengan minat beli, terdapathubungan yang positif. Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi terpaantweet iklan maka brand awareness akan semakin tinggi, dan semakin tinggi brandawareness maka minat beli pun akan semakin tinggi.Kata kunci: twitter, media sosial, terpaan tweet iklan, brand awareness, minatbeli.NAMA : SOFI KUMALA FATMANIM : D2C009113JUDUL : THE CORRELATIONS BETWEEN ADVERTISINGTWEET EXPOSURE ON @INFOTEMBALANG TWITTERACCOUNT AND @CALZONEUP’S BRAND AWARENESSWITH PUBLIC BUYING INTERESTABSTRACTThe use of social media especially Twitter today is not only for communication,but it is also used as a medium for marketing purposes. @infotembalang is one ofmany Twitter accounts that local brand ogled as a medium that can be used tooffer their products. One of those local brands is @CalzoneUp. The purposes ofthis study are to determine the correlations between advertising tweet exposure on@infotembalang Twitter account and @CalzoneUp’s brand awareness with publicbuying interest.The variables are advertising tweet exposure as an independent variable (X),brand awareness as intervening variable (Z), and buying interest as the dependentvariable (Y). The theories used in this study are Advertising Exposure Theory andHierarchy of Effect Model. This study uses quantitative method with explanatoryresearch, that uses primary and secondary data. Primary data is obtained by asurvey using questionnaire that is distributed to 100 respondents by probabilityrandom sampling. To answer the issues contained in the statement of the problemin this study, it uses Rank Kendall Correlations as data analysis technique.Based on this research, it is known that many respondents received lowexposure and did not know about the brand of @CalzoneUp. The lack of the useof "public hours" is suspected to be the cause why the respondent gets lowexposure and do not know about the brand. Nonetheless, respondents have highbuying interest towards the brand. They presume it is influenced by other factorsoutside advertising tweets exposure that can not be explained in this study. Theresults of correlation test showed that there is a positive relationship betweenadvertising tweets exposure with brand awareness. Similarly, the relationshipbetween brand awareness with buying interest, a positive relationship exists. Itcan be concluded that the higher of advertising tweet exposure, the brandawareness will be higher, and the higher the brand awareness, then buying interestwill be higher.Keywords: twitter, social media, advertising tweet exposure, brand awareness,buying interestPENDAHULUANSosial media merupakan media online yang awalnya berfungsi untukmembuat penggunanya dapat saling berbagi informasi. Di ranah media baru,terdapat beberapa situs social media yang kontennya diciptakan dandidistribusikan melalui interaksi sosial. Sosial media bisa diterjemahkan menjadikomunikasi dari banyak orang ke banyak orang sejak penggunanya jugamerupakan sumber konten informasi (Straubhaar, LaRose, Davenport, 2012: 20).Seiring berjalannya waktu, sosial media juga turut serta berperan dalampemasaran produk. Sosial media yang saat ini sedang banyak digunakan untukaktivitas pemasaran yaitu twitter. Berdasarkan data pada Tahun 2012 lalu(http://semiocast.com/publications/2012_07_30_Twitter_reaches_half_a_billion_accounts_140m_in_the_US), Indonesia menjadi negara ke-5 dengan jumalahpengguna twitter terbanyak, di bawah US, Brazil, Jepang, dan Inggris.Melihat keadaan tersebut tentunya Twitter menjadi sosial media yangpotensial untuk mengembangkan pemasaran produk. Di Indonesia, beberapabrand besar yang telah menggunakan Twitter sebagai salah satu media promosiyaitu Nutrisari (@NutrisariID), Acer (@acerID), dan XL (@XL123). Tak hanyabrand besar, bahkan usaha yang baru berkembang pun dapat menjadi besar karenakeberadaan Twitter, seperti yang terjadi pada bisnis camilan keripik pedas, Maicih(@infomaicih). Meskipun telah menggunakan twitter sebagai media promosi dankomunikasi kepada konsumen, beberapa brand juga menggunakan fasilitas tweetberbayar menggunakan akun-akun yang dianggap sebagi influencer atau buzzer.Tweet berbayar atau dalam bahasa Inggrisnya disebut dengan paid to tweetmerupakan suatu istilah bagi tweet yang mengandung konten promosi suatu merektertentu.Salah satu akun twitter yang menjadi influencer di Semarang yaitu@infotembalang. Akun ini memiliki followers 15.655 (17 Juli 2013), memilikifokus untuk menyebarkan informasi yang secara khusus berkaitan dengan daerahTembalang serta secara umum berkaitan dengan Kota Semarang. Selain memilikiakun di twitter, @infotembalang juga hadir dalam bentuk web yaituwww.infotembalang.co serta majalah yang terbit setiap bulan dan dibagikansecara gratis. Informasi yang disebarkan oleh @infotembalang yaitu mulai darilalu lintas, event, cuaca, hingga pertanyaan-pertanyaan acak dari followers-nyayang ada di sekitaran Tembalang.Lokasi Tembalang yang dikenal sebagai kawasan kampus membuatsekitaran Tembalang banyak muncul usaha-usaha baru yang sedang berkembang.Hal inilah yang kemudian juga dimanfaatkan oleh @infotembalang. Melalui akuntwitternya, @infotembalang, menginformasikan kepada followers-nya tentangtempat-tempat yang ada di Tembalang, di antaranya cafe, boutique, counterhandphone, bahkan hingga berbagai info kos, kotrakan, dan lowongan kerja yangada di Tembalang.Setiap harinya @infotembalang memberikan tweet promo/iklan untuksekitar 2-3 produk. Tweet ini menyangkut tentang menu, lokasi produk, sertapromo-promo terbaru yang diberikan oleh produk tersebut. Tentunya terpaantweet promo melalui akun @infotembalang akan berhubungan pada pengetahuanfollowers-nya terhadap produk yang diiklankan. Pengetahuan ini mencakup dalambrand awareness yaitu kesanggupan seorang calon pembeli untuk mengenali ataumengingat kembali bahwa suatu merek merupakan bagian dari kategori produktertentu (Rangkuti, 2004:39). Brand awareness merupakan bentuk palingsederhana dari pengetahuan akan suatu merek yang merupakan kesadarankonsumen akan suatu merk. kemampuan ini menyangkut bagaimana dariseseorang yang merupakan calon pembeli (potential buyer) untuk mengenali(recognize) suatu merek merupakan bagian dari suatu kategori produk. Brandawareness merupakan ukuran eksistensi merek dibenak pelanggan yangmencakup brand recognition (merek yang pernah diketahui pelanggan, brandrecall (merk yang diingat pelanggan untuk suatu kategori produk tertentu), top ofmind (merk pertama yang disebut pelanggan terhadap suatu kategori produktertentu, hingga dominant brand (satu-satunya merk yang diingat pelanggan)(Aaker, 1991:61).Sebagai kawasan kampus yang padat dengan mahasiswa, usaha rumahmakan menjadi usaha yang dominan di Tembalang. Segala menu tersedia, mulaidari menu Indonesia, oriental, hingga menu western. Melihat banyaknya usahatempat makan, tentunya penting bagi pengusaha untuk meningkatkan pengetahuanpelanggannya tentang produknya. Brand awareness yang tinggi akan berpengaruhkepada minat beli bahkan kepada pembelian karena pembeli cenderung akanmembeli produk dengan merk yang telah dikenalnya (Durianto, Sugiarto, &Sitinjak, 2004: 54).Adanya terpaan tweet iklan melalui @infotembalang ditambah denganbrand awareness yang dimiliki seseorang, tentunya akan mengarah padapembelian. Sebelum proses pembelian ini terlaksana, terlebih dulu timbulkeinginan dari dalam diri seseorang untuk membeli suatu produk yang disebutdengan minat beli. Minat beli adalah keinginan seseorang untuk membeli terhadapsuatu produk timbul karena adanya dasar kepercayaan terhadap produk yangdiiringi dengan kemampuan untuk membeli produk. Selain itu, minat beliterhadap suatu produk juga dapat terjadi dengan adanya pengaruh dari orang lainyang dipercaya oleh calon konsumen. Minat beli juga dapat timbul apabilaseorang konsumen merasa sangat tertarik terhadap berbagai informasi seputarproduk yang diperoleh melalui iklan, pengalaman orang yang telahmenggunakannya, dan kebutuhan yang mendesak terhadap suatu produk(Simamora, 2001:106).Penelitian ini menggunakan teori Advertising Exposure (Aaker, Batra &Myers, 1996:48), dimana apabila audiens terkena terpaan iklan maka akanmenciptakan perasaan dan sikap tertentu terhadap merek yang kemudianmenggerakkannya untuk membeli produk. Teori ini menunjukkan proses yangterjadi setelah konsumen mengalami terpaan iklan. Proses yang terjadi adalahpertama, terpaan iklan akan menciptakan brand awareness dalam benak audiensyang membuat konsumen merasa familiar. Kedua, audiens akan mendapatkaninformasi mengenai keuntungan, sifat atau atribut dari merk. Ketiga, melaluipenggunaan berbagai eksekusi, iklan dapat menciptakan image terhadap merek,yang disebut brand personality. Keempat, iklan akan menghasilkan perasaankepada audiens untuk mengasosiakan sesuatu terhadap merk (brand asosiation).Kelima, iklan dapat menciptakan kesan bahwa merek disukai oleh reference groupaudiens. Kelima proses ini dapat menciptakan perasaan sesuatu atau sikapterhadap brand yang menggerakkan konsumen untuk membeli produk. Namuntidak berarti kelima tahapan harus terpenuhi terlebih dahulu hingga akhirnyatimbul minat beli atau pembelian. Artinya audiens bisa mempunyai minat beliatau melakukan pembelian hanya dengan melewati tahapan pertama saja tanpaharus berlanjut ke tahap selanjutnya.Teori Advertising Exposure ini didukung dengan Model Hierarchy OfEffect (Belch and Belch, 2007:157) yang menyatakan bahwa terdapat beberapatahapan mental pada konsumen setelah terkena terpaan iklan suatu produk,sampai pada saat ia memutuskan untuk membeli produk tersebut. Hierarchy ofeffect model menjelaskan bagaimana cara kerja iklan. Dengan mengasumsikanbahwa konsumen melewati serangkaian langkah secara berurutan dari kesadaranawal dari suatu produk atau jasa dalam proses pembelian. Sebuah premis dasarmodel ini adalah bahwa efek iklan terjadi selama periode tertentu. Iklan tidakdapat mempengaruhi pembelian secara langsung melainkan melalui serangkaianefek yang harus terjadi terlebih dahulu. Setiap tahapan harus dipenuhi sebelumkonsumen dapat berpindah pada tahapan berikutnya dalam hirarki (Belch &Belch, 2007:156).Tipe penelitian ini adalah tipe penelitian eksplanatif dengan metode survey,dimana metode ini berusaha untuk mengevaluasi hubungan dua atau lebihvariabel. Populasi yang digunakan yaitu followers dari akun @infotembalang.Sedangkan sampel yang digunakan adalah random sampling, menggunkan tekniksimple random sample, dan dengan menggunakan rumus slovin dengan tingkatkesalahan sebesar 10%, jumlah sampel sebesar 100 responden. Validitasdilakukan dengan mengkonsulkan teori yang digunakan dan instrumen kepadapara ahli, jika menggunakan spss dapat melalui correlated item – totalcorrelation, sedangkan untuk reabilitas menggunakan uji coba kepada 30responden dan menggunakan uji crocobanch alfa. Teknik analisis datamenggunakan Koefisien Korelasi Rank Kendall. Pertama yaitu menguji tingkathubungan antara terpaan tweet iklan (X) dengan brand awareness. Selanjutnyayaitu menguji tingkat hubungan antara brand awareness dengan minat beli.ISIPada terpaan tweet iklan diukur dengan menggunakan frekuensi danpengetahun audiens terhadap tweet tentang @CalzoneUp yang dilakukan oleh@infotembalang. Audiens yang sungguh-sungguh tentunya memberikan perhatianyang lebih besar, selain itu auidens juga memberikan pemikiran dan perasaanyang lebih seksama terhadap isi pesan sehingga memungkinkan pengaruh terpaanlebih mendalam sedangkan orang yang menonton dengan frekuensi yang lebihtinggi tetapi tidak memiliki kesungguhan tentu saja akan memberi pengaruh yangberbeda pula.Temuan di lapangan, hanya 5% responden yang mendapat terpaan tinggi.Ditambah lagi dengan intensitas responden dalam mengakses twitter yangtergolong rendah, yaitu paling banyak responden hanya 1 – 3 jam setiap harinya.Sedangkan @infotembalang sendiri melakukan tweet selama lebih dari 10 jamsetiap hari. Tentu saja hal ini dapat menjadi penyebab utama mengapa banyakresponden yang tidak melihat tweet tentang @CalzoneUp di akun@infotembalang. Jam tayang tweet iklan tentang @CalzoneUp juga turut berperankarena meskipun tayang pada sekitar jam makan siang, belum tentu pada waktutersebut banyak followers @infotembalang yang melihat tweet iklan tersebut.Kelebihan Twitter sebagai media sosial yang real time justru menjadi kelemahankarena timeline yang cepat bergerak (berubah) sehingga membuat tweet dari@infotembalang “tertumpuk” oleh puluhan atau bahkan ratusan tweet dari akunlain.Sebagai brand baru, tujuan utama @CalzoneUp beriklan di @infotembalangadalah untuk meningkatkan brand awareness di kalangan calon konsumennya.Namun sayangnya upaya @CalzoneUp untuk meningkatkan brand awareness-nyabelum dapat terwujud. Karena berdasarkan penelitian ini hanya 13% dari 100responden yang memiliki brand awareness tinggi terhadap @CalzoneUp. Dimana responden menyebutkan @CalzoneUp sebagai kedai makan yangmenyediakan menu western nomor satu yang ada dalam benak mereka. Tentunyabrand awareness yang rendah terhadap @CalzoneUp dapat dipengaruhi olehbanyak hal. Salah satunya yaitu karena sedikit responden yang mendapat terpaanyang tinggi tentang @CalzoneUp. Persaingan yang ketat dengan beberapa brandyang telah lebih dulu ada juga turut mempengaruhi rendahnya brand awareness@CalzoneUp. Keunikan menunya, calzone, belum cukup memberikan pengaruhpada brand awareness @CalzoneUp.Pada penelitian yang dilakukan oleh Carol Chapman ( Brand Awareness:It’s All A Twitter, 2012) (Bab I hal 12) membahas bagaimana meningkatkanbrand awareness melalui Twitter, salah satu langkahnya yaitu dengan melihat jam“publik” (waktu aktif followers). Hal ini yang nampaknya belum dilakukan secaraoptimal oleh @infotembalang ketika mempromokan @CalzoneUp. Sehinggahanya sedikit followers yang pada akhirnya melihat tweet tentang @CalzoneUpdan brand awareness yang besar pun belum tercapai.Meskipun demikian, terdapat hubungan yang positif di antara keduanya.Sehingga semakin tinggi terpaan tweet iklan pada @infotembalang akan semakinbesar pula brand awareness @CalzoneUp. Di mana berdasarkan pada TeoriAdvertising Exposure (Bab 1, hal 18) brand awareness merupakan hal yangpertama kali ditimbulkan oleh terpaan iklan. Sehingga sudah seharusnya jikaterpaan tweet iklan mempunyai hubungan yang positif dengan brand awareness.Tanpa hubungan yang positif, terpaan iklan tidak akan dapat menggerakkanaudiens untuk membeli produk (sebagai dampak akhir dari terpaan iklan).Hubungan yang positif juga ditujukkan oleh brand awareness dengan minatbeli. Meskipun memiliki terpaan dan brand awareness yang rendah, respondenjustru memiliki minat beli yang tinggi pada @CalzoneUp. Ada banyakkemungkinan mengapa minat beli tinggi padahal terpaan dan brand awarenessnyarendah. Pengaruh dari teman atau lingkungan sekitar yang telah lebih dahulumengetahui @CalzoneUp dapat menjadi salah satu penyebab mengapa minat belipada @CalzoneUp tinggi. Faktor word of mouth (WOM) juga dapat menjadifaktor mengapa hal tersebut bisa terjadi.Minat beli yang tinggi juga dapat dipengaruhi oleh keinginan respondenuntuk mencoba kedai makan baru yang menyediakan menu western. Apalagi@CalzoneUp merupakan brand yang tidak menyediakan produk mewah yangmembutuhkan pemikiaran mendalam untuk sekedar mencoba membelinya.Meskipun demikian, perlu ditegaskan kembali bahwa minat beli hanya untukmeramalkan tentang pembelian, bukan besarnya pembelian yang terjadi. Sehinggawalaupun memiliki minat beli yang tinggi, belum tentu pembelian juga akantinggi. Bisa saja proses yang menuju ke pembelian terhenti hanya pada minat saja.Dengan melihat hubungan yang positif antara brand awareness dan minatbeli, maka penelitian ini dapat membuktikan Hierarchy of Effect Model (Bab 1,hal 19). Di mana setelah konsumen aware terhadap brand atau mengalami brandawareness maka akan timbul rasa suka yang memicu seseorang untuk mencaritahu lebih dalam tentang suatu merk atau menimbulkan minat beli dalam dirikonsumen. Apabila tidak terjadi hubungan yang positif pada hubungan duavariabel tersebut, maka dapat dipastikan tahapan yang terjadi dalam benakkonsumen setelah melihat terpaan iklan belum terpenuhi secara sempurna. Karenateori ini menjelaskan bahwa terdapat serangkaian efek yang muncul secarabertahap setelah seseorang melihat iklan, di mana setiap tahapan harus terpenuhisebelum seseorang berpindah pada tahapan selanjutnya.PENUTUPKesimpulan dari hasil pembagian kuesioner yang dilakukan didapatkan hasilsebagai berikut:1. Berdasarkan uji korelasi, terdapat hubungan yang positif pada terpaan tweetiklan dengan brand awareness. Maka semakin tinggi terpaan tweet iklan,brand awareness pun akan semakin tinggi.2. Pada uji korelasi untuk variabel brand awareness dan minat beli juga terdapathubungan yang positif. Sehingga semakin tinggi brand awareness makasemakin tinggi pula minat beli.Sedangkan saran ditujukan kepada brand dan penelitian selanjutnya, berupa:1. Melihat banyaknya responden yang mendapat terpaan rendah dan tidak tahutentang @CalzoneUp, seharusnya @CalzoneUp dapat memanfaatkan timingiklan pada @infotembalang secara lebih efektif. Misalnya dengan memintapenayangan tweet iklan pada waktu aktif followers @infotembalang mengaksesTwitter, tidak hanya asal tweet tayang.2. Pada penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan minat beli @CalzoneUp,hendaknya dapat dilakukan dengan melihat faktor – faktor lain yangberhubungan, pada terpaan tweet iklan dan brand awareness, misalnya faktorlingkungan, demografis responden, word of mouth, dll. Di samping itu,penelitian juga dapat dilakukan dengan menggunakan teknik pengembilansampel yang berbeda.DAFTAR PUSTAKABukuAaker, David A. (1991). Managing Brand Equity. New York: The Free Press.Aaker, David A., Rajeev Batra, & John G. Myers. (1996). AdvertisingManagement (4th Ed). New Delhi: Prentice Hall.Belch, G.E., & M.A. Belch. (2007). Advertising and Promotion: An IntegratedMarketing Communications Perspective (8th Ed.). New York, United Statesof America: McGraw-Hill.Dell, Hawkins, Roger J. Best & Kenneth A. Coney. (2000). Consumer BehaviorBuilding Marketing Strategi (8th Ed.). New Jersey: McGraw-Hill.Durianto, Darmadi, Sugiarto, Tony Sitinjak. (2004). Strategi MengakhlukanPasar: Melalui Riset Ekuitas dan Perilaku Konsumen. Jakarta: Gramedia.Handayani, Desy, dkk. (2010). Brand Operation. Jakarta: Esensi.Horton, Raymond L. (1984). Buying Behavior a Decision Making Approach.Ohio: Charles E Merril Publishing Company.Howard, John A. (1994). Buyer Behavior in Markting Strategy. New Jersey:Prentice Hall.Jefkins, Frank. (1996). Periklanan. Jakarta: Erlangga.Kasali, Rhenald. (2007). Menajemen Periklanan Konsep dan Aplikasinya. Jakarta:Pustaka Utama Grafiti.Keller, Kevin Lane. (2003). Strategic Brand Management: Building, Measuring,And Managing Brand Equity (2nd Ed.). New Jersey: Pearson Prentice Hal.Kotler, P. & K.L. Keller. (2007). Manajemen Pemasaran (12th Ed. Jilid 2).Jakarta: PT. Indeks.Rangkuti, Freddy. (2004). The Power of Brands. Jakarta: PT Gramedia pustakautama.Rossiter, John R. dan Larry Percy. (1997). Advertising and PromotionManagement. New York: McGraw-Hill.Schiffman, Leon G., Leslie Lazar Kanuk. (2004). Consumer Behavior (8th Ed.).New Jersey: Prentice Hall.Shimp. (2003). Periklanan Promosi Aspek Tambahan Komunikasi Terpadu.Jakarta: Erlangga.Simamora, Bilson. (2001). Panduan Riset Perilaku Konsumen. Jakarta: GramediaPustaka Utama.Singarimbun, Masri & Sofian Effendi. (1995). Metode Penelitian dan Survey.Jakarta: LP3ES.Staubhaar, Joseph, Robert LaRose & Lucida Davenport. (2012). Media Now:Understanding Media, Culture, and Technology (7th Ed.). MA: WadsworthCengage Learning.Sugiyono. (2006). Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Bandung:Alfabeta.Sugiyono. (2007). Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.Wells, William, John Burnet, Sandra Moriarty. (2000). Advertising Principles andPractice. New Jersey: Prentice-Hall International, Inc.Websitehttp://id.wikipedia.org/wiki/Twitterhttp://semiocast.com/publications/2012_07_30_Twitter_reaches_half_a_billion_accounts_140m_in_the_UShttps://twitter.com/infotembalangJurnalAdil, Athira Setira. 2012. Skripsi: Pengaruh Tweet Iklan Melalui Akun Twitter@Infobdg Terhadap Minat Beli Masyarakat Kota Bandung Tahun 2012.Institut Manajemen Telkom.Chapman, Carol. 2012. Brand Awareness: It’s All a ‘Twitter’. The BrandAscension GroupErdogmus, Irem Eren, & Mesut Cicek. 2012. The Impact of Social MediaMarketing on Brand Loyalty. Yaiova UniversityLi, Yung-Ming &, Ya-Lin Shiu. 2010. A Diffusion Mechanism for SocialAdvertising Over Microblogs. National Chiao Tung UniversityMackenzie, Josiah. (2011). A Hotel’s Guide to Twitter. @ReviewPro

Page 3 of 3 | Total Record : 28